Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran dan Kejelasan
Sasaran Anggaran Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng
Ketut Yudi Mardika, I Wayan Bagia, I Wayan Suwendra
Jurusan Manajemen
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh temuan eksplanatif yang teruji tentang pengaruh (1) simultan partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai, (2) parsial partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai dan (3) parsial kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif kausal. Data dikumpulkan dengan metode kuesioner, dan wawancara kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan secara (1) simultan dari partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai, (2) parsial dari partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai, dan (3) parsial dari kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai.
Kata kunci: partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan kinerja
pegawai
Abstract
This research was done with the reason is to get explanative finding which is proven about the influences (1) the simultaneous Participation in Budgeting and Budgetary Target Clarity towards performance of employees, (2) the partial participation of budget forming toward performance employees and (3) the partial clarity of target budget toward performance employees in Education Department Buleleng Regency. This research used quantitative casual design study. The data was collected with questionnaire method and interview and than was analyzed with multiple regression. The result of this research showed that there was positive and significant influences in (1) the simultaneous participation of budget forming and clarity of target budget towards performance of employees, (2) the partial participation of budget forming toward performance employees and (3) the partial clarity of target budget toward performance employees
Keywords: Forming Budget participation, Clarity target budget, and the employees
PENDAHULUAN
Sejak era reformasi gagasan otonomi daerah terus bergulir sehingga menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma. Paradigma pembangunan yang bersifat sentralistik atau top-down yang hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi bergeser ke paradigma pembangunan yang berlandaskan prinsip dasar demokrasi, kesetaraan, dan keadilan dalam bentuk otonomi daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah (OTDA) di Indonesia, mulai diterapkan dengan diberlakukannya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004). Dimana daerah dituntut untuk mampu mengelola daerahnya sendiri begitu juga dengan penyusunan anggarannya.
Fungsi pemerintah daerah menurut Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah adalah (1) Pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, (2) Menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintah yang menjadi urusan pemerintah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah, (3) Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintah memiliki hubungan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Dimana hubungan tersebur meliputi wewenang,
keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya.
Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan,
pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Pengelolaaan keuangan daerah dimulai dengan perencanaan/ penyusunan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Penyusunan APBD sebagaimana berpedoman kepada Rencana Kerja
Anggaran Daerah (RKPD) dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. Dalam penyusunan APBD, pemerintah daerah telah menerapkan partisipasi setiap satuan kerja pemerintah daerah dalam penyusunan anggaran. Masing-masing satuan kerja pemerintah daerah memuat Rencana Kerja Anggaran (RKA) yang biasa disebut RKA satuan kerja pemerintah daerah. Dalam RKA satuan kerja pemerintah daerah, masing-masing satuan kerja pemerintah daerah telah memuat indikator kinerja yang akan dicapai untuk setiap program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam RKA telah memuat input, output, dan outcome dari masing-masing program dan kegiatan, jadi dalam RKA telah memuat sasaran anggaran.
Satuan Kerja Perangkat Daerah memerlukan anggaran untuk menerjemahkan seluruh strategi atau program-program yang telah disusun menjadi rencana dan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Pada organisasi sektor publik, pendanaan organisasi berasal dari pajak dan retribusi, laba perusahaan milik daerah atau negara, pinjaman pemerintah berupa utang luar negeri dan obligasi pemerintah, serta sumber dana lain yang sah dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan.
Penggunaan anggaran merupakan konsep yang sering dipergunakan untuk melihat kinerja organisasi publik. Anggaran yang disusun harus sesuai dengan pendekatan kinerja. Penerapan anggaran berbasis kinerja pada instansi pemerintah di Indonesia dicanangkan melalui pemberlakuan UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan diterapkan secara bertahap mulai tahun anggaran 2005. Namun demikian, hingga saat ini masih sulit untuk melihat tolak ukur memadai yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur kinerja pemerintah daerah secara komprehensif. Padahal tolak ukur ini sangat diperlukan untuk menjadi pedoman, baik bagi pemerintah sendiri maupun pihak lain yang berkepentingan dalam menilai kinerja pemerintah daerah.
