• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPAILITAN resume PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPAILITAN resume PENDAHULUAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Krisis Moneter yang melanda asia khususnya Indonesia dipertengahan tahun 2007 telah memporakporandakan sendi – sendi perekonomian Negara. Dunia Usaha merupakan area yang paling menderita dan terpuruk. Negara kita memang tidak sendirian dalam menghadapi krisis ini, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa Negara kita adalah salah satu Negara yang paling menderita akibat krisis moneter ini, inflasi berkepanjangan tidak bisa dihindari, sendi – sendi kehidupan menurun drastis, akibatnya tidak sedikit usaha yang gulung tikar, tingkat kemiskinan pun kian meningkat.

Dengan semakin terpuruknya kehidupan perekonomian Negara, dapat dipastikan akan banyak sekali elemen – elemen dalam dunia usaha yang menderita, terpuruk, ambruk dan rontok sehingga tidak dapat lagi melangsungkan hidup usahanya, termasuk kelangsungan hidupnya dengan kaitannya pada pihak ke tiga. Banyak pengusaha yang dalam menjalankan usahanya mengantungkan hidupnya dari suntikan dana pihak ke tiga atau Kreditur, tidak tanggung –tanggung dana atau modal yang telah pihak ke tiga kucurkan untuk mengerakan roda usaha yang ada, tentu saja dengan harapan modal atau dana yang telah pihak ketiga tanamkan akan menuai hasil atau boleh dikatakan menghasilkan keuntungan. Tapi apa daya, malang tak dapat dihindarkan modal yang selama ini telah dikucurkan menjadi tidak berarti, semua hutang – hutang yang jatuh tempo tidak dapat dilunasi, para debitur tak mampu melunasi hutang – hutangnya pada pihak ketiga ( kreditur )

Untuk mengantisipasi adanya kecenderungan dunia usaha yang ambruk dimana berakibat pada tidak terpenuhinya kewajiban – kewajiban debitur yang jatuh tempo, maka pemerintah mengeluarkan suatu sarana hukum yang dapat menjadi landasan bagi penyelesaian utang piutang yang erat kaitannya dengan kebangkrutan dunia usaha, sarana itu adalah peraturan tentang Kepailitan.

Sebelum Undang – undang No. 4 tahun 1998 jo Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – undang dikeluarkan, masalah Kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang di Negara kita diatur dalam Faillisement- Verordening atau Undang – undang Kepailitan ( Staatsblad tahun 1905 nomor 217 ( hanya berlaku untuk Golongan Eropa dan Timur Asing ) jo Staatsblad tahun 1906 no. 348 ). Pada masa itu hingga dilakukan revisi atas Undang – undang tersebut, urusan Kepailitan merupakan sesuatu yang jarang muncul kepermukaan, banyak yang tidak pihak puas pada pelaksanaan Kepailitan. Banyaknya urusan Kepailitan yang tidak tuntas, lamanya waktu “ persidangan “ yang diperlukan, tidak adanya kepastian hukum yang jelas, merupakan beberapa alasan dari sekian banyak alasan yang ada. Secara psikologis mungkin dapat diterima, karena setiap pernyataan Kepailitan berarti “ hilangnya “ hak - hak debitur atau bahkan “ hilangnya” nilai piutang karena harta kekayaan debitur yang dinyatakan Pailit tersebut tidak mencukupi untuk menutupi semua kewajibannya kepada debitur. Akibat peristiwa Kepailitan, tidak semua Kreditur setuju atau bahkan menentangnya,

Dengan adanya Peraturan Kepailitan dan Penundaan Kewajiban pembayaran diharapkan dapat memecahkan sebagian persoalan penyelesaian utang piutang perusahaan. Selanjutnya selain untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka penyelesaian utang piutang tersebut diatas, perlu adanya mekanisme penyelesaian sengketa yang adil,

(2)

_____________________________________________________________________

cepat, terbuka dan efektif melalui suatu Pengadilan Khusus di Lingkungan Peradilan Umum yang dibentuk secara khusus dan diberikan tugas khusus pula untuk menangani, memeriksa dan memutuskan berbagai sengketa tertentu dibidang perniagaan termasuk bidang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran;

Dapat disimpulkan bahwa penyempunaan terhadap Undang – undang Kepailitan yang lama dilandasi beberapa pertimbangan, yaitu;

1. Adanya kebutuhan yang bersifat mendesak untuk dapat secepatnya mewujudkan sarana hukum bagi penyelesaian cepat, adil, terbuka dan efektif guna menyelesaikan utang piutang perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian;

