PENTINGNYA KEARIFAN LOKAL
MASYARAKAT DALAM
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM
DAN LINGKUNGAN DI PEDESAAN
Posted on May 7, 2012 by fikaqandhi Standard
Abstrak
Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat pedesaan merupakan hasil dari kebiasaaan masyarakat setempat atau kebudayaan masyarakat sebagai bentuk adaptasi terhadap alam dan lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat menggunakan cara-cara tersendiri untuk
mengelola alam dan lingkungan. Kebiasaan-kebiasaaan itu kemudian membentuk dengan apa yang disebut dengan kearifan lokal. Kearifan lokal mengandung nilai, kepercayaan, dan sistem religi yang dianut masyarakat setempat. Kearifan lokal pada intinya kegiatan yang melindungi dan melestarikan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan melestarikan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.
Namun seiring berjalannya waktu keberadaan kearifan lokal semakin tersingkirkan dengan masuknya berbagai teknologi dan berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat seperti pertambahan penduduk yang semakin meningkat. Keadaan demikian membuat masyarakat meninggalkan kearifan lokal yang telah diturunkan secara turun-temurun. Pola pikir masyarakat mulai berubah seiring dengan memudarnya kearifan lokal yakni dari pola pikir holistik ke pola pikir mekanik. Masyarakat tidak lagi memikirkan keseimbangan alam dan lingkungan dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan.
Prospek kearifan lokal sangat bergantung kepada bagaimana masyarakat melestarikan
kembali kearifan lokal yang ada dan bagaimana masyarakat mengubah pola pikirnya kembali ke pola pikir holistik. Sehingga sumberdaya alam dan lingkungan alam yang dimiliki
masyarakat dapat dimanfaatkan dan dilestarikan dengan tanpa menganggu keseimbangannya.
Kata kunci: kearifan lokal, pengelolaan, sumberdaya alam, lingkungan.
Kata Pengantar
Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat pedesaan bukan hanya sekedar kebudayaan yang dianggap primitif oleh masyarakat luas. Kearifan lokal juga memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan alam dan mengelola sumberdaya alam dan lingkungan secara bijaksana. Dengan mengetahui bagaimana kearifan lokal, kita dapat mengetahui bagaimana mengelola dan melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan. Pemahaman ini menjadi landasan penting untuk mengelola sumberdaya alam dan lingkungan secara arif dan
Untuk itu tak lupa puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Akhir berjudul “Pentingnya Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Pedesaan” ini dengan baik. Makalah akhir ini ditujukan untuk memenuhi syarat kelulusan MK Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Dr Ir Ekawati S. Wahyuni MS, Bapak Ir. Murdianto, M.Si, Bapak Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si, Bapak Martua Sihaloho, SP, M.Si dan Kakak Siska Oktavia sebagai pembimbing yang telah memberikan kritik dan saran selama proses penulisan hingga penyelesaian Makalah Akhir ini. Penulis juga
menyampaikan hormat dan terimakasih kepada Ibu Elidawati dan Bapak Saiful Fikri, orang tua tercinta, serta Fiki Muttaqin, Fira Meutia Rosa, Feliya Salsabila dan Fiola Nasywa, kakak dan adik tersayang, yang selalu berdoa dan senantiasa melimpahkan cinta dan kasih
sayangnya untuk penulis. Tidak lupa terimakasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman, terutama Muhammad Ichsan, Annisa Maghfirah dan Hermin Pratiwi, yang telah memberi semangat dan menemani penulis dalam proses penuliasan laporan ini.
Semoga Makalah Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak.
Pendahuluan
1.1.Latar Belakang
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk warisan budaya Indonesia. Kearifan lokal terbentuk sebagai proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhannya. Proses-proses terbentuknya kearifan lokal sangat bergantung kepada potensi sumberdaya alam dan lingkungan serta dipengaruhi oleh pandangan, sikap, dan perilaku masyarakat setempat terhadap alam dan lingkungannya. Kearifan lokal berbeda-beda di setiap daerah dan di dalamnya terkandung berbagai norma dan nilai religius tertentu. Namun pada dasarnya proses kearifan lokal berjalan selaras dengan alam. Hal ini sesuai dengan pendapat Edmund Woga bahwa secara substantif, kearifan lokal berorientasi pada keseimbangan dan harmoni manusia, alam, dan budaya; kelestarian dan keragaman alam dan kultur; konservasi sumberdaya alam dan warisan budaya; penghematan sumberdaya yang bernilai ekonomi; moralitas dan spiritualitas.
