BAB III KH. BISRI MUSTAFA DAN TAFSIR AL IIBRIZ
A. Profil KH. Bisri Mustafa
2. Pendidikan
Pemikiran seseorang tidak akan terlepas dari riwayat pendidikannya, dimana ia dulu belajar, dididik dan siapa guru yang mendidik nya. KH. Bisri Mustafa merupakan ulama yang berlatar belakang pesantren, ia juga pernah menimba ilmu dan berguru di Saudi Arabia. Keilmuan Bisri Mustafa dapat dibuktikan dari karya-karya beliau yang sampai saat ini masih eksis di kalangan masyarakat Indonesia. Seperti halnya kitab tafsir karangan beliau yakni Al-Ibri>z li ma’rfati tafsi>r al-Qur’a>n al- ‘azi>z.
Di awal pendidikannya KH. Bisri Mustafa di daftarkan oleh H. Zuhdi ke sekolah HIS (Hollans Inlands School) yang berada di kabupaten Rembang Jawa tengah, yang mana saat itu ada 3 kategori sekolah. yaitu:
1) Sekolah Jawa atau bisa dikenal “Sekolah Ongko loro”. Sekolah ini memiliki biaya yang paling murah yakni Rp. 0,1, sampai Rp. 1,25. para muridnya juga dari kalangan anak petani, buruh, pedagang kecil dan anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi lainnya
2) Hollans Inlands School atau biasa di singkat dengan istilah HIS.
Kategori dari sekolah ini merupakan kelas menengah, dimana para siswa
46
nya meraupkan anak dari PNS yang memiliki pemasukan yang pasti.
Biayanya lebih tinggi dari sekolah ongko loro, berkisaran Rp. 3 - Rp. 7.
3) Eropese School. Merupakan yang paling favorit dari kedua sekolah di atas, yang mana para siswa nya merupakan anak dari para priayi dan anak bupati dan pejabat-pejabat terkemuka dalam pemerintahan kala itu46.
Tidak lama berselang Bisri Mustafa kecil yang semula bersekolah di HIS (Hollands Inlands School) di Rembang Jawa Tengah, KH Cholil menilai sekolah HIS adalah sekolah propaganda dari penjajah belanda, maka kemudian Bisri Mustafa di paksa untuk pindah ke sekolah ongko loro dan lulus pada tahun 1926. Setelah itu Bisri Mustafa di perintahkan oleh H.
Zuhdi untuk menimba ilmu di pondok pesantren asuhan KH. Cholil yang berada di Kasingan. Awal kali berada di pesantren Bisri Mustafa tidak menunjukan hasil belajar yang bagus, malah begitu mengecewakan, karena pada masa kecilnya beliau tidak suka mengaji, karena lebih memilih untuk berbisnis dan bekerja untuk mendapatkan uang.
Namun hal itu tidaklah berlangsung lama, Bisri Mustafa kemudian sadar bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban, dan beliau Kembali melanjutkan belajarnya di pesantren KH. Cholil. Dari sini Bisri Mustafa menemukan jati dirinya dalam menuntut ilmu, beliau sangat kehausan akan ilmu, sempat berpindah ke pondok pesantren Tebu Ireng jombang asuhan
46 Achmad Zainal Huda, Mutiara Pesantren Perjalanan Khidmah Bisri Mustafa, Cet 1 (Yogyakarta: LKIS, 2005) 10-11
47
KH. Hasyim Asy’ari dan kemudian melanjutkan studi di Makkah untuk memperdalam ilmu seperti fiqh, tafsir, hadist dan yang lainnya. Adapun guru dari KH. Bisri Mustafa adalah47:
a. KH. Bakir. Seorang guru dari Bisri Mustafa yang mengajarkan kitab-kitab tafsir seperti karya Syaikh al-Islam Abi Yahya Zarkasyi yaitu Hubb al- Us}hu>l dan karya Muhammad bin Ayyub dengan kitab Umdat al-Abra>r dan jugs kitab karya Zamakhsyari (Tafsir al-Kasya>f)
b. Syaikh ‘Ali Maliki, kepadanya KH. Bisri Mustafa mempelajari kitab karangan Imam Jalaludin Al-Suyutit yakni Al-Asyba>h wa an-Nadho>ir dan kitab karangan an-Nisabury yakni al-Hajja>j al-Qusyairi>
c. Syaikh Umar Khamdan, seorang guru hadist Shahi>h Bukhari> dan Shahi>h KH. Bisri Mustafa.
d. Sayyid Amin, seorang guru ahli Nahwu yang mana KH. Bisri Mustafa belajar kitab karangan Ibnu Malik dengan kitabnya yang fenomenal yakni Alfiyah Ibnu ‘A>qil karya.
e. Sayyid ‘Alwi Al-Maliki, Bersama beliau K.H Bisri Mustafa men-telaah kitab karangan dari Imam jalauddin Mahalli dan Imam jalaluddin Al-Suyuti yakni Kitab Tafsir Jala>li>n.
f. Syaikh Hasan Masyayath, dengan beliau KH. Bisri belajar untuk memperdalam kitab karangan karya Syaikh Mahfudz Al-Tirmasi. Yang bernama Manhaj Dzawi al-Nadzar.
47 Fejrian Yazdardjid Iwanebel, “Corak Mistis dalam Penafsiran KH. Bisri Mustafa”, (Jurnal Rasail, Vol. 1, No. 1, 2004) 25-26
48
Setelah puas mencari ilmu beberapa bulan di Makkah, kemudian KH. Bisri Mustafa di panggil oleh KH. Cholil untuk di nikahkan dengan putrinya yang Bernama Ma’rufah. Bertepatan pada 17 rojab (Juni 1935)48 Dari pernikahan tersebut Bisri Mustafa mempunyai delapan orang anak yaitu: Chalil lahir 1941, Mustafa lahir 1943, Adib lahir 1950, faridah lahir 1952, Najihah lahir 1955, Labib lahir 1956, Nihayah tahun 1958, dan Atikah lahir 1964. Kemudian berselang waktu berjalan KH. Bisri Mustafa Umi Atiyah yang berasal dari tegal Jawa Tengah dan dari pernikahannya diberikan oleh Allah anak laki-laki yang di beri nama Maemun49.
3. Perjuangan dan Karir KH. Bisri Mustafa
KH. Bisri Mustafa adalah pendiri pondok yang cukup terkenal di Kabupaten Rembang, yakni Pondok Pesantren Roudlotut Thalibin yang berlokasi di leteh Kabupaten Rembang Jawa Tengah. KH bisri Mustafa merupakan kiai dan ulama yang memiliki pengaruh yang luar biasa di kalangan masyarakat sekitar Rembang, tak khayal banyak masyarakat yang merasa cocok dengan gaya penyampaian dakwah ala KH Bisri Mustafa sehingga menjadikan beliau menjadi Ulama yang karismatik, bahkan KH Bisri Mustafa selain mengajar pengajian para santri juga mengadakan pengajian untuk masyarakat awam, sehingga menjadikan pemikiran masyarakat yang terus berkembang dalam keilmuan agamanya50.
48 Ibid.,19-20
49 Ibid., 22
50 Ahmad Bisri Dzalieq, “K.H. Bisri Mustafa dan perjuangannya”, Skripsi (UIN Sunan Kalijaga:
2008)3-4
49
Dalam hal keorganisasian KH Bisri Mustafa merupakan anggota dari Masyumi, yakni organisasi pengganti MIAI yang mana anggotanya merupakan kumpulan dari organis sasi masyarakat islam seperti NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas lainnya. Namun MIAI di bubarkan Ketika pemerintahan jepang menduduki Indonesia.51
Tidak lama Masyumi berdiri, jepang mendirikan sebuah kantor yang di khususkan tentang keagamaan atau dahulu sering di sebut dengan istilah Sumubu. Seperti saat sekarang Kantor Urusan Agama memiliki pusat dan juga cabang-cabang di setiap daerah, yang mana KH Hasyim Asya’ari sebagai pimpinan pusat di bantu putranya KH. Wahib Hasyim. Kemudian di daerah Rembang sendiri juga telah di dirikan sebagai cabang di setiap daerah, yang dalam hal ini di pimpin oleh KH. Abdul Manan dan di bantu oleh KH. Bisri Mustafa. Selain di setiap daerah, terdapat juga kantor di setiap Keresidenan. Namun dengan begitu jepang tetap mengawasi dengan ketat pergerakan demi pergerakan yang dilakukan oleh orang-orang islam dalam berorganisasi, yang mana disebut dengan Sidoin.52.
4. Karya-Karya KH. Bisri Mustafa
Berawal Pada tahun 1949 hingga tahun 1950 KH. Bisri Mustafa memulai untuk menjadi penulis. Pada masa itu KH. Bisri Mustafa sempat menjadi Tahanan selama kurang lebih satu tahun, di dalam penjara KH Bisri Mustafa mencoba untuk memenuhi kebutuhannya lewat tulisan tulisan yang
51 Luqman Chakim, “Tafsir Ayat – ayat Nasionalisme dalam Tafsir Al-Ibri>z Karya KH Bisri Mustafa”, Skripsi (Semarang, Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2014) 57
52 Achmad Zainal Huda, Mutiara Pesantren Perjalanan Khidmah Bisri Mustafa, (Yogyakarta:
LkiS, 2005) 58
50
beliau kirimkan kepada penerbit di Surabaya, hal ini guna untuk membayar denda dari proses tahanan itu sendiri sebesar Rp.6000 dan KH. Bisri Mustafa di bayar oleh penerbit sebesar Rp.8000.
Dari 176 judul buku yang di tulis oleh KH Bisri Mustafa terdapat beberapa bidang yang secra umum lebih banyak di bahas, seperti halnya ilmu akhlak, hadist, nahwu, shorof hingga tafsir dan fiqh. Tidak semua berbahasa sama seperti Kitab Tafsir Al-Ibri>z karangan beliau. Adapun diantara karya KH. Bisri Mustafa adalah53
a) Karya kitab tafsir
1. Tafsir al - Ibri>z fi Ma’rifat Tafsi>r Al-Qur’an al- ‘Azi>z 2. Al-Iktsir (Ilmu tafsir)
b) Karya kitab aqidah
1. Buku Islam dan Tauhid
2. Aqidah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah 3. al - ‘Aq i> dah al - ‘Aw a> m
c) Karya kitab Hadist
1. Terjemahan kitab hadits Arba’i>n an– Nawawy 2. Terjemahan kitab Bulu>gh al - Mar a>m
3. al - Baiqu>niyyah d) Bidang Fikih
1. Safînah al-Shalat
53 Ibid., 69-74
51 2. Al-Qawa>’id al-Fiqhiyyah 3. Manasik Haji
e) Bidang Ilmu Bahasa
1. Terjemahan Syarah Alfiyah ibnu Malik 2. Terjemahan Syarah al-Jurumiyah 3. Terjemahan Syarah ‘Imrithi>
f) Bidang-bidang Islam lainnya:
1. Al-Khabibah
2. A-Muja>hadah wa al-Riya>dhah 3. Syair-Syair Rajabiyah
4. Risâlat al-Ijtiha>d wa al-Taqli>d
5. Al-Ta’li>qa>t al-Mufi>dah li al-Qashi>dah al-Munfarijah 6. Islam dan Keluarga Berencana
7. Al-Risa>lat al-Hasana>t
8. Al-Washa>ya> li al-Aba>’ wa al-Abna>’
9. Kasykul
10. Atho>if al-Irsya>d 11. Al-Nabra>s
12. Muniyah al-Zama>n
13. Cara-caranipun Ziyarah lan Sinten Kemawon Walisongo Puniko
14. Terjemahan Sullam al-Mu’awwanah 15. Terjemahan kitab al-Fara>idh al-Bahiyah