2. Dibutuhkan suatu krangka penyelesaian akibat – akibat dari krisis Moneter yang terjadi sejak tahun 1997, khususnya terhadap utang piutang di dalam dunia usaha, hal ini sangat dibutuhkan agar perusahaan – perusahaan dapat segera beroperasi secara normal. Dengan demikian dapat mengurangi tekanan sosial yang disebabkan oleh hilangnya lapangan dan kesempatan kerja;

TENTANG HUKUM KEPILITAN dan PKPU

KEPAILITAN

PENGERTIAN KEPAILITAN

Kepailitan berasal dari kata Pailit, dari pengertian dalam Black’s Law Dictionary dapat diartikan sebagai “ ketidakmampuan membayar” dari seorang Debitur atas utang – utangnya yang jatuh tempo.

Suatu Keadaan dikatakan Pailit haruslah diajukan dalam suatu permohonan ke Pengadilan, dengan maksud sebagai pemenuhan asas Publisitas dari ketidakmampuan seorang Debitur untuk membayar utang – utangnya, sehingga tanpa adanya permohonan tersebut, pihak ke tiga tidak akan tahu akan ketidakmampuan debitur untuk membayar utangnya. Dalam ps. 1 UU Kepailitan dikatakan bahwa pernyataan Pailit adalah suatu keputusan Pengadilan, bearti sebelum adanya putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan, seorang Debitur tidak dapat dikatakan berada dalam keadaan Pailit

Sehingga dapat dikatakan bahwa Kepailitan adalah suatu sita Umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan hakim Pengawas.

PENGADILAN YANG BERWENANG

Pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara Permohonan Pailit ( PPP ) dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU ) serta perkata lain di bidang perniagaan adalah Pengadilan Niaga. Untuk saat ini Pengadilan Niaga di Indonesia adalah 5 yaitu : PN Jakarta Pusat, PN Ujung Pandang ( Makasar ), PN Medan, PN Surabaya, dan PN Semarang.

Ada pun daerah hukum Pengadilan Niaga ( berdasarkan Ps. 2 keppres RI No. 97 tahun 1999):

(3)

1. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makasar;

Wilayah propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua.

2. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan:

Wilayah Propinsi Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, dan NAD.

3. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya:

Wilayah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali, NTB, NTT.

4. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang:

Wilayah Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

5. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Wilayah Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatra Selatan. Lampung dan Kalimantan Barat.

Hukum Acara yang berlaku di Pengadilan Niaga adalah Hukum Acara Perdata Indonesia kecuali ditentukan lain oleh UU Kepailitan ( Ps. 299 ), hal ini mengenai: Kuasa, jangka waktu dan Pembuktian

PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT ( PPP) Dapat diajukan oleh;

1. Debitor sendiri maupun satu atau lebih kreditor.

2. Kejaksaan : untuk kepentingan umum.

Yang dimaksud sini adalah kepentingan Bangsa dan Negara dan atau Kepentingan masyarakat luas, misalnya : Debitor melarikan diri, Debitor menggelapkan bagian dari harta kekayaan, Debitor mempunyai utang kepada BUMN atau Badan Usaha lain yang menghimpun dana dari masyarakat, Debitor mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari masyarakat luas, Debitor yang tidak beritikad baik/tidak kooperatif untuk menyelesaikan masalah utang – piutang yang telah jatuh tempo, Hak lain menurut Kejaksaan merupakan Kepentingan Umum.

3. Bank Indonesia bila debitornya adalah Bank.

4. Bapepam ( Badan Pengawas Pasar Modal ), bila debitornya Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian.

5. Menteri Keuangan, bila debitornya : Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan Publik ( BUMN yang seluruh modalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham ).

PENGAJUAN PERMOHONAN PAILIT

1. Diajukan secara tertulis, ditandatangani diatas Materai.

(4)

_____________________________________________________________________

2. Diajukan oleh Advokad, kecuali dalam hal ini permohonan diajukan oleh Menteri Keuangan, Kejaksaan, Bank Indonesia dan Bapepam.

3. Melampirkan daftar bukti, surat kuasa khusus dan membayar biaya penjar perkara.

SYARAT DINYATAKAN PAILIT

1. Debitor mempunyai dua atau lebih kreditur.

2. Debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang.

3. Utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih Lebih lanjut akan dijelaskan mengenai;

Debitur : orang mempunyai utang karena perjanjian atau undang- undang yang pelunasannya dapat ditagih dimuka Pengadilan.

Kreditur : orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undnag – undang yang dapat ditagih di muka Pengadilan.

Utang : Kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang yang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul kemudian hari atau kontijen, yang timbul karena perjanjian atau karena undang – undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitur dan bila tidak dipenuhi oleh debitur dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.

Utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih : Kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penangihannya sebagaimana diperjanjikan karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena puusan Pengadilan, arbiter, atau Majelis Arbitrase.

PEMBUKTIAN DALAM PER KARA PAILIT

1. Alat – alat Bukti sesuai dengan Pasal 164 HIR yaitu bukti tulisan, saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah.

2. Unsur – unsur yang harus dibuktikan adalah ; - Debitur mempunyai dua atau lebih Kreditur

- Adanya minimal satu hutang yang tidak dibayar lunas dan telah jatuh waktu serta dapat ditagih.

PUTUSAN PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT

1. Harus diucapkan paling lambat 60 ( enam puluh ) hari setelah tanggal permohonan tersebut didaftarkan.

2. Permohonan ini harus dikabulkan bila ada fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana.

3. Putusan wajib memuat : a. Sumber hukum.

(5)

b. Pertimbangan hukum dan dissenting opinion.

4. Pernyataan debitur Pailit.

5. Menunjuk Hakim Pengawas dan mengangkat Kurator.

6. Salinan putusan wajib disampaikan kepada Kreditur, pihak yang ajukan permohonan, kurator dan hakim pengawas paling lama 3 ( tiga ) hari setelah tanggal putusan tersebut diucapkan.

Putusan penyataan pailit harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan bersifat serta merta dimana putusan tersebut dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum.

Segala tindakan dan perbuatan Kurator tetap sah meskipun putusan ini dibatalkan sebagai akibat adanya kasasi atau PK.

HAKIM PENGAWAS

- Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU ) psl 1 angka 8 jo psl 15 ayat 1.

- Hakim Pengawas mempunyai tugas pokok;

1. Mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit ( ps. 65 ) 2. Bertindak sebagai Ketua dalam rapat Kreditor ( ps. 85 ayat 1 ) LANGKAH DAN TINDAKAN HAKIM PENGAWAS

1. Menerima salinan putusan PPP dari Majelis Hakim Pemeriksa/ Pemutus perkara PPP dalam tenggang waktu paling lambat 3 ( tiga ) hari setelah tanggal putusan PPP diucapkan ( ps. 9 ).

2. Menentukan hari, tanggal, waktu dan tempat Rapat Kreditor Pertama ( RKP ) yang harus diselenggarakan paling lambat 30 ( tiga puluh ) hari setelah tanggal putusan PPP diucapkan ( ps. 86 ayat 2).

3. Menetapkan paling sedikit 2 ( dua ) surat kabar harian untuk kepentingan Kurator mengumumkan putusan PPP paling lambat 5 ( lima ) hari setelah tanggal putusan PPP diucapkan ( ps. 15 ayat 4 ).

4. Menyampaikan penetapkan RKP dan 2 ( dua) surat harian tersebut ( point 2 dan 3) kepada Kurator ( ps.86 ayat 2 jo ps. 15 ayat 4).

5. Menyelenggarakan RKP dengan dibantu oleh Panitera Pengganti serta bertindak sebagai Ketua Rapat, membuat berita acara rapat yang ditandatangani oleh hakim Pengawas dan Panitera Pengganti ( ps.126 ayat 4 ).

KURATOR

(6)

_____________________________________________________________________

- Kurator adalah Balai Harta Peninggalan ( BHP ) atau orang perorangan yang diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitur pailit dibawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan Undang – Undang ( ps. 1 angka 5 jo ps. 15 ayat 1, ps 69 ayat 1 dan ps. 65 )

- Kurator adalah;

1. Balai Harta Peninggalan ( BHP )

2. Kurator lain, ps. 70 ayat 1 sub a dan sub b.

Menurut pasal ini Kurator lain adalah ;

a. Orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan / atau membereskan harta pailit,dan

b. Terdaftar pada Kementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang – undangan ( ps.

70 ayat 2 )

- BHP diangkat sebagai Kurator, dalam hal Debitur, Kreditur atau pihak yang berwenang mengajukan PPP lain tidak mengajukan usul pengangkatan Kurator ( ps. 15 ayat 2 )

- Kurator harus independent, tidak mempunyai benturan kepentingan dengan Debitur atau Kreditur dan tidak sedang menangani perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU ) lebih dari 3 ( tiga ) perkara ( ps. 15 ayat 3 ).

TUGAS POKOK KURATOR

1. Melakukan pengurusan dan atau pemberesan harta pailit ( ps. 69 ayat 1 )

2. Berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan / atau pemberesan harta pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan, meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali ( ps. 16 ayat 1)

LANGKAH DAN TINDAKAN KURATOR

1. Menerima salinan putusan PPP dari Majelis Pemeriksa/Pemutus perkara PPP, dalam tenggang waktu paling lambat 3 ( tiga ) hari setelah tanggal putusan PPP dicapkan ( ps.9)

2. Menerima penetapan penyelenggaraan rencana penyelenggaran RKP dan 2 (dua ) Surat Kabar harian dari Hakim Pengawas dalam tenggang waktu paling lambat 3 ( tiga ) hari setelah tanggal Putusan PPP diucapkan (ps. 86 ayat 2 jo ps. 15 ayat 4) 3. Mengumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2

(dua ) surat kabar harian yang ditetapkan Hakim Pengawas dalam jangka waktu paling lambat 5 ( lima ) hari setelah tanggal putusan pernyataan pailit diterima, mengenai ikhtisar putusan pernyataan pailit, yang memuat;

a. Nama, alamat dan pekerjaan Debitur.

b. Nama Hakim Pengawas.

c. Nama, alamat dan pekerjaan Kurator.

(7)

d. Nama, alamat dan Pekerjaan anggota panitia kreditur sementara, apabila telah ditunjuk .

e. Tempat dan waktu penyelenggaraan rapat pertama kreditur (ps.15 ayat 4).

4. Membuat pencatatan harta pailit paling lambat 2 ( dua ) hari setelah menerima surat putusan pengangkatan sebagai kurator ( ps. 100 ayat 1 – daftar harta pailit ) 5. Membuat daftar /pencatatan yang menyatakan sifat, jumlah piutang dan utang

harta pailit, nama dan tempat tinggal kreditur beserta jumlah piutang masing – masing kreditur ( ps. 102 – daftar Kreditur )

6. Melaporkan pencatatan ( daftar harta pailit ) dan daftar kreditur tersebut kepada Hakim Pengawas pada Rapat Kreditur Pertama ( ps. 86 ayat 2 )

7. Menyampaikan laporan kepada Hakim Pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 ( tiga ) bulan ( ps. 74 ayat 1 )

8. Melakukan penjualan harta pailit dimuka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan ( ps. 185 ayat 1 ) atau melakukan penjualan dibawah tangan dengan ijin Hakim Pengawas ( ps. 185 ayat 2 ).

9. Penyusun suatu daftar pembagian untuk dimintakan persetujuan Hakim Pengawas ( ps. 189 ayat 1 )

10. Membayar kepada Kreditur yang telah dicocokan jumlah piutangnya, sesuai dengan daftar pembayaran yang telah mendapat persetujuan Hakim Pengawas (ps. 202)

RAPAT KREDITUR PERTAMA ( R K P )

Hakim Pengawas dengan dibantu oleh Panitera Pengganti yang bertugas membuat Berita Acara Rapat Kreditur ( ps. 126 ayat 4 ) menyelenggarakan RKP, dengan langkah sebagai berikut;

1. Debitur pailit hadir sendiri untuk memberikan keterangan sebab musabab terjadinya kepailitan dan keadaan harta pailit bila diminta oleh Hakim Pengawas ( ps. 121 )

2. Kreditur hadir sendiri atau dengan Perantaraan kuasanya ( ps. 123 )

3. Kurator biasanya dengan didampingi asistennya, hadir sendiri ( ps. 124 ayat 1, 2 dan 3 )

4. Meminta laporan kurator perihal pencatatan harta pailit ( ps. 100 ayat 1 )

5. Meminta laporan Kurator perihal pencatatan sifat, jumlah piutang dan utang harta pailit, nama dan tempat tinggal kreditur beserta jumlah piutang masing – masing kreditur ( ps. 102 )

6. Menawarkan pada kreditur untuk membentuk Panitia Kreditur Tetap ( ps. 80 ayat 1 )

7. Meminta keterangan debitur pailit apakah ia akan menawarkan suatu perdamaian kepada semua kreditur ( ps. 144 )

Catatan;

(8)

_____________________________________________________________________

Debitur pailit mengajukan rencana perdamaian dan paling lambat 8 ( delapan ) hari sebelum rapat pencocokan piutang menyediakannya di Kepaniteraan Pengadilan ( ps.