Di era globalisasi saat ini, banyak ditemui berbagai krisis ekologi yang muncul akibat keseimbangan alam terganggu. Tanpa kita sadari berbagai tindakan dan sikap kita telah merusak ekologi. Penggunaan teknologi yang tidak tepat guna salah satunya dapat
mengganggu keseimbangan alam seperti perubahan iklim, krisis air bersih, pencemaran udara, dan berbagai krisis ekologi lainnya. Oleh sebab itu, kita perlu kembali
mengembangkan dan melestarikan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat pedesaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suhartini sebagai berikut:
dan pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungannya serta berbagai kebijakan
pemerintah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan serta peran masyarakat lokal (Suhartini 2009:1).
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana kaitan antara kearifan lokal dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan?
2. Apa tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kearifan lokal masyarakat?
3. Bagaimana prospek kearifan lokal di masa depan?
1.3.Tujuan
1. Mengetahui keterkaitan antara kearifan lokal dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
2. Mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kearifan lokal masyarakat.
3. Mengetahui prospek kearifan lokal di masa depan.
Pembahasan
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk warisan budaya Indonesia yang telah berkembang sejak lama. Kearifan lokal lahir dari pemikiran dan nilai yang diyakini suatu masyarakat terhadap alam dan lingkungannya. Di dalam kearifan lokal terkandung nilai-nilai, norma-norma, sistem kepercayaan, dan ide-ide masyarakat setempat. Oleh karena itu kearifan lokal di setiap daerah berbeda-beda. Kearifan lokal berkaitan erat dengan pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan. Masyarakat memiliki sudut pandang tersendiri terhadap alam dan lingkungannya. Masyarakat mengembangkan cara-cara tersendiri untuk memelihara keseimbangan alam dan lingkungannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan melalui pengembangan kearifan lokal memiliki kelebihan tersendiri. Selain untuk memelihara keseimbangan sumberdaya alam dan lingkungannya, kebudayaan masyarakat setempat pun dapat dilestarikan.
Kearifan lokal memiliki banyak fungsi sebagaimana yang diungkapkan oleh Sirtha (2003) sebagaimana dikutip oleh Sartini (2004) sebagaimana dikutip oleh Aulia (2010), menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, kepercayaan, dan aturan-aturan khusus. Bentuk yang bermacam-macam ini mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi bermacam-macam pula. Fungsi tersebut antara lain adalah:
1. Kearifan lokal berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumberdaya alam.
2. Kearifan lokal berfungsi untuk mengembangkan sumber daya manusia.
3. Berfungsi sebagai pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Namun, dewasa ini kearifan lokal menghadapi tantangan-tantangan yang mengancam keberadaan dan kelestariannya. Kearifan lokal yang telah terbentuk sejak lama kini mulai terkikis seiring berkembangnya teknologi diikuti meningkatnya proses adopsi inovasi serta difusi adopsi teknologi. Suhartini (2009) menyatakan bahwa kearifan lokal-kearifan lokal ikut berperan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungannya. Namun demikian kearifan lokal juga tidak lepas dari berbagai tantangan seperti: bertambahnya terus jumlah penduduk, teknologi modern dan budaya, modal besar serta kemiskinan dan kesenjangan.
Berbagai teknologi yang berkembang saat ini pada dasarnya memiliki potensi besar untuk merusak keseimbangan alam dan lingkungan. Berbagai bentuk eksploitasi terhadap alam kini sudah merupakan hal yang dianggap biasa. Begitu banyak elemen masyarakat hingga
pemerintah mengadopsi berbagai teknologi untuk mengekploitasi alam secara besar-besaran, tanpa pernah memperhatikan aspek kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Salah satu contoh adalah penggunaan teknologi penangkapan ikan di Maluku yang tidak
memperhatikan kearifan lokal masayarakat. Dampak yang ditimbulkan adalah rusaknya sumberdaya air dan tersingkirkannya kearifan lokal masyarakat Maluku yang disebut sasih1.
Sehingga pada akhirnya secara perlahan-lahan kearifan-kearifan lokal tersebut memudar bahkan menghilang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Selain itu juga berakibat kepada terjadinya ketidakseimbangan lingkungan yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam. Masuknya berbagai teknologi tersebut menyingkirkan peran kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan.
1sasih adalah norma-norma yang didasarkan pengetahuan lokal yang mengatur waktu
pemanenan ikan. Masayarakat memiliki pengetahuan pada bulan-bulan kapan ikan bertelur.
Masyarakat mulai meninggalkan pola pikir holistik2 dan beralih kepada pola pikir mekanistik3
serta berorientasi komersil. Sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang ingin menaklukan alam untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok. Sehingga pada akhirnya banyak terjadi berbagai bencana alam akibat keseimbangan alam diganggu.
Selain perkembangan teknologi, tantangan-tantangan lain yang dihadapi kearifan lokal-kearifan lokal masyarakat adalah pertambahan penduduk. Robert Malthus dalam Suhartini menyatakan bahwa penduduk yang banyak merupakan penyebab kemiskinan, hal ini terjadi karena laju pertumbuhan penduduk yang mengikuti deret ukur tidak akan pernah terkejar oleh pertambahan makanan dan pakaian yang hanya mengikuti deret hitung (Soerjani dkk,
1997:99). Adanya kebutuhan pangan yang tinggi menuntut orang untuk meningkatkan produksinya guna mencukupi kebutuhan tersebut, sehingga melakukan modernisasi pertanian dengan melakukan revolusi hijau. Dalam Revolusi hijau dikembangkan penggunaan bibit unggul, pemupukan kimia, pengendalian hama penyakit dengan obat-obatan, pembangunan saluran irigasi secara besar-besaran untuk pengairan dan penggunaan teknologi pertanian dengan traktor untuk mempercepat pekerjaan. Sebagai akibat pelaksanaan revolusi hijau yang menekankan pada tanaman padi secara monokultur dengan bibit unggul maka akan
Tabel 1 Jenis pupuk yang paling dibutuhkan petani di Kab. Temanggung
Uraian Frekuensi Persen
Responden
54 100
Pupuk yang paling dibutuhkan petani
1. Urea 52 96
1. SP-36 22 41
1. KCL 7 13
1. Pupuk Kandang 4 7
Sumber: BPS Kab. Temanggung
2Pola pikir holistik adalah suatu pola pikir dimana menempatkan ekologi dan manusia dalam
posisi yang sejajar, manusia berfikir secara subjektif dan tidak parsial.
3Pola pikir mekanistik adalah suatu pola pikir dimana ekologi dan manusia ditempatkan
dalam posisi yang tidak sejajar, manusia berfikir secara objektif dan parsial.
Menghadapi tantangan-tantangan tersebut, prospek kearifan lokal di masa depan bergantung dari pemanfaatan dan pemberdayaan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat guna mengelola sumberdaya alam dan lingkungan. Pengetahuan mengenai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat yang diturunkan secara turun temurun serta inovasi dan teknologi juga
mempengaruhi keberlangsungan kearifan lokal di masa depan. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan sudah saatnya memberlakukan kebijakan terkait adopsi teknologi penggunaannya serta difusi teknologi yang melindungi sumberdaya alam dan lingkungan melalui kearifan lokal. Berbagai kearifan lokal yang masih bertahan adalah pranoto mongso4 di Jawa dan
nyabuk gunung5.
Sartini mengungkapkan bahwa ada banyak peluang untuk pengembangan wacana kearifan lokal Nusantara. Di samping itu kearifan lokal dapat didekati dari nila-inilai yang
berkembang di dalamnya seperti nilai religius, nilai etis, estetis, intelektual atau bahkan nilai lain seperti ekonomi, teknologi dan lainnya. Maka kekayaan kearifan lokal menjadi lahan yang cukup subur untuk digali, diwacanakan dan dianalisis mengingat faktor perkembangan budaya terjadi dengan begitu pesatnya.
4Pranoto mongso atau aturan waktu musim digunakan oleh para tani pedesaan yang
Berkaitan dengan kearifan tradisional maka pranoto mongso ini memberikan arahan kepada petani untuk bercocok tanam mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. Melalui perhitungan pranoto mongso maka alam dapat menjaga keseimbangannya.
5Nyabuk gunung merupakan cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang
dibentuk menurut garis kontur. Cara ini banyak dilakukan di lereng bukit sumbing dan sindoro. Cara ini merupakan suatu bentuk konservasi lahan dalam bercocok tanam karena menurut garis kontur.
Kesimpulan
Kearifan lokal berkaitan erat dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Namun seiring perkembangan waktu kedudukan kearifan lokal semakin terpinggirkan. Dewasa ini, kearifan lokal mengalami tantangan-tantangan, diantaranya perkembangan teknologi yang semakin pesat diikuti dengan adopsi teknologi berlebihan tanpa mempertahankan
pengetahuan lokal. Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat merusak keseimbangan alam dan lingkungan. Banyak diantara masyarakat yang tidak menyadari esensi sesungguhnya dari kearifan lokal dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah dibangun sejak lama oleh nenek moyang mereka. Kegiatan menurunkan kearifan-kearifan lokal kepada generasi penerus untuk mengelola sumberdaya alam dan lingkungan telah memudar bahkan ditinggalkan.
Selain perkembangan teknologi, tantangan yang dihadapi oleh kearifan lokal adalah meningkatnya pertambahan penduduk. Adanya kebutuhan pangan yang tinggi menuntut orang untuk meningkatkan produksinya guna mencukupi kebutuhan tersebut, sehingga melakukan modernisasi pertanian. Hal ini menuntut masyarakat meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki yang dirasakan tidak lagi mampu mendukung kehidupan masyarakat dan berganti dengan pola pikir untuk mengeksploitasi alam. Oleh sebab itu dibutuhkan berbagai upaya untuk melestarikan kearifan lokal guna mengelola sumberdaya alam dan lingkungan.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah melalui meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyaring berbagai teknologi yang masuk yang menjaga keseimbangan alam dan lingkungan dan disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat. Kemudian dapat dilakukan dengan mengubah pola pikir masyarakat dari pola pikir mekanik ke pola pikir holistik untuk tidak mengekploitasi alam. Kemudian dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya mengelola sumberdaya alam dan lingkungan yang dimiliki masing-masing daerah dan melestarikan kearifan lokal yang sebenarnya memliki keunikan tersendiri dan mengandung nilai-nilai kepercayaan dan norma yang diyakini oleh suatu masyarakat.
Daftar Pustaka
Aulia TOS. 2010. Kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya air di Kampung Kuta (Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat). [skripsi]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor.
Ridwan NA. 2007 Januari-Juni. Keilmuan kearifan lokal. Dalam: Jurnal Studi Islam dan Budaya. [Internet]. [dikutip 11 November 2011]; 5(1): 27-38.
http://www.search-document.com/pdf/1/keilmuan-kearifan-lokal.html
Sartini. 2004. Menggali kearifan lokal nusantara sebuah kajian filsafati. Dalam: Jurnal Filsafat. [Internet]. [dikutip 11 November 2011]; 37(2): 111-120. Dapat diunduh dari: http://www.search-document.com/pdf/1/1/Menggali-Kearifan-Lokal-Nusantara-Sebuah-Kajian-Filsafati.html
Suhartini. 2009. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan penerapan MIPA [16 Mei 2009]. Yogyakarta. [Internet]. [diunduh 09 November 2011]. Dapat diunduh dari:
http://www.search-document.com/pdf/1/Kajian-Kearifan-Lokal-Masyarakat-dalam-Pengelolaan-Sumberdaya-Alam-dan-Lingkungan.html
Woga .E. 2009. Misi, misiologi & evalingesasi di Indonesia. [Internet]. [dikutip 11 November 2011]. Dapat diunduh dari: http://books.google.co.id/books?
id=TNSv00IumZAC&printsec=frontcover&dq=edmund+woga&hl=id#v=onepage&
Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan 23 Januari 2014 05:55:02 Diperbarui: 24 Juni 2015 02:33:49 Dibaca : 2,029 Komentar : 3 Nilai : 1 Alam semesta beserta isinya ini
merupakan anugerah Tuhan yang wajib kita jaga kelestariannya. Karena Tuhan menciptakan manusia antara lain sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini. Segala kebutuhan manusia ada didalamnya hingga kiamat nanti, asalkan dikelola dengan bijak dan tidak berlebihan. Istilah sustainable development (pembangunan berkalanjutan) yang selama ini kita dengar hanyalah jargon Negara-negara maju untuk mengelabui negara-negara berkembang. Justru mereka menjadi bagian yang merusak alam dan lingkungannya ini. Setiap daerah memiliki beragam sumberdaya alam, dan mereka memiliki tata cara dan norma-norma adat dalam memperlakukan alam dan lingkungannya. Namun akibat pengaruh globalisasi yang begitu besar dan seiring dengan penemuan beragam teknologi baru, sifat buruk manusia mulai muncul. Rasa tidak puas dan ingin mendapatkan yang sebanyak-banyaknya mulai menggoda. Tak terkecuali pemerintah yang membutuhkan modal besar untuk pembangunan, dihadapkan pada pilihan yang dilematis yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau kualitas lingkungan yang lebih baik. Akibatnya, sumberdaya alam dieksploitasi sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan dampaknya. Tapi kita masih bersyukur, beberapa kelompok masyarakat di beberapa daerah di negeri ini masih teguh mempertahankan norma-norma adat mereka dalam mengelola sumberdaya alamnya. Diantaranya adalah Bali dan Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Subak Bali Dalam memperlakukan alam mungkin ada baiknya kita belajar dari masyarakat Bali, yang hingga kini masih teguh mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhurnya. Ada hal yang menarik dengan pola yang disebut dengan system Subak, yaitu suatu lembaga adat masyarakat Bali dalam mengatur tata kelola lahan
pertaniannya. Subak yang dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat dengan tugas tidak hanya memimpin setiap upacara penanaman padi di sawah, tetapi juga bertugas membagi
sangat kuat dalam mengelola lahan pertanian. Bagi yang melanggar tentunya akan tersingkir dari lembaga adat sebagai sanki sosialnya. Namun, tahun 1978-1984, ADB pernah
menggelontorkan dana sebesar 24 juta dolar untuk memodernisasi system pertanian di Bali. Program ini diharapkan produksi pertanian di Bali dapat meningkat lebih tinggi lagi. Dengan dana tersebut mulai dibangun irigasi, kemudian penggunaan pupuk kimia untuk memacu pertumbuhan tanaman padi. Akan tetapi, tidak memberikan hasil yang signifikan. Yang terjadi justru sebaliknya, produksi padi masyarakat menurun drastis setiap tahunnya, terutama akibat munculnya hama akibat penggunaan pupuk tersebut. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa, tata kelola alam yang bijak sebetulnya telah diwariskan sejak lama oleh nenek moyang kita. Pupuk tidak diperlukan jika alam tidak diganggu. Pola hidup yang akrab dengan alam telah dilakukan bertahun-tahun oleh nenek moyang kita. Dalam teori ekonomi juga mengenal istilah entropy theory, yaitu teori ekonomi yang mengatur pola hidup
mengikuti pola alam. Jadi manusia yang harus beradaptasi dengan alam, bukannya alam yang harus mengikuti pola hidup manusia. Berangkat dari kegagalan tersebut, kini masyarakat Bali kembali menggunakan system Subak dalam mengelola lahan pertaniannya. Teknologi baru yang ditawarkan ADB ternyata tidak mampu mengalahkan system yang sudah ada. Artinya penerapan teknologi baru tidak bisa serta merta tanpa mengetahui karakteristik suatu wilayah. Pengelolaan sumberdaya alam yang didukung dengan modal sosial yang kuat, merupakan modal dasar yang potensial dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dan kekuatan modal sosial masyarakat Bali melalui system Subak kini diakui dunia setelah system Subak
