Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 30
PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP PERUBAHAN
HEMODINAMIKA PASIEN DI UNIT PERAWATAN INTENSIF
Kadek Dian Suryani1, Komang Agus Jerry Widyanata2* 1Perawat Praktisi di ERHA Clinic
2Akademi Keperawatan Kesdam IX/Udayana
*Korespondensi: [email protected]
ABSTRACT
Background: Changes in hemodynamics that are immediately outside the normal
range can cause serious problems and even death for patients in critical conditions. The principle of care for patients with critical conditions is to maintain a stable hemodynamic status. One way to make stable hemodynamic status and return to normal is by relaxation therapy. Relaxation therapy that is starting to be applied is music therapy. The purpose of this study was to determine the effect of music therapy on changes in hemodynamics. Methods: a quasi-experimental pretest-posttest study with 32 respondents given piano sound instrumental music therapy for 15 minutes. The statistical test used is the Wilcoxon Test. Results: There was a significant decrease in blood pressure before and after giving music therapy (p <0.05), the patient's pulse also decreased significant after music therapy (p <0.05), but there was no significant change in patient oxygen saturation before and after giving music therapy (p> 0.05). Conclusion: Music therapy, especially instrumental piano music can help reduce the blood pressure and pulse significantly. Music therapy can be one of the options for non-pharmacological therapy in health services in the Intensif are Unit.
Keywords: Music Therapy; Hemodynamics; Blood pressure; Pulse; Oxygen Saturation
ABSTRAK
Latar belakang: Perubahan hemodinamika yang seketika diluar batas normal dapat
menimbulkan masalah serius bahkan kematian bagi pasien pada kondisi kritis. Prinsip perawatan pada pasien dengan kondisi kritis adalah dengan tetap mempertahankan status hemodinamika tetap stabil. Salah satu cara untuk membuat status hemodinamika stabil dan kembali normal adalah dengan terapi relaksasi. Terapi relaksasi yang mulai banyak di terapkan adalah terapi musik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap perubahan hemodinamika. Metode: penelitian quasi eksperimental pretest-posttest dengan 32 responden diberikan terapi musik instrumental suara piano selama 15 menit. Uji
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 31 statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon Test. Hasil: Terjadi penurunan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian terapi musik secara signifikan (p<0,05), nadi pasien juga mengalami penurunan setelah temberian terapi musik cukup signifikan dengan nilai p<0,05, namun tidak terjadi perubahan yang signifikan pada saturasi oksigen pasien sebelum dan sesudah pemberian terapin musik (p>0,05). Simpulan: Terapi musik khususnya musik instrumental suara piano dapat membantu menurunkan tekanan darah dan nadi pasien secara signifikan. Terapi musik dapat dijadikan salah satu pilihan terapi nonfarmakologi dalam pelayanan kesehatan di ruang ICU.
Kata kunci: Terapi Musik; Hemodinamika; Tekanan darah; Nadi; Saturasi Oksigen
PENDAHULUAN
Pasien yang dirawat di unit perawatan kritis sering merasa sebagai tanda akan tiba kematian karena pengalaman mereka sendiri atau orang lain. Rasa ancaman ketidakberdayaan, kehilangan kendali, perasaan kehilangan fungsi dan harga diri, kegagalan membentuk pertahanan, perasaan terisolasi dan takut meninggal dunia bisa menyebabkan ansietas pada pasien. Saat koping pasien tidak efektif dapat mempengaruhi status hemodinamikanya dimana terdapat perubahan nilai tekanan darah dan nadi yang menunjukkan tidak dalam batas normal (Hudak & Gallo, 1997).
Pemantauan hemodinamika sangat penting dilakukan pada pasien kritis yang dirawat di ruang perawatan intensif, perubahan hemodinamika yang seketika diluar batas normal dapat menimbulkan masalah serius bahkan kematian bagi pasien pada kondisi kritis (Jevon dan Ewens, 2009). Nilai yang menentukan keadaan hemodinamika diantaranya tekanan vena sentral, tekanan arteri pulmonalis, tekanan kapiler arteri pulmonalis, tekanan atrium kiri, tekanan ventrikel kanan, curah jantung dan tekanan arteri sistemik (Muttaqin,2009).
Prinsip perawatan pada pasien dengan kondisi kritis adalah dengan tetap mempertahankan status hemodinamika tetap stabil (Djohan 2006). Salah satu cara untuk membuat status hemodinamika stabil dan kembali normal adalah dengan terapi relaksasi. Terapi relaksasi yang mulai banyak di terapkan adalah terapi musik (Paisak, 2009). Dr. John Diamond dan Dr. David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek dari musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 32 bahwa saat jenis musik yang didengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh manusia, maka tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sejenis hormon (serotonin) yang dapat menimbulkan rasa nikmat dan senang, sehingga tubuh akan menjadi kuat (dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh) dan membuat kita menjadi lebih sehat (Djohan, 2009).
Informasi dalam bentuk musik diyakini dapat menguntungkan karena tidak mengganggu pekerjaan dibandingkan informasi verbal dan mengandung lebih banyak informasi dibandingkan peringatan verbal. Penelitian serupa dilakukan untuk mengetahui dampak terapi musik terhadap ansietas, detak jantung dan tekanan darah arteri pada sekelompok mahasiswa yang menghadapi stress kognisi karena diharuskan presentasi oral menunjukan hasil terjadi penurunan yang signifikan tingkat ansietas, detak jantung dan tekanan darah arteri (Pasiak, 2009). Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut perngaruh terapi musik kususnya musik instrumental piano terhadap status hemodinamika pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Quasi
Eksperiment Pretest-Posttest. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten. Besar sampel yang
digunakan sebanyak 32 orang. Populasi yang dimasukan dalam sampel penelitian adalah pasien di rawat di ruang ICU yang bersedia menjadi responden dengan kesadaran composmentis, sedangkan yang dikeluarkan dari sampel adalah responden yang mengalami gangguan pendengaran. Tehnik sampling yang digunakan adalah
Porposive Sampling.
Intervensi yang dilakukan pada kelompok perlakuan adalah pemberian terapi farmakologi sesui dengan program rumah sakit ditambah dengan pemberian terapi musik dengan menggunakan Mp3 player dan earphone selama 15 menit. Jenis musik yang digunakan adalah musik instrumental suara piano. Status hemodinamika yang
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 33 dinilai adalah tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen. Analisa data bivariat menggunakan rumus uji Wilcoxon Test.
HASIL
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa terjadi perubahan tekanan darah pasien sebelum dan sesudah pemberian terapi musik. Adapun perubahanya adalah terjadi penurunan tekanan darah setelah pemberian terapi musik secara signifikan (p<0,05). Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat selain tekanan darah, nadi pasien juga mengalami penurunan setelah temberian terapi musik, perubahan ini cukup signifikan dilihat dari nilai p<0,05. Hal ini dikarenakan terapi musik dapat membuat relaksasi yang menyebabkan tekanan darah dan nadi dapat menurun. Sedangkan hasil berbeda ditunjukan pada hasil pemeriksaan saturasi oksigen. Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa tidak terjadi perubahan yang signifikan pada saturasi oksigen pasien sebelum dan sesudah pemberian terapin musik (p>0,05).
Tabel 1 Distribusi Pengaruh Terapi Musik Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien
yang Dirawat di Ruang ICU RSUP Soerdji Tirtonegoro Klaten Rata-rata Tekanan Darah Pasien
(Pre Test)
Rata-rata Tekanan Darah Pasien (Post Test)
t P-Value
125,00 115,31 2,098 0,044*
Sumber : Hasil olah data, 2013.
Tabel 2 Distribusi Pengaruh Terapi Musik Terhadap Nadi Pada Pasien yang Dirawat
di Ruang ICU RSUP Soerdji Tirtonegoro Klaten Rata-rata Nadi Pasien
(Pre Test)
Rata-rata Nadi Pasien (Post Test)
t P-Value
97,00 84,06 2,258 0,031*
Sumber : Hasil olah data, 2013.
Tabel 3 Distribusi Pengaruh Terapi Musik Terhadap Saturasi oksigen Pada Pasien
yang Dirawat di RSUP Soerdji Tirtonegoro Klaten Rata-rata Saturasi oksigen Pasien
(Pre Test)
Rata-rata Saturasi oksigen Pasien (Post Test)
t P-Value
99,06 99,25 -1,078 0,402
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 34
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan terjadinya penurunan tekanan darah yang dialami pasien secara signifikan setelah mendapatakn terapi musik dikarenakan musik dapat membuar pasien relaksasi. Perry dan Potter (2005) menyatakan bahwa tekanan arteri dipengaruhi oleh faktor ketakutan dan kecemasan. Peningkatan nadi dipengaruhi karena adanya aktivitas sistem saraf pusat untuk mengaktifkan hipotalamus-pituitary-adrenal aksis dan sistem saraf simpatis untuk menstimulasi pengeluaran norepinefrin dan epinefrin yang berfungsi sebagai vasokontriktor sehingga akan terjadi peningkatan frekuensi jantung (nadi). Musik yang didengar menggetarkan saraf koklearis menuju otak. Musik akan diterima oleh hipotalamus yang kemudian mempengaruhi hipofisis untuk menengeluarkan endofrin, dimana dapat menghasilkan rasa rileks pada yang mendengarkan (Pasiak, 2009).
Hal yang sama juga terjadi pada nadi pasien, yang juga menunjukkan terjadinya penurunan nadi yang dialami pasien, terlihat pada saat sebelum dilakukan terapi musik nilai rata-rata nadi pasien sebesar 97,00 dan menurun menjadi sebesar 84,06 setelah dilakukan terapi musik pada pasien. Terapi musik yang dilakukan memberikan indikasi adanya penurunan besarnya nadi. Terapi musik dapat membantu mengekpresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi, meningkatkan memori serta menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan membangun kedekatan emosional. Terapi musik juga dapat membantu mengatasi stress, mencegah penyakit dan meringankan rasa sakit (Djohan, 2006).
Berbeda dengan tekanan darah dan nadi, saturasi oksigen pasien tidak berpengaruh terhadap terapi musik, terlihat pada saat sebelum dilakukan terapi musik besarnya saturasi oksigen adalah sebesar 99,06 dan meningkat akan tetapi tidak signifikan menjadi sebesar 99,25 setelah dilakukan terapi musik. Hal ini dikarenakan kondisi awal pasien sudah menunjukan kondisi saturasi oksigen yang sudah bagus Saturasi oksigen adalah rasio antara jumlah oksigen aktual yang terikat oleh hemoglobin terhadap kemampuan total hemoglobin darah mengikat oksigen. Jumlah
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 35 oksigen (dalam mL) yang terdapat dalam 100mL darah dinamakan kandungan oksigen yang nilai normalnya adalah 100% (Djojodibroto, 2007).
Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik dapat menjaga kestabilan hemodinamika pasien yang sangat berperan dalam penyembuhan pasien yang dirawat di ICU. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Kristen L. Davis tahun 1998 terkait dengan musik pada pasien multiple sclerosis membuktikan bahwa terapi musik membantu pasien untuk mampu bertahan hidup dengan lebih baik. Lidwina mengatakan “terapi musik juga dapat menyembuhkan, merehabilitasi, mendidik, melatih anak-anak dan orang dewasa yang menderita gangguan fisik dan mental atau emosional (Arief, 2007).
SIMPULAN DAN SARAN
Pemberian terapi musik dapat mempengaruhi hemodinamika pasien dalam perawatan intensif di ruang ICU khususnya pada tekanan darah dan nadi. Terapi musik khususnya musik instrumental suara piano dapat membantu menurunkan tekanan darah dan nadi pasien secara signifikan walaupun pada saturasi oksigen tidak mengalami banyak perubahan. Terapi musik dapat dijadikan salah satu pilihan terapi nonfarmakologi dalam pelayanan kesehatan di ruang ICU.
DAFTAR PUSTAKA
Arief.YS, Sudiana.IK, Kristiawati, Indah.D. (2007). Efektivitas Penurunan Stres Hospitalisasi Anak Dengan Terapi Bermain Dan Terapi Musik. Jurnal Ners;2(2).
Arif, Muttaqin.(2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular dan hematologi. Jakarta: Salemba Medika.
Djohan.(2006).Terapi Musik “ Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galang Press.
Djojodibroto, Darmanto. (2007). Respirologi (Rerspiratory Medicine). Jakarta:EGC
Hudak dan Gallo.(1997). Keperawatan Kritis. Alih bahasa Monica. Jakarta: EGC
Jurnal Kesehatan Medika Udayana Vol.03 No.01 April 2017 Page 36 Pasiak, Taufik. (2009). Unlimited Potency of The Brain: Kenali dan Manfaatkan
Sepenuhnya Potensi Otak Anda yang Terbatas. Bandung: PT Mizan.
Potter, P.A, Perry, A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, Dan Praktik. Edisi 4. Alih Bahasa : Yasmin Asih, dkk. Jakarta :