• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN PUBLIK ERA THE NEW NORMAL: KEPALA DAERAH SEBAGAI INOVATOR. R. Siti Zuhro. (Peneliti Utama LIPI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAYANAN PUBLIK ERA THE NEW NORMAL: KEPALA DAERAH SEBAGAI INOVATOR. R. Siti Zuhro. (Peneliti Utama LIPI)"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

PELAYANAN PUBLIK ERA THE NEW NORMAL:

KEPALA DAERAH SEBAGAI INOVATOR

R. Siti Zuhro

(Peneliti Utama LIPI)

Materi ini disampaikan dalam acara Webinar New Normal Life dalam Pelayanan Publik yang diselenggarakan Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan RB

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

DEMOKRASI, OTONOMI DAERAH DAN BIROKRASI

• Demokrasi partisipatoris melalui pilkada langsung merupakan dampak dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah.

• Dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah (otda), kini

rakyat daerah memiliki kedaulatan politik untuk memilih

pemimpinnya dan membangun daerahnya dengan kewenangan yang dimiliki.

• Perubahan fundamental tersebut penting karena tiap-tiap daerah memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri.

• Siapa pun pemenang pilkada, satu hal yang harus diperhatikan adalah pentingnya para kepala daerah untuk melakukan reformasi birokrasi.

(7)

2

Demokrasi dan otda memerlukan birokrasi yang berkualitas.

Dengan rantai birokrasi yang pendek, aparat birokrasi daerah dapat

mendeteksi

langsung

persoalan-persoalan

dan

kebutuhan

masyarakatnya. Ibarat segitiga sama kaki, ada hubungan yang saling

terkait antara demokrasi, otda dan pelayanan publik (reformasi

birokrasi).

Birokrasi yang profesional, efektif, efisien, netral secara politik,

transparan dan akuntabel akan berkorelasi positif terhadap

pelaksanaan otonomi daerah dan peningkatan perekonomian

daerah.

(8)

3

Peran birokrasi sangat krusial karena roda pembangunan

ekonomi daerah digerakkan oleh sebuah mesin birokrasi.

Sebagai mesin yang sangat vital, birokrasi memiliki sistem

dan standar kerja baku sebagai syarat untuk bisa menjadi

profesional.

Untuk itu, perlu diciptakan sistem dan standar kerja birokrasi

dari pusat sampai daerah. Gangguan terhadap sistem dan

standar kerja akan menimbulkan distorsi hebat dalam

efisiensi dan efektivitas.

(9)

4

Asumsinya dengan otonomi daerah, pemda memiliki

keleluasaan untuk menetapkan kebijakan pembangunan di

luar ketentuan-ketentuan yang menjadi urusan pemerintah

pusat.

Jelas, bahwa urusan yang menjadi kewenangan daerah lebih

berkenaan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, undang-undang tentang pemerintahan daerah

pada dasarnya diarahkan untuk mendorong kemajuan

daerah atau menjadikan daerah-daerah sebagai “daerah

pelayan”.

(10)

PILKADA LANGSUNG DAN LAHIRNYA INOVATOR

• Pimpinan daerah diharapkan mampu melakukan

terobosan-terobosan dan inovasi yang positif yang berguna bagi kemajuan daerah dan masyarakatnya. Inilah eranya membangun Indonesia dari daerah.

• Membangun berarti memperbaiki kualitas pelayanan publik dan menjadikan inovasi pelayanan publik sebagai icon baru membangun Indonesia.

• Dengan inovasi pelayanan publik diharapkan ada terobosan yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, dan pemerataan bisa diwujudkan konkrit.

(11)

2

Demokrasi dan otonomi daerah yang masing-masing mulai

diterapkan sejak 1999 dan 2001 semestinya bisa meningkatkan

terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik, yang bersih dan

bukan yang korup.

Karena itu, Pemda dituntut untuk memiliki inisiatif kebijakan

operasional yang bersifat promasyarakat miskin.

Sekarang ini pemda tidak bisa lagi tergantung pada pemerintah

pusat.

Pemda harus mandiri dan bertanggung jawab kepada rakyatnya

dengan mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di

daerahnya.

(12)

3

• Tantangan yang dihadapi pemimpin daerah dewasa ini semakin berat dan kompleks. Apalagi dengan pandemic Covid-19.

• Fenomena tersebut mensyaratkan pemimpin yang berwawasan luas, dan bersifat transformatif dalam memajukan daerah.

• Pemimpin yang memiliki integritas, tidak pernah tersangkut kasus korupsi, pengrusakan lingkungan hidup, pelanggaran dan atau kejahatan kemanusiaan ataupun kegiatan dan perilaku yang merugikan orang banyak dan berkomitmen untuk menunjung tinggi hak-ahak azasi manusia.

• Pemimpin daerah harus memiliki wawasan keindonesiaan dan kedaerahan yang cukup agar mampu menjadi kekuatan pemersatu bagi daerahnya.

(13)

4

• Variatifnya potensi dan kapasitas daerah membutuhkan pemimpin yang berkomitmen untuk memajukan daerah dan mampu pula membuat kebijakan terobosan yang bisa menghapus kemiskinan yang membelit daerah.

• Kebijakan yang berpihak kepada rakyat, bukan kekuatan pemodal atau kekuatan asing.

• Pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan daerah yang dituangkan dalam konsep yang diketahui masyarakat.

• Visi dan misi yang dilaksanakan secara tegas dan jelas selaras dengan kepentingan nasional (sesuai dengan Pembukaan UUD NRI 1945).

(14)

5

Pemimpin harus senantiasa memiliki ketegasan untuk

menentukan sikap dan Langkah/tindakan yang akan

dilakukan untuk menjalankan amanat rakyat.

Pemimpin memang perlu memiliki visi yang baik,

namun tanpa ada ketegasan dan keberanian bertindak

maka akan menjadikan pemerintahannya lemah.

Dengan kata lain, ketegasan dan keberanian dalam

memutuskan suatu kebijakan akan bermanfaat bagi

masyarakat.

(15)

6

• Ketegasan diperlukan ketika pemimpin menghadapi masalah bangsa yang menuntut pengambilan keputusan yang hitam-putih.

Pemimpin harus mengambil keputusan secara jelas, tegas, dan clear untuk memberikan dampak yang positif bagi bergeraknya mesin

birokrasi untuk mendorong terciptanya kebijakan yang

menyejahterakan rakyat.

• Dalam konteks daerah, sangat diharapkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter negarawan lokal (local statemanship) untuk memajukan daerah dan memberdayakan masyarakat.

(16)

7

Bagi rakyat pilkada langsung semestinya bisa memunculkan

kepala-kepala daerah yang visioner, administrator, dan

berjiwa inovator.

Mengapa? Karena mereka diharapkan mampu membenahi

ketertinggalan dan keterbelakangan masyarakat daerah

yang notabene tidak bisa semata-mata dilakukan dengan

cara-cara biasa, tetapi harus dengan cara luar biasa

(inovasi).

Jika tidak, di era pasar bebas dewasa ini dan khususnya era

pasca covid-19 saat ini kita akan makin tergilas oleh dunia

luar.

(17)

8

Upaya ke arah itu sudah ditunjukkan sejumlah kepala

daerah, menteri dan pimpinan lembaga melalui pemberitaan

media, rakyat bisa melihat sejumlah gebrakan yang dilakukan

beberapa kepala daerah, kementerian dan lembaga.

Apresiasi pun sudah pula ditunjukkan, khususnya, oleh

Kemenpan dan Reformasi Birokrasi dengan menggelar

kompetisi inovasi pelayanan publik (sejak 2014) yang

dilakukan untuk menjaring inovasi-inovasi yang dilakukan

daerah, kementerian/lembaga.

(18)

9

• Kompetisi tersebut penting untuk meningkatkan gairah dan antusiasme daerah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanannya kepada rakyat.

• Apalagi Ketika hasil inovasi tersebut diikutsertakan dalam kompetisi tingkat internasional, antusiasme dan semangat K/L dan kementerian semakin menguat.

• Satu hal yang menggembirakan adalah bahwa dalam kompetisi pelayanan publik yang diselenggarakan United Nation Public Service

Award (UNPSA) 2014 dan diikuti 80 negara, 14 inovator pelayanan

publik Indonesia yang diikutsertakan dalam UNPSA tersebut berhasil lolos ke putaran kedua.

(19)

10

• Pada tahun 2015, dari 5 inovator yang masuk menjadi finalis, bahkan, 2 di antaranya berhasil menjadi juara. Tahun 2018 Indonesia Kembali menjadi juara dengan inovator-nya yaitu Teluk Bintuni.

• Dengan capaian seperti itu, inovasi pelayanan publik di Indonesia cukup prospektif, menjanjikan dan bahkan bisa menjadi lesson

learned bagi negara-negara lain di dunia.

• Keberhasilan dalam melakukan inovasi pelayanan publik dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, termasuk khususnya masalah kepemimpinan (leadership) yang ditunjukkan kepala daerah.

(20)

11

Dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah, upaya

melakukan inovasi membutuhkan keberanian pemimpin dalam

mengambil keputusan untuk menerobos kekakuan-kekakuan

birokrasi dan perilaku-perilaku linier yang ada dalam masyarakat.

Terobosan kebijakan dan inovasi yang dilakukan kepala daerah

dan/atau kepala OPD acapkali membuahkan hasil positif bagi

daerah berupa best practices.

Terobosan kebijakan atau inovasi daerah diharapkan bisa

menciptakan kepastian hukum, keamanan, dan mengeliminasi

pungutan liar yang acapkali dikeluhkan publik.

(21)

12

• Di level nasional kebijakan pemerintah diarahkan untuk mendorong

semua kementerian/lembaga dan pemda berlomba-lomba

melakukan kinerja-kinerja bermanfaat untuk rakyat, menggenjot pembangunan dan melibatkan peran rakyat dalam pembangunan.

• Di level lokal, pimpinan daerah diharapkan dapat mendukungnya dengan penerapan peraturan daerah yang pro pelayanan publik sehingga pemberdayaan dan kesejahteraan rakyat tidak terhambat.

• Masalahnya, institusionalisasi inovasi pelayanan publik tak dilakukan secara memadai sehingga kesinambungannya acapkali tak terjamin.

(22)

13

• Hal ini mengesankan bahwa konsistensi dan komitmen

pemerintah/pemda tak meyakinkan, karena setiap ganti pemimpin ganti pula kebijakan.

• Pemerintah/pemda juga acapkali menciptakan peraturan/peraturan daerah (perda) yang justru tidak pro inovasi pelayanan publik.

• Selain itu, daerah-daerah acapkali mencari atau ”mengais-ngais” tambahan pendapatan daerah meskipun dengan cara bertentangan dengan peraturan di atasnya.

• Celakanya, banyak yang tidak mengetahuinya karena ketidakjelasan peraturan di atasnya. Sebaliknya, ada pula yang sudah mengetahui tapi mengabaikannya.

(23)

14

• Bagi rakyat pilkada langsung penting karena dengan itu makin sulit bagi kepala daerah untuk mengabaikan aspirasi rakyat.

• Era pilkada langsung merupakan era untuk membuktikan diri sebagai ”negarawan” dan bukan lagi sebagai ”penguasa” yang hanya memikirkan kelompok dan golongannya saja.

• Dalam hal ini, sudah seharusnya rakyat memiliki kesadaran politik yang tinggi dan tidak lagi menjadi kelompok ’silent majority’.

• Kini sudah saatnya rakyat menjadi penonton aktif sebagai kelas sosial yang berkesadaran politik tinggi untuk selalu mengawasi, meluruskan, dan mendorong lajunya pemerintahan. Ibarat penonton karapan sapi, mereka harus menjadi pemantik, penyemangat, dan pengawas.

(24)

15

• Dengan begitu para kepala daerah akan makin terpicu untuk mampu melakukan perbaikan sistem dan peningkatan peran kepemimpinan (leadership), khususnya dalam menciptakan inovasi, baik untuk memajukan perekonomian maupun pemberdayaan masyarakat.

• Dengan pilkada langsug para kepala daerah dan pemerintah daerahnya dituntut untuk tidak lagi melaksanakan tugas-tugasnya secara linier (business as usual) karena kinerjanya bukan saja diawasi, melainkan juga dinilai.

• Oleh karena itu, mereka harus mampu melakukan terobosan-terobosan atau inovasi untuk memajukan daerah. Dengan kata lain, mereka tak hanya mengedepankan ‘haknya’, tetapi juga ‘kewajibannya’.

(25)

THE NEW NORMAL DAN INOVASI PELAYANAN PUBLIK

• Dengan kebijakan desentralisasi dan otda, tak selayaknya lagi pemda menggantungkan persoalan-persoalan penting daerahnya ke pusat.

• Pemda harus mampu mengatasi permasalahannya sendiri, baik

melalui kerjasama antardaerah maupun dengan membentuk

hubungan yang bersinergi dengan stakeholders terkait di daerah maupun pusat.

• Kerjasama antardaerah dan antara daerah dengan pusat perlu digalakkan untuk menjembatani permasalahan pembangunan yang masih menimbulkan kesenjangan antar daerah. Melalui cara ini pola relasi pusat dan daerah pun diharapkan makin harmonis.

(26)

2

• Ke depan setidaknya ada 7 hal yang perlu diprioritaskan pemda dalam meningkatkan kualitas dan/atau inovasi pelayanan publik:

Pertama, perlunya inisiatif pemda dan pimpinan OPD serta

komunitas-komunitas untuk membuat terobosan positif yang memajukan daerah.

Kedua, peningkatan kualitas pelayanan birokrasi agar tercipta birokrasi yang

profesional, efisien dan efektif. Dalam kaitan ini diperlukan penyusunan kriteria khusus dalam rekrutmen pegawai baru atau pelatihan ulang pegawai lama dengan menerapkan asas meritokrasi berdasarkan kompetensi. Keberhasilan daerah seperti beberapa daerah di Jawa dan di luar Jawa dalam hal public service reform merupakan upaya daerah dalam melakukan rasionalisasi pegawai dan penegakan sistem pelayanan yang ditetapkan.

(27)

3

Ketiga, menyebarluaskan dan mereplikasikan keberhasilan daerah-daerah yang

berhasil melakukan inovasi dan terobosan yang bermanfaat ke daerah-daerah lain.

Keempat, apresiasi dan pemberian penghargaan bagi daerah-daerah yang berhasil

menunjukkan inovasi konkrit.

Kelima, perlunya menjamin kesinambungan inovasi pelayanan publik yang dilakukan

daerah dengan melembagakannya di Pemda agar tak berusia seumur jagung.

Keenam, perlu pembentukan pusat-pusat latihan, studi sampai analisis mengenai

inovasi pelayanan publik yang mempertimbangkan local values, local wisdom dan

local genius, baik di tingkat universitas, civil society, maupun rubrik-rubrik khusus

media massa lokal.

Ketujuh, perlu pula pembuatan sistem data base inovasi pelayanan publik yang

mudah diakses, baik dari segi sumber daya manusia, anggaran, maupun jangka waktu pelayanan.

(28)

4

• Tantangan daerah saat ini dan ke depan akan semakin kompleks dikaitkan dengan era the new normal pasca Covid-19. Mengapa?

• Kehidupan masyarakat Indonesia sejak Maret yang lalu sampai saat ini mengalami perubahan yang cukup dramatis.

• Pola hidup orang Indonesia berubah: mulai dari sisi menjalani hidup sehat, aktivitas sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan hukum.

• Secara umum yang tampak menonjol adalah munculnya kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker, menggunakan sanitizer, menjaga jarak sehat dan tidak bersalaman serta tak berada di kerumunan orang banyak.

(29)

5

• Siswa dan mahasiswa/kampus menjalani sistem belajar mengajar dengan pola distance learning.

• Pegawai diberikan tugas work from home. Rapat-rapat menggunakan virtual meeting. Diskusi, seminar, FGD juga dilakukan secara virtual/webinar.

• Toko-toko besar, sedang, kecil banyak yang tutup. Kuliner demikian juga. Jalanan di Jakarta relatif sepi meskipun biasanya luar biasa macet.

• Tanpa terasa masyarakat Indonesia menjalankan kehidupan dengan pola baru.

(30)

6

• New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan sesuai dengan konteks mengatasi pandemi.

• New Normal diberlakukan dengan kesadaran penuh bahwa wabah masih ada di sekitar kita.

• Untuk itu aktivitas ekonomi/publik dibolehkan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

• Jika dikaitkan dengan pandemi, normal baru adalah situasi atau keadaaan di mana kita melakukan aktivitas normal sehari-hari tetapi dengan pola perilaku yang mengacu pada tatanan baru yang disebabkan Covid-19.

(31)

7

Kehidupan normal baru menuntut sikap kita yang agile (able to move

quickly and easily) dan adaptif meskipun prakondisi itu belum kita

bangun bersama sebelumnya.

Proses learning by doing yang kita jalani sejak Maret 2020 membuat kita tertatih-tatih melangkah karena masyarakat yang terfragmentasi dan kekuatan-kekuatan politik yang juga terfragmentasi membuat soliditas dan upaya membangun tatanan baru yang terintegrasi menjadi tak mudah.

• Demikian juga dengan pelayanan publik yang memerlukan adanya pola baru untuk beradaptasi dengan the new normal.

(32)

8

• Tatanan hidup baru dengan menerapkan protokol kesehatan bukan berarti kembali hidup dalam keadaan sebelum pandemi terjadi. Kebiasaan-kebiasaan baru sudah tercipta sejak Maret seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, menjaga jarak fisik termasuk menjaga daya tahan tubuh wajib dilakukan.

• Pemberlakuan PSBB berdampak langsung terhadap masyarakat, tak terkecuali pada sektor pelayanan publik seperti administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, pelayanan kesehatan di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, pelayanan keuangan pada sektor jasa perbankan dan lain-lain.

• Tercatat sekitar 70,3% responden masih nyaman untuk mengurus sendiri ketimbang menggunakan mekanisme daring atau memakai jasa perantara (Survei Indeks Persepsi Maladministrasi/Inperma yang dilaksanakan oleh Ombudsman RI pada tahun 2019).

(33)

9

• Selain itu, terkait kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan, sebanyak 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.

• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah

menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.

• Hal ini karena kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara

infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang

berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.

(34)

10

• Selain itu, kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan menunjukkan bahwa sekitar 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.

• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.

• Masalahnya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara

infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang

berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.

(35)

11

Kebijakan new normal dengan penerapan protokol kesehatan membuat

akses pelayanan publik kepada masyarakat menjadi terbatas.

• Karena itu, perlu memaksimalkan pelayanan publik dengan beralih ke

sistem online yang selama ini telah berjalan.

Upaya peralihan itu perlu dibarengi dengan memberi

edukasi/pemahaman serta sosialisasi secara masif kepada seluruh elemen masyarakat yang akan mengakses layanan publik untuk memanfaatkan sistem online dalam setiap layanan publik yang akan diakses sehingga pelayanan publik di tengah tatanan kehidupan baru "new normal" tidak terganggu dan menjadi lebih efektif dan efisien.***

(36)

MEMBANGUN DESA /KELURAHAN CERDAS UNTUK

MEWUJUDKAN PELAYANAN PUBLIK

(37)

Referensi

Dokumen terkait

Kabupaten Indragiri mempunyai persentase tertinggi rumah tangga dengan jenis lantai tanah (11,13 persen) sedangkan Kota Dumai persentase terkecil (1,96 persen)Perumahan

Dividend Payout Ratio adalah prosentase laba yang diterima oleh pemegang saham akibat dari laba yang dihasilkanperusahaan, sedangkan Dividend Yield merupakan

1) Membantu proses verifikasi ejaan dan judul atau nama yang benar dari organisasi-organisasi yang telah disinggung dalam wawancara. 2) Menambah rincian spesifik

Sebab seandainya sinema terlalu hanya mengandalkan gambar serta menegasikan eksistensi suara, maka rangkaian proses sangat panjang dari penemuan film terkesan percuma.. Lalu

(2002) di beberapa penggunaan lahan yang berbeda di Kabupaten Bungo, memperlihatkan cadangan karbon di dalam hutan alam sejumlah 250 ton C/ha, di hutan yang masih aktif

Dilihat dari masalah-masalah yang ada pada sistem yang sedang berjalan, perlu dilakukan pengembangan terhadap sistem yang ada.Maka, penulis mengusulkan sebuah aplikasi berbasis

Persamaan alometrik pendugaan biomassa pohon dengan menggunakan variabel bebas diameter pohon dapat dipakai untuk menduga massa biomassa pohon pada perkebunan kelapa

S., 2016, “Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Reformasi Perpajakan Terhadap Manajemen Laba Dan Manajemen Pajak (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang