Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Borobudur

91 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia

(2)

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Kepariwisataan Dalam Era Presiden Joko Widodo ... 1

1.2 Posisi Pariwisata Indonesia Di Asean ... 6

1.3 Ruang Lingkup, Tujuan Dan Sistematika Penulisan ... 8

1.3.1 Ruang Lingkup ... 8

1.3.2 Tujuan Penyusunan ... 9

1.3.3 Sistematika Penulisan ... 9

BAB 2 KONSEP PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS INDONESIA ... 11

2.1 Konsep Pengembangan Produk Pariwisata Nasional ... 11

2.2 Definisi Dan Konsep Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas ... 15

2.3 Konsep Pengelolaan Kawasan Pariwisata Prioritas ... 24

2.4 Skema Pengelolaan Public Private People Partnership ... 27

2.5 Konsep Pengelolaan Resiko Bencana Di Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia ... 30

2.5.1 Macam-Macam Kejadian Bencana Di Indonesia ... 31

2.5.2 Tindakan Pencegahan Dan Penanggulanan Bencana Di Kawasan Pariwisata Indonesia ... 38

2.6 Konsep Tourism Cluster Di Indonesia ... 40

2.7 Siklus Hidup Kawasan Pariwisata Prioritas ... 41

2.8 Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia ... 44

2.9 Tahapan Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas ... 45

2.10 Konsep Pengembangan Pariwisata Borobudur ... 47

BAB 3 PERFORMASI DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS BOROBUDUR ... 48

3.1. Atraksi Daya Tarik ... 49

3.2. Aksesibilitas ... 53 3.3 Amenitas ... 55 3.4. Pasar Wisatawan ... 56 3.4.1 Wisatawan Mancanegara ... 56 3.4.2. Wisatawan Nusantara ... 57 3.5 Force Majeure ... 57

BAB 4 PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS BOROBUDUR... 60

4.1 Visi, Tujuan Dan Pencapaian Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Borobudur ... 60

4.1.1 Pengertian Visi Destinasi ... 60

(3)

4.1.3 Target Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Borobudur ... 61

4.2 Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Destinasi Borobudur ... 62

4.2.1 Atraksi ... 62

4.2.2 Aksesibilitas ... 67

4.2.3 Amenitas ... 69

4.3 Pengelolaan Destinasi ... 69

4.3.1 Badan ... 69

4.3.2 Kelembagaan Terkait Destinasi ... 70

4.4. Pengelolaan Force Mejaure ... 70

BAB 5 DUKUNGAN PENGEMBANGAN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS BOROBUDUR 72 5.1 Dukungan Pengembangan Pariwisata ... 72

5.2 Arah Pengembangan Destinasi ... 74

BAB 6 ANALISA EKONOMI PENGEMBANGAN DESTINASI ... 76

6.1 Proyeksi Investasi Pengembangan Destinasi ... 76

6.2 Proyeksi Perkembangan Ekonomi Destinasi ... 79

BAB 7 PENUTUP ... 81

7.1 Faktor Penentu Kesuksesan Pengembangan Destinasi ... 81

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Peringkat Indonesia Berdasarkan Travel and Tourism Impact 2015 ... 6

Tabel 2Atribut Pariwisata ... 12

Tabel 3 Atribut Pariwisata Primer dan Sekunder ... 14

Tabel 4 Kategori Produk Pariwisata Berdasarkan Industri ... 15

Tabel 5 Bauran Produk Pariwisata 3A dalam Konteks KSPN 3A ... 21

Tabel 6 Gambar Sistem Pengelolaan Terbuka dan Tertutup ... 24

Tabel 7 Ilustrasi dan Tabel Kawasan, Atribut Produk, dan Pengelolaan Sistem Terbuka ... 25

Tabel 8 Ilustrasi dan Tabel Kawasan, Atribut Produk dan Pengelolaan Sistem Tertutup ... 26

Tabel 9 Skor Indeks Resiko Bencana 10 Destinasi Pariwisata Prioritas ... 31

Tabel 10 Kejadian Konflik Terorisme di Indonesia ... 35

Tabel 11 Strategi Penangan Bencana di Destinasi Pariwisata ... 40

Tabel 10 Analisis Dampak Destinasi Pariwisata Prioritas Pada Siklus Pariwisata ... 43

Tabel 11 Tahap Perencanaan Destinasi Pariwisata Prioritas Borobudur ... 46

Tabel 12 Kondisi Bandara Adisucipto Yogyakarta ... 54

Tabel 13 Jumlah akomodasi di sekitar Candi Borobudur. ... 55

Tabel 14 Daftar Wisatawan Mancanegara Dan Nasional Yang Berkunjung Ke Candi Boroburu Dari Tahun 2010-2014 ... 56

Tabel 15 Jumlah, Pertumbuhan Kunjungan, dan Target Wisatawan Mancanegara ... 61

Tabel 16 Proyeksi Jumlah Wisman ... 62

Tabel 17 Target Pasar Wisman ... 62

Tabel 18 Tema Pengembangan Pariwisata Magelang ... 63

Tabel 19 Keterkaitan Kawasan Pariwisata Magelang dengan Wilayah yang lebih luas yaitu Jogyakarta dan Jawa Tengah ... 64

Tabel 20 Jalur Wisata Lokal dan Regional ... 66

Tabel 21 Hub Destinasi ... 67

Tabel 22 Rincian Jenis Sarana dan Kebutuhan Dukungan Penrhubungan Udara ... 67

Tabel 23 Rincian Jenis Sarana dan Kebutuhan Dukungan Perhubungan Laut ... 68

Tabel 24 Rincian Jenis Sarana dan Kebutuhan Dukungan Pengembangan Destinasi ... 68

Tabel 25 Investasi Pemerintah ... 76

Tabel 26 Investasi Swasta ... 78

Tabel 27 Biaya Total Investasi ... 79

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Misi Nawacita dan Pembangunan Kepariwisataan 2015 ... 1

Gambar 2 Diagram laba daya saing kepariwisatan Indonesia ... 8

Gambar 3 Pariwisata sebagai Sistem dalam Modep Leiper ... 11

Gambar 4 Model Terpadu Untuk Kebersaingan Destinasi ... 12

Gambar 5 Strategi Diferensiasi Gilber untuk Atribut Produk Pariwisata ... 13

Gambar 6 Gambaran Konsep Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Ripparnas ... 17

Gambar 7 Ilustrasi KSPN+3A dengan Multicore ... 20

Gambar 8 Ilustrasi KSPN Prioritas dengan 3A dan KEK/Resor ... 22

Gambar 9 Konsep Pengembangan KSPN+3A ... 23

Gambar 10 Diagram Tradisional Perencanaan Barang Publik dan Pemerintah ... 27

Gambar 11 Diagram Perencanaan dan Penerapan dalam Kerjasama Publik dan Privat... 28

Gambar 12 Area Peristirahatan Onibei Edo-dokoro ... 28

Gambar 13 Gedung Publik Privat Pertama di Jepang ... 29

Gambar 14 Peta Indeks Risiko Bencana Indonesia ... 31

Gambar 15 Peta Resiko Bencana Alam Indonesia ... 32

Gambar 16 Peta Sebaran Kasus Klinis Malaria di Indonesia... 37

Gambar 17 Peta Sebaran Kasus Klinis Demam Berdarah di Indonesia ... 37

Gambar 18 Peta Sebaran Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ... 40

Gambar 19 Sisten Pariwisata Terpadu ... 41

Gambar 20 Siklus Hidup Pariwisata 10 Destinasi Prioritas ... 42

Gambar 21 Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas ... 44

Gambar 22 Tahapan Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas ... 45

Gambar 23 Peta Orientasi Wilayah Candi Borobudur... 48

Gambar 24 Peta Destinasi Pariwisata Nasional Borobudur-Yogya dan Sekitarnya ... 50

Gambar 25 Peta Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur dan Sekitarnya ... 51

Gambar 26 Kemegahan Candi Borobudur ... 52

Gambar 27 Yogyakarta Tourism Map ... 53

Gambar 28 Rute Perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta ... 54

Gambar 29 Peta Rawan Bencana Gunung Merapi ... 58

Gambar 30 Peta Dukungan Kementerian PUPR dan Perumahan tahun 2015 di Kawasan Wisata Candi Borobudur ... 72

(6)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 KEPARIWISATAAN DALAM ERA PRESIDEN JOKO WIDODO

Presiden Joko Widodo telah menetapkan Nawa Cita sebagai program prioritas pembangunan

Kabinet Kerja 2015-2019. Pada kabinet kerja, sektor kepariwisataan tumbuh menjadi sektor

unggulan dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan menjadi lokomotif untuk penerimaan devisa

negara, pengembangan usaha, pembangunan infrastruktur serta penyerapan tenaga kerja. Misi

Nawacita Pemerintahan Presiden Joko Widodo, jika dimasukan pemahaman pariwisata, maka

akan terlihat seperti dalam gambar 1. Bahwa pariwisata dinilai merupakan sektor strategis

perekonomian Indonesia di era Presiden Joko Widodo ditandai dengan pembentukan lembaga

khusus pariwisata yaitu Kementerian Pariwisata.

