• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN KEBERANGKATAN JAMA’AH UMRAH ABU TOURS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN KEBERANGKATAN JAMA’AH UMRAH ABU TOURS"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN KEBERANGKATAN JAMA’AH UMRAH ABU TOURS

Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

FADHIL ANUGRAH 45 14 060 036

FAKULTAS HUKUM / ILMU-ILMU HUKUM UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2018

(2)
(3)
(4)
(5)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa mencurahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu merampungkan penyelesaian skripsi ini dengan judul “Analisis yuridis pembatalan keberangkatan jama’ah umroh Abu tours” sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S1) Studi Ilmu Hukum di Universitas Bosowa.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan tanpa adanya dukungan, bantuan, bimbingan, saran dan nasehat dari berbagai pihak selama proses penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Kedua orangtua penulis, Hasan Fattah dan Andi Nensi yang senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun materil. Terima kasih Etta dan Opu atas kasih sayang dan doanya yang selalu tercurah kepada anakmu ini. Terima kasih juga pertanyaan menohoknya “Kapan wisuda nak?” hingga penulis semakin terpacu untuk selesai tepat waktu.

2. Bapak Dr. Ruslan Renggong, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Bosowa.

3. Ibu Dr. Yulia A. Hasan, S.H., M.H. selaku Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Bosowa.

(6)

v

4. Bapak Hamzah Taba S.H, M.H selaku pembimbing 1 dan juga Bapak Almusawir S.H, M.H, selaku pembimbing 2.

5. Seluruh dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang tak bisa penulis sebutkan satu per satu.

6. Staf Fakultas Hukum Universitas Bosowa, Pak Patta, Bu Pia dan Kak Marlin yang telah membantu dan selalu mendukung penulis..

7. Bapak Kompol Ahmad Mariadi yang telah membantu dalam penulisan ini.

8. Saudara-saudara kandung penulis, Kakak Dewi Maghfirah dan Fadlan Kurniawan.

9. Untuk DPL KKN Bali angkatan 45, Bapak Ir. Rahmadi Jasmin, MP, yang membimbing, memimpin dan berjuang bersama kami demi disetujuinya jenis KKN ini dan teruntuk anak-anak KKN Bali.

10. Widya Handayani B yang telah menemani penulis untuk melakukan penelitian.

11. Geng PIUU yang selalu menemani penulis sejak SMA hingga saat ini.

12. Pasukan Bodrex, yaitu Hasman Mansur A.md, Risnawati Ismail A,md, Keb, Andi Diar Nurazika,S.p, Mulisa Mustari, S,pd, Nur Fadillah, S,pd, Masita, dan Syarifa.

13. Untuk teman-teman saya di fakultas hukum angkatan 2014 (Grasi014) 14. HPPMI Maros Komisariat Universitas Bosowa.

15. Pengurus Pimpinan Pusat HPPMI Maros.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran masih diperlukan.Namun penulis tetap berharap semoga skripsi ini mampu

(7)

vi

memberi manfaat bagi dunia keilmuan dan kepada semua pembaca yang sempat membaca skripsi ini.Sekian dan Terima Kasih.

Makassar, 20 Agustus 2018

Penulis,

(8)

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vii

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penelitian 3

1.4 Kegunaan Penelitian 4

1.5 Metode Penelitian 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1 Pengertian Perikatan 7

2.2 Prestasi dan Wanprestasi 9

2.3 Overmacht, Risiko, dan Somasi 14

(9)

viii

2.4 Pengertian Perjanjian 23

2.5 Unsur-Unsur Perjanjian 25

2.6 Asas-asas Perjanjian 26

2.7 Sejarah Travel PT Abu tours 32

BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 34

3.1 Bentuk pertanggung jawaban PT Abu tours terhadap jama’ah

yang gagal berangkat 34

3.2 Bentuk upaya hukum yang dapat dilakukan oleh jama’ah yang

gagal berangkat 41

BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan 48

4.2 Saran 48

DAFTAR PUSTAKA 50

(10)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Haji dan umrah merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan atas seetiap muslim yang mampu. Kewajiban ini merupakan rukun islam ke lima. Haji dan umrah hanya diwajibkan sekali seumur hidup, maka seseorang yang telah melakukan haji yang pertama maka selesai pula kewajiban menunaikan rukun islam yang ke lima.

Ibadah umrah hakikatnya menjadi sarana dan media bagi kaum muslim untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah umrah tidak hanya dilaksanakan pada saat tahun haji saja tetapi pada setiap saat ketika orang ingin melakukan ibadah umrah maka boleh melakukan ibadah umrah. Tujuan pokok dari perjalanan haji dan umrah yaitu mengerjakan haji yang hukumnya wajib (bagi yang mampu), mengerjakan umrah yang hukumnya sama dengan haji, dan yang terakhir mengadakan ziarah yang hukumnya sunnah. maka dari itu banyaknya umat muslim yang ingin melaksanakan haji dan umrah. Umat muslim yang terkhusus di Indonesia yang ingin melakukan haji dan umrah harus mendaftarkan diri ke Kementrian Agama (KEMENAG) yang pemberangkatannya memerlukan waktu yang lama sekitar 8 tahun, dimana persyaratan tersebut mempunyai kelemahan untuk para langsia yang mendaftarkan dirinya karena kegiatan ibadah umrah merupakan ibadah fisik yang memerlukan kesehatan dan ketahanan stamina. Maka dari itu Kementeran Agama

(11)

2

(Kemenag) membuat peraturan menteri agama (Permenag) Nomor 18 Tahun 2015 tentang Penyelenggaran Perjalanan Ibadah Umrah untuk lebih memudahkan umat muslim dalam menunaikan kewajiban rukun islam yang kelima.

perusahaan biro perjalanan haji dan umrah perlu perngaturan agar masyarakat dapat menunaikan ibadah umrah dengan aman dan baik serta terlindungi kepentinganya. Dengan pertimbangan tersebut pemerintah Indonesia membuat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 Tentang penyelanggaraaan ibadah haji yang di dalamnya berisikan peraturan tentang penyelanggaraan umrah.

Maraknya lembaga penyelengara ibadah haji dan umrah yang mengklaim bahwa lembaga tersebut mempunyai kualitas pelayanan yang prima. Bahkan banyak travel biro perjalanan haji dan umrah memberikan bukti dengan melalui promo- promo perjalanan yang ditawarkan oleh pihak travel sehingga konsumen tertarik pada apa yang ditawarkan. Namun kenyataanya banyak dijumpai jama’ah yang terlantar bahkan tidak jadi berangkat, karena kelalaian dari pelayanan yang diberikan oleh pihak travel yang tidak bertanggung jawab.Salah satu contoh kasus yang perusahaan biro haji dan umrah yaitu: “Pada awal tahun 2018 sekitar 27.000 jam’ah abu tour tertunda keberangkatanya bahkan ada juga keberangkatanya dibatalkan dalam kasus tersebut jam’ah telah memenuhi kewajibanya namun tidak mendapatkan hak yang semestinya ia dapatkan”

(12)

3

Berdasarkan kasus abu tours, masalah yang terjadi dalam pelaksanaan perjalanan ibadah umrah yakni, diduga adanya penipuan atau manipulasi dari pihak travel biro perjalanan haji dan umrah maka terjadin hal yang tidak di inginkan yang berakibat tertundanya keberangkatan hingga pembatalan keberangkatan jama’a dan segala sesuatu yang telah dijanjikan oleh pihak penyelenggara ibadah umrah tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Permasalahan yang terjadi karna rasa percaya para jama’ah terhadap pihak Abu tours yang sangat tinggi. Namun tidak adanya pertanggung jawaban pihak abu tours, serta tidak adanya jaminan berupa perjanjian tertulis antara pihak penyelenggara dalam hal ini abu tours dengan jamaa’ah. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian dan mengkaji dalam bentuk karya ilmiah (skripsi) dengan judul

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBATALAN PEMBERANGKATAN

JAMA’AH UMRAH ABU TOUR”

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah tanggung PT abu tours terhadap jama’ah yang gagal berangkat umrah ?

2. Upaya hukum apa yang dapat ditempuh oleh jamaah umrah abu tours yang batal berangkat?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk pertanggung jawaban pihak abu tour terhadap calon jamaa’ah yang gagal berangkat.

(13)

4

2. Untuk mengetahui hak-hak dan kewajiban yang timbul bagi para pihak dalam perjanjian perjalanan umrah.

1.4 Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat mengembakna wawasan dalam ruang lingkup ilmu hokum pada umumnya dan khusus dibidang hukum perjanjian, terutama yang berkenaan dengan akad dalam ruang lingkup penyelengaraan ibadah umrah

2. Kegunaan Praktis

Hasil penilitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pegangan dan sumbangan pemikiran bagi para penyelenggara ibadah umrah agar lebih mengoptimalkan penyelengaraan ibadah umrah, baik dari aspek procedural maupun pengawasan dan dapat dijadikan acuan bagi masyarakat, khususnya calon jamaah umrah agar lebih teliti dan berhati-hati dalam proses pendaftaran pemberangkatan umrah.

1.5 Metode Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian saya dalam penelitian ini adalah pada Kepolisian daerah sulsel (Polda Sulsel), pihak yang menanangani kasus PT Abu tours

(14)

5

Tahap penelitian terdiri dari :

a. Study kepustakaan yaitu penelitian kepustakaan di lakukan berdasarkan : 1) Bahan hukum primer, yaitu pengambilan data yang di peroleh dari pihak kepolisian dengan melalui wawancara dengan pihak yang menangani kasus PT Abu tours

2) Bahan Hukum sekunder, yaitu berupa buku buku yang berkaitan dengan perjanjian dan wanprestasi, peraturan perundang undangan seperti Kitab Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tetantang penyelenggaraan ibadah haji dan umrah

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data akan dilakukan sebagai berikut:

(a) Wawancara, dilakukan untuk memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan, dalam hal ini pihak kepolisian Polda Sulsel

(b) Studi dokumentasi, dilakukan dengan penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.

3. Teknik pengumpulan data

a.

Studi penilitian lapangan, yaitu sumber data lapangan yang diambil secara langsung dari pihak kepolisian dalam hal ini Polda Sulsel

(15)

6

b.

Studi penelitian kepustakaan yaitu, sumber data yang diperoleh dari hasil mempelajari perundang-undangan serta sumber bacaan lainya yang dapat mendukung penelitian ini.

4. Metode analasis data

Dalam menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian akan disusun dan dianalisis secara kualitatif dan diuraikan secara deskriptif dengan menjelaskan, menguraikan dan menganalisis untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

(16)

7

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian perikatan

Perikatan adalah hubungan hukum antara dua pihak didalam lapangan harta kekayaan, di mana pihak yang satu (kreditu) berhak atas suatu prestasi, dan pihak yang lain (debitur) berkewajiban memenuhi prestasi itu. Oleh karna itu dalam setiap perikatan terdapat hak di satu pihak yang lain. (Ketut Oka Setiawan, 2017: 42).

Menurut Subekti (1979:1). Perikatan dikatakan sabagai hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dari pihak yang lain dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Lebih lanjut dikatakan bahwa pihak yang berhak menuntut sesuatu dinamakan kreditur atau si berpiutang, sedangkan pihak yang berkewajiban memenuhi tuntutan dinamakan debitur atau si berpiutang.

Oleh karna itu hubungan antara debitur dan kreditur itu merupakan hubungan hukum, maka ini berarti bahwa si kreditur itu dijamin oleh hukum (Undang-Undang).

Hal ini di pertegas berdasarkan ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Bedasarkan hal itu maka salah satu

(17)

8

pihak tidak memenuhi tuntutan lawanya secara sukarela, kreditur dapat menuntutnya di pengadilan.

Buku III KUH Perdata tentang perikatan, tidak memberikan suatu rumusan dari perikatan itu sendiri, maka dari itu pemahaman perikatan senantiasa didasarkan atas doktrin (ilmu pengetahuan). Menurut Badrulzaman (1982: 1) Perikatan ialah hubungan yang terjadi di antara dua orang atau lebih yang terletak di dalam lapangan harta kekayaan dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak yang lainya wajib memenuhi prestasi itu.

Dari rumusan diatas makan unsur’e-unsur dari suatu perikatan terdiri dari adanya hubungan hukum, kekayaan, pihak-pihak, dan prestasi. Adapun pentingnya menyoalkan unsure-unsur tersebut adalah untuk mempertegas bahwa hukum melekatkan “hak” pada suatu pihak dan melekatkan “kewajiban” pada pihak yang lainya dalam hubungan-hubungan yang terjadi dalam masyarakat. Apabila ada salah satu pihak yang melanggar hubungan tadi maka hukum dapat memaksakan supaya hubungan itu dilaksanakan.

A. Sumber Hukum Perikatan

Dari mana datangnya orang atau pihak itu terikat satu sama lainya atas hak dan kewajiban disebutkan dan sekaligus sebagai sumber perikatan dalam pasal 1233 KUH Perdata. Bunyi pasal 1233 KUH Perdata: “tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karna persetujuan baik karena undang-undang”. Bedasarkan ketentuan ini ada dua sumber

(18)

9

perikatan yaitu pertama perikatan yang lahir dari sumber persetujuan atau perjanjian, kedua perikat yang lahir dari undang-undang.

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari peristiwa itulah timbul hubungan antar dua orang itu yang di sebut perikatan. Dengan perkataan lain, perjanjian itu mnerbitkan perikatan antar dua orang yang membuatnya. Mengenai bentuknya perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau dituliskan (Subekti,1995: 1). Berdasarkan hal tersebut maka hubungan antara perikatan dengan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan.

Dengan kata lain, perjanjian adalah sumber perikatan, di samping sumber sumber lain. Perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Sedangkan perkataan kontrak lebih sempit karena ditujukan kepada perjanjian yang tertulis (Subekti, 1995: 1).

2.2 PRESTASI DAN WANPRESTASI 1. Prestasi

Kreditur berhak atas sesuatu yang wajib diberikan oleh debitur disebut

“prestasi”. Sesuatu itu terdiri atas memberikan, melakukan atau tidak melakukan. Hal ini di atur dalam Pasal 1234 KUH Perdata “tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu”.

(19)

10

Jadi berdasarkan ketentuan Pasal 1234 KUH Perdata maka prestasi itu dapat di bedakan menjadi 3 macam, yaitu memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Adanya perikatan untuk memberikan sesuatu dimaksudkan kewajiban dari debitur untuk menyerahkan kepemilikan, penguasaan atau kenikamatan dari suatu benda. Misalnya hak milik atas benda tetap dan gerak, pemberian sejumlah uang, memberikan benda untuk dipakai.

B. Sahnya perikatan dalam kaitanya dengan prestasi

Untuk keabsahan suatu perikatan yang di kaitkan dengan prestasi, harus memenuhi syarat sebgai berikut.

a.) Prestasi harus dapat di tentukan, Dalam hal ini pretasi harus dapat di tentukan, tetapi syarat ini hanya penting untuk perikatan yang dilahirkan dari persetujuan. Suatu perikatan tidak abash bilamana prestasinya sama sekali tidak di tentukan.

b.) Prestasi tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, Ketertiban umum dan kesusilaan yang baik. Syarat ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 1335 KUH Perdata: “suatu persetujuan tanpa sebab, yang palsu atau terlarang tidak mempunyai kekuatan”.

c.) Tidak dapat diisyaratkan bahwa prestasi dapat di jalankan atau dipenuhi.

Prestasi itu memang dengan sendirinya dapat dijalankan atau dipenuhi.

(20)

11

d.) Tidak dapat diisyaratkan bahwa prestasi harus dapat dinilai dengan uang.

Sebagian ahli hukum berpendapat demikian karena pertimbanganya, bila debitur ingkar maka ia dikenakan ganti kerugian berupa uang.

2. Wanprestasi a. Pengertian

Pada umunya hak dan kewajiban yang lahir dari perikatan dipenuhi oleh pihak- pihak baik debitur maupun kreditur. Akan tetapi dalam praktik kadang-kadang debitur tidak mematuhi apa yang menjadi kewajibanya dan inilah yang disebut

“wanprestasi”. Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa belanda yang berarti prestasi buruk (subekti, 1967:45). Selain itu perkataan wanprestasi sering juga dipadankan pada katai lalai, ingkar janji, atau melanggar perjanjian, bila mana debitur melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Wanprestasi atau tidak dipenuhinya janji dapat terjadi baik karena disengaja maupun tidak sengaja. Pihak yang tidak sengaja wanprestasi ini dapat terjadi karena memang tidak mampu untuk memenuhi prestasi tersebut atau juga karena terpaksa untuk tidak melakukan prestasi tersebut (Ahmad Miru: hlm 74)

b. Bentuk Wanprestasi

1) Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat pada waktunya. Dengan perkataan lain, terlambat melakukan prestasi, artinya meskipun prestasi itu dilaksankan atu diberikan, tetapi tidak sesuai dengan waktu yang di perjanjikan.Prestasi tersebut di sebut dengan kelailaian.

(21)

12

2) Tidak memenuhi prestasi, artinya prestasi itu tidak hanya terlambat, tetapi juga tidak bisa lagi dijalankan. Hal karena ini disebabkan karena :

a.) Pemenuhan prestasi tidak mungkin dilaksanakan karna barangnya telah musnah.

b.) Prestasi kemudia sudah tidak berguna lagi, karena saat penyerahan mempunyai arti yang sangat penting.

3) Memenuhi prestasi tidak sempurna, artinya prestasi diberikan tetapi tidak sebagaimana mestinya. (Ketut Oka Setiawan,2017: 19)

Perlu di jelaskan disini tentang “tidak dapat atau tidak sempurna memenuhi suatu perikatan tidak selamanya merupakan suatu wanprestasi”

kecuali memenuhi dua unsure yaitu adanya peringatan (aanmaning atau adanya somasi) dan unsur jika prestasi tidak dapat dilaksanakan adanya overmacht.

c. Akibat Wanprestasi

Apabila seorang debitur wanprestasi, maka akibatnya adalah :

1) Kreditur tetap berhak atas pemenuhan perikatan, jika hal itu masih dimungkinkan.

2) Kreditur juga mempunyai hak atas ganti rugi baik bersamaan dengan pemenuhan prestasi maupun sebagai gantinya pemenuhan prestasi.

(22)

13

3) Sesudah adanya wanprestasi, maka overmacht tidak mempunyai kekuatan untuk membebaskan debitur.

4) Pada perikatan yang lahir dari kontrak timbale balik, maka wanprestasi dari pihak pertama member hak kepada pihak lain untuk meminta pembatalan kontrak oleh hakim, sehingga penggugat dibebaskan dari kewajibanya. Dalam gugatan pembatalan kontark ini dapat juga dimintakan ganti kerugian.

d. Sanksi Bagi Debitur yang Wanprestasi

Kreditur yang menderita kerugian karena debiturnya wanprestasi memilih berbagai kemungkinan, antara lain : (Ketut Oka Setiawan: 2017, 21)

1) Kreditur dapat minta ganti rugi, yaitu kerugian karena debitur tidak berprestasi, berprestasi tapi tidak tepat waktu, atau berprestasi yang tidak sempurna.

2) Kreditur dapat meminta pelaksanaan perjanjian disertai ganti kerugian sebagai akibat lambatnya pelaksanaan perjanjian.

3) Dalam perjanjian yang bertimbal balik, kelalaian satu pihak member hak kepada pihak lawanya untuk meminta kepada hakim agar perjanjian di batalkan disertai ganti kerugian. Hak ini di berikan oleh Pasal 1266 KUH Perdata yang menetapkan tiap perjanjian bilateral selalu dianggap telah dibuat dengan syarat bahwa kelalaian satu pihak akan

(23)

14

mengakibatkan pembatalan perjanjian akan tetapi pembatal mana harus dimintakan kepada hakim.

Dalam hal tersebut menurut Subekti (2010: 148), bukanlah kelalaian debitur yang menyebabkan batalnya, akan tetapi putusan hakim yang membatalkan perjanjian itu sehingga putusan hakim bersifat constitutive dan declaratoir.

Subekti juga menjelaskan bahwa hakim mempunyai suatu kekuasaan discretioner, artinya ia berwenang untuk menilai wanprestasi debitur. Apabila

dianggapnya terlalu kecil, hakim berwenang untuk menolak pembatal perjanjian, meskipun ganti rugi yang telah di minta dikabulkan.

e. Unsur-unsur Ganti Rugi

Mengenai ganti rugi yang dapat dituntut, undang-undang (Pasal 1248 KUH Perdata) menyebutkan unsure-unsurnya berupa :

1) Biaya (kosten) segala pengeluaran (biaya) yang nyata-nyata sudah dikeluarkan, misalnya biaya cetak iklann, sewa gedung, dan lain-lain.

2) Rugi ialah kerugian karena kerusakan barang milik kreditur akibat kelalaian debiturnya.

3) Hal keuntungan ialah kerugian yang berupa hilangnya keuntungan yang di harapkan.

(24)

15

2.3 OVERMACHT, RISIKO, DAN SOMASI

1. Overmacht

A. Pengertian

Menyimpang dari asas, bahwa debitur yang tidak memenuhi suatu perikatan wajib mengganti kerugian yang di sebabkan oleh kelalaianya maka ia tidak usah mengganti rugi, bilamana kelalaian itu tidak dapat di pertanggung jawabkan padanya karena ia dapat mengemukakan suatu alasan yang membenarkan perbutanya.

Asas yang di maksud di atas di sebutkan dalam Pasal 1239 KUH Perdata yang menyatakan bahwa seorang debitur yang tidak memenuhi perikatan, melakukan wanprestasi dan karenanya harus menganti kerugian. Namun demikian undang- undang juga memberikan pengecualian yang di atur dalam Pasal 1244 KUH Perdata yang menyatakan bahwa debitu harus dihukum untuk membayar ganti rugi sejauh ia tidak dapat membuktikan bahwa perikatan tidak atau terlambat untuk dipenuhinya karena suatu hal yang tak terduga, pun tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya.

Pasal 1245 KUH Perdata memberikan ketentuan yang sama, dengan menetapkan bahwa debitur dibebaskan dari penggantian kerugian, bila mana ia karena overmacht atau keadaan yang tidak terduga berhalangan untuk memberikan sesuatu atu tidak berbuat sesuatu yang ia wajib melakukanya atau membuat sesuatu yang terlarang.

(25)

16

Istilah dalam Pasal 1245 KUH Perdata, karena suatu hal yang tidak terduga pun tidak dapat ditanggungjawabkan dan istilah dalam Pasal 1245 KUH Perdata, yakni alasan keadaan memaksa atau alasan yang sama. Menurut ketentuan Pasal 1244 KUH Perdata lebih sesuai dengan perkembangan hukum belakangan ini.

B. Macam-Macam Overmacht

Menurut Subekti (2010: 150) Overmacht atau keadaan memaksa ada yang bersifat mutlak apabila sama sekali tidak mungkin lagi melaksanakan perikatan.

Selain itu, ada juga bersifat tidak mutlak, yaitu suatu keadaan perikatan masih dapat dilaksanakan, tetapi dengan pengorbanan yang sangat besar dari debitur.

C. Kewajiban Membuktikan Adanya Overmacht

Menurut ketentuan Pasal 1244 KUH Perdata, overmacht harus dibuktikan bahwa perkataan “tidak” tidak pada waktunya atau tidak dipenuhi dengan baik, tidak cukup bila membuktikan bahwa kelalainya disebabkan misalnya karena, kebakaran atau pemogokan, tetapi juga ia harus membuktikan bahwa ia telah berusaha sekeras- kerasnya sebagaimana dapat di harapkan dari seorang debitur yang baik dan juga kesalahan itu bukan risikonya. Dalam hal ini ada pengecualian, pada sewa-menyewa, jika terjadi kebakaran. Hal ini diatur dalam Pasal 1565 KUH Perdata yang menyatakan bahwa:

“Ia namun itu tidak bertanggung jawab untuk kebakaran, kecuali jika pihak yang menyewakan membuktikan bahwa kebakaran itu disebabkan kesalahan si penyewa”.

(26)

17

Menurut pasal tersebut peristiwa tersebut dianggap sebagai overmacht bagi penyewa untuk menyerahkan kembali rumah sewa itu kepada pemiliknya dalam keadaan baik. Dalam hal ini pemilik rumah itu harus membuktikan bahwa kebakaran itu disebabkan oleh kesalahan penyewa.

D. Akibat Overmacht

Ketentuan yang mengatur akibat dari adanya overmacht dapat dibaca pada Pasal 1244 dan 1245 KUH Perdata. Pasal 1244 KUH Perdata menyatakan bahwa :

“Jika ada alasan untuk itu, si berutang harus di hukum menganti biaya, rugi dan bunga apabila ia tak dapat mebuktikan, bahwa hal tidak atau tidak pada waktu yang tepat dilaksanakan perikatan itu, disebabkan suatu hal yang tak terduga, pun tak dapat dipertanggungjawabkan padanya, kesemuanya itupun jika di iktikad buruk tidak ada pada pihaknya”.

Pasal 1245 KUH Perdata menyebutkan:

“Tidaklah biaya, rugi dan bunga, harus digantinya apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian yang tak disengaja si berutang berhalangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang”. Kedua isi pasal di atas saling berkaitan, bahwa debitur tidak diwajibkan membayar ganti rugi.

Dalam hal itu hak kreditur atas pemenuhan di perikatan iyu juga gugur, sekalipun tidak secara khusus di tetapkan dalam undang-undang.

(27)

18

1. Risiko

A. Pengertian

Kata “risiko” dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1999: 844) berarti akibat kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan, Dalam hukum perikatan, risiko mempunyai pengertian yang khusus.

Risiko adalah suatu ajaran tentang siapakah yang harus menanggung ganti rugi apabila debitur tidak memenuhi prestasi dalam keadaan memaksa (Badrulzaman,2001: 30).

Sedangkan Subekti (1984: 24), mengatakan risiko adalah suatu kewajiban memikul kerugian yang disebakan oleh suatu kejadian (peristiwa) di luar kesalahan salah satu pihak.

Pihak yang menderita karena barang yang menjadi objek perjanjian ditimpa oleh kejadian yang tidak disengaja dan diwajibkan memikul kerugian itu tanpa adanya keharusan bagi pihaklawanya mengganti kerugian itu dinamakan pihak yang memikul risiko atas barang tersebut (Subekti, 1994: 24).

Dengan demikian persoalan risiko berpangkal pada terjadinya suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak, yang dikenal dengan sebutan “keadaan memaksa” (overmacht atau fource majeure). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur persoalan risiko menybar dalam berbagai ketentuanya.

(28)

19

A. Risiko Dalam Perjanjian Sepihak

Perjanjian sepihak artinya suatu perjanjian yang prestasinya hanya ada pada salah satu pihak saja. Bagaimanakah ketentuan risiko dalam perjanjian sepihak?

Pasal 1237 KUH Perdata mengatakan bahwa:

“Dalam hal adanya perikatan untuk memberikan suatu kebendaan tertentu, kebendaan itu semenjak perikatan dilakukan adalah tanggungan si berpiutang, jika lalai akan menyerahkanya maka semenjak kelalaian kebendaan adalah atas tanggunganya”.

Ketentuan pasal tersebut menetapkan risiko (ganti rugi) kepada pihak yang menyerahkan kebendaan (kreditur atau debitur)

Pasal 1444 KUH Perdata menyebutkan bahwa apabila barang dapat diperdagangkan atau hilang, sedemikian hingga sama sekali tidak diketahui, apakah barang itu masih ada, hapuslah perikatanya asal barang itu musnah atau hilang di luar salahnya si berutang dan sebelum ia lalai menyerahkanya.

B. Risiko Dalam Perjanjian Timbal Balik

Dalam KUH Perdata tidak ada aturan tentang risiko dalam perjanjian timbale balik, menurut Badrulzaman (2001: 30), para ahli mencari solusi penyelesaian melalui asas “kepatutan”. Menurut asas kepatutan dalam perjanjian timbale balik, risiko ditanggung oleh pihak yang tidak melakukan prestasi.

(29)

20

Hal tersebut dapat ditemukan dalam ketentuan pasal 1545 KUH Perdata berikut:

“Jika suatu barang yang telah dijanjikan untuk di tukar musnah di luar salah pemiliknya, maka suatu persetujuan dianggap gugur, dan siapa yang dari pihaknya telah memenuhi persetujuan, dapat menuntut kembali barang yang ia telah berikan dalam tukar-menukar”.

Kedua ketentuan tersebut menunjukan bahwa di dalam perjanjian timbale balik dia terjadi overmacht atau force majeure yang mengakibatkan pihak tidak memenuhi prestasi, maka risiko menjadi menjadi tanggungan dari pemilik barang.

2. Somasi

Syarat utamanya adanya wanprestasi adalah adanya somasi. Mengenai pemahaman tentang somasi ada perbedaan antar ajaran yang lama dengan ajaran yang di anut sekarang. Ajaran somasi yang lama membutuhkan pernyataan formal dari kreditur bahwa debitur telah lalai memenuhi kewajibanya sedangkan ajaran somasi yang di sebut belakangan itu menganggap somasi sebagai pemberitauan dari kreditur kepada debitur bahwa kreditur mengiginkan pemenuhan perikatan selambat-lambatnya pada waktu yang di berikan pada pemberitahuan itu. Ajaran somasi dapat di bedakan menjadi dua yaitu:

(30)

21

a. Pendapat yang lama : Somasi baru dapat dilakukan apabila perikatan telah dapat dipenuhi sedangkan pendapat yang sekarang kreditur sebelumnya telah dapat meberikan somasi yang menyatakan agar debitur memenuhi perikatan tepat waktunya dan jika tidak maka debitur telah melakukan wanprestasi.

b. Pendapat yang baru : Tiap somasi harus memuat tenggang waktu yang wajar. Kreditur memberikan kesempatan kepada debitur untuk memenuhi perikatan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata, cara memberikan somasi itu adalah dengan surat perintah atau dengan akta sejenis itu surat pemberitauhanya dilakukan oleh juru sita.

Menurut Subekti (2010: 147), peringatan Pasal KUH Perdata adalah peringatan tertulis, Penyampaian somasi melalui juru sita pengadilan di pandang lebih aman karena adanya berita acara penyampaian. Somasi perlu dibedakan wanprestasi antara tidak memenuhi, atau memenuhi tetapi tidak tepat pada waktunya, dan memnuhi tapi tidak sempurna.

a. Dilihat dari ajaran somasi sekarang, perlu somasi dan hanya berguna dalam hal terlambatnya suatu prestasi, dengan demikian masih member kepada debitur untuk melaksanakan prestasinya.

(31)

22

b. Tidak perlu somasi dalam hal prestasi tidak diberi oleh debitur, hal ini terjadi jika:

1. Prestasi tak mungkin karna barang telah musnah

2. Prestasi hanya penting bagi kreditur jika dilakukan pada waktu tertentu.

c. Dalam hal debitur tidak sempurna memenuhi prestasinya, maka kreditur akan mengalami dua ancaman kerugian sebagai berikut:

1. Kerugian karna prestasi tidak sempurna.

2. Kerugian karna prestasi yang sempurna tidak diberikan.

Pada dasarnya Somasi di perlukan untuk pemenuhan prestasi pada waktunya. Dengan perkataan lain, Somasi dilakukan untuk mengkonstatir tentang adanya wanprestasi, dan karena itu tidak diperlukan untuk prestasi yang sempurna.

Namun demikian, ada juga hal-hal yang menyatakan bahwa wanprestasi tidak diperlukan somasi terlebi dahulu, bila:

a. Dalam perikatan debitur telah lalai, karena lewatnya waktu (Pasal 1238 KUH Perdata), debitur telah menolak secara tegas untuk memberika prestasi karena ia tidak mengakui adanya perikatan itu.

b. Debitur telah mengakui kelalainyanya.

(32)

23

c. Adanya pengecualian dari undang-undang (Pasal 1155 dan 1626 KUH Perdata).

Terhadap wanprestasi yang menyangkut lewatnya waktu penyebutan terjnmi dalam kontrak mempunyai tiga pengertian berikut.

a. Bahwa dengan berlakunya waktu, piutang dapat ditagih dan untuk lahirnya wanprestasi harus dengan somasi.

b. Bahwa berlakunya waktu debitur telah lalai tanpa adanya somasi.

c. Bahwa dengan berlakunya waktu, debitur tak hanya dengan sendirinya lalai tetapi juga tidak dapat diberikan prestasi.

a. Pengertian Perjanjian

Menurut KUH Perdata Perjanjian menurut Pasal 1313 KUH Perdata “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.

Menurut Rutten Perjanjian adalah hukum yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dari peraturan hukum yang ada, tergantung dari persesuaian pernyataan kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah satu pihak atas beban pihak lain atau demi kepentingan atas beabn masing-masing pihak secara timbale.

Menurut Abdul Kadir Muhammad, Perjanjian adalah suatu persetujuan dimana dua orang atau lebih saling mengikat diri untuk melaksanakan suatu hal

(33)

24

dalam lapangan harta kekayaan. Sedangkan menurut Setiawan Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya kepada satu orang atau lebih.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua belah pihak berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak lain. Pihak yang berhak menuntut disebut kreditur (si berpiutang), sedangkan pihak yang berkewajiban memenuhi tuntutan itu disebut debitur (si berutang).

Sehubungan dengan uraian diatas, Pasal 1233 KUH Perdata mengatur bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan atau perjanjian, baik karena undang-undang. Itulah sebabnya ada perikatan ada perikatan yang lahir dari persetujuan atau perjanjian dan ada perikatan yang lahir dari undang-undang. Begitu juga akibatnya, lahirnya seseorang atau pihak sebagai kreditur, dan atau sebagai debitur, bisa karena mereka melakukan atau mengadakan perjanjian untuk melakukan hak atau kewajiban itu dan bisa juga hak dan kewajiban itu dilahirkan atas dasar ketentuan undang-undang dari perbuatan atau peristiwa yang mereka lakukan.

Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lainya atau lebih itu saling berjanji untuk melaksanakn suatu hal. Apabila dibandingkan perikatan dengan perjanjian maka selain perjanjian merupakan sumber perikatan selain undang-undang, perikatan juga merupakan pengertian yang masih

(34)

25

abstrak karena pihak-pihak dikatakan melaksanakan sesuatu hal, sedangkan perjanjian sudah merupakan suatu pengertian yang konkret, karena pihak-pihak dikatakan melaksanakan suatu peristiwa tertentu.

Mengenai bentuk suatu perjanjian tidak ada ketentuanya yang mengikat, karena perjanjian dapat dibuat secara lisan mauoun tertulis. Dalam hal di buat secara tertulis, perjanjian mempunyai makna sebagai alat bukti bila pihak-pihak dalam perjanjian itu mengalami perselisihan. Untuk perjanjian tertentu, undang-undang menentukan bentuk tersendiri sehingga bila bentuk itu diingkari maka perjanjian tersebut tidak sah.

b. Unsur-Unsur Perjanjian

Suatu perjanjian lahir jika disepakati tentang hal yang pokok atau unsure esensial dalam suatu perjanjian. Penenkanan tentang unsure yang esensial tersebut karena selain unsure yang esensial masih dikenal unsure laim dalam suatu perjanjian.

Dalam suatu perjanjian dikenal dengan 3 unsur, yaitu : (Ahmad Miru: hlm 31-32)

a. Unsur Esensialia, yaitu unsure yang harus ada dalam suatu kontrak karena tanpa adanya kesepakatan tentang unsure esensialia ini maka tidak ada kontrak

(35)

26

b. Unsur Naturalia, yaitu unsure yang telah di atur dalam undang-undang sehingga apabila tidak diatur oleh para pihak dalam perjanjian, undang-undang mangaturnya. Unsur tersebut selalu dianggap ada dalam kontrak.

c.

Unsur Aksidentalia, yaitu unsure yang nanti ada atau mengikat C. Asas-asas Perjanjian

Di dalam hukum perjanjian dikenal banyak asas antara lain: (Ahmad Miru,2007: hlm 3-5)

a. Asas konsesualisme

Asas konsesualisme diartikan bahwa lahirnya perjanjian ialah pada saat terjadinya kesepakatan. Dengan demikian, apabila tercapai kesepakatan antara para pihak, lahirlah perjanjian walaupun perjanjian itu belum dilaksanakan pada saat itu juga. Hal ini berarti berrati dengan tercapainya kesepakatan oleh para pihak melahirkan hak dan kewajiban bagi mereka atau biasa juga disebut bahwa perjanjian tersebut sudah bersifat obligatoir, yakni melahirkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi perjanjian tersebut.

b. Asas Kebebasab Berkontrak

Kebebasan berkontrak memberikan jaminan kebebasan kepada seseorang untuk secara bebas dalam beberapa hal yang bekaitan dengan perjanjian diantaranya:

(36)

27

1. Bebas menentukan apakah ia akan melakukan perjanjian atau tidak.

2. Bebas menentukan dengan siapa ia akan melakukan perjanjian 3. Bebas menentukan isi klausul perjanjian

4. Bebas menentukan bentuk perjanjian

5. Kebebasan-kebebasan lainya yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

c. Asas Mengikatnya Suatu kontrak

Setiap orang yang membuat perjanjian, dia terikat untuk memenuhi perjanjian tersebut karena perjanjian tersebut mengandung janji-janji yang harus dipenuhi dan janji tersebut mengikat para pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang menentukan bahwa semua perjanjian yang di buat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

d. Asas Itikad baik

Ketentuan tentang asas itikad baik diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.

a. Lahirnya Perjanjian

Menurut asas konsesualisme, suatu perjanjian lahir pada tercapainya kesepakatan atau persetujuan antara kedua belah pihak mengenai hal-hal yang

(37)

28

pokok dari apa yang menjadi objek perjanjian. Sepakat adalah kesesuaian kehendak antara dua pihak tersebut. Apa yang dikehendaki oleh para pihak yang satu, adalah juga yang dikehendaki oleh pihak lain, meskipun tidak sejurusan tetapi secara timbale balik. Kedua kehendak itu bertemu satu sama lain.

(Subekti: hlm 26) b. Syarat Sah Perjanjian

Mengenai syarat sahnya perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Untuk sahnya persetujuan-persetujuan diperlukan empat syarat sepakat mereka mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal.

Syarat pertama dan kedua yang disebutkan diatas dinamakan syarat subjektif, karena menyangkut soal orang orang yang melakukan perjanjian, sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut syarat objektif karena menyangkut dari peristiwa yang dijanjikan itu. (Ketut Setiawan: 61)

1. Kesepakatan

Menurut Subekti (1983: 135), kedua belah pihak dalam suatu perjanjian mempunyai kemauan yang bebas untuk mengikatkan diri dan kemauan itu harus dinyatakan, dan pernyataan tersebut harus dikatakan secara tegas bukan secara diam-diam.

(38)

29

2. Kecakapan

Orang-orang atau pihak-pihak dalam membuat suatu perjanjian haruslah cakap menurut hukum, hal ini di tegaskan dalam Pasal 1329 KUHPerdata

“Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika oleh undang-undang tidak dinyatakan cakap”.

3. Hal Tertentu

Suatu perjanjian haruslah memiliki objek tertentu yang sekurang- kurangnya dapat ditentukan. Objek perjanjian itu diatur dalam Pasal 1333 KUHPerdata menyatakan “suatu persetujuan harus mempunyai pokok suatu barang palling sedikit ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah iyu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”.

4. Sebab Causa yang Halal

Syarat keempat dari suatu perjanjian yang disebutkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata, Menurut Badrulzaman (1996: 100), dalam hal ini bukan hubungan sebab akibat, sehingga pengertian causa di sini tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan ajaran causaliteit, adakan perjanjian. Krena apa yang menjadi motif dari seseorang untuk mengadakan perjanjian itu tidak menjadi perhatian.

(39)

30

c.

Kebatalan dan Pembatalan

Perjanjian yang diikat oleh pihak-pihak yang tidak cakap dinyatakan batal, hal ini diatur dalam Pasal 1446 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Semua perikatan yang dibuat oelh orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan adalah batal demi hukum, dan atas penuntutan yang dimajukan oleh atau dari pihak mereka, harus diinyatakan batal, semata-mata atas dasar sebelum dewasa atau karena pengampuanya”.

Disebutkan semua perikatan, kecuali yang diatur dalam pasal 1446 ayat (1) KUHPerdata, yaitu dibuat oleh orang-orang yang belum dewasa atau yang di taruh di bawah pengampuan adalah batal demi hukum, semata-mata karena belum dewasa atau pengampuannya. Kata“batal demi hukum” tersebut maksudnya “dapat dibatalkan” karena batal demi hukum hanya perikatan cacat pada syarat objektif saja (Mariam Darus Badrulzaman, :hlm 192).

Apabila suatu perikatan cacat syarat subjektif, misalnya salah satu pihak belum dewasa atau kalaupun, dana kekhilafan maka perikatan itu dapat dibatalkan (Pasal 1446 jo. Pasal 1449 KUHPerdata).

Dalam keadaan seperti itu yang disebutkan diatas maka akibat-akibat yang timbul dalam dari perikatan itu dikembalikan ke keadaan semula (Pasal 1451 jo.1449 KUHPerdata). Bagi pihak yang menuntut penggantian biaya, kerugian,dan bunga apabila ada alasan untuk itu (Ketut Oki Setiawan, Hlm: 155).

(40)

31

Kapankah tuntutan pembatalan itu harus diajukan? Undang-Undang menentukan jangka waktu tuntutan pembatalan harus diajukan 5 tahun yang mulai berlaku (Ketut Oki Setiawan, Hlm: 155):

1. Dalam hal belum dewasa, sejak hari kedewasaan

2. Dalam halnya pengampuan, sejak hari pencabutan pengampuan 3. Dalam halnya paksaan, sejak hari paksaan itu telah berhenti

4. Dalam halnya kekhilafan atau penipuan, sejak hari diketahuinya kekhilafan atau penipuan itu

5. Dalam hal kebatalan yang tersebut dalam Pasal 1341 KUHPerdata, sejak hari diketahuinya bahwa kesadaran yang diperlukan untuk pembatalan itu.

Mengenai suatu syarat batal yang menghapuskan perikatan seperti yang disebutkan dalam Pasal 1381 KUHPerdata di atur dalam Pasal 1265 dan 1266 KUH Perdata. Pasal 165 KUH Perdata menyebutkan bahwa “syarat batal adalah syarat yang apabila dipenuhi, menghentikan perikatan, dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan”. Syarat ini tidak menangguhkan pemenuhan perikatan, hanyalah mewajibkan siberpiutang mengembalikan apa yang telah diterimanya apabila peristiwa yang dimaksud terjadi (Ketut Oki Setiawan. Hlm: 156).

(41)

32

Sedangkan Pasal 1266 KUH Perdata menyatakan bahwa “syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibanya”.

Menurut Mariam Badrulzaman (1996: 54), ketentuan Pasal 1265 dan 1266 KUH Perdata banyak mengandung kelemahan karena satu dengan yang lain mempunyai sifat yang bertentangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1265 KUH Perdata bahwa apa bila surat batal maka segala sesuatu kembali ke keadaan semula, ketentuan ini mengandung kelemahan karena bisa terjadi ketidakadilan yaitu pihak yang lalai, dibebani pula dengan suatu kewajiban menerimanya kembali segala apa yang mungkin diserahkanya.

a. Sejarah berdirinya Travel PT Abu tours

Abu tours merupakan salah satu unit bisnis yang di bawah naungan Abu corp yang berdiri sejak tahun 2011 di bawah kepimimpinan Hamzah Mamba. Sebuah perusahaan jasa yang bergerak dibidang travel Haji dan umrah yang berkantor pusat di Makassar dan memiliki beberapa kantor cabang di kota besar. Beberapa tahun belakangan ini abu tours telah menjadi perusahaan travel haji dan umrah yang banyak di minati oleh masyarakat karna biaya yang ia tawarkan tergolong murah, calon jama’ah umrah abu tours dapat memperoleh informasi tentang penyelangaraan program-program paket pilihan yang di tawarkan melalui agen-agen abu tours.

(42)

33

Proses administrasi adalah proses awal Abu tours untuk merekrut calon jam’ah umrah, melalui dengan cara perantara agen, atau dengan cara lain yaitu jamaah mendaftar langsung di kantor-kantor cabang abu tours yang tersebar bagi agen yang berhasil mendapatkan jamaah untuk bisa umrah maka mendapatkan bonus dari abu tours, setiap agen abu tours mematok harga kurang lebih Rp 12,5 juta perorangan.

Calon jama’ah umrah dapat memperoleh informasi tentang penyelangaraan program- program paket pilihan melalui agen-agen abu tours.

(43)

34

BAB 3

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Bentuk Pertanggung jawaban PT ABU TOURS terhadap Jama’ah yang Gagal Berangkat Umrah

Penyelenggaraan Umrah yang dilaksakan oleh salah satu badan usaha yaitu PT ABU TOURS sudah syogyanya dilandasi sebuah Perjanjian yang mengikat anatra pihak ABU TOURS dan calon jama’ah yang mendaftarkan dirinya untuk mengikuti program Umrah sebagaimana yang telah disediakan penyelenggaraannya oleh ABU TOURS sebagai salah satu badan usaha yang berkecimpung dalam aktivitas bisnis pelayanan jasa pemberangkatan Haji dan Umrah. Dalam bentuknya perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung kesepakatan anatara pihak yang mengikatkan diri di dalam perjanjian yang dimaksud dan tentunya memiliki suatu batasan tertentu yang mengatur lebih khusus, kemudian dari ketentuan yang telah disepakati dan termaktub dalam perjanjian itu memilki konsekuensi tersendiri yang mana juga lahir dari kesepakatan antar pihak, jika mana ada suatu prestasi atau kerugian yang ditimbulkan (wanprestasi). Sehingga dengan demikian hubungan antar perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan.

Perjanjian adalah sumber perikatan disampingnya sumber-sumber lain. (Subekti, Hukum Perjanjian, 2002 : 1). Hubungan antara biro penyelenggan Ibadah Umrah

(44)

35

(ABU TOURS) dengan calon jama’ah didahului dengan perjanjian diantara para pihak yang didalamnya memuat syarat-syarat, hak, dan kewajiban para pihak.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan khususnya dalam bidang Ibadah Haji dan umrah baik PT. ABU TOURS, perwakilan Makassar telah mempunyai izin resmi dari pemerintah, dengan adanya izin resmi dari Menteri Agama RI menjadikan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus lebih mendapatkan keistimewaan serta kepercayaan dihati masyarakat, oleh karena itu untuk mempertanggung jawabkan izin dari Menteri Agama tersebut pihak Penyelenggara Ibadah Umrah terus melakukan peningkatan pelayanan khususnya dalam menyelenggarakan ibadah Haji Plus sesuai dengan Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggara Haji Nomor D/348 Tahun 2003 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah Pasal 61 Ayat (1) Huruf a sampai dengan d tentang Hak Biro Haji

Untuk menerima hak tersebut maka kewajiban yang harus diemban Biro Haji dan Umrah tersebut terhadap calon jamaah harus sesuai dengan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 396 Tahun 2003 tentang penyelenggaraan ibadah Haji dan Umrah Pasal 34 Ayat (4) Huruf a sampai c dan Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggara Haji Nomor D/348 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Pasal 61 Ayat (2 ) Huruf a sampai dengan Huruf t dan segala aturan yang masih berlaku

(45)

36

tentang hak dan kewajiban Biro Haji terhadap Jamaah Umrah dalam hal ini lebih khusus.

Dalam hasil wawancara dengan Kanit 1 Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Sulsel Bapak Kompol Ahmad Mariadi,(6 Agustus 2018) mengatakan bahwa Bila dihubungkan dengan perjanjian antara pihak penyelenggara dengan pihak jamaah, maka pihak ABU TOURS berkewajiban untuk memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin serta menyanggupi segala perjanjian yang telah disepakati, atas kewajiban tersebut maka pihak ABU TOURS berhak atas biaya Pendaftaran Umrah dan melaksanakan kewajiban melaksanakan apa yang telah disepakati yang mana dalam hal ini adalah menanggung seluruh bentuk kesepakatan yang berhubungan dengan pemberangkatan Jamaah Umrah dari awal sampai akhir berdasarkan apa yang kemudian dicantumkan dalam kesepakan yang dimaksud.

Namun dalam kasus pada penelitian ini ditemukan bahwa penyelenggara dalam hal ini adalah PT ABU TOURS tidak melaksakan prestasi sebagaimana yang telah diperjanjikan di dalam formulir. Artinya setalah menerima hak, PT ABU TOURS tidak melaksakan kewajibannya yaitu memberangkatkan calon Jamaa’ah ke tanah suci. Dan pada kenyataan yang ada, pertanggungjawaban yang saat ini dilakukan oleh PT ABU TOURS adalah :

1. Fokus memberangkatkan Jamaah yang tertunda pemberangkatannya.

2. Mengganti Uang Jamaah Umroh

(46)

37

Menurut Informasi yang di dapatkan melaui hasil wawancara bersama Kanit 1 Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Makassar Bapak Ahmad Mariadi, bahwa untuk kasus ABU TOUR ini sudah lama ditangani dan masih dalam tahap proses pemeriksaan. (Polda sulses 6 Agustus 2018)

1. Fokus memberangkatkan Jamaah yang tertunda pemberangkatannya.

Kanit 1 Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Sulsel Bapak Kompol Ahmad Mariadi , mengungkapkan bahwa, terhitung sejak permasalahn pembatalan keberangkatan jamaah umroh dari bulan januari 2018, ABU TOUR masih tetap focus untuk kemudian membrangkatkan jamah tersebut dengan mengeluarkan maklumat yang tela di publikasi keseluruh jamaah. Serta tidak adanya penambahan quota jamaah yang dilakukan oleh PT ABU TOURS itu sendiri.

Permsalahn ini sebenarnya diluar dari perhitungan PT ABU TOURS yang memberikan salah satu teknik pemasaran bisnisnya melalui promo yang mana hitungan dari keuntungan yang diharapkan meleset jauh dari perkiraan serta kondisi pengeluran Visa dari Negara Saudi Arabia yang bermasalah. (6 Agustus 2018)

Bapak Kompol Ahamd Mariadi juga menjelaskan bahwa Hal itulah yang mengakibatkan jalannya system dari pemberangkat ikut terganggu, hingga masalah dana yang jauh meleset dari perhitungan sebelumnya untuk saling menutupi kini mengharuskan jamaah yang tadinya sudah harus berangkat malah

(47)

38

tertunda hingga batal. Kegelisahan jamaah yang terus mencuat dipublik mengharuskan PT ABU TOURS bertanggung jawab secara professional, bahkan kata CEO PT ABU TOURS yaiut Abu Hamzah atau akrabnya dikenal dengan Hamzah Mamba, bahwa apapun akan ia tempuh demi menyelesaikan permasalah ini. Jika perlu nyawanya yang ia pertaruhkan.

2. Ganti Rugi

Bahwa sebagaimana telah dibahas sebelumnya, keterkaitan atau permasalah yang timbul antara PT ABU TOURS dan jamaah adalah suatu perikatan atau perjanjian yang telah dibuat dan dirangkai dalam bentuk suatu usaha jasa pelayanan Umroh. Bahwa sebagaimana yang telah diamanatkan dalam ketentuan KUHAPerdata Indonesia, setiap perjanjian adalah UU bagi mereka yang mengikatkan diri di dalamnya, dan perjanjian yang di buat tidak bias bertentangan denga ketentuan perundang-undangan. Bahwa dari permsalahan ini, bentuk perbuatan yang dilakukan oleh PT ABU TOURS adalah wanprestasi dan telah di ajukan gugatan perdata untuk menggati uang jamaah yang gagal diberangkat kan oleh PT ABU TOURS dan sidang putusanya akan dilanjutkan pada tanggal 18 September 2018. Namun permasalahan yang selanjutnya muncul adalah, dana yang tersedia untuk mengganti dana yang gagal berangkat jamaah secara keseluruhan tidak mencukupi, sehingga PT ABU TOURS mengambil langkah untuk mengajukan PKPU demi mencari solusi terbaik sementara dengan batas jangka waktu yang diberikan 60 hari untuk menyelsesaikan masalah penggantian

(48)

39

dana tersebut. Polemik kasus Abu Tour mencuat ke publik setelah adanya laporan dari berbagai calon jamaah tentang adanya ketidakpastian jadwal keberangkatan dan penundaan jadwal keberangkatan yang sebelumnya telah disepakati antara jamaah dan pihak Abu Tour selaku penyedia jasa Perjalanan Umroh. Adapun kasus ini sudah meningkat statusnya ke tingkat penyidikan dan polisi telah menetapkan CEO dan sekaligus Direktur Utama Abu Tours, Hamzah Mamba, sebagai tersangka. Hamzah telah ditahan oleh Polda Sulsel dengan status sebagai tersangka. Ia dijerat dengan pasal 45 ayat 1 junto pasal 64 ayat 2 undang- undang penyelenggaraan Haji subsider pasal 372 dan 378 junto pasal 64 ayat 1 KUHP dan pasal 345 tindak pidana pencucian uang ancaman pidana penjara 20 tahun dan atau denda Paling banyak Rp 10 miliar.

Bapak Kompol Ahmad Mariadi (6 Agustus 2018) juga mengatakan bahwa Izin operasional Abu Tours dicabut oleh Kementerian Agama menyusul gagalnya keberangkatan 86.720 orang calon jemaah umroh yang telah menyetor uang berkisar Rp 14 hingga Rp 16 juta. Keseluruhan jumlah korban atau jamaah yang gagal berangkat menyebar di berbagai daerah dengan kerugian yang wajib dibayar kepada calon jamaan berkisar Rp 1,8 triliun.

Terkait dengan kegagalan pihak Abu Tour dalam memberangkatkan jamaah, yang selanjutnya disusul dengan adanya pernyataan dari pihak Abu Tour mengenai ketidak sanggupan pihak Abu Tour untuk memberangkat sisa Jemaah Umroh yang sebelumnya telah melakukan pelunasan pembayaran, maka

(49)

40

konsekuensinya adalah pihak Abu Tour wajib meberikan kepastian mengenai nasib para calon jamaah umroh yang gagal berangkat menunaikan ibadah Umroh.

Sebagai bentuk kewajiban dan tanggun jawab pihak Abu Tour selaku penyelenggara Umroh, pihak Abu Tour dituntut untuk sesegera mungkin melakukan pemenuhan prestasi terhadap konsumen dengan mengupayakan pemberangkatan terhadap calon jamaah yang telah tertunda keberangkatannya.

Pemberangkatan jamaah umroh yang tertunda tersebut dapat dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pihak travel lain dengan berbagai bentuk mekanisme kerja sama yang bersedia untuk kemudian menanggung dan memfasilitasi keberangkatan jamaah umroh yang gagal diberangkatkan oleh pihak PT Abu Tour

Apabila kemudian pihak Abu Tour dengan berbagai langkah yang dilakukan tidak dapat menyanggupi pemberangkatan calon jamaah umroh yang terdaftar, maka pihak Abu Tour wajib untuk kemudian mengembalikan seluruh dana yang sebelumnya telah disetorkan oleh para calon Jemaah umroh

Selain menjalin kerjasama dengan pihak travel lain dalam hal mengupayakan pemberangkatan calon jamaah umroh, upaya lain yang dapat dilakukan oleh pihak Abu Tour adalah dengan mengajukan permohonan bantuan kredit atau pengajuan pinjaman dana baik kepada bank maupun pihak lain untuk membiayai pemberangkatan calon jamaah umroh yang tertunda pemberangkatannya

Apabila kemudian pihak Abu Tour dengan penuh ittikad baik tetap tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya memberangkatkan para calon Jemaah

(50)

41

umroh, maka langkah terakhir yang harus ditempuh oleh pihak abu tour adalah menngembalikan keseluruhan uang jamaah umroh yang gagal di berangkatkan oleh pihak Abu Tour Pengembalian uang jamah Umroh oleh pihak Abu tour dapat dilakukan dengan mekanisme penjualan asset-aset milik PT Abu Tour maupun asset milik CEO dari Abu Tour itu sendiri.

Dalam kasus ini, pihak Abu Tour memiliki tanggung jawab penuh dalam memenuhi prestasinya untuk memberangkatkan calon Jemaah Umroh yang sebelumnya telah terdaftar, sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh Abu tours.

Satu-satunya pilihan bagi pihak Abu Tour apabila kemudian tetap gagal dalam pemenuhan prestasinya adalah melakukan pengembalian terhadap biaya umroh yang sebelumnya telah disetorkan kepada pihak Abu Tours.

3.2 Bentuk Upaya Hukum yang Dapat Dilakukan oleh Jamaah yang batal berangkat

Adanya suatu perjanjian menimbulkan adanya perikatan bagi keduanya untuk melaksanakan hak serta kewajiban bagi masing-masing pihak, dimana salah satu pihak berkewajiban untuk melaksanakan suatu prestasi dan pihak lain berhak atas prestasi tersebut. Bahwa dari beberapa ketentuan Hukum Positif di Indonesia, Menurut pasal 1234KUHPerdata ada tiga macam prestasi yaitu memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Apabila salah satu pihak lalai serta tidak menjalankan kewajiban sebagaimana sudah diatur dalam ketentuan maka salah satu pihak tesebut dapat dikatakan melakukan wanprestasi. Wanprestasi adalah suatu

(51)

42

keadaan dimana debitur disebabkan karena kealalaian atau kesalahannya tidak memenuhi prestasi sesuai yang ditetapkan dalam perikatan. Apabila si berutang (debitur) tidak melakukan apa yang dijanjikannya maka dikatakan ia melakukan wanprestasi. Ia alpa atau lalai dari perjanjian atau juga ia melanggar perjanjian, bila ia melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak boleh dilakukannya. Bentuk pertanggungjawaban yang didapatkan peneliti setelah melakukan wawancara di lapangan yaitu selain mengajukan gugatan terhadap kelalaian Biro perjalanan Haji dan Umroh dari PT ABU TOURS, juga diberikan wadah kepada calon Jama’ah sebagai korban untuk mengajukan gugatan atas wanprestasi. Dan gugatan lainnya yang berkenaan dengan kasus tersebut yang melanggar aturan UU atau peraturan perundang-undangan lainnya.

Terhitung sejak tahun 2018, jumlah jama’ah yang berhasil di kumpulkan oleh ABU TOURS dari bulan Januari hingga Mei adalah 82.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan khusus untuk Kota Makassar sebanyak 4.173 orang. Menurut Kanit 1 Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Sulses Kompol Ahmad Mariadi pada kesempatan wawancara mengemukakan, saat ini masalah pembatalan keberangkatan sudah 80 orang jama’ah yang melapor. (Hasil wawancara di Polda Sulsel pada 6 Agustus 2018)

Sebagai penyelenggara ibadah Haji dan Umroh yang telah berbadan hukum dan diakui keberadannya oleh Pemerintah, maka Abu Tours dalam melaksanakan kegiatan usahanya, dalam hal ini bertindak sebagai Biro pelayanan pemberangkatan

(52)

43

Jamaah haji dan umroh wajib untuk tunduk dan patuh terhadap segala bentuk ketentuan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan penyelenggaraan ibadah Haji dan Umroh di Indonesia. Peraturan terkait dengan izin usaha, legalitas usaha serta segala syarat terkait dengan mekanisme pemberangkatan calon Jemaah Umroh maupun calon Jemaah haji.

Peraturan mengenai mekanisme Penyelenggaraan ibadah haji dan ibadah umroh diatur didalam ketentuan undang-undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (“UU 13/2008”) sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 (“Perpu 2/2009”) yang kemudian ditetapkan lebih lanjut menjadi undang-undang oleh Undang-Undang nomor 34 tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Menjadi Undang-Undang (“UU 34/2009”).

Adapun ketentuan yang wajib dipenuhi oleh penyelenggara perjalanan ibadah umrah dalam hal ini Abu Tours diatur dalam ketentuan Pasal 45 ayat (1) UU 13/2008, sebagai penyelenggara ibadah Umroh, Abu Tours memiliki kewajiban sebagai berikut:

a. menyediakan pembimbing ibadah dan petugas kesehatan

(53)

44

b. memberangkatkan dan memulangkan jemaah sesuai dengan masa berlaku visa umrah di Arab Saudi dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. memberikan pelayanan kepada jemaah sesuai dengan perjanjian tertulis yang disepakati antara penyelenggara dan jemaah

d. melapor kepada Perwakilan Republik Indonesia di Arab Saudi pada saat datang di Arab Saudi dan pada saat akan kembali ke Indonesia

Poin b dalam ketentuan tersebut di atas telah mengatur secara jelas dan tegas bahwa setiap penyelenggara ibadah haji maupun ibadah umroh memiliki kewajiban untuk memberangkatkan serta memulangkan jamaah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal ini kemudian tidak hanya mencakup proses pemberangkatan maupun proses pemulangan dari Jemaah Umroh semata, melainkan juga segala bentuk syarat administratif terkait dengan syarat-syarat mengenai kesiapan serta kelayakan dari calon jamaah umroh yang nantinya akan diberangkatkan oleh penyelanggara ibadah umroh yang bersangkutan

Selanjutnya, Poin c dalam ketentuan tersebut memberikan kewajiban bagi penyelanggara ibadah Umroh memberikan pelayanan kepada jemaah sesuai dengan perjanjian tertulis yang disepakati antara penyelenggara dan calon Jemaah umroh yang bersangkutan. Kewajiban ini mencakup hal-hal yang menjadi hak-hak dari calon Jemaah umroh yang telah disepakati dalam perjanjian tertulis antara calon Jemaah umroh dan pihak penyelenggara dam hal ini PT Abu Tours, terlepas dari apakah poin-

(54)

45

poin kesepakatan tersebut telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang terkait.

Tidak terkecuali dengan Abu Tours, ketentuan pasal Pasal 45 ayat (1) UU 13/2008 juga mengikat PT Abu Tours selaku penyelenggara ibadah Umroh untuk memberangkatkan serta memulangkan para calon Jemaah haji yang telah menyelesaikan segala bentuk kewajiban Administrasi, Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan Polda Sulsel pada 6 Agustus 2018, penulis menemukan fakta bahwa Terhitung sejak tahun 2018, jumlah jama’ah yang berhasil di kumpulkan oleh ABU TOURS dari bulan Januari hingga Mei adalah 82.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan khusus untuk Kota Makassar sebanyak 4.173 orang. Menurut Kanit 1 Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Sulsel Bapak Kompol Ahmad Mariadi pada kesempatan wawancara mengemukakan, saat ini masalah pembatalan keberangkatan sudah 80 orang jama’ah yang melapor.

Untuk skala nasional, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Ombudsman dari total Jemaah Abu Tours secara keseluruhan sebanyak 82.000 orang, Abu Tours gagal memberangkatkan calon Jemaah Umroh sebanyak 27.000 jamaah.

Mengacu pada ketentuan Pasal 45 ayat (1) UU 13 tahun 2008 Abu Tours wajib untuk memenuhi tanggungjawabnya dalam hal memberangkatkan 82.000 orang jemaah yang telah terdaftar. Oleh karena itu Abu Tour wajib bertanggungjawab secara penuh terhadap keberangkata calon Jemaah umroh dan Tidak ada alasan bagi

(55)

46

pihak Abu Tours untuk kemudian lalai dari tanggung jawabnya selaku penyelenggara ibadah umroh.

Selain pemberangkatan dan pemulangan jamaah umroh, Abu Tours juga berkewajiban untuk mememuhi segala bentuk kesepakatan tertulis yang telah ditandangani bersama-sama dengan calon jamaah. termasuk dalam hal ini apabila didalam perjanjian tertulis antara Abu Tour dan calon Jamaah tersebut diatur mengenai apa yang menjadi kewajiban Abu Tour apabila terjadi penundaan pemberangkatan terhadap jamaah atau pemberangkatan dari calon Jemaah yang telah terdaftar tidak sesuai dengan kesepakatan awal pemberangkatan yang sebelumnya tidak dapat ditentukan berapa lama jangka waktu penundaan keberangkatan jamaah haji yang bersangkutan.

Konsekuensi hukum apabila Abu Tour selaku penyelenggara Ibadah Umroh gagal dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk melakukan pemberangkatan sekaligus pemulangan terhadap seluruh calon Jemaah umroh adalah

1. Sebagaimana yang diatur di dalam ketentuan Pasal 45 ayat (1) UU 13 tahun 2008, maka, Abu Tour selaku pihak penyelenggara dapat dijatuhi sanksi pidana berupa pidana penjara serta pidana denda sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 64 ayat (2) UU 13 tahun 2008, dimana Abu Tour selaku pihak penyelenggara perjalanan ibadah umrah tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana pasal 45 ayat 1 dapat dipidana dengan pidana

(56)

47

penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau penjatuhan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Selain menggunakan ketentuan dalam undang-undang nomor 13 tahun 2018, terhadap Abu Tour selaku penyelenggara perjalanan ibadah umroh dapat dijatuhi sanksi pidana dengan menggunakan ketentuan pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan

Berdasarkan data yang dihimpun oleh penulis, jamaah yang gagal diberangkatkan oleh pihak Abu Tours adalah jamaah yang sebelumya telak melaksanakan kewajibannya dan membayar penuh biaya perjalanan Umroh yang kepada pihak Abu Tour. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan pasal 45 ayat 1 undang-undang nomor 8 tahun 2013, pihak Abu Tour memiliki kewajiban dan tanggung jawab penuh untuk melaksanakan proses pemberangkatan, pemulangan serta segala kewajiban yang telah disepakati antara pihak abu tours dan calon Jemaah Umroh.

Referensi

Dokumen terkait

Sarkozy berpendapat bahwa dengan berintegrasinya Perancis ke dalam struktur komando militer NATO, bukan berarti Perancis akan tunduk terhadap kendali Amerika sebagai negara

Sedangkan hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah skor atau nilai yang dicapai siswa kelas VII MTsN Naumbai Kabupaten Kampar melalui kegiatan dan pengukuran dalam

Agregat bambu memiliki berat jenis yang relatif lebih kecil daripada agregat konvensional (split), sehingga persentasi agregat bambu yang semakin besar dalam

Classification of Pulmonary Nodules in Low-Dose Chest Computed Tomography by a Computer-Aided Diagnosis System.. Improved Detection of Lung Nodules on Chest Radiographs

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat hidayah, serta inayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan Tugas Akhir dengan

Komisaris dan Calon Direksi PT. Global Dharma Asri Kabupaten Wonosobo dan berkas lamaran yang masuk menjadi milik panitia seleksi dan tidak dapat diambil atau

Dokumen ini seharusnya dibuat oleh bagian penerimaan untuk menunjukan bahwa barang yang diterima dari pemasok telah sesuai dengan surat order pembelian akan tetapi bagian penerimaan

Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Subjektif pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.. Skripsi (Tidak