• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Kelompok 1 Kejang Demam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH Kelompok 1 Kejang Demam"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH MAKALAH

KEJANG DEMAM SEDERHANA KEJANG DEMAM SEDERHANA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“KGDS IIKGDS II””

Disusun oleh : Disusun oleh : Ayu

Ayu andikasari andikasari putri putri (1301050323)(1301050323) Gusti ayu putu inten L (1301050332) Gusti ayu putu inten L (1301050332) Septa

Septa dwi dwi anggraini anggraini (1301050348)(1301050348) Clemensia

Clemensia dala dala pede pede (1201030271)(1201030271)

PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG

TA. 2017 TA. 2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa, berkat rahmat dan hidayahnya kelompok dapat meyelesaikan sebuah makalah ini.Yang alhamdulliah tepat pada waktunya, dengan sebuah materi tentang “Kejang demam sederhana”.  Dalam hal ini kami masih belajar mohon maaf abila ada kekurangan atau kesalahan dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini berisikan tentang penjelasan lebih mendalam mengenai “Kejang demam sederhana” Yang alhamdulilah telah selesai disusun dengan baik, untuk bisa dipahami oleh pembaca. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi mengenai “KEJANG DEMAM SEDERHANA”. Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah KGDS II.

Kelompok menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Tuhan senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

Malang, 09 maret 2017 Penulis

(3)

BAB 1 PEMBAHASAN

 A. Definisi

Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh lebih dari 38oC yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium pada

anak usia kurang dari 6 tahun dan tidak ada infeksi sistem saraf pusat maupun ganguan metabolik sistemik akut. (Sarah, 2016)

Secara umum kejang demam diklasifikasikan menjadi: 1. Kejang demam sederhana (KDS)

Beberapa criteria modifikasi Livingstone adalah sbb: a. Umur anak waktu kejang pertama 6 bulan-4 tahun

b. Kejang terjadi dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam c. Kejang bersifat umum

d. Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit

e. Frekuensi bangkitan kejang tidak lebih dari 4x/tahun.

f. Pemeriksaan EEG yang dibuat 10-14 hari sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan

g. Tidak ditemukan kelainan neurologic 2. Kejang demam kompleks, ditandai dengan:

a. Kejang disertai demam b. Bersifat fokal dan umum

c. Kejang berlangsung lebih dari 15 menit

Kejang multiple (lebih dari 4x dalam 24 jam), anak dapat memiliki kelainan neurologist sebelumnya atau riwayat kejang demam atau kejang tanpa demam.

(4)

B. Etiologi dan patogenesis

Etiologi dan patogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui pasti. Kejang demam biasanya diawali dengan infeksi virus atau bakteri. Penyakit yang paling seringdijumpai menyertai kejang demam adalah penyakit infeksi saluran pernapasan, otitis media, dan gastroenteritis. Umur anak, serta tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor hereditas  juga mempunyai peranan yaitu 8-22 % anak yang mengalami kejang demam

memiliki orangtua yang memiliki riwayat kejang demam pada masa kecilnya. Faktorpredisposisi timbulnya bangkitan kejang demam berhubungan dengan riwayat keluarga, riwayat kehamilan dan persalinan, gangguan tumbuh kembang anak, seringnya menderita infeksi, dan kadar elektrolit, seng dan besi darah rendah

Factor resiko kejang demam antara lain : 1. Demam

2. Riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung 3. Perkembangan terhambat

4. Problema pada masa neonatus 5. Anak dalam perawatan khusus 6. Kadar Na rendah

C. Patofisiologi dan manifestasi klinik

Pada keadaan umum demam, kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan

kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membrane sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi K+ dan Na+ melalui membrane, terjadi lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun membrane sel sekitarnya dengan bantuan bahan neuron transmitter dan terjadilah kejang. Setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda.

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa, tetapi pada kejang yang berlangsung lama

(5)

(lebih dari 15 menit) biasanya terjadi disertai apnea, meningkatnya kebutuhan O2  dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,

hiperkapnia, asidosis laktat karena metabolisme anaerobic, hipertensi arteria disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin tinggi disebabkan meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan peningkatan metabolisme otak. Kerusakan neuron otak terjadi karena adanya gangguan peredaran darah menyebabkan hipoksia sehingga meningkatnya permeabilitas kapiler dan timbulnya edema otak.

