• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Miles Films Production

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Miles Films Production"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Miles Films Production 4.1.1 Sejarah Singkat Miles Films Production

MILES Films adalah rumah produksi lokal yang didirikan pada bulan Maret 1995 dan saat ini dipimpin oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Pada awalnya MILES Films khusus memproduksi film-film televisi dan dokumenter, juga sebagai wadah pelatihan bagi para seniman muda berbakat yang ingin membuat video musik dan iklan TV. Reputasi MILES Films melejit di tahun 1996 berkat kesuksesan mereka memproduksi 13 episode doku-drama berjudul ANAK SERIBU PULAU. Program ini disiarkan di 5 stasiun televisi swasta Indonesia (TVRI, RCTI, SCTV, ANTV dan Indosiar) diterima dengan baik oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk para kritikus film.

Di akhir tahun 1999, MILES Films mulai menempuh petualangan baru, memproduksi film feature. Debut mereka bertajuk PETUALANGAN SHERINA, sebuah musikal anak-anak arahan sutradara Riri Riza. Film tersebut dirilis pada tahun 2000 dan segera menuai kesuksesan fenomenal hingga mencapai 16 juta penonton di Indonesia, dimana saat itu sudah 25 tahun masyarakat memandang perfilman lokal dengan sebelah mata.

MILES Films pada tahun 2002 kembali merilis sebuah film feature, ADA APA DENGAN CINTA. Film tersebut merupakan karya perdana Rudi

(2)

Soedjarwo. Terjualnya 2,5 juta tiket film ini di loket box office membuatnya tercatat sebagai film yang berhasil mengajak penonton muda Indonesia kembali berkunjung ke teater bioskop. Bahkan, film ini sempat dirilis di bioskop di Jepang dan Malaysia, juga ditayangkan di televisi Australia dan Perancis, sekaligus mengantarkan Rudi Soedjarwo pada piala kemenangan sebagai Sutradara Terbaik dan Dian Sastrowardoyo sebagai Aktris Utama Terbaik di ajang Festival Film Indonesia.

Masih di tahun 2002, MILES Films bekerjasama dengan I Sinema dalam pembuatan dan perilisan sebuah film feature digital arahan sutradara Riri Riza berjudul ELIANA,ELIANA. I Sinema adalah sebuah gerakan yang dimotori Mira Lesmana dan Riri Riza dengan 10 pembuat film independent lainnnya di tahun 1999. ‟Eliana, Eliana‟ menuai pujian banyak kritikus film dan meraih penghargaan Young Cinema Award dan Netpac/Fipresci Jury Award di Singapore International Film Festival.

Tiga tahun kemudian MILES Films kembali mengembangkan dan memproduksi sebuah film feature, kali ini mengambil cerita dari kisah kehidupan seorang aktivis muda dalam gerakan mahasiswa di tahun 60-an, Soe Hok Gie. Film yang cukup diantisipasi masyarakat ini akhirnya dirilis pada bulan Juli 2005. GIE menjadi film yang paling banyak dibicarakan orang saat itu, karena berani bersentuhan dengan isu-isu politik yang sensitif dan tak pernah dieksplorasi film-film lokal sebelumnya. Film ini berhasil memenangkan gelar Film Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2005, dan penghargaan Special Jury Prize di The Singapore Film Festival 2006.

(3)

Di tahun 2005 juga MILES Films meluncurkan GARASI, sebuah film tentang persahabatan dan musik arahan sutradara Agung Sentausa. Para pemain utama film ini pada kenyataanya juga membentuk grup band musik dengan nama yang sama, Garasi, dan telah melahirkan album kedua mereka di akhir 2008.

Film feature garapan Riri Riza 3 HARI UNTUK SELAMANYA (3

Days To Forever), mengundang beragam opini masyarakat ketika dirilis pada tahun 2007. Film tersebut terpilih sebagai The Best Indonesian Film di Jakarta International Film Festival 2007, sementara untuk film ini pula Riri Riza dianugerahi penghargaan Best Director di festival bergengsi 35th Brussels International Film Festival 2008.

MILES Films mengakhiri tahun 2008 dengan produksi film LASKAR PELANGI (The Rainbow Troops), yang ceritanya diambil dari novel mega hit bestseller karya Andrea Hirata. Film tersebut memecahkan rekor film lokal dengan penonton terbanyak karena berhasil mengundang 4.5 juta penonton bioskop dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan. „Laskar Pelangi‟ pun terbukti diminati masyarakat dunia, dimana dalam satu tahun diundang untuk diputar di 20 festival internasional di manca negara dari 5 benua, dan meraih beberapa penghargaan bergengsi. Salah satu diantaranya adalah penghargaan Signis Award dari ajang Asian Film Awards 2008, sebagai film yang sepenuhnya mengekspresikan kepedulian sosial dan kemanusiaan sekaligus mengangkat nilai-nilai spiritual dan artistik dalam film. MILES Films menutup kalender

(4)

tahun 2009 dengan produksi film terbaru mereka SANG PEMIMPI (The Dreamer), yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi.

4.1.2 Visi Misi Miles Film Production

Visi Miles adalah mencari, membuat, dan memproduksi satu karya baru, inovatif, yang belum pernah di produksi orang atau rumah produksi lain.

Misi Miles adalah membuat film yang komunikatif, menghibur dan berkualitas serta berusaha membangun kepercayaan akan film Indonesia yang berkualitas.

4.2 Deskripsi Film Sang Pemimpi

4.2.1 Sekilas Tentang Film Sang Pemimpi

Film Sang Pemimpi yang mengambil setting di Belitung pada era tahun 80-an ini mengisahkan masa remaja Ikal, anak keluarga pekerja rendahan di Perusahaan Negara Timah di Pulau Belitung, bersama Arai sepupunya dan Jimbron sahabatnya. Karena tak ada sekolah menengah di desanya, Ikal, Arai, dan Jimbron merantau ke kota pelabuhan Manggar yang berjarak puluhan kilometer untuk melanjutkan sekolah. Bersama-sama mereka tumbuh, menjalani kehidupan masa remaja dengan segala tantangan dan perjuangan hidup serta problematika masa remaja untuk meraih cita-cita dan impian. Semangat mereka makin memuncak saat seorang guru memberikan mereka inspirasi untuk mengejar mimpi ke Eropa.

(5)

Namun, problematika lain muncul. Tak hanya soal sekolah dan bertahan hidup, tapi juga cinta. Cinta Arai yang tak tertahankan pada Zakiah Nurmala dan Jimbron juga jatuh hati dengan Laksmi seorang gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum. Sementara bagi Ikal, gairah anak muda yang sedang bergejolak di dirinya membawanya ke sebuah perasaan bersalah terhadap ayah dan menyisakan kekecewaan yang dalam di hati sang ayah yang sangat membanggakan dirinya sejak kecil.

Perasaan rasa bersalah terhadap sang ayah membuat Ikal bangkit, dan para pemimpi pun kembali berlari bersama. Satu persatu simpul-simpul kesulitan hidup untuk mencapai mimpi mereka buka. Cita-cita, harapan, dan cinta. Namun, setelah gelar sarjana diraih, Arai menghilang. Tinggal Ikal sendirian mengadu nasib sambil mengejar mimpi. Dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia, film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup yang mengharukan untuk menggapai mimpi, keindahan persahabatan, dan cinta kasih yang tulus antara anak dan ayah.

Keterbatasan ekonomi tak mematahkan semangat ketiganya, mereka giat bekerja menjadi kuli panggul ikan dan serabutan sepulang sekolah. Cobaan dan rintangan saat ayah Ikal terkena PHK pun tetap semangat. Ketika pengumuman lulus ujian, murid-murid SMA Negeri Manggar mendapat nilai yang memuaskan. Kemudian terjadi perpisahan Jimbron dengan ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah dengan mendapatkan beasiswa yang akhirnya membuat mereka berdua terpisah tetapi tetap akan bertemu di Perancis.

(6)

Menjadikan semua mimpi dan harapan menjadi nyata, Ikal dan Arai mampu membuat kedua orangtuanya menangis karena terharu bangga.

4.2.2 Filmografi Sang Pemimpi

Judul Film : Sang Pemimpi Durasi : 120 menit Sutradara : Riri Reza Produser : Mira Lesmana Penulis skenario : Salman Aristo Mira Lesmana Riri Riza Produksi Home-Video : Jive Collection Co-Producers : Putut Widjanarko

Toto Prasetyanto Gangsar Sukrisno Executive Producers : Bakhtiar Rakhman

Haidar Bagir Rayi Aurora

(7)

Associate Producer : Avesina Soebli Line Producer : Sari Mochtan

Editor : W.IchwandiarDono

Penata Sinematografi : Gunnar Nimpuno Penata Artistik : Eros Eflin

Penata Musik : Aksan dan Titi Sjuman Penata Suara : Dwi Budi dan Satrio Budiono Penata Kostum : Chitra Subiyakto

Penata Rias : Jerry Octavianus Assisten Sutradara 1 : Rivano Setyo Utama Assisten Sutradara 2 : Ferry Irawan

Assisten Sutradara 3 : Tika Indraputri Koordinator Produksi : Rena Tombokan Manajer Lokasi : Dicky Dewasanto Koordinator Pemain : Nanda Giri

Lirik Soundtrack : Mira Lesmana dan Band Gigi

Produksi dan Distribusi : Miles Music dan Trinity Optima Production

1.2.3 Penokohan Dalam Film Sang Pemimpi

Tokoh utama dalam film Sang Pemimpi, yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron. 1. Zulfanny sebagai Ikal kecil.

Vikri Setiawan sebagai Ikal remaja Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa.

Tokoh 'aku' dalam film ini. Gemar menulis, dan kesehariannya hidup dengan penuh kesederhanaan. Saat remaja yang penuh dilema untuk meraih mimpi dengan sepupunya Arai dan sahabatnya Jimbron. Karena

(8)

memiliki rasa bersalah telah mengecewakan Ayahnya, selalu berusaha bangkit untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya.

2. Sandy Pranata sebagai Arai kecil. Rendy Ahmad sebagai Arai remaja. Nazril Irham sebagai Arai dewasa.

Arai merupakan sepupu jauh Ikal yang kedua orang tuanya meninggal, kemudian diangkat sebagai anak oleh orangtua Ikal. Bagi Ikal, Arai adalah pahlawannya. Penuh semangat dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. Arai juga tak putus asa agar mendapatkan respon Zakia, gadis yang disukainya.

3. Rizky Syahrial sebagai Jimbron kecil. Azwir Fitrianto sebagai Jimbron remaja.

Anak yatim piatu yang diasuh oleh pendeta Geovani. Merupakan sahabat Ikal dan Arai. Segala hal tentang kuda adalah obsesinya, dan jadi gagap bicara ketika Ayahnya sekarat di depan matanya terkena serangan jantung. Diam-diam Jimbron menyukai Laksmi gadis penjual cincau.

Tokoh-tokoh lainnya, yaitu :

1. Mathias Muchus sebagai Seman Said Harun, Ayah Ikal, yaitu seorang pegawai PN Timah yang miskin, namun sangat mengharapkan anaknya mendapat pendidikan yang baik. Ayah nomor satu sedunia adalah julukan yang di berikan Ikal, menjadi motivator kepada anaknya yang tiada tandingannya.

(9)

2. Rieke Diah Pitaloka sebagai Ibu Ikal, seorang ibu rumah tangga yang mengurusi segala kebutuhan keluarga. Wanita yang lembut dan pengertian, sangat menyayangi Ikal dan juga Arai.

3. Nugie sebagai Pak Balia, seorang guru muda pengajar sastra yang inspiratif dan bersemangat, yang menginspirasi Ikal dan Arai untuk bermimpi kuliah di Perancis.

4. Landung Simatupang sebagai Pak Mustar, kepala sekolah yang keras dan galak. Namun, sebenarnya beliau adalah pribadi yang sangat baik dan patut dicontoh.

5. Maudy Ayunda sebagai Zakiah Nurmala, gadis Melayu pintar nan cantik yang menjadi obsesi cinta Arai.

6. Cindy Dwintasari sebagai Laksmi, gadis pujaan Jimbron. Telah kehilangan kedua orangtuanya, tinggal dan bekerja di sebuah pabrik cincau. Semenjak kepergian orangtuanya ia tidak pernah lagi tersenyum, walaupun senyumnya amat manis. Ia baru dapat tersenyum ketika Jimbron datang mengendarai sebuah kuda putih milik Capo.

7. Tjie Tjin Siang sebagai Capo Lam Nyet Pho, seorang yang memungkinkan berbagai hal sebagai objek untuk bisnisnya. Bahkan ketika PN Timah terancam kolaps, ia melakukan ide untuk membuka peternakan kuda meskipun kuda adalah hewan yang asing bagi komunitas Melayu.

(10)

9. Jay Widjajanto sebagai Bang Zaitun, pemusik Melayu lokal yang lihai soal asmara.

10.Zaharudin sebagai Pendeta Geovani, yang merawat Jimbron sejak ditinggal kedua orangtuanya. Meskipun dia beragama Katholik, tapi tetap menghargai Jimbron menganut agama Islam dengan taat.

4.3 Semiotika Dalam Film Sang Pemimpi

Film Sang Pemimpi ini merupakan sekuel dari Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza yang diambil dari cerita novel karangan Andrea Hirata. Film yang bertema tentang pendidikan ini layak diperhitungkan, berbagai macam penghargaan yang diraih dari dalam negeri maupun mancanegara, membuat film ini mendapat perhatian bagi masyarakat. Menilik dari latar cerita, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Mira dan Riri memutuskan menggunakan pemeran asli anak-anak Belitung disertai dengan dukungan aktor dan aktris yang sesuai.

Selain itu, setting cerita film ini dilakukan di daerah Belitung dibuat menjadi era tahun 80-an. Sang Pemimpi menceritakan bagaimana perjuangan anak-anak di daerah untuk mendapatkan pendidikan meski dengan segala keterbatasan yang ada sangat memberi sumber inspirasi. Belitung merupakan kota yang melimpah kekayaan alamnya, namun ironis sekali warga yang seharusnya merasakan hasilnya, malah banyak yang jadi pesuruh pegawai rendahan di PN Timah. Hidup penuh keprihatinan, sikap yang sabar dalam kesederhanaan untuk tetap tegar menghadapi cobaan hidup mempengaruhi dalam setiap adegan serta alur cerita.

(11)

Tanda dan makna merupakan kata kunci yang menghubungkan antara semiotika dan komunikasi. Di dalam komunikasi terdapat unsur pesan yang berbentuk tanda-tanda. Dan tanda-tanda ini mempunyai struktur tertentu yang dilatarbelakangi oleh keadaan sosiologi ataupun budaya di tempat komunikasi itu hidup sehingga untuk mempelajari bagaimana struktur pesan atau konteks di balik pesan-pesan komunikasi diperlukan studi semiotika.

Cerita dimulai dengan scene seorang pemuda habis selesai mandi yang mengelap mukanya dengan handuk. Secara close up, dengan ekspresi sedang memikirkan sesuatu, disertai pula insert sejumlah gambar yang mendeskripsikan bahwa dia tinggal sendiri di sebuah kontrakan, dan bekerja di kantor pos. Sebagaimana dikemukakan pada awal teks film:

Aku biasa dipanggil Ikal, aku seorang sarjana ekonomi kawan, tapi nasibku saat ini tidak terlalu baik, sama dengan sepatuku itu, usang, bekas. Mimpi, semua dimulai dari mimpi, aku bekerja keras untuk meraih mimpiku. Dari murid SD yang hampir roboh dipedalaman Belitung. Aku melompat jauh, hingga bisa kuliah di Universitas Indonesia hingga lulus. Tapi kini, aku jadi tukang sortir di kantor pos, aku rela bekerja menjadi apa saja demi mengejar mimpiku. Namun, ini bukanlah pekerjaan yang aku sukai, karena aku tidak percaya dengan tukang pos, nanti aku ceritakan kenapa aku tidak percaya dengan tukang pos…

Sejak kecil aku suka menulis, orang-orang yang dekat denganku juga mengatakan aku berbakat menjadi seorang penulis, tadinya aku berfikir dengan cara inilah aku bisa mengubah jalan hidupku. Dengan menjadi seorang penulis novel, tapi tulisanku selalu ditolak.

Arai, dialah penyebab semua ini, sepupuku sendiri. pembual brengsek, dia yang membuatku melihara mimpi yang ternyata kosong, dia mengajakku bermimpi sangat tinggi. dan dimana dia sekarang? Dia malah pergi menghilang tanpa kabar, membuatku sendirian dan membusuk selama 3 tahun di tempat ini. Benar-benar brengsek, inilah mimpi itu kawan… disertai insert gambar Ikal melihat peta dunia yang dipenuhi garis-garis petunjuk kemudian karena kesal dia merobek petanya, dia membuatku percaya, bahwa aku bisa mengejar mimpi sampai ke Paris, menjelajahi dunia.

Ikal dewasa berada di sebuah jembatan, melihat anak-anak SMA berlarian, kemudian teringat kembali kisah masa remajanya di Belitung, menjadi anak

(12)

pesisir miskin yang pantang menyerah dengan semangat tiada akhir yang pernah dijumpainya. Lalu ia membayangkan masa lalunya bersama sepupunya Arai, dan sahabatnya Jimbron. Dengan alur cerita flash back, dimulailah awal cerita Sang Pemimpi dalam film ini. Sekolah SMA Negeri Manggar adalah sekolah pertama yang ada di Manggar.

Ikal berada di sebuah jembatan, melihat anak-anak SMA berlarian, kemudian teringat kembali kisah masa remajanya di Belitung, menjadi anak pesisir miskin yang pantang menyerah dengan semangat tiada akhir yang pernah dijumpainya. Lalu ia membayangkan masa lalunya bersama sepupunya Arai, dan sahabatnya Jimbron. Dengan alur cerita flash back, dimulailah awal cerita Sang Pemimpi dalam film ini. Sekolah SMA Negeri Manggar adalah sekolah pertama yang ada di Manggar.

Ikal dan Arai hijrah dari Gantong ke Manggar demi melanjutkan sekolahnya, karena di Gantong belum ada SMA, selain itu memang SMA Negeri Manggar inilah yang pas biayanya untuk anak pegawai rendahan dari PN Timah. Rupa dari sekolah itu pun sangat sederhana sekali, dengan atap yang terbuat dari seng, pagar sederhana yang termakan usia, fasilitas toilet yang kurang memadai, tempat parkir sepeda para guru dan kepala sekolah yang sederhana sekali, lapangan yang luas ditumbuhi oleh sebagian rumput liar. Namun, sekolah inilah yang menghasilkan murid-murid terbaik, tak semuanya bisa merasakan pendidikan hingga tingkat SMA. Ikal, Arai, dan Jimbron pun rela bekerja giat, bekerja kuli panggul ikan, dan serabutan apa saja setelah pulang sekolah untuk mengumpulkan uang.

(13)

Meskipun perekonomian yang terbatas, Ikal dan Arai termotivasi memiliki mimpi ke Perancis. Dorongan kuat dari Pak Balia, yang merupakan guru favorit di SMA Negeri Manggar pun membuat mereka sangat yakin untuk mewujudkan mimpi itu. Dengan gairah masa muda yang penuh semangat, masa dimana masih mencari identitas sampai kenakalan saat remaja pun dilaluinya, Arai pernah mengacaukan upacara sekolah sehingga membuat kepala sekolah bernama Pak Mustar menjadi marah, dan membawa Ikal serta Jimbron ke dalam petualangan dikejar guru-guru. Kehidupan yang istimewa mulai merasakan cinta karena beranjak dewasa pun mulai diarungi oleh Arai dan Jimbron untuk mendapatkan simpati dari sang pujaan hati. Ikal yang merasa mengecewakan Ayahnya menjadi lebih giat belajar untuk menjadi kebanggan bagi orangtuanya.

Kisah tersebut banyak mengungkap bagaimana penggambaran pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung, Sumatera Selatan. Penggambaran tersebut dideskripsikan melalui pendidikan formal dan informal di sekolah maupun pendidikan yang didapatkan berdasarkan pengalaman sehari-hari ataupun dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Lalu pendidikan agama pun diajarkan sejak kecil, belajar mengaji dan melakukan sholat sebagai bentuk pembelajaran sebagai seorang muslim yang taat. Pendidikan moral yang dibekalkan seorang pengajar meski hanya berupa nasihat.

Sesungguhnya berdasarkan film ini kita mengetahui kehidupan di daerah Belitung dan mungkin yang berada di daerah lainnya, tidak semuanya bisa mendapat pendidikan formal di sekolah. Karena kurangnya perhatian dari pemerintah, belum meratanya pendidikan di semua daerah menjadikan

(14)

kesempatan berkurang bagi mereka yang hidup serba terbatas. Faktor ekonomi sangat mempengaruhi mereka kebanyakan akhirnya putus sekolah karena tidak bisa meneruskan sekolah karena biaya pendidikan tak tersanggupi. Biaya hidup yang mahal, adanya pengalihan oleh kaum penguasa, masyarakat tidak bisa leluasa menikmati hasil kekayaan alam yang melimpah di daerah sendiri. Melalui penggambaran realitas itu pula, kita bisa melihat kritik pendidikan sebagai simbolisasi dalam film ini.

4.4 Analisis Data

4.4.1 Film Sang Pemimpi Dalam Unsur Makna Charles Sanders Pierce Gambar-gambar yang yang terekam di film Sang Pemimpi memiliki tanda-tanda yang merupakan simbolisasi dari kritik pendidikan. Menggunakan

grand theory atau biasa disebut triangle meaning oleh Charles Sanders Pierce

yang memperlihatkan tiga elemen utama pembentuk tanda, yaitu sign

(sesuatu yang merepresentasikan sesuatu yang lain), objek (sesuatu yang direpresentasikan) dan interpretant (interpretasi seseorang tentang tanda).

(15)

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretant:

Gambar sekolah SMA Negeri Manggar Menunjukkan Lembaga Pendidikan

Dari gambar diatas dapat dilihat pada film Sang Pemimpi sekolah yang menjadi lembaga pendidikan di gambar tersebut merupakan suatu simbolisasi dari kritik pendidikan yang dikemas dalam gambar ini. Interpretant yang terbentuk adalah suatu tanda yang bisa menyimbolkan sekolah sebagai lembaga pendidikan, namun sekolah disini sangat sederhana, karena daerah terpencil kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Sekolah itu SMA Negeri Manggar namanya, sekolah yang sederhana dan biayanya masih bisa di jangkau oleh Ikal, Arai, dan Jimbron.

Aku, Arai dan Jimbron pindah ke Manggar karena belum ada SMA di Gantong. Kami meninggalkan kampung kami untuk melanjutkan sekolah disini. Sekolah kami adalah sekolah yang pertama di Manggar, walaupun sekolah kami ini sederhana, setidaknya sekolah ini cocok untuk ukuran kantong keluarga kami.”

Tak heran jika SMA Manggar tersebut bangunannya sangat sederhana sekali, karena merupakan sekolah SMA yang pertama di Manggar. Dengan atap terbuat dari seng dan pagar besi berkarat yang sudah usang, sebelah sisi pagarnya dibuat dari bambu, cat tembok yang sudah mulai luntur mengelupas warnanya, terdapat parkir sepeda yang sederhana, lapangan luas yang digunakan untuk upacara sebagian ditumbuhi rumput liar, sekolah tersebut ada di daerah Belitung. Sang sutradara dan produser film Sang Pemimpi ini melakukan survey untuk

(16)

syuting agar mendapatkan film yang berkualitas. Film yang sesuai dengan kenyataan yang tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan. Pesan yang disampaikan sangat mengena di masyarakat karena menampilkan potret kondisi pendidikan Indonesia.

Film yang di setting seperti tahun 80-an ini sangat inspiratif. Bagaimana tidak, jika kita bandingkan sekolah yang ada di Jakarta, setiap tahunnya selalu di renovasi, setidaknya mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Dalam hal ini lembaga pendidikan sudah semestinya menjadi perhatian pemerintah, namun gambar realitas tersebut menunjukkan kesenjangan yang terjadi akibat pembangunan yang belum merata di segala pelosok daerah. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, sehingga hasilnya tidak dapat dinikmati dalam kurun waktu yang singkat. Akan tetapi semua pihak tentu bersepakat bahwa hanya dengan membangun pendidikan, sebuah bangsa dapat menjadi bangsa yang maju. Berdasarkan UU No 2 Th 1989, pasal 3 mengandung arti bahwa fungsi Pendidikan Nasional adalah memerangi segala kekurangan, keterbelakangan dan kebodohan. Memantapkan ketahanan nasional. Serta, meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan berlandaskan kebudayaan bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Dengan interpretasi mengenai sekolah tersebut membentuk konstruksi makna tentang kritik pendidikan dalam simbolisasi film. Hal tersebut membuat kita berpikir bahwa, pendidikan itu sangat penting sekali. Dengan pendidikan yang baik pula sebenarnya bangsa kita bisa maju, bisa mengurangi keterbelakangan dan kebodohan. Namun, dengan melihat gedung sekolah yang digambarkan dalam film ini, kita merasa miris dengan adanya kesenjangan yang terjadi.

(17)

Bukti kuat bahwa negeri ini membedakan kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin. Dengan memiliki background pendidikan yang tinggi, kita bisa menjadi seseorang yang diperhitungkan dan mendapat kesempatan lebih untuk memegang bagian penting di suatu perusahaan. Sedangkan kaum miskin karena untuk membiayai sekolah itu mahal, banyak yang hanya lulusan SMA dan bahkan putus sekolah karena tidak bisa sekolah. Penindasan terhadap mereka pun sangat jelas digambarkan dalam gambar diatas, dimana mereka penduduk asli Belitung yang menjadi kuli dan pesuruh.

Belitung merupakan pulau dengan hasil kekayaan yang melimpah, namun tak sedikitpun bisa dirasakan hasilnya oleh masyarakat setempat. PN Timah adalah salah satu perusahaan timah yang besar di sana, banyak masyarakat yang bergantung nasib pada PN Timah tersebut, meski seumur hidupnya hanya menjadi pesuruh dan karyawan rendahan, mereka tetap bekerja demi mencari nafkah untuk keluarganya.

(18)

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Gambar Ikal, Arai, Jimbron

memakai seragam lusuh

Ikal, Arai dan Jimbron memang terlahir dari keluarga yang sederhana, sekolah di SMA Negeri Manggar merupakan tempat mengenyam pendidikan yang pas dengan keuangan orangtua mereka. Seragam yang dipakai terlihat lusuh, karena sering dipakai, terlebih seragam Jimbron yang kantongnya sampai robek dan tak sempat dijahit. Gambar yang diambil secara medium shoot tersebut selain menunjukkan pendekatan keakraban dengan tokoh juga menampilkan ekspresi sumringah ketiganya ketika pembagian raport pada semester pertama.

Mereka tidak mempermasalahkan baju seragam, namun sebenarnya mereka pasti ingin memiliki seragam sekolah yang baru, mereka berpikiran lebih baik uangnya di tabung untuk hal yang lebih penting. Seperti yang kita tahu, termasuk ke dalam komponen pendidikan menurut P.H. Combs biaya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat.

Ayah dari pegawai rendahan PN Timah hanya mampu membiayai di sekolah yang sederhana, yang terpenting asalkan anak-anak bisa mengenyam pendidikan. Biaya pendidikan selalu makin melonjak naik, itu membuat banyak orang-orang lain yang kurang beruntung tidak bisa merasakan pengajaran seperti Ikal, Arai, dan Jimbron.

Menunjukkan mereka dari kaum kurang mampu

(19)

Menurut Everett Reimer, bahwa sistem kelembagaan pendidikan membuat banyak anak di dunia tidak dapat menikmati pendidikan. Kalaupun mereka memperolehnya, maka dengan segera anak-anak itu akan mengalami putus sekolah. Sebagian besar negara di muka bumi tidak mampu mengusahakan pendidikan pada standar minimal bagi mereka yang membutuhkannya. Dalam waktu yang sama, biaya sekolah di mana-mana meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan nasional. Untuk meratakan pendidikan, maka kelembagaan pendidikan seperti sekolah harus dilenyapkan karena gagal menjalankan fungsinya.

Teori tersebut sebenarnya sedikit menyinggung kepada pemerintah Indonesia yang belum meratakan pendidikan di segala pelosok daerah. Banyak anak-anak yang terlantar, dan kemiskinan melanda menyebabkan anak-anak putus sekolah. Padahal tertera di dalam UUD 1945 pasal 31 tiap warga berhak mendapatkan pengajaran. Memang saat ini sudah ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dimana keringanan beban biaya ditanggung pemerintah. Namun nyatanya bantuan tersebut tidak sampai pada pihak yang berwenang. Buktinya sampai saat ini masih saja ada anak yang putus sekolah. Berharap penanganan tentang pendidikan diperhatian oleh pemerintah, kebanyakan pendidikan di daerah kurang diperhatikan maka banyak yang putus sekolah.

Seragam yang digunakan Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan simbolisasi dari kritik pendidikan. Properti yang digunakan oleh pemeran film Sang Pemimpi

ini baju seragam lusuh yang menandakan betapa miskinnya mereka. Dengan baju seragam itulah mereka pergi ke sekolah untuk mengenyam pendidikan. Berbeda

(20)

dengan mereka yang perekonomiannya menengah keatas, penampilan mereka pasti tak seperti itu, seragam yang digunakan pasti lebih baik keadaannya. Seragam sekolah yang mahal, biaya hidup yang semakin meningkat membuat kita berpikir, bahwa pendidikan itu memang mahal. Sehingga tak semua bisa meraih pendidikan seperti Ikal, Arai dan Jimbron.

Kita harus menggapai pendidikan setinggi-tingginya demi mendapat kehidupan yang lebih baik, agar kita tidak menjadi orang yang nasibnya menjadi tertindas. Tujuan pendidikan untuk memerangi kebodohan dan keterbelakangan benar adanya, hal tersebutlah yang belum bisa di raih oleh semua orang. Ada yang lebih menakutkan jika kita tidak sempat merasakan pendidikan yang saat ini berpengaruh penting, perusahaan yang kuat seperti PN Timah direbut oleh orang asing yang bukan masyarakat negeri ini. Karena tidak adanya sumber daya manusia yang memadai untuk bisa diandalkan memegang perusahaan. Maka dari itu pendidikan sangat penting agar kita tidak dibodohi, dan tidak ditindas akibat keterbelakangan yang selama ini dirasakan oleh bangsa ini.

Apa daya pendidikan di saat ini sangatlah mahal harganya, mereka tak sanggup untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Sehingga banyak orang-orang yang masih muda harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan agar bisa meneruskan hidup. Sikap penguasa seharusnya tidak semena-mena terhadap rakyatnya. Dimana mereka juga harus melindungi hajat hidup orang banyak, memikirkan bagaimana caranya agar pembangunan itu merata sampai ke pelosok daerah. Mereka dengan mudahnya melakukan korupsi sana-sini, tak mempedulikan ada hak untuk orang lain yang lebih memerlukan. Andai saja

(21)

program pemerintah berhasil dalam mencanangkan kegiatan sekolah, meratakan pendidikan, kecil kemungkinan masalah negeri ini sedikit berkurang.

Gambar 4.3

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Pada scene ini Arai mengacaukan upacara bendera di sekolah

Gambar tersebut yang ingin ditampilkan dalam film Sang Pemimpi adalah sebuah kenakalan remaja yang sedang mencari identitas diri atau Pak Mustar biasa menyebutnya dengan brandal. Pada saat upacara, Arai yang memang selalu berani menuai resiko atas apa yang akan dihadapinya membuat kekacauan, suasana menjadi ramai, teman-teman yang lainnya bersorak-sorai karena sudah berhasil membuat Pak Mustar marah. Arai membawa Ikal dan juga Jimbron ke

Menunjukkan kelakuan yang tidak baik, kurang sopan

(22)

dalam petualangan yang penuh kebebasan di pagi hari itu. Karena mereka bertiga dikejar oleh Pak Mustar dan beberapa guru lain.

Pada gambar itu terlihat muka sumringah Arai secara medium shoot, dan ada Ikal dibelakangnya memanggil Jimbron untuk pergi berlari melarikan diri dar i kejaran para guru-guru. Teman-teman yang lainnya juga membebaskan diri dari barisan upacara dan malah sebagian ada yang menyoraki, tepuk tangan, menyuruh mereka bertiga pergi agar tidak tertangkap. Tindakan semacam ini adalah biasa yang dilakukan anak-anak seusianya, dipenuhi emosi yang bergejolak, rasa ingin memberontak. Apa yang mereka dapat ketika mereka mengacaukan semuanya dari tindakan yang kurang sopan tersebut adalah sebuah kesenangan dan keberanian. Lagi-lagi hidupnya yang bebas harus dibenahi agar mereka berprilaku baik. Namun pada film ini, ditampilkan gambar seperti itu pada kenyataannya konstruksi realitas terjadi pada anak-anak remaja seusia Ikal, Arai, dan Jimbron. Mereka biasanya ikut tawuran antar sekolah, mencorat-coret tembok di jalan, dan melakukan tindakan lainnya yang menurut mereka itu memiliki keasyikan tersendiri.

Di sekolah pula sebenarnya sudah diajarkan agar berperilaku baik, bahwa kenakalan remaja seperti itu seharusnya di hindari. Namun lagi-lagi disini mengkritik pendidikan yang menjadikan penanda pada objek Ikal, Arai, dan Jimbron tersebut menginterpretasikan tindakan yang kurang baik bagi mereka yang bersekolah di SMA Negeri Manggar. Maka tanggung jawab sekolah pula untuk bisa mendidik mereka agar tidak menjadi pemberontak. Menurut P.H. Combs, peserta didik yaitu murid-murid memiliki fungsi adalah belajar. Dimana

(23)

mereka diharapkan peserta didik mengalami proses perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan sistem pendidikan.

Gambar 4.4

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Gambar toilet sekolah yang sering disebut “Toilet Busuk”

Dari gambar diatas kita bisa melihat bahwa toilet itu hanya dibangun dibalik tembok yang ada seni pahatnya. Toilet itu juga tak dibedakan sesuai jenis kelamin, antara perempuan dan laki-laki. Toilet juga merupakan sarana dan fasilitas sekolah, karena merupakan kebutuhan. Seharusnya kondisinya lebih baik dari yang digambarkan dalam film ini. Film ini ingin menunjukkan bahwa toilet busuk ini merupakan suatu kurangnya kesadaran untuk perawatan. Sehingga menyimbolkan kritik pendidikan dalam filn ini, toilet yang tak terurus di sebuah lembaga pendidikan untuk mengenyam pendidikan.

Menunjukkan kurang perawatan toilet sekolah

(24)

Toilet yang ada di sekolah SMA Negeri Manggar kotor, tak terurus, jorok, bau, dipenuhi sarang laba-laba, tempat penyimpanan airnya ada malah diletakkan di depan toilet, dengan sebagai gayungnya adalah ember. Sungguh itu semua menyimbolkan toilet sekolah yang kurang perawatan. Tanggung jawab siapakah ini seharusnya? Perawatan toilet sebenarnya adalah tanggung jawab semua warga sekolah yang memakai toilet itu. Padahal kalau toiletnya bersih, itu juga akan menunjang kesehatan bagi yang memakainya. Jika toiletnya seperti itu, siapa pula yang ingin menggunakannya.

Berbeda dengan toilet yang sekolahnya memadai sarana dan fasilitasnya, biasanya ada office boy yang membersihkannya, tak urung dari itu pun seharusnya tetap semua warga sekolah harus merawatnya juga. Di film ini mungkin ingin menyuguhkan kalau daerah yang kumuh milik kaum miskin adanya. Konstruksi makna yang ada dengan objek seperti itu akan menginterpretasikan sekolah jelek toilet jorok. Toilet ini pernah menjadi tempat hukuman Ikal, Arai, Jimbron karena ketahuan menonton film dewasa di bioskop. Mereka disuruh membersihkan toilet busuk itu sampai bersih, Ikal yang sejak awal tak ingin memasukinya merasa terhina dengan hukuman yang diberikan kepala sekolahnya.

Tak salah jika toilet yang mendapat sebutan “toilet busuk” itu dihindari oleh Ikal, karena rupanya yang tak layak untuk digunakan. Dibalikkan sendiri lagi sebenarnya dengan alasan mengapa toilet itu bisa kumuh seperti itu, karena tak adanya kesadaran dari warga sekolah sendiri. Toilet sekolah seharusnya bersih terawat, karena termasuk sarana dan fasilitas sekolah, tak mempengaruhi sekolah miskin atau sekolah kaya itu semua kesadaran bagi yang memakainya.

(25)

Namun meskipun begitu, Ikal sang tokoh aku, bangga bisa bersekolah di SMA Negeri Manggar yang memiliki toilet atau WC yang buruk, seperti yang diucapkannya, “walaupun sekolah ini memiliki WC yang super busuk, hasil anak-anak muda melayu yang jorok. Dan memiliki kepala sekolah yang ganas seperti Pak Mustar. Namun kami bangga dan semangat sekolah, kau tau kenapa kawan, laki-laki inilah penyebabnya. Insert gambar Pak Balia sedang mengajar anak-anak muridnya.

Ikal lebih merasa berharga memiliki Pak Balia di sekolah yang toiletnya busuk itu. Seorang pendidik yang memotivasi anak-anak muridnya untuk bermimpi tinggi dan berusaha untuk menggapainya.

Bercita-citalah yang tinggi. Bermimpilah yang besar. Rebut madu ilmu sebanyak-banyaknya. Belajarlah dari alam. Resapi kehidupan. Jelajahi Indonesiamu yang luas. Jengkali Afrika yang eksotis. Jelajahi Eropa yang megah. Lalu berhentilah di altar ilmu Sorbonne, Paris. Belajarlah dimana sastra dan seni diolah untuk merubah peradaban. Dan ingat yang paling penting, bukanlah seberapa besar mimpi kalian, tapi seberapa besar kalian untuk mimpi itu.

Kritik pendidikan terhadap sekolah SMA Negeri Manggar terhadap toilet busuk menjadi simbolisasi sekolah yang kurang perawatan dan juga anak-anak muridnya yang jorok seperti yang dikatakan Ikal. Realitas tersebut mengungkap masyarakat SMA Negeri Manggar adalah termasuk kurang memperhatikan kebersihan. Namun meskipun toiletnya jorok, tak bisa menganggap remeh pengajaran yang diberikan di SMA Negeri Manggar ini. Ikal, Arai, Jimbron adalah pejuang yang hebat, dengan memiliki pengajar yang sabar dan selalu memberikan motivasi seperti Pak Balia. Sungguh sinkronisasi yang sangat tidak sesuai sebenarnya, tapi itulah yang digambarkan dan diceritakan dalam alur cerita di film Sang Pemimpi ini. Suatu gambaran yang nyata di sekolah di daerah Belitung tersebut diperhitungkan menjadi suatu ciri pendidikan yang kurang memadai di Indonesia yang letaknya di daerah.

(26)

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Gambar atap sekolah terbuat dari seng

Bangunan sekolah yang baik juga merupakan sarana dan fasilitas dari lembaga pendidikan untuk tempat belajar mengajar. Keadaan yang baik, tenang, nyaman sangat menunjang untuk proses belajar mengajar juga. SMA Negeri Manggar di Belitung ini sangat sederhana, atap yang terbuat dari seng menyimbolkan kesederhanaan. Berbeda dengan bangunan sekolah yang atapnya terbuat dari genteng terlihat lebih baik, fungsinya sebagai pelindung panas matahari dan hujan pun lebih tahan lama. Kalau seng itu mudah usang termakan usia, kalau cuaca panas akan terasa panas sekali, sedangkan ketika hujan terkadang bocor jika sudah rapuh.

Dengan objek atap sekolah yang terbuat dari seng tersebut dapat di interpretasikan bahwa itu menunjukkan sekolah yang sarana dan fasilitasnya kurang memadai. Tunjangan dari pemerintah untuk meratakan pendidikan

Menunjukkan sekolah sederhana sarananya kurang memadai

(27)

tentunya juga harus memperhatikan sarana dan fasilitas ini. Kritikan ini dilontarkan sebagai kritik terhadap pendidikan di Indonesia, bagaimana mau belajar kalau hujan turun sekolah bocor. Itu akan sangat mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Film ini sesungguhnya merefleksikan realitas sosial yang ada, konstruksi makna yang ada mengenai simbol-simbol dari kritik pendidikan berupa bangunan atap sekolah yang terbuat dari seng ini bisa menjadi masukan terhadap pemerintah untuk membenahi bangunan sekolah yang bisa dikatakan telah usang. Kalau kita lihat bangunan sekolah negeri di Jakarta sangat berbanding terbalik, bangunannya lebih baik dan mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah karena letaknya di pusat kota.

Fasilitas yang kurang memadai dari struktur bangunan di sekolah yang digambarkan tersebut menyimbolkan dalam film Sang Pemimpi melalui gambar tersebut dengan maksud mengevaluasi bagi pihak yang bertanggung jawab, agar lebih sedikit memperhatikan kondisi bangunan sekolah yang ada di Belitung. Interpretasi tersebut tidak maksud menuntut, namun menyadarkan bahwa mereka yang tinggal di daerah juga harus mendapatkan layanan yang terbaik untuk pendidikan calon penerus bangsa. Gambaran dalam film Sang Pemimpi tersebut membuat miris sekali melihat lembaga pendidikan di Belitung masih sedikit jumlahnya dengan kondisi sekolah yang seperti itu.

(28)

Gambar 4.6

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Gambar papan tulis, kapur, penghapus, dan penggaris

Gambar tersebut ada gambar papan tulis, dua batang kapur tulis, penggaris panjang yang terbuat dari kayu, dan sebuah penghapus papan tulis. Itu semua merupakan penunjang kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanda yang menunjukkan kritik pendidikan dari gambar tersebut adalah sebuah konstruksi bahwa di daerah masih sangat tradisional sekali. Padahal di zaman era globalisasi ini, kita merasakan pendidikan dengan teknologi yang lebih baik, menggunakan spidol dan papan tulis whiteboard. Kehidupan di Belitung sana masih jauh dari teknologi, kalau diperhatikan mereka benar-benar harus berjuang agar bisa meneruskan kehidupan dari keterpurukan.

Penunjang kegiatan belajar mengajar di dalam kelas

(29)

Hal-hal kecil seperti penunjang kegiatan belajar mengajar yang masih tradisional ini juga menunjukkan kesenjangan sosial. Pemerintah untuk menyediakan penunjang kegiatan belajar mengajar juga belum maksimal, bahkan seolah tak peduli. Mereka mengambur-hamburkan uang dengan tindakan korupsi, tetapi untuk menyediakan dana sebagai pencanangan penunjang kegiatan belajar mengajar saja belum terpenuhi. Penggunaan uang yang tak semestinya seperti itu sangat egois, melihat peran pemerintah dalam membenahi pendidikan merupakan PR besar.

Dimana gambar tersebut dimunculkan sebagai teguran untuk tetap memperhatikan masyarakat di daerah yang masih sangat tradisional sekali. Belum berhasilkah pencangan kegiatan sekolah dengan BOS? Kalau sudah berhasil mensubsidi, biasanya tersalurkan dengan baik, baik dengan sarana dan prasananya juga lebih baik. Dari hal yang kecil seperti kapur, papan tulis, dan penggaris yang mungkin sangat ketinggalan zaman. Bagaimana mau maju bangsa ini, kalau masih jalan di tempat. Kalau masih ada keterbelakangan yang menjalari kehidupan di daerah. Refleksi ditampilkannya gambar ini, berdasarkan realitas yang ada. Tak merasa miris kah kita melihatnya, tentu berbeda jauh dengan sekolah yang sudah lebih baik, sekolahnya juga lebih maju.

Kecenderungan tentang pendidikan di Indonesia masih ada yang kondisinya lebih parah dari yang digambarkan di daerah Belitung. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, mustahil memimpikan untuk sekolah, mereka dari kecil sudah dilatih untuk menjadi anak jalanan untuk mencari uang. Hal ini terlalu jauh jika harus menuntut pergerakan yang terbebas dari keterpurukan.

(30)

Gambar 4.7

Sign:

Kritik Pendidikan

Object: Interpretan:

Gambar Ikal, Arai, Jimbron

bekerja menjadi kuli serabutan

Lihatlah apa yang masih dikenakannya oleh Ikal, Arai, dan Jimbron. Mereka masih memakai seragam sekolah. Dan mereka sedang bekerja sebagai kuli serabutan. Banyak pekerjaan yang mereka lakukan demi mendapatkan uang untuk di tabung. Di gambar itu mereka bertiga sedang mengangkat derijen air di tangan kanan dan tangan kirinya. Mereka bekerja di sebuah warung makan. Mereka adalah anak-anak yang mandiri. Karena mimpinya yang besar untuk mendapat beasiswa ke Paris, mereka berusaha untuk bekerja keras agar bisa

Menunjukkan mereka dari kaum kurang mampu

(31)

menghasilkan uang untuk di tabung. Karena mereka sadar diri, bahwa mereka tak bisa bergantung terus pada orangtua.

Dari kecil Ikal dan Arai hidup di kampung halamannya di Gantong sudah diajarkan mandiri. Dulu, saat kecil juga bersusah payah demi mendapatkan pendidikan. Hingga kini remaja dan bertemu dengan Jimbron, mereka tetap bersusah payah untuk bekerja keras melewati kehidupan yang keras, karena nasib yang kurang beruntung berpihak kepada mereka. Kalau mereka bisa membeli seragam dengan mudah, mendapat pendidikan terbaik dengan biaya yang murah, mereka pasti tak perlu bekerja keras untuk mengejar mimpi mereka. Mereka tak bersekolah di SMA Negeri Manggar. Mungkin mereka akan keluar kota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak.

Di film ini ingin menyuguhkan suatu tanda yaitu kritik terhadap pendidikan yang sulit sekali di raih bagi orang yang kurang mampu. Mereka harus bekerja keras untuk meraihnya. Dan memiliki mimpi yang besar untuk di raih menjadi motivasi tersendiri bagi mereka. Interpretasi di sini selain mengkritik pendidikan yang mahal harganya, juga ingin memberitahu bahwa tak semuanya akan gagal jika kita mau berusaha, buktinya Ikal, Arai dan Jimbron yang berusaha keras untuk tetap mendapatkan pendidikan demi meraih mimpinya yang lebih besar lagi. Mereka ingin keluar dari kemiskinan dan keterpurukan yang di hadapinya sejak kecil, mereka tak hanya diam saja dan mengeluh tetapi mereka berusaha untuk mencari solusi agar mereka tetap menjalani kehidupan yang penuh rintangan ini.

(32)

4.4.2 Identifikasi Dan Klasifikasi Tanda Charles Sanders Pierce

Identifikasi dan klasifikasi tanda pada penelitian ini dilakukan dengan mengadaptasi jenis-jenis tanda berdasarkan hubungan objek dengan tanda yang dikemukakan oleh Pierce, yaitu makna tanda tipe Ikon, Indeks, dan Simbol.

Tabel 4.1

Identifikasi Makna Tanda Tipe Ikon, Indeks, dan Simbol

Jenis Tanda Penjelasan

Ikon Tanda berhubungan dengan objek karena adanya keserupaan, contoh peta, potret

Indeks

Adanya kedekatan eksistensi antara tanda dengan objek atau adanya hubungan sebab akibat contohnya sebuah tiang penunjuk jalan, ada asap maka ada api

Simbol

Hubungan ini bersifat konvensional dalam artian adanya persetujuan tertentu antara para pemakai tanda, contohnya adalah bahasa, bendera.

(33)

Table 4.2

Identifikasi Tanda Pada Gambar 4.8

Jenis Tanda Unit Analisis

Ikon

Gambar guru

Gambar foto presiden Gambar foto wakil presiden Gambar foto burung garuda Gambar latar belakang

Gambar properti yang digunakan

Indeks

Warna baju yang digunakan Ekspresi muka

Latar Belakang

Penggaris yang dipegang

Simbol

Tulisan Evolusi yang tertutup badan pak guru Lambang burung garuda yang ada di foto

Makna Tanda-tanda Tipe Ikon

Dari identifikasi dan klasifikasi table 4.2 di atas ditemukan beberapa tanda tipe ikon pada gambar 4.8 yang diambil dari film Sang Pemimpi. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui table 4.3. table tersebut diadaptasi dari segitiga elemen makna Pierce.

Table 4.3

Makna Tanda Tipe Ikon Pada Gambar 4.8

No. Tanda Objek Interpretant

1. Gambar guru Sama dengan tanda Seorang pendidik yang galak

2. Gambar foto presiden Sama dengan tanda Pada tahun 80an pemimpin negara Indonesa adalah Presiden Soeharto 3. Gambar foto wakil presiden Sama dengan tanda Pada tahun 80an wakil Presiden

(34)

adalah Umar Wirahadikusumah 4. Gambar foto burung garuda Sama dengan tanda Lambang dari negara RI

5. Gambar latar belakang Sama dengan tanda Setting kelas di dalam sekolah terdapat papan tulis

6. Gambar properti yang digunakan

Sama dengan tanda Eksistensi suatu alat bantu dalam proses belajar mengajar di kelas.

Tanda ikon nomor 1 terdapat tanda berupa visual gambar guru sedang mengajar bernama Pak Mustar. Berdasarkan hubungan tanda dan objek pada tanda tipe ikon maka tanda dan objek dirujuk sama yaitu sama-sama gambar guru, tetapi dalam perannya di film Sang Pemimpi, beliau juga seorang kepala sekolah di SMA Negeri Manggar. Ini merupakan manifestasi suatu sifat khas dalam lembaga pendidikan, yaitu seorang guru kerap menjadi panutan bagi anak-anak murid yang diajarnya. Dimana seorang guru yang tegas menjadi pusat dari kekuatan di sekolah. Disini Pak Mustar yang juga kepala sekolah, digambarkan menjadi sosok yang galak, tegas, dan ditakuti. Penggaris yang dipegangnya menjadi senjata dan kekuatan baginya ketika proses belajar-mengajar berlangsung, kalau dia kesal dia memukul meja menggunakan penggaris itu.

Pak Mustar juga menunjuk seorang anak muridnya bernama Maden untuk menjawab pertanyaannya, ketika Maden menjawab salah dia memukul meja dengan keras, dan mengatakan anak muridnya bodoh. Secara close up penggaris itu dipegang oleh Pak Mustar, lalu dia melihat sekeliling anak murid-muridnya. Ada salah satu anak yang duduk di dekatnya menguap, Pak Mustar lalu menunjuknya.

(35)

Pak Mustar : Maden, apa artinyasurvivalof the fittest?

Dengan gugup dan muka ketakutan, Maden menjawab “siapa yang kuat dia yang tahan Pak.”

Pak Mustar menggebrak meja dengan menggunakan penggaris yang di pegangnya. „Bodoh, kenapa kalian bisa sebodoh ini? survival of the fittest artinya yang paling bisa menyesuaikan diri lah, yang sanggup bertahan hidup. Makanya terjadi evolusi. Kalian harus ingat itu, pelajarilah ilmu pasti. Supaya kalian menjadi orang pintar, bisa jadi pemimpin. Jangan kalian Cuma bisa jadi bicara, berkhalayal, nyanyi-nyanyi. Orang melayu sekarang ini pemalas, perubahan datang malah dijawab dengan mengoceh di warung kopi. Akibatnya, dirampok habis-habisan diam saja.”

Pletaaak… suara meja lagi yang di gebrak dengan menggunakan penggaris oleh Pak Mustar.

Interpretasi dari tanda kritik pendidikan disimbolisasikan melalui ucapan beliau tentang orang melayu yang pemalas, sehingga menjadi bodoh. Kata bodoh yang ditujukan kepada murid-muridnya juga merupakan penghinaan karena belum bisa menjawab pertanyaannya. Sikap tegas dan galak, juga kerap menjadi sebuah kritik, ucapan seorang guru seharusnya memberi motivasi agar murid-muridnya tidak ketakutan.

Tanda ikon nomor 2 terdapat visualisasi gambar foto presiden Soeharto. Film ini di setting pada tahun 80-an, di tahun tersebut Pak Harto masih berkuasa memegang kendali negara RI. Pada saat itu masih banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Namun sampai saat ini, pada kenyataannya pemerintahan belum juga bisa meratakan pendidikan.

Tanda ikon nomor 3 terdapat visualisasi gambar foto wakil presiden yaitu Umar Wirahadikusumah. Keberadannya menunjukkan bahwa beliau sebagai pendamping presiden yang menjabat di tahun 80-an.

(36)

Tanda ikon nomor 4 gambar garuda pancasila dimana lambang tersebut merupakan lambang negara RI. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu.” Makna lain dari burung garuda adalah menggambarkan perbedaan yang ada di Indonesia tidak boleh terjadi konflik, kita harus bersatu agar menjadi bangsa yang kuat. Namun, banyak anak-anak sekarang tidak menghapal ke lima pancasila yang ada di dada burung garuda, semakin banyak perubahan zaman, makin banyak yang melupakan sang burung garuda pancasila ini.

Tanda ikon nomor 5 yaitu gambar latar belakang yang ada pada frame tersebut, yaitu setting suasana di dalam kelas, terdapat papan tulis, yang digunakan sebagai berlangsungnya proses belajar mengajar. Papan tulis tahun 80-an hingga saat ini masih ada di Belitung. Sekolah di s80-ana masih s80-angat tradisional sekali, kurang mendapat perhatian dari pemerintah sehingga akan sarana dan fasilitas yang memadai.

Tanda ikon nomor 6 yaitu gambar properti yang ada di tangan Pak Mustar. Sebuah penggaris panjang yang terbuat dari kayu itu memiliki kekuatan bagi guru tersebut, merubah fungsi menjadi gebukan bukan untuk menggaris di papan tulis. Anak-anak muridnya yang kaget karena suara gebukan penggaris tersebut menjadi kaget dan ketakutan, hal ini berdampak tidak begitu baik karena akan membuat mereka tertekan.

(37)

Makna Tanda-tanda Tipe Indeks

Dari identifikasi dan klasifikasi pada tabel 4.2 ditemukan beberapa tanda tipe indeks pada gambar 4.8. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4

Makna Tanda Tipe Indeks Pada Gambar 4.8

No. Tanda Objek Interpretant

1. Warna baju yang digunakan

Warna cokelat, khas yang digunakan seragam guru.

Warna cokelat yang dikenakan yaitu memiliki minat yang kuat, dan mantap

2. Ekspresi muka Menunjukkan orang galak, dan disegani. Pandangannya tajam.

Ketergantungan murid-murid kepada guru sebagai seorang pendidik.

3. Latar Belakang Papan tulis jenis blackboard Cenderung blackboard itu warna hitam, agar bisa kontras dengan kapur tulis yang berwarna putih.

4. Penggaris yang dipegang Menunjukkan suatu alat yang digunakan untuk menggaris

Penggunaaannya ternyata menjadi senjata sebagai kekuatan bagi guru tersebut.

Pada tanda indeks nomor 1 ada tanda-tanda berupa warna-warna identitas seragam seorang guru. Secara indeksial warna cokelat mengacu pada seragam guru dan juga seragam di lembaga pemerintahan. Interpretant yang terbentuk adalah warna cokelat identik dengan warna tanah, biasanya digunakan untuk mereka yang memiliki minat yang kuat dan mantap. Dan sikap tersebut memang mempunyai tujuan untuk membimbing para murid-muridnya.

(38)

Pada tanda indeks nomor 2 pandangan terhadap anak didiknya dengan raut muka yang galak dan tegas tersebut berharap mendapat pengakuan agar disegani, agar mereka menurut kepada guru tersebut.

Pada tanda nomor 3 yaitu latar belakang dari frame itu sebuah papan tulis berwarna hitam. Dipasang di tembok agar guru bisa menulis materi yang akan diberikan kepada murid-muridnya. Interpretant yang terbentuk adalah posisi guru selalu di depan dan berhadapan dengan murid-muridnya ketika sedang menjelaskan pelajaran.

Tanda indeks nomor 4 yaitu penggaris yang dipegang. Secara indeksial menunjukkan suatu alat yang digunakan untuk menggaris. Namun karena Pak Mustar kesal terhadap anak muridnya yang tidak bisa menjawab pertanyaanya, penggaris itu emnjadi senjata untuk menggebrak meja, jika anak-anaknya ketakutan bermaksud agar anak-anaknya belajar lebih keras lagi.

Makna Tanda-tanda Tipe Simbol

Dari identifikasi dan klasifikasi pada tabel 4.2 ditemukan beberapa tanda tipe simbol pada gambar 4.8. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5

Makna Tanda Tipe Simbol Pada Gambar 4.8

No. Tanda Objek Interpretant

1. Tulisan “evolusi” yang tertutup badan pak guru.

Materi “evolusi‟ yang ditulis di papan tulis.

Materi tersebut dijelaskan oleh guru kepada anak muridnya. 2. Lambang burung garuda

yang ada di foto.

Garuda pancasila sebagai lambang negara.

Lambang ini diletakkan di dalam ruang kelas.

(39)

Tanda simbol nomor 1 tulisan yang tertutup oleh Pak Mustar itu adalah “evolusi” dimana menunjukkan bahwa materi yang akan diajarkan kepada anak muridnya yaitu mengenai teori evolusi. Ini menciptakan interpretant bahwa pelajaran di dalam kelas sedang berlangsung.

Tanda simbol nomor 2 adalah lambang garuda pancasila yang terletak di antara presiden dan wakil presiden. Lambang tersebut kerapkali ada di lembaga pendidikan, karena itu merupakan lambang negara Indonesia. Jadi sebagai seorang yang berpendidikan diharapkan bisa mengerti dan mengamalkan pancasila ke dalam keseharian mereka sebagai warga Indonesia yang baik.

Gambar 4.9

Tabel 4.6

Identifikasi Tanda Pada Gambar 4.9

Jenis Tanda Unit Analisis

Ikon

Gambar bangunan sekolah Gambar papan nama sekolah

(40)

Gambar pagar sekolah Gambar atap sekolah

Gambar tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron Gambar anak-anak pergi ke sekolah

Indeks

Warna baju yang digunakan Tas yang digunakan

Tingkah laku tokoh Ikal, Arai, Jimbron Latar Belakang

Simbol Tulisan SMA Negeri Manggar

Makna Tanda-tanda Tipe Ikon

Dari identifikasi dan klasifikasi table 4.6 di atas ditemukan beberapa tanda tipe ikon pada gambar 4.9 yang diambil dari film Sang Pemimpi. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui table 4.7 sebagai berikut :

Table 4.7

Makna Tanda Tipe Ikon Pada gambar 4.9

No. Tanda Objek Interpretant

1. Gambar bangunan sekolah Sama dengan tanda Bangunan sekolah sangat sederhana. 2. Gambar papan nama

sekolah

Sama dengan tanda Menunjukkan nama sekolah

3. Gambar pagar sekolah Sama dengan tanda Pagar sekolah sederhana, dengan besi berkarat, dan tembok cat putih usang. 4. Gambar atap sekolah Sama dengan tanda Atap sekolah terbuat dari seng. 5. Gambar tokoh Ikal, Arai,

dan Jimbron

Sama dengan tanda Ekspresi kegembiraan karena bisa melanjutkan ke SMA, meskipun sekolahnya sederhana.

6. Gambar anak-anak pergi ke sekolah

Sama dengan tanda Anak-anak yang lain pergi menuju ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan.

(41)

Pada tanda ikon nomor 1 menunjukkan bangunan sekolah yang sangat sederhana sekali, dimana pada film Sang Pemimpi ini setting di lakukan di daerah Belitung, sesuai dengan cerita dalam novelnya. Pendidikan itu penting bagi masa dengan seseorang, pendidikan bisa mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Beruntung bagi mereka yang bisa mengenyam pendidikan, mereka memiliki peluang lebih besar untuk menempati posisi penting di suatu perusahaan dengan

background pendidikan yang dimiliki. Namun, bangunan sekolah yang sederhana ini, seolah tak mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerataan pendidikan sampai ke pelosok daerah belum tuntas, pencangan kegiatan BOS juga masih dirasa kurang, mengingat masih banyak yang putus sekolah di negara ini.

Pada tanda ikon nomor 2 berupa papan nama yang memberikan keterangan suatu lembaga sekolah. Pada gambar 15 tersebut member identitas sekolah SMA Negeri Manggar. Dimana bila dikaitkan dengan tanda, kritik pendidikan melalui sekolah inilah cermin realitas sosial sebagai potret pendidikan di Indonesia.

Pada tanda ikon nomor 3 ada gambar visualisasi pagar sekolah yang sudah usang, besinya karatan, dan temboknya yang di cat putih juga usang dimakan oleh waktu.

Pada tanda ikon nomor 4 perhatikanlah atap sekolahnya terbuat dari seng, usang dan sudah tua termakan usia. Sekolah ini merupakan sekolah yang pertama di Manggar, tak heran jika bangunannya usang.

Gambar ikon nomor 5 ada tokoh utama dalam film Sang Pemimpi yaitu, Ikal, Arai dan Jimbron yang sedang pergi menuju ke sekolah SMA Negeri

(42)

Manggar. Di kampung halaman Ikal di Gantong belum ada SMA, makanya Ikal dan Arai pindah ke Manggar dan bertemu Jimbron yang akhirnya menjadi sahabat mereka. Interpretasi disini terbentuk yaitu sangat sedikit sekolah yang ada di daerah Belitung. Hanya sedikit pula kesempatan bagi mereka bisa mendapat pendidikan, dan suasana di film itu di setting pada tahun 80-an. Namun, jika kita perhatikan apa bedanya dengan situasi saat ini, realitas yang ada mengkonstruksi bahwa kondisi sekolah di Belitung mewakili sekolah di Indonesia ternyata belum banyak kemajuan yang berarti.

Gambar ikon nomor 6 yaitu menunjukkan anak-anak yang lainnya teman Ikal, Arai, dan Jimbron juga pergi menuju sekolah SMA Negeri Manggar. Mereka juga termasuk yang beruntung bisa mengenyam pendidikan. Dengan penuh keceriaan dan semangat yang bergelora, mereka belajar di sekolah yang sederhana tersebut dengan sungguh-sungguh.

Makna Tanda-tanda Tipe Indeks

Dari identifikasi dan klasifikasi pada tabel 4.6 ditemukan beberapa tanda tipe indeks pada gambar 4.9. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui tabel 4.8 sebagai berikut:

Tabel 4.8

Makna Tanda Tipe Indeks Pada Gambar 4.9

No. Tanda Objek Interpretant

1. Baju yang digunakan Baju seragam sekolah putih abu-abu

Seragam sekolah berwarna putih abu-abu adalah seragam SMA.

(43)

2. Tas yang digunakan Tas selempang sederhana yang sering terpakai dan terlihat lusuh.

Kebutuhan perlerngkapan sekolah

3. Arah murid-murid Menunjukkan ke arah pintu masuk utama sekolah

Tujuan mereka berangkat ke sekolah ingin masuk ke dalam kelas.

4. Gambar sekolah Lembaga pendidikan Kebutuhan untuk mendapat ilmu pengetahuan dalam lembaga formal.

Tanda indeks nomor 1 merupakan seragam sekolah putih abu-abu yang digunakan murid-murid menuju ke sekolah adalah seragam SMA. SMA Sekolah Menengah Atas, termasuk jenjang yang tinggi dalam menuju rencana atau program pemerintah wajib belajar 12 Tahun.

Tanda indeks nomor 2 tas selempang sederhana yang digunakan murid-murid sangat sederhana sekali. Mereka jauh dari kesan fashionable, memiliki tas sebagai perlengkapan sekolah untuk membawa buku dan alat tulis saja sudah sangat bersyukur sekali.

Tanda indeks nomor 3 menunjukkan ke arah pintu masuk utama sekolah. Arah jalan mereka semua pun sama menuju pintu masuk ke sekolah SMA Manggar yang sangat sederhana. Dimana tujuan mereka adalah untuk bersiap menuju kelas agar mendapat materi dari guru.

Tanda indeks nomor 4 menunjukkan indeksial bahwa setiap orang berhak mendapat pengajaran. Karena itu merupakan suatu kebutuhan, namun interpretasi yang terbentuk adalah tidak semua anak-anak di Indonesia mendapat pengajaran di lembaga formal tersebut, karena biayanya yang mahal banyak anak yang putus sekolah seperti yang dikatakan oleh Everet Reimer.

(44)

Makna Tanda-tanda Tipe Simbol

Dari identifikasi dan klasifikasi pada tabel 4.6 ditemukan beberapa tanda tipe simbol pada gambar 4.9. Tanda-tanda bersama maknanya dijelaskan melalui tabel 4.9 sebagai berikut:

Tabel 4.9

Makna Tanda Tipe Simbol Pada gambar 4.9

No. Tanda Objek Interpretant

1. Tulisan SMA Negeri Manggar di papan nama pintu masuk.

Sekolah SMA Negeri Manggar.

SMA Negeri Manggar adalah sekolah SMA yang pertama di Manggar.

2. Baju Seragam yang digunakan.

Baju putih abu-abu. Menunjukkan jenjang pendidikan SMA.

Tanda simbol nomor 1 papan nama sekolah warna putih yang bertuliskan warna hitam menunjukkan lembaga sekolah SMA Negeri Manggar. Interpretant yang terbentuk adalah, bahwa sekolah SMA Negeri Manggar ini bangunannya sederhana sekali, dengan fasilitas dan sarana yang pas-pasan kurang memadai, masih sangat tradisional jauh dari kemajuan teknologi. Sekolah seperti yang pada settingan tahun 80-an tersebut masih ada sampai saat ini, tidak hanya di Belitung saja. SMA Negeri Manggar menjadi potret realitas saja yang ada di Indonesia.

Tanda Simbol nomor 2 baju putih abu-abu itu sudah sejak dulu ditetapkan menjadi seragam SMA. Dimana kalau warna putih biru menunjukkan anak SMP. Dan putih merah menunjukkan seragam yang dipakai anak SD. Dengan kondisi baju yang sederhana, tanpa peraturan, ada yang dikeluarkan bajunya, ada yang tidak memakai ikat pinggang, mereka terkesan bebas. Berbeda aturan yang saat ini

(45)

dibuat lebih fashionable, ada baju batik, ada baju putih hitam yang dipakai tiap hari jumat, sepatu harus warna hitam, kaos kaki berwarna putih. Namun nyatanya jika lebih ketat lagi aturan tentang berpakaian seragam, cenderung bagi anak-anak zaman sekarang banyak yang melanggarnya. Interpretasi yang terbentuk disini adalah sekolah SMA Negeri Manggar tidak mengenal fashion dan aturan tentang berseragam, mereka hanya tau putih abu-abu adalah seragam yang digunakan untuk pergi ke sekolah.

4.5 Pembahasan Hasil Analisa

Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana tanda-tanda yang terdapat pada Film Sang Pemimpi. Dari hasil analisa tanda pada film Sang Pemimpi dalam unsur makna Charles Sanders Pierce, diformulasikan dalam bentuk pertanyaan serta dideskripsikan terhadap unsur setting, karakter penokohan, penyuntingan, alur cerita serta komponen dari pendidikan sepanjang cerita film ini. Pada teori

Pierce tanda dibentuk oleh hubungan representamen yang oleh Pierce disebut juga tanda (sign) berhubungan dengan objek yang dirujuknya, dan kemudian hubungan tersebut membuahkan interpretant.

Film Sang Pemimpi mengambil setting di Belitung dibuat seperti pada tahun 80-an. Seperti diketahui bahwa pulau Belitung merupakan pulau yang kaya akan hasil alamnya yang melimpah ruah, tanah yang luas warisan nenek moyang. Perekonomian kebanyakan menjadi nelayan. Namun keberadaan PN Timah yang juga menguasai perekonomian disana menjadi tidak berarti. Karena hegemoni kekuasaan di daerah tersebut tidak bisa menghidupi seluruh masyarakatnya.

(46)

Malah masyarakat setempat menjadi buruh rendahan dan pesuruh saja. Sungguh hal yang sangat ironi sekali.

Ditemukan unsur makna dari objek yang merupakan sekolah SMA Negeri Manggar di Belitung dan menginterpretasikan lembaga pendidikan dimana sekolah tersebut merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar. Sekolah Manggar adalah sekolah yang pertama di sana, kondisinya sangat sederhana dengan sarana dan fasilitas seadanya. Sekolah disini digambarkan masih sangat sedikit jumlahnya dan kurang perawatan dengan bangunan yang sudah termakan usia. Mereka juga belum dipengaruhi akan teknologi. Mereka seperti masih bersekolah di saat pendidikan tradisional saja, dimana saat itu penyelenggaraan pendidikan di nusantara dipengaruhi oleh agama Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Protestan.

Tokoh utama Ikal, Arai, dan Jimbron yang menginjak usia remaja saatnya mencari identitas, dalam alur cerita ditemukan tentang kenakalan remaja yang dilakukannya, mereka juga harus menentukan prioritas dan harus bertanggung jawab. Perbedaan pendapat membuat mereka akhirnya mengerti satu sama lain untuk selalu saling memafkan. Pikiran yang mudah dipengaruhi ketika Ikal bolos sekolah berhari-hari, itu hal yang labil dilakukan anak seusianya. Itulah potret pendidikan di Indonesia.

Kenyataan dengan segala keterpurukan kebodohan, bangsa ini masih saja tidak bergerak menuju perubahan yang berarti hanya diam di tempat. Pendidikan di segala daerah masih belum merata, pencanangan kegiatan sekolah wajib belajar 12 tahun yang semestinya menjadi perhatian dari pemerintah seolah diabaikan

(47)

begitu saja. Mengingat masih banyak anak yang terlantar dan terancam putus sekolah.

Digambarkan dalam film ini pakaian seragam yang dikenakan sudah terlihat lusuh, menandakan dari kalangan kaum yang tidak mampu. Kegigihan ketiga tokoh utama dalam menghadapi hambatan dan cobaan akhirnya mereka bisa keluar dari kemerosotan dan penindasan penguasa. Karena biar bagaimanapun juga seseorang yang memiliki background dari pendidikan yang tinggi bisa mendapat hal yang lebih dari suatu jabatan.

Kenyataannya masih banyak ironi yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia. Bangsa ini akan lama sekali menjadi bangsa yang pendidikannya merata dari sabang sampai merauke, itulah pesan yang ingin disampaikan pada film ini, adanya kesenjangan sangat jelas disajikan dalam film ini. Hal tersebut tersirat jelas dari gambar-gambar yang merupakan perwakilan dari yang diambil untuk analisa data, menunjukkan simbolisasi kritik pendidikan di pulau Belitung. Dalam teori Pierce, antara objek dan interpretant bisa mengandung makna lain sebagai bentukan dari tanda yang dimunculkan untuk mengungkap suatu realitas sosial.

Gambar yang ditunjuk sebagai representament dari objek yang dirujuknya menginterpretasikan simbol-simbol mengenai kritik pendidikan yang ada di Indonesia. Selain itu dari ikon, indeks dan simbol yang berhubungan dengan tanda verbal maupun non verbal dari kritik pendidikan terbentuk sebuah pesan yang ingin disampaikan dari gambaran dalam film tersebut.

(48)

Pembuktian dari teori Pierce, dimana adanya interpretasi dari objek yang diidentifikasi disini mengungkapkan simbolisasi yang terkait dengan tanda kritik pendidikan dalam film Sang Pemimpi. Kritik Pendidikan disimbolisasikan melalui tanda-tanda yang sama dengan tanda-tanda yang dapat mewakili positioning keseluruhan yang ingin di sampaikan dalam film ini kepada khalayak.

Dilihat dari komponen-komponen pendidikan menurut P.H. Combs yang terkait dengan simbol-simbol menginterpretasikan bahwa unsur makna yang terungkap terkait dengan adanya hegemoni kekuasaan dan marginalisasi masyarakat karena daerah Belitung yang berada di pelosok daerah.

Gambar

Gambar tersebut ada gambar papan tulis, dua batang kapur tulis, penggaris  panjang  yang  terbuat  dari  kayu,  dan  sebuah  penghapus  papan  tulis
Gambar  ikon  nomor 6  yaitu  menunjukkan anak-anak  yang  lainnya teman  Ikal, Arai, dan Jimbron juga pergi menuju sekolah SMA Negeri Manggar

Referensi

Dokumen terkait

Skor terendah berkenaan dengan tanggapan responden pada variabel kualitas pelayanan berada pada indikator kehandalan item pertanyaan ke tiga “Pihak BMT Amanah

Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut peraturan pemerintah no 71 tahun 2015 tentang standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah ukuran- ukuran normatif yang

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada guru SMA Antartika Sidoarjo, dapat diketahui bahwa konsep diri yang dimiliki guru secara rata-rata berada pada kategori

a.. Sistem informasi akuntansi penjualan tunai yang terjadi pada Toko Buku Riyadh yaitu mulai dari pelaggan datang langsung ke toko. Bagian Kasir akan mencatat

Analisis Tata Cara Penerbitan Surat Teguran Penyampaian SPT Masa Didalam keputusan Menteri Keuangan dan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak telah diatur mengenai Tata

Sedangkan pada keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, dan hanya mempunyai anak perempuan maka keluarga tersebut akan mengambil anak laki-laki yang akan

UD Ismail merupakan sebuah distributor berbagai macam alat-alat mesin seperti vanbelt, pully mku, bearing, alat elektrik, alat pompa air, alat mesin, oil seal, dan pompa

PDA adalah remaja pertama dari tiga orang bersaudara yang juga mengalami pelecehan seksual berupa percobaan pemerkosaan. Subjek dengan ciri-ciri rambut ikal, bermata