• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Sarana Prasarana PKJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Problematika Sarana Prasarana PKJ"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun untuk Memenuhi Matakuliah Problematika Pendidikan Kejuruan yang dibimbing oleh Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., M.M.

Oleh :

M. Lukman Hakim 160551801184 M. Rizki Irwanto 160551801214 Roshifuliman 160551800981

Roshina Hila Dini 160551801143 S2 PKJ 2016 Off. B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG PASCASARJANA

PRODI PENDIDIKAN KEJURUAN Maret 2017

(2)

PROBLEMATIKA SARANA DAN PRASARANA SMK

Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Pendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. Sesuai dengan bentuknya, sekolah menengah kejuruan menyelenggarakan program-program pendidikan yang disesuaikan dengan jenis-jenis lapangan kerja (Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990). Kurangnya sarana dan prasarana atau fasilitas yang dimiliki Sekolah Menengah Kejuruan menjadi isu penting yang tidak pernah ada henti-hentinya untuk melengkapi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, bahkan pemerintah telah mengeluarkan undang-undang pendidikan dan Permendiknas yang mengatur standar, khususnya berkaitan dengan problematik sarana dan prasarana. Menurut Prosser (1950) Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nanti ia akan bekerja. Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana di sekolah dapat menyebabkan ketidak efektifan pembelajaran sehingga dapat menyebabkan kurangnya pemahaman siswa yang berdampak pada rendahnya kompetensi keahlian siswa. Hal ini juga merupakan salah satu faktor rendahnya keterserapan lulusan SMK di DU/DI. Pada tahun 2016 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah pengangguran SMK 9.84% yang berjumlah 1.348.227. Dari 13.715 SMK se-Indonesia dengan rincian 3.501 SMK Negeri dan 10.214 SMK Swasta, 3.473 SMK terakreditasi A, 3.040 SMK terakreditasi B, 1.082 SMK terakreditasi C dan 6.120 SMK belum terakreditasi. Komponen yang dinilai dalam akreditasi sekolah adalah: 1) Standar Isi, 2) Standar Proses, 3) Standar Kompetensi Lulusan, 4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 5) Standar Sarana dan Prasarana, 6) Standar Pengelolaan, 7) Standar Pembiayaan dan 8) Standar Penilaian Pendidikan. Salah satu aspek yang dinilai dalam akreditasi sekolah adalah sarana prasarana. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan kejuruan perlu ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai. Sehingga proses pembelajaran SMK dapat dilakukan dengan baik karena sesuai dengan replika industri. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut perlu adanya perbaikan sarana dan prasarana.

A. UNDANG-UNDANG SARANA PRASARANA

Menurut Permendiknas No. 24 Tahun 2007 sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah, sedangkan prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah. Sarana pendidikan antara lain gedung, ruang kelas,

(3)

meja, kursi serta alat-alat media pembelajaran. Sedangkan yang termasuk prasarana antara lain seperti halaman, taman, lapangan, jalan menuju sekolah dan lain-lain. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 Satu SMK/MAK memiliki sarana dan prasarana yang dapat melayani minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 48 rombongan belajar. Sekurang-kurangnya memiliki prasarana yang dikelompokkan dalam ruang pembelajaran umum, ruang penunjang, dan ruang pembelajaran khusus.

Standar sarana dan prasarana merupakan kebutuhan utama sekolah yang harus terpenuhi sesuai dengan amanat Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, PP No 19 tahun 2005, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun 2007. Selain itu, juga harus memenuhi dari ketentuan pembakuan sarana dan prasarana pendidikan yang telah dijabarkan dalam: (1) Keputusan Mendiknas Nomor 129a/U/2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan; (2) Pembakuan Bangunan dan Perabot Sekolah Menengah Pertama Tahun 2004 dari Direktorat Pembinaan SMP; dan (3) Panduan Pelaksanaan dan Panduan Teknis Program Subsidi Imbal Swadaya: Pembangunan Ruang Laboratorium Sekolah Tahun 2007 dari Direktorat Pembinaan SMP. Standar sarana dan prasarana pendidikan yang dimaksudkan di sini baik mengenai jumlah, jenis, volume, luasan, dan Iain-lain sesuai dengan kategori atau tipe sekolahnya masing-masing.

