• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DIGITAL PT. TRIPVISTO NUSANTARA JAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DIGITAL PT. TRIPVISTO NUSANTARA JAYA"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO (BERAGAMA) FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

SKRIPSI

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DIGITAL

PT. TRIPVISTO NUSANTARA JAYA

Diajukan Oleh : Nama : Devi Amalia NIM : 2013 - 41 - 424

Konsentrasi : Hubungan Masyarakat

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi

Program Studi Ilmu Komunikasi Jakarta

(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.

Skripsi yang berjudul: ”Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya” merupakan salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Skripsi ini membahas mengenai Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT Tripvisto Nusantara Jaya, yang berorientasi pada media digital dan memanfaatkan alat digital yang ada, dan telah dilakukan oleh Divisi Digital Marketing Tripvisto.

Penulis menyadari bahwahasil penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi penulisan maupun data-data yang diperoleh. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi penyempurnaan penulisan skripsi ini.

Akhir kata, dengan segala kerendahan hati semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca khususnya mahasiswa/I FIKOM UPDM (B) serta dapat menambah wawasan informasi dibidang komunikasi.

Jakarta, Juli 2017 Penulis i

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, hidayah, rezeki, dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Selesainya skripsi ini juga berkat semangat dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta Papa (Bambang Sukmo Hutomo), Mama (Almarhumah Hafizoh) dan Kakak (Tiffany dan Melinda) yang telah mendukung saya memberikan doa, kasih sayang, serta dorongan baik secara moral maupun material, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Prof. Dr. Rudy Harjanto, MM, M.Sn. Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

3. Dr. Prasetya Yoga Santoso, MM. Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

4. Dr. Hendri Prasetyo, S.Sos., M.Si. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Prof.Dr. Moestopo (Beragama).

5. Drs. Freddy Richardo, M.Si. Kepala Jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). 6. Dr. H. Hanafi Murtani, MM. Dosen Pembimbing I yang selalu

membimbing dan meluangkan waktu serta pikiranya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(7)

7. Drs Nono Sungkono, MM. Dosen Pembimbing II yang selalu membimbing dan meluangkan waktu serta pikiranya untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Seluruh dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang telah membimbing dan memotivasi untuk terus maju dan berkarya agar dapat mengembangkan diri selama kuliah. 9. Bapak Muhammad Farhan Noor selaku Head of Digital Marketing

Tripvisto dan Anastasia Regita selaku Digital Champaign Planner yang bersedia membantu peneliti menjadi narasumber serta memberikan ilmu dan informasinya yang menyangkut kepentingan isi dalam penelitian kali ini

10. Serta kepada Hafiz Zulkarami Rayendra yang selalu mensupport, mendengar dan membantu keluh kesah peneliti disetiap keadaan apapun.

11. Teman-teman seperjuangan dalam menyusun skripsi di semester ini, Sarah Ivone, Nur Devy, Dian Ayu, Dinda Deviani dan Ghaida yang saling memberi semangat, motivasi serta mendengar curahan hati peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Jakarta, Juli 2017

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……….. i

UCAPAN TERIMA KASIH………. ii

DAFTAR ISI………. iv

DAFTAR GAMBAR... vi

DAFTAR TABEL………... viii

DAFTAR LAMPIRAN ……… ix

ABSTRAK………..……….. x

ABSTRACT... xi

BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ..……….. 1

1.2 Fokus Masalah...…………... 6 1.3 Pertanyaan Penelitian………. 7 1.4 Tujuan Penelitian ..………... 7 1.5 Signifikansi Penelitian ... 8 1.5.1 Signifikansi Teoritis ... 8 1.5.2 Signifikansi Praktis ... 8

BAB II : KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka – Penelitian Sejenis……….. 9

2.1.1. Penelitian Sejenis... 9

2.2 Tinjauan Literatur... 21

2.2.1 Kerangka Konsep-Konsep dan Teori... 21

2.2.1.1 Komunikasi... 21

2.2.1.2 Komunikasi Pemasaran... 22

2.2.1.3 Strategi Komunikasi Pemasaran... 24

2.2.1.4 Marketing Public Relations... 26

2.2.1.5 Digital Marketing... 30

2.2.1.6 Viral Marketing... 41

2.2.1.7 AISAS………... 49

2.2.1.8 4 step‟s of Public Relations... 51 iv

(9)

2.2.1.9 Teori New Media... 52

2.3 Alur Berpikir....….………... 55

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian ………... 57

3.2 Pendekatan Penelitian ...……….……… 66

3.3 Metode Penelitian ...……….. 68

3.4 Subyek dan Obyek Penelitian …...………...… 72

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 72

3.6 Informan ... 77

3.7 Teknik Keabsahan Data ...………. 78

3.8 Teknik Analisis Data ...………... 80

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian ...………. 83

4.1.1 Gambaran Umum ...….. 83

4.1.2 Profile Perusahaan ... 92

4.1.3 Visi dan Misi ... 92

4.1.4 Logo Perusahaan ...……….. 92

4.1.5 Struktur Organisasi Perusahaan ... 94

4.2 Deskripsi Subyek Penelitian ...………. 95

4.3 Deskripsi Data Hasil Penelitian ...……... 95

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 118

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan……….. 125

5.2 Saran……….. 126

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN-LAMPIRAN

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Digital Marketing Trifecta... 33

Gambar 2.3 : Bagan Alur Berfikir... 56

Gambar 4.1 : Tampilan Beranda Website www.tripvisto.com... 88

Gambar 4.2 : Layout akun Twitter @Tripvisto... 89

Gambar 4.3 : Layout Beranda Facebook Tripvisto... 90

Gambar 4.4 : Beranda Instagram Tripvisto... 92

Gambar 4.5 : Layout Beranda Blog Tripvisto... 93

Gambar 4.6 : Layout Beranda Yotube Channel Tripvisto... 94

Gambar 4.7 : Struktur Organisasi Tripvisto... 97

Gambar 4.8 : Suasana Komunitas Barista berada di kantor Tripvisto... 105

Gambar 4.9 : Review produk Tripvisto di Facebook... 109

Gambar 5.1 : Share post Instagram @tripvisto_official... 112

Gambar 5.2 : Tampilan timeline Instagram @tripvisto_official... 116

Gambar 5.3 : Tampilan postingan di facebook... 118

Gambar 5.4 : Tampilan postingan konten di Twitter... 119`

(11)

Gambar 5.5 : Data traffic website, facebook dan twitter

Tripvisto... 121

Gambar 5.6 : Contoh Google ads dalam sebuah website... 125

Gambar 5.7 : Contoh promote di Instagram... 125

Gambar 5.8 : Endorse Travelblogger... 127

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Kajian Pustaka – Penelitian Sejenis... 15 Tabel 3.1 : Tiga Paradigma Ilmu Sosial... 62 Tabel 3.2 : Perbedaan antara Penelitian Objektif dengan Penelitian Subjektif... 65

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Dokumentasi

2. Transkip Wawancara

3. Surat Keterangan Penelitian

(14)

UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO (BERAGAMA) FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

PROGRAM STUDI : ILMU KOMUNIKASI

ABSTRAK Nama : Devi Amalia

NIM : 2013-41-424

Konsentrasi : Hubungan Masyarakat

Judul Skripsi : Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya

Jumlah Bab : 5 Bab

Jumlah Isi : 126 halaman

Bibliografi : 29 Buku + 3 website Pembimbing I : Dr. H Hanafi Murtani, MM Pembimbing II : Drs. Nono Sungkono, MM

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui strategi komunikasi pemasaran digital yang dilakukan oleh Tripvsto. Dalam penelitian ini peneliti menganalisis perencanaan komunikasi pemasaran digital melalui 4 Steps of Public Relations dimulai dengan menganalisa perilaku konsumen dengan model AISAS, setelah itu dikaitan dengan komponen dan tipe hybrid dari

Digital Marketing, serta Viral Marketing dalam usaha menciptakan efek viral. Metode penelitian yang digunakan adalah Studi Kasus. Pendekatan yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui secara detil mengenai Strategi Komunikasi Pemasaran Digital yang dilakukan oleh Tripvisto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara langsung dan studi kepustakaan.

Hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti mengenai Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya adalah digital marketing yang telah dilakukan Tripvisto sudah cukup optimal dan berjalan dengan baik, yaitu dengan menjalankan tiga komponen Digital Marketing

yaitu Paid, Owned, dan Earned Media lalu menerapkan tipe tiga Hybird dari ketiga komponen yang dikembangkan oleh Handi Irawan. Hal tersebut dimaksimalkan dengan penggunaan teknik SEO (Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing) untuk memudahkan pencarian terkait tripvisto. Hal tersebut terbukti dengan peningkatan pengunjung ke website, peningkatan followers disetiap sosial media hingga peningkatan transaksi.

Kata Kunci : Komunikasi Pemasaran, Digital Marketing, 4 Steps of Public Relations, AISAS, Viral Marketing dan Teori New Media

(15)

UNIVERSITAS PROF.DR.MOESTOPO (BERAGAMA) FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

PROGRAM STUDI : ILMU KOMUNIKASI

ABSTRACT

Name : Devi Amalia NIM : 2013-41-424 Major : Public Relations

Title : Digital Marketing Communication Strategy of PT. Tripvisto Nusantara Jaya

Bab : 5 Chapter Contents : 126 pages

Bibliography : 29 book + 3 website Supervisor I : Dr. H. Hanafi Murtani, MM Supervisor II : Drs. Nono Sungkono, MM

The purpose of this research is to know digital marketing communication strategy conducted by Tripvsto. In this research, the researcher analyzes digital marketing communication planning through 4 Steps of Public Relations starting with analyzing consumer behavior with AISAS model, after which it is related with hybrid component and type from Digital Marketing, and Viral Marketing in effort to create viral effect. The research method used is Case Study. The approach taken is descriptive qualitative which aims to know in detail about Digital Communication Communication Strategy conducted by Tripvisto. Data collection techniques are done through direct interviews and literature studies.

Results of research obtained by researchers on Digital Marketing Communication Strategy PT. Tripvisto Nusantara Jaya is a Tripvisto digital marketing that has been done optimally and running well, by running three components of Digital Marketing that is Paid, Owned, and Earned Media and then apply Hybird type three of the three components developed by Handi Irawan. This is maximized by the use of SEO techniques (Search Engine Optimization) and SEM (Search Engine Marketing) to facilitate tripvisto related search. This is evidenced by the increase in visitors to the website, increased followers in every social media to increase transactions.

Keywords: Marketing Communication, 4 steps of Public Relations, Digital Marketing, Viral Marketing, AISAS, and New Media Theory

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini suatu perusahaan melakukan kegiatan komunikasi pemasaran yang agresif, hal tersebut tentunya didukung oleh perkembangan teknologi yang terus meningkat. Komunikasi pemasaran sejatinya merupakan rangkaian kegiatan untuk mewujudkan suatu produk, jasa, ide, dengan menggunakan bauran pemasaran (marketing mix) yaitu iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (public relation and publicity) serta pemasaran langsung (direct marketing). (Amir Purba, 2006:126-127)

Berkaitan dengan Public Relations, dimulai dari konsep pemasaran, turun kepada bauran pemasaran. Public relations terpecah ke dalam marketing public relations dan corporate public relations. Tampak jelas disini public relations yang teori utamanya pemasaran tidak lain marketing public relations dimana berlangsung percampuran konsep public relations dengan pemasaran. Dengan begitu, tampak jelas bahwa fungsi marketing public relations tidak lain

(17)

untuk membentuk citra perusahaan yang berdampak terhadap keputusan pembelian.

Tujuan kegiatan marketing public relations bukan pada penjualan, tetapi pada pemberian informasi, pendidikan, dan upaya peningkatan pengetahuan mengenai keberadaan perusahaan, produk, atau jasa yang ditawarkannya agar diingat oleh masyarakat. Sehingga Public Relations dan Pemasaran saling mempengaruhi satu sama lainnya. Kedua posisi ini tidak dapat dipisahkan mengingat hasil yang ingin dicapai sebuah perusahaan karena Public Relations mampu melakukan fungsi marketing (pemasaran) yang lebih efektif.

Pemanfaatan teknologi yang saat ini sedang trend salah satunya adalah media digital. Internet telah menjadi salah satu hal penting dalam bisnis terutama dalam pemasaran atau marketing, yang sering disebut dengan digital marketing. Digital marketing merupakan strategi komunikasi dalam memasarkan sebuah produk yang dilakukan oleh perusahaan melalui media digital. Digital marketing akan menghasilkan interaksi antara produsen, perantara pasar, dan konsumen. Digital marketing juga memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh strategi marketing konvensional (off line marketing).

Hal tersebut didorong karena pengunaan internet semakin tahun yang sangat signifikan. Survei yang dilakukan sepanjang tahun 2016 oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII)

(18)

mengatakan bahwa 132,7 juta orang atau lebih dari setengah penduduk indonesia telah terhubung ke internet. Hal tersebut dikarenakan perkembangan infrastruktur dan mudahnya untuk mendapatkan smartphone.

Perkembangan terbaru internet di Indonesia beberapa tahun terakhir ini adalah munculnya trend social media atau jejaring sosial dan chat app. Berbagai jejaring sosial dan chat app yang populer di Indonesia diantaranya Facebook, Twitter, Instagram, Google+, Path, BBM, Line, Whatsapp. Menurut data laporan Kementrian Komunikasi dan Informastika Republik Indonesia, pada tahun 2013 terdapat 63 juta pengguna aktif jejaring sosial dan chat app di Indonesia. Dengan persentasi jumlah pengguna di Indonesia pada untuk masing-masing situs jejaring sosial yaitu Facebook 33 juta pengguna, Twitter 19,5 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna, path 17 ribu pengguna, Instagram 1 juta pengguna, BBM 30 juta pengguna, Whatsapp 10 juta pengguna, LINE 7 juta pengguna . Rata-rata waktu yang digunakan setiap pengguna internet di Indonesia yaitu selama 13 jam 37 menit per hari. 3 Hal ini menjadikan internet sangat melekat pada kehidupan masyakarat Indonesia untuk dapat saling terkoneksi dan saling bertukar informasi dengan sangat cepat dan tanpa batas jarak. Fenomena internet dan jejaring sosial di Indonesia saat ini dimanfaatkan dengan munculnya berbagai peluang bisnis. Alasan jejaring sosial sangat tepat untuk dijadikan media dalam menjalankan

(19)

bisnis yaitu biaya yang dikeluarkan lebih murah, jangkauan pasarnya tanpa batas jarak dan waktu, dapat menjalin hubungan baik dengan pelanggan, pelanggan aktif memberikan feedback, dan segala informasi dapat tersebar luas dengan cepat. Penetrasi internet ini pula mengubah pola belanja masyarakat Indonesia untuk lebih sering berbelanja online. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar primadona bagi perusahaan startup berbentuk market place, terbukti menjamurnya market place yang menjual berbagai jenis produk dan layanan jasa, baik perusahaan nasional maupun multi-nasional.

Salah satunya sektor industri travel, liburan atau travelling sudah menjadi kebutuhan untuk manusia pada era ini. Dengan memanfaatkan teknologi muncullah sebuah market place travel online yang dapat menghubungkan konsumen dengan para agent tour dalam suatu wadah sehingga lebih cepat dan praktis.

Hal tersebut dimanfaatkan oleh Bernadus Sumartok dengan mendirikan perusahaan start up berbentuk market place pada tahun 2014 dengan nama PT. Tripvisto Nusantara Jaya merupakan sebuah market place travel online yang berisi paket wisata dan tiket atraksi liburan pertama di Indonesia, melayani pemesanan paket wisata dari berbagai destinasi di dunia baik lokal maupun Internasional.

Berangkat dari hobi travelling bapak Sumartok yang merupakan CEO dari Tripvisto, beliau menginginkan traveling yang bisa mengatur perjalanannya sendiri, akhirnya beliau mendirikan Tripvisto pada 15

(20)

Agustus 2014 sebuah market place travel berbasis website dengan alamat www.tripvisto.com yang diharapkan memudahkan para traveler untuk berpergian kemanapun yang mereka mau dengan rencana perjalanan yang diatur sendiri.

Tripvisto bukan satu-satunya sebuah market place di Indonesia, banyak perusahaan sejenis bermunculan khususnya dibidang jasa seperti traveloka, tiket.com, tokopedia, dll. Namun, sebagai perusahaan baru, Tripvisto sudah mempunyai 82 negara dengan 802 destinasi menarik di dunia, dan sudah melayani lebih dari 8028 customer. Hal tersebut menunjukan bahwa Tripvisto sudah mempunyai jangkauan yang luas. Berdasarkan evaluasi akhir tahun 2016 ada dua destinasi unggulan Tripvisto yaitu Jepang dan Singapore, Jepang dengan JR Pass (Japan Rail Pass) dan Singapore dengan Gardens Bay the Bay dan Universal Studio Singapore. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari strategi pemasaran digital yang dilakukan oleh Tripvisto. Hal tersebut dilakukan dengan terkonsep dan lengkap sehingga dapat bersaing dengan perusahaan

start up lainnya.

Untuk memperkuat kegiatan marketing tersebut, dibutuhkan strategi kegiatan promosi yang berfungsi untuk memperkenalkan, mengkomunikasikan, dan mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian. Keberhasilan suatu kegiatan promosi sangat dipengaruhi oleh komponen-komponen digital marketing. Oleh karena bantuan

(21)

teknologi digital maka kegiatan digital marketing perusahaan dapat berjalan dengan efektif dan efesien.

Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan oleh peneliti maka dari itu peneliti tertarik untuk menganalisa lebih dalam strategi komunikasi pemasaran digital yang dilakukan oleh PT. Tripvisto Nusantara Jaya, dengan judul “Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya”

1.2 Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan oleh peneliti, fokus masalah hanya diarahkan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti akan membatasi penelitian pada strategi omunikasi pemasaran digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya.

(22)

1.3 Pertanyaan Penelitian

Perumusan penelitian adalah upaya untuk menyatakan secara tersirat penyataan penelitian apa saja yang perklu di jawab untuk dicarikan jalan pemecahannya. (Jefkins,2004:39)

Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas maka perumusan masalah yang akan diteliti adalah : “Bagaimana Strategi Komunikasi Pemasaran Digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya?”

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian adalah “Pernyataan apa yang hendak kita capai “ (Usman & Setiady, 2009:30). Berdasarkan pada permasalahan yang telah di rumuskan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi Komunikasi Pemasaran Digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya.

(23)

1.5 Signifikasi Penelitian

Hasil yang diperoleh melalui kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :

1.5.1 Signifikasi Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu komunikasi mengenai Strategi Pemasaran Digital

PT Tripvisto Nusantara Jaya sehingga diharapkan dapat berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan memperluas wawasan. Dan dapat dijadikan referensi yang bermanfaat bagi penelitian sejenis serta untuk membuktikan teori-teori yang peneliti gunakan berhubungan dengan kenyatan yang ada dilapangan (obyek penelitian).

1.5.2 Signifikasi Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat untuk Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT Tripvisto Nusantara Jaya, dan perusahaan Start up lainnya.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEP DAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1. Penelitian Sejenis

Kajian pustaka menurut Nyoman Kutha Ratna dalam Prastowo (2012:80), memiliki tiga pengertian yang berbeda.

1. Kajian pustaka adalah seluruh bahan bacaan yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah di publikasikan maupun sebagai koleksi pribadi.

2. Kajian pustaka sering dikaitkan dengan kerangka teori atau landsan teori, yaitu teori-teori yang digunakan untuk menganalisis objek penelitian. Oleh sebab itu, sebagian peneliti menggabungkan kajian pustaka dengan kerangka teori.

3. Kajian pustaka adalah bahan-bahan bacaan yang secara khusus berkaitan dengan objek penelitian yang sedang dikaji.

Hasil penelitian terdahulu dapat dipakai sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Meskipun ada perbedaan antara objek atau variabel yang diteliti, penelitian tersebut dapat dipakai sebagai gambaran bagi peneliti berikutnya untuk melaksanakan penelitian.

(25)

Penelitian pertama yaitu berjudul Analisa Penerapan dan Perkembangan Digital Marketing pada Zara. Ditulis oleh Brian Lee dari Bina Nusantara University Jakarta pada tahun 2014. Dalam penelitian ini menjelaskan permasalahan dalam skripsi adalah bagaimana strategi digital marketing dan perkembangan strategi digital marketing yang digunakan Zara. Skripsi tersebut mempunyai tujuan penelitian yang pertama mengetahui penerapan digital marketing pada Zara. Yang kedua mengetahui dan menganalisa strategi digital marketing yang ada pada Zara. Kemudian yang terakhir untuk dapat diimplementasikannya ide atau pemikiran yang akan dibahas sehingga dapat membantu mengembangkan digital marketing di Zara.

Teori yang digunakan dalam penelitian milik Brian Lee adalah teori media marketing mix, digital marketing dan analisa situasi pemasaran zara dengan SWOT. Sedangkan metode penelitian yang digunakan ini ialah deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Dari beberapa tahapan mendapatkan hasil penelitian:

a. Product: Zara meluncurkan produknya dalam waktu singkat dari dua minggu dan perubahan penuh dalam setiap pakaian setiap bulan. Produk nya adalah kualitas yang sangat tinggi dan ZARA akan memberikan jaminan penuh warna, jahitan, hal-hal, kualitas kain dan bahan yang digunakan untuk pelanggan sangat berharga. Tidak ada logam yang boleh digunakan untuk kemasan produk

(26)

dan bahan daur ulang akan digunakan untuk kemasan produk kami.

b. Price: Zara telah mengadopsi strategi harga yang kompetitif untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan. Harga kompetitif adalah yang paling cocok untuk Zara karena kehadirannya secara global. Strategi harga ini membantu Zara untuk menarik lebih banyak pelanggan di fashion.

c. Promotion: Zara telah berhasil membangun sebuah dunia merek terkenal oleh sistem manajemen yang unik dari desain, produksi dan supply chain management. Konsep fast fashion dan operasi memungkinkan Zara untuk selalu memberikan sebagian besar pakaian yang modis untuk pelanggan mereka dan koleksi selalu memperbaharui yang pasti membantu membangun loyalitas merek.

d. Place / Distribution: Zara memiliki setup distribusi yang sangat kuat yang sangat membantu untuk menyediakan produk di seluruh retail.

Penelitian kedua berjudul “Analisis Komunikasi Pemasaran Rumah Denim & Jeans”, oleh Indah Pratiwi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Rumah Denim & Jeans dan media apa saja yang digunakan untuk menerapkan

(27)

komunikasi pemasaran Rumah Denim & Jeans dalam meningkatkan jumlah pelanggan/konsumen.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan konsep Marketing Public Relation, Marketing Mix dan Teori WOM (Word of Mouth). Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dengan mengamati secara langsung obyek yang hendak diteliti. Dengan hasil penelitiannya adalah Strategi komunikasi pemasaran dilakukan cukup baik yaitu menggunakan konsep dan teori pemasaran yaitu promotion mix dan teori WOM. Target konsumen yang ingin dicapai juga sudah mengalami peningkatan setiap tahunnya, hal ini menunjukkan bahwa program promosi yang dijalankan rumah denim & jeans sudah cukup efektif.

Penelitian ketiga yaitu dengan judul Strategi Komunikasi Pemasaran Digital PT. Tripvisto Nusantara Jaya yang ditulis oleh peneliti sendiri Devi Amalia pada tahun 2017 dengan permasalahan ialah bagaimana strategi komunikasi pemasaran digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya. Kemudian peneliti mempunyai tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya. Pada penelitian ini menggunakan teori Digital Marketing, Viral Marketing dan AISAS. Pada metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Kemudian hasil penelitian masih dalam tahap

(28)

proses. Adapun persamaan dan perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu antara lain:

Persamaan dalam penelitian pertama oleh Brian Lee, 2014. Fokus penelitian pada studi deskriptif dengan judul Analisa Penerapan dan Perkembangan Digital Marketing pada Zara‖ antara lain:

1. Pada penelitian terdahulu sama-sama meneliti tentang digital marketing.

2. Pada penelitian terdahulu dan penelitian ini sama – sama menggunakan metode penelitian kualitatif serta studi deskriptif.

Perbedaan dalam penelitian 1 oleh Brian Lee, 2014. Fokus penelitian pada studi deskriptif dengan judul Analisa Penerapan dan Perkembangan Digital Marketing pada Zara antara lain:

1. Penelitian terdahulu memfokuskan penelitian dalam memasarkan produk, sedangkan yang sedang diteliti peneliti memfokuskan pada perkembangan strategi digital marketing.