145 ayat 1 )

RENCANA PERDAMAIAN

Jika dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian, rencana perdamaian tidak diterima atau pengesahan perdamaian ditolah berdasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, demi houkum harta pailit berada dalam keadaan insolvensi ( ps. 178 ayat 1 )

INSOLVENSI ( Rencana Perdamaian Ditolak )

1. Hakim Pengawas dapat mengadakan suatu Rapat Kreditur setiap hari, jam dan tempat yang telah ditentukan, untuk memdengar para kreditur tentang tata cara pemberesan harta pailit dan jika perlu mengadakan pencocokan piutang yang dimasukan setelah berahkirnya tenggang waktu batas ahkir tagihan dan belum dicocokan ( ps. 187 ayat 1, ps 113 ayat 1 dan ps. 133 )

2. Hakim Pengawas meminta kepada Kurator agar semua harta pailit dijual dimuka umum atau bila penjualan dimuka umum tidak tercapai, maka dengan Ijin Hakim Pengawas, penjualan harta pailit dapat dilakukan di bawah tangan ( ps. 185 ayat 1 dan 2 )

3. Hakim Pengawas memberikan persetujuan suatu daftar pembagian yang disusun oleh Kurator ( ps. 189 ayat 1 )

4. Kreditur yang piutangnya diterima dengan bersyarat, maka besarnya jumlah bagian kreditur tersebut dalam daftar pembagian dihitung berdasarkan prosentase dari seluruh jumlah piutang ( ps. 190 )

5. Segera setelah Kreditur yang telah dicocokan, dibayarkan penuh piutang mereka, atau segera setelah daftar pembagian penutup menjadi mengikat, maka berahkirlah kepailitan ( ps. 202 ayat 1 – Kepailitan Berahkir )

RENCANA PERDAMAIAN DITERIMA

- Rencana perdamaian diterima apabila disetujui dalam rapat kreditur oleh lebih dari ½ ( satu perdua ) jumlah kreditur konkuren yang hadir dalam rapat dan yang haknya diakui atau sementara diakui, yang mewakili paling sedikit 2/3 ( dua pertiga ) dari jumlah seluruh piutang konkuren yang diakui atau sementara diakui dari kreditur konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut ( ps. 151 )

- Dalam hal rencana perdamaian diterima karena disetujui para Kreditur Konkuren, Hakim Pengawas menetapkan hari sidang Pengadilan yang akan memutuskan mengenai disahkan atau tidaknya rencana perdamaian ( ps. 156 ayat 1 )

(9)

- Hakim Pengawas memberikan laporan tertulis dalam sidang terbuka tentang persetujuan rencana perdamaian dan penetapan hari sidang tersebut ( ps. 158 ayat 1 )

- Majelis Hakim Pemeriksa/ Pemutus perkara PPP, pada sidang yang telah ditetapkan oleh hakim Pengawas atau paling lambat 7 ( tujuh ) hari setelah tanggal sidang tersebut, wajib memberikan Penetapan disertai alasannya ( ps.

159 ayat 1 )

- Putusan Pengesahan perdamaian memperoleh kekuatan hokum tetap, maka kepailitan berahkir ( ps. 166 ayat 1 – Kepailitan Berahkir II

HAK SUARA

Perhitungan jumlah hak suara kreditur diatur dengan Peraturan Pemerintah (ps. 87 ayat 3) UPAYA HUKUM

Upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap Putusan Pernyataan Pailit dapat dimintakan Kasasi ke MA dan terhadap putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap dapat diajukan Peninjauan Kembali

PROSEDUR PERMOHONAN KASASI

1. Permohonan Kasasi berikut Memori Kasasi diajukan paling lambat 8 ( delapan ) hari setelah tanggal putusan PN diucapkan.

2. Panitera mengirimkan permohonan kasasi kepada termohon kasasi paling lambat 2 ( dua ) hari setelah permohonan didaftarkan .

3. Termohon kasasi dapat menyampaikan kontra memori Kasasi paling lambat 7 ( tujuh ) hari setelah diterimanya Memori Kasasi.

4. Panitera PN menyampaikan berkas Kasasi kepada MA paling lambat 14 hari setelah tanggal pendaftaran termohon.

5. MA mempelajari dan menetapkan hari sidang paling lambat 2 hari setelah permohonan Kasasi diterima MA.

6. Sidang permohonan kasasi dilakukan maksimal 20 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh MA

7. Putusan Kasasi maksimal 60 hari setelah permohonan Kasasi diterima oleh MA 8. Panitera MA menyampaikan salinan putusan Kasasi kepada Panitera PN

maksimal 3 hati setelah putusan Kasasi diucapkan dan Panitera PN menyampaikan salinan putusan kepada para pihak maksimal 2 hari setelah diterimanya putusan tersebut.

