TANAH WAKAF UNTUK RUMAH SUSUN UMUM
Anda SetiawatiDosen Fakultas Hukum UniversitasTrisakti
[email protected] / [email protected]
ABSTRAK
Berdasarkan Pasal 18 UU No 20/2011 Tentang Rumah Susun, tanah wakaf dapat dimanfaatkan untuk pembangunan rumah susun umum. Selain dengan cara sewa, pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum juga dapat dilakukan dengan cara kerjasama pemanfaatan, sepanjang sesuai dengan ikrar wakaf, prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Persoalannya adalah pola atau bentuk kerjasama yang seperti apa yang sesuai untuk pembangunan rumah susun umum di atas tanah wakaf. Untuk menemukan pola kerjasama yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip syariah dilakukan penelitian yang menggunakan metode penelitian hukum normatif (doctrinal research) dan bersifat deskriptif. Data yang digunakan berupa data sekunder yang dianalisis secara kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara dedutif. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat dijelaskan bahwa Build Operate and Transfer (BOT) dapat dipakai sebagai pola kerjasama pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum yang menggunakan akad musyarakah. Dipilihnya BOT sebagai pola kerjasama pemanfaatkan tanah wakaf didasarkan pada adanya kesamaan BOT dengan musyarakah, dimana keduanya merupakan bentuk kerjasama modal yang didasarkan pada kesepakatan antara investor dan pemilik/pengelola tanah. Persamaan lainnya adalah dalam pembagian keuntungan dan kerugian yang didasarkan pada prosentase (nisbah) atas dasar kesepakatan para pihak. Akan tetapi, kerjasama pemanfaatan tanah wakaf yang menggunakan pola BOT dengan akad musyarakah hanya dilakukan terhadap tanah-tanah wakaf yang sudah tidak produktif dan pemanfaatannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mengingat belum adanya aturan hukum yang mengatur BOT tanah wakaf untuk pembangunan rumah susun umum, sebagai upaya mengisi kekosongan hukum dapat digunakan ketentuan BOT yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 tentang Pemanfaatan Tanah Milik Negara/Daerah, Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur dan Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Perjanjian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Kata kunci: BOT tanah wakaf untuk rumah susun umum
I. PENDAHULUAN
Kebijakan pemerintah dalam pembangunan rumah susun sudah dimulai pada tahun 1985 dengan diundangkannya UU No 16/1985 tentang Rumah Susun. Dengan diundangkannya UU No. 20/2011 tentang Rumah Susun, pemerintah menunjukan keberpihakannya terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Jika sebelumnya rumah susun dapat dibangun di atas tanah hak (hak milik, HGB atau hak pakai) dan tanah HPL, dalam perkembangannya selain dapat dibangun di atas tanah hak milik, tanah HGB dan hak pakai di atas tanah negara, maupun tanah HGB atau hak Pakai di atas tanah HPL, rumah susun juga dapat dibangun dengan cara memanfaatkan tanah wakaf. Dimungkinkannya penggunaan tanah wakaf untuk rumah susun umum didasarkan pada ketentuan Pasal 18 UURS. Hanya saja, rumah susun yang dapat dibangun di atas tanah wakaf harus berupa rumah susun umum yaitu rumah susun yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dasar pemikiran dari pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum adalah agar harga jual rumah susun tersebut menjadi lebih murah dan dapat dijangkau oleh MBR.
Dalam pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum, Pasal 20 UURS secara tegas menetapkan bahwa pemanfaatan tanah wakaf dapat dilakukan dengan cara sewa atau kerjasama pemanfaatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Untuk pemanfaatan tanah wakaf dengan cara sewa, UURS sudah menetapkan syarat-syarat khusus dalam perjanjian sewa tanah wakaf. Namun untuk kerjasama pemanfaatan tanah wakaf, UURS tidak mengatur lebih lanjut tentang bagaimana bentuk kerjasama pemanfaatan tanah wakaf. Ditambah lagi, peraturan pelaksana dari UURS baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah maupun peraturan pelaksana lainnya juga belum terbentuk. Berangkat dari hal tersebut, penulis mencoba untuk menemukan pola kerjasama pemanfaatan tanah wakaf untuk rusun umum yang tidak hanya sesuai dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia tapi juga sesuai dengan syariat Islam.
brought to you by CORE
View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
II. PERMASALAHAN
Bagaimana pola kerjasama yang sesuai untuk pembangunan rumah susun umum di atas tanah wakaf ? III.METODE PENELITIAN
Penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian hukum normatif yang bersifat deskripsif analitis. Sebagai penelitian hukum normatif, penelitian ini berbasis pada penelitian kepustakaan atau data sekunder belaka yang datanya bersumber pada peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah tanah wakaf dan Bangun Guna Serah (Build Operate and Transfer/BOT), serta konsep-konsep hukum tentang tanah wakaf, fiqih muamalah dan BOT.
IV. PEMBAHASAN
Sampai saat ini pemerintah Indonesia masih giat-giatnya melakukan pembangunan infrastruktur berupa jalan, jembatan, pembangkit tenaga listrik dan juga perumahan rakyat. Untuk mendukung program tersebut pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur memberikan payung hukum bagi pelaksanaan kerjasama di bidang penyediaan infrastruktur. Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. Untuk proyek infrastruktur yang dibangun di atas tanah milik negara/daerah maupun di atas tanah HPL dapat dilakukan dengan cara sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, Bangun Guna Serah atau Bangun Serah Guna, atau kerjasama penyediaan infrastruktur yang pengaturannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2004 tentang Pemanfaatan Tanah Milik Negara/Daerah.
Dari beberapa macam pola kerjasama, pola Bangun Guna Serah atau yang biasa dikenal dengan Build Operate and Transfer (BOT) banyak digunakan oleh banyak negara termasuk Indonesia. Padahal, selain BOT ada pula kerjasama penggunausahaan tanah oleh pihak ketiga (investor swasta) untuk proyek infrastruktur dalam bentuk Bangun Serah Guna (Build Transfer Operate/BTO), Bangun Serah (Build Transfer), dan Kerjasama Operasional (KSO). Definisi BOT sebagaimana disampaikan Anita Kamilah adalah perjanjian yang melibatkan pihak investor selaku penyandang dana untuk pembangunan fisik proyek dan pihak pemilik tanah yaitu masyarakat atau perorangan yang memiliki tanah strategis atau pihak pemerintah sebagai pemilik hak eksklusif atau pemegang hak pengelolaan atau juga masyarakat hukum adat sebagai pemegang hak ulayat (Kamilah, 2012: 115). Dengan kata lain, pihak-pihak dalam BOT dapat berupa individu dan individu, individu dengan pemerintah, swasta dengan pemerintah atau swasta dengan swasta. Ima Oktorina dalam penjelasannya menyatakan bahwa BOT merupakan bentuk perjanjian kerjasama yang dilakukan antara pemegang hak atas tanah dengan investor yang menyatakan bahwa pemegang hak atas tanah memberikan hak kepada investor untuk mendirikan bangunan selama masa perjanjian BOT dan mengalihkan kepemilikan bangunan tersebut kepada pemegang hak atas tanah setelah jangka waktu perjanjian berakhir (Oktorina, 2010: 12).
Beberapa negara seperti Malaysia, Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia sudah menggunakan pola BOT dalam pembangunan infrastruktur seperti Taweelah A2 Project di Abu Dhabi Uni Emirat Arab, Grand Zam-Zam Tower di kota Mekah Arab Saudi dan Menara Majoodsaw di Pulau Pinang Malaysia. Di Indonesia, pola BOT digunakan dalam pembangunan Hotel Sultan (dahulu Hotel Hilton), Hotel Indonesia Kempinski dan Grand Indonesia Shopping Mall. Hal itu membuktikan bahwa penggunaan BOT sebagai pola kerjasama pembangunan proyek infrastruktur diterima sebagai pola kerjasama yang sifatnya umum terlepas dari sistem hukum yang dianut. Satu hal yang menarik adalah dalam pembangunan Grand Zam-Zam Tower di kota Mekah dan Menara Majoodsaw di Pulau Pinang Malaysia, tanah yang dipergunakan sebagai lokasi pembangunan merupakan tanah wakaf. Grand Zam-Zam Tower dibangun di atas tanah wakaf Raja Abdul Aziz, sedangkan Menara Majoodsaw di Pulau Pinang Malaysia dibangun di atas tanah wakaf keluarga India Muslim yang semula diperuntukan sebagai tempat pemakaman umum kemudian diubah peruntukannya menjadi apartemen untuk rumah jabatan pejabat pemerintah pulau Pinang dan lokasi perparkiran yang hasilnya digunakan untuk kepentingan umum. Pembangunan Grand Zam-Zam Tower dilakukan melalui pembiayaan sukuk al-intifa yang didasarkan perjanjian BOT antara institusi wakaf, developer dan pemegang obligasi (Iman dan Mohammad, 2014: 209). Demikian pula dengan BOT Menara Majoodsaw yang dilakukan dengan usaha patungan (joint venture). Di Malaysia, pembiayaan properti di atas tanah wakaf dapat
dilakukan dengan cara leasing (ijarah + istisna’), murabahah ((Iman dan Mohammad, 2014: 197). atau melalui usaha patungan (joint venture) dengan menggunakan metode mudharabah, musyarakah atau Islamic Bond (Iman dan Mohammad, 2014: 202). Di Indonesia, penggunaan pola BOT untuk investasi tanah wakaf belum banyak dikenal dan dilakukan untuk proyek infrastruktur berupa rumah susun umum.
Menurut M. Tolhah Hasan, dalam rangka investasi harta wakaf selain investasi internal dimungkinkan pula melibatkan investasi dari luar (investasi eksternal) yaitu bentuk penyertaan modal atau kerjasama dengan pihak luar (al-Istismar al-Khaijiyyah) (Huda, 2015: 220-221). Keterlibatan pihak luar dalam investasi harta wakaf dapat dilakukan dengan metode mudharabah dan musyarakah. Mudharabah adalah kerjasama antara mudharib (penerima modal) dan rab al-mal (pemberi modal) untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah. Dalam mudharabah, rab al-mal tidak ikut dalam usaha tersebut dan tidak boleh mengintervensi mudharib. Jika terjadi kerugian, kewajiban untuk memikul kerugian ada pada rab al-mal, sedangkan besaran pembagian keuntungan didasarkan menurut nisbah yang disepakati kedua belah pihak. Berbeda dengan mudharabah, musyarakah adalah kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan (Djamil, 2013: 165). Miftahul Huda mendefinisikan musyarakah bentuk partisipasi usaha yang melibatkan kedua belah pihak atau lebih dalam suatu usaha tertentu dengan menyertakan sejumlah modal dengan pembagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan bersama. Apabila terjadi kerugian masing-masing pihak harus menanggung sesuai dengan kadar modal yang ditanamkan. Pihak yang terlibat dalam akad tersebut memiliki hak untuk ikut serta, mewakilkan atau membatalkan haknya dalam pengelolaan usaha tersebut (Huda, 2015: 223). Dari definisi musyarakah dan mudharabah, bentuk kerjasama yang dianggap lebih menguntungkan para pihak adalah musyarakah karena resiko atas kerjasama yang dilakukan menjadi tanggung jawab para pihak.
Dari pengertian musyarakah dan BOT terlihat adanya kesamaan antara keduanya. Persamaan kedua pola kerjasama tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Persamaan BOT Musyarakah
Bentuk kerjasama/partnership percampuran (ikhlitat)
Modal tanah; uang. 1. uang; 2. keterampilan; 3. kepercayaan. Pembagian keuntungan
sesuai kesepakatan sesuai nisbah
Resiko sesuai kesepakatan sesuai akad
Asas-asas perjanjian
Asas kebebasan berkontrak Asas konsensualisme Asas keseimbangan Asas itikad baik
Asas al-huriyyah Asas ar-ridha’iyah Asas al-musawah Asas al-manah Pembatasan dan larangan
Melanggar kepatutan, kesusilaan dan undang-undang (Pasal 1339 KUHPerdata)
Objek perjanjian harus halal (causa yang halal) Tidak boleh ada ada unsur paksaan, kekhilafan dan penipuan
Transaksi yang mengandung riba
Objek tidak gharar (tidak jelas)
Mengandung unsur penipuan (tadlis)
Tidak mengandung unsur judi (maysir)
Dilarang bertransaksi yang mengandung kezaliman.
Dari kesamaan ciri antara BOT dan musyarakah dapat disimpulkan bahwa pola kerjasama pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum dapat dilakukan dengan menggunakan pola BOT yang didasarkan pada akad musyarakah dengan pertimbangan belum terbentuknya peraturan perundangan-undangan yang mengatur kerjasama pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum. Pertimbangan lainnya, penggunaan pola BOT tanah wakaf dengan akad musyarakah merupakan pelaksanaan atas perintah Pasal 20 UURS bahwa kerjasama pemanfaatan tanah wakaf untuk rumah susun umum harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip syariah.
Meskipun demikian, tidak bisa dihindari akan muncul perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya BOT tanah wakaf untuk rumah susun umum. Sebab ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa sebidang
tanah hak milik yang sudah diwakafkan tidak bisa diubah peruntukannya dan menyimpang dari ikrar wakafnya. Namun, ada beberapa alasan yang menjadi dasar pemikiran mengapa tanah wakaf dapat dikerjasamakan untuk rumah susun umum, yaitu :
1. Tanah wakaf yang dikerjasmakan dengan pola BOT merupakan tanah wakaf yang tidak atau kurang produktif.
2. Ketentuan undang-undang yang memperbolehkan perubahan peruntukan tanah wakaf
Dalam Pasal 41 UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf jo Pasal 49 PP No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf disebutkan secara tegas bahwa perubahan peruntukan tanah wakaf dimungkinkan sepanjang perubahan peruntukan tanah wakaf tersebut mendapatkan izin tertulis dari Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia dan perubahan tersebut dilakukan dalam rangka untuk kepentingan umum serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku dan syariat Islam.
3.
Berlakunya prinsip al-maqashid al-syariahDalam ajaran Islam yang menganut konsep kesejahteraan, kebaikan dan kesejahteraan umat manusia merupakan tujuan dari ajaran agama Islam. Kesepakatan para ahli hukum Islam juga menyatakan bahwa adanya hukum Islam bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia (li tahqiqi al-maslahat al-‘ammah).
Agar tidak bertentangan dengan prinsip syariah, pola BOT dengan akad musyarakah sebagai bentuk pembiayaan proyek rumah susun umum di atas tanah wakaf merujuk pada ketentuan-ketentuan sebagai berikut (Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Musyarakah):
a) Alquran surat Shad ayat 24
b) Surat Al-Maidah ayat 1 yang mengatakan :“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”.
c) Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata : “Allah SWT berfirman : Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu pihak tidak menghianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, aku keluar dari mereka”.
d) Hadis Nabi Riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf :“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalakan yang haram”.
e) Tagrir nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan masyarakat pada saat itu.
f) Ijma’ ulama atas kebolehan musyarakah. Kaum ulama melalui ijma’ membolehkan dilakukan akad musyarakah. Islam membenarkan seorang muslim berdagang/berbisnis dan berinvestasi baik secara perorangan maupun menggabungkan modal dalam bentuk perkongsian.
g) Kaidah fiqh : “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.
Mengenai pelaksanaan BOT tanah wakaf untuk rumah susun umum, karena belum ada ketentuan hukum yang khusus mengatur hal tersebut, maka untuk mengisi kekosongan hukum dapat digunakan mekanisme yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2004 tentang Pemanfaatan Tanah Milik Negara/Daerah, Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, serta Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Perjanjian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagai dasar hukumnya.
DAFTAR PUSTAKA Buku-buku
Abdul Hamid Mar Iman & Mohammad Tahir Sabit Mohammad. (2014). Waqf Property: Concept, Management, and Financing, Johor Bahru: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia Press.
Abdul Manan. (2006). Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Cetakan Ketiga, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Adrian Sutedi. (2012). Aspek Hukum Pengadaan Barang & Jasa dan Berbagai Permasalahannya, Edisi Kedua, Jakarta: Sinar Grafika.
Ahmad Azhar Basyir. (1983). Asas-asas Hukum Muamalat, Yogyakarta: UII Pers.
Ahmad Rofik. (2013). Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Anita Kamilah. (2012). Bangun Guna Serah (Build Operate and Transfer/BOT) Membangun Tanpa Harus
Memiliki Tanah (Perspektif Hukum Agraria, Hukum Perjanjian Dan Hukum Publik), Bandung: Keni Media.
Arif Zamhari, et.al. (2013). Manajemen Wakaf di Era Moderen, Jakarta : Badan Wakaf Indonesia.
Baharuddin Ahmad. (2015). Eksistensi dan Implementasi Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Boedi Harsono. (2013). Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-undang Pokok Agraria, Isi, dan Pelaksanaannya, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti.
Budi Santoso. (2008). Aspek Hukum Pembiayaan Proyek Infrastruktur Dengan Model BOT (Build Operate and Transfer), Yogakarta: Genta Press.
Direktorat Pemberdayaan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia. (2008). Panduan Pemberdayaan Wakaf Produktif.
Faturrahman Djamil. (2013). Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta: Sinar Grafika.
Hendi Sutendi. (2014). Fiqih Muamalah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ima Oktorina. (2010). Kajian Tentang Kerjasama Pembiayaan dengan Sistem BOT dalam Revitalisasi Pasar Tradisional, Semarang : Universitas Diponegoro.
Kahf, Monzer & Siti Mashitoh Mahamod. (2011). Essential Readings in Contemporary Waqf Issues, Kuala Lumpur: CERT Publications.
Mardani. (2013). Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, Jakarta: Prenamedia Group.
Mariam Darus Badrulzaman. (2001). Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Miftahul Huda. (2015). Mengalirkan Manfaat Wakaf: Potret Perkembangan Hukum Dan Tata Kelola Wakaf di Indonesia, Bekasi: Gramata Publishing.
Mohammad Daud Ali. (2015). Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta : Rajawali Pers.
Muhammad Sharif Chaudhry. (2014). Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar, Jakarta: Prenadamedia Group. M. Tahir Mansuri. (2006). Islamics Law of Contracts And Business Transactions, New Delhi: Adam
Publishers & Distributors.
Nyazee, Imran Ahsan Khan. (2002). Islamic Law of Business Organization Partnerships, Selangor: The Other Press.
Pasaribu, Chairuman & Suhrawadi K. Lubis. (2005). Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta: Sinar Grafika. Rozalinda. (2015). Manajemen Wakaf Produktif, Depok: PT Rajagrafindo Persada.
R.Subekti. (2008). Hukum Perjanjian, Jakarta : Intermasa.
Simamora, Yohanes Sogar. (2009). Hukum Perjanjian: Prinsip Hukum Kontrak Pengadaan Barang Dan Jasa Oleh Pemerintah, Yogyakarta : LaksBang PRESSindo
Sukron Kamil. (2016). Ekonomi Islam, Kelembagaan, dan Konteks Keindonesiaan, Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Syamsul Anwar. (2007). Hukum Perjanjian Syariah, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Wirjono Prodjodikoro. (2013). Azas-Azas Hukum Perjanjian, Bandung: CV Mandar Maju. Zaidi Abdal. (2003). Lembaga Perekonomian Umat Di Dunia Islam, Bandung: Angkasa. Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, Lembaran Negara 1960Tahun No. 104.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun, Lembaran Negara Tahun 2011 No. 108.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Lembaran Negara Tahun 2004 No. 159.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Lembaran Negara Tahun 2006 No. 105.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Lembaran Negara Tahun 2014 No. 92.
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, Lembaran Negara Tahun 2015 No. 62.
Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Lembaran Negara Tahun 2015 No. 5.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
Peraturan Badan Wakaf Indonesia No. 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyusunan Rekomendasi Terhadap Permohonan Penukaran/Perubahan Status Harta Benda Wakaf.
Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah