• Tidak ada hasil yang ditemukan

MORFOMETRI DAN HISTOLOGIS USUS ITIK (Anas sp.) YANG DIBERI TEPUNG KUNYIT (Curcuma longa) DALAM PAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MORFOMETRI DAN HISTOLOGIS USUS ITIK (Anas sp.) YANG DIBERI TEPUNG KUNYIT (Curcuma longa) DALAM PAKAN"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

i

MORFOMETRI DAN HISTOLOGIS USUS ITIK (Anas sp.)

YANG DIBERI TEPUNG KUNYIT (Curcuma longa)

DALAM PAKAN

SKRIPSI

Oleh:

ABDUL RAHIM HARIANTO I 111 12 062

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2016

(2)

ii

MORFOMETRI DAN HISTOLOGIS USUS ITIK (Anas Sp)

YANG DIBERI TEPUNG KUNYIT (Curcuma longa)

DALAM PAKAN

SKRIPSI

Oleh:

ABDUL RAHIM HARIANTO I111 12 062

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2016

(3)
(4)
(5)

v

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh……… Segala puja dan puji bagi Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya yang senantias tercurahkan kepada penulis sehingga dapat merampungkan penulisan Skripsi ini. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi panutan serta telah membawa ummat dari lembah kehancuran menuju alam yang terang benderang.

Limpahan rasa hormat, kasih sayang, cinta dan terima kasih tiada tara kepada Ayahanda Kuadianto, Sp dan Ibunda Nurbiah yang telah melahirkan, mendidik dan membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu tulus kepada penulis sampai saat ini dan senantiasa memanjatkan do’a dalam kehidupannya untuk keberhasilan penulis. Buat saudaraku Widia utami yang selama ini telah banyak membantu penulis, serta keluarga besarku yang selama ini banyak memberikan do’a, kasih sayang, semangat dan saran. Semoga Allah

senantiasa mengumpulkan kita dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.

Terima kasih tak terhingga kepada bapak drh. Hj. Farida Nur Yuliati, M.Si selaku Pembimbing Utama dan kepada bapak Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc selaku Pembimbing Anggota atas didikan, bimbingan, serta waktu yang telah diluangkan untuk memberikan petunjuk dan menyumbangkan pikirannya dalam membimbing penulis mulai dari perencanaan penelitian sampai selesainya skripsi ini. Ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis haturkan dengan segala keikhlasan dan kerendahan hati kepada:

(6)

vi

1. Ibu Rektor UNHAS, Bapak Dekan, Pembantu Dekan I,II dan III dan seluruh Bapak Ibu Dosen yang telah melimpahkan ilmunya kepada penulis, dan Bapak Ibu Staf Pegawai Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

2. Ibu Dr. Andi Amidah Amrawati, SPt. M.Si Pembimbing Akademik. Bapak Ir. Muh. Aminawar. MM selaku pembimbing Seminar pustaka dan Dr. Muh. Ridwan, S.pt, M.Si selaku Pembimbing Praktek Kerja Lapangan.

3. Teman-teman KKN Desa Kahayya Kab. Bulukumba Jihad, Heski, Derry, Eko, dan Fatmawati.

4. Teman angkatan Flock Mentality 012, teman ant 014, larva 013, solandeven 011, Lion 010, dan Merpati 09.

5. Teman penelitian : Kandi, Jihad dan Tika, terima kasih atas waktu dan kerja samanya selama penelitian.

6. Terima kasih kepada teman Spesialku Nur Atika Pasang yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.

7. Kepada Astuti, Nanda, Mila, Hasman, Azwar, Fatma dan Reski yang telah memberikan semangat dan masukan kepada penulis selama ini. Teman – teman WGP : Suhal, Yasin, Salim, Kansul, Didik, Akbar, Ipul, Andahar, Erwin, Farid, Iqbal, Uria, Bambang, Furqan yang selama ini menjadi penawar stress dan tempat menceritakan berbagai masalah yang dialami oleh penulis meskipun sampai saat ini belum pernah memberikan saran – saran untuk pemecahan masalah yang dialami penulis.

8. Teman-teman yang telah banyak membantu selama penelitian Auliya Anggraeni S.Pt, Nuraeni S.Pt, Rita Massolo S.Pt. Rahma Wati S.Pt.Yessy, Appe, Nanda Print, Kandi Print Ewing Prin dan Ica Print.

(7)

vii

9. Teman – teman kelas B yang senantiasa mewarnai hari – hari dan mengajarkan betapa pentingnya arti kebersamaan di dalam sebuah keluarga meskipun kami tak memiliki hubungan darah.

10.Teman – teman alumni SMAN 1 Kalukku : Muh. Syamnur, Muh. Iqbal, Ummi Qalsum, Cindara, dan Rismayanti.

11.Tim asisten Ilmu Kesehatan Ternak : fatma, Erik, Arisman, Tuti, Ardi, Tika, dan Striani.

12.Lembaga Tercinta Himaprotek_UH, Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang telah banyak memberi wadah terhadap penulis untuk berproses dan belajar.

Dengan sangat rendah hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik serta saran pembaca sangat diharapkan adanya oleh penulis demi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan nantinya, terlebih khusus di bidang peternakan. Semoga makalah skripsi ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca terutama bagi saya sendiri. AAMIIN YA ROBBAL AALAMIN.

Akhir Qalam Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, November 2016

(8)

viii

ABSTRAK

ABDUL RAHIM HARIANTO. I111 12 062. Morfometri dan Histologis Usus itik Lokal (Anas Sp.) yang diberi Tepung Kunyit (Curcuma Longa) dalam Pakan. Pembimbing : drh. Hj. Farida Nur Yuliati, M.Si dan Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit dalam pakan terhadap morfometri dan histologis usus halus itik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 64 ekor itik yang berumur 1 hari Day Old Duck (DOD). Perlakuan pemberian tepung kunyit dilakukan melalui pakan yang dimulai pada hari ke-1 hingga akhir pemeliharaan (hari ke-70). Data tinnggi dan lebar vili yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu penyajian dalam bentuk gambar, sedangkan panjang dan bobot usus diolah dengan sidik ragam sesuai dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan ini terdiri dari kontrol (K0, tanpa penambahan kunyit), dan perlakuan dengan penambahan tepung kunyit : 0,5%, 1% dan 2%, pada masing masing perlakuan (K1, K2 dan K3). Parameter yang diukur adalah morfometri (panjang dan bobot) usus halus dan histologis (tinggi dan lebar vili) usus halus. Pengambilan sampel dilakukan pada umur 70 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit dalam pakan tidak berpengaruh terhadap panjang dan bobot usus halus itik, dan tidak memberikan perbedaan terhadap tinggi dan lebar vili usus halus itik. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan tepung kunyit dalam pakan tidak memberikan pengaruh terhadap morfometri (panjang dan bobot) usus halus itik, penambahan tepung kunyit juga tidak memberikan perbebedaan terhadap histologis (tinggi dan lebar vili) usus itik.

(9)

ix

ABSTRACT

ABDUL RAHIM Harianto. I111 12 062. Morphometry and Histological Intestine Local duck (Anas Sp.) By Flour Turmeric (Curcuma Longa) in the feed. Supervisor: drh. Hj. Nur Farida Yuliati, M.Si and Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc.

