• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS "

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH

RIESA MADINAH 105710224715

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019

(2)

ii

SKRIPSI

KONTRIBUSI RETRIBUSI OBJEK WISATA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN BONE

PERIODE 2009-2018

RIESA MADINAH 105710224715

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

Sebagai Persyarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)

iii

PERSEMBAHAN

Karya ilmiah ini kupersembahkan untuk kedua orang tua tercinta Bapak H. Rudi Muis dan Ibu Hj. Rohani Nur

Yang selalu memberikan doa dan motivasi sepenuhnya

MOTTO HIDUP

Jangan pernah berharap akan dapat yang lebih baik jika Kamu tidak berlaku baik. Perbaikilah dirimu sendiri, maka akan

datang segala kebaikan kepadamu

(4)
(5)
(6)
(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin, puji dan syukur Allah SWT, berkat rahmat dan hidayat-nyalah sehingga penulis skripsi ini dapat diselesaikan pada waktunya.

Skripsi ini berjudul “Peran Sektor Pertanian Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Di Kabupaten Gowa”, dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna menyelesaikan studi Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, rasa terimakasih yang sebsar besarnya kepada kedua orang tua tercinta, ibunda Hj. Rohani Nur dan ayahanda H. Rudi Muis, dan Saudara Saudariku, dan yang tiada henti-hentinya mendoakan, memberi dorongan moril maupun materi selama menempuh pendidikan. Penulis juga banyak mendapatkan bantuan, bimbingan dan petunjuk dari dosen pembimbing maka selayaknya pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dosen Pembimbing yaitu Bapak Dr.Idham Khaliq, SE., MM dan Bapak A.Nur Achasanuddin. UA, SE.,M.SI selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya dalam mengarahkan dan membimbing sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini,

Ucapan terimakasih pula penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Ismail Rasullong, SE., MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)

viii

3. Ibu Hj. Naidah, SE., M.Si, selaku ketua Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak/ibu Dosen dan para Staf Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal Lelah menuangkan banyak ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

5. Rekan-rekan Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan 2015 yang telah banyak memberikan ilmu, semangat dan pengalaman hidup.

6. Teman dan sahabat penulis, yang selalu memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mereka yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tetapi banyak membantu dalam menyelesaikan Skripsi ini.

Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang Budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan skripsi ini.

Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Billahifisabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamualaikum Wr. Wb

Makassar, September 2019

(9)

ix

Penulis

(10)

ix ABSTRAK

RIESA MADINAH, Tahun 2015 Peran Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, Skripsi Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Pembimbing I Bapak Idham Khaliq, dan Pembimbing II Bapak A. Nur Achsanuddin UA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Gowa. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data yang diolah 2018 adalah data PDRB Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gowa, Upah Minimum Kabupaten, Luas Lahan Pertanian, Perkembangan Penduduk Usia Kerja di Kabupaten Gowa yang di dapatkan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa. Tehnik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda.

Berdasarkan hasil penelitian sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja memiliki pengaruh pada data hasil penelitian nilai t PDRB yang berjumlah 6,215 menunjukkan angka 0,084.Dan variabel UMK dinyatakan lebih besar dari taraf α=0,05 (0,084>0,05) dan nilai t sebesar 0,084, dapat disimpulkan bahwa variable UMK positif dan tidak signifikan menolak hipotesis Ho dan menerima Ha. Sedangkan Luas Lahan Pertanian adalah 0,062 dinyatakan lebih besar taraf =0,05 (0,062>0,05) dan nilai sebesar 10,254, mempunyai pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Kata kunci: PDRB, UMK, Potensi Lahan Pertanian.

(11)

x ABSTRACT

RIESA MADINAH, 2015 The Role of the Agriculture Sector in Manpower Absorption in Gowa Regency, South Sulawesi Province, Thesis of the Development Economics Study Program at the Faculty of Economics and Business, Muhammadiyah University, Makassar. Supervised by Advisor I Idham Khaliq And Advisor II A. Nur Achsanuddin UA.

This study aims to determine the role of the agricultural sector in employment in Gowa Regency. This type of research used in this research is quantitative descriptive. The data processed in 2018 are PDRB data according to business fields in Gowa Regency, Regency Minimum Wage, Agricultural Land Area, Development of Working Age Population in Gowa Regency obtained from the Central Statistics Agency of Gowa. The analysis technique used in this study is multiple linear regression analysis.

Based on the research results of the agricultural sector in labor absorption has an influence on the results of research on the value of t PDRB which amounted to 6.215 shows the number 0.084. , it can be concluded that the MSE variable is positive and insignificant rejects the Ho hypothesis and accepts Ha. While the Agricultural Land Area is 0.062 expressed as greater level α = 0.05 (0.062> 0.05) and a value of 10.254, has a positive and not significant effect on employment.

Keywords: PDRB, UMK, Agriculture land potential

(12)

xi DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL ... ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN DAN MOTTO ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN... v

HALAMAN PERNYATAAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

1. Tinjauan Teori ... 11

A.Pembangunan Ekonomi ... 11

B. pertumbuhan Ekonomi ... 12

C. PDRB (Produk Regional Bruto) ... 17

D. Komponen Sektor Dalam Struktur Ekonomi... 19

(13)

xii

E. Konsep Ekonomi Unggulan... 20

F. Pembangunan Pertanian ... 21

G. Peranan Sektor Pertanian dalam Pembangunan... 22

H. Penyerapan Tenaja Kerja……… 25

I. Tenaga Kerja……… 25

2. Tujuan Empirik………... 27

3. Kerangka Konsep……….. 29

4. Hipotesis……… 31

III. METODE PENELITIAN ... 32

A. Jenis Penelitian...……….. 32

B. Lokasi dan Waktu Penelitian... 32

C.Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran... 32

D. Populasi dan Sampel... ……… 34

E. Tehnik Pengumpulan Data………... ……… 35

F. Tehnik Analisis Data……… 35

VI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… 40

A. Gambaran Umum Kabupaten Gowa……… 40

B. Deskripsi Variabel Penelitian……… 43

C. Hasil Analisis Data……… 52

D. Pembahasan Hasil Analisis……….. 60

V. PENUTUP………. 66

A. Kesimpulan……….. 66

B. Saran………. 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

LAMPIRAN... 70

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

Tabel 1.1 Jumlah PDRB Kabupaten Gowa Sektor Ekonomi (Juta) 7 Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2013-2017

Tabel 4.1 PDRB Kabupaten Gowa Atas Dasar Harga Konstan 45 Menurut Pengeluaran Tahun 2013-2017

Tabel 4.2 Upah Minimum Kabupaten Di Kabupaten Gowa 47 Tahun 2013-2017

Tabel 4.3 Luas Lahan Pertanian Kabupaten Gowa 48

Tahun 2013-2017

Tabel 4.4 Perkembangan Penduduk Usai Kerja Yang Bekerja 50 Menurut Lapangan Usaha Utama di Kabupaten

Gowa Tahun 2013-2017

Tabel 4.5 Uji Multikolinearitas 55 Tabel 4.6 Analisis Regresi Linear Berganda 56

Tabel 4.7 Uji Autokorelasi 57

Tabel 4.8 Uji Simultan F 58

Tabel 4.9 Uji Parsial T 60

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian 31

Gambar 4.1 Histogram 53

Gambar 4.2 Normal Probability 54

Gambar 4.3 Grafik Scatterplot 55

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi daerah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah bersama dengan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal guna merangsang perkembangan ekonomi daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembangan jika tingkat kegiatan ekonominya meningkat atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya baru terjadi jika jumlah barang dan jasa secara fisik yang dihasilkan perekonomian tersebut bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian aspek pertumbuhan ekonomi daerah menjadi salah satu indikator penilaian keberhasilan pelaksanaan pembangunan ekonomi di suatu wilayah yang diukur dari besaran nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu atau disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Beragamnya kondisi wilayah dan potensi sumberdaya yang ada di daerah menyebabkan pembangunan dengan pendekatan sektoral menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi dan kebijakan pembangunan daerah.

Pendekatan perencanaan regional dititik beratkan pada aspek 2 lokasi di mana kegiatan dilakukan. Pemerintah daerah mempunyai kepentingan yang berbeda- beda dengan instansi-instansi di pusat dalam melihat aspek ruang di suatu

(17)

daerah. Artinya bahwa dengan adanya perbedaan pertumbuhan dan disparitas antar wilayah, maka pendekatan

perencanaan parsial adalah sangat penting untuk diperhatikan. Dalam perencanaan pembangunan daerah perlu di upayakan pilihan-pilihan alternatif pendekatan perencanaan, sehingga potensi sumber daya yang ada akan dapat dioptimalkan pemanfaatannya .

Pembangunan dengan pendekatan sektoral mengkaji pembangunan berdasarkan kegiatan usaha yang dikelompokkan menurut jenisnya ke dalam sektor dan sub sektor. Sektor-sektor tersebut adalah sektor pertanian, pertambangan, konstruksi (bangunan), perindustrian, perdagangan, perhubungan, keuangan dan perbankan, dan jasa. Pemerintah daerah harus mengetahui dan dapat menentukan penyebab tingkat pertumbuhan dan stabilitas dari perekonomian wilayahnya. Identifikasi sektor dan sub sektor yang dapat menunjukkan keunggulan komparatif daerah merupakan tugas utama pemerintah daerah.

Tujuan utama adanya pembangunan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Untuk itu, pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merangsang dan membangun perekonomian daerah.

(18)

3

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Di Indonesia, pembangunan di sektor pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor dan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pemerataan. Keadaan tenaga kerja sektor pertanian di Kabupaten Gowa terbagi dalam beberapa jenis pekerjaan antara lain petani, buruh tani, dan peternak. Dari beberapa jenis pekerjaan tersebut, pekerjaan sebagai petani masih merupakan yang terbesar.

Sedang petani yang tidak memiliki lahan pertanian bekerja sebagai buruh tani.

Sebagian besar petani di Kabupaten Gowa mengusahakan tanaman pangan seperti padi dan palawija (kacang tanah, kedelai, jagung, dan ketela pohon).

Selain itu ada juga beberapa tanaman sayuran dan buah yang diusahakan baik di sawah, tegal, kebun maupun pekarangan. Selain bercocok tanam, ada juga penduduk yang mengusahakan ternak seperti sapi, kambing, domba, kelinci dan ayam. Namun sebagian besar dari mereka beternak hanya sebagai usaha sampingan dari kegiatan bertani.

Sektor pertanian berperan penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Paling tidak ada lima yang berperan penting yaitu: berperan secara langsung dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat, berperan dalam pembentukan pendapatan Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap tenaga kerja dipedesaan, berperan dalam penghasilan devisa dan atau penghematan devisa, dan berperan dalam pengendalian inflasi. Dengan demikian sektor pertanian secara tidak langsung berperan dalam menciptakan iklim yang konsuntif bagi pembangunan sektor ekonomi lainnya.

(19)

Sektor pertanian salah satu penyediaan pangan masyarakat, oleh karena itu percepatan pembangunan pertanian berperan penting dalam penyediaan pangan yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Walaupun dalam sumbangnnya dalam PDB mengalami penurunan, namun sektor pertanian masih akan tetap memegang peran yang sangat penting dalam perekonomian secara keseluruhan, karena mempunyai keterkaitan yang luas dengan sektor ekonomi lainnya.

Di kabupaten Gowa, penyerapan tenaga kerja sektor pertanian juga relatif besar bila dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja pada sektor ekonomi lainnya seperti sektor industri, jasa, dan sektor perdagangan misalnya. Hal ini berarti keberadaan sektor pertanian memiliki andil yang sangat besar dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah pengangguran di Kabupaten Gowa. Selama periode tahun 2013-2017 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian di Kabupaten Gowa terus mengalami peningkatan. Hal ini berarti bahwa sektor pertanian menyediakan kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat. Di antara sektor pertanian yang menyerap banyak tenaga kerja adalah sektor tanaman pangan seperti halnya usahatani sawah. Hal ini disebabkan kegiatan usahatani yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Gowa menjadikan sektor usahatani sawah sebagai usahatani utama. Artinya, sekalipun seseorang petani bergerak dalam bidang usaha lain seperti perikanan, peternakan dan perkebunan misalnya, namun usahatani sawah juga dilakukannya. Apalagi usahatani sawah pada umumnya sudah ditekuni oleh keluarga petani secara turun temurun. Karena itu, masyarakat yang berusaha pada sektor pertanian dalam bidang usahatani sawah jauh lebih besar bila

(20)

5

dibandingkan dengan masyarakat yang tidak bergerak dalam bidang usahatani lainnya selain usahatani sawah.

Penyerapan tenaga kerja pada usahatani sawah di Kabupaten Gowa cenderung mengalami peningkatan peningkatan dari tahun ke tahun.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja tersebut seiring dengan peningkatan jumlah angkatan kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan sektor pertanian tidak hanya dapat mengurangi jumlah pengangguran, tetapi juga dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat secara umum. Keinginan masyarakat untuk bekerja pada sektor pertanian seperti halnya usahatani sawah tentunya tidak terlepas dari kemampuan sektor tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini disebabkan, pendapatan menjadi menjadi alasan utama bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan usaha termasuk usahatani. Umumnya masyarakat tertarik untuk melakukan kegiatan usaha yang mereka anggap mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sebaliknya mereka akan beralih ke bidang usaha lain apabila sektor usaha yang selama ini mereka tekuni dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selama periode tahun 2013 hingga tahun 2017 telah terjadi peningkatan PDRB Kabupaten Gowa. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi tersebut juga mengalami peningkatan. Seiring dengan peningkatan PDRB tersebut, PDRB sub sektor tanaman pangan juga mengalami peningkatan. Selain PDRB sub sektor tanaman pangan, faktor lain yang dapat dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian adalah luas lahan pertanian. Luas lahan pertanian dapat berpengaruh pada penyerapan tenaga

(21)

kerja sektor pertanian. Luas lahan pertanian menentukan skala usaha, semakin besar luas lahan yang digunakan maka semakin besar pula skala usahanya

Peranan sektor pertanian bukan saja terhadap ketahanan pangan, tetapi juga memberikan andil yang cukup besar terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat dan pemberantasan kemiskinan, sumber pendapatan, serta perekonomian Regional. Berkaitan dengan hal tersebut, maka hasil pendapatan di sektor pertanian dapat di ukur dari nilai PDRB yang dihasilkan sektor tersebut.

