• Tidak ada hasil yang ditemukan

DARI AKAR MENUJU MATAHARI DIALOG INTERRE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DARI AKAR MENUJU MATAHARI DIALOG INTERRE"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DARI AKAR MENUJU MATAHARI: DIALOG INTERRELIGIUS AKAR RUMPUT DALAM KONTEKS KEMAJEMUKAN KONFLIKTIF DI INDONESIA

VINCENT TANZIL

“We need to join with Buddhists, Muslims, and Jews, and others to show how religion can be welcoming of diversity, how can it go beyond toleration to mutual respect. In so doing we can refute by our practices the widespread belief that only by thinking of religion as purely subjective, and thus marginal, can toleration be justified.”—Richard J. Wood “It is not bigotry to be certain that we are right; but it is bigotry to be unable to imagine how we might possibly have gone wrong.”—G.K. Chesterton

Indonesia sedang berada dalam kondisi yang mencekam dan menakutkan. Betapa tidak, dalam rentetan dekade terakhir ini, entah sudah berapa banyak terdengar ancaman dan bahkan, aksi kekerasan yang terjadi di bumi nusantara ini. Masih segar keluar dari dapur berita dunia internasional mengenai kematian dari Osama bin Laden—pemimpin al-Qaeda yang tersohor tersebut—potret dari beliau sudah terpampang di wajah depan media nasional Indonesia. Namun potret tersebut tidak hanya hadir sebagai sebuah pengumuman selintas. Di depan kantor pusat Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, potret tersebut ditampilkan, dan disandingkan bersama dengan wajah Barack Obama (sebagai musuh?). Sebuah ayat kitab

suci yang berbunyi, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah

itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizqi” diletakkan langsung setelah potret Osama.1 Apa yang dipandang sebagai pembasmian terorisme oleh warga dunia ternyata dipandang berbeda oleh sebagian lainnya. Bagi mereka, adanya legitimasi dari hasil tafsir kitab suci agama sendiri sudah cukup untuk membawa mereka menghadapi opini publik yang berseberangan.

Baik secara hukum maupun keagamaan seharusnya kehidupan bermasyarakat yang majemuk tidak harus menjadi kemajemukan yang konfliktif. Adapun demikian, permasalahan dalam bangsa Indonesia masih merajalela, menyapu nusantara Indonesia.

Mempertimbangkan agama sebagai penggerak raksasa massa Indonesia, tidak heran dialog menjadi sebuah jalan yang penting. Hans Küng memberikan alasan untuk dialog interreligius, “’War.’ I believe that this is indeed the alternative to religious dialogue.”2 Dialog

interreligius merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan.

Tetapi apa yang dimaksud sebagai dialog interreligius? Dialog interreligius dalam makalah ini didefinisikan sebagai pertemuan antara iman yang berbeda dalam dialog untuk mencari pengertian, baik itu mengenai iman masing-masing, kehidupan bersama dan berbangsa. Dialog ini dapat berbentuk akademis maupun dalam bentuk akar rumput (kehidupan sehari-hari). Wacana akademis untuk dialog interreligius telah banyak

dipublikasikan, namun kondisi yang berlangsung di Indonesia menuntut adanya solusi yang

1“The Radical Way,” Jakarta Post, 10 May 2011, hlm. 8.

2“Christianity and World Religions: Dialogue with Islam,” dalam Toward a Universal Theology of

(2)

lebih mendesak. Salah satu solusi tersebut adalah dialog yang membumi; dialog yang bermula dan berjalan dalam tataran masyarakat yang lebih luas. Dialog yang tidak semerta-merta milik kalangan akademisi saja—meskipun juga tidak menihilkan sumbangsih kaum intelektual.

Tulisan ini pertama-tama berupaya untuk menjabarkan kondisi kemajemukan konfliktif3 yang terjadi di Indonesia. Kondisi tersebut akan ditanggapi melalui Pancasila, setelah itu tanggapan Kristen (secara khusus kaum evangelikal). Hasil dari kedua tanggapan tersebut akan menjadi dasar dalam melaksanakan dialog interreligius, yang akan disusul dengan pemetaan solusi yang ditawarkan melalui dua sisi, yakni dialog dalam tataran akademis maupun tataran praktis (akar rumput).

INDONESIA NEGARA YANG MAJEMUK DAN KONFLIKTIF

Agama-agama dunia—mustahil untuk dipungkiri—telah berkontribusi baik secara positif maupun kebalikannya, secara signifikan, terhadap pergerakan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Meskipun seluruh tradisi keagamaan dunia mengklaim bahwa dirinya mewartakan kedamaian dan kebaikan untuk kemanusiaan, namun sejarah senantiasa memberikan antitesis yang, seringkali tidak mengenakkan. John W. Butt menyatakan,

Although all religious traditions, including the Christian one, exalt and praise peace as an ideal, the history of human religiousness tells a very different story whether one focuses on the Middle East, Europe, the Americas, or our own areas of Asia, the story is the same. One finds that religion has contributed as much to hostility and violence among human beings as it has to harmony and peace. Of course, there have been other factorspolitical, economic, ethnic, social, and culturalthat have also played major roles in contributing to conflicts. But religion stands out as providing a powerful symbolic stimulus and source of identity that has served as a rallying point for the various sides engaged in hostility and warfare.4

Ada sangat banyak faktor yang dapat memicu terjadinya kekacauan dan peperangan di dunia ini. Namun, halnya itu politik, ekonomi, etnik, sosial, dan kebudayaan—meskipun mereka memang turut ikut andil—agama tetap berdiri sebagai sebuah sumber raksasa yang mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar. Agama adalah faktor yang sangat berperan.

Survei yang dikerjakan antara Oktober 2010 sampai Januari 2011, meliputi 611,678 pelajar dan 2,639 guru di Jakarta menyatakan fakta ini dengan lebih mendalam. Penelitian yang diadakan oleh LaKIP ini menemukan bahwa 48,9 persen dari siswa di Jakarta bersedia untuk melakukan kekerasan atas nama agama. Dan 41,4 persen turut bersedia untuk

melakukan aksi vandalisme kepada rumah-rumah peribadatan dari agama lainnya.5

Pergerakan keagamaan merupakan faktor yang sangat berpengaruh di Indonesia ini, apalagi semenjak reformasi yang menjunjung demokrasi. Beberapa daerah di Indonesia bahkan memiliki peraturan daerah yang disusun langsung menurut aturan dan ajaran agama tertentu pada daerah tersebut. Agama sangat turut andil dalam pergerakan politik dan sosial. Ia adalah konteks yang tidak bisa lepas dari kehidupan kenegaraan Indonesia. Sayangnya menurut

3Yang dimaksud dengan “kemajemukan konfliktif” di sini tidak berarti bahwa setiap kemajemukan

selalu membawa konflik, namun istilah ini digunakan untuk mengacu kepada aspek kemajemukan yang sering membawa konflik.

4“The Challenge of Interreligious Understanding for Asian Christian Colleges and Universities: The

Payap University Example.” QUEST 1, no. 1 (November 2002): 50.

(3)

Franz Magnis-Suseno, ideologi-ideologi (termasuk di dalamnya: agama) ekstremis dengan perlahan turut lebih mudah memasuki hati dan pikiran kaum intelektual dan pemuda Indonesia.6

Selain dibungkus oleh berbagai macam keagamaan, Indonesia juga dililit oleh masalah-masalah ekonomi, etnik, sosial, dan kebudayaan sekaligus. Perpecahan dan

kekacauan yang terjadi di Indonesia tidak semata-mata dapat mengkambing-hitamkan agama. Pengalaman gotong royong di antara masyarakat Indonesia tidak hanya didapati dalam usaha yang positif, namun juga destruktif. Perusakan yang dilakukan secara komunal nampak berserakan di Nusantara Indonesia, dipicu oleh gesekan terkecil sekalipun, bermotif agama atau bukan. Franz Magnis-Suseno menggambarkan kondisi ini dengan baik,

Masyarakat kita sedang sakit. Gesekan kecil saja dapat dengan cepat memicu tindak kekerasan, dan, itulah yang paling mengkhawatirkan, semakin cepat melibatkan komunitas-komunitas yang bersangkutan secara kolektif…Masyarakat diliputi budaya kekerasan di mana konflik-konflik sehari-hari tidak lagi mampu ditangani dengan baik, melainkan langsung merangsang kekerasan serta melibatkan komunitas yang bersangkutan.7

Dalam kesemuanya itu nampak bahwa Indonesia merupakan ladang yang subur untuk terjadinya kekerasan. Masing-masing faktor tidak berjalan dalam kondisi yang memuaskan. Maksudnya, faktor-faktor tersebut seringkali tidak menjadi pendukung perdamaian, tetapi malah konflik. Fakta-fakta inipun seringkali masih ditutup-tutupi dengan berbagai alasan lainnya, sementara dalam kehidupan sehari-hari, penduduk sipil adalah pihak yang paling merasakan adanya ketegangan kemajemukan tersebut. Tepat kata B. Herry Priyono bahwa

“Indonesia yang berantakan memang kondisi yang lebih dialami ketimbang dibuktikan.”8

Dalam konteks yang dipaparkan inilah penulis mengupayakan suatu kontribusi.

