MAKNA SYAHI>D PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTAFA DALAM TAFSI>R AL-IBRI>Z LI MA’RIFATI TAFSI>R AL-QUR’A>N AL- ‘AZI>Z
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag)
Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
Moch Yusril Adib Faizi NIM: U20161055
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR 2023
ii
1
MOTTO
Tujuan dari sebuah Pendidikan adalah memerdekakan manusia, yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya
(Ki Hajar Dewantara)
2
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada Allah Yang Maha Esa, yang senantiasa selalu memberikan belas kasih sayangnya. Tuhan alam semsesta, tiada Tuhan selain-Nya. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan Umat Islam Nabi agung, Nabi besar Muhammad Saw putra Abdullah, sang utusan terakhir yang membawa risalah Tuhan kemuka bumi, penyebar kebaikan, keadilan dan kebenaran menuju Allah Swt. Pada proses pengerjaan skripsi ini pastinya tidak lepas dari bantuan serta dukungan dari berbgai pihak, karenanya dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian penelitin ini. Karya ini penulis persembahkan kepada:
1. Para pengkaji Ilmu Ilmu Al-Qur’ān dan Tafsīr khususnya dalam bidang Tafsir Tematik dan Pemikiran Tokoh Mufasir Al-Qur’an.
2. Kepada para peneliti terdahulu yang sudah pernah mengkaji dan kepada para peneliti selanjutnya. Sehingga dapat menjadi bahan refrensi dan rujukan bagi masyarakat umum supaya mereka dapat mengembangkan ilmunya dalam mengkaji sebuah penelitian yang sama, dengan sudut pandang yang lebih luas dan berbeda
3. Teruntuk teman- dikelas Ilmu Al-Qur’ān dan Tafsīr 2 angkatan 2016, dan orang-orang yang telah memebrikan dampak dari terselesaikanya skripsi ini
3
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji syukur penulis sampaikan kepada Allah karena atas rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar. Sholawat serta salam saya haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, Nabi akhir zaman yang kita tunggu syafa’at-Nya di hari kiamat. Dengan selesainya penelitian ini penulis menyadari tidaklah mungkin bisa menyelesaikan tanpa memperoleh dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kyai Haji Achmad Shiddiq Jember.
2. Prof. Dr. M. Khusna Amal, S. Ag, M. Si selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora. Dr. Uun Yusufa, M.A selaku Wakil Dekan I, Dr. Kasman, M, Fil. I selaku Wakil Dekan II, Dr. Maskud, S.
Ag., M, Si selaku Wakil Dekan III Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora.
3. Dr. Win Usuluddin, M. Hum selaku Ketua Jurusan Studi Islam.
4. H. Mawardi Abdullah, Lc., MA selaku Kordinator Program Studi Ilmu Al-Qur‟ān dan Tafsīr.
5. Dr. Uun Yusufa, M.A selaku dosen pembimbing Skripsi saya
6. Kedua Orang Tua saya, Bapak Asmu’i dan Ibu Husnatun. Adek saya Keisya Nahla Mierza Dinella, Amiera, Bapak Kholil, Ibu Mut, Ririk Fawaid, Iin Azizah, Reivista, Teman Seperjuangan dan Seluruh pihak yang ikut berkontribusi atas terselesaikan-Nya penelitian ini.
Semoga semua amal kebaikan dari semua pihak mendapatkan pahala dan balasan berlipat dari Allah Swt. Kemudian dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan permohonan maaf yang dalam, karena karya ilmiah ini telah di tulis dengan semaksimal mungkin akan tetapi akan tetap terdapat kekurangan didalamnya. Penulis mengharapkan saran dan kritik konstruktif dari pembaca demi karya yang lebih baik lagi. Penulis berharap tulisan ini dapat memberi manfaat serta kontribusi pengetahuan baru terhadap masyarakat pada umumnya.
Jember, 9 Januari 2023
Moch Yusril Adib Faizi NIM: U20161055
4
ABSTRAK
Moch Yusril Adib Faizi, 2022: Makna Syahi>d Perspektif Kh. Bisri Mustafa Dalam Tafsi>r Al-Ibri>Z li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al- ‘Azi>z
Tafsir Al-Ibri>z ditulis oleh KH. Bisri Mustafa dalam Bahasa jawa pegon, memiliki latar belakang budaya jawa yang kuat, dan lingkungan sosial yang awam, menjadikan tafsir ini relevan untuk di kaji dan menjadi khazanah keilmuan islam. KH. Bisri Mustafa sebagai penulis memiliki keilmuan yang luas, beliau merupakan salah satu penulis dengan karya yang cukup banyak, mulai dari ilmu tafsir, ilmu Fiqh, hingga ilmu Aqidah, sehingga KH. Bisri Mustafa tidak perlu diragukan lagi karya ilmiahnya.
Fokus penelitian yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1). Bagaimana penejelasan makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir Al- Ibri>z? Apa yang melatari Pemikiran KH. Bisri Mustafa tentang Kedudukan Orang yang Mati Syahi>d?> 3). Bagaimana implementasi makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam kehidupan beragama di Indonesia?
Tujuan penelitian ini adalah: 1). Untuk menjelaskan makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z. 2). Untuk mengetahui latar belakang pemikiran KH. Bisri Mustafa tentang Kedudukan Orang yang Mati Syahi>d 3). Untuk menjelaskan implementasi makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam kehidupan beragama di Indonesia
Penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka, menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu data yang sudah tersedia tersebut peneliti ambil dari beberapa buku dan jurnal Pengumpulan. Selanjutnya, peneliti menyeleksi data yang terkait dengan pembahasan, penelitian ini bersifat deskriptif analisis. Lalu peneliti menggunakan analisis data deskriptif-analitis bertujuan untuk dikarenakan metode ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data namun juga meliputi analisa data dan interpretasi. Setelah data terkumpul dan disusun secara sistematis, kemudian dilanjutkan dengan mendeskripsikan. Di akhir pembahasan peneliti menjelaskan kedudukan orang yang mati Syahi>d pendekatan yang ditawarkan oleh Gadamer yang mana menggunakan teori Hermeneutic.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa. 1. KH. Bisri Mustafa menyebutkan beberapa kategori bagi orang yang bisa dikatakan mati dalam keadaan syahi>d, yaitu orang yang mati terbunuh saat perang membela agama Allah, orang yang mati karena sedang menuntut ilmu, orang yang taat kepada Allah dan Rasul hingga akhir hayatnya, orang yang mati karena berdakwah di jalan Allah, orang yang mati karena membela tanah air. 2.
Kemudian mengimplementasikan dalam kehidupan beragama dan bernegara, yang menghasilkan sikap toleransi, sikap saling membantu, dan sikap senantiasa beribadah kepada Allah Swt
5
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... 1
PERSEMBAHAN ... 2
KATA PENGANTAR ... 3
ABSTRAK ... 4
DAFTAR ISI ... 5
TRANSLITERASI ... 7
BAB I PENDAHULUAN ... 8
A. Latar Belakang ... 8
B. Rumusan Masalah ... 14
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Manfaat Penelitian ... 15
E. Tinjauan Pustaka ... 16
F. Kajian Teori ... 18
G. Metode Penelitian ... 19
H. Sistematika Pembahasan ... 21
BAB II KERANGKA TEORI ... 23
A. Pengertian Syahi>d ... 23
1. Etimologim ... 23
2. Terminologi ... 24
B. Kedudukan Mati Syahi>d ... 29
C. Jenis-Jenis Mati Syahi>d ... 38
D. Syarat Mati Syahi>d ... 39
BAB III KH. BISRI MUSTAFA DAN TAFSIR AL IIBRIZ ... 44
A. Profil KH. Bisri Mustafa ... 44
6
1. Silsilah ... 44
2. Pendidikan ... 45
3. Perjuangan dam Karir ... 48
4. Karya Ilmiah ... 49
B. Kitab Al-Ibri>z li Ma’rifah Tafsi>r Al-Qur’an al-‘ Azi>z ... 52
1. Latar Belakang Penulisan ... 53
2. Sistematika Penulisan ... 54
3. Corak tafsir ... 57
BAB IV PENAFSIRAN AYAT SYAHI>D PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTAFA ... 61
A. Makna Syahi>d dengan konteks Mati Syahi>d ... 61
B. Klasifikasi Sebab-sebab Mati Syahi>d ... 70
1. Syahi>d Karena Pertempuran membela agama Allah ... 70
2. Orang yang Taat kepada Allah Dan Rasul-Nya Hingga Akhir Hayat ... 71
3. Mati di Saat Berjihad dengan cara Berdakwah Di Jalan Allah ... 74
4. Mati saat menuntut ilmu ... 77
5. Mati membela tanah air mengusir penjajah zalim ... 80
C. Implementasi Ayat-Ayat Syahi>d Terhadap Kehidupan Beragama dan Bernegara ... 82
1. Prinsip Toleran ... 84
2. Prinsip Tolong Menolong ... 84
3. Prinsip Ibadah ... 86
BAB V PENUTUP ... 88
A. Kesimpulan ... 88
B. Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 90
7
PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman transliterasi Arab-Indonesia yang digunakan adalah pedoman yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Amerika Serikat (Library of Congress) sebagaimana tabel berikut:
Pedoman Transliterasi Model Library of Congress
Awal Tengah Akhir Sendiri Latin/Indonesia
ا ﺎ ﺎ ا
a/i/uﺑ ﺒ ب ب
Bﺗ ﺘ ت ت
Tﺛ ﺘ ث ث
Thﺟ ﺟ ﺞ ج
Jﺣ ﺣ ﺢ ح
Hﺧ ﺧ ﺦ خ
Khﺩ ﺩ ﺩ ﺩ
Dﺫ ﺫ ﺫ ﺫ
Dhﺭ ﺭ ﺭ ﺭ
Rﺯ ﺯ ﺯ ﺯ
Zﺳ ﺳ س س
Sﺷ ﺷ ش ش
Shﺻ ﺻ ص ص
s}ﺿ ﺿ ض ض
d}ﻁ ﻁ ﻁ ﻁ
t}ﻅ ﻅ ﻅ ﻅ
z}ﻋ ﻋ ﻊ ع
ʹ (ayn)ﻏ ﻏ ﻎ غ
Ghﻓ ﻓ ف ف
Fﻗ ﻗ ق ق
Qﻛ ﻛ ك ك
Kﻟ ﻟ ل ل
Lﻣ ﻣ م م
Mﻧ ﻧ ن ن
Nﻫ ﻬ ﻪ ، ﺔ ﻩ ﺓ،
Hﻭ ﻭ ﻭ ﻭ
Wﻳ ﻳ ي ي
YUntuk menunjukkan bunyi hidup panjang (madd) caranya dengan memasukkan coretan horizontal (macron) di atas huruf â (
ﺁ
), î (يإ
) dan û (وأ
).11 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah IAIN Jember (Jember: IAIN Jember Press, 2020), 28-30.
8 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk kehidupan di muka bumi.
Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa yang dimaksud petunjuk adalah petunjuk agama atau syariat, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur keselamatan hidup di dunia hingga di akhirat. Juga demikian, al- Qur’an memiliki hal spesial dalam segi kebahasaan-nya, di dalamnya terdapat kalimat-kalimat yang indah dan berbeda dengan kalimat yang lain bahkan sastra karangan manusia sekalipun. Di samping itu juga Al-Qur’an mampu mengeluarkan sesuatu yang abstrak kepada fenomena yang dapat dirasakan sehingga di dalamnya dapat dirasakan oleh ruh dinamika2.
Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini nantinya akan lenyap, mati hingga menyisakan Allah Swt semata. Seperti yang telah di sebutkan dalam firmannya pada QS. Al- ‘Ankabu>t: 57
َ ن ْو ُع َج ْرُت اَنْي َ ل ِا َّم ُ
ث ِِۗت ْو َم ْ لا ُة َ
قِٕىۤا َذ ٍس فَن ْ ُّ
ل ُ ك ٥٧
Artinya: Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada kami kamu di kembalikan”. (QS. Al-’Ankabu>t: 57)3
Tidak ada satu pun makhluk yang kuasa menangguhkan datangnya kematian walaupun hanya se detik, karena takdir kematian adalah hak mutlak Allah Swt. Manusia hanya dapat berusaha bagaimana untuk
2 An-Najdi, Abu Zahra An-Najdi , Al-Qur’an dan Rahasia Angka-angka, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1996), 23
3 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
9
meninggalkan dunia dengan keadaan yang baik dan tetap pada keadaan bersaksi bahwa Allah Swt adalah tuhan semesta alam.
Kematian yang berada di jalan Allah Swt sering disebut dengan istilah Syahi>d. muslim begitu antusias dalam meraih ke-Syahi>d-an itu sendiri. Syahi>d di dalam Al-Qur’an di sanding kan dengan Nabi, Siddi>qin dan orang-orang Sa>lih seperti halnya di jelaskan di dalam surat An-Nisa’
ayat 69:
َ ه
للّٰا ِع ِطُّي ْن َم َو َن ّٖ يِب َّ
نلا َن ِ م ْم ِهْي َ لَع ُ ه
للّٰا َم َعْن َ ا َنْي ِذ َّ
لا َع َم َكِٕىٰۤلو ُ ا ف َ َ
ل ْو ُس َّرلا َو ا ً
قْي ِف َر َكِٕىٰۤلو ُ
ا َن ُس َح َو ۚ َنْي ِحِل هصلا َو ِءۤا َدَه ُّشلاَو َنْي ِقْي ِ د ِ صلاَو ٦٩
“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Para Nabi, Siddi>qin, orang-orang yang mati Syahi>d, dan orang Sa>lih.
dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. Al-Nisa’: 69)
Namun selama ini istilah Syahi>d identik dengan gugurnya seseorang dalam medan pertempuran membela agama Islam, atau biasa disebut dengan Berjihad di jalan Allah, sehingga banyak yang menganggap mati Syahi>d seakan-akan hanya didapatkan oleh orang-orang yang berjihad dalam peperangan. Bahkan jika kita melihat dari fenomena saat ini banyak orang yang berpaham radikalisme menginginkan mati Syahi>d dengan cara melukai sesama. Mereka rela meledakkan bom bunuh diri di tempat yang dianggap penuh kemaksiatan, padahal terkadang tempat itu notabene-Nya adalah
10
tempat bagi sesama muslim, namun menjadi sasaran oleh orang-orang yang gagal dalam memahami ajaran islam4.
Dengan uraian diatas penulis memiliki alasan bahwa lafaz Syahi>d memikat untuk kembali dijadikan sebuah karya, yang mana makna Syahi>d secara sepintas memang mengidentifikasikan sebagai kematian yang di karena kan gugur dalam peperangan. Oleh karena itu mati Syahi>d bisa menjelma menjadi suatu hal yang memiliki Passion, dengan alasan Syahi>d berhubungan langsung dengan sikap religius tiap-tiap orang islam.
Dengan demikian peneliti akan membahas mengenai penafsiran KH.
Bisri Mustafa tentang konsep mati Syahi>d di dalam kitab Tafsi>r al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al- ‘Azi>z. Penelitian ini menjadi memikat karena beberapa argumentasi.
KH. Bisri Mustafa merupakan salah satu penafsir asli nusantara, nama beliau tentu tidaklah familier lagi terutama di negara Indonesia. Di beberapa lingkungan pesantren klasik di tanah jawa dan juga beliau sudah tidak diragukan lagi soal kealiman dalam bidang keilmuan-Nya. KH. Bisri Mustafa juga merupakan seorang ulama Sunni yang gigih memperjuangkan konsep Ahlussunnah Walja>maah. Beliau terkenal seorang yang moderat, karena beliau mengambil dari pendekatan Ushu>l Fiqh yang mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat islam yang disesuaikan dengan kondisi situasi zaman dan kultur masyarakatnya. Beliau juga bisa dikatakan
4 Adynata, Jihad Bunuh Diri Menurut Hadist Nabi Saw, Vol. XX (Jurnal Ushuluddin, Juli 2013) 2
11
sebagai pemikir kontekstual. Hal itu tandai oleh beberapa penafsiran- penafsiran beliau yang lebih sering mengaitkan dengan beberapa keadaan saat sekarang, sehingga kemudian menjadi menarik jika makna Syahi>d di hadapkan dengan pemikiran KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir al-Ibri>z.
Karena mati Syahi>d merupakan pembahasan yang akan terus berkembang dari berbagai perspektif, seperti yang telah di tafsirkan oleh KH Bisri Mustafa pada al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 157.
َ ن ْو ُع َم ْج َ
ي اَِّ مّ ٌرْي َخ ٌة َمْح َر َو ِ ه
للّٰا َن ِ م ٌة َر ِف ْغ َم َ ل ْمُّت ُم ْو َ
ا ِ ه
للّٰا ِلْيِب َس ْيِف ْم ُتْلِتُق ْنِٕى َ ل َو ١٥٧
Terjemahannya:
“Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan (QS. Ali-Imran: 157)5
Tafsir Al-Ibri>z menjelaskan ayat ini sebagai berikut:
Yekti lamun siro kabeh dipateni ono ing sakjerone perang sabil, utowo mati sakjerone lelakon becik, sebenere pengapuran saking Allah ta’ala iku luwih bagus tinimbang dunyo kang dikumpul-kumpulake6. KH. Bisri Mustafa menejelaskan jikalau kalian semua meninggal di dalam peperangan sabil (di jalan Allah) atau meninggal pada saat melakukan hal yang baik, maka sebenarnya ampunan Allah Swt menjadi keutamaan dibandingkan dengan Ghanimah yang terkmpulkan. Di sini KH.
Bisri Mustafa menafsirkan ayat ini dengan menambahkan “mati sakjerone lelakon becik” (meninggal saat melakukan kebaikan) artinya orang yang
5 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
6 KH. Bisri Mustafa, Tafsi>r al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al-‘Azi>z (Kudus : Menara Kudus 2015) 70
12
mendapatkan mati Syahi>d bukan hanya pada orang yang melakukan peperangan di jalan Allah saja, melainkan orang yang meninggal pada saat melakukan kebaikan juga mempunyai porsi Syahi>d. Namun permasalahannya adalah kebaikan merupakan sesuatu yang dinamis, kebaikan yang di maksud belum begitu jelas seperti apa dan bagaimana, oleh siapa dan dilakukan karena apa, karena hal ini bisa menjadi objektif dan juga bisa menjadi subjektif. Oleh karena itu menjadi menarik jika hal ini di kaji dalam bentuk penelitian ilmiah.
Dalam segi hadist-hadist yang membahas tentang Syahi>d yang telah di sebutkan, Rasulullah Saw bersabda:
“Apa yang di maksud dengan orang yang mati syahi>d di antara kalian?” para sahabat menjawab, “wahai Rasulullah, orang yang meninggal di jalan allah itulah yang mati syahi>d”. Beliau rasulullah bersabda: “kalau begitu, sedikit sekali jumlah ummatku yang mati syahi>d”. Para shabat berkata, “Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” kemudian Rasulullah bersabda: “Barang siapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahi>d, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahi>d, siapa yang mati karena penyakit/wabah juga syahi>d, siapa yang mati karena sakit perut juga syahi>d.7”
Dari sini semakin menggambarkan bahwa pemaknaan syahi>d sebenarnya sangat luas. Selain itu makna Syahi>d dalam berbagai konteks dan subjek juga telah di sebutkan di dalam al-Qur’an, seperti halnya dalam surat Al-An’am ayat 19:
7 Ensiklopedi Hadist (Versi Syarh Shahih Muslim: 1915)
13
ْ ل ُ ق ُّي َ
ا ٍء ْي َ
ش ُرَب ْ
ك َ ا ًة َدا َه َش
ِۗ
ِل ُ ق ُ ه للّٰا
ٌۢ ٌدْي ِه َش ِۗ
ْي ِنْيَب ْم ُ
كَنْيَب َو َي ِح ْو ُ ِۗ
ا َو َّي َ
ل ِا ا َ
ذ ٰه
ُ ن ٰ
ا ْر ُ ق ْ
لا
ْم ُ كَر ِذْن ُ
اِل ّٖهِب
ٌۢ ْن َم َو َغ َ
لَب
ِۗ
ْم ُ
كَّنِٕى َ ا
َ
ن ْو ُد َه ْش ت َ َ ل
َّ
ن َ ا َع َم ِ ه للّٰا ًة َهِل ٰ
ا ِۗى ٰر ْخ ُ
ا
ْ ل ق ُ ا َّ
ل ُد َه ْش َ
ا ۚ
ْ ل ُ ق
اَمَّنِا َو ُه ٌه ٰ ٌد ِحا َّو ل ِا ْي ِن َّنِاَّو ٌءۤ ْي ِرَب اَِّ مّ
َ ن ْو ُ كِر ْشُت
١٩
Terjemahannya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan itu aku mengingatkan kamu dan orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya).
Apakah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain selain Allah?” Katakanlah, “Aku tidak bersaksi.” Katakanlah,
“Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku lepas tangan dari apa yang kamu persekutukan.” (Q.S Al-An’am: 19)8
KH. BIsri Mustafa menjelaskan dalam tafsirnya:
Kufar mekah podho matur marang kanjeng nabi meniko saksi sampean sinten? Tiyang ahli kitab kemawon mboten ngleresake sampean. Jalaran onone pengucap kufar mekah mengkono iku, allah ta’ala nurunake ayat iki: dawuhono yo Muhammad! Sopo tho kang luweh agung syahadahe? Ora ono, yo allah ta’ala dewe, iku kang nekseni antarane ingsun lan antarane siro kabeh. Iki Al-Qur’an diwahyune marang ingsun, supoyo ingsun meden-medeni marang siro kabeh kelawan Al-Qur’an, podo ugo wong arab utowo wong ‘ajam (liyane arab) ilayaumil qiyamah. Opo temenan siro kabeh podo wani nekseni, yen ono pengeran-pengeran kang nyekutoni Allah ta’ala. 9 Dalam ayat ini KH. Bisri Mustafa menyebutkan “Sopo kang luweh agung syahadahe? Ora ono, yo allah ta’ala dewe” Artinya subjek makna syahi>d dari ayat ini adalah Allah, KH. Bisri Mustafa juga memberikan sebab turunnya ayat ini, yang mana pada saat itu orang-orang kafir telah
8 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
9 KH. Bisri Mustafa, Tafsi>r al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al- ‘Azi>z (Kudus: Menara Kudus 2015) 130
14
meragukan Nabi Muhammad sebagai seorang utusan. Sehingga Allah Swt menjadi saksi antara tuhan dan hambanya.
Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad bukanlah tanpa alasan, karena Al-Qur’an merupakan sebagai mukjizat terbesar. Syekh Muhammad Rasyid Rida berpendapat bahwa salah satu bukti ketinggian uslub Al-Qur’an ialah bahwa seluruh maksud Al-Qur’an itu bercampur baur dan terpencar dalam banyak surah, baik yang pendek maupun yang panjang, dengan munasabah (hubungan atau kaitan) yang berbeda-beda sehingga menjadi 'ibarah (ungkapan) yang sempurna dan menyenangkan hati. Mukjizat Al-Qur’an dari segi bahasa ini hanya dapat dihayati oleh mereka yang mengetahui dan mendalami bahasa Arab.10
Dengan begitu menjadi menarik jika makna Syahi>d yang tersebar di dalam surat-surat Al-Qur’an di bahas secara spesifik dalam pandangan KH.
Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsir Al-Qur’an Al-
‘Aziz. untuk mengetahui makna apa yang sebenarnya terkandung, dan bagaimana pandangan mufasir serta implementasinya terhadap kehidupan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan agar kajian ini lebih fokus dan dikupas secara mendalam, dengan adanya rumusan masalah sebagai berikut:
10 Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994) 12
15
1. Bagaimana Penafsiran KH. Bisri Mustafa terhadap lafadz Syahi>d pada Tafsir A-Ibri>z?
2. Bagaimana implementasi makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam kehidupan beragama di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk memahami makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z
2. Untuk memahami implementasi makna Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam kehidupan beragama
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari karya ilmiah ini adalah:
1. Secara teori karya ilmiah ini bisa menjadi salah satu rujukan atau sekedar referensi dalam menambah Kha>zanah pengetahuan Al- Qur’an. Khususnya yaitu dalam bidang tafsir dan keilmuan Islam tentang makna syahi>d dalam Perspektif mufasir Indonesia yaitu Bisri Mustafa dalam Tafsi>r al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al-
‘Azi>z.
2. Kajian ini secara praktis dapat berguna bagi akademisi untuk memahami makna Syahi>d. Di samping itu juga berguna untuk masyarakat umum yang ingin memahami lebih mendalam mengenai makna Syahi>d yang terdapat di dalam Al-Qur’an dalam kaca mata KH. Bisri Mustafa serta Implementasinya terhadap kehidupan beragama.
16 E. Tinjauan Pustaka
Peneliti akan membagi dua bagian, yang pertama adalah mengenai tema yaitu “Syahi>d” dan yang kedua mengenai tokoh beserta tafsirannya Bisri Mustafa dalam kitab Tafsir Al-Ibri>z
1. Berkaitan dengan tema yang diteliti
Pertama skripsi yang berjudul “Makna dan Konteks Syahi>d dalam Tafsir fi> Zilal Al-Qur’an (Studi Atas Penafsiran Sayyid Qutub). Skripsi ini dibuat oleh Joko Suwelo, Di dalamnya terdapat pembahasan tentang makna syahi>d dalam Perspektif Sayyi>d Qutu>b dengan tafsirnya Tafsi>r fi> Zilal Al- Qur’an sebagai rujukan utamanya. Perbedaan antara peneliti dengan Joko Suwelo adalah dalam hal perspektif, jika Joko Suwelo menjadikan penafsiran Sayyi>d Qutu>b dalam rujukan utamanya. Di sini peneliti menggunakan penafsiran KH. Bisri Mustafa dengan Tafsir Al-Ibri>z sebagai rujukan utamanya11
Kedua skripsi yang berjudul “Makna Syahi>d dalam Al-Qur’an”
(tafsir tematik) skripsi ini disusun oleh Muhammad Ahya Ansori untuk memenuhi tugas akhir dalam Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kali Jaga 2016. Di dalam penelitiannya ia menggali makna Syahi>d melalui ayat Al-Quran dengan berbagai penafsiran.12 Jika skripsi ini membahas makna Syahi>d dalam Al-Qur’an
11 Joko Suwelo, Makna dan Konteks Syahi>d dalam Tafsir fi> Zilal Al-Qur’an, Studi atas Penafsiran Sayyid Qutub, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin UIN Sunan kalijaga, 2011) 7
12 Muhammad Ahya Ansori, Makna Syahi>d dalam Al-Qur’an, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijogo, 2016) 8
17
secara umum, maka peneliti akan membahas tentang makna Syahi>d dalam Perspektif KH. Bisri Mustafa.
2. Berkaitan dengan tokoh yang di teliti
Pertama skripsi yang berjudul “Tafsir Ayat-ayat Nasionalisme dalam Tafsir al-Ibri>z Karya KH Bisri Mustafa”. Skripsi karya Luqman Chakim ini membahas tentang tafsiran KH. Bisri Mustafa terhadap ayat-ayat tentang nasionalisme dalam kitab Tafsir Al-Ibri>z yang menggunakan metode Maudhu>’i.13
Kedua skripsi yang berjudul “KH Bisri Mustafa dan Perjuangannya”
skripsi karya Ahmad Bisri Dzalieq, membahas tentang profil KH. Bisri Mustafa dan kiprah perjuangan semasa hidupnya hingga akhir hayatnya.
Sedangkan peneliti membahas tentang tema makna Syahi>d Perspektif KH.
Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z 14
Literatur di atas dapat kita ketahui tidak banyak yang meneliti makna Syahi>d. Penulis masih tidak menemukan pembahasan maupun uraian yang cukup konkrit membahas tentang makna Syahi>d dalam Perspektif KH.
Bisri Mustafa dalam kitab Tafsir A-Ibri>z. Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui makna Syahi>d dalam Perspektif KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z serta kelebihan dan kekurangannya.
13 Luqman Chakim, Tafsir Ayat – ayat Nasionalisme dalam Tafsir Al-Ibri>z Karya KH Bisri Mustafa, Skripsi (Semarang, Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2014) 27
14 Ahmad Bisri Dzalieq, K.H. Bisri Mustafa dan perjuangannya, Skripsi (UIN Sunan Kalijaga:
2008) 19
18 F. Kajin Teori
Penelitian ini merupakan penelitian bidang tafsir Al-Qur`an, oleh karenanya di sini penulis akan menggunakan sebuah teori yaitu teori Historically Effect dan Applcation (Penerapan) yang di gagas oleh Gadamer. Teori ini memuat berbagai macam pokok pemikiran mengenai hermeneutika filosofis. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan teks, akan tetapi juga berkaitan dengan seluruh objek ilmu humaniora maupun sosial.
Gadamer memiliki beberapa teori pokok dalam pemikiran Hermeneutikanya.
Historically Effect yaitu sebuah kesadaran terhadap situasi penafsiran yang mana memperoleh kesadaran diri dalam suatu kondisi tertentu merupakan tugas yang sangat sulit, sebab kondisi tersebut akan membatasi kemampuan penafsir dalam menafsirkan sesuatu. Pada teori tersebut, proses pemahaman yang dialami seorang penafsir sangat dipengaruhi oleh keadaan dan posisi tertentu, seperti budaya, adat istiadat, maupun pengalaman hidup.
Sehingga saat proses penafsiran dimulai, penafsir tersebut harus mengakui bahwa ia sedang berada dalam suatu kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi dan member warna tertentu bagi pemahaman-nya terhadap proses penafsiran suatu teks. Gadamer menyatakan bahwa “Sesungguhnya orang harus belajar memahami dan mengenali bahwa setiap pemahaman –
19
baik disadari ataupun tidak terpengaruh dari (pengaruh sejarah) sangat berperan besar”15
Application (Penerapan) yaitu membuat objektif sebuah makna pada sebuah tulisan memperoleh perhatian lebih dalam proses penafsiran maupun interpretasi. Pada saat makna objektif tersebut sudah dipahami, kemudian seorang penafsir menerapkan pesan-pesan yang disampaikan oleh teks tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gadamer menyatakan bahwa di saat kita membaca sebuah kitab maka diharuskan menerapkan pesan dan ajaran yang di terkandung pada saat teks tersebut di tafsirkan, selain itu juga hal itu sebagai proses men-telaah.16
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pendekatan kualitatif merupakan sebuah cara untuk mendekatkan penelitian yang menyesuaikan terhadap fenomena dan indikasi yang mengalir alami. Dengan begitu Penulis menjadikan Library Research sebagai jenis penelitian atau biasa di sebut penelitian pustaka.17
Dalam penelitian ini bersifat Deskriptif, artinya setiap data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka. Semua data yang dikumpulkan dapat menjadi kunci terhadap apa yang diteliti18. Namun untuk penelitian ini peneliti hanya mencantumkan kutipan-kutipan yang nantinya akan menggambarkan dari masalah yang diteliti
15 Syahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (Yogyakarta:
Pesantren Nawasea Press, 2009) 46
16 Ibid., 51.
17 Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan. (Bandung: Angkasa, 2004) 159
18 Ahmad Tanzeh, Metode Penelitian Praktis, (Jakarta: PT. Bina Ilmu, 2004) 42
20 2. Sumber Data
Dalam penelitian ini Penulis menggunakan dua sumber data, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder yang mana kitab Tafsir Al- Ibri>z karya mufasir KH. Bisri Mustafa sebagai Sumber data primer.
Sedangkan sumber sekunder-nya akan menggunakan berbagai referensi buku-buku, jurnal, artikel yang menyinggung tentang Syahi>d dan juga biografi KH. Bisri Mustafa
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode Dokumentasi. Data yang sudah tersedia tersebut peneliti ambil dari beberapa buku dan jurnal Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
a. Menggali literatur-literatur seperti kitab-kitab tafsir terutama kitab Tafsir Al-Ibri>z, majalah, dan artikel yang terkait lainnya.
b. Menganalisis buku bacaan tentang mati Syahi>d atau persoalan- persoalan mengenai mati Syahi>d
c. Me-management rancangan-rancangan yang termaktub kemudian merangkai-nya secara runtut sistematis sesuai dengan kaidah.
4. Analisis Data
Metode Analisis Data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif-Analitis. Hal ini dikarenakan metode ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data namun juga meliputi analisa data dan interpretasi tentang arti data yang diperoleh
21
sehingga dapat menghasilkan gambaran yang utuh dan menyeluruh. Secara cermat data yang telah terkumpulkan kemudian dikaji dan diabstrakkan, bagaimana sebenarnya pendapat KH. Bisri Mustafa mengenai Makna Syahi>d. Sehingga nantinya akan menghasilkan gambaran dari fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
H. Sistematika Pembahasan
Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, kajian teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Uraian pada bab inilah yang dijadikan kunci dalam menyusun skripsi yang sifatnya informatif.
Bab kedua akan menjelaskan definisi makna Syahi>d serta dinamika pemahaman makna Syahi>d secara global dan mendasar, tidak hanya terpaku dalam satu pendapat, akan tetapi nantinya tetap fokus pada satu ulama yaitu dalam Perspektif KH. Bisri Mustafa.
Bab ketiga penulis akan memaparkan biografi KH. Bisri Mustafa dan profil Kitab Tafsir Al-Ibri>z. mulai dari lahirnya KH. Bisri Mustafa, Sejarah lingkungan dan keilmuanya hingga akhir hayatnya. Profil Kitab Tafsir Al- Ibri>z disini meliputi sejarah proses ke-penulisan, metode, sistematika penulisan, hingga corak yang digunakan.
Bab keempat akan memaparkan penafsiran ayat-ayat Syahi>d menurut KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir Al-Ibri>z. Di bab ini akan menjadi inti dari
22
penelitian, karena akan mengupas makna ayat-ayat tentang mati Syahi>d dalam Perspektif KH. Bisri Mustafa dalam Tafsir A-Ibri>z
Bab kelima yakni penutup, yang nantinya akan menyebutkan kesimpulan dari penelitian yang telah selesai mulai dari bab satu sampai bab empat dan juga akan diakhiri dengan sara
23 BAB II
KERANGKA TEORI A. Pengertian Syahi>d
Penggunaan kata Syahi>d dalam makiah lebih memiliki makna untuk kesaksian perihal kebenaran ajaran Nabi Muhammad Saw, dan untuk Madaniah sendiri cenderung memiliki makna saksi dalam konteks hukum, mati Syahi>d dan orang munafik. Jadi di dalam Al-Qur’an sendiri sebenarnya makna Syahi>d mempunyai subjeknya tersendiri, di antaranya adalah Syahi>d dengan subjek Allah, subjek Nabi, subjek Al-kitab, dan masih banyak lagi subjek yang berhubungan dengan kata Syahi>d 19.
1. Secara Etimologi Atau Secara Bahasa
Istilah Syahi>d (ديﻬﺷ) dengan wazan Fa’il (ليعﻓ) bersumber dari kata dasar Syahi>da – Yasyhadu - Syaha>datan (ﺓﺩﺎﻬﺷ – دﻬشﻳ – دﻬﺷ) yang berarti menyaksikan. Sedangkan kata Sya>hid (دﻫﺎﺷ) dan Syahi>d (ديﻬﺷ) mengarah terhadap subjek dari aktifitas menyaksikan, yang mana seorang yang menjadi saksi atau yang menyaksikan. Makna (ديﻬﺷ) Syahi>d dan (دﻫِ ﺎﺷ) Sya>hid meskipun sama-sama bermakna saksi, akan tetapi bentuk Syahi>d (ديﻬﺷ) mempunyai kecondongan terhadap penekanan dalam makna. Dalam hal ini merupakan orang-orang yang benar-benar menjadi saksi. Seperti halnya divergensi antara kata Al – ‘a>lim (مﻟﺎعﻟا) dan Al- ‘ali>m (ميلعﻟا) yang mana lafaz Al- ‘ali>m (ميلعﻟا) lebih diats kedudukannya dibandingkan Al –
‘a>lim (مﻟﺎعﻟا). keduanya memiliki makna sama, yakni orang yang mengetahui.
19 Muhammad Ahya Ansori, Makna Syahi>d dalam Al-Qur’an, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijogo, 2016)
24
Namun Al – ‘a>lim (مﻟﺎعﻟا) mengandung lebih banyak ilmu pengetahuannya dari pada Al – ‘a>lim (مﻟﺎعﻟا). Jika seseorang hendak mengatakan bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui, maka dari itu lebih tepat menggunakan kata Al- ‘ali>m (ميلعﻟا)
Selain bermakna sebagai saksi, Sya>hid juga memiliki makna seseorang yang hadir pada tempat tertentu.20
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa padahal suaminya hadir, kecuali dengan izinnya. (HR. Bukhari)
2. Secara Terminology
Makna Sya>hid juga memiliki maksud lain, yaitu memandang atau menyaksikan, yang mana esensi Syahi>d sendiri adalah apabila telah pada titik menyaksikan atau memandang sesuatu. Menurut Tafsir Fakhrur Razi, Asy- Syahi>d merupakan argument atau penjelasan seorang yang memberi kesaksian atas kebenaran agama Allah, baik dengan memakai tombak ataupun pedang.21
Secara garis besar, terminology Syahi>d lebih condong terhadap persaksian dalam peperangan. seperti halnya 4 madzhab yang mempunyai definisi makna Syahi>d sebagai berikut:
Pertama: Hanafiyah mengatakan, Syahi>d adalah orang yang dibunuh orang-orang musyrik atau didapati terbunuh dalam peperangan dan terdapat bekas luka, apa pun bentuknya apakah luka yang tampak atau yang tidak
20 An-Nawawi, Tahdzibul Asma’ wa Al-Lughat, (Lebanon: Darul Kutub Ilmiyah) jilid 3, 167
21 Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tafsri al-Fakhr al-Razi (Beirut: Dar al-Fikr,1981) jilid 5 180
25
seperti keluarnya darah dari mata atau yang semacamnya.22 Mereka juga mengatakan, semua orang yang meninggal dalam pertempuran melawan orang kafir, bughal atau perampok. Dengan kata lain orang yang meninggal karena musuh berarti Syahi>d. Secara langsung atau dengan perantara. Dan semua orang yang terbunuh dengan sebab bukan karena musuh maka tidak bisa dikatakan Syahi>d.
Kedua: Menurut Malikiyah, Syahi>d adalah orang yang gugur dalam peperangan melawan musuh. Meskipun ia gugur di negeri Islam ketika musuh menyerang orang-orang muslim, atau ia tidak sedang berperang seperti lupa atau sedang tidur, atau dibunuh orang muslim yang mengiranya orang kafir, atau terpijak kuda, atau senjata makan tuan, atau terjerumus dalam sumur atau terjatuh dari tempat yang tinggi saat berperang.
Ketiga: Golongan Syafi'iyah mengatakan, Syahi>d merupakan seorang yang gugur ketika berperang melawan orang kafir dengan berani, tidak melarikan diri. Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj, syahi>d adalah orang yang gugur dalam peperangan melawan orang kafir dengan berani dan tidak menjadi penghianat lari dari medan perang, dalam rangka menegakkan kalimatullah yang tertinggi dan agar simbol-simbol kekafiran terpuruk tanpa ada tendensi keduniaan.
Keempat: Menurut Hanabilah, Syahi>d merupakan orang-orang yang meninggal dalam peperangan melawan orqng-orang kafir, baik pria maupun wanita, sudah Baaligh atau belum, baik itu yang dibunuh oleh orang kafir
22 H. Muhammad Arif Rahman, L.C dan H. Muhammad Suharsono, Aksi Bunuh Diri tau Syahi>d, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kaustar, 2002) 56
26
atau senjatanya berbalik membunuhnya atau terjatuh dari kudanya atau didapati dalam keadaan meninggal meskipun tidak ada bekas terbunuh dengan syarat ia Ikhlas23.
Dari definisi Syahi>d di atas menunjukan bahwa, makna Syahi>d identik dengan menjadi saksi atas agama Allah dan di sertai dengan gugur nya dalam medan pertempuran melawan musuh. Padahal sebenarnya di dalam Al-Qur’an sendiri, kata Syahi>d banyak di bahas dengan konteks dan subjek yang beragam. Seperti halnya dalam surah An-Nisa>’ Ayat 41:
ِۗا ًدْي ِه َش ِءۤاَل ُؤ ٰٓه ىٰلَع َكِب اَنْئ ِجَّو ٍدْي ِه َشِب ٌٍۢةَّم ُ ا ِ ل ُ
ك ْن ِم اَن ْ
ئ ِج ا َذِا َفْيَكَف ٤١
Terjemahannya:
“Bagaimanakah (keadaan manusia kelak pada hari Kiamat) jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka?
(Q.S An-Nisa’: 41)24
Ibnu Katsir menafsirkan Allah Swt berfirman memberikan kabar tentang luar biasanya hari kiamat serta sulitnya urusan dan keadaannya.
Maka bagaimanakah urusan dan keadaan hari kiamat nanti, di saat didatangkan untuk setiap umat seorang saksi yaitu Nabi-nabi. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud, Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda kepadaku:
"Bacakan lah (Al-Qur’an) untukku!" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah! apakah aku membacakan Al-Qur’an untukmu. padahal Al- Qur’an diturunkan kepadaMu?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya, sesungguhnya aku- suka bila mendengarnya dari orang lain." Lalu aku membaca surat An-Nisa. Ketika bacaan ku sampai kepada firman-Nya:
23 Ibid,.57
24 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
27
Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (An-Nisa: 41) Maka Nabi Saw.
bersabda: Cukuplah sekarang! Ternyata kedua mata beliau berlinangan air mata.25
Telah di jelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Munafiqun Ayat 1 yang membahas konteks dan subjek yang lain dari kata Syahi>d:
ا َذ ِا َك َءۤا َج
َ ن ْو ُ
ق ِفٰن ُم ْ لا
ا ْو ُ لا ق َ ُد َه ْش َ
ن َكَّنِا
ُ ل ْو ُس َر َ
ل ِ ه
للّٰا ُ ه للّٰا َو ُم َ
ل ْعَي َكَّنِا ه ُ
ل ْو ُس َر َ ل
ِۗ
ُ ه للّٰا َو
ُد َه ْشَي ن ِا َّ
َنْي ِق ِفٰن ُم ْ ۚ َ لا
ن ْوُب ِذ ٰ ك َ
ل ١
Terjemahannya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadaMu (Nabi Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan- Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta. (Q.S Al-Munafiqun: 1)26
Dari penjelasan surat ini mengandung beberapa sifat orang munafik.
Di dalamnya disebutkan bahwa pernyataan mereka tidak konsisten dalam hal perkataan lisan, mereka menyebutkan bahwa dirinya sudah beriman, namun nyatanya tidaklah demikian. Disamping itu, demi menutupi dan melindungi mereka dari perkataan dan tuduhan kafir, mereka membuat sumpah palsu atas kebohongan yang telah mereka lakukan, dan supaya tidak mendapatkan hukuman.
Diterangkan pula bahwa mereka memilki keahlian dalam menyembunyikan sesuatu, tubuh yang indah serta postur yang menakjubkan
25 Ibnu katsir, Tafsir ibnu Katsir, terj. M.Abdul Gofar E.M (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2002) jilid 5, 312
26 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
28
serta kelihaian mereka dalam berucap sehingga sangat nyaman di dengar.
Meskipun begitu, hati mereka tidak ada sedikitpun keimanan. Seakan-akan mereka adalah kayu yang tersandar, tidak terdapat nyawa di dalamnya.
Surat ini juga menjelaskan situasi mereka tatkala diperintahkan agar Rasulullah Saw meminta Amnesti untuk mereka, dengan menyebutkan bahwa mereka selalu Arogan dan memperlihatkan penolakan untuk menerima.
Kemudian perbincangan berpindah kepada orang-orang munafik yang menganggap dirinya istimewa, sedangkan orang-orang beriman dianggap terhina dan mereka mengancam untuk mengusir orang mukmin setelah merka kembali ke Madinah. Juga telah di jelaskan, fakta kebenaran di antara kedua kelompok itu yang lebih istimewa. Di akhir bagian, surat ini memerintahkan kepada orang-orang beriman sebelum kematian datang menghampiri salah satu dari mereka, maka untuk segera berinfak di jalan Allah Swt. Karena jika waktu itu telah datang, mereka akan memohon dan meminta supaya ajalnya ditunda. Padahal jika ajalnya telah dating menjemput maka Allah tidak akan merubah nya sedikitpun. Apabila orang- orang munafik menghampiri mu, hai Muhammad, mereka berucap, "Kami bersaksi bahwa kamu benar-benar Rasul Allah." Allah menyaksikan bahwa kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah juga mengetahui bahwa orang- orang munafik itu berbohong dalam pengakuan bahwa mereka beriman kepadaMu. Sebab ucapan mereka itu tidak sesuai dengan hati mereka.27
27 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Cet 3 (Tangerang: Lentera Hati, 2005) Jilid 14, 241
29
Dari sini telah jelas bahwa Ayat ini menjelaskan tentang peringatan Allah akan kesaksian orang munafik yang membenarkan terhadap Nabi Muhammad adalah memang sebenar benarnya utusan Allah. Dalam ayat ini kata Syahi>d (Nasyhadu) di ucapkan oleh orang-orang munafik, dan kemudian Allah menggunakan kata Syahi>d (Yasyhadu) sebagai peringatan kepada Nabi Muhammad, untuk tidak dengan mudah mempercayai perkataan orang-orang munafik. Karena Allah sendiri yang akan bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar berdusta. Dengan begitu kata Syahi>d memiliki konteks dan subjek yang semakin luas dalam Al-Qur’an.
B. Kedudukan orang yang mati syahi>d
Kematian yang sangat istemewa adalah Ketika di takdir-kan mati dalam keadaan menjadi saksi atas agama Allah, dan hal itu mendapat porsi kedudukan tersendiri dari Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an telah di sebutkan beberapa ayat yang menyinggung tentang mati Syahi>d, Seperti halnya yang telah di jelaskan di dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 169-170
َۙ ن ْو َ ُ
ق َز ْرُي ْم ِهِ ب َر َدْن ِع ٌءۤاَي ْحَا ْلَب ِۗ اًتاَوْمَا ِ هللّٰا ِلْيِب َس ْيِف اْو ُ لِت ُ
ق َنْي ِذ َّ
لا َّنَب َس ْح َ ت ا َ
ل َو ١٦٩
ُ ق َح ْ لَي ْم َ
ل َنْي ِذ َّ
لاِب َ ن ْو ُر ِشْب َ
ت ْسَي َو َّٖۙهِل ْض َ ف ْن ِم ُ ه
للّٰا ُم ُهىٰت ٰ
ا اَمِب َنْي ِح ِر ف َ َۙ ْم ِه ِف ْ
ل َخ ْن ِ م ْم ِهِب ا ْو
نْوُن َزْح َ َ ي ْم ُه ا َ
ل َو ْم ِهْي َ
لَع ف ْو َخ ا ٌ َّ
ل َ ا ١٧٠
Terjemahannya:
Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum
30
menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.28
Mati Syahi>d meruapakan satu dari beberapa kemungkinan yang akan dilalui oleh para mujahidin. Ada yang meraih kemenangan, kesepakatan perdamaian atau Ghanimah. Tentunya tidak akan meraih keistimewaan Syahi>d jika ada klaim bahwa terdapat beberapa yang mati tidak karena berjihad ataupun berperang itu akan dikategorikan mati Syahi>d, akan tetapi sesungguhnya hanyalah sebuah perbandingan nilai pahalanya. Sedangkan dalam segi keutamaan tentu tetap berbeda.
Keutamaan mati Syahi>d disini hanya berlaku bagi orang-orang yang mati Syahi>d secara hakiki, dalam artian memang secara pasti mati di medan pertempuran suci, yakni Jihad Fi> Sabi>lilla>h.
Kemudian Allah memberikan begitu banyak keutamaan bagi orang-orang yang mati dalam keadaan Syahi>d, diantaranya:
1. Harum Darahnya
Orang yang berjihad dan kemudian gugur di medan peperangan yang sebenar-benarnya, darahnya akan mengalir dimana-mana. Pada umumnya orang akan melihat darah yang berceceran akan merasakan jijik dan risih. Padahal kelak di akhirat darah yang bercucuran di sekujur tubuhnya akan menjadi bau wangi yang sungguh semerbak. Oleh karena itu hal ini menjadi bagian dari keutamaan orang-orang yang berjihad dan
28 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
31
gugur di jalannya. Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam sabdanya:
“Tidaklah ada luka yang terluka di jalan Allah kecuali ia akan datang pada hari kiamat seperti keadaanya ketika ia terluka, lukanya akan berdarah dengan darah dan baunya seharum misik”.29 (HR. An-Nasai dan Ahmad)
Walaupun konteks dari hadits ini menerangkan perihal apa yang akan terjadi di hari kiamat nanti, akan tetapi pada faktanya sangat banyak kenyataan di era sekarang ini. Para mujahid yang mati Syahi>d, justru wangi semerbak akan mengiringi setiap aliran darahnya. Seperti contoh ketika orang- orang mukmin berjihad menyingkirkan Uni Sovyet di bumi Afghanistan, begitu banyak orang-orang yang jihad mendapati hal seperti itu. Semua menjadi pertanda dari Allah Swt yang maha pengasih, bahwa para mujahid memang benar telah menjadi Syahi>d di jalan Allah Swt.
2. Ditempatkan di Surga Firdaus
Kita semua mengetahui bahwa surga terdapat beberapa tingkatan, mulai dari tingkatan yang paling rendah hingga tingkatan yang paling tinggi, dan kenikmatannya pun juga berbeda beda. Hanyalah orang-orang terpilih yang menempati surga yang paling tinggi, seperti Nabi dan Rasul, yang. Akan
29 Musnad Ahmad, Ensiklopedi Hadist, no 8621
32
tetapi ada juga manusia pada umumnya yang bukan Nabi dan bukan Rasul tetapi menghuni surga yang paling atas. Yakni mereka yang gugur dalam posisi Syahi>d dan berjihad di jalan Allah Swt.30
3. Tetap Hidup di Sisi Allah
Seorang mujahid yang gugur di jalan Allah Swt, selain ruh nya di angkat dari raganya, menyisakan duka keluarga, namun sebenarnya para Syuhada>’ itu tidaklah mati sebagaimana umumnya orang meninggal dunia. Allah Swt menekankan bahwa para Syuhada> itu akan senantiasa hidup, akan tetapi kita tidak mengetahui persis posisinya, cukup Allah Swt saja yang maha tahu. Allah Swt juga menekankan bahwa para syuhada> itu tidak hanya hidup di semesta tertentu, namun para syuhada> juga diberikan kenikmatan Rizki yang luar biasa. Seperti yang telah dijelaskan2 kali di dalam Al-Quran tatkala Allah Swt berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqarah: 154) 31 Dan pada surat Ali Imran ayat 169:
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat Rizki. (QS. Ali Imran: 169) 32
30 Ahmad Sarwat, Lc., MA, Mati Syahi>d, (Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing) 26
31 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
32 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
33
Akan tetapi hal ini menimbulkan perbedaan pandangan ulama terhadap teknis bagaimana kehidupan orang-orang yang mati Syahi>d di sisi Allah tersebut. Namun terdapat satu alasan yang harus diyakini adalah bahwa para Syuhada>’ itu tidaklah benar- benar mati, namun mereka masih hidup pada tempat yang telah di sediakan oleh Allah Swt dengan istimewa tanpa seorang yang tau.
4. Diampuni Dosa-dosanya
Seorang Syuhada> mendapat fasilitas yang istimewa, yang mana semua dosa-dosa di dunia akan mendapat ampunan oleh Allah Swt. Allah Swt berfirman:
Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS.
Ali Imran: 157)33
Kemudian Rasulullah Saw bersabda: Diampuni bagi Syahi>d semua dosa kecuali hutang. (HR. Muslim). Para ulama menangkap kesimpulan bahwa allah hanya akan mengampuni dosa yang berhubungan dengan hak Allah. Tidak dengan hak- hak manusia atau huququl-’i>bad,
5. Ingin Mati Berulang-ulang
Para Syuhada> ternyata malah menikmati kematiannya, bahkan mereka ingin di cabut nyawanya berkali-kali. Tidak
33 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word
34
hanya itu mereka yang setelah mati, malah ingin Kembali kedunia namun dengan tujuan yang berbeda, yaitu ingin mati lagi. Demikianlah sabda Rasulullah Saw:
"Tidak seorang pun yang meninggal dunia, dan di sisi Allah ia memiliki kebaikan yang membuatnya bahagia, lalu ia ingin kembali ke dunia selain orang yang mati Syahi>d. Sesungguhnya ia berangan-angan untuk kembali (ke dunia) kemudian terbunuh lagi di dunia karena ia melihat keutamaan mati Syahi>d." (HR.
Muslim: 3488).34
6. Tetesan Darahnya di Cintai Allah
Setiap darah yang menetes dari para Syuhada> itu akan senantiasa dicintai Allah Swt. Terdapat dua jenis tetesan yang dicintai Allah Swt, yakni tetesan darah orang yang mati Syahi>d, serta tetesan air mata seorang yang takut kepada Allah Swt.
beliau Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah kecuali dua tetas air dan dua bekas; tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas karena di jalan Allah dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah." Ia berkata, "Hadits derajatnya hasan gha>rib." (HR. Tirmidzi: 1592).35
34 Syarh Shahih Muslim, Ensiklopedi Hadist, No 1877
35 Maktabatul al-Ma’arif Riyadh, Ensiklopedi Hadist, No 1669
35 7. Menikah dengan 72 Bidadari
Banyak orang yang menyebutkan bahwa para syuhada> itu kelak di surga akan mendapat 72 bidadari. Namun hal itu memang telah di sebutkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizy tentang enam keutamaan para Syuhada>
:“Rasulullah Saw bersabda: Orang yang mati Syahi>d di sisi Allah mempunyai enam keutamaan; dosanya akan dimaafkan sejak awal kematiannya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dijaga dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)36
8. Jasadnya kebal dimakan tanah
Meskipun telah lama di makamkan, jasad Para Syuhada>
tidaklah dimakan tanah, tetapi akan tetap sama seperti baru dimakamkan. Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah aku melihat diriku (menduga) melainkan aku akan menjadi orang yang pertama-tama gugur diantara para sahabat Nabi ﷺ (dalam peperangan ini) dan aku tidak meninggalkan sesuatu yang berharga bagimu sepeninggal ku melainkan diri Rasulullah ﷺ. Dan aku mempunyai utang, maka
36 Shahih Ibni Majah, Ensiklopedi Hadist, No 2849
36
lunasilah dan berilah nasihat yang baik kepada saudara- saudaramu yang perempuan". Pada pagi harinya kami dapati bapaku adalah orang yang pertama gugur dan dikuburkan bersama dengan yang lain dalam satu kubur. Setelah itu perasaanku tidak enak dengan membiarkan dia bersama yang lain, maka kemudian aku keluarkan setelah enam bulan lamanya dari hari pemakaman nya dan aku dapati jenazah bapaku masih utuh sebagaimana hari dia dikebumikan dan tidak ada yang berubah padanya kecuali sedikit pada ujung bawah telinganya". (HR. Bukhari: 1264).37
9. Memberi Syafaat ke 70 keluarganya
Para Syuhada> mendapatkan keutamaan dan keistimewaan khusus dari Allah Swt, yakni diberikan kelebihan untuk memberikan syafaat terhadap tujuh puluh keluarganya.
Rasulullah Saw bersabda:
“Rasulullah Saw bersabda: Orang yang mati Syahi>d di sisi Allah mempunyai enam keutamaan; dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dijaga dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan
37 Fathul Bari, Ensiklopedi Hadist, No 1351
37
diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 38
10. Sayap malaikat yang selalu melindungi
Para malaikat begitu hormat kepada Para. Penghormatan tersebut berbentuk sayap malaikat yang dibentangkan menaungi jenasah para Syuhada>. Seperti sabda Rasulullah Saw tatkala menyebutkan cara para malaikat memuliakan orang-orang yang mati Syahi>d pada saat perang Uhud. “Malaikat terus menaungi nya dengan sayapnya”. (HR. Bukhari Muslim).39
Pada umumnya orang yang di cabut ruhnya akan merasakan takut. Belum lagi akan berhadapan dengan malaikat yang perkasa. Tetapi para Syuhada> akan mendapatkan perlakuan yang ramah dari para malaikat, bahkan akan melindungi dengan sayap-sayapnya.
11. Tidak Merasakan Sakit
Meninggal di medan perang tentunya akan menyisakan banyak luka parah, ada yang terpotong tangannya, atau kakinya, bahkan terdapat juga para syuhada> dengan tujuh puluh tusukan mengeneskan di seluruh badanya. Logika kita akan berpikir bahwa para Syuhada> mati dengan merasakan sakit yang luar biasa. Namun hal itu malah bertolak belakang dengan logika manusi. sebagaimana Rasulullah Saw menjelasan dengan tegas;
38 Shahih Ibni Majah, Ensiklopedi Hadist, No 2849
39 Fathul Bari, Ensiklopedi Hadist, No 1293
38
tidaklah syahi>d merasakan tertimpa kematian kecuali seperti halnya seorang dari kamu merasakan terkena cubitan (H.R.
Tirmidzi)40
C. Jenis-Jenis Matis Syahi>d
Pada umumnya para ulama memilah syuhada> menjadi tiga jenis, yaitu Syahi>d secara hukum dunia dan akhirat, Syahi>d secara hukum dunia saja dan Syahi>d secara hukum akhirat saja.
1. Syahi>d Secara Hukum Dunia Dan Akhirat
Maksud dari perkataan ini adalah orang yang matu dalam peperangan, seperti yang terjadi pada masa kenabian yang mana dialami oleh para Syuhada> waktu itu. Sedangkan bagaiman dengan hukum mereka di dunia? jasad para Syuhada> ini tidak perlu dirawat seperti merawat mayit pada umumnya. Cukup dengan meshalati-nya dan dikuburkan dengan segala sesuatu yang masih menempel pada jasadnya. Karena hal itu akan menjadi saksi di akhirat nanti bahwa dirinya telah berjuang di jalan Allah. lalu kemudian di akhirat, balasan yang didapatkan begitu istimewa, yakni para Syuhada> di bawa masuk ke surga tanpa harus melalui proses hisab, kecuali terdapat ada hutang-piutang terhadap manusia.
40 Maktabatul al-Ma’arif Riyadh, Ensiklopedi Hadist, No 1668
39 2. Syahi>d Secara Hukum Dunia Saja
Mazhab Asy-Syafi’iyah memberikan contoh pada jenis mati Syahi>d ini.
Yaitu orang Islam yang mati karena berperang dengan tujuan pribadi sendiri. mengejar harta Gha>nimah. Atau terbunuh lantaran kabur menyelamatkan diri dari bahaya. Secara hukum dunia bisa dikatakan Syuhada>, dengan begitu jasadnya tidak dirawat pada umumnya orang meninggal, cukup di shalati serta dimakamkan lengkap dengan apa yang melekat pada tubuhnya. Kemudian di akhirat, perhitungannya akan menjadi keputusan Allah Swt.
3. Syahi>d Secara Hukum Akhirat Saja
Jenis mati Syahi>d yang ini jika dilihat dari hukum di dunia tidak dikategorikan sebagai Syuhada>, akan tetapi di akhirat Insyallah dikumpulkan Bersama para Syuhada>. Maka dari itu badanya tetap di mandikan, di kafani seperti pada umumnya. Kemudian di akhirat, mereka akan disebut sebagai Syuhada> juga. Dasarnya pendpaat ini mengacu pada sabda Rasulullah Saw “Orang yang mati Syahi>d itu ada lima, yaitu orang yang terkena tha’un (wabah), terkena sakit di perut, orang yang tenggelam, tertimpa bangunan, dan Syahi>d fi sabilillah (perang). (H.R, At-Tirmizy)
D. Syarat Mati Syahi>d
Di balik keutamaan mati Syahi>d yang sudah dijelaskan di sebelumnya, tentu ada juga syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang yang ingin mati Syahi>d. Jangan sampai ada yang berpikir, yang mati
40
dibunuh, lantas otomatis sudah jadi Syahi>d. Jelas ini pemikiran yang keliru dan rancu perlu diluruskan agar tidak salah persepsi.
1. Jihad Melawan Orang Kafir
Dalam konteks ini yang dimaksud dengan orang kafir adalah perang memusuhi kafir harbi, yang mana pada dasarnya adalah perang secara resmi di komando kan karena terdapat perpecahan. Sedangkan apabila peperangan dilakukan sesama muslim atas dasar kepentingan perseorangan ataupun kelompok maka tidak di sebut sebagai mati Sayhi>d. Semacam ini telah disinggung oleh Rasulullah Saw:
Dari Abu Bakrah Nafiq bin Al-Harits, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Bila dua pihak muslim bertemu (saling berbunuhan) dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka. Aku bertanya, "Ya Rasulullah Saw, wajar masuk neraka bagi yang membunuh, tetapi bagaimana dengan yang dibunuh?".
Beliau menjawab, "Yang dibunuh masuk neraka juga, karena dia pun berkeinginan untuk membunuh lawannya". (HR. Bukhari dan Muslim) 41
Dengan begitu cukuplah jelas tentang Hadist di atas, yang mana kedua duanya akan mendapatkan balasan dari Allah Swt yakni berupa siksa. Baik yang membunuh ataupun yang terbunuh, karena semua umat muslim adalah saudara bahkan memerangi orang kafir yang memenuhi haknya terhadap peraturan juga tidak diperbolehkan oleh Allah Swt.
41 Musnad Penduduk Kufah, Ensiklopedi Hadist, No 18845
41 2. Jihad Resmi Program Negara
Satu komando dalam berjihad, hal itu yang dilakukan oleh Rasulullah Ketika hendak melakukan jihad perang. Demikian pula para sahabat setelah Rasulullah Ketika memimpin, tidak ada peperangan yang ilegal tanpa suatu komando dan tujuan yang jelas di sepakati Bersama. Semua merupakan jihad yang sifatnya resmi, legal dan sah.
Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menekankan bahwa jihad tidak disukai tanpa ada izin dari imam, atau amir dari suatu pemerintahan yang sah. Karena kewajiban mendapatkan izin dari imam ada dua hal. Yang pertama jihad wajib sesuai dengan kebutuhan, Imam atau amir merupakan orang yang paling tahu yang paling dibutuhkan.
Kedua, pada intinya jihad merupakan tanggung jawab dari imam.
apabila rakyat hendak berjihad, minimal mereka memperoleh izin dari imam mereka terlebih dahulu.
3. Jihad Bukan Bughat
Jihad yang tidak mendapatkan izin resmi dari pemerintah maka tidak bisa dikategorikan sebagai jihad yang jika seorang gugur akan menjadi Sayhi>d. Maka dari itu pergerakan makar bahkan para pemberontak serta kelompok penjahat yang justru memusuhi negara, mereka sudah pasti tidak bisa disebut dengan jihad. Dan kalau sampai ada yang mati, kematiannya bukan mati Syahi>d yang dibenarkan.
Bahkan orang-orang yang seperti itu darahnya halal untuk di bunuh.
Bughot merupakan Bahasa Fiqh yang memiliki maksud memberontak