PROSEDUR PERMOHONAN PENINJAUAN KEMBALI

(10)

_____________________________________________________________________

1. Pengajuan Permohonan PK dengan alasan : Bukti baru ( 180 hari ) sejak ditemukannya bukti tersebut dan kesalahan berat ( 30 hari ) sejak putusan yang dimohonkan PK berkekuatan hukum tetap

2. Panitera PN mengirimkan Permohonan PK kepada Termohon PK maksimal 2 hari setelah permohonan didaftarkan.

3. Termohon PK menyampaikan Kontra Memori PK maksimal 10 hari setelah permohonan didaftarkan.

4. Panitera PN menyampaikan berkas PK kepada MA melalui Panitera MA maksimal 12 hari setelah Permohonan didaftarkan.

5. MA segera memeriksa dan memberikan putusan atas permohonan PK maksimal 30 hari setelah Permohonan PK diterima oleh MA

6. Putusan Permohonan PK harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum 7. MA wajub menyampaikan kepada para pihak salinan Putusan PK maksimal 32

hari setelah Permohonan diterima oleh MA.

PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG ( PKPU ) PKPU diajukan oleh;

- Debitur yang mempunyai lebih dari 1 ( satu ) Kreditur atau - Kreditur

Ps. 222 ayat 1;

a. Debitur yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan melanjutkan membayar utang – utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon kepada PKPU dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditur ( ps. 222 ayat 2 )

b. Kreditur yang memperkirakan bahwa Debitur tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon agar Debitur diberi PKPU, untuk memungkinkan Debitur mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Krediturnya ( ps. 222 ayat 3 )

KEWENANGAN MENGADILI

PKPU diputuskan oleh Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi;

1. Tempat Kedudukan hukum Debitur

2. Tempat Kedudukan terahkir Debitur, bila Debitur telah meninggalkan wilayah Negara RI.

3. Tempat Kedudukan hukum Firma, bila Debiturnya persero atau Firma.

4. Tempat Kedudukan atau Kantor pusat Debitur menjalankan profesi atau usahanya di wilayah Negara RI, bila debiturnya tidak berkedudukan di wilayah Negara RI

(11)

5. Tempat Kedudukan yang dimaksud dalam anggaran dasarnya, bila Debiturnya badan hukum ( ps. 224 ayat 1 jp ps. 3 )

KUASA PEMOHON PKPU

Permohonan PKPU ditandatangani oleh pemohonan dan oleh Advokatnya (ps. 224 ayat 1)

SYARAT PKPU

1. PKPU oleh debitur ( ps. 222 ayat 2 );

- Debitur tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang – utangnya.

- Utang – utangnya sudah jatuh waktu dan dapat ditagih.

- Dengan maksud mengajukan perdamaian.

- Rencana perdamaian meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditur.

2. PKPU oleh Kreditur ( ps. 222 ayat 3 );

- Kreditur yang memperkirakan bahwa Debitur tidak dapat melanjutkan membayar utangnya

- Utangnya sudah jatuh waktu dan dapat ditagih

- Untuk memungkinkan Debitur mengajukan rencana perdamaian.

- Rencana perdamaian meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada krediturnya.

RENCANA PERDAMAIAN

1. Dapat dilampirkan pada surat permohonan PKPU ( ps. 224 ayat 5 )

2. Dapat diajukan pada waktu mengajukan Permohonan PKPU atau setelah itu ( ps.

265 ) PUTUSAN PKPU

1. PKPU oleh Debitur ;

Pengadilan dalam waktu paling lambat 3 hari sejak tanggal didaftarkannya permohonan PKPU, harus mengabulkan Permohonan PKPU Sementara ( PKPU – S ) dan harus ( ps. 225 ayat 2 );

- Mengajukan seorang Hakim Pengawas dari Pengadilan.

- Mengangkat 1 atau lebih Pengurus.

2. PKPU oleh Kreditur

Pengadilan dalam waktu paling lambat 20 hari sejak tanggal didaftarkannya permohonan PKPU, harus mengabulkan Permohonan PKPU Sementara ( PKPU – S ) dan harus ( ps. 225 ayat 3 );

(12)

_____________________________________________________________________

- Mengajukan seorang Hakim Pengawas dari Pengadilan - Mengangkat 1 atau lebih Pengurus.

HAKIM PENGAWAS

Adalah Hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam Putusan Pailit atau Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU ) psl 1 angka 8 jo psl 15 ayat 1 dan ps.

