14 BAB II
KEDUKAAN, PENDAMPINGAN DAN KONSELING, MAKNA BUDAYA
Bagian ini akan membahas tentang dua pendekatan yaitu pendampingan dan konseling yang diawali dengan pembahasan tentang konsep kedukaan dari beberapa para ahli yang terdiri dari pembahasan tentang definisi kehilangan dan kedukaan, gejala dan faktor-faktor kedukaan. Berikutnya akan membahas tentang pendampingan dan konseling masyarakat yang meliputi defenisi, fungsi dan tahapan-tahapan dalam pendampingan dan konseling serta bagian terakhir akan membahas tentang makna budaya dalam pendampingan dan konseling.
2.1 Kedukaan
2.1.1 Definisi Kehilangan dan Kedukaan
Kedukaan merupakan respon atas peristiwa kehilangan yang terjadi. Hal ini merupakan situasi dimana individu berpisah dengan sesuatu yang semula ada menjadi tidak ada sehingga memungkinkan terjadinya perubahan dalam diri seseorang.1 Ada beberapa konsep tentang kehilangan seperti, Clinebel yang mendefenisikan kehilangan sebagai krisis manusia yang terjadi secara universal dan akan menyerang setiap orang. 2 Howarth dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kehilangan merupakan salah satu pengalaman emosional yang paling menyedihkan yang dihadapi setiap orang. Hal ini merupakan fenomena yang universal tetapi orang meresponsnya dengan berbagai tingkat
1 Sujono Riyadi dan Teguh Purwanto, Asuhan Keperawatan Jiwa, (Yogyakarta: Graha Ilmu) 107.
2 Howard Clinebell, Tipe-Tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, (Yogyakarta:
Kanisius, 2002), 283.
15
kesedihan dan duka yang berbeda-beda serta ekspresi yang bervariasi antar individu.3. Humphrey dan Zimpfer menjelaskan bahwa kehilangan merupakan simbol kegagalan seseorang untuk mempertahankan apa yang telah dimilikinya.4 Berdasarkan pemahaman diatas maka, sesungguhnya kehilangan dapat diartikan sebagai suatu krisis dan kemalangan hidup yang tidak dapat diprediksi kapan peristiwa ini dapat terjadi.
Dari semua jenis kehilangan diatas Simson menegaskan bahwa sumber kehilangan terbesar adalah kematian5. Kematian adalah pengganggu yang tidak disukai dalam hidup manusia tetapi hal muncul secara tiba-tiba. Dalam menghadapi kenyataan ini manusia sering tidak mampu menguasai diri dan berduka dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Namun, sesungguhnya duka adalah respons normal terhadap kehilangan yang sementara dialami agar kehidupan penduka dapat ditransformasikan. Dalam peristiwa ini, orang yang berduka membutuhkan bantuan dan dukungan untuk mengelola perasaan mereka sehingga disinilah dukungan kedukaan yang dilakukan bisa benar-benar bermanfaat. Dukungan dapat datang dari berbagai sumber seperti keluarga, teman, penasihat spiritual dan penasihat spiritual, kelompok swadaya seperti sahabat sukarelawan dan professional.6 Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, kehilangan dalam konteks kematian merupakan fenomena yang rahasia sehingga
3 Robyn A. Howarth, “Concepts and Controversies in Grief and Loss”, Journal of Mental Health Counseling, Volume 33, No.0I (January 2011), 4.
4 Geraldine M. Humphrey & David G. Zimpfer, Counseling for Grief and Bereavement:
Second Edition, (London: SAGE Publication Ldt, 2008), 3.
5 Bertha G. Simon, A Time To Grief: Loss as A Universal Human Experience, (New York:
Family Servive Association Of America, 1979), 28-29.
6 Brenda Mallon, Dying, Death and Grief, (London: SAGE Publications Ltd, 2008), 1.
16
setiap orang tidak mampu mengetahui kapan kematian datang menjemputnya.
Situasi ini membawa seseorang pada kedukaan yang juga tidak dapat diprediksi kapan dapat berakhir.
Bagi sebagian orang, situasi ini merupakan pengalaman buruk dalam proses kehidupan sehingga duka pada umumnya merupakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan karena didalam terdapat rasa sakit dan kesedihan yang memotivasi kita untuk tidak ingin memikirkan apa yang telah menyakiti kita dan berharap itu tidak pernah terjadi.7 Hal ini dapat memicu beragam respons kesedihan seperti gangguan pada fungsi tubuh yang berhubungan dengan dimensi fisik, emosi, kognitif, perilaku, dan spiritual. Pada waktunya, kesedihan mereda melalui adaptasi dan penyesuaian terhadap kehilangan.8 Seringkali ekspresi ini merupakan perwakilan dari kata-kata dan penjelasan yang tidak mampu digambarkan secara lisan kepada orang lain.
Rogers, menjelaskan bahwa kesedihan seringkali terletak di luar kata-kata, di luar penjelasan sederhana dari pikiran sadar kita. Di alam bawah sadar ekspresi luka dan tragedi kehilangan ditemukan.9 Oleh karena itu, kedukaan merupakan peristiwa yang membuat manusia terkadang tidak mampu membendung kesedihannya sehingga sulit dijelaskan kepada orang lain. Menurut Wiryasaputra kedukaan (Grief) bukan penyakit atau gangguan tapi merupakan suatu keadaan
7 Loreto R. Prieto, “Special Section On Grief, Loss, And Bereavement”, Journal Of Mental Health Counseling, Volume 33, Number 1 (January 2011),1.
8 Mary Klasen , Sunil S. Bhar, Anna Ugalde and Christopher Hall, “Clients‟ Perspectives on Outcomes and Mechanisms of Bereavement Counselling: A Qualitative Study”, Australian Psychologycal Society, 2017, 363.