Landasan hukum dikeluarkannya standar sarana dan prasarana yaitu berdasarkan: 1. Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Bab XII Pasal 45

tentang Sarana dan Prasarana Pendidikan berbunyi : (1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. (2) Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada semua satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah

2. Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan pemerintah yang mengatur standar sarana dan prasarana tercantum dalam peraturan pemerintah No.24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana.

Berdasarkan PP No.24 tahun 2007, beberapa kriteria minimum standar sarana dan prasarana yaitu sebagai berikut: (a) lahan: (1) terhindar dari potensi bahaya, (2) kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, (3) lahan terhindar dari : pencemaran air dan udara, serta kebisingan, (4) mendapat izin pemanfaatan tanah dari Pemda setempat dan (5) memiliki status hak atas tanah . (b) bangunan: (1) memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada lampiran PP No 24 tahun 2007, (2) bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan, (3) bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan,keamanan dan kenyamanan, (4) bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat, (5) bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan.

(4)

B. PROBLEMATIKA SARPRAS SMK

SMK dirancang untuk melahirkan lulusan yang siap bekerja. Untuk mencapai tujuan itu, kurikulum SMK memasukkan mata pelajaran yang relevan dengan kesiapan karier seperti teknologi dan perancangan, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan, agribisnis dan teknologi pertanian, perikanan dan kelautan, bisnis dan manajemen, pariwisata, seni kriya dan seni pertunjukan. Namun ternyata muncul persoalan. Akibat kurangnya fasilitas atau peralatan yang mendukung proses pembelajaran, kinerja belajar murid di SMK swasta lebih rendah dibandingkan murid di SMK negeri. Ketersediaan pekerjaan juga merupakan masalah besar bagi lulusan SMK. Sebenarnya lulusan SMK tidak lebih unggul dari lulusan SMA. Ini dilihat dari angka pengangguran yang sama. "Tetapi permintaan untuk lulusan SMA cenderung bertambah dalam lima tahun ke depan dibandingkan lulusan SMK," kata Totok. (print.kompas.com tanggal 7 Oktober 2015).

Menurut Marbun (2014) yang dikutip dari laman antaranews.com kompetensi sebagian lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) belum bisa memenuhi standar pasar kerja karena fasilitas pendukung pendidikannya masih terbatas. Pemerintah dan instansi pendidikan belum bisa mengatasi masalah keterbatasan sarana penunjang kegiatan belajar di sebagian besar SMK. Selain itu, masih ada aturan yang menyebabkan bantuan pemerintah untuk sekolah kejuruan swasta terbatas meski pemerintah telah mengalokasikan dana untuk subsidi pendidikan. (antaranews.com 17 November 2014).

Dalam surabaya.tribunnews.com disebutkan bahwa proses akreditasi terhadap 1.500 program keahlian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) telah selesai. Berkas laporan itu telah disampaikan oleh 300 tim asesor yang disebar di beberapa wilayah di Jatim. Meski belum diumumkan resmi, beberapa tim asesor menyampaikan bahwa banyak SMK yang belum memerhatikan beberapa aspek penting penilaian.Ia menerangkan, bentuk pengacuhan SMK atas standar itu seperti penyusunan kurikulum yang tanpa melibatkan industri. Padahal dengan melibatkan industri, pembukuan kurikulum akan lebih bagus. Teguh Supriyadi, asesor lain, mengatakan, nilai beberapa SMK pada standar sarana prasarana juga masih rendah. (surabaya.tribunnews.com 19 September 2015).

