• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH JIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH JIL"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

LEMBAGA PEMBERDAYAAN PENGEMBANGAN KEPALA SEKOLAH

(LPPKS

)

Kp Dadapan RT 06/RW 07, Desa Jatikuwung Gondangrejo Karanganyar, Jawa Tengah Indonesia Telp. (0271) 8502888, 8502999/Fac. (0271) 8502000 Website: www.lppks.org:

Email: [email protected]

KOMPETENSI MANAJERIAL

(

Suplemen Diklat Jilid 2

)

Materi Penguatan Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah

TU T

WUR I HAND

A

YA

N I

(2)

ii

Apakah Anda ingin memberikan umpan

balik/masukan mengenai

Bahan Pembelajaran Penguatan

Kepala Sekolah/Madrasah?

Kami mengajak para individu dan organisasi

untuk memberikan umpan balik/masukan, baik

positif atau negatif, tentang bahan pembelajaran

Penguatan Kepala Sekolah ini.

Dalam hal ini, Anda diajak untuk

memberikan umpan balik (masukan/keluhan) ke

Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan

Kepala Sekolah (LPPKS), melalui:

Situs Web

: www.lppks.org

Email

: [email protected]

Telephone

: (0271) 8502888, 8502999

Fax

: (0271) 8502000

Surat

:Petugas Penanganan Keluhan Modul

Kampung Dadapan RT. 06/RW. 07,

Desa

Jatikuwung,

Kec.

Gondangrejo, Karanganyar, Jawa

Tengah.

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah, rahmat, tuntunan Tuhan yang Maha Esa pula sehingga dapat disusunnya Bahan Pembelajaran materi manajerial jilid 2 ini untuk peserta pendidikan dan pelatihan penguatan Kepala Sekolah/Madrasah.

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat urgen untuk menimgkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan berupa Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara operasionalnya dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberi arahan terhadap seluruh satuan pendidikan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, yang meliputi: (1) standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan dan (8) standar penilaian.

Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah dan guru merupakan tenaga pendidik dan kependidikan yang mutlak terstandarisasi kompetensinya secara nasional menurut PP No 19 tahun 2005 di atas. Karena pengawas, kepala sekolah dan guru adalah tiga unsur yang berperan aktif dalam persekolahan. Guru sebagai pelaku pembelajaran yang secara langsung berhadapan dengan para siswa di ruang kelas, dan pengawas serta kepala sekolah adalah pelaku pendidikan di dalam pelaksanaan tugas Kepengawasan dan Manajerial pendidikan dalam satuan pendidikan yang meliputi tiga aspek yaitu supervisi, pengendalian dan inspeksi kependidikan.

Bahan Pembelajaran Manajerial ini merupakan materi tambahan yang dapat melengkapi buku-buku maupun modul-modul yang telah banyak beredar tentang tugas manajerial kepala sekolah. Materi Bahan Pembelajaran ini dapat digunakan sebagai materi pengembang modul (MPM) pada pendidikan dan pelatihan Penguatan Kepala Sekolah/Madrasah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan bahan pembelajaran ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua.

Karanganyar, Pebruari 2015 Kepala LPPKS,

(4)

iv

TIM PENGEMBANG BAHAN PEMBELAJARAN LPPKS

Nama Bahan Pembelajaran:

Manajerial Kepala Sekolah/Madrasah

(Jilid 2)

Pengarah Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Kepala BPSDMP-PMP

Moh. Hatta, M.Ed Kepala Pusbangtendik

Prof. Dr, Siswandari, M.Stats Kepala LPPKS

Penanggung Jawab Umum Gentur Sulistyo, MM. Ka.Sub.Bag. Umum

Penanggung Jawab Akademik Yuli Cahyono, M.Pd. Koordinator Widyaiswara

Farikha, MM Ka.Sie. Sistem Informasi

Tim Penulis Setyo Hartanto, S.Pd. M.Kom.

Dra. Yusnaini Agustina, M.Pd

Drs. Edy P, M.Pd.

Diterbitkan Oleh:

LPPKS, Indonesia

@2015

(5)

v

PENJELASAN UMUM

A. Pengantar Bahan Pembelajaran Manajerial Kepala Sekolah/Madrasah (Jilid 2)

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, dan puji syukur kita panjatan pada Tuhan Yang Maha Esa, Mata Diklat Manajerial untuk membekali sebagai penyegaran kompetensi kepala sekolah/madrasah, dalam rangka meningkatkan dan menguatkan kompetensi manajerial (permendiknas 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah). Mata diklat ini dialokasikan selama proses pembelajaran di kelas melalui kegiatan teori dan praktik serta diskusi dalam bentuk kegiatan tugas mandiri dan kelompok.

Dalam melaksanakan kegiatan pada Bahan Pembelajaran ini, Bapak/Ibu harus mempertimbangkan inklusi sosial tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, orang dengan HIV/AIDS dan yang berkebutuhan khusus. Inklusi sosial ini juga diberlakukan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

B. Hasil Pembelajaran yang Diharapkan

Bahan pembelajaran ini diarahkan untuk mencapai target kompetensi yang berkaitan dengan standar kompetensi manajerial bagi kepala sekolah/madrasah (Permendiknas No. 13 tahun 2007) yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas manajerial kepala sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi sekolah/madrasah maupun pencapaian visi, misi, tujuan sekolah.

Adapun hasil pembelajaran yang diharapkan, setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan dapat terampil sebagai:

1. Pengelola Potensi Peserta Didik Di Sekolah/Madrasah 2. Pengelola Kurikulum Dan Kegiatan Pembelajaran 3. Pengelola Keuangan Sekolah/Madrasah Yang Kredibel 4. Pengelola Ketatausahaan Sekolah/Madrasah

5. Pengelola Unit Layanan Khusus (ULK) Di Sekolah/Madrasah 6. Pengelola Sistem Informasi Sekolah/Madrasah (SIM)

7. Fasilitator Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di Sekolah/Madrasah 8. Pelaksana Monitoring Dan Evaluasi Kegiatan Di Sekolah/Madrasah

C. Tagihan

Menjelaskan dan mempresentasikan tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: 1. Pengelola Potensi Peserta Didik Di Sekolah/Madrasah

2. Pengelola Kurikulum Dan Kegiatan Pembelajaran 3. Pengelola Keuangan Sekolah/Madrasah Yang Kredibel 4. Pengelola Ketatausahaan Sekolah/Madrasah

5. Pengelola Unit Layanan Khusus (ULK) Di Sekolah/Madrasah 6. Pengelola Sistem Informasi Sekolah/Madrasah (SIM)

7. Fasilitator Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di Sekolah/Madrasah 8. Pelaksana Monitoring Dan Evaluasi Kegiatan Di Sekolah/Madrasah

D. Ruang Lingkup Materi

(6)

vi

E. Refleksi

1. Apa yang sudah dikuasai? 2. Apa yang belum dikuasai? 3. Apa yang harus dilakukan? 4. Apa yang perlu ditambah?

F. Alokasi Waktu

Alokasi Waktu

Selanjutnya, alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan belajar materi ini dipisahkan antara waktu belajar individual dan kelompok, Untuk waktu belajar individual sifatnya fleksibel karena dilakukan di luar pertemuan diklat. Sedangkan waktu untuk kegiatan kelompok diperkirakan sekitar14jam pelajaran, dengan rincian sebagai berikut:

1 Mendiskusikan isi bahan belajar untuk memperoleh pemahaman bersama…. 3 jam 2 Mendiskusikan rancangan manajerial yang disusun peserta………. 1 jam 3 Melakukan diskusi hasil rancangan manajerial yang disusun……….. 1 jam 4 Membuat rangkuman bersama... 1 jam

5 Melakukan refleksi……….. 1 jam

(7)

vii

DAFTAR ISI

Halaman:

Halaman Judul ... i

Penanganan Keluhan (umpan balik) ... ii

Halaman Kata Pengantar... iii

Tim Pengembang Bahan Pembelajaran LPPKS ... iv

Penjelasan Umum ... v

(8)

vii

1

KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PENGELOLA DAN PENGEMBANG POTENSI PESERTA DIDIK

Pengelolaan (manajemen) peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Tugas-tugas manajerial Kepala Sekolah di sekolah yang dipimpinya salah satu diantaranya yaitu pengelolaan peserta didik, sesuai amanat dalam UU Sisdiknas No.20 th 2003, mengamanatkan peserta didik adalah anggota masyarakat yang ingin mengembangkan potensi dirinya.

I. Pengelolaan Peserta Didik A. Pengertian Peserta Didik

Undang-undang No 20 Tahun 2003 Bab 1 memuat bahwa peserta didik merupakan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pandangan terhadap peserta didik ada dua macam, pandangan secara psikologis dan pandangan secara sosiologis; dalam pandangan secara sosiologis, yaitu setiap anak (peserta didik) masing-masing mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem schooling tersebut layanan yang diberikan ditekankan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai seluruh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.

Adapun pandangan secara psikologis mengenai anak (peserta didik) yaitu bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda pula antara satu dengan yang lainnya. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap anak (peserta didik) yakni aksentuasi/penekanan pada layanan kesamaan dan perbedaan tiap anak, maka melahirkan pemikiran pentingnya manajemen atau pengelolaan peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan seara sosiologis maupun psikologis tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Baik layanan pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, akan tetapi kedua layanan tersebut sama-sama diarahkan agar peserta didik dapat berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

B. Tujuan Pengelolaan Peserta Didik

Tujuan umum pengelolaan peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah yang lebih efektif dan effisien sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan khusus pengelolaan peserta didik adalah sebagai berikut:

(9)

2

2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik.

3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. 4. Peserta didik dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. C. Fungsi Pengelolaan Peserta Didik

Fungsi pengelolaan peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Fungsi pengelolaan peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.

2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.

3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.

4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. D. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Peserta Didik

Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Prinsip pengelolaan peserta didik mengandung arti:

1. Keutuhan

Mengelola peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pengelolaan sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan pengelolaan sekolah secara keseluruhan. pengelolaan peserta didik tetap ditempatkan dalam kerangka pengelolaan sekolah, tidak boleh ditempatkan di luar sistem pengelolaan sekolah.

2. Pendidikan

Segala bentuk kegiatan pengelolaan peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.

3. Kesatuan

Kegiatan-kegiatan pengelolaan peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.

4. Ketersediaan

(10)

3

ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri.

5. Kemandirian

Kegiatan pengelolaan peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan pengelolaan peserta didik.

6. Kemanfaatan

Kegiatan pengelolaan peserta didik haruslah berguna bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di kehidupan masa depan.

E. Pendekatan Pengelolaan Peserta Didik 1) Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan dalam pengelolaan peserta didik ada dua. (Yeager, 1994). Pertama, pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan, antara lain peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

Wujud pendekatan ini dalam pengelolaan peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.

2) Pendekatan Kualitatif

Pendekatan kualitatif (the qualitative approach) ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan terpadu. Dalam pendekatan terpadu demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.

(11)

4

Perencanaan terhadap peserta didik menyangkut perencanaan penerimaan siswa baru, kelulusan, jumlah putus sekolah dan kepindahan. Khusus mengenai perencanaan peserta didik akan langsung berhubungan dengan kegiatan penerimaan dan proses pencatatan atau dokumentasi data pribadi siswa, yang kemudian tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pencatatan atau dokumentasi data hasil belajar dan aspek-aspek lain yang diperlukan dalam kegiatan kurikuler dan ko-kurikuler.

Langkah yang pertama yaitu perencanaan terhadap peserta didik, yang meliputi kegiatan; 2. Analisis kebutuhan peserta didik

Analisis kebutuhan peserta didik yaitu penetapan siswa yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan yang meliputi;

(1) merencanakan jumlah peserta didik yang akan diterima dengan pertimbangan daya tampung kelas, jumlah kelas yang tersedia, serta pertimbangan rasio murid dan guru. Secara ideal rasio murid dan guru adalah 1 : 30 ;

(2) menyusun program kegiatan kesiswaan yaitu tentang kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa, sarana dan prasarana yang ada, anggaran yang tersedia dan tenaga kependidikan yang tersedia.

3. Rekruitmen peserta didik

Rekruitmen peserta didik pada hakikatnya proses pencarian, menentukan peserta didik yang nantinya akan menjadi peserta didik di lembaga sekolah yang bersangkutan. Langkah-langkah dalam kegiatan ini adalah

(1) membentuk panitia penerimaan peserta didik baru yang meliputi dari semua unsur guru, tenaga TU dan dewan sekolah/komite sekolah;(2) pembuatan dan pemasangan pengumuman penerimaan peserta didik baru yang dilakukan secara terbuka. Informasi yang harus ada dalam pengumuman tersebut adalah gambaran singkat lembaga, persyaratan pendaftaran siswa baru (syarat umum dan syarat khusus), cara pendaftaran, waktu

pendaftaran, tempat pendaftaran, biaya pendaftaran, waktu dan tempat seleksi dan pengumuman hasil seleksi.

4. Seleksi peserta didik

Seleksi peserta didik merupakan kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk menentukan diterima atau tidaknya calon peserta didik menjadi peserta didik di lembaga pendidikan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Adapun cara-cara seleksi yang dapat digunakan adalah

(1) melalui tes atau ujian, yaitu tes psikotest, tes jasmani, tes kesehatan, tes akademik, atau tes ketrampilan;

(2) melalui penelusuran bakat kemampuan, biasanya berdasarkan pada prestasi yang diraih oleh calon peserta didik dalam bidang olahraga atau kesenian;

(3) berdasarkan nilai STTB atau nilai UAN 5. Orientasi

Orientasi peserta didik baru merupakan kegiatan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan tempat peserta didik menempuh pendidikan. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Tujuan dengan orientasi tersebut adalah agar siswa mengerti dan mentaati peraturan yang berlaku di sekolah, peserta didik dapat aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan sekolah, dan siap menghadapi lingkungan baru secara fisik, mental dan emosional.

6. Penempatan peserta didik

(12)

5

juga pengelompokan berdasar perbedaan yang ada pada individu peserta didik seperti minat, bakat dan kemampuan.

7. Pencatatan dan pelaporan

Pencatatan dan pelaporan peserta didik dimulai sejak peserta didik diterima di sekolah sampai dengan tamat atau meninggalkan sekolah. Tujuan pencatatan tentang kondisi peserta didik dilakukan agar lembaga mampu melakukan bimbingan yang optimal pada peserta didik. Sedangkan pelaporan dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab lembaga dalam perkembangan peserta didik di sebuah lembaga. Adapun pencatatan yang diperlukan untuk mendukung data mengenai siswa adalah; (1) buku induk siswa, berisi catatan tentang peserta didik yang masuk di sekolah tersebut, pencatatan diserta dengan nomor induk siswa/no pokok; (2) buku klapper, pencatatannya diambil dari buku induk dan penulisannya diurutkan berdasar abjad; (3) daftar presensi, digunakan untuk memeriksa kehadiran peserta didik pada kegiatan sekolah; (4) daftar catatan pribadi peserta didik berisi data setiap peserta didik beserta riwayat keluarga, pendidikan dan data psikologis. Biasanya buku ini mendukung program bimbingan dan penyuluhan di sekolah.

II. PEMBINAAN PESERTA DIDIK

Langkah kedua dalam pengelolaan peserta didik adalah pembinaan terhadap peserta didik yang meliputi layanan-layanan khusus yang menunjang pengelolaan peserta didik. Layanan-layanan yang dibutuhkan peserta didik di sekolah meliputi :

A. Layanan Bimbingan dan Konseling

Layanan BK merupakan proses pemberian bantuan terhadap siswa agar perkembangannya optimal sehingga anak didik bisa mengarahkan dirinya dalam bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Fungsi bimbingan disini adalah membantu peserta didik dalam memilih jenis sekolah lanjutannya, memilih program, lapangan pekerjaan sesuai bakat,minat, dan kemampuan. Selain itu bimbingan dan konseling juga membantu guru dalam menyesuaikan program pengajaran yang disesuaikan dengan bakat minat siswa,serta membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan bakat dan minat siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal.

B. Layanan Perpustakaan

Diperlukan untuk memberikan layanan dalam menunujang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka. Keberadaan perpustakaan sangatlah penting karena perpustakaan juga dipandang sebagai kunci dalam pembelajaran siswa di sekolah. Bagi siswa perpustakaan bisa menjadi penyedia bahan pustaka yang memperkaya dan memperluas cakrawala pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, membantu siswa dalam mengadakan penelitian, memperdalam pengetahuannya berkaitan dengan subjek yang diminati, serta meningkatkan minat baca siswa dengan adanya bimbingan membaca, dan sebagainya.

C. Layanan Kantin

Kantin diperlukan di tiap sekolah agar kebutuhan anak terhadap makanan yang bersih, bergizi dan higienis bagi anak sehingga kesehatan anak terjamin selama di sekolah. Guru bisa mengontrol dan berkonsultasi dengan pengelola kantin dalam menyediakan makanan yang sehat dan bergizi. Peranan lain dengan adanya kantin di dalam sekolah anak didik tidak berkeliaran mencari makanan dan tidak harus keluar dari lingkungan sekolah.

D. Layanan Kesehatan

Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk dalam sebuah wadah yang bernama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Sasaran utama UKS untuk meningkatkan atau membina kesehatan siswa dan lingkungan hidupnya. Program UKS sebagai berikut

(13)

6

2. pendidikan kesehatan;

3. pemeliharaan kesehatan di sekolah E. Layanan Transportasi

Sarana transport bagi peserta didik sebagai penunjang untuk kelancaran proses belajar mengajar, biasanya layanan transport diperlukan bagi peserta didik di tingkat prasekolah dan pendidikan dasar. Penyelenggaraan transportasi sebaiknya dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan atau pihak swasta.

F. Layanan Asrama

Bagi siswa layanan asrama sangat berguna untuk mereka yang jauh dari keluarga sehingga membutuhkan tempat tinggal yang nyaman untuk beristirahat. Biasanya yang mengadakan layanan asrama di tingkat sekolah menengah, madrasah dan perguruan tinggi, mempunyai fasilitas pondok pesantren (boarding school).

G. Layanan Pengembangan Bakat, Minat, Kemampuan dan Kreatifitas Mengembangkan Bakat, Minat, Kreativitas, dan Kemampuan

1. Pengembangan bakat melalui:

a. Bidang seni antara lain: musik, sastra, teater, dan tari beserta cabang- cabangnya.

b. Bidang olah raga meliputi berbagai cabang olah raga basket, sepakbola, tenis meja, tenis lapangan, voli, dan bermacam-macam cabang olah raga lainnya.

c. Bidang keterampilan meliputi : elektronika, perbengkelan, dan macam-macam kerajinan tangan.

2. Pengembangan minat, atau kecenderungan hati yang tinggi tentang sesuatu dilakukan dengan menginvestarisasikan kecenderungan-kecenderungan siswa pada bidang yang diminati. Pelaksanaannya sama dengan pengembangan bakat, contoh; kamping, mendaki gunung, dll. 3. Pengembangan kemampuan dan kreativitas siswa memerlukan upaya lebih banyak dan

berkualitas dibandingkan menagani bakat dan minat. Menyelenggarakan Wahana Penuangan Kreativitas. Penyelenggaraan wahana bidang olah raga dalam bentuk penyediaan; Fasilitas olah raga dan Fasilitas Seni, dsb.

I. Layanan Kepramukaan

Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya.

Pramuka adalah Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan memiliki fungsi pengembangan, sosial, rekreatif, dan persiapan karir yaitu.

1. Fungsi pengembangan, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.

2. Fungsi sosial, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktek keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.

3. Fungsi rekreatif, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih menarik bagi peserta didik. 4. Fungsi persiapan karir, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk

(14)

7

Berikut dideskripsikan tentang konsep dasar kepramukaan sebagai pengetahuan awal yang mendasari kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah yang meliputi: a) sejarah kepramukaan; b) pengertian gerakan pramuka; c) tujuan kegiatan pramuka; d) fungsi kegiatan pramuka; e) tingkatan dalam kepramukaan; f) peraturan dan persyaratan dalam pramuka.

a. Sejarah Kepramukaan

Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang berarti kaum muda yang suka berkarya.Di Indonesia sendiri penggunaan istilah “Pramuka” baru resmi digunakan pada tahun 1961. Akan tetapi gerakan pramuka sejatinya telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dengan nama kepanduan.

1) Pendiri Pramuka

Tahun 1908, Mayor Jenderal Robert Baden Powell melancarkan suatu gagasan tentang pendidikan luar sekolah untuk anak-anak Inggris, dengan tujuan agar menjadi manusia Inggris, warga Inggris dan anggota masyarakat Inggris yang baik sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kerajaaan Inggris Raya ketika itu. Beliau menulis “Scouting for Boys” sebuah buku yang berisi pengalaman di alam terbuka bersama pramuka dan latihan-latihan yang diperlukan Pramuka.Gagasan Boden Powell dinilai cemerlang dan sangat menarik sehingga banyak negara-negara lain mendirikan kepanduan. Diantaranya di negeri Belanda dengan nama Padvinder atau Padvinderij. Gagasan kepanduan dibawa oleh orang Belanda ke Indonesia yang pada masa itu merupakan daerah jajahan Hindia Belanda (Nederlands Oost Indie), dengan mendirikan Nederland Indischie Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-pandu Hindia-Belanda.