This study aimed to determine the effect of turmeric powder in feed against intestine histological morphometric and ducks. The material used in this study as many as 64 ducks were aged 1 day Day Old Duck (DOD). Treatment is done through provision of turmeric powder feed beginning on day 1 until the end of maintenance (70th day). Data tinnggi and villi width obtained were processed using descriptive analysis is the presentation in the form of images, while the length and weight of the intestines is processed by analysis of variance according to a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. This treatment consists of a control (K0, without the addition of turmeric), and treatment with the addition of turmeric powder: 0.5%, 1% and 2%, in each treatment (K1, K2 and K3). Parameters measured were morphometry (length and weight) and histological intestine (villi height and width) of the small intestine. Samples were taken at the age of 70 days. The results showed that the addition of turmeric powder in feed has no effect on the length and weight of the small intestine ducks, and no distinction of height and width of the small intestine villi ducks. It is concluded that the addition of turmeric powder in feed does not give effect to morphometric (length and weight) of the small intestine of ducks, the addition of turmeric powder is also no distinction of histological (villi height and width) of duck intestine.

(10)

x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

PENDAHULUAN ... 1

TINJAUAN PUSTAKA Gambaran Umum Itik ... 4

Sistem Pencernaan Itik ... 6

Gambaran Umum Kunyit ... 10

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 14

Materi Penelitian ... 14

Rancangan Penelitian... 14

Prosedur Penelitian ... 15

Parameter yang Diukur ... 19

Analisis Data ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang dan Bobot Usus Halus ... 22

Tinggi vili ... 24

(11)

xi

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 30

Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA ... 31

LAMPIRAN ... 34

(12)

xii

DAFTAR TABEL

No.

Teks

1. Komposisi Pakan Penelitian ... 16

2. Kandungan Nutrisi Pakan Penelitian ... 16

3. Jumlah pemberian pakan beradasarkan umur pemeliharaan... 17

4. Panjang dan Bobot Usus Halus ... 22 Halaman

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

No.

Teks

1. Saluran pencernaan unggas ... 6

2. Kunyit (Curcuma longa) ... 11

3. Pengukuran Tinggi dan Lebar Vili... 20

4. Gambaran Tinggi Vili Usus Bagian Duodenum ... 24

5. Gambaran Tinggi Vili Usus Bagian Jejunum ... 24

6. Gambaran Tinggi Vili Usus Bagian ileum ... 25

7. Grafik Rata – Rata Tinggi Vili Usus ... 25

8. Gambaran Lebar Vili Usus Bagian Duodenum ... 26

9. Gambaran Lebar Vili Usus Bagian Jejunum ... 27

10.Gambaran Lebar Vili Usus Bagian Ileum ... 27

11.Grafik Rata – Rata Lebar Vili Usus ... 27 Halaman

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

Teks

1. Hasil Analisis Ragam Bobot Usus Halus Itik ... 34

2. Hasil Analisis Ragam Panjang Usus Halus Itik ... 35

3. Data Konsumsi Pakan Selama Penelitian ... 36

(15)

1

PENDAHULUAN

Kebutuhan masyarakat akan produk peternakan semakin meningkat. Saat ini, industri peternakan yang ada di Indonesia menghasilkan sekitar 2.925.210 ton daging, dan pemasok daging terbesar yaitu ayam sebesar 66 %, daging sapi 17%, itik hanya mampu menghasilkan 38.840 ton atau hanya sebesar 1,32% dari total produksi daging Indonesia (Ditjennak, 2015). Dari data tersebut menunjukkan bahwa produksi daging itik yang ada di Indonesia masih sangat rendah. Pada dasarnya, daging itik juga mampu berkontribusi sebagai sumber asupan protein hewani yang baik. Walaupun sumbangan ternak itik masih relatif kecil, tetapi memiliki potensi untuk dikembangkan dan hal ini ditunjukkan oleh peluang pasar yang cukup besar.

Sistem pemeliharaan menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas itik. Sebagian besar peternak itik yang ada masih menganut sistem pemeliharaan semi intensif dan tidak jarang pula peternak yang masih bertahan dengan sistem pemeliharaan tradisional. Sistem pemeliharaan tersebut memperbesar kemungkinan terjangkitnya penyakit yang nantinya akan berpengaruh pada produktivitasnya.

Sistem pemeliharaan itik yang dilakukan secara semi intensif akan memudahkan itik terserang mikroorganisme patogen yang dapat berdampak bagi kesehatannya. Serangan mikroorganisme patogen pada itik dapat menyebabkan kesehatan organ pencernaan terganggu dan mengakibatkan menurunnya efisiensi absorbsi nutrisi (Korver, 2008). Kesehatan organ pencernaan yang terganggu dapat menyebabkan absorbsi nutrisi yang kurang efisien dan membuat produktivitas itik

(16)

2

menjadi rendah. Salah satu solusi yang dapat diterapkan yaitu penggunaan antibiotik.

Penggunaan antibiotik terbukti dapat menghambat perkembangan bakteri berbahaya sehingga dapat meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi (Infante et. al, 2014). Penambahan antibiotik ke dalam pakan itik dapat menghambat mikroorganisme patogen yang berasal dari luar tubuh itik yang dapat mengganggu aktivitas penyerapan nutrisi makanan pada usus. Seiring dengan berjalannya waktu, penambahan antibiotik sintesis ke dalam pakan mempunyai kelemahan, yaitu timbulnya resistensi apabila tidak digunakan sesuai aturan (Hammerum and Heuer, 2009). Salah satu upaya untuk mengatasi pembatasan penggunaan antibiotik sintesis adalah dengan menggunakan bahan herbal yang memiliki kandungan antimikroba seperti tanaman kunyit.

Kunyit merupakan tanaman yang banyak ditemukan di negara yang beriklim tropis. Kunyit mengandung kurkumin yang dapat merangsang dinding kantong empedu untuk mengeluarkan cairan empedu dan minyak atsiri yang berfungsi mengatur keluarnya asam lambung agar tidak berlebihan sehingga membantu kerja usus (Pratikno, 2010). Selain itu, kurkumin dan minyak atsiri meningkatkan kerja organ pencernaan, merangsang getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase dan protease untuk meningkatkan proses pencernaan bahan pakan (Winarto, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa kunyit dapat dijadikan sebagai salah satu pengganti antibiotik sintetis sebagai growth promotor dalam meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi pakan pada itik pedaging. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kunyit pada

(17)

3

pakan terhadap morfometri dan histologis usus itik pedaging. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi ilmiah bagi akademisi dan peneliti serta dasar pengetahuan bagi pelaku industri peternakan itik. Dengan mengetahui pengaruh pemberian kunyit dalam pakan terhadap pakan terhadap morfometri dan histologis usus itik pedaging, diharapkan dapat dijadikan acuan dalam manajemen pemeliharaan itik pedaging. Pemberian kunyit dalam pakan diharapkan dapat meningkatkan proses pencernaan bahan pakan dan efisiensi usaha itik pedaging.

