• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian Karim (2017), mengenai pengaruh perkembangan pasar saham terhadap pertumbuhan ekonomi utama Asia Selatan dan Asia Timur dengan tahun peneletian 1996 – 2015. Penelitian ini menggunakan varianel PDB sebagai proksi pertumbuhan ekonomi, variabel kapitalisasi pasar, total traded value ratio digunakan sebagai variabel independent sebagai proksi perkembangan pasar saham. Variabel kontrol yang digunakan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu FDI, konsumsi rumah tangga, dan Inflasi. Penelitian ini menjelaskan bahwa perkembangan pasar saham tidak berpengaruh kuat terhadap pertumbuhan ekonomi negara sampel.

Pengaruh signifikan yang lemah dari hanya satu indikator perkembangan pasar saham dicatat. Pengaruh indikator perkembangan pasar lainnya tetap tidak signifikan. Analisis komparatif dua kawasan menunjukkan bahwa pengaruh perkembangan pasar saham relatif lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Selatan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan pasar saham tidak memberikan kontribusi yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi negara sampel. Analisis komparatif, bagaimanapun, menunjukkan efek yang relatif nyata di kawasan Asia Selatan. Efeknya tercatat tidak signifikan

(2)

di negara-negara kawasan Asia Timur. Hal ini mungkin disebabkan karena di Jepang dan Korea, sistem pengelompokan industri adalah hal yang biasa dimana kelompok investor membuat bank sendiri secara bersama – sama untuk transaksi keuangan dan kegiatan lainnya. Perbedaan pada penelitian selanjutnya yaitu pada sampel analisis yakni pada penelitian selanjutnya sampel yang digunakan yaitu pasar modal Indonesia dengan tahun penelitian 2010.1 - 2019.4, serta pengguanaan variabel kontrol pada penelitian selanjutnya yaitu penanaman modoal asing, konsumsi rumah tangga, dan inflasi.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lisnawati dan Eka Budiyanti (2011), mengenai perkembangan pasar modal dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun penelitian dari tahun 1994 – 2011 dengan estimasi VAR menjelaskan hubungan antara PDB dan IHSG sebesar 91 persen. Pengaruh signifikasi pasar modal terhadap perekonomian nasional jangka panjang terdapat implikasi bahwa kebijakan pembangunan ekonomi nasional merupakan bentuk dari pengembangan pasar modal.

Perkembangan pasar modal dapat meingkatkan tumbuhnya stok modal yang dimiliki oleh suatu negara. Pertumbuhan stok modal ini mendukung investasi riil, investasi riil sendiri merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, maka pasar modal dikatakan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Melalui proses alokasi pasar modal secara efesien perkembangan pasar modal dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Schumpeter (1934), berpendapat bahwa perantara

(3)

keuangan mempunyai kemampuan untuk mengolah tabungan masyarakat, membantu evaluasi proyek investasi, mengurangi risiko, dan melayani transaksi yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Perbedaan pada penelitian selanjutnya yaitu pada metode analisis yang digunakan yakni penelitian selanjutnya akan menggunakan analisis regresi linear berganda dengan tahun penelitian 2010.1 - 2019.4. Penelitian Lisnawati dan Eka Budiyanti (2011), kemajuan pasar modal tinjau dari IHSG sedangkan peneltian selanjutnya kemajuan pasar modal ditinjau dari kapitalisasi pasar, serta pengguanaan beberapa variabel kontrol yaitu penanaman modal asng, konsumsi rumah tangga, dan inflasi.

Penelitian selanjutnya yaitu Nurafiati (2019), mengenai perkembangan pasar modal syariah dan konstribunya terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dari tahun 2003 – 2017 dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Nita Nurafiati (2019) menggunakan variabel saham syariah dan obligasi syariah sebagai tolak ukur perkembangan pasar modal syariah di Indonesia dan juga menggunakan variabel sukuk dan reksa dana syariah sebagai variabel yang memepengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa sepanjang tahun 2003 – 2017 saham syariah berkontribusi positif meskipun tidak signifikan dan belum efektif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, obligasi syariah dan sukuk memiliki konstribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sedangkan reksadana syariah tidak

(4)

signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Saat melakukan pengujian secara bersama – sama varibel saham syariah, sukuk dan reksadana syariah berkontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia sepanjang 2003 – 2017. Perbedaan pada penelitian selanjutnya yaitu peneliti tidak menggunakan konsep syariah baik pada varaiabel independent maupun variabel lain yang digunakan.

Penelitian selanjutnya menggunakan tahun terbaru yakni 2010.1 - 2019.4, serta penggunaan variabel kontrol yakni penanaman modal asing, konsumsi rumah tangga, dan inflasi.

B. Teori dan Tinjauan Pustaka 1. Pasar Modal

a. Pengertian Pasar Modal

Pasar modal diartikan secara sempit ialah tempat efek – efek diperdagangkan di tempat teroganisir yang biasa disebut bursa efek.

Bursa efek yaitu sistem yang teroganisir yang dapat mepertemukan pembeli dan penjual efek dan dilakukan secara langsung ataupum tidak langsung. Menurut Undang – Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995 tentang pasar modal menjelaskan pasar modal sebagai kegiatan yang memiliki penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan go publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkan perushaan tersebut, serta lembaga dan profesi yang memiliki kaitan dengan efek.

a. Produk Pasar Modal

(5)

Pasar modal memiliki produk – produk yang dapat dipasarkan.

Pasar modal menawarkan produk – produk investasi pada investor yaitu reksa dana, saham, saham preferen, obligasi, waran, dan right issue (Jogiyanto, 2014).

• Reksa dana yaitu wadah yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan uang kepada pengelola reksa dana atau yang digunakan untuk menghimpun dana masyarakat sebagai modal berinvestasi.

• Saham ialah sebagai tanda penyertaan atau bukti kepemilikan nilai perusahaan

• Saham prefereen adalah penggabungan antara saham biasa dan obligasi. Saham prefereen memilki hak lebih dengan memperoleh deviden terlebih dahulu dan memberikan penghasilan yang lebih pasti.

• Obligasi merupakan sertifikat atau surat berharga yang berisi kontrak penerima pinjaman dengan pemberi pinjaman.

• Waran ialah hak untuk untuk membeli saham biasa dengan waktu dan harga yang sudah ditentukan.

• Right Issue adalah hak pemodal melakukan pembelian saham baru yang dikeluarkan oleh emitem.

b. Peran dan Manfaat Pasar Modal

Pasar modal memiliki bergabai peran dan manfaat baik bagi emitem maupun investor. Peran pasar modal diantaranya adalah sebagai

(6)

tempat atau sarana untuk melakukan transaksi surat – surat berharga atau saham secara legal, menyediakan kesempatan untuk setiap orang yang memiliki modal untuk berpartisipasi di berbagai kegiatan bisnis, ini tentunya memberikan manfaat bagi investor untuk melakukan investasi dalam beberapa instrumen yang mengurangi resiko. Pasar modal juga dapat dijadikan sebagai lembaga prantara keuangan selain bank, hal ini memberikan maanfaat bagi emitem dengan tidak terlalu bergantung pada bank. Pada pasar modal jumlah dana yang dihimpun biasanya berjumlah besar dan tidak ada convenant sehingga manajemen lebih bebas melakukan pengolaan dana, ini tentunya memberikan manfaat bagi emitem untuk menjaga solvabilitas perusahaan agar tetap tinggi dan memperbaiki citra perusahaan.

Dalam peneltian ini pasar modal ditinjau dari kapitalisasi pasar.

Nilai saham yang beredar di pasar merupakan bentuk dari kapitalisasi pasar. Pada konteks ini, nilai perusahaan dibedakan dengan nilai aset perusahaan, sehingga nilai aset perusahaan tidak bisa digambarkan sebagai nilai kapitalisasi pasar suatu perusahaan. Kapitalisasi pasar bisa nilainya lebih besar atau lebih kecil dari nilai aset perusahaan.

Kapitilasasi pasar digunakan sebagai variabel independen dan digunakan sebagai indikator untuk perkembangan pasar modal. Downes (2008), menjelaskan kapitilasasi pasar ialah harga yang berlaku dari bukti pernyataan modal. Kapitalisasi pasar dapat dihasilkan dengan nilai kapital aset perusahaan saat ini yang dijadikan suatu pengukuran

(7)

terhadap ukuran perusahaan. Suatu industri bisa saja mengalami keuntungan maupun kerugian.

Besar kapitilisasi pasar yang dimiliki oleh industri atau perusahaan berpengaruh pada ukuran perusahaan tersebut. Pihak penanam modal akan menahan saham dalam jangka panjang apabila mereka memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Kapitalisasi pasar suatu saham dapat berpengaruh pada investor, semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin lama investor menahan kepemilikan sahamnya, karena investor berpendapat bahwa perusahaan besar akan lebih stabil dari sisi keuangannya, resiko yang diahadapi lebih kecil dan prospek yang bagus pada masa yang akan datang dengan harapan retun yang besar. Hal ini mengakibatkan penanam modal merasa lebih terjaga dengan investasi yang dimilikinya.

Dalam investasi portofolio, nilai kapitalisasi pasar memiliki makna yang penting bagi investor. Ia juga memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi minat investor untuk menjadikannya sebagai instrumen portofolio atau tidak. Pada umumnya, semakin besar nilai kapitalisasi pasar suatu saham, maka semakin besar juga daya pikat saham tersebut bagi investor.kapitalisasi pasar meningkat maka akan menarik jumlah investor asing ataupun lokal untuk melakukan investasi di Indonesia. Harrod – Domar (1939), menyatakan investasi adalah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana investasi asing mapun dalam negeri berperan sebagai penambah modal sehingga

(8)

dapat menumbuhkan perekonomian suatu negara. Artinya jika nilai kapitalisasi pasar perusahan – perusahan di Indonesia terus meningkat maka akan dapat menarik investor asing ataupun investor dalam negeri untuk melakukan penanaman modal di Indonesia sehingga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dengan mengalikan jumlah saham perusahaan dan harga saham sekarang perusahaan tersebut, maka kapitalisasi pasar dapat dihitung dengan cara tersebut, sehingga bisa dituliskan dengan persamaan sebagai berikut :

Keterangan :

MC = Kapitalisasi pasar

S = Jumlah saham yang beredar Pm = Harga pasar

c. Perkembangan Pasar Modal

Dari data yang diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam 10 tahun terakhir (2010 – 2019) terdapat peningkatan jumlah saham yang diperdagangkan. Pasar modal Indonesia terus mengalami peningkatan dengan semakin membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia.

MC = S x Pm

(9)

Berdasarkan data Otritas Jasa Keuangan (OJK) 2019, menunjukan adanya peningkatan saham yang diperdagangkan menyebabkan terjadinya peningkatan pada kapitalisasi pasar Indonesia dengan tahun 2019 mencapai angka Rp.7.358,00 Triliun. Kapitalisasi pasar ini digunakan sebagai variabel independen yang digunakan sebagai proksi untuk perkembangan pasar modal. Perkembangan pasar modal dapat berfungsi sebagai indikator perekonomian suatu negara.

Keberadaan pasar modal yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dengan adanya tambahan modal yang diperoleh tentunya mengakibatkan peningkatan pada produktivitas perusahaan sehingga mendorong tumbuhnya stok modal yang dimiliki oleh suatu negara.

2. Pertumbuhan Ekonomi

a. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan kondisi yang mampu menggambarkan perkembangan perekonomian suatu negara dengan meningkatkan hasil produksi ekonomi di era tertentu berdasarkan beberapa aspek tertentu. Pertumbuhan ekonomi yaitu suatu proses pertumbuhan output perkapita jangka panjang sumbernya dari proses intern perekonomian itu sendiri (Budiono,1985). Kuznets (1871), menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan keadaan dimana suatu negara mampu meningkatkan output atau hasil produksi ekonomi yang terus meningkat di masyarakat berdasarkan kemajuan teknologi yang diiringi dengan penyesuaian ideologi.

(10)

b. Teori Pertumbuhan Ekonomi

a) Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

Berdasarkan teori pertumbuhan ekonomi klasik yang dikemukan oleh A. Smith dan D. Ricardo. Menurut Arsyad (1999), orang yang pertama membahas pertumbuhan ekonomi secara sistematis adalah Smith. Smith (1976), berpendapat secata sistematis tentang proses pertumbuhan ekonomi jangka panjang merupakan aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk.

Menurut teori ini, pada mulanya pertambahan penduduk akan menyebabkan kenaikan pendapatan perkapita. Namun jika jumlah penduduk mengalami penambahan maka hal ini dapat mengakibatkan fungsi produksi marginal mengalami penurunan dan akan membawa pada keadaan pendapatan perkapita sama dengan produksi marginal.

b) Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod – Domar

E. Domar dan R.F. Harrod mengembangkan teori pertumbuhan ekonomi Harrod – Domar. Dalam jurnal American Economic Review Domar mengemukakan teorinya pertama kali tahun 1947, sedangkan Harrod (1939) dalam Economic Journal. Menurut Sukirno (2006: 33), teori

(11)

pertumbuhan ekonomi Harrod – Domar memiliki tujuan untuk menjelaskan syarat – syarat yang harus dipenuhi agar mencapai pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Harrod – Domar melihatnya dalam jangka panjang (dinamis) berbeda dengan Keynes yang melihat dalam jangka pendek (statis). Berikut asumsi – asumsi pada teori Harrod – Domar :

I. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja konstan dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk.

II. Perekonomian bersifat tertutup

III. Hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan.

IV. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale).

Model tersebut menjelaskan asumsi berikut, dapat mencapai pertumbuhan kuat jangka panjang (pertumbuhan stabil) panjang. Asumsinya di sini adalah bahwa barang tersebut masuk modal telah mencapai kapasitas penuh dan tabungan proporsional. Tingkat ideal pendapatan nasional, modal dan Produksi (tingkat keluaran modal / COR) masih terdiri dari dua perekonomian Sektor (Y = C + I).

c) Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo – Klasik

(12)

Teori pertumbuhan neo-klasik, Abramovits dan Solow adalah orang yang mengembangkan pertumbuhan ekonomi ini mereka melihat pertumbuhan ekonomi dari sisi penawaran. Abramovits dan Solow (1956), mengemukakan bahwa perkembangan faktor – faktor produksi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut Solow (1956), kemajuan teknologi, pertambahan kemahiran dan kepakaran para tenaga kerja merupakan aspek penting dalam menigkatkan pertumbuhan ekonomi.

Teori Solow – Swan percaya bahwa dalam banyak hal, mekanisme pasar bisa menciptakan keseimbangan, jadi pemerintah tidak perlu mencampuri atau terlalu banyak mempengaruhi pasar. Intervensi pemerintah terbatas pada kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Tingkat pertumbuhan berasal dari tiga aspek yaitu akumulasi modal, tingkatkan pasokan tenaga kerja, dan tingkatkan teknologi.

Teknologi ini dapat dilihat pada kemajuan teknologi dan peningkatan skill, serta peningkatkan produktivitas modal.

Dalam model itu, masalahnya teknologi dianggap sebagai fungsi waktu.

d) Teori Pertumbuhan Ekonomi Keynes

(13)

Keynes (1936), merupakan penulis buku The General Theory of Employment, Interest and Money yang menjadi landasan teori makroekonomi modern.

Keynes (1936), menjelaskan perbelanjaan yang dilakukan masyarakat atas barang dan jasa merupakan faktor utama yang dapat menentukan tingkat kegiatan ekonomi, dalam hal ini permintaan agregat dapat menentukan situasi makroekonomi pada suatu negara. Langkah – langkah yang digunakan pemerintah untuk mengatasi masalah perbelanjaan masyarakat juga dijelaskan dalam kegiatan makroekonomi.

c. Indikator Pertumbuhan Ekonomi

Mankiw (2007: 182), menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dijadikan sebagai penentu pengamabilan kebijakan selanjutnya, hal ini didasari dari pertumbuhan ekonomi yang menjadi indikator untuk mengetahui keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara. Mankiw (2007), mengatakan bahwa kinerja perekonomian suatu negara sering diukur dengan pendapatan domestik bruo negara tersebut. PDB memiliki tujuan untuk meringkas aktivitas ekonomi selama perioede tertentu dengan suatu nilai uang.

Produk Nasional Bruto didapatkan dari penambahan pendapatan neto dari luar negeri. Pendapatan neto didapatkan dari faktor produksi

(14)

tenaga kerja dan modal milik warga negara Indonesia yang diterima dari luar negeri dan dikurangi dengan pendapatan milik warga negara asing yang diperoleh di Indonesia (BPS, 1993). Pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh atau dari setiap sektor dari tahun ke tahun merupakan pendapatan domestik bruto atas harga konstan (PBB, 1993). Dalam penelitian ini menggunakan variabel PDB atas harga konstan sebagai variabel denpenden dan digunakan sebagai proksi pertumbuhan ekonomi.

3. Penanaman Modal Asing (PMA)

Undang – Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2007 pasal 1 Ayat 9 tentang penanaman modal, menjelaskan penanaman modal asing adalah kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh pihak asing dengan penanaman modal sepenuhnya ataupun bekerjasama dengan penanam modal dalam negeri dengan tujuan melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.

Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi diperlukan suatu penambahan modal. Penambahan modal ini berupa investasi dan tabungan.

Di satu sisi tabungan domestik rendah sedangkan, di sisi lain kebutuhan dana untuk membiayai investasi besar. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara tabungan dan investasi : S-I < 0 (S < I). Ini berarti negara tersebut mengalami investment-saving gap atau I-S gap positif (atau S-I gap negatif). Di Indonesia seperti banyak di negara berkembang lainya selisih

(15)

ini ditutup dengan arus modal asing, mulai dari hibah, pinjaman resmi (antar pemerintah disebut dengan G to G loans), hingga investasi, baik yang sifatnya jangka panjang (PMA) atau jangka pendek (portofolio investment).

Dapat dikatakan bahwa secara hipotesis ada suatu korelasi positif antara I- S gap dan ketergantungan ekonomi suatu negara terhadap dana dari luar negeri (Tambunan, 2001: 46-47).

Defisit karena adanya I-S gap yang telah berlangsung secara persistent tersebut harus dapat dibiayai dari capital inflows agar tidak mengganggu cadangan devisa yaitu dengan investasi. Capital inflows untuk menutup adanya I-S gap dapat berupa PMA baik FDI, portfolio, ataupun pinjaman luar negeri (baik oleh pemerintah maupun swasta). Pembiayaan defisit transaksi berjalan melalui PMA yang FDI dipandang sebagai langkah yang paling aman dalam membiayai pembangunan, karena dana tersebut biasanya digunakan untuk kepemilikan dan kontrol atas pembangunan pabrik, peralatan, dan prasarana. Dengan demikian PMA tersebut meningkatkan kapasitas pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Salim dan Budi (2008: 149), menjelaskan penanaman modal asing adalah transfer modal dari suatu negara ke negara lain atau pemindahan modal baik nyata ataupun tidak nyata. Penanaman modal asing sendiri terjadi ketika investor mengakuisisi aset bisnis asing di perusahaan asing atau mendirikan operasi perusahaan asing di Indonesia. Harrod – Domar (1939), menyatakan investasi adalah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana investasi asing mapun dalam negeri berperan

(16)

sebagai penambah modal sehingga dapat menumbuhkan perekonomian suatu negara. Penanaman modal asing bertujuan untuk menghasilkan keuntungan dengan biaya produksi yang rendah dan diawasi oleh pemilik modal baik total maupun sebagian.

4. Konsumsi Rumah Tangga

Mankiw (2000), berpendapat konsumsi yaitu pembelanjaan rumah tangga atas barang dan jasa. Pembelanjaan rumah tangga pada barang yaitu seperti makanan, pakaian, kendaraan dan sebagainya sedangkan, potong rambut dan pelayanan kesehatan lainnya merupakan konsumsi pada jasa.

Konsumsi rumah tangga diartikan sebagai pengeluaran rumah tangga berupa barang dan jasa dengan tujuan konsumsi. Pengguna akhir dari berbagai jenis barang dan jasa yang tersedia pada perekonomian adalah rumah tangga. Individu atau kelompok individu yang tinggal bersama dalam satu bangunan tempat tinggal dapat dikatakan sebagai rumah tangg (PBB, 1993). Berdasarkan teori Keynes, konsumsi rumah tangga dikatakan berbanding lurus dengan perumbuhan ekonomi, artinya jika konsumsi rumah tangga naik maka PDB juga naik, sebaliknya pertumbuhan ekonomi akan cenderung menurun jika konsumsi rumah tangga menurun.

Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat dan sisi penawaran agregat. Dalam perekonomian dua sektor sisi permintaan agregat (penggunaan PDB) terdiri atas dua

(17)

komponen yaitu, Konsumsi dan investasi sehimgga dapat ditunjukan dengan persamaan berikut (Sukirno, 2008: 133) :

Dimana :

Y = Pendapatan Domestik Bruto C = Konsumsi

I = Investasi

Sedangkan dalam perekonomian terbuka sisi permintaan agregat terdiri atas empat komponen yaitu, konsumsi rumah tangga (C), Investasi domestik bruto (pembentukan modal tetap dan perubahan stok) (I), konsumsi/ pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor neto (X-M). Sisi permintaan agregat dalam suatu ekonomi bisa digambarkan dalam suatu model ekonomi makro sederhana sebagai berikut (Tambunan, 2001: 40-41)

Dimana :

Y = Pendapatan Domestik Bruto C = Konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran pemerintah X – M = Ekspor Impor

Y = C + I

Y = C + I + G + (X – M)

(18)

Analisis Harrod – Domar dalam perekonomian dua sektor investasi harus mengalami kenaikan agar perekonomian mengalami pertumbuhan yang berkepanjangan dan pertambahan investasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan pengeluaran agregat.

5. Inflasi

K. Judisseno (2002), mengungkapkan bahwa Inflasi ialah salah satu kejadian moneter yang menunujkukan satu kecenderungan dari naiknya harga barang – barang pada umumnya atau diartiakan adanya penurunan tingkat nilai mata uang. Boediono (1999), menjelaskna inflasi merupakan kecenderungan dari harga – harga untuk naik secara menyeluruh dan terus menerus.

Menurut Nopirin (2010), inflasi dapat menimbulkan efek bagi pemerintahan maupun kondisi politik yaitu efek terhadap pendapatan, efek terhadap efesiensi, dan efek terhadap ouput. Tamny (2010) menyatakan dengan merujuk kepada definisi inflasi Friedman dalam era 1970 an dimana inflasi selalu menjadi gejala tumbangnya nilai mata uang pada ketika itu.

Tamny juga menyatakan dengan merujuk kepada pernyataan Ben Bernanke bahwa inflasi merupakan fungsi dari terlalu banyaknya pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Inflasi yang cukup tinggi memiliki dampak yang berbahaya bagi perekonomian. Peningkatan inflasi dapat menyebabkan harga bahan baku lebih tinggi, pendapatan dan laba menurun, daya beli konsumen cenderung menurun dan perekonomian melambat.

(19)

Inflasi memiliki hubungan yang erat terhadap pertumbuhan ekonomi karena jika inflasi berlangsung secara terus menerus berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi yang tinggi dikatakan di atas 10 persen, jika tingkat inflasi yang terlalu tinggi maka akan mengakibatkan harga – harga di pasaran melambung naik maka produsen akan sangat kesulitan untuk memasarkan produksi mereka, sebab dengan harga yang tinggi maka konsumen akan mengurangi konsumsi mereka bahkan bisa mengalihkan konsumsi kepada barang pengganti yang lebih murah. Hal ini akan merugikan produsen dan alur perputaran uang dalam masyarakat akan melambat sehingga pendapatan masyarakat akan menurun dan ini menjadi indikasi dari pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan teori Keynes sendiri, konsumsi dikatakan berbanding lurus dengan perumbuhan ekonomi, artinya jika konsumsi naik maka PDB juga naik, sebaliknya pertumbuhan ekonomi akan cenderung menurun jika konsumsi rumah tangga menurun.

Ini sesuai dengan teori dari Iskandar Putong yang mengatakan inflasi dapat berakibat buruk sebab kenaikan harga yang terus menerus kemungkinan tidak dapat terjangkau oleh masyarakat. Ketika terjadi inflasi masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan. Sedangkan pada saat itu terjadi siklus yang dimana perusahaan juga mengalami kelesuan sehinga berdampak langsung pada menurunnya pendapatan perusahaan dan buruh (Putong,2003:263).

C. Kerangka Penelitian

(20)

Kerangka penelitian merupakan suatu alur untuk berpikir dengan menunjukan pemahaman pokok yang melandasi pemahaman lainnya.

Adapun kerangka penelitian pada Gambar 2.1. penelitian ini yaitu :

Gambar 2.1. Kerangka Penelitian

D. Perumusan Hipotesis

Hipotesis adalah suatu pernyataan atau perkiraan sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih kurang kuat sehingga harus diuji secara empiris. Hipotesis dapat membantu peneliti dalam menentukan arah pengujian yang jelas sehingga dapat membimbing peneliti dalam melaksanakan pengujian. Penelitian ini menggunakan analisis linear berganda sehingga memunculkan hipotesis sebagai berikut :

a) Hipotesis Uji Serentak (Uji F) Kapitalisasi Pasar (X1)

PMA (X2)

Pertumbuhan Ekonomi/PDB (Y)

Konsumsi RT (X3)

Inflasi (X4)

(21)

1. H0 : Besar kemajuan pasar modal ditinjau dari variabel kapitalisasi pasar, serta variabel kontrol yang digunakan yaitu Penanaman Modal Asing (PMA), Konsumsi Rumah tangga, dan inflasi tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

H1 : Mininmal 1 satu di antara besar kemajuan pasar modal ditinjau dari variabel kapitalisasi pasar, serta variabel kontrol yang digunakan yaitu Penanaman Modal Asing (PMA), Konsumsi Rumah tangga, dan inflasi signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

b) Hipotesis Uji Parsial ( Uji t)

1. H0 : Besar kemajuan pasar modal ditinjau dari kapitalisasi pasar tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi H1 : Besar kemajuan pasar modal ditinjau kapitalisasi pasar signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

2. H0 : Besar PMA tidak signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

H1 : Besar PMA signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

3. H0 : Besar konsumsi RT tidak signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

H1 : Besar konsumsi RT signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

(22)

4. H0 : Besar Inflasi tidak signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

H1 : Besar Inflasi signfikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tahap tindakan yang dilakukan, meliputi (a) melaksanakan tindakan dalam pembelajaran pada sub tema Perubahan Wujud Benda sesuai dengan Rencana Pelaksanaan

Dalam LOPA, skenario adalah penyebab awal yang merupakan dampak potensi bahaya yang terdapat pada HAZOP yang memiliki nilai dari risk rank tinggi (Lassen, CA, 2008).

These lexical features and syntactic features used as the characteristics of the register of the Indonesian advertisements show that advertising uses a special

Hormon hipofisiotropik diproduksi oleh saraf neurosecretory di hipotalamus dan masuk ke dalam kepiler hipotalamus  kapiler-kapiler hipotalamus akan bergabung membentuk sistem

SYAMSUL ARIFIN SKI MI Swasta Miftahul Ulum 2 Bondowoso 34. 35 FARIKI SKI MTs Swasta Hidayatullah

Kategori 2 Setiap bahan yang dalam campuran dengan perbandingan 1:1 berdasarkan berat, yang diuji terhadap bahan dan selulosa, menunjukkan kenaikan tekanan rata-rata terhadap

Prinsip kerja sistem pembelian bermula dari pihak distributor yang memesan barang kepada supplier dengan cara mengisi form purchasing order yang berfungsi sebagai bukti

Penelitian ini juga menarik karena elemen modal sosial kognitif diamati pada praktik kelola hutan berbasis masyarakat berupa parak dan rimbo yang lazim