2) Sejarah Kepramukaan di Indonesia

Gagasan organisasi Boden Powell tersebut dalam waktu singkat menyebar ke berbagai negara termasuk Belanda.Di belanda gerakan pramuka dinamai Padvinder.Pada masa itu Belanda yang menguasai Indonesia membawa gagasan itu ke Indonesia. Akhirnya mereka mendirikan organisasi tersebut di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Selanjutnya dalam perkembangan, pemimpin-pemimpin gerakan nasional Indonesia mendirikan organisasi kepanduan dengan tujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan siap menjadi kader pergerakan nasional.Dalam waktu singkat muncul berbagai organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie), JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon). Kemudian pemerintah Hindia Belanda memberikan larangan penggunaan istilah Padvindery. Maka K.H. Agus Salim mengganti namaPadvindery menjadi Pandu atau Kepanduan dan menjadi cikal bakal dalam sejarah pramuka di Indonesia.

Setelah sumpah pemuda kesadaran nasional juga semakin meningkat, maka pada tahun 1930 berbagai organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung melebur menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada tahun 1931 dibentuk PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) kemudian pada tahun 1938 berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia).

(15)

8

Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia). Sadar akan kelemahan terpecah-pecah akhirnya ketiga federasi yang menghimpun bergabung menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Sejarah pramuka di Indonesia dianggap lahir pada tahun 1961. Hal tersebut didasarkan pada Keppres RI No. 112 tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebutkan Presiden pada 9 Maret 1961. Peringatan hari Pramuka diperingati pada setiap tanggal 14 Agustus dikarenakan pada tanggal 14 Agustus 1961 adalah hari dimana Gerakan Pramuka di perkenalkan di seluruh Indonesia, sehingga ditetapkan sebagai hari Pramuka yang diikuti dengan pawai besar. Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomoldi Uni Soviet.Sebelumnya presiden juga telah melantik Mapinas, Kwarnas, dan Kwarnari.

b. Pengertian dan Dasar Gerakan Pramuka

Kepramukaan pada hakekatnya adalah suatu proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak muda, dibawah tanggungjawab anggota dewasa, yang dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan sekolah dan keluarga, dengan tujuan, prinsip dasar dan metode pendidikan tertentu. Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan untuk kaum muda, yang bersifat sukarela, nonpolitik, terbuka untuk semua, tanpa membedakan asal-usul, ras, suku dan agama, yang menyelenggarakan kepramukaan melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka.

Dasar Penyelenggaraan Gerakan Pramuka sebagai Landasan Hukum diatur berdasarkan: 1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka

2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 tahun 1961 Tentang Gerakan Pramuka

3) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118 tahun 1961 Tentang Penganugerahan Pandji kepada Gerakan Pendidikan Kepanduan Pradja Muda karana 4) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 Tentang Pengesahan

Anggaran Dasar Gerakan Pramuka

5) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 tahun 2009 Tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

Landasan Hukum Gerakan Pramuka merupakan landasan Gerak setiap aktifitas dalam menjalankan tatalaksana organisasi dan manajemen di Gerakan Pramuka yang harus dituangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

1) Faktor – faktor penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (Kepres RI No. 24 Tahun 2009 dan SK Kwarnas 203 Tahun 2009) ialah:

a) Jiwa ksatria yang patriotik dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang adil dan makmur material maupun spiritual, dan beradab.

b) Kesadaran bertanggungjawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

c) Upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan dengan sasaran meningkatkan sumber daya kaum muda dalam mewujudkan masyarakat madani dan melestarikan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ideologi Pancasila, Kehidupan rakyat yang rukun dan damai, Lingkungan hidup di bumi nusantara

2) Fungsi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, sebagai : a) Landasan hukum dalam pengambilan kebijakan Gerakan Pramuka.

b) Pedoman dan petunjuk pelaksanaan kegiatan kepramukaan. c. Tujuan Kegiatan Pramuka

(16)

9

1) memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani;

2) menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.

Mengacu Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013, lampiran III dijelaskan bahwa tujuan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka pada satuan pendidikan adalah untuk:

1) Meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik.

2) Mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya.

d. Fungsi Kegiatan Pramuka

Dengan landasan uraian tujuan di atas, maka kepramukaan mempunyai fungsi sebagai berikut:

1) Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda.

Kegiatan menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan.Karena itu permainan harus mempunyaitujuan dan aturan permainan, jadi bukan kegiatan yang hanya bersifat hiburan saja.

2) Pengabdian bagi orang dewasa.

Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian. Orang dewasa mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi. 3) Alat bagi masyarakat dan organisasi.

e. Peran dan Fungsi Mabigus

Majelis Pembimbing adalah suatu badan dalam Gerakan Pramuka yang mendukung pelaksanaan tugas Gerakan Pramuka dengan cara memberi bimbingan dan bantuan moril, organisatoris, material dan finansial kepada Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang, Kwartir Ranting, dan Gugusdepan Gerakan Pramuka.

1) Majelis Pembimbing (MABI) Gerakan Pramuka berkedudukan di tingkat : a) Nasional disebut Majelis Pembimbing Nasional (MABINAS)

b) Daerah disebut Majelis Pembimbing Daerah (MABIDA) c) Cabang disebut Majelis Pembimbing Cabang (MABICAB) d) Ranting disebut Majelis Pembimbing Ranting (MABIRAN)

e) Gugus depan disebut Majelis Pembimbing Gugus depan (MABIGUS) f) Desa/Kelurahan disebut Majelis Pembimbing Desa (MABISA) g) Satuan Karya Pramuka disebut Pembimbing Saka (MABISAKA) 2) Fungsi Majlis Pembimbing

Majelis Pembimbing dalam melaksanakan fungsi bimbingan, bantuan moril, organisatoris, materiil dan bantuan finansiil kepada SAKA/Gudep/Kwartir sesuai kebutuhan jajarannya masing - masing, wajib melaksanakan koordinasi secara periodik

a) Majelis Pembimbing Gugus depan berasal dari unsur orang tuapeserta didik dan tokoh masyarakat di lingkungan Gugus depan yang memiliki perhatian dan tanggung jawab terhadap Gerakan Pramuka serta mampu menjalankan peran Majelis Pembimbing. b) Majelis Pembimbing Ranting, Cabang, Daerah, dan Nasional berasal dari tokoh

(17)

10

tanggungjawab terhadap Gerakan Pramuka serta mampu menjalankan peran Majelis Pembimbing.

c) Pembina Gugusdepan dan Ketua Kwartir secara ex-officio menjadi Anggota Majelis Pembimbing.

d) Majelis Pembimbing terdiri atas :

 Seorang Ketua

 Seorang atau beberapa orang Wakil Ketua.

 Seorang atau beberapa Sekretaris

 Beberapa orang Anggota

e) Ketua Majelis Pembimbing Gugus depan dipilih dari di antara Anggota Majelis Gugus depan yang ada.

f) Ketua Majelis Pembimbing jajaran Ranting, Cabang, dan Daerah, dijabat oleh Kepala Wilayah atau Kepala Daerah setempat.

g) Ketua Majelis Pembimbing Nasional dijabat oleh Presiden Republik Indonesia. h) Majelis Pembimbing membentuk Majelis Pembimbing Harian terdiri atas :

 Seorang Ketua yang dijabat oleh Ketua Majelis Pembimbing atau salah seorang dari Wakil Ketua.

 Seorang Wakil Ketua

 Seorang Sekretaris

 Beberapa orang Anggota

i) Majelis Pembimbing mengadakan Rapat Majelis Pembimbing sekurang - kurangnya satu kali dalam waktu satu tahun.

j) Majelis Pembimbing Harian Mengadakan Rapat

k) Mejelis Pembimbing Harian sekurang - kurangnya 3 bulan sekali. f. Syarat Kecakapan dalam Gerakan Pranuka.

