PELAYANAN PUBLIK ERA THE NEW NORMAL:
KEPALA DAERAH SEBAGAI INOVATOR
R. Siti Zuhro
(Peneliti Utama LIPI)
Materi ini disampaikan dalam acara Webinar New Normal Life dalam Pelayanan Publik yang diselenggarakan Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan RB
DEMOKRASI, OTONOMI DAERAH DAN BIROKRASI
• Demokrasi partisipatoris melalui pilkada langsung merupakan dampak dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah.
• Dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah (otda), kini
rakyat daerah memiliki kedaulatan politik untuk memilih
pemimpinnya dan membangun daerahnya dengan kewenangan yang dimiliki.
• Perubahan fundamental tersebut penting karena tiap-tiap daerah memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri.
• Siapa pun pemenang pilkada, satu hal yang harus diperhatikan adalah pentingnya para kepala daerah untuk melakukan reformasi birokrasi.
2
•
Demokrasi dan otda memerlukan birokrasi yang berkualitas.
•
Dengan rantai birokrasi yang pendek, aparat birokrasi daerah dapat
mendeteksi
langsung
persoalan-persoalan
dan
kebutuhan
masyarakatnya. Ibarat segitiga sama kaki, ada hubungan yang saling
terkait antara demokrasi, otda dan pelayanan publik (reformasi
birokrasi).
•
Birokrasi yang profesional, efektif, efisien, netral secara politik,
transparan dan akuntabel akan berkorelasi positif terhadap
pelaksanaan otonomi daerah dan peningkatan perekonomian
daerah.
3
•
Peran birokrasi sangat krusial karena roda pembangunan
ekonomi daerah digerakkan oleh sebuah mesin birokrasi.
•
Sebagai mesin yang sangat vital, birokrasi memiliki sistem
dan standar kerja baku sebagai syarat untuk bisa menjadi
profesional.
•
Untuk itu, perlu diciptakan sistem dan standar kerja birokrasi
dari pusat sampai daerah. Gangguan terhadap sistem dan
standar kerja akan menimbulkan distorsi hebat dalam
efisiensi dan efektivitas.
4
•
Asumsinya dengan otonomi daerah, pemda memiliki
keleluasaan untuk menetapkan kebijakan pembangunan di
luar ketentuan-ketentuan yang menjadi urusan pemerintah
pusat.
•
Jelas, bahwa urusan yang menjadi kewenangan daerah lebih
berkenaan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat.
•
Karena itu, undang-undang tentang pemerintahan daerah
pada dasarnya diarahkan untuk mendorong kemajuan
daerah atau menjadikan daerah-daerah sebagai “daerah
pelayan”.
PILKADA LANGSUNG DAN LAHIRNYA INOVATOR
• Pimpinan daerah diharapkan mampu melakukan
terobosan-terobosan dan inovasi yang positif yang berguna bagi kemajuan daerah dan masyarakatnya. Inilah eranya membangun Indonesia dari daerah.
• Membangun berarti memperbaiki kualitas pelayanan publik dan menjadikan inovasi pelayanan publik sebagai icon baru membangun Indonesia.
• Dengan inovasi pelayanan publik diharapkan ada terobosan yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, dan pemerataan bisa diwujudkan konkrit.
2
•
Demokrasi dan otonomi daerah yang masing-masing mulai
diterapkan sejak 1999 dan 2001 semestinya bisa meningkatkan
terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik, yang bersih dan
bukan yang korup.
•
Karena itu, Pemda dituntut untuk memiliki inisiatif kebijakan
operasional yang bersifat promasyarakat miskin.
•
Sekarang ini pemda tidak bisa lagi tergantung pada pemerintah
pusat.
•
Pemda harus mandiri dan bertanggung jawab kepada rakyatnya
dengan mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di
daerahnya.
3
• Tantangan yang dihadapi pemimpin daerah dewasa ini semakin berat dan kompleks. Apalagi dengan pandemic Covid-19.
• Fenomena tersebut mensyaratkan pemimpin yang berwawasan luas, dan bersifat transformatif dalam memajukan daerah.
• Pemimpin yang memiliki integritas, tidak pernah tersangkut kasus korupsi, pengrusakan lingkungan hidup, pelanggaran dan atau kejahatan kemanusiaan ataupun kegiatan dan perilaku yang merugikan orang banyak dan berkomitmen untuk menunjung tinggi hak-ahak azasi manusia.
• Pemimpin daerah harus memiliki wawasan keindonesiaan dan kedaerahan yang cukup agar mampu menjadi kekuatan pemersatu bagi daerahnya.
4
• Variatifnya potensi dan kapasitas daerah membutuhkan pemimpin yang berkomitmen untuk memajukan daerah dan mampu pula membuat kebijakan terobosan yang bisa menghapus kemiskinan yang membelit daerah.
• Kebijakan yang berpihak kepada rakyat, bukan kekuatan pemodal atau kekuatan asing.
• Pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan daerah yang dituangkan dalam konsep yang diketahui masyarakat.
• Visi dan misi yang dilaksanakan secara tegas dan jelas selaras dengan kepentingan nasional (sesuai dengan Pembukaan UUD NRI 1945).
5
•
Pemimpin harus senantiasa memiliki ketegasan untuk
menentukan sikap dan Langkah/tindakan yang akan
dilakukan untuk menjalankan amanat rakyat.
•
Pemimpin memang perlu memiliki visi yang baik,
namun tanpa ada ketegasan dan keberanian bertindak
maka akan menjadikan pemerintahannya lemah.
•
Dengan kata lain, ketegasan dan keberanian dalam
memutuskan suatu kebijakan akan bermanfaat bagi
masyarakat.
6
• Ketegasan diperlukan ketika pemimpin menghadapi masalah bangsa yang menuntut pengambilan keputusan yang hitam-putih.
• Pemimpin harus mengambil keputusan secara jelas, tegas, dan clear untuk memberikan dampak yang positif bagi bergeraknya mesin
birokrasi untuk mendorong terciptanya kebijakan yang
menyejahterakan rakyat.
• Dalam konteks daerah, sangat diharapkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter negarawan lokal (local statemanship) untuk memajukan daerah dan memberdayakan masyarakat.
7
•
Bagi rakyat pilkada langsung semestinya bisa memunculkan
kepala-kepala daerah yang visioner, administrator, dan
berjiwa inovator.
•
Mengapa? Karena mereka diharapkan mampu membenahi
ketertinggalan dan keterbelakangan masyarakat daerah
yang notabene tidak bisa semata-mata dilakukan dengan
cara-cara biasa, tetapi harus dengan cara luar biasa
(inovasi).
•
Jika tidak, di era pasar bebas dewasa ini dan khususnya era
pasca covid-19 saat ini kita akan makin tergilas oleh dunia
luar.
8
•
Upaya ke arah itu sudah ditunjukkan sejumlah kepala
daerah, menteri dan pimpinan lembaga melalui pemberitaan
media, rakyat bisa melihat sejumlah gebrakan yang dilakukan
beberapa kepala daerah, kementerian dan lembaga.
•
Apresiasi pun sudah pula ditunjukkan, khususnya, oleh
Kemenpan dan Reformasi Birokrasi dengan menggelar
kompetisi inovasi pelayanan publik (sejak 2014) yang
dilakukan untuk menjaring inovasi-inovasi yang dilakukan
daerah, kementerian/lembaga.
9
• Kompetisi tersebut penting untuk meningkatkan gairah dan antusiasme daerah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanannya kepada rakyat.
• Apalagi Ketika hasil inovasi tersebut diikutsertakan dalam kompetisi tingkat internasional, antusiasme dan semangat K/L dan kementerian semakin menguat.
• Satu hal yang menggembirakan adalah bahwa dalam kompetisi pelayanan publik yang diselenggarakan United Nation Public Service
Award (UNPSA) 2014 dan diikuti 80 negara, 14 inovator pelayanan
publik Indonesia yang diikutsertakan dalam UNPSA tersebut berhasil lolos ke putaran kedua.
10
• Pada tahun 2015, dari 5 inovator yang masuk menjadi finalis, bahkan, 2 di antaranya berhasil menjadi juara. Tahun 2018 Indonesia Kembali menjadi juara dengan inovator-nya yaitu Teluk Bintuni.
• Dengan capaian seperti itu, inovasi pelayanan publik di Indonesia cukup prospektif, menjanjikan dan bahkan bisa menjadi lesson
learned bagi negara-negara lain di dunia.
• Keberhasilan dalam melakukan inovasi pelayanan publik dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, termasuk khususnya masalah kepemimpinan (leadership) yang ditunjukkan kepala daerah.
11
•
Dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah, upaya
melakukan inovasi membutuhkan keberanian pemimpin dalam
mengambil keputusan untuk menerobos kekakuan-kekakuan
birokrasi dan perilaku-perilaku linier yang ada dalam masyarakat.
•
Terobosan kebijakan dan inovasi yang dilakukan kepala daerah
dan/atau kepala OPD acapkali membuahkan hasil positif bagi
daerah berupa best practices.
•
Terobosan kebijakan atau inovasi daerah diharapkan bisa
menciptakan kepastian hukum, keamanan, dan mengeliminasi
pungutan liar yang acapkali dikeluhkan publik.
12
• Di level nasional kebijakan pemerintah diarahkan untuk mendorong
semua kementerian/lembaga dan pemda berlomba-lomba
melakukan kinerja-kinerja bermanfaat untuk rakyat, menggenjot pembangunan dan melibatkan peran rakyat dalam pembangunan.
• Di level lokal, pimpinan daerah diharapkan dapat mendukungnya dengan penerapan peraturan daerah yang pro pelayanan publik sehingga pemberdayaan dan kesejahteraan rakyat tidak terhambat.
• Masalahnya, institusionalisasi inovasi pelayanan publik tak dilakukan secara memadai sehingga kesinambungannya acapkali tak terjamin.
13
• Hal ini mengesankan bahwa konsistensi dan komitmen
pemerintah/pemda tak meyakinkan, karena setiap ganti pemimpin ganti pula kebijakan.
• Pemerintah/pemda juga acapkali menciptakan peraturan/peraturan daerah (perda) yang justru tidak pro inovasi pelayanan publik.
• Selain itu, daerah-daerah acapkali mencari atau ”mengais-ngais” tambahan pendapatan daerah meskipun dengan cara bertentangan dengan peraturan di atasnya.
• Celakanya, banyak yang tidak mengetahuinya karena ketidakjelasan peraturan di atasnya. Sebaliknya, ada pula yang sudah mengetahui tapi mengabaikannya.
14
• Bagi rakyat pilkada langsung penting karena dengan itu makin sulit bagi kepala daerah untuk mengabaikan aspirasi rakyat.
• Era pilkada langsung merupakan era untuk membuktikan diri sebagai ”negarawan” dan bukan lagi sebagai ”penguasa” yang hanya memikirkan kelompok dan golongannya saja.
• Dalam hal ini, sudah seharusnya rakyat memiliki kesadaran politik yang tinggi dan tidak lagi menjadi kelompok ’silent majority’.
• Kini sudah saatnya rakyat menjadi penonton aktif sebagai kelas sosial yang berkesadaran politik tinggi untuk selalu mengawasi, meluruskan, dan mendorong lajunya pemerintahan. Ibarat penonton karapan sapi, mereka harus menjadi pemantik, penyemangat, dan pengawas.
15
• Dengan begitu para kepala daerah akan makin terpicu untuk mampu melakukan perbaikan sistem dan peningkatan peran kepemimpinan (leadership), khususnya dalam menciptakan inovasi, baik untuk memajukan perekonomian maupun pemberdayaan masyarakat.
• Dengan pilkada langsug para kepala daerah dan pemerintah daerahnya dituntut untuk tidak lagi melaksanakan tugas-tugasnya secara linier (business as usual) karena kinerjanya bukan saja diawasi, melainkan juga dinilai.
• Oleh karena itu, mereka harus mampu melakukan terobosan-terobosan atau inovasi untuk memajukan daerah. Dengan kata lain, mereka tak hanya mengedepankan ‘haknya’, tetapi juga ‘kewajibannya’.
THE NEW NORMAL DAN INOVASI PELAYANAN PUBLIK
• Dengan kebijakan desentralisasi dan otda, tak selayaknya lagi pemda menggantungkan persoalan-persoalan penting daerahnya ke pusat.
• Pemda harus mampu mengatasi permasalahannya sendiri, baik
melalui kerjasama antardaerah maupun dengan membentuk
hubungan yang bersinergi dengan stakeholders terkait di daerah maupun pusat.
• Kerjasama antardaerah dan antara daerah dengan pusat perlu digalakkan untuk menjembatani permasalahan pembangunan yang masih menimbulkan kesenjangan antar daerah. Melalui cara ini pola relasi pusat dan daerah pun diharapkan makin harmonis.
2
• Ke depan setidaknya ada 7 hal yang perlu diprioritaskan pemda dalam meningkatkan kualitas dan/atau inovasi pelayanan publik:
• Pertama, perlunya inisiatif pemda dan pimpinan OPD serta
komunitas-komunitas untuk membuat terobosan positif yang memajukan daerah.
• Kedua, peningkatan kualitas pelayanan birokrasi agar tercipta birokrasi yang
profesional, efisien dan efektif. Dalam kaitan ini diperlukan penyusunan kriteria khusus dalam rekrutmen pegawai baru atau pelatihan ulang pegawai lama dengan menerapkan asas meritokrasi berdasarkan kompetensi. Keberhasilan daerah seperti beberapa daerah di Jawa dan di luar Jawa dalam hal public service reform merupakan upaya daerah dalam melakukan rasionalisasi pegawai dan penegakan sistem pelayanan yang ditetapkan.
3
• Ketiga, menyebarluaskan dan mereplikasikan keberhasilan daerah-daerah yang
berhasil melakukan inovasi dan terobosan yang bermanfaat ke daerah-daerah lain.
• Keempat, apresiasi dan pemberian penghargaan bagi daerah-daerah yang berhasil
menunjukkan inovasi konkrit.
• Kelima, perlunya menjamin kesinambungan inovasi pelayanan publik yang dilakukan
daerah dengan melembagakannya di Pemda agar tak berusia seumur jagung.
• Keenam, perlu pembentukan pusat-pusat latihan, studi sampai analisis mengenai
inovasi pelayanan publik yang mempertimbangkan local values, local wisdom dan
local genius, baik di tingkat universitas, civil society, maupun rubrik-rubrik khusus
media massa lokal.
• Ketujuh, perlu pula pembuatan sistem data base inovasi pelayanan publik yang
mudah diakses, baik dari segi sumber daya manusia, anggaran, maupun jangka waktu pelayanan.
4
• Tantangan daerah saat ini dan ke depan akan semakin kompleks dikaitkan dengan era the new normal pasca Covid-19. Mengapa?
• Kehidupan masyarakat Indonesia sejak Maret yang lalu sampai saat ini mengalami perubahan yang cukup dramatis.
• Pola hidup orang Indonesia berubah: mulai dari sisi menjalani hidup sehat, aktivitas sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan hukum.
• Secara umum yang tampak menonjol adalah munculnya kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker, menggunakan sanitizer, menjaga jarak sehat dan tidak bersalaman serta tak berada di kerumunan orang banyak.
5
• Siswa dan mahasiswa/kampus menjalani sistem belajar mengajar dengan pola distance learning.
• Pegawai diberikan tugas work from home. Rapat-rapat menggunakan virtual meeting. Diskusi, seminar, FGD juga dilakukan secara virtual/webinar.
• Toko-toko besar, sedang, kecil banyak yang tutup. Kuliner demikian juga. Jalanan di Jakarta relatif sepi meskipun biasanya luar biasa macet.
• Tanpa terasa masyarakat Indonesia menjalankan kehidupan dengan pola baru.
6
• New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan sesuai dengan konteks mengatasi pandemi.
• New Normal diberlakukan dengan kesadaran penuh bahwa wabah masih ada di sekitar kita.
• Untuk itu aktivitas ekonomi/publik dibolehkan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.
• Jika dikaitkan dengan pandemi, normal baru adalah situasi atau keadaaan di mana kita melakukan aktivitas normal sehari-hari tetapi dengan pola perilaku yang mengacu pada tatanan baru yang disebabkan Covid-19.
7
• Kehidupan normal baru menuntut sikap kita yang agile (able to move
quickly and easily) dan adaptif meskipun prakondisi itu belum kita
bangun bersama sebelumnya.
• Proses learning by doing yang kita jalani sejak Maret 2020 membuat kita tertatih-tatih melangkah karena masyarakat yang terfragmentasi dan kekuatan-kekuatan politik yang juga terfragmentasi membuat soliditas dan upaya membangun tatanan baru yang terintegrasi menjadi tak mudah.
• Demikian juga dengan pelayanan publik yang memerlukan adanya pola baru untuk beradaptasi dengan the new normal.
8
• Tatanan hidup baru dengan menerapkan protokol kesehatan bukan berarti kembali hidup dalam keadaan sebelum pandemi terjadi. Kebiasaan-kebiasaan baru sudah tercipta sejak Maret seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, menjaga jarak fisik termasuk menjaga daya tahan tubuh wajib dilakukan.
• Pemberlakuan PSBB berdampak langsung terhadap masyarakat, tak terkecuali pada sektor pelayanan publik seperti administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, pelayanan kesehatan di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, pelayanan keuangan pada sektor jasa perbankan dan lain-lain.
• Tercatat sekitar 70,3% responden masih nyaman untuk mengurus sendiri ketimbang menggunakan mekanisme daring atau memakai jasa perantara (Survei Indeks Persepsi Maladministrasi/Inperma yang dilaksanakan oleh Ombudsman RI pada tahun 2019).
9
• Selain itu, terkait kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan, sebanyak 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.
• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah
menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.
• Hal ini karena kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara
infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang
berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.
10
• Selain itu, kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan menunjukkan bahwa sekitar 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.
• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.
• Masalahnya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara
infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang
berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.
11
• Kebijakan new normal dengan penerapan protokol kesehatan membuat
akses pelayanan publik kepada masyarakat menjadi terbatas.
• Karena itu, perlu memaksimalkan pelayanan publik dengan beralih ke
sistem online yang selama ini telah berjalan.
• Upaya peralihan itu perlu dibarengi dengan memberi
edukasi/pemahaman serta sosialisasi secara masif kepada seluruh elemen masyarakat yang akan mengakses layanan publik untuk memanfaatkan sistem online dalam setiap layanan publik yang akan diakses sehingga pelayanan publik di tengah tatanan kehidupan baru "new normal" tidak terganggu dan menjadi lebih efektif dan efisien.***