• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

Sejalan dengan laju perkembangan industri yang semakin besar, Indonesia dituntut untuk mampu bersaing dengan negara lain dalam bidang industri. Perkembangan industri di Indonesia sangat berpengaruh pada ketahanan ekonomi Indonesia yang akan menghadapi banyak persaingan di pasar bebas nanti. Sektor industri kimia, sebagai tulang punggung perekonomian negara, banyak memegang peranan dalam memajukan perindustrian di Indonesia. Inovasi proses produksi maupun pembangunan pabrik baru yang berorientasi pada pengurangan ketergantungan terhadap produk impor maupun untuk menambah devisa negara sangat diperlukan, salah satunya dengan pembangunan pabrik acrylonitrile.

Acrylonitrile (C3H3N) adalah senyawa kimia tak jenuh berikatan rangkap karbon-karbon yang berkonjugasi dengan golongan nitril (Kirk &

Othmer, 1991). Acrylonitrile yang sering juga disebut sebagai acrylic acid nitrile, propylene nitrile, vinyl cyanide, dan propenoic acid nitrile, merupakan cairan jernih, tidak berwarna, dan larut dalam berbagai pelarut organik, seperti etanol, aseton, etil asetat, karbon tetraklorida, dan benzene, namun hanya larut sebagian dalam air. Acrylonitrile mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menunjang pembangunan di sektor industri, yaitu sebagai bahan kimia antara (intermediate) dalam pembuatan polimer seperti acrylic fibers, termoplastik (Acrylonitrile/Butadiene/Styrene dan Styrene/Acrylonitrile), karet sintetik, dan juga adiponitrile (Dimian dan Bildea, 2008).

Hingga saat ini acrylonitrile masih diimpor dari Jepang, Singapura, dan Amerika. Dengan didirikannya pabrik acrylonitrile di Indonesia, kemungkinan impor dapat dikurangi. Bahkan apabila produksi sudah melebihi kebutuhan dalam negeri, acrylonitrile dapat menjadi produk ekspor.

Dengan semakin meningkatnya perkembangan industri di Indonesia, maka

(2)

diperkirakan permintaan bahan baku acrylonitrile pada tahun-tahun mendatang juga akan meningkat. Selain pertimbangan tersebut, pendirian pabrik ini juga didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

1. Dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

2. Dapat menambah devisa negara dengan mengekspor hasil produksi acrylonitrile ke luar negeri.

3. Mengurangi ketergantungan impor acrylonitrile.

4. Membuka lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitar wilayah industri yang akan didirikan, yang berarti dapat mengurangi jumlah pengangguran.

5. Mendukung berkembangnya pabrik kimia lain yang menggunakan acrylonitrile sebagai bahan baku.

6. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia lewat alih teknologi.

Dari berbagai pertimbangan di atas dapat disimpulkan bahwa pendirian pabrik acrylonitrile di Indonesia sangat diperlukan.

1.2 Kapasitas Rancangan

Dalam pemilihan kapasitas pabrik acrylonitrile ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Kebutuhan acrylonitrile 2. Ketersediaan bahan baku

3. Kapasitas pabrik yang sudah berdiri

1.2.1 Kebutuhan Dalam Negeri

Kebutuhan acrylonitrile di Indonesia hampir setiap tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 – 2015, perkembangan jumlah impor acrylonitrile Indonesia sejak tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

(3)

Tabel 1.1. Data Impor Acrylonitrile di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2009-2015)

Tahun Impor (Ton/tahun)

2009 6.412,17

2010 6.252,18

2011 8.947,24

2012 7.572,12

2013 7.596,29

2014 7.188,11

2015 6.775,99

Berdasarkan data tersebut dapat dibuat grafik Data Impor Acrylonitrile di Indonesia sesuai pada gambar 1.1 dibawah ini

Gambar 1.1. Grafik Data Impor Acrylonitrile di Indonesia

Dari Gambar 1.1, diperoleh suatu persamaan regresi linier untuk mengetahui kebutuhan acrylonitrile pada tahun 2020 :

y = 57,58x – 108.611,14

y = (57,58 x 2020) – 108.611,14 y = 7.700 ton/tahun

y = 57,58x - 108611,14

0.00 2,000.00 4,000.00 6,000.00 8,000.00 10,000.00

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah (Ton/tahun)

Tahun

Jumlah Impor Acrylonitrile

(4)

1.2.2 Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku ethylene cyanohydrine yang dibutuhkan dalam proses pembuatan acrylonitrile sebesar 85.236,27 ton/tahun diperoleh dari Shanghai Bangcheng Chemical Co., Ltd. yang berkapasitas 200.000 ton/tahun yang berada di China. Sehingga kebutuhan bahan baku dapat terpenuhi.

1.2.3 Kebutuhan Luar Negeri

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pabrik acrylonitrile yang akan didirikan ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan luar negeri. Kebutuhan acrylonitrile di beberapa Negara Asia terlihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Kebutuhan Acrylonitrile di Beberapa Negara Asia (UN Data, 2014)

Negara Kebutuhan Impor Acrylonitrile (Ton/Tahun)

2010 2011 2012 2013 2014

Korea Selatan 84.783 87.084 113.472 100.031 90.357

Malaysia 58.207 80.899 69.395 87.999 96.884

Total 142.990 167.983 182.867 188.030 187.241

Berdasarkan data tersebut dapat dibuat grafik data impor acrylonitrile di Indonesia sesuai pada gambar 1.2 dibawah ini

(5)

Gambar 1.2. Grafik Data Impor Acrylonitrile di Korea Selatan dan Malaysia (ICIS, 2010-2014)

Diperkirakan pada tahun 2020, kebutuhan acrylonitrile di tiga negara tersebut adalah

y = 10.855 x – 21.666.237

y = (10.855 x 2020) – 21.666.237 y = 260.863 ton/tahun

Dengan perkiraan tersebut jumlah impor ketiga negara tersebut pada tahun 2020 akan mencapai 260.863 ton/tahun.

1.2.4 Kapasitas Rancangan Minimum

Dari Encyclopedia of Chemical Processing and Design Mc Ketta 1954, diperoleh data bahwa kapasitas minimum yang masih dapat memberikan keuntungan apabila mendirikan pabrik acrylonitrile adalah 5.000 ton/tahun.

Kapasitas pabrik yang akan didirikan harus berada diatas kapasitas minimal atau sama dengan kapasitas pabrik yang sedang berjalan. Data pabrik penghasil acrylonitrile di dunia dapat dilihat pada tabel 1.3 dibawah ini Tabel 1.3. Data Pabrik Penghasil Acrylonitrile di Dunia (ICIS, 2015)

y = 10.855x - 21.666.237

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000

2010 2011 2012 2013 2014

Jumlah Impor (ton/tahun)

Tahun

Jumlah Impor Acrylonitrile di Korea Selatan

dan Malaysia

(6)

Pabrik Lokasi Kapasitas (ton/tahun)

Anqing Petrochemical Anqing, China 80.000

Asahi Kasei

Kawasaki, Japan 150.000

Mizushima, Japan 350.000 Ascend Performance Materials Alvin, Texas 500.000

Arpechim Pitesti, Romania 52.000

China Petrochemical

Development Ta-Sheh, Taiwan 190.000

Cornerstone Chemical Fortier, Louisiana, US 227.250 Daqing Refining and Chemical Daqing, China 80.000 Dia-NitriX

Mizushima, Japan 115.000

Otake, Japan 90.000

DSM Geleen, Netherlands 260.000

DuPont Beaumont, Texas, US 185.000

Formosa Plastics Mailiao, Taiwan 280.000

Fushun Petrochemical Fushun, China 90.000

INEOS

Cologne, Germany 300.000

Seal Sands, UK 280.000

Green Lake, Texas 545.000

Lima, Ohio 190.000

Jihua Group Jilin City, China 250.000

Lukoil Neftochim Burgas, Bulgaria 28.000

Pemex Petrochemical Tula, Mexico 65.000

Petkim Aliaga, Turkey 92.000

PetroChina Lanzhou

Petrochemical Lanzhou, China 35.000

Polymir Novopolotsk, Belarus 72.000

Qilu Petrochemical Zibo, China 40.000

(7)

Tabel 1.3. Data Pabrik Penghasil Acrylonitrile di Dunia (ICIS,2015) (Lanjutan)

Pabrik Lokasi Kapasitas

(ton/tahun)

Reliancesa Industries Baroda, India 42.000

Repsol Chemicals Tarragona, Spain 125.000

Saratovorgsintez Saratov, Russia 150.000

Sasol Chemical Industries Secunda, South Africa 75.000

Shanghai Petrocemical Jinshan, China 130.000

Shanghai Secco Petrochemical Caojing, China 260.000

Showa Denko Kawasaki, Japan 60.000

Sinopec Shanghai Gaoqiao

Petrochemical Pudong, China 8.000

Solutia Alvin, Texas, US 500.000

Sumitomo Chemical Niihama, Japan 60.000

Dari Tabel 1.3 dapat diketahui bahwa kapasitas produksi minimal pabrik acrylonitrile di dunia adalah sebesar 8.000 ton/tahun.

Neraca distribusi produk

Keterangan:

M1 : Kebutuhan impor Indonesia

M2 : Kapasitas pabrik yang sudah ada di Indonesia M3 : Kapasitas pabrik yang akan dibangun

M4 : Kebutuhan ekspor negara lain M5 : Konsumsi dalam negeri

Gambar 1.3. Distribusi Produk Untuk Penentuan Kapasitas Distribusi Produk

M1

M2 M4

M3 M5

(8)

 M1

Karena kebutuhan impor Indonesia pada tahun 2020 akan disuplai oleh pabrik baru yang akan dibuat, maka nilai M1 adalah 0.

 M2

Karena pabrik acrylonitrile belum ada di Indonesia, maka nilai M2 yang merupakan kapasitas produksi pabrik yang sudah ada bernilai 0.

 M3

M3 adalah kapasitas produksi pabrik yang akan dibangun, maka nilai M3 adalah yang dicari.

 M4

Hasil produksi pabrik acrylonitrile yang akan dibangun tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke beberapa negara tetangga yaitu Malaysia dan Korea Selatan. Pabrik acrylonitrile ini dirancang dan didesain untuk memenuhi 20% dari kebutuhan acrylonitrile di 2 negara tersebut.

 M5

Jumlah konsumsi acrylonitrile dalam negeri adalah jumlah impor acrylonitrile pada tahun 2020

Neraca massa pertumbuhan produk M1 + M2 + M3 = M4 + M5

M3 = M4 + M5 – M1 – M2

= ((20% . 260.863) + 7.700 – 0 – 0 ) ton/tahun = (52.172 + 7.700) ton/tahun

= 59.873 ton/tahun.

Maka kapasitas pabrik yang akan dibuat adalah 60.000 ton/tahun.

Di Indonesia belum ada pabrik yang memproduksi acrylonitrile, sedangkan prediksi kebutuhan impor Indonesia terhadap acrylonitrile pada tahun 2020 sebesar 7.700 ton/tahun sehingga dengan kapasitas pabrik 60.000 ton/tahun, Indonesia sudah tidak perlu impor lagi, dan sisa produksi di ekspor ke Korea Selatan Selatan dan Malaysia.

(9)

Dari gambar 1.2 dapat diketahui bahwa perkiraan jumlah impor acrylonitrile pada kedua negara tersebut pada tahun 2020 akan mencapai 260.863 ton/tahun, maka pabrik acrylonitrile yang akan dibangun ini akan memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan impor kedua negara tersebut.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka ditetapkan kapasitas prarancangan pabrik acrylonitrile yang akan didirikan pada tahun 2020 sebesar 60.000 ton/tahun dengan alasan sebagai berikut :

1. Kapasitas produksi minimal pabrik acrylonitrile sebesar 8.000 ton/tahun.

2. Dapat memenuhi kebutuhan acrylonitrile dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan impor acrylonitrile.

3. Dapat mendorong berdirinya industri-industri lain yang menggunakan acrylonitrile sebagai bahan baku.

4. Apabila terpenuhi kebutuhan dalam negeri, sisa produk dapat diekspor sehingga menambah devisa negara.

1.3. Pemilihan Lokasi Pabrik

Pabrik acrylonitrile ini direncanakan didirikan di Cilegon, Banten. Peta

lokasi pabrik dapat dilihat pada Gambar 1.4. (Google Maps, 2015)

(10)

Gambar 1.4. Peta Lokasi Pabrik Acrylonitrile

Daerah ini dipilih sebagai lokasi berdirinya pabrik tersebut atas dasar pertimbangan sebagai berikut :

1. Ketersediaan bahan baku

Bahan baku utama ethylene cyanohydrine diperoleh dari Shanghai Bangcheng Chemical Co., Ltd. yang berkapasitas 200.000 ton/tahun berada di China sehingga dipilih lokasi yang dekat dengan pelabuhan untuk mempermudah penyediaannya.

2. Pemasaran produk

Daerah Cilegon merupakan daerah yang tepat untuk daerah pemasaran karena banyaknya industri kimia yang menggunakan bahan baku acrylonitrile diantaranya :

a. Industri Acrylonitrile-Butadiene-Styrene (ABS) dan Styrene Acrylonitrile (SAN) yang diproduksi PT Arbe Styrindo Indonesia, dan juga PT Torai Internasional Indonesia.

b. Industri Acrylonitrile-Butadiene-Styrene (ABS) yang diproduksi PT ABS Industri Indonesia

(11)

3. Ketersediaan air

Hal lain yang mendukung pemilihan lokasi pabrik di daerah Cilegon ini adalah dekatnya sumber air. Untuk kebutuhan air pendingin dan pemadam kebakaran diperoleh dari Selat Sunda, sedangkan untuk kebutuhan air konsumsi umum dan sanitasi diperoleh dari PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI) yang berkapasitas sebesar 57.024.000 ton/tahun (kti.ac.id). Kedua sumber air ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan utama pekerja dan operasional pabrik.

4. Fasilitas transportasi

Transportasi sangat penting bagi suatu industri. Di Daerah Cilegon tersedia sarana transportasi yang cukup memadai, baik darat maupun laut untuk keperluan transportasi impor-ekspor sehingga memudahkan pengangkutan bahan baku, bahan pembantu, dan produk.

1.4. Tinjauan Pustaka

1.4.1 Macam-macam Proses Pembuatan Acrylonitrile

Dalam pembuatan acrylonitrile, terdapat beberapa macam proses yang dapat digunakan. Untuk menentukan pemilihan proses yang tepat, maka perlu diketahui beberapa macam proses pembuatan acrylonitrile (Faith Keyes, 1957) :

1. Proses Dehidrasi Ethylene Cyanohydrine

Proses yang terjadi adalah dehidrasi dengan reaksi sebagai berikut : HOCH2CH2C≡N CH2=CHC≡N + H2O (I-1)

Pada proses ini, reaksi dijalankan dalam fase cair atau gas pada tekanan atmosferis dan suhu 250 – 350oC dengan bantuan katalis alumina.

Produk keluaran reaktor dikondensasikan dan kemudian dialirkan ke dekanter dimana campuran cairan yang terdiri dari ethylene cyanohydrine, acrylonitrile, dan air terpisah menjadi dua layer.

Masing-masing layer tersebut akan dimurnikan di menara distilasi.

Hasil atas menara distilasi berupa acrylonitrile dengan kemurnian 99%.

Ethylene cyanohydrine Yield 90% Acrylonitrile Air

(12)

Sedangkan hasil bawahnya dimasukkan ke dalam vaporizer untuk didapatkan ethylene cyanohydrine dengan kemurnian 97% akan di recycle untuk diproses kembali.

2. Proses Acetylene

Reaksi yang terjadi adalah :

HC≡CH + HCN CH2=CHC≡N (I.2)

Proses ini berlangsung pada suhu 70oC dan tekanan atmosferis dalam fase gas dengan menggunakan bantuan katalis cuprous chloride (CuCl2). Yield yang diperoleh sebesar 80% terhadap acetylene dan 90%

- 95% terhadap hydrogen cyanide. Hasil gas keluaran reaktor mengandung acrylonitrile, acetylene yang tidak bereaksi, 1 – 3% HCN, dan sejumlah kecil berbagai macam produk samping seperti acetaldehyde, vinyl acetylene, divinyl acetylene, lactonitrile (dari acetaldehyde dan HCN), vinyl chloride, cyanobutadiene, dan chloroprene. Gas-gas ini dikontakkan dengan air dalam scrubber untuk memisahkan acrylonitrile, hydrocyanide acid, dan beberapa produk samping. Gas-gas yang telah dikontakkan kemudian direcycle ke reaktor, sedangkan air yang mengandung 1,5% acrylonitrile didistilasi dengan bantuan steam untuk menghasilkan acrylonitrile 80%. Crude acrylonitrile ini difraksinasi secara bertingkat untuk menghasilkan acrylontrile 99%.

3. Proses Propylene Ammoxidation

Proses ini dikomersialkan oleh Sohio Company (BP Chemical) dan disebut dengan proses Propylene Ammoxidation. Bahan baku berupa propena, amoniak, dan udara diumpankan dengan rasio mol 1:1,2:10 ke dalam sebuah reaktor fluid-bed. Reaktor beroperasi pada suhu 400- 500oC dan tekanan 5-30 psig dengan waktu tinggal selama 10 detik atau kurang. Konversi propena yang tinggi diperoleh secara single pass sehingga tidak dibutuhkan recycle. Reaksi utama yang terjadi adalah:

CH2 = CHCH3 + NH3 + 3/2O2 CH2 = CHC≡N + 3H2O Acrylonitrile

Acetylene

Acrylonitrile Hydrogen Cyanide

Propylene Amoniak Oksigen Air

(13)

Perbandingan Proses pembuatan acrylonitrile dengan proses Dehidrasi Ethylene Cyanohydrine dan proses Acetylene dapat dilihat dari tabel 1.4 dibawah ini

Tabel 1.4. Perbandingan Proses Dehidrasi Ethylene Cyanohydrine dan Proses Acetylene dan Propylene Ammoxidation

Parameter

Proses Dehidrasi Ethylene Cyanohydrine

Proses Acetylene

Proses Propylene Ammoxidation Kondisi

Operasi

T : 250– 350oC P : atmosferis

T : 70oC P : atmosferis

T : 400-500oC P : 5-30 psig

Yield 90% 80% 77%

Produk samping

Tidak ada Ada (acetaldehyde, vinyl acetylene, divinyl acetylene, lactonitrile)

Ada (HCN, Acetonitrile, Acroleine, Succinic Nitrile, dan uap air) Proses

pemurnian

Sederhana Lebih rumit karena banyaknya produk samping

Lebih rumit karena banyaknya produk samping

Dengan melihat perbandingan kedua proses diatas, maka pada prarancangan pabrik acrylonitrile ini dipilih proses dehidrasi Ethylene Cyanohydrine karena proses dan pemurniannya lebih sederhana serta menghasilkan yield yang cukup tinggi.

1.4.2. Kegunaan Produk

(14)

Kegunaan acrylonitrile secara umum adalah (Kirk dan Othmer, 1991):

1. Bahan untuk membuat Acrylic Fiber

Acrylic Fiber adalah salah satu produk turunan dari acrylonitrile. Serat ini banyak digunakan oleh pabrik-pabrik tekstil sebagai bahan baku pembuatan karpet, sweater, dan baju olahraga.

2. Bahan untuk membuat Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) dan Styrene Acrylonitrile (SAN)

ABS mengandung 25% acrylonitrile dan SAN mengandung 30%

acrylonitrile. ABS dan SAN biasa digunakan untuk bahan konstruksi otomotif, mesin, dan alat-alat rumah tangga.

3. Bahan untuk membuat Nitrile Rubber

Nitrile rubber digunakan untuk gasket dan bahan campuran PVC.

4. Bahan untuk membuat adiponitrile yang digunakan untuk intermediet pembuatan nilon.

1.4.3 Sifat-sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku, Bahan Pembantu, dan Produk 1.4.3.1 Sifat-sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku

Ethylene cyanohydrine

1. Sifat fisis (Kirk & Othmer, 1993 ; Yaws,1999)

Struktur molekul :

Rumus molekul : C3H5NO

Berat molekul : 71,08 gram/mol

Titik didih normal : 228oC Titik beku, 1 atm : -46,2oC Berat jenis, 20oC : 1,059 kg/L

Kelarutan : Dapat larut dalam air, acetone, metil etil keton, etanol, dan tidak larut dalam benzene, carbon dissulfite, dan carbon tetra chloride

(15)

Viskositas, 25oC : 0,56 cp Kelarutan dalam air, 20oC : 10 g/100 mL Temperatur kritis : 417oC

Tekanan kritis : 48,9 bar

ΔHof : -98.300 J/mol

ΔGof : -35.400 J/mol

2. Sifat kimia (Material Safety Data Sheet, 2012)

a. Hidrolisis Ethylene cyanohydrine membentuk asam akrilat (Kirk dan Othmer, 1993)

b. Bukan merupakan senyawa korosif

c. Bahaya yang ditimbulkan berupa iritasi mata dan kulit

1.4.3.2 Sifat-sifat Fisis dan Kimia Bahan Pembantu Alumina

1. Sifat Fisis (Perry, 1997 ; Kirk dan Othmer,1991)

Rumus molekul : Al2O3

Berat molekul : 101,94 gr/gmol

Berat jenis, 20oC : 3950 kg/m3

Specific gravity : 3,99

Titik leleh, 1 atm : 1999 – 2032 oC

Titik didih normal : 2210 oC

Suhu kritis : 5062oC

Tekanan kritis : 1953 bar

Kelarutan dalam 100 bagian air dingin : Tidak larut Kelarutan dalam 100 bagian air panas : Tidak larut

2. Sifat kimia

a. Terurai menjadi γ aluminium oksida pada suhu sekitar 725 K

(16)

b. Terurai menjadi alpha, theta, delta aluminium oxide pada suhu 575-625 K

1.4.3.3 Sifat-sifat Fisis dan Kimia Produk Acrylonitrile

1. Sifat fisis (Kirk dan Othmer 1991 ; Yaws,1999)

Struktur molekul :

Rumus molekul : C3H3N

Berat molekul : 53,06 g/gmol

Titik didih normal : 77,3oC Titik beku, 1 atm : -83,5oC Berat jenis, 20oC : 0,806 g/cm3 Kelarutan dalam air, 20oC : 7,3 %wt Temperatur kritis : 246oC

Tekanan kritis : 3,54 Mpa

Viskositas, 25oC : 0,34 cp

ΔHof : 180.600 J/mol

ΔGof : 191.100 J/mol

2. Sifat kimia (Kirk dan Othmer,1991)

a. Hidrasi dengan asam sulfat menjadi acrylamide sulfat dan dapat berubah menjadi acrylamide dengan netralisasi basa.

b. Hidrolisis parsial, acrylonitrile diubah menjadi acrylamide dengan menggunakan katalis copper

c. Hidrogenasi dengan menggunakan katalis metal menghasilkan propionitrile dan propylamine

d. Hidrodimerisasi menghasilkan adiponitrile 1.4.4 Tinjauan Proses Secara Umum

(17)

Pada prarancangan pabrik ini, dipilih pembuatan acrylonitrile dengan proses dehidrasi ethylene cyanohydrine dalam fase gas. Bahan baku yang sebelumya telah diberikan perlakuan awal dan disesuaikan kondisi operasinya dialirkan ke dalam reaktor. Reaksi yang terjadi adalah

C3H5NO (g) C3H3N (g) + H2O (g) (I.3) Reaksi dehidrasi ini berlangsung pada suhu 250 – 350oC dan tekanan sedikit diatas tekanan atmosferis dalam reaktor fixed bed multitube, dengan bantuan katalis alumina. Gas hasil reaksi dikondensasikan dan dipisahkan dalam decanter untuk dipisahkan berdasarkan beda kelarutan, fase atas dari dekanter dialirkan menuju menara distilasi 1 untuk dimurnikan sehingga didapatkan acrylonitrile 99%, sedangkan fase bawah dari dekanter dialirkan menuju menara distilasi 2 untuk dimurnikan sehingga didapatkan acrylonitrile 99%, hasil bawah Menara Distilasi 2 dialirkan menuju vaporizer untuk mendapatkan hasil bawah cairan dengan kandungan seperti bahan baku, yaitu ethylene cyanohydrine 97% yang kemudian di recycle kembali ke Tee-01 bercampur dengan bahan baku.

Gambar

Tabel 1.1. Data Impor Acrylonitrile di Indonesia (Badan Pusat Statistik,  2009-2015)
Tabel 1.2.  Kebutuhan Acrylonitrile di Beberapa Negara Asia (UN Data,  2014)
Gambar 1.2. Grafik Data Impor Acrylonitrile di Korea Selatan dan Malaysia  (ICIS, 2010-2014)
Tabel 1.3. Data Pabrik Penghasil Acrylonitrile di Dunia (ICIS,2015)   (Lanjutan)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan asumsi bahwa pabrik akan mulai beroperasi pada tahun 2018, pabrik bioetanol dari rumput Gajah ini mempunyai peluang yang baik untuk memenuhi kebutuhan

PT PG Candi Baru hanya memproduksi gula jenis SHS IA sebagai produk utama dari bahan baku tebu dengan menggunakan proses sulfitasi ganda kontinyu dan sebagai produk

Salah satu industri kimia di Indonesia yang masih diperlukan untuk konsumsi dalam negeri adalah industri amil asetat.. Amil asetat merupakan salah satu ester

Kawasan Industri Serang merupakan daerah yang strategis untuk pendirian suatu pabrik karena dekat dengan beberapa industri lain yang dapat menggunakan benzonitril..

Produsen TPA terbesar secara global adalah negara Cina dengan kapasitas produksi sebesar 57% dari total kapasitas produksi dunia (Asia Chemicals Outlook, 2019).

Saat ini kebutuhan asam asetat menurut data impor pada tahun 2018, rata – rata impor 70.963,87 ton/tahun dengan kapasitas pabrik asam asetat yang ada di indonesia

Saat ini Indonesia juga masih impor etilen dikarenakan produksi dalam negeri (1.675.000 ton/tahun) masih dibawah kebutuhan etilen yang mencapai lebih dari

Reaksi menggunakan katalis asam atau basa tetapi dalam praktek komersialnya untuk memproduksi Propilen Glikol, biasanya dilakukan.. pada temperatur 160-200 o C tanpa katalis,