Syarat Kecakapan Umum (SKU) adalah syarat kecakapan yang wajib dimiliki oleh peserta didik. Tanda Kecakapan Umum (TKU) diperoleh setelah lulus melewati ujian-ujian dan disematkan melalui upacara pelantikan.

Syarat Kecakapan Khusus (SKK) adalah syarat kecakapan pada bidang tertentu berdasarkan pilihan pribadi dalam pengembangan minat dan bakat peserta didik.Tanda Kecakapan Khusus (TKK) diperoleh setelah melalui ujian-ujian dan disematkan pada upacara latihan mingguan.

Syarat Pramuka Garuda (SPG) adalah syarat-syarat kecakapan yang harus dipenuhi oleh seorang Pramuka untuk mencapai persyaratan tertentu sebagai Pramuka Garuda.Untuk memperoleh Tanda Pramuka Garuda (TPG), peserta telah melalui ujian-ujian dan disematkan dalam upacara pelantikan.

Penilaian ujian dalam pemenuhan syarat Kecakapan Umum. Syarat Kecakapan Khusus dan Syarat Pramuka Garuda dititik beratkan kepada perkembangan proses kemampuan peserta didik terhadap suatu pengetahuan dan keterampilan

1) SKU dan TKU

a) SKU, sebagai alat pendidikan, merupakan rangsangan dan dorongan bagi para Pramuka untuk memperoleh kecakapan-kecakapan yang berguna baginya, untuk berusaha mencapai kemajuan, dan untuk memenuhi persyaratan sebagai anggota Gerakan Pramuka.

b) SKU disusun menurut pembagian golongan usia Pramuka yaitu golongan Siaga, golongan Penggalang, golongan Penegak dan golongan Pandega.

(18)

11

d) SKU untuk golongan Penegak, terdiri atas 2 tingkat, yaitu: tingkat Bantara, Laksana, dan Pandega

e) TKU diraih oleh peserta didik melalui bentuk ujian-ujian yang dilakukan secara perseorangan.

2) SKK dan TKK

a) SKK adalah syarat kecakapan khusus berupa kecakapan, kepandaian, kemahiran, ketangkasan, keterampilan, dan kemampuan di bidang tertentu, yang lain dari kemampuan umum yang ditentukan dalam SKU.

b) SKK dipilih seorang Pramuka sesuai dengan minat dan bakatnya.

c) TKK sebagai alat pendidikan, merupakan rangsangan dan dorongan bagi para Pramuka untuk memperoleh kecakapan, dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan dan penghidupannya sesuai dengan bakat dan keinginannya sehingga dapat mendorong semangat menjadi wiraswastawan di masa mendatang.

d) TKK diperoleh setelah meyelesaikan ujian-ujian SKK yang bersangkutan.

e) TKK dikelompokkan menjadi 5 bidang:Agama, Bidang Patriotisme dan Seni Budaya, Bidang Keterampilan dan Teknik Pembangunan, Bidang Ketangkasan dan Kesehatan, dan Bidang sosial, Perikemanusiaan, Gotong royong, Ketertiban Masyarakat, Perdamaian Dunia dan Lingkungan Hidup. TKK dibedakan atas tingkatan-tingkatan, yaitu Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega.

3) PG/TPG

Seorang yang telah menyelesaikan SPG disebut sebagai Pramuka Garuda, berhak menyandang TPG menjadi teladan bagi teman-temannya di gudep dan masyarakat di sekitarnya. SPG/TPG terdapat di semua golongan usia Pramuka.

4) Penguji

Penguji SKU adalah Pembina/Pembantu Pembina Pramuka yang langsung membina Pramuka yang diuji.

g. Jenis Kegiatan Pembentuk Karakter

Pramuka sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sangat relevan sebagai wadah penanaman nilai karakter. Nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kepramukaan adalah sebagai berikut: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Berikut keterampilan kepramukaan yang dapat membentuk karakter peserta didik, termasuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

1) Keterampilan Tali Temali a) Cara dan manfaat

Keterampilan Tali Temali digunakan dalam berbagai keperluan di antaranya membuat tandu, memasang tenda, membuat tiang jemuran, dan tiang bendera. Setiap anggota gerakan pramuka diharapkan mampu dan dapat membuat dan menggunakan tali-temali dengan baik.

b) Implementasi Nilai Karakter

Membuat simpul dan ikatan diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, dan tanggung jawab. Membuat tandu diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, dan tanggung jawab.

2) Keterampilan Pertolongan Pertama Gawat Garurat(PPGD) a) Cara dan Manfaat

(19)

12

sementara. Langkah berikutnya tetap harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

b) Implementasi Nilai Karakter:

Mencari dan memberi obat diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, tanggung jawab, dan peduli sosial. Membalut luka, menggunakan bidai dan mitela diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, tanggung jawab, dan peduli sosial.

2) Ketangkasan Pionering a) Cara dan Manfaat

Ada beberapa kegiatan keterampilan dan pengetahuan yang sekiranya dapat membantu membuat kegiatan kepramukaan tetap menarik dan menantang minat peserta didik untuk tetap menjadi anggota gerakan pramuka.Kegiatan ketangkasan pionering merupakan kegiatan yang sudah biasa dalam kegiatan kepramukaan.Kegiatan itu meliputi membuat gapura, menara pandang, membuat tiang bendera, membuat jembatan tali goyang, meniti dengan satu atau dua tali.

b) Implementasi Nilai Karakter:

Dalam kegiatan membuat gapura, menara pandang dan membuat tiang bendera diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, percaya diri, ketekunan, dan kerjasama. Dalam kegiatan membuat jembatan tali goyang dan meniti dengan satu atau dua tali diharapkan dapat membentuk karakter keberanian, ketelitian, percaya diri, ketekunan, dan kesabaran.

3) Keterampilan Morse dan Semaphore a) Cara dan manfaat

Kedua keterampilan ini sebenarnya merupakan bahasa sandi dalam kepramukaan. Perbedaan keduanya adalah terletak pada penggunaan media. Morse menggunakan media peluit, senter, bendera, dan pijatan. Semaphore menggunakan media bendera kecil berukuran 45 cm X 45 cm. Keterampilan ini perlu dimiliki oleh setiap anggota gerakan pramuka agar dalam kondisi darurat mereka tetap dapat menyampaikan pesan. b) Implementasi Nilai Karakter:

Morse dan Semaphore diharapkan dapat membentuk karakter kecermatan, ketelitian, tanggung jawab, dan kesabaran.

4) Keterampilan Membaca Sandi Pramuka a)Cara dan Manfaat

Keterampilan ini sangat diperlukan dalam kegiatan penyampaian pesan rahasia dengan menggunakan kunci yang telah disepakati. Seorang pramuka harus dapat dipercaya untuk dapat melakukan segala hal termasuk penyampaian dan penerimaan pesan-pesan rahasia. Dalam menyampaikan pesan rahasia ini diperlukan kode-kode tertentu yang dalam kepramukaan disebut sandi. Sandi dalam pramuka antara lain sandi akar, sandi kotak biasa, sandi kotak berganda, sandi merah putih, sandi paku, dan sandi angka. b)Implementasi Nilai Karakter:

Sandi akar, sandi kotak biasa, sandi kotak berganda, sandi merah putih, sandi paku, dan sandi angka diharapkan dapat membentuk karakter kreatif, ketelitian, kerjasama, dan tanggung jawab.

5) Penjelajahan dengan Tanda Jejak a)Cara dan Manfaat

(20)

13

pramuka harus dapat memanfaatkan fasilitas alam sebagai petunjuk arah dan atau tanda bahaya kepada teman kelompoknya.

b)Implementasi Nilai Karakter:

Penjelajahan dengan memasang dan membaca tanda jejak diharapkan dapat membentuk karakter religius, toleransi, cinta tanah air, peduli lingkungan, kerja sama, dan tanggung jawab.

6) Kegiatan Pengembaraan a) Cara dan Manfaat

Kegiatan pengembaraan ini bukan sekedar jalan-jalan di alam bebas atau rekreasi bersama melainkan melakukan perjalanan dengan berbagai rintangan yang perlu diperhitungkan agar tujuan kita dapat dicapai. Hal ini dengan sendirinya juga mendidik generasi muda bahwa untuk dapat mencapai cita-cita itu banyak rintangan dan sangat memerlukan perjuangan yang kuat. Oleh karena itu, pendidikan di alam bebas dengan berbagai rintangan merupakan pendidikan yang menantang dan menyenangkan.

b) Implementasi Nilai Karakter:

Kegiatan pengembaraan ini diharapkan dapat membentuk karakter mandiri, peduli lingkungan, tangguh, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, peduli sosial, ketelitian, dan religius.

7) Keterampilan Baris-Berbaris (KBB) a)Cara dan manfaat

Di lingkungan gerakan pramuka, peraturan berbaris disebut keterampilan baris-berbaris. Kegiatan ini merupakan keterampilan untuk melaksanakan perintah atau instruksi yang berkaitan dengan gerakan-gerakan fisik. Keterampilan Baris-berbaris ini dilakukan untuk melatih kedisiplinan, kekompakan, keserasian, dan seni dalam berbaris. b)Implementasi Nilai Karakter:

Keterampilan baris-berbaris ini diharapkan dapat membentuk karakter kedisiplinan, kreatif, kerja sama, dan tanggung jawab.

8) Keterampilan Menentukan Arah a)Cara dan Manfaat

Keterampilan ini merupakan suatu upaya bagi anggota gerakan pramuka untuk mengetahui arah. Dalam penentuan arah ini dapat digunakan kompas, dan benda yang ada di alam sekitar, misalnya: kompas sederhana (silet, magnet, dan air) bintang, pohon, dan matahari. Hal ini sangat penting apabila anggota gerakan pramuka itu tersesat di alam bebas ketika melakukan pengembaraan.

b)Implementasi Nilai Karakter:

Keterampilan menentukan arah ini diharapkan dapat membentuk karakter kreatif, kerja keras, rasa ingin tahu, dan kerja sama.

h. Internalisasi Nilai-nilai Karakter

Beberapa strategi yang dapat lakukan untuk membentuk karakter peserta didik melalui kegiatan ekstra kurikuler pramuka adalah sebagai berikut;

1) Intervensi

(21)

14

2) Pemberian Keteladanan

Kepala sekolah dan guru pembimbing peserta didik adalah model bagi peserta didik. Apa saja yang mereka lakukan, banyak yang ditiru dengan serta merta oleh peserta didik. Oleh karena itu, berbagai karakter positif yang mereka miliki, sangat bagus jika ditampakkan kepada peserta didik dengan maksud agar mereka mau meniru atau mencontohnya.Karakter disiplin yang ingin disemaikan kepada peserta didik, haruslah dimulai dengan contoh keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah dan guru, termasuk ketika dalam pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler pramuka.Karakter disiplin yang dicontohkan oleh kepala sekolah dan guru dalam kegiatan ekstra kurikuler pramuka ini, dapat diwujudkan dalam bentuk selalu hadir tepat waktu saat latihan/kegiatan ekstra kurikuler pramuka, mentaati waktu dan jadwal latihan yang disepakati. Dengan contoh konkret yang diberikan secara terus menerus, dan kemudian ditiru secara terus menerus, akan membentuk karakter disiplin peserta didik.

3) Habituasi/Pembiasaan

Ada ungkapan menarik terkait pembentukan karakter peserta didik: “Hati-hati dengan kata-katamu, karena itu akan menjadi kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena itu akan menjadi karaktermu”. Ini berarti bahwa pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus, akan mengkristal menjadi karakter.

Ada ungkapan senada terkait dengan pembentukan kebiasaan ini. Yaitu, “Biasakanlah yang benar, dan jangan membenarkan kebiasaan”. Kebenaran harus dibiasakan agar membentuk karakter yang berpihak pada kebenaran. Semenara itu, tidak semua kebiasaan itu benar, dan oleh karena itu, hanya yang benar saja yang perlu dibiasakan. Sementara yang salah, sebagai salah satu ujung dari karakter yang tidak positif, hendaknya tidak dibiasakan. Dalam realitas kehidupan, orang menjadi bisa karena biasa atau banyak membiasakan.

4) Mentoring/pendampingan

Pendampingan adalah suatu fasilitasi yang diberikan oleh pendamping kegiatan ekstra kurikuler pramuka terhadap berbagai aktivitas yang dilaksanakan oleh peserta didik, agar karakter positif yang sudah disemaikan, dicangkokkan dan diintervensikan tetap terkawal dan diimplementasikan oleh peserta didik. Dalam proses pendampingan ini, bisa terjadi terdapat persoalan actual riil keseharian yang ditanyakan peserta didik kepada pembimbingnya, sehingga pembimbing yang dalam hal ini berfungsi sebagai mentor, dapat memberikan pencerahan sehingga tindakan peserta didik tidak keluar dari koridor karakter positif yang hendak dikembangkan.

Pembimbing peserta didik, dalam proses-proses pendampingan (mentoring), juga bisa mengedepankan berbagai kelebihan dan kekurangan, efek positif dan negatif setiap tindakan manusia, serta keuntungan dan kerugian (jangka pendek dan jangka panjang), baik tindakan yang positif maupun negatif. Dengan demikian, sebelum dan selama peserta didik bertindak, senantiasa dikerucutkan pada tujuan-tujuan yang positif dan juga dengan menggunakan cara-cara yang positif.Untuk mencapai tujuan yang baik hanya boleh dengan menggunakan tindakan yang baik dan dengan menggunakan cara yang baik juga. Tujuan tidak membolehkan segala cara untuk mencapainya, sebaik dan sepositif apapun tujuan tersebut. Hanya dengan cara yang baiklah, tujuan yang baik itu boleh dicapai.

5) Penguatan

(22)

15

sebayanya. Sebab, jika peer group peserta didik telah “dikuasi” oleh peer group-nya, termasuk peer group yang mengarahkan ke tindakan-tindakan yang negatif, akan sangat sukar dikuasai oleh pembimbingnya. Penguasaan atas peserta didik ini dapat ditempuh dengan secepatnya memberikan penguatan terhadap perilaku berkarakter positif.

6) Keterlibatan Berbagai Pihak

Berbagai pihak yang sepatutnya terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler pramuka adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, guru pembimbing ekstra kurikuler pramuka, komite sekolah, pengawas sekolah dan orang tua siswa. Berbagai bentuk keterlibatan berbagai pihak tersebut dapat bertanggung jawab sebagai berikut: a) Kepala Sekolah Sebagai Ketua Mabigus.

b) Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan

c) Pembimbing Kegiatan Ektra Kurikuler Pramuka sebagai Ketua Gugus Depan Pramuka

d) Pengawas Sekolah e) Komite Sekolah.

