DUKUNGAN KEMENTERIAN PU
DUKUNGAN KEMENTERIAN PU
DUKUNGAN KEMENTERIAN PU
DUKUNGAN KEMENTERIAN PU
DALAM PENYEDIAAN
DALAM PENYEDIAAN
INSFRASTRUKTUR PEKERJAAN
INSFRASTRUKTUR PEKERJAAN
UMUM DAN PERMUKIMAN
UMUM DAN PERMUKIMAN
DI
DI SUMATERA UTARA
SUMATERA UTARA
Disampaikan
Disampaikan dalam
dalam Arahan
Arahan Penyusunan
Penyusunan RKPD 2014
RKPD 2014
Provinsi
Provinsi Sumatera Utara
Sumatera Utara
Medan,
Medan, 3 April 2013
3 April 2013
KEMENTERIAN
KEMENTERIAN PEKERJAAN
PEKERJAAN UMUM
UMUM
SEKRETARIAT
AGENDA
1. KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PU
DAN PERMUKIMAN
DAN PERMUKIMAN
2. ARAH PEMBANGUNAN WILAYAH DAN POSISI PROVINSI
SUMATERA UTARA
3. ISU STRATEGIS SUMATERA UTARA
4 RENCANA PEMBIAYAAN KEGIATAN PRIORITAS SUMATERA UTARA
4. RENCANA PEMBIAYAAN KEGIATAN PRIORITAS SUMATERA UTARA
TA. 2013 DAN RENCANA TA 2014
5. HAL HAL YANG MEMERLUKAN PERHATIAN
KEBIJAKAN DAN STRATEGI BIDANG PU & PERMUKIMAN
DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL
1
K
K
Aksesibilitas Barang/Penumpang Ketahanan Pangan PERTUMBUHAN PERTUMBUHAN Jalan dan Jembatan Irigasi dan Rawa Jalan Toll/Akses KawasanK
E
M
A
E
S
E
J
R
Ketahanan Pangan Investasi & Eksport Penanggulangan Kemiskinan, Peningkatan EKONOMI EKONOMI Produksi, Industri & Pelabuhan PNPM Mandiri: Pengendalian BanjirK
M
U
R
J
A
H
T
A
K
Y
A
KEBIJAKAN UMUM
Pro Poor
Pro Growth
Pro Job
P G
Kesempatan Kerja KESEJAHTERAAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MASYARAKAT PNPM Mandiri: P2KP PPIP RISE Pamsimas Sanimas Pembangunan Berbasis Pemberdayaan MasyarakatR
A
N
E
R
A
A
A
T
Pro Green
Kesenjangan Wilayah, Dukungan terhadap Kawasan Perbatasan Terpencil & Terisolir Sanimas Air Minum & Sanitasi Manajemen Persampahan Perbaikan Lingkungan Permukiman&
A
N
PENINGKATAN PENINGKATAN KUALITAS KUALITAS Green Construction Pembangunan BerbasisPenataan Ruang RTRWN, RTRW Pulau, RTRW
Permukiman PSD PU untuk MBR
Pada Wilayah:
1. Perkotaan 2. Perdesaan 3. Terisolir/Terpencil KUALITAS KUALITAS LINGKUNGAN LINGKUNGAN Penataan Ruang Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Pengendalian Banjir RTRWN, RTRW Pulau, RTRW Provinsi dan RTRW Kab/Kota 3. Terisolir/Terpencil 4. Perbatasan 5. Kampung NelayanKEBIJAKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
PU DAN PERMUKIMAN TAHUN 2014
Tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2014 :
“Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan yang Berkeadilan”
yang memiliki dimensi penguatan perekonomian domestik serta keseimbangan pembangunan
sektor lainnya
y
Arahan Menteri Pekerjaan Umum
dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan dan pemrograman tahun 2014 dan
meningkatkan kemanfaatan infrastruktur PU dan permukiman yang terbangun
meningkatkan kemanfaatan infrastruktur PU dan permukiman yang terbangun:
1. Pembangunan bidang PU dan Permukiman pada hakekatnya adalah untuk mendukung
tercapainya sasaran pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan peningkatan
pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas
pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas
lingkungan menuju terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan.
2. Dalam menyusun program dan kegiatan 2014, hendaknya fokus pada sasaran program dan
kegiatan yang merupakan penyelesaian target RPJMN 2010‐2014, ditambah dengan kebijakan
4
g
y g
p
p
y
g
,
g
j
ARAH PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
PU DAN PERMUKIMAN TAHUN 2014
1.
Peningkatan kapasitas tampung penyediaan air baku untuk kebutuhan
masyarakat dan dukungan peningkatan aktivitas ekonomi wilayah;
y
g
p
g
y ;
2.
Dukungan terhadap kebutuhan rehabilitasi menyeluruh irigasi kewenangan
pemerintah daerah pada 15 provinsi penghasil padi;
3.
Meningkatkan investasi untuk mempercepat penambahan akses air minum dan
sanitasi yang berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam
rangka pencapaian target MDGs;
4.
Peningkatan kualitas jaringan jalan nasional dan konektivitas lokal untuk
menjangkau daerah terisolir yang belum mendapatkan akses transportasi
memadai;
5.
Mendukung peningkatan kualitas lingkungan/kawasan permukiman kumuh di
perkotaan termasuk memberikan akses masyarakat miskin terhadap hunian
yang layak melalui pembangunan rusunawa.
5
KEBIJAKAN PROGRAM ANGGARAN
•
Program tahun 2014 mengacu pada RPJMN dan Renstra.
•
Ada 7 prioritas program sesuai arahan Presiden yang belum tertuang dalam RPJMN dan
Ada 7 prioritas program sesuai arahan Presiden yang belum tertuang dalam RPJMN dan
Renstra PU sehingga diperlukan new inisiatif; di mana yang berhubungan langsung dengan
Kementerian PU, antara lain,Pemantapan Perekonomian Nasional;
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI);
p
g
(
);
Koridor Ekonomi, percepatan dan perkuatan domestic connectivity
Ketahanan Pangan, dalam rangka peningkatan 7% produksi Surplus Beras 10 Juta Ton
2014;
•
Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan;
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI);
Pemenuhan kebutuhan perumahan untuk masyarakat miskin
Peningkatan Pelayanan Sanitasi dan Air Bersih dalam rangka Pencapaian MDG’s;
Penanganan Pasca Bencana Alam; Pembangunan Shelter Bencana.
KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN
KORIDOR EKONOMI SUMATERA
23 KPI
23 KPI KE SUMATERA
KE SUMATERA
23 KPI
23 KPI KE SUMATERA
KE SUMATERA
15 KPI (sudah validasi)1 KPI Sei Mangke Sumatera utara
1 3 4
23 KPI
23 KPI KE SUMATERA
KE SUMATERA
23 KPI
23 KPI KE SUMATERA
KE SUMATERA
19 1 KPI Sei Mangke, Sumatera utara 2 KPI Tapanuli Selatan, Sumatera utara 3 KPI Dairi, Sumatera Utara 4 KPI Dumai, Riau 2 8 7 6 5 10 9 19 9 KPI Padang, Sumatera Barat 12 KPI Tanjung Api‐api‐ Tanjung Carat, Sumatera Selatan 13 KPI Muara Enim‐Pendopo, Sumatera Selatan14 KPI Palembang Sumatera Selatan 11
12 13 14 17 18 14 KPI Palembang, Sumatera Selatan 15 KPI Prabumulih, Sumatera Selatan 18 KPI Bangka Barat, Bangka‐Belitung 19 KPI Kota Batam, Kepulauan Riau 8 KPI (belum validasi) 5. KPI Rokan Hulu‐Hilir‐Siak, Riau 6 KPI K Ri 15 16 20 21 20 KPI Kota Bandar Lampung, Lampung 21 KPI Lampung Timur, Lampung 22 KPI Baja Cilegon, Banten 23 KSN Selat Sunda 6. KPI Kampar, Riau 7. KPI Kuantan Singingi, Riau 8. KPI Lingga, Kepulauan Riau 10. KPI Pasaman Barat, Sumatera Barat 7 21 22 23 11. KPI Solok Selatan, Sumatera Barat 16. KPI Empat Lawang, Sumatera Selatan 17. KPI Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
ARAH PENGEMBANGAN EKONOMI SUMATERA UTARA
TERHADAP WILAYAH ASIA TENGGARA
2
Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° ‐ 4° Lintang Utara dan 98° ‐ 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 70.787 km². Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:
Pesisir Timur, Pegunungan Bukit Barisan, Pesisir Barat, Kepulauan Nias Bandara Kuala Namu adalah bandara terintegrasi pertama yang ada di
PANDUAN RTRW SUMATERA UTARA
, g g , , p Bandara Kuala Namu adalah bandara terintegrasi pertama yang ada di Indonesia. Bandara ini menyatukan akses kendaraan darat secara terpadu, yaitu kereta api, jalan tol dan jalan non tol. Diharapkan dengan banyaknya akses dari dan ke arah bandara dapat mempermudah aliran orang dan barang dari dan ke Sumatera Utara. Bandara ini juga merupakan salah satu jalan utama pintu gerbang Indonesia bagian Barat. Beroperasi Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi dan sektor
unggulan di bidang pertanian, perkebunan, industri dan pariwisata, yang alokasi ruangnya telah dikembangkan dibeberapa kawasan sesuai dengan daya dukung lahannya.
j p g g g p
penuh akhir 2013 atau awal 2014
Mendorong Berfungsinya Pusat‐pusat Permukiman Perkotaan dan selain perubahan iklim sebagai tantang dalam aspek lingkungan dan urbanisasi dalam aspek perkotaan, isu konektivitas kota metropolitan perlu menjadi perhatian mengingat pesatnya perkembangan kota kota di perhatian, mengingat pesatnya perkembangan kota‐kota di Indonesia dan semakin menyatunya aktivitas perkotaan
Percepatan rencana tata ruang kawasan strategis nasional, antara lain KAPET, Kawasan Danau Toba dan sekitarnya RTRW (terkendala izin Kementerian Kehutanan)
8
http://www.pu.go.id/publik/ind/produk/info_peta/infrastruktur/flash/html/images/kabupaten/sumut/sumutrtrw.htm sekitarnya RTRW (terkendala izin Kementerian Kehutanan)
potensi pariwisata Sumut yang ada pada Danau
Toba, Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke( berstatus HGU
KERANGKA PENGEMBANGAN STRATEGIS
BERORIENTASI EKONOMI (INVESTASI)
Teluk
Benggala, Mediteran, Samu
d Hi di (Ti Laut Cina Selatan
dera Hindia (Timur
Tengah, Eropa) Laut Cina Selatan
(Hongkong, Cina, Taiwan)
Laut Cina Selatan (Jepang, Korea, Filipina)
Samudera Pasifik (Jepang, Korea, Amerika, Kanada)
KUALA LUMPUR BANDAR SRI BEGAWAN
Banda Aceh
Bontang
Samudera Pasifik (Amerika, Kanada, Amerika
Latin) SINGAPORE Medan Pekanbaru Padang Jambi Pontianak Palangkaraya Samarinda Manado Palu Batam Pangkal Pinang Gorontalo Ternate Sorong Entikong Balikpapan Biak Bengkulu Palembang Lampung JAKARTA Semarang S b Banjarmasin Makasar Kendari Ambon Jayapura Pangkal Pinang Serang Mamuju Pangkalan Bun Balikpapan Samudera Hindia (Afrika, Australia) Samudera Hindia (Australia, Selandia Baru)
DILLI Bandung g Yogyakarta Surabaya Denpasar Mataram Kupang Serang Malang Merauke 9
Kawan, Kapet, Kesr
Poros Pengembangan Startegis Global/Nasional Poros Pengembangan Strategis Sub Regional Poros Pengembangan Strategis Nasional
Batas Teritorial Batas ZEE
Jalur Patahan dan Sesar Alur Pelayaran Internasional
Kota PKN
PROFIL SUMATERA UTARA
Luas Wilayah : 72.066,81 Km2Jumlah Penduduk : 11,490.453 jiwa Kepadatan : 180/km2
Terlentang antara 1°‐4° LU 98°–100° BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Aceh dan Selat Malaka
Kepadatan : 180/km
Ibukota : Medan
Lingkup Adminitrasi : 25 kabupaten, 8 kota, 276 kecamatan dan 5.744 kelurahan/desa
Pariwisata: Pariwisata:
Selatan : Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau dan Samudera Indonesia
Barat : Provinsi Aceh dan Samudera Indonesia Timur : Selat Malaka
Pertambangan:
Minyak dan gas bumi, batu bara, emas, perak, tembaga, dan seng Pertambangan:
Minyak dan gas bumi, batu bara, emas, perak, tembaga, dan seng Pertanian dan Perkebunan:
Pertanian dan Perkebunan: Pariwisata: •Wisata alam, bahari, Petualangan Pariwisata: •Wisata alam, bahari, Petualangan Pertanian dan Perkebunan: kelapa sawit karet, coklat, teh, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, tembakau Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel. Pertanian dan Perkebunan: kelapa sawit karet, coklat, teh, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, tembakau Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel. Industri: Industri:
10
Sumber: berbagai media, diolah
minyak kelapa sawit, rotan, kulit manis, dan semen Indarung minyak kelapa sawit, rotan, kulit manis, dan semen Indarung Hutan: log rimba, log pinus, kayu gergajian, kayu lapis, pulp, rotan, getah tusam Hutan: log rimba, log pinus, kayu gergajian, kayu lapis, pulp, rotan, getah tusam
PENATAAN RUANG PROV. SUMATERA UTARA
(PP. No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional)
Sistem Perkotaan Nasional Pelabuhan Bandar Udara Jalan Bebas Hambatan Wilayah Sungai
(1) (2) (3) (4) (5)
PKN : Internasional : Primer : Antar Kota : Lintas Provinsi :
A. STRUKTUR RUANG
1. Kawasan Perkotaan Medan‐ Binjai_deli Serdang_Karo (Mebidango) PKW : 1. Tebingtinggi Belawan Nasional :
Tanjung Balai Asahan
Kuala Namu Sekunder : ‐ Tersier : 1. Medan‐Kualanamu‐Tebingtinggi 2. Kisaran‐tebingtinggi Dalam Kota : 1. Balmera (Belawan‐Medan‐Tanjung Morawa) 1. Batang Natal‐Batang Batahan Strategis Nasional : 1. Belawan‐Ular‐Padang 2. Toba‐Asahan g gg 2. Sidikalang 3. Pematang Siantar 4. Balige 5. Rantau Prapat 6. Kisaran 7. Gunung Sitoli Silangit ) 2. Binjai‐Medan 3. Batang‐Angkola‐ Batang Gadis 7. Gunung Sitoli
B. POLA RUANG
Kawasan Andalan Kawasan Strategis Nasional Kawasan Lindung
(1) (2) (3)
1. Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan‐Binjai‐Deli 1. Kawasan Perbatasana Laut RI termasuk 2 pulau kecil 1. Suaka Margasatwa Barumun Serdang‐Kao (Mebidangro)(sektor unggulan: pertanian,
perikanan, perkebunan, Industri, Pariwisata) 2. Kawasan Pematang Siantar dan Sekitarnya (sektor
unggulan: pertanian, perkebunan, Industri, Pariwisata) 3. Kawasan Rantau Prapatan‐Kisaran (sektor unggulan:
perikanan Kehutanan pertanian perkebunan
terluar (Pulau Rondo dan Berhala) dengan negara India/Thailan/Malaysia
2. Kawasan Perkotaan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo (Mebidangro)
3. Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya
2. Suaka Margasatwa Siranggas 3. Suaka Margasatwa Dolok Surungan
perikanan, Kehutanan, pertanian, perkebunan, Industri)
4. Kawasan Tapanuli dan Sekitarnya (sektor unggulan: perikanan Laut, Pariwisata, pertanian, perkebunan, Industri, Pertambangan)
PENATAAN RUANG PROVINSI SUMATERA UTARA
(PP. No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional)
A. STRUKTUR RUANG
PENATAAN RUANG PROVINSI SUMATERA UTARA
(PP. No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional)
B. POLA RUANG
ISU STRATEGIS BIDANG INFRASTRUKTUR
ISU STRATEGIS BIDANG INFRASTRUKTUR
PROVINSI
PROVINSI SUMATERA UTARA
SUMATERA UTARA
3
Isu Strategis Wilayah Sumatera, RPJMN 2010‐2014
1) Optimalisasi Pengembangan Sektor dan Komoditas Unggulan Wilayah; 2) Keterbatasan sumber daya energi listrik dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal; ) l h 3) Integrasi jaringan transportasi intermoda wilayah; 4) Kualitas sumber daya manusia dan kemiskinan; 5) Kualitas birokrasi dan tata kelola;
6) Pengembangan kawasan perbatasan, pulau‐pulau terdepan dan terpencil;
7) Kerawanan bencana dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan 7) Kerawanan bencana dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan
hidup.
Isu Strategis Sumatera Utara: Bidang Perencanaan dan Tata Kota
1. Sosialisasi Bidang Penataan Ruang kesemua lapisan masyarakat
2. Perlu segera disusun rencana rinci kabupaten atau kota sebagai tindak lanjut Perda RTRW kabupaten/ Kota
3. Pemenuhan sasaran‐sasaran RPJMN 2010‐2014
Isu Strategis Sumatera Utara: Bidang Sumber Daya Air
1. Dukungan penguatan ketahanan pangan mendukung surplus 10 ton beras
Isu Strategis Sumatera Utara: Bidang Jalan
1 Pemenuhan Kemantapan Kondisi Jalan Provinsi Sumatera Utara
beras
2. Dukungan pengendalian banjir 3. Pemenuhan Sasaran MDG's
4. Dukungan Terhadap Kawasan Strategis Nasional
Isu Strategis Sumatera Utara: Bidang Sanitasi
P i S kt S it i Md ’ S kt S it i 14 1. Pemenuhan Kemantapan Kondisi Jalan Provinsi Sumatera Utara menjadi 91,49%; 2. Mendukung KEK Sei Mangkei (MP3EI); 3. Mendukung Aksesibilitas Pengembangan Pariwisata Danau Toba;
Pencapaian Sektor Sanitasi Mdg’s Sektor Sanitasi
Isu Strategis Sumatera Utara: Bidang Persampahan
Penerapan UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Persampahan
ISU STRATEGIS BIDANG SUMBER DAYA AIR
1. Dukungan Penguatan Ketahanan Pangan;
2. Dukungan Penanganan Banjir;
3. Pemenuhan Sasaran MDG's;
4. Dukungan Terhadap Kawasan Strategis Nasional.
INFRASTRUKTUR BIDANG SUMBER DAYA AIR
(IRIGASI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN)
3.00
LUAS AREAL IRIGASI (JUTA HA)
1 ‐ Aceh 2 ‐ Sumatera Utara 21 ‐ Kalimantan Tengah 22 ‐ Kalimantan Selatan Keterangan:3.0
SUMBER AIR
2 00
2.50
3 ‐ Sumatera barat 4 ‐ Riau 5 ‐ Jambi 6 ‐ Sumatera Selatan 7 ‐ Bengkulu 23 ‐ Kalimantan Timur 24 ‐ Sulawesi Utara 25 ‐ Sulawesi Tengah 26 ‐ Sulawesi Selatan 27 ‐ Sulawesi Tenggara1 9
Waduk1.50
2.00
8 ‐ Lampung 9 ‐ Bangka Belitung 10 ‐ Kepulauan Riau 11 ‐ DKI Jakarta 12 ‐ Jawa Barat 28 ‐ Gorontalo 29 ‐ Sulawesi Barat 30 ‐ Maluku 31 ‐ Maluku Utara 32 ‐ Papua Barat1.9
Non-Waduk0 50
1.00
13 ‐ Jawa Tengah 14 ‐ DI Yogyakarta 15 ‐ Jawa Timur 16 ‐ Banten 17 ‐ Bali 33 ‐ Papua0.63
0.48
1.0
0.00
0.50
SUMATERA JAWA BALI - NT
KALIMANTAN
SULAWESI MALUKU PAPUA
18 ‐ Nusa Tenggara Barat 19 ‐ Nusa Tenggara Timur 20 ‐ Kalimantan Barat
0.15
0.04
Sumber : Rapid Assessment – Audit Teknis Irigasi, 2010)
16 KALIMANTAN
Sumatera Jawa Bali & NT Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Rata ‐ Rata
1.3 1.9 1.4 1.0 1.3 1.4 1.0 1.4
Produktivitas (Ton/Ha) 4.3 5.5 4.8 4.0 4.8 4.2 3.8 4.6
Index Penanaman ‐ IP PULAU
INDIKASI KEGIATAN PRIORITAS DI PROVINSI SUMATERA UTARA 2014
HASIL KONREG PU 2013
Kegiatan Prioritas Provinsi Sumatera Utara Bidang SDA
[dalam Juta Rupiah]
KEBUTUHAN
KEGIATAN
KEBUTUHAN
PRIORITAS
STOK PROGRAM
IRIGASI DAN RAWA
427,072
105,200
BANJIR DAN PANTAI
56,444
51,350
KONSERVASI
10,000
12,000
AIR BAKU
67,800
67,000
OPERASI DAN
PEMELIHARAAN
21,572
‐
(Konsultasi Regional Sumber Daya Air, 2013)
PEMELIHARAAN
,
SDA TERPADU
35,563
‐
618,451
235,550
g
KEGIATAN STRATEGIS
1.
KETAHANAN PANGAN: DI Bajayu, DI Belutu, DI Bt. Ilung, DI Namu Sira‐sira, DI Paya Sordang, DR Sei Kualuh,
2.
KETAHANAN AIR: Waduk Lausimeme, Danau Toba
17
3.
PENGENDALIAN DAYA RUSAK: Banjir S. Deli, banjir S. Padang, Pengamanan Pantai Cermin,
4.
PENYEDIAAN AIR BAKU: Air Baku IKK Dolok Sanggul, Kota Padang Sidempuan, Air Baku Timuran‐Syahkuda
Kab.Simalungun
ISU STRATEGIS BIDANG JALAN
1. Pemenuhan Kemantapan Kondisi Jalan Provinsi
S
U
j di 91 49%
Sumatera Utara menjadi 91,49%;
2. Mendukung Pusat‐Pusat Pertumbuhan Primer di
Provinsi Sumatera Utara;
3. Mendukung KEK Sei Mangkei (MP3EI);
4. Mendukung Aksesibilitas Pengembangan Pariwisata
Danau Toba;;
5. Meningkatkan Domestik Konektifiti.
18
Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013 Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013
CAPAIAN KONDISI JALAN NASIONAL AKHIR 2012
100 % Rata‐rata Kond. Jalan Nasional90,82 %
70 % 80 % 90 %,
40 % 50 % 60 % 20 % 30 % 40 % 0 % 10 % MANTAP (%) TIDAK MANTAP (%)ISU STRATEGIS BIDANG INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
1. Dukungan Kawasan Bandara Kuala Namu;
2 Dukungan Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur
2. Dukungan Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur
Kawasan Sei Mangke (MP3EI);
3 P
h
MDG
3. Pemenuhan sasaran MDGs;
4. Pengurangan Kawasan Kumuh;
5. Dukungan Pelaksanaan Infrastruktur Kawasan Danau
Toba dan sekitarnya;
6. Dukungan Pelaksanaan Program Infrastruktur kawasan
Agropolitan
kawasan
dataran
tinggi
bukit
20
Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013 Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013
g p
gg
CAPAIAN DAN TARGET PROPORSI RUMAH TANGGA
AKSES LAYAK AIR MINUM
CAPAIAN DAN TARGET PROPORSI RUMAH TANGGA
AKSES LAYAK SANITASI
ISU STRATEGIS BIDANG PENATAAN RUANG
1.Perlu segera disusunnya Rencana Rinci Kabupaten
sebagai tindak lanjut Perda RTRW Kabupaten;
2.Peningkatan Kompetensi Teknis Aparat BKPRD dalam
Proses Rekomendasi Gubernur Rencana Rinci Tata
Ruang;
3.Pengawasan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
perlu semakin ditingkatkan pasca ditetapkannya Perda
p
g
p
p
y
RTRW Kabupaten;
4 Dukungan manajemen administrasi kegiatan
23
Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013 Sumber : Konreg PU TA 2014, tanggal 19‐21 Maret 2013
KEGIATAN PRIORITAS SUMATERA UTARA TA 2013
DAN RENCANA TA 2014
4
NO KEGIATAN PRIORITAS ALOKASI (ribuan rupiah) 2013 2014BASELINE NEW INISIATIF TOTAL
BIDANG PENATAAN RUANG
BASELINE NEW INISIATIF TOTAL 1. Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah I ‐ 10.700.000 3.900.000 14.600.000 2. Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah II 7,002,500 ‐ ‐ ‐ 3. Pelaksanaan Pengembangan Perkotaan 1,650,000 6.085.000 ‐ 6.085.000 4 P bi P Ditj P t R 2 000 000 2 000 000 4. Pembinaan Program Ditjen Penataan Ruang ‐ 2.000.000 ‐ 2.000.000 5. Pelaksanaan Penataan Ruang Nasional 1,560,000 4.300.000 3.325.000 7.625.000 Total 10,212,500 23.085.000 7.225.000 30.310.000
BIDANG SUMBER DAYA AIR
NO KEGIATAN PRIORITAS ALOKASI (ribuan rupiah) 2013 2014BASELINE NEW INISIATIF TOTAL 1 Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan 212 375 607 353 079 863 105 197 000 458 276 863 1. Jaringan Pengairan Lainnya 212,375,607 353.079.863 105.197.000 458.276.863 2. Pengendalian Banjir, Lahar Gunung Berapi dan Pengamanan Pantai 8,200,000 64.844.411 ‐ 64.844.411 3. Peningkatan Kualitas Pengelolaan SDA Terpadu 151,503,833 35.563.095 ‐ 35.563.095 l l d i d k b Si
24
4. Pengelolaan dan Konservasi Waduk, Embung, Situ serta Bangunan Penampung Air Lainnya 34,131,116 10.000.000 ‐ 10.000.000 5. Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku 49,293,578 56.550.000 11.250.000 67.800.000 TOTAL 455,504,134 520.037.368 116.447.000 636.484.368KEGIATAN PRIORITAS TA 2013‐2014
NO KEGIATAN PRIORITAS ALOKASI (ribuan rupiah) 2014BIDANG BINA MARGA
2013BASELINE NEW INISIATIF TOTAL 1. Pelaksanaan Preservasi dan Peningkatan Kapasitas Jalan Nasional 1,931,480,619 1.971.079.858 545.530.000 2,516,609,858 TOTAL 1,931,480,619 1.971.079.858 545.530.00 2,516,609,858
BIDANG CIPTA KARYA
NO KEGIATAN PRIORITAS ALOKASI (ribuan rupiah) 2013 2014BASELINE NEW INISIATIF TOTAL 1. Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan dan Pelaksanaan Pengembangan Permukiman 66,111,117 31.100.000 14.000.450 45,100,450 2. Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan dan Pelaksanaan Penataan Bangunan dan Lingkungan, Pengelolaan Gedung dan Rumah Negara 104,262,788 15.174.000 2.250.000 17,424,000 3. Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Pelaksanaan Pengembangan Sanitasi dan Persampahan 130,883,673 61.952.000 24.840.000 86,792,000 4. Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Pelaksanaan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 95,684,582 181.182.000 42.136.637 223,318,637
Pen s nan Kebijakan Program dan Anggaran Kerjasama L ar Negeri Data 5. Penyusunan Kebijakan, Program dan Anggaran, Kerjasama Luar Negeri, Data
Informasi dan Evaluasi Kinerja 3,247,672 76.117.649 30.242.637 106,360,286
HAL‐HAL YANG MEMERLUKAN PERHATIAN
5
1. Dalam penyusunan RKPD 2014 seyogyanya perlu mengacu pada
dokumen RPJMD 2010‐2014, arahan RPJMN 2010‐2014, target‐target
nasional lainnya dalam mendorong percepatan pembangunan daerah
dan pencapaian prioritas nasional;
da pe capa a p o tas as o a ;
2. Sinergi Pusat‐Daerah dalam penajaman program dan sinkronisasi antar
sektor yang dapat mengantisipasi dinamika regional dan global serta Isu
Wilayah dan berlandaskan pada Penataan Ruang mengacu kepada
dokumen RPIIJM.
SINERGI PUSAT DAN DAERAH
DILAKUKAN DALAM SELURUH PROSES
MENDORONG PERECEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH PRIORITAS NASIONAL (RPJMN 2010‐ 2014 DAN RKP) MEMBIAYAI KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR MASYARAKAT (SPM) PRIORITAS NASIONAL (RPJMN 2010‐2014 DAN RKP) RENSTRA PU 2010‐2014 RPJMD SINERGI URUSAN DAERAH DIUTAMAKAN, UNTUK MENINGKATKAN PENCAPAIAN ATAS OUTCOME (PP 38/2007)Sinergi pusat‐daerah dan antardaerah dilakukan dalam seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi yang
mencakup kerangka kebijakan, regulasi, anggaran, kelembagaan, dan pengembangan wilayah.
1. Sinergi dalam Kerangka Perencanaan Kebijakan antara lain:g g j
(1) sinergi dalam perencanaan pembangunan; (2) sinergi dalam penetapan target pembangunan; (3) standardisasi indikator pembangunan; (4) pengembangan database dan sistem informasi; (5) perijinan investasi di daerah. Misal: RPJP dan RPJM.
2. Sinergi dalam Kerangka Anggaran
Sinergi antara APBN dan APBD (DAU DAK DBH DP Dana Otsus) Sinergi antara APBN dan APBD (DAU, DAK, DBH, DP, Dana Otsus). 3. Sinergi dalam Kerangka Kelembagaan dan Aparatur Daerah
(1) menata dan menyempurnakan pengaturan mekanisme pembangunan antar tingkat pemerintahan sebagai dasar penetapan kinerja dan alokasi anggaran; (2) meningkatkan kapasitas aparatur.
27
4. Sinergi dalam Kerangka Pengembangan Wilayah
(1) sinkronisasi kebijakan dalam penggunaan lahan dan tata ruang; (2) keterpaduan pembangunan prasarana dan sarana antar kabupaten/kota; (3) meningkatkan pengaturan bersama alih fungsi lahan; (4) mempercepat penyusunan penyusunan RTRW Daerah, dan peraturan pendukung pelaksanaan RTRW; (5) membangun kesepakatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Diacu Diacu Diacu DiacuRPII‐
JM
UNTUK PEMB. INFRA‐ STRUKTUR 28Pedoman Rencana dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPIIJM) untuk Pembangunan
Infrastruktur ini ditetapkan dengan Peraturan Menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang
perencanaan pembangunan nasional.
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW
PROVINSI SUMATERA UTARA
STATUS 22 Maret 2013
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW KABUPATEN
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW KABUPATEN
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW KABUPATEN
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW KABUPATEN
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
HASIL MONITORING PROGRES PENYELESAIAN RTRW KOTA
DI PROVINSI SUMATERA UTARA
KONSEP, MANFAAT DAN STRATEGI PENANGANAN
HIGH GRADE HIGHWAY SUMATERA
4
Terdiri atas:o Koridor Bakauheni‐ Banda Aceh, menelusuri lintas timur Sumatera dengan panjang ±2.017 KM
Pekanbaru ‐ Medan
Medan ‐ Aceh
o Feeder dengan panjang + 720 KM o Menghubungkan 8 kota besar (PKN), 8bandara pengumpul, 6 pelabuhan internasional
o Terkoneksi dengan Jembatan Selat Sunda dan jalan tol Trans Jawa
o Merupakan bagian dari ASEAN/ASIAN
1. High Grade Highway (HGH) merupakan konsep untuk Penyediaan
Jalan Bebas Hambatan (expressway) yang berupa Jalan Bebas Hambatan/Freeway (tidak layak secara finansial) dan Jalan Tol/Toll
o Merupakan bagian dari ASEAN/ASIAN Highways
o Pengoperasian Jalan Tol Trans Sumatera dapat mengurangi beban lalu lintas dan biaya pemeliharaan jalan lintas
Road (layak secara finansial)
2. Merupakan jalan dengan akses terbatas (Limited Access Highway) pada ROW baru yang menghubungkan pusat kegiatan utama.
3. Manfaat High Grade Highway
a) Mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan
Indralaya ‐ Pekanbaru
lapangan kerja.b) Meningkatkan akses dan mengurangi biaya transportasi.
c) Merupakan stimulus terhadap pertumbuhan sektor industri, turisme, lapangan kerja, dan pertumbuhan regional.
4. HGH Sumatera menyusuri pantai Timur Sumatera dengan perkiraan
Bakaheuni ‐ Indralaya
panjang + 2.017 Km, estimasi biaya pembebasan tanah dengan lebar minimum 60 m adalah + Rp. 9 triliun, biaya konstruksi + Rp. 77,8 triliun dan biaya investasi sebesar + Rp. 136,8 triliun
5. Didukung oleh feeder sepanjang + 720 Km ( Sibolga‐Tebing tinggi, Padang‐ Pekanbaru dan Bengkulu‐Palembang) dengan estimasi biaya tanah + Rp 8 triliun biaya konstruksi + Rp 51 8 triliun dan
36
y
PKN
biaya tanah + Rp. 8 triliun biaya konstruksi + Rp. 51,8 triliun dan biaya investasi sebesar + Rp. 60 triliun
6. TA 2012‐2013 dilaksanakan studi kelayakan pada koridor utama HGH Sumatera dengan keluaran utama berupa ROW plan sebagai dasar pembebasan tanah dan skema pembiayaan / pengusahaan
KESIAPAN HIGH GRADE HIGHWAY SUMATERA
STRATEGI PENGUSAHAAN HGH
•
Pendanaan sedapat mungkin tidak menggunakan APBN sektor
Kementerian Pekerjaan Umum
•
Mengacu kepada Pasal 50 ayat 5 UU No. 38/2004 tentang Jalan
*
,
di
lk
k
b
k
j l
l
i
k
diusulkan untuk membentuk BUMN jalan tol yang nantinya akan
ditugaskan untuk membangun/mengoperasikan HGH Sumatera
•
BUMN tersebut diharapkan dapat memperoleh pendanaan dari
•
BUMN tersebut diharapkan dapat memperoleh pendanaan dari
Kementerian Keuangan diantaranya melalui skema Viability Gap
Funding (VGF)
38
* Pasal 50 ayat 5 UU No. 38/2004 tentang Jalan berbunyi : Dalam keadaan tertentu yang menyebabkan pengembangan jaringan
jalan tol tidak dapat diwujudkan oleh badan usaha (BUMN, BUMD dan BUMS), Pemerintah dapat mengambil langkah sesuai dengan kewenangannya
HASIL PEMBAHASAN PENUGASAN KEPADA BUMN
1.
Perlu perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 untuk memberikan dasar penugasan
kepada BUMN.
2
M
t i P k j
U
l l i
t N
HK 01 03 M /85 t
l 12 F b
i 2013
lk
1.
Perlu perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 untuk memberikan dasar penugasan
kepada BUMN.
2
M
t i P k j
U
l l i
t N
HK 01 03 M /85 t
l 12 F b
i 2013
lk
2. Menteri Pekerjaan Umum melalui surat Nomor HK.01.03‐Mn/85 tanggal 12 Februari 2013 mengusulkan
perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 terutama pada Pasal 20, Pasal 31 dan Penjelasan
Pasal 19 serta penambahan Pasal 22A.
3) Terdapat dua pendapat terkait ketentuan penugasan, yaitu :
2. Menteri Pekerjaan Umum melalui surat Nomor HK.01.03‐Mn/85 tanggal 12 Februari 2013 mengusulkan
perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 terutama pada Pasal 20, Pasal 31 dan Penjelasan
Pasal 19 serta penambahan Pasal 22A.
3) Terdapat dua pendapat terkait ketentuan penugasan, yaitu :
•
Kepemilikan BUMN oleh Pemerintah apakah 100% atau tidak.
•
Isi Peraturan Presiden berupa penugasan atau pedoman dan kriteria penugasan.
4) Rancangan Peraturan Presiden yang telah dibahas adalah tentang Penugasan PT. Hutama Karya (Persero)
untuk Pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatera. Beberapa isu yang mengemuka, antara lain:
•
Kepemilikan BUMN oleh Pemerintah apakah 100% atau tidak.
•
Isi Peraturan Presiden berupa penugasan atau pedoman dan kriteria penugasan.
4) Rancangan Peraturan Presiden yang telah dibahas adalah tentang Penugasan PT. Hutama Karya (Persero)
untuk Pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatera. Beberapa isu yang mengemuka, antara lain:
untuk Pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatera. Beberapa isu yang mengemuka, antara lain:
a. Jalan tol yang ditugaskan dicantumkan dalam lampiran Peraturan Pemerintah berupa nama
ruas, tidak termasuk yang sudah berjalan.
b. Pengadaan tanah termasuk yang ditugaskan.
M
k
i di
k
d l
P
P
id
i
l
50 (li
l h)
h
id k
untuk Pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatera. Beberapa isu yang mengemuka, antara lain:
a. Jalan tol yang ditugaskan dicantumkan dalam lampiran Peraturan Pemerintah berupa nama
ruas, tidak termasuk yang sudah berjalan.
b. Pengadaan tanah termasuk yang ditugaskan.
M
k
i di
k
d l
P
P
id
i
l
50 (li
l h)
h
id k
c.
Masa konsesi dicantumkan dalam Peraturan Presiden yaitu selama 50 (lima puluh) tahun atau tidak
dicantumkan.
d. Penugasan dilakukan bertahap yaitu tahap pertama mencakup ruas yang siap konstruksi dan tahap
selanjutnya akan ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum sesuai usulan PT. Hutama Karya
c.
Masa konsesi dicantumkan dalam Peraturan Presiden yaitu selama 50 (lima puluh) tahun atau tidak
dicantumkan.
d. Penugasan dilakukan bertahap yaitu tahap pertama mencakup ruas yang siap konstruksi dan tahap
selanjutnya akan ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum sesuai usulan PT. Hutama Karya
39
(Persero).
e. Pelaporan setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Keuangan dan Menteri
Badan Usaha Milik Negara.
(Persero).
e. Pelaporan setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Keuangan dan Menteri
Badan Usaha Milik Negara.
JALAN TOL TRANS SUMATERA
Koridor LengthKm Lampung-Palembang 358 P l b P k b 610 Koridor Utama Palembang-Pekanbaru 610 Pekanbaru-Medan 548 Medan-Banda Aceh 460 SUB TOTAL 1,976 Palembang-Bengkulu 30340
Koridor Penghubung Pekanbaru-Padang 242 Medan-Sibolga 175 SUB TOTAL 720PEMBANGUNAN JALAN TOL DI SUMATERA UTARA DAN SEKITARNYA
•
Pembangunan Jalan Tol Medan‐Binjai sepanjang 15.8 Km.
•
Proses pembangunan Jalan Tol Medan‐Binjai dalam tahap
perampungan rencana ROW (right of way) atau rencana
d
h
ilik j l
ti
it d
hij
daerah milik jalan seperti parit dan area hijau.
•
Pembangunan Jalan Tol Medan – Kualanamu sepanjang
17 8 K
17.8 Km.
•
Rencana Pembangunan Ruas Tol Kualanamu – Lubu
k
b
Pakam – Tebing Tinggi sepanjang 40 Km.
41
SKEMA PENGUSAHAAN JALAN TOL
KELAYAKAN
PENGUSAHAAN
IMPLEMENTASI
BU
ACUAN
PP 15/2005P + BU
EKONOMI (+)
KEUANGAN (‐)
P
BU
BU
1
/ Psl 19, 20, 21(1b), 22 PP 15/2005 Psl 19, 20, 21(1c),A
B
P
BU
BU
BU
2
Psl 19, 20, 21(1c), 22 PP 15/2005 Psl 19, 20, 21(1a)EKONOMI (+)
KEUANGAN (+)
BU
B
Operasi dan Pemeliharaan
Pemerintah
Badan Usaha
P
BU
BU
KEUANGAN (+)
Pendanaan dan/atau Perencanaan Teknis dan/atau
BU
Badan Usaha
Contoh :
Skema 1 A : untuk FIRR < 12% seperti Jalan Tol Akses Tanjung Priok
Pendanaan dan/atau Perencanaan Teknis dan/atau
Konstruksi
42