3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini ialah di Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat. Alasan pemilihan atau penentuan lokasi ini ialah bahwa: (1) hingga saat ini belum ada penelitian tentang pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang; (2) wilayah Kabupaten Subang memiliki potensi pengembangan USP yang relatif tinggi; (3) adanya komitmen pemerintah daerah Kabupaten Subang dalam pengembangan peternakan yang tertuang dalam Perdakab. Subang Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Izin Usaha Peternakan. Sampel penelitian ini mencakup desa-desa dalam wilayah Kecamatan Sagalaherang dan Ciater; atau dua dari enam kecamatan yang mengembangkan USP di Kabupaten Subang, yaitu Kecamatan Sagalaherang, Jalancagak, Ciater, Cijambe, Dawuan, dan Tambakdahan.
Penelitian dilakukan selama enam bulan, mulai bulan Januari 2011 sampai dengan Juni 2011 dengan perincian seperti tertera dalam Tabel 2.
Tabel 2 Perincian waktu penelitian model kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang
No Waktu Kegiatan Lokasi
1 Minggu I Januari 2011 sampai dengan Minggu II Februari 2011
Pengamatan lapangan dan studi kepustakaan berka-itan USP dan lingkungan
Desa-desa (lokasi USP) di Keca-matan Sagalaherang dan Ciater Ka-bupaten Subang
2 Minggu III Februari 2011 sampai dengan Minggu III Maret 2011
Mengurus administrasi dan perizinan penelitian
1. Rektorat IPB Bogor
2. Kantor Pem.Provinsi Jawa Barat 3. Kantor Pem.Kabupaten Subang 4. Kantor Pem.Kecamatan Ciater 5. Kantor Pem.Kec. Sagalaherang 6. Kantor Pem. Desa (lokasi USP)
3 Minggu IV Maret 2011 sampai dengan Minggu III Mei 2011
Menghubungi pejabat atau staf dinas dan instansi terkait tingkat kabupaten, kecamatan dan desa di Kabupaten Subang di- lanjutkan dengan pengum-pulan data sekunder
Kantor dinas dan instansi terkait tingkat kabupaten, kecamatan dan desa di Kabupaten Subang
4 Minggu IV Maret 2011 sampai dengan Minggu III April 2011
Pengumpulan data primer Desa-desa dalam wilayah Keca-matan Ciater dan Sagalaherang (lokasi USP)
5 Minggu I April 2011 sampai dengan Minggu I Juni 2011
Pengolahan dan analisis data
Subang Bogor
6 Minggu II sampai dengan
Minggu IV Juni 2011 Penulisan hasil penelitian Bogor
3.2 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan Chi-square, Analytical
Hierarchy Process (AHP), Interpretative Structural Modelling (ISM), dan
pendekatan sistem. Diagram proses penelitian serta metode dan pendekatan yang digunakan tampak pada Gambar 9.
Keterangan :
USPSMWL = Usaha sapi perah skala mikro berwawasan lingkungan LSM = Lembaga Sosial Masyarakat
AHP = Analytical hierarchy process ISM = Interpretative structural modelling
Gambar 9 Diagram proses penelitian. 3.3 Responden Penelitian
Jumlah responden penelitian ini 253 orang, terdiri atas responden masyarakat pelaku USP 115 orang; responden masyarakat bukan pelaku USP 115 orang; responden dinas dan instansi kabupaten, kecamatan, dan desa 16 orang; dan responden pakar 7 orang. Perincian responden tersebut adalah seperti tertera dalam Tabel 3.
Tabel 3 Perincian responden penelitian model kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang
No Sampel responden Jenis Jumlah Metode pengambilan
1 Pejabat atau staf Dinas Peternakan Kabupaten Subang Pakar 1 orang Purposive sampling
2 Pejabat atau staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kabupaten Subang Pakar 1 orang s.d.a.
3 Pejabat atau staf Dinas Koperasi & UMKM
Kabupaten Subang Pakar 1 orang s.d.a. 4 Pejabat atau staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Subang Pakar 1 orang s.d.a. 5 Pejabat atau staf KPSBU Pakar 1 orang s.d.a. 6 Pejabat atau staf Danone Pakar 1 orang s.d.a. 7 Pejabat atau staf perbankan Kabupaten Subang Pakar 1 orang s.d.a.
8 Pejabat atau staf Dinas Peternakan Kabupaten Subang Dinas dan Instansi 2 orang s.d.a.
9 Pejabat atau staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Subang Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a.
10 Pejabat atau staf Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Subang Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a.
11 Pejabat atau staf perbankan Kabupaten Subang
Dinas dan Instansi
1 orang s.d.a. 12 Camat Kecamatan Ciater Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a. 13 Pejabat atau staf Dinas dan Instansi Kecamatan Ciater Dinas dan Instansi 3 orang s.d.a. 14 Camat Kecamatan Sagalaherang Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a. 15 Pejabat atau staf Dinas dan Instansi
Kecamatan Sagalaherang
Dinas dan Instansi 3 orang s.d.a.
16 Pejabat dan staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kabupaten Subang
Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a.
17 Pejabat atau Staf Danone Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a. 18 Pejabat atau staf KPSBU Dinas dan Instansi 1 orang s.d.a. 19 Masyarakat peternak di dua kecamatan
penelitian Masyarakat 115 orang Random 20 Masyarakat bukan peternak dan tokoh
masyarakat di dua kecamatan penelitian Masyarakat 115 orang Random sampling dan snow ball
Jumlah 253 orang
Responden masyarakat pelaku USP ialah mereka yang pada saat ini sedang menjalankan USP dalam skala mikro di wilayah kecamatan penelitian dipilih dengan cara random sampling dengan penghitungan jumlah sampel menggunakan rumus :
Keterangan rumus :
SE : Standard error sebesar 0,0332 hasil dari degree of reliability sebesar 0,062 per Zc sebesar 1,96 (0,062/1,96 = 0,0316)
p : proporsi di mana suatu keadaan bisa terjadi di dalam populasi (50%)
q : 1 - p
N : besar sampel yang akan diambil
Responden masyarakat bukan pelaku USP ialah mereka yang belum menjalankan USP skala mikro berdomisili di lokasi penelitian dipilih dengan cara
random sampling; jumlahnya ditetapkan sama dengan jumlah sampel pelaku USP.
Responden dinas atau instansi ialah pejabat atau staf struktural dan fungsional di tingkat kabupaten, kecamatan, desa yang berkaitan dengan pengembangan USP skala mikro di lokasi penelitian dipilih dengan cara purposive sampling. Pakar ialah mereka yang dipilih dengan cara purposive sampling berdasarkan kriteria pendidikan, pengalaman, dan kompetensi berkaitan dengan pengembangan USP.
3.4 Definisi Operasional
Berikut ini dikemukakan definisi operasional dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini; yang dimaksudkan untuk mencegah timbulnya perbedaan pengertian dalam analisis atau pembahasannya.
1. Model
a. Pengertian
Model ialah bentuk yang dibuat untuk menirukan suatu gejala atau proses. Model dalam penelitian ini ialah model kuantitatif yang berbentuk rumus-rumus matematik, statistik, atau komputer tentang kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang.
a. Validasi model
Teknik yang digunakan untuk validasi model:
1) Validasi struktur model yaitu sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Validasi struktur dilakukan dengan 2 bentuk pengujian, yaitu; uji kesesuaian struktur dan uji kestabilan struktur. Uji kesesuaian struktur dilakukan untuk menguji apakah struktur model tidak berlawanan dengan teori-teori baru atau pengetahuan yang berkembang. Uji kestabilan struktur model dilakukan dengan cara memeriksa keseimbangan dimensi peubah pada kedua sisi persamaan model; melihat keberlakuan atau kekuatan model dalam dimensi waktu.
2) Validasi kinerja atau output model yaitu aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem yang bertujuan memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai dengan kinerja sistem nyata
sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta. Caranya adalah memvalidasi kinerja model dengan data empiris untuk melihat sejauh mana perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Untuk validasi perilaku model digunakan: (a) Absolute mean error (AME) atau penyimpangan (selisih) nilai
rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai aktual, dan (b) Absolute variation error (AVE) atau penyimpangan nilai
variasi (variance) simulasi terhadap aktual. Batas
penyimpangan yang diterima adalah antara 5 dan 10%. Rumus uji statistik keduanya:
AME = [(Si – Ai)/Ai]...(1) Si = Si N, dimana S = nilai simulasi
Ai = Ai N, dimana A = nilai aktual N = interval waktu pengamatan
AVE = [(Ss – Sa)/Sa]...(2) Ss = ((Si – Si)2 N) = deviasi nilai simulasi
Sa = ((Ai – Ai) 2 N) = deviasi nilai aktual 2. Kebijakan
Kebijakan yang dirumuskan dari penelitian ini ialah suatu upaya atau tindakan untuk mempengaruhi atau mendorong sistem USPSMWL di Kabupaten Subang yang bersifat strategis untuk jangka panjang ke arah tujuan yang diinginkan. Kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dalam bentuk program-program yang bersifat teknis dan jangka pendek untuk mempengaruhi sistem dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan.
3. Usaha Sapi Perah Skala Mikro a. Pengertian
Pengembangan ialah upaya berkesinambungan untuk meningkatkan jumlah dan mutu sesuai dengan yang diharapkan. Usaha sapi perah ialah usaha yang dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan memperoleh pendapatan atau keuntungan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Skala mikro artinya
jumlah sapi perah yang dipelihara, diusahakan atau dikelola sebanyak 1 sampai 4 ekor (sapi laktasi, kering kandang, dan dara).
b. Kategori
Dalam penelitian ini USP dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu USP yang kurang berkembang dan USP yang cukup berkembang. Cara ukur, alat ukur, dan hasil ukur yang digunakan sebagai berikut.