9 J. Earl Rogers, The Art of Grief: The Use Expressive Arts in a Grief Support Group, (New York: Routlege, 2007), 3.
17
alamiah dalam proses kehidupan. Kedukaan adalah reaksi normal ketika seseorang mengalami stress (tekanan), kehilangan (Loss) seseorang atau sesuatu.
Kedukaan merupakan upaya untuk menciptakan keseimbangan (equilibrium) baru setelah peristiwa kehilangan.10 Abineno memahami kedukaan bukan hanya terbatas pada apa yang kita rasakan, kedukaan juga mencakup apa yang kita pikirkan, apa yang kita ingini dan apa yang kita lakukan atau kerjakan.11
Berdasarkan uraian diatas, ternyata ada begitu banyak konsep kedukaan. Kita tidak bisa membenarkan salah satu pendapat dan mengabaikan pendapat lain, karena sesungguhnya sangat sulit untuk mendefenisikan kedukaan, sebab kedukaan yang dialami oleh setiap orang berbeda. Kedukaan merupakan bagian integral dari perjalanan kehidupan manusia yang tidak dapat ditolak. Peristiwa ini datang tiba-tiba tanpa permisi dan tidak dapat diprediksi kapan peristiwa ini akan berakhir. Hal ini merupakan reaksi manusia dari kehilangan sesuatu atau seseorang yang dikasihinya. Akan tetapi, kedukaan yang paling dahsyat terjadi ketika seseorang kehilangan orang yang dikasihinya melalui kematian. Jika kedukaan dapat dikelola dan diatasi dengan baik maka kedukaan bukanlah sebuah penyakit.
10 Totok S. Wiryasaputra, Pendampingan Pasrtoral Orang Berduka, (Yogyakarta: Pohon Cahya, 2019), 7.
11 J. L. CH. Abineno, Pelayanan Pastoral Kepada Orang Berduka, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 1.
18 2.1.2 Gejala-gejala dalam Proses Kedukaan
Setiap orang mengalami kedukaan secara berbeda, tidak ada yang sama, situasi dan kultur yang berbeda menghasilkan kedukaan yang berbeda pula.
Adapun gejala-gejala yang ditimbulkan pada saat kedukaan terjadi antara lain:
A. Air Mata dan Kesedian
Air mata merupakan tanda nyata dan utama sesorang sedang mengalami proses kedukaan karena dengan mengeluarkan air mata seseorang dapat meluapkan emosi kesedihan. Menurut Worden,12 kesedihan adalah perasaan yang paling umum ditemukan pada yang berduka dan benar-benar membutuhkan pertolongan. Walaupun dalam kenyataannya terdapat individu yang mengeluarkan air mata pada saat bahagia namun sesungguhnya air mata diidentikan dengan peristiwa dukacita dan tawa adalah simbol kebahagiaan.
Tetapi sesungguhnya menangis merupakan gejala normal dan manusiawi saat sedang berduka dan bukan suatu kesalahan fatal atau dosa.
B. Marah dan Stress
Duka juga dapat dikenali lewat amarah. Kemarahan ini datang dari rasa frustrasi bahwa tidak ada yang bisa dilakukan seseorang untuk mencegah kematian orang yang dikasihinya. Perasaan marah sering dinyatakan dalam sikap kecenderungan untuk mundur, merasa tidak berdaya, merasa tidak mampu eksis tanpa individu yang telah hilang, rasa bersalah dan kemudian mengalami
12 J. William Worden, Grief Counseling and Grief Therapy: Fourth Edition, (New York:
Springer Publishing Company, 2009),19.
19
perasaan cemas.13 Dalam kemarahan seseorang mungkin dapat menyalahkan siapa saja dan seringkali Tuhan sehingga, berlanjut pada rasa sedih terhadap dirinya sendiri dan bisa mengalami depresi berat atau perilaku bunuh diri.
Selain marah, stress juga merupakan reaksi terhadap kedukaan yang dialami.
Reaksi tersebut terwujud dalam beberapa perubahan fungsi tubuh misalnya zat adrenalin dipompa mengalir kedalam sistem peredaran darah, urat saraf makin menegang, tekanan darah naik, denyut jantung makin cepat, pernafasan menjadi lebih pendek, keringat meningkat, kelebihan energi yang disebut sebagai glycogen diubah menjadi zat gula.14 Stress sesungguhnya merupakan reaksi normal terhadap bahaya, ancaman, adat tekanan yang ada.15 Dengan demikian, stress merupakan sebuah reaksi yang dapat dilihat melalui perbahan fisik seseorang.
C. Rasa Bersalah, Menyesal dan Putus Asa
Setelah menyadari akan kehilangan, biasanya penduka kemudian berbalik pada dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena kemarahan dan kebencian tidak dapat lagi diarahkan pada pihak luar kemudian diarahkan pada diri sendiri. Marah dalam pengertian sebenarnya harus diarahkan pada pihak luar tetapi ketika diarahkan pada diri penduka sendiri maka kemarahan akan berubah menjadi penyesalan dan mungkin juga perasaan berdosa.16 Selanjutnya menjadikan
13 Worden, Grief Counseling and Grief Therapy: Fourth Edition, 20.
14 Totok S. Wiryasaputra, Mengapa Berduka: Kreatif Mengelola Perasaan Duka (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 109.
15 Wiryasaputra, Grief Psychotherapy: Psikoterapi Kedukaan, (Yogyakarta: Pustaka Referensi, 2019, 183.
16 Wiryasaputra, Grief Psychotherapy: Psikoterapi Kedukaan, 194.
20
seseorang menjadi putus asa yang berhubungan dengan masa kini dan masa depan.
Dalam keputusasaan, orang sama sekali tidak melihat harapan. Gejala putus asa akan dirasakan makin dalam bila penduka tidak dapat menemukan teman, kesepian, sendirian tanpa penolong, tanpa teman seperjalanan yang bersedia mendampinginya pada masa-masa sulit.17 Kondisi ini terjadi ketika penduka belum atau tidak bersedia mengakui dan menerima keadaan yang sebenarnya terjadi.18 Penduka menolak fakta yang sebenarnya terjadi. Penolakan ini biasanya terjadi pada peristiwa kematian yang terjadi secara tiba-tiba dan membuat seseorang merasa terkejut dan kaget.
D. Shock, Muram
Shock paling sering terjadi dalam kasus kematian mendadak. Contohnya, jika seseorang mengangkat telepon dan mengetahui bahwa orang yang dicintai atau temannya sudah meninggal.19 Ketika penduka benar-benar menyadari akan peristiwa kehilangan maka saat itu penduka mulai meluapkan perasaan-perasaan yang kuat dan mengarahkan orientasi hidupnya kedalam dirinya sendiri.
Wajahnya sangat muram, sedih, diam dan tidak mampu mengucapkan kata-kata untuk beberapa saat.
E. Menerima Kenyataan
Dalam dinamika penerimaan orang dapat berkata “selamat jalan” secara dewasa, tulus dan ikhlas. Hal ini membuat penduka sampai pada tahap mampu
17 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 113.
18 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 109-110.
19 Worden, Grief Counseling and Grief Therapy: Fourth Edition, 21.
21
mempersilahkan seseorang yang hilang pergi untuk selamanya.20 Bila orang tidak atau belum melalui dinamika ini, maka proses berdukanya belum atau tidak terselesaikan dengan baik dan pada umumnya menimbulkan persoalan baru dan tidak jarang menimbulkan kelainan emosional dan kepribadian.
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kedukaan
Kedalaman kedukaan antara satu penduka dengan penduka yang lain sangatlah berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
A. Tingkat Hubungan Emosional dan Nilai Pribadi yang Hilang
Kehidupan sehari-hari menunjukan bahwa makin tinggi nilai yang diberikan pada seseorang maka makin dalam hubungan emosionalnya. Hubungan emosional yang dibangun dan peran yang dimiliki alrmarhum merupakan faktor pertama yang memberikan dampak kuat bagi kedalam kedukaan seseorang.
Artinya bahwa makin dalam hubungan emosional penduka dengan seseorang yang dicintainya maka makin besar energi batin yang ia tanamkan dialamnya sehingga tingkat kedukaan seseorang makin berat.21 Sebaliknya makin rendah tingkat hubungan emosional penduka dengan objek yang hilang maka makin rendah tingkat kedukaannya.22
Nilai yang diberikan penduka terhadap seseorang yang telah meninggal dilatarbelakangi oleh tingkat kedekatan dan hubungan emosional seperti yang dijelaskaan diatas. Sesungguhnya Nilai orang yang hilang juga memberi
20 Worden, Grief Counseling and Grief Therapy: Fourth Edition, 196.
21 Wiryasaputra, Grief Psychotherapy: Psikoterapi Kedukaan, 68.
22 Wiryasaputra, Pendampingan Pastoral Orang Berduka, 16.
22
kontribusi dalam proses kedukaan. Kedukaan yang dialami oleh seseorang tidak langsung disebabkan oleh individu yang hilang tetapi pada nilai yang diberikan kepadanya. Wiryasaputra menyatakan bahawa kedukaan dipengaruhi oleh arti, nilai atau makna dari individu yang hilang. Oleh sebab itu kita dapat mengatakan bahwa kedalamaan kedukaan seseorang adalah berbanding lurus dengan nilai dari sesorang yang hilang.23 Dengan demikian, semakin berharga orang yang hilang maka semakin dalam duka yang ditimbulkannya.
B. Cara dan Penyebab Kematian
Cara dan penyebab kematian seseorang akan mempengaruhi dangkal atau dalamnya kedukaan yang. Contonya, kematian seseorang akibat penyakit yang diderita diusia tua atau penyakit terminal menimbulkan rekasi yang berbeda dari kematian mendadak karena kecelakaan. Makin dianggap biasa cara kematian itu maka makin dangkal dan sederhana pula dinamika kedukaannya.24 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, manusia sesungguhnya sedikit lebih tenang ketika menghadapi kematian orang yang memiliki penyakit sebab kematiannya kurang lebih dapat diprediksi oleh petugas kesehatan dan keluarga. Sebaliknya kematian mendadak melahirkan guncangan emosional dan shock yang dahsyat.
C. Dukungan Sosial
Tingkat kedukaan seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor dukungan sosial baik dalam keluarga dan masyarakat. Pengalaman menunjukan bahwa orang yang mengalami kehilangan dan kedukaan biasanya mampu mengatasi krisis
23 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 54.
24 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 45.
23
kehidupan secara efektif apabila memilki dukungan sosial yang berkualitas.
Keluarga dan orang lain dalam kelompok sosial dapat memfasilitasi atau menghambat proses berduka, karena dukungan orang lain memiliki dampak signifikan pada peristiwa kedukaan.25
Pertama, dukungan sosial yang berasal dari berbagai sistem dan perangkat sosial kemasyarakatan baik formal maupun informal seperti kerabat/keluarga, teman dekat, pacar, pasangan hidup, orang masyarakat, orang sepekerjaan, seagama, pengurus RT/RW, pengurus kematian kampong, yayasan kematian gereja/jemaat dan sebagainya. Dukungan sosial ini berlangsung secara spontan sesuai dengan kebiasaan, aturan, adat-istiadat tradisi dan kesepakatan dalam masyarakat. Ketika ada kematian dan upacara penguburan, anggota masyarakat bergotong-royong meneyelesaiakan semua pekerjaan yang berkaitan dengan upacara kematian, penguburan dan juga mengucap belangsungkawa. Kedua dukungan sosial yang dilakukan oleh kelompok relawan yang sengaja dibentuk, dipersiapkan dan dilatih secara khsus untuk melakukan pendampingan psikososial. Ketiga, dukungan sosial berupa support group atau growth group.
(kelompok saling mendukung dan menumbuhkan) untuk melakukan pendampingan bagi penduka. Kelompok ini biasanya dibentuk oleh lembaga keagamaan atau lembaga pelayanan resmi untuk menolong orang yang berduka
25 Mallon, Dying, Death and Grief, 12, dikutip dari Maddison, D. C. and Walker, W. L.
(1967) „Factors affecting the outcome of conjugal bereavement‟, British Journal of Psychiatry, 113:
1057–67.
24
seperti gereja/jemaat, rumah sakit, sekolah atau counseling center. Kelompok ini merupakan penolong professional yang melakukan pertemuan rutin.26
D. Kebudayaan dan Adat Istiadat Penduka
Kedukaan tidak hanya dipengaruhi oleh struktur kepribadian tetapi juga berakat pada sistem sosial, kebudayan dan adat istiadat. Wiryasaputra, 27 mengemukakan tentang budaya yang mampu mempengaruhi tingkat kedukaan seseorang yaitu pertama, pola budaya higienik yang merupakan pola budaya sehat. Dengan kata lain pola budaya yang tidak tercemar oleh suatu penyakit.
Dalam pola ini, orang saling bahu-membahu memberikan kesempatan untuk warganya mewujudkan diri dan potensinya secara penuh. Selain itu memungkingkan setiap warganya untuk menjadi manusia sejati, dewasa, seimbang, toleran, terbuka dan bersedia menerima pengalaman sesamanya sebagaimana adanya. Dalam pola budaya higienik, kehilangan dan kedukaan dapat diatasi dengan baik karena setiap anggotanya diberikan kesemmpatan untuk mengalami krisis kehidupan secara penuh. Setiap anggota masyarakat diterima sebagaimana adanya dalam suka dan duka. Kedua, pola budaya patogenik yang merupakan pola budaya yang sakit dan tidak sehat. Pola budaya demikian tidak memberikan kesempatan kepada warganya untuk menjadi manusia sejati. Dalam pola budaya yang demikian akan banyak menimbulkan persoalan kehilangan dan kedukaan yang kronis, kompleks dan berkepanjangan.
26 Wiryasaputra, Grief Psychotherapy: Psikoterapi Kedukaan, 98-101.
27 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 67.
25 2.2 Pendampingan dan Konseling Masyarakat
2.2.1 Pendampingan
Kartadinata dalam Engel, 28 menjelaskan bahwa pendampingan atau bimbingan adalah suatu proses pendidikan untuk mencapai tingkat kemandirian dan perkembangan diri sepanjang hayat (lifelong education). Engel menyebutkan bahwa pada hakikatnya pendampingan merupakan pertolongan psikologis dengan tujuan meringankan beban penderitaan yang ditolong, sehingga konselor dapat menjalankan fungsi pendampingan. Pendampingan yang dilakukan ditujukan pada kebutuhan-kebutuhan manusia dalam perjalanan hidup ini.
Pendampingan tidak sekedar meringankan beban penderitaan, tetapi menempatkan orang lain dalam relasi dan pengertian menumbuhkan dan mengutuhkan orang dalam kehidupan spiritualitasnya untuk membangun dan membina hubungan dengan sesamanya, mengalami penyembuhan dan pertumbuhan.29 Dengan demikian, pendampingan merupakan sebuah upaya penopangan dan pemberian dukungan bagi masyarakat.
Wiryasaputra,30 menjelaskan bahwa pendampingan merupakan cara manusia mempedulikan dan mendampingi untuk mempertahankan keberadaannya sampai masa kini. Tidak jarang berbagai perangkat sosial dan keagamaan yang berkaitan dengan kepedulian dan pendampingan diwariskan, dipelihara, disesuaikan dan direvitalisasi dari zaman ke zaman. Sebagai contoh, kita dapat melihat kebiasaan
28 Jacob Daan Engel, Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2016.1.
29 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 2-4.
30 Wiryasaputra, Pengantar Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia, 2014), 3-4.
26
gotong royong, saling memberi, mengunjungi, menyumbang, menolong, merawat, menopang, menguatkan, menghibur, menasehati dalam setiap komunitas. Pendampingan mengacu pada semangat, sikap mempedulikan dan mendampingi secara umum. Pendampingan dapat dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, kapan saja dan bagi siapa saja. Terdapat tiga jenis pendampingan menurut Wiryasaputra 31 yaitu: Pertama, pendampingan eksistensial.
Pendampingan ini dilakukan oleh semua anggota keluarga manusia secara universal, dimanapun mereka tinggal. Pendampingan ini didasari dengan sikap empati yang merupakan sikap dasar bagi sikap-sikap lain dalam pendampingan.
Pendampingan eksistensial didasari pada pemikiran bahwa setiap manusia adalah pendamping bagi sesamanya. Setiap orang yeng melakukan pendampingan ini disebut dengan care dan healing community atau masyarakat yang mempedulikan, mendampingi dan menyembuhkan. Kedua, pendampingan fungsional. Pendampingan ini dilakukan oleh para pengemban profesi selain konslelor yang ingin memaknai sikap dan ketrampilan konseling untu member nilai tambah bagi layanan profesinya seperti dokter, perawat, pekerja sosial atau petugas gerejawi. Ketiga, pendampingan profesional. Bantuan ini dilakukan oleh kaum professional yang telah dididik dan dilatih untuk melakukan konseling profesional.
Bagi Van Beek, proses pendampingan dimungkinkan bagi pendamping dan didampingi mengalami perubahan bersama, sehingga antara keduanya terjadi
31 Wiryasaputra, Konseling Pastoral: Konsep & Penerapannya di Era Milenial, (Yogyakarta:
Pohon Cahaya, 2019), 84-86.
27
suatu interaksi sejajar relasi timbal balik. Pendampingan memiliki aspek yang lebih luas yang didalamnya terdapat pemberian nasihat dan juga bimbingan.32 Engel menjelaskan bahwa pendamping hadir dengan kepeduliaan dan sikap empati sehingga yang didampingi tidak merasa sendiri, oleh karena itu pendampingan adalah sebuah proses yang terjadi terus menerus terjadi antara pendamping dan didampingi yang berelasi sejajar sehingga keduanya mengalami perubahan dan pertumbuhan bersama ke arah yang lebih baik.33 Berdasarkan pengertian diatas maka pendampingan merupakan konsep utama dalam meningkat relasi dan kepedulian dalam sebuah masyarakat.
2.2.2 Konseling
Konseling adalah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Inggris kuno counseli atau conseli dalam bahasa Perancis. Kata kerja tersebut berasal dari kata latin consilium atau consulere yang berarti merundingkan atau memberi nasihat. Menurut Van Beek, kata konseling berasal dari bahasa Inggris counseling. Secara umum istilah konseling lebih mengarah pada proses pemberian nasihat dan bimbingan.34 Proses ini dilakukan melalui percakapan yang disampaikan oleh kedua belah pihak. Percakapan menurut Abineno terjadi secara lahiriah yang melaluinya terdapat kontak antara dua manusia atau lebih yang saling bertukar kata-kata.35 Proses yang terjadi diharapkan agar seseorang mampu menemukan kekuatan baru dan wawasan baru untuk mengatasi
32 Aart Van Beek, Pendampingan Pastoral , (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 9.
33 Jacob Daan Engel, Konseling Suatu Fungsi Pastoral, (Salatiga: Tisara Grafika, 2007),2.
34 Van Beek, Pendampingan Pastoral, 9.
35 J. L. Ch. Abineno, Percakapan Pastoral Dalam Praktik, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 3.
28
masalahnya.36 Sementara, Engel menegaskan bahwa konseling merupakan suatu upaya untuk memanusiakan sesama manusia. Dalam upaya memanusiakan itulah terkandung makna pemberdayaan yang menjadi tujuan utama suatu proses pendampingan dan konseling yang dilakukan. Dengan itu, konseling adalah suatu proses pertolongan yang membuat orang diberdayakan untuk hidup yang menghidupkan dan memanusiakan sesama manusia.37 Konseling berperan dalam suatu krisis dan kemalangan hidup baik itu individu maupun keluarga. Dalam hal inilah konseling menjadi alat penyembuhan dan pertumbuhan dengan membantu orang memperbaiki dan mengembangkan yang paling sulit yang sementara dihadapinya.38 Clinbell, mengartikan konseling sebagai upaya pendampingan yang bersifat memperbaiki (reparative) yang berusaha membawa kesembuhan bagi orang lain yang sedang menderita gangguan fungsi pribadi akibat krisis.39 Menurut Harris dan Winokuer konseling adalah pengalaman, hubungan, dan proses. Proses konsultasi sangat dinamis dan interaksional antara klien dan konselor, dengan fokus utama pada kebutuhan dan pengalaman klien.40 Menurut mereka, Proses konseling memberikan jalan bagi pemberdayaan individu melalui situasi yang sulit.
Berdasarkan pemaparan diatas maka, pendampingan dan konseling merupakan sebuah upaya kepedulian masyarakat yang dilakukan bagi masyarakat juga agar tercipta keseimbangan hidup, harmoni sosial dan setiap
36 Van Beek, Potret Diri Seorang Konselor (Salatiga: UKSW Press, 1997),1-3 .
37 Engel, Konseling Masalah Masyarakat, (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 2-3.
38 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 11.
39 Clinbell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan Dan Konseling Pastoral, 17-18
40 Darcy L. Harris & Howard R. Winokuer, Principles And Practice Of Grief Counseling:
Second Edition, (New York: Springer Publishing Company, 2016), 2.
29
permasalahan dalam lingkungan masyarakat dapat diatasi bersama. Perbedaan keduanya terletak pada waktu pelaksanaan, dimana konseling dilakukan apabila seseorang ada dalam krisis dan masalah hidup yang membutuhkan pertolongan.
Sementara pendampingan dapat dilakukan seumur hidup tanpa terbatas pada ruang dan waktu atau long life education yang berarti pendidikan seumur hidup.
Konseling Masyarakat berorintasi pada keadilan sosial. Konseling masyarakat mempromosikan perubahan dan pertumbuhan, memberikan pedoman yang efektif untuk merencanakan dan melaksanakan program konseling masyarakat yang produktif.41. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa konselor masyarakat harus menggunakan sudut pandang yang luas untuk melihat klien dalam konteks lingkungan yang sehat, adil dan merata. Keadilan sosial melibatkan akses dan partisipasi masyarakat atas dasar ras/etnis, jenis kelamin, usia, disabilitas, pendidikan, orientasi seksual, sosial ekonomi, status sosial da karakteristik lain dari anggota kelompok masyarakat.42 Mengacu pada penjelasan diatas maka sesungguhnya konseling masayarakat berperan dalam masalah-masalah sosial yang terjadi masyarakat sebagai sarana pemberdayaan dan penyembuh.
2.2.3 Fungsi Pendampingan dan Konseling
Engel mengemukakan tentang lima fungsi pendampingan dan konseling yaitu membimbing, menopang, menyembuhkan, memulihkan atau memperbaiki hubungan, memelihara dan mengasuh. 43 Sedangkan Arrt Van Beek menambahkan satu fungsi, yaitu mengutuhkan dan fungsi ketujuh ditambahkan
41 Engel, Konseling Masalah Masyarakat, 6.
42 Engel, Konseling Masalah Masyarakat, 5.
43 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 5-9.
30
oleh Wiryasaputra dalam bukunya “Ready to Care” yaitu fungsi memberdayakan.
A. Fungsi Membimbing (Guiding)
Fungsi bimbingan dapat membantu individu yang berada dalam kebingungan untuk menentukan pilihan dan keputusan yang pasti. Fungsi ini dibutuhkan untuk individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya.44 Bimbingan yang dilakukan bertujuan agar setiap individu mampu menunjukan sikap positf dan respek terhadap diri sendiri dan orang lain, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik baik yang bersifat internal maupun dengan orang lain dan mudah mengambil keputusan.45 Clebsch dan Jaeklemelihat fungsi membimbing yang dilakukan oleh konselor sebagai tindakan yang membimbing dan atau membuat konseli untuk melihat dirinya sendiri (bisa seperti potensi diri atau pengetahuan didalam diri) untuk menemukan cara yang paling tepat untuk melihat apa yang harus dilakukan ketika ada dalam kondisi-kondisi yang buruk.46 B. Fungsi Menopang (Sustaining)
Fungsi menopang membantu konseli yang mengalami luka dan sakit untuk bertahan menghadapi dan melewati masa-masa sulit yang dialami. Fungsi ini membantu individu untuk menerima kenyataan, mandiri dalam keadaan yang baru serta bertumbuh secara penuh dan utuh.47 Wiryasaputra menyatakan fungsi
44 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 5-6
45 Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan Konseling, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 14.
46 Clebsch & Jaekle, Pastoral Care in Pastoral Historical Perspetive (New York, Harper & Row, 1967), 49.
47 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 6.
31
ini dilakukan agar dapat membantu orang yang didampingi menerima keadaan sekarang sebagaimana adanya, kemudian berdiri diatas kaki sendiri dalam keadaan yang baru, serta bertumbuh secara penuh dan utuh.48 Karena itu,Van Beek menjelaskan bahwa fungsi menopang bukan pada tindakan dan kata-kata melainkan kehadiran kita sebagai bentuk bantuan bagi merekea bertahan dalam situasi krisis yang bagaimanapun beratnya. Sokongan berupa kehadiran dan sapaan yang meneduhkan dan sikap yang terbuka akan mengurungi penderitaan mereka. Sokongan ini juga dapat membantu mengurangi penderitaan yang begitu memukul. Hal ini berguna untuk membantu orang-orang yang mengalami kehilangan, kematian dan dukacita.49
C. Fungsi Menyembuhkan (Healing)
Fungsi ini dapat membantu individu untuk mengungkapkan perasaan hatinya yang terdalam. Fungsi penyembuhan mengatasi kerusakan dilakukan dengan mengembalikan individu pada suatu keutuhan dan menuntunya kearah yang lebih baik dari sebelumnya.50 Fungsi ini terutama bagi mereka yang mengalami dukacita dan luka batin akitab kehilangan atau terbuang sehingga terkadang emosi atau perasaan tidak teruangkapkan melalui kata-kata atau ungkapan perasaan (menangis).51 Wiryasaputra memberikan contoh bagaimana fungsi ini dapat dilakukan adalah dengan teknik katarsis, dimana orang yang didampingi
48Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi, (Yogyakarta: Galang Press,2006), 90.
49 Van Beek, Pendampingan Pastoral, 14.
50 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 7.
51 Van Beek, Pendampingan Pastoral, 14-15
32
difasilitasi untuk mengeluarkan unek-unek yang dibenamkannya (atau yang diumpamakan dengan telur busuk yang ada dalam hartinya.52
D. Fungsi memulihkan dan memperbaiki hubungan (Reconciling)
Fungsi ini membantu konseli memperbaiki kembali hubungan yang rusak antara dirinya dan orang lain. Menolong Konseli memanfaatkan kesalahan yang telah dilakukan orang lain dan memberi mereka pengampuanan. Dengan demikian fungsi ini mampu memulihkan kembali adanya keretakan dalam hubungan antara konseli dengan orang lain.53 Menurut Wiryasaputra, dalam fungsi ini pendamping bertindak sebagai penengah bagi orang yang didampingi untuk melihat kegelisahannya sehingga dapat memperbaiki hubungan atau keadannya sendiri.54
E. Fungsi memelihara atau mengasuh (Nurturing)
Fungsi ini memampukan konseli untuk mengembangkan potensi-potensi yang diberikan Allah kepada dirinya. Dengan demikian, pendampingan dan konseling melaksanakan fungsi penggembalaan dengan tujuan utama mengutuhkan kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya yakni fisik, sosial, mental, spiritualnya.55 Clinebell melihat fungsi mengasuh sama dengan memelihara.
Menurutnya tujuan fungsi mengasuh atau memelihara adalah untuk memampukan orang (orang yang didampingi) untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada
52 Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi, 88.
53 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 8.
54 Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi, 91.
55 Engel. Pastoral dan Kebutuhan dasar Konseling, 8-9.
33
pada dirinya.56 Van Beek menjelaskan bahwa fungsi ini diperlukan oleh manusia dalam hidupnya karena dalam proses perkembangan seorang bayi hingga dewasa terjadi perubahan dan perkembangan yang meliputi aspek emosional, cara berpikir, motivasi, tingkah laku dan sebagainya sehingga ia membutuhkan pengasuhan melalui pendampingan.57
F. Mengutuhkan
Fungsi ini adalah fungsi pusat karena sekaligus merupakan tujuan utama dari pendampingan yaitu pengutuhan kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya yakni fisik, sosial, mental dan spiritual. . Lawan dari keutuhan adalah kerusakan, keretakan, kehancuran, dan kebobrokan yang menyebabkan penderitaan, dan dalam kasus seperti ini Van Beek lebih menyarankan adanya tindakan lanjut yaitu konseling.
G. Memberdayakan
Fungsi ini disebut juga sebagai membebaskan (liberating) atau memampukan, memperkuat (capacity building). Fungsi ini digunakan untuk membantu orang yang didampingi menjadi penolong bagi dirinya sendiri pada masa depan ketika menghadapi kesulitan kembali. Selain itu, fungsi ini membantu seseorang menjadi pendamping bagi orang lain. Pendamping memfungsikan dirinya sebagai mitra atau fasilitator yang memberdayakan, membebaskan, dan membangun kekuatan atau kemampuan.58 Artinya sebagai fasilitator pendamping hanya
56 Clinebell melihat potensi yang ada dalam dirinya adalah pemberian sang pencipta.
57 Van Beek, Pendampingan Pastoral, 15.
58Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi, 92-93.
34
memberdayakan orang yang didampingi untuk menjadi dan menolong dirinya sendiri.
2.3.4 Tahapan Pendampingan dan Konseling
Wiryasaputra,59 dalam bukunya Ready to Care, menegaskan bahwa secara umum terdapat tiga tahapan pendampingan antara lain yaitu pertama, tahap awal (menciptakan hubungan). Dalam tahap pertama, pendamping berusaha menciptakan hubungan kepercayaan sebab membangun hubungan kepercayaan adalah hal utama dalam proses pendampingan. Tahap kedua, tengah (anamnesis, sintesis, dan diagnosis, treatment planning, treatment execution, review, dan evaluasi). Disinilah pendamping berusaha mengumpulkan informasi, data atau fakta namun tidak boleh bersifat interogatif, pendamping mencari kaitan antara satu gejala dan gejala yang menjadi permasalahan utama atau keprihatinan batin pokok yang sedang digumuli oleh orang yang didampingi, pendamping melakukan pembuatan rencana tindakan pertolongan (treatment planning), pendamping melakukan tindakan portolongan (treatment execution), selanjutnya pendamping melakukan evaluasi yang dipakai sebagai alat untuk mengambil pelajaran bagi pendamping dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelayanan pendampingan. Tahap ketiga, akhir (pemutusan hubungan) proses yang utuh dan sempurna.
Engel mengemukakan tentang tahapan proses konseling yang dilakukan berdasarkan tujuh teknik pendekatan antara lain: pertama, teknik self eksporation
59 Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi, 93-96.
35
(eksplorasi diri) dilakukan untuk membantu klien mengeksplorasi hubungan, kebiasaan, pola pikir, perasaan, perilaku, pilihan dan pengalaman yang mungkin menjadi sumber low self esteem. Tujuannya adalah mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan klien, sasarannya mengembangkan kesadaran diri klien.60 Kedua, self acceptance (penerimaan diri). penerimaan diri yang dimaksudkan adalah menerima kekurangan dan prestasi sebagai kekuatan untuk mengatasi masalah hidup. Hal ini dilakukan untuk membantu klien mengembangkan kekuatan untuk mengelolah kelemahan. Tujuannya adalah menemukan harmoni kehidupan, menciptakan kesempatan untuk mengetahui tentang kelemahan dan kelebihan diri.61 Ketiga, self detachment membantu klien memiliki kehendak bebas untuk mengambil jarak dan sikap terhadap gejala dan masalah yang berhubungan dengan masalah negatif. Tujuannya adalah membantu klien untuk tidak menghindari rasa takut tetapi menghadapinya dengan humor yang merupakan sumber spirit manusia selain itu sebagai upaya mengatasi penyakitnya sendiri.62
Keempat, self transcendence membantu klien untuk memanfaatkan sumber daya batin yang memberdayakan kapasitas kehendak klien untuk makna.
Tujuannya adalah membantu klien mengatasi dirinya sendiri dan bergerak kearah nilai-nilai kreatif dan pengalaman yang positif. Sasarannya adalah pencapaian tujuan hidup klien agar dapat mengembangkan harapan yang realistis.63 Kelima, attitude modification (modifikasi sikap) dilakukan untuk membantu klien dapat
60 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, (Yogyakarta: Kanisius, 2019), 19- 21.
61 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, 31-34.
62 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, 41-42.
63 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, 49-50.
36
mengubah penderitaan dan rasa bersalah. Tujuannya adalah mengembangkan nilai dikap dan evaluasi diri yang seimbang.64 Keenam, self integrity dilakukan untuk membantu klien dapat mengakses kemampuan dan kepercayaan dirinya.
Tujuannya adalah mengembangkan kepercayaan diri dan penghargaan serta nilai diri yang berhubungan dengan kepribadian, cara pribadai setiap individu memandang dirinya memiliki dampak terhadap perkembangan psikologisnya.
Sasarannya adalah pencapaian integritas diri.65 Ketujuh, meaning orientation dengan pendekatan penemuan makna. Tujuannya adalah memperoleh healthy spiritual self esteem dan menemukan makna hidup, sasaranya adalah potensi diri, aktifitas diri, dan evaluasi diri positif.66 Berdasarkan pemaparan diatas maka setiap proses yang dilakukan dapat membantu individu atau klien dalam mengatasi permasalahan hidupnya.
2.4 Makna Budaya dalam Pendampingan dan Konseling
Penggunaan budaya sebagai media pendampingan dan konseling mampu memberikan konsep baru terhadap tindakan yang kontekstual. Membahas tentang persoalan sosial yang terjadi dalam sebuah masyarakat lokal terkhususnya di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari tempat atau budaya dimana seseorang berasal. Sebab, keduanya merupakan bagian integral dari kehidupan manusia.
Menurut Koentjaranigrat, sistem nilai budaya merupakan tingkat paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Nilai-nilai budaya merupakan konsep- konsep mengenai sesuatu yang hidup dalam pikiran sebagian besar dari warga
64 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, 59-60.
65 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website, 69-70.
66 Engel, Panduan Layanan Logo Konseling Berbasis Website. 77.
37
suatu masyarakat. Nilai budaya merupakan hal-hal yang mereka anggap sebagai hal yang bernilai, berharga dan penting bagi kehidupan. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman yang dapat memberi arah dan orientasi bagi kehidupan masyarakat.67
Secara umum terdapat 5 nilai budaya yang dapat kita lihat bersama yakni:68 pertama, nilai Ketuhanan. Secara filosofis nilai ini berhubungan dengan nilai religius yang pada umumnya bersifat suci dan kudus. Nilai ini juga dapat disebut dengan nilai kesucian. Nilai ini dapat diukur dengan mempertlihatkan fakta religiusitas masyarakat. Kedua, nilai Kemanusiaan. Nilai kemanusiaan merupakan prinsip dan tolak ukur yang dapat dikembangkan melalui kebenaran akan pengetahuan tentang budaya masyarakat yang secara umum lahir dari suatu kebudayaan yang relaistis. Ketiga, Nilai Solidaritas Masyarakat. Budaya masyarakat merefleksikan pengalaman sejarahnya yang mampu melambangakan dirinya sebagai suatu kelompok sosial yang berfaedah untuk menegakan prinsip- prinsip kemanusiaan dan prinsip-prinsip sosial melalui cara hidup orang bersaudara sehingga terjalin suatu interaksi dan relasi. Keempat, nilai persaudaraan. Persaudaraan berarti terjalinnya relasi timbal balik antara manusia yang satu dengan yang lainnya atau antara manusia dengan masyarakat. Ada dua prinsip utama dari penegakan nilai-nilai persaudaraan sejati yang muncul dalam tradisi adat atau budaya dimasyarakat adat yaitu: manusia harus diperlakukan
67 Koentjaranigrat, Masalah Kesukubangsaan Dan Integrasi Nasional (Jakarta: UIP,1993),3.
68 Jannes Alexander Uhi, Filsafat Kebudayaan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 12.
38
secara manusiawi dan apa yang ingin kamu lakukan pada dirimu lakukan itu pada orang lain. Kelima, Nilai Kerukunan. Nilai ini tidak hanya lahir dan berkembang dari tradisi-tradisi adat dan budya nilai kerukunan lahir dan terbentuk dalam proses bertumbuh dan berkembangnya masyarakat. Kerukunan lebih mempertegas adanya upaya mengembangkan nilai-nilai hidup yang dapat menciptakan kembali keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup.
Berdasarkan pada lima nilai diatas, budaya sesungguhnya memiliki makna yang besar sehingga dapat dijadikan sebagai pendekatan pendampingan dan konseling. Sebab, didalam nilai-nilai tersebut terkandung tujuan/fungsi pendampingan dan konseling sebagai upaya kepedulian masyarakat dalam menolong masyarakat tertentu. Budaya sebagai konstruk dalam suatu masyarakat tertentu menjadi control dalam masyarakat.
Wiryasaputra menegaskan tentang pentingnya budya dalam membantu individu melewati masa dukanya. Menurutnya, setiap kebudayaan telah mengembangkan berbagai perangkat dan kebijaksanaan budaya (cultural means and wisdom) untuk membantu warganya dalam menghadapi masa-masa sulit seperti kehilangan dan kedukaan. Artinya, setiap kali masyarakat berkumpul dan berpartisipasi dalam upacara kematian berarti mereka menyatakan komitmen kesesamanya dalam mendampingi orang berduka. Saat proses ini terjadi maka masyarakat secara menyeluruh mewujudkan diri sebagai caring community bagi keluarga yang ditinggalkan.69 Aplikasi budaya membantu dalam proses untuk mendefnisikan tujuan dengan memakai pengalaman hidup dan nilai budaya baik
69 Wiryasaputra, Mengapa Berduka, 31.
39
individu maupun kelompok untuk mengatasi persoalan kedukaan dalam masyarakat lokal.
Engel dalam bukunya, menegaskan bahwa pada abad ke-21 teori-teori tentang konseling budaya yang disajikan telah menjadi prinsip utama untuk menekankan tentang hubungan antara manusia dan lingkungan. Hal ini disebabkan oleh kekuatan lingkungan yang menjadi sumber belajar dan dukungan memiliki perananan penting untuk memenuhi kebutuhan terutama interaksi dengan orang lain.70 Itu berarti bahwa sebagian besar manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dibangun antara alam dan manusia merupakan suatu relasi yang terjalin dan tidak dapat dipisahkan.
Berdasarkan pemaparan diatas, aplikasi dari konsep pendampingan dan konseling dapat dilakukukan dengan budaya sebagai basis tindakan konseling.
Hal ini menunjukan sebuah pendekatan yang kontekstual berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia. Selain itu, penggunaan budaya sebagai basis pendampingan dan konseling memperlihatkan suatu strategi pertolongan dan penyembuhan yang berbeda. Sebab, hal ini dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat dan bukan terbatas pada individu atau konselor professional yang terlatih.
2.5 RANGKUMAN
Berdasarkan pemaparan dalam bab dua ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
70 Engel, Konseling Masalah Masyarakat, 7.
40
1. Kematian merupakan peristiwa universal. Artinya, kematian datang tanpa permisi dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari, ia dapat menghampiri siapapun tanpa terbatas ruang dan waktu. Hal ini seringkali menjadi pengganggu dalam siklus kehidupan manusia, oleh karena itu percakapan tentang kematian seringkali dihindari oleh sekelompok orang dalam relasi sosialnya dengan orang lain. Peristiwa inilah yang menhadirkan kehilangan dan duka yang besar bagi siapapun yang mengalaminya
2. Kedukaan yang dialami oleh setiap orang berbeda dan menimbulkan gejala yang berbeda pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kedalaman duka dari seseorang juga berbeda. Duka yang dialami oleh setiap individu tidak dapat ditentukaan kapan hal itu dapat berakhir dan jika kedukaan tidak atasi dengan baik maka, akan menimbulkan penyakit bagi fisik, psikis dan relasi sosial dengan sesamanya.
3. Terdapat tujuh fungsi pendampingan yakni fungsi membimbing, fungsi menopang, fungsi menyembuhkan, fungsi memulihkan/memperbaiki hubungan, fungsi memelihara/mengasuh, fungsi mengutuhkan dan fungsi memberdayakan.
4. Pendampingan dan konseling yang mengangkat nilai kearifan lokal dapat digunakan sebagai sebagai strategi penyembuhan yang holistic. Artinya, kedua proses ini merupakan upaya yang dilakukan untuk saling membantu, berbagi kasih, bahu-membahu sebagai cara pemberian bantuan secara mendalam dari masyarakat kepada seseorang terkait permasalan yang dihadapi.