Kegiatan pembelajaran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus didorong lebih banyak kegiatan praktik daripada pemberian materi secara teori. Pasalnya lulusan SMK lebih banyak diorientasikan untuk bisa langsung terjun ke dunia kerja. Menurut mantan pengawas sekolah di

(5)

Kabupaten Banyumas, Yoyo Dwijatmiko, sejumlah negara maju saat ini menitikberatkan pendidikan berbasis kejuruan. Namun selama ini persoalan yang dihadapi sekolah kejuruan di Indonesia adalah terkait keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung untuk kegiatan praktik. Apalagi anggaran yang dibutuhkan untuk pengadaan sarana pendukung tidak sedikit. Pasalnya kegiatan pembelajaran praktik akan lebih mengena bila didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Sekolah seringkali terbentur dengan anggaran dana ketika ingin melakukan pengadaan sarana pendukung kegiatan praktik yang diperuntukkan bagi peserta didik. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya dukungan dari pemerintah (berita.suaramerdeka.com 23 Februari 2017).

C. DATA EMPIRIK SARPRAS SMK

Berdasarkan hasil observasi di 2 sekolah, yaitu SMK Negeri 1 Probolinggo dan SMK Bhineka Tunggal Ika Indonesia Malang. Kita mengambil 2 sampel sekolah, yang pertama memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan yang kedua sekolah yang baru didirikan sehingga ketersediaan sarana dan prasarana masih belum memadai.

SMK Negeri 1 Probolinggo memiliki sarana dan prasarana yang seperti ruang pembelajaran umum, ruang penunjang, dan ruang pembelajaran khusus. Hal tersebut dibuktikan dengan data yang kami terima dari Waka Sarana Prasarana SMKN 1 Probolinggo. Berikut daftar inventaris salah satu kelas yang ada di SMKN 1 Probolinggo :

(6)

Gambar 1.2 SMK Negeri 1 Probolinggo

SMK Bhineka Tunggal Ika Indonesia Kota Batu merupakan salah satu sekolah yang baru didirikan dan belum terakreditasi. SMK Bhineka Tunggal Ika didirikan sejak tahun 2010, namun Surat Keputusan sekolah didirikan keluar pada tahun 2012 dibawah naungan yayasan. Sekolah ini masih belum memiliki gedung sekolah sendiri, sehingga sampai saat ini gedung sekolah yang digunakan untuk proses pembelajaran masih menumpang pada SMP. SMK ini sebenarnya memiliki 3 jurusan yaitu jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan), TSM (Teknik Sepeda Motor), dan TKR (Teknik Kendaraan Ringan), namun yang berjalan hanya dua jurusan yaitu TKJ dan TSM. Sekolah ini juga tidak memiliki laboratorium khusus untuk TKJ, TSM dan TKR. Sehingga untuk prakteknya siswa harus mencari pinjaman laptop atau motor milik guru. Jurusan TKR ditutup karena kurangnya minat siswa yang mendaftarkan diri dan kurangnya sarana prasarana dalam praktik.

(7)

Gambar 1.3 SMK Bhineka Tunggal Ika Indonesia D. SOLUSI

Menurut Widodo (2014) dalam mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah bagaimana upaya pemenuhan sarana dan prasarana (fasilitas) pendidikan di sekolah menengah kejuruan dalam peningkatan mutu pendidikan perlu melibatkan banyak pihak yang memiliki kepentingan sehubungan dengan eksistensi lembaga pendidikan khususnya untuk kejuruan. Beberapa alternatif pemecahan tersebut antara lain: (1) pelibatan dunia usaha dan industri sebagai wadah mempengaruhkan pengalaman belajar siswa. (2) pemberdayaan sarana dan prasarana (fasilitas) sekolah, (3) pelibatan masyarakat terutama orang tua siswa sangat dibutuhkan dalam memecahkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan sarana dan prasana sekolah, (4) pelibatan pemerintah baik pusat maupun daerah merupakan suatu kewajiban sebagai sumber suporting utama dalam mengatur keberlangsungan sekolah, baik proses maupun investasi.

E. KESIMPULAN

Kurangnya sarana dan prasarana atau fasilitas yang dimiliki Sekolah Menengah Kejuruan menjadi isu penting yang tidak pernah ada

(8)

henti-hentinya untuk melengkapi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, sehingga perlu digali kembali masalah apa saja yang ada dan mencari penyebab utamanya. Dengan begitu kita dapat merumuskan alternatif pemecahan masalah dalam upaya pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan di SMK.

DAFTAR RUJUKAN

Aflahul, Abidin. 2015. Akreditasi SMK: Standar Isi dan Sarana Prasarana Masih Rendah. http://surabaya.tribunnews.com/2015/09/19/akreditasi-smk-standar-isi-dan-sarana-prasarana-masih-rendah (diakses tanggal 6 Maret 2017)

Agita, Tarigan. 2014. Fasilitas Pendukung Pendidikan SMK Masih Terbatas.

http://www.antaranews .com/berita/464741/fasilitas-pendukung-pendidikan-smk-masih-terbatas (diakses tanggal 6 Maret 2017)

Badan Pusat Statistik. 2016. Jumlah Pengangguran SMK. (Online), (http://bps.go.id) diakses 7 Maret 2017.

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah. 2017. Sekolah sudah Terakreditasi. (Online), (http://bansm.or.id/sekolah/sudah_akreditasi/) diakses tanggal 7 Maret 2017

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Jendela Pendidikan dan Kebudayaan. (Online), (http://jendela.data.kemdikbud.go.id/jendela) diakses tanggal 7 Maret 2017 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.2016. Data Pendidikan Dasar dan Menengah.

(Online), (http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id) diakses tanggal 7 Maret 2017. Luki, Aulia. 2015. Minat Sekolah di SMK Meningkat http://print.kompas.com/baca/dikbud/

pendidikan/2015/10/07/Minat-Sekolah-di-SMK-Meningkat (diakses tanggal 6 Maret 2017)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana SMK/MAK. Kemdikbud. (Online), (http://www.lpse.kemdikbud.go.id), diakses pada tanggal 7 Maret 2017.

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah. Peraturan Pemerintah. (Online), (http://peraturan.go.id/pp/nomor-29-tahun-1990), diakses pada tanggal 7 Maret 2017.

Permendiknas No. 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana. Peraturan Pemerintah. (Online), (http://peraturan.go.id/), diakses pada tanggal 7 Maret 2017.

Prosser, C.A. dan Quigley, T.H. 1950. Vocational Education in a Democracy. American Technical Society, Chicago, Illinois.

Widodo, Astu. 2014. Upaya Pemenuhan Sarana dan Prasarana Pendidikan Sehubungan dengan Kegiatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). (Online), (http://www.vedc

malang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/edukasi), diakses 7 Maret 2017

Yoyo, Dwijatmiko. 2017. Kegiatan Praktik di SMK Terbentur Masalah Sarana. http://berita. suaramerdeka.com/smcetak/kegiatan-praktik-di-smk-terbentur-masalah-sarana/ (diakses tanggal 6 Maret 2017)

Gambar

Gambar 1.1 Daftar Inventaris
Gambar 1.2 SMK Negeri 1 Probolinggo
Gambar 1.3 SMK Bhineka Tunggal Ika Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Inovasi tambahan dapat memungkinkan perusahaan untuk memasuki pasar baru dengan memperbaiki produk untuk pelanggan baru, menggunakan variasi produk inti untuk

BPRS Hikmah Wakilah menerapkan sistem pembiayaan dengan menggunakan strategi antar jemput bola, strategi antar jemput bola adalah strategi pemasaran jasa yang secara

BAB Tidak Berdarah Lagi Berkat Obat AmbeJOSS_Wasir atau ambeien adalah penyakit dimana anus mengalami pembengkakan, bila sudah parah atau stadium atas penderita

Sarana dan prasarana yang lengkap tanpa ditunjang dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, maka lembaga tersebut sulit untuk maju dan

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang ini adalah penelitian Rowley et al (2012) menggunakan instrumen penelitiannya yakni data sekunder dengan

[r]

Selain itu juga untuk menguji hipotesis penelitian yaitu mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media tutorial

Berbagai upaya dilakukan pemegang saham mayoritas untuk meningkatkan kinerja usaha dan keuangan PT Bank Permata Tbk., termasuk dengan penambahan modal disetor dan penerbitan