• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

DINAS KESEHATAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT

TAHUN 2020

GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT

(2)

Untuk menjalankan tugasnya Bidang Kesehatan Masyarakat mempunyai fungsi:

a. Penyusunan program kerja di Bidang Kesehatan Masyarakat;

b. Penyiapan bahan dan perumusan kebijakan bidang kesehatan keluarga dan gizi;

c. Penyiapan bahan dan perumusan kebijakan teknis bidang promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat;

d. Penyiapan bahan dan perumusan kebijakan teknis bidang kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan olahraga;

e. Pengkoordinasian di Bidang Kesehatan Masyarakat;

f. Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di Bidang Kesehatan Masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;

g. Penyelenggaraan urusan pemerintahan di Bidang Kesehatan Masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

h. Penyelenggaraan kegiatan pelayanan dan administrasi di Bidang Kesehatan Masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

i. Pemberian saran dan pertimbangan kepada Kepala Dinas berkenaan dengan tugas dan fungsi di Bidang Kesehatan Masyarakat;

(3)

j. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan tugas di Bidang Kesehatan Masyarakat;

k. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas di Bidang Kesehatan Masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

Bidang Kesehatan Masyarakat membawahi 3 (tiga) seksi sebagai berikut:

a. Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi

Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi mempunyai tugas mengumpul dan mengolah bahan perumusan kebijakan teknis dibidang kesehatan keluarga yang meliputi kesehatan ibu, anak, lanjut usia dan gizi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya.

Untuk melaksanakan tugasnya Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi mempunyai fungsi:

• Penyusunan rencana kegiatan Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pengumpulan, pengolahan bahan dan perumusan kebijakan Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pelaksanaan urusan pemerintahan di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

• Pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pemberian saran dan pertimbangan kepada Kepala Bidang berkenaan dengan tugas dan fungsi di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pelaksanaan monitoring dan penyusunan laporan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi;

• Pelaksanaan tugas lain di Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi yang diserahkan oleh Kepala Bidang.

(4)

b. Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat mempunyai tugas mengumpul dan mengolah bahan perumusan kebijakan teknis bidang promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya.

Untuk melaksanakan tugasnya Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat mempunyai fungsi:

• Penyusunan rencana kegiatan Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pengumpulan, pengolahan bahan dan perumusan kebijakan di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pelaksanaan urusan pemerintahan di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

• Pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pemberian saran dan pertimbangan kepada Kepala Bidang berkenaan dengan tugas dan fungsi di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pelaksanaan monitoring dan penyusunan laporan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

• Pelaksanaan tugas lain di Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang diserahkan oleh Kepala Bidang.

c. Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

Seksi Kesehatan Lingkungan, kesehatan kerja dan Olahraga mempunyai tugas mengumpul dan mengolah bahan perumusan kebijakan teknis bidang Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan tugas dan fungsinya.

(5)

Untuk melaksanakan tugasnya Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga mempunyai fungsi:

• Penyusunan rencana kegiatan Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pengumpulan, pengolahan bahan dan perumusan kebijakan di Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi di Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pelaksanaan urusan pemerintahan di Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

• Pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pellaksanaan monitoring dan penyusunan laporan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi di seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pemberian saran dan pertimbangan kepada Kepala Bidang berkenaan dengan tugas dan fungsi di Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga;

• Pelaksanaan tugas lain di Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga yang diserahkan oleh Kepala Bidang.

(6)

A. Prosentase Posyandu Aktif

1. Target dan realisasi kinerja tahun ini N

O Sasaran Indikator program Targe t

Realisa

si %

1 Meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Persentase

Posyandu Aktif 35% 58,9% 168,3%

Sumber: data laporan promkes kab/ kota 2020

Posyandu aktif telah tercapai target di tahun 2020, pencapain target kinerja hingga 168,3% ini timbul karena perubahan indikator Posyandu aktif oleh kementerian kesehatan. Strata Purnama dan Mandiri yang tahun sebelumnya menjadi syarat Posyandu aktif dirubah dengan menghilangkan indikator dana sehat di Posyandu. Adapun jumlah Posyandu Aktif di Kabupaten/ kota bisa dilhat pada grafik berikut:

Grafik Posyandu Aktif Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2020

(7)

Masih ada 7 Kabupaten/ Kota yang Posyandu aktifnya masih rendah atau dibawah 50% yaitu Kabupaten Melawi, Sanggau, Kayong Utara, Kapuas Hulu, Singkawang, mempawah, dan Sekadau. Tiga kabupaten terendah Sekadau, Mempawah dan Singkawang perlu menjadi perhatian utama di tahun mendatang.

Indikator yang perlu menjadi prioritas adalah Posyandu melakukan sekurang- kurangnya 1 kegiatan pengembangan seperti kesehatan remaja, kesehatan usia kerja, kesehatan lanjut usia, TOGA, Penanggulangan penyakit atau kegiatan tambahan kesehatan lain sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan masyarakat, data menunjukkan angka berkisar ke 66,28%.

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya

NO

Sasaran

Strategis Program Indikator

Anggaran

Capaia n Kinerja

Tingka t Efisien

si Target Realisa

si

%

1 Meningkat nya kualitas Kesehatan lingkungan dan

promosi kesehatan

Program Peningkata n

Kesehatan Lingkunga

n dan

Promosi kesehatan.