225 ayat 2 dan 3

Tugas dari Hakim Pengawas adalah :

1. Mengawasi pengurusan harta Debitur yang dilakukan oleh pengurus bersama debitur ( ps. 2225 ayat 2 dan 3 jo ps. 65 )

2. Bertindak sebagai Ketua dalam rapat Kreditur ( ps. 85 ayat 1 ) Catatan ;

Tugas pokok tersebut berdasarkan penafsiran penyesuaian ( analog interpretasi ) menyesuaikan dengan tugas pokok Hakim Pengawas dalam perkara Kepailitan, karena tidak ada ketentuan – ketentuan khusus yang mengatur tugas – tugas hakim Pengawas dalam perkara PKPU.

LANGKAH dan TINDAKAN HAKIM PENGAWAS

1. Menerima salinan putusan PKPU – Sementara dari Majelis Hakim Pemeriksa/Pemutus perkara PKPU – Sementara dalam tenggang waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal putusan PKPU – Sementara.

2. Menunjuk paling sedikit 2 surat kabar harian, untuk kepentingan Pengurusan mengumumkan putusan PKPU – Sementara ( ps. 226 ayat 1 )

3. Memimpin rapat Kreditur untuk mempersiapkan laporan kepada Majelis Pemeriksa/Pemutus perkara PKPU – Sementara pada sidang atau sebelum hari ke – 45 yang ditetapkan oleh Majelis Pemeriksaan/Pemutus perkara PKPU – Sementara ( 225 ayat 4 ).

4. Meminta laporan pengurus perihal pencatatan/keadaan harta debitur dan daftar piutang yang memuat nama, tempat tinggal kreditur, jumlah piutang masing –masing, penjelasan piutang dan apakah piutang tersebut diakui atau dibantah oleh Pengurus ( ps. 239 ayat 1 dan ps. 272 ).

5. Membicarakan rencana perdamaian yang diajukan oleh debitur pemohon PKPU/

termohon PKPU ( ps. 228 ayat 3 ).

6. Membicarakan apakah para kreditur menyetujui pemberian PKPU – tetap ataukah menolak, atas permintaan debitur pemohon PKPU, guna mempertimbangkan dan menyetujui rencana perdamaian pada sidang yang selanjutnya ( ps. 228 ayat 4 ).

7. Membarikan laporan tertulis pada Majelis Hakim Pemeriksa/ Pemutus Perkara PKPU – Sementara perihal langkah – langkah tersebut dalam nomor 4,5 dan 6 pada sidang hari ke 45 atau sebelumnya.

(13)

PENGURUS Ps. 234 ayat 3;

1. Orang perorangan yang berdomisili di wilayah Negara RI, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus harta debitur.

2. Terdaftar pada Kementrian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan.

TUGAS POKOK PENGURUS

Mengurus harta debitur bersama dengan debitur ( ps. 225 ayat 2 dan 3 ).

Pengurus haruslah independent dan tidak memiliki Benturan Kepentingan dengan Debitur dan Kreditur ( ps. 234 ayat 1 )

LANGKAH dan TINDAKAN PENGURUS

1. Memberikan salinan putusan PKPU – Sementara dari Majelis Hakim Pemeriksa /Pemutus perkara PKPU – Sementara dalam tenggang waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal putusan PKPU – Sementara

2. Segera mengumumkan putusan PKPU – Sementara dalam Berita Negara RI dan paling sedikit dalam 2 surat kabar harian yang ditunjuk oleh Hakim Pengawas, memuat;

a. Undangan untuk hadir pada persidangan yang merupakan rapat permusyawaratan hakim berikut tanggal, tempat dan waktu sidang tersebut ( ps. 225 ayat 4 )

b. Nama Hakim Pengawas c. Nama serta alamat Pengurus

3. Memuat daftar/pencatatan keadaan harta debitur ( ps. 239 ayat 1 )

4. Membuat daftar/pencatatan piutang yang memuat nama, tempat tinggal kreditur, jumlah piutang masing – masing, penjelasan piutang dan apakah piutang tersebut diakui atau dibantah oleh Pengurus ( ps. 272 )

5. Meminta rencana perdamaian kepada debitur yang mengajukan pada waktu mengajukan permohonan PKPU atau setelah itu tetapi sebelum sidang permusyawaratan pada hari ke – 45 ( ps. 265 )

6. Melaporkan hal – hal tersebut dalam no. 3,4, dan 5 kepada Hakim Pengawas pada rapat Kreditur yang diketuai oleh Hakim Pengawas

7. Melaporkan kejadian – kejadian tersebut dalam no 3, 4, 5 dan 6 kepada Majelis Pemeriksa/Pemutus perkara PKPU – Sementara pada sidang hari ke – 45 atau sebelumnya.

PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG – TETAP ( PKPU – TETAP )

(14)

_____________________________________________________________________

1. Jika kreditur belum dapat memberikan suara mereka mengenai rencana perdamaian, atas permintaan debitur, Kreditur harus menentukan pemberian atau penolakan PKPU- tetap dengan maksud untuk memungkinkan debitur, pengurus dan kreditur mempertimbangkan dan menyetujui rencana perdamaian pada rapat atau sidang yang diadakan selanjutnya ( ps. 228 ayat 4 )

2. Dalam hal PKPU – Tetap tidak dapat ditetapkan oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 4, dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ps 225 ayat 4 debitur dinyatakan ‘ Pailit ‘ ( ps. 228 ayat 5 )

Catatan

Ps. 228 ayat 4 : permintaan debitur agar kreditur memberikan persetujuan PKPU – Tetap.

PS. 225 ayat 4 : Sidang permusyawaratan Pengadilan paling lama pada hari ke -45 3. Apabila PKPU – Tetap, sebagaimana ps. 4 disetujui, penundaan tersebut berikut

perpanjangannya tidak boleh melebihi 270 ( dua ratus tujuh puluh ) hari setelah putusan PKPU – Sementara diucapkan ( ps. 228 ayat 6 )

PEMUNGUTAN SUARA

1. Persetujuan lebih dari ½ ( satu perdua ) jumlah kreditur konkuren yang pada haknya diakui atau sementara diakui yang hadir dan mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan atau sementara diakui dari kreditur konkuren atau kuasanya yang hadir dalam sidang, dan

2. Persetujuan lebih dari ½ jumlah kreditur yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang hadir dan mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan kreditur atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut ( ps. 229 ayat 1 )

RENCANA PERDAMAIAN DAPAT DITERIMA

1. Persetujuan lebih dari ½ jumlah kreditur konkuren yang haknya diakui atau sementara diakui yang hadir dan mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan atau sementara diakui dari kreditur konkuren atau kuasanya yang hadir dalam sidang, dan

2. Persetujuan lebih dari ½ jumlah kreditur yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang hadir dan mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan kreditur atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut ( ps. 281 ayat 1 )

RENCANA PERDAMAIAN DITERIMA

a. Bila Rencana Perdamaian diterima, hakim Pengawas wajib menyampaikan laporan tertulis kepada Pengadilan pada tanggal yang telah ditentukan untuk keperluan pengesahan perdamaian dan pada tanggal yang ditentukan tersebut

(15)

pengurus serta kreditur dapat menyampaikan alasan yang menyebabkan ia menghendaki pengesahan dan penolakan perdamaian ( ps. 284 ayat 1 )

b. Pengadilan dapat mengundurkan dan menetapkan tanggal sidang untuk pengesahan perdamaian yang harus diselenggarakan paling lambat 14 hari setelah tanggal sidang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ( ps. 284 ayat 3 ) RENCANA PERDAMAIAN DITOLAK

Bila Rencana Perdamaian ditolak, hakim Pengawas wajib segera memberitahukan penolakan itu kepada Pengadilan dengan cara menyerahkan kepada Pengadilan yang bersangkutan salinan rencana perdamaian serta berita acara rapat sebagaimana dimaksud dalam ps. 282 ( dalam hal ini rapat pemungutan suara mengenai rencana perdamaian ), dan dalam hal demikian Pengadilan harus menyatakan Debitur Pailit. Setelah Pengadilan menerima Pemberitahuan penolakan dari Hakim Pengawas dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ps. 283 ayat 1 ( perbaikan Berita Acara Rapat) menyampaikan

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Mohd Najib (2003), soal selidik adalah satu instrumen yang lazim digunakan untuk mengukur tingkah laku responden. Bahagian A terdiri daripada 3 item yang berkaitan dengan

Beberapa kondisi kelainan intrakranial yang dapat menyebabkan kesadaran menurun adalah perdarahan, thrombus atau emboli, edema, dan tumor.. 2) Kelainan Ekstrakranial

Infeksi puerperalis adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu hingga 38ᵒC atau lebih sel ama 2 hari dalam

Pengaruh variasi komposisi kitosan, pati kulit pisang kepok, gliserol, dan ZnO terhadap nilai Tensile Strength dan Elongation at break bioplastik.. Melalui Gambar 1 di

Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum. Progesterone yang berfungsi dalam memelihara

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi

Kenderaan yang tidak diselenggarakan dengan baik juga menjadi puncanya, seperti kerosakan brek yang menyebabkan kenderaan tidak dapat dihentikan dan melanggar objek

Gambar 3: Foto Kantor Cabang di Sikabau Koperasi Serba Usaha Perempuan dokumentasi pada Selasa, 26 September 2017 (Sumber Dokumentasi Pribadi).. Gambar 4: