• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN 1 clear.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN 1 clear.docx"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1.

1. TujuanTujuan a)

a) Untuk mengetahui hormon HCG berpengaruh terhadap katak jantan.Untuk mengetahui hormon HCG berpengaruh terhadap katak jantan.  b)

 b) Untuk mengetahui kemampuan katak dalam mempertahankan kondisi tubuh.Untuk mengetahui kemampuan katak dalam mempertahankan kondisi tubuh. c)

c) Untuk mengetahui kemampuan denyut jantung kodok di dalam organ maupunUntuk mengetahui kemampuan denyut jantung kodok di dalam organ maupun di luar organ.

di luar organ. d)

d) Untuk mengetahui sirkulasi darah pada ikan dan dapat membedakan arteri danUntuk mengetahui sirkulasi darah pada ikan dan dapat membedakan arteri dan vena pada ekor ikan.

vena pada ekor ikan. e)

e) Untuk mengetahui gerak reflek pada katak yang dikaitkan oleh bermacam-Untuk mengetahui gerak reflek pada katak yang dikaitkan oleh bermacam-macam pacu yang meluputi pacuan mekanis, chemis, alektrik pada reseptor. macam pacu yang meluputi pacuan mekanis, chemis, alektrik pada reseptor.

2.

2. Foto Copy LKFoto Copy LK  NB: Terlampir  NB: Terlampir

3.

3. Langkah KerjaLangkah Kerja  NB : Lihat video  NB : Lihat video

4.

4. PembahasanPembahasan a.

a. Galli maniniGalli manini

Berdasarkan hasil pengamatan pada uji kehamilan dengan metode Berdasarkan hasil pengamatan pada uji kehamilan dengan metode Galli Manini tidak tampak sperma di mikroskop walaupun sudah disuntikan Galli Manini tidak tampak sperma di mikroskop walaupun sudah disuntikan urin wanita hamil. Hal ini bisa terjadi karena ada

urin wanita hamil. Hal ini bisa terjadi karena ada beberapa faktor antara lain :beberapa faktor antara lain : a)

a) Kodok yang disuntikan belum pubertas.Kodok yang disuntikan belum pubertas.  b)

 b) Praktikan kurang tepat dalam menyuntikan jumlah urin, sehingga jumlahPraktikan kurang tepat dalam menyuntikan jumlah urin, sehingga jumlah urin yang masuk kurang banyak atau malah berlebih.

urin yang masuk kurang banyak atau malah berlebih. c)

c) Kurangya ketepatan praktika dalam cara menyuntikan urin bisa jadi padaKurangya ketepatan praktika dalam cara menyuntikan urin bisa jadi pada saat penyuntikan terjadi banyak urin yang tidak masuk atau keluar dari saat penyuntikan terjadi banyak urin yang tidak masuk atau keluar dari tempat yang diinginkan.

tempat yang diinginkan. d)

d) Urin ibu Urin ibu hamil bisa hamil bisa jadi belum mengandung jadi belum mengandung HCG karena HCG karena hormon hCGhormon hCG diproduksi oleh blastosis pada hari ke 7-8 pasca fertilisasi (Widayati, diproduksi oleh blastosis pada hari ke 7-8 pasca fertilisasi (Widayati, 2013).

2013).

b.

b. Termoregulasi PoikilotermTermoregulasi Poikiloterm

Katak termasuk ke dalam kelas amphibi. Hewan amphibi merupakan Katak termasuk ke dalam kelas amphibi. Hewan amphibi merupakan hewan poikiloterm. Suhu tubuh hewan poikiloterm ditentukan oleh hewan poikiloterm. Suhu tubuh hewan poikiloterm ditentukan oleh keseimbangannya dengan kondisi suhu lingkungan, dan berubah-ubah seperti keseimbangannya dengan kondisi suhu lingkungan, dan berubah-ubah seperti  berubahnya-ubahnya

 berubahnya-ubahnya kondisi kondisi suhu suhu lingkungan. lingkungan. Hewan Hewan ini ini mampu mampu mengaturmengatur suhu tubuhnya sehingga mendekati suhu lingkungan. Pengaturan untuk suhu tubuhnya sehingga mendekati suhu lingkungan. Pengaturan untuk

(2)

menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan dingin dilakukan dengan cara memanfaatkan input radiasi sumber panas yang ada di sekitarnya sehingga suhu tubuh di atas suhu lingkungan dan pengaturan untuk menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan panas dengan penguapan air melalui kulit dan organ-organ respiratori menekan suhu tubuh beberapa derajat di bawah suhu lingkungan(Eka, 2012).

Dari data pengamatan termoregulasi poikiloterm kodok mengalami  perubahaan suhu pada tubuhnya. Suhu awal tubuh kodok yaitu 29  saat dimasukkan kedalam air dingin suhu tubuhnya turun berubah menjadi 18 dan begitu juga saat dimasukkan kedalam air panas suhu tubuhnya naik  berubah menjadi 32. Hal ini membuktikan bahwa katak dapat

menyeimbangkan kondisi tubuhnya dengan kondisi lingkungannya.

c. Kemampuan Denyut Jantung Katak

Jantung katak berbeda dengan jantung manusia. Jantung katak maupun mamalia mempunya centrum automasi sendiri artinya tetap berdenyut meskipun telah diputuskan hubungannya dengan susunan syaraf atau di keluarkan dari tubuh. Secara anatomis jantung katak terbagi menjadi tiga ruang yaitu sinus venosus, dua atrium dan satu ventrikel(Faridha,2013).

Pada percobaan1 kemampuan denyut jantung sebelum dilepas dilakuan 3 perlakuan. Perlakuan pertama yaitu tanpa diberi perlakuan rata- rata denyut  jantungnya 56.67. perlakuan kedua ditetesi aqudes rata-rata den yut jantungnya 50.33. Perlakuan ketiga ditetesi NaCl 0. 85 % rata-rata denyut jantungnya 47.67. Dari ketiga perlakuan tersebut dapat memperlihatkan bahwa denyut  jantung katak menjadi lebih lambat setelah ditetesi NaCl 0.85%. Hal ini disebabkan karena larutan NaCl 0,85% bersifat hipotonis dan mempengaruhi regulasi tekanan osmotis pada sel-sel otot jantung sehingga kontraksi otot  jantung menjadi lemah (Faridha, 2013).

Pada percobaan 2 kemampuan denyut sesudah dilepas dilakukan 3  perlakuan. Perlakuan pertama yaitu ta denyunpa diberi perlakuan rata-rata denyut jantungnya 37.3. Perlakuan kedua ditetesi aquades rata-rata denyut  jantungnya 50.3. Perlakuan ketiga ditetesi NaCl 0.85% rata-rata denyut  jantungnya 46.67. Dari ketiga perlakuan tersebut rata-rata denyut jantung katak setelah dilepas tidak beraturan. Hal ini dikarenakan kurang telitinya  praktikan saat menghitung denyut jantung katak yang seharusnya denyut  jantung katak akan semakin lemah saat ditetesi NaCl 0.85% karena bersifat

(3)

d. Sirkulasi Darah Pada Ekor Ikan

Dari hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa pada ekor ikan mas ada 2  pembuluh darah, yaitu pembuluh darah arteri dan pmbuluh darah vena. Aliran darah pada pembuluh darah arteri menuju ke ekor dan alirannya lebih cepat dari pada pembuluh darah vena. Aliran darah pada pembuluh darah vena menuju ke kepala dan alirannya lebih lambat dari pembuluh darah arteri. Kedua pembuluh darah ini memiliki ukuran yang berbeda pula. Pembuluh darah arteri ukurannya lebih kecil daripada pembuluh darah vena.

Hal ini sesuai dengan literatur bahwa pembuluh darah pada ikan ada  berbagai macam yaitu:

a) Arteri. Merupakan pembuluh darah yang menimbulkan tahanan rendah dan berperan dalam menyalurkan darah keseluruh jaringan tubuh. Bertindak sebagai reservoir tekanan untuk mempertahankan aliran darah anatara sistol bilik jantung.

 b) Arteriol. Pembuluh darah yang merupakan tempat utama tahanan terhadap aliran darah dan berperan dalam mendistribusikan atau membagi-bagi darah keberbagai alat tubuh.

c) Kapiler. Pembuluh darah dimana terjadi pertukaran zat antara darah dengan cairan jaringan.

d) Venula. Pembuluh darah yang menampung darah dari kapiler dan mengalirkan ke pembuluh darah vena.

e) Vena. Pembuluh darah yang memiki tahanan terhadap aliran darah kecil dan berperan menampung darah dari seluh tubuh melalui venula dan mengalirkan kembali kejantung (Wulangi, 1994).

Peredaran darah ikan termasuk peredaran darah tertutup. Hal ini dikarenakan darahnya selalu mengalir dalam pembuluh darah. Peredaran darah yang menuju ke ekor dan bejubel disebut pembuluh arteri atau nadi. Peredaran darah yang alirannya menuju ke kepala dan alirannya satu per satu disebut pembuluh vena atau balik. Sedangkan, yang menghubungkan  pembuluh nadi dengan balik disebut kapiler (Hemat, 2010).

Peredaran darah ikan menurut Karmana (1994) peredaran darah tunggal. Hal ini dikarenakan darah hanya melewati jantung satu kali.

(4)

e. Sistem Koordinasi, Reflek dan Pengaruh Macam-Macam Pacu, Analisis Serat Anatomi Otot Katak.

Pada pengamatan reflek membalik badan pada katak, dari hasil  praktikum dapat diketahui bahwa sebelum mendapat perlakuan decaputasi gerak reflek pada katak langsung membalikkan badan dalam waktu 0,41 detik. Hal ini masih dalam kondisi yang normal karena katak masih agresif dilihat dari sikap katak dalam mempertahankan posisi yang nyaman ketika posisi katak dirubah arahnya. Katak dapat mempertahankan keseimbangan dirinya dengan sangat baik. Setelah mendapatkan perlakuan decaputasi katak tidak dapat membalikkan badan. Seharusnya yang terjadi, katak masih dapat membalikkan diri dikarenakan gerak reflek terjadi pada sumsum tulang  belakang dan bukan pada medula spinalis. Namun yang terjadi berbeda

dikarenakan proses decaputasi terlalu berlebihan atau antara waktu decaputasi  pada katak dengan perlakuan terpaut terlalu lama. Pendapat lain menyebutkan  bahwa faktor yang mempengaruhi katak tidak dapat membalikkan tubuh dikarenakan pusat keseimbangan tubuhnya telah rusak. Pusat keseimbangan tersebut terletak pada Cerebellum.

Pada katak normal yang telah di berikan beberapa perlakuan. Katak dapat merespon dengan baik. Hal ini dikarenakan katak memiliki sistem saraf yang mana saraf-saraf tersebut dapat menghantarkan stimulus keotak hingga menimbulkan respon. Respon akan ditanggapi oleh neuron dengan mengubah  potensial yang ada antara permukaan luar dan dalam dari membran. Sel-sel dengan sifat ini disebut dapat dirangsang (excitable) dan dapat diganggu (Irritable). Neuron ini segera bereaksi tehadap stimulus, dan dimodifikasi  potensial listrk dapat terbatas pada tempat yang menerima stimulus atau dapat

disebarkan ke seluruh bagian neuron oleh membran. Penyebaran ini disebut  potensial aksi atau impuls saraf, mampu melintasi jarak yang jauh impuls saraf menerima informasi keneuron lain, baik otot maupun kelenjar. (Junqueira, 1995:157)

Pada pengamatan gerak reflek katak terhadap rangsangan terhadap  berbagai macam pacuan. Pada katak normal yang diberi pacuan mekanik, cubit, panas, golvani (alat setrum), chemis (kimia), dan perusakan meddula spinalis (penusukan daerah kepala bagian atas) menghasilkan respon gerak yang sangat cepat yaitu terjadi reaksi homolateral (kaki belakang dan kaki depan katak sebelah kanan bergerak bersamaan). Sedangkan pada katak yang telah didecaputasi menanggapi respon yang lambat. Pada perlakuan Golvani dan Chemis hanya bereaksi lambat, dikarenakan susunan sarafnya tidak

(5)

sempurna. Bahkan pada perlakuan cubit dan panas tidak ada gerak reflek sama sekali. Hal tersebut dikarenakan saraf pusat yang mengatur gerak reflek terdapat di medula spinalis tidak normal lagi.