Persent ase Posyan du Aktif

77.556.

900

73.556.

900

97 Fisik 100%

Efesie n

Kegiatan untuk pencapaian posyandu aktif telah dilaksanakan dengan capaian fisik 100% dan capaian keuangan 97,4%. Ini menunjukkan kegiatan dinilai cukup efisiens.

3. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Selama ini Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelengaraan pembangunan kesehatan guna

(8)

memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

Indikator Posyandu sangat ditentukan oleh lintas sektor dan masyarakat, utamanya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Desa, Tim Penggerak PKK, dan Lintas sektor lain dalam menunjang pengembangan program tambahan di Posyandu. Dukungan dari Dinas yang terintegrasi adalah kegiatan pelayanan sosial dasar keluarga dalam aspek pemantauan tumbuh kembang anak. Dalam pelaksanaanya dilakukan secara koordinatif dan integratif.

Kegiatan yang dikembangkan merupakan upaya pemberian reward keaktifan posyandu terbaik di level Kabupaten/ kota dan juga sebagai bentuk kemitraan dalam Pokja Posyandu. Program/ kegiatan meskipun tidak secara langsug menunjang pencapaian kinerja akan tetapi akan meningkatkan motivasi Kabupaten/ kota dalam mengembangkan Posyandu. Kegiatan ini belum dapat mendongkrak indikator secara signifikan karena tidak bisa mengintervensi masalah yang ada.

4. Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir

Berdasarkan tabel di atas Persentase Posyandu Aktif di tahun 2020 ini mengalami peningkatan sangat tinggi sebesar 18,4% setelah di tahun 2019 mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan peningkatan pemahaman pengelola program posyandu serta perubahan indikator posyandu aktif.

N o

Sasaran

Strategis IKU Realisasi Target

2020 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase Posyandu Aktif

33,30% 30,50% 58,9% 35%

(9)

5. Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah

Dari tabel di atas dapat dilihat, realisasi kinerja jangka menengah tahun 2023 sebesar 40%, telah tercapai. Perlu upaya-upaya untuk mempertahankan angka tersebut sehingga dapat menunjang penurunan Angka Kematian ibu, bayi dan balita.

6. Perbandingan realisasi kinerja dengan standar nasional N

O Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi

2020 Target Nasional 1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Persentase

Posyandu Aktif 58,9% Ada perbedaan indikator renstra

Pusat dan daerah

Indikator ini tidak bisa dibandingkan dengan indikator Nasional, karena menurut Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020 s/d 2025 pada indikator nasional yang adalah prosentase pembinaan yang dilakukan Kabupaten/ kota dalam peningkatan posyandu aktif.

N o

Sasaran

Strategis IKU Realisasi Targe

t 2023 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase Posyandu Aktif

33,30% 30,50% 58,9% 40%

(10)

7. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan

Hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Sumber daya manusia yang belum merata/belum adanya tenaga fungsional penyuluh kesehatan disetiap puskesmas

b. Perbedaan indikator Rencana Strategis antara pusat, provinsi dan kabupaten/ kota.

b. Belum optimalnya peran Lintas Program dan Lintas Sektor dalam pencapaian indikator, khususnya program tambahan posyandu.

c. Kesibukan kader ataupun adanya kader yang enggan menjadi kader lagi/drop out

d. Minimnya kader-kader yang memiliki kapasitas yang cukup untuk membina masyarakat

Upaya pemecahan dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Koordinasi dengan kabupaten/ kota untuk penyesuaian presepsi program khususnya terkait indikator.

b. Peningkatan Kapasitas tenaga penyuluh kesehatan dan kader posyandu.

c. Peningkatan intensitas koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait, melalui Pokjanal Posyandu.

d. Meningkatkan pembinaan dan monitoring ke kader posyandu

B. Persentase Kabupaten/Kota yang memiliki kebijakan Publik Yang Berwawasan Kesehatan dan atau Mendukung PHBS

1. Target dan realisasi kinerja tahun ini

N

O Sasaran Indikator program Target Realisa

si %

(11)

1 Persentase kabupaten/kota yang memiliki kebijakan PHBS sebesar 80%.

Persentase kabupaten/kota yang memiliki kebijakan Publik yang berwawasan kesehatan dan atau mendukung PHBS

90% 100% 111%

Dari Tabel di atas dapat dilihat, bahwa realisasi Persentase Kabupaten/kota yang memiliki Kebijakan Publik Yang Berwawasan Kesehatan dan atau mendukung PHBS sebesar 100% dengan target 90%. Angka ini menunjukkan bahwa realisasi sudah mencapai target.

Realisasi Persentase Kabupaten/kota yang memiliki Kebijakan Publik Yang Berwawasan Kesehatan dan atau mendukung PHBS tahun 2020 disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel Kabupaten/ Kota Yang Memiliki Kebijakan Kesehatan

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa dari 14 (empat belas) Kabupaten/kota di Kalimantan Barat telah memiliki kebijakan publik berwawasan kesehatan/ PHBS. Kebijakan yang paling banyak dimiliki adalah tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang telah dimiliki 10 Kabupaten/ kota.

Memasuki pandemi Covid-19 delapan Kabupaten/ Kota berserta provinsi juga telah menerbitkan peraturan Gubernur tentang protokol kesehatan.

(12)

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya

N O

Sasaran

Strategis Program Indikator Anggaran

Capaian Kinerja

Tingkat Efisien Targ si

et

Realis asi

% 1 Meningkat

nya kualitas Kesehatan lingkungan dan

promosi kesehatan

Program Peningka tan Kesehata n

Lingkung an dan Promosi kesehata n.

Persenta se kabupate n/ kota yang memiliki kebijakan Publik yang berwawa san kesehata n dan atau menduku ng PHBS

0 0 0 Fisik 100%

Efesien

Tidak ada anggaran khusus untuk pencapaian indikator ini, tenaga Promosi Kesehatan Kabupaten/ kota yang paling banyak berperan dalam pencapaian target pembuatan kebijakan ini.

3. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Advokasi merupakan salah satu strategi Promosi Kesehatan, untuk itu kemampuan pengelola program dalam melakukan advokasi sehingga menghasilkan produk produk kebijakan di daerah sangat menentukan dalam pemcapaian indikator ini. Walaupun di tahun 2020, tidak ada anggaran ABPD untuk membiayai kegiatan-kegiatan untuk menunjang pencapaian kinerja ini

(13)

Belum adanya evaluasi kebijakan publik yang dilaksanakan sehingga belum diketahui apakan kebijakan yang telah dibuat telah dimplementasikan dan bermanfaat bagi peningkatan derajat kesehatan.

4. Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir

Untuk tahun 2018 Indikator ini belum menjadi indikator renstra dan mulai diukur indikator kinerjanya tahun 2019. Dan telah tercapai 100% atau 14 kabupaten/

kota.

5. Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah

Dari tabel di atas dapat dilihat, realisasi kinerja tahun 2020 sebesar 100%.

Angka ini telah mencapai target jangka menengah (tahun 2023) dimana N

o

Sasaran

Strategis IKU Realisasi Targe

t 2020 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase kabupaten/ kota yang memiliki kebijakan Publik yang berwawasan kesehatan dan atau mendukung PHBS

Indikato r baru

92,8% 100% 90%

N o

Sasaran

Strategis IKU Realisasi Targe

t 2023 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase Posyandu Aktif

Indikato r baru

92,8% 100% 100%

(14)

targetnya adalah 100%. Untuk itu dimasa mendatang perlu dilakukan evaluasi penerapan dari kebijakan yang telah dibuat.

6. Perbandingan realisasi kinerja dengan standar nasional

NO Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi

2020 Target Nasional 1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Persentase

kabupaten/ kota yang memiliki kebijakan

Publik yang

berwawasan

kesehatan dan atau mendukung PHBS

100% Ada perbedaan indikator renstra Pusat dan daerah

Kementerian Kesehatan telah dalam rentsra tahun 2020 – 2025 telah merubah indikator ini, sehingga tidak ada indikator pusat untuk indikator kinerja ini.

7. Analisis penyebab keberhasilan/ kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan

Tidak ada hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini, dan keberhasilan pencapaian indikator ini karena dukungan antara lain:

a. Pemegang program promosi kesehatan kabupaten/ kota dalam melakukan advokasi sehingga terbit kebijakan kebijakan yang mendukung kesehatan b. Dukungan lintas sektor dalam memproses terbitnya kebijakan kebijakan

kesehatan.

c. Bupati/ Walikota yang menyetujui dan mendukung terbitnya kebijakan ini.

C. Pesan/ Tema melalui media dalam komunikasi dan edukasi bidang kesehatan 1. Target dan Realisasi Tahun 2020

N

O Sasaran Indikator program Target Realisas

i %

3 Pesan/ Tema melalui

media dalam

Pesan/ tema melalui

media dalam

5 tema 5 Tema 100%

(15)

komunikasi informasi dan edukasi bidang kesehatan

komunikasi dan Edukasi Bidang Kesehatan

Dari Tabel di atas dapat dilihat, bahwa telah terealisasi Pesan/tema melalui media dalam komunikasi dan Edukasi Bidang kesehatan sebesar 5 Tema yang utamanya untuk media informasi terkait Covid-19 dengan melalui media elektronika (televisi, dan radio) media luar ruang (billboard, vidiotron,backdrop dan umbul umbul) media cetak (poster, leaflet, lembar balik, kalender dan koran) media sosial (Instagram, facebook, twitter) dan publikasi di koran.

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya

N O

Sasaran Strategi

s

Program Indikator

Anggaran

Capaia n Kinerja

Tingkat Efisien Target Realisasi % si

1 Meningk atnya kualitas Kesehata n

lingkung an dan promosi kesehata n

Peningkatan Kesehatan Lingkungan Program dan Promosi kesehatan.

Pesan/ tema melalui media dalam

komunikasi dan Edukasi Bidang

Kesehatan

400.188.20 0

240.712.2 00

60% Fisik

100% Efesien

Adapun kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian kinerja ini adalah penyediaan promosi dan informasi sadar hidup sehat. Pesan/tema melalui media terealisasi dengan baik walaupun ada sasaran yang masih masih belum terjangkau/ belum dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga kedepan perlu pengembangan dan peningkatan jumlah, jenis dan target media yang ada

(16)

3. Analisis Program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Adapun kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian kinerja ini adalah penyediaan promosi dan informasi sadar hidup sehat. Pesan/tema melalui media terealisasi dengan baik walaupun belum semua program tersosialisasi melalui kegiatan ini. Dengan adanya pandemi Covid-19 semua sumber daya termasuk kegiatan komunikasi, edukasi dan informasi diarahkan untuk menunjang pencegahan Covid-19.

4. Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir

Realisasi tahun 2018 belum ada indikator Pesan/tema melalui media dalam komunikasi dan Edukasi Bidang kesehatan baru tahun 2019 di ukur kinerjanya dan telah mencapai 100%.

5. Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah No Sasaran

Strategis IKU Realisasi Target

2020 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Pesan/ tema melalui media dalam

komunikasi dan Edukasi Bidang Kesehatan

Indikator baru

100% 100% 100%

No Sasaran

Strategis IKU Realisasi Target

2023 2018 2019 2020

1 Meningkatnya kualitas Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Pesan/ tema melalui media dalam

komunikasi dan Edukasi Bidang Kesehatan

Indikator baru

5 tema 5 tema 5 tema

(17)

Setiap tahun ditargetkan 5 tema media baru sampai di tahun 2023. Indikator ini menjadi target baru ditahun 2019 dan telah tercapai setiap tahunnya dari tahun 2019.

6. Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional (jika ada)

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Realisasi 2020

Target Nasional 1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Pesan/ tema melalui media dalam

komunikasi dan Edukasi Bidang Kesehatan

5 Tema Ada perbedaan indikator renstra Pusat

dan daerah

Menjadi indikator nasional di tahun 2014 s.d 2019 dan setelah tahun 2020 ini tidak lagi menjadi indikator nasional.

7. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan

Hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Belum optimalnya distribusi media kesasaran sehingga pesan/tema belum dirasakan merata untuk seluruh lapisan masyarakat

b. Pesan/tema yang disusun belum mengakomodir semua isu kesehatan yang berkembang saat ini. Dan pada tahun ini seluruhnya digunakan untuk media pencegahan Covid-19.

c. Belum ada tenaga khusus yang mempunyai keahlian dan ketrampilan dalam mendesain media.

(18)

Upaya pemecahan dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Pengembangan pesan melalui media sosial

b. Memanfaatkan media patner yang mendukung sosialisasi pesan pesan kesehatan.

c. Menggunakan pihak lain yang mempunyai kemampuan medisain media promosi kesehatan.

D. PROSENTASE DESA SIAGA

1. Target dan Realisasi Tahun 2020 N

O Sasaran Indikator program Target Realisas

i %

1 Persentase desa yang merupakan desa siaga

Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga

80% 64% 80%

Dari Tabel di atas dapat dilihat, bahwa realisasi Persentase Desa Yang Merupakan Desa Siaga belum mencapai target yang diharapkankan. Dimana realisasi (66%) masih berada di bawah dibandingkan dengan target (78%). Masih terdapat kesenjangan sebesar 16%.

Realisasi per kabupaten/kota Desa Yang Merupakan Desa Siaga tahun 2019 disajikan dalam tabel di bawah ini.

(19)

Grafik Desa Siaga Kabupaten/ Kota di Kalimantan Barat Tahun 2020

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa sebaran desa siaga di Kalimantan

Barat cukup bervariasi. Yang paling rendah adalah kabupaten Kapuas Hulu (11%) dan Kabupaten Sintang (18%).

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya

Anggaran yang tersedia di refocusing guna pendanaan kegiatan pencegahan Covid-19, sehingga di tahun 2020 tidak ada anggaran yang digunakan untuk pencapaian desa siaga.

N O

Sasaran Strategi

s

Program Indikator

Anggaran

Capaia n Kinerja

Tingkat Efisiens Targe i

t

Realisa si

% 1 Meningk

atnya kualitas Kesehata n

lingkung an dan promosi kesehata n

Program Peningkatan Kesehatan Lingkungan dan Promosi kesehatan.

Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga

0 0 0% 0% Efisien

(20)

3. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Desa siaga adalah desa yang masyarakatnya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri.

Sampai saat ini di Kalimantan Barat belum ada regulasi/ kebijakan dalam pelaksanaan desa siaga sehingga dalam implementasinya tidak dilakukan evaluasi apakah desa telah memahami dan melaksanakan desa siaga sesuai yang ditentukan.

Dukungan pengembangan program dari pemerintah pusat juga tidak ada lagi, sehingga program ini seperti dibiarkan hilang dengan sendirinya, yang sebetulnya program ini sangat strategis dengan bersinergi dengan desa mandiri yang menjadi visi Gubernur dan kampung KB yang menjadi unggulan BKKBN.

Pemerintah pusat juga kurang peduli dengan indikator ini sejak Kementerian Kesehatan tidak lagi menjadikan indikator ini menjadi indikator nasional.

Dukungan dari Tokoh masyarakat, kader Kesehatan sebagai agen pergerakan pemberdayaan masyarakat di desa serta penguatan-penguatan seperti Kebijakan terkait Desa Siaga yg dikeluarkan oleh pemerintah daerah turut andil dalam kesinambungan desa siaga tersebut

4. Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir

Berdasarkan tabel di atas realisasi Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga selama kurun waktu tiga tahun terakhir cenderung menurun.

N o

Sasaran

Strategis IKU

Realisasi

Target 2020 2018 201

9 2020 1 Meningkatnya

kualitas Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga

64% 62% 64% 80%

(21)

Ini menujukan suatu kondisi yang cukup memprihatinkan. Hal ini tak lepas dari kurang optimalnya peran lintas program dan lintas sektor.

Dilihat dari tabel di atas, tahun 2018 realisasi sebesar 64% menurun menjadi 62% ditahun 2019 dan kembali naik sedikit menjadi 64% ditahun 2020. Ini merupakan menunjukan kesadaran masyarakat akan pentingnya manfaat dari desa siaga masih kurang yang sebetulnya desa siaga ini merupakan sarana yang tepat dalam pencegahan Covid 19 dilevel RT/ RW.

5. Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah

Dari tabel di atas dapat dilihat, realisasi kinerja tahun 2020 sebesar 64%. Angka ini masih berada di bawah target jangka menengah (tahun 2023) dimana targetnya adalah 85%. Ini menunjukkan masih perlu upaya-upaya yang maksimal/ inovasi untuk membentuk Desa Siaga sebagai implementasi mendukung program gubernur Desa Mandiri.

6. Perbandingan realisasi kinerja dengan standar nasional N

o

Sasaran

Strategis IKU

Realisasi Targ et 2023 201

8

201 9

202 0 1 Meningkatnya

kualitas Kesehatan lingkungan dan promosi

kesehatan

Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga

64% 62% 64% 85%

N

O Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi

2020 Target Nasional 1 Meningkatnya kualitas

Kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan

Persentase Desa yang merupakan Desa Siaga

64% Ada perbedaan indikator renstra Pusat dan daerah

(22)

Menjadi indikator Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2014 s/d 2019 dan sejak terbitnya Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020 s/d 2025 indikator ini dihilangkan.

7. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan

Hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Belum adanya regulasi/kebijakan dalam pelaksanaan desa siaga b. Sumber daya manusia yang belum merata/belum adanya tenaga

fungsional penyuluh kesehatan disetiap puskesmas

c. Belum optimalnya peran Lintas Program dan Lintas Sektor dalam pencapaian kinerja.

d. Kementerian Kesehatan tidak lagi menjadikan sebagai indikator nasional.

Upaya pemecahan dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Advokasi untuk penyusunan regulasi/kebijakan pelaksanaan desa siaga b. Peningkatan Kapasitas tenaga penyuluh kesehatan dan kader

c. Peningkatan intensitas koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait.

d. Meningkatkan pembinaan dan monitoring desa siaga e. Mesinkronkan antara indikator pusat dan daerah.

(23)

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

SEKSI KESEHATAN LINGKUNGAN, KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA TAHUN 2020

A. CAPAIAN KINERJA

Berdasarkan Peraturan baru Gubernur Kalimantan Barat Nomor 99 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Barat disebutkan bahwa Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga mempunyai tugas mengumpul dan mengolah bahan perumusan kebijakan teknis di bidang Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya.

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2019 Tentang Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah Provinsi, tugas dan fungsi Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga melaksanakan Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat ; Kegiatan Penyediaan Layanan Kesehatan Untuk UKP Rujukan, UKM dan UKM Rujukan Tingkat DaerahProvinsi : Sub Kegiatan (1) Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Kerja dan Olahraga, (2) Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan.

Seksi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga dalam menjalankan tugas dan fungsinya, memiliki indikator dan target kinerja yang harus dicapai. Indikator kinerja ini ditetapkan dengan mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah yang diatur dalam Peraturan. Penetapan besaran target ini dilakukan melalui proses pembahasan untuk menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya yang dimiliki.

Target kinerja Seksi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga diukur pencapaiannya dalam kurun waktu satu tahun anggaran 2020 terdapat 2 Sasaran yaitu ; Terpenuhinya fasilitasi pengelolaan pelayanan Kesehatan Lingkungan dan Terpenuhinya fasilitasi pengelolaan pelayanan kesehatan kerja dan olahraga. Sebagai ukuran keberhasilan pencapaian sasaran memiliki 8 indikator kinerja dengan target capaian kinerja dan realisasi untuk masing-masing indikator kinerja tahun 2020 sebagai berikut :

(24)

SASARAN STRATEGI

S

INDIKATOR KINERJA Target Realisa si

%

Terpenuhin ya fasilitasi pengelolaan pelayanan Kesehatan Lingkungan

1. Persentase Desa/ Kelurahan

Melaksanakan STBM 70.0% 66.0% 94%

2. Persentase Desa/ Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan

(SBS)/ODF 10.0% 10.2% 102%

3. Persentase sarana air minum yang diawasi/ diperiksa kualitas air

minumnya sesuai standar 55.0% 53.1% 97%

4. Presentase Tempat Fasilitas Umum (TFU) yang memenuhi syarat sesuai

standar 55.0% 26.7% 49%

5. Persentase Fasilitas pelayanan kesehatan yang pengelolaan limbah

medis sesuai peraturan 40.0% 39.8% 100%

6. Presentase tempat pengelolaan pangan (TPP) yang memenuhi syarat

sesuai standa 38.0% 41.1% 108%

Terpenuhin ya fasilitasi pengelolaan pelayanan kesehatan Kesehatan Kerja dan Olah Raga

1. Persentase Puskesmas yang

menyelenggarakan kesehatan kerja dasar

60% 67% 112%

2. Persentase Puskesmas yang melaksanakan kegiatan kesehatan olah raga pada kelompok

masyarakat di wilayah kerjanya

60% 53 % 88%

Capaian Kinerja Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga Tahun 2020 disusun berdasarkan data pengukuran pencapaian indikator kinerja yang diperoleh melalui penghitungan persentase angka realisasi terhadap angka target.