(18)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Umum Itik

Itik telah dikenal oleh masyarakat luas dengan nama bebek, sejarah itik − itik yang terdapat di Indonesia berasal dari domestikasi itik liar keturunan dari Indian Runner. Hal tersebut dapat dilihat pada ekor itik jantan yang memiliki beberapa bulu yang mencuat ke atas “sex feather” seperti pada itik mallard (Sussanti dan Prasetyo, 2005 dalam Subiharta et al., 2013). Itik sangat berkembang di Indonesia, penyebaranya mulai dari Aceh sampai ujung bagian timur Indonesia, itik cukup di kenal di kalangan masyarakat Indonesia, oleh karenya itik juga dikenal sebagai itik rakyat atau itik lokal. Suharno (2003) menyatakan bahwa itik lokal terbagi atas beberapa jenis yaitu itik Alabio di Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai, Kalimantan Selatan; itik Tegal di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah; itik Mojosari, di Mojosari, Mojokerto Jawa Timur; dan itik Bali yang terdapat di seluruh pulau Bali dan Lombok. Taksonomi itik dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Scanes et al., 2004) :

Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata

Klas : Aves

Super ordo : Carinatae Ordo : Anseriformes

Spesies : Anas platryhynchos (mallard dan domestik)

Itik di Indonesia mempunyai peluang usaha yang cukup tinggi dan itik juga merupakan salah satu sumber pendapatan bagi peternak kecil. Namun demikian,

(19)

5

jika dilihat dari tingkat populasi, perkembangan ternak itik yang ada di Indonesia relatif lebih lambat. Sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional yang diterapkan oleh sebagian besar peternak diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan ternak itik. Sistem pemeliharaan itik secara tradisioal sangat erat kaitanya dengan areal persawahan yang kondisi persawahan semakin intensif baik dari segi penanganan maupun dari segi penggunaan bahan kimia (Setioko, 1997).

Sistem pemeliharaan itik gembala dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu fully mobile, semi mobile, home based dan opportunist. Fully mobile merupakan sistem pemeliharaan itik yang berpindah – pindah mengikuti panen padi, dan peternak tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Semi mobile merupakan sistem pemeliharaan ini hampir mirip dengan sistem pemeliharaan fully mobile hanya saja pada sistem pemeliharaan ini peternak itik memiliki rumah sebagai tempat tinggal bersama keluarganya. Para peternak akan pulang kerumah masing – masing ketika itik mengalami gugur bulu (molting) sampai itik mulai bertelur kembali. Sistem pemeliharaan home based merupakan sistem pemeliharaan yang hanya mengikuti panen yang berada disekitar tempat tinggalnya saja. Bila tidak ada panen, maka peternak akan melepaskan itiknya dan membiarkannya berkeliaran di saluran irigasi, kolam atau genangan air yang terdapat disekitar sawah. Peternak juga memberikan pakan tambahan berupa jagung, menir dan gaplek. Sistem pemeliharaan opportunist merupakan sistem pemeliharaan dimana peternak akan membeli itik pada saat menjelang musim panen, dan akan menjualnya apabila musim panen telah selesai (Petheram dan Thahar, 1983).

(20)

6

Selain pakan yang diberikan oleh peternak, itik mendapatkan pakan tambahan dari sawah. Pada saat panen, pakan yang dikonsumsi itik berupa padi, keong serangga, dedaunan serta bahan – bahan lain yang tidak dapat dikenal. Bahan tersebut jumlahnya cukup bervariasi antara individual itik, waktu, tempat dan kondisi sawah, kandungan nutrisinya juga berbeda − beda, tetapi rata − rata

kandungan proteinnya hanya 9,3 % di bawah standar kebutuhan untuk itik petelur menurut NRC dan kalsium (Ca) 5,4% di atas kebutuhan kalsium itik pedaging (Setioko, 1997).

Menurut Wulyono dan Daroini (2013) kunci sukses keberhasilan usaha peternakan itik sangat ditunjang oleh kesediaan pakan itik per harinya. Teknis dan pola pemberian pakan memegang peranan dalam pertumbuhan, perkembangan dan produksinya. Pakan yang akan diberikan kepada itik sebaiknya pakan yang mudah untuk dicerna dalam saluran pencernaan itik.

Sistem Pencernaan

Saluran pencernaan pada ungags dapat dilihat pada gambar berikut :

(21)

7

Pencernaan merupakan serangkaian proses yang terjadi di dalam saluran pencernaan yaitu memecah ransum menjadi bagian – bagian atau partikel – partikel yang lebih kecil, dari senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana hingga larut dan dapat diabsorbsi oleh dinding saluran pencernaan hingga masuk ke dalam peredaran darah atau getah bening yang selanjutnya diedarkan ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan atau untuk disimpan didalam tubuh (Kamal, 1994 dalam Triyastuti 2005).

Sistem pencernaan merupakan suatu sistem yang terdiri dari saluran pencernaan dan organ – organ pelengkap yang berperan dalam proses peromakan makanan baik secara fisik maupun secara kimiawi menjadi senyawa yang siap untuk diserap oleh saluran pencernaan (Abun dalam Hamzah, 2013). Srigandono, (1997) dalam Triyastuti (2005) menyatakan bahwa alat-alat pencernaan pada itik, mencakup : (a). Mulut yang terdiri atas paruh dan ruang paruh serta lidah. Ransum yang masuk oleh pergerakan lidah didorong masuk ke dalam pharynx yang kemudian ditelan. Ransum yang terapung − apung di air ditelan dengan bantuan

alat penyaringan yang berupa lamella pararel. (b). Pharynx, proses menelan pada ternak itik tidak bersifat peristaltik karena itik tidak memiliki palat yang halus dan muskulus konstriktor pada pharynxnya. (c). Esophagus, ransum masuk ke esophagus semata-mata oleh adanya gravitasi (gaya berat) ransum dan karena tekanan yang lebih rendah di dalam ruang esophagus oleh leher yang dijulurkan ke atas. Demikian juga halnya dengan proses menelan air. (d). Crop, merupakan pelebaran dari dinding esophagus. Pada itik dan unggas air pada umumnya, crop tidak berkembang sempurna, tidak seperti pada ayam atau burung-burung pemakan

(22)

8

rumput. Crop semata-mata berfungsi sebagai penampung sementara bagi ransum. (e). Perut, terdiri atas perut kelenjar (proventrikulus) dan perut muskular (ventrikulus), sebagai alat penghancur ransum. (f). Usus Halus (intestine) terdiri atas duodenum sepanjang antara 22 sampai 38 cm, jejenum sepanjang 105 cm dan Ileum sepanjang 15 cm. (g). Kolon, terdapat dua seka yang masing-masing panjangnya 10 sampai 20 cm. (h). Rectum. (i). Kloaka.

Pada usus terjadi aktifitas penyerapan zat – zat atau sari – sari makanan yang dibutuhkan oleh tubuh (Doeschate et al, 1993). Usus halus merupakan tempat utama berlangsungnya proses pencernaan serta absorbsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang masuk ke dalam saluran ini berfungsi mempercepat dan mengefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein dan lemak untuk mempermudah proses absorbsi. Secara anatomis usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Duodenum bermula dari ujung distal gizzard, pada bagian ini berbentuk kelokan yang biasa disebut duodenall loop. Pada bagian kelokan tersebut merupakan tempat menempelnya pangkreas yang nantinya akan mensekresikan pangcreatic juice yang mengandung enzim amilase, lipase dan tripsin. Jejunum dan ileum merupakan bagian paling sulit untuk dibedakan pada saluran pencernaan. Usus halus merupakan saluran yang berkelok – kelok dengan banyak lipatan yang biasa disebut vili atau jonjot usus. Vili ini berfungsi memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap proses penyerapan makanan (Suprijatna, et al., 2008).

Proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan dapat dipengaruhi oleh luas permukaan epithel usus, jumlah lipatan-lipatannya, dan banyaknya villi dan

(23)

9

mikrovilli yang memperluas bidang penyerapan (Austic dan Nesheim, 1990 dalam Ibrahim 2008). Kondisi usus halus seperti villi pada usus halus menggambarkan area untuk penyerapan nutrisi yang lebih luas (Awad et al., 2009 dalam Jamilah dkk., 2014). Peningkatan tinggi villi dan lebar villi diasosiasikan dengan lebih luasnya permukaan villi untuk penyerapan nutrisi masuk ke dalam aliran darah (Miles et al., 2006 dalam Jamilah, dkk., 2014). Peningkatan tinggi villi pada usus halus ayam pedaging berkaitan erat dengan peningkatan fungsi pencernaan dan fungsi penyerapan karena meluasnya area absorpsi serta merupakan suatu ekspresi lancarnya sistem transportasi nutrisi ke seluruh tubuh (Awad et al., 2008). Vili merupakan tempat penyerapan zat zat gizi, semakin lebar vili semakin banyak zat zat makanan yang akan diserap pada akhirnya dapat berdampak pada pertumbuhan organ organ tubuh, karkas yang meningkat (Asmawati, 2013).

Sebagian besar pencernaan terjadi pada usus halus, pada usus halus terjadi pemecahan zat-zat makanan menjadi zat yang lebih sederhana, dan hasil pencernaan yang telah disederhanakan akan diedarkan ke dalam aliran darah melalui gerakan peristaltik yang terjadi pada usus. Pada saluran pencernaan, khususnya usus halus terdapat mikroorganisme patogen yang dapat mengganggu proses pencernaan pada usus, mikroorganisme patogen yang sering menyebabkan gangguan adalah Escherichia coli. Escherichia coli yang terdapat dalam saluran pencernaan, dapat merusak mukosa saluran pencernaan secara potensial (Wresdiyati, dkk., 2013).

Untuk mengatasi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh adanya gangguan oleh mikroorganisme patogen para peternak biasanya menggunakan

(24)

10

antibiotik untuk menekan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen. Antibiotik telah digunakan oleh banyak pihak di berbagai negara. Antibiotik dengan dosis rendah diberikan ke dalam pakan dengan tujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan. Antibiotik yang biasa digunakan sebagai pemacu pertumbuhan yaitu bacitracin, penicilin, virginiamicyn, flavomicyn, chlortertacilyn, oxytetracilyn, colistine sulfat, doxycilyn, dan erytromicyn (Chowdhury, et al., 2009).

Namun seiring dengan berjalanya waktu, penggunaan antibiotik pada ternak mulai dibatasi karena dapat menimbulkan penyakit dan bersifat racun pada manusia dan dapat menyebabkan perkembangan mikroorganisme patogen yang resisten terhadap antibiotik meningkat (Castanon, 2007). Pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan menghasilkan peningkatan infeksi penyakit pada unggas (Casewell, et al., 2003). Pada saat ini, industri peternakan harus mencari solusi untuk menggantikan peran antibiotik dan tidak memberikan efek negatif pada ternak dan bagi manusia yang mengkonsumsinya.

Gambaran Umum Kunyit

Kunyit (Curcuma longa) termasuk salah satu tanaman rempah dan tanaman obat. Kunyit berasal dari daratan Asia khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian menyebar ke daerah Indonesia, Malaysia (Hartati, 2013). Lal (2012) mengklasifikasikan tanaman kunyit sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

(25)

11

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae (suku jahe-jahean)

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma longa L.

Gambar tanaman dan rimpang kunyit dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2. Kunyit (Curcuma longa) (Anonim, 2008)

Tanaman kunyit berupa semak dengan tinggi ±70 cm. Batang semu, tegak, bulat, dan membentuk rimpang. Berwarna hijau kekuningan, daun tunggal dan berbentuk lanset memanjang. Helai daun tiga sampai delapan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm. Pertulangan daun menyirip. Daun berwarna hijau pucat. Bunga majemuk, berambut dan bersisik. Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang mahkota ±3 cm, lebar ±1cm, berwarna kuning. Kelopak silindris, tipis dan berwarna ungu. Pangkal daun pelindung berwarna putih. Akar berupa akar serabut dan berwarna coklat muda (Anonim, 2008). Kunyit juga sering dijadikan sebagai bahan baku obat dan tak jarang juga digunakan sebagai

(26)

12

rempah atau bumbu dapur dan sebagai salah satu zat pewarna alami (Rahardjo dan Rostiana, 2005).

Rimpang kunyit mengandung berbagai zat aktif diantaranya minyak atsiri yang terdiri atas monoterpen dan seskuiterpen dan kurkuminoid, protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C (Himma, 2010). Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah kurkuminioid dan minyak atsiri. Kandungan kurkuminoid berkisar antar 3-5% yang terdiri dari kurkumin dan turunannya yaitu demetoksikurmin dan bisdemetoksikurkumin. Kandungan minyak atsiri berkisar antara 2,5-6% yang terdiri dari komponen artumeron, alfa dan betatumeron, tumerol, alfa atlanton, beta kariofilen, dan linalol. Selain kurkuminoid dan minyak atsiri rimpang kunyit mengandung senyawa lain seperti pati, lemak, protein, kamfer, resin, damar, gom, kalsium fosfor, dan zat besi (Hartati, 2013). Minyak atsiri pada kunyit dapat memberi efek anti mikroba dan kurkumin sebagai anti inflamasi dan meningkatkan kerja organ pencernaan. Aktivitas biologis kunyit berspektrum luas diantaranya adalah sebagai antioksidan, antibakteri dan hipokolesteremik, mempunyai sifat kolagogum (peluruh empedu), sehingga dapat meningkatkan penyerapan vitamin A, D, E dan K (Agustina, 2013). Ekstrak etanol rimpang kunyit memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, dan Salmonella typhosa (Himawan, et al.,2012).

Rusli (2009) menyatakan bahwa rimpang kunyit mengandung senyawa anti bakteri turunan fenol, senyawa tersebut dapat masuk ke dalam sitoplasma bakteri dan merusak sistem kerja sel bakteri sehingga mengakibatkan lisisnya sel, serta

(27)

13

dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Kunyit memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi, kurkumin merupakan komponen utama pada kunyit yang menyebabkan tingginya aktifitas antioksidan tersebut (Chattophadyay, et al., 2004). Menurut Lal (2012) kunyit memiliki banyak unsur pokok yang memperlihatkan berbagai macam aktivitas biologis. Kunyit mengandung paling tidak 20 molekul antibiotik, 14 cancer preventives, 12 anti-tumor, 12 anti-inflamasi, dan setidaknya 10 antioksidan yang berbeda.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui manfaat kunyit untuk meningkatkan performa ternak unggas. Sultan et al. (2003) melaporkan pemberian kunyit pada level 0,5% dalam pakan ayam broiler dapat meningkatkan bobot badan, menurunkan konsumsi pakan, yang menghasilkan feedconvertion ratio yang lebih baik. Suplementasi kunyit pada pakan 0,5% secara signifikan dapat meningkatkan kualitas karkas, mengurangi persentasi lemak, dan meningkatkan bobot daging dada, paha, dan jeroan. Peningkatan bobot badan dan kualitas karkas pada penelitian tersebut dihubungkan pada aktifitas antioksidan pada kunyit melalui stimulasi sintetis protein pada usus oleh aktifitas enzimatis.

(28)

14

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2016. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, sebagai tempat pemeliharaan itik dan Laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner, Maros sebagai tempat pembuatan preparat usus.

Materi Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik lokal yang berumur satu hari Day Old Duck (DOD), sebanyak 64 ekor dengan jenis kelamin campuran yang diperoleh dari penetasan rakyat di Kabupaten Sidenreng Rappang. Bahan lain yang digunakan adalah rimpang kunyit, pakan butiran, jagung, dedak, bungkil kelapa, Meat and Bone Meal (MBM), kedelai, grit, premix, air minum, dan vaksin. Bahan-bahan pendukung antara lain: alkohol 70 %, formalin, parafin dan akuades.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kandang open house berdinding bambu. Peralatan lain yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu mikrotom, wadah penyimpanan, mikroskop dan timbangan analitik, tempat minum, tempat pakan, timbangan pakan dan kamera Optilab.

Rancangan Penelitian

Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 4 ulangan (setiap ulangan terdiri atas 4 ekor itik sebagai sub-ulangan). Perlakuan yang akan diterapkan adalah 4 level pemberian tepung kunyit pada pakan:

(29)

15

K0 : Pakan basal + 0 % tepung kunyit (kontrol) K1 : Pakan basal + 0,5 % tepung kunyit (5 g/1 kg) K2 : Pakan basal + 1 % tepung kunyit (10 g/1 kg) K3 : Pakan basal + 2 % tepung kunyit (20 g/1 kg) Prosedur Penelitian

a. Persiapan Kandang

Kandang itik yang digunakan sebanyak 16 petak yang terbuat dari bilah bambu, dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 80 cm. Tiap petak dilengkapi dengan lampu pijar 40 watt yang berfungsi sebagai pemanas dan litter yang berasal dari serbuk gergaji. Setiap petak dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum gantung. Persiapan lain yang diperlukan yaitu melakukan fumigasi kandang dengan menggunakan campuran formalin dan air dengan dosis 1: 10.

b. Pembuatan Tepung Kunyit

Kunyit yang digunakan diperoleh dari pasar tradisional yang terdapat di Makassar. Proses pembuatan tepung kunyit di mulai dengan pencucian rimpang kunyit dengan tujuan untuk menghilangkan tanah yang masih menempel pada rimpang kunyit. Setelah rimpang kunyit ditiriskan, rimpang kunyit diiris tipis lalu disebar kedalam oven tray (kotak berisi talang). Sumber panas yang digunakan dalam proses pembuatan tepung kunyit adalah 3 buah lampu pijar 40 watt yang digantung di atasnya dengan jarak 40 cm, dan dilengkapi dengan kipas yang berfungsi untuk menyebarkan panas. Suhu oven tray berkisar antara 55-60oC. Proses ini berlangsung selama 20-24 jam. Setelah proses pengeringan selesai, irisan kunyit digiling dalam bentuk tepung.

(30)

16

c. Penyusunan pakan basal

Bahan penyusun pakan yang diberikan terdiri atas jagung kuning, pollard, dedak, bungkil kedelai, grit, lysin, Meat Bone Meal (MBM) dan metionin. Susunan komposisi dan kandungan nutrisi pakan basal penelitian disusun berdasarkan rekomendasi SNI (2008) terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Pakan Penelitian

Jenis Pakan Komposisi (%)

Jagung kuning 40,00 Pollard 10,00 Bungkil kedelai 15,00 MBM 9,00 Dedak 25,00 Grit 0,40 Lysin 0,30 Methionin 0,30 Total 100,00

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Pakan Penelitian

Kandungan Nutrisi Komposisi (%)

Air 12,21 Protein Kasar 19,57 Lemak Kasar 11,90 Serat Kasar 7,42 Abu 8,06 BETN 53,05

*Berdasarkan hasil analisis proksimat di Laboratorium Kimia Pakan, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin

d. Pemeliharaan

Pemeliharaan itik dimulai pada hari 1-70 dan ditempatkan pada kandang percobaan dan diacak. Pada setiap unitnya diisi 4 ekor itik dan perlakuan pemberian pakan dimulai pada hari ke 1-70. Lama pencahayaan penelitian masing-masing 24 jam, yang berasal dari lampu neon yang digantung pada kandang setinggi 2 meter. Itik ditempatkan pada kandang percobaan dan pengacakan dilakukan pada setiap unit penelitian untuk mengisi masing-masing satu petak kandang, setiap petak diisi

(31)

17

4 ekor itik. Perlakuan pemberian tepung kunyit dilakukan melalui pakan yang dimulai pada hari ke-1 hingga akhir pemeliharaan (hari ke-70) sesuai dengan level penambahan tepung kunyit. Pada 15 hari pertama, setiap petak percobaan dipasangi lampu pijar dengan ketinggian 30 cm di atas permukaan litter yang befungsi sebagai pemanas pengganti indukan. Sumber cahaya berasal dari lampu neon yang ditempatkan pada bagian atas kandang setinggi 2 m dengan lama pencahayaan 24 jam. Pada malam hari, sisi kandang dipasangi dengan tirai untuk menghindarkan itik dari kondisi dingin dan angin.

Pemberian pakan diberikan dua kali sehari (pagi dan sore) yang diberi sesuai dengan kebutuhan hariannya dengan menimbang jumlah pemberian sesuai dengan Tabel 3. Air minum diberikan secara tidak terbatas dua kali sehari (ad libitum). Air minum yang diberikan merupakan air sumur yang bersih. Selain itu, selama pemeliharaan suhu dan kelembaban minimum dan maksimum lingkungan dicatat setiap harinya.

Tabel 3. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Umur Pemeliharaan.

Umur (hari) Jumlah pakan yang diberi (g/ekor/hari)

1 – 7 15 8 – 14 41 15 – 21 53 22 – 28 79 29 – 35 108 36 – 42 108 43 – 49 125 50 – 56 125 57 – 63 143 64 – 70 150

(32)

18

e. Pengambilan sampel usus

Pengambilan 16 ekor sampel dilakukan pada akhir pemeliharaan (70 hari) yang berasal dari masing-masing unit perlakuan (4 perlakuan x 4 ulangan). Sampel yang diambil adalah usus halus yang terdiri atas duodenum, jejunum, ileum. Selanjutnya usus halus ditimbang dan diukur panjangnya. Pengukuran panjang usus halus diukur mulai dari pangkal gizzard hingga pertemuan saluran empedu (duodenum) lalu pertemuan saluran empedu hingga meckels divertikulum (jejenum) dan dari meckels divertikulum hingga percabangan caeca (illeum). Panjang usus halus diukur menggunakan pita ukur. Selanjutnya setiap bagian usus halus dipotong ± 1 cm untuk pembuatan preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin Eosyin (HE). Potongan dari setiap bagian usus halus dimasukkan dalam wadah yang telah berisi formalin 10% dan telah diberi label.

Pembuatan preparat histologi dengan pembuatan preparat Hematoxylin Eosin (HE) dengan penginterprestasian data yang dilakukan, bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Maros.Pembuatan preparat pada organ usus halus dilakukan dengan metode (Taryu, 2005) sebagai berikut :

1. Fiksasi

Sampel difiksasi ke dalam plastik yang telah berisi 10% Buffer Neutral Formalin (BNF) untuk pewarnaan umum.

2. Dehidrasi

Sampel didehidrasi (proses penarikan air dari jaringan) dalam alkohol bertingkat yaitu alkohol 70%, 80%, 90%, alkohol absolut I, dan alkohol absolut II

(33)

19

masing-masing selama dua jam, setelah itu sampel dibersihkan dengan xylol I dan xylol II selama masing-masing dua jam.

3. Perendaman (Embedding) dan Pencetakan (Block)

Embedding merupakan proses penanaman sampel dalam parafin. Proses ini dilakukan dekat dengan sumber panas agar parafin cair tidak membeku sebelum dilakukan pencetakan. Sampel dimasukkan ke dalam cetakan yang berisi parafin cair kurang lebih setengah dari dinding cetakan, setelah agak beku ditambahkan parafin lagi pada cetakan hingga penuh. Sampel diberi label, diatur letaknya dan didinginkan dalam referigerator hingga parafin benar-benar membeku.

4. Pemotongan (Sectioning)

Setelah parafin beku dilakukan pemotongan setebal empat µm dengan menggunakan mikrotom. Kemudian dilakukan penempelan sediaan pada gelas objek (mounting) yang dilakukan di atas permukaan air pada suhu 45°C.

5. Teknik Pewarnaan Hematoksilin Eosin

Sampel diwarnai dengan menggunakan Hematoksilin Eosin (HE). 6. Pengukuran tinggi dan lebar vili

Preparat histologi usus diukur dengan menggunakan mikroskop, kamera optilab dan programnya dan langsung dihubungkan ke laptop. Pengukuran tinggi dan lebar vili dilakukan dengan cara mengukur jarak tertinggi dan terlebar dari vili. Parameter yang diukur

Uji Morfometri:

− Panjang usus halus (cm) diukur mulai dari pangkal gizzard hingga pertemuan saluran empedu (duodenum) lalu pertemuan saluran empedu hingga meckels

(34)

20 divertikulum (jejenum) dan dari meckels divertikulum hingga percabangan caeca (illeum). Panjang usus halus diukur menggunakan pita ukur.

− Persentase bobot usus halus (%)

Persentase bobot usus halus dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :

𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑢𝑠𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑙𝑢𝑠 =bobot usus halus

bobot hidup × 100%

Histologi Usus:

a) Tinggi vili : diukur jarak tertinggi vili. b) Lebar vili : diukur jarak terlebar vili

Keterangan: (A) tinggi vili diukur dari daerah apikal hingga daerah basal vili, (B) lebar vili diukur dari jarak terlebar vili

Gambar 3. Pengukuran Tinggi dan Lebar Vili

Analisis Data

Data tinggi dan lebar vili yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu penyajian dalam bentuk gambar, sedangkan data panjang dan bobot usus halus diolah dengan sidik ragam sesuai dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 4 ulangan (Gasperz, 1991) dengan model matematika sebagai berikut:

(35)

21

Keterangan:

Yij = Hasil pengamatan dari parameter pada penggunaan tepung kunyit ke-i dengan ulangan ke-j

μ = Rata-rata pengamatan

τi = Pengaruh perlakuan tepung kunyit ke-i terhadap parameter yang diukur єj = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Apabila perlakuan nyata terhadap parameter yang diukur maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Gaspersz, 1991).

Y

ij

= μ + τi + єj

i = 1, 2, 3, 4 j = 1, 2, 3, 4

(36)

22

HASIL DAN PEMBAHASAN

Panjang dan Bobot Usus Halus

Usus halus merupakan tempat utama berlangsungnya proses pencernaan serta absorbsi produk pencernaan, berbagai reaksi enzimatis terjadi di dalam usus halus yang berfungsi untuk mempercepat dan mengefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak utuk mempermudah proses absorbsi. Jika konsumsi pakan meningkat maka panjang dan luas permukaan usus akan meningkat karena kinerja usus akan mengalami peningkatan pada proses absorbsi nutrisi pada pakan. Pengaruh kunyit terhadap persentase panjang dan bobot usus halus dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Panjang dan Bobot Usus Halus Itik yang Diberi Tepung Kunyit dalam Pakan

Perlakuan Panjang Usus Halus (cm) Bobot Usus Halus (%)

K0 153,50 ± 25,51 2,95 ± 0,26

K1 160,75 ± 11,99 3,16 ± 0,45

K2 161,75 ± 5,73 3,37 ± 0,52

K3 163,75 ± 6,75 3,20 ± 0,51

Keterangan : K0 (pakan basal+0% tepung kunyit), K1 (pakan basal+0,5% tepung kunyit), K2 (pakan basal+1% tepung kunyit), K3 (pakan basal+2% tepung kunyit)

Berdasarkan Tabel 3, menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit dalam pakan itik tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang usus halus. Hal tersebut disebabkan karena umur itik kontrol dan itik perlakuan sama yaitu 70 hari, hal ini sesuai dengan pendapat Jull (1972) yang dikutip dari penelitian Brahmasto (2011) yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan saluran pencernaan tertinggi pada unggas terjadi pada saat menetas hingga umur 6 minggu dan setelah itu pertumbuhannya berangsur–angsur menurun dan bahkan pada suatu saat akan

(37)

23

terhenti. Meskipun tidak berpengaruh nyata, terdapat kecenderungan semakin tinggi pemberian level tepung kunyit maka usus itik akan semakin memanjang.

Persentase bobot usus halus yang terdapat pada Tabel 3 menunjukan bahwa K0 (kontrol) 2,95 ± 0,26 dengan persentase bobot usus halus itik perlakuan tidak berbeda nyata yaitu 3,16 ± 0,45, 3,37 ± 0,52, 3,20 ± 0,51. Hal tersebut disebabkan karena daya cerna nutrisi pakan yang relatif sama, jika konsumsi pakan meningkat, maka permukaan dari usus akan mengalami perluasan karena kinerja usus akan meningkat pada proses absorbsi nutrisi pada pakan. Vili yang terdapat di dalam usus memiliki peran penting dalam proses penyerapan nutrisi makanan (Cahyono dkk., 2012).

Perfoma vili usus dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis zat pakan, zat kimia pakan dan zat feed additive. Retnoadiati (2001) menyatakan bahwa rasum yang memerlukan penyerapan secara intensif, maka usus akan memperluas permukaanya dengan cara mempertebal dinding usus atau memperpanjang usus sehingga banyak nutrisi yang akan diserap oleh usus. Hermana dan Aliyani (2003) berpendapat bahwa pakan yang memiliki serat kasar tinggi menyebabkan protein sulit terdegradasi, sehingga panjang usus halus akan lebih panjang dibandingkan dengan pada saat mengonsumsi pakan dengan serat kasar rendah.

(38)

24

Rata – Rata Tinggi dan Lebar Vili Usus Halus Itik

a. Tinggi Vili

Vili merupakan tonjolan kecil mirip jari atau daun pada membran mukosa, panjangnya 0,5 sampai 1,5 mm dan hanya terdapat pada usus halus. Vili usus memiliki peranan yang penting pada proses penyerapan nutrisi makanan di dalam usus. Luas permukaan usus halus seperti tinggi villi menggambarkan area untuk penyerapan zat-zat nutrisi, salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas pertumbuhan adalah struktur morfologi usus (Wang et al., 2008).

Gambaran tinggi vili usus itik yang diberi tambahan tepung kunyit dalam pakan dapat dilihat pada Gambar berikut :

Gambar 4. Vili Usus Itik Bagian Duodenum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan.

Gambar 5. Vili Usus Itik Bagian Jejunum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan.

(39)

25

Gambar 6. Vili Usus Itik Bagian Ileum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan.

Pengaruh penambahan tepung kunyit dalam pakan terhadap tinggi vili usus halus itik dapat dilihat pada Gambar 7 berikut :

Keterangan : K0 (pakan basal+0% tepung kunyit), K1 (pakan basal+0,5% tepung kunyit), K2 (pakan basal+1% tepung kunyit), K3 (pakan basal+2% tepung kunyit)

Gambar 7. Grafik Rata – rata Tinggi Vili Usus Itik yang Diberi Tepung Kunyit dalam Pakan

Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa ukuran tinggi vili tidak menunjukkan adanya perbedaan. Rata–rata tinggi vili itik perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan itik yang tidak diberi tambahan kunyit dalam pakan. Ukuran tinggi vili tertinggi pada duodenum dan ileum terdapat pada itik yang diberi perlakuan dengan penambahan 1% tepung kunyit yaitu 812,76 µm dan 822,87 µm. pada bagian

588.89 631.47 812.76 562.29 534.16 707.80 682.74 787.80 453.98 611.84 822.87 533.35 0 200 400 600 800 1000 K0 K1 K2 K3 Ti n gg i V ill i ( µm ) Perlakuan

(40)

26

ukuran vili tertinggi jejunum yaitu pada penambahan 2% dengan tinggi vili 787,80 µm.

Meskipun rata- rata tinggi vili usus itik tidak jauh berbeda, terdapat kecenderungan peningkatan persentase ukuran tinggi vili pada duodenum dan ileum pada level penambahan tepung kunyit 0,5% dan 1% setelah itu menurun pada level 2%. Hal tersebut disebabkan oleh adanya aktivitas kurkumin yang terdapat di dalam kunyit dapat meningkatkan kinerja organ pencernaan. Purwanti (2008) menyatakan bahwa Kurkumin yang terkandung di dalam kunyit memiliki khasiat yang dapat mempengaruhi nafsu makan karena dapat mempercepat pengosongan isi lambung sehingga nafsu makan meningkat dan memperlancar pengeluaran empedu sehingga meningkatkan aktivitas saluran pencernaan. Peningkatan tinggi vili pada usus halus ayam pedaging berkaitan erat dengan fungsi pencernaan dan penyerapan kerena meluasnya area absorbsi serta merupakan suatu ekspresi lancarnya transportasi nutrisi ke seluruh tubuh (Awad et al., 2008).

b. Lebar Vili

Gambaran lebar vili usus itik yang diberi tambahan kunyit dalam pakan dapat dilihat pada Gambar berikut:

Gambar 8. Lebar Vili Usus Itik Bagian Duodenum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan

(41)

27 117.01 64.56 104.43 117.47 172.92 127.54 112.39 112.29 101.14 122.77 165.76 139.72 0 50 100 150 200 K0 K1 K2 K3 Le b ar V ill i (µm ) Perlakuan

Duodenum Jejunum Ileum

Gambar 9. Lebar Vili Usus Itik Bagian Jejunum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan

Gambar 10. Lebar Vili Usus Itik Bagian Ileum yang diberi Tambahan Tepung Kunyit dalam Pakan

Rata – rata lebar vili usus itik yang di beri tepung kunyit dalam pakan sebanyak 0,5%, 1% dan 2% dapat dilihat pada Gambar 11 berikut :

Keterangan : K0 (pakan basal+0% tepung kunyit), K1 (pakan basal+0,5% tepung kunyit), K2 (pakan basal+1% tepung kunyit), K3 (pakan basal+2% tepung kunyit)

Gambar 11. Grafik Rata – rata Lebar Vili Usus Itik yang Diberi Kunyit dalam Pakan

(42)

28

Gambar 11 menunjukkan bahwa pemberian tepung kunyit tidak memberikan perbedaan lebar vili antara usus itik tanpa pemberian tepung kunyit (kontrol) dan itik yang diberi perlakuan. Pada bagian jejunum, vili usus itik tanpa pemberian tepung kuyit lebih lebar yaitu 117,0 µm dibandingkan dengan usus itik dengan level pemberian tepung kunyit 0,5% dan 1% yaitu 64,56 µm dan 104,43 µm. Pada bagian jejunum, lebar vili usus semakin menurun seiring dengan semakin meningkatnya level pemberian tepung kunyit. Hal tersebut kemungkinanan disebabkan oleh aktivitas zat anti nutrisi yang terkandung didalam kunyit, zat anti nutrisi yang terkandung didalam kunyit adalah tannin. Mekanisme kerja dari zat anti-nutrisi ini berbeda-beda tergantung pada jenis senyawa dan asal tanaman yang menghasilkan senyawa tersebut, misalnya inaktivasi beberapa jenis nutrisi, menghambat proses cerna, atau penggunaan nutrisi tertentu dalam metabolisme (Kumar, 1992).

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin tinggi level pemberian tepung kunyit lebar vili usus itik bagian ileum cenderung mengalami peningkatan. Hal tersebut mmungkin disebabkan oleh aktivitas dari kurkumin dan minyak atsiri yang terdapat di dalam tepung kunyit mampu menghambat bakteri patogen yang dapat mengganggu saluran pencernaan. Hal ini didukung oleh pendapat Said (2003) yang menyatakan bahwa minyak atsiri pada kunyit terbukti bersifat membunuh bakteri (bakterisidal), minyak atsiri juga mampu menghambat pertumbuhan sel vegetatif Bacillus dengan menghambat sporanya. Minyak atsiri yang terkandung di dalam tanaman kunyit mengandung senyawa fenol yang mampu mendenaturasi protein dan menyebabkan kematian bakteri.

(43)

29

Minyak atsiri yang aktif sebagai antibakteri pada umumnya mengandung gugus fungsi hidroksil (OH) dan karbonil. Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membrane mengalami lisis (Parawata dan Dewi, 2008).

(44)

30

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung kunyit seanyak 0,5%, 1%, dan 2% ke dalam pakan itik tidak memberikan perbedaan terhadap histologi usus (tinggi dan lebar vili) dan penambahan tepung kunyit juga tidak memberikan pengaruh terhadap morfometri (panjang dan bobot) usus itik.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap level pemberian tepung kunyit yang lebih tinggi.

(45)

31

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, L. 2013. Penggunaan ramuan herbal sebagai feed additive untuk meningkatkan performans broiler. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi dalam Mendukung Usaha Ternak Unggas Berdaya Saing. JITV.

Al-Sultan, S.I. 2003. The effect of Curcuma longa (turmeric) on overall performance of broiler chickens. Int. J. Poult. Sci., 2: 351-353.

Anonim. 2008. Curcuma domestica Val. Direktorat Obat Asli. Indonesia.

Asmawati. 2013. The effect of in ovo feeding on hatching weight and small intestinal tissue development of native chicken. (Disertasi) Fakultas Peternakan Unniversitas Hasanuddin. Makassar.

Awad, W. A., K. Ghareeb, S. Nitclu S. Pasteiner, S. A. Raheem, and J. Bohm. 2008. Efect of dietary inclusion of probiotic, prebiotic and symbiotic on intestinal glucose absorb'tion of broiler chickens. Lrt. J. Poult. Sci. 7: 688-691.

Casewell, M., C. Friis, E. Marco, P. Mc Mullin, and I. Phillips. 2003. The European ban on growth-promoting antibiotics and emerging consequences for human and animal health. J. Antimic. Chemother., 52: 159–161.

Castanon, J. I. R. 2007. Review: History of the use of antibiotic as growth promoters in European poultry feeds. Poult. Sci., 86: 2466–2471.

Chattopadhyay, I., K. Biswas, U. Bandyopadhyay and R. K. Banerjee. 2004. Turmeric and curcumin: Biological actions and medical applications (review). Curr. Sci., 87(1):44-53.

Chowdhury, R., K. M. S. Islam, M. J. Khan, M. R. Karim, M. N. Haque, M. Khatun and G.M. Pesti. 2009. Effect of citric acid, avilamycin, and their combination on the performance, tibia ash, and immune status of broilers. Poult. Sci., 88: 1616-1622.

Ditjennak. 2015. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI. Jakarta.

Gasperz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. CV. Armico. Bandung. Hamzah. 2013. Respon usus dan karakteristik karkas pada ayam ras pedaging

dengan berat badan awal berbeda yang dipuasakan setelah menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hartati, S Y. 2013. Khasiat kunyit sebagai obat tradisional dan manfaat Lainnya. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Indsutri, 19(2):5-9.

(46)

32

Himma, A. 2010. Pengaruh ekstrak rimpang kunyit kuning (Curcuma domestica Val.) dengan pelarut etanol terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis, Escheria coli, Salmonella typhi dan Shigella dysentriae. Skripsi. FKIP. Unversitas Jember. Jember.

Ibrahim, S. 2008. Hubungan ukuran-ukuran usus halus dengan berat badan broiler.Agripet : Vol (8) No. 2: 42-46.

Infante, K., R. Chowdhury, R. Nimmanapalli, G. Reddy. 2014. Antimicrobial activity of curcumine against food-borne pathogens. VRI Bio. Med. Chem., 2:12–19.

Jamilah, N. Suthama L, D. Mahfuds. 2014. Pengaruh penambahan jeruk nipis sebagai acifier pada pakan step down terhadap kondisi usus ayam pedaging. J.Animal Agriculture: Vol (2) No. 1:309-318

Korver, D. R. 2006. Overview of the immune dynamics of the digestive system. J. Appl. Poult. Research,15: 123-135.

Lal, J. 2012. Turmeric, curcumin and our Life: a review. Bull. Environ. Pharmacol. Life Sci., 1(7): 11 – 17.

Pratikno, H. 2010. Pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica val) terhadap bobot badan ayam broiler (Gallus sp). Buletin Anatomi dan Fisiologi, 18(2): 39-46.

Purwanti. 2008. Kajian efektifitas pemberian kunyit, bawang putih dan mineral zink terhadap performa, kadar lemak, kolesterol dan status kesehatan broiler. Thesis. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Rahardjo, M. dan O. Rostiana. 2005. Budidaya Tanaman Kunyit. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika. Sirkuler NO 11.

Scanes, C.G., G. Brat dan M. E. Ensminger, 2004. Poultry Science. 4th Edition Prentince Hall: New Jersey.

Setioko, A.R. 1997. Prospek dan kendala peternakan itik gembala di Indonesia. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. P: 254 – 261.

Srigandono, B., 1997. Produksi Unggas Air. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Suharno, B. 2003. Beternak Itik Secara Intensif. Penebar Swadaya. Jakarta.

Triyastuti, A., 2005. Pengaruh penambahan enzym dalam ransum terhadap performan itik lokal jantan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

(47)

33

Taryu. 2005. Pemberian benalu teh (Scurrula oortiana) pada ayam petelur: Gambaran histopatologi organ hati dan ginjal. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wresdiyati, U., S. R. Laila, R. Setio, I. A. Arief dan M. Astawan. 2013. Probiotik indigenus meningkatkan profil kesehatan usus halus tikus yang diinfeksi enteropathogenic E. coli. Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wulyono., T. dan A. Daroini. 2013. Strategi pengembangan itik dalam rangka peningkatan pendapatan peternak di Kabupaten Kediri. Jurnal Manajemen Agribisnis, Vol 13, No. 2, Juli 2013.

(48)

34

Lampiran 1.Persentase bobot usus itik yang di beri tepung kunyit

Descriptive Statistics Dependent Variable:BeratUsus Perlaku an Mean Std. Deviation N K0 2.95000 .257941 4 K1 3.16250 .446346 4 K2 3.36500 .521057 4 K3 3.20250 .508290 4 Total 3.17000 .427161 16

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:BeratUsus

Source

Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model .350a 3 .117 .587 .635 Intercept 160.782 1 160.782 808.341 .000 Perlakuan .350 3 .117 .587 .635 Error 2.387 12 .199 Total 163.519 16 Corrected Total 2.737 15

(49)

35

Lampiran 2.Panjang usus halus itik yang diberi tepung kunyit dalam pakan

Descriptive Statistics

Dependent Variable:BeratUsus

Perlakuan Mean Std. Deviation N

K0 153.50000 25.514702 4

K1 160.75000 11.982626 4

K2 161.75000 5.737305 4

K3 163.75000 6.751543 4

Total 159.93750 13.805645 16

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:BeratUsus

Source

Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 239.688a 3 79.896 .366 .779 Intercept 409280.062 1 409280.062 1875.102 .000 Perlakuan 239.687 3 79.896 .366 .779 Error 2619.250 12 218.271 Total 412139.000 16 Corrected Total 2858.938 15

(50)

36

Lampiran 3.Data konsumsi pakan selama penelitian (umur 1-70 hari)

Perlakuan Konsumsi Pakan (g/ekor)

K0 5842,13±400,39

K1 5728,29±299,58

K2 6168,93±205,08

K3 6159,17±272,38

Keterangan : K0 (pakan basal), K1 (pakan basal+0,5% tepung kunyit), K2 (pakan basal+1% tepung kunyit), K3 (pakan basal+2% tepung kunyit)

(51)

37

Lampiran 4. Dokumentasi Pemeliharaan

Gambar

Gambar 1. Saluran Pencernaan Unggas (Sapoetra, 2013)
Gambar tanaman dan rimpang kunyit dapat dilihat pada gambar berikut :
Tabel 3. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Umur Pemeliharaan.
Gambar 5. Vili Usus Itik Bagian Jejunum  yang diberi Tambahan Tepung Kunyit  dalam Pakan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penambahan ekstrak limbah jamu kunyit pada pakan ikan nila tidak memberikan perbedaan nyata pada parameter kelangsungan hidup, tetapi memiliki hasil pertumbuhan ikan

Penambahan tepung daun beluntas sampai dengan taraf 2% dalam pakan menghasilkan nilai rataan kadar air, kadar abu dan kadar protein dari sosis daging itik itik yang relatif

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan taraf penambahan tepung kunyit dan umur berbeda memberikan jumlah bakteri coliform dan konsistensi feses yang

Hasil penelitian dengan perlakuan pemberian tepung kunyit ( Curcuma longa L.) dengan dosis 0 mg sebagai kontrol, 13,5 mg, 27 mg, dan 54 mg menunjukkan tidak berbeda

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kunyit sampai dengan level 0,6% dalam ransum tidak mempengaruhi bobot karkas, persentase bagian

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kunyit sampai dengan level 0,6% dalam ransum tidak mempengaruhi bobot karkas, persentase bagian

Hasil penelitian menunjukkan penambahan tepung kunyit pada pakan ayam pejantan memberikan pengaruh tidak beda nyata (P<0,05) terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit hingga 1% bahan kering pada ransum sapi Peranakan Ongole menunjukkan pengaruh positif