ditetapkan menjadi world heritage atau warisan dunia yang harus dilestarikan. Jika dunia saja sekarang sudah mulai mengakui keunggulan system lokal dengan kekuatan modal sosialnya, mengapa kita harus memaksakan diri untuk mengikuti pola yang dibuat oleh orang asing yang notabene tidak mengetahui nilai-nilai luhur bangsa kita. Pola ini telah mengalami proses evolusi yang sangat panjang, sehingga antara masyarakat dengan alam telah menyatu dan berjalan seirama. Lembaga lokal seperti Subak tidak membutuhkan yang namanya pestisida untuk meningkatkan produksinya. Mereka hanya yakin dengan ajaran Trihita Karana, maka Tuhan melalui alam akan memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Inilah konsep hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan tuhannya, dan manusia dengan lingkungannya. Inilah yang disebut dengan co-evolution dalam
pembangunan berwawasan lingkungan. Ke Kampung Naga Selain Bali, ada juga masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat. Adalah sekelompok masyarakat yang mendiami satu kawasan di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Mereka tidak mau terpengaruh oleh pola kehidupan dan budaya luar, dan merasa cukup dengan apa yang mereka jalani saat ini. Tidak ada terdengar suara radio, televise, di kampung ini, apalagi menggunakan
menjaga lingkungan tempat tinggalnya, terlebih mereka yang tinggal di kampung ini. Ada istilah “pamali” yang paling mereka takuti, yaitu pantangan bagi mereka yang melanggar aturan-aturan tersebut. Ada aturan-aturan tidak tertulis yang ditaati secara turun temurun oleh masyarakat yang tinggal di kampung ini, baik dalam hubungannya antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan tuhannya, dan manusia dengan lingkungannya. Hutan ini dianggap milik bersama (common property right) yang harus dijaga bersama untuk
kepentingan bersama. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa jika hutan ini rusak maka hidup mereka akan terancam. Tentu saja mereka terancam, karena mereka tinggal di lembah bukit yang tumbuhi beraneka pohon-pohon dan beragam biota yang hidup didalamnya. Dan dari hutan inilah juga mengalir air yang jernih dan menyegarkan. Mereka memanfaatkan untuk untuk mandi, mencuci maupun memasak, bahkan ada juga yang memanfaatkan air tersebut untuk memelihara ikan. Sepanjang musim mereka tidak pernah kekurangan air, dan konon sangat jarang terserang penyakit yang disebabkan karena mengkonsumsi air ini. Inilah nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan uang. Sebuah kekayaan budaya lokal yang harus kita hormati dan pelihara bersama. Ketika lembaga-lembaga internasional termasuk PBB begitu gencar meneriakkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, justru masyarakat kita telah melakukannya sejak lama. mereka melakukan atas dasar kesadaran sendiri sebatas
kemampuan yang mereka miliki. Salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari kedua kearifan lokal (local wishdom) ini adalah bahwa, untuk bisa hidup bahagia dan berkecukupan ternyata tidak harus dengan mengeksploitasi sumberdaya alam dengan berlebihan. Disinilah teori entropy diapliksikan oleh masyarakat yang notabene kurang mengenal ilmu
pengetahuan moderen. Dan masih banyak lagi kampung-kampung lain di belahan nusantara ini yang masih memegang teguh norma-norma adat mereka. mereka menganggap sawah dan hutan mereka adalah warisan nenek moyang mereka sebagai sumber penghidupan hingga anak cucu mereka. Dengan demikian, pemerintah hanya berperan sebagai regulator agar segala sumberdaya alam dan lingkungannya tetap lestari. Keberadaan mereka harus diakui sepanjang mereka masih tetap menjaga dan melindungi lingkungan dan ekosistemnya. Jika lahan tersebut adalah diwariskan oleh nenek moyangnya. Maka Negara yang notabene lahir belakangan harus menghormati hak-hak beserta norma-norma masyarakat. Dengan demikian, sebagai seorang pemimpin yang bijaksana selayaknya mampu melindungi eksistensi mereka.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/lalu.solihin/kearifan-lokal-dalam-pengelolaan-lingkungan_552b780a6ea8349f628b456f
...
Pendekatan kearifa lokal
Kemajuan TIK telah memudahkan masyarakat mendukung informasi melalui Radio, TV, atau internet dengan segala konsekuensinya. Komunikasi tersebut sudah dicampuri berbagai kepentingan, bisa berbentuk opini publik. Namun demikian ada suatu cara komunikasi yang cukup efektif pencapaiannya kepada masyarakat, yakni dengan pendekatan kearifan lokal, antara lain: media pertunjukan rakyat, seperti di Sumatera Barat, setiap media pertunjukan rakyat diiringi dengan Randai, bahwa pertunjukan rakyat yang berbasis kearifan lokal terasa lebih mengena di hati masyarakat. Sehingga menjadi media yang cukup efektif
semata-mata sebagai seni dan kebudayaan saja, tetapi juga sebagai produk dan aktivitas budaya yang memiliki potensi sebagai sarana penyebaran informasi, pendidikan, penanaman nilai-nilai budaya, dan kontrol sosial masyarakat. Seni pertunjukan rakyat identik dengan media pertunjukan rakyat (MPR) yang menggunakan kesenian rakyat sebagai media penyampaian informasi secara timbal balik (komunikasi dua arah) yang dinilai efektif dan komunikatif.Dengan kata lain, kata dia, "MPR" merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan kesenian rakyat sebagai media (saluran informasi). Dewasa ini mengingat sebagian besar masyarakat masih hidup di perdesaan dengan tatanan yang lebih berorientasi pada kearifan lokal, maka peran "MPR" dipandang masih efektif.
Upaya menggali kearifan lokal dalam masyarakat untuk membangun harmonisasi dalam komunikasi dan hubungan sosial mendapat sambutan yang antusias dari berbagai elemen masyarakat etnis dan agama. Ini terlihat dari kesepahaman mereka dalam melihat kearifan lokal untuk kedamaian dalam masyarakat, yang sesungguhnya ada dalam setiap etnis, berikut kesimpulan pernyataan : “Setiap etnis memiliki kearifan lokal, baik dalam bentuk pantun, pepatah, pribahasa, ungkapan, adat istiadat dsb (Yusriadi, Suriyanto, Hermansyah & Albertus). Sebagai contoh etnis melayu (umumnya) mempunyai pepatah “di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung” . ungkapan ini sangat populer dalam masyarakat Melayu Kalimantan Barat sebagai keharusan untuk menghormati tata krama, adat istiadat, nilai – nilai anutan dan budaya setempat. Dalam etnis Tionghoa Kalbar juga dikenal ungkapan – pepetah – pribahasa “ jip kang sui suan, jip koi sui nyak” yang artinya kira – kira “ jika masuk sungai harus sesuai belokannya, masuk kampung harus sesuai adat setempat” (Suriyanto). Ungkapan ini juga mengandung pilosofi komunikasi yang saling menghargai, menghormati dan
menjunjung perbedaan dalam masyarakat”. Bagian dari kearifan lokal yang harus dipahami oleh setiap kita dalam menciptakan dan memelihara kedamaian dalam komunikasi dan hubungan sosial adalah kemampuan untuk memahami diri kita sebagai manusia yang
memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang dilebihkan satu dengan yang lainnya. Termasuk dalam hal ini adalah adat, baik dalam bentuk kebiasaan yang ada dalam masyarakat maupun sebagai hukum yang dipatuhi. Sebagai sebuah kebiasaan, ia senantiasa hidup dalam diri dan hubungan sosial masyarakat adat, akan tetapi sebagai hukum yang dipatuhi, adat merupakan kesepakatan yang ditegakkan melalui lembaga adat. Karenanya adat suatu masyarakat (etnis, agama dll) mungkin saja – bahkan pasti memiliki perbedaan dengan masyarakat (etnis, agama) lainnya. Pengertian Kearifan Lokal Pengertian kearifan lokal (local wisdom) dalam kamus terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat,
sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Gobyah (2003), mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup.
kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama. Beberapa Kearifan Lokal dalam Komunikasi Masyarakat Etnis Madura misalnya memiliki beberapa adat yang baik untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan damai seperti selamatan, acara perkawinan, sunnatan, muharraman dan lain–lain. Dalam hal kesenian juga ada yang namanya ronggeng. Kesemuanya ini terbuka bagi keterlibatan– keikutsertaan etnis–bahkan agama lain sekalipun. Di Kampung Jawa kecamatan Sanggau Ledo, masyarakat setempat yang notabene terdiri dari etnis Jawa, Melayu, Dayak, Bugis & Sunda masih memelihara adat bersama seperti selamatan kampung, yakni upacara sukuran yang diadakan di tengah-tengah kampung dengan menghadirkan tokoh agama, tokoh adat dan suku-suku lain, nanti dipimpin seorang lebai (tokoh agama Islam) sebelum berdoa diberi penjelasan tentang makna selamatan kampung tanda syukur pada Allah dan dijauhkan segala bencana. Masyarakat diwajibkan membawa makanan dan membawa alat-alat untuk mencari nafkah misalnya arit, pisau, parang, cangkul dan lain-lain diadakan setiap tahun sekali di bulan Sapar, sedangkan fungsinya untuk mengingat apa yang diberikan Allah kepada kita semua. Tujuannya untuk mengumpulkan masyarakat kita jadi satu walau berbeda suku, agama tapi kita tetap satu, kemuadian ada tolak balak adalah satu tradisi kampung suku Dayak untuk mengusir hama penyakit tanaman kearifan lokal lainnya adalah Rakik Saman yaitu mengelilingi kampung dengan membawa makanan (supaya kampung kita aman dari segala hal disini bermacam suku, agama boleh ikut untuk kepentingan kampung, fungsinya sama dengan tolak bala dalam budaya orang Melayu. Sedangkan tujuannya untuk
menyatukan tiap-tiap suku yang ada di kampung kita ini supaya semangat kebersamaan itu tetap lestari. Sementara itu bagi masyarakat Dayak dusun Jawa juga ada adat yang sangat mendukung terwujudnya kedamaian dalam masyarakat, baik dalam bentuk gawai adat, tahun baru padi, pantak, naik dangau, dau juang dan mangkok merah. Sumber:
http://www.psychologymania.com/2012/11/pengertian-kearifan-lokal.html
http://www.antaranews.com/berita/376997/pertunjukan-rakyat-media-efektif-penyampai-pesan http://baimstain.blogspot.com/2009/02/kearifan-lokal-dalam-komunikasi.html ...
Haryati Soebadio berpendapat bahwa kearifan lokal adalah suatu identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendir.
Menurut Rahyono (2009:7) kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.
Definisi kearifan lokal tersebut, paling tidak menyiratkan
beberapa konsep, yaitu:
1. Kearifan lokal adalah sebuah pengalaman panjang, yang diendapkan sebagai petunjuk perilaku seseorang;
2. Kearifan lokal tidak lepas dari lingkungan pemiliknya;
3. Kearifan lokal itu bersifat dinamis, lentur, terbuka, dan senantiasa menyesuaikan dengan zamannya.
Kearifan lokal adalah bagian dari budaya. Kearifan lokal Jawa tentu bagian dari budaya Jawa, yang memiliki pandangan hidup tertentu. Berbagai hal tentang hidup manusia, akan memancarkan ratusan dan bahkan ribuan kearifan lokal.
Ruang Lingkup Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan fenomena yang luas dan komprehensif. Cakupan kearifan lokal cukup banyak dan beragam sehingga sulit dibatasi oleh ruang. Kearifan tradisional dan kearifan kini berbeda dengan kearifan lokal. Kearifan lokal lebih menekankan pada tempat dan lokalitas dari kearifan tersebut sehingga tidak harus merupakan sebuah kearifan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal bisa merupakan kearifan yang belum lama muncul dalam suatu komunitas sebagai hasil dari interaksinya denganlingkungan alam dan interaksinya dengan masyarakat serta budaya lain. Oleh karena itu, kearifan lokal tidak selalu bersifat tradisional karena dia dapat mencakup kearifan masa kini dan karena itu pula lebih luas maknanya daripada kearifan tradisional.