• Tidak ada hasil yang ditemukan

Determinan Pekerja Anak di Jawa Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Determinan Pekerja Anak di Jawa Timur"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Determinan Pekerja Anak di Jawa Timur

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Farit Bagus Tri Cahyono 145020100111055

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2021

(2)

Determinan Pekerja Anak di Jawa Timur

Farit Bagus Tri Cahyono

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Pekerja anak masih menjadi permasalahan serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terus berkembangnya keberadaan pekerja anak di Indonesia akan berdampak buruk pada keadaan fisik, mental, dan intelektual anak.

Penelitian ini menggunakan model regresi probit untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pekerja anak di Jawa Timur dengan data yang dihimpun dari Survei Penduduk Antar Sensus 2015. Jawa Timur dipilih karena merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua dan menjadi penyumbang pekerja anak terbesar ketiga di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa faktor seperti umur anak, status pekerjaan kepala rumah tangga, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Sedangkan jenis kelamin anak, jenis kelamin kepala rumah tangga, dan tempat tinggal tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja.

Kata kunci: Pekerja Anak, Model Probit, Jawa Timur

A. PENDAHULUAN

Saat ini seluruh negara dunia berlomba untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, termasuk Indonesia. Beragam cara dilakukan untuk mencapai hal tersebut, salah satunya dengan menggiatkan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan rentetan proses perubahan struktur yang dilakukan secara kontinyu dan berkelanjutan. Proses yang berlangsung memiliki beragam aspek, sehingga usaha yang dilakukan untuk mencapai target pembangunan mendapat banyak tantangan (Sumodinigrat, 2001). Tantangan dalam mencapai pembanguanan yang berkelanjutan tak hanya dirasakan negara berkembang, namun juga dialami oleh negara maju dengan berbagai problematikanya.

Usaha dalam menggiatkan pembangunan ekonomi terbukti dari banyaknya negara yang meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan alamnya, serta pengembangan teknologi. Dari segi SDM, Indonesia cukup diuntungkan karena memliki jumlah penduduk yang besar, saat ini berada di urutan empat dunia. Hasil Sensus Penduduk (September 2020) menunjukkan bahwa total penduduk Indonesia saat ini adalah 270,20 juta jiwa. Bertambah 32,56 juta jiwa selama satu dekade terakhir dengan laju pertumbuhan tahunan mencapai 1,25 persen.

Gambar 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia, Periode Sensus Penduduk 1961-2020

Sumber: bps.go.id Hasil Sensus Penduduk 2020, data diolah (2021)

(3)

Dapat dilihat pada gambar 1.1 bahwa jumlah penduduk di Indonesia secara konsisten mengalami peningkatan sejak Sensus Penduduk pertama kali dilakukan pada tahun 1961. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi berada pada Sensus Penduduk 1971-1980 sebesar 2.31%. Sensus Penduduk 2020 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa dengan rerata pertahun 3,26 juta. Selama satu dekade terakhir laju pertumbuhan penduduk Indonesia melambat sebesar 0,24 persen.

Dilain sisi, jumlah penduduk yang tinggi bisa menjadi permasalahan serius dalam menyukseskan pembangunan ekonomi. Menurut hasil Sensus Penduduk 2020, struktur penduduk Indonesia paling banyak diisi oleh generasi Z (lahir tahun 1997-2012 dengan perkiraan usia 8-23 tahun) dan generasi milenial (lahir tahun 1981-1996 dengan perkiraan usia 24-39 tahun). Proporsi generasi Z sebesar 27,94 persen dengan jumlah 74,93 juta jiwa dan generasi milenial sebesar 25,87 persen dari jumlah penduduk dengan jumlah 69,38 juta jiwa. Kedua generasi ini masuk dalam usia produktif yang mampu mengakselerasi pembangunan ekonomi. Namun beberapa dari generasi Z masih termasuk dalam kelompok usia non produktif. Sehingga kondisi ini akan menimbulkan berbagai dilema, salah satunya adalah pekerja di bawah umur atau pekerja anak.

Menurut ILO (2006) jumlah pekerja anak di Asia diperkirakan sekitar 122 juta jiwa, sebanyak 64 persen dari total pekerja anak diseluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, data BPS menunjukkan dalam tiga tahun terakhir pekerja anak terus mengalami peningkatan. Tahun 2017 tercatat jumlah pekerja anak di Indonesia sebanyak 1.2 juta dan bertambah menjadi 1.6 juta pada tahun 2019. Sejak tahun 2008 Kementerian Ketenagakerjaan telah berupaya untuk mengurangi jumlah pekerja anak. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2018, pemerintah telah menarik anak yang bekerja pada bidang pekerjaan terburuk sebesar 134.456 orang pekerja dari total 1.709.712 pekerja anak (Biro Humas Kemnaker, 2020).

Menurut Ketua Rombongan Komisi IX DPR RI Dede Yusuf, pekerja anak di Provinsi Jawa Timur sejumlah 160 ribu yang sebagian besar berada di sektor pertanian. Sektor pertanian dan pedesaan selalu menjadi kontributor utama dalam kasus pekerja anak, termasuk di Jawa Timur. Karena sektor pertanian dan pedesaan identik dengan masyarakat yang memiliki upah rendah dan tingkat kemiskinan tinggi. Berdasarkan data BPS, garis kemiskinan di pedesaan di Jawa Timur selalu lebih tinggi dari pada perkotaan. Pada periode September 2014 hingga Maret 2015 tercatat garis kemiskinan di desa naik sebesar 6,49 persen, sedangkan di kota hanya 3.93 persen. Kondisi kemiskinan yang terus meningkat akan membuat seluruh anggota keluarga untuk ikut bekerja, termasuk anak.

Karena keterlibatan anak dalam kegiatan ekonomi adalah dampak dari kondisi ekonomi keluarga yang mendesak anak untuk ikut bekerja membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Jika melihat kondisi saat ini, masa pandemi akan berpotensi meningkatkan kemiskinan dan pekerja anak. Kemen PPPA menyatakan bahwa pada tahun 2020 diproyeksikan kemiskinan akan meningkat sebesar 12,4 persen, sehingga kondisi ini akan memicu anak dari keluarga rawan untuk menjadi pekerja anak sebesar 11 juta. Hal ini menjadi permasalahan serius, karena pada tahun 2030 70 persen anak ditargetkan menjadi generasi produktif. ILO menyebutkan dari laporan singkat “Covid 19 and Child Labor: A Time of Crisis, A Time to Act” bahwa selama dua dekade terakhir dunia telah berhasil mengeliminasi pekerja anak lebih dari 94 juta. Namun adanya pandemi Covid- 19 berpotensi mendorong anak kembali untuk bekerja dengan kondisi pandemi yang dapat mengancam keselamatan dirinya.

Pitriyan (2006) pada penelitiannya yang berjudul “The Impact of Child Labor on Child’s Education: The Case in Indonesia”, menjelaskan bahwa fenomena pekerja anak di Indonesia dipengaruhi oleh karakteristik dari kepala rumah tangga (KRT) dan individu. Karakteristik rumah tangga meliputi jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, dan lokasi dari kepala rumah tangga. Sedangkan karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal anak.

Menurut Pitriyan (2006), kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian mempunyai pengaruh signifikan terhadap keterlibatan pekerja anak. Karena sektor pertanian selalu melibatkan banyak pekerja, baik secara formal maupun informal. Anak yang hidup pada sektor pertanian mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk bekerja dari pada mereka yang hidup di perkotaan. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa perempuan yang menjadi kepala rumah tangga juga dapat mendorong anak untuk bekerja karena cenderung memiliki upah yang rendah. Kemudian dari sisi pendidikan, Fitdiarini dan Sugiharti (2008) menyatakan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan kepala rumah tangga akan mengurangi resiko lahirnya pekerja anak. Sebaliknya, eksistensi pekerja anak akan meningkat sebanyak 5 kali lipat jika pendidikan kepala rumah tangga rendah.

Selain itu, karakteristik individu juga berperan dalam permasalahan ini, diantaranya adalah umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal anak. Penelitian ini akan melihat seperti apa kegiatan anak umur 10-15 tahun, apakah bekerja atau melakukan kegiatan lainnya. Semakin bertambah umur anak akan meningkatkan kecenderungan anak untuk bekerja (Arifanda, 2014). Anak berjenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk masuk pasar tenaga kerja karena tuntutan kondisi rumah tangga. Kemudian anak yang hidup di pedesaan cenderung menjadi pekerja anak dibandingkan kota.

(4)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Determinan Pekerja Anak di jawa Timur”. Peneliti memilih Jawa Timur karena merupakan provinsi dengan jumlah penduduk tertinggi kedua setelah Jawa Barat dengan jumlah 40.665.696 juta jiwa. Kemudian pada 2013, Provinsi Jawa Timur mencatatkan sebagai penyumbang pekerja anak terbesar ke tiga di Indonesia dengan 11,38 persen. Posisi pertama ada Jawa Barat 13 persen dan kedua Jawa Tengah 11,4 persen.

B. KAJIAN PUSTAKA

Anak dan Pekerja Anak

UNICEF dalam konvensi hak anak menyatakan anak adalah semua orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali terdapat ketentuan lain yang diatur oleh hokum negara. Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2014 menjelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada di dalam kandungan. Pemerintah menjamin dan melindungi hak setiap anak untuk tumbuh, hidup, berkembang, dan berpartisipasi secara maksimal terhadap kemanusiaan. Santrock dalam bukunya yang berjudul “Life Span Development” mengategorikan manusia kedalam tiga periode yaitu anak-anak (childhood), remaja (adolescence), dan dewasa (adulthood).

Pada dasarnya fenomena pekerja anak ini akan berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak. Karena pada umur ini seharusnya anak menghabiksan waktunya untuk belajar dan bermain. Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) mencanangkan Indonesia tanpa pekerja anak tahun 2022. Dalam publikasi Kemnaker yang berjudul “Peta Jalan (Roadmap) Menuju Indonesia Bebas Pekerja Anak Tahun 2022” menjelaskan bahwa pekerja anak adalah semua anak yang melakukan kegiatan atau aktivitas bekerja pada bidang pekerjaan yang dapat mengganggu serta mengancam perkembangan fisik, mental, dan intelektual anak. ILO dalam Konvensi Umur Minimum (The Minimum Age Convention) menjelaskan bahwa 15 tahun adalah umur minimum anak yang diperbolehkan untuk bekerja.

Tenaga Kerja

Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang Perlindungan Tenaga Kerja memberikan definisi tenaga kerja sebagai semua orang yang dapat bekerja menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Sedangkan Simanjuntak (2001) menyatakan tenaga kerja adalah semua orang yang sedang melakukan kegiatan bekerja, mencari kerja, dan melakukan kegiatan lainnya seperti sekolah dan mengurus rumah tangga.

Kemudian BPS mendefinisikan tenaga kerja sebagai seluruh penduduk berumur 15 tahun lebih yang dapat menghasilkan barang atau jasa.

Kondisi dan situasi tenaga kerja yang berbeda membuat setiap negara memiliki ketentuan masing-masing terkait batas umur dalam menggolongkan tenaga kerja. Sebelum tahun 2000, yang tergolong tenaga kerja merupakan setiap orang yang memiliki umur lebih dari 10 tahun. Namun aturan itu berubah sesuai dengan ketentuan internasional yang menyatakan batas umur minimum tenaga kerja adalah 15 tahun. Ketentuan ini juga mengacu pada Konvensi Umur Minimum ILO yang menyatakan 15 tahun adalah usia minimum untuk diperbolehkan bekerja.

Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja

Teori klasik memiliki pandangan terhadap permintaan tenaga kerja yang menyatakan permintaan tenaga kerja tergantung pada tingkat upah. Tinggi rendahnya tingkat upah berbanding terbalik dengan permintaan terhadap tenaga kerja. Menurut Sudarsono (dalam Sholeh, 2007), jika berangkat pada pengertian permintaan secara umum, permintaan dapat diartikan sebagai jumlah maksimum suatu barang dan jasa yang diinginkan seorang pembeli pada kemungkinan tingkat harga tertentu. Jika dikaitkan pada konsep tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah interaksi antara tingkat upah dan jumlah orang yang akan dipekerjakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

Penawaran tenaga kerja adalah total keseluruhan tenaga kerja yang ditawarkan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu. Pandangan klasik tentang sumber daya manusia menjelaskan bahwa pekerja adalah individu yang mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak.

Disini individu memiliki kebebasan untuk mengalokasikan jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja. Ide ini berangkat dari teori konsumen yang menyatakan setiap individu bertujuan untuk memaksimalkan kepuasan (Sholeh, 2007).

Keputusan setiap individu untuk menggunakan waktu luang (leisure time) dipengaruhi oleh upah dan sumber pendapatan lain. Menurut Handoyo dan Sjafi’I (dalam Prakoso, 2020) menjelaskan jika upah mengalami kenaikan, maka pendapatan bertambah. Naiknya pendapatan akan memunculkan pemikiran dalam individu untuk mengurangi jam kerjanya dan meningkatkan waktu luang. Hal tersebut dinamakan sebagai efek pendapatan. Pada sisi lain,

(5)

naiknya upah akan menyebabkan seseorang mengganti waktu senggangnya untuk bekerja guna meningkatkan pendapatan atau biasa disebut efek subtitusi.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu pendekatan ilmiah dengan melihat realitas yang dapat diklarifikasi, konkrit, dan terukur. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder dalam bentuk cross section. Data sekunder dalam penelitian ini berupa data mikro atau individu yang diperoleh dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. SUPAS 2015 mengumpulkan data dari 40.750 blok sensus dengan jumlah rumah tangga sebesar 652.000. Data yang dihimpun SUPAS 2015 sesuai dengan kebutuhan peneliti, karena memuat data mikro dalam level rumah tangga.

Sampel dalam penelitian ini adalah anak umur 10-15 tahun sebanyak 18.090 dari 16.064 rumah tangga di Jawa Timur yang dihimpun dari SUPAS 2015. Jawa Timur dipilih karena merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Jawa Barat sebesar 40.665.696 juta jiwa. Kemudian pada 2013, Provinsi Jawa Timur mencatatkan sebagai penyumbang pekerja anak terbesar ke tiga di Indonesia dengan 11,38 persen. Urutan pertama adalah Jawa Barat 13 persen, kedua adalah Jawa Tengah 11,4 persen.

Teknik penarikan sampel dalam SUPAS 2015 menggunakan metode systematic sampling yang memiliki dua kerangka sampel, yaitu kerangka sampel blok sensus dan kerangka sampel rumah tangga. Kerangka sampel blok sensus adalah blok sensus pada setiap kabupaten/kota yang terlebih dulu dilakukan proses stratifikasi berdasarkan indeks kesejahteraan rumah tangga yang diambil dari Sensus Penduduk 2010. Stratifikasi pada level blok sensus dilakukan dengan menghitung indeks konsentrasi setiap blok sensus pada setiap kabupaten/kota. Indeks konsentrasi dihitung sedemikian rupa dengan dasar indeks kesejahteraan yang dihitung untuk setiap rumah tangga. Variabel yang dijadikan strata adalah sembilan variabel, yaitu jenis lantai, sumber penerangan utama, bahan bakar utama memasak, sumber air minum utama, fasilitas tempat buang air besar, tempat akhir pembuangan tinja, menguasai telepon, ada tidaknya asisten rumah tangga internet, dan pendidikan kepala rumah tangga.

Sementara itu, kerangka sampel rumah tangga adalah daftar seluruh rumah tangga dari hasil updating pada blok sensus terpilih. Proses updating rumah tangga dilakukan untuk mendapatkan gambaran keadaan rumah tangga sebenarnya di blok sensus terpilih. Kemudian populasi rumah tangga hasil updating dikelompokkan menjadi dua strata, yaitu strata rumah tangga yang memiliki kasus kematian dan strata rumah tangga yang tidak memiliki kasus kematian. Agar setiap strata memiliki sampel yang bisa merepresentasikan populasi, maka sebaran sampel dibuat sebagai take some dan take all. Proses penentuan sampel dalam SUPAS 2015 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Populasi strata ada kasus kematian akan take all jika jumlah populasi rumah tangga 1-8, dan akan take some sejumlah 8 jika terdapat lebih dari 8 rumah tangga, dapat disebut jumlah sampel adalah n1.

2. Populasi strata tidak ada kasus kematian akan selalu take some sejumlah n2 = n – n1, dimana n adalah 16 rumah tangga.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pekerja anak di Jawa Timur dan seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh setiap faktor dalam menentukan kecenderungan anak untuk bekerja, maka penelitian ini menggunakan model regresi probit. Model regresi probit adalah metode regresi yang digunakan untuk menganalisis variabel dependen yang bersifat kualitatif dan beberapa variabel independen yang bersifat kualitatif, kuantitatif, atau gabungan dari keduanya (Gujarati, 2004). Variabel dependen biasa disimbolkan dengan Y dengan skala pengukuran dikotomi (biner), dan variabel independen disimbolkan dengan X dengan skala pengukuran dikotomi (biner) atau kontinyu.

Dari studi permasalahan di atas maka model ekonometrika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = β0+ β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5+ β6X6+ β7X7+ β8X8+… βnXn+e

Diamana:

Y = Pekerja anak (1=bekerja, 0=tidak bekerja) Β0 = Konstanta

β1 - β8 = Koefisien regresi X1 = Umur anak X2 = Jenis kelamin anak X3 = Tempat tinggal anak

X4 = Jenis kelamin kepala rumah tangga X5 = Pekerjaan kepala rumah tangga X6 = Pendidikan kepala rumah tangga SMP

(6)

X7 = Pendidikan kepala rumah tangga SMA

X8 = Pendidikan kepala rumah tangga Perguruan Tinggi e = Error

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Estimasi Model

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh dari karakteristik individu dan kepala rumah tangga terhadap kecenderungan anak untuk bekerja atau tidak bekerja. Data penelitian ini berupa data sekunder yang dihimpun dari SUPAS 2015, kemudian data dianalisis menggunakan model respon kualitatif yaitu model regresi probit. Model regresi probit dipilih karena dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan bersifat kualitatif, kategori, atau dikotomis, yaitu pekerja anak. Dimana 1 digunakan untuk menyatakan jika anak bekerja dan 0 jika anak tidak bekerja. Kemudian variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi umur anak, jenis kelamin anak, tempat tinggal, jenis kelamin kepala rumah tangga, pekerjaan kepala rumah tangga, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Berikut adalah hasil estimasi model regresi probit yang dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 1. Output Hasil Regresi Probit

Variabel Coefficient Standard Error P>|z|

Umur anak 0,1981122 0,0197182 0,000***

Jenis kelamin anak 0,0779767 0,0574595 0.175

Tempat tinggal -0,0840697 0,096565 0,384

Jenis kelamin KRT -0,1512544 0,2975077 0,611

Pekerjaan KRT 0,1182613 0,0623985 0,058*

KRT pendidikan SMP -0,1367095 0,0814559 0,093*

KRT pendidikan SMA -0,2794256 0,0836251 0,001***

KRT pendidikan PT -0,5087878 0,1621082 0,002***

Nimber of obs LR Chi2 Prob > Chi2 Pseudo R2

18.090 170,62 0,0000 0,0799 Catatan:

*** signifikan pada level 1%, ** signifikan pada level 5%, * signifikan pada level 10%

Sumber: Hasil regresi probit menggunakan stata 15, data diolah (2021)

Pada tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa dari hasil estimasi diperoleh nilai LR Chi2 sebesar 170,62. Dimana LR Chi2 > nilai Chi2 tabel dan p-value < α, sehingga keputusannya adalah tolak H0 dan terima H1. Artinya semua variabel independen yang digunakan secara simultan signifikan terhadap variabel dependen. Selain itu, tabel 1 menunjukkan nilai R2 sebesar 0,0799 yang artinya variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 7,99 persen, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model.

Selanjutnya, berdasarkan hasil regresi probit di atas terdapat beberapa faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap pekerja anak di Jawa Timur. Sesuai hasil tersebut maka diperoleh model persamaan sebagai berikut:

Y = –4,739311 + 0,198 X1 + 0,077 X2 – 0,084 X3 – 0,151 X4 + 0,118 X5 – 0,136 X6 – 0,279 X7 – 0,508 X8 + e

Persamaan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Umur anak (X1)

Umur anak memiliki nilai p-value < α sehingga keputusannya adalah H0 ditolak. Artinya umur anak berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk menjadi pekerja anak. Selain itu, dengan nilai koefisien sebesar 0,198 menunjukkan bahwa semakin meningkatnya umur anak akan meningkatkan kecenderungan anak untuk bekerja sebesar 19,8 persen.

2. Jenis Kelamin Anak (X2)

Jenis kelamin anak memiliki nilai p-value > α sehingga keputusannya adalah H0 diterima. Pada kondisi ini jenis kelamin anak tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Disisi lain, nilai

(7)

koefisien sebesar 0,077 menjelaskan bahwa anak dengan jenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja 7,7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan.

3. Tempat Tinggal (X3)

Tempat tinggal anak memiliki nilai p-value > α sehingga keputusannya adalah H0 diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa tempat tinggal anak tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja.

Disisi lain, nilai koefisien sebesar -0,084 menunjukkan bahwa anak yang tinggal di lingkungan kota memiliki kecenderungan untuk bekerja 8,4 persen lebih rendah dibandingkan anak yang tinggal di desa.

4. Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga (X4)

Jenis kelamin kepala rumah tangga memiliki nilai p-value > α sehingga keputusannya adalah H0 diterima.

Artinya jenis kelamin kepala rumah tangga tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Disisi lain, jenis kelamin kepala rumah tangga memiliki nilai koefisien sebesar -0,151 yang artinya anak dengan kepala rumah tangga berjenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja 15,1 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak dengan kepala rumah tangga berjenis kelamin perempuan.

5. Pekerjaan Kepala Rumah Tangga (X5)

Pekerjaan kepala rumah tangga memiliki nilai p-value < α sehingga keputusannya H0 ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa pekerjaan kepala rumah tangga berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Selain itu, nilai koefisien sebesar 0,118 menjelaskan bahwa anak dengan kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian memiliki kecenderungan untuk bekerja 11,8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang memiliki kepala rumah tangga bekerja di sektor non pertanian atau lainnya.

6. Pendidikan Kepala Rumah Tangga:

a. Kepala Rumah Tangga Pendidikan SMP (X6)

Kepala rumah tangga dengan pendidikan SMP memiliki nilai p-value < α sehingga keputusannya H0 ditolak.

Artinya kepala rumah tangga dengan pendidikan SMP berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Disisi lain, dengan nilai koefisien -0,136 menunjukkan bahwa anak dengan kepala rumah tangga tamatan SMP memiliki kecenderungan untuk bekerja 13,6 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang memiliki latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah.

b. Kepala Rumah Tangga Pendidikan SMA (X7)

Kepala rumah tangga dengan pendidikan SMA memiliki nilai p-value < α sehingga keputusannya H0 ditolak. Kondisi ini dapat diartikan bahwa kepala rumah tangga dengan pendidikan SMA berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Selain itu, nilai koefisien sebesar -0,279 menunjukkan bahwa anak dengan kepala rumah tangga tamatan SMA memiliki kecenderungan untuk bekerja 27,9 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang memiliki latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah.

c. Kepala Rumah Tangga Pendidikan Perguruan Tinggi (X8)

Kepala rumah tangga dengan pendidikan Perguruan Tinggi memiliki nilai p-value < α sehingga keputusannya H0 ditolak. Artinya kepala rumah tangga dengan pendidikan Perguruan Tinggi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja. Selain itu, nilai koefisien -0,508 menjelaskan bahwa anak dengan kepala rumah tangga tamatan Perguruan Tinggi memiliki kecenderungan untuk bekerja 50,8 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang memiliki latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah.

Pembahasan

Pengaruh Karakteristik Individu Terhadap Pekerja Anak di Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan analisis menggunakan model regresi probit, fenomena pekerja anak di Jawa Timur dipengaruhi oleh karakteristik anak itu sendiri seperti umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal anak. Anak yang menjadi responden disini adalah anak dengan umur 10-15 tahun. Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa seiring bertambahnya umur anak akan diikuti oleh semakin meningkatnya kecenderungan anak untuk menjadi pekerja anak sebesar 19,8 persen.

Hasil ini menunjukkan bahwa umur anak berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja pada level 1 persen.

Pada kondisi ini, umur anak yang terus bertambah mempengaruhi perkembangan pada fisik dan mental. Artinya seiring meningkatnya umur akan membentuk kemampuan fisik anak menjadi lebih kuat sehingga anak mampu masuk ke dunia kerja. Karena pada dasarnya bidang pekerjaan yang diambil oleh anak adalah pekerjaan yang cenderung memanfaatkan kondisi fisik anak. Selain itu, kondisi mental anak berkaitan dengan kemampuan anak untuk memahami keadaan diri sendiri maupun sekitarnya. Sehingga seiring bertambahnya umur, anak akan mulai

(8)

memahami realitas yang dihadapi dan cenderung memilih untuk bekerja baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sejalan dengan Arifanda (2014), yang menyatakan bahwa semakin bertambah umur akan meningkatkan kecenderungan anak untuk bekerja. Umur yang semakin bertambah menciptakan pemikiran dalam diri anak untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun membantu keluarga melalui bekerja. Kemudian Utama dan Handayani (2020) menambahkan bahwa semakin bertambah umur anak maka peluangnya untuk berpartisipasi untuk bekerja juga akan semakin tinggi karena semakin bertambah umur menandakan semakin siapnya fisik seorang anak untuk bekerja. Pada usia ini seharusnya anak mengaloksikan waktunya untuk belajar pada jenjang pendidikan SD sampai SMP dan bukan untuk bekerja.

Selain umur, jenis kelamin anak juga memiliki peran penting dalam menentukan keberadaan pekerja anak di Provinis Jawa Timur. Dalam penelitian ini menunjukkan hasil bahwa anak berjenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja 7,7 persen lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitdiarini dan Sugiharti (2008) yang menyatakan bahwa jenis kelamin anak berpengaruh secara signifikan terhadap peluang munculnya pekerja anak. Anak laki-laki mempunyai peluang 1,3 kali lebih besar untuk menjadi pekerja anak dibandingkan dengan perempuan. Selanjutnya Arifanda (2014) menambahkan bahwa anak dengan jenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja sebesar 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.

Dalam beberapa aspek, anak laki-laki cenderung memiliki fisik yang lebih kuat. Sehingga kecenderungan anak laki-laki untuk masuk ke pasar kerja lebih tinggi, terutama dalam bidang pekerjaan yang mengandalkan fisik. Jika melihat kondisi Indonesia saat ini, banyak kasus dimana laki-laki cenderung memiliki tanggung jawab untuk bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangga dibandingkan perempuan. Karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Sedangkan perempuan indentik dengan hal-hal yang berkaitan dengan mengurus rumah tangga seperti memasak dan membersihkan rumah. Namun, variabel jenis kelamin dalam penelitian ini tidak signifikan pada level 10 persen. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Pitriyan (2006) yang menyatakan umur dan jenis kelamin anak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pekerja anak. Hal ini dikarenakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara anak dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang menjadi pekerja anak. Dimana berdasarkan persentase menunjukkan bahwa pekerja anak berjenis kelamin laki-laki sebesar 56 persen dan perempuan 44 persen, dengan selisih 6 persen.

Kemudian perihal tempat tinggal, anak yang tempat tinggalnya berada di lingkungan kota memiliki kecenderungan untuk bekerja sebesar 8,4 persen lebih rendah dibandingkan anak yang hidup di desa. Umumnya anak yang hidup di lingkungan perkotaan memiliki akses terhadap fasilitas pendidikan yang tinggi sehingga anak usia sekolah akan menghabiskan waktunya untuk bersekolah. Sebaliknya, desa identik dengan fasilitas pendidikan yang terbatas dan tingkat kemiskinan yang tinggi sehingga kemungkinan anak untuk bekerja akan semakin tinggi.

Kontribusi pekerja anak di Provinsi Jawa Timur didominasi oleh anak yang hidup di lingkungan desa, yaitu sebesar 91 persen. Sisanya adalah 9 persen pekerja anak yang bertempat tinggal di kota. Hasil ini sejalan dengan Pitriyan (2006) yang menyatakan bahwa 90 persen pekerja anak di Indonesia hidup di daerah pedesaan. Namun dalam penelitian ini variabel tempat tinggal anak tidak signifikan pada level 10 persen. Karena pada kenyataannya fenomena pekerja anak tidak hanya terjadi di daerah pedesaan, tapi terjadi juga di daerah kota dengan berbagai problematikanya.

Pada lingkungan pedesaan, pekerjaan utama dari masyarakatnya adalah bertani dan pada kebanyakan kasus banyak melibatkan anak-anak untuk membantu pekerjaan. Sedangkan masyarakat kota umumnya bekerja pada sektor perdagangan. Pada wilayah perkotaan, persebaran pekerja anak terbesar berada pada sektor perdagangan yaitu sebesar 39 persen. Kemudian diikuti oleh sektor industri dan pertanian masing-masing sebesar 16 persen serta jasa kemasyarakatan sebesar 15 persen. 14 persen sisanya adalah transportasi dan konstruksi masing-masing 5 persen, lembaga keuangan dan pertambangan masing-masing 2 persen. Sedangkan pada wilayah pedesaan persebaran pekerja anak didominasi oleh sektor pertanian sebesar 72 persen. Kemudian diikuti oleh perdagangan dan industri sebesar 12 persen dan 6 persen. 10 persen sisanya tersebar di jasa kemasyarakatan dan konstruksi masing-masing 3 persen, pertambangan dan transportasi masing-masing 2 persen (Kemnaker RI, 2016).

Pengaruh Karakteristik Kepala Rumah Tangga Terhadap Pekerja Anak di Provinsi Jawa Timur

Tidak jauh berbeda dari karkteristik individu, keberadaan pekerja anak di Provinsi Jawa Timur juga dipengaruhi oleh karakteristik dari kepala rumah tangga diantaranya jenis kelamin, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini menunjukkan hasil yang menyatakan bahwa anak dengan kepala rumah tangga berjenis kelamin laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja 15,1 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga perempuan. Anak dengan kepala rumah tangga berjenis kelamin perempuan cenderung untuk ikut bekerja dengan alasan membantu secara sukarela atau bahkan diajak oleh ibu. Karena perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak

(9)

hanya fokus bekerja mencari nafkah, melaikan juga membagi waktunya untuk mengurus segala kebutuhan dan keperluan rumah tangga.

Selain itu, kepala rumah tangga yang berjenis kelamin perempuan juga dapat mendorong anak untuk bekerja karena memiliki kecenderungan upah yang lebih rendah dibanding kepala rumah tangga laki-laki (Pitriyan, 2006).

Upah yang rendah dalam rumah tangga memaksa seluruh anggota keluarga untuk bergerak mencari nafkah.

Sehingga anak ikut bekerja sekedar untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun membantu rumah tangga.

Namun variabel jenis kelamin kepala rumah tangga dalam penelitian ini tidak signifikan pada level 10 persen. Hal ini dikarenakan tidak ada perbedaan signifikan antara anak yang bekerja dari kepala rumah tangga berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Realitas menunjukkan bahwa saat ini perempuan tidak lagi diasosiasikan sebagai individu yang memiliki upah dan produktivitas rendah. Banyak kepala rumah tangga perempuan yang justru memiliki penghasilan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Selain jenis kelamin, faktor lain yang dapat mempengaruhi eksistensi pekerja anak adalah pekerjaan dari kepala rumah tangga. Variabel pekerjaan disini adalah kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian atau non pertanian. Dalam penelitian ini, hasil analisis menunjukkan bahwa anak dengan kepala rumah tangga bekerja di sektor pertanian memiliki kecenderungan untuk bekerja sebesar 11,8 persen dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang bekerja di sektor non pertanian atau lainnya. Kepala rumah tangga yang bekerja di sektor petanian memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan anak untuk bekerja pada level 10 persen.

Data SUPAS 2015 menyatakan kepala keluarga yang bekerja di sektor pertanian menyumbang pekerja anak sebesar 53 persen, sedangkan sektor non pertanian atau lainnya 47 persen. Sektor pertanian di pedesaan pada umumnya menganut sistem gotong royong yang mana keterlibatan anak dalam bekerja membantu keluarga tidak dapat dihindari. Selain itu, sektor pertanian juga identik dengan upah yang rendah, kondisi ini menuntut rumah tangga untuk melibatkan anak untuk membantu pekerjaan. Berdasarkan data dari Sakernas, sebanyak 74 persen diantaranya merupakan pekerja anak yang tidak dibayar karena statusnya adalah membantu orang tua.

Sejalan dengan Pitriyan (2006), kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian memiliki pengaruh signifikan terhadap keterlibatan pekerja anak. Karena sektor pertanian selalu melibatkan banyak pekerja, baik secara formal maupun informal. Anak yang hidup di sektor pertanian mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk bekerja dibandingkan dengan mereka yang hidup di perkotaan.

Faktor terakhir adalah pendidikan kepala rumah tangga. Variabel pendidikan dalam penelitian ini adalah latar belakang pendidikan yang ditamatkan oleh kepala rumah tangga, yaitu SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak dengan kepala rumah tangga tamatan SMP memiliki kecenderungan untuk bekerja 13,6 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang memiliki latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah. Variabel kepala rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SMP berpengaruh secara signifikan terhadap pekerja anak pada level 10 persen.

Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maka akan mengurangi resiko munculnya pekerja anak.

Karena kepala rumah tangga dengan pendidikan SMP atau lebih tinggi cenderung memiliki pekerjaan dengan upah yang tinggi pula. Sehingga kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi tanpa harus melibatkan anak di dalamnya. Dari sini anak bisa fokus mengalokasikan waktunya untuk bermain dan belajar di sekolah. Sebaliknya, kepala rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SMP ke bawah akan meningkatkan peluang munculnya pekerja anak menjadi lebih besar.

Selanjutnya anak dengan kepala rumah tangga tamatan SMA memiliki kecenderungan untuk bekerja 27,9 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang memiliki latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah. Variabel kepala rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SMA berpengaruh secara signifikan terhadap pekerja anak pada level 1 persen. Sama seperti tamatan SMP, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maka akan mengurangi resiko munculnya pekerja anak. Karena kepala rumah tangga dengan pendidikan SMA atau lebih tinggi cenderung memiliki pekerjaan dengan upah yang tinggi pula. Sehingga kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi tanpa harus melibatkan anak di dalamnya. Dari sini anak bisa fokus mengalokasikan waktunya untuk bermain dan belajar di sekolah. Sebaliknya, kepala rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SMA ke bawah akan meningkatkan peluang munculnya pekerja anak menjadi lebih besar.

Terakhir adalah anak dengan kepala rumah tangga tamatan Perguruan Tinggi memiliki kecenderungan anak untuk bekerja 50,8 persen lebih rendah dibandingkan anak dengan kepala rumah tangga yang mempunyai latar belakang pendidikan lainnya atau lebih rendah. Variabel kepala rumah tangga dengan latar belakang pendidikan Perguruan Tinggi berpengaruh secara signifikan terhadap pekerja anak pada level 1 persen.

Tidak berbeda dari kepala rumah tangga tamatan SMP dan SMA, pada kepala rumah tangga tamatan Perguruan Tinggi semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maka akan mengurangi resiko munculnya pekerja anak. Karena kepala rumah tangga dengan pendidikan Perguruan Tinggi atau lebih tinggi cenderung memiliki pekerjaan dengan upah yang tinggi pula. Sehingga kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi tanpa harus melibatkan

(10)

anak di dalamnya. Selain itu, kepala rumah tangga tamatan Perguruan Tinggi cendeung memahami arti penting pendidikan bagi anak. Dari sini anak bisa fokus mengalokasikan waktunya untuk bermain dan belajar di sekolah.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pekerja anak di Jawa Timur, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari karakteristik individu dapat diketahui bahwa seiring bertambahnya umur akan meningkatkan kecenderungan anak untuk bekerja. Sebagian besar pekerja anak di Provinsi Jawa Timur adalah anak laki-laki dan tinggal di daerah pedesaan.

2. Dari karakteristik kepala rumah tangga dapat diketahui bahwa kepala rumah tangga berjenis kelamin laki-laki dan bekerja di sektor pertanian memberikan kontribusi besar terhadap keberadaan pekerja anak di Provinsi Jawa Timur. Kemudian semakin tinggi pendidikan kepala rumah tangga akan mengurangi kecenderungan anak untuk bekerja.

Saran

Berdasarkan penelitian dan pembahasan di atas, maka beberapa saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut:

1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan advokasi tentang pentingnya pendidikan bagi anak kepada keluarga miskin yang rentan pekerja anak, khususnya orang tua dari pedesaan yang bekerja sebagai buruh tani. Karena temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua dari desa yang bekerja di sektor pertanian memiliki sumbangsih besar dalam meningkatkan keberadaan pekerja anak di Jawa Timur.

2. Pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan maupun jaminan sosial bagi keluarga miskin yang rentan pekerja anak. Selain itu pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur pendidikan dan akses wajib belajar secara gratis untuk semua anak. Karena temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan utama dari pekerja anak berasal dari kondisi ekonomi rumah tangga yang rendah dan akses pendidikan yang terbatas.

3. Penelitian ini memiliki keterbatasan terkait data, karena menggunakan data mikro atau individu. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat menggunakan data yang lebih lengkap. Contohnya dalam penentuan responden, penelitian ini hanya menggunakan anak umur 10-15 tahun karena sumber data penelitian yaitu SUPAS 2015 tidak menghimpun data pekerja anak dibawah 10 tahun. Data yang lengkap diharapkan mampu menjelaskan aktivitas anak umur 7-15 tahun sesuai dengan program wajib belajar dari pemerintah. Selain itu, ketersediaan data terkait pendapatan kepala rumah tangga juga tidak dihimpun oleh SUPAS 2015.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga jurnal ini dapat terselesaikan.

Ucapan terima kasih khusus kami sampaikan kepada Asosiasi Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya dan Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yang memungkinkan jurnal ini bisa diterbitkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifanda, Shelvia R. 2014. The Determinants of Child Labor in East Java. Malang: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Brawijaya.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Basu dan Van. 1998. The Economics of Child labor. Journal of Economics.

https://www.jstor.org/stable/116842?seq=1, diakses pada 7 Juni 2021.

Badan Pemeriksa keuangan Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/38723/uu-no-35-tahun-2014, diakses pada 7 Juni 2021.

Badan Pusat Statistik. 2020. Hasil Sensus Penduduk 2020. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Fitdiarini, N dan Sugiharti, L. 2008. Karakteristik dan Pola Hubungan Determinan Pekerja Anak di Indonesia.

Jurnal Penelitian Dinas Sosial Vol 7, No 1.

Gujarati, Damodar. 1995. Ekonometrika Dasar. (Alih Bahasa Sumarno Zain). Jakarta: Erlangga.

Gujarati, Damodar. 2004. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.

(11)

International Labour Organization. 2009. Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan Pekerja Anak. Jakarta: Organisasi Perburuhan Internasional.

International Labour Organization. 1992. International Programme on the Elimination of Child Labor.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. 2016. Peta Jalan (Roadmap) Menuju Indonesia Bebas Pekerja Anak Tahun 2022.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. 2020. Kemenaker Targetkan Tarik Sembilan Ribu Pekerja Anak Tahun 2020. https://kemnaker.go.id/news/detail/kemnaker-targetkan-tarik-9-ribu-pekerja-anak-tahun-2020, diakses pada 7 Juni 2021.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. 2020.

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2810/sebelas-juta-anak-berpotensi-menjadi-pekerja- anak-di-masa-pandemi-pentingnya-sinergi-melakukan-pencegahan diakses pada 29 Juni 2021.

Pitriyan, P. 2006. The Impact of Child Labor on Child’s Education: The Case in Indonesia. Working Paper in Economics and Development Studies. Bandung: Departemen Ekonomi Universitas Padjadjaran.

Prakoso, Renno A. 2020. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengangguran Terdidik di Pulau Jawa Tahun 2010-2018. Malang: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Brawijaya.

Sendjun, H. 1998. Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia. Jakarta: Rineka Citra, Hal 3.

Sholeh, M. 2007 Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja Serta Upah: Teori Serta Beberapa Potretnya di Indonesia. Yogyakarta: Jurnal Ekonomi Pendidikan, Vol 4, No 1.

Simanjuntak, Payman J. 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sumarsono, S. 2009. Ekonomi Sumber Daya Manusia: Teori dan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sumodiningrat. 2001. Pengantar Statistika. Jakarta: Penerbit Andi.

Todaro, MP dan Smith, SC. 2011. Pembangunan Ekonomi. Edisi Kesebelas. Jakarta: Erlangga.

United Nations Children’s Fund (UNICEF). Convention On The Right Of The Child.

Utama, RS dan Handayani, D. 2020. Pekerja Anak di Indonesia: Peran Penawaran dan Permintaan Ketenagakerjaan. Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan. 13:145-157.

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, segala puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan dapat menyelesaikan dan menyusun

Perubahan warna yang terjadi adalah menjadi kuning, kemudian terjadi perubahan warna lagi setelah larutan NaOH dan HCl ditetesi fenoftalein dari

Universitas meningkatkan keunggulan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bermutu berbasis nilai-nilai konservasi untuk

kemampuan dan keinginan personil untuk melakukan kinerja ekstra di luar jam standar (OCB). Kemudian untuk menjawab hipotesis dalam penelitian ini yang terkait

Meskipun demikian, sebagian orang tua yang lain masih berpandangan positif pada budaya lokal. Para orang tua yang diwawancarai menyata- kan bahwa budaya lokal dalam bentuk

menghidupkan perekomiannya. Perlu dibangun titik-titik suar karena titik koordinat yang baru. Untuk dimaklumi bahwa kondisi eksisting 3 pulau terluar yang ada di Riau,

Faktor selanjutnya yang berpengaruh terhadap tingkat pengangguran yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Beban Tanggungan Penduduk (Dependency Ratio).. Beban

Hasil penelitian menunjukan bahwa konservasi terhadap zona penyangga Air Terjun Sumirah dilakukan oleh Pemerintah Daerah khususnya Dinas Kehutanan melalui Program Gerakan