• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL dan PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL dan PEMBAHASAN"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Profile Perusahaan dan Responden

4.1.1 Profile PT. Sumber Makmur

PT Sumber Makmur atau yang lebih dikenal dengan Sumber Makmur Ban merupakan salah satu perusahaan yang berperan sebagai agen dalam melakukan penjualan serta bengkel ban dan velg mobil. Sumber Makmur Ban yang beralamat di Jalan Daan Mogot 119 blok B1-2, Jakarta telah memulai operasinya sejak akhir tahun 1985 dan merupakan salah satu authorized dealer atau TOMO (Toko Model) dari PT Bridgestone Tire Indonesia. TOMO diambil dari sebuah kata dalam bahasa Jepang, Tomodachi, yang berarti teman. Ide dari kata tersebut adalah dengan teman yang saling mendukung, maka perjuangan memenangkan persaingan bisnis yang amat ketat akan lebih mudah. Hingga kini, kata TOMO dipakai menjadi singkatan dari kata Toko Model.

Pada awal pendiriannya, Sumber Makmur Ban hanya berstatus perusahaan kecil. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1998 status badan hukum perusahaan berubah menjadi berbentuk PT (Perseroan Terbatas) yang berdiri berdasarkan akte notaris Akhmad Tolip dan disertai dengan surat lainnya, seperti adanya SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) nomor 1729/0349/09-03/PK/’85 dan TDUP (Tanda Daftar Usaha Perdagangan) nomor 0912/09-03/TDUP/IX/1998 yang diresmikan pada tanggal 10 September 1998 oleh Drs. J. Radjagoekgoek.

Selama hampir 23 tahun berdiri, Sumber Makmur Ban tentu saja sudah memiliki konsumen yang loyal. Konsumennya mayoritas adalah perorangan, namun tak sedikit pula perusahaan-perusahaan, bengkel-bengkel, serta toko yang melakukan kerja sama dengannya.

(2)

S

Pemilik

Sekretaris

Marketing/ Sales Finance/ Accounting Staff Pajak

Staff Penagihan Kepala Mekanik

S S S S S S S S D D

Koleksi ban yang dimiliki oleh Sumber Makmur Ban cukup lengkap, mulai dari buatan lokal hingga impor. Tak hanya Bridgestone, merek lainnya seperti Goodyear, Dunlop, GT Radial, Achilles, Accelera, Toyo, Firenza, Michelin, Pirelli, Continental, Yokohama, dan lain sebagainya juga tersedia. Begitu juga dengan velg yang tersedia, sebut saja merek SSW, Autocouture, Fusion atau Fabulous yang rata-rata merupakan produksi Taiwan. Selain menjual produk ban dan velg (baik impor maupun lokal), Sumber Makmur Ban juga melakukan pelayanan jasa berupa bengkel ban. Berbagai pelayanan seperti spooring 3D computerized, balancing, finish balance, dan service velg racing dapat ditemui disana.

Pada saat ini, PT. Sumber Makmur telah memiliki karyawan sebanyak 17 orang yang sangat efektif dalam pembagian dan pelaksanaan tugasnya. Berikut adalah struktur organisasi dari PT. Sumber Makmur :

Sumber : PT. Sumber Makmur (2008)

(3)

Keterangan :

S = Staff pekerja (mekanik)

D = Driver (Supir)

Spesifikasi pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :

• Pemilik

- Me-manage segala sesuatunya mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar.

- Turun langsung ke lapangan untuk memantau dan melakukan pengawasan secara menyeluruh atas semua kegiatan yang terjadi.

- Merumuskan dan menetapkan strategi perusahaan serta membuat perencanaan jangka panjang.

- Bertanggung jawab secara umum atas kelancaran operasi perusahaan.

• Sekretaris

- Menjadi wakil pemilik dan mewakili pemilik apabila pemilik sedang tidak ada di tempat.

- Menyusun laporan pertanggungjawaban.

- Memeriksa laporan keuangan.

- Membuat undangan dan mengurusi berbagai surat.

• Marketing/ Sales

- Bertanggung jawab dalam pembelian dan penjualan barang.

(4)

- Melakukan promosi untuk meningkatkan volume penjualan dan mencari informasi mengenai pasar.

• Finance/ Accounting

- Memantau pengeluaran dan pemasukan, kemudian melaporkannya kepada pemilik.

- Melakukan pencatatan atas segala kegiatan keluar masuknya arus keuangan.

- Bertanggung jawab dalam penggunaan uang, pencatatan bukti transaksi sampai membuat laporan keuangan secara periodik.

• Staff Pajak

- Mengurusi pembayaran pajak perusahaan dan berbagai administrasi mengenai perpajakan.

- Menangani pajak yang bersangkutan dengan kegiatan perusahaan.

• Staff Penagihan

- Menagih piutang dan mengurusi bagian utang piutang.

- Melakukan penagihan terhadap konsumen yang melakukan hutang, kemudian melaporkan kepada bagian keuangan yang diteruskan langsung ke pemilik.

• Kepala Mekanik

- Mengatur dan memberi tugas kepada staff pekerja.

- Mengatur dan mengawasi pengiriman barang hingga tujuan.

(5)

• Staff Pekerja

- Melaksanakan dan melaporkan setiap pekerjaan yang berasal dari kepala mekanik.

• Driver (Supir)

- Mengantarkan dan mengambil barang.

4.1.2 Profile Responden

Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Jakarta Barat khususnya daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Sedangkan sampelnya diambil dari responden yang memiliki kendaraan roda empat. Penyebaran kuesioner dilakukan secara door-to-door kepada responden, dimana alamat responden sebagian berasal dari database perusahaan, dan sebagian lainnya disebarkan secara acak kepada responden. Mayoritas sampel bertempat tinggal di kawasan Kebon Jeruk, Jalan Panjang, Puri Indah, Intercon, dan Meruya.

Pembagian kuesioner dilakukan selama 6 hari, yang dimulai pada tanggal 17 Oktober 2008 hingga 22 Oktober 2008 dengan total sebanyak 97 responden.

4.2 Analisa Kondisi Pangsa Pasar

Kondisi pasar dan perekonomian Indonesia memiliki pengaruh yang besar bagi usaha perdagangan. Secara umum kondisi ekonomi makro Indonesia pada tahun 2007 lebih baik dari tahun 2006. Hal tersebut ditandai dengan pertumbuhan ekonomi (GDP) yang melaju tinggi masing-masing pada level 5,97% (kwartal I), 6,1% (kwartal II), 6,4% (kwartal III),

(6)

dan 6,3% (kwartal IV) dan juga ekspor yang mengalami pertumbuhan 10,6% dengan nilai US$ 117 milyar.

Dari sekian banyak sektor yang turut berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2007, sektor pengangkutan dan komunikasi adalah sektor yang paling berpengaruh dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya, yaitu dengan pertumbuhan sebesar 11,90%.

Pada tahun 2008 dimana terjadi ketidakstabilan ekonomi global dan melonjaknya harga minyak yang terus berlanjut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan. Namun, dari sisi domestik, pemerintah sendiri memperkirakan ekonomi tahun 2008 tumbuh sebesar 6,8%. Industri otomotif pun diperkirakan akan lebih baik dari tahun 2007.

Hal tersebut juga terlihat dari tingginya produksi dan penjualan kendaraan bermotor tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006, walaupun belum dapat mencapai level produksi dan penjualan tahun 2005. Berikut adalah kinerja industri otomotif selama 3 tahun terakhir (dalam unit) :

Tabel 4.1 Kinerja Industri Otomotif

2005 2006 2007 07 vs 06 (%) Mobil - Produksi - Penjualan Domestik (%) - Ekspor (CBU) - Impor (CBU) 500.710 533.917 100.0 17.805 31.760 296.008 318.889 59.7 30.974 33.663 411.638 433.341 81.2 60.267 55.112 139.1 135.9 194.6 163.7 Sumber : APBI (2008)

(7)

Tabel di atas menggambarkan kinerja industri otomotif yang mengalami peningkatan di tahun 2007, meski sempat mengalami penurunan di tahun 2006.

4.2.1 Analisa Kondisi Pasar Industri Otomotif

Industri otomotif (kendaraan bermotor) merupakan originated driven demand dan pasar potensial bagi tinggi rendahnya penjualan ban. Di tahun 2007 industri otomotif di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi seiring dengan pulihnya kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat setelah terpuruk pada tahun 2006, paska kenaikan harga BBM di akhir tahun 2005. Produksi mobil dalam tahun 2007 adalah 411.638 unit, merupakan suatu peningkatan yang cukup tinggi yaitu 39.1% dari tahun 2006 (sebesar 296.008 unit), walaupun belum kembali ke angka produksi tahun 2005 (sebesar 500.710 unit). Sementara penjualan domestik juga mengalami peningkatan sebesar 35.9% dari 318.899 unit tahun 2006 menjadi 433.341 unit tahun 2007.

Berikut adalah tabel mengenai data produksi dan penjualan mobil tahun 2007 dalam perbandingannya dengan tahun 2006 :

Tabel 4.2 Produksi dan Penjualan Mobil Tahun 2006 - 2007

Produksi Penjualan Domestik

Kategori 2006 2007 % (+/-) 2006 2007 % (+/-)

1. Passenger (Sedan) 2.008 1.570 (21.8) 17.565 27.381 55.9

2. Passenger (MVP 4x2) 203.676 302.334 48.4 203.634 285.733 40.3

3. Passenger (SUV 4x4) 637 5.304 732.6 1.183 1.655 39.9

4. Commercial (Bus) 1.254 1.676 33.6 1.561 1.700 8.9

5. Commercial (Truck/ Pickup) 88.433 100.754 13.9 89.540 108.558 21.2 6. Commercial (Double Cabin) - - - 5.416 8.314 53.5 DOMESTIK 296.008 411.638 39.1 318.889 433.341 35.9

(8)

IMPORT (CBU) 33.663 55.112 63.7 - -

EXPORT (CBU) - - - 30.974 60.267 94.6

TOTAL 329.761 466.750 41.6 349.873 493.608 41.1

Sumber : GAIKINDO (2008)

Naiknya produksi mobil tahun 2007 mengakibatkan penjualan ban di pasar perakitan (OEM market) juga mengalami peningkatan di tahun 2007 sebesar 32.6% mencapai 2.343.000 unit dari 1.767.000 unit (tahun 2006).