Dari 8 indikator kinerja ada 5 indikator capaiannya sudah ≥ 100 % dan terdapat 3 indikator yang capaian kinerjanya masih di bawah 100 %. Indikator yang belum tercapai antara lain Persentase Desa/ Kelurahan Melaksanakan STBM target sebesar 70% realisasinya 66%.; Presentase Tempat Fasilitas Umum (TFU) yang memenuhi syarat sesuai standar dimana target 55 % realisasi 26,7% ; Persentase

(25)

Sarana Air Minum yang diawasi/diperiksa kualitas air minumnya sesuai standar target sebesar 55% sementara realisasinya 53.1% .

Belum tercapainya target kinerja Desa/ Kelurahan Melaksanakan STBM ; Tempat Fasilitas Umum (TFU) yang memenuhi syarat sesuai standar ; Sarana Air Minum yang diawasi/diperiksa kualitas air minumnya sesuai standar, terkait dengan kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid 19 dimana sebagian besar sumberdaya dialihkan/difokuskan untuk upaya pencegahan penyebaran virus corona, disisi lain aktifitas masyarakat yang bersifat mengumpulkan masa tidak diperbolehkan./dibatasi.

B. CAPAIAN INDIKATOR KINERJA SASARAN

1. Persentase Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM.

1) Target dan Realisasi Tahun 2020 NO Sasaran

Program

Indikator Program Target Realisa si

% 1. Terpenuhinya

Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase

desa/kelurahan yang

melaksanakan STBM 70.0% 66.0% 94%

Persentase Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM, dengan capaian sebesar 66% merupakan angka kumulatif dari tahun 2019 dari target kumulatif sebesar 70 %, masih terdapat kesenjangan 4 %. Secara total capaian 1396 desa/kelurahan dari jumlah total desa yang ada di Kalimantan Barat sebanyak 2130 desa teregistrasi dalam Sistem Monev STBM (http://kesling.kesmas.kemkes.go.id/).

(26)

Capaian kinerja per Kabupaten/kota dapat diuraikan sebagai berikut :

Indikator bahwa suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah melaksanakan STBM adalah:

a) Minimal telah ada intervensi melalui Pemicuan di salah satu dusun dalam desa/ kelurahan dimaksud.

b) Ada masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi STBM baik individu (natural leader) ataupun bentuk kelompok masyarakat.

c) Sebagai respon dari aksi intervensi STBM, kelompok masyarakat menyusun suatu rencana aksi kegiatan dalam rangka mencapai komitmen perubahan perilaku pilar STBM, yang telah disepakati bersama.

Dari grafik di atas dapat diketahui , bahwa Kabupaten dengan realisasinya kurang dari target (70%) adalah Kabupaten ; Sintang, Kubu Raya, Ketapang, Melawi. Rendahnya Cakupan di Kabupaten tersebut diantaranya disebabkan kurangnya komitmen pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota dalam penyelenggaraan kegiatan STBM sehingga kebijakan pemerintah pusat kurang ditindaklanjuti oleh Provinsi dan Kabupaten / Kota, karena dalam Permendagri Nomor 90 tahun 2019 menyebutkan yang berkaitan dengan

SBS SKD BKY KPH STG KKR KTP MPW MLW LDK SGU KKU KOTA PNK

KOTA SKW

KALB AR Jml Desa 193 87 124 282 406 117 262 67 169 156 169 43 29 26 2130 Jml Desa melaks STBM 133 87 111 240 180 74 99 53 96 110 120 40 28 25 1396

% Desa melaks STBM 68,91100,0089,52 85,11 44,33 63,25 37,79 79,10 56,80 70,51 71,01 93,02 96,55 96,15 65,54

Desa ODF Des 2020 82 20 10 24 23 9 7 4 19 1 4 0 11 4 218

% Desa ODF 42,49 22,99 8,06 8,51 5,67 7,69 2,67 5,97 11,24 0,64 2,37 0,00 37,93 15,38 10,2 0

50 100 150 200 250 300

Presentase Desa melaksanakan STBM dan desa ODF Kalbar s/d Desember 2020

(27)

penganggaran lebih difokuskan pada program yang masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).

a. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Sasaran

Strategis Indikator

Anggaran Capai

an Fisik

Tingkat Efesien

si Pagu Realisasi %

Terpenuhinya Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase desa/kelurahan yang

melaksanakan STBM

18,627,00 0

14,683,00

0 78.8

100

Untuk mencapai indikator Desa /kelurahan melaksanakan STBM kegiatan yang dilakukan adalah advokasi lintas progran/lintas sektor STBM yang pembiayaanya dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran APBD bersumber dana BOK. sebesar Rp 18,627,000,- dan realisasi anggaran untuk sebesar Rp. 14,683,000 atau 78.8%. Itu berarti terwujud efisiensi anggaran karena capaian keluaran sebesar 100 %.

b. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Dengan dilaksanakan kegiatan advokasi lintas progran/lintas sektor STBM yang keluarannya adalah Peraturan Gubernur tentang STBM, dimaksudkan adanya Peraturan Gubernur tentang STBM diharapkan akan menghasilkan komitmen Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dalam menyediakan sumber daya untuk melaksanakan salah satu tanggung jawab dan peran pemerintah daerah dalam mendukung penyelenggaraan STBM.

Dalam mendukung penyelenggaraan STBM, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam:

a. Penyusunan peraturan dan kebijakan teknis;

b. Fasilitasi pengembangan teknologi tepat guna;

c. Fasilitasi pengembangan penyelenggaraan STBM;

(28)

d. Pelatihan teknis bagi tenaga pelatih; dan/atau

e. Penyediaan panduan media komunikasi, informasi, dan edukasi.

Sedangkan peran Pemerintah Daerah Provinsi untuk mendukung penyelenggaraan STBM, antara lain :

a. Melakukan koordinasi lintas sektor dan lintas program, jejaring kerja, dan kemitraan;

b. Melaksanakan pelatihan teknis bagi tenaga pelatih kabupaten/kota;

c. Melakukan pemantauan dan evaluasi kabupaten/kota;

d. Menetapkan skala prioritas pembinaan wilayah kab./kota dalam penerapan STBM;

e. Menyediakan materi media komunikasi, informasi, dan edukasi.

2) Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir.

Sasaran

Strategis Indikator Realisasi Target

2020

2018 2019 2020

Terpenuhinya Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase desa/kelurahan yang

melaksanakan STBM

47.5% 51 % 66% 70 %

Realisasi capaian dan target indikator persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM merupakan angka kumulatif dari tahun- tahun sebelumnya Secara total capaian sebesar 66% atau sebanyak 1396 desa/kelurahan dari jumlah total desa yang ada di Kalimantan Barat sebanyak 2130 desa teregistrasi dalam Sistem Monev STBM (http://kesling.kesmas.kemkes.go.id/).

(29)

3) Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah.

Sasaran

Strategis Indikator

Realisasi Target jangka menengah

2023 2018 2019 2020

Terpenuhinya Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase desa/kelurahan yang

melaksanakan STBM

47.5% 51 % 66% 100

Realisasi Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tahun 2020 sebesar 66%. Angka masih di bawah target jangka menengah (tahun 2023) dimana targetnya adalah 100%.

4) Perbadingan realisasi kinerja dengan standar nasional.

Sasaran Strategis Indikator Realisasi 2020

Target Nasional Terpenuhinya

Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase

desa/kelurahan yang

melaksanakan STBM 66%

-

Indikator kinerja desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tidak menjadi indikator kinerja tingkal nasional

5) Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan.

a. Program kesehatan lingkungan tidak masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan padahal dalam Permendagri Nomor 90 tahun 2019 disebutkan bahwa yang berkaitan dengan penganggaran lebih difokuskan pada program yang masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).

(30)

b. Kurangnya komitmen pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota dalam penyelenggaraan Program STBM sehingga kebijakan pemerintah pusat kurang ditindaklanjuti oleh Provinsi dan Kabupaten / Kota.

c. Kualitas petugas kesehatan lingkungan dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait kesehatan lingkungan masih kurang hal ini disebabkan karena pejabat struktural dan Pelaksana serta petugas kesling puskesmas kurang kompeten di bidang Sanitasi/kesehatan lingkungan serta sering terjadi mutasi petugas.

d. Pembiayaan

Petunjuk Teknis Penggunaan DAK non fisik untuk mendukung pelaksanaan program STBM tertulis dengan jelas namun pada ditingkat puskesmas dan kabupaten pengalokasiannya tidak diakomodir

e. Sistem dan Metode

Sistem Monitoring STBM berbasis website dengan dasboard kesling.kesmas.kemkes.go.id dan Smart STBM namun sebagian besar Sanitarian harus sering diingat untuk input data hasil kegiatan di lapangan karena mereka beranggapan tidak pernah diminta membuat laporan. Selain itu, lemahnya jaringan internet dibeberapa wilayah di Kecamatan/ Puskesmas juga menyebabkan salah satu kendala.

Upaya pemecahan masalah dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:

a. Memaksimalkan advokasi kepada pejabat daerah agar diperoleh dukungan terhadap pelaksanaan program STBM, salah satunya dengan menyampaikan Peraturan Gubernus Kalimantan Barat Nomor 146 tahun 2020 tentang STBM.

b. Berupaya menerapkan Strategi penyelenggaraan STBM meliputi :

penciptaan lingkungan yang kondusif;

peningkatan kebutuhan sanitasi; dan

peningkatan penyediaan akses sanitasi.

(31)

2. Persentase Desa/ Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/

Open Defecation Free (ODF).

1) Target dan Realisasi Tahun 2020.

NO Sasaran Strategis Indikator Target Realisas i

% 2. Terpenuhinya

Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase Desa/

Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ODF

10.0% 10.2% 102%

Persentase Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF), dengan capaian sebesar 10.2% merupakan angka kumulatif dari tahun 2019 dari target kumulatif sebesar 10 %, sudah melampaui target 0.2%. Secara total capaian 1396 desa/kelurahan dari jumlah total desa yang ada di Kalimantan Barat sebanyak 218 desa teregistrasi dalam Sistem Monev STBM (http://kesling.kesmas.kemkes.go.id/).

Capaian kinerja per Kabupaten/kota dapat diuraikan sebagai berikut :

SBS SKD BKY KPH STG KKR KTP MPW MLW LDK SGU KKU KOTA PNK

KOTA SKW

KALB AR Jml Desa 193 87 124 282 406 117 262 67 169 156 169 43 29 26 2130 Jml Desa melaks STBM 133 87 111 240 180 74 99 53 96 110 120 40 28 25 1396

% Desa melaks STBM 68,91100,0089,52 85,11 44,33 63,25 37,79 79,10 56,80 70,51 71,01 93,02 96,55 96,15 65,54

Desa ODF Des 2020 82 20 10 24 23 9 7 4 19 1 4 0 11 4 218

% Desa ODF 42,49 22,99 8,06 8,51 5,67 7,69 2,67 5,97 11,24 0,64 2,37 0,00 37,93 15,38 10,2 0

50 100 150 200 250 300

Presentase Desa melaksanakan STBM dan desa ODF Kalbar s/d Desember 2020

(32)

Indikator bahwa suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) adalah:

a) Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah).

b) Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.

c) Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.

d) Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100 persen KK mempunyai jamban sehat.

Dari grafik di atas dapat diketahui, bahwa Kabupaten/Kota dengan realisasinya melebihi dari target (10%) adalah Kabupaten ; Sambas, Sekadau, Melawi, Kota Pontianak dan Kota Singkawang. Ada 9 atau 64,3 % Kabupaten yang cakupannya kurang dari target (10%). Rendah cakupan desa ODF di Kabupaten tersebut diantaranya disebabkan kurangnya komitmen pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota dalam penyelenggaraan kegiatan STBM sehingga kebijakan pemerintah pusat kurang ditindaklanjuti oleh Provinsi dan Kabupaten / Kota, karena dalam Permendagri Nomor 90 tahun 2019 menyebutkan yang berkaitan dengan penganggaran lebih difokuskan pada program yang masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).

a. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Sasaran

Strategis Indikator

Anggaran Capai

an Fisik

Tingkat Efesien

si Pagu Realisasi %

Terpenuhinya Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Persentase Desa/Kelurah an Stop Buang Air Besar sembaranga n (SBS)/

Open Defecation Free (ODF)

28,850,00 0

28,087,00

0 97.36

85.7%

(33)

Untuk mencapai indikator Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) kegiatan yang dilakukan adalah Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes yang pembiayaanya dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran APBD bersumber dana DAU. sebesar Rp 28,850,000,- dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 28,087,000 atau 97.36%. Dalam penggunaan anggaran ini tidak terwujud efisiensi anggaran karena capaian keluaran sebesar 85.7 %..

b. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja

Dengan dilaksanakan kegiatan Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes yang keluarannya adalah Jumlah Desa yang dilakukan penilaian pelaksanaan LBS, dimaksudkan memastikan suatu komunitas masyarakat di desa telah Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) dengan cara memastikan kebenaran data yang tercantum pada dokumen laporan pelaksanaan kegiatan LBS dan melakukan kroscek data pendukung yang terdapat di sekretariat Tim Penggerak PKK Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta data yang dimiliki OPD pendukung serta melakukan observasi lapangan langsung di rumah – rumah pendudukan dengan metode random sampling.

Kegiatan Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes diharapkan juga akan menghasilkan komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menyediakan sumber daya untuk melaksanakan salah satu tanggung jawab dan peran pemerintah daerah dalam mendukung penyelenggaraan program STBM.

Dalam mendukung penyelenggaraan STBM, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota bertanggungjawab.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai kesimpulan, keluarga berisiko tinggi telah didapati mengalami proses keluarga dan kesejahteraan anak yang lebih lemah berbanding keluarga yang mempunyai tahap risiko

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah opini audit modifikasi going concern sebagai variabel dependen dan variabel independennya adalah ukuran kantor akuntan

Youtuber Yang pertama kita harus membuat akun youtube, kemudian kita buat konten video, tahap selanjutnya kita ajukan akun dan konten kita tersebut kepada

Menimbang, bahwa Permintaan Banding dari Terdakwa maupun Penuntut Umum kemudian Permintaan Pencabutan Banding dari Terdakwa maupun Penuntut Umum tersebut oleh Ketua

Hasil uji hipotesis didapatkan bahwa analisis sikap kepercayaan konsumen terhadap multiatribut produk buah apel menunjukkan bahwa buah apel impor memperoleh total skor

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efek penyuluhan kesehatan menggunakan media cetak dengan media audio visual terhadap peningkatan pengetahuan

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan, penulis menemukan bahwa proses pembentukan karakter anak usia dini, diawali dari keluarga, kemudian dilanjutkan dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak, (2) Leverage berpengaruh signifikan terhadap penghindaran