DEMOKRASI DAN NOMOKRASI PANCASILA

Usaha-usaha untuk menyatukan Indonesia yang majemuk tersebut terbagi-bagi dalam banyak arus. Kondisi ini tentu tidak mengherankan bagi sebuah negara yang menjunjung demokrasi. Demikian halnya, wajar bahwa arus untuk menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara agama maupun sekuler, kedua-duanya menjadi pilihan yang sama-sama sahih adanya. Tetapi apabila negara harus menjadi negara agama, maka agama manakah yang harus dipakai sebagai dasar negara?

Memandang kondisi kemajemukan agama-agama yang ditemukan di bumi Indonesia ini, apabila salah satu agama dijadikan menjadi dasar negara, maka harus segera dipikirkan pula bagaimana menjaga kesatuan dalam kemajemukan agama-agama itu tetap bertahan. Bagaimana negara dengan sebuah dasar agama menyikapi pluralitas tersebut sementara setiap agama memiliki tuntutan secara menyeluruh terhadap penganutnya baik pikiran, jiwa, dan aspek hidup secara keseluruhan? Dalam tuntutan tersebut usaha keseragaman pendapat menjadi sangat wajar. Namun klaim keseragaman tersebut dapat beralih fungsi menjadi alat untuk memaksakan kehendak dan pemikiran mereka kepada mereka yang dinamai “yang lain.” Sebab, di tengah kemajemukan agama yang ada tidak mengherankan jika dijumpai usaha “pembungkaman” pihak yang berbeda pendapat. Usaha “pembungkaman” tersebut bisa jadi,

6“Back to Pancasila Ideals: Why?” Jakarta Post, 1 June 2011, hlm. 7.

(4)

dan sering terjadi, berwujud dalam tindak kekerasan. Massa yang melakukan kekerasan atas nama agama sudah menjadi guratan sejarah manusia.

Selain itu, patut untuk diingat bahwa dalam setiap agama besar—terutama agama Abrahamik—keseragaman pengajaran juga tidak mudah didapati. Apabila salah satu agama tertentu yang berdiri, maka pertanyaannya, aliran mana dari agama tersebut yang menjadi dasar negara? Apabila salah satu dari aliran tersebut ada yang dianggap menyimpang, bagaimana menyikapinya? Bagaimana apabila ajaran dari agama tersebut (atau sebutlah penafsiran dari agama tersebut) menyetujui hukuman mati bagi mereka yang dianggap tidak setia terhadap agamanya? Semuanya ini menuntut sikap untuk diambil, dan permasalahan pengambilan sikap ini bukanlah menjadi masalah yang sederhana, terutama dengan beban kalimat-kalimat seperti: “demi Tuhan.”

Selain itu apabila dirunut sejarah dari agama-agama Indonesia, maka dengan cepat akan didapati bahwa tidak ada satu pun agama resmi hari ini yang berasal dari bumi Indonesia sendiri. Lantas demikian, bagaimana menentukan agama mana yang menjadi pilihan dasar berpijak negara? Pilihan selanjutnya bisa jadi beralih menjadi pertimbangan mayoritas dan minoritas. Untuk hal ini penulis pernah terlibat diskusi dengan seorang kawan pemikir yang berlainan agama. Dalam diskusi tersebut, kawan saya mengatakan bahwa dalam agama mereka kaum minoritas akan selalu dilindungi (apabila mereka mayoritas). Dengan dasar inilah ia memberitahukan saya untuk tidak merasa khawatir dengan adanya isu-isu negara Indonesia hendak didasari agama mayoritas. Namun, justru inilah letak

permasalahannya. Mengapa dengan prinsip yang demikian maka niscaya bahwa negara ini didasari oleh suatu agama tertentu? Lagipula ada banyak kasus di mana mayoritas ternyata memiliki arah yang salah. Sudah menjadi barang umum bahwa apa yang dipercaya mayoritas memiliki kemungkinan untuk salah pula. Mayoritas tidak selalu berarti benar, malah prinsip mayoritas dan minoritas itu sendiri patut diragukan. Khususnya dalam menghadapi

radikalisme agama yang sedang berlangsung hari-hari ini. Mayoritas dan minoritas dapat dijadikan instrumen politik untuk menindas yang lemah. Dengan penggolongan mayoritas dan minoritas, maka suatu pihak dapat dikecilkan dan rentan untuk dituduh sebagai yang lain. Apabila golongan mayoritas menyetujui pembantaian—atau minimal pengurangan hak-hak— atas kaum minoritas, bagaimana hal ini disikapi? Pertanyaan berikutnya: apakah gunanya hukum apabila keputusan selalu dipegang oleh mayoritas? Penggolongan mayoritas dan minoritas dapat bergeser menjadi permainan kekuasaan politik—yang seringkali tidak adil. Simak, pernyataan Soekarno selaku founding father negara Indonesia, membahas perihal mayoritas dan minoritas di Indonesia, terkhusus kaum Kristen,

Aku [Soekarno] sama sekali tidak pernah melarang sesuatu orang mempropagandakan ideologinya. Tetapi ingat: persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak accenten leggen kepada persatuan. Jangan diruncing-runcingkan. Aku ingat kepada kaum Kristen; kaum Kristen bukan satu, bukan dua, bukan tiga, bukan seratus, bukan dua ratus, ribuan kaum Kristen mati gugur di dalam

pertempuran mempertahankan kemerdekaan ini…Harapan mereka ialah bahwa mereka bisa bersama-sama dengan kita semuanya menjadi anggota kesatuan bangsa Indonesia yang merdeka. Jangan memakai istilah minoritas, jangan, kaum Kristen tidak mau disebut dirinya minoritas.9

Dalam hal ini penulis lebih melihat bahwa bentuk negara demokrasi merupakan bentuk yang paling wajar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itulah negara

9 Dikutip dari: Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: Gunung

(5)

selayaknya didirikan atas dasar demokrasi yang bersanding dengan nomokrasi. Keputusan rakyat yang berdasar kepada demokrasi semestinya juga dilindungi oleh falsafah negara itu sendiri, sebagai prinsip nomokrasi. Prof. Dr. Mahfud pernah memprotes ketika ada UU tentang kekhususan Aceh. Menurut beliau UU tersebut memang, “Secara demokrasi mungkin benar, tapi secara nomokrasi kurang benar karena mengandung benih-benih ancaman

terhadap integrasi teritori.” Beliau mewaspadai apabila proses ini berjalan terus, “Hancurlah negara ini. Tanpa nomokrasi, demokrasi bisa menang-menangan.”10 Ditambah pula, di tengah

konflik yang rajin menghinggapi Indonesia, Suseno menambahkan, “Kita harus belajar untuk

menghadapi konflik-konflik di antara kita dengan terbuka, rasional, dan dialogal. Demokrasi

adalah bentuk kenegaraan yang paling memungkinkan pengelolaan konflik secara wajar.”11

Menyikapi kemajemukan agama Indonesia, Musthafa Abd. Rahman, dalam komentarnya terhadap pemikiran Gus Dur, menyatakan bahwa sebuah agama, tanpa menjadi dasar negara, dapat memberikan sumbangsih yang besar dalam memotori pembangunan Indonesia. Beliau memaparkan,

“Jadi, Islam itu tidak punya konsep negara yang baku,” kata Gus Dur. Ia memberi

contoh pula, bahwa pada masa Orde Baru, Islam praktis terlepas sama sekali dari politik kenegaraan, akan tetapi kenyataannya Islam tetap menjadi motor

pembangunan. “Para menteri, misalnya, sering datang ke pondok pesantren Tebuireng, kalau ingin program keluarga berencana (KB) sukses. Di sini jelas, Islam berperan tanpa menjadi negara Islam. Orang Islamlah yang berperan dalam kehidupan negara,” tandasnya.12

Dalam demokrasi masing-masing pihak dapat berkontribusi dalam pemikiran dan pergerakan bangsa dengan wajar.

