Hubungan Perilaku Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Balita Usia 1-3 Tahun Di Posyandu Desa Larangan Wilayah Kerja Puskesmas Candi
Hotmaida Siagian Anita Harti Febrianti ABSTRACT
Feeding behavior greatly influence the nutritional status of children. Provision of adequate food quality and quantity will support the growth and development of toddlers.the problem with this study was toddler less or poor nutritional status caused many parents still do not know how good feeding like any attention to nutritional needs of children in those food. This study aims to identify the relationship of feeding behavior by the nutritional status of children aged 1-3 years in the village of Larangan IHC. The design study is a descriptive, survey research methods are analytic, and by cross-sectional approach. The research was conducted in the village of Prohibition and a large integrated health as much as 49 sample respondents by making simple random sampling technique. Independent variable in this study is the feeding behavior of the dependent variable while the nutritional status of children. The data collection is done by filling kuesioner and observation nutritional status of children through the KMS. Results of collecting further data were tabulated and using the Fisher test to determine the relationship of independent variables with the dependent variable, with significance level α = 0.05. The results obtained using Fisher's test results with a significant level of p = 0.000 indicating that feeding behavior associated with nutritional status of children. Based on data analysis can be concluded that the feeding behavior associated with nutritional status of children aged 1-3 years.
Key words: feeding behavior, nutritional status of children
PENDAHULUAN
Memberi makan pada anak khususnya bayi dan balita, tidaklah mudah. Perilaku makan pada balita sering menjadi penyulit pelaksanaan pemberian makan, seperti menolak makan, melepeh, memuntahkan makanan, "ngemut" atau hanya suka satu atau beberapa jenis makanan tertentu. Perlu diketahui bahwa masalah makan pada balita berbeda dengan bayi. Pada balita, telah terjadi perkembangan dalam cara mengonsumsi makanan. Peranan mengisap di saat bayi, secara berangsur diganti dengan mengonsumsi makanan padat atau minuman di usia balita. Kelompok anak balita ini disebut konsumen semi pasif atau semi aktif. Pada usia balita, anak dalam fase
"negativistik" yaitu menolak makan. Pada usia ini pula, ruang gerak balita semakin luas sehingga ia lebih mudah terpapar kuman sehingga lebih sering sakit. Akibatnya ia tidak mau makan. Untuk itu, orang tua harus waspada terhadap aktivitas si kecil.
Pemberian makan yang kurang tepat (jenis dan jumlahnya) sering menjadi salah satu penyebab kurang gizi (Retnosari, 2010).
Terdapat tiga faktor penyebab kesulitan makan pada anak yaitu faktor organik, faktor nutrisi, dan faktor psikologik. Keahlian memberi makan serta gangguan di seluruh alur pencernaan dapat pula membuat si kecil tidak mau membuka mulutnya. Masalah makan bisa timbul bila pemberian makanan kurang tepat, yaitu disaat si kecil dalam keadaan kenyang atau sehabis minum
keadaan lapar atau haus, yaitu di saat lambung kosong (Retnosari, 2010).
Status gizi balita adalah keadaan kesehatan balita yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri (Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.
Munculnya status gizi buruk akhir-akhir ini, selain disebabkan oleh berkurangnya konsumsi pangan sebagai dampak melemahnya daya beli masyarakat dan mutu gizi yang dimakan keluarga dan masyarakat, ternyata masih ditemukan penyebab lain yang cukup mengagetkan. Masih banyak warga masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan tentang pentingnya pemeliharaan gizi sejak masa balita. Disamping itu, masyarakat belum sepenuhnya diberdayakan secara luas untuk ikut aktif terlibat dalam program pangan dan gizi (Tim Koordinasi Penanggulangan masalah pangan dan gizi, 1999 ).
Status gizi balita merupakan hal yang penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua.
