Buku Sufi Tasauf

76 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Buku Sufi Tasauf

Buku ini terjemahan dari naskah aslinya berisi:Tauhid|Ma'rifat|sufi|jalan sufi|

Syareat islam; hususnya sejumlah karangan Imam al-Ghzali, seorang sufi agung

wafat 1111 masehi, Persia(iran). 100 % halal anda baca,copy untuk koleksi

pribadi(bukan untuk bisnis)

Menghindari Kesesatan Hidup Beragama, Meraih kebahagiaan sejati

[ A L - M U N Q IDT M I N A D - DHOLA L ] Bismillahirrahmanirrahim

P E N G A N T A R

Segala puji dan syukur kepada Allah yang dengan memuji-Nya akan terbuka segala pemahaman tentang tulisan dan perkataan. Shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad al-Mustafa , pemilik Nubuwwah, dan pemilik Risalah (kerasulan), beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya yang telah memperoleh petunjuk dengan terhindar dari kesesatan.

Saudaraku seiman dan seagama! Dahulu engkau pernah memintaku untuk menguraikan kepadamu tentang puncak dan rahasia-rahasia disiplin ilmu, belenggu mazhab-mazhab dan lubang gelapnya. Menceritakan pengalaman yang pernah aku alami tentang

kebenaran yang haq di tengah malang melintangya sekte agama dan perbedaan pendapat. Juga cara-cara yang aku gunakan untuk bisa keluar dari jurang taklid dan mampu melewati bukit terjal pentafsiran. Pertama bagaimana aku bisa memberdayakan ilmu kalam (teologi), kedua mampu menyiasati doktrin-doktrin Ahl at–Ta‘lim (penganut doktrin mahdisme dari aliran Syi‘ah Bathiniyyah) yang membatasi proses penemuan kebenaran dengan hanya bertumpu kepada seorang Imam (yang Ma‘sum), ketiga, mampu menepiskan cara-cara berfilsafat, dan keempat justru aku memilih jalan

tasawwuf. Energi apa yang bisa dihasilkan dari penelitian panjang yang kulakukan yang berkaitan dengan peranan makhluk dalam mencari intisari kebenaran?, strategiku dalam menyebarkan ilmu di Baghdad dengan jumlah murid yang banyak, serta motifasi apa yang mendorongku untuk kembali ke Naysabur setelah lama meninggalkannya?. Maka,

(2)

pada kesempatan ini, aku berinisiatif untuk menjawab pertanyaan mengingat ketulusan keinginan yang begitu membara.

Aku memohon pertolongan dari Allah dan berserah kepada-Nya, memohon kekuatan dan bersimpuh di hadapan-Nya seraya meminta perlindungan-Nya.

Ketahuilah saudara-saudaraku seiman dan seagama!, semoga Allah berkenan

membimbingmu sebaik-baiknya. Keragaman agama dan kepercayaan (millah) di antara makhluk, dan adanya perbedaan pendapat dikalangan para ulama yang melahirkan banyaknya sekte dan cara yang beragama. Hal ini seumpama sebuah samudra lautan dalam yang menenggelamkan banyak orang, dan hanya sedikit saja yang mampu selamat dari gulungan ombaknya. Sehingga setiap kelompok dan sekte mengklaim diri sebagai ‘yang selamat’. Allah berfirman:

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Q.S. ar-Rum [30]: 32).

Inilah kebenaran perkataan Rasulullah yang telah dijanjikan kepada kita. Dalam hal ini, beliau bersabda:

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, dan yang selamat hanya satu”. Sejak memasuki usia remaja hingga umurku lebih dari 50 tahun, aku masih tetap

bersemangat untuk menjelajahi kedalaman samudera yang sangat dalam ini, menyelami dasarnya dengan penuh keberanian seperti seorang penyelam yang tidak sedikit pun merasa takut. Kumasuki setiap sisi gelapnya, kuterjang setiap kesulitannya, dan

kubolak-balik setiap masalahannya. Kukaji semua doktrin dari masing-masing golongan dan kusingkap rahasia-rahasia mazhab mereka demi membedakan antara yang hak dan yang bathil, yang sunnah dan yang bid‘ah Aku tidak meninggalkan seorang penganut batiniyyah sebelum mengungkap terlebih dahulu pemahaman kebatinannya. Tidak pula kutinggalkan seorang Zahiri sebelum mengetahui kedalaman ke-Zahiri-annya. Begitu juga aku tidak akan meninggalkan seorang filsuf sebelum aku menyelami kedalaman filsafatnya, seorang ahli kalam sebelum menyingkap teori kalam dan pola

perdebatannya, seorang sufi sebelum aku menelusuri rahasia kesufiannya, seorang ahli ibadah sebelum mengetahui hasil dari ibadahnya, serta tidak akan kutinggalkan seorang Zindiq yang melalaikan agama kecuali aku telah membongkar dan mengetahui latar belakangnya dalam berlaku Zindiq.

(3)

Semangat yang menggelora untuk menyelam sampai dasar hakikat segala sesuatu merupakan kebiasaanku sejak kecil. Sebagai sebuah sifat dasar dan sikap naluriah yang telah dianugerahkan Allah ke dalam tabi‘atku. Bukan pilihan atau pun alasan buatku, sehingga terungkap segala belenggu taklid dalam diriku dan pecah pula dogma-dogma warisan anak kecil sebagai manusia yang secara turun temurun menjadikanku seorang muslim. Sebagaimana Nasrani danYahudi yang pasti akan tumbuh pula menjadi pengikut Nasrani dan Yahudi. Tatkala mendengar sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa: ”Setiap anak terlahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang

membentuknya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau pun Majusi,”

Maka hatiku tergerak untuk berupaya menyingkap hakikat tentang fitrah asli dan hakikat dogma warisan orang tua dan para guru, memilah-milah diantara tradisi-tradisi ini, terutama mengenai aneka macam doktrin, dan memisahkan yang benar dari yang batil pada tradisi-tradisi tersebut. Oleh karena itu, selalu kutegaskan pada diriku bahwa: “Aku sangat membutuhkan ilmu tentang hakikat segala perkara. Oleh karenanya, aku harus segera mencari tentang hakikat ‘ilmu’ itu sendiri. Kemudian tampak olehku bahwa ilmu yakin-lah yang bisa menguak pengetahuan secara sempurna tanpa menyisakan keraguan sedikit pun. Juga tidak disertai kemungkinan adanya kekeliruan dan

kelemahan, dan menampakan kebatilannya. Seperti menyulap batu menjadi emas dan tongkat, maka tidak akan melahirkan keraguan dan pengingkaran.

Dengan demikian, ketika aku tahu persis bahwa 10 lebih banyak dari pada 3, kemudian ada orang yang berkata: “tidak, 3-lah yang lebih banyak. Buktinya aku bisa mengubah tongkat ini menjadi ular”, dan untuk kemudian ia benar-benar mengubahnya menjadi ular didepan mataku. Maka hal itu tetap tidak akan membuatkku ragu pada

pengetahuanku bahwa 10 lebih banyak dari pada 3. Hanya saja aku akan terheran-heran bagaimana ia mampu melakukannya. Dan aku sama sekali tidak akan meragukan apa-apa yang telah aku pelajari.

Selanjutnya, kemudian aku menyimpulkan bahwa setiap hal yang tidak aku pelajari dengan cara seperti ini dan tidak aku yakini dengan keyakinan penuh seperti yang telah disebutkan, maka landasan ilmu itu tidak akan kuat dan tidak pula aman bersamanya. Dan segala ilmu yang tidak memiliki unsur pengaman (dari segala keraguan dan kekeliruan ), maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yakin.

(4)

PINTU-PINTU BERFIKIR SESAT DAN SIKAP ANTI ILMU

Aku menyusuri dan memeriksa ilmu-ilmu yang kumiliki, ternyata diriku jauh dari memiliki ilmu yakin, kecuali dalam ilmu inderawi dan esensial. Oleh karena itu, kutegaskan pada diriku bahwa, “setelah mendapatkan pesimisme, tiada lagi ambisi untuk mengupas segala permasalahan, kecuali yang hanya berkaitan dengan jaliyyat, yaitu disiplin ilmu inderawi dan esensial. Oleh karena itu, mau tidak mau, terlebih dahulu aku harus meyakini kepercayaanku terhadap segala yang diindera dan dibayangkan supaya terhindar dari kesalahan yang fatal. Apakah ia termasuk dari jenis angan-angan yang sudah ada dalam tradisi, atau termasuk dari jenis pengamatan harapan

kebanyakan makhluk , ataukah ia termasuk dalam angan yang pasti terwujud tanpa petaka dan kesalahan lagi?. Aku berusaha keras merenungi ilmu inderawi dan esensial, hingga kuselidiki apakah aku bisa meragukan diriku sendiri di dalamnya? Keraguanku yang panjang ini berujung pada satu kesimpulan bahwa aku tidak boleh merasa aman hanya dengan ilmu inderawi saja.

Keraguan ini pun semakin menguat, sehingga muncul pertanyaan:

“Dari mana asal munculnya keyakinan terhadap mahsusat (yang bisa diindera)? Dan betulkah penglihatan adalah indera yang paling kuat? Dimana ketika kamu melihat suatu bayangan, kamu melihatnya seolah terdiam, dan tidak bergerak sama sekali. Namun dengan pengalaman dan penyaksian pada beberapa waktu kemudian, ternyata indera terkuat itu baru menyadari bahwa bayangan tersebut bergerak, meskipun ia tidak

bergerak sekaligus, melainkan secara bertahap, partikel demi partikel. Sehingga ia tidak memiliki posisi berhenti. Pun ketika mata melihat semesta bintang, ia melihatnya kecil-kecil seukuran mata uang, padahal bukti-bukti ilmu pengetahuan menunjukan bahwa bintang-bintang itu lebih besar ukurannya daripada bumi. Pernyataan ini juga berlaku pada penginderaan yang lebih dikendalikan oleh hukum indera dan disangkal oleh hukum akal dengan sangkalan yang tidak menyisakan jalan membela diri lagi. Dengan kenyataan di atas, aku lantas menggugurkan segala keyakinanku akan mahsusat (hal-hal yang bisa diindera), kecuali pada hal-hal yang rasional yang tidak terbantahkan kebenarannya. Sebagaimana perkataan bahwa 10 lebih banyak dari pada 3; penyangkalan dan penetapan tidak mungkin berkumpul dalam satu obyek. Sesuatu

(5)

tidak mungkin baru namun sekaligus kuno. Sesuatu tidak mungkin ada dan pada saat bersamaan menjadi tiada. Dan sesuatu tidak mungkin wajib adanya namun juga sekaligus mustahil adanya. Namun demikian, kaum penganut famam material akan bertanya, ”dengan apa kamu berani menjamin bahwa keyakinanmu akan ilmu akal rasional tidak akan senasib dengan keyakinanmu akan ilmu material. Taruhlah

umpamanya, kamu mempercayai kebenaranku, tapi vonis akal mengatakan bahwa aku berdusta. Jika tidak ada keputusan dari vonis akal, akankah engkau masih tetap

mempercayaiku? Bukankah mungkin saja ada pemutus (hakim) lain selain akal yang justru akan membatalkan vonis akal, sebagaimana pembatalan hukum inderawi pada saat sebelumnya setelah kedatangan akal. Dan tidak adanya pengetahuan tentang itu, bukan berarti menunjukan kemustahilan terjadinya!.

Sejenak diriku terdiam tidak mampu menjawab, dan masalah ini semakin terasa sulit ketika mereka kembali berkata dengan menggunakan argumentasi mimpi, yaitu bahwa: ” Bukankah dalam tidurmu kamu sempat meyakini beberapa hal, mengkhayalkan beberapa hal, bahkan meyakininya sebagai suatu yang telah kokoh dan mantap tanpa kamu ragukan lagi, namun setelah bangun, kamu menyadari bahwa semua khayalan dan keyakinanmu dalam mimpi itu tidak berdasar dan tidak berguna. Maka, bagaimana kamu bisa menjamin bahwa semua yang kamu yakini dalam kesadaranmu dengan indera atau akal adalah kebenaran yang nyata pada saat kondisi kamu seperti sekarang ini. Bahkan bisa jadi muncul suatu kondisi dimana “posisi” kesadaranmu saat terjaga layaknya kesadaranmu di saat mimpi, maka dengan demikian bukankah kesadaranmu menjadi seperti mimpi? Dan ketika kondisi ini terjadi, kamu meyakini bahwa semua hal yang kamu duga dengan akalmu hanyalah khayalan belaka. Mungkin kondisi seperti inilah yang diakui oleh para sufi sebagai kondisi mereka (hal keadaan). Di mana dalam kondisis-kondisi tersebut, mereka merasa tenggelam dalam diri mereka dan menghilag dari indera mereka, mereka merasa menyaksikan kondisi-kondisi yang tidak sesuai dengan akal rasional ini. Dan bisa jadi kondisi tersebut, berupa “kematian”,

sebagaimana yang diindikasikan oleh sabda Rasulullah Saw.:

“Seluruh manusia itu sedang tertidur, maka ketika ia mati, mereka akan tersadar kaget”.

(6)

Mungkin kehidupan dunia adalah tidur, lebih-lebih kehidupan akhirat dimana ketika mati akan terlihatlah hal-hal yang berbeda dan berkebalikan dengan apa yang mereka

saksikan sekarang. Dan pada saat itu, akan dikatakan pada mereka:

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (Q.S. Qaff [50]: 22].

Tatkala pikiran- pikiran ini muncul dalam benakku dan menghujam dalam diriku, maka aku segera mengusahakan pengobatannya, namun tetaplah tidak mudah. Karena tidak mungkin mengobatinya sekaligus, kecuali dengan adanya resep (Alasan). Dan tidak mungkin memberikan resep, kecuali dengan menyusun diagnosanya terlebih dahulu. Dan tidak mungkin dibuatkan resep, kecuali dengan adanya kerelaan untuk sembuh. Oleh karena itu, maka penyakit inipun semakin menguat dan mengganas didalam diriku, kurang lebih selama dua bulan. Selama itu, aku menganut mazhab skeptimisme

(kearaguan) akan hukum kondisi, dan bukan dengan hukum wicara dan dialogis. Sampai akhirnya Allah berkenan menyembuhkanku dari penyakit tersebut. Diriku kembali

menjadi sehat dan sembuh. Kepastian logika kembali aku terima sebagai sebuah keyakinan yang aman dan mantap. Hal itu terjadi bukan dengan sebuah uraian dalil alasan dan kontruksi ilmu kalam, melainkan berkat rambatan cahaya yang dipancarkan oleh Allah Swt. di dalam dada. Cahaya inilah yang merupakan kunci segala

pengetahuan. Maka barang siapa yang berfikir bahwa kasyaf [ketersingkapan] bergantung kepada dalil-dalil pembebasan, maka ia telah menyempitkan kasih Allah yang maha luas.

Tatkala ditanya tentang kata ‘syarh’ dan maknanya dalam firman Allah:

”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah Swt. untuk diberikan petunjuk, niscaya dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”. (Q.S. al-An‘am [6]: 125), Nabi Saw. bersabda:

“Itu adalah cahaya Tuhan yang dilemparkan oleh Allah ke dalam hati”. Lalu beliau ditanya lagi, “apa tandanya?” Nabi menjawab, ”Menyingkir dari dunia kepalsuan, dan bertaubat kembali ke rumah keabadian”. Setaraf dengan makna hadits ini, adalah sabda Nabi yang menyatakan bahwa:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk didalam kegelapan, lalu Dia pancarkan cahaya-Nya pada mereka”.

(7)

Dengan bekal cahaya ini, seseorang harus mencari Kasyaf. Karena cahaya ini mengalir dari kemurahan Tuhan dalam beberapa kondisi, sehingga harus dilakukan pengamatan sebagaimana yang diisyaratkankan oleh Nabi Saw. dalam dalam sabdanya,

“sesungguhnya dalam waktu hari-harimu, Tuhanmu mengalirkan kemurahan pemberian. Maka ingat-ingatlah, carilah kemurahan itu”.

Maksud dari hikayat cerita yang aku uraikan di atas adalah agar supaya kita bekerja dengan penuh keseriusan dalam kebaikan sehingga berakhir dengan memperoleh

sesuatu yang tidak bisa dicari. Disiplin-disiplin terbatas bukanlah kebutuhan yang dicari, melainkan ia hadiah [karunia]. Dan sesuatu yang hadir jika dicari, maka ia akan

menghilang. Dan barang siapa mencari hal yang tidak dicari, maka ia tidak akan mengenal kata menyerah dalam mencari sesuatu yang diharapkannya.

Dan ketika Allah menyembuhkanku dari penyakit ini dengan karunia dan anugerah-Nya yang luas, maka tergambar dalam benakku bahwa orang-orang yang mencarinya

terkelompokan ke dalam empat bagian.

Empat golongan pencari kebenaran

Ahli ilmu kalam (teologi

rasional)

Kaum Batiniah aliran syiah Kaum filsuf

Kaum sufi

Pertama:

Orang-orang ahli Ilmu kalam(Teologi). Mereka menyebut diri mereka sebagai kaum rasionalis . Kedua:

(8)

Kaum Batiniyyah. Mereka menduga bahwa mereka adalah orang-orang yang dididik dan memperoleh hak khusus untuk mendapatkan pengajaran dari seorang imam yang

ma‘sum (terhindar dari dosa dan kesalahan). Ketiga:

Kaum Filsuf. Mereka menyangka bahwa mereka adalah kaum ahli logika dan yang menguasai teori argumentasi (burhan).

Keempat:

Kaum Sufi. Mereka mengklaim kalau mereka adalah orang-orang yang mempunyai tempat khusus di hadirat Ilahi. Orang-orang yang telah menyaksikan rahasia Allah dan telah menyingkap keagungan-Nya. Oleh karena itu, aku memantapkan dalam hatiku, bahwa kebenaran itu tidak terbatas pada keempat golongan itu.

Mereka semua adalah orang-orang yang menelusuri jalan untuk meraih kebenaran. Jika pun tidak ada kebenaran dari keempat golongan ini, maka semangat untuk mencari kebenaran janganlah berhenti. Karena tidak ada gunanya kembali kepada taqlid (ikut-ikutan) setelah ditinggalkan sebelumnya. Karena termasuk syarat dianggap syahnya taqlid adalah ia tidak mengetahui kalau dia adalah seorang yang taqlid. Jika ia

mengetahui dan menyadarinya, maka statusnya sebagai orang yang taqlid tidak

dibenarkan lagi. Ia bagaikan seorang bangsa yang tidak berpemimpin. Keruwetan yang tidak bisa diatasi dengan talfiq dan ta‘lif, kecuali jika telah dilelehkan oleh api, dan dibentuk kembali dalam wujud bentuk yang baru.

Maka saya segera menyusuri semua jalan ini, dengan mendalami segala pemikiran masing-masing kelompok. Pertama-tama aku mendalami jalan ilmu Kalam, lalu Filsafat, kemudian jalan Batiniyyah, dan terakhir jalan Sufi.

1 . ILMU KALAM, TUJUAN DAN HASILNYA

Aku memulai penelusuranku pada ilmu kalam dengan mendalami dan mengkritisinya. Kutelaah buku-buku para pakar di kalangan mereka. Aku membuat klasifikasi sendiri tentang ilmu ini. Banyak kutemukan tema yang sudah memenuhi misi dari ilmu kalam, namun belum memenuhi misiku.

(9)

Tujuan ilmu kalam adalah untuk menjaga aqidah Ahl as-Sunnah dan

mempertahankannya dari gangguan ahli bid‘ah. Yaitu bahwa Allah telah memberikan kepada para hamba-Nya dengan melalui Rasul-Nya sebuah aqidah yang benar yang merangkum dunia dan agama mereka, sebagaimana yang difirmankan dalam Alquran dan disabdakan oleh Nabi. Namun, syetan juga telah menyebarkan kepada kalangan ahli bid‘ah, hal-hal yang bertentangan dengan sunnah, yang membuat mereka menggemari dan mendalaminya sehingga hampir menjadikan keraguan kepada para pemilik aqidah yang benar. Maka Allah pun menggerakkan kelompok Mutakallimin dan menggerakan motivasi-motivasi mereka untuk memenangkan sunnah dengan bahasa kalam yang sistematis, dan mengupas kerancuan-kerancuan ahli bid‘ah yang bertentangan dengan sunnah Nabawi. Dari sinilah awal mula pertumbuhan ilmu kalam dan para akarnya. Diantara para pakar ilmu kalam, ada kelompok yang menjalankan tujuan yang telah digariskan oleh Allah. Mereka memelihara sunnah dan memperjuangkan aqidah yang diterima langsung dari kenabian Muhammad Saw. dari usaha rekayasa dan

penyimpangan yang dilakukan oleh ahli bid‘ah.

Hanya saja mereka lebih berpegangan pada pendekatan yang diperoleh dari musuh mereka sendiri yang memaksa mereka untuk menerima hal itu, baik dengan cara taklid, kesepakatan ummat atau pun hanya sekedar menerima atas dasar Alquran dan Sunnah. Keterlibatan mereka yang sangat dominan dalam mengkaji kelemahan-kelemahan

musuh dan menyalahkan atas konsekuensi-konsekuensi rumusan dan kesimpulan dari mereka, hanya akan memberikan manfaat yang sangat minim dalam mengajak orang yang belum masuk Islam. Kecuali hanya menawarkan sesuatu yang sudah pasti saja. Dengan demikian pendekatan ilmu kalam menurut saya kurang mencukupi dan juga tidak efektif untuk mengobati penyakit yang saya derita.

Mungkin saja dengan tumbuhnya ilmu kalam, kuatnya intensitas pergumulan mereka, dan banyaknya materi yang didiskusikan, akan menjadikan para ahli kalam menggeser tujuan mereka dari hanya membela sunnah Nabawi kearah kajian hakikat segala

sesuatu. Mereka lebih berkonsentrasi pada pergulatan mencari esensi, aksiden dan ketentuan-ketentuannya. Namun, ketika menyadari bahwa itu semua bukanlah

merupakan misi dari ilmu mereka, maka kajian ilmu kalam mereka pun tidak mencapai tujuan yang maksimal. Mereka tidak memperoleh jawaban yang bisa mengikis

(10)

kerancuan yang tengah berkecamuk dalam dinamika pergaulan makhluk. Dan hal itu pun diakui oleh orang-orang lainnya.

Bahkan aku tidak ragu sama sekali bahwa pencapaian kelompok lain pada hal ini hanya sekedar pencapaian dalam beberapa masalah. Bukan yang sangat prioritas utama yang kemudian telah tertulari oleh taqlid. Targetnya sekarang adalah menceritakan kondisiku dan bukan mengingkari orang yang ingin berobat dengannya. Sebab terapi

penyembuhan amat beragam sesuai dangan penyakit yang dideritanya. Betapa banyak obat yang bermanfaat bagi sejumlah pasien, namun berakibat buruk bagi pasien lain. 2 . FILSAFAT

Adapun rangkuman ilmu Filsafat, ada yang tercela dan tidak tercela. Yang membuat kafir penganutnya dan yang tidak. Yang termasuk bid‘ah dan yang tidak. Yang diambil kalangan filsuf dari ahli ilmu kalam. Yang diramu Filsuf dari ahli kalam untuk menutupi kebatilan mereka. Strategi manusia agar tidak menerima kebenaran yang bercampur dengan kebatilan. Dan strategi menghasilkan kebenaran murni yang lepas dari

kepalsuan dan kesamaran. Setelah mendalami secara tuntas ilmu kalam, aku mulai mengkaji ilmu Filsafat.

Aku mempunyai keyakinan bahwa tidak akan terungkap kebusukkan suatu ilmu, kecuali oleh orang yang sudah mendalaminya hingga sampai ke akar dasarnya. Sehingga ia mampu menyamai para pakar yang paling pintar dalam bidang ilmu tesebut, bahkan melebihi dan melampaui kemampuannya. Lalu ia mampu menelaah apa yang tidak bisa ditelaah oleh kalangan akademisi ilmu tersebut.

Dalam kondisi seperti itulah, kebusukkan yang ia duga pada sebelumnya merupakan suatu kenyataan. Namun sayangnya, tidak kulihat -sementara ini- adanya seorang ulama yang memberikan pengertian yang mendalam dan mengkaji pada hal tersebut. Dan tidak ada dalam karya ilmiah kalangan ahli kalam, sebuah usaha yang menunjukan bantahan mereka pada pemikiran para Filsuf. Kecuali hanya beberapa ulasan yang rumit, terpisah-pisah, bertentangan, dan salah. Yang tidak akan dikira oleh kalangan orang awam sebagai sesuatu yang berasal dari kelompok orang yang mengaku diri mereka sebagai orang-orang yang mengkaji hakikat segala perkara.

(11)

Dari sini aku tersadarkan bahwa membantah sebuah pendapat sebelum mendalami dan menelaah kedalaman isinya terlebih dahulu, hanya akan seperti memanah di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, aku pun mencurahkan segala usaha dan jerih payah untuk mendalami dan menelaah ilmu tersebut dari karya para Filsuf, tanpa bantuan seorang guru. Aku melakukan hal tersebut pada saat-saat luangku di sela-sela

kesibukan mengarang dan mengajar, dimana kala itu aku harus mengajar 300 santri di Baghdad.

Akhirnya, Allah menunjukan kepadaku -dengan usaha penelaahan di waktu-waktu senggang- pada puncak ilmu-ilmu mereka dalam waktu kurang dari dua tahun. Baru setelah faham, aku kemudian memikirkannya secara intensif selama kurang lebih satu tahun. Aku mengulang-ulangi dan menyelidiki jeram demi jeram kedalamannya

sehingga akhirnya aku menemukan celah-celah tipuan dan kesalahan, serta realitas dan ilusi dalam disiplin ilmu tersebut sebagai sebuah hasil belajar dan penemuan yang tidak kuragukan lagi.

Maka, perhatikanlah sekarang kisah pengungkapan ilmu-ilmu mereka. Aku menyaksikan mereka terbagi dalam beberapa golongan dan ilmu mereka pun terbelah menjadi

beberapa klasifikasi. Namun, mereka semua pantas di cap sebagai orang yang telah kafir dan menyimpang, meski ada perbedaan jarak yang besar antara angkatan lama dan baru, serta angkatan terakhir dan pemula, dalam segi jauh dan dekatnya mereka dalam segi kebenaran.

KLASIFIKASI FILSUF DAN TANDA KEKUFURAN MEREKA

Ketahuilah Meskipun terdapat banyak sekte dan mazhab dikalangan para filsuf, mereka dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:

Pertama

Kelompok ad-Dahriyyun. Mereka adalah sekelompok filsuf angkatan pertama yang mengingkari Sang Pencipta, Sang Maha mengetahui . Mereka berpendapat bahwa dunia ada dengan sendirinya tanpa keterlibatan Pencipta. Binatang berasal dari sperma. Seperma binatang ada dalam tubuh mereka dengan sendirinya. Dan begitulah seterusnya. Mereka ini merupakan kaum zindiq.

(12)

Kelompok Tabi‘iyyun (KOSMOLOGI). Mereka adalah kalangan filsuf yang intensif

melakukan pengkajian dan pEenelitian tentang dunia kosmos, serta keajaiban-keajaiban hewan dan tetumbuhan. Mereka juga banyak berkecimpung membedah dan mengamati anggota-anggota tubuh binatang. Dengan begitu mereka menyaksikan keajaiban Allah Swt. dan keindahan hikmah-Nya yang selanjutnya memaksa mereka harus mengakui adanya Sang Maha Kuasa dan Sang Maha Bijaksana, Yang mengetahui segala seluk-beluk segala sesuatu dan tujuan-tujuannya. Memang orang yang meneliti anatomi tubuh dan keajaiban fungsi anggota-anggota tubuh akan mendapatkan ‘ilm ad-daruri pada kesempurnaan rekayasa Sang Penyusun kontruksi hewan, lebih-lebih struktur tubuh manusia.

Hanya saja, karena sering banyaknya meneliti alam, timbul dalam diri mereka –dengan tujuan untuk menyeimbangkan rumusan komposisi organic- pengaruh yang besar dalam dalam memandang factor-faktor kekuatan binatang, maka mereka menduga bahwa daya rasional manusia pun mengikuti komposisi organiknya juga. Tidak akan ada daya

rasional manusia, jika komposisi organiknya tidak sempurna. Dengan demikian –

menurut sangkaan mereka- ketika komposisi-komposisi organiknya sudah hilang, maka tidak mungkin untuk terkembalikannya sesuatu yang sudah sirna. Sehingga mereka berpendapat bahwa jiwa itu akan mati dan tidak bisa dihidupkan kembali. Oleh karena itu, mereka mengingkari adanya Akhirat, Surga, Neraka, apel akbar di akhirat (mahsyar) dan pemberian catatan amal Hari kiamat, dan penghitungan (hisab). Bagi mereka,

ketaatan tidak akan memberi pahala, begitu juga maksiat tidak memiliki konsekuensi siksa. Oleh karena itu, kendali nafsu mereka lepas, sehingga mereka memuaskan segala keinginannya layaknya binatang.

Kelompok ini juga bisa digolongkan ke dalam golongan zindiq, karena mereka

mengingkari hari kiamat meskipun mengimani Allah dengan segala sifat-Nya. Padahal titik pusat keimanan adalah percaya pada Allah dan hari kiamat.

Ketiga

Kelompok Ilahiyyun (teis). Mereka adalah kalangan Filsuf generasi terakhir seperti

Socrates dimana ia adalah guru dari Plato, dan Plato guru dari Aristotales. Aristotales-lah yang menyusun logika mereka dan mengkodifikasi ilmu-ilmu mereka, serta menuliskan hal-hal yang belum ditulis sebelumnya. Maka menjadi matanglah ilmu-ilmu mereka yang sebelumnya masih mentah.

(13)

Secara umum, kelompok ini membantah kedua kelompok di atas yaitu kaum dahriyyah dan tabi’iyyun, serta membeberkan kesalahan-kesalahan mereka sehingga lawan-lawan mereka tidak perlu lagi memerangi mereka. Aristoteles bahkan melakukan counter produktif atas Sokrates dan Plato, serta Filsuf-filsuf teis sebelumnya sebagai bentuk counter yang melepaskan dirinya dari mereka semua. Meski begitu, kalangan filsuf Ilahiyyin tetap menyimpan sisa-sisa kekafiran dan bid‘ah mereka yang tidak bisa dicabut lagi. Sehingga mereka semua wajib dikafirkan, begitu juga dengan para pengikut

mereka dari kalangan filsuf Islam seperti Ibn Sina dan al-Farabi.

Tidak ada satu pun filsuf Islam yang telah berusaha secara maksimal dalam

mentransformasikan ilmu Aristotales, setaraf yang telah dilakukan oleh keduanya. Bahkan transsformasi ilmu yang telah dilakukan oleh selain keduanya terkesan rancu dan mengaburkan hati para pengkajinya, sehingga malah tidak bisa difahami. Lalu bagaimana sesuatu yang tidak bisa difahami bisa dibantah atau diterima?.

Secara global, khasanah filsafat Aristoteles yang sahih menurut kami, sebatas nukilan kedua filsuf di atas, terangkum dalam tiga bagian:

1-Bagian yang harus dikafirkan 2-Bagian yang wajib dibid‘ahkan

3-Bagian yang sebenarnya tidak wajib diingkari.

Tiga golongan filsuf

1.kelompok

addahriyyun

( Anti Tuhan)

3.kelompok Ilahiyyun (teis)

(14)

KATAGORI ILMU-ILMU FILSAFAT Ketahuilah bahwa disiplin ilmu filsafat, ditinjau dari tujuan dan misi yang kita

maksudkan, ada 6 bagian: matematika, logika, ilmu alam, ilmu ketuhanan, politik, dan etika.

1. Disiplin Matematika

Disiplin ini terkait dengan ilmu hitung, teknik, dan epistemology ilmu. Ia sama sekali tidak berhubungan dengan masalah-masalah keagamaan, baik menafikanya atau pun meneguhkanya. Ia hanya teori argumentasi yang tidak ada jalan untuk membantahnya setelah memahami dan mengetahuin.Disiplin ilmu ini telah menghasilkan dua bahaya. Bahaya pertama, barang siapa yang melihatnya, ia akan takjub terhadap ketelitian dan kejelasan teori argumentasi-argumentasinya, sehingga akan semakin mempertajam keyakinan dan kepercayaan kepada disiplin ilmu filsafat. Dan juga membentuk sebuah aggapan bahwa seluruh disiplin ilmu mereka, akan sejelas dan sekuat argumentasi mereka seperti dalam disiplin ini. Dan jika pun ia mendengar kekafiran para praktisinya , pelalaian dan pelecehan mereka atas syari‘at agama dari mulut ke mulut, ia pun akan ikut-ikutan kafir sambil menepis:

(15)

“jika memang agama yang benar, niscaya agama tak luput dari ketelitian mereka

dengan segenap ketelitian yang mereka tunjukan dalam disiplin ilmu ini!”. Sehingga, jika diketahui kabar kekafiran dan keingkaran mereka, Orang akan berdalih bahwa yang benar adalah penafian dan pengingkaran atas agama.

Betapa banyak kulihat orang yang tersesat dari kebenaran dengan modus seperti ini. Jika dikatakan kepada mereka bahwa orang yang pintar dalam suatu keterampilan tertentu, ia belum tentu menguasai segala bidang. Misalnya orang yang pintar dalam ilmu fiqih dan ilmu kalam belum tentu pintar dalam disiplin kedokteran. Begitu juga orang yang tidak mengetahui disiplin logika belum tentu ia tidak tahu masalah ilmu Nahwhu. Akan tetapi, setiap bidang keterampilan mempunyai ahlinya sendiri-sendiri yang mencapai tingkatan kehebatan dan kapabilitas tertentu, meski ia mungkin saja tidak mengetehui sama sekali bidang ilmu lain. Pernyataan para filsuf terdahulu dalam masalah matematika memang argumentative dan jelas, akan tetapi pernyataan mereka dalam masalah ketuhanan adalah samar dan dan tidak jelas.

Hal ini tidak akan diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mencoba dan

menyelaminya lebih dalam. Jika hal tersebut dikemukakan kepada orang yang bersikap taklid seperti yang telah dikatakan, maka tetap saja mereka tidak akan menerima. Mereka akan lebih dikendalikan oleh hawa nafsu dan syahwat kepahlawanan, serta lebih cenderung menganggap lebih baik pada kalangan filsuf kafir dalam semua disiplin

ilmunya.

Ini merupakan petaka besar yang harus segera dibendung oleh setiap orang yang menyelami disiplin-disiplin ilmu ini, meskipun disiplin ilmu tersebut tidak ada kaitannya dengan masalah agama. Namun jika prinsi-prinsip dasar ilmu mereka ini mengalirkan kesesatan dan kejelekan, maka sedikit saja kejelekan terkena pada orang yang

menggeluti disiplin ilmu ini akan berakibat tercerabut dari ajaran agamanya dan akan terlepas pula ikatan ketaqwaannya.

Bahaya kedua, akan muncul orang bodoh dari golongan konservatif islam . Orang seperti ini menduga bahwa agama sebaiknya mengingkari setiap ilmu yang dinisbatkan pada setiap kalangan ahli disiplin ini. Maka ia pun lalu mengingkari seluruh disiplin ilmu

mereka bahkan menuduh merek sebagai bodoh. Sehingga ia juga mengingkari pendapat dan pemikiran mereka dalam bidang gerhana matahari dan gerhana bulan. Dengan

(16)

keyakinan bahwa setiap statemen yang mereka katakan adalah bertentangan dengan syari‘at.

Maka jika saja hal ini( Pandangan konservatif kalangan islam) dikemukakan dihadapan orang yang sudah mengetahui disiplin ini dengan argumentasi yang kuat dan mapan, mereka malah akan semakin berkeyakinan bahwa Islam dibangun diatas kebodohan dan pengingkaran argumentasi, sehingga dengan demikian filsafat akan semakin dicintainya dan Islam malah akan semakin dibencinya.

Lebih bahaya lagi, agama juga telah dinodai oleh orang yang beranggapan bahwa Islam mengingkari ilmu-ilmu ini, dan bahwa syari‘at juga tidak menyinggung ilmu ini sama sekali, baik menafikan ataupun membenarkan. Begitu juga ilmu-ilmu ini tidak

menyinggung dan berhubungan dengan masalah agama. Padahal Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan mengandung dua tanda-tanda pengingat Allah. Keduanya tidak tenggelam oleh kematian ataupun kehidupan seseorang. Maka jika kamu melihat hal itu, bersegeralah mengingat Allah dan melaksanakan shalat”. Namun hal ini tidak berarti mengingkari ilmu hitung yang dikenal dengan nama rotasi matahari dan bulan, berkumpul dan sejajar-nya. Bahkan sabda Rasulullah saw., “Akan tetapi Allah jika memperlihatkan diri pada sesuatu, maka sesuatu itu akan tunduk padanya”. Maka tidak juga didapat dalih lain yang mengingkari ilmu hisab dalam kitab-kitab yang sahih. Demikianlah hukum disiplin Matematika dan bahaya yang

ditimbulkannya. 2. Disiplin Logika

Disiplin ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama, baik dalam bentuk negasi maupun justifikasi. Disiplin ini hanya merupakan penalaran atas cara-cara pembuktian dan parameter, syarat validitas premis dan cara menyusunnya, serta syarat-syarat batasan yang benar dan bagaimana menyusunnya. Sebuah disiplin ilmu memang mempunyai dua kemungkinan jalan pengetahuan dan jalan pembenarannya. batasan eksekutor atau argumentasi. Tidak ada hal dalam disiplin logika ini yang harus diingkari. Ia merupakan jenis yang dimasukan oleh kaum mutakallimin dan para pakar teoritik ke dalam bagian argumentasi-argumentasi. Yang membedakan mereka hanya ungkapan dan istilah saja, serta tambahan rumusan pada definisi-definisi dan pemilahannya.

(17)

Contoh pendapat mereka adalah: jika ditetapkan bahwa A bagian dari B, maka

semestinya B bagian dari A. Atau dengan kata lain, jika setiap manusia adalah hewan, maka semestinya beberapa hewan adalah manusia. Kesimpulan ini mereka ungkapkan dalam bentuk bahwa konsekuensi Universal mencerminkan konsekuensi parsial.

Jadi, apa hubungannya disiplin ini dengan tugas-tugas keagamaan sehingga ia harus diingkari? Bahkan jika disiplin ini diingkari, maka pengingkaranya hanya akan

membentuk persepsi buruk dihadapan diri para akademisi logika terhadap nalar para pengingkarnya. Bahkan bisa pada agama si pengingkar yang menjadi acuannya dalam mendukung pengingkaran ini.

Memang, ada bentuk noda dalam disiplin ilmu ini. Yaitu ketika mereka mengumpulkan syarat-syarat sebuah argumen yang diketahui akan melahirkan keyakinan yang tiada diragukan lagi. Namun begitu mencapai kesimpulan akhir pada maksud-maksud keagamaan mereka tidak mampu memenuhi syarat-syarat tersebut, bahkan mereka malah sangat meremehkannya. Padahal masih terbuka kemungkinan bahwa bagi orang yang mendalami logika, ia akan menganggapnya baik-baik saja dan jelas, sehingga terbentuk sebuah dugaan bahwa apa yang dinukil mereka dari wacana kekafiran

memang didukung dengan argumentasi-argumentasi seperti ini. Maka orang inipun akan segera kafir sebelum sampai pada penghujung disiplin ilmu-ilmu ketuhanan.

Demkianlah Bahaya yang menyusup ke dalam disiplin ilmu logika ini. 3. Disiplin Alam (Tab‘iyyat)

Adalah disiplin yang membahas alam langit, planet, dan apa yang di bawahnya berupa materi tunggal, seperti: air, udara, debu, dan tanah, serta materi komplek, seperti: hewan, tumbuhan, dan barang tambang. Disiplin ini juga membahas sebab-sebab perubahannya, pemuaian dan kombinasinya. Hal itu seperti diagnosa seorang dokter pada tubuh manusia, anggota-anggota badan yang utama dan penunjang, serta sebab-sebab perubahan karakternya.

Sebagaimana agama tidak mengingkari disiplin kedokteran, maka ia juga tidak mengingkari dan tidak menolak disiplin ini. Kecuali beberapa masalah tertentu yang kami ulas di dalam kitab ‘Tahafut al-Falasifah’ (kerancuan para filsuf). Disamping beberapa hal lain yang harus dibantah jika dicermati dengan lebih seksama. Kesimpulannya, bahwa alam dibawah kendali dan kuasa Allah. Alam tidak bekerja

(18)

dengan sendirinya, melainkan menggunakan tangan Pencipta dan Pengendalinya. Matahari, planet, bulan, bintang, dan galaksi-galaksi alam lainnya, semua berjalan di atas titah-Nya. Bukan bekerja dengan kekuatanya sendiri.

4. Disiplin Ketuhanan (Ilahiyyat)

Di sinilah para filsuf banyak yang tersesat dalam kubangan kesalahan dan kekeliruan. Mereka tidak mampu memenuhi argumentasi-argumentasi yang mereka syaratkan sendiri dalam ilmu logika. Karena itulah di kalangan mereka sendiri banyak sekali perdebatan dan perbedaan pendapat dalam disiplin ini. Dalam sekup ketuhaAnan, mazhab Aristoteles dekat dengan mazhab-mazhab kalangan Islam, seperti yang dikutip oleh al-Farabi dan Ibn Sina.

Rangkuman kekeliruan mereka dalam disiplin ini dibagi menjadi 20 prinsip masalah yang kami susun dalam kitab Tahafut al-Falasifah. Tiga diantarnya menyebabkan mereka harus dikafirkan, 17 harus dibid‘ahkan dan mazhab mereka juga harus digugurkan. Dan untuk membantah pemikiran mereka dalam 20 permasalahan ini, kami telah menyusun kitab Tahafut al-Falasifah.

Adapun tiga masalah yang bertentangan dengan pokok-pokok keimanan umat Islam adalah pendapat mereka sebagai berikut:

a. Jasad (pada hari kiamat) tidak dikumpulkan di Mahsyar. Karena yang menerima

pahala dan siksa hanyalah ruh tanpa jasad. Sebab ganjaran pahala dan siksa adalah soal ruhaniah dan bukan jasmaniyah fisik.

Mereka benar ketika menetapkan ruhaniah sebuah sesuatu yang nyata. Mereka salah besar ketika mengingkari jasmaniah fisikal. Mereka telah mengingkari ( Kufur ) syariat dengan pernyataan ini.

b. Allah hanya mengetahui masalah Universal makro, tanpa mengetahui masalah Parsial mikro. Ini jelas-jelas bentuk sebuah kekafiran. Yang benar adalah bahwa,

“Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan di bumi” (Q.S. Saba‘ [34]:3).

(19)

c. Juga pendapat mereka tentang terdahulunya alam( bukan baru) dan azalinya alam. Tidak ada satu pun orang Islam yang berpendapat demikian, sehingga mereka bisa dikatakan telah kafir dengan pendapat seperti ini.

Adapun masalah-masalah selain mengenai pendapat ini, seperti pengingkaran mereka akan sifat-sifat zat Allah, juga pendapat mereka bahwa Allah Maha Tahu tentang esensi-esensi tapi bukan dengan pengetahuan surplus (‘ilm zaid); serta pendapat-pendapat serupa, maka dalam hal ini mereka lebih dekat dengan mazhab Mu‘tazilah. Mereka tidak wajib dikafirkan seperti dikafirkannya kelompok Mu‘tazilah. Dalam kitab ‘Faisol

at-Tafriqah bayna al-Islam wa az-Zanadiqah’ (Memilah perbedaan antara Islam dan

Zindiq), kami telah menjelaskan kesalahan dan kebobrokan pendapat orang yang terlalu buru-buru dan serampangan mengkafirkan setiap mazhab dan pendapat yang berbeda dengan mereka.

5. Disiplin Politik (Siyasiyyat)

Semua pendapat kalangan filsuf dalam tema ini, merujuk pada hukum-hukum kebaikan umum yang berkaitan dengan masalah-masalah keduniaan dan kewenangan kekuasaan. Bahkan mereka mengambilnya juga dari kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi, serta rumusan-rumusan dari kaum salaf penerus para Nabi.

6. Disiplin Etika (Khuluqiyyat)

Maka semua pendapat mereka dalam tema ini merujuk pada pembatasan sifat-sifat diri dan etikanya. Penjelasan jenis-jenis dan macamnya, serta bagaimana mengatasi dan melatihnya. Dalam hal ini, mereka lebih merujuk pada rumusan-rumusan kaum Sufi yang telah beribadah dan giat mengingat Allah, menentang hawa nafsu, dan meniti jalan menuju Allah dengan berpaling dari segala kesenangan dunia.

Dalam bermujahadah melatih diri, kaum sufi telah menyingkap etika diri, celah-celah bahaya nafsu, dan menyadari bahaya menuruti hawa nafsu. Dalam hal ini, kalangan filsuf mengambilnya untuk kemudian mengakomodasikan dengan pendapat mereka sendiri sebagai bentuk penghiasan diri dalam rangka menyebar luaskan kebatilan pemikiran ini.

Pada masa mereka, bahkan disetiap masa, memang akan selalu ada kelompok

(20)

Mereka adalah pasak-pasak bumi. Berkat mereka rahmat-Nya turun pada penduduk bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Saw. yang berbunyi: “Karena mereka kamu sekalian dikaruniai hujan, dan karena mereka kamu sekalian dianugerahi rizki Diantara kalangan ini adalah Ashab al-Kahf”.

Seiring dengan jalanya waktu, sebagaimana penuturan Alquran, pengakomodasian yang dilakukan oleh kalangan filsuf dari prinsip kenabian dan prinsip kesufian dalam karya-karya mereka telah melahirkan dua bahaya besar. Bahaya bagi yang menerima dan bahaya bagi yang menolak.

1.Bahaya bagi yang menolak, cukup sangat dahsyat.

Kaum lemah akal akan tetap bersikap menganggap buruk. Dengan berkeyakinan bahwa prinsip yang termaktub dalam kita-kitab mereka dan yang tercampuri noda kebatilan mereka, harus ditinggalkan dan tidak disebut. Bahkan kalangan lemah akal ini juga mengingkari setiap orang yang menyebutnya. Ketika mereka mendengarnya pertama kali, yang mula-mula hadir dalam akal lemah mereka adalah bahwa hal itu batil dan yang mengucapkanya pun batil. Misalnya ketika si lemah akal mendengar seorang Nasrani mengatakan:

“Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah utusan Allah”. Maka mereka akan langsung mengingkarinya sambil mengatakan: “ Ini adalah kata-kata orang nasrani”. Mereka tidak pernah sedikit pun merenung dan berfikir bahwa orang Nasrani ini hanya kafir karena ucapan ini, atau dengan mengingkari kenabian Muhammad Saw. yang mereka lihat bahwa statemen itu diucapkan oleh orang Nasrani dan karenanya pasti salah dan harus dimunkarkan tanpa melihat kebenaran ucapan mereka. Inilah kebiasaan orang-ornang lemah akal yang mendefinisikan kebenaran berdasarkan orang, bukan berdasarkan atas kebenaran itu sendiri. Seorang yang berakal akan mengikuti nasehat yang disampaikan oleh Amir al-Mu‘minin ‘Ali bin Abi Thalib ra., ‘Jangan pandang kebenaran berdasarkan orang, tapi ketahuilah kebenaran dangan kebenaran itu sendiri niscaya akan kamu ketahui pemiliknya.

Seorang yang berakal akan menganggap kebenaran sebagai sebuah kebenaran, baik yang mengucapkannya orang yang batil maupun orang yang lurus, bahkan mungkin ia akan bersemangat menjemput kebenaran dari kata-kata orang sesat dengan asumsi bahwa emas yang keluar dari dubur hewan kotor sekalipun tetaplah emas. Seorang

(21)

tukang emas tidak akan segan-segan memasukan tangannya ke dalam plastik milik tukang sepuh emas dan mengabil emas murni di antara yang palsu dan imitasi, setelah yakin dengan pandangannya. Ia hanya tidak mau berurusan dengan tukang sepuh emas desa tanpa menelitinya terlebih dahulu; ia tidak mau menyeberangi lautan yang dalam, kecuali ia adalah perenang yang hebat; dan menolak menangkap anak ular, kecuali ia mengetahui mantera yang hebat.

Ketika dugaan telah menguasai kebanyakan makhluk bahwa mereka mempunyai kehebatan, kepintaran, kesempurnaan akal dan kelengkapan alat untuk membedakan kebenaran dan kebatilan, yang lurus dan yang sesat, maka dibutuhkan satu bab khusus untuk menghalau mereka semua dari menelaah kitb-kitab kalangan sesat sedapat mungkin. Karena mereka tidak akan selamat dari bahaya kedua yang akan kami sebutkan, meskipun mereka telah selamat dari bahaya pertama.

Muncul penolakan atas beberapa kalimat yang termuat dalam kitab-kitab kami tentang rahasia ilmu-ilmu agama dari sekelompok orang yang belum kuat hati mereka dalam disiplin keilmuan dan belum terbuka juga mata hati mereka akan puncak mazhab-mazhab. Mereka menuduh bahwa beberapa kalimat tersebut adalah pernyataan orang-orang terdahulu , dimana sebagian kalimat itu, menurut mereka, muncul dari ‘daerah bahaya’ yang akan memperosokan seorang penggali ke dalam lubang yang ia gali sendiri. Padahal beberapa kalimat itu juga terdapat dalam kitab-kitab syari‘at, bahkan banyak pula ditemukan maknanya dalam kitab-kitab sufisme. Atau taruhlah hal itu tidak ada kecuali hanya dalam kitab-kitab orang-orang kuno.

Maka jika memang pernyataan tersebut masuk akal, bahkan didukung pula dengan argumentasi serta tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah, maka ia pun tidak perlu dihindari dan ditinggalkan. Jika kita meninggalkan setiap kebenaran yang telah dikeluarkan oleh orang yang bahaya dan batil, niscaya kita akan menelantarkan banyak sekali kebenaran. Kita terpaksa juga harus meninggalkan beberapa ayat Alquran, sabda-sabda Nabi dan nasehat-nasehat kaum salaf, serta kata-kata hikmah dari kaum waskita dan sufi, hanya dikarenakan penulis kitab ‘ikhwan as-safa’ telah mencantumkan dan berargumentasi dengan menggunakan pernyataan-pernyataan para ulama pendahulu tersebut untuk menarik hati orang-orang yang bodoh agar mengikuti kebatilan mereka. Derajat ‘Alim (Orang berilmu) yang paling rendah ialah ia mampu membedakan dirinya dengan orang awam yang berpengalaman sama sekali.

(22)

Madu tidak akan busuk meski berada di dalam gelas pembekaman, karena terbukti pembekaman tidak akan merubah esensi madu. Penolakan tabi‘at atas madu tersebut hanya didasarkan pada kebodohan orang awam karena ia berasumsi bahwa gelas pembekaman dipakai untuk wadah darah yang kotor. Ia pikir bahwa darah menjadi kotor karena berada dalam gelas pembekaman, padahal darah itu kotor dengan sendirinya dikarenakan adanya sifat dalam zatnya. Maka jika sifat ini tidak ada dalam madu tersebut, maka adanya madu di dalam alat pembekaman tidak berarti madu memiliki sifat tersebut. Sehingga madu tidak boleh begitu saja dianggap kotor.Cara pikir sembrono yang menganggap kotor madu dalam gelas pembekaman adalah sangkaan yang batil meskipun mendominasi pemikiran kebanyakan orang.

Mereka akan menerima begitu saja setiap perkataan yang disandarkan pada orang yang mereka pandang baik akidah keyakinan mereka, meskipun perkataannya batil. Dan mereka akan menolak mentah-mentah setiap perkataan orang yang mereka anggap sesat keyakinannya, sebenar apa pun perkataan mereka. Mereka selamanya

memandang kebenaran pada pribadi pengucapnya, bukan pada inti kebenaran itu sendiri. Ini jelas-jelas sangat batil. Dan demikianlah bahaya atas orang yang menolak. 2.Adapun bahaya bagi yang menerima adalah

Bahwa orang yang menelaah kitab mereka, misalnya kitab-kitab Ikhwan as-Safa dan yang lainnya. Begitu melihat kombinasi bagus pendapat mereka dengan kata-kata nasehat nubuwwah (kenabian) dan sufisme, mereka akan langsung tergerak untuk menganggapnya baik dan mengokohkan keyakinannya pada mereka. Mereka akan cepat-cepat menerima kebatilan kombinasi mereka hanya karena sangkaan baik yang dihasilkan dari apa yang telah ia lihat dan anggap baik. Ini merupakan bentuk

penggiringan pada kebatilan.

Dalam rangka mengantisipasi bahaya ini, harus dilakukan pelarangan untuk menelaah kitab-kitab kaum filsuf kombinatif ini karena kandungan bahaya dan kesalahan

didalamnya. Sebagaimana keharusan mencegah orang yang tidak bisa berenang untuk meloncat ke sungai, maka wajib pula mencegah orang-orang untuk menelaah kitab-kitab berbahaya tersebut. Juga sebagaimana kewajiban menjaga anak kecil dari gigitan ular, maka menjadi wajib pula menjaga pendengaran dari campur-aduk kata-kata mereka. Dan sebagaimana kewajiban seorang pawang ular untuk tidak membawa ularnya di hadapan anaknya yang masih kecil. Jika ia tahu betul bahwa anaknya yang

(23)

masih kecil itu akan mendekati ular itu karena menyangka dirinya kebal seperti

bapaknya, bahkan ia malah wajib memperingatkannya dengan memperingatkan dirinya terlebih dahulu untuk tidak mempermainkan ular di hadapan anak kecil. Maka wajib pula bagi alim ulama untuk melakukan hal yang sama. Begitu juga sebagaimana seorang pawang ular yang pintar, ketika mengambil ular, ia akan bisa membedakan antara racun ular dan penangkalnya, maka diambilnya penangkal racun dan dibuangnya bisa ular tersebut. Ia pun tidak boleh kikir dengan penangkal racun bagi orang yang sangat membutuhkannya.

Sama juga dengan seorang tukang emas, ketika ia memasukkan tangannya ke dalam kantong sepuhan, lalu ia mengambil yang murni dan membuang yang sepuhan dan imitasi. Maka ia juga tidak boleh kikir untuk membagi emas yang baik bagi orang yang membutuhkannya. Maka begitu pun juga seorang ulama.

Sama halnya, ketika seorang yang membutuhkan penangkal racun merasa jijik, karena ia tahu bahwa penangkal itu dihasilkan dari ular yang merupakan sumber racun, maka si pawang wajib memberi tahu. Begitu juga seorang fakir miskin, mungkin ia akan menolak menerima emas yang dikeluarkan dari kantong sepuhan, karena ia pikir itu hanya emas imitasi, maka si tukang emas harus memperingatkan bahwa penolakannya adalah sebuah kebodohan dan ini adalah sebab tidakdapatnya akan manfaat yang sebenarnya ia butuhkan. Harus diberitahukan juga kedekatan tempat emas dengan yang imitasi tidak berarti lantas menjadikan emas murni tersebut menjadi imitasi dan yang imitasi menjadi murni.

Maka demikian juga kedekatan tempat antara kebenaran dan kebatilan, tidak akan menjadikan kebenaran menjadi batil dan kebatilan menjadi benar.

Demikianlah bahaya filsafat dan belenggunya sebatas yang kami kemukakan.

Enam disiplin filsafat

matematika

logika

ilmu alam

ilmu ketuhanan

(24)

etika

ALIRAN BATINIYYAH DAN BAHAYA-BAHAYANYA Setelah menyelesaikan penelaahan ilmu filsafat, mendalami dan membedakan kepalsuan-kepalsuan yang ada. Aku masih saja belum cukup meraih targetku. Akal memang tidak akan mampu menutupi seluruh tuntutan kebutuhan dan tidak akan bisa juga

membuka seluruh tabir permasalahan.

Saat itu ramai sekali pembicaraan aliran Ta‘limiyyah. Para penyebarnya menyebar di tengah-tengah umat dan menceramahi mereka tentang pengetahuan makna tema penting dari Imam Ma‘sum sang penegak kebenaran. Aku mendapat tugas untuk meneliti pemikiran-pemikiran mereka dengan mengacu pada kitab-kitab mereka. Kemudian dengan titah khalifah, aku menyanggupi juga untuk menyusun sebuah kitab yang mengupas dan menjelaskan seluk-beluk mazhab Ta‘limiyyah ini. Aku sama sekali tidak kuasa menolaknya, walaupun hal itu ada dorongan luar untuk melakukanya namun juga ada motivasi dalam batin pribadiku. Aku mulai mencari kitab-kitab mereka dan mengumpulkan pemikiran-pemikiran mereka. Dan aku telah mengetahui beberapa pernyataan terbaru mereka yang diberikan oleh para pemikir baru mereka, yang bukan merupakan metode dari para pendahulu dan tokoh-tokoh mereka. Aku kemudian mengurutkannya secara sistematis dengan rapi dan

(25)

perbandingannya. Aku menjawab semua pertanyaan ini secara mendetail sehingga beberapa orang dari kalangan ahl al-haqq memperingati akan keberanianku dalam menetapkan argumentasi mereka. Mereka bilang, “Ini adalah kemenangan mereka. Mereka sebenarnya tidak mampu mempertahankn mazhab mereka dengan segala

kerancuan yang ada, kalau bukan karena penyelidikan dan sekematis Anda atas mazhab tersebut”.

Tantangan ini memang benar adanya. Imam Ahmad Ibn Hambal pernah menegur dan menentang karya al-Haris al-Muhasibi dalam membantah Mu‘tazilah. “membantah bid‘ah adalah kewajiban!” kata al-Haris. “benar, tetapi anda mengurai kerancuan mereka

terlebih dahulu, kemudian baru membantah dan menjawabnya. Apa Anda berani menjamin? bahwa orang yang membaca tidak malah akan tertarik dengan kerancuan tersebut dan malah tidak melihat serta memperhatikan sama sekal jawaban dan bantahan Anda, sementara mereka tidak memahami intinya.

Apa yang disebut oleh Imam Ahmad memang benar adanya, tetapi hanya untuk kasus kerancuan yang belum tersebar dan terkenal di kalangan umum. Adapun kerancuan yang sudah terlanjur menyebar, maka menjawab dan membantahnya merupakan kewajiban dan tidak mungkin pula membantahnya tanpa memaparkan terlebih dahulu. Memang, seharusnya kita tidak perlu repot-repot membeberkanya. Aku juga sebenarnya tidak bermaksud demikian, hanya saja aku mendengar tentang kerancuan-kerancuan tersebut dari salah seorang kawan yang sering berkunjung ke rumahku. Ia masuk ke dalam organisasi mereka dan menyerap pemikiran mazhab mereka. Ia menceritakan bahwa mereka mengolok-olok dan mentertawakan karangan beberapa penulis yang berisi bantahan atas mazhab mereka karena para penulis memahami betul argumentasi mereka. Si kawan itu pun lebih lanjut menguraikan argumentasi-argumentasi yang mereka kemukakan. Maka aku pun tidak ingin diriku disebut lalai pada objek keaslian argumentasi mereka. Karena itulah, aku kemudian berinisiatif menyertakannya juga. Aku tidak ingin pula dikatakan belum memahami argumentasi tersebut meski telah mendengarnya, sehingga kuputuskan juga untuk menyelidiki argumentasi mereka. Misi dan target yang ingin kucapai dengan menyelidiki kerancuan mereka kemudian memunculkan ketidak validan argumen mereka dengan argumentasi yang mencukupi.

(26)

Hasilnya, pada kenyataan hal itu tidak menunjukan hasil positf bagi mereka atau menjadi perdebatan yang berkepanjanagan bagi mereka. Dan kalau saja tidak ada pembelaan beberapa kawan yang bodoh, niscaya bid‘ah tersebut sudah tamat

riwayatnya dengan segala kelemahan mereka pada lefel ini. Sayang, kerasnya fanatisme telah membawa orang-orang menjadi tercerabut dari kebenaran, untuk memperpanjang konflik dengan mereka pada setiap pembicaraan mereka, dan mendebat segala yang mereka ucapkan. Mereka bahkan mendebat pengakuan mereka, “kebutuhan pada pengajaran dan pengajar”, serta “tidak semua pengajar baik. Kerena itu yang dibutuhkan adalah seorang pengajar ma‘sum”.

Maka yang terjadi kemudian, argumentasi mereka pun malah semakin populer dan menguat, karena relitanya memang kita semua membutuhkan pengajaran dan pengajar. Sementara itu, jawaban para pengingkarnya semakin melemah dalam menghadapi

mereka. Hal demikian, membuat aliran ini pun semakin bangga diri sambil menyangka bahwa hal itu dikarenakan kekuatan mazhab mereka. Dan kelemahan mazhab kalangan yang berbeda pendapat dengan mereka. Mereka tidak mengetahui bahwa hal itu lebih disebabkan karena kelemahan para pembela kebenaran dan kebodohan mereka akan metodologi yang tepat.

Memang kita harus mengakui bahwa kita semua membutuhkan seorang pengajar agung, dan pengajar ini jelas haruslah seorang ma‘sum yang bebas dari salah dan dosa. Namun sang pengajar ma‘sum kita adalah Muhammad Saw. dan ketika mereka mengatakan, “tapi kan beliau sudah meninggal”, kita bisa membalas mereka, “pengajar anda juga menghilang”. Kemudian jika mereka berargumentasi lagi, “tapi pengajar kami telah mengajar para da‘i dan menyebarkannya di seluruh pelosok negeri. Dia hanya

menunggu mereka akan merujuknya saat terjadi perbedaan diantara mereka atau ada masalah penting yang menimpa mereka”, bisa kita katakan juga pada mereka,

“Pengajar kami juga telah mendidik para da‘i dan menyebarkan mereka ke seluruh pelosok negeri, bahkan telah menyempurnakan ajarannya sebagaimana firman Allah, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu”. (Q.S. al-Midah[5]: 3). setelah sempurnanya ajaran, maka tidak akan menjadi mudarat lagi kematian atau ketiadaan sang Pengajar”.

(27)

Jika mereka bertanya, “Bagaimana kalian menghukumi sesuatu yang belum kalian dengar? Apa dengan dalil yang belum pernah kalian dengar juga, ataukah dengan cara ijtihad dan penalaran yang merupakan wadah sangkaan perbedaan pendapat?”, kita akan jawab, “kami akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Mu‘az Ibn Jabal ketika ia diutus oleh Rasulullah Saw. ke Yaman. Dia menghukumi dengan nass [dalil hukum dari Alquran dan Sunnah Nabi] jika memang ada nas, dan dengan berijtihad disaat tidak ada dalil. Bahkan kita juga meniru tindakan para pendakwah mereka ( kaum

batiniyyah ), ketika mereka jauh dari sang Imam diujung negri, sehingga mereka tidak mungkin menghukumi dengan nass. Padahal dalil-dalil yang saling berjauhan tidak akan menyerap realitas lain yang saling berjauhan. Tidak mungkin pula melaporkan setiap peristiwa dan kejadian pada negeri si Imam, atau menempuh perjalanan jauh ke sana dan kembali hingga si peminta fatwa telah meninggal. Dan kembalinya mereka pun menjadi tiada arti. Begitu juga orang yang susah menentukan arah kiblat, maka tidak ada cara lain baginya untuk melaksanakan shalat kecuali dengan berijtihad. Jika ia pergi ke negeri sang Imam hanya untuk mengetahui arah kiblat, tentunya waktu shalat sudah akan berlalu.

“Jadi boleh shalat dengan tanpa menghadap kiblat dan lebih hanya berdasarkan

sangkaan semata?” Jika dikatakan demikian, maka kita akan menjawab, “sesungguhnya orang yang salah dalam ijtihadnya memperoleh satu pahala dan dua pahala bagi yang benar”. Begitu pula dalam seluruh bidang ijtihad. Masalah penyaluran zakat pada fakir miskin misalnya. Mungkin si pemberi zakat menyangka si fakir dengan ijtihadnya sebagai orang kaya yang berhaluan batini yang suka menyembunyikan hartanya. Maka kalau pun salah, ia tetap tidak berdosa, sebab seperti orang yang berijtihad menentukan kiblat, ia mengikuti sangkaan dirinya meskipun harus berbeda dengan orang lain”.

Jika ia mempertahankan, “Di sini, seorang pengikut mazhab mengikuti siapa? Imam Abu Hanifah, Imam Syafi‘i –semoga Allah mengasihi keduanya- ataukah Imam yang

lainnya.?” Maka akan saya jawab, “Seorang pengikut mazhab dalam menentukan arah kiblat berada dalam posisi yang sama. Artinya, kepada imam yang mana pun ia bisa mengikutinya,” “tapi jika para mujtahid tersebut berbeda pendapat dalam hal itu, apa yang akan ia perbuat?.” Akan aku jawab, “Ia bisa berijtihad untuk mengetahui mana yang lebih utama dan lebih tahu akan dalil-dalil kiblat, maka dia bisa mengikuti ijtihad tersebut. Begitu juga dalam berbagai pendapat mazhab lainnya”.

(28)

Pengembalian masalah manusia pada ijtihad merupakan hal darurat bagi para Nabi dan Imam, dan mereka sadar juga bahwa kadang mereka bersalah. Nabi Saw. misalnya pernah bersabda:

“Aku hanya menghukumi dengan dzohirnya dan Allah-lah yang mengurusi rahasia-rahasianya”.

Dengan bahasa lain, Nabi ingin mengatakan bahwa, “aku menghukumi dengan dugaan yang dihasilkan dari ucapan para saksi, sehingga mungkin saja aku keliru”.

Tidak ada jaminan bebas dari kekeliruan pada diri para Nabi dalam masalah-masalah ijtihad seperti ini, lalu bagaimana kita akan berbuat lebih dari itu?.

Dalam hal ini, mereka (kaum batiniyyah) mempunyai dua pertanyaan penting. Pertama

“diperkenankan ijtihad pada masalah-masalah yang boleh diijtihadkan (obyek ijtihad ), tetapi tidak dalam masalah keyakinan (aqaid). Sebab jika salah, maka ia tidak

terampuni. Lalu bagaimana caranya?”.

Jawab saya, “Kaidah-kaidah akidah sudah tercakup dalam Alquran, sunnah serta dan uraian terinci di belakang keduanya. Hal-hal yang dipertentangkan di sini bisa diketahui kebenarannya dengan cara menimbangnya dengan timbangan yang lurus (qistas al-mustaqim), yaitu timbangan-timbangan yang telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam kitab-Nya dan jumlahnya 5 timbangan. Semua sudah kusebutkan dalam kitab saya yang berjudul “al-Qistas al-Mustaqim”.

Jika ia bertanya lagi, “tapi lawan-lawan anda kan menentang timbangan anda ini?”. Maka akan saya jawab:

“tidak bisa dibayangkan jika orang yang sudah memahami timbangan-timbangan ini kemudian menentangnya. Para pakar at-Ta‘lim tidak bisa menentangnya, karena saya intisarikan dari Alquran dan aku juga mempelajarinya dari Alquran. Kalangan ahli logika pun tidak akan bisa menentangnya, karena hal itu sesuai dengan apa yang mereka syaratkan sendiri dalam disiplin logika yang tidak diperdebatkan lagi. Begitu juga para pakar kalangan mutakallimin, karena hal itu pun sesuai dengan apa yang mereka

(29)

sebutkan dalam dalil teoritik dan dengan teori dimana suatu kebenaran diketahui dalam disiplin ilmu kalam”.

“Jika memang ditangan anda sudah ada timbangan ini, lalu mengapa tidak anda angkat perbedaan yang terjadi diantara manusia?” Mereka bertanya demikian. Akan saya jawab:

“jika kalian mau mendengarkanku, niscaya akan kulenyapkan perselisihan diantara mereka! Sudah saya sebutkan cara-cara menghilangkan perselisihan ini dalam kitab ‘al- Qistas al-Mustaqim’. Maka renungkanlah agar anda mengetahui bahwa itu adalah

kebenaran, dan ini pasti akan menghilangkan segala perselisihan jika mereka mau medengarkan. Tapi nyatanya mereka juga tidak mau mendengarkannya. Buktinya, ada golongan yang mau mendengarkanku, lalu kuselesaikan konflik diantara mereka.

Sementara Imam anda juga ingin mengangkat perselisihan diantara mereka dan mereka tidak mau mendengarkannya, ia juga tidak mampu menghilangkannya juga hingga sekarang.

Mengapa juga Ali ra. belum juga mengangkatnya( menghulangkan konflik), padahal beliau adalah pemimpin para imam? Atau ia mampu mengajak mereka semua untuk mendengarkan nasehat mereka dengan paksa, lalu mengapa ia tidak memaksa mereka hingga sekarang? Lalu sampai kapan? Malahan dakwahnya hanya menyebabkan

bertambahnya perbedaan dan penentang. Benar! Beliau memang mengkhawatirkan perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang membahayakan, namun tidak akan berakhir dengan pertumpahan darah, memporak porandakan negara, dan membuat panjang daftar anak-anak yatim, maraknya perampokan, serta perampasan harta. Telah terjadi di dunia ini, berkat penghilangan perselisihan yang kalian lakukan suatu akibat yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah “.

Jika mereka bertanya:

“Anda mengaku telah menyelesaikan perselisihan diantara manusia, tapi orang yang merasa paling bingung di antara mazhab yang saling bertentangan dan perselisihan yang saling berhadapan, tidak akan mau mendengarkan anda juga, apalagi lawan anda. Kebanyakan lawan anda juga berselisih dengan anda. Jadi apa bedanya anda dengan mereka?”.

(30)

Ini adalah pertanyaan kedua mereka dan akan saya jawab: “pertanyaan ini seharusnya ditujukan kepada anda terlebih dahulu. Jika anda mendakwahi orang bingung ini untuk mengikuti anda, dia mungkin malah akan menjawab:

“atas dasar apa anda menjadikanku sebagai penentang argumen pertama anda, padahal kebanyakan ilmuwan berselisih pendapat dengan anda?’ aku tidak bisa membayangkan jawaban anda. Apakah anda akan menjawab bahwa Imam saya telah ditentukan oleh nass?. Lalu siapa yang akan mempercayai dalil nass, jika ia tidak mendengar nass itu dari Rasul? Apalagi jika mereka mendengarkan pendapat para ulama akan rekayasa dan kebohongan anda? Kemudian anggaplah ia menerima nass yang anda ajukan ini, tetap saja jika ia masih bingung dalam masalah pokok kenabian ( Nubuwwah ).

Maka ia akan bilang: “Anggap saja misalnya, jika Imam anda menunjukan mu‘jizat ‘Isa sambil berkata, “dalil atas kebenaranku adalah bahwa aku telah menghidupkan

bapakmu. Aku menghidupkannya, lalu ia berbicara kepadaku bahwa ia benar”, lalu dengan apa ia mengetahui kebenarannya?. Padahal segenap makhluk juga tidak mengetahui kebenaran Isa dengan mukjizat ini. Bahkan orang itu malah akan lebih banyak mengajukan sejumlah pertanyaan lagi yang tidak bisa dijawab kecuali dengan penalaran logika yang terinci, padahal logika yang terinci tidak anda kuasai. Orang ini tidak akan mengetahui perbandingan kebenaran mukjizat selama ia tidak mengetahui sihir dan perbedaannya dengan mukjizat. Dan selama ia tidak mengetahui bahwa Allah tidak akan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Biasanya, orang seperti ini mengajukan pertanyaan yang menyesatkan dan susah untuk dijawab. Lalu dengan apa ia menjawab semua itu? Padahal Imam anda adalah bukan orang yang pantas diikuti oleh

penentangnya? Mungkin ia akan merujuk pada dalil-dalil teoritik, sementara musuhnya juga menguraikan dalil yang sama, bahkan bisa lebih jelas”.

Pertanyaan ini telah berbalik pada mereka dengan sangat dahsyat. Jika seluruh penganut faham aliran ini dari yang pertama hingga yang terakhir berkumpul untuk berusaha mencari jawabannya, niscaya mereka tidak akan mampu. Melainkan hanya akan semakin memunculkan kerusakan di tubuh jamaah-nya dengan perdebatan antar mereka sendiri, karena mereka tidak memperhatikan soal nuarani, dan lebih hanya menyibukan diri dengan jawaban. Inilah yang akan membuat mereka berdebat panjang, dan tidak cepat-cepat memahami persoalan, sehingga argumentasi mereka pun akan buntu.

(31)

Jika ada yang mengatakan:P

“ ini kan masalah hati. Apakah ada jawaban tentang masalah ini?” maka akan saya katakana:

“Ya, ada. Jika si orang bingung dan kalut mengeluhkan dirinya kebingungan tanpa mengemukakan masalah yang dibingungkannya, ia bisa dikatakan seperti orang yang mengeluh sakit tanpa menyebutkan jenis sakitnya, kemudian minta disembuhkan. Maka dikatakan kepadanya: tidak ada di dunia wujud ini obat penyembuhan bagi semua penyakit, bahkan untuk menyembuhkan sakit tertenu saja seperti pusing, mencret dan selain itu saja agak susah. Dengan demikian, si orang bingung harus bisa menetukan masalah yang di bingungkannya. Maka masalah itu sendirilah yang akan

mengenalkannya pada kebenaran di dalamnya dengan menimbangnya menggunakan kelima timbangan yang tidak bisa difahami oleh siapa pun, kecuali jika ia mau mengakui bahwa itu adalah mizan kebenaran yang cocok untuk segala hal yang perlu ditimbang. Dengan begitu, ia akan paham dengan timbangan itu serta mengetahui pula kesahihan timbangan (neraca), sebagaimana pemahaman orang yang belajar berhitung pada berhitung itu sendiri, serta pemahamannya atas keberadaan guru sebagai pengajar berhitung yang benar. Hal ini telah kujelaskan panjang lebar dalam kitab Qistas

al-Mustaqim yang hanya setebal 20 halaman. Maka pelajarilah!.

Sekarang tujuan dan maksud bukan untuk mengurai keburukan mazhab mereka. Hal itu sudah aku jelaskan, pertama dalam kitab al-Mustazha, dan yang kedua dalam kitab

Hujjah al-Haqq yang merupakan jawaban atas pernyataan mereka yang diajukan padaku

sewaktu di Baghdad. Ketiga, aku menerangkannya juga dalam kitab Mufassil al-Khilaf yang berisi 12 pasal, yang merupakan jawaban-jawabanku atas pertanyaan yang diajukan di Hamazan. Keempat dalam kitab ‘ad-Darj’ yang disertai juga dengan tabel, yang merupakan bantahan atas pernyataan mereka yang diajukan padaku sewaktu di kota Tus. Dan kelima aku mencantumkannya pula dalam kitab al-Qistas al-Mustaqim, yang merupakan kitab yang berdiri sendiri dengan misi menjelaskan neraca untuk menimbang kebenaran ilmu dan menunjukan ketidak perluan Imam ma‘sum bagi yang merindukannya.

Namun maksud penjelasan jawaban atas mereka sekarang ini adalah untuk menunjukan bahwa mereka tidak memiliki obat apa-apa, yang bisa menyelamatkan mereka dari

(32)

kegelapan pemikiran dan pendapat. Tapi menunjukkan pada kelemahan mereka pada argumentasi mereka tentang penunjukan Imam. Kami coba mereka dengan

membenarkan mereka dalam hal dibutuhkannya belajar dan seorang pengajar ma‘sum. Pengajar yang ma‘sum inilah yang mereka tentukan. Kemudian kami pun menanyakan pada mereka ihwal ilmu yang mereka pelajari dari pengajar yang ma‘sum ini.

Selanjutnya kami ajukan pada mereka beberapa persoalan, tapi mereka malah tidak faham dengan persoalan tersebut, apalagi memecahkannya. Dan ketika mereka tidak mampu menjawabnya, mereka lalu menyerahkannya pada sang Imam al-Ga’ib sambil berkata: “kami harus pergi ke tempatnya”. Naifnya, mereka telah menyia-nyiakan umur mereka hanya untuk mencari sang guru dan bualan mereka akan kebahagiaan

menemuinya, bahkan mereka tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari sang guru yang hilang ini. Maka, mereka seperti orang yang memakai wewangian najis yang kelelahan mencari air, namun setelah menemukannya, ia tidak bisa mempergunakannya dan ia pun tetap berwewangian kotoran.

Di antara mereka ada yang mengaku telah mamperoleh sedikit ilmu dari mereka. Namun hasil yang mereka peroleh adalah secuil ilmu filsafat phitagoras yang merupakan

seorang tokoh filsuf kuno dimana mazhabnya adalah mazhab yang paling lemah dalam bidang filsafat. Aristoteles telah membantahnya habis-habisan. Ia menganggap lemah dan merendahkan segala pendapat dan pernyataan phitagoras. Orang itu adalah sang penutur dalam kitab “Ikhwan as-Safa”. Dia benar-benar berada dalam jurang filsafat. Orang yang telah bersusah payah sepanjang usianya untuk mencari ilmu, akhirnya hanya puas dengan ilmu yang sangat lemah seperti ini. Bahkan ia menyangka bahwa dengan meraih itu ia telah mencapai puncak dari ilmu pengetahuan.

Kami juga mencoba mereka dengan menguji lahir batin mereka. Mereka Pada dasarnya berusaha merayu secara halus kepada kalangan awam dan lemah pikiran agar masuk ke dalam jamaah mereka sambil menjelaskan pentingnya seorang guru dan mendebat setiap orang yang mengingkari kebutuhan akan pengajaran dengan argumentasi yang kuat dan meyakinkan. Sehingga jika ada penolong yang membantu mereka dalam upaya memenuhi kebutuhan pada seorang pengajar berkata:

“Tunjukan ilmu sang Guru dan kami akan memanfaatkan pengajarannya!”, mereka akan berhenti dan berkata:

(33)

“sekarang jika memang anda menyerahkan hal ini padaku, maka mintalah. Tetapi, materiku hanya sekedar ini saja”. Dengan demikian jadi ketahuan, karena mereka menyadari bahwa jika melebihi hal itu maka mereka akan tersingkap kekurangannya. Mereka tidak akan mampu memecahkan persoalan yang sepele sekalipun, bahkan tidak akan mampu memahami apalagi menjawabnya. Demikianlah sesungguhnya kondisi nyata mereka.

TAREKAT-TAREKAT SUFI

Kemudian setelah menyelesaikann pembahasan ilmu-ilmu sebelumya, saya mengalihkan sepenuh perhatian pada jalan sufisme. Saya pelajari bahwa tarekat mereka merupakan perpaduan antara ilmu dan amal. Tujuan amalan mereka adalah memutus halangan dan rintangan jiwa untuk kemudian mensucikan diri dari akhlak-akhlak jiwa yang tercela dan dari sifat-sifat keji, sehingga ia mencapai pengosongan hati dari selain Allah dan

menghiasinya dengan zikir kepada Allah .

Karena ilmu lebih mudah bagi saya dari pada amal, maka saya memulai penelaahan bidang keilmuan mereka dengan menelaah kitab-kitabnya, seperti Qut al-Qulub karya Abu Talib al-Makki –semoga Allah merahmatinya, karya-karya al-Haris al-Muhasibi, rumusan-rumusan al-junayd, asy-Syibli, Abu Yazid al-Bustami –semoga Allah mensucikan arwah mereka, dan rumusan-rumusan dari syekh-syekh sufi lainnya, sehingga saya bisa mencapai inti dari tujuan ilmu mereka.

Saya meraih apa yang telah diperoleh dari jalan sufi ini melalui belajar dan menyimak. Tampak olehku bahwa ilmu khusus mereka, tidak mungkin diraih hanya dengan belajar melainkan harus dengan menggunakan intuisi , pengenalan kondisi (hal), dan perubahan sifat-sifat. Betapa banyak konsepsi mereka tentang definisi sehat dan kenyang serta sarana dan syarat untuk memperoleh sehat dan kenyang, tentang orang yang sehat dan orang yang kenyang. Tentang batasan antara gila (extase) yang merupakan

perumpamaan dari kondisi yang telah teraih dengan menelan asap yang naik dari perut ke pusat pikiran dan menjadi orang yang mabuk. Bahkan orang yang sedang extase tidak akan pernah mengetahui batasan extase, dan juga pengetahuan akan kemabukan dirinya dan pengetahuan yang lainnya. Sementara orang-orang yang tersadar

mengetahui batasan mabuk, bahkan faktorfaktor penting dan hal-hal yang terkait dengan masalah mabuk.

(34)

Seorang dokter yang berada dalam keadaan sakit, ia mengetahui batasan sakit,

penyebab dan obatnya, meskipun ia kehilangan kesehatan. Begitu juga berbeda antara anda yang mengetahui hakikat zuhud, syarat-syarat dan sarana untuk menggapainya, dengan keadaanmu sendiri yang berada dalam zuhud dengan jiwa yang berpaling dari keduniaan.

Aku menjadi yakin bahwa mereka adalah pengendali prilaku perbuatan, dan bukan tukang omong. Apa yang bisa didapat dengan jalan ilmu, telah aku dapatkan, tinggal sekarang hal yang tidak bisa diperoleh dengan jalan menyimak dan belajar, melainkan dengan intuisi (cita rasa) dan menyusuri jalan (tarekat). Dari ilmu-ilmu yang saya amalkan serta laku-laku yang saya telusuri dalam meneliti kedua kategori ilmu, yaitu syara’ (fiqih/normative agama) dan logika keilmuan (rasional akal), saya telah

mendapatkan keyakinan yang mencapai tarap tidak teragukan lagi akan Allah Swt., kenabian dan hari akhir. Ketiga pokok keimanan ini telah mengakar kokoh dalam diri saya, bukan dengan teori-teori tertentu yang bisa mudah dijelaskan, melainkan dengan sarana-sarana, permisalan-permisalan (indikasi) dan pengalaman-pengalaman yang tidak bisa dijelaskan uraiannya.

Tiada lagi obsesi dalam diriku untuk meraih kebahagiaan akhirat kecuali dengan jalan taqwa dan mengekang diri dari hawa nafsu. Dan yang lebih utama lagi adalah

memutuskan keterkaitan hati pada kedunawian dengan mengekang diri dari ‘rumah tipuan’ untuk kemudian bertaubat kembali pada ‘rumah keabadian’ dan menerima inti harapan pada Allah swt. Semua itu tidak akan terwujud sempurna kecuali dengan menolak segala kehormatan dan harta, serta berpaling dari segala yang menyibukkan dan berkaitan dengan dunia.

Maka saya pun langsung menyelidiki keadaan diri saya. Ternyata saya telah tenggelam dalam simpul-simpuln keduniwian. Saya juga memandang diri saya dari segala segi. Saya amati amalan-amalan saya terutama aktivitas mengajar. Ternyata saya juga telah terjebak menerima dan mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak penting dan tidak bermanfaat untuk kebahagiaan akhirat. Saya selidiki juga niat saya dalam mengajar, ternyata niat itu juga tidak murni untuk Allah semata, melainkan didorong oleh pencarian kehormatan dan keharuman nama. Dari sini saya yakin bahwa saya berada ditepi jurang neraka. Aku tidak akan selamat dari jilatan api neraka, jika tidak bersegera memperbaiki keadaan diri tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :