IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

20 

Teks penuh

(1)

4.

Analisis Yuridis

Analisis yuridis dilakukan secara kualitatif dengan menganalisis faktor-faktor kemudahan/kesulitan dari undang-undang/peraturan yang berlaku.

5.

Analisis Sosial dan Ekonomi

Analisis sosial dan ekonomi dilakukan secara kualitatif dengan mengidentifikasi keuntungan sosial dan ekonomi yang didapat dari pendirian industri keripik nangka di kabupaten Semarang.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ASPEK PASAR

1. Kondisi Pasar

Penjualan keripik nangka sebenarnya telah ada di kota Semarang meskipun belum tersebar luas. Dari pengamatan ke beberapa lokasi dapat dilihat keberadaan produk keripik nangka di kota Semarang seperti terlihat pada tabel 4.

Tabel 4. Keberadaan produk keripik nangka di beberapa tempat penjualan di kota Semarang

Tempat Penjualan Keberadaan keripik nangka Jumlah keripik nangka yang dijual

(Kw)

Supermarket DP Mall Pernah menjual, sekarang tidak - Gelael supermarket Belum pernah menjual - Pasar swalayan ADA Belum pernah menjual - Supermarket Matahari Belum pernah menjual -

(2)

Stasiun Tawang Belum pernah menjual - Bandara udara Ahmad Yani Pernah menjual, sekarang tidak - Pusat oleh-oleh di jalan Pandanaran

1. Toko Lumba-Lumba 2. Toko Bandeng Arwana 3. Toko Bandeng Bonafide 4. Toko Bandeng Presto

5.Toko Istana Buah Bandeng Djoe 6. Toko Bandeng Juwana

Pernah menjual, sekarang tidak Pernah menjual, sekarang tidak Menjual

Belum pernah menjual Menjual

Pernah menjual, sekarang tidak

- - 1 - 2,5 - Hasil pengamatan di berbagai outlet pemasaran menunjukkan bahwa keripik nangka merupakan produk yang masih jarang ditemui di kota Semarang. Dari tabel 4 terlihat bahwa di supermarket DP Mall dan bandara udara Ahmad Yani, keripik nangka pernah dijual tetapi saat ini tidak dijual lagi. Dari hasil wawancara diketahui sebabnya adalah karena tidak adanya pasokan selanjutnya dari produsen. Berbagai supermarket maupun minimarket dan stasiun Tawang bahkan belum pernah menjual keripik nangka. Hal ini diduga karena tidak adanya pasokan dari produsen.

Dari tabel 4 terlihat juga bahwa keberadaan keripik nangka ada di beberapa toko di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran. Dari enam toko yang disurvei pada tahun 2010, hanya ada dua toko yang menjual keripik nangka sebagai oleh-oleh yaitu toko Istana Buah Bandeng Djoe dan Bandeng Bonafide. Menurut pedagang di toko Bandeng Bonafide, keripik nangka sudah cukup lama dijual di tempat tersebut dan selama ini cukup diminati konsumen yang pada umumnya adalah wisatawan yang datang ke Semarang dan warga Semarang sendiri yang akan berpergian ke luar kota.

Hasil wawancara dengan Dinas Perindustrian kota Semarang menunjukkan bahwa selama ini pemasaran terbesar keripik nangka baru di pusat penjualan oleh-oleh jalan Pandanaran. Keripik nangka masih sangat jarang dijumpai di tempat-tempat lainnya.

2. Potensi Pasar

Pasokan keripik nangka di pusat oleh-oleh di jalan Pandanaran berasal dari kota Semarang, kabupaten Kendal, dan kota Malang. Menurut penjual di toko pusat oleh-oleh Istana Buah dan Bandeng Djoe, keripik nangka yang paling laku dijual adalah keripik nangka dengan merk dagang Tafied Rona Chips dari kabupaten Kendal.

Hasil survei menunjukkan bahwa pada tahun 2010 telah terdapat produsen dan distributor keripik nangka di wilayah kota Semarang dan sekitarnya. Industri tersebut berskala menengah dan rumah tangga seperti yang terlihat pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil survei produsen dan distributor keripik nangka di sekitar kota Semarang

Nama Perusahaan/distributor Lokasi Tahun Berdiri Jumlah Produk /tahun Fokus Pemasaran

Tafied Rona Chips Kabupaten Kendal

2001 1,8 ton Lokal C.V. Berkah Jaya Abadi Kota

Semarang

2005 90 ton Ekspor dan daerah lain Fruit Eternity Kota

Semarang

2005 52 ton Ekspor dan daerah lain Dari tabel 5 terlihat bahwa hanya ada satu industri keripik nangka yang memiliki fokus utama melayani pasar lokal yaitu perusahaan Tafied Rona Chips. Perusahaan C.V. Berkah Jaya Abadi dan distributor Fruit Eternity memasarkan produk keripik nangka dengan fokus utama pasar ekspor dan daerah lain. Jumlah permintaan pasar keripik nangka untuk kota Semarang, daerah lain, serta ekspor dari C.V Berkah Jaya Abadi dan distributor Fruit Eternity mencapai 142 ton/tahun. Jumlah permintaan pasar ekspor cukup stabil selama lima tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar keripik nangka untuk ekspor cukup baik.

(3)

Hasil wawancara dengan pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips menunjukkan bahwa selama sembilan tahun beroperasi, permintaan keripik nangka dari kota Semarang selalu stabil. Permintaan terbesar datang dari distributor dengan jumlah sebesar 1,62 ton/tahun. Distributor kemudian menyalurkan keripik nangka ke luar kota Semarang.

Hasil wawancara dengan pedagang di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran didapat informasi bahwa jumlah rata-rata permintaan pasar keripik nangka adalah sebesar 0,35 ton/tahun. Dari jumlah tersebut, pasokan kerpik nangka yang berasal dari Tafied Rona Chips sebanyak 0,18 ton/tahun sedangkan pasokan keripik nangka sebanyak 0,17 ton/tahun berasal dari C.V. Berkah Jaya Abadi, distributor Fruit Eternity, serta produsen keripik nangka di kota Malang. Dari uraian tersebut, maka dapat dihitung total permintaan keripik nangka dari distributor dan penjual di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran rata-rata sebanyak 1,95 ton/tahun.

Menurut informasi dari pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips, keripik nangka masih memiliki potensi pasar yang baik untuk dikembangkan di kota Semarang mengingat masih adanya sejumlah permintaan dari distributor dan penjual di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran yang saat ini belum mampu dipenuhi. Volume pasar keripik nangka yang belum dimanfaatkan untuk wilayah pemasaran kota Semarang pada tahun 2009 menurut pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips sebanyak 22 ton/tahun. Peluang pasar keripik nangka dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Volume pasar keripik nangka di kota Semarang pada tahun 2009 Pembeli Sistem pembelian

Jumlah permintaan pasar (ton/tahun) Distributor kota Semarang Grosir 20

Pusat oleh-oleh jalan Pandanaran

Eceran 2

Total 22

Potensi pasar keripik nangka di kota Semarang sangat besar, mengingat masih banyaknya pembeli potensial di kota Semarang yang belum mendapatkan akses untuk membeli keripik nangka. Tempat-tempat yang memiliki potensi pasar yang baik adalah tempat yang masih jarang atau belum dijumpai produk sejenis. Beberapa tempat di kota Semarang yang memiliki potensi pasar tebesar diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Pusat oleh-oleh kota Semarang

Pusat oleh-oleh utama di kota semarang yang berlokasi di sepanjang jalan Pandanaran cukup potensial untuk dijadikan sebagai pusat pemasaran oleh-oleh karena tempat ini telah memiliki reputasi sebagai tempat penjualan oleh-oleh khas Semarang seperti bandeng presto, wingko babat, lumpia, dan sebagainya.

