Pro Kalbar
CAPAIAN KINERJA CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN 1)
Cakupan kunjungan neonatal pertama atau yang dikenal dengan sebutan KN 1, merupakan indikator yang menggambarkan upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko kematian pada periode neonatal yaitu pada 6 – 48 jam setelah lahir, dengan cara mendeteksi sedini mungkin permasalahan yang mungkin dihadapi bayi baru
lahir, sekaligus memastikan pelayanan yang seharusnya didapatkan oleh bayi baru lahir diantaranya terdiri dari konseling perawatan bayi baru lahir, ASI Ekslusif, pemberian Vit.
K1 injeksi (bila belum diberikan) dan HBO (jika belum diberikan). Kunjungan ini dilakukan dengan pendekatan MTBM (manajemen terpadu bayi muda).
Perhitungan cakupan ini dilakukan dengan cara membandingkan bayi baru lahir yang mendapatkan kunjungan neonatal pertama dengan jumlah seluruh kelahiran hidup di wilayahnya yang kemudian dikonversi dalam bentuk persentase.
1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini
NO Sasaran Indikator Program Target Realisasi % 1 Meningkatnya
Status Gizi, Kesehatan Ibu dan anak
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama KN 1
89 86,76 97,48
Sumber : data rutin program Kesehatan keluarga Kab/Kota
Berdasarkan tabel diatas tahun 2020 realisasi pencapaian indikator KN 1 Kalimantan Barat masih belum mencapai target yang telah ditetapkan yaitu 86,76
%. Capaian kinerja indikator ini sebesar 97.48 % dari target 89 %.
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama (KN 1) per kabupaten/kota disajikan dalam grafik dibawah ini :
Berdasarkan grafik di atas terdapat 4 Kabupaten/Kota yang telah mencapai target yaitu Kabupaten Mempawah (98,76%), Kota Pontianak (96.79%), Kabupaten Sambas (93,34 %) dan Kabupaten Kubu Raya (93,11%). Sementara Kabupaten capaian terendah adalah Kabupaten Melawi (75,79%).
a. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya
NO
Sasara n Strate
gis
Progra
m Indikator
Anggaran
Capaia n Kinerja
Tingkat Efisiens
i Target Realisasi %
Cakupan kunjungan
Neonatal pertama KN
1
- - - - -
b. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja
Kunjungan Neonatal pertama di daerah terutama dilakukan oleh Bidan, disamping perawat, dokter umum dan dokter Spesialis Anak sehingga pemerintah memiliki peran yang sangat besar dalam menjamin setiap bayi baru lahir mendapatkan pelayanan yang berkualitas. Faktor – faktor yang dapat mendukung pencapaian indikator ini adalah terselenggaranya kelas ibu hamil dimana di dalam kegiatan tersebut membahas informasi seputar kehamilan, persalinan dan perawatan bayi baru lahir, Pemanfaatan Buku KIA oleh ibu dan keluarga sehingga mendapatkan informasi pentingnya pemeriksaan bayi baru lahir, tersedianya panduan pelayanan kesehatan neonatal esensial sebagai dasar petugas dalam memberikan pelayanan neonatal yang berkualitas, upaya peningkatan kuantitas dan kualitas pelaksanaan KN 1 diintegrasikan dan menjadi satu kesatuan dengan kegiatan upaya mendorong persalinan di fasilitas kesehatan sehingga bayi yang baru dilahirkan di fasilitas kesehatan juga mendapatkan pelayanan sesuai standar, adanya kegiatan peningkatan kapasitas dan pelaksanaan skrining hipotiroid kongenital juga merupakan salah satu yang dapat meningkatkan keberhasilan pencapaian indikator ini.
Adapun Faktor – faktor yang menjadi penghalang/ penghambat dalam pencapaian kinerja adalah masih terkendalanya pelayanan neonatal tersebut.
Diantaranya belum semua pertolongan persalinan ditolong oleh nakes, masalah jumlah distribusi dan kualitas SDM kesehatan yang masih belum merata sehingga belum semua nakes dapat memberikan pelayanan kunjungan neonatal sesuai standar, pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan yang belum optimal serta sistem pencatatan dan pelaporan yang belum sesuai, belum semua daerah menggunakan formulir MTBM pada Kunjungan Neonatal.
2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
NO INDIKATOR TUJUAN/SASARAN
2019 2020
TARGET REALISASI % TARGET REALISASI % Meningkatnya status Gizi, kesehatan ibu dan anak
1
Persentase
Kunjungan Neonatal
Pertama (KN 1) 88 87,95 99,94 89 86,76 97,48
Berdasarkan tabel diatas jika dilihat dari capaian tahun 2020 masih belum mencapai target yang diinginkan, terjadi penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2019
Trend pencapaian Cakupan Kunjungan KN 1 3 (tiga) tahun terakhir bisa dilihat dari grafik berikut ini :
Sumber : data rutin kabupaten/Kota
Berdasarkan grafik diatas, cakupan kunjungan neonatal pertama (KN 1) mengalami penurunan di tahun 2018 (88.96%) tahun 2019 (87.95%), dan tahun 2020 (86,76%)
3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi
No Sasaran
Strategis IKU Realisasi Target
2020 2018 2019 2020
1 Cakupan
Kunjungan Neonatal Pertama (KN 1)
88,96 87,95 86,76 89
Jika dilihat dari tampilan tabel diatas terjadi penurunan cakupan. Masih terjadi kesenjangan dari target yang diharapkan pada tahun 2020 sebesar 89 %, sedangkan capaian tahun 2020 mencapai 86,76 %. Belum semua persalinan ditolong di fasilitas kesehatan. Masih terdapat persalinan di rumah dan ditolong oleh tenaga non nakes. Diperlukan penguatan dari berbagai stakeholder untuk memperkuat program kemitraan bidan dan dukun untuk mendukung semua persalinan di fasilitas kesehatan untuk selanjutnya dapat ditingkatkan kunjungan neonatal oleh tenaga kesehatan.
4. Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional (jika ada) N
O
Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Realisasi 2020
Target Nasional Cakupan
kunjungan Neonatal
Pertama (KN 1)
86,56 -
5. penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan
Hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:
a. Persebaran jumlah tenaga kesehatan yang tidak merata di kabupaten / Kota b. Terbatasnya akses (daya jangkau, waktu tempuh) atas pelayanan kesehatan
terutama untuk daerah terpencil.
c. Budaya di masyarakat masih terdapat persalinan di rumah dan ditolong dukun, belum semua persalinan ditolong tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan .
d. Pemberdayaan masyarakat belum optimal, masih perlu peningkatan kepedulian dan dukungan keluarga terhadap persalinan
e. Komitmen dan dukungan pemerintah yang masih belum optimal dalam pencapaian SPM
f. Disparitas capaian antar Kabupaten/Kota
Upaya pemecahan dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:
a. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir b. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan Buku KIA,
kelas Ibu , P4K dan pendampingan ibu hamil
c. Membangun komitmen melalui jejaring dari berbagai tingkatan mulai dari kelompok terkecil di masyarakat hingga level pemangku kebijakan untuk mendukung semua persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.