(dikutip: Bahan Pelatihan Kepramukaan. Pusbangtendik. 2014. Jakarta)

III. EVALUASI KEGIATAN PESERTA DIDIK

Menurut Wand dan Brown (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;57), evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi hasil belajar peserta didik berarti kegiatan menilai proses dan hasil belajar siswa baik yang berupa kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pasaribu dan Simanjuntak (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;58), menyatakan bahwa: (1) Tujuan umum dari evaluasi peserta didik adalah: a. Mengumpulkan data yang membuktikan taraf kemajuan peserta didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan. b. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat, c. Menilai metode mengajar yang digunakan. (2) Tujuan khusus dari evaluasi peserta didik adalah: a. merangsang kegiatan peserta didik, b. menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan belajar peserta didik, c. memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan, d. untuk memperbaiki mutu pembelajaran/cara belajar dan metode mengajar.

(23)

16

Mekanisme penilaian dapat diterjemahkan sebagai feedback (umpan balik) dari siswa tentang ketercapaian pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai indikator keberhasilan guru sebagai agen pembelajaran, hal ini bila penilaian tersebut jika dilakukan oleh guru yang mengajar mata pelajaran tertentu. Sedangkan penilaian yang dilakukan oleh sekolah merupakan feedback dari siswa dalam kurun waktu selama belajar di sekolah tersebut sehingga sekolah dapat memberikan predikat maupun prestasi sebagai hasil anak didik di akhir tahun kenaikan tingkat atau kelulusan.

A. Fungsi Evaluasi

Fungsi evaluasi peserta didik melipui: 1. Fungsi selektif

Sekolah mengadakan evaluasi, sedangkan guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap peserta didiknya. Evaluasi dalam hal ini bertujuan untuk : memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu, memilih peserta didik yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya, memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa, memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.

2. Fungsi diagnostik

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, dengan melihat hasilnya guru akan dapat mengetahui kelemahan peserta didik, sehingga lebih mudah untuk mencari cara mengatasinya.

3. Fungsi penempatan

Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan peserta didik adalah pengajaran secara kelompok.

Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang peserta didik harus ditempatkan.

4. Fungsi pengukur keberhasilan program

Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana suatu program berhasil diterapkan. Secara garis besar ada dua macam alat evaluasi, yaitu tes dan non tes, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu dengan yang lain (FL. Goodenough, dalam Anas Sudjiono, 1995:67). Bukan tes (non tes) diartikan sebagai cara atau prosedure yang dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik melainkan dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (question-naire). Atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis) (Anas Sudjono, 1995:76)

Teknik non tes digunakan untuk mengetahui peserta didik dari ranah sikap (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan tec domain), sedangkan tes digunakan untuk men mengevaluasi hasil evaluasi hasil belajar pada ranah proses berfikiah proses berfikirnya (cognitinya (cognitive domain).

(24)

17

1. Tes Tertulis

Tes tertulis yang baik dan tepat sebaiknya diberikan dengan jawaban uraian, sebab dapat mengetahui kemampuan peserta didik secara lebih komprehensif, walaupun tes tertulis dapat berbentuk memilih jawaban. Jawaban uraian akan memberikan informasi tentang kemampuan peserta didik dalam mengorganisasikan gagasannya secara sistematis.

2. Tes Performansi (tindakan)

Tes tindakan ini merupakan penilaian yang menuntut peserta didik menyelesaikan tugas dalam bentuk perbuatan yang diamati.

3. Tes Penugasan atau proyek

Penugasan atau proyek dimaksudkan untuk menggali informasi tentang kemampuan peserta didik dalam mengintegrasikan seluruh pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk laporan atau karya tulis. Waktu yang diperlukan dalam melaksanakan tugas relatif lama dalam pengerjaannya.

4. Tes Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja dan tugas peserta didik yang diberi komentar tentang tingkat kemajuan peserta didik tersebut. Portofolio sangat bermanfaat untuk pelayanan peserta didik secara individual. Dalam melaksanakan penilaian berbasis kelas, tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berbentuk tugas individu maupun kelompok.

5. Tes diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Kedudukan diagnosis adalah dalam menemukan letak kesulitan belajar peserta didik dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar.

6. Tes formatif

Tes formatif atau evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu. Jenis penilaian ini juga berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

7. Tes sumatif

Tes sumatif atau evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhir pemberian sekelompok program atau pokok bahasan. Jenis penilaian ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar peserta didik. Hasil evaluasi terhadap peserta didik tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan umpan balik.

8. Tes Ulangan Akhir Semester (UAS), Ulangan Kenaikan Kelas, Ujian Sekolah dan Ujian Nasional

Tes akhir semester atau akhir tahun (kenaikan kelas) maupun ujian sekolah/ujian nasional dilaksanakan setelah berakhir pemberian mata pelajaran di akhir semester, di akhir tahun,

Alat Penilaian

NON TES TES

1) Lisan = Individual dan Kelompok 2) Tulisan= esai dan obyektif

Esai = berstruktur, bebas, terbatas Obyektif= benar salah, menjodohkan Isian pendek, pilihan ganda. 3) Tindakan= individu dan Kelompok

(25)

18

atau menamatkan pendidikan dalam jenjang tertentu. Jenis penilaian ini berfungsi untuk menentukan tuntas dan tidaknya peserta didik dalam standar Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM) di akhir periode tertentu. Materi tes biasanya ditentukan oleh ketentuan musyawarah Guru Mata Pelajaran/Kelompok Kerja Guru. Sedangkan untuk ujian sekolah maupun ujian nasional biasanya selain hasil dari MGMP/KKG juga berdasarkan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Hasil evaluasi terhadap peserta didik tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan laporan hasil nilai seluruh mata pelajaran kepada orang tua peserta didik.

B. Tindak Lanjut Evaluasi

Ada dua kegiatan dalam menindaklanjuti hasil penilaian peserta didik, antara lain; 1. Program Remedial

Belajar tuntas merupakan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Maksud utama konsep belajar tuntas adalah upaya agar dikuasainya bahan secara tuntas oleh sekelompok peserta didik yang sedang mempelajari bahan tertentu secara tuntas. Tingkat ketuntasan ini bermacam-macam dan merupakan peryaratan (kriteria) minimum yang harus dikuasai peserta didik. Batas minimum ini kadang-kadang dijadikan dasar kelulusan bagi peserta didik yang menempuh bahan tersebut.

Biasanya dipersyaratkan penguasaan bahan pelajaran bergerak antara 75% sampai 90%. Penanganan masalah kesulitan belajar, secara metodologis dapat dilakukan melalui pendekatan pengajaran remedial, bimbingan dan penyuluhan, psikoterapi atau dengan pendekatan lainnya. Dalam hal pengajaran remedial, kegiatan ini dilakukan dengan beberapa alasan, antara lain : a. Masih banyak peserta didik yang menunjukkan belum dapat mencapai prestasi belajar yang

diharapkan

b. Guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan, yang berarti bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui pencapaian standar kompetensi yang diharapkan c. Pengajaran remedial diperlukan dalam rangka melaksanakan proses belajar yang sebenarnya,

yaitu sebagai proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan

d. Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan dan penyuluhan melalui interaksi belajar mengajar.

Pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, maksudnya dalam proses pengajaran remedial secara lansung maupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau keseluruhan kesulitan belajar yang dihadapi oleh peserta didik. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian peserta didik.

Adapun tujuan pengajaran remedial adalah :

a. Secara umum pengajaran remedial bertujuan agar peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses penyembuhan atau perbaikan, baik dalam segi kepribadian peserta didik maupun segi proses belajar mengajar. b. Secara khusus pengajaran remedial bertujuan agar peserta didik :

1) Memahami dirinya sendiri, hal ini menyangkut prestasi belajarnya dari segi kekuatan, kelemahan, jenis dan sifat kesulitannya

2) Dapat mengubah/memperbaiki cara-cara belajar kearah yang lebih sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya

3) Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat

(26)

19

5) Dapat mengembangkan sikap-sikap dan kebiasaan yang baru yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik

6) Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan.

Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan yang logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar. Adapun langkah-langkah dalam pengajaran remedial, antara lain:

a. Penelaahan kembali kasus dan permasalahannya b. Menentuakan alternative pilihan tindakan

c. Melaksanakan layanan bimbingan dan penyuluhan/psikoterapi d. Melaksanakan pengajaran remedial

e. Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali f. Mengadakan re-evaluasi dan re-diagnostik

Sasaran akhir kegiatan remedial identik dengan pengajaran biasa (pada umumnya) yaitu membantu setiap peserta didik dalam batas-batas normalitas tertentu agar dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin sehingga dapat mencapai tingkat penguasaan atau ketuntasan tertentu, sekurang-kurangnya sesuai dengan batas kriteria ketuntasan keberhasilan yang dapat diterima. Secara empirik sasaran strategis tersebut tidak selamanya dapat dicapai dengan pendekatan sistem pengajaran secara konvensional, sehingga perlu dicari upaya pendekatan strategis lainnya. Ada dua strategi yang bisa dilakukan dalam pengajaran remedial, yaitu :

a. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat kuratif

Tindakan ini dapat dikatakan kuratif apabila dilakukan setelah selesai program pembelajaran utama diselenggarakan. Hal ini dilakukan atas dasar bahwa ada seseorang atau beberapa orang atau keseluruhan peserta didik dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan program proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pendekatan pengajaran yang dapat diterapkan, antara lain :

1) Pengulangan, dapat dilakukan pada setiap akhir jam pertemuan, pada setiap akhir unit (satuan bahan) pelajaran tertentu, dan pada akhir setiap satuan program studi (triwulan, semester, tahunan). Pelaksanaan layanan pengajaran remedial ini dapat diberikan dan diorganisasikan dengan cara: (a) Perorangan (individual), apabila peserta didik yang memerlukan bantuan jumlahnya terbatas, (b) Kelompok (peer group), apabila terdapat sejumlah peserta didik yang mempunyai jenis/sifat kesalahan atau kesulitan bersama, bahkan bisa juga terjadi dalam mata pelajaran tertentu dialami oleh peserta didik dalam satu kelas secara keseluruhan. Waktu dan cara pelaksanaannya dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, seperti contoh di bawah ini :

(a)) Diadakan pada jam pertemuan kelas biasa, apabila sebagian atau seluruh anggota kelas mengalami kesulitan yang serupa, dengan cara :

(1)) Bahan pelajaran dipresentasikan kembali dengan penjelasannya

(2)) Diadakan latihan/penugasan/soal kembali yang bentuknya sejenis dengan tugas soal terdahulu

(3)) Diadakan pengukuran dan penilaian kembali untuk mendeteksi hasil peningkatannya kearah kriteria keberhasilan yang diharapkan.

(b)) Diadakan di luar jam pertemuan biasa, dengan cara :

(1) Diadakan jam pelajaran tambahan pada hari, jam, tempat tertentu apabila yang mengalami kesulitan hanya seseorang/sejumlah peserta didik tertentu (missal sore hari, sehabis jam pelajaran biasa, waktu istirahat, dan sebagainya)

(27)

20

(c)) Diadakan kelas remedial (khusus bagi peserta didik) yang mengalami kesulitan belajar tertentu, dengan cara :

(1) Peserta didik lainnya belajar dalam kelas biasa, sedangkan untuk peserta didik tertentu dengan mendapat bimbingan khusus (remidial) dari guru yang sama atau guru yang telah ditunjuk sampai yang bersangkutan mencapai tingkat penguasaan tertentu sehingga dapat bersama-sama lagi dengan teman sekelasnya.

(2) Diadakan ulangan secara total, apabila peserta didik yang bersangkutan prestasinya sangat jauh dari batas kriteria keberhasilan minimal dalam hampir keseluruhan program (mata pelajaran), secara konvensional disebut dengan tinggal kelas.

2) Pengayaan dan pengukuhan

Layanan pengayaan ditujukan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar ringan. Materi program pengayaan dalam hal ini dapat bersifat :

(a) Ekuivalen (horizontal) dengan Kegiatan Belajar Mengajar utama, sehingga bobot nilainya dapat diperhitungkan oleh peserta didik yang bersangkutan

(b) Suplementer saja terhadap program Kegiatan Belajar Mengajar utama, dengan tidak menambah bobot nilai tertentu yang penting dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan atau keterampilan bagi peserta didik yang relatif lemah, dan memberikan dorongan serta kesibukan bagi peserta didik yang cepat belajar untuk mengisi kelebihan waktunya dibanding dengan teman sekelasnya.

Teknik pelaksanaannya dapat dengan cara :

(a) Berupa tugas/soal pekerjaan rumah bagi peserta didik yang lambat belajar

(b) Berupa tugas/soal yang dikerjakan di kelas pada jam pelajaran tersebut, sementara peserta didik yang lain mengerjakan program Kegiatan Belajar Mengajar utama) bagi peserta didik yang cepat belajar.

3) Percepatan

Alternatif lain adalah memberikan layanan kepada kasus berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial atau ego emosional, dengan jalan mengadakan akselerasi atau promosi kepada program Kegiatan Belajar Mengajar utama berikutnya yang lebih tinggi. Ada dua kemungkinan pelaksanaannya, antara lain :

(a) Promosi penuh status akademisnya ke tingkat yang lebih tinggi sebatas kemungkinannya, apabila peserta didik menunjukkan keunggulan yang menyeluruh dari bidang studi yang ditempuhnya dengan luar biasa (dilakukan dengan placement test dari tingkat yang akan ia masuki)

(b) Maju berkelanjutan (continous progress) tidak diartikan sebagai promosi status akademisnya secara keseluruhan, tetapi pada beberapa bidang studi tertentu dimana kasus sangat menonjol dapat diberikan layanan dengan program/bahan pelajaran yang lebih tinggi sebatas kemampuannya, status akademisnya tetap sama dengan teman sekelasnya.

b. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat preventif Teknik layanan pengajaran yang digunakan adalah :

1) Layanan kepada kelompok belajar homogin 2) Layanan pengajaran individual

3) Layanan pengajaran secara kelompok dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan

c. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat pengembangan

Gambar

Gambar Hubungan penggunaan waktu, tenaga, biaya dan hasil yang diharapkan Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan daya C dan hasil D yang paling efisien,

Referensi

Dokumen terkait