Pusat oleh-oleh jalan Pandanaran diperkirakan semakin berkembang karena jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota Semarang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Menurut data pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang dan Jawa Tengah, jumlah rata-rata wisatawan yang mengunjungi kota ini pada tahun 2006 hingga 2008 mencapai 962.692 orang. Pertumbuhan jumlah wisatawan di Kota Semarang pada tahun 2007 dan 2008 masing-masing sebesar 56,21 % dan 20,21 %. Pada umumnya setiap wisatawan yang ingin mencari oleh-oleh khas Semarang akan datang ke pusat oleh-oleh tersebut.

Keripik nangka sebenarnya bukan oleh-oleh “khas Semarang” karena pertama kali diperkenalkan sudah populer terlebih dahulu di kota Malang. Keripik nangka memiliki pangsa pasar yang cukup baik di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran. Keripik nangka yang memiliki harga relatif mahal tidak menghadapi hambatan pasar di

(4)

tempat ini, karena secara umum pusat oleh-oleh di jalan Pandanaran ini telah tersegmentasi untuk kalangan menengah atas. Menurut penjual di toko Bandeng Arwana dan toko Lumba-Lumba di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran (toko yang dahulu pernah menjual keripik nangka), keripik nangka cukup prospektif untuk dijual di tempat ini. Masalah yang dihadapi mereka adalah pasokan keripik nangka yang tidak kontinu. Jumah pasokan sering mengalami fluktuasi, yang pada periode bulan April-Juni jumlahnya kecil. Masalah lain menurut pedagang di pusat oleh-oleh jalan Pandanaran adalah perputaran produk (turn over) yang masih lambat karena belum terlalu populer di bandingkan produk khas Semarang seperti bandeng presto, lumpia, dan wingko babat, akan tetapi dengan upaya promosi dan mencari titik keunggulan buah nangka di Kabupaten Semarang masalah ini dapat diatasi. Dari bahan baku yang unggul akan dihasilkan pula produk keripik nangka yang unggul dalam mutu rasa, ukuran, serta warna.

b. Obyek wisata

Kota Semarang memiliki beberapa obyek wisata terkenal seperti Masjid Agung Jawa Tengah, pantai Marina, gedung batu, wonderia, dan lain-lain. Jumlah obyek wisata di kota Semarang pada tahun 2008 mencapai 22 buah. Banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke tempat-tempat tersebut menunjukkan peluang pasar keripik nangka cukup terbuka.

c.

Hotel

Hotel berfungsi bukan saja sebagai tempat menginap untuk tujuan wisata namun juga untuk tujuan lain seperti manjalankan kegiatan bisnis, mengadakan seminar, atau sekedar untuk mendapatkan ketenangan. Menurur data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, jumlah rata-rata kamar hotel kelas berbintang dan melati yang dipesan dari tahun 2004 hingga 2008 sebanyak 667.418 buah (lampiran 2) .

Penghuni hotel merupakan pembeli potensial produk keripik nangka, maka dari itu jika produk keripik nangka mampu dipasarkan di tempat ini, peluang penjualannya sangat besar.

d. Rumah Makan

Menurut data dari BPS, kota Semarang pada tahun 2006 memiliki jumlah penduduk sebesar 1.434.025 jiwa. Jumlah penduduk golongan ekonomi menengah hingga atas sebesar 1.130.585 jiwa (78,84 % dari total populasi). Jumlah penduduk yang besar ini menunjukkan potensi kota Semarang sangat besar sebagai tempat pemasaran keripik nangka. Selama ini warga Semarang yang menjadi konsumen keripik nangka diperkirakan hanya orang-orang yang akan membeli oleh-oleh untuk dibawa pergi ke luar kota sehingga masih ada peluang besar untuk memasarkan keripik nangka kepada masyarakat Semarang yang lain. Warga lain yang sedang tidak berpergian ke luar kota, terutama golongan menengah ke atas, merupakan konsumen potensial yang jumlahnya diperkirakan lebih besar dan sampai saat ini segmen tersebut belum tergarap pasarnya.

Keripik nangka berpotensi dijual di rumah makan sebagai makanan cemilan. Kota Semarang memiliki banyak rumah makan favorit untuk wisata kuliner. Jumlah rumah makan tersebut mencapai 130 buah. Banyaknya jumlah rumah makan menunjukkan potensi yang baik bagi perkembangan pasar keripik nangka.

e. Supermarket

Tempat lain yang memiliki potensi pasar terbesar adalah supermarket. Namun demikian, hasil wawancara dengan dinas Perindustrian kota Semarang menunjukkan bahwa produk baru yang belum memiliki nama besar biasanya agak sulit untuk dapat memasuki tempat-tempat seperti supermarket. Agar produk mampu memasuki pasar supermarket, maka diperlukan upaya-upaya yang intensif seperti

(5)

bantuan pembinaan dari instansi pemerintah agar tingkat dan konsistensi mutu produk dapat dicapai.

f. Bandara udara Ahmad Yani

Keripik nangka juga memiliki potensi besar untuk dijual di bandara udara Ahmad Yani. Pembeli potensial di tempat ini adalah para penumpang pesawat baik yang akan pergi ke luar kota Semarang ataupun yang datang ke kota Semarang.

Jumlah penumpang pesawat di bandara udara Ahmad Yani mencapai 1.500 hingga

1.900 orang per hari. (koran.tempointeraktif, 2009). Hambatan pasar di tempat ini

diperkirakan kecil karena masih jarang dijumpai produk makanan khas di tempat ini sehingga peluang pasar produk keripik nangka cukup terbuka.

g. Stasiun Tawang

Stasiun Tawang juga merupakan tempat pemasaran yang potensial karena wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke kota Semarang akan melewati tempat tersebut. Jumlah penumpang kereta api di tempat tersebut pada tahun 2003 mencapai

634.438 orang. Jumlah penumpang kereta api per harinya mencapai 1.768 orang.

Dari uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa permintaan pasar keripik nangka termasuk stabil. Pada masa mendatang, diperkirakan permintaan terhadap keripik nangka akan meningkat jika perusahaan mampu memanfaatkan berbagai peluang pasar yang ada.

3. Pangsa Pasar

Setelah mengetahui adanaya potensi pasar untuk produk keripik nangka, maka langkah selanjutnya menganalisis besarnya pangsa pasar yang masih tersedia. Pangsa pasar yang tersedia dipengaruhi oleh jumlah dan ukuran pesaing yang ada di pasar, serta jenis produk yang dipasarkan. Perkiraan pangsa pasar yang dapat dicapai untuk bisnis baru dengan beberapa tingkat persaingan dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Perkiraan pangsa pasar yang dapat dicapai untuk bisnis baru dengan tingkat persaingan berbeda-beda

Jumlah pesaing Banyak Sedikit Satu Tidak

ada Ukuran pesaing L Sm L Sm L Sm Jenis produk S D S D S D S D S D S D Pangsa pasar (%) 0-2,5 0-5 5-10 115 0-2,5 5-10 10-15 20-30 0-5 10-15 30-50 40-80 100 Keterangan : L : Besar, Sm : Kecil, S : Sama, D: Berbeda

Perusahaan dan distributor yang memasok keripik nangka ke kota Semarang hanya berjumlah 3 yaitu P.T. Fruit Eternity, C.V. Berkah Jaya Abadi, dan Tafied Rona Chips. Ukuran pesaing untuk pasar di kota Semarang digolongkan ke dalam ukuran pesaing yang kecil karena dari ketiga pemasok keripik nangka hanya mampu menyalurkan keripik nangka sebanyak 1,95 ton/tahun. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan perkiraan volume pasar yang ada yaitu sebesar 22 ton/tahun (tabel 6). Jenis produk yang akan dipasarkan sama dengan yang sudah ada sehingga pangsa pasar yang mungkin diraih adalah sebesar 10-15% dari peluang pasar yang ada. Jumlah ini diperkirakan masih mampu berkembang menjadi dua kali lipat. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi peningkatan peluang pasar diantaranya adalah :

1. Meningkatnya permintaan keripik nangka dari luar kota Semarang

Menurut Vita (2010), pemilik usaha keripik nangka U.D. Barokah dari kota Malang, permintaan keripik nangka dari luar kota Semarang seperti daerah Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan pulau Kalimantan cenderung meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2010 permintaan keripik nangka dari daerah Jakarta, Bekasi, dan Tangerang mencapai 5 ton/tahun. Sedangkan permintaan keripik nangka dari daerah

(6)

Kalimantan mencapai 15 ton/tahun. Dengan semakin meningkatnya permintaan keripik nangka dari luar kota Semarang maka diperkirakan permintaan keripik nangka dari distributor yang selama ini memiliki fokus pemasaran ke luar kota Semarang juga meningkat.

2. Pengembangan areal pertokoan pusat penjualan oleh-oleh di sepanjang jalan Pandanaran.

Areal pertokoan di sepanjang jalan Pandanaran pada tahun 2010 telah meningkat menjadi 12 buah. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika diasumsikan volume pasar keripik nangka di kota Semarang meningkat dua kali lipat pada masa mendatang menjadi 44 ton/tahun dan persentase pangsa pasarnya sebesar 15%, maka jumlah pangsa pasar yang mungkin dapat diraih sebanyak 6,6 ton/tahun.

B. ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI

1. Analisis Bahan Baku

a. Mutu bahan baku

Mutu bahan baku merupakan aspek penting yang harus diperhatikan karena mutu suatu produk pangan bergantung pada mutu input bahan bakunya. Mutu bahan baku yang baik akan menghasilkan produk pangan yang baik pula jika proses pengolahan dilakukan dengan baik dan benar.

Mutu produk keripik nangka dipengaruhi oleh tingkat kematangan bahan baku. Pada studi kelayakan ini bahan baku yang akan digunakan adalah buah nangka (Artocarpus

heterophylus Lamk) segar yang telah/menjelang matang (tidak terlalu tua dan tidak terlalu

muda). Pada umumnya buah nangka yang telah matang memiliki aroma yang cukup kuat dan rasa yang manis. Menurut Rukmanan (2008), buah nangka yang telah matang ditandai dengan durinya yang jarang dan bila dipukul-pukul dengan benda keras akan menimbulkan suara yang menggema serta timbul aroma khas. Menurut Taqi (1994), tingkat kematangan buah nangka dapat mempengaruhi mutu warna dan rasa keripik nangka yang dihasilkan. Nangka yang terlalu tua memiliki kadar gula yang tinggi sehingga jika digoreng akan menyebabkan warna produk akhir menjadi lebih gelap dibandingkan nangka yang masih muda. Sedangkan nangka yang terlalu muda memiliki tekstur keras dan rasanya tidak manis sehingga jika digoreng menjadi keripik nangka akan menghasilkan produk yang bermutu rendah baik dari segi cita rasa maupun tekstur. Selain itu tingkat penyerapan minyak pada proses penggorengan nangka muda lebih tinggi daripada nangka yang telah matang sehingga produk keripik nangka lebih mudah mengalami ketengikan.

Hasil wawancara dengan pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips, produsen keripik nangka di Kabupaten Kendal, bahwa mutu buah nangka diklasifikasikan menjadi empat golongan seperti yang tersaji pada tabel 8.

Tabel 8. Klasifikasi mutu buah nangka Kriteria

Golongan

KW I KW II KW III KW IV

Rasa Manis Manis Manis/tawar Manis/tawar

Warna Kuning/kuning keputihan Kuning/kuning keputihan Kuning/kuning keputihan Kuning/kuning keputihan

Ukuran Besar Sedang Kecil/sedang Kecil

Ketebalan daging

(7)

Dari tabel di atas, golongan buah yang memenuhi syarat yang baik untuk dijadikan keripik nangka adalah golongan KW I dan KW II. Perbedaan buah nangka KW I dan KW II adalah dalam hal ukuran. Ukuran buah merupakan aspek mutu yang perlu diperhatikan karena proses penggorengan dapat mempengaruhi mutu ukuran keripik nangka yang dihasilkan. Proses pengolahan keripik nangka (penggorengan vakum) dapat mengakibatkan penyusutan ukuran buah karena adanya proses perpindahan air dari dalam daging buah ke luar daging buah. Penggorengan bahan baku yang berukuran besar akan menghasilkan produk keripik nangka dengan besar ukuran yang ideal (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil) serta penampakannya lebih menarik daripada keripik nangka yang dihasilkan dari bahan baku denagn ukuran lebih kecil.

Berdasar hasil pengamatan dan wawancara dengan Dinas Pertanian Kabupaten Semarang, pedagang nangka di pasar Bandungan, pasar Ambarawa, serta pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips, varietas nangka lokal yang banyak dijumpai di daerah kabupaten Semarang sebagian besar tergolong KW I dan KW II. Buah nangka yang banyak dijumpai di kabupaten Semarang mempunyai ciri-ciri berwarna kuning dengan panjang 7,5-15 cm, ketebalan daging buah 1-1,5 cm, dan kering (kandungan air relatif sedikit), serta memiliki rasa manis. Namun demikian, ada sebagian kecil buah nangka yang tergolong KW III dan KW IV. Buah nangka KW I dan KW II secara umum dapat dijumpai di setiap wilayah kecamatan di kabupaten Semarang.

Mutu buah nangka di Kabupaten Semarang lebih baik dibandingkan dengan mutu buah nangka di beberapa daerah sentra nangka lainnya seperti Kota Malang dan Kabupaten Batang. Menurut informasi yang diperoleh dari pemilik usaha keripik nangka Tafied Rona Chips, bahan baku keripik nangka di kota Malang sebagian besar termasuk golongan KW III dan IV. Total bahan baku dengan mutu KW III dan KW IV jumlahnya mencapai 60 % dari total bahan baku yang digunakan oleh seluruh industri keripik nangka di kota Malang. Sedangkan mutu buah nangka di kabupaten Batang sebagian besar tergolong KW III. Kelemahan mutu buah nangka di kabupaten Batang adalah kulit daging buahnya tipis. Keunggulan mutu bahan baku buah nangka yang berada di kabupaten Semarang mengindikasikan bahwa daerah ini berpotensi untuk menjadi sentra penghasil keripik nangka yang bermutu dan unggul di masa mendatang.

b. Ketersediaan bahan baku

Kabupaten Semarang merupakan sentra penghasil nangka yang cukup besar. Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian kabupaten Semarang pada tahun 2007-2008 (lampiran 5 dan 6) menunjukkan bahwa setiap kecamatan di daerah ini memiliki banyak pohon nangka dengan tingkat produktivitas yang berbeda antara kecamatan yang satu dengan kecamatan lainnya. Jumlah pohon nangka produktif pada tahun 2006 mencapai 71.964 pohon. Total panen buah nangka di kabupaten Semarang pada tahun 2007 mencapai 13.690 kwintal. Total panen buah nangka pada tahun berikutnya meningkat menjadi 17.593 kwintal (Lampiran 4 dan 5).

Informasi yang didapat dari hasil wawancara dengan beberapa pedagang di pasar Ambarawa dan pasar Bandungan menunjukkan bahwa konsumen utama buah nangka di wilayah kabupaten Semarang selama ini adalah masyarakat umum. Berdasar hasil wawancara dengan dinas Perindustrian kabupaten Semarang pada tahun 2010, diketahui bahwa di kabupaten Semarang belum ada industri besar pengolahan keripik nangka. Menurut pengumpul buah di pasar Ambarawa, buah nangka yang paling banyak permintaannya adalah yang bermutu KW III dan KW IV. Industri yang menyerap buah tersebut adalah industri kecil keripik nangka di kota Salatiga dan industri wingko babat di kota Semarang. Gambar 5 menunjukkan grafik ketersediaan buah nangka pada tahun 2007 dan 2008 yang disajikan setiap triwulan.

Buah nangka pada umumnya mengalami penurunan jumlah produksi secara drastis pada triwulan ke 2 (bulan April-Juni) setiap tahunnya. Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa bahan baku mengalami puncak produksi pada triwulan ke 4 (bulan September-Desember), sedangkan ketika memasuki periode triwulan ke 2, bahan baku mulai mengalami kelangkaan di pasar karena jumlah produksi pada saat tersebut mengalami banyak penurunan.Kenyataan di lapangan mengindikasikan bahwa pada triwulan ke 2 buah nangka sangat sulit didapatkan. Pedagang dan pengumpul buah tidak bisa

(8)

memenuhi permintaan konsumen pada saat itu. Grafik ketersediaan bahan baku buah nangka di kabupaten Semarang pada tahun 2007 dan 2008 dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Ketersediaan Buah Nangka di kabupaten Semarang pada tahun 2007-2008

Menurut petani nangka di kabupaten Semarang, pohon nangka di kabupaten Semarang rata-rata memiliki umur 20-25 tahun. Pohon nangka masih mampu mengalami peningkatan produksi hingga mencapai puncaknya berumur 35 tahun. Ketika umur pohon menuju masa puncak produksi diperkirakan jumlah produksi buah mampu meningkat menjadi beberapa kali lipat. Dari gambar 5 terlihat bahwa Pada triwulan ke 4 tahun 2008, produksi nangka mengalami peningkatan produksi secara drastis dibandingkan pada triwulan 4 di tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa pohon nangka sedang mengalami proses peningkatan menuju puncak produksi.

Berdasarkan informasi yang didapat dari dinas Pertanian Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa jumlah populasi pohon nangka mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2007 dan 2008, penambahan penanaman pohon tercatat masing-masing sebanyak 882 pohon dan 767 pohon (lampiran 5 dan 6). Penambahan populasi pohon tersebut terjadi secara alami dan buatan. Penambahan secara alami terjadi ketika biji nangka terjatuh di tanah kemudian tumbuh menjadi pohon yang besar. Penambahan pohon secara buatan dilakukan oleh penduduk setempat yang sengaja menanam pohon nnagka di halaman rumah atau pekarangan kosong.

Data yang diperoleh dari dinas Pertanian Kabupaten Semarang pada tahun 2006 menunjukkan bahwa pohon nangka yang belum menghasilkan buah tercatat sebanyak 19.076 pohon. Umur pohon-pohon tersebut belum memasuki usia produktif. Diperkirakan pada beberapa tahun mendatang pohon tersebut sudah dapat diandalkan untuk menyuplai bahan baku industri.

Menurut hasil wawancara dengan Dinas Pertanian Kabupaten Semarang, sebanyak 70% produksi buah nangka pada tahun 2008 (12.315,1 kw) merupakan hasil produksi pohon nangka yang berasal dari biji (rata-rata usia 20-25 tahun). Dengan masa usia produktif pohon nangka yang dimulai pada tahun ke 10 serta diperkirakan jumlah produksi buah nangka mulai menurun ketika usia pohon mencapai 50 tahun, maka diperkirakan produksi buah nangka di kabupaten Semarang masih mencukupi untuk kebutuhan industri antara 25-30 tahun mendatang.

c. Tata Niaga Bahan Baku

Buah nangka di kabupaten Semarang banyak dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Selama ini sebagian besar produksi buah nangka di kabupaten ini berasal dari masyarakat setempat. Para pengumpul buah mengumpulkan buah nangka dari tiap pohon yang dimiliki warga di sana kemudian disalurkan lagi ke pedagang atau konsumen

4708 1218 2013 5751 6798 2017 5336 12424 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4 Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4 Jumla h Ba ha n ba ku ( Kwint al ) 2007 2008

(9)

langsung. Hasil wawancara dengan salah seorang warga di kecamatan Bergas menunjukkan bahwa ada sebagian buah nangka milik penduduk yang tidak terdistribusi hingga ke pasar baik pada masa panen raya maupun pada bulan-bulan biasa. Hal itu diduga karena jumlah permintaan buah nangka lebih kecil dari jumlah ketersediaan buah nangka. Selain itu para pengumpul buah juga memiliki keterbatasan dalam mengumpulkan buah dikarenakan hingga saat ini belum ada masyarakat atau pihak lain yang mengelola kebun nangka dalam skala besar sehingga selama ini sebagian besar buah nangka merupakan hasil pengumpulan dari rumah ke rumah. Pengeluaran biaya yang tidak efektif untuk mengumpulkan buah berpotensi menghambat aliran tata niaga buah nangka dari petani/pemilik pohon nangka hingga ke konsumen.

Peran pengumpul buah nangka sangat penting untuk menunjang efektivitas pengumpulan bahan baku bagi industri. Dengan bekerja sama dengan para pengumpul bahan baku, maka industri dapat menghemat waktu dan biaya sehingga proses produksi nantinya dapat berjalan dengan lebih efektif. Untuk memaksimalkan pengumpulan bahan baku, hubungan kerja sama sebaiknya dilakukan dengan pengumpul buah di setiap kecamatan. Efektivitas pengumpulan bahan baku juga akan lebih baik jika industri bekerja sama dengan kelompok tani untuk mengantisipasi keterbatasan kinerja pengumpul dalam memasok bahan baku. Tata niaga buah nangka dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Tata niaga buah nangka di kabupaten Semarang

Harga buah nangka dalam setahun cenderung mengalami fluktuasi tergantung oleh besarnya jumlah produksi buah. Pada masa panen raya yang terjadi pada periode bulan November hingga Januari, jumlah produksi buah nangka mengalami peningkatan lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Pada masa ini harga buah nangka mengalami penurunan harga secara drastis. Sebagai gambaran, pada tahun 2009, harga di tingkat pengumpul/petani (sudah termasuk biaya transportasi bahan baku) hanya berkisar rata-rata Rp 4.000,00/kg. Buah nangka mengalami penurunan jumlah produksi setelah masa panen raya yaitu pada bulan Maret hingga Mei. Pada saat itu buah nangka harganya mulai merangkak naik hingga menjadi rata-rata Rp 20.000,00/kg pada bulan Mei. Peningkatan harga tersebut sangat drastis karena buah nangka pada masa-masa itu mulai

Petani / Pemilik pohon nangka

Pengumpul Buah Nangka

Pedagang buah nangka

(10)

jarang ditemui sehingga hukum penawaran ekonomi berlaku. Pada bulan Juni hingga Agustus harga buah ini mengalami penurunan secara bertahap hingga menjadi rata-rata Rp 6.000,00/kg. Harga tersebut masih menurun kembali secara bertahap hingga menjadi rata-rata Rp 4.500,00/kg pada bulan Oktober. Kisaran perubahan harga buah buah nangka dalam setahun di tingkat pengumpul buah dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. Grafik pergerakan harga buah nangka di kabupaten Semarang pada tahun 2009

2. Lokasi Industri

Lokasi industri pengolahan keripik nangka ditetapkan di kabupaten Semarang. Beberapa kecamatan di kabupaten Semarang yang dijadikan alternatif lokasi industri adalah kecamatan yang memiliki jumlah produksi nangka yang tinggi seperti terlihat pada tabel 9. Pemilihan lokasi industri yang dekat dengan bahan baku dimaksudkan untuk meminimumkan biaya transportasi bahan baku. Kedekatan lokasi industri dengan bahan baku juga dapat meminimalkan penurunan mutu bahan baku akibat benturan dan gesekan yang terjadi selama pengangkutan. Selain itu seluruh alternatif lokasi industri juga memiliki jarak yang dekat dengan pasar.