(7)

2

Di era Presiden Joko Widodo ini, konsep menghadap laut, bukan memunggungi laut akan

banyak memberdayakan sumber daya kelautan. Jika dihubungkan dengan pariwisata, maka

pariwisata bahari dan berbasis maritim akan menjadi fokus pengembangan kepariwisataan

Indonesia. Di sisi kelembagaan, munculnya undang-undang yang mengatur secara khusus

kawasan ekonomi pariwisata di Indonesia ditandai dengan keputusan presiden terhadap beberapa

kawasan pariwisata seperti Morotai, Tanjung Lesung dan Mandalika. Beberapa kawasan lainnya

masih dalam proses seperti Kepulauan Seribu dan Tanjung Kelayang. Berdasarkan prinsip Nawa

Cita yang lain, maka perkembangan daerah terpencil, pulau kecil, akan menjadi prioritas

pengembangan.

Upaya memposisikan peran strategis sektor pariwisata dalam perekonomian nasional telah

dirintis sejak 2 dekade yang lalu melalui program

Visit Indonesia Year 1991

. Dukungan yang

konsisten untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi strategis masa depan semakin

menunjukkan hasil yang positif dari tahun ke tahun. Saat ini, Kementerian Pariwisata

menetapkan enam target utama pembangunan pariwisata. Pertama, kontribusi pariwisata

terhadap Pendapatan Domestik Bruto meningkat dari 9 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada

2019. Kedua, devisa meningkat dari Rp 140 triliun pada 2014 menjadi Rp 280 triliun pada 2019.

Ketiga, kontribusi terhadap kesempatan kerja meningkat dari 11 juta pada 2014 menjadi 13 juta

pada 2019. Keempat, indeks daya saing pariwisata meningkat dari peringkat 70 pada 2014

menjadi 30 pada 2019. Kelima, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara meningkat dari 9.4

juta pada 2014 menjadi 20 juta pada 2019. Keenam, jumlah perjalanan wisatawan nusantara

meningkat dari 250 juta pada 2014 menjadi 275 pada 2019.

Untuk memilih destinasi pariwisata prioritas maka ada beberapa pertimbangan sesuai dengan

pidato Menteri Pariwisata Republik Indonesia pada hari pariwisata dunia 27 September 2015,

beberapa prinsip penyelenggaraan kepariwisataan, yaitu:

-

Kepariwisataan berbasis budaya: kegiatan kepariwisataan di Indonesia tidak boleh

bertentangan dengan nilai luhur budaya bangsa, haruslah selalu berlandaskan akan

nilai-nilai agama, budaya, adat istiadat dan tradisi bangsa Indonesia.

-

Kepariwisataan berbasis masyarakat: tujuan utama adalah menyejahterakan masyarakat

setempat dengan memberdayakan, berperan serta langsung serta kepemilikan secara

proporsional untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi masyarakat.

-

Kepariwisataan berbasis lingkungan: alam mempunyai kedudukan yang sama sebagai ciptaan

Tuhan, menggunakan alam dan sekaligus melestarikannya agar dapat dimanfaatkan oleh

generasi yang akan datang.

Ketiga norma tersebut sebagai satu kesatuan haruslah menjadi acuan dasar dalam pembangunan

kepariwisataan yang meliputi destinasi pariwisata, industri pemasaran pariwisata dan

kelembagaan kepariwisataan.

(8)

3

Mengacu tujuan umum Pembangunan Kepariwisataan Jangka Mengengah 2015-2019:

Terwujudnya penyelenggaraan kepariwisataan yang berdaulat, mandiri, berkepribadian

berdasarkan gotong royong”,

melalui lima program pokok yang mencakup:

-

Peningkatan pertumbuhan ekonomi;

-

Pemerataan pembangunan pariwisata;

-

Pengentasan kemiskinan melalui pariwisata;

-

Pengembangan pariwisata bahari;

-

Pengembangan kawasan strategis pariwisata.

Dengan maksud untuk turut berpartisipasi dalam terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa,

keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sejalan dengan Undang-Undang tentang Kepariwisataan dan Nawa Cita Presiden, maka sangat

mendesak untuk membangun Kawasan Strategi Pariwisata Nasional di wilayah perbatasan darat

dan laut yang berbatasan dengan negara tetangga yang berada di Kepulauan Riau, Anambas,

Sabang, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Maluku.

Dalam pengembangan kepariwisataan, maka perlu ditanamkan sikap menabung untuk generasi

mendatang, agar terus lestari. Pengembangan pariwisata yang berkualitas harus sejalan dengan

peningkatan dan pengembangan market portofolio personal, bisnis, dan pasar khusus.

Pembangunan pariwisata dan pengelolaan lingkungan hidup harus saling melengkapi dan dapat

menjadi daya tarik dan pesona bagi wisatawan.

Pengembangan industri pariwisata sangat berbeda dengan industri lain pada umumnya seperti

retail atau jasa. Beberapa keunikan tentang pengembangan pariwisata adalah:

1.

Target pasar lebih sulit ditentukan karena sangat tergantung kepada perubahan tren, dll.;

2.

Sifatnya musiman. Kadang naik dan turun;

3.

Cuaca, sering sukar diprediksikan;

4.

Bervariasinya ekspektasi dari konsumen;

5.

Perkembangan pasar bersifat periode yang panjang, sehingga sedikit sekali bisnis pariwisata

yang mampu bertahan;

6.

Modal awal sangat besar.

7.

Cara berkompetisi pelaku pasar justru dengan saling berkolaborasi untuk mempromosikan

tujuan wisata;

8.

Tidak ada dominasi penggunaan asset alam;

9.

Penambahan modal diperlukan terus menerus (large-up front capital) untuk pengembangan

bisnis pariwisata;

10.

Skala produk pariwisata sangat bervariasi.

Dari sisi penilaian internasional, pencitraan Indonesia masih terbilang bagus dengan status

peringkat 35 dunia dan 13 Asia. Sehingga seharusnya, bila dilakukan secara terpadu, pemasaran

(9)

4

pariwisata Indonesia tidak hanya dilakukan dengan cara strategi pencitraan, tapi bisa mulai

masuk pada strategi pengelolaan media komunikasi, baik untuk wisatawan potensial yang ada di

mancanegara, wisatawan yang sedang berada di Indonesia, maupun wisatawan yang pernah

berkunjung ke Indonesia.

Dari sisi tata laksana kepariwisataan Indonesia, aksesibilitas pariwisata menjadi suatu

permasalahan di tengah infrastruktur perhubungan Indonesia yang masih belum memadai bahkan

untuk warga Negara Indonesia sendiri. Permasalahan aksesibilitas untuk sektor pariwisata

terutama dari negara-negara yang menjadi fokus pasar Indonesia adalah bahwa tidak semua

negara memiliki penerbangan langsung dari dan ke Indonesia. Banyak negara dihubungkan

dengan penerbangan tidak langsung sehingga mengharuskan wisatawan untuk transit. Hub

dimana wisatawan mancanegara transit menjadi penting untuk kepariwisataan Indonesia. Akan

tetapi kapasitas dari bandara masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan realisasi kunjungan.

Permasalahan seperti ketidaksiapan sarana dan prasarana destinasi, keamanan, kebersihan,

ketertiban destinasi, keterbatasan aksesibilitas, dan hambatan konektivitas yang membuat jumlah

wisatawan yang datang ke Indonesia masih belum optimal. Hal tersebut disebabkan oleh belum

terciptanya hubungan pemerintah – swasta yang kuat, dalam artian belum terjalinnya

kepercayaan swasta dalam rencana pembangunan yang dilakukan pemerintah baik pemerintah

pusat dan daerah. Hal ini yang menyebabkan pihak swasta yang seyogyanya dapat menjadi

trigger dalam pembangunan belum mau untuk berinvestasi di kawasan-kawasan pariwisata yang

masih dalam tahap perintisan. Koordinasi pengelolaan pariwisata antara pemerintah pusat dan

daerah yang masih belum satu visi, menyebabkan rencana pembangunan tidak berjalan sinergis.

Dalam website

The Economist

, disebutkan bahwa hampir 10 juta wisatawan akan memasuki

Indonesia tahun 2015, kebanyakan mengunjungi bar dan pantai di Bali. Itu adalah rekor

kunjungan wisatawan mancanegara untuk Indonesia. Akan tetapi angka ini masih kurang sekitar

12 juta dibandingkan dengan wisatawan yang mengunjungi Singapura, dan jauh tertinggal

dibandingkan Thailand sekitar 26 juta. Beberapa kelemahan Indonesia adalah peraturan visa

yang tidak fleksibel, transportasi yang kurang mementingkan keselamatan, kebakaran hutan

tahunan, dan ketakutan tehadap teroris, yang menyerang wisatawan beberapa kali di tahun

2000an.

Pengembangan pariwisata merupakan prioritas untuk Presiden Joko Widodo. Hal ini karena

menguatnya Dollar dari para wisatawan sebagai akibat dari penurunan industri di China, yang

mempengaruhi permintaan terhadap komoditi Indonesia dan juga nilai tukar rupiah. Selain

mendorong perjalanan domestik, pemerintah menargetkan setidaknya 20 juta turis bisa masuk

setiap tahunnya ke Indonesia pada tahun 2020. Banyak yang harus dilakukan para penyelenggara

pariwisata untuk mewujudkan hal itu. Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat mendukung

pariwisata seperti 13000 pulau yang indah, warganya yang ramah, dan pencitraan Islam yang

toleran.

(10)

5

Dari sisi regulasi pengelolaan kepariwisataan, otonomi daerah berdampak pada pengelolaan

pariwisata yang mandiri dan adaptif terhadap perkembangan yang terjadi, terutama pada pelaku

industri pariwisata yang ada di daerah tujuan wisata. Oleh karena itu, kerjasama yang sinergis

perlu dilakukan antara sektor publik dan privat untuk pengembangan pariwisata di Indonesia.

Diperlukan pengelolaan pariwisata yang terintegrasi dengan baik secara vertikal maupun

horizontal.

Perkembangan kepariwisataan Indonesia terkini yakni, pada bulan Oktober 2015 adalah

kerjasama pemerintah Indonesia dengan Ogilvy, agen periklanan besar internasional, untuk

mendorong pencitraannya; selain itu, otoritas imigrasi telah memberikan visa masuk gratis untuk

90 negara di 3

Greater Indonesia

, Batam, Bali dan Jakarta; dokumen perencanaan dibuat

menggunakan kesepakatan publik dan privat; dan yang terakhir, menyusun konsep

Pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia sebagai ujung tombak pengembangan

pariwisata Indonesia di tahun 2015.

10 Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia diharapkan dapat memberikan sebaran kegiatan

pariwisata di wilayah Republik Indonesia sehingga mendukung pada pemerataan kesejahteraan

masyarakat, membuka lapangan kerja dan kesempatan usaha, sekaligus memberikan solusi bagi

kawasan-kawasan pariwisata di Indonesia yang kapasitas daya dukungnya sudah maksimal.

Berikut ini adalah 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia, yaitu:

1.

Danau Toba

2.

Tanjung Kelayang

3.

Kepulauan Seribu

4.

Tanjung Lesung

5.

Borobudur

6.

Bromo

7.

Mandalika

8.

Labuan Bajo

9.

Wakatobi

10.

Morotai

Dengan melakukan prioritasi diharapkan focus pembangunan di 10 Destinasi ini dapat

memberikan dampak langsung maupun tidak langsung untuk mengelola sumber daya alam dan

budaya yang dimiliki Indonesia agar bisa memberikan manfaat ekonomi untuk rakyat Indonesia.

Beberapa langkah yang telah dilakukan oleh Kementerian Pariwisata untuk terus mengejar target

pembangunan kepariwisataan diantaranya adalah:

Dengan memberikan kebijakan bebas visa kunjungan untuk totalnya 90 negara;

Meningkatkan kemudahan prosedur visa dengan ICT;

Meningkatkan dan menyebarluaskan informasi tentang bebas visa kunjungan di negara

target pasar;

(11)

6

Eksplorasi kemungkinan program e-visa;

Menjajaki kemungkinan kerjasama regional ASEAN terkait fasilitasi bebas visa seperti di

Eropa.

Langkah-langkah strategis pemerintah Indonesia untuk mendorong akselerasi pencapaian

kinerja kepariwisataan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang telah dijalankan

adalah sebagai berikut:

Revisi Perpres 179 mengenai tidak diberlakukannya lagi CAIT (

Clearance Approval for

Indonesian Territory

);

Pengembangan 100 Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata;

Penetapan minimal 10 Destinasi Prioritas setiap tahun;

Pemasaran Nusantara dan Mancanegara dengan tag line

Wonderful Indonesia

dan Pesona

Indonesia yang menekankan strategi pemasaran DOT (Destinasi, Originasi dan Time);

Alokasi dukungan pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas termasuk kapasitas dan

pelayanan di bandara dari Kementeria PU-Pera dan Kementerian Perhubungan dan

Kementerian Lembaga terkait lainnya.

1.2 POSISI PARIWISATA INDONESIA DI ASEAN

Dari sisi politik dan regulasi, pariwisata merupakan salah satu sektor prioritas dalam ASEAN

Free Trade Area (AFTA), yang berarti secara bahu-membahu negara-negara anggota ASEAN

akan melakukan promosi secara bersama-sama dalam bidang pariwisata, dan Indonesia harus

mempersiapkan diri menghadapi gelombang lonjakan wisatawan tersebut. Posisi Indonesia

sebagai anggota Dewan Eksekutif

United Nation World Tourism Organisation

(UNWTO) dapat

dijadikan suatu keunggulan dalam arah kebijakan UNWTO yang menguntungkan kepariwisataan

Indonesia. Regulasi kemudahan

visa on arrival

atau

free visa

dapat meningkatkan minat

wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Dalam Tabel 1, dapat dilihat peringkat Indonesia berdasarkan evaluasi dampak ekonomi melalui

dokumen

Travel and Tourism Impact 2015

. Pariwisata Indonesia memiliki dampak yang cukup

tinggi dalam perekonomian Indonesia yaitu peringkat ke-17 dari 83 negara. Sementara,

kontribusi pariwisata Indonesia dalam produk domestik bruto sebesar 79,8 juta dolar. Angka

yang lebih tinggi dibandingkan dengan Thailand maupun Malaysia yang jumlah pengunjung

wisatawan mancanegaranya jauh di atas Indonesia. Hal ini memberikan gambaran bahwa

pariwisata Indonesia lebih berkualitas dibandingkan dengan pariwisata yang diselenggarakan di

kedua negara tersebut.

Tabel 1 Peringkat Indonesia Berdasarkan Travel and Tourism Impact 2015

Peringkat

Negara

2014

(US $ bn)

(12)

7

Peringkat

Negara

2014

(US $ bn)

11

Australia

145.7

12

India

125.2

17

Indonesia

79.8

18

Thailand

72.2

Rata-rata Asia Pasifik

67.3

Rata-Rata Dunia

58.3

26

Malaysia

49.2

36

Filipina

31.8

51

Vietnam

17.3

83

Kamboja

5.1

Sumber: Travel and Tourism Economy Impact (2015)

Apabila melihat tingkat daya saing Indonesia berdasarkan

Tourism and Competitiveness Indeks

,

nilai Indonesia meningkat dari level 72 menjadi tingkat 50 dunia, ini merupakan performa yang

baik atas kerja pariwisata lima tahun belakangan ini. Berdasarkan TTCI, pariwisata telah menjadi

sektor prioritas di Indonesia (di posisi 15), dan terdapat investasi yang terus menerus di bidang

infrastruktur terutama transportasi udara (di posisi 39), akan tetapi transportasi darat masih

kurang memadai (di posisi 77). Keunggulan bersaing Indonesia adalah pada harganya yang

kompetitif (posisi 3), sumber daya alamnya yang kaya (posisi 19), keberagaman hayati (posisi 4),

dan situs warisan budaya (posisi10).

Walaupun Indonesia bergantung pada sumber daya alam untuk pariwisatanya, tetapi Indonesia

tidak menempatkan keberlangsungan lingkungan (posisi 134) dalam kebijakan-kebijakannya.

Sebagai akibat dari kurangnya perhatian pemerintah akan isu lingkungan terjadi penurunan lahan

hutan (posisi 97) yang membahayakan jumlah spesies flora dan fauna (posisi 129). Selain itu

pengolahan air di Indonesia kurang baik (117). Dalam dokumen tersebut disebutkan juga bahwa

keberlangsungan lingkungan Indonesia dinilai rendah karena Indonesia kehilangan 990.000

hektar lahan hutan pada tahun 2010-2013.

World Rescue Institute

memperkirakan bahwa 45%

terumbu karang di kawasan

Coral Triangle

menghadapi ancaman tingkat tinggi. Isu-isu tersebut

merupakan isu penting dalam agenda politik yang memberikan inisiasi dan arahan kebijakan

melalui organisasi seperti IUCN, FAO, UNEP, dan

Roundtable on Sustainable Palm Oil

yang

membutuhkan model kerjasama multi stakeholder. Ada catatan juga terhadap kelemahan

Indonesia untuk keamanan dan keselamatan, terutama biaya yang ditanggung oleh bisnis karena

tindak terorisme (posisi 104).

Secara singkat, evaluasi kepariwisataan Indonesia menurut

Travel and Tourism Competitiveness

Index

dapat terlihat di gambar 2. Dalam gambar 2 terlihat bahwa unsur kesehatan dan

kebersihan, kesiapan teknologi informasi dan komunikasi, keberlanjutan lingkungan,

(13)

8

infrastruktur darat dan pelabuhan, serta infrastruktur layanan pariwisata Indonesia masih lemah

dan belum bersaing ketimbang negara lain di dunia.

Gambar 2 Diagram laba daya saing kepariwisatan Indonesia

Sumber: Travel dan Tourism Competitiveness Index, 2015, UNWTO

1.3 RUANG LINGKUP, TUJUAN DAN SISTEMATIKA PENULISAN

1.3.1 Ruang Lingkup

Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Borobudur ini memiliki ruang

lingkup sebagai berikut:

1.

Konsep pengembangan destinasi pariwisata prioritas

2.

Konsep pengelolaan destinasi pariwisata prioritas

3.

Tahapan pengembangan destinasi pariwisata prioritas

4.

Visi pengembangan destinasi pariwisata prioritas

5.

Tujuan pengembangan destinasi pariwisata prioritas

6.

Target pengembangan destinasi pariwisata prioritas

7.

Strategi pengembangan destinasi pariwsata prioritas

8.

Dukungan pengembangan destinasi pariwisata prioritas

9.

Analisa ekonomi pengembangan destinasi pariwisata prioritas

(14)

9

1.3.2 Tujuan Penyusunan

Tujuan penyusunan Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Borobudur

adalah sebagai berikut:

Mengidentifikasi konsep pengembangan destinasi pariwisata yang paling tepat untuk

Destinasi Pariwisata Prioritas Borobudur

Mengidentifikasi konsep pengelolaan destinasi prioritas yang paling tepat untuk

Borobudur

Menyusun visi, tujuan, target pengembangan destinasi pariwisata prioritas Borobudur

Menyusun dukungan pengembangan destinasi pariwisata prioritas Borobudur

Melakukan analisis ekonomi pengembangan destinasi pariwisata prioritas Borobudur

Menjadi bahan dasar penyusunan rencana pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas

Borobudur

Menjadi panduan pengembangan destinasi Pariwisata prioritas Borobudur

1.3.3 Sistematika Penulisan

Buku ini disusun bersama dengan 10 seri Buku Pengembangan Destinasi Pariwiata Prioritas Indonesia sebagai berikut:

1. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Danau Toba 2. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Tanjung Kelayang 3. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Tanjung Lesung 4. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Kepulauan Seribu 5. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Borobudur 6. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Bromo 7. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Mandalika 8. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Labuan Bajo 9. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Wakatobi 10. Buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia Morotai

Dengan masing-masing seri akan membahas sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan penyusunan buku Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia. Berikut ini adalah pembahasan bab yang terkandung dalam masing-masing buku, yaitu:

Bab 1, Pendahuluan, yang merupakan pengantar pembuka dari tiap buku yang akan menjelaskan alasan yang melatarbelakangi pengembangan destinasi pariwisata prioritas di Indonesia. Dalam bab ini juga akan dibahas mengenai serial buku pengembangan destinasi pariwisata prioritas Indonesia.

(15)

10 Bab 2, Konsep Pengembangan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata Prioritas Indonesia, dalam bab ini akan dibahas mengenai konsep serta pengelolaan yang akan diterapkan dalam destinasi pariwisata prioritas Indonesia. Sumber-sumber referensi dan contoh digunakan untuk menjelaskan konsep ini.

Bab 3, Performansi Destinasi Pariwisata Prioritas, dalam bab ini akan dibahas mengenai profil kepariwisataan dalam destinasi. Komponen yang dibahas adalah atraksi, aksesibilitas, amenitas, pasar, serta force majeure yang pernah terjadi di dalam kawasan. Pembahasan dalam bab ini berdasarkan survey lapangan, observasi serta diskusi yang dilakukan untuk menyusun buku ini.

Bab 4, Pengembangan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata Prioritas, bab ini akan membahas mengenai visi, tujuan dan target pengembangan destinasi, serta strategi dan pengelolaan yang akan dilakukan dalam pengembangan destinasi pariwisata prioritas.

Bab 5, Dukungan Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas, dalam bab ini akan dibahas dukungan dana rah pengembangan destinasi pariwisata sesuai dengan visi pengembangan destinasi pariwisata prioritas.

Bab 6, Analisa Ekonomi Pengembangan Destinasi Pariwiata Prioritas, dalam bab ini akan dibahas rancangan anggaran yang dibutuhkan untuk pengembangan destinasi pariwisata prioritas baik dari sisi public maupun privat, serta rasio biaya dan pendapatan dari pengembangan destinasi pariwisata prioritas.

Bab 7, Penutup, dalam bab ini akan dibahas mengenai factor penentu kesuksesan pengembangan destinasi pariwiata prioritas, serta skema pengembangan destinasi.

(16)

11

BAB 2 KONSEP PENGEMBANGAN

DAN PENGELOLAAN DESTINASI

PARIWISATA PRIORITAS INDONESIA

Dalam mengembangkan destinasi pariwisata terdapat beberapa konsep pengembangan pariwisata yang menjadi dasar pertimbangan dan penentu arah perkembangan. Konsep pengembangan destinasi pariwisata dijabarkan disub bab- sub bab berikut dimana dipaparkan konsep pariwisata secara umum, kemudian dalam konteks nasional dan spesifik untuk destinasi yang menjadi lingkup wilayah pembahasan.

2.1 KONSEP PENGEMBANGAN PRODUK PARIWISATA NASIONAL

Pengertian pariwisata sebagai sistem memungkinkan kita untuk memahami secara keseluruhan proses yang berlangsung baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Menurut model Leiper kegiatan pariwisata dapat terjadi karena berlangsungnya suatu proses timbal balik antara sisi permintaan dan penawaran dimana interaksi ini khususnya terjadi di tiga elemen kunci (Candela dan Figini, 2012). Pengertian pariwisata sebagai sistem berdasarkan model Leiper dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3 Pariwisata sebagai Sistem dalam Modep Leiper

Sumber: Candela dan Figini, 2012:24

Model Leiper ini memudahkan kita untuk mengidentifikasi berapa banyak elemen dan pihak yang terlibat dalam menciptakan pengalaman pariwisata. Ketiga elemen yang saling berinteraksi menurut model ini adalah tempat asal pelancong, rute transit yang dilalui dan tempat tujuan pelancong. Ruang pariwisata merupakan ruang yang masuk ke dalam lingkup rute perjalanan pelancong dan dipengaruhi oleh jenis wisata yang ditawarkan serta jangka waktu yang dimiliki untuk berwisata. Dalam menciptakan pengalaman pariwisata diketahui bahwa terdapat dua elemen pariwisata utama yang mempengaruhi yaitu berbagai jenis kegiatan pariwisata yang ditawarkan (wisata budaya, wisata lingkungan, dll) dan jangka waktu dari perjalanan yang dilakukan wisatawan (dari perjalanan sehari sampai antarbenua).

(17)

12

Gambar 4 Model Terpadu Untuk Kebersaingan Destinasi Sumber: adaptasi dari Dwyer et.al , 2004

Atribut dan Produk Pariwisata

Sistem pariwisata ini terdiri dari berbagai elemen dan pihak yang saling berinteraksi serta atribut yang mendukung pengalaman pariwisata bagi wisatawan. Pihak yang berpengaruh dalam manajemen pariwisata ini adalah swasta yang bergerak dalam bidang pariwisata dan pemerintah. Semua elemen harus saling bersinergi agar dapat mencapai kualitas daya tarik kawasan pariwisata yang lebih baik. Dewasa ini pasar pariwisata semakin kompetitif karena adanya perubahan permintaan dari wisatawan yang menginginkan pengalaman pariwisata yang bersifat pribadi dan dengan kemunculannya destinasi pariwisata-pariwisata yang baru. Ini menyebabkan perlunya menilai performansi dari suatu destinasi agar dapat meningkatkan posisi daya saing dan daya tarik wisatanya jika dibandingkan dengan destinasi pariwisata lainnya. Performansi suatu destinasi dapat diukur melalui persepsi terhadap atribut yang terdapat di destinasi tersebut. Atribut pariwisata adalah sekumpulan atribut yang mendeskripsikan suatu tempat sebagai destinasi pariwisata (Heung & Quf dalam Ragavan et al, 2014).

Tabel 2Atribut Pariwisata

Atribut Pariwisata Ragawi Atribut Pariwisata Tak Ragawi Atraksi Daya Tarik

Aksesibilitas Amenitas Paket Tersedia Aktivitas Fasilitas Pendukung Kualitas Keamanan Keselamatan Kemudahan Kecepatan Respon Unik Terkenang Sumber: adaptasi dari Dwyer et.al , 2004

(18)

13 Atribut ini terbagi atas dua jenis, yaitu tangible dan intangible dimana tangible merupakan atribut yang terukur dan intangible merupakan atribut tak terukur karena berhubungan dengan rasa. Atribut yang tangible dipengaruhi oleh penyediaan berbagai infrastruktur, barang dan kegiatan pendukung pariwisata. Sementara, intangible tergantung kepada kualitas dan ketanggapan penyedia jasa di kawasan pariwisata. Atribut-atribut pariwisata yang disediakan baik tangible maupun intangible di suatu kawasan pariwisata menjadi produk unik dari kawasan yang dapat mempengaruhi persepsi wisatawan dan pasar pariwisata mengenai kawasan pariwisata tersebut. Kumpulan atribut yang disediakan merupakan produk pariwisata yang ditawarkan di kawasan pariwisata. Hal ini dapat dipahami jika melihat kerangka Strategi Deferensiasi Glibert dalam gambar 5.

Gambar 5 Strategi Diferensiasi Gilber untuk Atribut Produk Pariwisata Sumber: Adaptasi dari Buhalis, 2000 diadaptasi dari Gilbert 1990: 25

Menurut Gilbert kawasan pariwisata dapat dipahami secara kontinum antara kawasan status dan kawasan komoditas, dimana kawasan status memiliki sekumpulan atribut produk yang hanya tersedia di destinasi tersebut dan membuat destinasi itu tidak dapat tergantikan oleh destinasi lainnya. Kawasan komoditas adalah kawasan yang mudah tergantikan, dimana keputusan mengunjungi hanya berdasarkan harga dan tidak dapat menarik wisatawan berpengeluaran tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya atribut produk harus bergerak menuju menjadi kawasan berstatus daripada tetap menjadi kawasan komoditas, agar dapat memperbaiki loyalitas pengunjung wisata, keuntungan secara ekonomi dan meninggalkan kesan kepada wisatawan. Produk atribut sebaiknya mendiferensiasikan diri sehingga mendapatkan“keuntungan produk pariwisata” yang unik.

a. Atribut Pariwisata

Atribut pariwisata dapat dibagi berdasarkan status, yaitu status primer dan status sekunder. Atribut primer merupakan atribut yang bersifat fisik dan pendukung utama pariwisata di suatu kawasan pariwisata. Atribut primer ini adalah fasilitas dasar yang dibutuhkan agar kegiatan pariwisata dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tiga komponen dasar dari pariwisata inilah yang dikenal sebagai 3 A pariwisata. Atraksi, amenitas dan aksesibilitas (3A) ini merupakan atribut-atribut yang menjadi perhatian utama

(19)

14 pemerintah pusat karena ketiga atribut ini terkait dengan masalah konektivitas, tumpang tindih kewenangan dan banyaknya pihak keberpentingan di kawasan pariwisata sehingga memerlukan koordinasi lintas sektor.

Atribut atraksi dapat dianggap sebagai salah satu komponen dasar pariwisata yang sangat penting karena merupakan tujuan utama wisatawan untuk melakukan perjalanan ke destinasi wisata tertentu. Atraksi merupakan daya tarik wisata yang telah disiapkan untuk dinikmati oleh wisatawan. Komponen penting selanjutnya adalah aksesibilitas atau kemampuan untuk

mencapai tempat tujuan melalui berbagai sarana transportasi. Kegiatan kepariwisataan tergantung kepada aksesibilitas karena salah satu faktor yang mempengaruhi wisatawan melakukan perjalanan wisata adalah masalah jarak tempuh dan waktu. Aksesibilitas ini berkaitan dengan transportasi dan prasarana transportasi.

Transportasi yang baik dapat mengakibatkan jarak seakan-akan menjadi dekat dan sementara prasarana transportasi ini menghubungkan satu node atau tempat dengan node atau tempat lainnya. Suatu destinasi wisata yang tidak memiliki aksesibilitas yang baik akan menyebabkan terhalangnya wisatawan menuju tempat wisata tersebut sehingga tidak dapat berkembang dengan baik. Amenitas adalah fasilitas pendukung yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di kawasan pariwisata. Amenitas ini bertujuan untuk menciptakan kenyamanan bagi wisatawan di suatu destinasi wisata. Hal-hal yang termasuk dalam amenitas adalah kebutuhan akomodasi, fasilitas hiburan dan layanan catering/jasa boga.

Tabel 3 Atribut Pariwisata Primer dan Sekunder

Status Atribut Contoh

Pr

im

er Attractions Natural, buatan manusia, artifisial, dibuat dengan tujuan, warisan budaya, event spesial Accesibility Seluruh sistem transportasi yang termasuk pada

rute, terminal dan kendaraan

Amenities Akomodasi dan fasilitas katering, dan layanan pariwisata lainnya S ek u n d

er Available Packages Paket wisata yang dibuat oleh perantara atau pelaku utama Activities Aktifitas yang tersedia di destinasi dan apa yang

wisatawan dapat lakukan selama kunjungan Ancillary

Services

Layanan pendukung yang akan digunakan wisatawan seperti bank, telekomunikasi, surat menyurat, berita, rumah sakit

Sumber: Buhalis, 2000 b. Produk Pariwisata

Produk pariwisata merupakan hasil dari upaya suatu kawasan pariwisata untuk menciptakan secara khusus pelayanan jasa dan amenitas pariwisata (seperti akomodasi, transportasi, jasa boga, rekreasi dan

Kawasan Pariwisata harus bertujuan untuk menjadi produk pariwisata yang „berkelas‟ bukan hanya sekedar sebuah produk pariwisata

(20)

15 hiburan dll) dan berbagai barang publik (seperti bentang alam, pemandangan, laut, danau, lingkungan sosial budaya, suasana dll) (Buhalis, 2000). Dengan menciptakan secara khusus dan membedakan atribut-atribut yang sesuai dengan kebutuhan di kawasan pariwisata akan tercipta keunikan dari kawasan pariwisata tersebut yang membedakan destinasi satu dengan destinasi lainnya.

Produk pariwisata juga dapat dikategorikan berdasarkan industri pariwisata yang menghasilkannya. Pariwisata dapat dikategorikan sebagai industri karena merupakan salah satu industri penghasil ekspor terpenting di dunia penyedia devisa dan lapangan pekerjaan. Produk pariwisata ada karena adanya kegiatan pariwisata di kawasan pariwisata; tanpa kegiatan pariwisata produk pariwisata ini akan hilang dengan sendirinya.

Tabel 4 Kategori Produk Pariwisata Berdasarkan Industri

No. Produk Pariwisata Industri Pariwisata

1 Pelayanan jasa akomodasi untuk pengunjung Akomodasi untuk pengunjung

2 Pelayanan jasa boga/catering Kegiatan pelayanan jasa boga/catering 3 Jasa pelayanan kereta api angkutan

penumpang

Transportasi kereta api penumpang 4 Pelayanan transportasi penumpang jalur

darat

Transportasi penumpang jalur darat 5 Pelayanan transportasi air untuk penumpang Transportasi air untuk penumpang 6 Jasa pelayanan penumpang angkutan udara Transportasi udara angkutan penumpang 7 Jasa penyewaan peralatan transportasi Penyewaan peralatan transportasi

8 Agen perjalanan dan jasa reservasi lainnya Agen perjalanan dan kegiatan layanan reservasi lainnya

9 Pelayanan jasa kebudayaan Pelayanan kegiatan kebudayaan 10 Pelayanan jasa olahraga dan rekreasi Kegiatan olahraga dan rekreasi

11 Barang pariwisata khas suatu negara Perdagangan retail barang pariwisata khas suatu negara

12 Jasa pariwisata khas suatu negara Kegiatan pariwisata khas suatu negara lainnya

Sumber: Media UNWTO, 2015

2.2 DEFINISI DAN KONSEP PENGEMBANGAN DESTINASI PARIWISATA

PRIORITAS

Destinasi pariwisata prioritas merupakan pusat dari kawasan pariwisata dengan batasan wilayah yang jelas oleh karena itu penting untuk memahami konsep dari kawasan pariwisata terlebih dahulu.

a. Konsep Kawasan Pariwisata

Konsep kawasan pariwisata digunakan untuk memahami kondisi dari lingkupan wilayah dari suatu destinasi wisata dan daya tarik wisata karena kawasan memiliki batasan-batasan wilayah yang jelas sehingga memudahkan untuk menganalisis pola pariwisata dan masalah yang terdapat di dalamnya. Kawasan memiliki karakteristik yang unik dan dapat berupa wilayah dengan kesamaan karakteristik alam dan/atau budaya yang memiliki ciri khas tertentu. Karakteristik dari kegiatan pariwisata adalah bahwa

(21)

16 kegiatan tersebut sangat berkaitan dengan ruang dimana ia berada, secara fisik (wilayah) maupun ruang abstrak (interaksi antar aktor lokal dan sosial)

(da Cuncha dan da Chunca, 2005). Kawasan pariwisata merupakan wilayah yang dikembangkan dan disediakan dengan fasilitas dan pelayanan penunjang untuk memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata dan kebutuhan dari wisatawan itu sendiri. Apabila suatu kawasan pariwisata memiliki ciri khas yang mengandalkan nilai budaya, maka penyediaan fasilitas dan infrastruktur diarahkan untuk menikmati budaya yang ditawarkan di kawasan tersebut.

Konsep kawasan pariwisata digunakan untuk memahami kondisi dari lingkupan wilayah dari suatu destinasi wisata dan daya tarik wisata karena kawasan memiliki batasan-batasan wilayah yang jelas sehingga memudahkan untuk menganalisis pola pariwisata dan masalah yang terdapat di dalamnya. Kawasan memiliki karakteristik yang unik dan dapat berupa wilayah dengan kesamaan karakteristik alam dan/atau budaya yang memiliki ciri khas tertentu. Karakteristik dari kegiatan pariwisata adalah bahwa kegiatan tersebut sangat berkaitan dengan ruang dimana ia berada, secara ruang fisik (wilayah) maupun ruang abstrak (interaksi antar aktor lokal dan sosial) (da Cunha dan da Cunha, 2005). Kawasan pariwisata merupakan wilayah yang dikembangkan dan disediakan dengan fasilitas dan pelayanan penunjang untuk memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata dan kebutuhan dari wisatawan itu sendiri. Apabila suatu kawasan pariwisata memiliki ciri khas yang mengandalkan nilai budaya, maka penyediaan fasilitas dan infrastruktur diarahkan untuk menikmati budaya yang ditawarkan di kawasan tersebut.

Akan tetapi masalah atau konflik dapat timbul sebagai akibat dari perubahan dalam suatu kawasan atau dari konflik mengenai bagaimana suatu kawasan dan sumber daya di dalamnya harus dimanfaatkan. Agar dapat meminimalisir konflik dan permasalahan di suatu kawasan sebaiknya diterapkan pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan terdiri dari tiga komponen yaitu lingkungan, sosial-budaya, dan ekonomi. Yang dimaksud dengan keberlanjutan lingkungan adalah memastikan sumber daya pariwisata yang ada dapat dipertahankan agar dapat digunakan oleh generasi yang akan datang (World Tourism Organization, 1993:7). Selain itu, kegiatan pariwisata pastinya memberikan dampak terhadap masyarakat setempat seperti masuknya budaya dan nilai-nilai baru oleh wisatawan ataupun pekerja dari luar wilayah yang dipekerjakan di industri pariwisata. Keberlanjutan sosial-budaya bertujuan untuk memberikan dampak positif yang melebihi dampak negatif dari hasil kegiatan pariwisata tersebut. Dapat diartikan bahwa pariwisata berkelanjutan harus dapat mempertahankan ekonomi lokal tanpa merusak lingkungan dimana kegiatan pariwisata itu berlangsung (Draper et. al, 2008; da Cunha dan da Cunha, 2005).

b. Konsep Destinasi dan Kawasan Pariwisata di Indonesia

Konsep destinasi dan kawasan pariwisata yang berlaku di Indonesia sudah ada dan tertuang dalam Undang-Undang No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan dan PP No. 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS). Terdapat beberapa konsep dan pengertian kawasan yang perlu diperhatikan yaitu Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN),

Pariwisata yang berkelanjutan :

- mempertimbangkan daya dukung lingkungan suatu kawasan pariwisata

- tidak mengganggu organisasi sosial budaya tempat kegiatan pariwisata berlangsung

- membuka peluang dan memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal dan masyarakat di wilayah tersebut.

(Draper et. al, 2008; da Cunha dan da Cunha, 2005).

(22)

17 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Perwilayahan Pembangunan DPN itu sendiri meliputi:

1. DPN (Destinasi Pariwisata Nasional), yang dinyatakan dalam RIPPARNAS, yaitu terdiri dari 50 (limapuluh) Destinasi; dan

2. KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang berjumlah 88 (delapan puluh delapan) Kawasan; serta

3. KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) sejumlah 222 Kawasan.

Gambar 6 Gambaran Konsep Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Ripparnas

DPN adalah destinasi pariwisata yang berskala nasional. Perwilayahan DPN ini terdiri dari 50 DPN yang tersebar di seluruh Indonesia dan 88 KSPN yang tersebar di 50 DPN tersebut. Penetapan DPN ditentukan berdasarkan kriteria:

a) merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah provinsi dan/atau lintas provinsi yang di dalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan pariwisata nasional, yang di antaranya merupakan KSPN;

b) memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara nasional dan internasional, serta membentuk jejaring produk wisata dalam bentuk pola pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan;

(23)

18 d) memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung pergerakan wisatawan

dan kegiatan Kepariwisataan; dan

e) memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.

Dalam studi ini destinasi pariwisata prioritas adalah wilayah dengan batas jelas yang dimiliki property developer dan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan wilayah KSPN.

Definisi dan Konsep Kawasan Pariwisata KPPN dalam Ripparnas

Di dalam PP No. 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional menyebutkan adanya KPPN, selain menyebutkan tentang DPN dan KSPN. KPPN adalah suatu ruang pariwisata yang mencakup luasan area tertentu sebagai suatu kawasan dengan komponen Kepariwisataannya, serta memiliki karakter atau tema produk wisata tertentu yang dominan dan melekat kuat sebagai komponen pencitraan kawasan tersebut. KPPN ini di antaranya juga termasuk KSPN dan tersebar di 50 DPN. KPPN berjumlah 222 kawasan (digolongkan berdasarkan Propinsi) dan tersebar di seluruh bagian Indonesia. Saat ini pengembangan KPPN dilakukan secara bertahap dengan minimal 34 KPPN dikembangkan di tahun 2015 dan minimal 66 KPPN di tahun 2016.

Definisi dan Konsep Kawasan Pariwisata KSPN dalam Ripparnas

KSPN adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Kawasan strategis ini menurut UU Kepariwisataan merupakan bagian integral dari rencana tata ruang wilayah nasional sehingga memberikan kekuatan hukum untuk diprioritaskan pembangunannya oleh pemerintah pusat maupun daerah. Berdasarkan arahan dalam Ripparnas terdapat 88 (delapan puluh delapan) KSPN yang tersebar di 50 (lima puluh) DPN. Dengan ketentuan penetapan KSPN atas dasar kriteria berikut ini:

a) memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata;

b) memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas;

c) memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional; d) memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi;

e) memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan wilayah; f) memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan

hidup;

g) memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya, termasuk di dalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan;

h) memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat; i) memiliki kekhususan dari wilayah;

j) berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial nasional; dan

(24)

19 Permasalahan dengan definisi dari KSPN berdasarkan Ripparnas adalah tidak dimasukkan dengan eksplisit mengenai Elemen 3 A: Atraksi + Amenitas + Aksesibilitas dan tidak terdapat delineasi wilayah yang jelas sehingga terdapat konflik kewenangan pengelolaan daya elemen pariwisata. Selain itu tidak terdapat bauran produk pariwisata sehingga tidak menonjolkan keunikan dari KSPN yang dapat dijual ke pasar internasional.

Definisi dan Konsep Kawasan KEK Pariwisata Menurut UU KEK

KEK adalah Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum NKRI yang ditetapkan untuk penyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK Berbasis Pariwisata: “Zona pariwisata” adalah area yang diperuntukkan bagi kegiatan usaha pariwisata untuk mendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, pertemuan, perjalanan insentif dan pameran, serta kegiatan yang terkait (Penjelasan Atas UU 39 Tahun 2009 Pasal 3 Ayat [3] Huruf e). Saat ini terdapat 3 KEK Pariwisata yaitu KEK Morotai, KEK Mandalika dan KEK Tanjung Lesung dan 2 lagi yang dalam proses pembentukan KEK. Kriteria umum yang harus dipenuhi agar suatu lokasi dapat diusulkan untuk menjadi KEK :

a) sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan b) tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung;

c) pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan mendukung KEK;

d) terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan; dan

e) mempunyai batas yang jelas.

Sementara untuk kriteria yang harus dipenuhi agar suatu lokasi dapat diusulkan untuk menjadi KEK pariwisata adalah selain memenuhi persyaratan KEK umum juga harus memenuhi kriteria lokasi pariwisata, yaitu:

a) Attractiveness: diutamakan yang berada pada KPPN. b) Area Coverage: memiliki luas minimal 100 Ha.

c) Accessibilities : memiliki aksesibilitas dan konektivitas dengan dukungan infrastruktur/infrastructure led.

Definisi dan Konsep Kawasan Pariwisata KSPN+3A

Kawasan yang secara geografis memiliki batasan-batasan wilayah atau luasan tertentu dan memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang tercakup di dalamnya elemen 3 A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas) yang bersifat menunjang kegiatan dan fungsi pariwisata. Atribut-atribut primer ini dipilih karena dapat dikontribusikan oleh Pemerintah Pusat dan didasarkan pada asumsi bahwa atribut primer bisa mentrigger tersedianya atribut sekunder. Hal ini juga terkait dengan tanggung jawab dari pemerintah pusat untuk masalah penyediaan barang publik dan masalah konektivitas dan aksesibilitas yang penting untuk disediakan agar dapat menarik investor ke kawasan.

(25)

20

Gambar 7 Ilustrasi KSPN+3A dengan Multicore

Selain itu, KSPN+3A bersifat berkelanjutan secara lingkungan, ekonomi dan sosial-budaya, dimana fokus utama adalah agar dapat menyebabkan dampak positif pariwisata yang sebesar-besarnya dan menimalisirkan dampak negatifnya. KSPN+3A memiliki delineasi geografis yang jelas sehingga memudahkan pertimbangan mengenai kepemilikan lahan dan koordinasi dengan pihak-pihak berkepentingan di kawasan tersebut.

Bagian terpenting dalam konsep kawasan ini adalah adanya bauran 3A yang menjadi fokus utama dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan. Kawasan pariwisata merupakan kumpulan produk wisata yang berkembang dari waktu ke waktu secara bisnis yang akan menghasilkan produk-produk baru (inovasi) untuk kelangsungan hidupnya (Bonneti, Petrillo dan Simoni, 2006).

Konsep KSPN+3A sebagai Bauran Produk Pariwisata

Kemasan KSPN +3A merupakan bauran produk pariwisata jika dilihat dalam konteks destinasi internasional. Sehingga bauran produk

pariwisata ini perlu sangat dikaji mendalam terhadap apa yang diiinginkan oleh target pasar wisatawan. Misal apabila mengkaji pasar wisatawan muslim timur tengah, akan membutuhkan atraksi daya tarik yang mereka cari seperti spa, kawasan daya tarik wisata

dilengkapi mushola, serta dalam akomodasi ada fasilitas informasi signage kiblat. Semisal di dalam moda transportasi sebagai aksesibilitas dilengkapi dengan doa perjalanan. Bauran produk sebagai pelayanan total dari sejak wisatawan memesan paket wisata, berwisata, sampai kepulangan, perlu diperhatikan dengan seksama. Di kawasan ini terdapat produk pariwisata yang merupakan campuran sumber daya pariwisata yang dijual kepada konsumen dengan target segment tertentu. Kawasan pariwisata+3A akan bersaing dalam hal kualitas dan akan memiliki nilai jual dan status (value and class) yang bersifat branding.

Bauran 3A yang mendeferensiasi suatu kawasan sehingga menjadi produk pariwisata yang unik

(26)

21

Tabel 5 Bauran Produk Pariwisata 3A dalam Konteks KSPN 3A

Atraksi Daya Tarik Akesibilitas Amenitas

Daya tarik alam - Pantai * Pengelolaan pantai * Mitigasi bencana * Pusat studi - Bawah Laut * Konservasi * Pusat studi - Gunung * Mitigasi bencana * Konservasi * Pusat studi - Sungai * Konservasi - Karst * Konservasi Daya tarik budaya - Desa Wisata - Pertunjukan kesenian - Museum - Taman rekreasi Acara khusus - Festival - Konferensi - Pameran Perhubungan udara - Bandara hub transit - Bandara perintis

- Penerbangan internasional - Penerbangan domestik - Layanan handling darat Perhubungan laut - Pelabuhan Cruise - Pelabuhan perintis cruise - Marina untuk Yacht dan Sailing

- Layanan Pelni - Layanan Cruise - Layanan logistik

- Layanan pengisian bahan bakar

- Layanan pengisian air bersih - Layanan pengolahan limbah Perhubungan darat - Lahan parkir - Jalan raya - Jalan tol - Kereta api - Bis pariwisata - Bis shuttle - Pelayanan wisatawan * Layanan imigrasi * Layanan informasi pariwisata * Pelayanan Fasilitas perbankan (ATM, Money changer)

* Layanan Broadband dan Internet

* Layanan locker * Layanan shower * Layanan air bersih * Layanan toilet

* Layanan peralatan wisata * Layanan sewa kendaraan/Travel Biro * Layanan penerjemah - Pelayanan akomodasi * Hotel Bintang 1 * Hotel Bintang 2 * Hotel Bintang 3 * Hotel Bintang 4 * Motel * Homestay

- Pelayanan makan minum * Restaurant

* Café * Pasar * Mini market - Pelayanan umum * Ruang public terbuka * Layanan kesehatan * Layanan keselamatan dan

keamanan

* Layanan komunikasi * Pengolahan sampah * Pengolahan limbah * Sarana Ibadah

Sumber: Hasil Analisa

Pengembangan KSPN+3A memiliki satu atau lebih core pengembangan yang dimana core tersebut merupakan pendekatan pengembangan properti. Core ini dapat berbentuk multi/single core dan dapat berada di dalam maupun di luar KSPN+3A namun harus masih dalam jarak yang berdekatan dan bersinggungan dengan KSPN+3A. Daya tarik wisata dapat berada di dalam maupun di luar core. Core KSPN+3A yang memenuhi syarat sebagai KEK dijadikan KEK. Disebut core karena pemusatan

(27)

22 pengembangan di dalam kawasan yang dinilai dapat memberikan dampak besar untuk pengembangan pariwisata dalam konteks destinasi maupun nasional. Syarat utama pengembangan core ini adalah:

- Memiliki nilai kebersaingan secara internasional

- Memiliki diferensiasi baik dengan kawasan sejenis di Indonesia, maupun secara internasional

- Bersifat inovatif secara berkala

- Harus memiliki standar dan kontrol kualitas dalam pengelolaannya

Gambar 8 Ilustrasi KSPN Prioritas dengan 3A dan KEK/Resor Sumber: Hasil Analisa

(28)

23

Gambar 9 Konsep Pengembangan KSPN+3A Sumber: Hasil Analisa

Catatan:

Pengembangan destinasi pariwisata prioritas akan berbasis pada pengembangan kawasan

strategis pariwisata nasional dan menggunakan arahan Pengembangan dari Kawasan

Pariwisata Prioritas (KSPN+3A) yaitu:

membentuk bauran dari 3A dalam sebuah core pengembangan

core ini merupakan pengembangan properti /property business

(29)

24

2.3 KONSEP PENGELOLAAN KAWASAN PARIWISATA PRIORITAS

Dalam mengelola kawasan pariwisata prioritas perlu dipertimbangkan tipe sistem yang berlaku di kawasan tersebut. Sistem yang ada di kawasan pariwisata dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka. Berikut merupakan table dengan gambaran dua tipe sistem kawasan:

Tabel 6 Gambar Sistem Pengelolaan Terbuka dan Tertutup

Sistem Terbuka Sistem Tertutup

Pengelola harus menyinergiskan antar pihak yang berwenang, tidak ada kewenangan tunggal atas kawasan pariwisata karena adanya UU yang saling bertumpuk untuk kawasan secara keseluruhan

Pengelola memiliki kewenangan tunggal atas kawasan pariwisata

Daya tarik/atraksi berada di luar core (kawasan resor/KEK pariwisata)

Daya tarik/atraksi berada di dalam core (kawasan resor/KEK pariwisata)

Sumber: Hasil Analisa

Pada sistem kawasan yang terbuka ada interaksi dengan kegiatan pariwisata di berbagai daya tarik wisata yang terdapat dalam kewenangan institusi pengelola yang berbeda. Elemen 3 A (Amenitas, Aksesibilitas, Atraksi) yang dimanfaatkan tidak berada hanya di dalam core (kawasan resor/KEK Pariwisata, namun juga terdapat di luar core (kawasan resor/KEK pariwisata) tersebut. Kegiatan pariwisata mencakup atraksi wisata yang terdapat di dalam beberapa kabupaten/kota yang berbeda.

(30)

25

Tabel 7 Ilustrasi dan Tabel Kawasan, Atribut Produk, dan Pengelolaan Sistem Terbuka

Atribut Produk Institusi Pengelola

Attraction Daya Tarik Wisata Taman Nasional Kementerian Kehutanan

Daya Tarik Wisata Pantai Provinsi

Daya Tarik Wisata Taman Laut Kementerian Kehutanan Daya Tarik Wisata Air Terjun Provinsi

Daya Tarik Wisata Museum Kementerian Kebudayaan

Amenities Resort dan Leisure Badan Pengelola KEK

Accessibilities Pelabuhan & Jalur Kereta Kementerian Perhubungan

Jalan Kabupaten Pemerintah Kabupaten

Sumber: Hasil Analisa

Pada sistem kawasan yang tertutup kegiatan pariwisata terfokus di dalam kawasan pariwisata. Tidak ada interaksi oleh wisatawan dengan kawasan pariwisata yang lebih luas. Elemen 3 A (Amenitas, Aksesibilitas, Atraksi) yang dimanfaatkan hanya di dalam kawasan resor/KEK Pariwisata, semua kebutuhan disediakan oleh pengelola di dalam kawasan tersebut.

(31)

26

Tabel 8 Ilustrasi dan Tabel Kawasan, Atribut Produk dan Pengelolaan Sistem Tertutup

Jenis Kawasan Elemen Institusi Pengelola

KEK Pariwisata Kawasan Badan Pengelola KEK

Hotel Ammenities Swasta

Theme Park Attraction Swasta

Shopping Mall Ammenities Swasta

Private Beach Attraction Swasta

Shuttle Bus Accesibilities Swasta

Train Station Accesibilities Kemenhub

Sumber: Hasil Analisa

Catatan:

Kawasan Pariwisata Prioritas, KSPN+3A perlu dikelola oleh suatu badan pengelola yang memiliki kewenangan untuk:

mengelola elemen-elemen 3A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas) di dalam kawasan

diberikan hak untuk memberikan perizinan usaha pariwisata

mengatur budget/pendanaan

mengatur segala hal yang berhubungan dengan sapta pesona pariwisata

Sapta Pesona Pariwisata terutama mengenai keamanan, ketertiban, keindahan dan kebersihan di dalam kawasan pariwisata prioritas dan lingkungan sekitarnya.

(32)

27

2.4 SKEMA PENGELOLAAN PUBLIC PRIVATE PEOPLE PARTNERSHIP

Skema pengelolaan kawasan pariwisata prioritas adalah melalui kerjasama Public – Private - People Partnership dimana masyarakat lokal dilibatkan dalam kegiatan pariwisata dan memiliki andil dalam memelihara dan mendukung kegiatan pariwisata di dalam kawasan.

Dalam pengadaan dan pengelolaan barang publik terdapat grey area, dimana pengadaan dan pengelolaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah dan dapat sebagian dilimpahkan dan dikelola oleh pihak privat. Grey area ini merupakan barang kepentingan public yang memiliki keuntungan secara komersial dan menarik bagi pihak privat untuk disediakan.

Di pemikiran tradisional pengadaan barang publik terdapat pembedaan yang jelas antara peran pemerintah dan peran pihak privat. Untuk pengadaan barang publik dewasa ini, dimana terdapat berbagai macam kebutuhan pendanaan sementara dana dari pemerintah yang ada terbatas pemikiran tersebut sudah lama ditinggalkan. Dalam pengadaan dan pengelolaan barang publik yang termasuk ke dalam grey area, pemerintah dan privat dapat bekerjasama untuk mengadakan barang tersebut. Pemerintah dapat berbagi peran dengan pihak privat sehingga barang publik dapat tersedia dengan kualitas yang baik.

Gambar 10 Diagram Tradisional Perencanaan Barang Publik dan Pemerintah Sumber: Pribadi, 2009

Salah satu preseden kerjasama pemerintah yang baik dengan masyarakat lokal/pihak privat adalah Michinoeki di Jepang. Michinoeki merupakan inisiatif pemerintah Jepang untuk menghidupkan ekonomi dan pariwisata di desa-desa yang berada di Jepang yang mengalami kelesuan ekonomi sebagai akibat dari urbanisasi. Michinoeki merupakan rest area yang berada di pinggir jalan tol yang disediakan oleh pemerintah di Jepang. Fungsi dari michinoeki adalah menghubungkan jaringan jalan raya dengan masyarakat lokal (Yokota,2006).

(33)

28

Gambar 11 Diagram Perencanaan dan Penerapan dalam Kerjasama Publik dan Privat Sumber: Pribadi, 2009

Lahan tempat michinoeki berdiri dapat berupa lahan milik pemerintah dan fungsi dari michinoeki adalah pemberdayaan masyarakat lokal dimana masyarakat didukung melalui penggunaan sumber daya berbasis lokal dalam membangun dan menjalankan michinoeki. Dengan adanya michinoeki ini dapat memfasilitasi masyarakat lokal dengan menyediakan tempat untuk menjual produk-produk lokal khas dari daerah tersebut (Yokota,2006).

Gambar 12 Area Peristirahatan Onibei Edo-dokoro Sumber: Baseel, 2014

Dalam konteks pariwisata Michinoeki dapat selain menjadi bagian amenitas juga berupa atraksi itu sendiri. Contohnya Hanyu rest area di Saitama Prefecture yang mana rest area tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai pemandangan kota di waktu periode Edo. Rest area ini dinamakan Onihei Edo-dokoro, Onehei merupakan tokoh utama dari penulis Shotaro Ikenami yang menceritakan keadaan di

(34)

29 periode Edo Jepang. Suasana yang muncul sebagai akibat dari penataan pemandangan kota di Periode Edo adalah pengalaman seperti berada di zaman Edo waktu samurai masih ada di Jepang (Baseel, 2014).

Gambar 13 Gedung Publik Privat Pertama di Jepang Sumber: Pribadi, 2009

Contoh lain kerja sama publik privat yang inovatif di Jepang adalah kasus penyediaan gedung kantor pemerintah No.7. Pemerintah Jepang memiliki lahan di kawasan bersejarah dengan nilai lahan yang tinggi namun tidak memiliki pendanaan yang memadai untuk membangun di lahan tersebut. Untuk membangun gedung di lahan tersebut pemerintah bekerjasama dengan swasta untuk membangun gedung diatas lahan tersebut. Gedung yang terbangun atas inisatif KPS ini merupakan gedung publik-privat berukuran besar pertama yang dibangun di Jepang. Atas hasil kerjasama ini dapat dibebaskan lahan tempat gedung pemerintah yang lama menjadi ruang terbuka yang juga meningkatkan nilai lahan dari gedung yang baru.

(35)

30

2.5 KONSEP PENGELOLAAN RESIKO BENCANA DI DESTINASI

PARIWISATA PRIORITAS INDONESIA

Force Majeure atau keadaan memaksa adalah suatu resiko ketidakpastian akan kejadian yang merugikan di masa depan adalah salah satu unsur yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan. Indonesia terletak di deretan cincin gunung berapi dan merupakan bagian dari “cincin api” yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam seperti bencana tsunami, gunung api dan gempa bumi. Namun, lanskap Indonesia yang terbentuk dari letak Indonesia ini juga yang membentuk pesona alam dari Indonesia yang menjadi pendorong pariwisata di Indonesia. Selain bencana yang sifatnya alamiah, ada juga bencana yang disebabkan oleh ulah manusia seperti kebakaran hutan dan banjir bandang.

Force majeure dalam hukum perdata pada prinspinya terbagi dalam 2 jenis yaitu : • Act of God ( bersifat mutlak (absolute)

Yang bersifat mutlak adalah keadaan dimana para pihak tidak mungkin melaksanakan hak dan kewajibannya.

• Act of Nature (tidak bersifat mutlak (relatif)

Sedangkan yang bersifat relatif adalah keadaan yang masih memungkinkan para pihak untuk melaksanakan hak dan kewajibannya. Persoalan resiko yang diakibatkan oleh Force Majeure dapat diperjanjikan oleh para pihak antara lain melalui lembaga pertanggungan (asuransi).

Menurut UU No. 24 tahun 2007, bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Undang-undang ini menggambarkan bahwa bencana dapat terjadi dari faktor alamiah maupun non alamiah. Dampak dari bencana yang dapat mengganggu berbagai aspek dari kehidupan oleh karena itu dibuttuhkan pengelolaan bencana yang memitigasi (mengupayakan pencegahan) dan mereduksi dampak yang ditimbulkan dari kejadian bencana (Baskoro dan Riadi, 2014).

Pariwisata di Indonesia merupakan industri yang rentan terhadap bencana dan melibatkan berbagai stakeholder yang berkepentingan di dalamnya yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu perlu manajemen risiko bencana yang melibatkan berbagai macam pihak seperti pengelola destinasi pariwisata, masyarakat lokal dan juga wisatawan. Manajemen risiko bencana adalah suatu proses yang terintegrasi antara stakeholders dan multi-sektor. Dalam konteks indutri pariwisata, pariwisata memiliki dua peran dalam manajemen risiko bencana yaitu, sebagai mitra kerja dengan pemerintah serta stakeholders lainnya dalam penanganan sistem manajamen yang terkoordinir dan mengembangkan mekanisme prosedur dan rencana di destinasi pariwisata (Robertson et.al. 2006).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :