Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis UNS Ke 43 Tahun 2019
“Sumber Daya Pertanian Berkelanjutan dalam Mendukung Ketahanan dan Keamanan Pangan Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0”
Total Bakteri Asam Laktat dan Coliform pada Ileum dan Sekum Ayam Broiler yang
Diberi Level Ekstrak Tomat dan Dipapar E. coli
Sukmawati, Turrini Yudiarti dan Hanny Indrat Wahyuni
Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Kampus drh. Soejono Koesoemowardjo Tembalang Semarang 50275
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian level ekstrak tomat melalui air minum terhadap total bakteri asam laktat (BAL) dan coliform pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E. coli strain Avian Pathogenic Eschericia coli (APEC). Materi yang digunakan adalah 128 ekor day old chick (DOC) ayam broiler strain Lohman dengan bobot awal rata-rata 43,31 ± 3,34 g. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari T0 (0 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E.
coli), T1 (40 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli), T2 (80 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli) dan T3 (120 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli). Parameter yang diamati adalah total
bakteri asam laktat dan coliform pada ileum dan sekum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tomat melalui air minum pada ayam broiler yang dipapar E. coli tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total bakteri asam laktat dan coliform pada ileum dan sekum. Kesimpulan penelitian ini yaitu pemberian ekstrak tomat melalui air minum belum mampu menurunkan bakteri coliform dan belum mampu meningkatkan bakteri asam laktat pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E. coli.
Kata kunci: ekstrak tomat, ayam broiler, mikroba, ileum, sekum
Pendahuluan
Ayam broiler merupakan salah satu ternak unggas yang mempunyai karakteristik pertumbuhan yang sangat cepat karena sudah mengalami perbaikan genetik. Bobot badan ayam broiler sebelum umur 5 minggu mencapai kisaran 1,5 kg. Hal ini disebabkan karena kemampuannya dalam mengkonversi pakan menjadi daging yang tinggi (Situmorang et al., 2013). Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, diantaranya kesehatan ayam yang juga sangat dipengaruhi oleh adanya keseimbangan mikroflora di dalam saluran pencernaan.
Saluran pencernaan ayam terutama usus halus dan sekum di dalamnya terdapat bakteri patogen dan non patogen. Apabila populasi bakteri patogen melebihi ambang batas, maka akan
menimbulkan pengaruh yang negatif pada kesehatan ayam. Bakteri patogen seperti Escherichia coli penyebab penyakit colibacilosis yang banyak ditemukan pada ileum dan sekum. Apabila ayam terserang penyakit tersebut, maka pertumbuhan dan produktivitasnya akan menurun (Wientarsih et al., 2013). Upaya untuk mencegah terjadinya colibacilosis salah satunya dengan pemberian tomat.
Tomat merupakan salah satu buah yang mudah didapatkan dan banyak dijual di pasar tradisional. Tomat diketahui mengandung komponen senyawa bioaktif diantaranya yaitu fenolik, saponin dan flavonoid yang mempunyai peran sebagai antimikroba (Purba et al., 2018). Kadar total fenolik buah tomat sebesar 11,53 mg/100 g dan flavonoid 1,81 mg/100 g buah tomat (Eveline et al., 2014). Selain itu, juga terdapat asam organik diantaranya asam sitrat, folat dan malat (Suhartati dan Nuryanti, 2015). Kandungan likopen dan β karoten akan semakin tinggi pada tomat yang berwarna merah dan keduanya mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan cara merusak dinding sel dan mendenaturasi protein sel bakteri (Ikhsanudin dan Ningsih 2017). Kandungan likopen pada tomat segar sebesar 4,28 mg/100 g, dan pasta tomat encer 31,09 mg/100 g (Kailaku et al., 2007).
Pemaparan E. coli strain APEC pada ayam dilakukan untuk mengkaji pemberian ekstrak tomat melalui air minum dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan. Ekstrak tomat yang diberikan diharapkan mampu berperan menekan populasi bakteri coliform dalam saluran pencernaan dan meningkatkan populasi bakteri asam laktat karena penghasil asam organik, sehingga mampu mencegah kolonisasi bakteri coliform dan menjaga kekebalan tubuh (Diarlin et al., 2013) .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian level ekstrak tomat melalui air minum terhadap total BAL dan coliform pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E.
coli strain APEC.
Metodologi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah day old chick (DOC) ayam broiler strain Lohman MB-202 Platinum unsex sebanyak 128 ekor dengan bobot badan awal rata-rata 43,31 ± 3,34 g. Jumlah petak kandang koloni yang digunakan yaitu sebanyak 16 dengan bagian alas dari kawat. Bahan yang digunakan untuk pemeliharaan yaitu ekstrak tomat, bakteri E. coli strain Avian
Pathogenic Eschericia coli (APEC) komersiil dan bahan pakan komersiil fase starter dan finisher
dengan kandungan nutrien disajikan pada Tabel 1.
Pembuatan ekstrak tomat dilakukan 3 hari sekali caranya yaitu limbah tomat (dari pasar tradisional) dicuci dengan air sampai bersih, dipotong-potong kemudian diblender sampai halus.
Tomat yang sudah halus ditambah air dengan perbandingan 1 kg tomat : 300 ml air dan disaring, kemudian hasil saringan direbus dengan suhu 65–70oC selama 5 menit sambil diaduk. Setelah itu, ekstrak tomat didinginkan dan dimasukkan dalam wadah kemudian disimpan dalam freezer.
Tabel 1. Kandungan Nutrien Pakan.
Kandungan Nutrien Starter Finisher
- % ---Protein kasar 21,00 19,58 Serat kasar 5,00 4,19 Lemak 5,00 3,96 Kadar air 13,00 11,20 Abu 7,00 6,86 Kalsium 0,90 1,00 Fosfor 0,60 0,81
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari 8 ekor ayam. Perlakuan pemberian ekstrak tomat melalui air minum dilakukan setiap pagi hari saat ayam berumur 15 hari sampai 35 hari. Pemaparan E. coli strain APEC dengan dosis 5 x 107 CFU/ml dilakukan secara oral pada saat ayam umur 24, 26 dan 28 hari. Perlakuan yang diberikan terdiri dari :
T0 = 0 ml/hari esktrak tomat + dipapar E. coli T1 = 40 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli T2 = 80 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli T3 = 120 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli
Pengambilan sampel digesta dilaksanakan pada saat ayam berumur 35 hari dengan cara mengambil 1 ekor ayam secara acak dari masing-masing perlakuan. Digesta dalam ileum dan sekum dikeluarkan dan dimasukkan kedalam tabung steril kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan analisis total bakteri asam laktat dan coliform dengan metode Total Plate Count (TPC) (Fardiaz, 1992). Data yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 5%. Apabila hasil F hitung menunjukkan pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan pada taraf 5% (Steel dan Torrie, 1995).
Hasil dan Pembahasan
Rata-rata total BAL, colifrom dan pH pada ileum dan sekum ayam broiler yang diberi level ekstrak tomat dan dipapar E. coli strain APEC disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tomat melalui air minum pada ayam broiler yang dipapar E.
coli strain APEC tidak berpengaruh nyata terhadap total BAL dan coliform serta pH pada ileum dan
Tabel 2. Rata-rata Total Bakteri Asam laktat, Colifrom dan pH pada Ileum dan Sekum Ayam Broiler yang diberi Level Ekstrak tomat dan Dipapar E. coli strain APEC.
Perlakuan Ileum Sekum
Coliform BAL pH Coliform BAL pH
--- log CFU/g --- log CFU/g
---T0 9,72 ± 0,29 8,40 ± 0,24 6,00 9,81 ± 0,16 8,30 ± 0,08 7,00 T1 9,37 ± 0,26 8,32 ± 0,42 5,80 9,61 ± 0,25 8,22 ± 0,13 7,00 T2 9,55 ± 0,16 8,36 ± 0,56 6,00 9,60 ± 0,45 8,39 ± 0,25 7,00 T3 9,48 ± 0,37 8,36 ± 0,42 6,00 9,59 ± 0,17 8,23 ± 0,18 7,00
Pemberian ekstrak tomat melalui air minum dan pemaparan E. coli strain APEC tidak berpengaruh terhadap total bakteri coliform pada ileum dan sekum ayam broiler (P>0,05). Total bakteri coliform dalam ileum yang dihasilkan pada penelitian ini berkisar 9,37 – 9,60 log CFU/g dan dari penelitian Engberg et al., (2000) bahwa total bakteri coliform pada ileum sebesar 7,91 log CFU/g dan yang terdapat dalam sekum sekitar 8,59 log CFU/g. Tingginya populasi bakteri coliform karena semua perlakuan dipapar E. coli 5 x 107 CFU/ml. Peningkatan level ekstrak tomat yang mengandung senyawa antimikroba pada T1, T2 dan T3 yang diberikan melalui air minum belum mampu menekan pertumbuhan bakteri coliform dalam ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar
E. coli. Meskipun populasi coliform pada semua perlakuan diatas normal, kondisi ayam tidak
mengalami sakit karena pengamatan bobot badan yang diteliti oleh Musaid (2019) dalam penelitian yang sama masih tergolong normal. Ikhsanudin dan Ningsih (2017) menyatakan bahwa konsentrasi ekstrak etanol tomat sebesar 70% dan 90% dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus
aureus dengan cara mengganggu proses metabolisme mikroba. Perbedaan hasil penelitian ini
dikarenakan senyawa fenol yang terdapat dalam ekstrak tomat belum mampu menekan pertumbuhan bakteri coliform yang ada di saluran pencernaan. Senyawa fenol pada konsentrasi yang tinggi akan mengganggu metabolisme bakteri sehingga tidak mampu betahan hidup. Jamili et al., (2014) menyatakan bahwa mekanisme kerja fenol dalam kadar yang tinggi mengakibatkan terjadinya koagulasi protein dan membran sel bakteri mengalami lisis sehingga proses metabolisme akan terganggu.
Pemberian ekstrak tomat melalui air minum dan pemaparan E. coli strain APEC tidak berpengaruh terhadap total BAL pada ileum dan sekum ayam broiler (P>0,05). Total BAL dalam ileum yang dihasilkan penelitian ini berkisar 8,32 – 8,40 log CFU/g dan total asam laktat dalam sekum berkisar 8,22 – 8,39 log CFU/g. Hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian Jozefiak et
al., (2008) bahwa total bakteri asam laktat dalam ileum sekitar 8,50 log CFU/g, sedangkan
penelitian Dibaji et al., (2014) bahwa total bakteri asam laktat pada sekum yaitu 8,44 log CFU/g. Hal ini disebabkan karena adanya kompetisi antara bakteri coliform dengan bakteri asam laktat dalam saluran pencernaan, dimana populasi bakteri coliform yang tidak menurun maka bakteri asam
laktatnya juga tidak dapat meningkat. Total bakteri asam laktat yang tidak meningkat karena peningkatan level ekstrak tomat yang diberikan melalui air minum pada T1, T2 dan T3 belum mampu menurunkan kondisi pH ileum yaitu 5,80 – 6,00 (Tabel 2). Perkembangan bakteri asam laktat akan lebih optimal apabila pH saluran pencernaan dalam kondisi yang rendah atau asam. Cahyaningsih et al., (2013) menyatakan bahwa kondisi pH saluran pencernaan yang menurun dari 5,90 menjadi 5,04 dapat mengakibatkan terjadinya pertumbuhan bakteri asam laktat yang semakin meningkat. Perbedaan hasil penelitian ini dikarenakan asam organik dalam ekstrak tomat belum mampu menurunkan pH saluran pencernaan. Asam organik pada saluran pencernaan menembus dinding sel bakteri sehingga akan mengalami penguraian H+ dan menyebabkan pH turun. Namun,
proses ini membutuhkan energi yang besar menyebabkan bakteri mati. Pio et al., (2017) menyatakan bahwa asam organik sebagai acidifier dapat menciptakan suasana asam saluran pencernaan, akan tetapi bakteri yang sensitif terhadap perubahan pH pertumbuhannya terhenti. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian level ekstrak tomat melalui air minum sampai 120 ml/hari belum mampu menurunkan bakteri coliform dan belum mampu meningkatkan bakteri asam laktat pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E.coli strain APEC.
Saran
Sebaiknya penggunaan level dari ekstrak tomat lebih ditingkatkan lagi supaya senyawa antimikroba dalam tomat lebih banyak, sehingga diharapkan dapat menekan pertumbuhan bakteri
coliform dalam saluran pencernaan.
Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro yang telah memberikan dana penelitian serta seluruh pihak yang telah membantu selama berjalannya penelitian hingga selesai.
Daftar Pustaka
Cahyaningsih., N. Suthama dan B. Sukamto. 2013. Kombinasi vitamin E dan bakteri asam laktat (BAL) terhadap konsentrasi BAL dan potensial hidrogen (pH) pada ayam kedu dipelihara secara in situ. Animal Agriculture Journal. 2 (1): 35–43.
Diarlin, S. O., T. Ardiyati dan O. Sjofjan. 2013. Pengaruh Lactobacillus fermentum dan Lactobacillus salivarius dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada saluran
Dibaji, S. M., A. Saidavi, L. Asadpour and F. M. Silva. 2014. Effect of a synbiotic on the intestinal microflora of chickens. Journal Applied Poultry Research. 23 (1): 1–6.
Engberg, R. M., M. S. Hedemann, T. D. Leser and B. B. Jensen. 2000. Effect of zinc bacitracin and salinomycin on intestinal microflora and performance of broilers. Poultry Science. 79 (9): 1311–1319.
Eveline., T. M. Siregar dan Sanny. 2014. Studi aktivitas antioksidan pada tomat (Lycopersicon
esculentum) konvensional dan organik selama penyimpanan. Prosiding Seminar Nasional
Sains dan Teknologi Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang. 25 Juni 2014. 1 (1): 22–28.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ikhsanudin, A dan L. Ningsih. 2017. Formulasi krim ekstrak tomat (Solanumlycopersicum) dan uji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus atcc 25923. Borneo Journal of Pharmascientech. 1 (2): 1–9.
Jamili, M. A., M. N. Hidayat dan A. Hifizah. 2014. Uji daya hambat ramuan herbal terhadap pertumbuhan staphylococcus aureus dan salmonella thypi. Jurnal Ilmu dan Industri Peternakan. 1 (3): 227–239.
Jozefiak, D., S. Kaczmarek and A. Rutkowski. 2008. A note on the effects of selected prebiotics on the performance and ileal microbiota of broiler chickens. Journal Animal and Feed Sciences. 17 (3): 392–397.
Kailaku, S. I., K. T. Dewandri dan Sunarmani. 2007. Potensi likopen dalam tomat untuk kesehatan. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian. 3 (1): 50–58.
Musaid, J. 2019. Pengaruh pemberian minum ekstrak tomat terhadap profil darah merah ayam broiler yang diinfeksi E. coli. Universitas Diponegoro, Semarang.
Pio, P. O., B. K. Ardana dan P. Suastika. 2017. Efektivitas berbagai dosis asam organik dan anorganik sebagai acidifier terhadap histomorfometri duodenum ayam pedaging. Indonesia Medicus Veterinus. 6 (1): 47–54.
Purba, Y. P., M. R. Ramadhian, Sutyarso dan E. Warganegara. 2018. Pengaruh pemberian ekstrak etanol tomat (Solanum lycopersicum) terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Majority. 7 (2): 80–85.
Situmorang, N. A., L. D. Mahfudz dan U. Atmomarsono. 2013. Pengaruh pemberian tepung rumput laut (Gracilaria verrucosa) dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein ayam broiler. Journal Animal Agriculture. 2 (2): 49–56.
Steel, C. J dan J. H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistik. Gramedia, Jakarta.
Suhartati, R dan D. Nuryanti. 2015. Potensi antibakteri limbah tomat (Lycopersicum esculentum
mill) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. 13 (1):
186–190.
Wientarsih, I., S. D. Widhyari dan T. Aryanti. 2013. Kombinasi imbuhan herbal kunyit dan zink dalam pakan sebagai alternatif pengobatan kolibasilosis pada ayam pedaging. Jurnal Veteriner. 14 (3): 327–334.