2. Penelitian terdahulu menggunakan teori penelitian marketing mix dan SWOT sedangkan yang penelitian ini menggunakan teori viral marketing dan model AISAS.

(29)

Persamaan peneliti dengan penelitian kedua yang diteliti oleh Indah Pratiwi 2015 dengan judul Analisis Komunikasi Pemasaran Rumah Denim & Jeans adalah

1. Penelitian keduanya sama-sama mengetahui strategi pemasaran yang dilakukan

2. Penelitian keduanya sama-sama menggunakan media online sebagai objek yang diamati

Perbedan peneliti dengan penelitian kedua kedua yang diteliti oleh Indah Pratiwi 2015 dengan judul Analisis Komunikasi Pemasaran Rumah Denim & Jeans adalah

1. Penelitian terdahulu menganalisis strategi pemasaran yang dilakukan sehingga berdampak pada penjualan, sedangkan peneliti hanya menganalisis strategi komunikasi pemasaran digital yang telah dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya

(30)

Tabel 2.1

Kajian Pustaka – Penelitian Sejenis

Penelitian Terdahulu Penelitian Penulis

Judul Analisa Penerapan dan Perkembangan Digital Marketing pada Zara Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Rumah Denim & Jeans

Strategi Komunikasi Pemasaran Digital

PT Tripvisto Nusantara Jaya

Peneliti Brian Lee Indah Pratiwi Devi Amalia

Tahun 2014 2015 2017

Penelitian Terdahulu Penelitian Penulis

Tujuan Penelitian a. Mengetahui penerapan digital marketing pada Zara. b. Mengetahui dan menganalisa strategi digital marketing yang ada pada Zara. a. Untuk mengetahu i bagaimana strategi pemasaran rumah denim & jeans Untuk mengetahui strategi pemasaran digital yang dilakukan oleh PT Tripvisto Nusantara Jaya

(31)

c. Dapat di implementasikanny a ide atau pemikiran yang akan di bahas sehingga dapat membantu mengembangkan digital marketing di zara dalam menarik minat pelanggan nya. b. Untuk mengetahu i pentingnya strategi komunikasi pemasaran dalam suatu perusahaa n dalam menghada pi persaingan Teori Teori media marketing mix,

digital marketing dan analisa situasi pemasaran

Marketing Public Relations, Teori Marketing Mix Teori WOM 4 Steps of Public Relations, Digital Marketing, AISAS,

(32)

zara dengan SWOT Viral Marketing Metode

Penelitian

Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Hasil Penelitian a. Product: Zara meluncurkan produknya dalam waktu singkat dari dua minggu dan perubahan penuh dalam setiap pakaian setiap bulan. Produk nya adalah kualitas yang sangat tinggi dan ZARA akan memberikan

jaminan penuh warna, jahitan, hal-hal, kualitas kain dan bahan yang digunakan untuk pelanggan sangat Strategi komunikasi pemasaran dilakukan cukup baik yaitu menggunakan konsep dan teori pemasaran yaitu promotion mix dan teori WOM. Target konsumen yang ingin dicapai juga sudah mengalami peningkatan setiap tahunnya, hal ini menunjukkan bahwa program

(33)

berharga. Tidak ada logam yang boleh digunakan untuk kemasan produk dan bahan daur

ulang akan

digunakan untuk kemasan produk kami.

b. Price: Zara telah mengadopsi strategi harga yang kompetitif untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan. Harga kompetitif adalah yang paling cocok untuk Zara karena kehadirannya

secara global. Strategi harga ini membantu Zara

promosi yang dijalankan rumah denim & jeans sudah cukup efektif

(34)

untuk menarik lebih banyak pelanggan di fashion. c. Promotion: Zara telah berhasil membangun

sebuah dunia merek terkenal oleh sistem manajemen yang unik dari desain, produksi dan supply chain management. Konsep fast fashion dan operasi memungkinkan Zara untuk selalu memberikan

sebagian besar pakaian yang modis untuk pelanggan mereka dan koleksi selalu

(35)

yang pasti membantu

membangun loyalitas merek. d. Place / Distribution:

Zara memiliki setup distribusi yang sangat kuat yang sangat membantu untuk menyediakan produk di seluruh retail.

(36)

2.2 Tinjauan Literatur

2.2.1 Kerangka Konsep-Konsep dan Teori 2.2.1.1 Komunikasi

Pada hakekatnya, komunikasi adalah proses pernyataan antara manusia, yang dinyatakan adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada manusia, yang dinyatakan adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.

Rosady Ruslan menjelaskan dalam buku “Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi”, bahwa “Proses komunikasi dapat diartikan sebagai pesan sebagai komunikator dan kepada penerima pesan sebagai komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan (feedback) untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua belah pihak“. (Rosady Ruslan, 2011:77)

Selanjutnya Kotler, seperti yang dikutip Husain Umar dalam bukunya “Metode Riset Komunikasi” menjelaskan komponen-komponen dalam proses komunikasi, yaitu :

a. Pengiriman (Sender), merupakan pihak yang mengirim pesan. b. Pesan (Messages), merupakan gagasan atau ide yang

disampaikan kepada penerima untuk tujuan tertentu. c. Penerima (Receiver), pihak yang menerima pesan.

d. Media (Media), merupakan sarana bagi komunikator untuk menyampaikan pesan kepada sasaran yang dituju.

e. Pengkodean (Encoding), merupakan proses untuk menjabarkan pesan kedalam symbol. Simbol dapat berupa kata lisan maupun tulisan, isyarat dan lainnya kedalam media.

f. Tanggapan (Response), merupakan reaksi penerima setelah menerima pesan.

(37)

g. Umpan balik (Feedback), merupakan bagian dari reaksi yang dikomuniksikan kembali kepada pengirim pesan.

h. Gangguan (Noise), merupakan gangguan yang tak terduga selama pross komunikasi yang dapat mengakibatkan penerima pesan memperoleh pesan yang berbeda dari yang dikirmkan”. (Husain Umar: 2005: 5).

Dengan komunikasi akan terjadi hungan antara manusia yang secara psikologi akan mempengaruhi kelangsungan hidup manusia, karena berkomunikasi berbagai informasi dapat diperoleh guna membangun kehidupan manusia.

2.2.1.2 Komunikasi Pemasaran

Konsep pemasaran memiliki banyak definisi. Philip Kotler sebagai pakar pemasaran melihat pemasaran dari berbagai sisi, dimana pemasaran berdasarkan ruang lingkupnya didefinisikan sebagai kegiatan menciptakan, mempromosikan dan menghantarkan barang atau jasa kepada konsumen. Sedangkan berdasarkan pengertian sosial, pemasaran adalah proses sosial dimana individu atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran secara bebas nilai produk serta jasa dengan pihak lainnya (Kotler, 2000:7). American Marketing Association mendefinisikan pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, harga, promosi dan distribusi ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran antara

(38)

memuaskan individu dengan tujuan organisasi. (Morissan, 2010 : 3). Konsep-konsep pemasaran berada di wilayah penentuan pasar sasaran, penentuan segmentasi pasar, kebutuhan dan keinginan, permintaan, produk dan penawaran, nilai dan kepuasan, saluran pemasaran, rantai penjualan, persaingan, iklim pasar, serta penentuan strategi bauran pemasaran. (Kennedy & Soemanagara, 2006 : 3) Pemasaran merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka mensukseskan produk yang dijual ke dalam pasar tententu dan biasanya dilakukan secara terus-menerus untuk menjaga volume tingkat penjualan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan suatu bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan melalui pembuatan dan pertukaran produk dan nilai dengan pihak lain. Begitu pula halnya dengan pemasaran produk inovasi, dimana dibutuhkan perencanaan pemasaran dan strategi pemasaran agar produk inovasi yang dikeluarkan dapat diterima oleh pasar. Strategi pemasaran sangat diperlukan bagi produk inovasi karena berpengaruh besar terhadap penjualan produk, sebab image yang diperoleh konsumen dari sebuah produk inovasi akan menentukan penilaian mereka terhadap produk tersebut. Hal ini menjadi tantangan yang cukup besar bagi perusahaan, sebab untuk berhasil memasuki sebuah pasar, mereka harus memiliki strategi untuk menarik minat

(39)

konsumen. Untuk itu komunikasi pemasaran sangat dibutuhkan agar konsumen bisa tertarik dan mengenal produk inovasi yang dipasarkan.

2.2.1.3 Strategi Komunikasi Pemasaran

Kegiatan komunikasi pemasaran yang baik perlu strategi yang tepat supaya tujuan komunikasi dapat tercapai sesuai harapan yang diinginkan. Oleh karena itu strategi komunikasi pemasaran harus direncanakan secara matang. Dalam proses perencanaan dan aplikasi komunikasi pemasaran terdapat enam proses, yaitu mengkaji kembali perencanaan marketing communication sebelumnya, pengembangan dan perencanaan kegiatan, persiapan dan pengembangan media adverstising dan promosi, eksekusi, kegiatan marketing communication, monitoring analisis situasi yang berkembang, dan respon konsumen (Soemanagara, 2006:11).

Tahapan dalam proses kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan dalam lembaga pendidikan memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat untuk menghindari komunikasi yang tidak efektif sehingga tujuan dari proses komunikasi tersebut dapat terlaksana. Adapun pendapat lain mengenai strategi komunikasi pemasaran yaitu, strategi merupakan suatu pertimbangan dan pemikiran yang logis serta konseptual mengenai hal-hal penting baik dalam jangka pendek

(40)

maupun jangka panjang yang dijadikan acuan untuk menempatkan bingkaian tindakan dan cara-cara (teknik) yang harus dilakukan secara terpadu untuk terlaksananya kegiatan dan penunjang dalam menghadapi tantangan atau masalah yang harus ditangani dengan baik sesuai dengan tujuan atau sasaran dengan kebijakan yang sudah ditetapkan sebelumnya (Tjiptono, 2001:10).

Penggunaan visual dan pesan yang tepat menjadi syarat utama keberhasilan dari sebuah program promosi. Tahapan-tahapan komunikasi strategi pesan disusun berdasarkan pencapaian kesadaran atas keberadaan sebuah produk atau jasa (awareness), menumbuhkan keinginan untuk dapat memiliki produk (interest), sampai dengan mempertahankan loyalitas pelanggan (loyalty). Dalam kajian komunikasi tahapan tersebut adalah rumusan AIDDA (Attention, Interest, Desire, Decission and Action). Perubahan dramatis yang terjadi pada lingkungan informasi yang mengelilingi kita turut membawa perubahan pada pola khalayak dalam merespon informasi. Pada era perkembangan internet, para pemasar mulai mengadopsi pola cross communication. Semua orang dapat mengakses informasi sehingga konsumen memiliki kontak secara aktif dengan informasi, setalah konsumen melihat produk dan jasa yang ditawarkan, mereka akan menggali infomasi lebih dalam lagi dan berbagai informasi yang di dapat dari orang lain.

(41)

2.2.1.4 Marketing Public Relations (MPR)

Praktik public relations pada prinsipnya adalah merupakan suatu kegiatan yang terencana dan suatu usaha yang terus menerus untuk dapat memantapkan dan mengembangkan itikad baik (goodwill) dan pengertian yang timbal balik (mutual understanding) antara suatu organisasi dengan masyarakat.

Pada era globalisasi ini peran Marketing Public Relations menjadi semakin penting karena itikad baik (goodwill) menjadi suatu bagian dari profesionalisme yang pasti akan terbentuk krena pembentukan simpati konsumen secara efektif dan efisien sudah merupakan keseharusan dimana tingkat kompleksitas dan pemuasan kebutuhan nasabah sudah mencapai tingkat yang cenggih dalam kegiatan pengemasannya.

Penekanannya bukan pada selling (seperti kegiatan periklanan) namun pada pemberian informasi, pendidikan dan upaya peningkatan pengertian lewat penambahan pengetahuan mengenai suatu merek produk, jasa, perusahaan akan lebih kuat dampaknya dan agar lebih diingat oleh nasabah. Dengan tigkat komuniasi yang lebih intensif dan komprehensif bila dibandingkan dengan iklan, maka MPR merupakan suatu konsep yang lebih tinggi dari iklan biasa. MPR memberi penekanan pada aspek manajemen dari pemasaran dengan memperlihatkan kesejateraan nasabah (dalam Saka Abadi, 1994:45-46)

(42)

Philip Kotler, Professor Marketing dari Sekolah Manajemen Kellog Universitas Northwestern dan penulis buku Marketing Management yang dikutip kembali oleh Elvinaro Ardianto dalam bukunya Hand Book of Public Relations (Ardianto, 2014:270) mengatakan bahwa pada masa mendatang MPR tidak hanya suatu cara atau alat, tetapi akan mengalami perkembangan yang pesat (meningkat). Ia menyebutkan bahwa PR adalah pergerakan tahap pertumbuhan yang eksplosif (bersifat meledak-ledak) karena perusahaan-perusahaan melakukannya dengan apa yang disebut mass advertising (perilkanan massa). Dalam waktu tidak terlalu lama untuk menjawab semuanya dan organisasi-organisasi menggabungkan PR kedalam pemasaran.

2.2.1.4.1. Peran Marketing Public Relations

Peran marketing Public Relations dalam upaya mencapai tujuan utama organisasi menurut Rosandy Ruslan :

a. Menumbuh kembangkan kesadaran konsumennya terhadap produk

b. Membangun kepercayaan konsumen terhadap citra perusahaan atau manfaat atas prosuk yang ditawarkan/digunakan. Mendorong antusiasme (salse force) melalui suatu artikel sponsor (advertorial) tentang kegunaan dan manfaat suatu produk

(43)

c. Menekan biaya promosi iklan komersial, baik di media elektronik maupun media cetak dan sebagainya demi tercapainya efesiensi biaya.

d. Komitmen untuk meningkatkan pelayanan-pelayanan kepada konsumen, termasuk upaya mengatasi keluhan-keluhan (complain handling) dan lain sebagainya demi tercapainya kepuasan pihak pelanggannya.

e. Membantu mengkampanyekan peluncuran produk-produk baru dan sekaligus merencanakan perubahan posisi produk yang lama

f. Mengkomunikasikan terus menerus melalui media Public Relations (House PR Journal) tentang aktivitas dan program kerja yang berkaitan dengan kepedulian sosial dan ligkungan hidup agar tercapainya publikasi yang positif di mata masyarakat/publik.

g. Membina dan mempertahankan citra perusahaan atau produk barang dan jasa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumennya.

h. Berupaya secara proaktif dalam menghadapi suatu kejadian negatif yang mungkin akan muncul di masa mendatang (Ruslan, 2002:262)

i. Marketing Public Relations (MPR) sebagai suatu proses perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian

(44)

program-program yang memungkinkan terjadinya pembelian dan pemuasan konsumen melalui komunikasi yang baik mengenai impresi dari perusahaan dan produk-produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan,perhatian dan kesan dari konsumen. Keberadaan MPR di perusahaan dianggap efektif, hal ini dikarenakan :

a. MPR dianggap mampu dalam membangun brand awareness (kesadaran akan merek) dan brand knowledge (pengetahuan akan merek).

b. MPR dianggap potensial untuk membangun efektivitas pada area “increasing category usage” dan “increasing brand sales”

c. Dengan adanya MPR dalam beberapa hal dianggap lebih hemat biaya bila dibandingkan dengaan perusahaan memasukkan produknya melalui iklan. Lebih cost-effective dari biaya media yang semakin meningkat.

Uraian di atas menjelaskan bahwa dalam Marketing Public Relations tidaklah dalam pengertian sempit, tetapi berkaitan dengan berbagai aspek perluasan pengaruh, informatif, persuasif, dan edukatif, baik segi perluasan pemasaran atas suatu produk atau jasa, maupun yang berkaitan dengan perluasan suatu pengaruh tertentu dari suatu kekuatan lembaga atau terkait dengan citra dan identitas suatu perusahaan seperti PT. Tripvisto Nusantara Jaya

(45)

2.2.1.5 Digital Marketing

Menurut Coviello, Milley and Marcolin (2001:26) Digital marketing adalah penggunaan internet dan penggunaan teknologi interaktif lain untuk membuat dan menghubungkan dialog antara perusahaan dan konsumen yang telah teridentifikasi. Mereka juga berpendapat bahwa e-marketing merupakan bagian dari e-commerce. Menurut Heidrick & Struggless (2009;1) perkembangan dari

digital marketing melalui web, telepon genggam, dan perangkat

games, menawarkan akses baru periklanan yang tidak digembor-gemborkan dan sangat berpengaruh. Jadi mengapa para marketer di seluruh Asia tidak mengalihkan penggunaan budget dari marketing

tradisional seperti TV, radio, dan media cetak ke arah media teknologi baru dan media yang lebih interaktif. Menurut Ridwan Sanjaya & Josua Tarigan (2009:47), Digital marketing adalah kegiatan marketing

termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web

seperti blog, web site, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial. Tentu saja digital marketing bukan hanya berbicara tentang marketing

internet.

Pemasaran digital adalah kegiatan pemasaran mulai dari explorasi pasar, mengikat dan mengeskusi pasar yang menggunakan media horizontal. Digital marketing kini merupakan strategi yang sangat popular dan digunakan oleh hampir sebagian besar marketers

(46)

di seluruh dunia. Hal ini merupakan dampak dari meningkatnya dunia internet dan teknologi, sehingga membuat internet menjadi market yang sangat prospektif. Digital marketing mencakup banyak teknik dan praktik yang terkandung dalam kategori pemasaran internet. Digital marketing juga turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia.

Menurut Thomas Joseph dalam bukunya APPS the Spirit of Digital Marketing 3.0 mengatakan bahwa marketing yang berorientasi dengan perkembangan teknologi sudah mengalami evolusi. Tahapan evolusi marketing, yaitu :

1. Era Marketing 1.0 (Product Centric) 1950

Era ini ditandai oleh pola pemasaran yang berpusat pada produk. Kekuatan 4P (product, place, price, promotion) yang selalu ditonjolkan. Karakter konsumen era 1.0 adalah konsumen yang penuh logika. Mereka menyukai produk berkualitas dengan harga lebih murah dibanding produk yang lain.

Digital marketing pada era 1.0 pun mengadopsi prinsip yang sama. Setiap situs berlomba-lomba menyajikan informasi yang lebih baik dan lengkap, agar bisa menjadi pemenang. Oleh karena itu, jika merek mau berhasil, maka dia harus bekerja sama dengan media

(47)

online, dalam membangun dan memasarkan produknya.

2. Era Marketing 2.0 (Customer Electric) 2000

Pada era ini marketing berpusat pada pelayanan terhadap konsumen. Konsumen adalah segalanya. Pemasaran fokus pada konsuen dengan memberikan pelayanan sebaik mungkin. Sebagai usaha untuk memberikan penghargaan, berupa fasilitas keangotaan, diskon, dan lain-lain kepada konsumen. Pemasar benar-benar dituntut agar bisa memenangkan hati pelanggan.

Digital marketing pada era 2.0 ini pun demikian. Informasi sudah terlalu banyak sehingga masyarakat berubah menjadi masyarakat yang demokratis. Masyarakat 2.0 menjadi jenuh dengan media yang satu arah. Pada era ini uncul frendster dan multiply pada pertengahan era 2.0 muncul facebook dan twitter yang akhirnya menjadi penguasa pasar. Reputasi merek sebuah produk sangat dipengaruhi oleh suara konsumen di media sosial tersebut. Jika sebagian besar suka, maka yang lain pun akan ikut serta.

(48)

3. Era Marketing 3.0 (Human Spirit) 2010

Pada era ini pemasar harus menguasai tiga hal dari konsumennya, yaitu pikiran, hati, dan semangat (mind, heart, spirit). Digital marketing pada era 3.0, memacu setiap pemasaar untuk menciptakan produk yang bisa memberikan pengalaman lebih kepada konsumen. Pengalaman ini akan lebih baik jika bisa dialami oleh konsumen sebelum membeli produknya. Itulah salah satu penyebab munculnya teknologi apps, yang bisa memberikan pengalaman secara virtual kepada calon konsumen. (Thomas, 2011:29-32)

Sebuah artikel yang ditulis oleh Titan SEO mengungkapkan bahwa media dalam digital marketing terdiri dari 3 bagian. Earned

media (media yang menghasilkan), Own Media (media yang dimiliki), dan Paid media (media berbayar).

Gambar 2.1 Digital marketing Trifecta

(49)

Sumber : https://www.titan-seo.com/newsarticles/trifecta.html

Earned media, Own media dan Paid media layaknya sebuah Tripod. Setiap elemen merupakan bagian penting dari keseluruhan dan semua berkontribusi pada strategi pemasaran digital yang lengkap. Ilustrasi di atas menguraikan peran masing-masing elemen dan bagaimana mereka bekerja sama untuk membentuk bauran pemasaran yang kohesif.

A. Earned Media

Jika situs media yang dimiliki adalah tujuan maka media yang diterima adalah kendaraan yang membantu orang mencapainya. Apa bagusnya situs web atau situs media sosial jika tidak ada yang melihat atau berinteraksi dengannya? Di situlah media yang masuk masuk Media yang memperoleh pada dasarnya adalah kata online dari mulut ke mulut, biasanya terlihat

(50)

dalam bentuk kecenderungan 'viral', menyebutkan, membagikan, mengumumkan ulang, ulasan, rekomendasi, atau konten yang diambil oleh situs pihak ke-3. Salah satu kekuatan pendorong media yang paling efektif biasanya merupakan gabungan hasil peringkat organik yang kuat di Search Engine, dan konten yang didistribusikan oleh merek. Rangking halaman pertama dan konten bagus biasanya merupakan driver terbesar. Tingkatan pada halaman pertama mesin pencari menempatkan situs media dan konten yang dimiliki Anda dalam posisi untuk menerima keterlibatan dan saham yang lebih tinggi, oleh karena itu strategi SEO yang baik sangat penting. Ketika menyangkut konten merek, konten informatif yang menarik dapat hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Entah itu blog, infografis, video, siaran pers, webinar atau e-book, intinya adalah konten itu harus berharga untuk mendapatkan media yang berharga; Itulah sebabnya strategi konten yang hebat juga penting.

B. Own Media

Media yang dimiliki adalah properti web yang dapat Anda kontrol dan unik untuk merek Anda. Salah satu contoh yang paling umum adalah sebuah situs web, walaupun situs blog dan saluran media sosial adalah contoh lain dari properti media yang dimiliki juga. Saluran seperti media sosial dan blog adalah ekstensi situs web Anda, dan ketiganya merupakan perpanjangan merek Anda

(51)

secara keseluruhan. Semakin banyak media milik Anda, semakin banyak kesempatan Anda untuk memperluas kehadiran merek Anda di ranah digital.

C. Paid Media

Media berbayar adalah cara yang baik untuk mempromosikan konten agar bisa mendorong media yang diterima, serta mengarahkan lalu lintas ke properti media yang dimiliki. Membayar untuk mempromosikan konten dapat membantu bola menggelinding dan menciptakan lebih banyak keterpaparan. Situs Social Media seperti Facebook, Twitter dan LinkedIn menawarkan iklan yang berpotensi membantu meningkatkan konten Anda dan juga situs Anda. Cara lain untuk mendapatkan lebih banyak keterpaparan untuk konten Anda adalah dengan memberi pengaruh kepada pencandu atau mencontoh tautan Anda, sehingga memberi dampak pada jangkauan dan pengenalan yang diterima oleh potongan Anda. Menggunakan retargeting, Pay Per Click dan iklan bergambar adalah cara yang efektif dan lebih langsung untuk mengarahkan pencari ke situs media milik Anda seperti situs web Anda, untuk membantu meningkatkan lalu lintas dan / atau konversi.1

(52)

Sebuah jurnal yang di tulis oleh Handi Irwan dalam sebuat website Marketing dengan judul Paid-Owned-Earned Media mengatakan bahwa trio media ini akan menjadi buzz yang hot di masa mendatang. Perusahaan dan pelaku bisnis yang mengelola merek harus mampu mengombinasikan ketiga macam media ini. Konvergensi yang efektif dari ketiga jenis media ini adalah parameter yang menentukan kekuatan merek di masa mendatang. Merek-merek yang tidak mampu mengombinasikan media ini akan mengalami problem besar dalam efisiensi dan efektivitas.

Paid media relatif mudah dipahami dan direncanakan. Ini

adalah media yang mudah untuk dikontrol. Pesan-pesan yang disampaikan melalui paid media, bila dilakukan dengan bujet yang tepat, dengan kombinasi frekuensi dan reachyang tepat pula, akan menghasilkan pesan-pesan seperti yang direncanakan perusahaan. Strategi positioning maupun diferensiasi yang disampaikan akan dicerna dan disimpan dalam memori konsumen seperti yang diinginkan oleh pemilik merek.

Ketika perusahaan dan pemilik merek mendapatkan kesempatan memiliki media sendiri, website sendiri, akun Facebook dan Twitter sendiri, akun YouTube sendiri, dan berbagai media digital lainnya, CMO dan timnya dipaksa untuk menjadi pengelola media. Mereka berpikir bahwa perusahaan memiliki kekuatan baru. Proses komunikasi akan menjadi sangat efisien. Mereka tidak perlu

(53)

membayar media untuk menjangkau konsumennya. Tapi, kenyataan tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya.

Media sosial dan website yang dikelola perusahaan tidak memiliki kekuatan. Trafik website kecil jumlah follower dan jumlah fans juga sulit bergerak. Apalagi, banyak perusahaan yang relatif lemah dalam content. Maklum, dulunya tidak memiliki media, tidak memiliki penulis, tidak memiliki jurnalis, tidak memiliki desainer grafis dan perangkat kerja untuk menciptakan content. Lalu, apa yang terjadi?

Lebih lanjut ia mengemukakan ada Tiga Tipe Hibrid dalam digital marketing menyangkut paid owned dan earned media, CMO dan marketing tim dari perusahaan mulai menggunakan paid

media untuk mengiklankan owned media. Mereka percaya bahwa

media sosial akan sangat efisien dan efektif suatu saat. Karena reach dari owned media ini kecil, perusahaan kemudian mendorong dengan menggunakan paid media. Iklan televisi, media cetak, dan media luar ruang mencantumkan akun Facebook, Twitter, dan alamat website. Jadi, membangun media sendiri tetapi harus membayar media lain. Langkah ini harus dilakukan karena memang paid media masih memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.

Hibrid pertama, antara paid media dan owned media. Lihatlah iklan-iklan di layar televisi dan media cetak, terutama dari perusahaan besar. Mereka mencantumkan akun media

(54)

sosialnya. Bahkan, kadang-kadang mereka mengiklankan content dari media sosial.Hibrid antara owned dan paid ini lebih intensif lagi terutama untuk website perusahaan atau merek. Karena trafik yang rendah, mereka lebih senang untuk memasang banner di website atau portal.

Google menjadi paid media raksasa. Saat website perusahaan kekurangan trafik dan mereka ingin muncul di halaman pertama saat konsumen atau prospek mencari merek mereka, tidak mungkin mengandalkan media sendiri yang memiliki reach yang rendah. Mereka membutuhkan media lain untuk membantu meningkatkan trafik website. Saat itulah perusahaan membayar Google untuk mengiklankan website mereka menggunakan Google Adwords. Jadi, untuk mengelola media sendiri, perusahaan juga perlu membayar atau menggunakan paid media. Ini pesan yang jelas bagi para pemilik merek bahwa paid media tidak akan hilang. Mereka membutuhkan minimal dua kaki, yaitu media sendiri dan media yang dibayar. Inilah hibrid pertama, yaitu kombinasi antara paid

media dan owned media.

Hibrid yang kedua adalah owned media dan earned media. Ini adalah hibrid yang menjadi idaman pemilik merek. Gabungan kedua media ini menjadikan program promosi menjadi luar biasa efisien dan efektif. Content dari owned media dilakukan oleh para konsumen atau simpatisan dari sebuah merek. Jadilah

(55)

keseluruhan content ini disebut dengan user generated content. Inilah kekuatan sesungguhnya dari digital marketing. Terjadi viralisasi, retweet, repost, hashtag, dan engagement. Perusahaan dan pemilik merek pastilah berlomba-lomba untuk mencapai hibrid ini.

Hibrid yang ideal ini jelas tidak mudah bagi perusahaan atau pemilik merek. Artis, event, atau individu biasanya memiliki kekuatan yang lebih besar. Di akhir Desember 2012, untuk pertama kalinya content YouTube telah dilihat 1 miliar kali, yaitu video Psy dengan Gangnam Style-nya. Psy memiliki media sendiri dan dia menikmati earned media. Demikian juga artis, penyanyi, dan tokoh populer menikmati hibrid ini. Inilah hibrid dengan dua kaki media yang sungguh ideal. Jokowi dan Ahok merasakan keuntungan yang luar biasa dengan adanya hibrid media ini. Mereka tidak perlu mengeluarkan dana kampanye yang besar. Content dibuat dan disebarkan oleh para simpatisannya.

Hibrid yang ketiga adalah antara paid media dan earned

media. Hibrid ini biasa dilakukan, kadang-kadang tidak transparan dan

juga memiliki risiko. Ini kadang disebut dengan sponsored customer. Perusahaan membayar akun Twitter dari artis atau tokoh untuk menyebarkan content yang mereka kehendaki. Tidak semua artis tentunya mau melakukan hal ini. Mereka merasa tidak pas bila mengambil keuntungan dari para fansatau follower-nya.

(56)

Blogger umumnya adalah kaum idealis. Mereka ingin menyuarakan dan berbagi kepada orang lain tanpa mengambil keuntungan. Atau bila mereka mau dibayar untuk menuliskan sebuah content untuk merek tertentu, mereka pasti akan melakukan dengan sangat hati-hati.

Bisa juga kombinasi ini dilakukan dengan pendekatan lain. Perusahaan atau pemilik merek masih dominan dalam menggunakan paid media. Budget yang besar dan iklan atau promosi yang kreatif diharapkan akan menciptakan user generated

content tanpa adanya tambahan dukungan dari owned media.

Pendekatan seperti ini banyak terlihat dari para pemenang Top Brand di Indonesia. Iklan yang unik diharapkan menginspirasi percakapan di media sosial.

2.2.1.6 Viral Marketing

Viral marketing adalah teknik pemasaran dari “mulut ke mulut

atau word of Mouth”. Viral marketing merupakan salah satu strategi ampuh untuk mendatangkan ribuan pengunjung dengan cepat. Viral marketing mengacu pada teknik pemasaran menggunakan jaringan sosial yang sudah ada untuk menghasilkan peningkatan brand awareness atau untuk mencapai tujuan pemasaran lainnya seperti penjualan produk dengan cara berbayar atau gratis.

(57)

John Robert Skrob dalam jurnalnya menyebutkan viral marketing merupakan konsep komunikasi dan distribusi yang mengandalkan pelanggan untuk menyebarkan produk melalui surat elektronik/e-mail kepada pengguna lain yang berpotensi dalam lingkungan sosial mereka dan untuk menghidupkan koneksi juga untuk menyebarkan produk.

Istilah viral digunakan untuk menggambarkan penyebaran pesan yang sangat cepat dan luas seperti virus pada komputer tetapi pemasaran viral tidak boleh disamakan dengan virus komputer yang merusak perangkat lunak computer. Swanepoel et.al (2009:3) mengutip pendapat Porter dan Golan (2006) yang menyatakan bahwa penyebaran viral dapat dibandingkan dengan analogi sekali bersin dimana setiap kali bersin akan melepaskan kurang lebih dua juta partikel. Data et.al (2005:72) menyatakan bahwa dalam model viral, seseorang mengifeksi beberapa orang dengan sebuah tawaran dan kemudian orang tersebut akan menyebarkannya kepada pihak lain atau teman, sampai semua lingkungan virtual dapat terekspos. Viral marketing tidak dapat menggantikan kegiatan promosi lainnya seperti iklan, personal selling public relation dan lainnya. Viral marketing berfungsi untuk melengkapi dan memperkuat kegiatan promosi lainnya. Dalam Swanepoel et.al (2009:3), Thomas (2004) mendefinisikan buzz marketing sebagai penguatan usaha-usaha pemasaran oleh pihak ketiga melalui pengaruh mereka yang dapat

(58)

bersifat pasif ataupun aktif. Beberapa pakar mengatakan bahwa pemasaran viral adalah model pemasaran dari mulut ke mulut (word-of-mouth/WOM) dengan media Internet. Ferguson (2008) mengatakan bahwa hasil yang diinginkan dari pemasaran viral adalah pemasaran WOM, yaitu dimana seseorang mengatakan kepada orang lain tentang sebuah video yang bagus di YouTube ataupun sebuah aplikasi di Facebook. Istilah WOM yang paling awal dikemukakan oleh Arndt (1967) yang mengkarakterisasi WOM sebagai oral, komunikasi dari seseorang dengan orang lain antara si penerima dan komunikator dimana si penerima merasakan sebagai sesuatu yang bukan komersial, berkaitan dengan merek, produk ataupun jasa. Perbedaan antara WOM dan pemasaran viral adalah media yang digunakan dimana pemasaran viral menggunakan media elektronik dan WOM menggunakan media langsung antar orang. Shukla (2010) mengutip dari Juvertson (2000) mengatakan, apabila digunakan secara offline maka itu disebut WOM dan apabila digunakan secara online maka itulah yang disebut pemasaran viral atau word of mouse.

Sedangkan persamaannya adalah penyebaran pesan dari satu individu ke individu lainnya. Melalui internet diharapkan penyebarannya berlangsung cepat dan masif. sehingga situs-situs jejaring sosial menjadi target dari para pemasar untuk mempromosikan tentang apapun secara umum dan produk atau jasa

(59)

khususnya dalam bidang bisnis. Aplikasi pemasaran viral marketing adalah sebagai berikut:

1) E-mail

E-mail sudah sejak lama digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan. Tidak masalah jika seseorang menerima pesan dari alamat e-mail yang tidak dia kenal karena si pengirim e- mail juga tidak peduli siapa gerangan orang yang dikirim, yang penting mereka mendapat sebuah alamat e-mail dan pesan segera dikirimkan ke alamat itu. Pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2004 e- mail menjadi salah satu andalan dari calon presiden dalam menyampaikan pesan kepada para calon pemilih. Kandidat presiden menggunakan pesan e-mail untuk mempromosikan diri mereka lebih sering dibandingkan serangan lawan. Pesanpesan yang ada dalam e-mail ternyata merupakan instrumen yang potensial karena pesan tersebut dapat dikirimkan (di forward) kepada banyak sekali orang lain yang nonsubscriber. Dengan demikian maka pesan-pesan e-mail kandidat Presiden dapat digolongkan kedalam bentuk pemasaran viral yang menawarkan cara unik untuk mengatasi masalah penyebaran yang selektif (Williams dan Trammel, 2005:1). Sekarang ini, meskipun e-mail

(60)

sudah kalah populer dibandingkan situs jejaring sosial tetapi masih banyak orang ataupun perusahaan yang menggunakan e-mail sebagai media untuk mengirim pesan berupa penawaran dan promosi. E-mail akan selalu dibutuhkan karena untuk memiliki akun di jejaring sosial juga harus menggunakan sebuah alamat e-mail.

2) Blog

Blog pernah menjadi tren tersendiri di dunia teknologi informasi. Dalam laporan ”State of the Blogsphere”, Technorati, sebuah mesin pencari blog, mengklaim telah melacak lebih dari 57 juta blog pada bulan Oktober 2006 dan 100.000 blog baru dibuat setiap harinya. (Scott, 2007:297). Blog menjadi sangat populer karena pembuatan sebuah blog tidak sesulit dibandingkan membuat sebuah Web. Sebagaimana e-mail maka sebuah blog tidak hanya untuk tujuan sosial saja namun dapat dimanfaatkan sebagai sebuah media promosi dalam bisnis.

3) Situs jejaring

Saat ini keberadaan situs jejaring sosial merupakan fenomena tersendiri. Situs jejaring sosial yang populer ada beberapa antara lain Facebook, Instagram, Path dan Twitter. Pada dasarnya sebuah situs jejaring sosial adalah

(61)

sebagai sarana sosial untuk berkomunikasi di internet dengan cepat, mudah dan massal. Namun pengguna situs jejaring sosial yang sangat banyak dilihat oleh para pemasar sebagai peluang untuk menawarkan ataupun mengiklankan sesuatu apapun yang bisa dijual. Jadi dapat dikatakan bahwa pengguna situs yang banyak itulah yang menggoda para pemasar untuk melakukan aktivitas pemasaran di internet lewat sebuah situs jejaring sosial. Pemasaran viral diharapkan dapat terbentuk karena banyak pengguna Instagram misalnya, yang sangat aktif sepanjang hari sehingga dapat sebagai pembawa atau pengirim pesan kepada temannya secara cepat. Menurut Skrob (2005:8) secara umum, strategi viral marketing dapat dibagi menjadi dua kelompok dilihat dari derajat keterlibatan konsumen dalam proses pemasaran.

 Low Intergration Strategy, dalam strategi ini keterlibatan konsumen sangat sedikit. Penyebaran promosi hanya melalui e- mail. Contoh rekomendasinya juga terbatas pada tombol ―kirim ke teman‖ dalam suatu homepage.

 High Intergration Strategy, perbedaan dalam strategi ini adalah adanya keterlibatan konsumen secara langsung dalam membidik konsumen baru.

(62)

Dipaparkan oleh Skrob (2005:12) beberapa instrumen yang dapat menstimulasi viral marketing, diantaranya adalah customer recommendation (rekomendasi pelanggan), newsletter (laporan berkala), lingking strategies (strategi penggabungan), communities (komunitas), free offer (tawaran cuma-cuma), sweepstakes (undian), list of prospective buyers (daftar konsumen potensial), chatrooms (ruang obrol), reference list (daftar referensi), product tests (uji produk), affiliate programs (progam afiliasi), dan search engine (mesin pencari).

Faktor pendukung dalam viral marketing 1) Konsumen

Konsumen saling terhubung dengan lainnya dalam hubungan interpersonal. Anggota keluarga dan kerabat saling berinteraksi secara teratur. Ada dua komponen yang membentuk interaksi antar konsumen yaitu frekuensi dan interaksi. Frekuensi adalah seberapa sering interaksi terjadi diantara konsumen. Sedangkan kekuatan menunjukan level keterikatan dalam interaksi tersebut. Level keterikatan ini bisa terlihat dari keakraban, keintiman, kebersamaan dan sebagainya. Makin akrab pembicaraan antar konsumen, makin erat hubungan di antara mereka. Melalui interaksi tersebut, informasi mengenai produk,

(63)

layanan, dan bisnis mengalir dalam suatu jaringan konsumen. Akhirnya terjadilah pemasaran dari mulut ke mulut.

2) Buzz

Keberhasilan viral marketing tidak hanya bergantung pada konsumen, untuk dapat berhasil diperlukan topik yang hangat, menarik, dan unik untuk dibicarakan dengan konsumen lain. Tanpa topik yang menarik, pemasaran tidak akan menyebar dengan sendirinya. Topik yang menarik seperti gossip, berita terkini terbukti membuat orang ramai membicarakannya dengan sukarela. Topik pembicaraan ini disebut dengan istilah buzz

3) Kondisi yang mendukung

Ada dua faktor psikologi pendukung yang membuat konsumen terdorong untuk membicarakan suatu produk secara positif :

a. Peer Pressure

Peer Pressure adalah pengaruh dari kelompok sebaya, sejenis (peer group) agar seseorang mengubah prilaku, kebiasaan dan niali dirinya agar dapat diterima dalam kelompok tersebut. Peer preesure memberikan tekanan pada seseorang untuk mengikuti kelompoknya, baik dia sebenarnya

Gambar

Gambar 2.3  Bagan Alur Berfikir
Gambar 4.1  T a m p i l a n B e r a n d a  Website www.tripvisto.com   Sumber : https://www.tripvisto.com/

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Polychrome memanfaatkan media sosial Instagram sebagai media komunikasi pemasaran digital, dan dilakukan dengan melakukan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kesimpulan yaitu Nagyagite melakukan tiga aktivitas dalam strategi komunikasi pemasaran terpadu yaitu: yang pertama, Tahap

Skripsi yang bertemakan sebagai berikut : "PENERAPAN DIGITAL MARKETING SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN PRODUK MOOCOW (Studi Kasus Moocow Di Jalan Garuda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital yang dilakukan oleh produk tradisional ini yaitu membangun citra one stop shopping pada toko offline

Dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan, yakni melalui periklanan (advertising) dan personal selling (penjualan

Untuk dapat membuktikan efektivitas dari strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Mabello Melona melalui media sosial, maka peneliti melakukan wawancara dengan

Dari hasil penelitian di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Bandar Jaya, peneliti mendapat kesimpulan bahwa strategi pemasaran untuk menarik nasabah agar menggunakan fasilitas

Objek penelitian dimaksud adalah fokus masalah yang ingin diteliti.Dalam penelitian ini, objek penelitiannya adalah strategi pemanfaatan instagram sebagai media komunikasi pemasaran