• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

64

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini membahas mengenai metode yang digunakan dalam penelitian

untuk pemecahan masalah dimana setiap pembahasan diuraikan dalam bentuk

tahapan terstruktur. Tahapan penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.

3.1 Identifikasi Awal Penelitian

Pada tahap ini dilakukan identifikasi awal penelitian melalui penguraian

dalam bentuk langkah-langah yang sistematis seperti latar belakang permasalahan,

perumusan masalah, perumusan tujuan penelitian serta tinjauan pustaka yang

dilakukan untuk mendapatkan informasi terhadap studi lapangan yang dilakukan.

3.1.1 Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah pada penelitian ini dilakukan pada dua hal utama,

yaitu identifikasi pada tempat penelitian beserta permasalahan yang terjadi serta

penentuan tema penelitian yang sesuai dengan permasalahan yang telah

diidentifikasi sebelumnya.

Pada langkah awal ini dilakukan identifikasi masalah yang terjadi di PT

(2)

apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan. Pemilihan tempat penelitian ini

didasarkan pada kenyataan bahwa pabrik kemasan kaleng berbahan dasar

Alumunium plate merupakan kebutuhan yang cukup penting dewasa ini. Dengan

teknologi dalam bidang ini yang hampir stagnan, maka sistem perbaikan

manajemen kualitas sangat diperlukan agar perusahaan terus survive dalam

persaingan pasar. Gambar 3.1 menunjukkan tahapan penelitian

3.1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini diambil berdasarkan

kondisi yang terjadi pada line body 330 ml (line 2) departemen Two Piece Can PT

United Can Co Ltd. Rumusan masalah disini ingin memperjelas apa Critical to

Quality (CTQ) prioritas can body 330 ml, bagaimankah stabilitas, kapabilitas

proses serta level sigma CTQ prioritas, apa saja kegagalan yang sering terjadi

serta akibatnya pada proses produksi line body 330 ml, faktor-faktor apa saja yang

secara signifikan mempengaruhi terjadinya kecacatan can body 330 ml serta

bagaimana memperbaiki dan mengendalikan kualitas proses produksi line body

330 ml departemen Two Piece Can.

3.1.3 Penetapan Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian merupakan penjabaran dari perumusan masalah. Tujuan

penelitian juga merupakan ouput yang ingin dicapai atau dilakukan dalam sebuah

penelitian. Pada penelitian ini, tujuan difokuskan pada langkah-langkah yang

dilakukan untuk dapat menjawab perumusan masalah, yaitu mengetahui

(3)

menganalisa stabilitas proses, kapabilitas proses dan level sigma CTQ prioritas

serta mengidentifikasi faktor-faktor yang secara signifikan menyebabkan

terjadinya kecacatan CTQ prioritas di line body 330 ml, menganalisa modus

kegagalan yang terjadi berikut akibatnya pada proses produksi serta memberikan

usulan perbaikan dan pengendalian proses terhadap masalah yang ditemukan.

3.1.4 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka yang dilakukan meliputi gambaran umum produk kaleng

kemasan ukuran 330 ml, pengertian perbaikan kualitas, sistem pengendalian

kualitas, konsep dasar six sigma, penelitian-penelitian six sigma sebelumnya dan

lain-lain. Tinjauan pustaka mempunyai fungsi yang sangat penting karena dapat

digunakan sebagai panduan untuk mendapatkan informasi terhadap studi lapangan

yang dilakukan. Studi literatur juga dilakukan dengan tujuan agar diperoleh

gambaran yang jelas pada masalah yang dibahas dalam penelitian ini, melalui

informasi-informasi yang berupa referensi, arsip perusahaan, laporan penelitian,

buku pedoman six sigma, informasi melalui situs internet mengenai konsep six

sigma dan jurnal-jurnal serta artikel terkait yang berhubungan dengan topik yang

diambil.

3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan pengolahan data. Jenis data yang

digunakan dalam pengumpulan data pada umumnya terdiri dari data primer dan

data sekunder, dimana metode pencarian data-data tersebut dipaparkan sebagai

(4)

1. Data Primer (Jenis dan Jumlah Defect)

a. Wawancara (interview) dan Brainstorming

Pengumpulan data diperleh secara langsung dengan jalan studi kasus yang

digunakan adalah open-ended, dimana penliti dapat bertanya kepada

responden kunci yang berfungsi sebagai informan tentang fakta suatu

peristiwa disamping opini mengenai peristiwa yang ada. Pada penelitian ini

wawancara dilakukan kepada staff dan karyawan perusahaan untuk

mengetahui proses produksi yang terjadi serta masalah-masalah yang

dihadapi. Adapun untuk daftar pertanyaan pada proses wawancara disajukan

pada lampiran 8.

b. Kuesioner

Kuesioner yaitu metode pengumpulan data dengan jalan

melakukan penyebaran angket kuesioner terhadap responden pada PT

Coca Cola Botling Indonesia yang beralamat di Jalan Raya Teuku Umar

Km 46 Cibitung-Bekasi yang merupakan salah satu customer PT United

Can Co Ltd dimana hasilnya akan digunakan dalam penentuan CTQ.

Daftar responden wawancara dan kuesioner selanjutnya disajikan

pada Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1 Responden Wawancara dan Kuesioner

NO Responden Jumlah (org)

1 QA Manager 1

2 Incoming 2

(5)

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang diperoleh secara tidak

langsung. Data ini diperoleh dari data historis perusahaan, studi literatur,

penelitian kepustakaan, dokumen-dokumen maupun arsip yang

berhubungan dengan penelitian yang diambil. Adapun data yang diambil

ialah data laporan kualitas bulan Januari sampai Agustus tahun 2013 juga

data-data yang berhubungan dengan perusahaan tempat penelitian.

Adapun data-data perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini

selanjutnya disajikan pada Tabel 3.2 berikut ini :

Tabel 3.2 Data-Data Perusahaan

NO Jenis Data Data Yang Diperoleh Tujuan Data

1

Suara konsumen

langsung

Tingkat kepuasan konsumen Mengetahui tingkat kepuasan konsumen 2 Tingkat kepentingan kualitas Mengetahui rating kepentingan kualitas 3 Data karakteristik kualitas Menentukan CTQ prioritas 4 Suara pelanggan internal Mengetahui suara konsumen 5

Pengukuran

Frekuensi kecacatan produk Mengetahui jumlah kecacatan produk

6 Kemampuan proses

Mengetahui apakah proses yang berjalan masih mampu

7 Mesin Waktu maintenance

Mengetahui kapan waktu perawatan kembali

8 Bahan baku Data bahan baku Data bahan baku yang digunakan

9 Supplier Wilayah atau daerah supplier

Salah satu elemen dalam pemetaan proses dengan diagram SIPOC

Setelah metode pengumpulan data dilakukan, selanjutnya dilakukan

pengolahan data meliputi kelima tahapan DMAIC meliputi tahap pendefinisian

(Define), pengukuran (Measure), analisis (Analyze), perbaikan (Improve) serta

(6)

Gambar 3.1 Tahapan Penelitian

Penetapan Tujuan Penelitian Tinjauan Pustaka

Metode D-M-A-I-C DEFINE

Pemetaan Proses Identifikasi kebutuhan pelanggan Perancangan dan Penyebaran Kuesioner I

Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pendefinisian CTQ prioritas

MEASURE

Pengumpulan Data CTQ Prioritas Pengukuran Level Sigma Pengukuran Stabilitas Proses Pengukuran Kapabilitas Proses

ANALYZE

Penulusuran Akar Penyebab Masalah Perancangan dan Penyebaran Kuesioner 2

Analisis Pengaruh Potensial Kegagalan Sumber-Sumber Variasi

IMPROVE & CONTROL

Usulan Rencana Perbaikan Usulan Pengendalian Kualitas Proses

Analisa dan Interpretasi Hasil

Kesimpulan dan Saran Analisa dan

Interpretasi Hasil Kesimpulan dan Saran Pengumpulan dan Pengolahan Data Identifikasi Awal Penelitian

(7)

3.2.1 Tahap Pendefinisan (Define)

Pada tahap pendefinisian (Define) ini dilakukan pemetaan proses,

identifikasi kebutuhan pelanggan, perancangan dan penyebaran kuesioner serta

pendefinisan Critical to Quality (CTQ) prioritas.

A. Pemetaan Proses

Pemetaan proses bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi proses

produksi can body 330 ml secara umum. Hal ini sangat penting mengingat

penelitian ini sangat erat kaitannya dengan proses produksi yang berlangsung,

khususnya di line body 330 ml (line 2). Untuk mengidentifikasi tahapan ini,

dilakukan wawancara dan brainstorming terhadap para responden pada Tabel 3.1

di atas. Untuk interpretasinya digunakan tool diagram alir (Flow Chart) dengan

membuat Operation Process Control dan diagram SIPOC.

B. Identifikasi Kebutuhan Pelanggan

Pelanggan yang disurvei merupakan pelanggan internal dimana di

dalamnya hanya terdapat pelanggan langsung yaitu orang-orang yang bekerja

pada line body 330 ml. Setelah proses produksi selesai dan sudah melewati

beberapa tahapan inspeksi yang dilakukan oleh bagian quality control, finished

good langsung menuju gudang untuk disimpan atau bahkan langsung dikirim ke

customer (pelanggan eksternal). Pada penelitian ini pelanggan yang disurvei dan

dimaksudkan difokuskan pada beberapa tingkatan karyawan sampai production

manager yang berhubungan dengan produksi pada line body 330 ml yang

dianggap lebih mengetahui secara teknis karakteristik serta kecacatan yang sering

(8)

Data dalam penelitian ini berasal dari hasil kuesioner dan wawancara

dengan pihak perusahaan, studi atas data historis berupa inspection report serta

observasi di lantai produksi. Responden wawancara dan kuesioner pada line body

330 ml departemen Two Piece Can dapat dilihat pada Tabel 3.1.

C. Penentuan CTQ Prioritas

Penentuan CTQ prioritas didasarkan pada data sekunder, yaitu laporan

jumlah cacat yang terjadi pada line body 330 ml. Ada beberapa jenis cacat yang

sering muncul dalam memproduksi can body 330 ml, untuk itu dari beberapa jenis

cacat tersebut ditentukan yang memiliki nilai paling besar dan paling berpengaruh

terhadap jumlah produksinya.

D. Perancangan dan Penyebaran Kuesioner 1

Kuesioner pertama ini digunakan untuk mencari tingkat kepentingan dan

tingkat kepuasan terhadap karakteristik kebutuhan yang telah teridentifikasi.

Responden dari kuesioner ini berjumlah 11 orang yang terdiri dari para manager,

supervisor, leader dan karyawan line body 330 ml yang mengerti secara detail

proses serta karakteristik kebutuhan body 330 ml tersebut. Berdasarkan

identifikasi, terdapat 2 orang manger, 3 orang supervisr, 2 orang production leader

dan 4 orang karyawan yang memenuhi kriteria di atas.

Penyebaran kuesioner dilakukan melalui 2 tahap yaitu tahap pertama

untuk mendapatkan rating kepentingan dan tahap kedua untuk mendapatkan rating

kepuasan yang secara langsung dilakukan dengan mendatangi ke-11 orang yang

menjadi responden, agar persepsi yang dikemukakan dalam kuesioner sesuai

(9)

hasil kuesioner manjadi lebih akurat. Bentuk kuesioner dan hasil pengumpulan

kuesioner akan disajikan dalam Lampiran 3 dan 4.

E. Uji Validitas dan Reliabilias Kuesioner

Pengujian validitas dan reliablitas diakukan untuk mengetahui kevalidan

dan keandalan data yang terkumpul pada kuesioner di lampiran 4. Pengujian

dilakukan menggunakan software SPSS versi 17.00.

Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur

apa yang ingin diukur. Adapun rumus matematisnya adalah sebagai berikut :

r = ... (3.1) dimana : r = angka korelasi n = jumlah responden X = skor pertanyaan no 1 Y = skor total

Suatu pertanyaan dianggap valid jika nilai korelasi berada di atas angka kritis (α =

0,005 berdasarkan R tabel).

Uji reliabilitas adalah suatu angka indeks yang menunjukkan konsistensi

suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Teknik pengukuran

reliabilitas yang digunakan adalah teknik Cronbach’s Alpha. Teknik ini mencari

reliabilitas alat ukur dengan skor nilai berupa rentangan antara beberapa nilai.

Rumus yang digunakan adalah :

= ... (3.2)

Dimana :

(10)

k = banyaknya butir pertanyaan

= variansi total

Σ = jumlah variansi batir Rumus varian yang digunakan adalah :

σ =

... (3.3)

dimana :

n = jumlah sample

X = nilai skor yang dipilih

Reliabilitas dicapai jika nilai lebih besar dari angka kritis (α = 0,05

berdasarkan R tabel)

Adapun untuk hasil pengujian validitas dan reliabilitas serta Tabel R akan

disajikan dalam Lampiran 5 dan 6.

3.2.2 Tahap Pengukuran (Measure)

Pada tahap pengukuran (measure) dilakukan pengukuran level sigma yang

dilakukan dengan mengkonversikan hasil jumlah kecacatan dalam Defect per

Million Opportunities (DPMO) ke dalam level sigma. Data yang digunakan ialah

data atribut sampling kecacatan CTQ prioritas pada proses produksi line body 330

ml pada bulan Januari sampai Agustus 2013. Pada tahap ini dilakukan pula

pengukuran kapabilitas proses dengan menggunakan indeks kapabilitas yaitu

apabila proses yang telah diukur kapabilitasnya selanjutnya dikonversikan ke

dalam tabel konversi sigma dimana selanjutnya akan diketahui apakah proses

dapat dikatakan baik dan mampu serta sebaliknya dengan menggunakan rule of

(11)

A. Pengumpulan Data CTQ Prioritas

Pengukuran CTQ yang diprioritaskan terdapat dalam bagian ini. Data yang

dikumpukan merupakan jenis data sekunder dimana data diambil setelah

karyawan QA (Quality Assurance) melakukan sampling. Data ini akan digunakan

dalam perhitungan level sigma, stabilitas serta kapabilitas proses.

B. Pengukuran Level Sigma

Salah satu parameter kunci keberhasilan penerapan konsep six sigma dapat

dilihat dari hasil perhitungan level sigma pada output proses yang merupakan

ukuran pencapaian target menuju tingkat kegagalan nol (zero defect) dimana

semakin tinggi level sigma akan membuat tngkat kecacatan yang diproduksi per

satu juta kesempatan (DPMO) semakin rendah, sehingga produk tersebut akan

semakin memenuhi ekspektasi dari pelanggan. Langkah-langkah dalam mengukur

level sigma ialah sebagai berikut :

1. Menghtung jumlah kecacatan tiap unit produk

Defect per unit = ... (3.4)

Dimana : D = Unit yang cacat

U = Unit yang diinspeksi

2. Menghitung total peluang kecacatan

Total Opportunities = U x OP ... (3.5)

Dimana : U = Unit yang diinspeksi

OP = Opportunities

3. Menghitung jumlah kecacatan tiap peluang kecacatan

Defect Per Opportunities (DPO) =

(12)

a) Mengukur jumlah kecacatan tiap satu juta peluang terjadinya

kecacatan. Rumus DPMO terdapat pada persamaan (2.1)

b) Mengukur level sigma yang dilakukan dengan

mengkonversikan tingkat kecacatan yang diproduksi per satu

juta kesempatan (DPMO) yang dapat dilihat pada tabel di

lampiran 7.

Perhitungan level sigma ini menggunakan konsep dari six sigma Motorola

dimana pada prosesnya mengizinkan bergesernya nilai target rata-rata (mean)

setiap CTQ individual dari proses sebesar ± 1,5 sigma.

C. Pengukuran Stabilitas Proses

Pada bagian ini dilakukan stabilitas proses dimana proses ini

menggambarkan kondisi proses untuk menghasilkan suatu produk yang nilainya

stabil (tidak mudah berubah) dari waktu ke waktu. Tahap ini dilakukan untuk

mengetahui apakah suatu proses telah stabil dimana stabilitas ini merupakan

syarat untuk perhitungan kapabilitas proses.

Tools yang digunakan untuk mengidentifikasi stabilitas proses adalah

menggunakan peta kendali proses. Penelitian ini menggunakan peta kendali p

dimana peta ini digunakan untuk mengukur proporsi jumlh unit cacat. Peta

kendali p dapat digunakan apabila ukuran contoh (n) adalah konstan.

Langkah-langkah pembuatan peta kendali p :

1. Menentukan ukuran contoh/subgrup (k) yang cukup besar (n>30)

2. Mengumpulkan banyaknya subgrup (k) sedikitnya 20-25 subgrup

3. Menghitung proporsi total cacat (p) untuk setiap subgrup

(13)

5. Menghitung batas kendali untuk peta kendali p :

Rumus dalam perhitungan UCL mengacu pada persamaan (2.4)

Rumus dalam penghitungan LCL mengacu pada persamaan (2.5)

6. Plot datadari setiap subgrup yang diperiksa dan amati apakah data

tersebut berada dalam pengendalian atau tidak.

D. Pengukuran Kapabilitas Proses

Kapabilitas proses merupakan parameter six sigma yang dilihat dari sudut

pandang proses itu sendiri. Kapabilitas proses menunjukkan kemampuan dari

proses untuk dapat memenuhi spesifikasi yang diinginkan, baik spesifikasi target

maupun batas-batas toleransi. Pada pengukuran kapabilitas proses data atribut,

terdapat dua jenis penghitungan yaitu kapabilitas proses yang digunakan untuk

mengukur tingkat kemampuan proses berdasarkan output rata-rata kecacatan proses yang dihasilkan ( ) serta indeks kapabilitas proses yang digunakan untuk mengukur kemampuan proses bersaing secara kompetitif di pasar global berdasarkan batas-batas level sigma ( ).

Adapun langkah-langkah dalam mengukur kapabilitas proses ialah sebagai

berikut :

1. Mengukur Kapabilitas Proses Output Rata-Rata Proses

Penelitian ini menggunakan data atribut dengan menggunakan kapabilitas proses output rata-rata proses berikut :

Rumus dalam pengukuran kapabilitas proses terdapat pada

persamaan (2.6).

(14)

Indeks kapabilitas proses dilakukan dengan cara mengkonversi level sigma

yang didapatkan dari tahap pengukuran level sigma sebelumnya dengan cara

interpolasi dari Tabel 3.3 berikut ini :

Tabel 3.3 Konversi Level Sigma, Indeks Kapabilitas Proses dan DPMO Level Sigma Pergeseran Proses ± 1,5 σ DPMO 3 0,5 66.803 4 0,833 6.2 5 1,167 233 6 1,5 3,4 Sumber : Mc Fadden, 1993

Perlu diketahui pula bahwa pengukuran kapabilitas proses hanya dapat

dilakukan apabila proses berada dalam kondisi yang terkendali pada tahap

stabilitas proses. Jika proses sudah stabil, maka pengukuran kemampuan proses

dapat dilakukan, namun jika proses belum stabil maka proses harus dstabilkan

terlebih dahulu dengan membuang data yang keluar batas spesifikasi.

3.2.3 Tahap Analisis (Analyze)

Pada tahap ini dilakukan analisis akar penyebab masalah serta

menganalisis pengaruh potensial kegagalan sumber-sumber variasi penyebab

permasalahan dengan menganalisa Failure Modes Effect Analysis (FMEA)

(15)

A. Penelusuran Akar Penyebab Masalah

Pada tahap ini akan dianalisis dan ditelusuri akar variasi penyebab masalah

yang menyebabkan penyimpangan pada proses produksi dimana fokus six sigma

ialah mengurangi variasi karena setiap individu atau organisasi yang menjadi pelanggan perusahaan akan “merasakan” variasi itu, bukan merasakan rata-rata.

Analisis akar penyebab permasalahan dalam penelitian ini ialah dengan Root

Cause Analysis (RCA) menggunakan alat bantu kualitas Fishbone Diagram

melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi permasalahan

2. Mengumpulkan data dan informasi diman pada penelitian ini

menggunakan metode observasi langsung, wawancara serta

brainstorming dengan pihak perusahaan

3. Menyeleksi penyebab yang menggangu kualitas proses dimana dalam

penelitian ini akan menggunakan tool diagram Fishbone dengan 6M yaitu

Manpower (manusia), Method (Metode), Measurement (pengukuran),

Material (bahan baku), Machine (mesin) dan Mother nature (lingkungan)

4. Spesifik dalam menentukan permasalahan dan penyebabnya

5. Mengidentifikasi apa saja yang menjadi penyebab yang mengakibatkan

defect terseleksi

6. Menganalisa secara detil keseluruhan hasil dari diagram Fishbone yang

telah diidentifikasi.

B. Perancangan dan Penyebaran Kuesioner 2

Kuesioner ke-2 ini digunakan untuk mencari nilai Severity, Occurence dan

(16)

(FMEA). FMEA dalam penelitian ini membahas khusus pada bagian mesin dan

peralatan dikarenakan FMEA lebih optimal apabila diterapkan pada permasalahan

hardware, seperti mesin dan peralatan. Responden dari kuesioner ini berjumlah 15

orang, terdiri dari para pimpinan dan karyawan produksi line body 330 ml yang

mengerti secara detil proses produksi can body 330 ml tersebut dimana dilakukan

wawancara dan pengisian kuesioner secara langsung dengan mendatangi

responden, agar persepsi yang dikemukakan dalam kuesioner sesuai dengan

persepsi yang diterima oleh responden. Adapun bentuk kuesioner dan hasil

pengumpulan kuesioner akan disajikan dalam lampiran 8.

C. Analisis Pengaruh Potensial Kegagalan Sumber-Sumber Variasi

Pada tahap ini dilakukan analisis dan perhitungan secara detail setiap

sumber variasi penyebab masalah dan menentukan prioritas penanganan

perbaikan permasalahan yang disebabkan oleh faktor penyebab yang telah

diidentifikasi sebelumnya dengan menggunakan tools FMEA. Rumus dalam

perhitungan FMEA terdapat pada persamaan (2.7).

Nilai severity, Occurrence dan Detection diperoleh berdasarkan hasil

kuesioner dengan production leader line body 330 ml, karyawan yang bekerja di

line body 330 ml, maintenance supervisor, production supervisor, QA manager

dan production manager yang memahami karakteristik can body 330 ml lebih

mendalam. Adapun hasil wawancara tersebut disajikan dalam lampiran 8.

Langkah-langkah dalam penggunaan tools FMEA untuk mendapatkan

nilai RPN (Risk Priority Number) tertinggi menurut Stamatis (1995) yaitu sebagai

(17)

1. Identifikasi Sistem (System Function)

Tahap awal dalam menganalisa FMEA adalah dengan menidentifikasi

sistemnya terlebih dahulu.

2. Identifikasi Kegagalan Potensial (Potential Failure Mode)

Langkah selanjutnya menidentfikasi masalah-masalah atau kegagalan

potensial yang menyebabkan sistem tidak memenuhi atau tidak

mencapai fungsi utamanya.

3. Identifikasi Akibat Kegagalan (Potential Effect Of Failure)

Pada langkah ketiga ini dilakukan analisis akibat atau dampak yang

timbul pada masing-masing masalah kegagalan yang telah

diidentifikasi pada potential failure mode.

4. Analisis Tingkat Keseriusan Kegagalan (Severity Of Effect)

Langkah selanjutnya dilakukan analisis seberapa besar dampak yang

ditimbulkan oleh kegagalan-kegagalan yang muncul pada sistem.

5. Identifikasi Sebab-Sebab Kegagalan (Potential Causes Of Failure)

Pada tahap ini dilakukan identifikasi sebab-sebab apa saja yang

menyebabkan kegagalan pada proses produksi can body 330 ml,

misalnya dengan menggunakan tool Fishbone diagram.

6. Analisis Frekuensi Kegagalan (Occurrence)

Langkah keenam ini dilakukan analisis terhadap seberapa sering

kegagalan terjadi.

7. Metode Deteksi Kegagalan (Detection Methode)

Pada tahap ini dilakukan identifikasi metode untuk mendeteksi

(18)

8. Analisis Tingkat Pendeteksian (Detection)

Pada langkah kedelapan ini dilakukan analisis tingkat keyakinan dan

kesulitan metode deteksi. Analisis dilakukan terhadap semua metode

deteksi yang telah dirumuskan pada detection method.

9. Penghitungan Risk Priority Number (RPN)

Pada tahap ini dilakukan perhitungan RPN untuk mengidentifikasi

failure mode yang perlu diprioritaskan untuk dianalisis dan ditindak

lanjuti, karena dianggap menjadi sumber kegagalan utama sistem.

Penghitungan RPN yaitu dengan cara mengalikan tingkat severity

dengan tingkat occurrence dan dengan tingkat detection.

3.2.4 Tahap Perbaikan (Improve) dan Pengendalian (Control)

Pada tahap ini diberikan usulan perbaikan dan pengendalian yang

didapatkan dari interpretasi hasil. Tahap perbaikan dilakukan untuk segi

manajerial dan teknis berdasarkan hasil yang didapatkan pada tahap sebelumnya.

Tahap pengendalian dilakukan agar proses selalu dapat berjalan dalam kondisi

baik dan menjamin bahwa perbaikan yang ada dijalankan sehingga cacat serta

kegagalan pada proses produksi can body 330 ml tidak terulang kembali.

A. Usulan Perbaikan (Improve)

Usulan perbaikan diberikan berkaitan dengan pentuan dan implementasi

solusi-solusi berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya pada fase

analyze. Rencana-rencana tindakan perbaikan perlu dibuat suatu rencana tindakan

yang disusun dalam suatu tabel dengan menggunakan metode 5W+2H, dimana

(19)

(Where), waktu pelaksanaa (When), orang yang mengerjakan (Who) dan metode

yang dipakai (How), namun analisa How much tidak dilakukan mengingat

penelitian ini tidak memperhitungkan biaya.

Dari hasil analisa sumber-sumber variasi penyebab masalah melalui

metode FMEA pada tahap sebelumnya, maka pertama akan diberikan usulan

perbaikan untuk nilai RPN (Risk Priority Number) tertinggi. Proyek peningkatan

kualitas six sigma dilakukan dengan melakukan tindakan perbaikan terhadap

proses dan komunikasinya yang dilakukan secara menyeluruh. Usulan perbaikan

berikutnya berkaitan sangat erat terhadap hasil langkah penentuan Critical to

Quality (CTQ). Selain itu juga dilakukan Action planning for Failure Modes yang

menyangkut usulan rencana perbaikan pada proses yang secara umum bertujuan

untuk menghilangkan sumber variasi khusus (special-causes variation) agar

mampu menungkatkan pengendalian dan kapabilitas proses menuju tingkat

kinerja 6-sigma (zero defect).

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka perbaikan pada suatu

karakteristik teknis tertentu akan dapat berdampak positif pada peningkatan

kualitas karakteristik teknis lainnya serta dapat mengakomodasi keinginan

pelanggan di beberapa aspek kebutuhan. Usulan perbaikan diberikan jika dalam

hasil pengukuran pengendalian dan kapabilitas prosesnya mempunyai

permasalahan pada proses yang berkaitan erat dengan kualitas produk.

B. Usulan Pengendalian (Control)

Usulan pengendalian diberikan berkaitan dengan penentuan dan

implemntasi solusi-solusi berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan

(20)

diberikan lebih dititikberatkan pada pengendalian terhadap kualitas prosesnya

dalam pencapaian tingkat 6-sigma. Usulan pengendalian juga harus melihat

usulan perbaikan sebelumnya agar proses selalu dapat berjalan dalam kondisi

yang baik dan menjamin bahwa perbaikan yang ada dijalankan sehngga cacat

serta kegagalan di tempat yang sama tidak terulang kembali sehingga target

pencapaian menuju zero defect diharapkan dapat tercapai.

3.3 Analisa dan Interpretasi Hasil

Pada tahap ini dilakukan analisa dan interpretasi hasil dari penelitian yang

dilakukan. Bagian ini terdiri dari analisa dan interpretasi hasil terhadap kelima

tahap dalam six sigma DMAIC yaitu Define, Measure, Analyze, Improve dan

Control. Secara jelas akan dianalisa CTQ prioritas yang didapatkan, pengukuran

stabilitas, kapabilitas proses dan level sigma, menganalisa penyebab kecacatan

dan menganalisa tabel FMEA serta menganalisa usulan perbaikan dan

pengendalian proses yang diberikan kepada perusahaan. Pada tahap ini dapat

diketahui dan dianalisis apakah perusahaan mampu dalam menjalankan

prosesnya, pada tingkat sigma berapa perusahaan berproduksi, apakah

sebelumnya telah dilakukan upaya-upaya perbaikan, semuanya akan dianalisis

pada tahap ini. Akan tetapi untuk melakukan analisa dan interpretasi terhadap

proyek six sigma yang sudah dilakukan dibutuhkan waktu yang tidak sedikit, oleh

karenanya untuk tahap analisa dan interpretasi hasil tidak akan diberikan pada

(21)

3.4 Kesimpulan dan Saran

Tahap ini merupakan tahapan terakhir dari penelitian yang di dalamnya

berisi kesimpulan penelitian yang dikemukakan dari hasil analisa penelitian dan

pemecahan persoalan serta saran-saran perbaikan yang dikemukakan dari hasil

analisa penelitian yang dilengkapi juga dengan saran-saran perbaikan untuk

Gambar

Tabel 3.1 Responden Wawancara dan Kuesioner
Tabel 3.2   Data-Data Perusahaan
Gambar 3.1  Tahapan Penelitian
Tabel 3.3 Konversi Level Sigma, Indeks Kapabilitas Proses   dan DPMO  Level  Sigma  Pergeseran Proses ± 1,5 σ     DPMO  3  0,5  66.803  4  0,833  6.2  5  1,167  233  6  1,5  3,4  Sumber :  Mc Fadden, 1993

Referensi

Dokumen terkait

Hаsil penelitiаn menunjukkаn bаhwа Kepemilikаn Mаnаjeriаl memiliki pengаruh yаng signifikаn terhаdаp Rаsio TobinsQ, hаl ini dаpаt dilihаt dаri nilаi

Masalah penjualan sebagai salah satu sumber pendapatan perusahaan perlu mendapatkan perhatian besar. Perusahaan harus mendapatkan kepastian tentang penerimaan hasil

Namun jika karyawan memiliki perilaku Organization Citizenship Behavioral (OCB) yang rendah maka kinerja karyawan pun akan menurun sehingga menghasilkan performa

Muatan nilai kearifan lokal yang terdapat di dalam sebuah novel merupakan aspek yang penting dalam pemilihan novel sebagai bahan ajar teks cerita fiksi.. Pendekatan analisis

Penelitian deskriptif ini bertujuan mengetahui kontribusi power otot tungkai dan panjang lengan terhadap renang gaya bebas pada klub renang Sukapura Tasikmalaya. Populasi

Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut, maka penulis memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul analisis pengaruh kualitas makanan dan kualitas

Judul Tesis : HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI DAN INTAKE ZAT GIZI DENGAN TINGGI BADAN ANAK BARU MASUK SEKOLAH (TBABS) PADA DAERAH ENDEMIS GAKY DI KECAMATAN PARBULUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya simpan ikan bandeng yang diawetkan menggunakan pengawet alami kombinasi daun jambu mete dan garam serta untuk