• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Mahasiswa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna pelajar yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi (Suharso &

Retnoningsih, 2014). Damri, Engkizar, dan Anwar (2017) menjelaskan bahwa mahasiswa sebagai pelajar di perguruan tinggi akan selalu berhadapan dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan. Menurut Sari dan Indrawati (2016), salah satu tugas yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa untuk medapat gelar sarjana strata satu adalah menyelesaikan skripsi.

Wahyuni dan Setyowati (2020) menjelaskan, mahasiswa dituntut untuk dapat menyelesaikan skripsi dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Tuntutan ini dapat muncul dari orangtua yang ingin melihat anak-anak mereka segera mendapatkan gelar sarjana, serta tuntutan akademik yang membatasi mahasiswa dalam waktu tertentu untuk menyelesaikan skripsi dan studinya. Darmono dan Hasan (dalam Aini & Mahardayani, 2011) mengungkapkan, secara umum mahasiswa diberikan waktu satu semester untuk menyelesaikan skripsi, namun banyak mahasiswa yang membutuhkan waktu lebih dari satu semester.

Etika dan Hasibuan (2016) melakukan penelitian tentang deskripsi masalah pada mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi menemukan bahwa terdapat mahasiswa yang memerlukan lebih banyak waktu dalam mengerjakan skripsi yang disebabkan kurangnya motivasi dan perhatian terhadap skripsi sehingga mengakibatkan perilaku menunda-nunda untuk mengerjakan revisi dari dosen

(2)

pembimbing. Menurut Munawaroh, Alhadi, dan Saputra (2017), melakukan penundaan pada tugas-tugas akademik yang semestinya diselesaikan dengan tepat waktu disebut sebagai prokrastinasi akademik.

Prokrastinasi akademik menurut Green (dalam Ghufron & Risnawita, 2012) merupakan perilaku-perilaku penundaan yang telah dipilah dan dikelompokan dari perilaku penundaan lainnya ke dalam aktivitas akademik. Schouwenburg (dalam Kurniawan, 2017) menjelaskan bahwa prokrastinasi akademik merupakan suatu perilaku menunda pengerjaan tugas ataupun kegiatan belajar untuk ujian, dan digantikan dengan kegiatan lain yang tidak perlu. Solomon dan Rothblum (dalam Ghufron & Risnawita, 2012) menerangkan bahwa prokrastinasi akademik adalah perilaku penundaan tugas yang dilakukan dengan sengaja oleh pelajar di area akademik yaitu mengarang, belajar untuk ujian, membaca, kerja administratif, menghadiri pertemuan, dan tugas akademik secara keseluruhan.

Burka dan Yuen (2008) menjelaskan bahwa seorang yang melakukan prokrastinasi memiliki ciri-ciri seperti lebih suka untuk melakukan penundaan terhadap pekerjaan atau tugasnya, memiliki prinsip lebih baik mengerjakan nanti dari pada sekarang, dan penundaan pekerjaan atau tugas bukanlah suatu masalah, terus mengulang-ulang perilaku penundaan, dan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Ferrari (dalam Ghufron & Risnawita, 2012) menyatakan sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati melalui ciri-ciri tertentu, seperti penundaan dalam memulai maupun menyelesaikan tugas, kelambanan dalam menyelesaikan tugas, kesenjangan waktu antara

(3)

rencana dan kinerja aktual, serta melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Ferrari (dalam Ghufron & Risnawita, 2012) juga menerangkan bahwa prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari kondisi fisik dan kondisi psikologis.

Sedangkan faktor eksternal berasal dari pola asuh orangtua dan kondisi lingkungan.

Beberapa hasil penelitian terdahulu memperlihatkan prokrastinasi akademik terjadi dikalangan mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Zusya dan Akmal (2016) melalui penelitiannya menunjukkan bahwa dari 210 mahasiswa di Jakarta yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi, terdapat prokrastinasi akademik dalam mengerjakan skripsi dengan tingkat rendah 8,09%, sedang 57,14%, dan tinggi 34,77%. Supriyantini dan Nufus (2018) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa dari 307 mahasiswa di Universitas Sumatera Utara yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi, terdapat prokrastinasi akademik dengan kategori rendah sebesar 24%, sedang 44% dan tinggi 32%. Kemudian penelitian lain yang dilakukan oleh Nurhaliza (2019) didapatkan bahwa dari 202 mahasiswa di salah satu Universitas Swasta di Indonesia yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi memiliki prokrastinasi akademik dengan 18,5% dalam kategori sangat rendah, 23,9% rendah, 19,3% sedang, 18,9% tinggi dan 20% sangat tinggi.

Data yang didapat dari Biro Skripsi salah satu Program Studi Sekolah Tinggi Swasta di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan bahwa sebagai program studi yang baru berdiri pada 2016, masih terdapat 22% dari 77 mahasiswa angkatan 2016 yang telah memasuki semester 10 dan belum

(4)

menyelesaikan skripsinya. Selain itu, data lain yang didapat dari Biro Skripsi salah satu Program Studi di Universitas Negeri di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menerangkan bahwa saat ini masih terdapat mahasiswa yang belum menyelesaikan skripsinya selama lebih dari satu semester. Pada program studi tersebut, seharusnya para mahasiswa sudah dapat menyelesaikan skripsi di semester 8, namun sekarang yang telah memasuki semester 9 sampai dengan 13 ternyata masih terdapat 7 mahasiswa tahun masuk 2014, 4 mahasiswa tahun masuk 2015, 15 mahasiswa tahun masuk 2016, dan 32 mahasiswa tahun masuk 2017 yang belum menyelesaikan tugas akhirnya.

Beberapa hal yang menjadi menyebabkan lamanya pengerjaan skripsi seperti karena sambil bekerja, gonta-ganti judul sampai dengan rasa malas dari para mahasiswa. Salah satu hal yang disebutkan adalah para mahasiswa yang belum menyelesaikan skripsi tersebut dengan sengaja menunda bimbingan dengan dosen pembimbing. Mahasiswa sulit dihubungi pada awal hingga pertengahan di periode semester dan baru menghubungi dosen pembimbing menjelang akhir periode semester dengan alasan untuk mengejar lulus pada semester tersebut namun tidak juga mampu menyelesaikannya serta akan menunjukkan perilaku yang berulang di periode semester berikutnya.

Tanggal 16 Juli 2021, peneliti melakukan wawancara kepada 7 mahasiswa dari empat Universitas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah lebih dari satu semester dalam mengerjakan skripsi. Wawancara dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran mengenai prokrastinasi akademik pada mahasiswa dalam mengerjakan skripsi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan,

(5)

6 dari 7 orang mahasiswa yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi memaparkan sedang melakukan prokrastinasi akademik. Ciri prokrastinasi akademik yang pertama adalah penundaan dalam memulai maupun menyelesaikan tugas, di mana kesadaran untuk segera memulai dan menyelesaikan skripsinya itu diyakini sebagai sebuah keharusan namun terkadang rasa malas dan tidak tahan akan godaan dari lingkungan untuk tidak mengerjakan skripsi menjadi hal yang menjadi alasan sebagai penghambat. Ciri prokrastinasi akademik yang kedua adalah kelambanan dalam menyelesaikan tugas, di mana menyiapkan aktivitas, peralatan, tempat, dan lingkungan dengan tujuan mendapatkan mood baik justru hanya membuang waktu saja karena mood baik yang diharapkan tidak segera didapatkan dan hanya mengerjakan dengan waktu sebentar bahkan sampai akhirnya tidak mengerjakan sama sekali. Ciri prokrastinasi akademik yang ketiga adalah kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual di mana target pribadi maupun dari orangtuanya yang ditetapkan di awal untuk menyelesaikan skripsi selama satu semester tidak dapat terpenuhi. Ciri prokrastinasi akademik yang keempat adalah melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan seperti main game, mendengarkan musik, bekerja, mengikuti kegiatan organisasi, nonton film, dan melakukan hobi secara pribadi atau bersama teman daripada harus mengerjakan skripsi. Dari hasil wawancara tersebut, disimpulkan bahwa mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi sedang mengalami prokrastinasi akademik.

Prokrastinasi akademik mengakibatkan banyaknya waktu terbuang sia-sia, tugas-tugas terbengkalai dan ketika selesai hasilnya menjadi tidak ideal (Ferrari

(6)

dalam Munawaroh, Alhadi, & Saputra, 2017). Prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh mahasiswa memiliki kecenderungan berdampak pada nilai rendah termasuk dalam ujian akhir (Steel, Brothen, & Wambach, dalam Munawaroh, Alhadi, & Saputra, 2017).

Menurut Surijah dan Tjundjing (2007), prokrastinasi akademik muncul karena mahasiswa tidak melakukan perencanaan studi dengan baik, sulit mengetahui prioritas tugas yang harus dikerjakan yang kemudian mengesampingkan tugas yang penting. Lebih lanjut, Surijah dan Tjundjing (2007) menjelaskan bahwa mahasiswa yang melakukan prokrastinasi akademik rawan mendapatkan prestasi akademik yang kurang memuaskan bahkan terlambat menyelesaikan skripsi dan lulus. Aini dan Mahardayani (2011) mengungkapkan bahwa prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi merupakan kecenderungan menunda-nunda oleh mahasiswa tingkat akhir baik untuk memulai atau menyelesaikan karya ilmiah yang ditulis sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan.

Dari pemaparan diatas disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda-nunda yang dilakukan mahasiswa tingkat akhir untuk memulai atau menyelesaikan skripsi yang dengan sengaja digantikan kegiatan lain yang tidak perlu.

Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk mengatasi atau menurunkan tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Syaf (2014) melakukan penelitian mengenai pelatihan efikasi diri terhadap penurunan prokrastinasi akademik pada

(7)

mahasiswa aktivis. Hasil rata-rata gained score dari penurunan skor prokrastinasi akademik pada saat pre-test dan post-test diperoleh sebesar -5,92. Tanda min (-) menunjukkan penurunan dan 5,92 merupakan rata-rata penurunan yang terjadi dari 11 partisipan penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan efikasi diri merupakan intervensi yang memiliki pengaruh signifikan untuk menurunkan prokrastinasi akademik pada aktivis mahasiswa.

Musslifah (2018) melakukan penelitian mengenai penurunan prokrastinasi akademik melalui pelatihan keterampilan regulasi emosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan prokrastinasi akademik. Berdasarkan analisis data, didapatkan nilai Mann-Whitney U Test= -3,155 dengan taraf signifikan 0,001 (p<0,05). Nilai rata-rata pretest= 12,25 dan posttest= 4,75. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan perilaku prokrastinasi pada subjek sebelum (pretest) dan sesudah pelatihan keterampilan regulasi emosi (posttest).

Penelitian yang dilakukan oleh Putri, Widyanta, Wahyuningdias, dan Rannu (2020) mengenai efektivitas pelatihan regulasi diri terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Didapatkan hasil analisis data pre test dan post test dengan Uji Paired T-Test didapatkan hasil t hitung = 6.968 (> t tabel = 1.66298) nilai p = 0.000 (p <0.05). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan terbukti efektif, artinya dapat menurunkan prokrastinasi akademik setelah diberikan perlakuan berupa pelatihan regulasi diri.

Muliyadi, Yasdar, dan Sulaiman (2017) dalam penelitiannya mengenai teknik manajemen diri dapat mengurangi kebiasaan prokrastinasi akademik

(8)

mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang menjelaskan bahwa kebiasaan menunda-nunda mahasiswa di STKIP Muhammadiyah Enrekang muncul karena tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai mahasiswa.

Dengan kebiasaan prokrastinasi akademik yang sering dilakukan mahasiswa, mereka kurang mampu mewujudkan potensi yang dimiliki. Perilaku prokrastinasi akademik mahasiswa sebelum diberi perlakuan teknik manajemen diri berada di kategori tinggi bahkan ada yang sangat tinggi. Setelah mengikuti teknik manajemen diri untuk mengurangi prokrastinasi akademik, tingkat kebiasaan prokrastinasi akademik peserta menurun dan berada pada kategori rendah.

Selain itu, terdapat penelitian dari Palupi, Agustin, dan Satwika (2018) mengenai pelatihan manajemen diri terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa FK UNS dalam menyelesaikan skripsi. Hasil uji Wilcoxon pretest dan posttest pada kelompok eksperimen didapatkan z sebesar -2.000 dan nilai signifikansi (p) sebesar 0.046 (p<0.05) yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan skor prokrastinasi akademik sebelum diberikan pelatihan manajemen diri dengan sesudah diberikan pelatihan tersebut pada kelompok eksperimen.

Muliyadi, Yasdar, & Sulaiman (2017) menjelaskan bahwa manajemen diri merupakan salah satu bentuk latihan yang mudah sekaligus murah. Hal ini sangat efektif dan efisien apabila diterapkan di kampus untuk membantu para mahasiswa yang mengalami berbagai masalah yang diakibatkan rendahnya pengetahuan tentang diri sendiri. Manajemen diri ini sangat mendukung dalam merubah pola kebiasaan buruk mahasiswa menjadi lebih bertanggung jawab

(9)

terhadap pengaturan segala perilakunya sendiri, dengan tujuan supaya mahasiswa bisa lebih mandiri, lebih independen dan dapat memprediksi masa depannya.

Intervensi yang dipilih dalam menurunkan prokrastinasi akademik dalam penelitian ini yaitu pelatihan manajemen diri. Pelatihan manajemen diri dipilih karena memiliki beberapa keunggulan, seperti yang dijelaskan oleh Iskandar (2017) jika dilakukan dengan baik, pelatihan manajemen diri memiliki beberapa kelebihan bagi pesertanya seperti dapat membuat lebih termotivasi untuk mencapai tujuan, lebih mampu mengontrol diri, mengurangi ketergantungan pada orang lain atau lingkungan, bersifat praktis, lebih efisien, murah dan mudah dilaksanakan. Terry (dalam Mariyati 2014) mengungkapkan bahwa pelatihan manajemen diri akan memberikan manfaat bagi individu karena dapat membantu untuk merencanakan, mengatur, dan memantau diri sendiri dalam perilaku yang lebih positif, aktif dan produktif. Lebih lanjut Kanfer (dalam Budiyani &

Martaniah, 2011) menyatakan bahwa dalam pelatihan manajemen diri terdapat tugas dan praktek yang harus dikerjakan. Hal ini dapat memberikan pembelajaran bagi seseorang untuk merespon perubahan perilaku. Dengan diberikan tugas, dapat membuat individu lebih percaya diri bahwa perubahan perilaku itu dapat dilakukan dan menawarkan kesempatan untuk melatih keterampilan dalam menghadapi hambatan-hambatan yang terjadi.

Palupi, Agustin, dan Satwika (2018), berpendapat bahwa metode intervensi yang tepat untuk membimbing suatu kemampuan adalah dengan pelatihan.

Sikula (dalam Munandar 2012) mengartikan pelatihan sebagai sebuah proses

(10)

pendidikan jangka pendek untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta pelatihan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir. Prijosaksono dan Sembel (2002) mengartikan bahwa manajemen diri adalah kemampuan seseorang untuk melihat dan mengawasi dirinya sendiri dengan setiap komponen yang ada di dalam dirinya dalam melewati berbagai keadaan yang menghalangi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pelatihan manajemen diri menurut Sanders dan Glynn (1981) merupakan sistem pendidikan yang diberikan kepada peserta untuk mengajari pemilihan tujuan, pemantauan diri, dan perencanaan atau mengatur lingkungan stimulus mereka sendiri, dan secara khusus berfokus pada perilaku peserta yang akan diperbaiki.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelatihan manajemen diri adalah pendidikan jangka pendek untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara sistematis untuk dapat menganalisis, mengelola, mengontrol, dan mengevaluasi diri dengan segala potensi di dalam diri untuk menghadapi hambatan demi terwujudnya target yang diinginkan.

Budiyani dan Martaniah (2011) membagi teknik manajemen diri ke dalam lima tahap yaitu asesmen diri (self assessment), penetapan tujuan (goal setting) pemantauan diri (self monitoring), evaluasi diri (self evaluation) dan penguatan diri (self reinforcement) dan pembuatan kontrak.

Berdasarkan dengan tahap-tahap di atas, maka individu yang mengikuti pelatihan manajemen diri dapat menganalisis, memantau, mengevaluasi dan memberikan reaksi terhadap perilakunya sendiri, sehingga individu mau untuk

(11)

mengelola dirinya sendiri serta mau berkomitmen untuk berubah dengan cara berusaha mengontrol diri. Sehingga, pelatihan manajemen diri dapat membantu untuk menurunkan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Penelitian Hardiyanti (2016) mengenai hubungan antara manajemen diri dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa anggota MUEC UMS menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara manajemen diri dengan prokrastinasi akademik, yang artinya semakin tinggi manajemen diri individu maka semakin rendah prokrastinasi akademiknya dan sebaliknya jika semakin rendah manajemen diri individu maka semakin tinggi prokrastinasi akademiknya.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang diajukan peneliti yaitu apakah terdapat pengaruh pelatihan manajemen diri terhadap penurunan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi?

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pelatihan manajemen diri terhadap penurunan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Adapun manfaat penelitian dapat dilihat dari dua segi, antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap khasanah ilmu pengetahuan dan memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu psikologi, khususnya dalam bidang pelatihan psikologi, psikologi

(12)

pendidikan serta pengembangan secara teoritis tentang pelatihan manajemen diri dan prokrastinasi akademik.

2. Manfaat Praktis

Jika hipotesis dalam penelitian ini diterima, maka pelatihan manajemen diri dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif cara untuk menurunkan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

The quality meaning is the contextual meaning, by relating learning material to personal and social environment (Johnson, 2002: 20). Context in CTL deals with a real life

Sehubungan telah berakhirnya masa sanggah untuk Paket Pekerjaan Dokumen Lingkungan Media Center Jayapura (Lelang Ulang) dengan Kode Lelang 4304041, maka bersama ini Pokja 02

1. Penerapan model pembelajaran Learning Cycle pada materi sifat-sifat cahaya mata pelajaran IPA yang dilaksanakan pada peserta didik kelas VA MI Tanada Wadungasri

yang berlaku umum (PSAK), terdiri dari   Laporan posisi keuangan Laporan aktivitas Laporan arus kas Laporan perubahan aktiva bersih Catatan atas Laporan keuangan  

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa aset biolojik sebagai persediaan ( Consumeable Biological Asset ) lebih baik diatur oleh IAS 41 dibandingkan PSAK 14,

Diketahui pada hasil penelitian sebelumnya peningkatan berat kering total tanaman dipengaruhi oleh fotosintesis se- hingga apabila jarak tanam semakin sem-pit

Implikasi dari penelitian ini adalah hubungan inklusif antarumat beragama di desa Mbawa yang dahulu merupakan peristiwa langkah kini menjadi hal yang cenderung tidak