• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mati di Saat Berjihad dengan cara Berdakwah Di Jalan Allah

Dalam dokumen MAKNA PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTAFA DALAM (Halaman 77-85)

BAB IV PENAFSIRAN AYAT SYAHI>D PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTAFA

B. Klasifikasi Sebab-sebab Mati Syahi>d

3. Mati di Saat Berjihad dengan cara Berdakwah Di Jalan Allah

74

menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati Syahi>d di jalan Allah.”

(HR. Bukhari)88

Selain itu Dari Jabir bin ‘Atik , Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang mati Syahi>d yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah Syahi>d, mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah Syahi>d, yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah Syahi>d, mati karena penyakit perut adalah Syahi>d, korban kebakaran adalah syahi>d, yang mati tertimpa reruntuhan adalah Syahi>d, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya.) adalah Syahi>d.” (HR. Abu Daud)

3) Mati di Saat Berjihad dengan Cara Berdakwah DiJalan Allah

75

Rasulullah bersabda: “Kita baru kembali dari jihad kecil (peperangan) kepada jihad yang lebih besar. Ingatlah yaitu jihad mengendalikan nafsu”. Berjihad di jalan Allah pada dasarnya merupakan kewajiban setiap muslim sesuai dengan kesanggupan dan kemampuan masing-masing, dan setiap orang Islam pada hakikatnya memiliki kesempatan untuk berjihad dalam pengertian yang luas seperti yang telah dikemukakan. Berjuang di jalan Allah dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan, dan pemikiran (Jihad Intelektual)90

Di dalam surat Al-Furqan ayat 52 di sebutkan:

ا ًرْيِب َ

ك ا ًدا َه ِج ّٖهِب ْم ُه ْد ِها َجَو َنْي ِرِف ٰ ك ْ

لا ِع ِط ُت ا َلَف ٥٢

Terjemahannya:

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)91

Dalam Tafsir Al-Ibri>z di jelaskan:

(Mulo siro sabaro) siro ojo nuruti wong kafir, lan wong-wong iku perangono sarono al-Qur‟an – (waca‟no ayat-ayat kang nyebut larangan-larangan lan ancaman-ancaman) (perangono) sarono perangan kang gede (ateges sarono hujjah-hujjah).92

KH. Bisri Mustafa menafsirkan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an mengandung kekuatan dan pengaruh, kesan yang dalam serta daya tarik yang tak dapat dilawan manakala ia telah menggerakkan kalbu manusia

90 Munawar Ahmad Anes, Wajah-Wajah Islam, Editor Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies (Bandung, Mizan 1992) 113.

91 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word

92 Mustafa Bisri, al-Ibri>z, hlm. 349

76

dan mengguncangkan roh mereka dengan guncangan yang keras.

Lantaran itu pemuka-pemuka Quraisy berseru kepada khalayak ramai,

“Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur’an ini dan lupakan lah agar kalian menang”. Kalimat itu menunjukkan secara pasti ketakutan dan kepanikan dalam hati pemuka Quraisy dan pengikut-pengikutnya dari pengaruh Al-Qur’an. Para pemuka Quraisy tidak akan mengucapkan kalimat tersebut jika mereka tidak terpengaruh oleh Al-Qur’an dan tidak memperingatkan kaumnya dengan peringatan yang demikian tegas.93

Al-Qur’an mengandung kebenaran yang fitri. Ketika hati bersentuhan dengan sumber yang murni, ia akan sulit untuk mengelak.

Maka tidak mengherankan jika Allah memerintah Nabi-Nya untuk tidak mengikuti orang-orang kafir dan tidak mengesampingkan dakwahnya sendiri, serta memerintahkannya untuk berjihad menghadapi orang-orang kafir itu dengan senjata Al-Qur’an. Karena sesungguhnya ia berjihad dengan kekuatan yang tak tertandingi oleh kekuatan manusia dan tak terbantahkan94

Dalam penafsiran salah satu ayat Al-Qur’an KH. Bisri Mustafa telah menyebutkan:

wong wong kang kepingin ngijolke keenakan donyo, kelawan keenakan akhirat, kudu wani perang kanthi niat ngagungake agamane allah ta’ala. Sing sopo wonge perang sabilillah, moko

93 Muhammad Chirzin, ihad Menurut Sayid Qutub Dalam Tafsir Zhilal (Solo, Era Intermendia 2001) hlm. 156-157

94 Ibid.,158

77

dipateni, utowo menang, wong mau bakal oleh ganjaran kang agung

Yang artinya segala sesuatu Tindakan jihad di jalan allah harus pula di landasi dengan niat bersungguh sungguh karena Allah, karena pada dasarnya Syahi>d Nya seseorang akan sangat menentukan tatkala dia berniat sungguh-sungguh atau tidak.

4) Mati di Saat Menuntut Ilmu

Imam Thabarani dalam kitabnya Al-Kabir meriwayatkan dari Bakir bin Ma’ruf dari Al-Qamah, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Bagaimana halnya dengan kaum-kaum yang tidak memberi pelajaran kepada tetangga-tetangga mereka, tidak menasehati mereka, tidak menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan bagaimana halnya dengan kaum-kaum yang tidak belajar dari tetangga-tetangga mereka, tidak mengambil pelajaran dan tidak mengambil nasehat. Demi Allah, Allah berfirman:

َ ف ِۗ ًةَّفۤاَك اْو ُرِفْنَيِل َنْوُنِم ْؤُم ْ لا َ

نا َ

ك ا َم َو ۞ ٌة َ

فِٕىۤا َط ْم ُهْن ِ م ٍة َ ق ْر ِف ِ ل ُ

ك ْن ِم َر َ فَن ا َ

ل ْو َ ل ࣖ ن ْو ُر َ َ

ذ ْح َ ي ْم ُه َّ

ل َع َ ل ْم ِهْي َ

ل ِا ا ْو ُع َج َر ا َذِا ْمُهَمْوَق اْو ُر ِذْنُيِلَو ِنْي ِ دلا ىِف اْوُهَّقَفَتَيِ ل ١٢٢

Terjemahannya:

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya

78

apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. 95

Dalam tafsir Al-Ibri>z di jelaskan:

Sak wuse ono ayat tumurun kang surasa maido marang wong-wong kang ngeri ora melu berangkat perang, nuli ing siji waktu kanjeng nabi ngirimke pasukan, umat islam tumplek bleg karepe arep nderek kabeh, nuli ayat iki tumurun, wong-wong mukmin ora prayogo berangkat kabeh. Sebagian kudu ono kang berangkat perang, Sebagian maneh kudu ono kang kendel tetep ono ing Madinah, supoyo golongan kang tetep ono ing Madinah biso mempelajari agama nuli biso nggethik tularake ngilmune marang golongane kang podho berangkat perang, mengko Sawuse podho kundru kareben/supoyo podho ngerti perintah-perintahe allah lan cegahan-cegahane allah ta’ala sehinggo biso podho netepi perintah-perintah lan wedi saking ngelakoni cegah. (Faidah) Istilah ghozwah lan sariyyah iku mengkene:

pasukan perang kanjeng nabi milu nindaake dhewe iku arane ghozwah, dene kang kanjeng nabi ora nindakake dewe arane sariyyah. Sajerone kanjeng nabi ono ing Madinah sepuluh tahun, ghozwah-ghozwah kedadean kaping pitu likur, dene sariyyah-sariyyah kedaden kapeng patang puluh pitu. Saweneh qoul ngarani mengkene: pasukan kang anggotane punjul sangking satus tumeko limang atus, di sebut sariyyah. Punjul saking limangatus hinggo wolongatus di sebut mansard. Punjul saking wulung atus hinggo patang ewu, di sebut jaisy. Punjul saking patang ewu, di sebut: jahfal. Wallahua’lam96

Dalam kitab At-Targhib wat Tarhib menuliskan sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Thabrani: “Barang siapa yang kedatangan ajal dan dia sedang menuntut ilmu, maka dia akan bertemu Allah ﷻ (dengan derajat tinggi) di mana tidak ada lagi jarak antara dia dan Para Nabi melainkan satu derajat kenabian.”

95 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word

96 Mustafa Bisri, al-Ibri>z, hlm. 309

79

Maksudnya orang yang meninggal ketika sedang menuntut ilmu maka ia memperoleh derajat yang sangat tinggi dihadapan Allah. Ia hanya selisih satu derajat di bawah Para Nabi: Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan AthThabrani).

Menuntut ilmu adalah salah satu jalan Allah. Muadz bin Jabal r.a. berkata: Hendaklah kalian menuntut ilmu, karena mempelajarinya semata karena Allah membuat orang takut kepada Allah, mengkaji nya adalah ibadah, mendiskusinya adalah tasbih, dan pergi mencarinya adalah jihad. Ka’ab Al-Ahbar berkata:

“Penuntut ilmu adalah mujahid yang pergi siang dan petan hari di jalan Allah Azza wa Jalla”. Disebutkan dari sebagian sahabat:

Barang siapa didatangi kematian pada saat menuntut ilmu, ia meninggal dalam keadaan Syahi>d.97

Kemudian dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga kembali (HR. Tirmidzi)98. Hadits ini menjelaskan bahwa menuntut ilmu dinilai sama seperti berjihad atau berjuang di jalan Allah bahkan bila sesorang meninggal dunia saat mencari ilmu dia akan mendapatkan surga nya Allah karena dinilai sama dengan mati Syahi>d.

97 Fathul Bari, Ensiklopedi hadist, no 1754

98 Maktabah Al-Ma'arif, Ensiklopedi Hadist, versi Al-Alamiyah: 2936

80

5) Mati membela tanah air mengusir penjajah dzolim

Sebagaimana yang telah di sebutkan di dalam QS. At-Taubah ayat 41

ْم ُ كِل ٰذِۗ ِ ه

للّٰا ِلْيِب َس ْيِف ْم ُ ك ِس ُ

فْن َ ا َو ْم ُ

كِلا َو ْم َ

اِب ا ْو ُد ِها َجَّو اًلاَقِثَّو اًفاَف ِخ اْو ُرِفْنِا ْمُت ن ْ ُ

ك ْ ن ِا ْم ُ

ك َّ

ل ٌرْي َخ

َ ن ْو ُم َ ل ْعَت ٤١

Terjemahannya:

Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat Dan berjuanglah kamu dengan harta dan jiwa kamu pada jalan Allah. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu termasuk orang-orang yang berpengetahuan 99

KH. Bisri Mustafafa menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

Ayo berangkat !!! entheng, abot, berangkat ayo podo jihato siro kabeh kanthi bondho-bondho iro lan jiwo rogo iro kabeh ingdalem ngegungake agamane Allah ta’ala. Mengkono iku bagus. Yen siro kabeh podo weruh, ojo podo kabotan100.

Penafsiran tersebut berarti bahwa dalam keadaan ringan maupun berat kita harus berangkat untuk Berjihad (melawan) terhadap musuh-musuh yang telah memerangi kita, baik dengan harta maupun jiwa. Ini merupakan sikap patriotisme dalam mempertahankan hak-haknya.

Dalam konteks dalam menghadapi penjajah. Sikap Patriotisme (Nasionalisme) sangat diperlukan bagi rakyat untuk melawan penjajah. Karena dalam hal ini rakyat sangat terusik sekali dengan kedatangan penjajah.

99 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word

100 Bisri Mustafa, Tafsi>r al-Ibri>z Li Ma’rifati Tafsi>r Al-Qur’a>n Al- ‘Azi>z (Kudus: Menara Kudus 2015) 296

81

Firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8-9:

َو ِنْي ِ دلا ىِف ْم ُ كْو ُ

لِتا َ قُي ْم َ

ل َنْي ِذ َّ

لا ِن َع ُ هللّٰا ُمُكىٰهْنَي اَل ْم ُ

كِراَيِد ْنِ م ْم ُ

كْو ُجِر ْخ ُي ْمَل َنْي ِط ِس ق ُم ْ ْ

لا ُّب ِح ُ ي َ ه

للّٰا َّ

ن ِا ِْۗم ِهْي َ

ل ِا ا ْو ُط ِس قُت َو ْم ُه ْو ُّرَبَت ْ ن ْ َ ا ٨

ُم ُ

كى ٰهْنَي اَمَّنِا ىٰٓلَع ا ْو ُر َها َظ َو ْم ُ

كِراَيِد ْنِ م ْم ُ

كْو ُج َر ْخ َ

ا َو ِنْي ِ دلا ىِف ْم ُ كْو ُ

لَتا َ ق َنْي ِذ َّ

لا ِن َع ُ هللّٰا ْخ ِا

َ ن ْو ُم ِل هظلا ُم ُه َكِٕىٰۤلوُاَف ْمُهَّلَوَتَّي ْنَمَو ْۚم ُهْوَّلَوَت ْنَا ْمُك ِجا َر ٩

Terjemahannya:

Allah tidak melarang kalian umat Islam kepada orang-orang non muslim yang tidak memerangi kalian dalam (persoalan agama) dan tidak mengusir kalian dari rumah kalian untuk berbuat baik dan adil kepada mereka, sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat keadilan (8). Yang Allah larang ialah untuk berbuat asih kepada mereka (orang-orang non muslim) yang memerangi kalian dalam urusan agama dan terang-terangan mengusir kalian, orang-orang (muslim) yang berbuat asih dengan mereka adalah merupakan orang-orang dzalim. 101

”KH. Bisri Mustafa menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

Allah ta’ala ora nyegah siro kabeh sangking embagusi wong-wong kafir kang ora merangi siro kabeh ingdalem sual agomo – lan ora ngusir siro kabeh sangking kampung-kampung iro kabeh- lan ugo sangking tuminda’ ‘adil marang wong-wong kafir mau –temenan Allah ta’la iku demen wong-wong kang podo ‘adil”. (tanbihun) ayat iku dimansukh sarono ayat “haytsu ilmusyrikin” wallahu a’lam. “Namung Allah ta’ala iku nyegah siro kabeh sangking embagusi wong-wong kafir kang podo merangi siro kabeh ingdalem soal agomo, lan podo ngusir siro kabeh sangking kampung-kampung iro kabeh. Lan podo bantu-membantu kanggo ngusir siro kabeh, Allah ta’ala nyegah siro kabeh subatan karo

101 Terjemah Qur’an Kemenag, Microsoft Word

Dalam dokumen MAKNA PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTAFA DALAM (Halaman 77-85)

Dokumen terkait