• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN FORMULASI PENGENCERAN BIOFERTILIZER (1:15) DENGAN VARIASI DOSIS DAN FREKUENSI TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

SKRIPSI

FATIKHATUS SHOLIKHAH

PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA 2016

PEMBERIAN FORMULASI PENGENCERAN BIOFERTILIZER (1:15) DENGAN VARIASI DOSIS DAN FREKUENSI TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

SKRIPSI

FATIKHATUS SHOLIKHAH

PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA 2016

PEMBERIAN FORMULASI PENGENCERAN BIOFERTILIZER (1:15) DENGAN VARIASI DOSIS DAN FREKUENSI TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

SKRIPSI

FATIKHATUS SHOLIKHAH

PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA 2016

(2)
(3)
(4)
(5)

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam lingkungan Universitas Airlangga, diperkenankan untuk dipakai sebagai referensi kepustakaan, tetapi pengutipan harus seizin penulis dan harus menyebutkan sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah. Dokumen skripsi ini adalah hak milik Universitas Airlangga.

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya serta shalawat dan salam juga senantiasa penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wasallam sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul

“Pemberian Formulasi Pengenceran Biofertilizer (1:15) dengan Variasi Dosis dan Frekuensi terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.)” disusun untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan

S1 pada program studi Biologi di Universitas Airlangga.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat kesalahan, oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun dari semua pihak pembaca. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis, tetapi juga pembaca pada umumnya dan menjadi sumber informasi bagi kita semua.

Surabaya, Juni 2016

Penulis,

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Luapan syukur dan persimpuhan diri penulis sertakan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala rahmat dan karuniaNya di sepanjang kehidupan, khususnya di empat tahun terakhir perjuangan menuntut ilmu di bangku kuliah. Segala nafas, waktu, kesempatan, dan nikmat yang Allah berikan telah menemani penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Berkah kasih sayang dan tumpahan keringat orang tua serta keluarga tak luput menjadi buncahan semangat dan ambisi. Ibunda Endah Sutarti dan Almarhum Ayahanda Sutrisna, terima kasih yang tak terbatas untuk kedua orang tua terbaik yang selalu menyelimuti putra

putrinya dengan kasih sayang, alunan do’a yang tak putus disetiap nafas, dan juga

pengorbanan jiwa raga yang tak akan terbayarkan. Allah hadirkan ciptaannya yang lain, Avif Nurrakhman, yang telah menjadi kakak terbaik dan pengganti ayahanda yang sempurna, terima kasih atas semangat dan pengetahuan yang telah diberikan kepada penulis. Berikut penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Pembimbing skripsi Drs. Agus Supriyanto, M. Kes sebagai dosen pembimbing I/penguji I, dan Tri Nurhariyati, S. Si., M. Kes sebagai dosen pembimbing II/penguji II yang memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan skripsi. Drs. Salamun, M. Kes sebagai penguji III, dan Dr. Rosmanida, M. Kes sebagai penguji IV terima kasih atas saran dan nasehat yang sangat membangun bagi penulis.

2. Dosen Departemen Biologi sebagai orang tua penulis di kampus, penulis mengucapkan terima kasih atas segala ilmu yang telah disampaikan.

3. Sahabat Sri Lestari Ningsih, Wenda Pratiwi, Tri Wulandari dan Riski Eka Sari, terima kasih telah mewarnai selama empat tahun terakhir di kehidupan penulis, dan semoga takdir selalu menyatukan kita semua sampai menutup mata.

4. Sahabat Penelitian, sahabat Laboratorium Mikrobiologi, sahabat Kelompok Studi PEKSIA dan sahabat pengurus dan kepanitiaan di HIMBIO, terima kasih atas segala pengalaman, ilmu, dukungan dan pelajarannya selama ini.

(8)

5. Kakak-kakak Biologi, Mbak Zahra, Mbak Riris, Mbak Arum, Mas Ogis, Mas Arif, Mbak Tri, Mbak Ayu, Mbak Nanas terima kasih atas segala dukungan dan nasehat yang berarti selama di dunia perkuliahan dan organisasi.

6. Adik-adik Biologi dan ITL, Fortunita, Fina, Inesavira, Deszan, Antien, Nabila, Binti, terima kasih atas semangat dan tingkah lucu yang menjadi hiburan yang berarti bagi penulis.

7. Bapak Suwarni selaku laboran Laboratorium Mikrobiologi Universitas Airlangga atas bantuan dan saran selama penelitian.

8. Teman-teman Biologi angkatan 2012 atas kerjasama, dorongan, dan bantuan selama awal perkuliahan hingga akhir pengerjaan skripsi.

Serta semua pihak yang membantu penulis dalam pengerjaan penelitian sampai penulisan skripsi yang tidak bisa disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga laporan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Juni 2016

Penulis,

(9)

Fatikhatus Sholikhah. 2016. Pemberian Formulasi Pengenceran Biofertilizer (1:15) dengan Variasi Dosis dan Frekuensi Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L.). Skripsi ini di bawah bimbingan Drs. Agus Supriyanto, M. Kes. Dan Tri Nurhariyati, S. Si., M. Kes. Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) dengan interaksi variasi dosis dan frekuensi terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan nilai Relativity Agronomic Efectivity (RAE) terhadap produksi kacang hijau (Vigna radiata L.) pada lahan sawah. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 11 perlakuan, yaitu K- (tanpa pemberian pupuk), K+ (pemberian pupuk kimia), dan variasi interaksi biofertilizer dosis 5 mL (P1), 10 mL (P2), 15 mL (P3) dengan frekuensi satu kali (a), dua kali (b), tiga kali (c). Setiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Mikroba dalam biofertilizer terdiri atas Rhizobium sp., Azotobacter sp., Azospirillum sp., Bacillus subtiliis, Bacillus megaterium, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida, Pseudomonas fluorescens, Cellulomonas sp., Lactobacillus plantarum, dan Saccharomyces cerevisiae. Variabel terikat penelitian ini meliputi pertumbuhan (tinggi batang, jumlah daun, bintil akar) dan produktivitas (jumlah polong, berat polong, berat biji). Data pertumbuhan setiap minggu dianalisis secara deskriptif, data pertumbuhan saat panen dianalisis menggunakan uji Brown-Forsythe dan uji lanjutan berupa uji Games Howell dengan derajat signifikansi 0,05, sedangkan data produktivitas saat panen dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji lanjutan berupa uji Duncan dengan derajat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian interaksi variasi dosis dan frekuensi biofertilizer berpengaruh terhadap pertumbuhan (tinggi batang, jumlah daun, bintil akar) dan produktivitas (jumlah polong, berat polong, berat biji). Pertumbuhan tinggi batang tertinggi pada K+ (63,70±4,73 cm) namun tidak signifikan dengan P3a, P3b, dan P3c. Jumlah daun tertinggi pada P3c, P3b, P3a (51,20 helai). Bintil akar tertinggi pada P3c (4,60±1,30). Sedangkan produktivitas jumlah polong tertinggi pada K+ (61,27±19,28), berat polong tertinggi pada K+ (58,10±16,07 g), dan berat biji tertinggi pada K+ (39,97±8,63 g) serta signifikan terhadap perlakuan biofertilizer (1:15). Nilai RAE biofertilizer (1:15) kurang dari 100%.

Kata kunci : Biofertilizer, kacang hijau (Vigna radiata L.), pertumbuhan, produktivitas, RAE

(10)

Fatikhatus Sholikhah. 2016. Formulations Award Biofertilizer Dilution (1:15) with Dose and Frequency Variations on Growth and Productivity of Vigna

radiata L.. This thesis is under the guidance of Drs. Agus Supriyanto, M. Kes.

and Tri Nurhariyati, S.Si., M.Kes. Departement of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya.

ABSTRACT

This aim of this study was to know the effect of diluting formulations biofertilizer (1:15) in various interaction of doses and frequency on growth, productivity, and value Relativity Agronomic Efectivity (RAE) of Vigna radiata L. in paddy fields. This study was an experimental study with a Completely Randomized Design (CRD), consists of 11 treatments, it was K- (without fertilizer), K+ (treatment of chemical fertilizers), and various interaction of dose biofertilizer of 5 mL (P1), 10 mL (P2), 15 mL (P3) with a frequency of one (a), twice (b), three times (c). Each treatment consists of three replicates. The microbes in biofertilizer consisted of Rhizobium sp., Azotobacter sp., Azospirillum sp., Bacillus subtiliis, Bacillus megaterium, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida, Pseudomonas fluorescens, Cellulomonas sp., Lactobacillus plantarum, and Saccharomyces cerevisiae. The dependent variables in this experiment were the growth (plant height, number of leaves, number of root nodules) and productivity (number of pods, pod weight, seed weight). The data of the every week growth was analyzed descriptively, while the data of the growth was analyzed by Brown-Forsythe test and advanced test called Games Howell with significance level of 0.05, while the data of productivity were analyzed by one-way ANOVA and advanced test called Duncan with significance level of 0.05. The results showed that the various interaction of doses and frequency of biofertilizer had effect on growth (plant height, number of leaves, number of root nodules) and productivity (number of pods, pod weight, seed weight). The highest of plant height in K+ tretment (63.70 ± 4.73 cm) but not significant with P3a, P3b and P3c treatments. The highest number of leaves on P3c, P3b, P3a treatments (51.20 piece). The highest number of nodule on P3c treatment (4.60 ± 1.30). While the productivity highest number of pods on K+ treatment (61.27 ± 19.28), the highest pod weight on K+ treatment (58.10 ± 16.07 g), and the highest seed weight on K+ treatment (39.97 ± 8.63 g) and biofertilizer significantly to treatment (1:15). RAE value of biofertilizer (1:15) is less than 100%.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Asumsi Penelitian ... 5 1.4 Hipotesis Penelitian... 6 1.4.1 Hipotesis kerja... 6 1.4.2 Hipotesis statistik ... 6 1.5 Tujuan Penelitian ... 7 1.6 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

2.1 Tinjauan Umum Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) ... 8

2.1.1 Klasifikasi tanaman kacang hijau varietas VIMA-I ... 8

2.1.2 Karakter morfologi tanaman kacang hijau varietas VIMA-I ... 9

2.1.3 Kandungan gizi dan manfaat tanaman kacang hijau ... 13

2.1.4 Syarat tumbuh tanaman kacang hijau... 14

2.2 Tinjauan Mengenai Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman ... 16

2.3 Tinjauan Umum Biofertilizer ... 17

2.3.1 Mikroba fiksasi nitrogen ... 18

2.3.2 Mikroba pelarut fosfat ... 23

2.3.3 Mikroba perombak bahan organik ... 28

2.4 Tinjauan Mengenai Dosis dan Frekuensi Pemupukan Biofertilizer... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 34

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

3.2 Bahan dan Alat Penelitian... 34

3.2.1 Bahan Penelitian... 34

3.2.2 Alat Penelitian ... 35

(12)

3.3.1 Variabel penelitian ... 37

3.4 Prosedur Penelitian ... 37

3.4.1 Pengkuran kuantitas mikroba biofertilizer dan tanah pada media spesifik sebelum penanaman ... 37

3.4.2 Tahap penanaman kacang hijau ... 38

3.4.3 Tahap perawatan kacang hijau ... 39

3.4.4 Tahap pemanenan kacang hijau ... 39

3.4.5 Prosedur pengambilan data ... 40

3.4.6 Pengukuran kuantitas mikroba dalam tanah pada media spesifik setelah panen ... 41

3.5 Analisis Data ... 41

3.6 Alur Penelitian ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44

4.1 Hasil Penelitian ... 44

4.1.1 Pertumbuhan tanaman kacang hijau pada umur 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 minggu setelah tanam ... 44

4.1.2 Pertumbuhan tinggi batang tanaman kacang hijau ... 49

4.1.3 Pertumbuhan jumlah daun tanaman kacang hijau ... 51

4.1.4 Pertumbuhan bintil akar tanaman kacang hijau ... 53

4.1.5 Produktivitas jumlah polong tanaman kacang hijau ... 55

4.1.6 Produktivitas berat polong tanaman kacang hijau ... 57

4.1.7 Produktivitas berat biji tanaman kacang hijau ... 59

4.2 Pembahasan ... 61

4.2.1 Pertumbuhan tinggi batang tanaman kacang hijau ... 61

4.2.2 Pertumbuhan jumlah daun tanaman kacang hijau... 65

4.2.3 Pertumbuhan bintil akar tanaman kacang hijau ... 66

4.2.4 Produktivitas tanaman kacang hijau ... 68

4.2.5 Efektivitas formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) terhadap hasil produktivitas tanaman kacang hijau ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

5.1 Kesimpulan ... 73

5.2 Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... xv LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Kandungan Gizi Kacang Hijau per 100 g Bahan ... 13

3.1 Perlakuan pemberian biofertlizer ... 36

4.1 Rata-rata tinggi batang tanaman kacang hijau tiap minggu ... 45

4.2 Rata-rata jumlah daun tanaman kacang hijau tiap minggu ... 47

4.3 Rata-rata tinggi batang akhir tanaman kacang hijau ... 50

4.4 Rata-rata jumlah daun akhir tanaman kacang hijau ... 52

4.5 Rata-rata bintil akar tanaman kacang hijau ... 54

4.6 Rata-rata jumlah polong tanaman kacang hijau ... 56

4.7 Rata-rata berat polong tanaman kacang hijau ... 58

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Batang tanaman kacang hijau... 9

2.2 Daun tanaman kacang hijau ... 10

2.3 Akar tanaman kacang hijau ... 10

2.4 Bunga tanaman kacang hijau ... 11

2.5 Polong tanaman kacang hijau ... 11

2.6 Biji tanaman kacang hijau ... 12

2.7 Rhizobium sp. dengan TEM ... 20

2.8 Azospirillum sp. dengan TEM... 21

2.9 Azotobacter sp. dengan electron micrograph ... 22

2.10 Bacillus megaterium... 24

2.11 Bacillus subtilis ... 25

2.12 Bacillus licheniformis ... 26

2.13 Pseudomonas putida ... 27

2.14 Pseudomonas fluorescenes dengan epifluorescensmicrograph ... 28

2.15 Cellulomonas sp. dengan pewarnaan Gram ... 29

2.16 Lactobacillus plantarum dengan SEM... 30

2.17 Saccharomyces cereviceae dengan SEM ... 31

3.1 Skema Alur Penelitian... 43

4.1 Grafik rata-rata tinggi batang kacang hijau tiap minggu ... 45

4.2 Grafik rata-rata jumlah daun kacang hijau tiap minggu ... 47

4.3 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap tinggi batang akhir kacang hijau ... 50

4.4 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap jumlah daun akhir kacang hijau ... 52

4.5 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap bintil akar kacang hijau ... 54

4.6 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap jumlah polong kacang hijau ... 56

4.7 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap berat polong kacang hijau ... 58

4.8 Diagram pengaruh variasi interaksi dosis dan frekuensi biofertilizer (1:15) terhadap berat biji kacang hijau ... 60

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

1 Hasil pengukuran mikroba dalam sampel biofertilizer dan tanah 2 Pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

3 Produktivitas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

4 Hasil uji statistik pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

5 Hasil penghitungan Relativity Agronomic Effectivity (RAE) 6 Hasil produktivitas kacang hijau di lahan

7 Bahan penelitian 8 Alat penelitian

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu tanaman pangan

dari kacang-kacangan yang mempunyai peranan penting dalam menunjang

peningkatan gizi makanan bagi masyarakat sebagai pengganti beras. Kacang hijau

memiliki manfaat yang beragam, khususnya sebagai makanan olahan yang

memiliki tinggi kandungan vitamin terutama vitamin B1, kalori, protein dan

karbohidrat.

Di Indonesia, kacang hijau menduduki urutan ketiga jenis tanaman

kacang-kacangan sebagai tanaman pangan setelah kacang tanah dan kacang

kedelai (Sumarji, 2013). Tingkat produksi kacang hijau pada tahun 2012 sampai

dengan 2014 mengalami fluktuasi khususnya di daerah Provinsi Jawa Timur. Pada

tahun 2012 diperoleh produksi sebesar 66.772 ton, pada tahun 2013 produksi

sebesar 57.686 ton, dan pada tahun 2014 besar produksi kacang hijau adalah

60.310 ton (Anonim, 2015). Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dan

kebutuhan masyarakat yang terus meningkat yang dilihat dari fakta data yang

diperoleh, menyebabkan potensi permintaan pasar terhadap kacang hijau semakin

banyak (Trustinah dalam Zebua et al., 2012). Menurut Ditjen Tanaman Pangan

(2012) dalam Trustinah et al. (2014), untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

yang tidak diimbangi dengan produksi kacang hijau menimbulkan kegiatan impor

(17)

Untuk mengatasi kendala dalam kebutuhan terhadap kacang hijau, pada

akhirnya para petani menggunakan pupuk kimia untuk meningkatkan kesuburan

tanah dan hasil produksi. Hal tersebut menjadikan petani tergantung pada pupuk

kimia, dengan perilaku melebihi dosis yang dianjurkan dan tidak spesifik lokasi

(Mezuan et al., 2002). Selain itu, keberadaan pupuk kimia sering mengalami

kelangkaan, akibatnya petani harus membeli pupuk dengan harga lebih mahal,

terlebih semenjak diberlakukannya kebijakan pengurangan dan penghapusan

subsidi harga pupuk yang kemudian mempengaruhi harga jual produk pertanian

(Darwis dan Nurmanaf, 2004). Selain itu, penggunaan pupuk kimia memiliki

dampak negatif terhadap lingkungan.

Menurut Cahyono (2008), penggunaan pupuk kimia menyebabkan

pencemaran tanah berupa berubahnya kondisi fisik, kimiawi dan biologi tanah,

kondisi ini tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman dan beberapa mikroba tanah,

sehingga dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan berkurangnya

produktivitas tanaman. Sedangkan menurut Campbell et al. (2003), mineral

berlebih yang diperoleh dari pupuk kimia dan tidak diserap oleh tumbuhan

merupakan pemborosan karena tercuci secara cepat dari tanah oleh air hujan dan

irigasi, aliran mineral tersebut memasuki air tanah dan akhirnya mencemari air

sungai dan danau. Keadaan ini mengakibatkan pemborosan biaya dan

menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Berawal dari permasalahan

tersebut, perlu dikembangkan suatu teknologi yang sesuai dengan lingkungan

serta mampu mendukung pencapaian produksi maksimal (tanaman) dan aman

(18)

Salah satu solusi dalam mengatasi masalah yang timbul akibat penggunaan

pupuk kimia adalah menggunakan biofertilizer (pupuk hayati) yang lebih murah

secara ekonomis sehingga dapat menghemat biaya pertanian karena biofertilizer

merupakan pupuk yang mengandung agen hayati atau biasa disebut biang

sehingga petani dapat memperbanyak sendiri (Anonim, 2015) dan secara ekologis

lebih ramah lingkungan. Biofertilizer merupakan suatu amandemen yang

mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah

dan kualitas hasil tanaman, melalui peningkatan aktivitas biologi.

Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai bahan aktif biofertilizer ialah

mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat dan dekomposer (Subba Rao, 1982).

Penelitian Chusnia (2012) pada tanaman kacang hijau menunjukkan

adanya peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang hijau sebagai

pengaruh penggunaan biofertilizer tanpa pengenceran dengan formulasi 9 mikroba

yaitu Rhizobium sp., Azotobacter sp., Azospirillum sp., Bacillus megaterium,

Bacillus subtilis, Pseudomonas sp., Lactobacillus sp., Cellulomonas sp., dan

Saccharomyces cereviceae yang diaplikasikan pada media tanam tanah pada

polybag. Akan tetapi media tanam tanah dalam polybag memiliki beberapa

kelemahan jika dibandingkan dengan lahan sawah. Menurut Danu (2012), media

tanam dalam polybag memiliki kelemahan yaitu sekali pakai dan mudah rusak,

selain itu menurut Prasetyo dalam Maslahatin (2014) media tanam polybag hanya

mempunyai daya tahan terbatas yaitu 2-3 kali pemakaian untuk media tanam,

(19)

Pemberian biofertilizer tanpa pengenceran jika diaplikasikan pada lahan

sawah untuk mendukung produktivitas tanaman khususnya kacang hijau dinilai

kurang efisien dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengenceran

biofertilizer adalah salah satu upaya untuk menghemat biaya pertanian dalam

budidaya tanaman kacang hijau khususnya di lahan sawah. Pengenceran

dilakukan agar tanaman dapat menerima semua unsur yang terkandung dalam

pupuk, memudahkan mobilitas unsur hara dalam tanaman, dan membuat

pemberian pupuk merata ke seluruh bagian tanaman (Andrea, 2014). Solihin

(2011) menyatakan aplikasi pengenceran 0,5 liter biofertilizer dengan 14 liter air

mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman sengon di Desa

Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor dan juga mampu

mempercepat pertumbuhan tanaman famili Fabaceae. Sedangkan berbagai

penelitian, belum ditemukan penelitian mengenai aplikasi biofertilizer pada

tanaman kacang hijau yang dilakukan pengenceran dengan air terlebih dahulu,

khususnya pada formulasi pengenceran 1:15.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian

mengenai pemberian biofertilizer pada tanaman kacang hijau menggunakan media

yang aplikatif yaitu lahan sawah yang dilakukan pengenceran menggunakan air

dengan formulasi pengenceran biofertilizer yaitu 1:15, dengan tujuan untuk

mengetahui dosis optimal biofertilizer terhadap pertumbuhan dan produktivitas

tanaman kacang hijau pada lahan sawah yang belum diketahui standarisasi

penggunaannya dan juga sebagai upaya revitalisasi lahan kritis guna menjaga

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Apakah interaksi variasi dosis dan frekuensi pemberian formulasi

pengenceran biofertilizer (1:15) yang berbeda berpengaruh terhadap

pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)?

2. Apakah interaksi variasi dosis dan frekuensi pemberian formulasi

pengenceran biofertilizer (1:15) yang berbeda berpengaruh terhadap

produktivitas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)?

3. Berapakah nilai Relative Agronomic Efectivity (RAE) formulasi

pengenceran biofertilizer (1:15) pada produksi tanaman kacang hijau

(Vigna radiata L.)?

1.3 Asumsi Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa konsorsium mikroba yaitu

Rhizobium sp., Azotobacter sp., Azospirillum sp., B. megaterium, B. subtilis, B.

licheniformis, P. putida, P. fluorescens, Cellulomonas sp., L. plantarum dan S.

cereviceae yang terdiri atas bakteri pemfiksasi nitrogen dapat memfiksasi nitrogen

dari atmosfer sehingga mudah diikat oleh tanaman, bakteri pelarut fosfat dapat

melarutkan fosfat sehingga mudah diserap oleh tanaman, serta mikroba

dekomposer yang mampu mendegradasi bahan organik yang dibutuhkan sehingga

(21)

dalam satu formula membentuk biofertilizer dan diberikan pada tanaman kacang

hijau dengan pengenceran agar pupuk merata ke seluruh bagian tanaman dan

memudahkan tanaman menerima semua unsur yang terkandung di dalam pupuk

dengan pengenceran 1:15 dalam dosis dan frekuensi yang optimal akan

mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang hijau menjadi

lebih baik.

1.4 Hipotesis Penelitian 1.4.1 Hipotesis kerja

Jika interaksi dosis dan frekuensi tepat pemberian formulasi pengenceran

biofertilizer (1:15) pada tanaman kacang hijau, maka dapat berpengaruh terhadap

pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang hijau menjadi maksimal.

1.4.2 Hipotesis statistik

H0a : Tidak ada pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi yang berbeda

pada pemberian formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) terhadap

pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

H1a : Ada pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi yang berbeda pada

pemberian formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) terhadap

pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

H0b : Tidak ada pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi yang berbeda

pada pemberian formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) terhadap

(22)

H1b : Ada pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi yang berbeda pada

pemberian formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) terhadap

produktivitas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi pemberian

formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) yang berbeda terhadap

pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.).

2. Mengetahui pengaruh interaksi variasi dosis dan frekuensi pemberian

formulasi pengenceran biofertilizer (1:15) yang berbeda terhadap

produktivitas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.).

3. Mengetahui nilai Relative Agronomic Efectivity (RAE) formulasi

pengenceran biofertilizer (1:15) pada produksi tanaman kacang hijau

(Vigna radiata L.).

1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada

masyarakat khususnya petani tentang dosis dan frekuensi yang tepat pemberian

biofertilizer untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas kacang hijau

(Vigna radiata L.) pada lahan sawah dan dapat menjaga kualitas, kuantitas, serta

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) 2.1.1 Klasifikasi tanaman kacang hijau varietas VIMA-I

Kacang hijau dikenal dengan beberapa nama, seperti mungo, mung bean,

green bean (Inggris), dan choroko (bahasa Swahili, India). Di Indonesia, kacang hijau

juga memiliki beberapa nama daerah, seperti artak (Madura), kacang wilis (Bali),

buwe (Flores), dan tibowang candi (Makassar) (Astawan, 2009). Sedangkan menurut

kedudukan dalam taksonomi tumbuhan, kacang hijau varietas VIMA-I

diklasifikasikan sebagai berikut.

Division : Spermatophyta

Classis : Magnoliophyta

Order : Fabales

Family : Fabaceae

Genus : Vigna

Species : Vigna radiata L. var. VIMA-I (Puluhulawa, 2014)

Kacang hijau merupakan komoditi yang penting karena menghasilkan bahan

pangan (Leatemia dan Rumthe, 2011). Tanaman kacang hijau termasuk tanaman

pangan dan tergolong dalam keluarga polong-polongan (Fabaceae) yang sudah lama

dibudidayakan di Indonesia. Kacang hijau merupakan sejenis tanaman budidaya dan

(24)

2.1.2 Karakteristik morfologi tanaman kacang hijau varietas VIMA-I

Tanaman kacang hijau merupakan tanaman C3 yang mempunyai tingkat

kejenuhan cahaya lebih rendah dibandingkan dengan tanaman C4 (Zebua et al.,

2012). Menurut Buranatham dalam Sundari et al. (2005), tanaman kacang hijau

mempunyai peluang yang baik untuk dikembangkan pada kondisi intensitas cahaya

rendah seperti tumpangsari, dengan tanaman pangan jagung, ubi kayu, maupun

dengan tanaman perkebunan terutama di bawah tanaman perkebunan yang masih

muda.

Tanaman kacang hijau terdiri atas batang, daun, akar, bunga, buah, dan biji.

Secara morfologi tanaman kacang hijau memiliki batang pendek berukuran kecil,

berbulu, berwarna hijau kecokelat-cokelatan, atau kemerah-merahan, tumbuh tegak

mencapai ketinggian 30 cm – 110 cm, berbentuk bulat, dan memiliki cabang yang

menyamping serta tumbuh menyebar ke semua arah (Rukmana, 1997). Morfologi dan

batang tanaman kacang hijau dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Batang Kacang Hijau varietas VIMA-I, bg: batang

bg

(25)

Daun tumbuh majemuk, tiga helai anak daun per tangkai atau disebut dengan

trifoliate, letak daun berseling, tangkai daun cukup panjang yaitu lebih panjang dari

daunnya (Anonim, 2015). Helai daun berbentuk oval dengan ujung lancip dan

berwarna hijau (Rukmana, 1997). Morfologi tanaman kacang hijau dapat dilihat pada

Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Daun Kacang Hijau varietas VIMA-I, dn: daun

Perakaran tanaman kacang hijau yaitu akar tunggang dan bercabang banyak

serta membentuk bintil-bintil (nodula) akar (Rukmana, 1997). Akar dan bintil akar

tanaman kacang hijau dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Akar Kacang Hijau varietas VIMA-I, ak: akar, bt: bintil akar

ak

bt

dn

(26)

Bunga kacang hijau berkelamin sempurna (hermaprodite) yang dapat

melakukan penyerbukan sendiri, berbentuk kupu-kupu, dan berwarna kuning yang

mulai muncul 28 – 33 hari. Bunga tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta

batang (Anonim, 2015). Bunga tanaman kacang hijau dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Bunga Kacang Hijau varietas VIMA-I, ba: bunga

Buah berpolong, berbentuk silindris dengan panjang antara 6 cm – 15 cm dan

biasanya berbuluh pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau, setelah tua

berwarna hitam atau cokelat (Anonim, 2015). Polong lebat di bagian kuncup

(Puluhulawa, 2014). Polong tanaman kacang hijau dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Polong Kacang Hijau varietas VIMA-I, pl: polong

ba

ba

pl

(27)

Tiap polong kacang hijau berisi 6 butir – 15 butir biji. Biji kacang hijau

berukuran lebih kecil dibandingkan dengan biji kacang-kacangan lain. Biji kacang

hijau berbentuk bulat kecil dengan bobot (berat) tiap butir 0,5 mg – 0,8 mg atau per

1000 butir antara 66 g – 78 g. Biji berwarna hijau kusam (Puluhulawa, 2014). Biji

kacang hijau tersusun atas tiga bagian utama, yaitu kulit biji, kotiledon, dan embrio

(Rukmana, 1997). Biji tanaman kacang hijau dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Biji Kacang Hijau varietas VIMA-I, bj: biji

2.1.3 Kandungan gizi dan manfaat tanaman kacang hijau

Tanaman kacang hijau memiliki banyak manfaat (multiguna), yakni bijinya

dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sedangkan limbahnya dapat dimanfaatkan

sebagai pakan ternak maupun pupuk hijau. Peran strategis lainnya dari kacang hijau

adalah komplementer dengan beras. Protein beras yang miskin lisin dapat diperkaya

oleh kacang hijau yang kaya lisin. Dalam tatanan makanan sehari-hari, produk olahan

kacang hijau adalah bubur, makanan bayi, sayur (kecambah/taoge), industri

bj

(28)

minuman, bahan campuran soun, tepung hunkue, dan kue-kue (Trustinah, 2014).

Kacang hijau merupakan sumber gizi, terutama karena kandungan protein nabati yang

cukup tinggi.

Kandungan gizi dalam kacang hijau cukup tinggi serta mineral yang

terkandung di dalamnya juga sangat lengkap. Nilai kandungan gizi dalam 100 g

kacang hijau dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.1 Kandungan Gizi Kacang Hijau per 100 g Bahan

No Kandungan Gizi Kandungan/100g bahan Satuan

1. Energi 345,00 kalori 2. Protein 22,00 g 3. Lemak 1,20 g 4. Karbohidrat 62,90 g 5. Air 10,00 g 6. Kalsium 125,00 mg 7. Fosfor 320,00 mg 8. Zat besi 67,0 mg 9. Vitamin A 157,00 mg 10. Vitamin B1 0,64 mg 11. Vitamin C 6,00 mg 12. Natrium 6,00 mg 13. Kalium 1132,00 mg 14. Serat 4,44 g

Sumber: (Rukmana, 1997); (Duke, 1981).

Kandungan kalsium dan fosfor pada kacang hijau bermanfaat untuk

memperkuat tulang. Kacang hijau juga mengandung rendah lemak yang sangat baik

bagi mereka yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi. Kadar lemak yang

(29)

dari kacang hijau tidak mudah berbau. Selain itu asam lemak tak jenuh pada kacang

hijau menjadikan kacang ini baik jika dikonsumsi bagi penderita obesitas untuk

menurunkan berat badan (Triyono et al., 2010).

Lemak kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam

lemak jenuh. Umumnya kacang-kacangan mengandung lemak tak jenuh. Asupan

lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung. Kacang hijau juga

mengandung vitamin B1 yang berguna untuk pertumbuhan. Vitamin B1 merupakan

bagian dari koenzim yang berperan penting dalam oksidasi karbohidrat untuk diubah

menjadi energi (Triyono et al., 2010).

Manfaat lain dari tanaman kacang hijau adalah dapat melancarkan buang air

besar. Selain itu juga dapat digunakan untuk pengobatan hepatitis, terkilir, beri-beri,

demam nifas, kepala pusing/vertigo, memulihkan kesehatan, kencing kurang lancar,

kurang darah, dan jantung mengipas (Achyad dan Rasyidah, 2006).

2.1.4 Syarat tumbuh tanaman kacang hijau

Kacang hijau dapat ditanam di lahan sawah pada musim kemarau atau di

lahan tegalan pada musim hujan (Anonim, 2005). Menurut Trustinah (2014), kacang

hijau memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya,

yaitu berumur genjah (55 – 65 hari), toleran kekeringan, dan dapat ditanam pada

daerah yang kurang subur sehingga potensial dikembangkan di lahan-lahan

suboptimal. Akan tetapi untuk membudidayakan tanaman kacang hijau tetap perlu

diperhatikan beberapa hal yang sangat penting untuk menentukan pertumbuhan

(30)

1. Iklim

Berdasarkan indikator di daerah sentrum produsen keadaan iklim yang ideal

untuk tanaman kacang hijau adalah daerah yang bersuhu 25oC – 27oC dengan

kelembaban udara 50% – 80%, curah hujan 50 mm – 200 mm perbulan, dan cukup

mendapat sinar matahari (tempat terbuka). Jumlah curah hujan dapat mempengaruhi

produktivitas kacang hijau. Tanaman ini cocok ditanam pada musim kering

(kemarau) yang rata-rata curah hujannya rendah. Di daerah curah hujan tinggi,

kacang hijau mengalami banyak hambatan dan gangguan, misalnya mudah rebah dan

terserang penyakit. Produktivitas tanaman kacang hijau pada musim hujan umumnya

lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas pada musim kemarau (Rukmana,

1997).

2. Tanah

Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lokasi untuk kebun kacang

hijau adalah tanahnya subur, gembur banyak mengandung bahan organik (humus),

aerasi dan draenasinya baik, serta mempunyai kisaran pH tanah 5,5 – 6,5 (Bimasri,

2014). Tanah yang ber pH lebih rendah dari 5,8 perlu dilakukan pengapuran (liming).

Fungsi pengapuran adalah untuk meningkatkan nitrogen sebagai ion ammonium dan

nitrat agar tersedia bagi tanaman, membantu memperbaiki kegemburan serta

meningkatkan pH tanah mendekati netral (Rukmana, 1997). Biasanya jenis tanah

yang baik bagi jagung, padi, dan kedelai juga baik bagi pertumbuhan kacang hijau

(31)

Lahan yang digunakan untuk budidaya kacang hijau sebaiknya di dataran

rendah hingga 500 m dpl. Curah hujan yang rendah cukup ditoleransi tanaman kacang

hijau khususnya pada tanah yang diairi seperti padi. Tanah yang ideal adalah tanah

ber pH 5,8 dengan kandungan fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang

yang cukup agar bisa mengoptimalkan produktivitas tanaman kacang hijau

(Andrianto dan Indarto, 2004)

2.2 Tinjauan Mengenai Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman

Pertumbuhan merupakan penambahan ukuran karena organisme multisel

tumbuh dari zigot, penambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam

bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma dan tingkat kerumitan. Penambahan

volume (ukuran) sering ditentukan dengan cara mengukur pembesaran ke satu atau

dua arah, seperti panjang (misalnya tinggi batang), diameter (misalnya diameter

batang), atau luas (misalnya luas daun) (Salisbury dan Ross, 1995). Sedangkan

menurut Dewi (2012), pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran dan massa yang

dapat diketahui dengan mengukur tinggi tanaman, berat basah ataupun berat kering

akar tanaman. Berat kering lebih disukai untuk menaksir pertumbuhan tanaman,

karena mencerminkan akumulasi senyawa organik yang disintesis tanaman dari

senyawa anorganik. Unsur hara yang diserap tanaman dari lingkungan juga memberi

kontribusi pada berat kering tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).

Salah satu keistimewaan pertumbuhan pada tumbuhan adalah adanya

(32)

tumbuh mencapai ukuran tertentu, maka struktur tubuh tumbuhan tersebut akan

mengalami penuaan dan mati (Sudjadi dan Laila, 2007).

Dewi (2012) menyatakan bahwa produktivitas merupakan kemampuan

tanaman untuk menghasilkan produk yang dapat diukur setelah pemanenan.

Sedangkan menurut Gardner et al. (1991), produktivitas tanaman merupakan jumlah

pertumbuhan yang dapat dicapai oleh suatu tanaman pada waktu periode tertentu.

Dalam produktivitas tanaman budidaya modern, produktivitas suatu tanaman

ditunjukkan untuk memaksimalkan laju pertumbuhan melalui manipulasi genetik dan

lingkungan sehingga mendapat hasil panen yang juga maksimal. Dengan kata lain,

produktivitas suatu tanaman bisa diartikan sebagai sebuah hasil akhir dari suatu

tanaman yang diperoleh setelah proses pertumbuhan selesai. Selain itu produktivitas

juga diartikan sebagai produksi per satuan luas lahan yang digunakan dalam pertanian

dan diukur dalam satuan ton per hektar (ton/ha). Sedangkan produksi merupakan

hasil panen dari luas lahan petani selama satu kali musim tanam yang diukur dalam

satuan kilogram (kg) (Sucipto, 2013).

2.3 Tinjauan Umum Biofertilizer

Biofertilizer atau pupuk hayati merupakan pupuk yang mengandung

mikroorganisme bermanfaat yang dapat mendorong pertumbuhan dan meningkatkan

kebutuhan nutrisi tanaman (Anonim, 2011). Menurut Gunalan (1996),

mikroorganisme yang bermanfaat adalah sejumlah jamur dan bakteri yang secara

(33)

ketersediaan hara, pengontrol organisme pengganggu tanaman, pengurai bahan

organik dan pembentuk humus, pemantap agregat, serta perombak persenyawaan

agrokimia. Pemanfaatan beberapa jenis mikroba tanah dapat membantu ketersediaan

hara bagi tanaman seperti hara nitrogen dan fosfat, selain itu ada mikroba tanah yang

berperan dalam mempercepat dekomposisi bahan organik (Rahmawati, 2005).

Rao (1994) mendefinisikan biofertilizer sebagai preparasi yang mengandung

sel-sel strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang

digunakan pada biji, tanah, atau tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan

jumlah mikroba tersebut dan mempercepat proses mikrobiologi tertentu untuk

menambah banyak ketersediaan hara dalam bentuk tersedia yang dapat diasimilasi

tanaman.

Pada penggunaannya, biofertilizer dapat digunakan sebagai substitusi dari

pupuk kimia, pemakaian pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dan lain-lain) dapat

ditinggalkan, dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan jalan memperbaiki

struktur tanah dan mengoptimalkan mikroba yang bekerja dalam tanah, meningkatkan

hasil panen, serta kesediaan hara makro maupun mikro terpenuhi, dan aktifitas

mikroorganisme tanah untuk membantu kesuburan tanah juga terjaga (Maslahatin,

2014). Berikut kelompok mikroba yang tergabung dalam formulasi biofertilizer.

2.3.1 Mikroba fiksasi nitrogen

Lingga dan Marsono (2000), mengatakan bahwa peranan nitrogen bagi

(34)

khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu nitrogen juga penting dalam

pembentukan hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis.

Meskipun di dalam tanah banyak tersusun atas nutrien-nutrien, tetapi banyak

dari nutrien-nutrien tersebut tidak dapat digunakan oleh tanah secara langsung.

Diketahui N2 di atmosfer tersedia melimpah dengan prosentase kurang lebih 80%,

namun pada kenyataannya nitrogen tersebut merupakan nutrien terbatas untuk

pertumbuhan tanaman, karena N di atmosfer tidak dapat diambil untuk dipergunakan

tanaman. Disisi lain, kini telah diketahui ada beberapa bakteri yang dapat memfiksasi

nitrogen (Rai, 2006).

Mikroba sebagai agen pemfiksasi nitrogen, memenuhi kebutuhan akan unsur

N yang dapat dipenuhi melalui sumber N dalam berbagai senyawa organik maupun

melakukan penambatan nitrogen dari udara, baik melaui simbiotik maupun

non-simbiotik (Simanungkalit et al., 2006).

Fiksasi nitrogen secara simbiotik dilakukan oleh mikroba-mikroba yang

umumnya hidup di sekitar perakaran tanaman kacang-kacangan (legum) yang biasa

dikenal dengan nama kolektif rhizobia. Kolektif rhizobia yaitu mikroba tanah yang

mampu melakukan fiksasi nitrogen udara melaui simbiosis dengan tanaman

kacang-kacangan (Simanungkalit et al., 2006). Sementara itu, fiksasi nitrogen secara

non-simbiotik dilakukan oleh mikroba-mikroba yang hidup bebas di dalam tanah.

Beberapa spesies bakteri yang bisa memfiksasi nitrogen adalah Azotobacter

chroocorum, Azotobacter beijerinckii, Azotobacter vibelandii, Azotobacter paspali,

(35)

Gambar 2.7 Rhizobium sp. dengan TEM

(Sumber: Reeve et al. 2013)

A. Rhizobium

Klasifikasi Rhizobium sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Classis : Alphaproteobacteria Order : Rhizobiales Family : Rhizobiaceae Genus : Rhizobium Species : Rhizobium sp.

Rhizobium sp. (Gambar 2.7) memiliki bentuk batang, termasuk Gram negatif,

dan termasuk bakteri aerobik (Raj et al., 2013). Menurut Martani dan Margino

(2005), kebanyakan Rhizobium sp. tumbuh optimum pada pH netral. Selain itu

sebagian besar Rhizobium juga memiliki suhu optimum antara 28oC – 31oC dan

umumnya tidak dapat tumbuh pada suhu 37oC (Zahran, 1999). Bakteri Rhizobium sp.

tidak membentuk spora, banyak terdapat di daerah perakaran (rizosfer) tanaman

legum dan membentuk simbiotik Rhizobium dengan tanaman legum (Yuwono, 2006).

Menurut Novriani (2011), Rhizobium sp. merupakan kelompok bakteri

berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan

tanaman legum, kelompok bakteri ini mampu menginfeksi akar tanaman dan

membentuk bintil akar. Bintil akar berfungsi mengambil nitrogen di atmosfer dan

menyalurkannya sebagai unsur hara yang diperlukan tanaman inang. Rhizobium sp.

(36)

Gambar 2.8 Azospirillum sp. dengan TEM

(Sumber: Alexandre et al., 1999) ammonium (NH3) sebagai penyusun asam amino yang selanjutnya dimanfaatkan oleh

tanaman.

B. Azospirillium

Klasifikasi Azospirillium sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Classis : Alphaproteobacteria Order : Rhodospirillales Family : Rhodospirillaceae Genus : Azospirillum Species : Azospirillum sp.

Azospirillum sp. (Gambar 2.8) merupakan genus bakteri yang berbentuk spiral

besar atau batang lurus (Sholichah, 2015), motil dengan karakter gerakan seperti

tutup botol atau gerakan vibrator. Azospirillum sp. memiliki suhu optimum 37o C

dengan rentang pH 6 – 7,3 dan bakteri ini digolongkan dalam bakteri Gram negatif

yang termasuk bakteri penambat nitrogen non simbiosis (Holt et al., 2000) yang

menambat nitrogen pada kondisi mikroaerofilik dan terdapat di tanah dan rhizosfer

(Madigan et al., 2000). Bakteri Azospirillum sp. mampu menambat nitrogen (N2) dari

udara dan mengubahnya menjadi NH3 menggunakan enzim nitrogenase, kemudian

mengubahnya menjadi glutamin atau alanin (Waters et al., 1998), sehingga diserap

(37)

Eckert et al. (2001) melaporkan bahwa Azospirillum sp. digunakan sebagai

biofertilizer karena mampu menambat nitrogen (N2) 40 – 80% dari total nitrogen

dalam rotan, dan 30% nitrogen dalam tanaman jagung. Akbari et al. (2007)

menyatakan bahwa bakteri Azospirillum sp. juga menghasilkan hormon pertumbuhan

sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.

C. Azotobacter

Klasifikasi Azotobacter sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Classis : Gammaproteobacteria Order : Pseudomonadales Family : Pseudomonadaceae Genus : Azotobacter Species : Azotobacter sp.

Azotobacter sp. (Gambar 2.9) memiliki bentuk batang, termasuk golongan

bakteri Gram negatif dan juga termasuk bakteri aerobik (Raj et al., 2013). Temperatur

optimum pertumbuhannya adalah 20 – 30oC dengan pH 7,0 – 7,5. Azotobacter sp.

merupakan bakteri heterotrof dan merupakan bakteri penambat nitrogen non

simbiosis yang dijumpai pada tanah netral sampai basa, pada lingkungan perairan dan

rhizosfer tanaman (Handayanto dan Hairiah, 2009).

Menurut Widiastuti et al. (2012), Azotobacter sp. diketahui dapat memfiksasi

N secara non simbiotik dan menghasilkan hormon tumbuh seperti Indole Acetic Acid

Gambar 2.9 Azotobacter sp. dengan electron

micrographs perbesaran 25.000 kali (Sumber: Wyss et al., 1961)

(38)

(IAA) dan polisakarida ekstraseluler. IAA yang disekresikan bakteri memacu

pertumbuhan akar secara langsung dan menstimuli pemanjangan atau pembelahan sel

atau secara tidak langsung (Patten dan Glick, 2002).

2.3.2 Mikroba pelarut fosfat

Unsur fosfor bagi tanaman berguna untuk merangsang pertumbuhan akar,

khususnya akar benih dan tanaman muda. Selain itu fosfat juga berfungsi sebagai

bahan baku untuk pembentukan sejumlah protein serta mempercepat pembungaan,

pemasakan biji dan buah (Lingga dan Marsono, 2000).

Ketersediaan fosfat dalam tanah jarang yang melebihi 0,01% dari total P.

Sebagian besar bentuk fosfat terikat oleh koloid tanah sehingga tidak tersedia bagi

tanaman (Husen et al., 2006). Pada tanah masam, fosfat akan bersenyawa dengan

alumunium membentul Al-P, sedangkan pada kondisi basa, fosfat akan bersenyawa

dengan kalsium membentuk Ca-P yang sukar larut. Alternatif untuk meningkatkan

efisiensi pemupukan fosfat dalam mengatasi rendahnya fosfat tersedia adalah dengan

memanfaatkan mikroorganisme pelarut fosfat yang tidak tersedia menjadi tersedia,

sehingga dapat diserap oleh tanaman. Mikroorganisme ini diketahui mampu

memproduksi asam amino, vitamin, serta substansi pemacu pertumbuhan seperti IAA

dan giberelin yang dapat membantu pertumbuhan tanaman (Ponmurugan dan Gopi,

2006). Selain itu mikroorganisme ini juga mampu menahan penetrasi patogen akar

karena sifat mikroba yang cepat mengkolonisasi akar dan menghasilkan senyawa

(39)

Gambar 2.10 Bacillus megaterium

(Sumber: De Vos et al., 2009) Mikroba pelarut P terdiri atas dua kelompok yaitu bakteri dan fungi. Pelarut P

dari kelompok bakteri antara lain adalah Pseudomonas sp. dan Bacillus sp.,

sedangkan dari kelompok fungi adalah Aspergillus sp. dan Penicillium sp..

Mikroba-mikroba tersebut dapat tumbuh dalam fosfat tak larut (insoluble phosphate) seperti

trikalsium, ferric, alumunium, dan magnesium (Kardinan dan Ruhnayat, 2003).

Mikroba pelarut P hidup di perakaran tanaman yaitu di daerah permukaan

tanah sampai kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Keberadaan mikroba ini

berkaitan dengan banyaknya jumlah bahan organik yang secara langsung

mempengaruhi kehidupan mikroorganisme dan secara fisiologis mikroba yang berada

dekat dengan daerah perakaran akan lebih aktif daripada yang hidup jauh dari

perakaran (Husen et al., 2006).

A. Bacillus megaterium

Klasifikasi Bacillus megaterium menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Firmicutes Classis : Bacilli Order : Bacillales Family : Bacillaceae Genus : Bacillus

Species : Bacillus megaterium

Bacillus megaterium (Gambar 2.10) termasuk bakteri Gram positif, berbentuk

(40)

(Sholichah, 2015), aerobik, akan tetapi dapat tumbuh pada kondisi anaerob dalam

keadaan tertentu. Menurut Madigan dan Martinko (2005) bakteri ini banyak

ditemukan dalam tanah dan di air. Bacillus megaterium merupakan bakteri saprofit

yang mampu mendaur ulang bahan organik yang ada di tanah dan dapat melarutkan

fosfat (Vary, 2007). Selain itu bakteri ini dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman

dengan memproduksi hormon IAA sebagai nutrisi bagi tanaman (Aryantha et al.,

2004).

B. Bacillus subtilis

Klasifikasi Bacillus subtilis menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Firmicutes Classis : Bacilli Order : Bacillales Family : Bacillaceae Genus : Bacillus

Species : Bacillus subtilis

Bacillus subtilis (Gambar 2.11) memiliki bentuk batang, motil, flagellumnya

khas lateral, membentuk endospora dimana endosporanya tidak lebih dari satu sel

sporangium, merupakan bakteri Gram positif, merupakan organisme kemoorganotrof,

dan bersifat aerobik sejati atau anaerobik fakultatif (Pelczar dan Chan, 2010). Ciri

pembeda yang menonjol dari bakteri ini adalah kemampuannya dalam membentuk

endospora. Endosporanya memiliki resistensi tinggi terhadap panas dan dapat

Gambar 2.11 Bacillus subtilis

(41)

bertahan hidup lama (Pelczar dan Chan, 2010). Bacillus subtilis memiliki

kemampuan memproduksi antibiotik dalam bentuk lipopeptida, salah satunya adalah

iturin. Iturin membantu Bacillus subtilis berkompetisi dengan mikroorganisme lain

dengan cara membunuh mikroorganisme lain atau menurunkan tingkat

pertumbuhannya. Iturin juga memiliki aktivitas fungisida terhadap patogen

(Buchanan et al., 1975).

C. Bacillus licheniformis

Klasifikasi Bacillus licheniformis menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Firmicutes Classis : Bacilli Order : Bacillales Family : Bacillaceae Genus : Bacillus

Species : Bacillus licheniformis

Bacillus licheniformis (Gambar 2.12) merupakan bakteri yang umum

ditemukan di tanah dan bulu burung, merupakan kelompok bakteri Gram positif,

berbentuk batang lurus atau bengkok, motil dengan menggunakan flagella peritrik,

termasuk organisme aerobik atau fakultatif anaerob, tumbuh pada suhu 15oC sampai

50 – 55oC, maksimum dapat tumbuh pada suhu 68oC dan pH 5,7 – 6,8 (Sholichah,

2015). Bacillus licheniformis beberapa ada yang berantai, memiliki spora elips atau

Gambar 2.12 Bacillus licheniformis

(42)

Gambar 2.13 Pseudomonas putida

(Sumber: Martinez et al., 2011) sentral dan subterminal (De Vos et al., 2009). Bakteri ini dibutuhkan dalam pertanian

karena banyak fosfat yang sukar diserap oleh tanaman (Simanungkalit, 2001).

D. Pseudomonas putida

Klasifikasi Pseudomonas putida menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Classis : Gammaproteobacteria Order : Pseudomonadales Family : Pseudomonadaceae Genus : Pseudomonas

Species : Pseudomonas putida

Pseudomonas putida (Gambar 2.13) ditemukan di tanah, air, dan pada

permukaan yang bersentuhan dengan tanah atau air (Donnel dan Felow, 1994).

Pseudomonas putida berbentuk batang panjang, Gram negatif, tidak berspora,

sebagian besar bergerak aktif, dan aerob (Chasanah, 2007). Temperatur pertumbuhan

optimumnya adalah 25oC – 30oC (termasuk kelompok mesofilik) (Schlegel dan

Schmidt dalam Chasanah, 2007).

Berdasarkan penelitian Hussein et al. (2004) terhadap 3 strain Pseudomonas

putida menunjukkan bahwa bakteri ini mempunyai ketahanan dan mampu

mengakumulasi ion-ion logam berat Cu(II), Cd(II), dan Ni(II). Bakteri ini

mempunyai molekul pembawa untuk pengambilan logam-logam essensial seperti Zn,

(43)

Gambar 2.14 Pseudomonas fluorescens

dengan epifluorescens photomicrograph (Sumber: Vieira, 2005)

E. Pseudomonas fluorescens

Klasifikasi Pseudomonas fluorescens menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Classis : Gammaproteobacteria Order : Pseudomonadales Family : Pseudomonadaceae Genus : Pseudomonas

Species : Pseudomonas fluorescens

Pseudomonas fluorescens (Gambar 2.14) merupakan bakteri berbentuk batang

lurus atau lengkung, tidak membentuk spora dan bereaksi negatif pada pewarnaan

Gram. Pseudomonas fluorescens memiliki suhu pertumbuhan optimal yaitu pada

25oC – 30oC (George et al., 2005). Sebagian besar Pseudomonas fluorescens adalah

penghuni rhizosfer, secara agresif mengkoloni akar dan biasa disebut dengan

rhizobakteria. Bakteri Pseudomonas fluorescens selain melarutkan fosfat yang sukar

larut, juga efektif sebagai agen biokontrol karena produksi antibiotiknya mempunyai

spektrum luas terhadap beberapa patogen (Trujillo et al., 2007).

2.3.3 Mikroba perombak bahan organik

Di dalam ekosistem, organisme perombak bahan organik memegang peranan

penting karena sisa organik yang telah mati diurai menjadi unsur-unsur yang

(44)

CO2) sebagai hara yang dapat digunakan kembali oleh tanaman (Saraswati et al.,

2006).

Penggunaan mikroba perombak bahan organik sebagai strategi untuk

mempercepat proses dekomposisi sisa-sisa tanaman yang mengandung lignin dan

selulosa, meningkatkan biomassa dan aktivitas mikroba, mengurangi penyakit

tanaman, larva insektisida, biji gulma, volume bahan buangan sehingga nantinya

dapat dimanfaatkan untuk mengingkatkan kesuburan dan kesehatan tanah yang

merupakan kebutuhan pokok untuk meningkatkan kandungan bahan organik di dalam

tanah (Saraswati et al., 2006).

A. Cellulomonas

Klasifikasi Cellulomonas sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Actinobacteria Classis : Actinobacteria Order : Coriobacteriales Family : Cellulomonadaceae Genus : Cellulomonas Species : Cellulomonas sp.

Cellulomonas sp. (Gambar 2.15) merupakan bakteri Gram positif yang

bersifat motil dengan satu atau beberapa flagel, tidak membentuk spora, serta

fakultatif anaerob. Cellulomonas sp. terdapat pada kultur yang masih muda berbentuk

batang tidak teratur dan ramping, beberapa batang biasanya berbentuk seperti huruf

Gambar 2.15 Cellulomonas sp. dengan

pewarnaan Gram

(45)

Gambar 2.16 Lactobacillus plantarum

dengan SEM

(Sumber: Bronze, 2008) V, dapat membentuk rantai namun tidak membentuk misellium dan kultur tua

batangnya biasanya pendek dan beberapa berbentuk coccus (Holt et al., 2000).

Termasuk mikroba selulolitik yang menghasilkan enzim selulase yang akan

mempercepat berlangsungnya proses pembusukan bahan organik (Rai, 2006). Bakteri

ini juga mampu mengubah nitrat menjadi nitrit (Sholichah, 2015).

B. Lactobacillus plantarum

Klasifikasi Lactobacillus plantarum Garrity et al. (2004) menurut adalah:

Kingdom : Bacteria Phylum : Firmicutes Classis : Bacilli Order : Lactobacillales Family : Lactobacillaceae Genus : Lactobacillus

Species : Lactobacillus plantarum

Lactobacillus plantarum (Gambar 2.16) merupakan bakteri Gram positif,

berbentuk batang, bersifat anaerob fakultatif, homofermentatif, dan tidak bersifat

patogen (Stefanie et al. dalam Fauziah, 2012). Bakteri ini berbentuk batang dan tidak

mempunyai spora, tumbuh baik pada suhu 15 oC – 45oC dan pH asam yaitu 3,2

(Sholichah, 2015). Fungsi utama dari bakteri ini adalah konversi fermentasi gula

(46)

Gambar 2.17 Saccharomyces cereviceae

dengan SEM dalam jaring nylon (kiri) dan struktur permukaan (kanan) (Sumber: Casiola et al., 2001; Osumi, 1997)

C. Saccharomyces cereviceae

Klasifikasi Saccharomyces cereviceae menurut Garrity et al. (2004) adalah:

Kingdom : Fungi Phylum : Ascomycota Classis : Saccharomycetes Order : Saccharomycetales Family : Saccharomycetaceae Genus : Saccharomyces

Species : Saccharomyces cereviceae

Saccharomyces cereviceae (Gambar 2.17) adalah fungi uniseluler yang juga

disebut ragi, berbentuk bulat atau oval, bermultifikasi membentuk bud (tunas), dan

setelah dewasa akan pecah menjadi sel induk. Strukturnya mempunyai dinding

polisakarida tebal yang menutupi protoplasma (Haetami et al., 2008). Dapat hidup di

lingkungan aerob maupun anaerob. Pada medium normal, memerlukan waktu 90

menit untuk mengganda dan koloni tumbuh setelah 2 – 3 hari (Ballesta, 2010).

Saccharomyces cereviceae bersifat fermentatif, yaitu mampu melakukan fermentasi,

yang memecah glukosa menjadi karbon dioksida dan alkohol. Namun dengan adanya

oksigen, Saccharomyces cereviceae juga dapat melakukan respirasi yaitu

mengoksidadi gula menjadi karbon dioksida dan air (Eulis, 2009). Menurut Benito

(47)

pengomposan. Saccharomyces cereviceae akan mendegradasi karbohidrat, pati,

glukosa menjadi karbon dioksida dan air (Eulis, 2009).

2.4 Tinjauan Mengenai Dosis dan Frekuensi Pemupukan Biofertilizer

Pemupukan adalah penambahan bahan atau zat pada tanah untuk melengkapi

kandungan unsur hara yang tidak mencukupi untuk pertumbuhan dan produktivitas

tanaman (Sutedjo, 1999). Pemupukan secara organik mampu berperan memobilisasi

atau menjembatani hara yang sudah ada dalam tanah sehingga mampu membentuk

partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman. Efisiensi pemupukan haruslah

dilakukan, karena kelebihan dosis merupakan pemborosan yang berarti mempertinggi

pengeluaran disamping berpengaruh negatif terhadap kesuburan tanah. Kastono

(1999) menyatakan bahwa pemupukan mempunyai dua tujuan utama yaitu mengisi

perbekalan zat hara tanaman yang cukup dan memperbaiki atau memelihara kondisi

tanah, dalam hal struktur, kondisi pH, serta potensi pengikat terhadap zat hara

tanaman.

Masfufah (2012) menyatakan bahwa pemupukan tidak semata-mata diberikan

langsung pada tanaman, akan tetapi harus memperhatikan waktu, cara pemupukan,

dan dosis pupuk yang sesuai. Agar pemberian lebih efektif, maka waktu pemupukan

harus disesuaikan dengan jenis pupuk yang digunakan, fase pertumbuhan tanaman,

dan teknik budidaya yang diterapkan. Menurut Marschner dalam Wijayani dan

(48)

karena penggunaan dosis yang tidak tepat dapat membuat pertumbuhan tanaman

terhambat bahkan mati.

Pada penelitian Chusnia (2012), diketahui dosis optimal biofertilizer yang

tanpa dilakukan pengenceran dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas

tanaman kacang hijau paling baik adalah pada dosis 15 mL dan frekuensi pemberian

sebanyak tiga kali pada media tanah dalam polybag. Sedangkan pada penelitian

Masfufah (2012) menunjukkan bahwa pada dosis 10 mL pemberian biofertilizer

mampu memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan tinggi tanaman maupun

produktivitas buah tomat (Lycopersicon esculentum) dengan media tanam berupa

tanah maupun tanah yang dicampur dengan kompos.

Pertumbuhan tanaman bayam (Amaranthus hybridus L.) pada pemberian

biofertilizer berbahan baku limbah cair tepung ikan dengan konsentrasi 100%

menunjukkan hasil kurang baik terhadap pertumbuhan tinggi tanaman (Sholichah,

2016). Begitu juga dengan penelitian Nitasari (2016), yang menunjukkan pada

perlakuan biofertilizer berbahan baku molase dengan konsentrasi 100% dan 75%

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu di areal persawahan Desa

Lemujut, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai

tempat budidaya tanaman kacang hijau sekaligus tempat pengambilan data,

Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Airlangga, Surabaya, sebagai tempat pengukuran kuantitas mikroba

dalam biofertilizer dan tanah. Penelitian ini dilaksanakan selama 10 bulan, bulan

Juni 2015 sampai Maret 2016 pada musim kemarau.

3.2 Bahan dan Alat Penelitian 3.2.1 Bahan penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang

hijau (Vigna radiata L.), biofertilizer dari Kelompok Tani Desa Lemujut, pupuk

kimia (Vitonic Super), insektisida (Match 50EC). Media spesifik yang digunakan

untuk pengukuran kuantitas mikroba yaitu Nfb (Nitrogen free bromothymol blue)

(semi solid) yang terdiri atas asam malat 0,5 g; KOH 0,4 g; K2HPO4 0,05 g;

FeSO4 0,005 g; MnSO4 0,001 g; MgSO4 0,01 g; NaCl 0,002 g; CaCl2 0,002 g;

Na2MoO2 0,001 g; bromotimol biru 0,3 mL; Agar 1,75 g serta 100 mL akuades,

media Pikovskaya terdiri atas glukosa 1 g; Ca3PO40,5 g; (NH4)2SO40,05 g; KCl

0,02 g; MgSO4 0,01 g; MnSO4 0,01 g; FeSO4 0,01 g; yeast extract 0,05 g; agar

(50)

terdiri atas CMC 1 g; KNO3 0,075 g; MgSO4.7H2O 0,02 g; KH2PO4 0,05 g;

FeSO4.7H2O 0,002 g; CaCl2.2H2O 0,004 g; yeast extract 0,05 g; agar 17 g; serta

akuades 100 mL. Media tanam menggunakan lahan sawah di Desa Lemujut

Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Bahan lain yang

digunakan alkohol 70%, dan spirtus yang digunakan untuk sterilisasi alat dan

lingkungan kerja, akuades steril, kapas, aluminium foil, dan tissue.

3.2.2 Alat penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini ada dua kelompok. Untuk

alat yang digunakan di laboratorium adalah tabung reaksi (Pyrex), rak tabung

reaksi, cawan petri, pipet volum (Pyrex), labu Erlenmeyer (Herma dan Duran),

gelas beaker, gelas ukur (Pyrex), autoclave (OSK 6500, ALP Co. Ltd), timbangan

analitik (Shimadzu), kompor listrik, magnetic stirrer, water bath, inkubator, oven,

Laminar Air Flow (ESCO), Colony Counter (Galaxy 230), shaker (GLF), spatula,

pengaduk kaca, bunsen, handsprayer, seal/selotip, kertas coklat, label dan baki.

Sedangkan di lapangan menggunakan alat yaitu cangkul, jerigen (ukuran 15 liter),

ember plastik, syringe (ukuran 25 mL), pH meter, penggaris/meteran, timbangan

digital, kantong plastik, tali rafia, kertas HVS, pensil dan kamera.

3.3 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) dengan 11 jenis perlakuan yang terdiri atas perlakuan dari

kombinasi variasi dosis biofertilizer yang telah diencerkan dengan air

(51)

pemberian masing-masing dosis yaitu 1 kali yaitu pada 1 minggu setelah tanam, 2

kali yaitu pada 1 dan 3 minggu setelah tanam, dan 3 kali yaitu pada 1, 3 dan 5

minggu setelah tanam, 2 perlakuan kontrol yaitu kontrol negatif dilakukan tanpa

pemberian pupuk (hanya air) serta kontrol positif dilakukan dengan pemberian

pupuk kimia (Vitonic Super). Perlakuan pemberian biofertilizer dapat dilihat pada

Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Perlakuan pemberian biofertilizer

No Perlakuan 1. K -2. K+ 3. P1a 4. P1b 5. P1c 6. P2a 7. P2b 8. P2c 9. P3a 10. P3b 11. P3c

Jumlah ulangan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak tiga

ulangan, dan pada setiap pengulangan dengan lima tanaman. Untuk menentukan Keterangan:

K- : Tanpa pemberian biofertilizer (hanya air)

K+ : Pupuk kimia (Vitonic Super)

P1a : Biofertilizer dosis 5 mL dengan frekuensi 1 kali

P1b : Biofertilizer dosis 5 mL dengan frekuensi 2 kali

P1c : Biofertilizer dosis 5 mL dengan frekuensi 3 kali

P2a : Biofertilizer dosis 10 mL dengan frekuensi 1 kali

P2b : Biofertilizer dosis 10 mL dengan frekuensi 2 kali

P2c : Biofertilizer dosis 10 mL dengan frekuensi 3 kali

P3a : Biofertilizer dosis 15 mL dengan frekuensi 1 kali

P3b : Biofertilizer dosis 15 mL dengan frekuensi 2 kali

(52)

banyaknya sampel atau ulangan dalam penelitian, diperoleh dari rumus Faderer

(Arifiyah, 2007). Rumus Faderer adalah sebagai berikut:

(n-1) (t-1) ≥ 15

Keterangan:

n = jumlah sampel atau ulangan

t = jumlah perlakuan

3.3.1 Variabel penelitian

Pada penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu:

a. Variabel bebas : Interaksi dosis (5, 10, dan 15 mL) dan frekuensi

pemberian biofertilizer (1, 2, dan 3 kali)

b. Varibel terikat : Pertumbuhan tanaman kacang hijau meliputi

tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), dan

jumlah bintil akar serta produktivitas meliputi

jumlah polong, berat kering polong (g) dan berat

kering biji (g)

c. Variabel terkendali : Varietas tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.

var. VIMA-I)

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Pengukuran kuantitas mikroba dalam biofertilizer dan tanah pada media spesifik sebelum penanaman

Tahap sebelum penanaman kacang hijau adalah melakukan pengukuran

kuantitas mikroba dalam biofertilizer dan tanah pertanian yang akan digunakan

Gambar

Gambar 2.1 Batang Kacang Hijau varietas VIMA-I, bg: batang
Gambar 2.2 Daun Kacang Hijau varietas VIMA-I, dn: daun
Gambar 2.4 Bunga Kacang Hijau varietas VIMA-I, ba: bunga
Gambar 2.6 Biji Kacang Hijau varietas VIMA-I, bj: biji
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian larutan BaClg 0#5 mg/cc tnenjebabkan kenalkan tonus usus* Pada pemberian larutan BaGlg jang didahului dengan pemberian larutan dekok k®$ dosis 1 cc terlihat

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel eksternal yakni variabel pertumbuhan ekonomi dan inflasi serta variabel internal yakni suku bunga, Loan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Good Corporate Governance (GCG), Pelaporan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai perusahaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas SDM, komitmen organisasi, dan perangkat pendukung terhadap penerapan basis akrual dengan menggunakan

Dari latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isolat bakteri penghasil enzim protease dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH),

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Orientasi Pelanggan, Orientasi Penjualan, Pengalaman, dan Likeability Wiraniaga Terhadap Kepercayaan Pelanggan Kepada

Hasil tersebut digunakan untuk mengetahui pemanfaatan bioflok pada budidaya ikan lele dumbo dengan padat tebar yang berbeda terhadap laju pertumbuhan spesifik, panjang

Pemberian infus Hemigraphis colorata 10% dan 20% ma- sing-masing dosis 1 cc menjebabkan relaksasi dari usus, kemudian disueul dengan pemberian Histamine 500 /cc, terlihat