1) Cara ukur : Jawaban responden dan hasil observasi 2) Alat ukur : Kuesioner atau form penilaian (Tabel 4)
Tabel 4. Form Penilaian Perkembangan Usaha Sapi Perah Skala Mikro Berwawasan Lingkungan di Kabupaten Subang
No Isi Pertanyaan Nilai Jum
lah 0 1 2 3 4 1 Ketersediaan pakan ternak (hijauan)
2 Ketersediaan pakan ternak (konsentrat) 3 Kesehatan sapi
4 Jumlah susu segar yang dihasilkan 5 Mutu susu segar yang dihasilkan
6 Biogas hasil pengolahan limbah sapi sendiri 7 Pupuk organik hasil pengelolaan limbah sapi 8 Keadaan fisik atau konstruksi kandang sapi 9 Lokasi kandang sapi
10 Kebersihan dan kesehatan kandang sapi 11 Sanitasi lingkungan kandang sapi
12 Pertambahan jumlah populasi sapi per tahun 13 Postur tubuh sapi perah
14 Sumberdaya manusia 15 Jumlah sapi yang dipelihara
Jumlah nilai :
3) Hasil ukur :
(1) Dikategorikan “Kurang berkembang” jika jumlah seluruh nilai jawaban ≤ median (30)
(2) Dikategorikan “Cukup berkembang” jika jumlah seluruh nilai jawaban > median (30).
4. Usaha sapi perah skala mikro berwawasan lingkungan ialah USP yang tidak hanya memperhatikan nilai ekonomi dan sosial semata, tetapi juga memperhatikan nilai lingkungan; artinya proses kegiatan USP dipadukan
kesejahteraan dan mutu hidup generasi kini dan masa depan. Gambaran keterkaitan usaha sapi perah dengan lingkungan secara skematis tampak pada Gambar 2.
5. Umur adalah lama hidup dalam tahun sejak kelahiran sampai ulang tahun terakhir (Masehi)
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Umur dalam tahun
(1) Dikategorikan “Muda-Dewasa” jika kurang dari 40 tahun (2) Dikategorikan “Dewasa-Tua” jika 40 tahun
6. Pendidikan adalah tingkat sekolah formal terakhir yang diselesaikan oleh responden ditandai oleh adanya ijazah atau tanda tamat belajar resmi dari suatu lembaga atau instansi pendidikan resmi.
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Pendidikan dalam tingkat
(1) Dikategorikan “Rendah” jika tamat SD ke bawah
(2) Dikategorikan “Menengah” jika tamat SLTP, SLTA, dan D3 sederajat
(3) Dikategorikan “Tinggi” jika tamat D4 ke atas.
7. Pengeluaran adalah jumlah rata-rata penggunaan uang oleh responden per bulan dalam rupiah untuk keperluan konsumsi rumah tangga (belanja pangan, listrik, air, telepon, pajak, retribusi, iuran sosial, transport, pendidikan, kesehatan, dan lainnya).
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Pengeluaran uang dalam rupiah
(1) Dikategorikan “Sangat rendah” jika Rp.200.000,-- ke bawah
(2) Dikategorikan “Rendah” jika berkisar dari Rp.201.000,- sampai Rp.350.000,--
sampai Rp.500.000,--
(4) Dikategorikan “Cukup” jika sama atau lebih besar dari Rp.501.000,--
8. Keikutsertaan penyuluhan dan bimbingan teknis responden ialah jumlah penyuluhan dan bimbingan teknis yang diikuti oleh responden dalam empat tahun terakhir (tahun 2007 sampai tahun 2010) tentang pengelolaan usaha sapi perah yang diselenggarakan oleh pemerintah dan non pemerintah di daerahnya.
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Jumlah dalam kali
(1) Dikategorikan “Sangat kurang” jika 1 sampai 5 kali (2) Dikategorikan “Kurang” jika 6 sampai 10 kali (3) Dikategorikan “Sedang” jika 11 sampai 20 kali (4) Dikategorikan “Cukup” jika lebih dari 20 kali.
9. Lamanya menjalankan usaha sapi perah terhitung sejak awal beternak sapi sampai saat ini.
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Lama dalam tahun (1) ≤ 3 tahun (2) > 3 tahun
(3) Dikategorikan “Cukup” jika > 3 tahun
10. Pengetahuan ialah pengetahuan responden masyarakat peternak tentang USPSMWL dan perihal lain yang berhubungan.
Cara ukur : Jawaban responden
Alat ukur : Kuesioner atau form penilaian (Tabel 5) Hasil ukur : Nilai dalam angka
(1). Dikategorikan “Kurang” jika jumlah seluruh nilai jawaban adalah ≤ median (70)
(2). Dikategorikan “Cukup” jika jumlah nilai seluruh nilai jawaban adalah > median (70)
Tabel 5 Form Penilaian Pengetahuan Responden Masyarakat Peternak tentang Usaha Sapi Perah Skala Mikro Berwawasan Lingkungan
No Isi Pertanyaan Nilai
Ju m -la h 0 1 2 3 4
1 Bagaimana meningkatkan produksi susu sapi di Indonesia termasuk Kabupaten Subang?
2 Apa manfaat USP?
3 Apa modal pengembangan USP?
4 Apa dampak positif anak yang cukup asupan susu sapi? 5 Apa dampak negatif jika anak kekurangan asupan susu sapi? 6 Apa dampak negatif dari limbah sapi perah dibiarkan
sembarangan?
7 Apa dampak negatif jika jarak kandang sapi dengan rumah hunian atau sumber air bersih terlalu dekat (<10 meter)?
8 Bagaimana cara mengelola limbah sapi berwawasan lingkungan? 9 Apakah limbah sapi dapat dimanfaatkan untuk menambah
pendapatan keluarga?
10 Apa saja peran pemerintah dalam pengembangan sapi perah? 11 Apa saja peran perbankan dalam pengembangan USP? 12 Apa tanda-tanda sapi yang sehat?
13 Apa tanda-tanda sapi yang sakit? 14 Apa penyebab sapi sakit? 15 Sebutkan jenis-jenis penyakit sapi?
16 Apa gejala penyakit anthrax dan bagaimana cara pencegahannya? 17 Bagaimana cara pencegahan agar sapi terhindar dari penyakit? 18 Bagaimana menerapkan usaha sapi perah berwawasan lingkungan? 19 Mengapa sapi harus divaksinasi?
20 Berapa kali sapi divaksinasi selama bunting? 21 Mengapa sapi harus diberi vitamin? 22 Berapa kali sapi diberi vitamin?
23 Mengapa sapi harus bebas dari kecacingan? 24 Berapa kali sapi diberi obat agar tidak kecacingan?
25
Apa saja syarat kandang sapi yang baik?
a. Konstruksi (bahan, ukuran, atap, dinding, lantai, selokan) b. Lokasi (jarak minimal dari rumah atau sumber air minum) c. Kebersihan, cahaya, kelembaban dan suhu udara d. Keamanan (dari pencurian, kebakaran, longsor dsb.) e. Ketersediaan air bersih
26 Apa tanda-tanda susu sapi yang bermutu baik?
27 Limbah sapi (feses dan urin) dapat dimanfaatkan untuk apa? 28 Berapa kali sapi diperiksa kesehatan selama bunting? 29 Apa akibat jika sapi tidak diperiksa kesehatannya secara rutin? 30 Apa syarat-syarat pakan sapi perah yang baik?
31 Bagaimana cara meningkatkan produksi susu sapi perah? 32 Mengapa pemerah susu harus sehat?
33 Apa tanda-tanda susu sapi yang rusak?
34 Mengapa lingkungan sekitar kandang sapi harus bersih dan sehat?
35 Bagaimana mengolah atau memanfaatkan limbah sapi menjadi bio- gas dan pupuk organik?
11. Praktek atau perilaku dalam mengelola USP ialah tindakan atau kegiatan nyata peternak dalam proses pengelolaan usaha sapi perah.
Cara ukur : Hasil observasi
Alat ukur : Form penilaian (Tabel 6) Hasil ukur : Nilai dalam angka
(1).Dikategorikan “Kurang baik” jika jumlah seluruh nilai jawaban ≤ median (28).
(2).Dikategorikan “Cukup baik” jika jumlah seluruh nilai jawaban > median (28).
Tabel 6 Form Penilaian Praktek atau Perilaku Responden Masyarakat Peternak dalam Mengelola USPSMWL
No Isi Pertanyaan
Nilai
Jum-lah 0 1 2 3 4
1 Berapa kali kandang sapi dibersihkan setiap hari? 2 Apakah sapi dimandikan setiap hari?
3 Apakah responden peternak menjaga kebersihan tangan, kuku pada saat pemerahan susu?
4
Apakah responden peternak sapi sering berkonsultasi dengan petugas peternakan pemerintah setempat tentang pengembangan sapi perah?
5
Apakah responden peternak sapi selalu mengikuti acara penyuluhan dan bimbingan teknis tentang USP dari pemerintah, pihak perbankan, atau pihak swasta?
6 Apakah responden peternak menggunakan perlengkapan atau peralatan pemerahan susu yang bersih dan sehat?
7 Apakah responden peternak sapi menggunakan masker selama pemerahan sapi?
8 Apakah responden peternak sapi tepat waktu dalam memerah susu?
9 Apakah responden peternak sapi sebagai kader atau anggota kelompok peternakan Desa?
10 Apakah responden sapi teratur memberi pakan sapi? 11 Apakah responden teratur memberi vitamin sapi?
12 Apakah responden peternak sapi menjual sapi jantan lebih dini (berumur muda) sehingga nilainya minimum ? 13 Apakah responden peternak sapi membuang sampah atau
limbah sapi dengan baik
14
Apakah responden peternak sapi bekerjasama baik dengan para peternak lainnya, dengan pemerintah, dengan pihak perbankan, dan pihak swasta setempat?
12. Lamanya mengurus USP per ekor sapi per hari artinya masa mulai kegiatan pagi sampai sore hari yang sama; mencakup kegiatan mencari pakan sapi, memandikan sapi, memberi pakan sapi, membersihkan kandang sapi, memerah dan menyetor susu sapi, pemeliharaan kesehatan sapi, dan lainnya.
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Lama dalam jam
(1) Dikategorikan “Kurang” jika < satu jam (2) Dikategorikan “Sedang” jika > 1 jam < 3 jam.
13. Kondisi fisik dan lingkungan rumah responden artinya keadaan umum rumah responden dinilai berdasarkan pada kriteria rumah sehat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, di antaranya variabel (a) komponen rumah : skala nilai 0 – 396; (b) sarana sanitasi: skala nilai 0 – 375; dan (c) perilaku penghuni: skala nilai 0 – 440.
Cara Ukur : Observasi dan wawancara dengan responden Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Nilai dalam angka
(1) Dikategorikan “Tidak sehat” jika bobot atau nilai <1.068 (2) Dikategorikan “Sehat” jika bobot atau nilai >1.068. 14. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit yang
menggabungkan tiga aspek penting, yaitu peningkatan kualitas fisik (kesehatan) intelektualitas (pendidikan), dan kemampuan ekonominya (daya beli) seluruh komponen masyarakat dalam kurun waktu tertentu (Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang 2009).
Indeks pendidikan diukur dengan angka melek huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah (RLS). AMH adalah persentase penduduk usis 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis (baik huruf latin maupun lainnya). RLS adalah rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan yang pernah dijalani. Target AMH menurut UNDP adalah 100% dan RLS adalah 15 tahun. Indeks pendidikan yaitu 2/3 (indeks melek huruf) + 1/3 (indeks rata-rata
lama sekolah). Indeks AMH adalah hasil dari: (AMH riil - 0) / (100-0). Indeks ARLS adalah hasil dari: (ARLS riil - 0) / (15 - 0).
Indeks kesehatan diukur dengan umur harapan hidup (UHH). Target UHH menurut UNDP adalah 85 tahun dan minimum 25 tahun. Indeks AHH adalah hasil dari : (UHH riil - 25) / (85 - 25).
Kemampuan daya beli adalah kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup secara layak. Komponen kemampuan daya beli penduduk diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang telah disesuaikan. Batas minimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp. 300.000,- perkapita per tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Setara dengan dua kali garis kemiskinan yang terrendah di perdesaan Sulawesi Selatan dan Papua pada tahun 1990. Batas maksimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp.732.720,-/ kapita/tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Indeks konsumsi per kapita riil adalah hasil dari: (daya beli riil – 300.000)/ (732.720 – 300.000).
15. Kerjasama lintas program dan lintas sektoral yang harmonis ialah kerjasama yang didasari oleh motivasi, tujuan yang serasi dan jelas, saling menguntungkan, semangat musyawarah dan mufakat, tanpa saling intervensi terhadap fungsi sektoral dan tanpa ada salah satu pihak yang merasa terpaksa atau dipaksa sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap evaluasi. Kerjasama ini didasarkan pada pendekatan kesisteman dalam arti bahwa usaha sapi perah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional adalah tugas seluruh aparatur pemerintah.
16. Kontribusi pendapatan USP terhadap kebutuhan konsumsi pelaku USP dan keluarganya ialah besarnya persentase pendapatan USP netto satu bulan terhadap jumlah pengeluaran, menurut kondisi harga pada saat penelitian, untuk konsumsi minimun keluarga pelaku USP selama satu bulan.
3.5 Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data 3.5.1 Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini dikumpulkan data sekunder dan data primer yang relevan dengan topik penelitian. Sumber data sekunder di antaranya ialah
dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh dinas dan instansi yang terkait berupa buku, hasil penelitian, laporan hasil pertemuan, evaluasi program, dan lainnya. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mendatangi dinas dan instansi yang terkait di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa. Sumber data primer ialah hasil pengamatan fakta di lapangan; dan hasil analisis dan kesimpulan jawaban responden dalam kuesioner.
Data sekunder mencakup (1) kondisi geografis; (2) topografi; (3) iklim; (4) curah hujan; (5) suhu udara; (6) kelembaban udara; (7) pertanian: tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan; (8) perdagangan; (9) administrasi pemerintahan; (10) kependudukan: jumlah, komposisi, pekerjaan, mata pencaharian, pertumbuhan, penyebaran, IPM; (12) kesehatan: sarana dan tenaga, UHH, AKIM, AKB, dan angka kesakitan umum; (13) pendidikan: sarana dan tenaga, ARLS, AMH; (14) perekonomian: pendapatan per kapita riil per tahun, konsumsi per kapita riil per tahun, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), lapangan usaha, tabungan per kapita per tahun; (15) usaha peternakan sapi perah: jumlah sapi perah, jumlah peternak, produksi susu per sapi perah per hari, harga susu, permodalan dan masalahnya, jumlah peternak yang mengolah limbah ternak sapi perah menjadi biogas dan pupuk organik.
Data primer berupa hasil wawancara dengan responden ditampung dalam kuesioner, mencakup: karakteristik responden; kebijakan pemerintah, kebijakan perbankan, gambaran kondisi sumberdaya alam dan lingkungan serta gambaran pendapatan dan pengeluaran USP yang diselenggarakan. Data tentang karakteristik responden mencakup umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, pendidikan, pekerjaan, kondisi fisik rumah, domisili, konsumsi per kapita keluarga, pengetahuan umum tentang peternakan, dan sikap atau persepsi terhadap pengembangan USP di masyarakat.
Khusus untuk peternak, data karakteristik ditambah dengan pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan atau USP yang berwawasan lingkungan, persepsi terhadap USPSMWL, dan perilaku dalam mengelola USP selama ini. Data mengenai USP mencakup: sumber modal USP; jumlah sapi yang dipelihara dan perinciannya; cara mengawinkan sapi; frekuensi pemberian makan sapi; jenis pakan yang diberikan; kepemilikan kandang; kondisi atap, dinding,
lantai, penerangan; lokasi kandang; sumber air bersih; selokan limbah kandang; jadwal pemeriksaan kesehatan sapi; sistem pemeliharaan sapi; pemberian vaksinasi sapi; pemberian obat penanggulangan cacing sapi; pengolahan limbah sapi menjadi biogas dan pupuk organik; organisasi para peternak tingkat desa; sumber informasi pengetahuan peternakan; kegiatan penyuluhan serta bimbingan teknis peternakan; aktivitas konsultasi peternakan; bantuan dana USP dari pemerintah dan swasta; bantuan sarana USP dari pemerintah dan swasta; mekanisme penjualan susu segar, sapi, dan limbah sapi; sumber pakan hijauan dan konsentrat, biaya pakan; harga bibit sapi perah; dan kebutuhan untuk pengembangan USP.
Data mengenai kebijakan pemerintah kabupaten dan kecamatan mencakup aspek dana, sarana, tenaga, program penyuluhan dan bimbingan teknis, metode kerja, serta pendapat dari pengalaman responden pejabat dinas, instansi, institusi berkaitan dengan usaha sapi perah di wilayah kerjanya. Data mengenai kebijakan perbankan mencakup persyaratan dan prosedur pengajuan kredit pinjaman dalam rangka USPSMWL, jangka waktu dan suku bunga pinjaman termasuk permasalahannya. Data mengenai sumberdaya alam dan lingkungan mencakup keadaan dan pengelolaan sumberdaya air dan lahan tanaman HPT, kesehatan lingkungan kandang, dan limbah sapi (feses dan urin) termasuk permasalahannya.
Untuk melihat gambaran umum pendapatan dan pengeluaran biaya USP dikumpulkan data tentang: (1) lamanya peternak melakukan USP; (2) modal awal usaha; (3) harga jual susu segar; (4) biaya pakan hijauan dan pakan konsentrat; (5) biaya pengadaan bibit; (6) biaya pengadaan kandang dan penyusutannya; (7) upah pekerja USP per hari; (8) biaya obat untuk kesehatan hewan; (9) biaya untuk inseminasi buatan (IB); (10) biaya ganti rugi sapi mati; (11) biaya penyusutan sarana peternakan: ember, sabit, pikulan, alat pemerah susu, instalasi pengolahan biogas atau pupuk organik, sewa kandang, dan sebagainya; (12) suku bunga bank; (13) pajak; (14) rata-rata lama pengurusan USP per hari; (15) upah minimum regional; (16) kredit bank: plafond, jangka waktu, denda atau penalti; (17) produksi susu segar per hari; (18) pendapatan dari biogas; (19) pendapatan dari jual rumput makanan sapi perah; (20) pendapatan dari penjualan sapi kering kandang dan sapi yang tidak diremajakan.
Keseluruhan data dan informasi yang dikumpulkan untuk selanjutnya diolah dan dianalisis secara deskriptif dan bivariat (Chi-square) sehingga dapat dijadikan bahan masukan dalam rangka penyusunan model kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang.
Untuk keperluan AHP dikumpulkan data berupa pendapat pakar tentang urutan kepentingan berbagai elemen setiap level dalam struktur yang dibangun, yaitu elemen-elemen dalam level aktor, faktor, tujuan, dan strategi. Pengumpulan data ini menggunakan kuesioner khusus berdasarkan pada keperluan AHP.
Untuk keperluan ISM dikumpulkan data berupa pendapat pakar tentang tingkat kekuatan pengaruh, kontribusi, dan ketergantungan berbagai sub elemen dari elemen strategi yang bersumber dari struktur AHP; elemen strategi diuraikan menjadi 20 sub elemen. Semua sub elemen ini dituangkan dalam Structural self
interaction matrix (SSIM) yaitu matriks yang berpasangan, untuk kemudian diisi
oleh responden pakar menggunakan simbol huruf V atau A atau X atau O. Pilihan simbol V : bilamana Sub elemen (1) memberikan kontribusi tercapainya Sub elemen (2), tetapi tidak sebaliknya ( V: eij = 1; eij = 0 ); pilihan simbol A: bilamana Sub elemen (2) memberikan kontribusi tercapainya Sub elemen (1), tetapi tidak sebaliknya ( A: eij = 0; eij = 1 ); pilihan simbol X : bilamana Sub elemen (1) dan Sub elemen (2) saling memberikan kontribusi (X: eij = 1; eij = 1); pilihan simbol O: bilamana Sub elemen (1) dan Sub elemen (2) tidak saling memberikan kontribusi ( O: eij =0; eij =0 ). Pengumpulan data ini menggunakan kuesioner khusus berdasarkan pada keperluan ISM.
3.5.2 Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah terkumpul kemudian diolah hingga menjadi informasi yang dapat digunakan untuk keperluan analisis sesuai dengan arah tujuan penelitian. Dalam rangka pengolahan data dilakukan kegiatan dengan tahapan berurut: (1) pengeditan data, (2) pengkodean data, (3) pemasukan data ke dalam komputer, dan (4) pembersihan data.
3.5.2.1 Analisis Deskriptif dan Bivariat (Chi-square)
Untuk memperoleh gambaran umum USP di Kabupaten Subang dan faktor-faktor yang berhubungan, dilakukan analisis deskriptif dan analisis
(SPSS) 13.0 for windows. Analisis chi-square ditujukan untuk memperoleh gambaran signifikansi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Uji
Chi-square digunakan untuk melakukan analisis hubungan variabel kategorik
dengan variabel kategorik. Dalam uji statistik, hipotesis nol (Ho) gagal tolak jika
p-value > alpha dan Ho ditolak jika p-value <alpha. Dengan uji Chi-square
dapat diuji perbedaan proporsi atau persentase antara beberapa kelompok data. Dalam Chi-square dibandingkan dengan frekuensi yang diamati dengan frekuensi yang terjadi; atau frekuensi yang terjadi (observed) dengan frekuensi harapan (expected). Jika kedua nilai sama, maka disimpulkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Jika nilai frekuensi observasi dan nilai frekuensi harapan berbeda, maka dikatakan ada perbedaan yang signifikan (Walpole 1990).
3.5.2.2 Analytical Hierarchy Process (AHP)
Untuk menganalisis elemen-elemen pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang digunakan AHP dengan struktur seperti tampak pada Gambar 12. Level 1 ialah level “fokus” yaitu pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang; Level 2 ialah level “aktor”, mencakup: peternak, pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa, perbankan, KPSBU; Level 3 ialah level “faktor”, mencakup: kebijakan pemerintah, kebijakan perbankan, sumberdaya alam dan lingkungan, kesiapan masyarakat; Level 4 ialah level “tujuan”, mencakup: kualitas lingkungan meningkat, pendapatan masyarakat meningkat, ekonomi wilayah pedesaan berkembang; dan Level 5 ialah level “strategi”, mencakup: peningkatan layanan perbankan kepada peternak, peningkatan kesiapan masyarakat peternak untuk usaha sapi perah, peningkatan layanan penyuluhan oleh pemerintah, dan peningkatan layanan bimbingan teknis oleh pemerintah.
Kegiatan-kegitan yang dilakukan dalam proses Analytical Hierarchy
Process (AHP) ini ialah:
a. Identifikasi sistem: merupakan proses untuk memahami pokok permasalahan yang akan diselesaikan, menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai, dan kriteria-kriteria yang akan digunakan untuk menentukan pilihan alternatif-alternatif yang akan dipilih.
b. Penyusunan hierarki: merupakan proses untuk melakukan abstraksi struktur suatu sistem dengan mempelajari fungsi interaksi antar komponen serta
dampak-dampaknya pada sistem. Bentuk abstraksi ini mempunyai bentuk yang saling berkaitan dan tersusun secara hierarki. Penyusunan hierarki atau struktur keputusan dilakukan untuk menggambarkan elemen sistem atau alternatif keputusan yang terindentifikasi.
c. Penyusunan matriks pendapat individu: pada proses tersebut dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparison) untuk setiap kriteria dan alternatif dalam penyusunan matriks pendapat individu. Perbandingan berpasangan dilakukan dengan cara membandingkan setiap elemen dengan elemen yang lainnya pada setiap tingkat hierarki secara berpasangan sehingga diperoleh nilai tingkat kepentingan elemen dalam bentuk pendapat kualitatif yang menggunakan skala penilaian sehingga diperoleh nilai pendapat dalam bentuk angka (kuantitatif). Skala yang dipergunakan adalah 1 hingga 9 karena memiliki keakuratan yang terbaik dalam mengkualifikasikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif dapat dibandingkan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bila jumlah elemen yang akan diperbandingkan adalah sebanyak n, maka akan terbentuk matriks yang berukuran: n x n dan jumlah penilaian pendapat yang diperlukan sebanyak n (n–1)/2, dimana jumlah tersebut juga menunjukkan jumlah penilaian pendapat reciprocal-nya, dan penilaian pendapat pada semua elemen diagonal matriks adalah bernilai 1 (satu).
d. Penghitungan tingkat konsistensi: nilai perbandingan yang telah diperoleh dihitung tingkat konsistensinya dengan menggunakan rumus consistency ratio yang telah terdapat dalam AHP. Penyusunan matriks gabungan, pengolahan vertikal dan menentukan vektor prioritas sistem: penyusunan matriks gabungan dilakukan setelah hasil perhitungan consistency ratio memenuhi kriteria yang ditetapkan, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan vertikal untuk menentukan vertikal dan terakhir menentukan vektor prioritas sistem.
AHP digunakan untuk mengetahui urutan prioritas sub elemen dalam elemen Aktor, sub elemen dalam elemen Faktor, sub elemen dalam elemen
Tujuan, dan sub elemen dalam elemen Strategi. Hasil AHP akan dijadikan bahan masukan dalam ISM dan keperluan pendekatan sistem.
3.5.2.3 Interpretative structural modelling (ISM)
Setelah SSIM (matriks A) diisi lengkap oleh responden dengan simbol V, A, X, atau O, selanjutnya dimasukkan ke dalam RM (matriks B) dengan mengkonversi simbol V menjadi angka 1 dan sebaliknya 0; huruf A menjadi angka 0 dan sebaliknya 1; huruf X menjadi angka 1 dan sebaliknya 1; dan huruf O menjadi 0 dan sebaliknya juga 0. Langkah selanjutnya ialah pemeriksaan
transitivity rule matriks dengan cara memeriksa sebelum sel-sel yang nilainya 0,
apakah telah memenuhi transitivity atau belum. Setelah seluruhnya selesai kemudian angka-angka nilai itu dijumlahkan secara horizontal untuk memperoleh nilai driver power; dan secara vertikal untuk memperoleh nilai dependence setiap elemen. Nilai driver power (DP) dan nilai dependence (D) seluruh elemen dipetakan dengan menempatkan pada setiap ordinat (x,y) atau ke dalam empat sektor beserta koordinatnya dalam kuadran independent, linkage, autonomous,
dan dependent. Hasil pemetaan akan menunjukkan struktur faktor-faktor penting
yang potensial atau faktor-faktor kunci (key factors) berdasarkan pada kebutuhan
stakeholder yaitu berupa elemen atau sub elemen prioritas pada sektor
independen.
3.6 Pendekatan Sistem untuk Model Kebijakan Pengembangan Usaha Sapi Perah Skala Mikro Berwawasan Lingkungan di Kabupaten Subang
Pendekatan sistem dilakukan melalui tahapan: analisis kebutuhan, formulasi permasalahan, identifikasi sistem, pemodelan sistem, verifikasi model, implementasi, dan evaluasi periodik (Manetsch dan Park 1977, diacu dalam Marimin 2007).
Analisis kebutuhan dalam penelitian ini difokuskan kepada kebutuhan
stakeholder terhadap pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang. Seluruh
hasil wawancara, diskusi, dan observasi di lapangan tentang kebutuhan
stakeholder, kaitannya dengan pengembangan USP di Kabupaten Subang,
dikumpulkan dan diolah untuk keperluan penentuan komponen-komponen yang berpengaruh dan berperan dalam sistem, kemudian dikelompokkan. Berdasarkan
pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang yang ada pada saat ini (kondisi eksisting).
Dalam rangka rekayasa kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang dilakukan identifikasi sistem dengan cara menyusun diagram lingkar sebab-akibat, diagram input-output, dan diagram alir. Diagram lingkar sebab akibat menggambarkan hubungan antar elemen yang terlibat dalam sistem yang dikaji. Variabel-variabel yang terlibat dalam rangka pemodelan kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang: (1) penduduk, (2) pertambahan penduduk, (3) berkurangnya penduduk, (4) sapi, (5) pertambahan sapi, (6) nilai jual sapi, (7) berkurangnya sapi, (8) peternak, (9) pengelolaan ternak, (10) biaya pengelolaan, (11) sumber pakan, (12) kesejahteraan, (13) jenis produk ternak, (14) limbah, (15) pendidikan, dan (16) pencemaran lingkungan. Dalam diagram
input-output dikemukakan enam variabel yang berhubungan dengan kinerja
sistem yaitu: (1) variabel output yang dikehendaki, ditentukan berdasarkan pada analisis kebutuhan, (2) variabel input terkendali, (3) variabel output yang tidak dikehendaki, berasal dari dampak yang akan ditimbulkan bersama-sama dengan
output yang dikehendaki, (4) variabel input tak terkendali, (5) variabel input
lingkungan, variabel yang berasal dari luar sistem, dan (6) variabel manajemen pengendalian. Diagram alir adalah gambaran struktur model atau hubungan antar variabel-variabel dalam bentuk simbol aliran, simbol level, simbol panah tebal dan halus.
Pemodelan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang disusun berdasarkan pada hasil analisis data, AHP, ISM dan informasi lainnya. Pemodelan didasarkan pada sejumlah asumsi dan nilai numerik atau hasil kuantifikasi masing-masing variabel, kemudian dengan bantuan software
powersim constructor dibuat diagram alir termasuk persamaan powersim dan
analisis dimensinya. Langkah selanjutnya dilakukan simulasi untuk melihat hubungan antar variabel dalam model. Dari hasil simulasi akan terlihat bagaimana efek perubahan suatu variabel dependen jika terjadi perubahan dalam variabel independennya; hal ini penting dianalisis untuk memperoleh informasi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan selanjutnya.Validasi model dilakukan dengan uji validitas struktur dan uji validitas kinerja atau output model.
Validasi struktur model merupakan proses validasi utama dalam berfikir sistem. Tujuan validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata.
3.7 Penyusunan Skenario
Skenario ini dirancang atau disusun berdasarkan pada hasil analisis berupa faktor-faktor kunci yang berperan terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Rumusan skenario disusun berdasarkan pada faktor-faktor kunci yang terkombinasi dalam berbagai keadaan (state). Dari kombinasi antar kondisi faktor tersebut ditetapkan tiga skenario yang dinamakan (1) optimistik, (2) moderat, dan (3) pesimistik. Masing-masing skenario ini kemudian disimulasikan untuk memprediksi kecenderungan hasil pada masa yang akan datang sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan.
3.8 Implementasi
Dalam rangka implementasi disusun dan ditetapkan sejumlah kebijakan pengembangan USPSMWL di Kabupaten Subang. Kebijakan tersebut selanjutnya diuraikan atau dijabarkan dalam bentuk program yang bersifat taktis atau bersifat jangka pendek.