Pada pengamatan gerak otot katak terhadap rangsangan kimia didapatkan hasil otot Thorax dan Brachium posterior ditetesi dengan larutan  NaCl 10%, NaCl 20% dan NaCl 30% menunjukkan kedutan (gerak). Semakin tinggi konsentrasi larutan, semakin cepat pula respon yang ditimbulkan. Saat ditetesi Ch3COOH otot berkontraksi sedang. Saat ditetesi larutan H2SO4, juga memberikan respon sangat berkontraksi. Peristiwa tersebut dapat disebabkan oleh larutan NaCl merupakan hipertonik basa sehingga ketika mengenai darah otot yang bersifat asam, otot akan mengkerut. Sedangkan larutan H2SO4 merupakan hipertonik asam sehingga ketika mengenai otot yang hipertonik asam akan menyebabkan otot mengembang sehingga otot terlihat bergerak.

(6)

5. Kesimpulan

1. Dalam pengamatan galli manini hasil yang didapatkan negative atau tidak ditemukan sperma.

2. Dari hasil pengamatan kodok mampu mempertahankan kondisi tubuhnya di suhu dingin dan panas.

3. Dari hasil pengamatan denyut jantung pada katak saat di dalam masih terlihat cepat dibandingkan setalah dilepas.

4. Denyut jantung akan melemah saat di tetesi NaCl karena bersifat hipotonis. 5. Pada ekor ikan mas terdapat pembuluh darah arteri yang aliran darahnya

menuju ke arak ekor dan pembuluh darah yang aliran darahnya menuju ke kepala.

6. Aliran darah pembuluh darah arteri lebih cepat dari pada pembuluh darah vena.

7. Sistem saraf pusat yaitu otak dan sum-sum tulang belakang merupakan pusat kordinasi dari beberapa gerak tubuh termasuk gerak refleks.

8. Refleks yang dikendalikan oleh sumsum tulang belakang atau saraf spinal  pada katak meliputi reaksi ketika dicubit, reaksi ketika kaki dipanaskan.

9. Refleks yang dikontrol oleh otak atau saraf kranial katak meliputi frekuensi  pernapasan, gerakan kepala, kekenyalan otot, dan gerak tungkai depan dan  belakang.

(7)

Daftar Pustaka

Eka, Dwi. 2012.  Laporan Praktikum Fiswan Termoregulasi. (online). (http://dwiekayanti.blogspot.com), diakses 19 Maret 2014.

Faridha, Ellayin. 2013.  Fisiologi Hewan Kerja Jantung Katak . (online). (http://dwiekayanti.blogspot.com), diakses 19 Maret 2014.

Wulangi, K.S. 1994. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Depdikbud. Jakarta.

Hemat Dwi Nuryanto.2010. Sistem Peredaran Darah Terbuka dan Tertutup (online). http://crayonpedia. org/.Diakses pada tanggal 20 Maret 2014.

Junqueira,carlos.L.1995. Histologi Dasar . ECG:Jakarta

Karmana, oman. 2008. Biologi. Jakarta: Grafindo Media Pratama

Widayati, Diah Tri. 2013. Injeksi Media Kultur Embrio Supernatan Dalam Uterus Untuk Meningkatkan Angka Implantasi Embrio Pada Mencit . Jurnal Kedokteran Hewan. Vol 7 No. 2: 155-159.

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian kartu dikumpulkan kembali untuk dikocok ulang, dalam kategori kurang (K). 8) Keaktifan murid Menyimpulkan materi, dalam kategori cukup (C). Hasil observasi

Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara faktor perbedaan kontruksi bubu dan jenis umpan terhadap hasil tangkapan kepiting bakau, dapat dikatakan bahwa

Proses pembudayaan yang dilakukan oleh masyarakat pendatang baru perumahan Bougenville Indah seperti mengikuti acara kumpul keluarga dan juga ikut melayat orang yang

Penerapan teori comfort Kolcaba dapat dijadikan acuan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien di ruang bedah anak, terutama pasien yang mengalami nyeri ringan dan

(2) Fokusnya pada bait suci di Yerusalem sangat mungkin menerangkan mengapa kitab- kitab Tawarikh dimasukkan dalam bagian kitab bukan nubuat dalam PL Ibrani, dan dengan

Keberhasilan program pendidikan karakter dalam pembelajaran menulis puisi dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sesuai dengan standar kompetensi

Hasil penelitian menyimpukan (1) pemahaman guru tentang bencana gempabumi relatif baik dengan jawaban yang cendrung mengarah pada jawaban sangat sesuai atau dengan

mengukur tingkat kemampuan proses berdasarkan output rata-rata kecacatan proses yang dihasilkan ( ) serta indeks kapabilitas proses yang digunakan untuk mengukur kemampuan