Keinginan masyarakat untuk melakukan kegiatan usahatani juga dapat disebabkan oleh kemampuan usaha tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Perbaikan kesejahteraan petani diindikasikan oleh nilai tukar petani (NTP). Perbaikan dan peningkatan nilai tukar petani yang mengindikasikan peningkatan kesejahteraan petani akan terkait dengan kegairahan petani untuk berproduksi. Hal ini akan berdampak pada peningkatan partisipasi petani dan produksi pertanian, tetapi juga meningkatkan minat masyarakat untuk melakukan kegiatan usahatani.

Upah Minimum Kabupaten (UMK) juga dapat berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Upah minimum Kabupaten (UMK) adalah standar upah minimal yang harus dibayarkan oleh dunia usaha kepada tenaga kerjanya sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh peraturan berlaku. Terjadinya kenaikan upah di sektor formal akan berdampak pada peningkatan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pengusaha. Ketika upah yang harus dibayarkan dianggap memberatkan bagi dunia usaha, maka konsekuensinya adalah permintaan terhadap tenaga kerja akan berkurang. Ketika permintaan tenaga kerja menurun disaat penawaran tenaga kerja justru meningkat, maka

(22)

7

salah satu dampak yang terjadi adalah menurunnya kesempatan kerja dan meningkatnya jumlah pengangguran. Sebagian tenaga kerja akan menganggur dan sebagian lagi harus bekerja di sektor lain termasuk sektor pertanian.

Seperti dijelaskan sebelumnya, penyerapan tenaga kerja sektor pertanian di Kabuapten Gowa cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di lain pihak, jumlah tenaga kerja, PDRB sektor pertanian, luas lahan pertanian, nilai tukar petani (NTP), Upah Minimum Kabupaten (UMK) juga mengalami perubahan.

Salah satu provinsi yang memiliki sektor pertanian terbesar di Indonesia adalah Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan terdiri dari beberapa kabupaten dan kota, dari kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa merupakan kabupaten yang juga memiliki pendapatan sektor pertanian terbesar dan pendapatan sektor pertanian yang banyak dihasilkan adalah bahan baku.

Bahan baku adalah sesuatu yang mendasar dalam kehidupan manusia.

Kabupaten Gowa adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki karateristik struktur penyerapan tenaga kerja yang identic dengan kabupaten yang lain di Pulau Sulawesi. Sektor pertanian masih merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja dan kesempatan kerja serta PDRB di Kabupaten Gowa.

Berikut data perkembangan Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Gowa selama tahun 2013-2017

(23)

Tabel 1.1 . Jumlah PDRB KABUPATEN GOWA Sektor Ekonomi (juta) Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2013-2017

Lapangan usaha PDRB PDRB menurut lapangan usaha di kabupaten gowa (juta rupiah) Harga berlaku

2013 2014 2015 2016 2017

Primer Pertanian 3 514 182.69 3 889 323 03 4 346 937.51 4 806 577.10 5 181 656.87 Pertambangan 312 980.36 412 150.11 535 545.86 660 113.83 752 070.39 Sekunde

r

Industri 706 775.03 802 02 56 910 814. 80 1 025 808 31 1 154 818 64 listrik dan gas 13 895. 63 16 591. 51 15 525. 09 17 954.58 22 557 70 Pengadaan air, 15 531. 11 16 086. 56 16 553. 81 17 747. 34 19 491.15 Konstruksi

1 138 405.53 1 216 429.78 1 407 021.48 1 607 381.34 1 828 878.70

Tersier

Perdagangan 1 199 486 53 1 351 461 49 1 538 585 73 1 834 299 23 2 168 515 03 Transportasi dan

pergudangan 150 913 6 188 281 05 239 125 04 258 235 15 282 193 34 Penyediaan

akomodasi dan makan minum

259 267 05 296 476 15 328 817 97 365 777 35 417 020 35

Informasi dan

komunikasi 957 504 73 1 013 418 54 1 065 199 30 1 203 066 78 1 351 284 61 Jasa keuangan

dan asuransi 268 780 41 304 717 72 348 781 13 412 599 86 440 643 18 Real estat 729 619 68 916 094 03 1 160 873 89 1 338 951 94 1 471 106 50 Jasa perusahaan 12 238 12 13 926 61 15 766 31 17 535 29 19 581 66 Administrasi

pemerintahan,

pertahanan 641 101 25 714 680 99 810 139 47 856 196 92 918 459 62 Jasa pendidikan 472 609 19 515 528 07 572 580 79 608 389 23 678 719 03 Jasa kesehatan 176 810 72 155 242 90 176 810 72 279 733 03 314 559 79 Jasa lainnya 143 798 84 167 543 52 192 582 10 213 997 03 249 813 24 PDRB 10 713 900 12 044 433 13 752 085 30 15 524 364 17 271 382

Sumber: BPS,PDRB Kabupaten Gowa 2017

Table 1.1 . menunjukkan bahwa dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 masih tetap didominasi oleh sektor pertanian,kehutanan dan perikanan.

Hal ini dapat dilihat dari peranan sektor pertanian,kehutanan dan perikanan terhadap PDRB Kab Gowa atas dasar harga berlaku, serta untuk sektor ekonomi yang lain dari tahun 2013-2017 selalu mengalami peningkatan.

Kabupaten Gowa yang awalnya merupakan daerah pertanian kini mengalami pertumbuhan pembangunan ekonomi yang pesat. Pesatnya pertumbuhan kabupaten Gowa karena wilayahnya yang berbatasan langsung dengan kota Makassar, yang senantiasa terkait langsung dengan dinamika

(24)

9

pembangunan nasional. Banyak warga yang bekerja di Makassar kemudian memilih domisili di kabupaten Gowa. Mereka kerap disebut 3 komuter karena memakai Gowa sebagai tempat istirahat tidur malam, sementara segala macam kegiatan ekonomi di pagi hingga petang harinya banyak dihabiskan di Kota Makassar. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar, Kabupaten Gowa memiliki keuntungan yang sangat besar, diantaranya warga bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas publik sebuah publik yang disediakan oleh kota Makassar diantaranya, jalan tol, pelabuhan, sektor industri, bandara, kawasan perkantoran dal lain-lain. Hal itu kian meningkatkan mobilitas penduduk yang ada di Kabupaten Gowa. Selain itu, hal lain yang menonjol di Kabupaten Gowa adalah berubahnya segala bidang kehidupan masyarakat setempat.

Berdasarkan uraian di atas tentang kondisi sektor pertanian sebagai sektor primer, yang seharusnya mampu menyerap tenaga kerja dengan baik kerena sektor ini berperan penting dalam kehidupan sehari-hari dan membuat saya tertarik dalam melakukan penelitian dengan judul “Peran Sektor Pertanian Dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Gowa.

B. Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang maka masalah pokok dari penelitian ini adalah:

1. Berapa besar peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di wilayah Kabupaten Gowa?

2. Seberapa besar pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Gowa dilihat dari komponen pertumbuhannya?

(25)

3. Apakah potensi Luas Lahan di Kabupaten Gowa dapat mempengaruhi pertumbuhan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja?

C. Tujuan Penelitian

Dengan mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui besarnya peranan sektor pertanian terhadap penyerapan tenaga kerja wilayah di Kabupaten Gowa.

2. Mengetahui pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian di Kabupaten Gowa dilihat dari komponen perumbuhannya.