Umumnya kejang berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik, atonik klonik bilateral, fokal atau akinetik, dapat terjadi seperti mata terbalik ke atas seperti kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa disertai kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak bereaksi ataupun sejenak dan setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa deficit neurologis.

D. Pemeriksaan Penunjang

Menurut arif, 2015 pemeriksaan penunjang untuk kejang demam antara lain : a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak rutin pada kejang demam, dapat untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah perifer, elektrolit, dan gula darah.

b. Pungsi Lumbal

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko meningitis bakterialis adalah 0,6

 –

6,7%. Pada bayi, sering sulit menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu, pungsi lumbal dianjurkan pada:

(6)

2. Bayi antara 12-18 bulan

 –

 dianjurkan

3. Bayi >18 bulan

 –

 tidak rutin Bila klinis yakin bukan meningitis, tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

c. Elektroensefalograf

Pemeriksaan elektroensefalograf ( electroencephalography / EEG) tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan epilepsi pada pasien kejang demam. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas, misalnya pada kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.

d. Pencitraan

MRI diketahui memiliki sensitivitas dan spesifsitas yang lebih tinggi dibandingkan CT scan, namun belum tersedia secara luas di unit gawat darurat. CT scan dan MRI dapat mendeteksi perubahan fokal yang terjadi baik yang bersifat sementara maupun kejang fokal sekunder. Foto  Xray kepala dan pencitraan seperti Computed Tomography scan (CTscan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:

1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)

2. Paresis nervus VL

3. Papiledema

Pemeriksaan dan observasi :

Pada kejang demam sederhana, anak <18 bulan sangat disarankan untuk dilakukan observasi dan pemeriksaan lebih lanjut seperti pungsi lumbal, sedangkan pada anak >18 bulan tidak harus observasi di rumah sakit jika kondisi stabil, keluarga perlu diberitahu jika terjadi kejang berulang maka harus dibawa ke rumah sakit. Pada kejang demam sederhana, pemeriksaan darah rutin, elektroensefalograf, dan neuroimaging tidak selalu dilakukan. Pemeriksaan pungsi lumbal

(7)

dilakukan pada pasien umur <18 bulan, dengan meningeal sign serta pasien dengan kecurigaan infeksi SSP. Pada kejang demam kompleks, pemeriksaan untuk mencari etiologi demam. Semua kejang demam kompleks membutuhkan observasi lebih lanjut di rumah sakit.8,9 Pungsi lumbal serta beberapa tindakan seperti elektroensefalograf dan CT scan mungkin diperlukan.3

E. Penatalaksanaan

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam Tahun 2006 membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri, berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal, kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Delapan puluh persen dari kejang demam merupakan kejang demam sederhana.

Secara umum :

Pada kebanyakan kasus, biasanya kejang demam berlangsung singkat dan saat pasien datang kejang sudah berhenti. Bila datang dalam keadaan kejang, obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB, dengan cara pemberian secara perlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam 3-5 menit, dan dosis maksimal yang dapat diberikan adalah 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau jika kejang terjadi di rumah adalah diazepam rektal 0,5 0,75 mg/kgBB, atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan diazepam rektal 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Jika anak di bawah usia 3 tahun dapat diberi diazepam rektal 5 mg dan untuk anak di atas usia 3 tahun diberi diazepam rektal 7,5 mg. Jika kejang belum berhenti, dapat diulang dengan cara dan dosis yang sama dengan interval 5 menit. Jika setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit. (Arief, 2015)

(8)

Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB. Jika kejang tetap belum berhenti, maka diberikan  phenytoin intravena dengan dosis awal 10- 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/ kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Jika kejang berhenti, maka dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kgBB/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Jika dengan  phenytoin kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Jika kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan factor risikonya. (Arief, 2015)

 Anak yang mengalami kejang demam pertama kali dan harus dirawat di RS, untuk dilakukan fungsi lumbal dan pemeriksaan penunjang lain. Penderita baru harus dirawat inap bila:

1. Kejang pertama perlu dilakukan fungsi lumbal dan observasi sehari. 2. Kejang lebih dari 20 menit

3. Dalam sehari terjadi 2x/lebih serangan kejang tidak beruntun

4. Ada penurunan kesadaran dan kelainan neurologik yang meragukan.

F. Diagnosa keperawatan

1. Hipertermi b.d proses infeksi

2. Resiko cedera b.d penurunan kesadaran pada saat kejang 3. Cemas b.d krisis situasional

(9)