Penilaian kinerja adalah kesempatan periodik untuk melakukan komunikasi antara orang yang menugaskan pekerjaan dengan orang yang mengerjakannya untuk mendiskusikan apa yang saling mereka harapkan dan seberapa jauh harapan ini dipenuhi. Penilaian kinerja memungkinkan terjadinya komunikasi antara atasan dengan bawahan untuk meningkatkan produktivitas serta untuk mengevaluasi pengembangan apa saja yang dibutuhkan agar kinerja semakin meningkat.
Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), penilaian kinerja diatur dalam PP 10 tahun 1979 melalui Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan atau DP3. Komponen penilaian dalam DP3 antara lain adalah kesetiaan, prestasi kerja, tanggung jawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, prakasa, dan kepemimpinan bagi PNS yang menduduki jabatan. Namun seiring dengan derasnya arus reformasi birokrasi, sistem penilaian kinerja PNS melalui DP3 dinilai tidak lagi komprehensif untuk dijadikan sebagai alat pengukur kinerja.
DP3 yang lebih ditekankan kepada aspek perilaku PNS dan tidak dapat mengukur secara langsung produktivitas dan hasil akhir kerja PNS. Selain itu penilaian DP3 acapkali memiliki bias dan subjektifitas yang tinggi. Seringkali pemberi nilai dalam DP3 akan memasukkan pendapat pribadinya dan nilai yang didapatkan akan bervariasi tergantung pada penilai.
DP3 PNS cenderung terjebak ke dalam proses formalitas dan tidak berkaitan langsung dengan apa yang telah dikerjakan PNS. Proses penilaian yang bersifat rahasia juga kurang memiliki nilai edukatif karena hasil penilaian tidak dikomunikasikan secara terbuka. Atasan langsung sebagai pejabat penilai pun hanya sekedar memberikan penilaian dan tidak memberikan tindak lanjut dari penilaian.
Reformasi yang terjadi pada medio 1998 juga mereformasi kepegawaian di Indonesia. Melalui UU 43 tahun 1999, pembinaan PNS kini dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karir yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja dan untuk menjamin objektivitas dalam mempertimbangkan pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan pangkat diadakan
penilaian prestasi kerja. Berdasarkan itulah maka diadakan penyempurnaan DP3 dengan penilaian prestasi kerja PNS. Berbeda dengan DP3 penilaian prestasi kerja terdiri dari dua unsur yaitu Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan perilaku kerja dimana bobot nilai unsur SKP sebesar 60% dan perilaku kerja sebesar 40%. Penilaian Sasaran Kerja Pegawai (SKP) meliputi aspek-aspek seperti kualitas, kuantitas, biaya. dan waktu sementara penilaian perilaku kerja meliputi orientasi disiplin, pelayanan, kerjasama, integritas, komitmen, dan kepemimpinan.
Pada penelitian ini, peneliti mengambil lokasi penelitian pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng. Dimana telah terjadi penurunan kinerja pegawai tahun 2013. Pada tahun 2012 kinerja pegawai secara keseluruhan yang diperoleh dari realisasi fisik Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng sebesar 99,61% sedangkan pada tahun 2013 sebesar 96,00%.
