LAPORAN TUGAS AKHIR TENTANG
TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PEDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) DI
BADAN PENGELOLA PENDAPATN DAERAH KABUPATEN DAIRI O
L E H
NAMA : AGITA CHINTYA OCTAVIA LUMBAN TOBING NIM : 162600073
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ABSTRAK
TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PEDESAAN DAN PERKOTAAN DI BADAN
PENGELOLA PENDAPATN DAERAH KABUPATEN DAIRI OLEH :
AGITA CHINTYA OCTAVIA LUMBAN TOBING (162600073)
Dalam Undang-Undang No 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Yang salah satunya termasuk dalam Pajak Daerah yaitu Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari pajak dan penyumbangan terbesar pajak yang diperoleh dari daerah.Penerimaan pajak PBB-P2 berdasarkan potensi pajak itu sendiri.Apa bila potensi pajak PBB-P2 tinggi maka penerimaan pajak PBB berdampak positif dan dapat membantu mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah.Namun dalam kenyataannya pendapatan Daerah yang berdasarkan target belum maksimal dan belum optimal pembayara pajak PBB-P2 di Kabupaten Dairi. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam membayara Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan di Kabupaten Dairi apakah sudah meningkat atau tidak sejak berlakunya masa transisi dengan sesuai peraturan dan upaya- upaya yang sudah dilakukan, dan mengetahui apa faktor yang menyebabkan wajib pajak enggan dalam membayar pajak PBB-P2 yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pendapatan
Daerah Kabupaten Dairi dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak membayar PBB-P2.
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder dengan melakukan wawancara dengan petugas pelayanan PBB-P2 dan kepada Kepala Bidang PBB-P2 dan data dokumentasi dari Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi yang sudah mendukung teori penyelesaian penelitian ini. Hasil penelitan menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak PBB-P2 masih redan karena kurangnya kessadaran dan rendahnya pengetahuan tetang pentingnya Pajak Daerah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penghambat meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak PBB-P2
Kata kunci : Tingkat kepatuhan membayar pajak, PBB-P2
ABSTRACK
THE LEVEL OF TAXPAYER COMPLIANCE IN PAYING LAND AND BUILDING TAXES IN REGIONAL REVENUE MANAGERS OF DAIRI
DISTRICTS BY:
AGITA CHINTYA OCTAVIA LUMBAN TOBING (162600073)
In Law No 28 of 2009 concerning Regional Taxes and Regional Levies. One of which is included in the Regional Tax namely Land and Building Tax of the Rural and Urban sector is the largest source of regional income derived from taxes and donations of taxes obtained from the region Land and Building Tax ,tax receipts are based on the potential of the tax itself. if the tax potential of Land and Building Tax is high then the tax revenue of the United Nations has a positive impact and can help optimize Regional Original Revenue.
However, in reality the regional revenue based on the target is not optimal and the Land and Building tax payment is not optimal in Dairi Regency. This study aims to discuss the level of compliance of taxpayers in paying the Land and Building Tax of the Rural and Urban sectors in Dairi Regency whether or not it has increased since the transition period in accordance with the regulations and efforts that have been made, and find out what factors cause mandatory taxers are reluctant to pay Land and Building Tax ,taxes carried out by the Dairi Regency Regional Revenue Management Agency in increasing taxpayer compliance paying Land and Building Tax.
This study uses primary and secondary data by conducting interviews with Land and Building Tax service officers and to the Head of Land and Building Tax and documentation data from the Dairi Regency Regional Revenue Management Agency which has supported the theory of research completion. Research results show that the level of compliance of taxpayers in Land and Building Tax is still low due to lack of awareness and low knowledge about the importance of Regional Taxes. This has become one of the factors inhibiting increasing taxpayer compliance in paying Land and Building Tax
Keywords: The level of compliance paying taxes, Land and Building Tax.
`KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal dengan judul “Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan (PBB-P2) di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi ”.
Proposal ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan mata kuliah Tugas Akhir Departemen Administrasi perpajakan Universitas Sumatera Utara.
Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada keluarga saya terutama kedua orangtua saya yang selalu memberi dukungan dan doa kepada saya dan juga kepada adik-adik saya yang selalu mendukung saya dalam mengerjakan proposal ini.
Dalam kesempatan ini saya juga menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
2. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Departemen Administrasi Perpajakan
3. Bapak Kariono, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan.
4. Bapak Rizal Iskandar, M.Si selaku dosen pembimbing yang dalam kesibukannya sehari-hari dengan sabar telah memberikan pengarahan,bimbingan, dan saran yang begitu luar biasa kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini
5. Para Dosen Administrasi Perpajakan FISIP USU yang selalu memberikan Ilmu Pengetahuan serta wejangan-wejangan yang sangat berharga demi mencapai cita-cita penulis.
6. Seluruh Staf pegawai Program Studi Diploma III Adminstrasi Perpajakan FISIP USU 7. Bapak Hotlan Situmorang Selaku sebagai Kepala Sub Bagian PBB-P2 dan BPHTB
Kabupaten Dairi yang telah bersedia memberikan waktu dan tempat untuk melakukan wawancara dan memberikan data yang penulis butuhkan.
8. Yang teristimewa kepada kedua orang tua penulis yaitu Bapak Dan Mama Tersayang yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dengan penuh kesabaran dan kasih sayang yang sangat luar biasa untuk tidak lupa memberikan nasehat-nasehat dan mengingatkan penulis untuk selalu sabar dan semnagat mengerjakan Tugas Akhir.
9. Sahabat-sahabat penulis yang selalu mendengarkan curahan hati penulis dan selalu memberi nasehat yang dapat menjadi dukungan dan semangat penulis Ina, Hanny, Sagita, Rani , Angel, Ruly ,Yuyun , Roma, Cindy .