Kasus

Pasien An. K, laki-laki, usia 13 bulan datang ke RS Abdul Maliek dengan keluhan kejang 1 kali selama 5 menit, berhenti tanpa obat 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Menurut keterangan keluarga kejang terjadi seluruh tubuh tangan dan kaki kaku lurus, mata mendelik ke atas dan tidak merespon saat dipanggil oleh orangtuanya. Keluhan disertai demam yang mendadak tinggi terus menerus disertai pilek, keluar cairan dari hidung berwarna putih jernih 1 hari sebelum kejang. Tidak disertai sesak, suara mengi dan tidak menggigil. Setelah kejang pasien tidur ± 1 jam dan dibawa ke bidan kemudian pasien dirujuk ke RS Abdul Moeloek karena pasien memiliki riwayat kejang disertai demam sebelumnya 6 minggu yang lalu. Ayah pasien pernah mengalami kejang demam 1 kali saat masih kecil. Pasien tidak pernah kejang tanpa demam. Tidak ada riwayat kejang tanpa demam di keluarga. Tidak ada riwayat terjatuh dengan kepala terbentur sebelum demam, tidak pingsan, tidak muntah dan tidak nyeri kepala. Tidak ada BAB cair ataupun penurunan nafsu makan. Pasien merupakan anak kedua dari dua orang bersaudara. Selama hamil ibu rutin memeriksakan kehamilannya ke bidan setiap 1 bulan sekali dan tidak ada keluhan atau penyulit selama kehamilannya. Pasien lahir cukup bulan, spontan, langsung menangis. Berat badan lahir 3500 gram dan panjang badan 50 cm. Pasien diberi ASI hingga usia saat dilakukan pemeriksaan, 6 bulan pertama pasien diberi ASI secara eksklusif. Pada usia 6 bulan pasien diberikan makanan pendamping yaitu bubur susu 2 kali sehari dan susu formula hingga usia 7 bulan. Kemudian, setelah 7 bulan pasien diberi makanan nasi tim (2-3x sehari), diselingi buah sekali sehari. Usia 9 bulan, pasien diberi makan dengan bubur nasi (3x sehari) dan buah (1x sehari). Usia 1 tahun hingga sekarang, pasien sudah diberi makanan menu keluarga dengan nasi, lauk dan sayur yang bervariasi (3x sehari) dan buah. Ibu pasien rutin membawa pasien ke Posyandu. Imunisasi dasar sudah lengkap sesuai  jadwal posyandu. Riwayat pertumbuhan dan status gizi baik, riwayat perkembangan sesuai umur. Hasil pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, denyut nadi 132x/menit reguler, isi dan tegangan cukup, denyut jantung 120x/menit, pernafasan 36x/menit tipe torakoabdominal, suhu 39,8oC ( peraxila), Status gizi baik berdasarkan BB/U, dengan berat badan saat ini 9,1 kg, panjang badan 79 cm. Mata dan telinga dalam batas normal. Mukosa hidung tampak hiperemis dan terdapat

(10)

sekret putih cair. Tenggorokan faring tidak hiperemis, tonsil T1- T1, pada leher tidak didapatkan pembesaran KGB (Kelenjar Getah Bening). Pada pemeriksaan torak,  jantung dalam batas normal. Pada auskultasi paru-paru didapatkan suara nafas vesikuler dikedua lapang paru, tidak ditemukan suara ronki. Ekstremitas superior dan inferior dalam batas normal. Padapemeriksaan neurologis, refleks fisiologis normal, tidak ditemukan rekfleks patologis maupun rangsang meningeal. Hasil pemeriksaan laboratorium darah, Hb: 11,5 gr/% , LED: 10 mm/jam, leukosit: 8200/ul, trombosit : 276.000/ul, hitung jenis: 0/0/0/63/33/4. Diagnosis pasien ini adalah kejang demam sederhana dengan rinitis akut. Pasien diberikan tatalaksana dengan pemberian O2 nasal 1 L/menit, diazepam 10 mg suppositoria, parasetamol sirup 4x1 cth, diazepam tablet 3x3 mg, cetirizine sirup 1x1/2 cth.

Pembahasan :

Berdasarkan anamnesis diketahui pasien demam disertai keluhan pilek, keluar cairan dari hidung berwarna putih jernih tidak disertai sesak dan suara mengi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan mukosa hidung tampak hiperemis dan terdapat sekret putih cair. Hal tersebut mengacu pada ISPA yang disebabkan oleh virus atau dapat terdiagnosis lebih spesifik dengan rinitis akut. Demam disebabkan oleh infeksi virus merupakan penyebab terbanyak timbul bangkitan kejang demam (80%).