Prinsip nomokrasi seperti apakah, lantas, yang diharapkan? Demokrasi tersebut didasari dengan Pancasila yang merupakan dasar pemikiran para founding fathers negara Indonesia. Menurut Yonky Karman, di tengah Indonesia yang senantiasa majemuk, ideologi yang dibangun oleh founding fathers negara ini dipandang sebagai usaha “kompromi” terbaik

bagi kemajemukan agama-agama di Indonesia.13 Pada masa itu perbincangan mengenai dasar negara Indonesia menjadi penting. Pada masa itulah ideologi ini yang menjadi pemersatu kemajemukan Indonesia. Di dalam Pancasila ketuhanan diakui sekaligus “dinetralkan.” Pancasila memberikan ruang bagi masing-masing agama untuk mendirikan ajaran mereka dengan basis ketuhanan masing-masing. Pancasila tidak harus dipandang sebagai sebuah agama baru, namun lebih sebagai sebuah filosofi yang mendasari relasi kehidupan beragama di Indonesia. Akhirnya, Suseno menyimpulkannya dengan baik,

Thus Pancasila embodies the finest hour in the formation of the Indonesian nation. It is the documentation of the fact that Indonesians, at a decisive moment in their history, were able to overcome their respective narrow, sectarian and particular interests and prejudices in order to build one nation, united by the ideals of Pancasila, inquest for a “free, united, sovereign, just and prosperous” nation.14

10 Institut Leimena News, (05/2010), 2. Penekanan oleh Prof. Dr. Mahfud. 11 Berebut Jiwa Bangsa, 105.

12“Gus Dur, Agama, dan Negara,” dalam Gus Dur: Santri Par Excellence, ed. Irwan Suhanda (Jakarta:

Kompas, 2010), 124.

13 Runtuhnya Kepedulian Kita: Fenomena Bangsa yang Terjebak Formalisme Agama (Jakarta:

Kompas, 2010), 89-90.

(6)

Dasar negara ini akan menjadi ladang yang subur untuk bertumbuhnya dialog interreligius di Indonesia. Tetapi kemajemukan tersebut tidak dapat ditanggapi melalui satu perspektif saja. Bagaimanakah respon dari kaum yang dipermasalahkan—yakni kaum religius? Apakah respon teologis dari kaum religius dapat memberikan sumbangsih dalam dialog

interreligius? Mewakili seluruh pandangan agama Indonesia merupakan hal yang mustahil dan di luar kapasitas penulis. Karena itu penulis akan menanggapi dari perspektif Kristen Protestan, terkhusus kaum evangelikal (atau disebut juga “injili”).

TANGGAPAN KRISTEN EVANGELIKAL TERHADAP KEMAJEMUKAN KONFLIKTIF INDONESIA

Wacana pluralisme agama, semenjak menjadi populer, telah mendorong banyak reaksi negatif agama-agama, terutama golongan konservatif. MUI, sebagai contoh, meresponi dengan menyatakan pluralisme agama secara ideologis sebagai sesuatu yang haram. Demikian, bagaimanakah iman Kristen, terutama kaum evangelikal—yang tergolong konservatif dan tradisional— meresponi wacana ini?

Sudah jelas bahwa pluralitas dari Indonesia merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Karena itu masalah yang seringkali diricuhkan agama-agama konservatif bukanlah mengenai

pluralitas itu sendiri, melainkan mengenai pluralisme agama. Pluralisme agama yang dimaksud di sini adalah sebuah interpretasi teoretis terhadap fakta kemajemukan agama— sebuah teori filosofis mengenai kemajemukan agama.15 Di dalam interpretasi tersebut berbagai pemikiran diajukan sebagai sudut pandang dalam melihat agama-agama di dunia.

Karena pada dasarnya setiap agama memiliki perbedaan mendasar, diasumsikan bahwa interpretasi teoretis tersebut tidak sepatutnya berdasarkan salah satu agama tertentu. Berbagai model ditawarkan untuk melihat fenomena agama-agama secara keseluruhan. Di

antaranya ada yang memandang dari segi “pengalaman religius,” “The Real,” ataupun

berdasarkan pragmatisme semata. Evaluasi atas pemikiran-pemikiran tersebut satu demi satu akan sangat bermanfaat, namun tidak dapat dilakukan di sini karena terbatasnya ruang. Namun demikian, penulis berargumen bahwa penggolongan dari arus-arus pemikiran tersebut seringkali mengecilkan keunikan dari masing-masing agama yang ada, disebabkan agenda utamanya adalah penggolongan secara umum terhadap agama-agama. Dalam makalah ini fakta pluralitas agama-agama akan disebut sebagai pluralitas agama adanya, sementara teori interpretasi filosofis mengenai agama-agama akan disebut pluralisme teologis.

Dalam perbincangan pluralisme agama permasalahan yang seringkali timbul adalah permasalahan definisi dan kategori. Acapkali perbincangan yang hadir menggunakan penggolongan seperti eksklusifis, inklusifis, dan pluralis. Namun, pembagian ini, menurut David K. Clark, tidak terlalu tepat. Karena pembagian seperti ini membuat penyamarataan perhatian utama tiap penggolongan. Terkadang diskusi yang ada bisa menjadi sangat

membingungkan karena eksklusifis menurut satu pihak berbicara mengenai klaim kebenaran absolut agama, sementara pihak yang lain membaca eksklusifis sebagai klaim keselamatan suatu agama. Pembagian kategori yang lebih baik, menurut Clark, adalah alethic (dari kata

aletheia yang berarti kebenaran)dan soteriological (dari kata soteria yang berarti keselamatan). Di mana alethic membahas apakah sebuah kepercayaan tersebut mengacu kepada realitas, kenyataan yang aktual dan benar. Sementara soteriological membahas

15 David K. Clark, To Know and Love God: Methods for Theology (Wheaton, Illinois: Crossway, 2003),

(7)

apakah sebuah kepercayaan membawa keselamatan yang sejati.16 Pembagian ini akan mendasari jalannya argumentasi dalam makalah ini.

Mengenai alethic dari kekristenan menurut kaum evangelikal, adalah nyata bahwa kekristenan merupakan kebenaran yang absolut dan mutlak adanya. Artinya adalah, kaum evangelikal meyakini bahwa kekristenan merupakan sebuah iman yang didirikan atas dasar pewahyuan yang datangnya atas inisiatif Allah sendiri, bukan inisiatif manusia. Allah Tritunggal, merupakan sumber kebenaran yang ultimat—selayaknya Pencipta segala sesuatu—dalam menentukan kebenaran apa pun di dunia ini. Karena Allah adalah sumber kebenaran, maka kebenaran yang diwahyukan olehnya niscaya merupakan kebenaran yang paling otoritatif. Pewahyuan tersebut diwadahi menjadi Alkitab—yang adalah firman Allah. Karena itu otoritas kebenaran yang tertinggi di dalam kekristenan merupakan Alkitab, sebagai derivasi dari otoritas Allah tritunggal.