Dengan meningkatnya penjualan kendaraan bermotor di pasar dalam negeri akan mengakibatkan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di dalam negeri, yang tentunya akan menjadi pasar potensial bagi permintaan terhadap ban, baik di pasar perakitan (OEM

market) dan di pasar umum (replacement market). Tingginya permintaan ban di pasar perakitan (OEM market) juga dapat dilihat dari jumlah produksi kendaraan bermotor di tahun berjalan, sedangkan jumlah mobil yang terdaftar di seluruh POLDA di Indonesia merupakan pasar potensial untuk tinggi rendahnya penjualan ban di pasar umum (replacement market).

Berikut adalah data jumlah mobil terdaftar di Indonesia yang diperoleh dari Ditlantas POLRI melalui APBI, namun dari data berikut terlihat bahwa pertambahan jumlah mobil terdaftar sejak tahun 2002, jauh melebihi jumlah penjualan mobil tahunannya di pasar domestik. Tidak ada keterangan dari mana sisa tambahan mobil tersebut.

(9)

Tabel 4.3 Jumlah Mobil di Indonesia

POSISI Pertambahan Penjualan Perkiraan Jumlah

Tahun Awal Tahun Akhir Tahun Jumlah Mobil Mobil Domestik Mobil Terdaftar Akhir Tahun 1998 4.805.686 4.993.072 187.386 58.315 4.854.389 1999 4.993.072 5.171.001 177.929 93.843 4.938.523 2000 5.171.000 5.412.327 241.326 300.963 5.229.608 2001 5.412.327 5.666.074 253.747 299.560 5.518.710 2002 5.666.074 6.609.916 943.842 317.748 5.830.939 2003 6.609.916 9.461.984 2.852.068 354.482 6.182.505 2004 9.461.984 12.871.989 3.410.005 483.148 6.662.561 2005 12.871.989 14.471.750 1.599.761 533.917 7.193.481 2006 14.471.750 15.010.339 538.509 318.897 7.509.140 2007 15.010.339 15.508.573 498.234 433.341 7.942.106 Sumber : APBI (2008)

Menurut data Kepolisian yang dikutip oleh APBI, jumlah mobil terdaftar akhir tahun 2007 adalah sebanyak 15.508.573 unit. Melihat jumlah mobil yang cukup signifikan tersebut, tentunya dapat membuat bisnis industri ban turut terdongkrak naik.

Industri otomotif di tahun 2008 pun diperkirakan akan lebih baik dari tahun 2007 yang juga telah meningkat tinggi dari tahun 2006 setelah turun ± 25% dari tahun 2005. Menurut sumber dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) produksi dan penjualan mobil di tahun 2008 diperkirakan akan naik dari 433.000 unit (2007) menjadi 520.000 unit, dimana kenaikan yang terjadi sebesar ± 20%.

Perkiraan ini dapat menjadi kenyataan bahkan dapat lebih tinggi lagi realisasinya apabila melihat realisasi penjualan domestik mobil pada Triwulan I/2008 yang mencapai

(10)

134.587 unit dibandingkan periode yang sama tahun 2007 sebesar 84.520 unit (meningkat 59,2%). Peningkatan penjualan pun semakin tinggi pada bulan April dan Mei 2008, dengan penjualan bulanan rata-rata yang mencapai ± 50.000 unit mobil. Meskipun terjadinya kenaikan BBM di akhir bulan Mei 2008 yang tentu saja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga kebutuhan pokok dan penurunan daya beli, penurunan penjualan pun terkena dampaknya dalam 3 bulan pertama setelah kenaikan terjadi. Namun tingginya penjualan dalam 5 bulan pertama tahun 2008, rencana pertama penjualan mobil (520.000 unit) sepertinya masih dapat dicapai.

4.2.2 Analisa Kondisi Pasar Industri Ban

Pulihnya kegiatan ekonomi dan perdagangan mulai awal tahun 2007, secara berangsur-angsur meningkatkan permintaan ban di pasar. Produksi dan penjualan total ban mobil selama 10 tahun (1997-2007) telah meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat (213%). Dengan tahun 2007 sebagai dasar, ini berarti rata-rata pertumbuhannya 8-10% per tahun. Hal tersebut merupakan suatu pertumbuhan yang cukup baik.

Namun apabila dilihat penjualan pada tiap segmen pasar yang pertumbuhannya konsisten pada tingkat yang tinggi yaitu 13-15% per tahun, adalah penjualan di pasar ekspor selama 10 tahun yang pada tahun 2007 sudah mencapai lebih dari 3 kali lipat (347%) dari posisi tahun 1997. Halaman berikut menggambarkan tabel penjualan ban untuk kendaraan roda empat selama 10 tahun terakhir.

(11)
(12)

Pertumbuhan di pasar Replacement sangat dipengaruhi oleh stabilitas perekonomian dan perdagangan serta daya beli masyarakat, walaupun tahun 2005, penjualan di Replacement market sudah mencapai 117% (atau 10 juta unit ban) dari level tahun 1997, namun tahun 2006 turun lagi ke posisi 87%, sedangkan tahun 2007 berada pada level 96%.

Penjualan di pasar OEM pertumbuhannya lebih baik dengan makin kokohnya industri mobil nasional. Tahun 2005, penjualan di pasar OEM sudah mencapai 141% dari level tahun 1997, walaupun menurun lagi tahun 2006 ke posisi 88%, namun tahun 2007 sudah kembali naik ke posisi 117%.

Berikut adalah tabel yang menjelaskan mengenai produksi dan penjualan ban mobil selama 2 tahun terakhir, yaitu tahun 2006 dan 2007.

Tabel 4.5 Produksi dan penjualan ban mobil tahun 2006-2007 Ban Mobil (Roda-4)

(dalam 000 unit) Tahun 2006 Tahun 2007 07 vs 06 (%) Produksi Penjualan * Replacement Sales * OEM Sales * Export Sales Total Penjualan 40.019 7.489 1.762 30.331 39.582 42.001 8.214 2.342 31.788 42.344 104.9 109.7 132.9 104.8 106.9 Sumber : APBI (2008)

Pertumbuhan produksi dan penjualan ban tahun 2007 masih terus dirasakan saat memasuki awal tahun 2008. Permintaan ban di dalam negeri terus menguat baik di pasar

(13)

Indonesia), kuatnya permintaan ban di pasar dalam negeri dapat dilihat dari data produksi dan penjualan ban selama empat bulan pertama tahun 2008 jika dibandingkan dengan tahun 2007 sebagai berikut :

Tabel 4.6 Produksi dan penjualan ban mobil (Januari – April 2007 dan 2008) Ban Mobil (Roda-4)

(dalam 000 unit)

Jan – April 2007 Jan – April 2008 08 vs 07 (%) Produksi Penjualan * Replacement Sales * OEM Sales * Export Sales Total Penjualan 14.214 2.505 660 10.710 13.875 14.923 3.267 1.073 10.462 14.802 105.0 130.4 162.5 97.7 106.7 Sumber : APBI (2008)

Dilihat dari tabel produksi dan penjualan di atas, penjualan di pasar dalam negeri (Replacement + OEM Market) naik 37,1% dari 3.165.000 (Januari – April 2007) menjadi 4.340.000 unit (Januari – April 2008), dimana hal ini merupakan kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Kenaikan ini juga dipicu oleh kenaikan penjualan di pasar OEM yang pada periode ini, naik 62,5% dari 660.000 unit menjadi 1.073.000 unit, seiring dengan pulihnya produksi industri otomotif, setelah mengalami penurunan ± 25% tahun 2006.

4.2.3 Analisa Kondisi Pasar Lima Perusahaan Ban Terbaik

Industri ban di Indonesia terdiri dari perusahaan-perusahaan ban yang mana mayoritas dari perusahaan-perusahaan tersebut tergabung dalam APBI. APBI yang adalah kependekan dari Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia dan diketuai oleh Drs. A. Azis Pane,

(14)

MBA merupakan suatu perhimpunan atau asosiasi tempat perusahaan-perusahaan ban Indonesia berkumpul. Beberapa perusahaan yang tergabung ialah dalam APBI ini ialah :

Merek Ban

- PT. Goodyear Indonesia Goodyear

- PT. Bridgestone Tire Indonesia Bridgestone - PT. Gajah Tunggal Tbk. Gajah Tunggal - PT. Industri Karet Deli Swallow - PT. Ariga Mira Rubber Works Aaron

- PT. Sumi Rubber Indonesia Dunlop

- PT. Suryaraya Rubberindo Industries Federal

- PT. Elang Perdana Tyre Industry EPCO/ Accelera

- PT. Banteng Pratama Mizzle

- PT. Hung-A Indonesia Thunderbird

- PT. United King Land Kingland

- PT. Surabaya Kencana Tyre Industry Primax

Seluruh perusahaan yang tergabung dalam APBI wajib melaporkan data produksi dan penjualan per tahunnya ke APBI. Berikut adalah data produksi dan penjualan perusahaan ban yang tergabung dalam APBI di tahun 2006 dan 2007 :

• Produksi ban roda-4 (PCR, Mini Truck, Light Truck & Truck/ Bus) Tabel 4.7 Produksi Ban Roda-4 (dalam unit)

Tahun 2006 Tahun 2007

PT. Intirub 143.790 -

PT. Goodyear Indonesia 2.317.179 2.375.364

(15)

PT. Gajah Tunggal Tbk 10.634.306 11.935.415

PT. Mega Safe Tyre Industry 353.788 -

PT. Industri Karet Delli 1.172.012 1.158.756

PT. Ariga Mira Rubber Works - -

PT. Sumi Rubber Indonesia 12.812.447 12.868.040 PT. Elang Perdana Tyre Industry 1.931.729 2.365.298

TOTAL 40.018.795 42.000.967

% 07 VS 06 100.0 105.0

Sumber : APBI (2008)

• Penjualan Domestik (Replacement Sales & OEM Sales) tahun 2007 Tabel 4.8 Penjualan Domestik 2007 (dalam unit)

Pasar Replacement Pasar OEM Total Domestik PT. Intirub - - - PT. Goodyear Indonesia 522.601 96.113 618.714

PT. Bridgestone Tire Indonesia 2.991.589 1.041.291 4.032.880

PT. Gajah Tunggal Tbk 2.668.760 318.362 2.987.122

PT. Mega Safe Tyre Industry - - -

PT. Industri Karet Delli 394.596 - 394.596

PT. Ariga Mira Rubber Works - - -

PT. Sumi Rubber Indonesia 1.230.826 886.334 2.117.160

PT. Elang Perdana Tyre Industry 405.452 - 405.542

PT. Suryaraya Rubberindo Industries - - -

(16)

PT. Hung-A Indonesia - - - PT. King-Land - - - TOTAL Tahun 2007 8.213.914 2.342.100 10.556.019 TOTAL Tahun 2006 7.488.823 1.761.556 9.250.379 % 07 VS 06 109.7 132.9 114.1 Sumber : APBI (2008)

Berdasarkan kedua tabel di atas, dapat diketahui bahwa terdapat 5 besar perusahaan ban, dimana pada kelima perusahaan tersebut akan dilakukan perhitungan pangsa pasar dan peralihan konsumen yang terjadi.

Berikut adalah nama 5 perusahaan ban dengan tingkat produksi dan penjualan tertinggi : Tabel 4.9 Perusahaan Ban

Nama Perusahaan Ban Merek Ban Lokasi Pabrik

PT. Goodyear Indonesia Goodyear Bogor

PT. Bridgestone Tire Indonesia Bridgestone Bekasi/ Karawang PT. Gajah Tunggal Tbk. Gajah Tunggal Tangerang PT. Sumi Rubber Indonesia Dunlop Cikampek PT. Elang Perdana Tyre Industry EPCO/ Accelera Bogor

Sumber : APBI (2008)

Kelima perusahaan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi karena memang mayoritas perusahaan tersebut sudah ada sejak lama dan menghasilkan merek-merek ban yang telah mendunia. Berikut adalah penjelasan mengenai kelima perusahaan tersebut :

(17)

™ PT. Goodyear Indonesia

PT. Goodyear Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1935 merupakan anak perusahaan dari The Goodyear Tire & Rubber Company yang berpusat di Amerika Serikat dan merupakan produsen pertama ban di Indonesia.

Sejak awal kendaraan mulai massal, Goodyear telah bekerjasama dengan berbagai perusahaan mobil terkemuka di seluruh dunia untuk menyuplai ban Original Equipment (OE). Sampai saat ini hubungan kerjasama itu terus terjalin dengan pabrik-pabrik mobil terkemuka di seluruh dunia seperti Toyota, Honda, Nissan, Suzuki, Volkswagen, Audi, Mercedes Benz, BMW, Citroen, Ford, dan General Motor.

™ PT. Bridgestone Tire Indonesia

PT. Bridgestone Tire Indonesia merupakan perusahaan patungan swasta Nasional Indonesia dengan swasta Jepang yang didirikan pada tanggal 8 September 1973. Dengan jaringan pemasaran yang luas mencakup domestik, penjualan ke agen (replacement), penjualan ke perusahaan perakit mobil kendaraan (OE/OEM) dan ekspor, PT. Bridgestone Tire Indonesia ini telah mendapatkan pengakuan mutu produknya oleh Bridgestone Corporation sehingga mendapat kepercayaan sebagai

Export Bridgestone ke seluruh dunia.

™ PT. Gajah Tunggal Tbk.

Di awal berdirinya pada tahun 1951, PT. Gajah Tunggal Tbk. merupakan perusahaan yang memproduksi ban sepeda. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perubahan produksi terjadi. Saat ini, Gajah Tunggal menjadi produsen ban terbesar di Asia Selatan di mana tidak hanya memproduksi ban sepeda, tetapi untuk seluruh kendaraan, seperti tabung ban untuk sepeda motor, mobil penumpang, komersial dan kendaraan alat berat.

(18)

™ PT. Sumi Rubber Indonesia

PT. Sumi Rubber Indonesia didirikan pada tahun 1995 di Cikampek untuk menggantikan pabrik ban Sumitomo Rubber Industry (berpusat di Jepang) yang mengalami kerusakan hebat dan tidak dapat beroperasi kembali.

PT. Sumi Rubber Indonesia yang memproduksi ban merek Dunlop ini memproduksi ban untuk truk, bus, mobil penumpang, dan motor. Perusahaan ini juga banyak menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan mobil untuk menyuplai ban OEM (Original Equipment Manufacturing). Toyota, Honda, Nissan, Daihatsu, dan Suzuki merupakan sebagian kecil perusahaan yang bekerja sama dengannya.

™ PT. Elang Perdana Tyre Industry

PT. Elang Perdana Tyre Industry adalah perusahaan yang memproduksi ban untuk kendaraan roda empat dan roda dua dengan mengandalkan teknologi dari Belanda. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1996 dan berlokasi di Citeureup, Bogor ini mengeluarkan ban dagang lokal dengan merek Accelera, Epco, dan Millenium.

Kelima merek ban tersebut meraih penjualan tertinggi di antara perusahaan lainnya yang tergabung dalam APBI. Berikut adalah rincian data produksi dan penjualan ban roda-4 (PCR, Mini truck, Light truck & Truck/ bus) dalam bentuk unit selama 4 tahun terakhir dari lima merek ban tersebut.

(19)

Data produksi ban (PCR, Mini truck, Light truck & Truck/ bus) dalam bentuk unit : Tabel 4.10 Produksi Ban (dalam unit)

Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 PT. Goodyear Indonesia 1.728.540 1.964.892 2.317.179 2.375.364 PT. Bridgestone Tire Indonesia 9.233.456 9.985.439 10.653.544 11.298.094 PT. Gajah Tunggal Tbk. 8.567.340 9.529.450 10.634.306 11.935.415 PT. Sumi Rubber Indonesia 10.859.258 11.682.375 12.812.447 12.868.040 PT. Elang Perdana Tyre

Industry

976.533 1.389.486 1.931.729 2.365.298

TOTAL 31.365.127 34.551.642 38.349.205 40.842.211

Sumber : APBI (2008)

Data penjualan domestik (Replacement Sales & OEM Sales) dalam satuan mata uang : Tabel 4.11 Penjualan Domestik (dalam jutaan rupiah)

Tahun 2006 Tahun 2007 Pertumbuhan Pasar

PT. Goodyear Indonesia 278.908 313.908 112.55%

PT. Bridgestone Tire Indonesia 1.659.729 2.031.927 122.43% PT. Gajah Tunggal Tbk. 2.505.634 3.057.839 122.04% PT. Sumi Rubber Indonesia 532.685 746.611 140.16% PT. Elang Perdana Tyre Industry 149.238 168.068 112.62%

TOTAL 5.126.194 6.318.353

(20)

Berdasarkan tabel penjualan kelima merek ban tersebut, maka dapat diketahui tingkat pertumbuhan pasar dari masing-masing merek dengan menggunakan rumus perhitungan :

Gm = RI + RL

dimana :

Gm = % pertumbuhan pasar

RI = kenaikan pendapatan tahun ini RL = pendapatan tahun lalu

Berikut adalah pertumbuhan pasar kelima merek ban tersebut: • PT. Goodyear Indonesia

Gm = 100% + 313.908 – 278.908 x 100% 278.908

= 100% + 12,55%

= 112,55%

• PT. Bridgestone Tire Indonesia

Gm = 100% + 2.031.927 – 1.659.729 x 100% 1.659.729 = 100% + 22,43% = 122,43% • PT. Gajah Tunggal, Tbk Gm = 100% + 3.057.839 – 2.505.634 x 100% 2.505.634

(21)

= 100% + 22,04%

= 122,04%

• PT. Sumi Rubber Indonesia

Gm = 100% + 746.611 – 532.685 x 100% 532.685

= 100% + 40,16%

= 140,16%

• PT. Elang Perdana Tyre Industry

Gm = 100% + 168.068 – 149.238 x 100% 149.238

= 100% + 12,62%

= 112,62%

Dari hasil perhitungan tersebut dapat ditarik kesimpulan pertumbuhan pasar tertinggi diraih oleh PT. Sumi Rubber Indonesia (Dunlop) dengan kenaikan tingkat pertumbuhan sebesar 40,16%. Kemudian PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bridgestone) mengalami tingkat pertumbuhan pasar sebesar 22,43%, PT. Gajah Tunggal, Tbk (GT Radial) mengalami tingkat pertumbuhan pasar sebesar 22,04%, PT. Elang Perdana Tyre Industry (Accelera) mengalami tingkat pertumbuhan pasar sebesar 12,62%, dan terakhir ialah PT. Goodyear Indonesia (Goodyear) dengan tingkat pertumbuhan pasar sebesar 12,55%.

(22)

Data penjualan domestik (Replacement Sales & OEM Sales) dalam bentuk unit : Tabel 4.12 Penjualan Domestik (dalam unit)

Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 PT. Goodyear Indonesia 957.990 980.763 600.435 618.714 PT. Bridgestone Tire Indonesia 4.541.341 6.778.350 4.758.365 4.032.880 PT. Gajah Tunggal Tbk. 3.222.722 5.925.467 3.285.798 2.987.122 PT. Sumi Rubber Indonesia 1.381.886 2.480.525 1.992.540 2.117.160 PT. Elang Perdana Tyre

Industry

292.870 625.350 512.355 405.542

TOTAL 10.396.809 16.790.455 10.969.493 10.161.418

Sumber : APBI (2008)

Berdasarkan tabel penjualan kelima merek ban tersebut, maka perhitungan pangsa pasar yang dimiliki oleh masing-masing merek dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Ms = S Mt

dimana :

Ms = pangsa pasar, dinyatakan dalam istilah persentase S = penjualan

(23)

Berikut adalah pangsa pasar yang dimiliki oleh masing-masing merek di tahun 2007: • PT. Goodyear Indonesia

Ms = 618.714 = 0,0609 = 6,09 % 10.161.418

• PT. Bridgestone Tire Indonesia

Ms = 4.032.880 = 0,3969 = 39,69 % 10.161.418

• PT. Gajah Tunggal, Tbk

Ms = 2.987.122 = 0,2939 = 29,39 % 10.161.418

• PT. Sumi Rubber Indonesia

Ms = 2.117.160 = 0,2084 = 20,84 % 10.161.418

• PT. Elang Perdana Tyre Industry

Ms = 405.542 = 0,0399 = 3,99 % 10.161.418

Dari hasil perhitungan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa PT. Goodyear Indonesia (Goodyear) menguasai pangsa pasar sebanyak 6,09%, PT. Bridgestone Tire Indonesia (Bridgestone) sebanyak 39,69%, PT Gajah Tunggal, Tbk (GT Radial) sebanyak 29,39%, PT. Sumi Rubber Indonesia (Dunlop) sebanyak 20,84%, dan PT. Elang Perdana

(24)

Tyre Industry (Accelera) sebanyak 3,99%. Berikut adalah persentase pangsa pasar masing-masing merek ban tersebut dalam bentuk gambar (pie-chart) :

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.2 Persentase Pangsa Pasar Lima Merek Ban

Berdasarkan perhitungan di atas, berikut adalah tabel yang menggabungkan perbandingan antara pertumbuhan pasar dan pangsa pasar yang diperoleh masing-masing merek.

Tabel 4.13 Pertumbuhan dan Pangsa Pasar Kelima Merek Ban Merek Ban Pertumbuhan Pasar

(Market Growth) Pangsa Pasar (Market Share) Goodyear 112,55% 6,09% Bridgestone 122,43% 39,69% Gajah Tunggal 122,04% 29,39% Dunlop 140,16% 20,84% Accelera 112,62% 3,99% Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Bridgestone 40% Goodyear 6% Gajah Tunggal 29% Dunlop 21% Accelera 4%

(25)

Dengan menggunakan grafik, maka akan lebih terlihat jelas perbandingan antara kelima merek ban dilihat dari segi pertumbuhan pasar (market growth) dan pangsa pasar (market share).

0

5

10

15

20

25

30

35

40

45

GY

BS

GT

DL

AC

GY

BS

GT

DL

AC

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.3 Grafik Pertumbuhan Pasar Lima Merek Ban

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.4 Grafik Pangsa Pasar Lima Merek Ban

0

5

10

15

20

25

30

35

40

GY

BS

GT

DL

AC

GY

BS

GT

DL

AC

(26)

Dari kedua grafik di atas, dapat terlihat bahwa Goodyear memiliki pertumbuhan pasar yang cukup baik (sebesar 12,55%), namun pangsa pasarnya kurang (sebesar 6,09%). Sementara itu, pertumbuhan pasar yang dialami Bridgestone cukup tinggi (sebesar 22,43%) dan menguasai pangsa pasar tertinggi di antara kelima merek lainnya yaitu sebesar 39,69%. Gajah Tunggal memiliki pertumbuhan pasar yang juga cukup tinggi (sebesar 22,04%) dengan pangsa pasar sebesar 29,39%. Pertumbuhan pasar tertinggi diperoleh Dunlop yaitu sebesar 40,16% dan menguasai pangsa pasar sebesar 20,84%. Sementara itu, Accelera memiliki pertumbuhan pasar yang relatif kecil (sebesar 12,62%) dan dengan pangsa pasar yang juga tidak terlalu besar, yaitu hanya sebesar 3,99%.

4.2.4 Analisa Kondisi Pasar Berdasarkan Hasil Kuesioner

Berdasarkan hasil kuesioner yang telah diperoleh, maka dapat dilihat bahwa merek ban yang paling menguasai pasar ialah Bridgestone, diikuti oleh Dunlop, Goodyear, GT Radial, dan Accelera. Persentase pilihan pasar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

• Jenis ban yang terakhir/ saat ini digunakan oleh responden Tabel 4.14 Jenis Ban yang Digunakan No. Merek Ban Jumlah Pengguna

Ban Persentase (%) Pengguna Ban 1 Bridgestone 39 40,206 % 2 GT Radial 6 6,186 % 3 Dunlop 30 30,928 % 4 Goodyear 12 12,371 % 5 Accelera 10 10,309 % TOTAL 97 100%

(27)

Berdasarkan hasil kuesioner tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jalan Panjang dan sekitarnya menggunakan ban Bridgestone (40,206%) sebagai ban yang digunakannya saat ini. Kemudian, 30,928% menggunakan ban Dunlop, 12,371% menggunakan ban Goodyear, 10,309% menggunakan ban Accelera, dan 6,186% menggunakan ban GT Radial.

• Urutan ban yang paling baik menurut responden Tabel 4.15 Urutan Ban Terbaik

No. Merek Ban Jumlah Suara

1 Bridgestone 458 2 Dunlop 346 3 Goodyear 275 4 GT Radial 218 5 Accelera 158 TOTAL 1455

Sumber : Hasil Kuesioner (2008)

Berdasarkan hasil kuesioner di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jalan Panjang dan sekitarnya menjawab Bridgestone sebagai ban terbaik, yang kemudian disusul oleh Dunlop, Goodyear, GT Radial, dan terakhir Accelera.

(28)

• Jenis ban yang ingin dimiliki oleh konsumen

Tabel 4.16 Jenis Ban yang Ingin Dimiliki Konsumen No. Merek Ban Jumlah Pengguna

Ban Persentase (%) Pengguna Ban 1 Bridgestone 45 46,392 % 2 GT Radial 8 8,247 % 3 Dunlop 30 30,928 % 4 Goodyear 11 11,340 % 5 Accelera 3 3,093 % TOTAL 97 100%

Sumber : Hasil Kuesioner (2008)

Berdasarkan hasil kuesioner di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jalan Panjang dan sekitarnya ingin mengganti ban yang sekarang digunakannya dengan ban Bridgestone (sebanyak 46,392%). Kemudian sebanyak 30,928% ingin mengganti ban yang saat ini digunakan dengan ban Dunlop, 11,340% ingin mengganti ban yang saat ini digunakan dengan ban Goodyear, 8,247% ingin mengganti ban yang saat ini digunakan dengan ban GT Radial, dan sebanyak 3,093% yang ingin mengganti bannya menjadi ban Accelera.

Dilihat dari keseluruhan hasil kuesioner, dapat disimpulkan bahwa kondisi pangsa pasar di Jalan Panjang cukup baik. Secara keseluruhan mayoritas masyarakat lebih memilih Bridgestone sebagai ban andalannya, yang kemudian diikuti oleh Dunlop, Goodyear, GT Radial, dan Accelera. Hal itu disebabkan karena di daerah tersebut sudah terdapat dua

(29)

authorized dealer dari Bridgestone yang telah berdiri cukup lama, yaitu Warna Warni Ban dan W&W Ban.

4.3 Analisa Peluang Bisnis Perusahaan dengan menggunakan Markov Chains Dalam menganalisa peluang bisnis yang dapat diraih perusahaan, penulis menggunakan Rantai Markov (Markov Chains) sebagai alat bantu dalam menentukan pangsa pasar dari masing-masing merek ban saat terjadi perpindahan konsumen dan pada saat kondisi ekuilibirum.

Dalam menggunakan Markov Chains terdapat 3 prosedur yang harus dilakukan guna menentukan perpindahan konsumen yang terjadi, yaitu menyusun matriks probabilitas transisi, menghitung kemungkinan pangsa pasar di masa mendatang, dan menentukan kondisi ekuilibrium.

# Prosedur 1 : Menyusun matriks probabilitas transisi

Dalam menyusun matriks probabilitas transisi, perlu diketahui berapa probabilitas pengguna ban dari tiap-tiap merek. Berdasarkan hasil kuesioner, dapat diketahui berapa jumlah pengguna ban dari setiap mereknya. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.17 Jumlah Pengguna Ban Dari Setiap Merek No. Merek Ban Jumlah Pengguna

Ban Persentase (%) Pengguna Ban 1 Bridgestone 39 40,206 % 2 GT Radial 6 6,186 % 3 Dunlop 30 30,928 % 4 Goodyear 12 12,371 %

(30)

5 Accelera 10 10,309 %

TOTAL 97 100%

Sumber : Hasil Kuesioner (2008)

Berdasarkan hasil kuesioner di atas, maka dapat disimpulkan bahwa probabilitas dari satu orang yang menggunakan satu di antara kelima merek ban tersebut adalah :

State 1 - Bridgestone 39/ 97 = 0,40206 = 40,206% State 2 - GT Radial 6/ 97 = 0,06186 = 6,186% State 3 - Dunlop 30/ 97 = 0,30928 = 30,928% State 4 - Goodyear 12/ 97 = 0,12371 = 12,371% State 5 - Accelera 10/ 97 = 0,10309 = 10,309%

Jika probabilitas tersebut diletakkan dalam vektor probabilitas state maka akan menjadi : π (1) = (0,40206 ; 0,06186 ; 0,30928 ; 0,12371 ; 0,10309)

di mana :

π (1) = vektor probabilitas state kelima merek ban untuk periode 1

π 1= 0,40206=probabilitas satu orang yang menggunakan merek ban Bridgestone,state 1 π 2 = 0,06186= probabilitas satu orang yang menggunakan merek ban GT Radial, state 2 π 3 = 0,30928= probabilitas satu orang yang menggunakan merek ban Dunlop, state 3 π 4 = 0,12371= probabilitas satu orang yang menggunakan merek ban Goodyear, state 4 π 5 = 0,10309= probabilitas satu orang yang menggunakan merek ban Accelera, state 5

Setelah mengetahui probabilitas saat ini dari setiap merek ban, maka perlu juga diketahui berapa persentase responden yang ingin berpindah merek. Berikut adalah tabel mengenai responden yang ingin mengganti merek bannya di kemudian hari :

(31)

Tabel 4.18 Merek Ban yang Ingin Dimiliki Konsumen No. Merek Ban Jumlah Pengguna

Ban Persentase (%) Pengguna Ban 1 Bridgestone 45 46,392 % 2 GT Radial 8 8,247 % 3 Dunlop 30 30,928 % 4 Goodyear 11 11,340 % 5 Accelera 3 3,093 % TOTAL 97 100%

Sumber : Hasil Kuesioner (2008)

Berdasarkan data yang diperoleh di atas, maka perubahan pelanggan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.19 Pertukaran Pelanggan

Merek Periode pertama Perubahan selama periode Periode kedua Jumlah pelanggan Mendapatkan Kehilangan Jumlah pelanggan

Bridgestone 39 16 10 45 GT Radial 6 6 4 8 Dunlop 30 10 10 30 Goodyear 12 5 6 11 Accelera 10 0 7 3 97 37 37 97

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Tabel di atas hanya menampilkan berapa jumlah ”kehilangan” dan ”mendapatkan” dari pesaing secara keseluruhan, tanpa diketahui dengan jelas dari mana dan ke mana

(32)

responden berpindah. Oleh karena itu, tabel berikut ini akan menguraikan lebih jelas, selain terdapat informasi tentang jumlah ”kehilangan” ke merek para pesaing, terdapat juga informasi jumlah ”mendapatkan” langganan dari merek-merek saingan.

Tabel 4.20 Pergantian Merek – Mendapatkan dan Kehilangan Merek Periode pertama

jumlah pelanggan

Mendapatkan dari Kehilangan ke Periode kedua jumlah pelanggan BS GT DL GY AC BS GT DL GY AC BS 39 0 2 9 2 3 0 3 4 3 0 45 GT 6 3 0 1 2 0 2 0 1 1 0 8 DL 30 4 1 0 2 3 9 1 0 0 0 30 GY 12 3 1 0 0 1 2 2 2 0 0 11 AC 10 0 0 0 0 0 3 0 3 1 0 3 97 97

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Persentase perpindahan konsumen tersebut dapat lebih jelas terlihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.21 Pergantian Merek

Ke Persentase perpindahan Ke

Dari Bridgestone GT Radial Dunlop Goodyear Accelera

Bridgestone 29 3 4 3 0

GT Radial 2 2 1 1 0

Dunlop 9 1 20 0 0

(33)

Accelera 3 0 3 1 3

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Keterangan :

= Tetap dalam penguasaan (pemilikan) atau ”RETENTIONS”

Tabel 4.22 Pergantian Merek (persentase) Ke Persentase perpindahan Ke

Dari Bridgestone GT Radial Dunlop Goodyear Accelera

Bridgestone 0,7436 0,0769 0,1026 0,0769 0

GT Radial 0,3333 0,3333 0,1667 0,1667 0

Dunlop 0,3 0,0333 0,6667 0 0

Goodyear 0,1667 0,1667 0,1667 0,5 0

Accelera 0,3 0 0,3 0,1 0,3

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Keterangan :

= Tetap dalam penguasaan (pemilikan) atau ”RETENTIONS”

Tabel di atas menunjukkan adanya perpindahan konsumen dari merek ban yang satu ke merek ban lainnya. Sebesar 74,36% dari pengguna Bridgestone tetap menggunakan ban Bridgestone, 7,69% dari pengguna Bridgestone berpindah ke GT Radial, 10,26% pengguna Bridgestone berpindah ke Dunlop, 7,69% pengguna Bridgestone berpindah ke Goodyear.

Untuk responden yang menggunakan ban GT Radial, sebesar 33,33% dari pengguna GT Radial tetap menggunakan ban GT, 33,33% dari pengguna GT berpindah ke Bridgestone, 16,67% pengguna GT berpindah ke Dunlop, dan 16,67% pengguna GT berpindah ke Goodyear.

(34)

Untuk responden yang menggunakan ban Dunlop, sebesar 66,67% dari pengguna Dunlop tetap menggunakan ban Dunlop, 30% dari pengguna Dunlop berpindah ke Bridgestone, dan 3,33% pengguna Dunlop berpindah ke GT Radial.

Untuk responden yang menggunakan ban Goodyear, sebesar 50% dari pengguna Goodyear tetap menggunakan ban Goodyear, 16,67% dari pengguna Goodyear berpindah ke Bridgestone, 16,67% dari pengguna Goodyear berpindah ke GT Radial, dan 16,67% pengguna Goodyear berpindah ke Dunlop.

Untuk responden yang menggunakan ban Accelera, sebesar 30% dari pengguna Accelera tetap menggunakan ban Accelera, 30% dari pengguna Accelera berpindah ke Bridgestone, 30% dari pengguna Accelera berpindah ke Dunlop, dan 10% pengguna Accelera berpindah ke Goodyear.

Berdasarkan kalkulasi dari perpindahan konsumen di atas, dapat digambarkan dengan menggunakan diagram pohon seperti di bawah ini :

0,40206 (0,7436) = 0,2990 0,40206 (0,0769) = 0,0309 0,40206 (0,1026) = 0,0413 0,40206 (0,0769) = 0,0309 0,40206 (0) = 0 0,06186 (0,3333) = 0,0206 0,06186 (0,3333) = 0,0206 0,06186 (0,1667) = 0,0103 0,06186 (0,1667) = 0,0103 0,06186 (0) = 0 # 1 # 2 # 3 # 4 # 5 Bridgestone #1 0,40206 # 1 # 2 # 3 # 4 # 5 GT Radial #2 0,06186

(35)

0,30928 (0,3) = 0,0928 0,30928 (0,0333) = 0,0103 0,30928 (0,6667) = 0,2062 0,30928 (0) = 0 0,30928 (0) = 0 0,12371 (0,1667) = 0,0206 0,12371 (0,1667) = 0,0206 0,12371 (0,1667) = 0,0206 0,12371 (0,5) = 0,0619 0,12371 (0) = 0 0,10309 (0,3) = 0,0309 0,10309 (0) = 0 0,10309 (0,3) = 0,0309 0,10309 (0,1) = 0,0103 0,10309 (0,3) = 0,0309

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.5 Diagram Pohon Perhitungan Markov # 1 # 2 # 3 # 4 # 5 Dunlop #3 0,30928 # 1 # 2 # 3 # 4 # 5 Goodyear #4 0,12371 # 1 # 2 # 3 # 4 # 5 Accelera #5 0,10309

(36)

Berdasarkan data yang telah dijelaskan sebelumnya, matriks transisi probabilitasnya akan menjadi seperti berikut ini :

Mempertahankan dan kehilangan

0,7436 0,0769 0,1026 0,0769 0

0,3333 0,3333 0,1667 0,1667 0 Mempertahankan dan P = 0,3 0,0333 0,6667 0 0 memperoleh

0,1667 0,1667 0,1667 0,5 0 0,3 0 0,3 0,1 0,3

Matriks tersebut memperlihatkan bahwa ban merek Bridgestone mewakili state 1, GT Radial mewakili state 2, Dunlop mewakili state 3, Goodyear mewakili state 4, dan Accelera mewakili state 5. Arti dari probabilitas tersebut dapat digambarkan seperti berikut:

Baris 1

0,7436 = P11 = probabilitas pangsa pasar Bridgestone setelah sebelumnya merupakan pengguna Bridgestone

0,0769 = P12 = probabilitas pangsa pasar GT Radial setelah sebelumnya merupakan pengguna Bridgestone

0,1026 = P13 = probabilitas pangsa pasar Dunlop setelah sebelumnya merupakan pengguna Bridgestone

0,0769 = P14 = probabilitas pangsa pasar Goodyear setelah sebelumnya merupakan pengguna Bridgestone

0 = P15 = probabilitas pangsa pasar Accelera setelah sebelumnya merupakan pengguna Bridgestone

(37)

Baris 2

0,3333 = P21 = probabilitas pangsa pasar Bridgestone setelah sebelumnya merupakan pengguna GT Radial

0,3333 = P22 = probabilitas pangsa pasar GT Radial setelah sebelumnya merupakan pengguna GT Radial

0,1667 = P23 = probabilitas pangsa pasar Dunlop setelah sebelumnya merupakan pengguna GT Radial

0,1667 = P24 = probabilitas pangsa pasar Goodyear setelah sebelumnya merupakan pengguna GT Radial

0 = P25 = probabilitas pangsa pasar Accelera setelah sebelumnya merupakan pengguna GT Radial

Baris 3

0,3 = P31 = probabilitas pangsa pasar Bridgestone setelah sebelumnya merupakan pengguna Dunlop

0,3333 = P32 = probabilitas pangsa pasar GT Radial setelah sebelumnya merupakan pengguna Dunlop

0,6667 = P33 = probabilitas pangsa pasar Dunlop setelah sebelumnya merupakan pengguna Dunlop

0 = P34 = probabilitas pangsa pasar Goodyear setelah sebelumnya merupakan pengguna Dunlop

0 = P35 = probabilitas pangsa pasar Accelera setelah sebelumnya merupakan pengguna Dunlop

Baris 4

0,1667 = P41 = probabilitas pangsa pasar Bridgestone setelah sebelumnya merupakan pengguna Goodyear

(38)

0,1667 = P42 = probabilitas pangsa pasar GT Radial setelah sebelumnya merupakan pengguna Goodyear

0,1667 = P43 = probabilitas pangsa pasar Dunlop setelah sebelumnya merupakan pengguna Goodyear

0,5 = P44 = probabilitas pangsa pasar Goodyear setelah sebelumnya merupakan pengguna Goodyear

0 = P45 = probabilitas pangsa pasar Accelera setelah sebelumnya merupakan pengguna Goodyear

Baris 5

0,3 = P51 = probabilitas pangsa pasar Bridgestone setelah sebelumnya merupakan pengguna Accelera

0 = P52 = probabilitas pangsa pasar GT Radial setelah sebelumnya merupakan pengguna Accelera

0,3 = P53 = probabilitas pangsa pasar Dunlop setelah sebelumnya merupakan pengguna Accelera

0,1 = P54 = probabilitas pangsa pasar Goodyear setelah sebelumnya merupakan pengguna Accelera

0,3 = P55 = probabilitas pangsa pasar Accelera setelah sebelumnya merupakan pengguna Accelera

# Prosedur 2 : Menghitung kemungkinan pangsa pasar di waktu yang akan datang

Untuk menghitung kemungkinan pangsa pasar di waktu yang akan datang (periode kedua) dapat dilakukan dengan perhitungan seperti di bawah ini :

(39)

π (2) = π (1) P Kt(2)= P x Kt (j-1) =(0,40206, 0,06186, 0,30928, 0,12371, 0,10309) 0,7436 0,0769 0,1026 0,0769 0 0,3333 0,3333 0,1667 0,1667 0 0,3 0,3333 0,6667 0 0 0,1667 0,1667 0,1667 0,5 0 0,3 0 0,3 0,1 0,3 = [(0,40206)(0,7436) + (0,06186)(0,3333) + (0,30928)(0,3) + (0,12371)(0,1667) + (0,10309)(0,3), (0,40206)(0,0769) + (0,06186)(0,3333) + (0,30928)(0,0333) + (0,12371)(0,1667) + (0,10309)(0), (0,40206)(0,1026) + (0,06186)(0,1667) + (0,30928)(0,6667) + (0,12371)(0,1667) + (0,10309)(0,3), (0,40206)(0,0769) + (0,06186)(0,1667) + (0,30928)(0) + (0,12371)(0,5) + (0,10309)(0,1), (0,40206)(0) + (0,06186)(0) + (0,30928)(0) + (0,12371)(0) + (0,10309)(0,3)] = [(0,2989 + 0,0206 + 0,0928 + 0,0206 + 0,0309), (0,0309 + 0,0206 + 0,0103 + 0,0206 + 0), (0,0413 + 0,0103 + 0,2062 + 0,0206 + 0,0309), (0,0309 + 0,0103 + 0 + 0,0619 + 0,0103), (0 + 0 + 0 + 0 + 0,0309)] = (0,4638; 0,0824; 0,3093; 0,1134; 0,0309)

Berdasarkan perhitungan di atas, maka pada state kedua Bridgestone akan menguasai pasar sebesar 46,38%, GT Radial menguasai pasar sebesar 8,24%, Dunlop menguasai pasar sebesar 30,93%, Goodyear menguasai pasar sebesar 11,34%, dan Accelera menguasai pasar sebesar 3,09%.

(40)

Hal yang sama juga dilakukan untuk menghitung kemungkinan pangsa pasar di waktu berikutnya (periode ketiga).

π (3)= π (2) P Kt(3) = P x Kt (j-1) = (0,4638, 0,0824, 0,3093, 0,1134, 0,0309) 0,7436 0,0769 0,1026 0,0769 0 0,3333 0,3333 0,1667 0,1667 0 0,3 0,0333 0,6667 0 0 0,1667 0,1667 0,1667 0,5 0 0,3 0 0,3 0,1 0,3 = [(0,4638)(0,7436) + (0,0824)(0,3333) + (0,3093)(0,3) + (0,1134)(0,1667) + (0,0309)(0,3), (0,4638)(0,0769) + (0,0824)(0,3333) + (0,3093)(0,0333) + (0,1134)(0,1667) + (0,0309)(0), (0,4638)(0,1026) + (0,0824)(0,1667) + (0,3093)(0,6667) + (0,1134)(0,1667) + (0,0309)(0,3), (0,4638)(0,0769) + (0,0824)(0,1667) + (0,3093)(0) + (0,1134)(0,5) + (0,0309)(0,1), (0,4638)(0) + (0,0824)(0) + (0,3093)(0) + (0,1134)(0) + (0,0309)(0,3)] = [(0,3449 + 0,0275 + 0,0928 + 0,0189 + 0,0093), (0,0357 + 0,0275 + 0,0103 + 0,0189 + 0), (0,0476 + 0,0137 + 0,2062 + 0,0189 + 0,0093), (0,0357 + 0,0134 + 0 + 0,0567 + 0,0031), (0 + 0 + 0 + 0 + 0,0093)] = (0,4934; 0,0924; 0,2957; 0,1089; 0,0093)

Berdasarkan perhitungan di atas, maka pada state ketiga Bridgestone akan menguasai pasar sebesar 49,34%, GT Radial menguasai pasar sebesar 9,24%, Dunlop menguasai pasar sebesar 29,57%, Goodyear menguasai pasar sebesar 10,89%, dan Accelera menguasai pasar sebesar 0,93%.

(41)

# Prosedur 3 : Menentukan kondisi ekuilibrium

Langkah selanjutnya ialah menentukan kondisi ekuilibrium pangsa pasar kelima merek ban tersebut.

Mempertahankan dan kehilangan

A B C D E A 0,7436 0,0769 0,1026 0,0769 0 B 0,3333 0,3333 0,1667 0,1667 0 Mempertahankan dan C 0,3 0,0333 0,6667 0 0 memperoleh D 0,1667 0,1667 0,1667 0,5 0 E 0,3 0 0,3 0,1 0,3

Kondisi ekulibrium akan tercapai jika : Kt(eq) = P x Kt(eq)

Dalam matriks tersebut diasumsikan Bridgestone (A), GT Radial (B), Dunlop (C), Goodyear (D), dan Accelera (E). Berdasarkan matriks tersebut, dapat dibentuk sebuah persamaan dan pangsa pasar A yang merupakan jumlah dari pangsa pasar A + pangsa pasar A yang berasal dari B + pangsa pasar A yang berasal dari C + pangsa pasar A yang berasal dari D + pangsa pasar A yang berasal dari E. Hal yang sama juga diterapkan untuk pangsa pasar B, C, D, dan E, sehingga jika dituliskan dalam bentuk persamaan matematika akan menjadi seperti berikut :

A(eq) 0,7436 0,3333 0,3 0,1667 0,3 A(eq) B(eq) 0,0769 0,3333 0,3333 0,1667 0 B(eq) C(eq) = 0,1026 0,1667 0,6667 0,1667 0,3 X C(eq) D(eq) 0,0769 0,1667 0 0,5 0,1 D(eq) E(eq) 0 0 0 0 0,3 E(eq)

(42)

Aeq = 0,7436 Aeq + 0,3333 Beq + 0,3 Ceq + 0,1667 Deq + 0,3 Eeq (1) Beq = 0,0769 Aeq + 0,3333 Beq + 0,3333 Ceq + 0,1667 Deq + 0 Eeq (2) Ceq = 0,1026 Aeq + 0,1667 Beq + 0,6667 Ceq + 0,1667 Deq + 0,3 Eeq (3) Deq = 0,0769 Aeq + 0,1667 Beq + 0 Ceq + 0,5 Deq + 0,1 Eeq (4) E eq = 0 Aeq + 0 Beq + 0 Ceq + 0 Deq + 0,3 Eeq (5)

1 = Aeq + Beq + Ceq + Deq + Eeq (6)

Persamaan keenam digunakan untuk menunjukkan bahwa total kelima pangsa pasar yang baru adalah 1,0. Dari keenam persamaan tersebut, kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan software QM for Windows, dimana hasilnya adalah sebagai berikut :

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.6 Hasil Perhitungan Dengan Software QM for Windows

Dari hasil perhitungan tersebut, maka pada kondisi ekuilibirium Bridgestone akan menguasai pasar sebesar 53,33%, GT Radial menguasai pasar sebesar 10,45%, Dunlop menguasai pasar sebesar 27,48%, Goodyear menguasai pasar sebesar 11,69%, dan

(43)

Accelera menguasai pasar sebesar 0%. Berikut adalah persentase pangsa pasar masing-masing merek ban tersebut dalam bentuk gambar (pie-chart) :

Sumber : Hasil Pengolahan Data (2008)

Gambar 4.7 Persentase Pangsa Pasar Lima Merek Ban Saat Kondisi Ekuilibrium

Melihat hasil yang telah diperoleh di atas, maka dapat diketahui bahwa PT. Sumber Makmur masih memiliki peluang untuk mengembangkan bisnisnya di lokasi tersebut, yaitu di Jalan Panjang.

4.4 Rekomendasi Bagi Perusahaan

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh di atas, Bridgestone tetaplah menjadi market leader dimana Bridgestone dapat menguasai pasar sebesar 53,33% yang diikuti oleh Dunlop (27,48%), Goodyear (11,69%), GT Radial (10,45%), dan Accelera (0%).

Melihat hasil yang telah diperoleh, penulis kembali mengkonfirmasikan kepada pihak perusahaan agar perusahaan dapat membuat pilihan berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan. Pada akhirnya, perusahaan menetapkan 2 kemungkinan pilihan, yaitu menjadi dealer Dunlop atau Gajah Tunggal. Memang pada awalnya PT. Sumber Makmur tetap ingin menjadi authorized dealer dari Bridgestone sama halnya seperti yang saat ini

Bridgstone 52% Goodyear 11% Gajah Tunggal 10% Dunlop 27% Accelera 0%

(44)

dilakukan di bengkel yang berlokasi Daan Mogot. Namun mengingat di lokasi baru sekarang (Jalan Panjang) sudah terdapat authorized dealer Bridgestone lainnya, membuat PT. Sumber Makmur menjadi tidak dapat menggunakannya lagi. Hal tersebut terbentur dengan peraturan yang dikeluarkan oleh PT Bridgestone Tire Indonesia dimana tidak boleh membuka TOMO (sebutan dari Bridgestone untuk para authorized dealer nya) dengan jarak 3-5 km sesama TOMO.

Di sekitar lokasi barunya, yaitu di Jalan Panjang No. 38, sudah terdapat dua

authorized dealer Bridgestone, yaitu Warna Warni Ban dan W&W Ban. Warna Warni Ban hanya berjarak ± 150 meter dan W&W Ban berjarak ± 500 meter. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta lokasi berikut ini :

Warna Warni Ban

W & W Ban

Sumber : www.petaku.com

(45)

Dengan adanya kedua authorized dealer Bridgestone di sekitar lokasi barunya, PT. Sumber Makmur menjadi tidak mungkin menggunakan Bridgestone. Oleh karena itu, perusahaan menjatuhkan pilihannya pada Dunlop dan Gajah Tunggal (GT).

Secara keseluruhan, produksi dan penjualan yang dihasilkan oleh kedua perusahaan ini tidak terlalu berbeda jauh. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut yang menggambarkan produksi dan penjualan ban yang telah diperoleh kedua merek ban tersebut di tahun 2007.

Tabel 4.23 Produksi, Penjualan, dan Ekspor tahun 2007 Dunlop Gajah Tunggal (GT)

Produksi Ban Roda-4 12.868.040 11.935.415

Penjualan Domestik • Pasar Replacement • Pasar OEM 1.230.826 886.334 2.668.760 318.362 Ekspor 10.774.359 8.943.584 Sumber : APBI (2008)

Dilihat dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa produksi yang dilakukan Dunlop dan Gajah Tunggal (GT) tidak terlalu berbeda jauh. Hanya ada sedikit perbedaan dimana produksi Dunlop lebih tinggi dibandingkan GT. Dari segi penjualan domestik, Dunlop lebih tinggi menjual bannya ke pasar OEM, yaitu penjualan yang dilakukan ke perusahaan perakit mobil kendaraan. Di sisi lain, GT lebih tinggi menjual bannya ke pasar replacement, dimana penjualan dilakukan ke agen-agen. Dilihat dari segi ekspor, ban Dunlop juga lebih tinggi dalam melakukan penjualan secara ekspor dibandingkan dengan ban GT.

(46)

4.4.1 Analisa Ban Merek Dunlop

Berikut adalah analisa yang dilakukan untuk merek ban Dunlop dilihat dari beberapa aspek, seperti kualitas produk, partner yang bekerja sama, serta jaringan yang dimiliki perusahaan.

4.4.1.1 Kualitas Produk (Ban) Dunlop

Ban Dunlop yang merupakan produk dari PT. Sumi Rubber Indonesia telah hadir di Indonesia sejak tahun 1995. Sesuai dengan tagline yang dianut oleh Dunlop, “driving to the future”, PT. Sumi Rubber Indonesia selalu mengedepankan kepuasan pelanggan dan berkomitmen menjaga kualitas produknya, sehingga memungkinkan Dunlop untuk menjadi yang terbesar di pasar domestik di masa mendatang.

Kualitas produk (ban) yang dihasilkan oleh Dunlop tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu :

• Material Ban

Dalam membuat ban terdapat standar material yang akan digunakan. Dunlop pun juga menggunakan standar material dalam pembuatan ban nya. Berbagai jenis material yang digunakan untuk membuat struktur ban dapat dibagi secara garis besar sebagai berikut :

(47)

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

Gambar 4.9 Material Ban

Karet alam (NR)

SBR BR IR IIR

Karet sintetis lainnya Karet daur ulang

Katun/ kapas Rayon Nylon Polyester Aramid Kawat baja Fiber glas Kawat baja Karbon hitam Silica Bahan lainnya Belerang Akselerator Bahan lainnya Anti oksidan Pengisi Pelembut Bahan lainnya Karet Benang Kawat Bead Bahan Campuran Karet Material Ban

(48)

Karet Ban

Jenis-jenis karet terbagi menjadi 2, yaitu : ♦ Karet Alam

Karet alam berasal dari getah pohon karet (lateks), yang kemudian ditambahkan bahan kimia lainnya. Berdasarkan cara pembuatannya, karet alam digolongkan menjadi RSS atau Ribbed Smoked Sheet (Lembaran karet yang diasap untuk menghindari pembusukan), ADS atau Air Dried Sheet (Lembaran karet yang dikeringkan dengan udara panas) dan ampas karet. Semua karet tersebut disebut dengan karet mentah, dan diklasifikasikan berdasarkan kelemahan dan kerusakannya agar sesuai dengan standar internasional.

Karet alam mempunyai karakteristik yang merata di seluruh aspek, dapat dipakai untuk berbagai keperluan, serta mempunyai sifat-sifat fisik (physical property) yang baik setelah menjadi kompon. Selain itu karet alam mempunyai tensile strength, ketahanan terhadap keretakan dan proses pengerjaan yang menguntungkan, mampu dikerjakan pada kondisi yang beragam hingga ke tingkat temperatur yang tinggi, selain itu membangkitkan panas rendah, dan ketahanan terhadap separation yang baik. Namun demikian ketahanan terhadap proses penuaan rendah, mulai berubah sifat fisiknya, serta bila dibandingkan dengan karet sintetis, karakteristik karet alam hanya sedikit lebih rendah dari segi ketahanan terhadap keausan dan daya cengkeram.

Mengingat banyaknya peningkatan mutu karet sintetis, pemakaian karet alam menjadi cenderung berkurang, tapi akhir-akhir ini mengingat ban dengan steel radial banyak diproduksi, pemakaian karet

(49)

alam kembali meningkat karena daya rekat karet alam terhadap steel

sangat baik.

Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis karet alam beserta dengan penggunaannya :

Tabel 4.24 Jenis-jenis Karet Alam

Type Penampilan Pemakaian

Ribbed Smoked Sheet (RSS)

Lembaran berlubang berwarna coklat kekuning-kuningan.

Jenis umum karet yang terbuat dari lateks, banyak digunakan untuk pembuatan ban serta barang industri lainnya.

Diklasifikasikan menurut mutunya dari 1 hingga 5.

Brown Crepe Berwarna coklat kekuning-kuningan seperti bentuk karpet.

Karet berkelas rendah, murah dan mudah bocor dan merupakan karet lembaran yang tidak melalui proses pengasapan.

Banyak dipakai untuk barang industri sepatu dan juga ban.

TS Rubber (Karet berspesifikasi teknis)

Berbentuk blok dan berwarna coklat kekuning-kuningan.

Karet alam yang dihitung seberapa banyak penambahan karakteristik kerusakan karetnya.

Cara pengemasan seperti karet sintetis, seberat 30-35 kg.

(50)

♦ Karet Sintetis

Pengembangan karet sintetis ditingkatkan seiring dengan pengembangan industri otomotif yang dimulai pada pertengahan tahun 1950, dan banyak membutuhkan ban yang tahan terhadap panas, kerusakan, keausan dan sebagainya. Oleh karenanya produksi karet sintetis sebagai pengganti karet alam menjadi berkembang pesat.

Atas alasan ini, penggunaan karet sintetis yang memiliki karakteristik tertentu seperti ketahanan terhadap panas, keausan dan sebagainya, banyak dipakai hingga batas tertentu. Pada umumnya pemakaian karet sintetis pada ban tidak hanya satu jenis saja, tetapi mencampurkan 2 atau 3 jenis karet sintetis.

Namun, setelah melalui proses riset dan pengembangan yang berkelanjutan, ditemukanlah IR (Isoprennen Rubber) yang sifat-sifat fisiknya hampir sama dengan karet alam, sehingga banyak digunakan. Pada pertengahan tahun 1970, pemakaian karet sintetis untuk proses pembuatan ban mencapai di atas 64%, namun seiring dengan pengembangan ban radial, terjadi kenaikan harga, sehingga sekali lagi pemakaian karet alam kembali dilirik dan mulai meningkat kembali pemakaiannya.

Perbedaan karet alam dan karet sintetis secara garis besar ditampilkan pada tabel berikut yang menjelaskan mengenai sifat dan pemakaian tiap-tiap jenis karet :

(51)

Tabel 4.25 Sifat dan Pemakaian Karet

Klasifikasi Jenis Karet Kemampuan Fisis Penggunaan pada umumnya Keuntungan Kerugian Karet alam NR (Karet Alam) Hampir merata di seluruh aspek, terutama tensile strength, ketahanan akan keretakan, serta mudah dikerjakan

Mengingat hasil alam, maka tercampurnya

benda asing pasti terjadi, sehingga variasi sifat fisis karet sulit dihindari

Tread dan casing

ban truk dan bus,

casing ban penumpang Karet sintetis SBR ( Styrene-Butadiene Rubber) Secara umum, ketahanan ausnya bagus serta mudah dikerjakan

Pembangkitan panas yang tinggi

Semua jenis tread ban BR (Butadiene Rubber) Jika dibanding dengan SBR, elastisitas, ketahanan terhadap keausan dan kelelahan, BR lebih baik Tensile strength dan ketahanan terhadap keretakan rendah, tidak cocok dipakai jalan kasar

Tread ban yang beroperasi di jalan bagus

IR (Isoprene Rubber)

Memiliki sifat fisis yang sama dengan karet alam, sehingga disebut juga karet alam sintetis

Proses

pengerjaannya sulit

Tread dan casing

ban truk dan bus,

casing ban penumpang EPT (Ethylene Propylene Terpolymer)

Mempunyai sifat fisis

yang unggul terutama tahan terhadap ozon, cuaca dan ketahanan

Proses vulkanisasi lambat serta bersifat lengket

Sidewalls, inner liner dan ban dalam

(52)

Serat alami Serat buatan Inorganic Synthetic terhadap panas IIR (Isobutylene Isoprene Rubber) Perembesan udara sangat rendah Proses pengerjaannya sulit

Inner liner, ban dalam

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

Selain dari jenis karet di atas, ada juga karet daur ulang, dimana sifat, proses kimia, vulkanisasi dan elastisitasnya sangat buruk.

Benang Ban

Secara garis besar berbagai serat pembuat ban dapat dilihat pada bagan berikut:

Kapas Rayon Nylon Polyester Aramid Kawat Baja

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

Gambar 4.10 Serat Pembuat Ban

1. Benang kapas

Kapas adalah benang pertama yang digunakan sebagai rangka (casing) dari ban. Mengingat kekuatan dan hygroskopisitas (daya serap air) kapas yang buruk jika dibanding dengan serat yang lain, maka kapas tidak lagi digunakan sebagai benang ban.

(53)

2. Benang rayon

Seperti halnya benang kapas, rayon mempunyai karakteristik yang kuat, tahan terhadap panas dan fatique (kelelahan), sehingga benang rayon menjadi bahan utama benang pembuat ban. Namun pemakaian benang rayon untuk sementara waktu menurun karena pemakaian serat sintetis yang lain. Dengan ditemukannya ban radial, pemakaian rayon kembali meningkat. Mengingat banyaknya benang rayon, kini benang tersebut banyak dipakai sebagai benang casing.

3. Benang nylon

Nylon adalah benang yang sangat kuat dan elastis, spesifik gravity dan hygroskopisitas yang rendah, namun nylon akan mengerut pada saat dipanaskan. Meskipun demikian kini nylon banyak digunakan sebagai material benang ban bias seperti ban truk dan bus serta ban off the road.

4. Benang polyester

Kekuatan polyester hampir menyamai benang nylon, namun polyester mempunyai kelebihan elastisitas dan tidak peka terhadap panas jika dibanding dengan nylon, maka polyester banyak digunakan sebagai benang casing dan belt dari ban penumpang radial maupun bias.

5. Benang aramid

Aramid adalah benang yang terkuat di antara sintetis lainnya, tingkat kemulurannya sangat rendah. Pemakaian benang aramid sebagai material benang ban masih terbatas, sebab biaya pembuatannya sangat tinggi dan susah dalam proses pengerjaannya.

(54)

6. Kawat baja

Pemakaian kawat baja meningkat tajam seiring dengan meningkatnya produksi ban radial. Hal ini disebabkan kawat baja memiliki ketahanan tarik yang tinggi serta sangat elastis, aspek yang dibutuhkan untuk membuat material belt pada ban radial. Kawat baja apabila dipilin akan menghasilkan karakteristik fleksibilitas dan ketahanan terhadap kelelahan yang tinggi, sehingga banyak digunakan sebagai casing dan belts

dari ban truk dan bus radial, off the road dan belts ban penumpang radial.

Berikut adalah grafik persentase kemuluran material benang ban

200 Steel 100 Polyester Rayon Nylon 0 10 20

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

(55)

• Pemeliharaan tekanan angin

Pada awalnya semua ban berjenis tube type. Namun demi keamanan, di Amerika telah ditemukan ban tubeless. Di berbagai negara kebutuhan akan ban

tubeless terus bertambah seiring dengan pembangunan jalan tol. Permintaan meningkat tajam, karena pabrik mobil menggunakannya dan juga telah terjadi kecenderungan untuk mengganti ban tube type dengan ban tubeless. Berikut adalah gambar yang menunjukkan adanya perbedaan antara ban jenis tube type

dan jenis tubeless :

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

Gambar 4.12 Perbedaan Ban Jenis Tube Type dan Tubeless

Ban tube (ban dengan ban dalam – T/T) adalah tipe ban dengan tube/ pipa dalam yang diisi dengan udara. Sedangkan, ban tubeless (ban tanpa ban dalam – T/L) adalah tipe ban yang mempunyai lapisan karet spesial (lapisan dalam) dengan sedikit air permeability pada bagian dalam dan menggunakan material yang tahan bocor pada bagian bead sebagai pengganti tube. Ban jenis ini tidak akan mudah kempis bahkan ketika terkena paku saat digunakan.

(56)

Berikut adalah tabel yang menjelaskan mengenai karakteristik kinerja ban tubeless :

Tabel 4.26 Karakterisktik Kinerja Ban Tubeless Karakteristik

Kinerja Ban Tubeless

Deskripsi

Konstruksi 1. Lapisan karet (inner liner), seperti layaknya ban dalam pada ban jenis tube type, ditambahkan di sisi dalam ban tubeless yang berfungsi menampung tekanan udara.

2. Memakai rim valve.

3. Memiliki seal pada bagian bead nya.

Kelebihan 1. Semua masalah karena tube (seperti : terlipat, terjepit) bisa dihindari.

2. Kebocoran yang mendadak akibat tertusuk paku bisa dicegah.

3. Kebocoran berjalan lambat, meski paku tertancap di telapak ban.

4. Karena tekanan udara kontak langsung dengan velg, pembuangan panasnya efisien.

Kekurangan 1. Mengingat tekanan udara ditahan seal bead, apabila

bead rusak, ban akan kehilangan tekanan angin bahkan rusak (separation).

2. Kebocoran mungkin terjadi, apabila velg/ flange velg bengkok, rusak, atau valve rimnya berkarat.

(57)

• Pola telapak (tread pattern)

Seluruh jenis telapak ban tersedia dalam beragam jenis pola. Pola telapak tersebut dirancang agar mencapai karakteristik kinerja yang diinginkan dan sesuai dengan spesifikasi pemakaiannya.

Mengingat penjualan ban sangat tergantung pada seberapa atraktifnya pola telapak ban, pola telapak yang modern pada ban penumpang menjadi faktor yang sangat penting. Oleh karena itu pembuat ban sangat menekankan pada peningkatan pola telapak. Pola telapak ban dapat diklasifikasikan secara umum sebagai berikut :

1. Rib Bentuk :

Sebuah pola yang berbentuk alur bersambung di seluruh lingkaran ban, dan kadang juga disebut dengan pola telapak garis (cacing).

Karakteristik :

- Rolling resistance yang rendah. - Nyaman dikendarai.

- Slip ke samping yang kecil dan kestabilan serta manuvernya baik. - Bunyi telapak yang rendah.

Penggunaan :

Banyak digunakan oleh semua tipe ban untuk kecepatan tinggi di jalan aspal seperti ban truk, bus, truk mini serta mobil penumpang.

2. Lug Bentuk :

Pola telapak berbentuk alur yang melintang dan kadang sering disebut dengan pola telapak cross rib.

(58)

Karakteristik :

- Gaya gerak dan pengereman yang bagus.

- Traksi (daya dorong) yang sangat baik di jalan tak beraspal. Penggunaan :

Sesuai untuk ban yang beroperasi di daerah dengan jalan tak beraspal, hampir semua kendaraan industri dan off the road menggunakan pola telapak jenis ini, mengingat daya dorongnya yang kuat.

3. Rib-Lug Bentuk :

Bentuk pola telapak gabungan antara Rib dan Lug. Karakteristik :

- Bentuk Rib di tengah-tengah telapak mencegah slip ke samping, serta menambah kestabilan dan kemampuan bermanuver.

- Bentuk Lug yang berada di area shoulder memberikan daya dorong dan pengereman yang baik.

Penggunaan :

Sangat cocok untuk ban yang beroperasi di berbagai macam permukaan jalan, pola telapak seperti ini banyak digunakan oleh kendaraan truk dan truk mini.

4. Block Bentuk :

Pola telapak yang terdiri atas bentuk blok-blok yang berdiri sendiri, kadang disebut juga dengan pola telapak kancing.

(59)

Karakteristik :

- Daya gerak dan pengereman yang sangat baik.

- Kemampuan bermanuver yang baik di permukaan jalan bersalju atau berlumpur.

Penggunaan :

Banyak digunakan oleh hampir seluruh ban yang beroperasi di daerah bersalju atau berlumpur, serta ban off the road. Pola telapak ini pun banyak digunakan pada ban penumpang radial, karena penampilannya yang dinamik.

Berikut adalah tabel yang menggambarkan berbagai jenis pola telapak beserta keistimewaan dan pemakaiannya :

Tabel 4.27 Jenis Pola Telapak

Jenis Pola Telapak Keistimewaan Pemakaian

Rib 1. Hambatan gulir rendah

2. Nyaman dikendarai 3. Slip ke samping kecil

dan stabil

4. Suara telapak rendah

- Jalan beraspal - Kecepatan tinggi

Lug 1. Daya gerak dan

pengereman sangat baik

2. Daya dorong sangat baik

- Jenis jalan biasa - Jalan tidak beraspal, biasa untuk jalan tanah yang lunak

(60)

Rib-Lug 1. Penyetiran stabil, mencegah slip ke samping

2. Pola lug meningkatkan daya pengereman dan traksi

- Jenis jalan biasa - Jalan tidak beraspal rata, jalan berbatu, dan jalan tanah

Block 1. Daya gerak dan

pengereman baik sekali 2. Penyetiran yang stabil

di jalan bersalju/ lumpur

- Jenis jalan biasa - Jalan tidak beraspal (dapat digunakan untuk segala medan)

Sumber : Data dari Perusahaan (2008)

• Umur Ban

Ban mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur dan cara penggunaannya. Biasanya umur maksimal ban ialah 6 tahun, baik sudah ataupun belum pernah digunakan. Namun, banyak hal lain yang turut mempengaruhi umur ban, seperti tekanan angin dan kondisi beban atau muatan.

Umur ban Dunlop diperkirakan cukup lama. Konsumen dapat menggunakan ban dunlop hingga mencapai jarak tempuh 60.000 km. Penggunaan di atas angka tersebut sebaiknya mengganti ban dengan yang baru.

Berdasarkan analisis yang dilakukan mengenai material yang digunakan, tekanan angin, pola telapak, serta umur ban, dapat disimpulkan bahwa kualitas ban Dunlop sangat baik. Dunlop menggunakan material-material dan memproduksi ban dengan tekanan angin yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pola telapak yang digunakan ban Dunlop pun sangat bervariasi dan disesuaikan dengan jalan yang sering dilewati, entah jalanan beraspal, tidak beraspal, jalan tanah, hingga jalan bersalju dan berlumpur. Selain itu, umur ban Dunlop juga cukup lama dengan umur

Gambar

Tabel di atas menggambarkan kinerja industri otomotif yang mengalami peningkatan  di tahun 2007, meski sempat mengalami penurunan di tahun 2006
Tabel 4.5 Produksi dan penjualan ban mobil tahun 2006-2007  Ban Mobil (Roda-4)
Tabel 4.6 Produksi dan penjualan ban mobil (Januari – April 2007 dan 2008)  Ban Mobil (Roda-4)
Tabel 4.13 Pertumbuhan dan Pangsa Pasar Kelima Merek Ban  Merek Ban  Pertumbuhan Pasar
+7

Referensi

Dokumen terkait

CITA JAYA Hasnah Binti Ibrahim Hasnah Binti Ibrahim Kg.. Cita Jaya, Batu

Khususnya ISIS Pertumbuhan ISIS di dunia (termasuk Indonesia) sangat signifikan, karena memanfaatkan IT Di Indonesia, tren ormas yang mendukung ISIS makin banyak..

selaku dosen wali semester 7 dan Mantan Ketua Prodi Akuntansi yang sabar dan telah memberikan arahan dan dorongan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat

Penelitian ini dilaksanakan di kelas III di SDIT ULUL AZMI, sesuai dengan pertanyaan penelitian dilakukan pembahasan dan analisis jawaban untuk melihat minat belajar

Alat proses untuk fabrikasi obat sediaan injeksi yang berfungsi untuk sterilisasi wadah untuk larutan dengan cara dipanaskan dalam suhu yang tinggi disebut

Hal ini merupakan konsekuensi dari suatu perubahan ekonomi yang sedang berlangsung, bahkan mendorong munculnya kebebasan individu yang semakin meluas di dalam

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, jika kampus akan menerapkan program berkendara bersama dan mahasiswa pada kampus tersebut saat ini memiliki sikap yang

Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi terjadi pada Juli 2015 adalah kelompok sandang yang naik sebesar 2,70 persen. Pada Juli 2014 yang lalu Nusa Tenggara