Tabel 9. Alternatif lokasi industri pengolahan keripik nangka

Kecamatan Letak Jarak dengan bahan baku dan pasar Kemiringan lahan (%) Rata-rata jumlah produksi nangka/tahun (Kw)* Bergas Pinggir kota Dekat 0-8 1.963,5 Tengaran Pinggir kota Dekat 0-8 1.941 Sumowono Pinggir kota Dekat 8-40 2.856,5 Ungaran Barat Pusat kota Dekat 0-8 2.114 Ungaran Timur Pusat kota Dekat 0-8 1.593 *) Sumber : Dinas Pertanian kabupaten Semarang

Menurut Gastya (2009), pada tahun 2015, diprediksi perbandingan jumlah penduduk kabupaten Semarang yang tinggal di kota dengan di desa sebanyak 60% berbanding 40%, sehingga pendirian pabrik-pabrik, gudang-gudang, dan piranti pendukungnya harus dipindah ke pinggiran kota.

Pemilihan lokasi industri di area pinggiran kota (sub urban) juga disebabkan beberapa pertimbangan diantaranya adalah sudah tercukupinya daya listrik PLN, sarana jalan dan transportasi cukup baik, serta harga tanah relatif murah.

Diantara enam kecamatan yang dijadikan sebagai alternatif lokasi industri terdapat empat kecamatan yang memenuhi persyaratan tata kota yaitu kecamatan Bergas, Tengaran, dan Sumowono. Diantara kecamatan tersebut ditentukan kecamatan Bergas sebagai lokasi industri karena daerah tersebut memiliki kemiringan lahan yang sesuai untuk bangunan industri serta memiliki jumlah produksi nangka yang tinggi.

0 5000 10000 15000 20000

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

(11)

3. Sistem Produksi

Dewasa ini teknologi pembuatan keripik nangka di Indonesia telah ada dan tersebar ke masyarakat industri terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Brawijaya Malang sejak tahun 1993. Vacuum fryer terbaru hasil penelitian staf pengajar Universitas Brawijaya Malang adalah vacuum fryer tipe horizontal. Sistem pemvakuman mesin vacuum fryer tipe horizontal menggunakan water jet. Untuk memvakumkan ruang penggorengan, ejector menghisap uap air dalam tabung penggoreng sehingga menghasilkan efek sedotan (vakum) dalam tabung penggoreng. Uap air yang terhisap kemudian didinginkan di dalam kondensor.

Pada prinsipnya pembuatan keripik nangka dilakukan dengan menggoreng buah nangka segar dengan vacuum fryer selama kurang lebih 55-90 menit untuk kapasitas produksi 8-12 kg. Proses pemvakuman akan mengakibatkan penurunan tekanan pada ruang penggoreng sehingga titik didih air menurun. Hal ini menyebabkan kandungan air di dalam bahan baku dapat dikurangi pada suhu di bawah 1000 C. Proses pengeringan bahan pada suhu yang relatif rendah ini dapat mempertahankan mutu rasa, warna, dan aroma buah yang digoreng.

Saat ini, vacuum fryer juga telah diaplikasikan untuk membuat keripik buah yang lain seperti keripik salak, apel, nanas, dan sebagainya. Keripik salak kini telah menjadi produk unggulan di kabupaten Sleman. Sedangkan keripik apel sudah populer terlebih dahulu di kota Malang.

Teknologi vacuum fryer tipe horizontal banyak diaplikasikan oleh produsen mesin pembuat keripik buah sehingga mesin jenis ini telah banyak dijumpai di pasaran. Produsen yang menjual vacuum fryer tipe horizontal diantaranya adalah P.T. Agrowindo Sukses Abadi dan C.V. Agrindo Cipta Mandiri. Kedua produsen tersebut berasal dari kota Malang.

P.T. Agrowindo Sukses Abadi memproduksi vacuum fryer tipe PV-2, sedangkan C. V. Agrindo Cipta Mandiri memproduksi tipe VFC-10, dengan spesifikasi teknis dan harga seperti tercantum pada tabel 10.

Tabel 10. Spesifikasi mesin vacuum fryer

No Kriteria Jenis Mesin

VF-8 VFC-10 PV-2

1.

Kapasitas (kg masukan /

proses) 9 12 10

2 Lama proses (menit) 60-90 55-75 55-75

3 Bahan bakar LPG LPG LPG

4

Volume minyak goreng

(liter) 80 `104 80

5

Kebutuhan LPG

(Kg/jam) 0,3-0,75 0,6-0,7 0,3-0,35

6 Kebutuhan daya (watt) 1300 2600 1500

7 Dimensi total ( cm³ ) 182 x 122 x 135 244 x 125 x 125 182 x 122 x 135 8 Harga ( Rp ) 26.750.000 38.750.000 26.750.000

Berdasarkan pertimbangan keunggulan waktu proses yang lebih singkat, kebutuhan LPG/jam, serta harga, pada studi akan digunakan mesin tipe PV-2 produksi P.T. Agrowindo Sukses Abadi. Penggantian minyak goreng pada mesin ini dapat dilakukan setiap 130 kali proses karena proses pemvakuman ruang penggoreng dapat mencegah kerusakan minyak goreng yang disebabkan oleh proses oksidasi udara. Mesin vacuum fryer tipe PV-2 dapat dilihat pada gambar 8.

(12)

Gambar 8. Mesin vacuum fryer tipe PV-2

Pada proses penggorengan vakum keripik nangka, dari 10 kg daging buah nangka segar diperoleh keripik nangka sebanyak 2 kg. Neraca bahan keripik nangka dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9. Neraca bahan keripik nangka

Tahapan proses pembuatan keripik nangka adalah sebagai berikut : 1. Proses Penanganan Bahan Baku

a. Sortasi

Proses sortasi merupakan salah satu proses penting yang menentukan mutu akhir produk. Syarat daging buah nangka yang baik untuk bahan baku adalah buah nangka harus berukuran besar, berwarna kuning cerah, serta tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek. Menurut Rukmana (2008), ciri-ciri fisik luar buah nangka yang layak dijadikan keripik nangka adalah bila kulitnya ditepuk-tepuk maka buah tersebut berbunyi nyaring berat. Buah nangka yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda biasanya berumur 7 bulan setelah pembungaan atau 1 bulan sebelum matang. Proses sortasi memerlukan koordinasi dan kerjasama dengan para pengumpul buah nangka agar perusahaan bisa mendapatkan buah nangka yang sesuai dengan mutu yang telah dipersyaratkan.

b. Pencucian kulit dan pemisahan daging buah dari kulit

Pada proses ini, buah nangka dicuci terlebih dahulu dengan air sebelum kulit buah dibelah. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada kulit buah. Proses pencucian dapat mengurangi jumlah mikroba sehingga dapat meminimalisasi kotoran yang menempel pada pisau yang digunakan untuk membelah kulit . pada Buah Nangka

31,25 kg

Daging buah

nangka 10 kg Keripik nangka 2 kg Biji Air Kulit Dami Penggorengan vakum Minyak goreng

(13)

umumnya pisau tersebut mengalami kontak dengan sebagian daging buah nangka. Proses selanjutnya adalah pemisahan daging buah dengan kulit buah untuk mengeluarkan nyamplungnya ( buah nangka yang berisi satu biji ) dan membuang kulit serta daminya (rongga yang berisi nyamplung) ke tempat penampungan limbah. Seluruh pisau yang digunakan dalam proses ini disterelisasi menggunakan alkohol.

c. Pemisahan biji dan pembelahan

Bagian buah nangka yang diperlukan dalam pembuatan keripik nangka hanya daging buahnya, sehingga biji nangka dan selaput yang menyelimutinya harus dipisahkan . biji nangka dikeluarkan dari daging buah dengan cara membelah daging buah tersebut menjadi dua bagian. Pisau yang digunakan sebelumnya disterilisasi terlebih dahulu menggunakan alkohol.

d. Penimbangan daging buah

Pada proses ini, daging buah nangka yang telah diiris dimasukkan ke dalam baskom stainless steel yang telah dicuci bersih lalu ditimbang seberat 10 kg. Jarak waktu tiap batch antara proses penanganan bahan baku mulai pemisahan kulit nangka dari daging buah, pemisahan biji, pembelahan, dan penimbangan dengan waktu penggorengan tidak boleh terlalu lama karena jika bahan baku yang telah siap digoreng memiliki jarak waktu yang lama untuk digoreng maka bahan baku dimungkinkan dapat mengalami penurunan mutu. Penurunan mutu tersebut diantaranya adalah jumlah load mikroba semakin meningkat serta terjadi pelunakan pada bahan baku.

2. Penggorengan dan penirisan a. Penggorengan

Penggorengan dilakukan menggunakan vacuum fryer. Bahan yang digoreng seluruhnya terendam dalam minyak goreng (deep fat frying). Dengan deep fat frying dapat diperoleh hasil yang lezat dengan flavor yang enak dan mengurangi kadar air makanan sehingg memperpanjang umur simpan. Selain itu dengan cara penggorengan tersebut, dapat menghasilkan bahan makanan dengan sifat renyah (crispying). Minyak goreng yang digunakan adalah minyak goreng kemasan karena mutu minyak goreng dapat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan. Mutu minyak goreng dapat mempengaruhi mutu produk dalam hal unur simpan. b. Penirisan

Keripik nangka yang telah digoreng kemudian ditiriskan menggunakan spinner. Fungsi penirisan adalah menghilangkan sebagian minyak yang masih tersisa pada keripik nangka setelah proses penggorengan.

3. Proses penimbangan dan pengemasan produk a. Penimbangan dan pengemasan produk

Keripik nangka yang telah ditiriskan kemudian ditimbang seberat 100 gr dan selanjutnya dikemas dalam kemasan plastik PP ukuran 08 mikron. Pengisian keripik ke dalam kemasan dilakukan secara manual. Kemasan yang digunakan untuk keripik nangka ini adalah plastik transparan PP dengan ukuran ketebalan 08.

b. Penggudangan

Dalam perencanaan industri keripik nangka, aktivitas penggudangan dilakukan seminimal mugkin agar produk tidak mengalami penurunan mutu karena tersimpan lama di gudang.

(14)

Dalam kegiatan proses produksi keripik nangka, selain menggunakan vacuum fryer sebagai alat penggorengan juga dibutuhkan peralatan penunjang lainnya. Daftar peralatan lain yang diperlukan untuk menunjang kegiatan proses produksi keripik nangka dapat dilihat pada lampiran 9.

4.

Kebutuhan Bangunan dan Lahan

Berdasarkan pengamatan pada perusahaan keripik nangka Tafied Rona Chips di kabupaten Kendal, bangunan untuk industri keripik nangka yang dibutuhkan adalah bangunan permanen seluas 35 m². Dengan mempertimbangkan perkembangan usaha di masa mendatang maka dibutuhkan lahan seluas 105 m².

5. Kebutuhan Tenaga Kerja

Untuk menjalankan usaha industri keripik nangka dengan kapasitas produksi 5 kg/batch, menurut pengamatan pada perusahaan keripik nangka Tafied Rona Chips. diperlukan sebanyak 4 orang termasuk manajemen perusahaan. Jika dilakukan produksi sebanyak 20 kg/batch per hari, maka dibutuhkan tambahan tenaga menjadi 11 orang. Tabel 11. Kebutuhan tenaga kerja industri pengolahan keripik nangka

Jabatan/fungsi Jumlah ( orang ) Gaji/orang/bulan (Rp)

Manajer 1 1.800.000

Penanganan bahan baku 4 950.000 Operator Vacuum fryer 2 950.000

Pengemasan 4 950.000

Jumlah 11 -

C. Aspek Finansial

Analisis finansial pendirian industri keripik nangka dilakukan dengan menggunakan asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan biaya. Asumsi-asumsi disesuaikan dengan kondisi pada saat penelitian berlangsung. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah :

a. Umur ekonomi proyek 6 tahun, dimulai pada tahun ke-0.

b. Harga-harga yang digunakan dalam analisis ini berdasar survei pada bulan Juni 2009 hingga Mei 2010.

c. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal dan nilai asuransi adalah 1 % dari biaya investasi.

d. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 80 % dari nilai awal.

e. Proyek dimulai pada saat panen raya buah nangka di kabupaten Semarang (antara bulan Desember hingga Januari).

f. Produksi dilakukan dengan menggunakan dua buah mesin vacuum fryer g. Kapasitas produksi perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Kebutuhan bahan baku: Buah nangka :

27.000 kg/tahun atau 3.000 kg/bulan. 2. Produk akhir :

54.000 bungkus/tahun atau 6.000 bungkus/bulan.

3. Lama beroperasi : 9 bulan/tahun (bulan Januari-Maret dan Juli-Desember) . 4. Hari beroperasi : 25 hari/bulan.

5. Semua produk terjual habis

j. Seluruh modal investasi berasal dari pinjaman bank.

k. Tingkat suku bunga didasarkan pada tingkat suku bunga BPR yaitu sebesar 21,6 % per tahun.

l. Biaya pemeliharaan bangunan dan peralatan 5 % dari harga awal. m. Biaya investasi seluruhnya dikeluarkan pada tahun ke-0.

n. Besarnya pajak ditentukan berdasar undang-undang no. 17 tahun 2000 yaitu sebagai berikut :

(15)

 Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan

 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10% x 50.000.000) + (15 % x (pendapatan-50.000.000))

 Jika pendapatan > 100.000.000 maka (10% x 50.000.000) + (15% x 50.000.000) + (30% x (pendapatan-100.000.000))

Asumsi yang digunakan dalam analisis finansial adalah perusahaan berproduksi selama 9 bulan/tahun karena hasil analisis finansial dengan produksi yang dilakukan selama 12 bulan/tahun menunjukkan bahwa industri tidak layak didirikan (lampiran 21). Penyebab utama ketidaklayakan adalah tingginya harga bahan baku pada bulan April hingga Juni.

1. Biaya Investasi

Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri keripik nangka. Biaya investasi dalam pendirian industri keripik nangka terdiri atas modal tetap dan modal kerja. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp. 161.490.000 dengan komposisi biaya seperti terdapat pada tabel 12. komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada lampiran 11.

Tabel 12. Komposisi modal tetap untuk industri keripik nangka

Komponen Jumlah Harga /Unit (Rp

Lahan ( M2 ) 35 21.000.000

Bangunan ( M2 ) 105 61.250.000

Perizinan 9,000,000

Fasilitas Penunjang 7.600.000 Mesin dan peralatan 62,640,000 Total Modal Tetap 161.490.000

Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi keripik nangka pada waktu beroperasi pertama kali. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik karena modal kerja yang digunakan untuk pembiayaan awal sampai pabrik bisa berproduksi. Besarnya modal kerja perusahaan sebesar biaya yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan aktivitas bisnis selama satu bulan. Hal itu berarti bahwa pada bulan berikutnya biaya produksi sudah mampu ditutupi dari biaya penerimaan (penjualan). Komposisi modal kerja untuk industri keripik nangka dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13. Komposisi modal kerja untuk industri keripik nangka

Komponen Nilai ( Rp )

A. Biaya tetap

Tenaga kerja tak langsung 1.800.000

Pemeliharaan 730.500 Komunikasi 55.556 Asuransi 169.433 Promosi/pemasaran 821.870 Depresiasi 1.1199.468 Sub Total 4.177.359 B. Biaya Variabel Bahan baku 12.000.000 Bahan kemasan 1.200.000

Tenaga kerja langsung 9.500.000 Bahan bakar dan listrik 3.177.778 Transportasi/distribusi produk 222.222

Bahan dan Peralatan Penunjang 22.222

(16)

C. Persediaan kas 10.000.000

Total Modal kerja 40.299.581

Dari tabel 12 dan 13 dapat ditentukan jumlah biaya investasi yaitu total jumlah modal tetap dan modal kerja sebesar Rp 201.789.581,00.

2. Penentuan Harga Jual dan Margin Keuntungan

Penetapan harga jual keripik nangka dilakukan dengan mempertimbangkan harga produk pesaing yang dijual di kota Semarang. Hasil survei pasar terhadap harga produk keripik nangka yang dijual di kota Semarang dapat dilihat pada tabel 14.

Tabel 14. Harga pasar produk keripik nangka di kota Semarang pada tahun 2009

Pemasok keripik nangka Ukuran (g) Harga di tingkat konsumen akhir Harga jual pabrik/distributor (Rp)

Distributor Fruit Eternity 100 12.500 8.500 C.V. Berkah Jaya Abadi 100 11.000 9.000

Tafied Rona Chips 100 10.500 8.500

Kota Malang 100 10.000 8.500

Harga jual produk keripik nangka di tingkat konsumen akhir ditetapkan sebesar Rp 8.500,00. Harga tersebut ditetapkan sesuai dengan harga minimal dari produk pesaing yang ada di pasaran. Harga pokok produk adalah sebesar jual Rp 5.688,819/ bungkus yang dihitung dengan menggunakan metode full costing (Kotler,1993) .

Harga pokok/unit : biaya tetap total + biaya variabel total Jumlah (kapasitas) produksi

Besarnya margin keuntungan ditetapkan dengan mengurangi harga jual dengan harga pokok produksi. Margin yang didapat adalah sebesar Rp 2.811,180 atau sebesar 49,41% dari harga pokok produksi. Penghitungan besar margin keuntungan dapat dilihat pada lampiran 17.

3. Prakiraan Penerimaan

Penerimaan tahunan industri keripik nangka didapatkan dari hasil penjualan tahun tersebut dengan asumsi penerimaan setiap tahunnya konstan (tidak ada perubahan harga). Perusahaan berproduksi dengan kapasitas 54.000 bungkus/tahun, sehingga penerimaan yang diperoleh perusahaan per tahunnya sebesar Rp 459.000.000,00. Penerimaan industri dapat ditingkatkan dengan mengolah buah-buahan lain pada bulan April hingga Juni.

4. Proyeksi Laba Rugi

Proyeksi laba rugi untuk industri keripik nangka disajikan pada lampiran 18a. Dari lampiran 19 terlihat bahwa pada tahun ke 1, 2, dan 3 diperoleh laba bersih/tahun sebesar Rp 94.484.635,00. Setelah tahun ke 3, perusahaan tidak lagi berkewajiban untuk membayar bunga angsuran pinjaman sehingga laba bersih pada tahun ke 4, 5, dan 6 meningkat menjadi Rp 123.762.637,00/tahun.

5. Proyeksi Arus Kas

Aliran kas industri keripik nangka terdiri dari bagian pemasukan dan pengeluaran yang selisihnya dinamakan aliran kas bersih. Tabel aliran kas menunjukkan jumlah kas di awal dan di akhir tahun. Pemasukan dana pada tabel aliran kas terdiri dari laba bersih, nilai sisa, modal sendiri, kredit investasi dan kredit modal kerja. Pengeluaran terdiri dari pengeluaran modal kerja, investasi, dan angsuran pinjaman. Tabel aliran kas industri keripik nangka menunjukkan selisih nilai kas telah bernilai positif pada tahun pertama. Aliran kas bersih pada tahun ke 1, 2, dan 3 sebesar Rp 38.018.270,00. Pada tahun ke 4 dan 5 perusahaan tidak lagi berkewajiban membayar angsuran pinjaman sehingga aliran kas bersih maningkat menjadi Rp 134.559.470,00/tahun. Pada tahun ke 6, aliran kas bersih mengalami peningkatan lagi menjadi Rp 212.468.470,00. Hal tersebut dikarenakan

(17)

adanya tambahan nilai sisa di akhir proyek sebesar Rp 77.909..000,00. Proyeksi arus kas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 19.

6. Titik Impas (Break Event Point)

Titik impas merupakan titik dimana total biaya produksi sama besarnya dengan pendapatan. Titik impas (break event point) menunjukkan bahwa tingkat produksi telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Selain dapat menghubungkan antara volume penjualan, harga satuan dan laba, analisis titik impas juga dapat memberikan informasi mengenai hubungan antara biaya tetap dan biaya variabel.

Titik impas (BEP) industri keripik nangka pada kapasitas produksi adalah sebesar Rp 91.112.307,01. Analisis titik impas dapat dilihat pada lampiran 20.

7. Payback Period

Payback period merupakan suatu periode waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan atau menutup ongkos investasi awal dengan tingkat pengembalian tertentu. Hasil perhitungan periode pengembalian menunjukkan bahwa proyek bisa mengembalikan modal dalam jangka waktu 3,65 tahun. Hal ini berarti industri keripik nangka layak untuk didirikan karena waktu pengembalian modal lebih cepat dibandingkan umur proyek.

8. Kriteria Kelayakan Investasi

Penentuan Kelayakan suatu proyek perencanaan pendirian industri diukur dengan kriteria yang disebut kriteria investasi. Kriteria investasi yang digunakan untuk menganalisis kelayakan pendirian industry keripik nangka adalah net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio).

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value merupakan selisih antara present value benefit dengan present value biaya. Net Present Value (NPV) industri keripik nangka dengan tingkat suku bunga 21,6% adalah sebesar Rp 54.204.713,00. NPV menunjukkan nilai positif sehingga industri ini layak didirikan.

b. Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Nilai IRR untuk industri keripik nangka adalah 29,24%. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yaitu 21,6% sehingga industri ini dinyatakan layak untuk didirikan.

c. Net Benefit Cost Ratio

Net Benefit Cost Ratio (Net B /C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan jika Net B/C >1. Nilai Net B/C untuk industri keripik nangka adalah sebesar 1,27 sehingga proyek dinyatakan layak.

9. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dalam analisis kelayakan industri digunakan untuk mengetahui seberapa jauh proyek tetap layak jika terjadi perubahan pada parameter-parameter tertentu.

Analisis sensitivitas dilakukan terhadap tiga parameter yaitu kenaikan harga bahan baku, kenaikan harga bahan bakar dan listrik, serta penurunan harga jual.Analisis sensitivitas dilakukan terhadap bahan baku dan input karena harga bahan baku produk ini yaitu buah nangka selama ini cenderung berubah sesuai dengan musim. Harga bahan bakar minyak juga dapat berubah sehingga kemungkinan akan dapat mempengaruhi biaya operasional industri ini.

Berdasarkan hasil analisis, kenaikan harga untuk total bahan baku selama satu tahun (9 bulan produksi) sampai 13% proyek masih layak untuk dilaksanakan sedangkan untuk kenaikan harga bahan baku hingga 14% proyek sudah tidak layak untuk dilaksanakan. Analisis sensitivitas untuk kenaikan harga bahan baku dapat dilihat pada tabel 15. Analisis terhadap kenaikan harga bahan bakar dan listrik hingga 68% masih layak untuk dilaksanakan, tetapi jika untuk kenaikan harga

(18)

bahan bakar dan listrik sebesar 69% proyek sudah tidak layak untuk dilaksanakan karena nilai NPV < 0, IRR di bawah tingkat suku bunga dan Net B/C tidak lebih besar dari 1. Analisis sensitivitas untuk kenaikan harga bahan bakar dan listrik dapat dilihat pada tabel 16. Analisis terhadap penurunan harga jual hingga 4% masih layak untuk dilaksanakan, tetapi jika untuk penurunan harga jual 5% proyek sudah tidak layak untuk dilaksanakan karena nilai NPV < 0, IRR di bawah tingkat suku bunga dan Net B/C tidak lebih besar dari 1. Tabel 17 menunjukkan analisis sensitivitas untuk penurunan harga jual.

Tabel 15. Analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku sebesar 13% dan 14% Kriteria investasi Nilai 13% 14% NPV Rp 3.812.664 Rp -69.647 IRR 22,22 % 21,59 % Net B/C 1,018 0,999

Tabel 16. Analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan bakar dan listrik sebesar 68 % dan 69 % Kriteria investasi Nilai 68% 69% NPV Rp 223.034 Rp -570.815 IRR 21,64 % 21,51 % Net B/C 1,001 0,997

Tabel 17 Analisis sensitivitas terhadap penurunan harga jual sebesar 4 % dan 5 %

Kriteria investasi Nilai 4 % 5 % NPV Rp 7.449.884 Rp -4.238.823 IRR 22,81 % 20,89 % Net B/C 1,036 0,978

D. Aspek Yuridis

1. Badan usaha/perizinan

Bentuk badan usaha yang sesuai untuk industri kecil keripik nangka ini adalah Perseroan Terbatas (P.T.). Untuk mendirikan badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas, merujuk pada UU. No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah no. 26 Tahun 1998, UU. No. 1 Tahun 1995 maka diperlukan persyaratan sebagai berikut :

1. Foto kopi KTP para pendiri, minimal 2 orang

2. Foto kopi KK dan NPWP pribadi penanggung jawab / direktur

3. Foto kopi PBB terakhir tempat usaha/kantor, apabila milik sendiri, foto copy surat kontrak, apabila status kantor kontrak

4. Pas foto berwarna penanggung jawab/ direktur ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar 5. Nama P.T.

6. Kedudukan dan bidang usaha 7. Jumlah modal dasar dan modal setor 8. Komposisi saham

(19)

9. Susunan direksi dan komisaris

Dokumen yang diperlukan dalam pendirian perseroan terbatas adalah: 1. Akta notaris

2. Surat keterangan domisili perusahaan 3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) 4. SK Kehakiman

5. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) 6. TDI (Tanda Daftar Industri)

Untuk memperoleh Tanda Daftar Industri (TDI) dan atau Persetujuan Prinsip, pemohon mengajukan permohonan secara tertulis kepada bupati. Untuk mendapatkan Tanda Daftar Industri (TDI), pemohon harus melampirkan persyaratan foto kopi sebagai berikut :

1. Kartu tanda penduduk (KTP).

2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan atau Nomor Pokok Wajib Retribusi Daerah (NPWRD).

3. Akte Pendirian Perusahaan.

4. Surat Ijin Tempat Usaha atau Surat Ijin Gangguan.

5. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL).

6. Neraca Awal dan Akhir Perusahaan.

Berdasar Perda Kabupaten Semarang Nomor 3 Tahun 2003 tentang izin gangguan, satuan kerja yang memproses izin Gangguan adalah Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Foto kopi KTP pemohon;

2. Surat keterangan dari Kepala Desa /Kelurahan dimana usaha diselenggarakan yang diketahui oleh camat.

3. Surat kuasa dan foto kopi KTP yang diberi kuasa bagi yang dikuasakan.

4. Foto kopi akte pendirian perusahaan bagi perusahaan yang berbentuk badan hukum yang disahkan oleh instansi yang berwenang.

5. Keterangan yang jelas mengenai letak tempat usaha yang dimohonkan izin gangguan yang dilampiri gambar situasi dan gambar denah yang asli rangkap 2 (dua) dengan perbandingan (skala) 1 : 200 atau 1 : 500.

6. Daftar mesin-mesin dan atau peralatan kerja yang akan digunakan.

7. Foto kopi IMB atau bukti telah mengajukan permohonan izin bangunan bagi tempat usaha yang telah ada bangunannya.

8. Bukti pemilikan/pelimpahan/persetujuan penggunaan tempat usaha yang sah. 9. Pernyataan persetujuan dari tetangga terdekat dan atau pemilik tanah yang

berbatasan dengan tempat usaha yang diketahui oleh RT, RW, Kepala Desa/Kelurahan dan Camat setempat.

10. Data personil yang dipergunakan. 11. Dokumen UKL, UPL dan SPPL. 12. Surat kuasa bagi yang menguasakan.

Berdasar Perda kabupaten Semarang Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Satuan kerja yang memproses SIUP adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Semarang dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Pemohon mengisi blanko permohonan 2. Petugas meneliti berkas permohonan

3. Berkas permohonan yang tidak lengkap dan benar, saat itu juga dikembalikan untuk dilengkapi

4. Berkas permohonhan yang lengkap dan benar diberikan tanda terima, sejak itu hitungan waktu proses pelayanan dimulai

(20)

5. Terhadap berkas pemohon yang ditolak selambat-lambatnya 5 (lima) hari harus diterbitkan surat penolakan dengan mencantumkan alasan-alasannya

6. Pemohon membayar retribusi sesuai ketentuan yang berlaku 7. Penyerahan izin kepada pemohon.

Izin edar diperlukan sebagai jaminan bahwa usaha makanan yang kita jual memenuhi standar keamanan makanan. Izin yang diperlukan adalah PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Pengurusan izin dapat dilakukan dengan mendaftarkan produk pangan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Persyaratan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

1. Fotocopy KTP

2. Pas phot 3 x 4 2 lembar

3. Surat Keterangan Domisili Usaha dari Kantor Camat 4. Surat Keterangan Puskesmas atau Dokter

5. Denah lokasi dan denah bangunan tempat usaha

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dari aspek yuridis pendirian industri pengolahan keripik nangka di kabupaten Semarang relatif tidak terlalu rumit. Calon pengusaha apabila bersungguh-sungguh akan dapat memenuhi semua persyaratan perizinan yang ditentukan. Tidak ada persyaratan yang terlalu memberatkan yang dapat menjadi hambatan. Untuk menangani perizinan diperlukan tenaga khusus yang berpengalaman menghadapi petugas instansi pemerintah kabupaten.

E. Aspek Sosial

Pendirian industri keripik nangka dapat memberikan manfaat sosial bagi pihak-pihak di sekitar lingkungan industri. Keuntungan sosial yang didapat dengan adanya industri keripik nangka diantaranya adalah :

1. Menambah lapangan pekerjaan baru 2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat 3. Meningkatkan skill masyarakat

4. Membentuk mental pekerja yang handal di tengah masyarakat

F. Aspek Ekonomi

Keuntungan yang didapat dari pendirian industri keripik nangka di kabupaten Semarang dari sisi ekonomi diantaranya adalah :

1. Adanya pemanfaatan sumber bahan baku lokal 2. Menumbuhkan industri atau usaha yang lain 3. Meningkatkan pendapatan daerah

Figur

Memperbarui...

Related subjects :