Pemeriksaan penunjang yang digunakan adalah pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pungsi lumbal untuk memeriksa cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6

 –

6,7 %.

Pada kasus ini secara klinis tidak ditemukan gejala yang mengarah pada infeksi intracranial sehingga pemeriksaan pungsi tidak perlu dilakukan. Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan elektrolit dan gula darah sewaktu. Hal ini kurang sesuai karena kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolism basal 10

 –

15 %. Mengakibatkan peningkatan glukosa dan oksigen. Selain itu, dapat terjadi perubahan

(11)

keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium. Dilain pihak, pemeriksaan elektrolit juga penting untuk memastikan apakah ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh yang menjadi pencetus kejang demam.1,9 Pada kasus kejang demam terdapat tiga hal penting dalam tatalaksana, yaitu menghentikan kejang, mencari dan mengobati penyebab serta pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam. Pada fase akut dengan tujuan menghentikan kejang, saat pasien kejang yang harus dilakukan adalah melepas pakaian ketat dan pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi apabila muntah. Untuk menghentikan kejang, obat yang diberikan pertama kali adalah diazepam per rektal 10 mg, lalu kemudian bila kejang berulang bisa diberikan diazepam per rektal dengan dosis yang sama yaitu 10 mg. 1,5,12 Pada pasien ini, kejang berhenti tanpa diberikan obat. Namun jika terjadi kejang berulang pada kasus kejang demam terapi yang seharusnya diberikan adalah pemberian diazepam per rektal dengan dosis 10 mg diulang 2 kali apabila kejang belum berhenti. Bila kejang tetap juga belum berhenti maka diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB terlebih dahulu secara perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit dengan dosis maksimal 20 mg.1,5 Bila kejang belum berhenti setelah pemberian diazepam IV maka diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10- 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 ml/kgBB/menit atau <50 mg/menit. Bila kejang telah berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah pemberian dosis awal. Namun, bila kejang belum juga berhenti maka pemberian fenitoin diulang dengan dosis setengah dari dosis awal. Dan bila dengan fenitoin kejang belumberhenti maka pasien harus dirawat di ICU.

(12)
(13)

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Rifqi Fadly. 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam. Continuing Medical Education. Volume 42.  Nomor 9. Jakarta: Dokter umum di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih,

Jakarta Pusat, Indonesia. Di Akses Pada Tanggal 9 Maret 2017.

O’Rourke, Dr Declan. 2002. Febrile Convulsions

Quick Reference

Guide for GPs. Children’s University Hospital . Di Akses Pada Tanggal 9 Maret 2017.

Ministry Of Health, NSW. 2016. Infants and Children: Acute Management Of Seizures. North Sydney. Di Akses Pada Tanggal 9 Maret 2017.

Sarah, Ratu Erika. 2016. Manajemen Kejang Demam Sederhana dengan Riwayat Kejang Demam pada Balita Usia 13 Bulan. J Medula Unila. Volume 4. Nomor 4. Lampung: Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung. Di Akses Pada Tanggal 9 Maret 2017.

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam petualangan kamu dari level ke level kamu dapat mengembangkan skill kamu, setelah level kamu mencapai level 11 kamu bisa melakukan digivolution dan kalau perkembangan level

Persaingan antara beberapa surat kabar kerap terjadi pada masa Demokrasi Liberal (1950-1959), diantaranya seperti Harian Rakjat dengan Pedoman, Abadi dengan Suluh Indonesia,

Sesuai dengan perumusan masalah, yaitu “bagaimanakah pemaknaan dan apa mitos yang dapat diungkap dari video Takotak Miskumis”, terungkap bahwa Cameo Project

Pada model pembelajaran kolaboratif kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya peserta didiklah yang harus lebih aktif. Guru

selaku ketua Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, serta sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan kepada penulis

Hasil perhitungan dan analisis data yang dilakukan dengan program SPSS menunjukan bahwa : (1) Variabel kredibilitas perusahaan berpengaruh positif terhadap variabel

Zona hambat yang dapat terbentuk pada penelitian ini dapat membuktikan bahwa tumbuhan Tabat Barito memiliki aktivitas antibakteri atau mampu menghambat dari

(2009), “Brand Relationships through Brand Reputation and Brand Tribalism,” Journal of Business Research, Vol. Great Community