Perlunya perhatian yang lebih dalam tumbuh kembang diusia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi dimasa emas ini besifat irreversible. Lebih jauh, kekurangan gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan otak, padahal otak tumbuh selama masa balita (Marimbi, 2010).
Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, maka balita merupakan umur yang rawan gizi
(KKP), dan jumlahnya dalam populasi besar, hal ini disebabkan karena anak balita baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa, biasanya anak balita sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh sehingga perhatian ibu sudah berkurang, anak balita sudah mulai main ditanah sehingga terpapar dengan lingkungan yang kotor dan memungkinkan teinfeksi berbagai macam penyakit, dan anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih makanan. Dipihak lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan anak balita, karena dianggap sudah dapt makan sendiri (Notoatmodjo, 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita banyak sekali baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu pemberian makanan, penyakit infeksi, aktifitas, sedangkan secara tidak langsung seperti ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan (pengetahuan), prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu, adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan, kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu, jarak kelahiran yang terlalu rapat, sosial ekonomi, pendidikan ibu, dan sarana pelayanan kesehatan (Marimbi, 2010).
Untuk mengatasi agar gizi buruk tidak bertambah, perlu upaya nyata yang harus dilakukan dan didukung oleh seluruh komponen bangsa melalui pemberdayaan keluarga dengan revitalisasi Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dalam bentuk peningkatan pengetahuan keluarga tentang keluarga sadar gizi, peningkatan deteksi dini kelainan gizi, peningkatan dan pemanfaatan pendapatan, peningkatan pemanfaatan pekarangan dan lahan sekitarnya, peningkatan penganekaragaman menu keluarga, pemberdayaan masyarakat dengan revitalisasi Posyandu dalam bentuk peningkatan peran serta tokoh masyarakat, peningkatan pemberdayaan kader, peningkatan konseling/penyuluhan, peningkatan pelayanan 5 meja di Posyandu, pencatatan dan pelaporan dan rujukan kasus lengkap dengan sarana pendukungnya (Tim koordinasi penanggulangan masalah pangan dan gizi, 1999 ).
Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP, masih lebih tinggi dari pada negara ASEAN lainnya. Pada tahun 1995 sekitar 35,4%
anak balita di Indonesia menderita KEP (persen median berat yang menurut umur < 80%). Pada tahun 1997, berdasarkan pemantauan status gizi (PSG) yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat, prevalensi KEP ini turun menjadi 23,1%. Pada tahun 1998, prevalensi KEP meningkat kembali menjadi 39.8 % (Supariasa, 2001).
Di Jawa Timur angka yang menunjukkan status gizi buruk di kalangan balita masih tinggi, tercatat sampai Februari 2007 didapatkan 24.430
anak di bawah lima tahun yang mempunyai status gizi buruk yang terdiri dari 24.211 kasus lama dan 219 kasus baru (Depkes RI, 2007)
Hasil data status gizi balita di Kabupaten Sidoarjo tahun 2007 didapatkan jumlah balita sebanyak 103.006 dengan gizi buruk sebanyak 2.020, gizi kurang sebanyak 8.719, sedangkan gizi baik sebanyak 92.267. Pada tahun 2008 jumlah balita sebanyak 102.408 balita, dengan gizi buruk 2.150 balita, gizi kurang 8.812 balita, gizi baik 91.446 balita. Tahun 2009 jumlah balita sebanyak 101.224 balita, dengan gizi buruk 2.194 balita, gizi kurang 8.666 balita, sedangkan gizi baik 90.364 balita.
Hasil data status gizi di Puskesmas Candi tahun 2008 didapatkan jumlah balita sebanyak 8.816 balita dengan gizi buruk 231 balita, gizi kurang 299 balita, gizi baik 8.286 balita. Tahun 2009 didapatkan jumlah balita sebanyak 8.485 balita dengan gizi buruk 201 balita, gizi kurang 634 balita, gizi baik 7.650 balita. Tahun 2010 didaptkan jumlah balita sebanyak 8.370 balita dengan gizi buruk 257 balita, gizi kurang 776 balita, gizi baik 7.337 balita.
Di Posyandu Desa Larangan wilayah kerja Puskesmas Candi tahun 2008 didapatkan jumlah balita sebanyak 80 balita dengan gizi buruk 15 balita, gizi kurang 25 balita, gizi baik 40 balita.
Tahun 2009 didapatkan jumlah balita sebanyak 95 balita dengan gizi buruk 18 balita, gizi kurang 25 balita, gizi baik 52 balita. Pada tahun 2010 didapatkan jumlah balita sebanyak 100 balita dengan gizi buruk 22 balita, gizi kurang 30 balita, gizi baik 48 balita. Dari hasil pengamatan sesaat dari 55 balita usia 1-3 tahun didapatkan balita yang menderita gizi buruk ataupun gizi kurang tiap bulannya terdapat 25 balita.
Dari uraian diatas masalah penelitiannya adalah masih tinggi angka kejadian gizi buruk dan gizi kurang di Desa Larangan Kabupaten wilayah Kerja Puskesma Candi Kabupaten Sidoarjo sehingga peneliti tertarik mengadakan penelitian untuk mengetahui adakah hubungan antara perilaku pemberian makanan dengan status gizi balita di Posyandu Desa Larangan wilayah kerja Puskesmas Candi.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian deskriptif . Metode yang dilakukan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional
Pada penelitian ini populasinya adalah ibu yang mempunyai balita usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan wilayah kerja Puskesmas Candi sebesar 55 orang. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah dengan rumus Notoatmodjo sebesar 49 orang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Tabulasi Silang Berdasarkan Hubungan Perilaku Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Balita Usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan Pos 8 pada Juni-Juli 2011
Perilaku Pemberian
Makanan
Status Gizi Balita
Total
Baik % Kurang % Lebih/B
uruk %
Baik
Kurang 29
4 80,5
31 1
7 3
54 6
2 12,2
15 36
13 100%
100%
Total 33 67,3 8 16,3 8 16,3 49 100%
Perilaku Pemberian Makanan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada anak usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan Pos 8 diperoleh hasil bahwa hampir seluruhnya perilaku pemberian makanan pada balita usia 1-3 tahun baik yaitu sebanyak 36 balita (73%), sedangkan sebagian kecil balita yang perilaku pemberian makanan kurang sebanyak 13 balita (27%). Sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan anak dengan perilaku pemberian makanan yang baik, seperti menu makanan yang diberikan orang tua pada anak memenuhi kandungan gizi yang baik.
Kandungan gizi yang baik untuk balita terutama usia 1-3 tahun adalah harus banyak mengandung lemak, dan protein, karena pada usia tersebut periode perkembangan fisik dan mental yang pesat.
Pada masa ini otak balita telah siap menghadapi stimuli seperti belajar, berjalan, dan berbicara lebih lancar. Tidak hanya itu saja, perilaku pemberian makanan pada balita juga dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua, berdasarkan penelitian yang dilakukan sebagian besar pendidikan ibu adalah SMA sebesar 33 ibu (67%). Hal ini berarti tingkat pengetahuan orang tua sudah baik. Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh.
Balita membutuhkan lebih banyak lemak dan lebih sedikit serat. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, makanan yang dimakannya tidak boleh hanya sekedar mengeyangkan perut saja, tetapi makanan yang dimakan anak harus beragam jenis, jumlah atau porsinya. Asupan zat-zat gizi yang lengkap masih terus dibutuhkan anak selama proses tumbuh kembang masih terus berlanjut. Tubuh anak tetap membutuhkan semua zat gizi utama yaitu karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin, dan mineral. Asupan makanan sehari untuk anak harus mengandung 10-15% kalori, 20-35% lemak, dan sisanya karbohidrat. Setiap kilogram berat badan anak memerlukan asupan energi sebanyak 100 kkal.
Asupan lemak juga perlu ditingkatkan karena struktur utama pembentuk otak adalah lemak.
Lemak tersebut dapat diperoleh antara lain dari minyak dan margarine. Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan
antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan variasi makanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Proverawati dan Asfuah (2010).
Pada usia balita, anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam, sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang teratur dan variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin makan yang baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola gizi seimbang, yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan diperoleh melalui makan sehari-hari. Dengan makanan bergizi dan seimbang secara teratur, diharapkan pertumbuhan anak akan berjalan optimal.
Perilaku pemberian makan yang kurang pada anak akan menyebabkan anak akan kekurangan gizi yang diperlukan bagi tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebagian besar pekerjaan ibu adalah ibu rumah tangga yaitu 31 ibu (63%). Hal ini mempengaruhi keterbatasan penghasilan keluarga untuk menentukan mutu makanan yang disajikan.
Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan (Marimbi, 2010). Apabila perilaku pemberian makanan pada anak kurang, akan menyebabkan anak akan mudah terserang penyakit, akibatnya berat badannya akan turun dan anak akan terlihat lemas.
Balita pada usia 1-3 tahun, kebanyakan lebih suka hanya pada satu jenis makanan saja. Apabila makanan yang diberikan tidak sesuai dengan makanan yang dia sukai maka anak tidak mau makan makanan tersebut. Ditakutkan jika orang tua menuruti keinginan anaknya maka anak akan kekurangan zat gizi yang dibutukan oleh anak.
Untuk itu orang tua harus pandai memvariasi menu makanan agar anak tidak bosan. Suasana makan juga hal yang harus diperhatikan orang tua, suasana yang menyenagkan bisa meningkatkan selera makan pada anak.
Memberi makan pada anak khusus balita memang hal tidak mudah. Kebanyakan orang tua jengkel dengan perilaku anak yang kebiasaannya seperti menolak makan, melepeh, memuntahkan
menyebabkan anak menjadi tertekan dan tidak mau makan, selain itu kebiasaan anak yang sulit makan disebabkan oleh waktu pemberian makan yang tidak tepat. Saat anak sedang aktif bermain, ibu memberinya makan. Hal ini membuat anak menolak makan karena anak tidak sedang merasa lapar.
Anak yang tidak merasa lapar juga dipengaruhi oleh nafsu makan anak yang menurun. Menurut Santoso (2004), anak usia 1-3 tahun merupakan golongan konsumen pasif yaitu belum dapat mengambil dan memilih makanan sendiri. Oleh karena ibu perlu memberikan menu makanan yang bergizi dan bervariasi setiap harinya, agar anak gizinya baik dan tumbuh dengan optimal. Menu makanan yang bervariasi membuat anak tidak bosan dengan makanan yang diberikan setiap harinya, sehingga anak tidak memilih untuk jajan diluar.
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa balita usia 1-3 tahun di Posyandu Desa larangan Pos 8 mayoritas perialaku pemberian makanannya baik yaitu terdapat 36 balita, sedangkan sebagian kecil perilaku pemberian makanan yang kurang sebanyak 13 balita (27%) hal ini dikarenakan makanan yang diberikan oleh orang tua pada kurang dari kebutuhan yang seharusnya diperlukan, tidak hanya itu anak juga susah untuk makan dan lebih memilih makanan yang mereka sukai seperti makanan ringan, permen, dan makanan lainnya. Jajanan yang mereka konsumsi tersebut kandungan gizinya kurang, sehingga zat- zat gizi seperti lemak dan protein yang seharusnya diperlukan untuk pertumbuhan otak tidak ada.
Apabila hal itu dibiarkan maka bisa menyebabkan pertumbuhan otaknya jadi terhambat. Sehingga disarankan pada orang tua untuk memberikan makanan harus banyak mengandung lemak dan protein, karena lemak sangat bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan otak balita. Lemak banyak terdapat pada daging, telur, margarine ataupun minyak. Untuk perilaku pemberian makanan yang sudah baik agar tetap dipertahankan jangan sampai kurang agar anak menjadi sehat dan cerdas.
Status Gizi Balita
Berdasarkan hasil penelitian tentang status gizi balita usia 1-3 tahun dari 49 balita, sebagian besar status gizi balita baik yaitu 33 balita (67,3%), sebagian kecil status gizi kurang 8 balita (16,3%), dan status gizi lebih/buruk 8 balita (16,3%).
Sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan, balita dengan status gizi baik apabila berat badannya berada pada garis pita hijau pada KMS.
Status gizi baik dikarenakan konsumsi makanan yang diberikan oleh orang tua juga baik. Kandungan gizi pada makanan yang diberikan sudah mengandung zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Zat gizi tersebut antara lain protein, lemak, vitamin dan mineral, dimana zat-zat gizi tersebut sangat berguna bagi tubuh. Tidak hanya itu saja, tingkat pengetahuan orang tua anak juga mempengaruhi kondisi kesehatan gizi pada anak.
Pada dasarnya setiap orang mengetahui tentang gizi anak, tetapi tergantung tingkat pendidikan dan bagaimana mendapatkan informasi. Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Menurut Sediaoetama (2006), semakin banyak pengetahuan gizi seseorang, maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi.
Semakin bertambah pengetahuan ibu maka seorang ibu akan semakin mengerti jenis dan jumlah makanan untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarganya termasuk pada anak balitanya. Hal ini dibuktikan berdasarkan penelitian yang dilakukan sebagian besar pendidikan ibu adalah SMA sebesar 33 responden (67%).
Berdasarkan hasil penelitian, balita dengan status gizi kurang terdapat 8 balita sedangkan yang lebih/buruk juga terdapat 8 balita. Status gizi kurang apabila berat badan balita berada pada garis pita kuning pada KMS. Status gizi lebih, apabila berat badan balita diatas garis hijau/terlalu melebihi garis hijau pada KMS, sedangkan status gizi buruk, apabila berat badannya dibawah garis merah pada KMS. Status gizi kurang dikarenakan konsumsi makanan yang diberikan pada anak kurang. Pada usia tersebut anak sudah mulai aktif jadi lebih banyak membutuhkan energi. Apabila energi yang mereka butuhkan kurang, maka anak menjadi lemas tidak bersemagat lagi. Anak juga lebih suka jajan sembarangan ataupun jajan makanan yang mereka sukai seperti makan ringan, permen, ataupun yang lain daripada makanan yang disediakan orang tuanya.
Gizi kurang pada anak juga dapat disebabkan anak yang sulit makan. Kebiasaan anak yang sulit makan disebabkan oleh waktu pemberian makan yang tidak tepat. Saat anak sedang aktif bermain, ibu memberinya makan. Hal ini membuat anak menolak makan karena anak tidak sedang merasa lapar. Anak yang tidak merasa lapar juga dipengaruhi oleh nafsu makan anak yang menurun.
Menurut Moersintowarti (2002), asupan makanan pada anak usia 1-3 tahun dipengaruhi oleh nafsu makan yang mulai berkurang dibanding pada saat usia bayi. Asupan makanan yang kurang juga akan mempengaruhi kondisi gizi anak. Gizi kurang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak yang sedang berlangsung menjadi terhambat.
Status gizi lebih dikarenakan karena konsumsi makanan yang diberikan oleh orang tua banyak mengandung kalori/energi yang berlebih dan tidak diimbangi dengan aktifitas. Orang tua juga terlalu memanjakan anak, misalnya kalau anak menangis langsung diberi susu, tidak dicari tahu sebab menagisnya. Menurut Marimbi (2010), anak dengan status gizi lebih juga dikarenakan aktifitas anak jarang dan bisa juga disebabkan unsur genetik orang tua. Anak juga suka diberi makanan yang manis seperti coklat dan permen. Sedangkan gizi buruk pada anak disebabkan oleh makanan yang diberikan sehari-hari pada anak kurang
mengandung energi, sehingga anak menjadi kurus dan lemas, juga bisa disebabkan gangguan pada saluran pencernaan,sehingga penyerapan sari makanan dalam usus terganggu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Harsono (1999).
Status gizi balita merupakan hal yang penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua.
Perlunya perhatian yang lebih dalam tumbuh kembang diusia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi dimasa emas ini besifat irreversible. Lebih jauh, kekurangan gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan otak, padahal otak tumbuh selama masa balita (Marimbi, 2010). Selain itu, status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang mengandung zat gizi makanan (Supariasa, 2001). Gizi yang diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan besar bagi kehidupan anak tersebut terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kebutuhan gizi pada balita berpengaruh pada status gizi balita yang selanjutnya juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan balita.
Penilaian status gizi secara langsung dapat menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS untuk balita adalah alat yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter. KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan dan perkembangan anak (Creasoft, 2008).
Anak yang memiliki status gizi baik berada dalam grafik KMS dengan pita warna hijau. Kondisi ini merupakan kondisi yang baik bagi balita untuk memantau pertumbuhan balita. Meskipun pada usia 1-3 tahun ini merupakan usia yang rawan terhadap masalah gizi, namun orang tua tetap memenuhi kebutuhan gizi anak dengan memberikan makanan yang mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tubuh. Dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan.
Keadaan gizi yang baik pada anak tergantung pada tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan makanan. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu dengan yang lain. Kuantitas menunjukkan kandungan masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Balita sangat membutuhkan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Makanan yang diberikan pada balita juga harus disesuaikan dengan kemampuan mencernanya. Agar makanan dapat berfungsi dengan baik maka makanan yang dimakan sehari- hari tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat gizi tertentu sehingga memenuhi fungsi sebagai zat pembangun dan zat tenaga. Makanan harus mengandung protein,
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa anak usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan Pos 8 sebagian besar memiliki status gizi baik. Hal ini disebabkan konsumsi makanan yang diberikan oleh orang tua banyak mengandung lemak, protein, dan sedikit serat. Lemak dan protein banyak terdapat pada daging, ikan, susu, margarine, keju, dan telur. Anak juga tidak mengalami kesulitan makan. Sehingga disarankan pada orang tua untuk mempertahankan gizi anak yang sudah baik tersebut jangan sampai menjadi turun. Sedangkan status gizi kurang ataupun buruk dikarenkan anak sulit untuk makan, dan tingkat konsumsi makanan seperti lemak dan protein juga kurang, sehingga energi yang diperlukan oleh tubuh juga menjadi berkurang dan kemungkinan besar anak terjangkit infeksi yang dapat menyebabkan anak tidak terasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan. Sehingga disarankan pada orang tua untuk lebih memperhatikan pemberian makanan bagi balitanya, karena pada masa masa balita merupakan periode emas untuk pertumbuhan otaknya. Oleh sebab itu bagi orang tua untuk menyediakan makanan yang banyak mengandung zat gizi seperti lemak dan protein, yang banyak terdapat pada ikan, telur, daging, susu, margarine ataupun minyak. Untuk status gizi lebih dikarenakan tingkat aktifitas anak jarang, asupan energi yang tidak sesuai dengan penggunan, serta mempunyai unsur genetik dimana kandungan lemak dalam tubuhnya lebih banyak dan besar. Untuk itu disarankan pada orang tua untuk tidak memberikan makanan yang banyak mengandung gula seperti coklat dan kurangi dalam pemberian susu, usahakan pada anak untuk tidak bermalas-malasan dan ajak anak untuk melakukan aktfitas yang sering seperti bermain ataupun yang lain.
Hubungan Perilaku Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Balita Usia 1-3 Tahun
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji Fisher secara komputerisasi dengan tingkat kemaknaan α=0,05 didapatkan nilai signifikan p= 0,000 sehingga nilai p hitung < α (0,000<0,05). Hal ini berarti ada hubungan antara hubungan perilaku pemberian makanan dengan status gizi balita usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan Pos 8.
Perilaku pemberian makanan yang diberikan oleh orang tua pada anak merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan. Menu makanan yang diberikan harus mengandung zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Pada usia 1-3 tahun anak lebih banyak membutuhkan lemak, protein, dan sedikit serat. Lemak dan protein banyak terdapat pada daging, telur, ikan, susu, margarine ataupun
menyediakan menu makanan yang banyak mengandung zat-zat gizi tersebut.
Sedangkan anak dengan perilaku pemberian makanan kurang, dikarenakan orang tua tidak menyediakan menu makanan yang bergizi yang diperlukan oleh anak, sehingga anak kekurangan gizi. Kekurangan gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan otak, padahal otak tumbuh selama masa balita. Hal ini sesuai dengan pernyataan Supariasa (2001), yang menyatakan bahwa masalah gizi terjadi akibat kekurangan asupan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh balita. Akibat kekurangan zat gizi, maka simpanan zat gizi dalam tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila keadaan ini berlangsung lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan terjadi kemerosotan jaringan. Pada saat ini sudah dikatakan memiliki masalah gizi. Selain itu, menurut Moersintowarti (2002), setelah anak berumur setahun, nafsu makan mulai berkurang, sedangkan yang meningkat adalah konsumsi makanan kecil.
Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang mengandung zat gizi makanan (Supariasa, 2001). Status gizi balita juga dipengaruhi oleh pemberian makanan yang dikonsumsi balita. Gizi yang diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan besar bagi kehidupan anak tersebut terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kebutuhan gizi pada balita berpengaruh pada status gizi balita yang selanjutnya juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan balita.
Menurut Santoso (2004), masalah makan pada anak pada umumnya adalah masalah kesulitan makan. Sebagian besar anak dengan status gizi kurang kecenderungan perilaku pemberian makanannya juga kurang. Hal ini dikarenakan anak yang sulit makan, anak juga hanya suka pada satu jenis makanan tertentu saja seperti makanan ringan, permen ataupun jajanan yang lain yang tidak menagandung zat gizi yang dibutuhkan anak.
Menurut Moersintowarti (2002), pada masa balita terutama usia 1-3 tahun, asupan makanan yang dipengaruhi oleh nafsu makan mulai berkurang. Sehingga pada masa ini sering dijumpai penurunan asupan zat makanan seperti protein dan lemak.
Menurut Proverawati dan Asfuah (2010), balita membutuhkan lebih banyak lemak dan lebih sedikit serat. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, makanan yang dimakannya tidak boleh hanya sekedar mengeyangkan perut saja, tetapi makanan yang dimakan anak harus beragam jenis, jumlah atau porsinya. Asupan makanan sehari untuk anak harus mengandung 10-15% kalori, 20-35% lemak, dan sisanya karbohidrat. Setiap kilogram berat badan anak memerlukan asupan energi sebanyak 100 kkal.
Asupan lemak juga perlu ditingkatkan karena struktur utama pembentuk otak adalah lemak.
Anak yang mengalami gizi kurang terjadi karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi yang
berguna bagi tubuh. Zat gizi tersebut antara lain protein, lemak, vitamin dan mineral. Apabila anak pemberian makanan yang diberikan kurang, maka kemungkinan anak mengalami status gizi kurang.
Hal ini dikarenakan terpenuhinya asupan zat gizi tubuh maka akan terpenuhi juga kadar zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Sebaliknya apabila asupan zat gizi mengalami kekurangan maka kadar zat gizi juga berkurang (Moersintowarti, 2002).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku pemberian makanan dengan status gizi balita, sehingga disarankan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan nilai kandungan gizi yang dibutuhkan oleh anak, agar gizinya baik dan anak tumbuh sehat dan cerdas.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari semua uraian yang dikemukakan dan juga berdasarkan hasil analisa maka dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Perilaku pemberian makanan yang ada di Posyandu Desa Larangan Pos 8 hampir seluruhnya baik.
b. Status gizi balita usia 1-3 tahun sebagian besar baik.
c. Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku pemberian makanan dengan status gizi balita usia 1-3 tahun di Posyandu Desa Larangan Pos 8.
Saran
a. Bagi ibu balita yang perilaku pemberian makanannya kurang agar memperhatikan makanan yang diberikan pada anak terutama kandungan gizinya seperti kandungan lemak dan protein, karena kandungan gizi tersebut baik untuk pertumbuhan dan kecerdasan balita. Bagi yang perilaku pemberian makanannya
sudah baik untuk tetap
mempertahankannya.
b. Bagi ibu balita, apabila anaknya mengalami gizi kurang/buruk sebaiknya untuk lebih memperhatikan konsumsi makanan yang diberikan pada anak. Jangan membiarkan anak untuk memilih makanan yang disukainya seperti makanan ringan (snack), karena makanan tersebut tidak ada kandungan gizi yang diperlukan tubuh.
Bagi yang gizi balitanya lebih agar mengurangi konsumsi susu, jangan memberikan makanan yang mengandung gula seperti coklat, dan mengajak anak untuk melakukan aktifitas seperti bermain.
Bagi yang gizi balitanya baik untuk tetap mempertahankan.
c. Bagi ibu balita, perilaku pemberian makanan harus diperhatikan agar status gizi balita baik. Untuk itu, menu makanan yang diberikan sehari-hari harus
mengandung nilai gizi yang baik agar balita tumbuh sehat dan cerdas
DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, Irianton, 1996, Pemantauan Pertumbuhan Balita, Yogyakarta:
Kanisius
Almatsier, Sunita. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Creasoft. 2008. Status Gizi Versi KMS (dikutip dari http://creasoft.wordpress.com/2008/05/01 /status-gizi-versi-kms/, diakses tanggal 5 Februari 2011)
Depkes, RI, 2007, Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta
Harsono (1999), Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar pada Balita, Yogyakarta: Nuha Medika
Hidayat, Aziz Alimul, 2003, Riset Keperaatan &
Teknik Penulisan Ilmiah, Jakarta:
Salemba Medika
Marimbi, Hanum, 2010, Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar pada Balita, Yogyakarta: Nuha Medika
Moersintowarti B., dkk. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto Notoatmodjo, Soekidjo, 2002, Metodologi Penelitian
Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta: Rineka Cipta Nursalam, 2003, Pendekatan Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Proverawati, Atikah dan Siti Asfuah, 2010, Gizi untuk Kebidanan, Yogyakarta: Nuha Medika
Retnosari, Sylvia, 2010, Bila Anak Ogah Makan, gratis45.com/anak/BilaAnakOgahMaka n.doc. Diakses tanggal 25-2-2011 Sediaoetama , Ahmad Djaeni, 2000, ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid
I, Jakarta: Bhatara Karya Akbar.
Soetjiningsih, 1995, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta: ECG
Suharjo, 1996, Gizi dan Pangan, Yogyakarta:
Kanisius
Suhardjo, 2003, Perencanaan Pangan dan Gizi, Jakarta: Bumi Aksara
Soegeng, Santoso dan Anne Lies, 2004, Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Rineka Cipta.
Supariasa, I Dewa Nyoman, dkk, 2002, Penilaian Status Gizi Edisi I, Jakarta: EGC Tim Koordinasi Penanggulangan masalah pangan
dan gizi, 1999, Gerakan Nasional penanggulangan masalah pangan dan gizi di Indonesia, Jakarta.