BAB I
PENDAHULUAN
1 HULUAN
1.1 Latar Belakang
TNI Angkatan Laut sebagai bagian dari sistem pertahanan negara telah menetapkan cetak biru (blue print) postur kekuatannya (Keputusan Kasal Nomor Kep/2/II/2006). Penetapan cetak biru postur kekuatan tersebut selain didasarkan pada luas area penugasan yang mencakup seluruh wilayah perairan dalam yurisdiksi nasional, juga didasarkan atas prediksi ancaman yang kemungkinan akan terjadi. Komponen utama postur kekuatan TNI Angkatan Laut adalah Alat Utama Sistem Senjata atau yang disebut Alutsista, terdiri dari: kapal perang (KRI), pesawat udara, kendaraan tempur marinir dan persenjataan perorangan (Peraturan Kasal Nomor Perkasal/24/IV/2011).
Pemenuhan terhadap kebutuhan alutsista sebagai komponen utama postur kekuatan TNI Angkatan Laut tetap selalu memperhatikan faktor kondisi dan kebijakan pemerintah, sehingga realisasi pengadaannya harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan berdasarkan skala prioritas. Dengan dasar tersebut TNI Angkatan Laut dalam mewujudkan postur kekuatan, untuk periode tahun 2010 s/d 2024 diarahkan untuk terwujud kekuatan pokok minimum (Minimum
Essensial Force/MEF) (Peraturan Kasal Nomor Perkasal/24/IV/2011). Di samping itu, Pemerintah juga telah menetapkan kebijakan untuk mengurangi
pengadaan Alutsista dari luar negeri dan meningkatkan pengadaan Alutsista dari dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Pada pasal 43 ayat 1: “Pengguna wajib menggunakan alat
peralatan pertahanan dan keamanan produksi dalam negeri”, sedangkan pada pasal 9 yang berbunyi: “Industri Pertahanan bertanggung jawab untuk membangun kemampuan dalam menghasilkan alat peralatan pertahanan dan keamanan”. TNI Angkatan Laut mendukung kebijakan ini dengan melaksanakan pengadaan kapal-kapal perang yang diproduksi dari galangan kapal nasional (Peraturan Kasal Nomor Perkasal/16/XII/2014).
Khusus untuk kebutuhan kapal perang (KRI), TNI Angkatan Laut telah mengambil aksi nyata yaitu dengan pengadaan kapal-kapal dari galangan kapal nasional. Hal ini dapat dilihat dari catatan pembangunan kapal-kapal berikut ini: BCM di PT Dock Koja Bahari, KCR-60 di PT PAL, PC di PT Palindo Marine dan PT Citra. Walaupun pembangunan kapal-kapal oleh galangan nasional masih belum dapat memenuhi kualitas yang diharapkan serta waktu penyelesaian yang selalu mundur dari jadwal yang seharusnya, TNI Angkatan Laut tetap berkomitmen untuk mendukung pemberdayaan industri pertahanan nasional (Peraturan Kasal Nomor Perkasal/16/XII/2014).
Salah satu program pembangunan kekuatan TNI Angkatan Laut adalah pemenuhan akan kapal (KRI) jenis Perusak Kawal Rudal (PKR). Kapal perang jenis PKR merupakan kapal kombatan atau kapal penempur yang di dalamnya dilengkapi dengan sistem persenjataan yang mampu untuk melaksanakan peperangan melawan pesawat udara, kapal permukaan, kapal selam dan peperangan elektronika. Kapal perang jenis PKR juga didisain mampu melaksanakan pertempuran, baik dalam suatu gugus tugas maupun pertempuran secara mandiri. Dalam operasi pendaratan amfibi, kapal perang jenis PKR ini
juga dapat digunakan untuk melaksanakan bantuan tembakan kapal yaitu bombardir ke pantai sebelum pasukan Marinir didaratkan. Dalam perspektif teknis, fisik kapal perang jenis PKR dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yaitu bagian bangunan badan kapal dan pendorongan yang dikelompokkan ke dalam bagian platform, sedangkan bagian navigasi, komunikasi dan persenjataan, dikelompokkan ke dalam Sewaco (Sensor, Weapon And Command Control) (Peraturan Kasal Nomor Perkasal/24/IV/2011).
Selama ini pemenuhan terhadap kebutuhan KRI jenis PKR adalah dengan jalan mendatangkan kapal perang dari luar negeri, baik dalam kondisi bekas maupun dalam keadaan baru. Hal ini dikarenakan industri galangan kapal dalam negeri (nasional) belum pernah ada yang membangun/memproduksi kapal perang jenis PKR. Saat ini TNI AL tengah mengadakan 2 (dua) unit kapal PKR dari galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda. Dalam membangun kapal-kapal tersebut, DSNS membentuk suatu konsorsium yang mengintegrasi pemasok bahan baku, vendor-vendor peralatan sewaco dan pendukung kebutuhan keuangan melaksanakan proyek pembangunan kapal sesuai fungsi dan tugas masing-masing.
DSNS melaksanakan tugas dan fungsi pembangunan kapal bagian platform, yang juga tetap didukung oleh vendor-vendor lain. Sedangkan untuk bagian combat system dilaksanakan oleh Thales, yang juga didukung vendor-vendor lain. DSNS sebagai galangan kapal bertindak sebagai main contractor dan menjadi lead integrator dalam menyelesaikan seluruh kegiatan proyek pembangunan kapal. Terhadap kebutuhan kapal PKR ini, pemerintah sangat ingin
kapal tersebut dapat dibangun secara mandiri oleh PT PAL Indonesia (Persero). Namun berdasarkan catatan produksi PT PAL Indonesia (Persero), kapal-kapal perang yang telah dibangun berjenis Fast Patrol Boat 57 (FPB-57), seperti: KRI Hiu, KRI Todak, KRI Layang dan KRI Lemadang. Selain itu PT PAL Indonesia (Persero) juga pernah membangun 2 (dua) unit kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) dengan panjang 125 meter yang dirancang sebagai kapal angkut personel (Mirna, 2009).
Berdasarkan pengalaman DSNS Belanda dalam membangunan kapal perang jenis PKR, pembangunan sebuah kapal kombatan yang kompleks seperti kapal perang jenis PKR memerlukan kesiapan teknologi dan tata kelola yang mampu mengelola sebuah konsorsium yang melibatkan banyak vendor maupun pemasok. Mengingat PT PAL Indonesia (Persero) merupakan sebuah perusahaan galangan kapal dimana kompetensi utamanya adalah membangun platform kapal, seperti halnya DSNS, maka seharusnya PT PAL Indonesia (Persero) mampu membangun kapal perang jenis PKR dengan cara yang sama, yang dilakukan oleh DSNS (PT PAL Indonesia (Persero), “Company Profile”).
PT PAL Indonesia (Persero) belum memiliki pengalaman membangun kapal perang jenis PKR tersebut, maka perlu dilaksanakan sebuah penelitian untuk kesiapan PT PAL Indonesia (Persero) untuk mengemban rencana strategis tersebut. Penelitian dilaksanakan dengan judul “Studi Kelayakan PT PAL Indonesia (Persero) untuk Pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) Dalam Rangka Ketahanan Alutsista TNI Angkatan Laut”. Melalui penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini, diharapkan
peneliti mampu menguraikan secara mendalam setiap akar permasalahan yang muncul sekaligus menformulasikan solusi pemecahannya. Dengan demikian penelitian ini akan memberikan manfaat yang besar bagi organisasi TNI.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan utama yang menjadi pokok penelitian ini adalah kesiapan, kendala dan strategi PT PAL Indonesia (Persero) untuk melaksanakan proyek pembangunan kapal perang jenis PKR secara mandiri dalam rangka ketahanan alutsista TNI Angkatan Laut. Berdasarkan permasalahan utama tersebut, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana kesiapan PT PAL Indonesia (Persero) dalam membangun kapal perang jenis PKR yang dibutuhkan oleh TNI AL?
2. Apa yang menjadi kendala PT PAL Indonesia (Persero) untuk mampu melaksanakan pembangunan kapal perang jenis PKR?
3. Bagaimana strategi PT PAL Indonesia (Persero) dalam membangun kapal perang jenis PKR?
1.3 Keaslian Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan fokus pada proses pendeskripsian strategi yang ditempuh PT PAL Indonesia (Persero) untuk mencapaian kesiapan yang dibutuhkan dalam membangun kapal perang jenis PKR, mengingat perusahaan galangan kapal tersebut tidak memiliki pengalaman membangun kapal perang yang membutuhkan integrasi dari sistem yang sangat kompleks.
Penelitian tentang kesiapan PT PAL Indonesia (Persero) dalam membangun kapal perang jenis PKR dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif ini belum pernah dilaksanakan oleh peneliti lainnya. Meskipun demikian, terdapat beberapa penelitian tentang kemampuan PT PAL Indonesia (Persero), yang terkait dan sangat berguna sebagai tinjauan pustaka dalam penelitian ini. Penelitian-penelitian terdahulu tersebut antara lain: penelitian Mirna (2009) yang berjudul: “Kajian Efisiensi Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis PT. PAL Indonesia”, penelitian Bakhtiar, A.I., (2014) dengan judul “Analisis Pemilihan Galangan Kapal Nasional Untuk Pembangunan Kapal Perang Kelas Sigma 10514 Berdasarkan Multi Kriteria dengan Metode Fuzzy AHP”, penelitian Traymansah, Soejitno dan Pribadi (2012) dengan judul “Analisa Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil Untuk Mendukung Peningkatan Produksi Pembangunan Kapal Baru di Galangan-Galangan Kapal di Surabaya”, penelitian Esti Perwitasari (2003), dengan judul “Strategi Peningkatan Mutu Produk Divisi Kapal Niaga di PT PAL Indonesia”, penelitian Abimanyu Hilmawan (2010) dengan judul “Budaya organisasi: Faktor Kesuksesan PT PAL Menjadi Perusahaan Kelas Dunia”. Penelitian-penelitian terdahulu yang menjadi landasan pustaka penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 1.1 di bawah ini.
Selain itu terdapat beberapa penelitian yang tidak secara langsung terkait dengan PT PAL, namun sangat terkait dengan variabel-variabel penelitian, meliputi: penelitian Ruuska et al (2013) dengan judul “Supplier Capabilities in Large Shipbuilding Projects”, penelitian Chou Chia-Chan (2012) berjudul “The Assessment of a Country’s Manufacturing Capability: The Case of Shipbuilding in
Taiwan”, penelitian Wu Mei-Ying dan Yung-Chien (2010) berjudul “A Study of Supplier Selection Factors for High-Tech Industries in the Supply Chain”. Tabel 1.1: Tinjauan Pustaka Penelitian
No Penelitian
Terdahulu Masalah Variabel Hasil Penelitian
Kelemahan dan Celah Penelitian Mendatang 1 2 3 4 5 6 1. Bakhtiar, A.I. (2014) Penentuan model pengambilan keputusan multi kriteria (MCDM) untuk penentuan lokasi pergudangan. Costs, labor Character-istics, Infra-structure, Markets, Macro environ-ment Model penentuan lokasi pergudangan menggunakan metode Choquet integral Metode Choquet integral dapat mengakomodasi variabel kualitatif dan kuantitatif. Terjadi ketergantungan antar variabel, shingga disarankan metode ANP untuk penelitian lanjutan.
2. Mirna A.K.
(2009)
Kajian Efisiensi Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis PT. PAL Indonesia Sistem keuangan BUMN, pasar modal PT PAL Indonesia sebagai salah satu BUMNIS yang memproduksi kapal perang dan kapal niaga memperlihatkan
tingkat efisiensi yang rendah.
Tingkat efisiensi hanya dari faktor keuangan, perlu memperhatikan faktor produksi, logistik, dll. 3. Traymansah, Soejitno dan Pribadi (2012) Analisa Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil Untuk Mendukung Peningkatan Produksi Pembangunan Kapal Baru di Galangan-Galangan Kapal di Surabaya Tenaga kerja, ketrampilan, pembangunan kapal baru Penurunan ketrampilan tenaga kerja karena keterlambatan material (logistik) Fokus pada ketrampilan tenaga kerja, namun tidak meneliti tentang kesiapan galangan kapal dari faktor lain, misal fasilitas produksi, dana, dll. 4. Esti
Perwitasari (2003)
Strategi Peningkatan Mutu Produk Divisi Kapal Niaga di PT PAL Indonesia Mutu produk divisi kapal niaga Strategi peningkatan mutu produk.
Mutu produk satu divisi, tidak mewakili PT PAL keseluruhan 5. Abimanyu Hilmawan (2010) Budaya organisasi: Faktor Kesuksesan PT PAL Indonesia Menjadi Perusahaan Kelas Dunia Budaya organisasi, kinerja karyawan PT PAL Budaya organisasi karyawan PT PAL diwarnai faktor iman dan takwa
Pengukuran hanya pada kinerja karyawan, bukan pada kinerja perusahaan.
Penelitian-penelitian dalam Tabel 1.1 memiliki fokus penelitian dan pendekatan analisis yang berbeda, namun memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam memperkuat tinjauan pustaka dan landasan teori dalam perspektif yang saling melengkapi. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang sangat berharga dalam mengoptimalkan strategi yang ditempuh PT PAL Indonesia (Persero) dalam membangun kapal perang jenis PKR. Tabel 1.1 akan didiskusikan lebih detail pada Bab II (Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori) untuk diperoleh jaminan terhadap keaslian penelitian ini.
1.4 Tujuan penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui kesiapan PT PAL Indonesia (Persero) dalam membangun kapal perang jenis PKR yang dibutuhkan oleh TNI AL.
2. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi PT PAL Indonesia (Persero) untuk mencapai kesiapan yang dibutuhkan dalam membangun kapal perang jenis PKR sesuai dengan kebutuhan TNI AL.
3. Mengetahui strategi yang perlu ditempuh oleh PT PAL Indonesia (Persero) untuk mengatasi kendala-kendala yang ada agar dicapai kesiapan dalam membangun kapal perang jenis PKR sesuai dengan kebutuhan TNI AL untuk mendukung ketahanan alutsista TNI AL.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini sangat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi perkembangan dan pengembangan disiplin ilmu Ketahanan Nasional di tanah air, khususnya hal yang terkait dengan penguasaan dan pengembangan teknologi alutsista di dalam negeri dalam rangka memperkuat ketahanan nasional.
2. Manfaat Praktis
a. Kementerian Pertahanan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga kepada Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan dalam mengolaborasikan dan menyinergikan program pembangunan kapal perang jenis PKR yang melibatkan banyak elemen bangsa, seperti: KKIP, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian BUMN, Akademisi (Perguruan Tinggi), Lembaga-Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LIPI, Ristek, Dewan Riset Nasional), serta perusahaan-perusahaan galangan kapal perang (BUMN) baik dari dalam maupun luar negeri.
b. TNI Angkatan Laut
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang sangat berharga bagi TNI Angkatan Laut selaku pengguna alutsista
dalam menetapkan kebijakan untuk mendukung sepenuhnya perkuatan kemandirian industri strategis pertahanan nasional melalui pengadaan dan penggunaan alutsista buatan dalam negeri.
c. PT PAL
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memberikan masukan bagi PT. PAL Indonesia dalam mengoptimalisasi strategi pembangunan kapal perang jenis PKR sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan dari stakeholder yang terkait.