Diduga ada beberapa kasus yang menjadi penyebab menurunnya kinerja pegawai Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng tersebut. Hal yang pertama pada partisipasi penyusunan anggaran yaitu tidak semua pegawai pada Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng tersebut ikut berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran. Partisipasi aparat pemerintah daerah dalam proses penganggaran pemerintah daerah mengarah pada seberapa tingkat keterlibatan pegawai pemerintah daerah dalam menyusun anggaran daerah serta pelaksanaannya untuk mencapai target anggaran. Pegawai perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terlibat dalam proses penganggaran pemerintah daerah diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan melalui perencanaan anggaran. Hal ini sangat penting karena aparat SKPD pemerintah daerah akan merasa lebih produktif dan puas terhadap pekerjaannya sehingga memungkinkan munculnya perasaan berprestasi yang akan meningkatkan kinerjanya. Partisipasi juga sangat mudah
diterima oleh semua pihak karena mengandung asas musyawarah dan mufakat, sehingga terdapat kegairahan untuk terus bekerja dalam melaksanakan hal-hal yang telah disepakati bersama dengan baik, tanpa ada pimpinan atau tidak disamping mereka sehingga pegawai yang ikut dalam proses penyusunan anggaran akan meningkatkan kinerja pegawai itu sendiri. (Effendy,1989)
Dugaan yang kedua yaitu adanya ketidakjelasan sasaran anggaran DAK (Dana Alokasi Khusus) yang tidak direalisasikan karena terbentur dengan JUKNIS (Petunjuk Teknis). Penetapan Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2013 sangat lamban dan Petunjuk Teknis tersebut diterima di Pemerintah Kabupaten Buleleng sangat terlambat sehingga paket-paket pekerjaan yang telah diprogramkan sesuai dengan ketentuan dimaksud dalam petunjuk teknis tidak dapat dilaksanakan karena waktu yang tersedia tidak cukup untuk melaksanakan pekerjaan. Rendahnya penawaran yang diajukan oleh penyedia barang/ rekanan, sehingga terdapat sisa penawaran yang mengakibatkan sisa anggaran. Dari prosentase peruntukan yang telah ditetapkan dari petunjuk teknis, terdapat sisa dana DAK yang tidak mungkin untuk dibuatkan paket pekerjaan, sehingga dana tersebut mengendap dalam bentuk sisa dana DAK, sehingga terjadi sisa anggaran. Sehingga banyak dana SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) pada tahun 2013 yang mencapai Rp. 57.000.000.000.000.
Penyusunan kejelasan sasaran anggaran sangat diperlukan untuk mengetahui target dari pencapaian anggaran tersebut. Kejelasan sasaran anggaran akan mendorong pegawai lebih produktif dan melakukan yang terbaik, dibandingkan sasaran yang tidak jelas, dengan kata lain kejelasan sasaran anggaran akan meningkatkan kinerja pegawai dalam mencapai tujuan organisasi (Kenis: 1979) dalam (Sumarno: 2005). Jadi kejelasan sasaran anggaran akan mendorong pemerintah daerah lebih efektif dan melakukan yang terbaik dibandingkan dengan sasaran yang tidak jelas. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang penulis
gunakan sebagai acuan yaitu menurut Dian Sari (2013) menyatakan partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial.. Menurut Nurhalimah (2013) partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja aparatur perangkat daerah, sedangkan kejelasan sasaran anggaran tidak berpengaruh terhadap kinerja aparatur perangkat daerah. Yusri Hazmi (2012) menyatakan Kejelasan sasaran anggaran berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja pemerintah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh temuan eksplanatif atau penjelasan yang teruji tentang pengaruh: (1) partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai, (2) partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai, dan (3) kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis dengan adanya penelitian ini, mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pemerintah daerah yaitu diantaranya meliputi komitmen organisasi, partisipasi dalam penyusunan anggaran, dan kejelasan sasaran anggaran. Sedangkan untuk manfaat praktis dengan adanya hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan saran-saran serta dapat digunakan pula sebagai salah satu sarana dalam meningkatkan kinerja pegawai pemerintah daerah kedepannya.
Secara teoritik penelitian ini dilandasi beberapa teori tentang partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan kinerja pegawai. Anthony dan Govindarajan (2005), mengemukakan bahwa anggaran merupakan alat penting untuk perencanaan dan pengendalian jangka pendek yang efektif dalam organisasi. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu dalam ukuran finansial.
Kontribusi terbesar dari proses penyusunan anggaran akan terjadi jika bawahan dilibatkan untuk berpartisipasi dalam penyusunan anggaran. Oleh karena tingkat keterlibatan bawahan dalam proses penyusunan anggaran merupakan faktor utama yang membedakan antara anggaran partisipastif dan anggaran non partisipatif.
Manfaat partisipasi dalam proses penyusunan anggaran adalah: (1) seseorang yang terlibat dalam proses prnyusunan anggaran tidak saja task involid melainkan juga ego involved dalam kerjasama; (2) keterlibatan seseorang akan meningkatkan rasa kebersamaan dalam kelompok, karena dapat meningkatkan kerjasama antara anggota kelompok di dalam penetapan sasaran, serta dapat mengurangi rasa tertekan; dan (3) keterlibatan seseorang akan mengurangi rasa perbedaan di dalam mengalokasikan sumber daya di antara unit-unit yang ada dalam organisasi (Siegel et al. 1989).
Menurut Kenis (1979), kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggung jawab atas pencapain sasaran tersebut. Ketidakjelasan sasaran anggaran akan menyebabkan pelaksanaan anggaran menjadi bingung, tidak puas dalam bekerja. Hal ini menyebabkan pelaksana anggaran tidak termotivasi untuk mencapai kinerja yang diharapakan.
Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian, pelaksanaan suatu kegiatan /program /kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang
tertuang dalam strategic planning suatu organisasi (Mahsun, 2006)
.
Sedangkan Kinerja karyawan (prestasi kerja) menurut Mangkunegara (2007:9) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif kausal. Subjek penelitian ini adalah seluruh pegawai pada Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng dan objek penelitian ini adalah partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan kinerja pegawai. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu berupa data partisipasi penyusunan anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan kinerja pegawai yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng. Data dikumpulkan dengan teknik (1) kuesioner dan (2) wawancara, kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda dengan pengujian uji asumsi klasik.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan bantuan program aplikasi komputer Statistical Package for Social Sience (SPSS) 19.0 for Windows, maka diperoleh hasil penelitian seperti yang tampak pada Tabel 1 dan Gambar 1 berikut ini.
Tabel 1 Hasil Uji Statistik Analisis Regresi Berganda Parameter Koefisien p-value Alpha
(α)
Keputusan Simpulan
Ryx1x2 0,760 0,000 0,05 Menolak Ho Ada hubungan pengaruh simultan
dari partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai. R2yx1x2 0,578 0,000 0,05 Menolak Ho Menunjukkan besarnya sumbangann
pengaruh partisipasi penyusunann anggaran dan kejelasan sasarann anggaran terhadap kinerja pegawai
nPyx1 0,557 0,000 0,05 Menolak Ho Ada hubungan pengaruh parsial dari
partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai.
P2yx1 0,310 0,000 0,05 Menolak Ho Menunjukkan besarnya sumbangan
pengaruh secara parsial dari partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai.
Pyx2 0,495 0,000 0,05 Menolak Ho Ada hubungan pengaruh parsial dari
kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai.
P2yx2 0,245 0,000 0,05 Menolak Ho Menunjukkan besarnya sumbangan
pengaruh secara parsial dari kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai.
Pyε 0,422 - - - Besarnya pengaruh variabel lain
terhadap kinerja pegawai.
P2yε 0,178 - - - Sumbangan pengaruh variabel lain terhadap kinerja pegawai.
α 6,513 0,001 0,05 Signifikan Bisa memprediksi β1 0,557 0,002 0,05 Signifikan Bisa memprediksi
β2 0,495 0,000 0,05 Signifikan Bisa memprediksi
Sumber: Pengolahan Data SPSS
Dari tabel di atas, besarnya hubungan pengaruh masing-masing variabel terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1. Struktur Hubungan Pengaruh X1 dan X2 terhadap Y
Keterangan :
X1 = Partisipasi Penyusunan Anggaran X2 = Kejelasan Sasaran Anggaran Y = Kinerja Pegawai
ε = Variabel lain
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji adanya hubungan antara dua atau lebih variabel bebas
dengan satu variabel terikat. Hasil analisis regresi berganda menggunakan rumus dari (Fridayana: 2013) diperoleh persamaan regresi sebagai berikut.
Y = bo + b1X1 + b2X2 Y = 6,513 + 0,557X1 + 0,495X2 Keterangan: Y = Kinerja Pegawai bo = Konstanta b1b2 = Koefisien regresi
X1 = Partisipasi Penyusunan Anggaran
X2 = Kejelasan Sasaran Anggaran
Y = Kinerja Pegawai
bo menyatakan bahwa jika partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran tetap (tidak mengalami perubahan) maka nilai kinerja pegawai sebesar 6,513. b1 menyatakan bahwa jika partisipasi penyusunan anggaran bertambah sebesar 1 poin, maka kinerja pegawai akan mengalami peningkatan sebesar 0,557. Begitu pula dengan b2 menyatakan bahwa jika kejelasan sasaran anggaran bertambah sebesar 1 poin, maka kinerja pegawai akan mengalami peningkatan sebesar 0,495. Ini menunjukkan bahwa hubungan partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai Ryx1x2 = 0,760 pyx1 = 0,557 pyε = 0,422
pyx2=0,495 ε X1 X2 Y
adalah positif (searah). Apabila terjadi peningkatan partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran, maka kinerja pegawai juga akan meningkat. Berdasarkan hasil penelitian dengan bantuan aplikasi SPSS 19.0 for windows, hasil pada Tabel 1 menyatakan bahwa Ho ditolak yang berarti ada pengaruh simultan dari partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai. Besarnya sumbangan pengaruh partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai yaitu sebesar 0,760, berarti variabel kinerja pegawai dipengaruhi oleh partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran sebesar 76%, sedangkan sisanya sebesar 0,422 (42,2%) dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel lain yang secara teoritik diduga kuat mempengaruhi kinerja karyawan adalah motivasi dan lingkungan kerja (Mangkunegara, 2005:16).
Hasil pada Tabel 1 menyatakan bahwa Ho ditolak yang berarti ada pengaruh parsial dari partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai. Besarnya sumbangan pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai yaitu sebesar 0,557, berarti variabel kinerja pegawai dipengaruhi oleh partisipasi penyusunan anggaran sebesar 55,7%. Hal ini berarti ada pengaruh yang positif dan signifikan dari partisipasi penyusunan anggaran secara parsial terhadap kinerja pegawai. Jika partisipasi penyusunan anggaran mengalami peningkatan maka kinerja pegawai juga akan mengalami kenaikan.
Hasil pada Tabel 1 menyatakan bahwa Ho ditolak yang berarti ada pengaruh parsial dari kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai. Besarnya sumbangan pengaruh kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai yaitu sebesar 0,495, berarti variabel kinerja pegawai dipengaruhi oleh kejelasan sasaran anggaran sebesar 49,5%. Hal ini berarti jika kejelasan sasaran anggaran
mengalami perbaikan yang
berkesinambungan maka kinerja pegawai juga akan mengalami kenaikan.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama atau simultan dari partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh positif dan signifikan secara parsial partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori dari Effendy (1989) yang menyatakan bahwa partisipasi penyusunan anggaran mengandung asas musyawarah dan mufakat sehingga kegairahan untuk terus bekerja dalam melaksanakan hal-hal yang telah disepakati bersama dengan baik tanpa ada pimpinan atau tidak disamping mereka sehingga pegawai yang ikut berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran akan meningkatkan kinerja pegawai itu sendiri . Hasil penelitian ini sesuai dan mendukung hasil penelitian empirik dari Dian Sari (2013) dan Nurhalimah (2013) yang menyimpulkan bahwa secara parsial partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja aparatur. Temuan penelitian ini memiliki implikasi bahwa ketika pegawai dilibatkan dalam penyusunan anggaran, pegawai akan merasa aspirasi dan kedudukannya sebagai pegawai merasa lebih dihargai maka secara tidak langsung kinerja pegawai akan semakin baik pula.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan secara parsial kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng. Hasil penelitian ini mendukung teori dari Kenis (1979) yang menyatakan bahwa kejelasan sasaran anggaran akan mendorong pegawai lebih produktif dan melakukan yang terbaik dibandingkan dengan sasaran yang tidak jelas, dengan kata lain kejelasan sasaran anggaran akan meningkatkan kinerja pegawai dalam mencapai tujuan organisasi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian empirik dari Yusri Hazmi (2012) yang
menyimpulkan bahwa secara parsial variabel kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil temuan penelitian ini memiliki implikasi bahwa dengan kejelasan sasaran anggaran yang jelas memberikan keleluasaan pegawai dalam upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi dan kinerja pegawai itu sendiri.
Keterbatasan atau kelemahan dalam penelitian ini adalah baru mengamati data pada satu Satuan Kerja Perangkat Daerah yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng. Sehingga peneliti lain diharapkan menggunakan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang lebih banyak agar hasil penelitian lebih teruji keandalannya.
PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian statistik dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Ada pengaruh yang positif dan signifikan dari partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng, (2) Ada pengaruh yang positif dan signifikan dari partisipasi penyusunan anggaran terhadap terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng, (3) Ada pengaruh yang positif dan signifikan dari kejelasan sasaran anggaran terhadap terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng.
Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diajukan beberapa saran yaitu sebagai berikut: (1) bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng agar meningkatkan kinerja pegawainya dengan berfokus pada partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran. Karena berdasarkan hasil penelitian terbukti partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran dapat mempengaruhi kinerja pegawai. Partisipasi pegawai dalam penyusunan anggaran lebih ditingkatkan dengan selalu melibatkan semua pegawai dalam proses penentuan alokasi angaran. Dengan adanya partisipasi
penyusunan anggaran, kejelasan sasaran anggaran dapat diketahui oleh seluruh pegawai. Jadi pegawai mengetahui hal apa yang harus mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja dari pegawai itu sendiri maupun kinerja Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Transparansi terhadap anggaran yang tersedia sangat dibutuhkan oleh seluruh pegawai. Adanya anggaran yang jelas dan rinci, membuat pegawai merasa lebih dihormati daripada anggaran yang tidak jelas dan terkesan ditutup-tutupi penggunaannya. (2) bagi para peneliti, khususnya yang tertarik dan berminat untuk mendalami tentang partisipasi penyusunan anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja pegawai, diharapkan untuk mengembangkan penelitian ini dengan menambah sampel atau populasi yang lebih luas serta menguji variabel lain yang diduga kuat dapat mempengaruhi kinerja pegawai seperti motivasi, akuntabilitas, dan lingkungan kerja.
DAFTAR RUJUKAN
Anthony dan Govindarajan. 2005,
Manajement Control System.
Jakarta : Salemba Empat
Anwar Prabu Mangkunegara. 2005. Sumber Daya Manusia Perusahaa.. Remaja Rosdakarya: Bandung ______2007, Manajemen Sumber Daya
Manusia, Cetakan Ke Tujuh PT. Remaja Rosdakarya: Bandung. Dian Sari. 2013. “Pengaruh Partisipasi
Anggaran Dan Akuntansi Pertanggungjawaban Terhadap Kinerja Manajerial Pt. Pos Indonesia”. Jurnal Akuntansi Universitas Jambi. Vol 2 Nomor 1 Tahun 2013. Hal 1-9
Effendy, Onong Uchjana. (1989). Sistem Informasi Manajemen Mandar maju: Bandung.
Fridayana. 2013. Analisis Regresi Dengan Menggunakan Aplikasi Komputer
Statistik SPSS. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Nurhalimah. 2013. “Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Dan Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Kinerja Aparatur Perangkat Daerah Di Pemerintahan Aceh”. Jurnal Akuntansi Universitas Syiah Kuala Aceh. Vol 2 Nomor 1 Tahun 2013. Hal 1-10
Sumarno, J. 2005. “Pengaruh Komitmen
Organisasi Dan Gaya
Kepemimpinan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Anggaran Dan Kinerja Manajerial”. Jurnal Akuntansi Universitas Sam Ratu Langi. Vol 12 Nomor 1 Tahun 2005. Hal 1-12 Undang-Undang No.17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara.
Yusri Hazmi. 2012. “Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Dan Akuntabilitas Publik Terhadap Kinerja Manajerial Aparatur Pemerintahan Kota Lhokseumawe, Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Kota Lhokseumawe”.
Jurnal Ekonomi Universitas
Politeknik Negeri Lhoksumawe. Vol 13 Nomor 2 Tahun 2012. Hal 31-37