10. Sahabat kecil penulis yang setia sejak kecil sampai dewasa rmemberi dukungan dan selalu menyemangati dan mengingatkan dalam penyelesaian Tugas Akhir penulis Nadia dan Rachel.
11. Indry, Grace, Sari, Nora, Junita, Icha, Mega yang membantu penulis dan seperjuangan mengerjakan TA selalu memberikan semangat,serta mendukung penulis dalam menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini
12. Kepada teman Seperdopingan Josua, Leo, Friska, Micke yang selalu kompak,sabar dan memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan Laporan Tugas Akhir 13. Buat abang sepupu penulis yang selalu setia memberikan wejangan, saran, serta kritik, dan dukungan yang luar biasa dalam mengerjakan Tugas Akhir penulis Michael Pasaribu.
14. Kepada adik-adikku tercinta Putri dan Rendy yang selalu mendoakan dan mendukung penulisn untuk menyelesaikan Laporan Tugas akhir .
15. Buat abang boy yang selalu setia memberikan semangat dan dukungan kepada penulis 16. Buat aunty Eci dan Mommy Nila yang selalu senantiasa mendukung dan mendoakan
penulis untuk menyelesaikan Laporan Tugas Akhir penulis.
Dalam penulisan Proposal penelitian ini memiliki banyak kekurangan dalam penyusunan materinya. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan masukan yang mendukung kesempurnaan proposal ini. Akhir kata, penulis berharap proposal ini dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Agustus 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN
ABSRAK ... i
ABSRACK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR GRAFIK ... xi
BAB I PENDAHULUAN A .Latar Belakang ... ... ... 1
B. Rumusan Masalah ... .... ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Tugas Akhir ... 7
D. Uraian Teoritis ... 8
E. Metode Penelitian ... 20
F. Sistematika Penulisan ... 24
BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PAJAK A. Sejarah Singkat Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi...26
B. Visi dan Misi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi...28
C. Struktur Organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi...29
D. Uraian Tugas Pokok Badan Pengelola dan Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi. ... 32
E. Gambaran Umum Pegawai di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi...59
BAB III HASIL PENELITIAN
A. Ketentuan Umum ... 65 B. Potensi PBB-P2 Pada Penerimaan Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten Dairi 68
C. Target dan Realisasi Penerimaan PBB-P2 di Badan Pengelola Pendapatan Daerah di wilayahKabupaten Dairi ... 74
D. Perbedaan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak PBB-P2 Berdasarkan Jumlah SPPT Target APBD Dengan Target Yang Telah Ditetapkan Di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi ... 74 E. Hasil Wawancara ... 75 BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengelolaan dan Pemungutan PBB-P2 Kabupaten Dairi ... 79 B. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar PBB-P2 ... 82
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar PBB-P2 ... 84
D. Upaya-upaya Dalam meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Dalam membayar PBB-P2 ... 86 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 88 B. Saran ... 90 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.2 Komposisi ASN Badan Pengelola PendapataDaerah Kabupaten Dairi... 60
Tabel 2.3 Jumlah ASN Menurut Status, Pangkat Dan Golongan ... 63
Tabel 3.1 Potensi Penerimaan PBB-P2 tahun 2016 ... 66
Tabel 3.2 Potensi Penerimaan PBB-P2 tahun 2017 ... 67
Tabel 3.3 Potensi Penerimaan PBB-P2 tahun 2018 ... 68
Tabel 3.4 Data Realisasi Penerimaan PBB-P2 Tiap Kecamatan Tahun 2016 ... 69
Tabel 3.5 Data Realisasi Penerimaan PBB-P2 Tiap Kecamatan Tahun 2017 ... 71
Tabel 3.6 Data Realisasi Penerimaan PBB-P2 Tiap Kecamatan Tahun 2018 ... 72
Tabel 4.1 Persentase tingkat Kepatuhan berdasarkan pencapaian Realisasi dan Target ... 80
Tabel 4.2 Presentase Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Berdasarkan jumlah SPPT ... 82
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi ... 30
DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak ... 83
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era globalisasi saat ini terjadi peningkatan volume pembangunan dari tahun ke tahun yang diikuti dengan naiknya jumlah penduduk dan kebutuhan hidup merupakan masalah dan beban pembangunan yang patut dicermati, upaya pemecahan masalah dan beban pembangunan tersebut menuntut peningkatan peran pemerintah yang lebih besar dan berkesinambungan. Peningkatan peran pemerintah konsekuennya adalah meningkat pula dana yang dibutuhkan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah di bidang pembangunan dan kemasyarakatan. Pemerintah Indonesia dalam melaksanakankegiatan pembangunan tentunya memerlukan dana. Dana yang diperlukan untuk pembiayaan pembangunan salah satunya bersumber dari pungutan berupa pajak karena pajak diyakini sebagai tulang punggung pembangunan.
Pajak berperan sebagai sumber penerimaan negara yang penting bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, yang merupakan tujuan dari suatu negara, dalam mencapai tujuan tersebut pemerintah terus melakukan upaya meningkatkan potensi-potensi pajak yang ada melalui Reformasi Perpajakan guna meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.Bayar Pajak adalah wujud dari kewajiban kenegaraan dan peran serta dari Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Ada beberapa macam pajak yang diterima oleh kas negara khusus nya di pajak daerah yang bagian pajak pendapatan daerah Kabupaten seperti pajak hotel, resotoran, hiburan, reklame, penerangan jalan ,pajak mineral bukan logam, pajak parkir, air dan tanah, pajak sarang burung walet dan salah satunya adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pajak Bumi dan Bangunan merupakan iuran wajib kepada kas negara atas dasar kepemilikan,penguasaan dan perolehan manfaat dari bumi dan bangunan. Apabila dilhat lebih mendetail pajak bumi adalah pengenaan pajak atas permukaan bumi (lahan) dan pajak bangunan adalah pajak atas konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada lahan tersebut dan arti dalam bentuk umum. PBB-P2 adalah pajak yang dipungut atas tanah dan bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari padanya.Dengan berlakunya undang-undang nomor 28 tahun 2009tentang pajak dan Retribusi Daerah maka kewenangan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2) telah diserahkan ke pemerintah kabupaten/kota. PBB sektor Pertambangan, Perhutanan, dan Perkebunan (PBB P3) masih berada di bawah kewenangan pemerintah pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal PajakDengan adanya Reformasi perpajakan di Indonesia dicetuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1983 atau 38 tahun setelah Indonesia merdeka. Salah satu perubahannya adalah Undang Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dengan beberapa kali perubahan. Yang terakhir adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Perkembangan terbaru tentang pajak daerah saat ini yaitu pelimpahan kewenangan pengelolaan pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan (BPHTB) dan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) yang pemungutannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Wacana pelimpahan kewenangan pengelolaan PBB-P2 dari pemerintahpusat kepada
pemerintah daerah sebenarnya sudah berlangsung lama, dan baru terwujud setelah adanya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Mekanisme pengelolaan PBB-P2 dahulu dipungut dan diadministrasikan semuanya oleh pemerintah pusat tetapi hasilnya dibagikan lagi kepada masing-masing pemerintah daerah untuk pembangunan daerah. Mekanisme persentase bagi hasil pajak bumi dan bangunan berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yaitu 10% untuk pusat, 16,2% untuk propinsi dan 64,8% untuk kabupaten/kota.Dasar yang digunakan untuk mengenakan Pajak Bumi dan Bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Nilai Jumlah Objek Pajak (NJOP) merupakan taxe base/dasar bagi penentuan pengenaan dan cara perhitungan besarnya nilai pajak bumi dan bangunan khususnya dalam perhitungan besarnya nilai harga jual lahan yang umum dan wajar. Jika tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lainnya yang sejenis atau nilai perolehan atau nilai jual pengganti.
NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri keuangan,kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya terutama apabila daerah tersebut mengalami kemajuan nilai ekonomis tanah. NJOP ditentukan berdasarkan harga rata- rata dari transaksi jual beli,maka dalam pelasanaan pengenaan PBB dilapangan dapat saja NJOP lebih tinggi atau lebih rendah dari transaksi jual beli yang ditentukan oleh masyarakat.
Namun pada saat ini kesadaran masyarakat dalam melakukan kewajibannya dalam membayar pajak bumi dan bangunan semakin rendah, dikarenakan banyaknya kendala-kendala yag berasal dari wajib pajak itu sendiri. Sehingga peran otonomi daerah sangat berperan besar dalam menanggulangi masalah ini.
Salah satu Pajak Daerah yang realisasinya tidak sesuai Begitu besar manfaat dari
masyarakat dan banyak kemudahan-kemudahan yang diberikan dalam pelaksanaan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.
Meskipun sudah diberi kemudahan atas pelaksanaa pembayaran dan merasakan manfaat dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan seperti pembangunan sarana prasarana namun Kepatuhan yang tinggi dari wajib pajak dibutuhkan untuk kelancaran penarikan pajak. Begitu pula dalam pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan juga dibutuhkan kepatuhan yang tinggi dari wajib pajak PBB. Kepatuhan wajib pajak adalah salah satu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Namun dalam kenyataanya negara sering kesulitan memungut pajak, termasuk Pajak Bumi dan Bangunan. Faktor ekonomi merupakan hal yang sangat fundamental dalam hal melaksanakan kewajiban. Masyarakat yang miskin akan menemukan kesulitan untuk membayar pajak, bagi sebagian besar masyarakat, pajak masih dianggap sebagai sebuah beban dan biaya yang harus ditanggung dalam kegiatan ekonominya.
Oleh karena itu, masyarakat akan lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhan pokoknya terlebuh dahulu.Sejak pengelolaan PBB-P2 diserahkan ke Kabupaten/Kota, realiasasi penerimaan PBB-P2 Dairi sejak tahun 2014-2018 terus mengalami peningkatan pendapatan pajak PBB-P2. Realisasi penerimaan PBB-P2 pada tahun 2018 sebesar Rp 2,4 miliar dari target sebesar Rp 3 miliar dengan jumlah nomor objek pajak (NOP) sebanyak 105,228 namun dengan adanya peningkatan pendapatan setiap tahun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi serta upaya-upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan pendapatan serta tercapainya target yang sudah ditentukan seperti adanya masyarakat Dairi yang belum terdata dalam objek pajak, masih banyak juga data wajib pajak yang tidak riil sehingga masih banyak kurang kesadaran masyarakat dalam sadar pajak PBB-
banyak masyarakat menganggap pajak sebagai beban yang memberatkan dan merugikan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.Dalam hal kesulitan tersebut banyak upaya yang harus di perbaharui untuk meningkatkan pendapatan PBB-P2.Maka, jika tercapainya target PBB-P2 menjadi salah satu pendapatan daerah yang cukup besar dan berpenaruh besar dalam membantu meningkatkanpendapatan Daerah Kabupaten Dairi dalam guna untuk membantu dan melancarkan pembangunan infrastruktur daerah Kabupaten Dairi yang sempat tertunda serta melancarkan dan mewujudkan pembangunan-pembangunan yang belum terrealiasasi lain nya dalam guna mensejahterakan rakyat Kabupaten Dairi.
Oleh karena itu dari pembahasan diatas ,penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan ingin mengetahui tingkat kepatuhan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan serta ingin mengetahui apa kendala- kendala dalam penerimaan PBB-P2 dan upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan objek pajak membayar bayar pajak PBB-P2 serta upaya yang meningkatkan kesadaran wajib pajak akan fungsi pajak PBB-P2.Maka penulis bermaksud untuk membuat sebuah tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan dalam bentuk Tugas Akhir dengan judul
“Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) Di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi “ B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar PajakBumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi ?
2. Apa saja yang menjadi masalah dan kendala yang di hadapi dalam pelayanan Wajib Pajak dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2)
3. Apa saja upaya-upaya yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi dalam meningkatkan pelayanan dan peningkatan pembayaran PBB ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah :
1. Mengetahui tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
2. Ingin mengetahui Apa saja yang menjadi masalah dan kendala yang di hadapi dalam pelayanan Wajib Pajak dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi.
3. Dan,ingin mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi dalam meningkatkan pelayanan dan peningkatan pembayaran PBB-P2.
b. Manfaat
Adapun manfaat dalam penulisan dalam Tugas Akhir ini selain memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi pada Diploma III Administrasi Perpajakan adalah :
1. Sebagai media untuk menambah wawasan dan menguji kemampuanmahasiswa dalam bidang perpajakan khususnya mengenai pembahasan PBB-P2 Menciptkan hubungan kerjasama Universitas Sumatera Utara khususnya Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan dengan istansi pemerintahan khususnya Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi.
2. Guna memberikan penawaran umpan balik bagi kurikulum dengan bertambahnya wawasan pengetahuan.
3. Membantu pemerintah dalam mensosialisakan mengenai upaya peningkatan penerimaan PBB-P2 .
D. Uraian Teoritis 1. Pengertian Pajak
Menurut Undang- Undang KUP Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat (1) Secara umum, pajak adalah Kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengar tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk kepentingan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
a. Menurut Prof. Dr. Rochmatsoemitro, SH. dalam bukunya Mardiasmo (2011 : 1) :“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra Prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.”
b. Menurut Soeparman Soemahamidjaya, pajak merupakan iuran wajib bagi warga, baik berupa uang maupun barang yang dipungut oleh pemerintah menurut norma-norma hukum yang berlaku guna untuk menutup segala biaya produksi barang dan jasa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat secara umum.
c. Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaanya, dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah, pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah
infrastruktur untuk kemajuan negara serta kesejahteraan rakyat yang bila dari pemasukkannya masih terdapat surplus, dipergunagakan untuk membiayai public investmet dan pajak dapat pula membiayai tujuan yang tidak bujeter, yaitu fungsi mengatur.
2. Fungsi Pajak
Menurut buku yang ditulis oleh Dra.Siti Resmi, M.M.,Ak.Ada dua fungsi Pajak yaitu :
a. Fungsi Butgetair (Sumber Keuangan Negara)Pajak mempunyai fungsi budgetair,artinya adalah pajak merupakan salah satu sumber penerimaan
pemerintah untuk membiayai pengeluaran,baik rutin maupun pembangunan.Sebagai sumber keuangan negara , pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara.
b. Fungsi Regulared (Pengaturan)
Pajak mempunyai fungsipengatur,artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan tertentu diluar bidang keuangan
3. Jenis Pajak
a. Menurut golongan :
1. Pajak Langsung adalah pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepadaorang lain atau pihak lain.Pajak harus menjadi beban Wajib Pajak yang bersangkutan. Contoh : Pph
2. Pajak Tidak langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan kepada orang lain atau pihak ketiga.Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu
kegiatan,peristiwa,atau perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak, misalnya terjadi penyerahan barang atau jasa.Contoh : PPN
b. Menurut Sifat
1. Pajak Subjektif adalah pajak yang pengenaan nya memperhatikan keadaan pribadi Wajib Pajak atau pengenaan Wajib Pajak atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan subjeknya.
2. Pajak Objektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan objeknya,baik berupa benda ,keadaan, perbuatan,maupun peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak,tanpa memperhatikan keadaan pribadi subjek pajak (wajib pajak)dan tempat tinggal.
c. Menurut Lembaga Pemungut
1. Pajak Negara (Pajak Pusat) pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya.Contoh : PPN,Pph,PPnBM
2. Pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah ,baik tingkat 1(pajak provinsi) maupun daerah (pajak kabupaten/kota) dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing-masing. Pajak daerah diatur dalam undang-undang Nomor 28 tahun 2009,Contoh : Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Hotel,Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dll.
4. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan
Pajak Bumi dan Bangunan adalah pungutan atas tanah dan bangunan yang muncul karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi bagi seseorang atau badan
sifatnya, Pajak Bumi dan Bangunan merupakan pajak yang bersifat kebendaan. Artinya, besaran pajak terutang ditentukan dari keadaan objek yaitu bumi dan/atau bangunan.
Sedangkan keadaan subjeknya tidak ikut menentukan besarnya barang.
5. Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan Perkotaan
Landasan hukum berlakunya Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Republik Indonesia No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
2. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 15/PMK07/2014 dan Nomor 10 Tahun 2014 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan sebagai Pajak Daerah 3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2010 tentang Tata Cara
Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan sebagai Pajak Daerah
4. Peraturan Daerah Kabupaten Dairi Nomor 06 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dairi Nomor 06 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang – Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak negara yang dikenakan terhadap harta tak bergerak berupa bumi dan bangunan (UU PBB No. 12 Tahun 1994). PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan, artinya besarnya
pembebanan pajak ditentukan oleh keadaan objek pajak itu saja yaitu bumi dan bangunan, sedangkan keadaan pribadi subjek pajak atau wajib pajak tidak diperhatikan. Pajak Bumi dan Bangunan pada awalnya merupakan pajak pusat yang alokasi penerimannya dialokasikan ke daerah – daerah dengan proporsi tertentu, namun demikian dalam perkembangannya berdasarkan Undang – Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pajak ini khususnya sektor perdesaan dan perkotaan menjadi sepenuhnya pajak daerah. Pengalihan pengelolaan PBB-P2 kepada pemerintah daerah paling lambat diserahkan pada awal tahun 2014, sehingga bagi pemerintah daerah yang sudah siap mengelola PBB-P2 sebelum tahun 2014 bisa melaksanakannya paling cepat sejak tahun 2011.
6. Undang-Undang yang mengatur Pajak Bumi dan Bangunan
Pungutan atas PBB didasarkan pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
Kemudian sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak dan Retribusi Daerah,maka kewenangan dalam pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) telah diserahkan ke pemerintah kota
a. Objek Pajak Bumi dan Bangunan
Objek PBB Perdesaan dan Perkotaan menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Peraturan Daerah dan Retribusi Daerah adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
a. Objek Bumi
1. Sawah.
2. Ladang.
3. Kebun.
4. Tanah.
5. Pekarangan.
6. Tambang.
b. Objek Bangunan:
1. Rumah tinggal.
2. Bangunan usaha.
3. Gedung bertingkat.
4. Pusat perbelanjaan.
5. Pagar mewah.
6. Kolam renang.
7. Jalan tol.
7.Subjek Pajak Bumi dan Banguan
Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan menurut Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Peraturan Daerah dan Retribusi Daerah. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:Mempunyai hak atas bumi.
1. Memperoleh manfaat atas bumi.
2. Memiliki bangunan.
3. Menguasai bangunan.
4. Memperoleh manfaat atas bangunan.
Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan.
8. Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Setelah mengetahui pengertian PBB, dasar hukumnya, subjek dan objek PBB, tarif, serta cara mendaftarkan obejk pajak, kini Anda juga perlu tahu dasar PBB. Dasar pengenaan pajak bumi dan bangunan adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).NJOP merupakan harga rata-rata atau harga pasar pada transaksi jual beli tanah. Dalam hal ini, objek pajaknya adalah bumi dan bangunan. Setiap tahun, biasanya Menteri Keuangan dengan mendengarkan pertimbangan bupati/walikota menetapkan NJOP. Penetapan tersebut didasarkan atas sejumlah hal seperti:
1. Dasar penetapan NJOP bumi:
a. Letak.
b. Pemanfaatan.
c. Peruntukan.
d. Kondisi Lingkungan.
2. Dasar penetapan NJOP bangunan:
a. Bahan yang digunakan dalam bangunan.
b. Rekayasa.
c. Letak.
d. Kondisi lingkungan.
Selain itu, terdapat juga dasar penetapan NJOP saat tidak ada transaksi jual beli. Nah, penjelasannya akan dijabarkan di bawah ini.
1. Perbandingan Harga dengan Objek Lainnya: objek lain yang dimaksud merupakan objek yang masih sejenis, lokasinya berdekatan, memiliki fungsi yang sama dengan objek lain yang sudah diketahui nilai jualnya. Penggunaan objek lain yang memiliki kriteria tersebut sebagai gambaran yang kurang lebih bisa mendekati nilai objek yang dibandingkan. Sehingga NJOP yang ditetapkan pun memiliki hitungan yang benar.
2. Nilai Perolehan Baru: penetapan NJOP dengan nilai perolehan baru yang dimaksud adalah dengan menghitung biaya yang sudah dikeluarkan untuk memperoleh objek pajak. Penilaian tersebut nantinya akan dikurangi dengan penyusutan yang terjadi, seperti penyusutan yang terjadi pada kondisi fisik objek pajak.
3. Nilai Jual Pengganti: nilai jual pengganti yang dimaksud adalah penetapan NJOP berdasarkan pada hasil produk onjek pajak. Jadi, nilai jualnya didasarkan pada keluaran yang dihasilkan oleh objek pajak itu sendiri
9. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan
Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan menurut Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Peraturan Daerah dan Retribusi Daerah yaitu paling tinggi sebesar 0,2%
10.Kepatuhan Wajib Pajak a. Definisi Kepatuhan Wajib
Pajak Kepatuhan Wajib Pajak secara terminologi berarti, taat, patuh, dan disiplin terhadap perintah atau aturan, dapat dikatakan wajib pajak patuh jika wajib pajak tersebut taat, atau disiplin dalam memenuhi serta melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Rustiyahningsih, (2011) mendefinisikan kepatuhan perpajakan diartikan sebagai suatu keadaan yang mana wajib pajak patuh dan mempunyai kesadaran dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Rustiyahningsih (2011) mengemukakan bahwa kepatuhandan kesadaran dalam pemenuhan kewajiban perpajakan tercermin dalam situasi sebagai berikut:
1. Wajib Pajak memahami dan berusaha untuk memahami semua Peraturan PerundangUndangan Perpajakan.
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas 3. Menghitung jumlah pajak terhutang dengan benar 4. Membayar pajak terhutang tepat pada waktunya
b. Jenis Kepatuhan Wajib Pajak
Ada empat jenis keputuhan wajib pajak yaitu :
1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang perpajakan.
2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana wajib pajak secara substantif/hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yaitu sesuai isi dan jiwa Undang-undang pajak kepatuhan material juga dapat meliputi kepatuhan formal.
3. Kepatuhan sukarela adalah kepatuhan Wajib Pajak yang berdasarkan kesadaran tentang kewajiban perpajakan, tidak ada paksaan dan tidak juga karena takut sanksi
perpajakan. Sedikit Wajib Pajak yang patuh secara sukarela dibandingkan Wajib Pajak pajak yang patuh secara terpaksa.
4. Kepatuhan yang dipaksakan adalah kepatuhan Wajib Pajak karena keterpaksaan atau dorongan hal lain, seperti terpaksa patuh karena takut sanksi yang lebih berat.
Jika pajak tsidak ada sanksi yang berat, tentu hanya sedikit sekali Wajib Pajak yang bayar pajak.
c. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak
Menurut Rahayu (2010:140) kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: kondisi system administrasi perpajakan suatu negara, pelayanan pada wajib pajak, penegakan hokum perpajakan, pemeriksaan pajak, dan tarif pajak Selanjutnya menurut Rahayu (2010:140) menyatakan bahwa: “Wajib Pajak akan Patuh karena mereka berfikir adanya sanksi berat akibat tindakan illegal dalam usahanya untuk menyelundupkan pajak Tindakan pemberian sanksi tersebut terjadi jika wajib pajak terdeteksi dengan administrasi yang baik dan terintegrasi serta melalui aktifitas pemeriksaan oleh apparat pajak
E. Metode Penelitian Tugas Akhir a. Bentuk/Jenis Penelitian
Dalam sebuah tulisan digunakan metode yang merupakan suatu unsur yang mutlak dalam pembuat yang berfungsi untu pengembangan ilmu pengetahuan.Metode pengambilan data yang dilakukan merupakan suatu pedoman bagi penulis dalam mempelajari, menganalisa dan memahami suatu permasalahan yang dihadapi . Metode pengambilan data yang digunakan adalah sebagai berikut :Metode Deskriptif Kualitatif yang dimana hal tersebut mengacu pada studi kuantitatif ,studi komparatif (perbandingan) dan dapat menjadi sebuah studi hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya. menurut Sugiyono(2005) menyatakan bahwa metode Deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk
menggambarkan atau menganalisis suatu hasil yang sudah ada lalu digunakan untuk membuat suat kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang ada.
1. Metode Pustaka Setelah melalui data yang konkret dari Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi, penulis juga menggunakan buku-buku refrensi tentang perpajakan , baik buku teks maupun peraturan perundang-undangan dan pedoman prosedur Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2)
b. Data yang dipergunakan i. Jenis Data
1. Data primer yaitu data-data yang diperoleh langsung dari objek penelitian pihak yang diangggap mampu memberikan data informasi serta observasi yaitu Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
2. Data sekunder yaitu data-data yang diperoleh dalam bentuk dokumen yang sudah jadi dan dokumen resmi dari instansi yang sudah di pulikasi secara relevan dengan masalah yang dibahas antara lain ,struktur mekanisme pembayaran PBB-P2 serta literatur- literatur yang terkait dengan objek pembahasan.
ii. Sumber Data
1. Studi Literatur
Pada tahap ini penulis mencari dan mengumpulkan berbagai sumber-sumber pustaka atau daftar bacaan untuk mendukung penulisan laporan sebagaimana undang-undang, buku-buku, surat kabar (koran), majalah, media, teknologi informasi seperti internet dan bahan-bahan lainnya yang berhubungan dengan objek pembahasan tentang Tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar PBB-P2
2. Observasi Lapangan
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
iii. Teknik Pengumpulan data
a. TeknikDokumentasi
Kegiatan mengumpulkan dokumen-dokumen resmi atau arsip-arsip untuk buktiyang otentik berhubungan dengan pelaksanaan Pembayaran PBB-P2
b. Teknik Wawancara (Interview)
Wawancara adalah mengumpulkan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama interview adalah kontak langsung dan bertatap muka antara pencari informasi dan sumber informasi c. Metode Observasi
Dalam metode ini penulis langsung kelapangan untuk melakukan pengamatan tata cara pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan serta mengamati bagaimana kesadarna serta pemahaman masyarakat tentang sadar Pajak PBB-P2 pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
iv. Informan Penelitian
Penulis akan melakukan wawancara secara intens dengan teknik mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab langsung kepada subjek atau informan penelitian maka peneliti akan mencatat tanya jawab yang diberikan oleh informan. Kegiatan mengajukan beberapa pertanyaan dengan melakukan wawancara secara langsung dengan yang berkompeten seperti . Informan Utama yaitu Kepala Bidang Pajak Bumi dan Bangunan yang membawahi:
1. Seksi Intensifikasi dan Ekstensifikasi
2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi 3. Seksi Pelayanan dan Konsultasi
4. Informan tambahan yaitu pegawai di Badan pendapatan Daerah
v. Metode Analisa
Metode yang dilakukan dengan cara mengelompokkan data-data yang diperoleh selama pelaksanaan riset untuk dianalisa dan dievaluasi sehingga memudahkan dalam penarikan kesimpulan secara jelas dan sistematis
F.Sistematika Penulisan
Untuk Memberikan gambaran secara garis besar dan memudahkan pembaca memahami isi mengenai proposal tugas akhir ini, maka aka diuraikan secara singkat sistematika penulisan proposal tugs akhir ini. Dimana sistematika pembahasan ini memuat urutan-urutan penjelasan mengenai bab-bab yang ada dalam penulisan proposal tugas akhir ini yang mencakup :
BAB I :PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan tujuan dan manfaat, uraian teorotis, ruang lingkup, metode penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan Tugas Akhir.
BAB II : GAMBARAN UMUM OBJEK LAPORAN TUGAS AKHIR
Pada bab ini penulis menerangkan tentang sejarah singkat, struktur organisasi, uraian tugas pokok dan fungsi, serta gambaran mengenai Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
BAB III : GAMBARAN DATA PROPOSAL
Pada bab ini penuis menguraikan tentang data yang berkaitan teori yang ada data yang di peroleh di lapangan,yaitu dimulai dari pengertian,tujuan dan pelaporan serta pencapaian mekanisme pelaporan serta Penyuluhan di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan menganalisa penerapan teori yang ada dengan data yang diperoleh di lapangan mengenai Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan Di Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
BAB V : PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran serta kritik penulis sehubungan dengan uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya yang mungkin dapat untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan pendapatan PBB-P2 khusus nya di Badan Pengeloa Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
Daftar Pustaka
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI TUGAS AKHIR
A.Sejarah Singkat Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
Reformasi yang digulirkan di negeri ini memberikan arah perubahan yang cukup besar terhadap tatanan pemerintah di Indonesia.Salah satu perubahan tersebut adalah lahirnya kebijakan otonomi daerah yang mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.Kebijakan tersebut memberikan angin segar terhadap sentralistik yang dinilai tidak adil dalam pelaksanaan pembangunan.Otonomi daerah memberikan pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah Daerah untuk mengatur urusan pelayanan dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah penyeragaman struktur organisasi.Dengan turunnya Peraturan Pemerintah maka Pemerintah daerah mengeluarkan perarutan Nomor 7 Tahun 2016 tentang pembetulan perangkat Daerah Kabupaten Dairi dibentuklah organisasi yang baru yang dimana dulunya Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah(BPPD) merupakan satu bagian dari Dinas Pendapatan,Pengelolaan Keuangan dan Asset (DIPPEKA) Kab.Dairi. sekarang sudah menjadi dua bagian yaitu BPKAD(Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) dan BPPD (Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah) alasan mengapa adanya pemisahan dari kedua tersebut karena jika digabung maka beban kerja semakin berat karena objek pajak yang semakin meningkat dan alasan utama tersebut berdampak agar dapat mengobtimalkan dalam Pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan fakta tersebut membutkikan bahwa Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (BPPD) sebagai ujung tombak dalam mendukung sumber dana
pembangunan daerah.Artinya, ketika Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi Harus diberdayakan,dengan tema rasionalitas dan realitas pemberdayaan potensi sumber dayanya, kendala yang dialami pemerintah dalam merumuskan pembangunan ,yang teralokasi dalam koridor pembangunan bidang pendapatan daerah dapat terjawab.
Dengan Peraturan Bupati Dairi Nomor 20 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Dairi, dengan ketentuan didalamnya bagian Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang Sekretaris dan 3 (tiga) orang Kepala Bidang, yaitu: Bidang PBB dan BPHTB, Bidang Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Bidang Perencanaan, Analisa dan Evaluasi. Adapun wilayah kerja nya terdiri dari 15 kecamatan yaitu Kecamatan Sidikalang,Kecamatan Siempat Nempu,Kecamatan Parbuluan,Kecamatan Silahi Sabungan,Kecamatan Sitinjo,Kecamatan Gunung Sitember,Kecamatan Siempat Nempu Hilir,Kecamatan Tigalingga,Kecamatan Silama Pungga-Pungga, Kecamatan Sumbul,Kecamatan Berampu,Kecamatan siempat nempu Hulu,Kecamatan Laeparira,Kecamatan Pegagan Hilir,Kecamatan Tanah Pinem
B. Visi dan Misi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
Visi dan Misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Dairi :
a.Visi
“ MASYARAKAT KABUPATEN DAIRI YANG LEBIH MAJU DAN SEJAHTERA MELALUI AGRIBISNIS YANG BERDAYA SAING “
Untuk menjelaskna pernyataan visi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan peningkatan Penerimaan Daerah Yang Potensial mengandung makna bahwa sesuai dengan semangat otonomi daerah dan desentralisasi fiscal,daerah diberi kewenangan untuk memungut pajak (local taxing power),untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam mendanai kebutuhan pengeluarannya.Penguatan pemungutan pajak daerah dan peningkatan pendapatan asli daerah tetap mengacu pada prinsip menjaga keselarasan dengan kewenangan dalam penyediaan layanan dan penyelenggaraan pemerintah daerah.
2. Mewujudkan Pengendalian dan Evaluasi Terhadap Penerimaan daerah yang intensif mengandung makna pajak daerah merupakan satu diantara sumber Pendapata Asli Daerah(PAD) yang potensial dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah, terutama terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah.Agar inplementasi pajak berjalan dengan baik dan lancar perlu dilakukan kajian terus menerus
b. Misi
“MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN DAERAH YANG BERKUALITAS BERBASIS TATA KELOLA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) DAN PEMERINTAH YANG BERSIH (CLEAN GOFERNANCE)
C. Struktur Organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi
Struktur Organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi ditetapkan dengan Peraturan Bupati Dairi Nomor 20 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Dairi, dengan ketentuan didalamnya sebagai berikut :
Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi merupakan pelaksana Otonomi Daerah di bidang pemungutan pajak Daerah. Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten
Dairi dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang Sekretaris dan 3 (tiga) orang Kepala Bidang, yaitu: Bidang PBB dan BPHTB, Bidang Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Bidang Perencanaan, Analisa dan Evaluasi.
Susunan organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah dengan mengacu pada Peraturan Bupati Dairi Nomor 20 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Dairi, terdiri dari :
a. Kepala Badan
b. Sekretariat membawahi 3 (tiga) Subbagian yaitu : 1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;
2. Sub Bagian Keuangan dan Aset;
3. Sub Bagian Perencanaan, Program dan Pelaporan.
c. Bidang PBB dan BPHTB membawahi 3 (tiga) Subbidang yaitu : 1. Sub Bidang Pendataan, Penilaian dan Penetapan;
2. Sub Bidang Pelayanan dan Penagihan;
3. Sub Bidang Pengolahan Data dan Pelaporan.
d. Bidang Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, membawahi 3 (tiga) Subbidang yaitu : 1. Sub Bidang Pendataan dan Penetapan Pajak Asli Daerah;
2. Sub Bidang Penagihan, Pengolahan Data dan Pelaporan;
3. Sub Bidang Retribusi Daerah dan Benda Berharga .
e. Bidang Perencanaan, Analisa dan Evaluasi membawahi 3 (tiga) Subbidang yaitu : 1. Sub Bidang Perencanaan Pendapatan Asli Daerah;
2. Sub Bidang Analisa dan Evaluasi;
3. Sub Bidang Konsultasi Keberatan dan Banding.
4. Kelompok Jabatan Fungsional.
Sedangkan gambaran tentang bagan susunan organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi
Bagan Organisasi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi BADAN PENGELOLA PENDAPATAN
DAERAH
SEKRETARIAT
KELOMPOK JABATAN
SUB BAGIAN PERENCA NAAN, PROGRA M DAN PELAPOR
SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIA
N
SUB BAGIAN KEUANGAN
DAN ASET
BIDANG PBB DAN
BPHTB
BIDANG PAJAK DAERAH LAINNYA
DAN RETRIBUSI
BIDANG PERENCANAAN, ANALISA DAN EVALUASI
SUB BIDANG PERENCANAAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
SUB BIDANG PENDATAAN DAN PENETAPAN PAJAK
ASLI DAERAH SUB BIDANG
PENDATAAN, PENILAIAN, DAN
PENETAPAN
SUB BIDANG ANALISA DAN
EVALUASI
SUB BIDANG PENAGIHAN, PENGOLAHAN DATA
DAN PELAPORAN SUB BIDANG
PELAYANAN DAN PENAGIHAN
SUB BIDANG KONSULTASI KEBERATAN DAN BANDING
SUB BIDANG RETRIBUSI DAERAH
DAN BENDA BERHARGA SUB BIDANG
PENGOLAHAN DATA DAN PELAPORAN
D.Uraian Tugas Pokok Badan Pengelola dan Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan unsur penunjang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan di bidang pendapatan.Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud, Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Dairi mempunyai fungsi :
1. perumusan kebijakan teknis bidang pengelola pendapatan daerah;
2. pelaksanaan tugas dukungan teknis bidang pengelola pendapatan daerah;
3. pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis bidang pengelola pendapatan daerah;
4. pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi-fungsi penunjang urusan pemerintahan daerah bidang pengelola pendapatan daerah
5. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Uraian tugas Kepala Badan, Sekretaris, Kepala Bidang, Kasubbag dan Kasubbid dengan ketentuan sebagai berikut :
1. KEPALA BADAN Uraian Tugas
Kepala Badan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
b. Penyusunan program bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
c. Pelaksanaan kebijakan daerah bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
d. Pelaksanaan kegiatan bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
e. Pengordinasian penyediaan Infrastruktur dan Pendukung di bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
f. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
g. Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan Penyelenggaraan Bidang Pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Daerah Lainnya dan Retribusi, Perencanaan, Analisa dan Evaluasi;
h. Pelayanan Administratif Badan;
i. Pelaksanaan Fungsi lain yang diberikan Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2. SEKRETARIS Uraian Tugas
a. Merencanakan program, kegiatan dan anggaran operasional sekretariat badan berdasarkan rencana strategis dan penetapan kinerja tahunan dalam rangka pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan;
b. Memfasilitasi administrasi urusan umum, kepegawaian, aset, perencanaan, program, pelaporan dan keuangan dalrangka kelancaran dan ketertiban pelaksanaan tugas;
c. Membantu pengoordinasian penyusunan rencana, program , anggaran bidang pajak bumu bangunan , bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, pajak daerah lainnya dan retribusi, perencanaan, analisa dan evaluasi berdasarkan rencana strategis dan penetapan kinerja tahunan dalam rangka pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan;
d. Membimbing, membagi tugas dan mengatur penyusunan laporan, konsep, serta dokumen administrasi lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan tugas bidang pendapatan daerah dalam rangka pencapaian pelaksanaan tugas;
e. Mengelola inventaris badan dalam rangka efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas;
f. Mengevaluasi pencapaian kinerja badan dengan membandingkan target dan realisasi kinerja setiap tahun dalam rangka optimalisasi pelaksanaan tugas;
g. Mengevaluasi pelaksanaan penatausahaan keuangan badan dalam rangka tertib administrasi penatausahaan keuangan badan;
h. Mengevaluasi dan melaporkan pendataan inventaris serta usulan penghapusan barang di lingkungan badan dalam rangka tata kelola aset;
i. Membagi tugas dan menyelia pegawai di lingkungan sekretariat badan berdasarkan tugas dan fungsi baik secara lisan maupun tertulis dalam rangka peningkatan profesionalisme kerja;
j. Melaksanakan pembinaan terhadap pegawai di lingkungan badan dalam rangka peningkatan disiplin dan kinerja dan pegawai;
k. Menyampaikan usul, pertimbangan, saran dan pendapat serta langkah-langkah yang perlu diambil dalam penyelenggaraan tugas sekretariat, serta melaporkan seluruh pelaksanaan tugas selama satu tahun kepada Kepala Badan dalam rangka
l. Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Badan sesuai tugas dan fungsinya dalam rangka mendukung pencapaian pelaksanaan tugas.
Dalam menjalankan fungsi diatas, Sekretaris dibantu oleh 3 (tiga) Kepala Sub Bagian, yaitu 1) Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, 2) Kepala Sub Bagian Keuangan dan Aset, dan 3) Kepala Sub Bagian Perencanaan, Program dan Pelaporan yang masing-masing memiliki uraian tugassebagai berikut :
1. Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian Uraian Tugas
a. Melaksanakan penyusunan rencana, program, kegiatan dan anggaran sub bagian umum dan kepegawaian berdasarkan tugas dan fungsinya dalam rangka pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan;
b. Melaksanakan urusan ketatausahaan dan ketatalaksanaan badan secara rutin dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan tugas;
c. Melaksanakan urusan rumah tangga badan dalam rangka mendukung pencapaian pelaksanaan tugas;
d. Menghimpun, mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan bahan atau data dalam rangka penyampaian informasi dan publikasi;
e. Memberi petunjuk dan bimbingan kepada pejabat fungsional umum secara lisan maupun tertulis dalam rangka kelancaran dan ketertiban pelaksanaan tugas;
f. Menghimpun, mengumpulkann mengolah dan menyiapkan serta menyimpan bahan atau data kepegawaian dalam rangka peningkatan pelayanan kepada pegawai di lingkungan badan;
g. Mendistribusikan tugas subbagian umum dan kepegawaian kepada pejabat fungsional umum dalam rangka pencapaian pelaksanaan tugas;