Meskipun Alkitab adalah sumber otoritatif dari kebenaran kekristenan, kaum evangelikal juga mempercayai bahwa “segala kebenaran adalah kebenaran Allah.” Maksudnya, kekristenan mengakui bahwa di luar dari pewahyuan Allah secara khusus melalui Kristus juga bisa didapati kebenaran. Semisal penemuan dari ilmu pengetahuan yang benar juga merupakan kebenaran dari Allah. Bahkan di dalam agama-agama lain pun,

kekristenan mengakui bahwa bisa ada kebenaran di dalamnya, tetapi secara parsial, “serpihan kebenaran,” ketimbang dipandang benar secara keseluruhan sistem agama tersebut. Agama lain tidak benar sepenuhnya, tetapi dapat memiliki kebenaran. Dengan kata lain kekristenan tidak mengatakan bahwa kekristenan memonopoli kebenaran, namun mengakui bahwa

kekristenan memiliki finalitas kebenaran. Kekristenan bisa salah dalam memahami kebenaran final tersebut, dan pernah salah, namun itu tidak berarti bahwa finalitas kebenaran itu tidak benar. Harus dibedakan antara finalitas kebenaran yang tidak bisa salah dengan pemahaman

akan finalitas kebenaran yang bisa salah. Kebenaran yang diakui oleh kekristenan evangelikal ini bukanlah sebuah kebenaran yang fungsional sifatnya. Kebenaran yang dianut bukan sekedar kebenaran secara epistemologis, namun juga secara ontologis. Artinya, kekristenan tidak hanya mengakui bahwa kebenaran yang dianutnya benar bagi komunitas kristiani (pengakuan epistemologis), namun juga benar secara universal (secara ontologis).

Mengenai aspek soteriological, kekristenan mengakui bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Artinya keselamatan itu bersifat eksklusif dalam Yesus, sehingga dalam agama lain keselamatan tidak bisa didapati. Pandangan ini sepenuhnya sesuai dengan fakta bahwa setiap agama memiliki ajaran keselamatan yang berbeda, bahkan kontradiktif, secara mendasar. Sebab, di antara klaim keselamatan yang saling berseberangan, lebih mungkin apabila semuanya salah ketimbang semuanya benar. Lagipula, bahkan klaim bahwa semua agama itu menuju keselamatan yang sama merupakan klaim yang tidak kalah

eksklusifnya dengan pandangan kekristenan evangelikal. Apabila seseorang mengklaim bahwa semua agama sama, pada saat bersamaan ia menegatifkan semua ajaran tradisional agama-agama dunia—yang cenderung eksklusif—sebagai kesalahan. Pada akhirnya ia menjadi sebuah paham yang baru yang berlainan dengan semua agama yang sudah ada. Ia

menjadi sebuah paham eksklusif yang mengaku “pluralis.” Di tengah kontradiksi ajaran

keselamatan yang ada, sangatlah wajar untuk memegang keselamatan eksklusif kekristenan. Karena klaim kontradiksi itu sendiri mengimplikasikan bahwa kebenaran itu harus eksklusif adanya.

(8)

Eksklusifitas kekristenan tidak selalu berarti bahwa kekristenan pasti menjadi sumber konflik. Malah, kekristenan menentang konflik-konflik yang disengaja bermotifkan agama.

Karena itu, seperti yang dikatakan Clark, “Since the Bible strongly condemns the abuse of

authority [Mat. 23:13-14], both those who use the Bible to oppress and those who reject the Bible because it is used for oppression are guilty of errors.”17 Karena kekristenan mendasari pengajarannya dengan eksklusifitas dalam keselamatan, maka implikasinya kekristenan juga bersifat misioner. Sebenarnya setiap agama dan ideologi selalu bersifat misioner dalam artian agama atau ideologi tersebut meyakini klaim kebenarannya sebagai benar, karenanya mereka juga meyakini bahwa kebenaran mereka juga seharusnya dipegang oleh orang lain—karena itulah setiap agama dan ideologi senantiasa bersifat misioner. Ideologi pluralisme teologis bahwa semua agama menawarkan akses kepada realitas tertinggi dan menawarkan

keselamatan secara efektif juga merupakan ideologi yang misioner. Kalau sebuah paham tidak menginginkan penerimaan, maka paham tersebut tidak perlu diberikan alasan

penjelasannya sama sekali. Demikianlah setiap paham atau agama, tidak terkecuali, selalu bersifat misioner.

Apakah paham misioner ini menghalangi kehidupan harmonis dalam kemajemukan? Tuduhan yang diberikan akan ketidakharmonisan seringkali dialamatkan kepada usaha pewartaan agama oleh agama-agama yang misioner. Padahal, paham pewartaan agama ini sejalan dengan prinsip demokrasi Pancasila. Perhatikan kembali perkataan Soekarno,

…kita membenarkan orang Kristen ingin supaya umat Kristen tambah banyak, kita membenarkan orang Islam ingin supaya umat Islam bertambah banyak, kita

membenarkan lain-lain agama bekerja keras agar agamanya itu berkembang biak, membenarkan maka oleh karena itu Republik Indonesia berdasarkan atas Pancasila. Tetapi kita tidak senang jikalau sesuatu agama dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan kolonial, tidak membenarkan jikalau sesuatu agama dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan penjajahan.18

Pewartaan agama tidak selalu harus dipandang negatif, baik secara hukum maupun dalam kehidupan berbangsa, apalagi dalam kekristenan itu sendiri. Pewartaan agama dalam kekristenan didasari oleh cinta kasih terhadap sesama, sebagai implikasi dari penerimaan akan keselamatan yang merupakan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Anugerah

keselamatan dalam Yesus merupakan Kabar Baik bagi bangsa-bangsa yang masih terlilit oleh dosa. Karena itu pewartaan agama Kristen tidak hanya didasari oleh kebenaran ontologis kekristenan, tetapi terutama karena kasih.

Implikasi dari tanggapan ini adalah, setiap agama tidak seharusnya digolongkan dalam penggolongan yang asing bagi agama itu sendiri. Usaha untuk menggolongkan agama-agama tersebut seringkali memiliki hasil yang sama eksklusifnya dengan agama-agama-agama-agama tradisional. Penulis melihat bahwa dalam dialog interreligius setiap agama justru wajib mempertahankan klaim eksklusifitasnya. Dengan perspektif dan kepentingan yang berbeda-beda maka dialog menjadi dimungkinkan. Apabila setiap kepentingan dan perspektif setiap agama sama saja, maka tidak perlu ada dialog, yang ada hanya monolog. Lagipula

eksklusifitas yang misioner tersebut tidak harus menjadi sumber konflik. Yang diperlukan adalah manajemen klaim-klaim eksklusif tersebut, bukan sebuah ideologi baru.

17 To Know, 77.

(9)

Kedua paham yang baru saja dipaparkan, yaitu demokrasi dan nomokrasi Pancasila serta tanggapan evangelikal terhadap kemajemukan konfliktif ini akan menjadi landasan dialog interreligius yang ditawarkan.

DIALOG INTERRELIGIUS AKADEMIS

Ravi Zacharias membagi tingkatan penyebaran filsafat dalam tiga tahap. Level pertama adalah kajian yang sangat teoritis, di mana perbincangan didominasi dan dimengerti eksklusif oleh kaum akademisi. Level ini memberikan struktur yang paling jelas akan posisi sebuah pandangan. Level kedua adalah penyebaran mengenai literatur, drama, musik, dan berbagai media lainnya yang lebih menyentuh perasaan ketimbang nalar. Sementara level ketiga merupakan pembicaraan sehari-hari. Pertukaran ide senantiasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti mengenai sabun yang lebih bersih dibandingkan merk-merk lainnya hingga emansipasi wanita, serta politik antar negara.19 Dialog akademis merupakan dialog dalam level pertama, sementara level kedua dan ketiga adalah bagian dialog akar rumput.

Misi utama dari dialog akademis adalah untuk memberikan wacana, terutama terhadap kaum intelektual Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang sedang memimpin maupun yang akan memimpin negara Indonesia adalah para kaum intelektual. Artinya, kaum intelektual akan menjadi tonggak pemikiran yang akan merumuskan hukum-hukum, dan kebijakan-kebijakan negara. Selain itu mereka juga senantiasa memberikan sumbangsih pemikiran, baik melalui literatur ataupun pembinaan-pembinaan mereka. Bagi kaum intelektual, baik atau buruknya, benar salahnya, relevan atau tidaknya suatu ide, merupakan makanan perwacanaan mereka sehari-harinya. Makanan mereka, misalnya, bagaimana membicarakan mengenai “kebebasan berpikir tentang hubungan agama-agama

dalam wacana pluralisme, tanpa harus dituduh ‘pelecehan agama,’”20 hingga berbagai

masalah lainnya. Merekalah para pembentuk opini masyarakat. Di dalamnya tersusun dosen, pengajar, pendeta, kyai, maupun guru-guru agama lainnya. Merekalah yang terutama ingin dijangkau melalui dialog akademis.

Dialog akademis ini dapat memiliki beragam bentuk, sesuai dengan konteks

diadakannya. Dalam perguruan tinggi, pendidikan agama “harus menekankan kecerdasan,

keluasan wawasan, dan pertanggungjawaban intelektual.”21 Karena itu, salah satu bentuk yang ditawarkan di perguruan tinggi adalah perdebatan akademis. Mengapa debat? Karena di dalam debat, masing-masing pandangan dapat memberikan pandangan mereka dengan sebebas-bebasnya, serta memperlihatkan bagaimana pandangan tersebut menjawab kritik yang dituduhkan kepada dirinya.

Viabilitas suatu pandangan dapat dilihat dari bagaimana pandangan tersebut memberikan pertanggungjawaban intelektualnya. Apabila suatu pandangan tidak mampu memberikan pertanggungjawaban dalam lingkup akademis, maka alasan untuk menolak pandangan tersebut semakin bertambah. Sebab, yang ditawarkan pandangan tersebut bukanlah suatu keyakinan yang diimbangi dengan pengertian, namun diikat oleh komitmen buta—radikalisme. Radikalisme perlu untuk “diwacanakan dan dikompetisikan di ruang publik,” kata Yonky Karman, sebab, “benar dan paling benar adalah dua kualitas benar yang

19 A Shattered Visage: The Real Face of Atheism (Tennessee: Wolgemuth & Hyatt, 1990), 174-184. 20Togardo Siburian, “Demokrasi, Politik, dan Keprihatinan Kristen Indonesia” STULOS Vol. 6 No. 1

(April 2007): 29.

(10)

berbeda dan klaim kebenaran dalam dunia gagasan bukan hal sederhana.”22 Merasa diri benar dan paling benar memiliki implikasi yang amat berbeda terhadap radikalisme agama.

Berdasarkan penelitian LaKIP yang sudah disebutkan di atas, jumlah siswa—kaum

intelektual—yang rela melakukan kekerasan, menurut penulis, sudah memasuki jumlah yang mengkhawatirkan. Rocky Gerung, seorang dosen filsafat di Universitas Indonesia juga sependapat bahwa apabila kampus tidak memberikan tempat untuk debat kritis, mahasiswa dapat terpuruk dalam satu paham radikal, tanpa pernah mengetahui bahwa ada pandangan lain yang mampu memberikan pertanggungjawaban yang lebih bertanggungjawab di luar sana.23 Usaha debat ini dilihat dapat memberikan penyembuhan terhadap indoktrinasi dari kaum radikal di Indonesia. Viabilitas yang tidak teruji cenderung membawa sebuah kelompok menjadi radikal secara tidak bertanggungjawab.

Terlebih baik lagi apabila debat akademis tersebut secara langsung mengundang jurubicara dari pihak yang beroposisi. Harapannya, jurubicara tersebut dapat

merepresentasikan paham yang dimilikinya dengan lebih objektif ketimbang bila orang berpandangan lain yang merepresentasikannya. Misalnya, seorang Kristen yang diletakkan dalam posisi mempertahankan doktrin Islam tertentu, meskipun dalam beberapa kasus

mungkin baik, namun sejatinya seorang jurubicara Islam akan lebih dipercaya kredibilitasnya. Setidaknya apabila ia (jurubicara Islam) salah merepresentasikan pandangan Islam, maka ia bertanggungjawab terhadap komunitas imannya sendiri. Berbeda bila seorang Kristen yang merepresentasikan doktrin Islam tertentu secara salah, nanti malah bisa dituduh “pelecehan agama.”

Selain debat akademis antar agama, ada baiknya dilakukan juga debat akademis intramural agama. Paham radikalisme cenderung tidak muncul dalam jubah sebuah agama baru. Melainkan, paham ini biasa muncul dengan mengenakan label agama yang sudah memiliki penganut yang mapan. Gunanya tentu untuk menarik massa yang lebih banyak. Tetapi sejauh manakah sempalan-sempalan ini dapat dikatakan sesat atau bidat tentu bukan menjadi tanggung jawab iman yang berlainan. Ini merupakan tanggung jawab iman yang dilabelinya. Karena itu, selaku jurubicara iman yang paling memahami doktrin-doktrin dasariahnya, sudah sewajarnya dituntut dari mereka untuk menuntun mereka yang

“menyempal” tersebut kembali kepada ajaran masing-masing; yang tentunya

dikontekstualisasikan dengan konteks demokrasi dan nomokrasi di Indonesia. Radikalisme yang berujung kekerasan sudah semestinya diredam seredam mungkin.

Memasuki dialog interreligius, masing-masing pihak dengan bebas membawa konsep dan pandangannya masing-masing untuk diperbincangkan dalam wacana publik. Ini tentunya berbeda dengan pandangan bahwa dalam perjumpaan antar agama, setiap agama lebih baik menyimpan komitmen dasar mereka masing-masing. Harvey Cox, seorang teolog yang sudah lama berkecimpung dalam dialog interreligius menyimpulkan,

It took me a lot of time and many false starts to learn this, I too wanted to minimize the possibility of giving needless offense to the people of other faiths who had taken the venturesome step of entering into dialogue with me: to steer clear of unnecessary roadblocks or any suggestion of proselytizing. But I kept discovering that my tactics for nurturing the tender shoot of interfaith exchange did not connect with those of my partners across the table. I too avoid talking about Jesus too quickly, but I soon discovered my interlocutors wanted me to, and their bearing sometimes suggested

22“Mencari Wajah Teologi Injili Indonesia,” dipresentasikan di Sekolah Tinggi Teologi Amanat

Agung, 30 April 2011.

(11)

that they did not believe they were really engaged in a brass-tacks conversation with a Christian until that happened. Of course in this respect they were right.24

Melakukan dialog antar agama dengan menyembunyikan identitas setiap pihak, atau memulai

dengan pemahaman akan “keberadaan transenden,” “misteri,” atau “The Real” tidak

memberikan penambahan pengertian baru. Apabila dialog interreligius dilakukan dengan tidak mempertimbangkan keunikan masing-masing, maka itu bukan dialog interreligius. Tidak ada bedanya dengan dialog umum. Justru karena setiap agama memiliki pandangan yang eksklusif maka paham tersebut diwacanakan agar dapat dimengerti, dibahas, dan mungkin, dilakukan, bersama-sama dengan agama-agama lainnya. Dengan cara ini dialog dapat dilaksanakan tanpa kompromi yang sinkretistis maupun ketertutupan radikalisme.

Dengan dasar yang sama, maka dialog interreligius dapat dilakukan dengan lebih produktif. Asumsinya, setiap agama dapat memberikan sumbangsih pemikiran mengenai pokok-pokok yang dibicarakan melalui perspektifnya masing-masing. Meskipun pandangan antar agama secara sistemik berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, namun penulis percaya komunikasi antar agama tetap dimungkinkan; hingga mencapai pengertian bersama, atau bahkan, perubahan keyakinan. Karena itu perbincangan perihal politik hingga kondisi sosial budaya—tergantung konteks berdialog—dapat memberikan buah yang berlimpah.

Tidak melupakan kekuatan literatur yang sanggup menjangkau khalayak yang lebih luas sekaligus. Perdebatan dalam bentuk literatur merupakan salah satu cara yang sangat positif dalam mempengaruhi opini kepada banyak tempat sekaligus. Mahasiswa yang sudah selesai mendengarkan debat publik diwajibkan untuk menulis sebuah ulasan dan argumentasi mengapa ia memilih satu pihak dibandingkan pihak lainnya. Apa hal praktis yang dapat segera dilakukannya dalam hitungan hari ke depan untuk memperjelas atau

mempertentangkan posisi yang diambilnya pada saat itu. Sumbangsih apa yang dapat

diberikan mahasiswa dalam khazanah perbincangan yang sedang berlangsung. Semuanya ini dapat menjadi suguhan literatur yang ramai. Pemikiran setiap mahasiswa dan pembaca juga dipertajam secara signifikan melalui proyek literatur ini.

Terakhir dalam dialog akademis, perlunya terjadi pertukaran literatur antar agama. Pertukaran literatur tersebut diwadahi tidak hanya melalui jurnal-jurnal teologi yang formal, tetapi dapat memasuki media seperti surat kabar atau media lainnya, sesuai target pembaca. Pembahasan yang dilakukan di dalamnya dapat dikerucutkan menjadi perbincangan antar agama saja, ketimbang membicarakan perdebatan intramural agama masing-masing.

Jurnal dan tulisan-tulisan tersebut ditukarkan secara rutin antar institusi pendidikan yang berlainan agama. Manfaatnya, setiap institusi pendidikan dapat memiliki akses terhadap pandangan-pandangan yang representatif antar agama satu dengan lainnya, dalam kaitan dengan dialog interreligius. Dengan ini, sejarah dialog interreligius akan direkam dan

diabadikan dengan baik melalui pergumulan literatur yang ada. Akibatnya, dialog dapat terus dilanjutkan sampai ke generasi-generasi berikutnya. Tidak perlu terjadi stagnasi dalam wacana dialog yang ada.

Sesungguhnya budaya literatur harus menjadi salah satu pokok darurat yang perlu dibahas oleh dialog interreligius yang ada. Kemacetan budaya literasi bangsa akan

24Many Mansions: A Christian’s Encounter with Other Faiths (Boston: Beacon Press, 1988) 8-9.

Dikutip dalam Henry E. Lie, “Open Particularism: An Evangelical Alternative to Meet the Challenge of

(12)

melemahkan pemikiran kritis insan-insan di dalamnya. Tugas dialog interreligius akademis— sebagai penyebar wacana—adalah menghidupkan kembali atmosfer literasi dalam kehidupan umatnya. Umat yang dididik untuk terbuka terhadap berbagai kemungkinan, serta cara menyikapinya dengan nalar yang baik, akan menjadi umat yang lebih bijaksana. Sikap menghadapi kemajemukan tidak lagi melulu dengan opsi kekerasan dan kebencian. Semuanya dilakukan demi meredam radikalisme yang meninggalkan nalar kritis.

DIALOG INTERRELIGIUS AKAR RUMPUT

Menemukan dialog akademis dalam lingkup akademisi bukanlah merupakan hal yang sulit. Literatur akademis mengenai dialog interreligius amat mudah untuk dijumpai dalam

perpustakaan ataupun toko-toko buku yang bersimpati mewacanakan topik ini. Tetapi

semuanya ini dirasa kurang memberikan dampak yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat secara praktis. Pada prakteknya, kekerasan atas nama agama malah semakin marak dalam tahun-tahun belakangan. Karena itu dibutuhkan pembumian dari dialog interreligius yang akademis tersebut ke dalam ranah praktis—kehidupan sehari-hari.

Pembicaraan mengenai dialog interreligius yang membahas kemungkinan untuk hidup bersama tentu saja harus melangkah lebih jauh dari sekedar studi literatur. Dalam posisi sebagai seorang rohaniwan atau sarjanawan, seringkali data pengalaman empiris kehidupan bersama umat berseberangan iman tidak masuk seintensif mereka yang hidup secara langsung di tengah masyarakat luas. Penting sekali bagi seorang rohaniwan dan sarjanawan untuk melek terhadap konteks pergumulan masyarakat sehari-hari. Seorang yang mengusahakan dialog interreligius dituntut untuk “belajar dan mengerti bukan hanya daripada yang tersurat di dalam buku saja, melainkan juga apa yang tersirat, yang hidup di dalam iman, hati sanubari, perasaan dan praktek kehidupan sehari-hari.”25

Pada bagian inilah budaya menjadi penting untuk dibahas. Ravi Zacharias, sekali lagi memberikan pandangan bahwa literatur, drama, dan musik, secara historis telah “membentuk

jiwa sebuah bangsa” melebihi bahasan akademis yang termasuk dalam penggolongan level

pertama. Kekuatan yang dimiliki oleh media ini amatlah besar. Karena mereka mampu menembus akal seseorang dan langsung menuju kepada imajinasi—dan melaluinya,

mengubah perilaku seseorang.26 Tidaklah berlebihan apabila dikatakan kondisi sebuah bangsa dapat dilihat dari kebudayaannya.

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, sedang dibombardir oleh informasi dari berbagai sudut. Wujud dari informasi tersebut bukan semerta kata-kata saja, namun gambar dan suara. Munculnya teknologi-teknologi yang semakin canggih, disertai dengan permintaan pasar yang kian melonjak, semakin mendukung wawasan bahwa manusia lebih mudah

terpengaruh melalui media-media level kedua ini ketimbang media level pertama.

Ketertarikan akan alat-alat elektronik pendulang gambar, audio, dan animasi tersebut sudah amat lumrah terdengar. Sikap tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap pergerakan teknologi ini akibatnya fatal. Contoh sederhana yang penulis jumpai adalah sedikitnya diskusi dan dialog antar agama yang ditampilkan dalam media dengan menarik. Misalnya majalah yang memiliki tata letak yang berantakan. Gambar-gambar yang tidak berhubungan dengan tulisan

25 Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia

(Malang: Gandum Mas, 1992), 5.

(13)

yang dicantumkan. Sampul majalah yang menarik hanya bagi kalangan sendiri. Rentetan ini tidak boleh dipandang remeh dalam penyampaian pesan dialog antar agama yang membumi.

Alangkah baiknya bila mereka yang melakukan dialog antar agama rela juga

mengeluarkan biaya lebih untuk membayar ahli-ahli desain yang dapat mengkomunikasikan pesan-pesan tersebut secara visual dengan tepat, mengena, dan menarik. Pepatah mengatakan

“jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.” Namun kenyataannya, kesan sampul adalah

yang paling pertama dilihat orang. Justru karena ada kecenderungan ini maka pepatah ini digemakan. Apa yang menarik bagi kalangan akademisi belum tentu menarik bagi kalangan umum. Ketika kita membeli obat untuk sakit flu, kita tidak mengharapkan penjelasan yang panjang lebar dengan istilah-istilah akademis yang formal untuk mempersuasi kita membeli obat tersebut. Rekomendasi sederhana dari dokter sudah cukup untuk membuat kita merogoh kantong. Tetapi, bilamana obat yang dibeli tersebut dikemas dengan botol yang tutupnya sudah tidak tersegel, plester merknya sudah pudar, kacanya agak retak, apakah kita masih akan membeli obat tersebut? Bentuk visual dari obat tersebut turut mempengaruhi keputusan kita untuk membeli. Memiliki pesan yang baik tidak menjamin penerimaan yang baik.

Pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui gambar-gambar dan desain semata. Ada banyak contoh media lain yang dapat digunakan. Pesan yang sama mengenai kerukunan antar umat beragama, Pancasila, dialog interreligius, dapat disampaikan melalui macam-macam media yang berlimpah. Siapa yang tidak mengenal film serta novel Laskar Pelangi dan pesan yang dikandung di dalamnya? Film tersebut ingin menunjukkan banyak hal, namun yang sangat menonjol tentunya adalah kehidupan seorang anak desa yang menjadi orang besar. Novel dan film tersebut berbicara sangat mengena kepada hati masyarakat Indonesia karena pesannya disampaikan dengan ramah konteks. Maksudnya, kisah kehidupan yang diambil merupakan gambaran kehidupan yang akrab bagi pembaca atau penonton film tersebut, sehingga mempermudah pengertian dan penerimaan masyarakat. Apa gunanya sebuah pesan yang baik tetapi tidak dapat dipahami?

Lagu-lagu Indonesia yang seringkali didominasi oleh tema patah hati serta mendua hati juga dapat dijadikan kendaraan yang baik. Belakangan ini usaha-usaha untuk mendulang amal masyarakat sering dilakukan melalui perantara musikus-musikus kenamaan. Lagu-lagu yang mengumandangkan kepedulian bersama—dikemas dan diproduksi dengan baik—lalu dijual dengan keuntungan yang diberikan untuk sumbangan bencana alam, misalnya, ternyata terbukti cukup efektif. Dengan kesadaran yang semakin umum mengenai kondisi Indonesia yang memprihatinkan, ditambah dengan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga penyalur bantuan (korupsi), artis-artis kenamaan yang membuka wadah penyaluran bantuan seringkali dipandang lebih aman. Ini menunjukkan bahwa pergeseran otoritas yang dipercaya oleh masyarakat sedang menuju kepada kaum selebritis. Sementara bantuan lintas agama sudah cukup lumrah ditemukan di Indonesia. Ada baiknya bantuan lintas agama tersebut juga dipublikasikan dengan lagu-lagu yang menggugah semangat masyarakat Indonesia.

Pemotretan, perekaman gambar, semuanya diramu dengan lagu yang memiliki melodi yang sanggup menyentuh sanubari. Tujuan utamanya jelas, perubahan paradigma.

(14)

tanggapan-tanggapan tersebut, pemikiran dialog direformulasikan terus menurus. Dialog interreligius menjadi semakin relevan.

Budaya literatur patut mendapat singgungan dalam membahas relevansi dialog interreligius. Usaha untuk mewacanakan dialog interreligius melalui budaya literatur telah dibahas dalam konteks akademis. Tetapi usaha pembumian dari dialog interreligius

membutuhkan literatur yang tidak semata-mata akademis. Literatur yang dimaksudkan di sini adalah tulisan yang bernuansa sastra dan karangan populer lainnya. Keterbiasaan membaca kata-kata yang mencerahkan dan menghaluskan pikiran manusia tentu mengurangi tuaian kekerasan seperti yang dihadapi Indonesia saat ini. Sastra yang dimaksudkan dipublikasikan dengan menarik dan luas. Budaya yang menghargai penyair dan penulisnya menunjukkan bahwa budaya tersebut beradab, bukan biadab.

Kisah-kisah kehidupan sehari-hari orang Indonesia merupakan narasi yang sarat dengan makna keharmonisan dan kerukunan. Ada banyak kampung-kampung yang

memberikan contoh yang luar biasa soal kerukunan hidup bersama. Alunan kisah ini diangkat dan ditorehkan dengan tinta hitam, menandai kebenaran-kebenaran proposisional menjadi

“kebenaran dalam aksi.” Penulis pernah terlibat dengan salah satu dialog agama abrahamik

yang diselenggarakan pada suatu kota besar di Indonesia. Selain pemaparan sejarah keselamatan masing-masing pihak, peserta dibawa mengunjungi situs-situs yang memiliki makna religius yang mendalam bagi agama-agama yang sedang didialogkan. Salah satunya adalah sebuah kampung yang berada di sekitar sebuah masjid besar. Tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat dengan agama masih dapat hidup bersama dalam kemajemukan. Penulis berpikir bahwa kisah-kisah ini jauh lebih mudah dalam mempengaruhi pola pemikiran masyarakat secara lebih luas. Sebab, hal yang disajikan bukan semata-mata kajian teoretis yang tidak menyentuh bumi, namun sebuah pesan yang memang berasal dari kehidupan yang sehari-hari. Pembaca akan mudah untuk mengasosiasikan dirinya dengan narasi yang disuguhkan di hadapannya. Pesan-pesan keharmonisan dan kerukunan—yang dilandasi dengan nilai demokrasi dan nomokrasi Indonesia—dilebarkan dan ditanamkan dengan media yang berpadanan dengan kehidupan sehari-hari.

Segala metode yang telah disebutkan dapat dipakai untuk menyampaikan dua pesan yang sudah dibentuk dalam makalah ini. Kerukunan dan keharmonisan yang didasari oleh demokrasi dan nomokrasi diwacanakan kepada masyarakat secara lebih luas. Sementara tanggapan masing-masing agama dapat diberikan secara teratur kepada kalangan sendiri. Masing-masing menggunakan metode yang paling efektif dalam penyampaian pesannya.

Memasuki pembicaraan mengenai kehidupan sehari-hari, perlu untuk disadari bahwa seringkali perjumpaan antar iman bukan merupakan monopoli dari kaum cendekiawan dan agamawan saja. Justru perjumpaan antar iman yang otentik dan nyata terjadi pada strata yang paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memandang para rohaniwan,

masyarakat akan mengenakan kacamata yang berbeda sama sekali dengan saat memandang masyarakat umumnya. Seorang bos perusahaan yang luar biasa kejam terhadap karyawannya, ketika didatangi seorang rohaniwan bisa berbalik amat jauh dan menjadi orang saleh seketika. Entah alasan pandangan yang membedakan ini, namun jelas bahwa rohaniwan mendapat kesempatan yang lebih kecil untuk bertemu dan berinteraksi tanpa label dengan masyarakat sekitar. Dialog dalam tataran masyarakat umum “…dapat terjadi kapan saja dan di mana saja di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sehingga isinya pun juga bisa mulai dari

(15)

teologis dan filosofis.”27 Dialog yang berkesinambungan menuntut adanya gerakan yang muncul dari masyarakat luas pula.

Salah satu yang dapat dikerjakan adalah melakukan aksi advokasi interreligius, sebagai perwujudan dialog interreligius yang tengah berlangsung. Di tengah maraknya penutupan gereja dan lembaga-lembaga agama secara paksa, sangatlah penting untuk umat lintas agama memberikan perhatian khusus. Indonesia penuh dengan intrik-intrik serta maneuver politik yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Hal ini “…dihadapi dengan mengetengahkan kebebasan beragama sebagai kondisi sosial masyarakat majemuk. Lembaga-lembaga agama perlu didorong bekerja sama dalam aksi advokasi, mencegah kalau-kalau kekuatan politis dipakai membungkan agama tertentu.”28 Aksi advokasi merupakan buah yang diharapkan dari dialog interreligius.

Advokasi tersebut tidak tertutup untuk aksi penutupan lembaga-lembaga agama saja. Ketidakadilan sosial yang terjadi di kalangan sekitar sebuah masyarakat dapat dijadikan alasan untuk mengajukan advokasi kepada pemerintah untuk segera bertindak. Mengingat Indonesia adalah negara demokrasi, serta agama adalah unsur penggerak yang dominan, ada banyak ketidakadilan sosial yang bisa disikapi dan ditindak secara lebih efektif. Advokasi merupakan salah satu perwujudan dialog yang efektif. Energi kesalehan dari agama-agama yang ada dapat ditransformasi menjadi sebuah “amunisi kritik sosial” yang mana membuat “pejabat korup merasa tidak nyaman…[dan] Rakyat akan geram melihat korupsi.” Melalui

jalan inilah, Karman berpendapat, agama menjadi sebuah “agama profetis.”29

Sebelum berjalan menuju tangga advokasi, ada baiknya beberapa langkah awal diambil terlebih dahulu. Langkah-langkah ini bermanfaat untuk mempermulus jalannya advokasi yang diajukan di atas. Langkah yang diambil adalah penuturan kerukunan dan kehidupan antar umat beragama ke dalam kehidupan sehari-hari. Ester Jusuf memberikan usulan untuk berupaya menjadi ketua RT/RW setempat.30 Komunikasi dalam kegiatan-kegiatan RT/RW setempat dapat menjadi langkah awal memperbanyak ruang pertemuan antar umat yang berlainan agama. Tidak adanya komunikasi membuat berbagai macam kecurigaan dapat bermunculan. Bahkan upaya-upaya sederhana seperti perlombaan catur atau bulutangkis dapat menjadi wadah dialog akar rumput. Memperdalam relasi dan pengenalan akan yang satu dengan yang lainnya tidak pernah menjadi suatu hal yang negatif. Karena itu, apabila dialog interreligius serius untuk dikerjakan, maka pembangunan fondasi dasar seperti relasi niscaya ada. Relasi yang nyata di kalangan RT/RW setempat menolong setiap warga sekitar untuk membuang prasangka-prasangka negatif antara satu sama lainnya. Malahan, relasi tersebut menumbuhkan kepedulian yang semakin besar antara satu penduduk dengan yang lainnya. Kepedulian tersebut bertumbuh menjadi sebuah kesadaran kolektif. Pada saat kesadaran kolektif tersebut stabil berdiri, kerusakan, pelecehan, penghinaan, penindasan antar umat beragama di kawasan tersebut menjadi tidak dapat ditolerir. Hal ini jelas karena setiap anggota masyarakat mengenal satu sama lain dengan baik. Relasi adalah peluru kesadaran kolektif yang ditembakkan sebagai advokasi.

Salah satu media yang dapat digunakan untuk dialog interreligius adalah surat kabar. Sebelumnya telah dibahas mengenai suasana dialog yang terdapat dalam surat kabar. Tidak dapat dipungkiri bahwa surat kabar memiliki khazanah pembaca yang sangat luas variasinya, baik kaya, miskin, terpelajar, tidak terpelajar, minat, tidak berminat. Salah satu kolom yang

27 Utomo, Sekilas, 6.

28Martin Lukito Sinaga, “Kode Etik Perjumpaan Antaragama,” Kompas, Kamis, 14 Juli 2011, hlm. 7. 29 Runtuhnya, 6.

(16)

dapat diisi dalam lingkup akademis adalah kolom opini. Di mana kolom tersebut memang biasa dipenuhi oleh tulisan-tulisan dari kaum intelektual Indonesia. Isinya bervariasi dari permasalahan ekonomi hingga kehidupan antarumat beragama. Apabila ingin meminang pembaca kaum intelektual, kolom ini dapat menjadi sarana yang sangat romantis.

Terkait pemirsa surat kabar bukanlah terikat kaum intelektual saja, maka kolom selain kolom opini menjadi relevan. Usul dari Aristides Katoppo, seorang wartawan senior Sinar Harapan, perlu diterapkan di sini. Berdasarkan sebuah survei yang pernah dilakukan, didapati bahwa halaman opini atau tajuk rencana malah termasuk yang paling sedikit dibaca dibandingkan tulisan-tulisan berita. Tetapi pembicaraan dialog interreligius tentu tidak bisa menjadi sebuah berita umum. Lagipula sifat dari sebuah berita adalah melaporkan, bukan memberikan ide baru. Menariknya, Surat Pembaca “termasuk yang paling banyak dibaca

karena pembaca merasa diwakili.” Kolom ini malah biasa diberikan editor khusus, yang

bahkan, merupakan editor senior. Ini artinya kolom ini memang menjadi perhatian utama baik bagi pembaca maupun jajaran editorial surat kabar. “Karena itu,” usul Katoppo, “tulislah

surat pembaca!”31

KESIMPULAN

Di tengah kondisi masyarakat majemuk konfliktif di Indonesia dibutuhkan sebuah tindakan yang tidak berhenti sekedar di tataran ide. Namun, tataran ide juga tidak dapat dinihilkan kekuatannya—malah, asumsi dari makalah ini—keduanya harus berjalan beriringan. Dialog akademis bermisi utama untuk mewacanakan, mendebatkan, serta merekam dialog interreligius yang tengah berlangsung. Tetapi dialog tersebut harus

dibumikan dalam konteks masyarakat luas. Media untuk mewacanakan pembicaraan tersebut dapat berjalan melalui variasi media populer yang ada, tergantung target komunikannya. Melalui kecanggihan teknologi informasi, ditambah dengan media-media seperti surat kabar, umpan balik dari pembaca dengan kesehariannya dapat ditunai dengan limpah. Hasil tunaian tersebut dapat diolah menjadi ide-ide pokok fondasi dialog interreligius, mengakibatkan dialog yang semakin relevan dengan masyarakat populer. Semuanya ini didasari dengan paham demokrasi dan nomokrasi yang berbasiskan Pancasila, serta tanggapan Kristen evangelikal yang menyatakan klaim eksklusifitas agama-agama, termasuk ideologi, merupakan hal yang esensial bagi agama.

Masih banyak proyek yang perlu dilaksanakan dalam menjalankan dialog interreligius. Pembicaraan dialog ini memang semakin marak dalam kajian akademis dunia barat, seiring dengan masuknya teknologi informasi. Bagi Indonesia, pertemuan antar agama yang berbeda bukan merupakan hal yang baru. Indonesia sudah semenjak lama tinggal dan hidup bersama dalam konteks yang plural. Sayangnya konflik yang berkesinambungan dalam negara ini mengindikasikan butuhnya pendekatan-pendekatan yang lebih baik lagi. Konteks yang berubah membutuhkan metode yang dinamis pula. Dengan keadaan yang demikian, karya-karya tulis yang membahas dialog interreligius secara lebih dinamis sudah sepatutnya bergulir ramai. Wacana yang dibahas di dalam makalah ini pun bukan merupakan sebuah usulan yang kekal dan selalu relevan adanya. Usulan-usulan ini patut dipertimbangkan dan dikompetisikan untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Biarlah metode-metode yang baru dan kontekstual boleh semakin bermekaran di nusantara Indonesia ini.

(17)

DAFTAR RUJUKAN

Aritonang, Jan S. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.

Butt, John W. “The Challenge of Interreligius Understanding for Asian Christian Colleges

and Universities: The Payap University Example.” QUEST no. 1 (November 2002):

49-62.

Clark, David K. To Know and Love God: Methods for Theology. Wheaton, Illinois: Crossway, 2003.

Karman, Yonky. Runtuhnya Kepedulian Kita: Fenomena Bangsa yang Terjebak Formalisme Agama. Jakarta: Kompas, 2010.

________. “Mencari Wajah Teologi Injili Indonesia,” dipresentasikan di Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung, 30 April 2011.

Lie, Henry E. “Open Particularism: An Evangelical Alternative to Meet the Challenge of

Religious Pluralism in the Asian Context,” Dissertation. Deerfield, Illinois: Trinity

Evangelical Divinity School, 1998.

Priyono, B. Herry. “Pada Mulanya adalah Pancasila,” Kompas, 10 Juni 2011.

Rahman, Musthafa Abd. “Gus Dur, Agama, dan Negara,” dalam Gus Dur: Santri Par

Excellence. ed. Irwan Suhanda. Jakarta: Kompas, 2010.

Siburian, Togardo. “Demokrasi, Politik, dan Keprihatinan Kristen Indonesia,” STULOS 6, no. 1 (April 2007): 5-30.

Sinaga, Martin Lukito. “Kode Etik Perjumpaan Antaragama,” Kompas, Kamis, 14 Juli 2011.

Suseno, Franz Magnis, Berebut Jiwa Bangsa: Dialog Perdamaian dan Persaudaraan. Jakarta: Kompas, 2006.

________.”Back to Pancasila Ideals: Why?” Jakarta Post, 1 June 2011.

Utomo, Bambang Ruseno. Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia. Malang: Gandum Mas, 1992.

Vanhoozer, Kevin J. First Theology: God, Scripture, & Hermeneutics. Downers Grove: InterVarsity Press, 2002.

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi K-51M dengan penerapan konsep permainan dapat menjadi wadah untuk mengenalkan budaya Riaus ehingga pengguna menjadi tahu budaya Riau, hal tersebut

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Ca dan Mg terhadap kualitas buah jeruk pada saat panen susulan di lahan pasang surut tipe luapan

7. Zat berikut yang tidak dihasilkan oleh hati adalah.... Kulit berfungsi sebagai alat ekskresi karena.... melindungi tubuh dari kuman b. mempunyai ujung saraf reseptor d.

Masennuksesta toipumisen kertomuksia tutkimalla voi kuitenkin tuoda esille sitä, kuinka kertomukset heijastavat aikaa, jossa masennus on syntynyt ja jossa sen kanssa on eletty

Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai rupa dan warna bekasem ikan bilih, hal ini

a. Untuk mendapatakan informasi tentang Tradisi Lombe dan konservasi kerbau dari buku, jurnal, paper, artikel dan sumber lain guna mendapatkan gambaran menyeluruh tentang apa yang

Pemberian takaran pupuk organik kandang ayam sampai 10 ton ha -1 ternyata memberikan pertumbuhan tanaman wortel yang optimal selanjutnya lebih tinggi dari pada itu tidak

Data di atas menunjukkan mahasiswa Fakultas ilmu Sosial dan Politik telah memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai sampah.. Tinggi tingkat pengetahuan