3. Mengetahui potensi Luas Lahan di Kabupaten Gowa dapat mempengaruhi pertumbuhan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Gowa.

2. Bagi pemerintah Daerah Kabupateng Gowa, sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan bagi perumusan strategi untuk mengurangi tingkat pengangguran.

3. Peneliti dapat memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada program strata satu (S1) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

(26)

11

(27)
(28)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. TINJAUAN TEORI A. Pembangunan Ekonomi

Pembangunan seringkali diartikan sebagai kemajuan yang dicapai oleh suatu masyarakat dibidang ekonomi (Rahmat,2013:1). Pembangunan ekonomi adalah suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengembangkan kegiatan atau aktifitas ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup atau kemakmuran (income per-kapita) dalam jangka panjang (Subandi,2011:9).

Dalam pembangunan ekonomi diperlukan faktor pendukung agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai tujuan pembangunan. Berdasarkan Jhingan (2012:338), salah satu faktor utama dalam pembangunan ekonomi ialah pembentukan atau pengumpulan modal. Pembentukan modal meliputi modal materil maupun modal manusia. Ada berbagai pendapat, bahwa dalam pembangunan ekonomi yang dibutuhkan hanya modal materil saja, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa modal manusia juga dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi. Dengan adanya pembentukan modal diharapkan tujuan pokok pembangunan akan tercipta.

Dan tujuan pokok pembangunan ekonomi itu sendiri adalah untuk membangun peralatan modal dalam skala yang cukup untuk meningkatkan produktivitas dibidang pertanian, pertambangan, perkebunan dan industri (Jhingan, 2012:338).Pembangunan ekonomi sebagai proses transisi dan transformasi berkisar pada perubahan struktural.

(29)

B. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tujuan dari Triologi Pembangunan yang harus dipenuhi sebagai landasan pembangunan. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang mantap, maka pertumbuhan di bidang lain tidak dapat dicapai dengan baik, karena tanpa kondisi ekonomi yang memadai, Bangsa Indonesia akan selalu berorientasi pada tujuan jangka pendek dan ruang lingkup yang lebih sempit pula.

Soekirno (2008) mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah sehingga akan meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Menurut Sukirno (2013) pertumbuhan dan pembangunan ekonomi memiliki pengertian yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi ialah proses kenaikan output perkapita secara terus menurus dalam jangkan panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Dengan demikian semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka kesejahteraan masyarakat juga akan semakin meningkat. Sedangkan pembangunan ekonomi adalah usaha meningkatkan pendapatan perkapita dengan cara mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi rill melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan serta peningkatan keterampilan.

Pertumbuhan ekonomi yang merupakan efek dari pembangunan ekonomi suatu negara memiliki 4 (empat) elemen penting yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Sumber Daya Manusia: penawaran tenaga kerja, pendidikan, disiplin dan motivasi.

2. Sumber Daya Alam: tanah, barang tambang, minyak dan lain-lain.

(30)

13

3. Modal: mesin, insfraktruktur dan lain-lain.

4. Teknologi: pengetahuan, tenaga ahli dan pengelolaan.

Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi :

Banyak para ekonom yang mengemukakan teori-teori tentang pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu penyelidikan yang telah lama dibahas oleh para ahli ekonomi. Terdapat banyak tokoh beserta pemikiran atau teori mereka mengenai pembangunan atau pertumbuhan ekonomi sejauh ini. Berikut ialah teori mengenai pertumbuhan ekonomi, antara lain:

a.Teori Pertumbuhan Klasik

Dalam sejarah pemikiran ekonomi para penulis ekonomi pada bagian kedua abad ke-18 dan permulaan abad ke-20 lazim digolongkan sebagai kaum Klasik.

Kaum Klasik itu sendiri di bedakan atas dua golongan yaitu Klasik dan Neo- Klasik. Tokoh yang termasuk kedalam golongan Klasik diantaranya adalah Adam Smith, David Ricardo, Robert Malthus, dan John Stuart Mill. Ahli-ahli ekonomi Klasik dalam menganalisis masalah-masalah pembangunan mempunyai pandangan yang agak berbeda antara satu dengan yang lain.

Pandangan Adam Smith dalam bukunya yang berjudul An Inqury into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.Tulisan tersebut terutama menganalisis sebab-sebab berkembangnya ekonomi suatu negara. Menurut pandangan Adam Smith, kebijakan laissez-faire atau sistem mekanisme pasar akan memaksimalkan tingkat pembangunan ekonomi yang dapat dicapai oleh suatu masyarakat. Mengenai faktor yang menentukan pembangunan, Smith berpendapat bahwa perkembangan penduduk akan mendorong pembangunan ekonomi dan mengenai corak proses pertumbuhan ekonomi, Smith mengatakan

(31)

bahwa apabila pembangunan sudah terjadi, maka proses tersebut akan terus menerus berlangsung secara kumulatif.

Pandangan Ricardo dan Mill bertentangan dengan pandangan Smith mengenai pola proses pembangunan yang sangat optimis, mereka memiliki pandangan yang lebih pesimis tentang akhir dari proses pembangunan dalam jangka panjang. Kedua ahli ekonomi klasik ini berpendapat bahwa dalam jangka panjang perekonomian akan mencapai stationary state yaitu suatu keadaan dimana perkembangan ekonomi tidak terjadi sama sekali.

Menurut pandanganpara ekonom klasik terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi seperti jumlah penduduk, jumlah stok barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi. Akan tetapi, dalam teori klasik ini, para ahli ekonomi menempatkan pertambahan penduduk yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Para ahli ekonomi memiliki pandangan bahwa hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yang berarti di sini pertumbuhan ekonomi tidak terjadi secara terus-menerus.

Mereka menggambarkan, apabila jumlah penduduk sedikit, dan kekayaan alam relatif berlebihan (banyak), maka tingkat pengembalian modal dari investasi yang dihasilkan tinggi, sehingga di sini para pengusaha akan mendapatkan keuntungan besar, yang akan menciptakan investasi baru, dan pada akhirnya akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, ketika pertumbuhan penduduknya terlalu banyak, maka pertambahan penduduk tersebut akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena produktivitas setiappenduduk

(32)

15

menjadi negatif, kemakmuran masyarakat menurun, dan tingkat pertumbuhan ekonomi akan rendah.

b.Teori Schumpeter

Schumpeter berpendapat bahwa seorang pengusaha memegang peranan penting dalam hal pertumbuhan ekonomi. Pengusaha dinilai sebagai golongan yang secara terus-menerus akan melakukan pembaharuan dan inovasi dalam kegiatan ekonomi yang akan menciptakan investasi baru, meliputi barang-barang baru, meningkatkan efisiensi dalam memproduksi suatu barang, memperluas pangsa pasar, mengembangkan sumber bahan mentah yang baru, serta pengadaan perubahan-perubahan dalam suatu organisasi dengan tujuan meningkatkan efisiensi kegiatan perusahaan.

c.Teori Harrod-Domar

Teori ini melihat pertumbuhan dari sisi permintaan. Pertumbuhan ekonomi hanya akan berlaku ketika pengeluaran agregat, melalui kenaikan investasi bertambah secara kontinu pada tingkat pertumbuhan yang telah ditentukan.

Harrod-Domar memberikan penjelasan bahwa terdapat beberapa syarat sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tercapai, yaitu:

a. Barang modal telah mencapai kapasitas penuh

b. Tabungan adalah proporsional dengan pendapatan nasional c. Rasio modal-produksi nilainya tetap

Analisis mereka menunjukkan bahwa meskipun pada suatu tahun tertentu barang-barang modal telah mencapai kapasitas penuh, pengeluaran agregat akan menyebabkan kapasitas barang modal menjadi semakin tinggi pada tahun periode selanjutnya. Atau dengan kata lain, investasi yang ada pada tahun

(33)

tersebut akan menambah kapasitas barang modal pada tahun atau periode berikutnya.

d.Teori Neo-Klasik

Teori pertumbuhan neo-klasik, teori pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh Abramovits dan Solow melihat pertumbuhan ekonomi dari sisi penawaran. Mereka menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung pada perkembangan faktor-faktor produksi, dan faktor terpenting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi menurut Solow ialah kemajuan teknologi dan pertambahan kemahiran dan kepakaran para tenaga kerja, bukan ditentukan oleh pertambahan modal dan penambahan tenaga kerja.

e.Teori Keynes

Jhon Maynard Keynes, mengemukakan pandangan dan menulis buku yang pada akhirnya menjadi landasan kepada teori makroekonomi modern.

Pandangan tersebut dikemukakan dalam buku yang berjudul: The General Theory of Employment, Interest and Money dan diterbitkan pada tahun 1936.

Dalam bukunya Keynes berpendapat pengeluaran agregat , yaitu perbelanjaan masyarakat ke atas barang dan jasa, adalah faktor utama yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai suatu negara. Selain menerangkan faktor yang menentukan tingkat kegiatan perekonomian negara dan keadaan yang menciptakan berbagai masala, analisis makro ekonomi juga menjelaskan langkah-langkah yang dapat digunakan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.

(34)

17

C. PDRB ( PRODUK REGIONAL BRUTO )

Sampai dengan tahun ke lima pelita VI, garis kebijaksanaan pembangunan ekonomi daerah diarahkan pada sektor-sektor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja, selain tetap konsisten dengan program pengentasan kemiskinan. Salah satu cara untuk melihat kemajuan perekonomian adalah dengan mencermati nilai pertumbuhan PDRB

PDRB adalah merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi dalam jangka waktu tertentu dan biasanya satu tahun di suatu wilayah tertentu tanpa membedakan kepemilikan fungsi-fungsi produksi yang digunakan dalam proses produksi.(BPS 2008).

Nilai tambah bruto merupakan tambahan nilai yang ditimbulkan oleh aktifitas aktifitas faktor-faktor produksi dalam merubah atau memproses bahan- bahan baku dan penolong sehingga lebih dekat kepada pengguna atau nilai barang dan jasa yang ditimbulkan oleh factor-faktor produksi dalam wilayah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu dijumlahkan maka diperoleh Produk Regional Bruto (PDRB).

Nilai PDRB dapat dihitung melalui tiga pendekatan sebagai berikut:

1.Segi produksi ,PDRB merupakan jumlah netto atas suatu barang dan jasa yang hasilkan oleh unit-unit produksi dalam suatu wilayah dan biasanya dalam jangka satu tahun.

2. Segi pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas dan jasa (pendapatan) yang diterimah oleh factor-faktor produksi karena ikut sertanya dalam proses

(35)

produksi dalam suatu wilayah, dan biasanya dalam jangka waktu tertentu (satu tahun)

3. Segi pengeluaran, PDRB pada jumlah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, pemerintah dan Lembaga swasta non-profit, investasi, serta ekspor netto (setelah dikeluarkan impornya) biasanya dalam jangka waktu tertentu (satu tahun).

Untuk menghitung PDRB pada tingkat nasional maupun daerah, jumlahnya yakni di dasarkan pada dua pendekatan yaitu perhitungan melalui harga konstan dan harga yang belaku. PDRB atas harga berlaku adalah nilai tambah barang bruto dari barang dan jasa (komoditi) atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga berlaku pada tahun yang bersangkutan sedangkan PDRB atas harga konstan adalah nilai tambah barang dan jasa (komoditas) atau pengeluaran yang dinilai atas dasar harga tetap (konstan)

Perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menggunakan pendekatan sebagai berikut :

1. Revaluasi adalah mengalikan kuatum (volume) pada tahun berjalan dengan harga tahun dasar (konstan) tahun 2000.

2. Ekstrapolasi, adalah mengalihkan nilai tambah bruto pada tahun dasar dengan indeks kuantum pada tahun berjalan, kemudian dibagi dengan 100.

3. Deflasi adalah membagi nilai tambah bruto pada tahun berjalan dengan indeks harga kemudian dikalikan 100.

(36)

19

PDRB mempunyai manfaat dan kegunaan antara lain untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan perkembangan perekonomian suatu daerah, Untuk mengukur struktur perekonomian suatu daerah sebagai salah satu indikator mengenai tingkat kemakmuran dan untuk mengetahui tingkat perubahn harga (inflasi dan deflasi).

D. Komponen Sektor Dalam Struktur Ekonomi

Pengamatan tentang proses pembangunan daerah dengan pendekatan sektoral dan ragional tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi politik negara yang bersangkutan. Pendekatan sektoral dan perencanaan selalu dimulai dengan tujuan tentang sektor-sektor yang perlu dikembangkan untuk mencapi suatu tujuan pembangunan nasional, jumlah yang dihasilkan, teknologi dan waktu kapan produksi dimulai. Dalam pendekatan regional tujuan dititik beratkan pada daerah mana yang perlu mendapat prioritas dan perlu dikembangkan sesuai dengan potensi daerah yang bersangkutan dan sektor apa yang sesuai untuk dikembangkan di tiap-tiap daerah.

Perubahan sistem pemerintahan Indonesia melalui kebijakan otonomi daerah dan kebijakan desentralisasi fiskal, yang telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, dan juga Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 dan telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Telah membawa perubahan dalam sistem pembangunan, dimana pemerintah daerah diberi wewenang yang lebih dalam mengatur daerahnya masing-masing.

Berdasarkan Sjafrizal (2014:14), perubahan yang terjadi pada dasarnya

(37)

menyangkut dua hal pokok yaitu pertama, pemerintah daerah diberikan kewenangan yang lebih besar dalam melakukan pengelolaan pembangunan (Desentralisasi Pembangunan). Kedua, pemerintah diberikan sumber

keuangan baru dan kewenangan pengelolaan keuangan yang lebih besar (Desentralisasi Fiskal).

E. Konsep Ekonomi Unggulan

Kebijakan pembanguna ekonomi saat ini pengembangannya diarahkan pada sektor-sektor ekonomi unggulan yang sarat dengan kepentingan masyarakat luas dan terkait dengan potensi masyarakat sekaligus sesuai dengan sumberdaya ekonomi lokal.

Pertumbuhan suatu daerah ditentukan oleh eksploitasi permanfaatan alamiah dan pertumbuhan basis ekspor daerah yang bersangkutan. Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan tingkat permintaan akan barang- barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan sektor ekonomi unggulan yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja.

Potensi sektor ekonomi unggulan merupakan suatu keharusan untuk dapat lebih dikembangkan dan dimaximisasi perolehan hasil-hasilnya, sehingga dapat menunjang upaya peningkatan penerimaan daerah. Pengembangan sektor ekonomi unggulan ini dimaksudkan untuk memperbesar penerimaan daerah dari Produk Domestik Regional Bruto dan pendapatan Asli Daerah. Kenaikan distribusi sektor ekonomi unggulan melalui pengoptimalkan setiap sektor unggulan yang ada akan berdampak pada penerimaan pemerintah daerah dan

(38)

21

akan memperbesar kemampuannya dalam pembiayaan pembangunan di daerahnya. Tingkatnya pendapatan Asli Daerah berarti meningkatkan kemandirian pemerintah daerah dalam pembiyaan pembangunan di daerahnya.

Pada sisi lain, angkatan produksi sektor ekonomi unggulan berarti peningkatan kesejahteraan kemampuan pembiyaan masyarakat. Peningkatan kemandirian pembiyaan oleh pemerintah diharapkan akan melahirkan sinergi untuk mendorong akselerasi pembangunan daerah.

F. Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian dapat diartikan sebagai proses yang ditujukan untuk selalu menambah produk pertanian untuk tiap konsumen sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk memperbesar campur tangan manusia di dalam perkembangbiakan tumbuhan dan hewan. Penambahan produksi, pendapatan maupun produktivitas ini berlangsung terus, sebab apabila tidak, berarti pembangunan terhenti.

Program pembangunan sektor pertanian meliputi program peningkatan pendapatan petani, pekebun, peternak dan nelayan. Program pembangunan tersebut ditunjang dengan pembangunan sarana dan prasarananya seperti pengadaan dan pelancaran faktor produksi, pengembangan jaringan irigasi dan jalan, kebijakan tata niaga dan harga serta penelitian

Peran pertanian dalam pembangunan pertanian hanya sebagai sumber tenaga kerja dan bahan-bahan pangan yang murah untuk berkembangnya sektor industri yang berfungsi sebagai unggulan dinamis dalam strategi pembangunan ekonomi secara keseluruhan.

(39)

Dalam periode 2013-2017, embangunan pertanian diarahkan untuk mencapai visi: “Terwujudnya pertanian tangguh untuk pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani”. (Apriyantono,2005) Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah pendayagunaan yangoptimal sumberdaya pertanian dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan, yaitu :

1. Membangun SDM aparatur profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh

2. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan

3. Memantapkan ketahanan dan keamanan pangan

4. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian

5. Menumbuhkembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan

6. Membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani

G. Peranan Sektor Pertanian dalam Pembangunan

Sektor pertanian di Indonesia dianggap sangat penting karena peranannya dalam penyediaan lapangan kerja, penyedia pangan, penyedia faktor produksi dan penghasil devisa yang cukup besar. Peranan utama sektor pertanian dalam pembangunan sehubungan dengan pertimbangan- pertimbangan berikut :

a. Sebagian besar penduduk terutama di negara-negara berkembang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

(40)

23

b. Sektor pertanian di negara berkembang merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan pokok tanaman pangan.

c. Sektor pertanian merupakan penyedia input tenaga kerja yang sangat besar untuk menunjang pembangunan sektor lain terutama industri.

d. Sektor pertanian dapat berperan sebagai sumber dana dan daya utama dalam menggerakkan dan memacu pertumbuhan ekonomi.

e. Sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi hasil output sektor modern di perkotaan yang ditumbuh dalam perkembangannya.

Sektor pertanian di Indonesia memiliki kemampuan dalam mengisi pembangunan yang dipercayai dapat menjamin pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Sektor pertanian dapat memenuhi lima syarat utama sebagai sektor andalan, yaitu tangguh, progresif, ukurannya cukup luas, artikulatif dan responsif. Ketangguhan sektor pertanian diindikasikan oleh kemampuannya dalam memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.

Sektor pertanian berpotensi progresif dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional jika didukung dengan kebijaksanaan yang tepat (Daniel, 2008).

Sub sektor pertanian tanaman pangan yang pernah diberi nama

“Pertanian Rakyat” praktis menjadi instrumen untuk menggerakkan pembangunan pertanian, terutama untuk mencapai swasembada beras. Hal serupa juga diulang oleh pemerintahan Orde Baru dengan mengaitkan dengan pembangunan desa dan tidak lagi terikat ketat dengan Departemen Pertanian seperti pada masa Orde Lama dan awal Orde Baru. Tugas Koperasi Pertanian ketika itu adalah menyalurkan sarana produksi terutama pupuk, membantu pemasaran yang kesemuanya berkaitan dengan program pembangunan sektor pertanian dan “pergerakannya”.

(41)

Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik dalam pembentukan PDB maupun dalam hal penyerapan tenaga kerja dan kesempatan kerja . Sektor pertanian terdiri dari:

a. Subsektor Tanaman Bahan Makanan

Subsektor tanaman bahan makanan adalah suatu sektor pertanian yang kegiatannya menanam padi/palawija. Dengan tujuan seluruh hasilnya untuk dikonsumsi sendiri maupun dengan tujuan segabagai atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atau memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko usaha.

b. Subsektor Tanaman Perkebunan

Usaha tanaman perkebunan adalah kegiatan yang menghasilkanproduk tanaman perkebunan dengan tujuan sebagaian atau selruh hasilnya dijual/ditukar atau memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko uasaha.

c. Subsektor Pertenakan dan Hasil-hasilnya

Usaha peternakan adalah kegiatan yang menghasilkan produkpeternakan (melakukan pemeliharaan ternak/unggas) dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atau memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko usaha.

d. Subsektor Kehutanan dan Perburuan

Usaha tanaman kehutanan adalah kegiatan yeng menghasilkan produk tanaman kehutanan (kayu) dengan tujuan sebagai atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atau memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko usaha.

(42)

25

e. Subsektor perikanan

Usaha perikanan adalah kegiatan pembenihan. Pembesaran dan penangkapan ikan/biota dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar untuk memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko usaha.

H. Penyerapan Tenagakerja

Penyerapan tenagakerja adalah lowongan pekerjaan yang diisi oleh pencari kerja dan pekerja yang sudah ada pada setiap unit usaha atau lapangan pekerjaan (Kemenakertrans, 2009). Banyak nya tenagakerja akan terserap apabila jumlah unit usaha atau lapangan pekerjaan mencukupi dengan banyaknya tenagakerja yang ada. Lapangan pekerjaan itu sendiri merupakan bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/perusahaan/kantor tempat orang bekerja (Kemenakertrans, 2009). Setiap sektor perekonomian atau lapangan pekerjaan memiliki daya serap tenagakerja dan laju pertumbuhan yang berbeda-beda.

Perbedaan ini menyebabkan terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja serta terjadinya perubahan sektoral, baik dalam penyerapan tenagakerja maupun perannya dalam pendapatan nasional.

I. Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Menurut Simanjuntak (1998), tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.

Pencari kerja, bersekolah, dan mengurus rumah tangga walaupun tidak bekerja, tetapi mereka secara fisik mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja. Mulyadi (2003) menyatakan bahwa tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja (berusia 15-64 tahun) atau jumlah penduduk dalam suatu negara yang dapat

(43)

memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga kerja mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktifitas tersebut.

Berdasarkan UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang disebut tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Penduduk usia kerja menurut Badan Pusat Statistik (2008) dan sesuai dengan yang disarankan oleh International Labor Organization (ILO) adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dikelompokkan ke dalam angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berumur didalam batas usia kerja.

Tenaga kerja dibagi dalam dua kelompok yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan produktif yaitu memproduksi barang dan jasa. Angkatan kerja terdiri dari golongan bekerja serta golongan menganggur dan mencari pekerjaan.

Bukan angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan. Bukan angkatan kerja terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga dan golongan lain-lain atau penerima pendapatan. Ketiga golongan dalam kelompok ini sewaktu-waktu dapat menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh sebab itu, kelompok ini sering juga dinamakan sebagai angkatan kerja potensial (potensial labor force).

(44)

27

2. Tujuan Empirik

Mahyuddin dan Majdah (2010) dalam tulisannya yang berjudul Elastisitas Permintaan Tenagakerja dan Kekakuan Upah Riil Sektoral di Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat elatisitas permintaan tenagakerja sektoral dan mengukur tingkat kekauan upah riil sektoral di Sulawesi Selatan dengan periode penelitian tahun1998-2000. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Ordinary Least Square untuk melihat elastistas permintaan tenagakerjanya. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan upah berpengaruh kecil pada permintaan tenagakerja. Impor berpengaruh negatif pada permintaan tenagakerja.

Sedangkan sumber pertumbuhan lainnya terutama ekspor dan investasi dangat berpengaruh positif terhadap permintaan tenagakerja.

Siregar dan Sukwika (2007) dalam tulisannya yang berjudul Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kinerja Pasar Tenagakerja dan Implikasi Kebijakannya Perubahan.Tingkat PengangguranTerhadap Sektor Pertanian di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pasar tenagakerja, yang antara lain meliputi angkatan kerja, penyerapan tenagakerja, penagguran, produktivitas tenagakerja dam upah di Kabupaten Bogor dengan periode penelitian tahun 1998-2001.

Metode penelitian yang digunakan adalah regresi data panel. Hasil penelitian menyimpulkan penyerapan tenagakerja terdidik di sektor pertanian, sektor industri dan sektor jasa umumnya dipengaruhi oleh investasi dan PDRB.

Sedangkan penyerapan tenagakerja tidak terdidik pada ketiga sektor tersebut umumnya dipengaruhi oleh investasi, PDRB dan pendapatan rumah tangga.

(45)

Sitanggang dan Nachrowi (2008) dalam tulisannya yang berjudul Pengaruh Struktur Ekonomi dan Penyerapan Tenagakerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Propinsi pada 9 Sektor di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi jumlah penyerapan tenagakerja sektoral di 30 propinsi di Indonesia dengan periode penelitian tahun 1980-2000. Penelitian ini menggunakan metode Pooled Least Square (PLS) terboboti. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jumlah penyerapan tenagakerja dipengaruhi oleh populasi, net migration, output, dan upah

Dimas dan Woyanti (2009) dalam tulisannya yang berjudul Penyerapan Tenagakerja di DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh PDRB, investasi, dan upah terhadap penyerapan tenagakerja di DKI Jakarta dengan periode penelitian tahun 1990-2004. Metode penelitian yang digunakan adalah OLS. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa PDRB, investasi dan upah berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenagakerja di DKI Jakarta.

Sidik (2011) dalam tulisannya yang berjudul Dampak Kebijakan Upah Minimum Terhadap Penyerapan Teanag Kerja Sektor Industri dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di Pulau Jawa pada Era Otonomi Daerah.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peneyrapan tenagakerja sektor industri serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan periode penelitian tahun 2001- 2010. Metode penelitian yang digunakan adalah regresi panel data. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa upah minimum, PDRB dan Penanaman Modal Asing (PMA) berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenagakerja

(46)

29

di kedua sektor. Sedangkan Penanaman Modal Dalam Negri (PMDN) hanya berpengaruh signifikan di sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

3. Kerangka Konsep

Pembangunan di Kabupaten Gowa merupakan bagian integral dari pembangunan Sulawesi-selatan ke nasional, terkait dengan pertumbuhan ekonomi, berbagai kebijakan dapat di laksanakan antara lain pemberian proritas kepada sektor-sektor yang mampu berperan sebagai penggerak utama ekonomi daerah, sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan tersebut.

Dalam melaksanakan pembangunan pertanian salah satu komuditas pangan yang cukup potensial dan strategis adalah jagung karena selain sebagai bahan makanan pokok masyarakat juga mempunyai kemampuan untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja masyarakat keterkaitan dan daya dorong dengan sektor-sektor yang lain serta meningkatkan nilai tambah Bruto. Dalam pembangunan sektor pertania sangat besar artinya, dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat, serta kesempatan kerja bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gowa. Untuk melihat sejauh mana pengaruh Sektor pertanian terhadap kesempatan kerja dapat dilihat dari kerangka pikir berikut ini :

1. Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

Produk domestik regional bruto dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja dengan asumsi apabila nilai PDRB meningkat maka jumlah nilai output atau penjualan dalam seluruh unit ekonomi di suatu daerah akan meningkat. Semakin

(47)

besar output atau penjualan yang dilakukan perusahaan maka akan mendorong perusahaan untuk menambah tenaga kerja agar produksinya dapat ditingkatkan untuk mengejar peningkatan penjualan. Hal tersebut secara langsung dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

2. Pengaruh Upah Minimum Kabupaten terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

Perubahan upah dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Bagi perusahaan upah merupakan biaya produksi sehingga pengusaha akan meminimalkan biaya produksi, yaitu upah untuk mencapai keuntungan yang optimal. Naiknya tingkat upah akan meningkatkan biaya produksi perusahaan, yang selanjutnya akan meningkatkan pula harga per unit barang yang diproduksi.

Apabila harga naik, konsumen akan mengurangi konsumsi. Akibatnya banyak barang yang tidak terjual, dan produsen terpaksa menurunkan jumlah produksinya. Turunnya target produksi, mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan.

3. Luas lahan pertanian dapat berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja

sektor pertanian. Luas lahan pertanian menentukan skala usaha, semakin besar luas lahan yang digunakan maka semakin besar pula skala usahanya.

Lahan pertanian yang luas akan dapat menyerap tenaga kerja sektor pertanian dalam jumlah relatif besar. Sebaliknya apabila lahan pertanian relatif sempit, maka penyerapan tenaga kerja sektor pertanian juga akan relatif sedikit. Hal inilah yang mendasari bahwa luas lahan pertanian dapat berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Luas lahan berpengaruh positif terhadap curahan waktu kerja, yang berarti semakin luas lahan pertanian maka curahan waktu kerja juga semakin besar.

(48)

31

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

4. Hipotesis

Berdasarkan pada masalah pokok yang telah dikemukakan maka sebagai dasar untuk mengadakan Analisa selanjutnya, penulis mengemukakan hipotesis sebagai jawaban sementara dan selanjutnya akan diuji, sebagai berikut :

1. PDRB berpengaruh positif terhadap penyerapan tenagakerja sektor pertanian. Hal ini berarti meningkatkannya PDRB akan meningkatkan jumlah permintaan tenagakerja di sektor pertanian.

2. Upah Minimum Kabupaten berpengaruh positif terhadap penyerapan tenagakerja sektor pertanian. Hal ini meningkatnya tingkat UMK akan meningkatkan jumlah permintaan tenagakerja di sektor pertanian.

3. Potensi Lahan pertanian berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian.

Pertumbuhan PDRB Kabupaten Gowa (X1)

Upah Minimum Kabupaten (UMk) (X2)

Potensi Lahan Pertanian (X3)

Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Pertanian (Y1)

(49)

32

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif, karena pada penelitian ini berusaha dijelaskan hubungan antara variabel dengan menggunakan angka angka dan analisis data. Penelitian kuantitaf menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel- variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statitik (BPS) Kabupaten Gowa, karena melihat potensi-potensi sektor pertanian yang ada di daerah ini sangat besar, karena itu Kabupaten Gowa menjadi lokasi penelitian ini. Sedangkan waktuyang digunakan dalam penelitian ini kurang lebih dua bulan mulai dari bulan juni sampai juli 2019.

C. Definisi Operasional Variable dan Pengukuran Variable

1. Sektor pertanian adalah sektor ekonomi yang dalam proses produksinya yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang Proyeksi kesempatan kerja sektor pertanian tahun 2016 di Kabupaten Gowa menghasilkan barang, hewan dan ikan. Sektor pertanian meliputi sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan, sub sektor kehutanan dan sub sektor perikanan di Kabupaten Gowa.

(50)

33

2. Tenaga kerja adalah jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan dan pemakaian terhadap tenaga mereka dalam aktifitas tersebut. Dalam penelitian ini, jumlah tenaga kerja didekati dengan jumlah orang yang bekerja di Kabupaten Gowa. Dinyatakan dalam satuan Orang.

3. Tenaga kerja di sektor pertanian adalah jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat memproduksi barang jika ada permintaan dan pemakaian terhadap tenaga mereka dalam aktifitas tersebut. Dalam penelitian ini, jumlah tenaga kerja didekati dengan jumlah orang yang bekerja di Kabupaten Gowa. Dinyatakan dalam satuan Orang.

4. Upah Minimum Kabupaten (UMK) merupakan suatu permintaan berupa imbalan dari pengusaha kepada karyawan atas pekrjaan atau jasa yang telah dilakukan dan dinyatakan dalam bentuk yang ditetapkan atas persetujuan perundang-undangan serta atas suatu perjanjian antara pengusaha dan karyawan.

5. Luas lahan adalah di darat maupun di air, yang digunakan untuk usaha budidaya tanaman, budidaya perairan, peternakan, termasuk lahan tempat pemprosesan hasil.

6. Kesempatan kerja di sektor pertanian adalah jumlah orang yang digunakan di sektor pertanian baik pada lowongan yang sudah terisi maupun yang belum terisi. Dinyatakan dalam satuan Orang.

7. Pertumbuhan tenaga kerja adalah kenaikan kesempatan kerja pada suatu sektor dibanding dengan kesempatan kerja pada sektor tahun sebelumnya (%).

(51)

8. Peranan sektor pertanian adalah jumlah orang yang bekerja di sektor pertanian dibandingkan dengan total orang yang bekerja di semua lapisan usaha (%).

9. Penyerapan tenaga kerja adalah kemampuan oleh suatu sektor dalam menarik tenaga kerja yang digunakan dalam melakukan kegiatan ekonominya. Dinyatakan dalam satuan orang.

10. Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian adalah kemampuan oleh sektor pertanian dalam menarik tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksinya. Dinyatakan dalam satuan orang.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Berdasarkan penjelasan di atas, maka populasi yang digunakan dalam penelitian ini sektor pertanian yang ada di dalam PDRB kabupaten Gowa dan penentuan besarnya sampel dalam penelitian ini didasarkan pada pendapat Arikunto berikut:

“Untuk sekedar ancer-ancer, maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik semua sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi.

Selanjutnya apabila subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.”

2. Sampel merupakan sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

Berdasarkan konsep yang disebutkan di atas, karena populasi jumlahnya kurang dari 100 maka peneliti mengambil sampel seluruhnya sejumlah Dengan sampel sejumlah itu diharapkan sudah memenuhi persyaratan dalam pengambilan sampel.

(52)

35

E. Tehnik Pengumpulan Data

Dalam penulisan ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu : 1. Studi Kepustakaan (Liblary Research)

Metode penelitian ini merupakan suatu cara untuk memperoleh data dan informasi melalui penelusuran buku literature dengan bahan kuliah dan beberapa terbitan lainnya yang berhubungan dengan pembahasan penelitian ini diantaranya jurnal, dan beberapa cara dalam pengumpulan data dan beberapa cara dalam pengumpulan data secara teoritis

2. Studi Lapangan Objek ( Field Research)

Merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data yang dibutuhkan pada obyek terkait,seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gowa.

F. Teknik Analisis Data

Dalam analisis ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif yaitu analisis yang digunakan untuk mengungkapkan atau menggambarkan mengenai keadaan yang sesuai dengan fakta dan yang akurat dari tempat yang diteliti.

Dan sesuai dengan teori yang berlaku serta diakui. Teknik ini juga digunakan untuk mencari solusi dari masalah yang terjadi terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penyeraan tenaga kerja.

Dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja maka model analisis yang digunakan adalah sebagai berikut :

Y = F (X1, X2, X3) ...

Y = βo X1β1 X2β2 X3β3 eμ ...

(53)

Karena satuan setiap variabel majemuk maka harus dilogaritma naturalkan sehingga linear maka membentuk persamaan sebagai berikut :

Ln Y = βo + β1lnX1 + β2lnX2 + β3lnX3 μ ...

Keterangan :

Y = Penyerapan Tenaga Kerja βo = Konstanta

β1 = Koefisien PDRB β2 = Koefisien UMK β3 = Koefisien Luas Lahan X1 = PDRB

X2 = UMK X3 = Luas Lahan μ = Error Term

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS). Uji asumsi klasik terbagi menjadi empat yaitu:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Salah satu metode untuk mengetahui normalitas adalah dengan menggunakan metode analisis grafik, baik dengan melihat grafik secara histogram ataupun dengan melihat secara Normal Probability Plot. Normalitas

Referensi

Dokumen terkait

Metode tersebut diharapkan dapat menghasilkan citra baru hasil pengolahan yang lebih informatif sehingga dapat menonjolkan kenampakan relief atau morfologi

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 200 responden dan uraian-uraian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa tingkat kualitas

Orthophoto yang dihasilkan dari image optik dan data LiDAR menggunakan kontrol selain data LiDAR untuk georeferensi fotogrametri.Terlihat bahwa saat referensi

blackspot karena keadaan jalan tersebut merupakan tanjakan ataupun turunan sehingga mengakibatkan kecelakaan lalu lintas, jalan tersebut antara lain adalah

Setelah dengan seksama meneliti dan mengoreksi skripsi yang bersangkutan dengan judul “Perbandingann Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Classwide Peer Tutoring

Perhitungan cadangan terkira ini dapat digunakan metode pembanding yang lebih canggih untuk ditingkatkan menjadi cadangan terbukti.. Dilakukan kajian kelayakan dari segi

Dalam kaitannya dengan materi akademik, tanggapan PA menurut pe- nilaian mahasiswa, yakni PA mau dan siap melayani konsultasi mahasiswanya dan PA memang pemiliki

Active Filter adalah rangkaian elektronika yang terdiri dari komponen R, L , dan C yang dirancang untuk meredam harmonisa pada beban non linier dalam sistem tenaga karena