SEKSI KESEHATAN LINGKUNGAN, KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA TAHUN 2020
B. CAPAIAN INDIKATOR KINERJA SASARAN
1) Target dan Realisasi Tahun 2020
NO Sasaran Strategis Indikator Target Realisas i
% 2. Terpenuhinya
Fasilitasi Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ODF
10.0% 10.2% 102%
Persentase Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF), dengan capaian sebesar 10.2% merupakan angka kumulatif dari tahun 2019 dari target kumulatif sebesar 10 %, sudah melampaui target 0.2%. Secara total capaian 1396 desa/kelurahan dari jumlah total desa yang ada di Kalimantan Barat sebanyak 218 desa teregistrasi dalam Sistem Monev STBM (http://kesling.kesmas.kemkes.go.id/).
Capaian kinerja per Kabupaten/kota dapat diuraikan sebagai berikut :
SBS SKD BKY KPH STG KKR KTP MPW MLW LDK SGU KKU KOTA PNK
% Desa melaks STBM 68,91100,0089,52 85,11 44,33 63,25 37,79 79,10 56,80 70,51 71,01 93,02 96,55 96,15 65,54
Desa ODF Des 2020 82 20 10 24 23 9 7 4 19 1 4 0 11 4 218
% Desa ODF 42,49 22,99 8,06 8,51 5,67 7,69 2,67 5,97 11,24 0,64 2,37 0,00 37,93 15,38 10,2 0
Presentase Desa melaksanakan STBM dan desa ODF Kalbar s/d Desember 2020
Indikator bahwa suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) adalah:
a) Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah).
b) Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
c) Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.
d) Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100 persen KK mempunyai jamban sehat.
Dari grafik di atas dapat diketahui, bahwa Kabupaten/Kota dengan realisasinya melebihi dari target (10%) adalah Kabupaten ; Sambas, Sekadau, Melawi, Kota Pontianak dan Kota Singkawang. Ada 9 atau 64,3 % Kabupaten yang cakupannya kurang dari target (10%). Rendah cakupan desa ODF di Kabupaten tersebut diantaranya disebabkan kurangnya komitmen pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota dalam penyelenggaraan kegiatan STBM sehingga kebijakan pemerintah pusat kurang ditindaklanjuti oleh Provinsi dan Kabupaten / Kota, karena dalam Permendagri Nomor 90 tahun 2019 menyebutkan yang berkaitan dengan penganggaran lebih difokuskan pada program yang masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).
a. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya Sasaran
Strategis Indikator
Anggaran Capai
Untuk mencapai indikator Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) kegiatan yang dilakukan adalah Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes yang pembiayaanya dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran APBD bersumber dana DAU. sebesar Rp 28,850,000,- dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 28,087,000 atau 97.36%. Dalam penggunaan anggaran ini tidak terwujud efisiensi anggaran karena capaian keluaran sebesar 85.7 %..
b. Analisis Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja
Dengan dilaksanakan kegiatan Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes yang keluarannya adalah Jumlah Desa yang dilakukan penilaian pelaksanaan LBS, dimaksudkan memastikan suatu komunitas masyarakat di desa telah Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) dengan cara memastikan kebenaran data yang tercantum pada dokumen laporan pelaksanaan kegiatan LBS dan melakukan kroscek data pendukung yang terdapat di sekretariat Tim Penggerak PKK Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta data yang dimiliki OPD pendukung serta melakukan observasi lapangan langsung di rumah – rumah pendudukan dengan metode random sampling.
Kegiatan Penilaian Desa Lingkungan Bersih dan Sehat dan PKK KB-Kes diharapkan juga akan menghasilkan komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menyediakan sumber daya untuk melaksanakan salah satu tanggung jawab dan peran pemerintah daerah dalam mendukung penyelenggaraan program STBM.
Dalam mendukung penyelenggaraan STBM, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota bertanggungjawab.
2) Perbandingan realisasi kinerja serta capaian selama tiga tahun terakhir.
Sasaran
Strategis Indikator Realisasi Target
2020 Stop Buang Air Besar
Realisasi capaian dan target indikator Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/ Open Defecation Free (ODF) merupakan angka kumulatif dari tahun- tahun sebelumnya Secara total capaian sebesar 10,2% atau sebanyak 218 desa/kelurahan dari jumlah total desa yang ada di Kalimantan Barat sebanyak 2130 desa teregistrasi dalam Sistem E- Monev STBM (http://kesling.kesmas.kemkes.go.id).
3) Perbandingan realisasi kinerja dengan target jangka menengah.
Sasaran
Strategis Indikator
Realisasi Target
jangka Stop Buang Air Besar
Realisasi Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tahun 2020 sebesar 10,2%. Angka ini masih di bawah target jangka menengah (tahun 2023) dimana targetnya adalah 20%.
4) Perbadingan realisasi kinerja dengan standar nasional.
Sasaran Strategis Indikator Realisasi 2020
Target Nasional Terpenuhinya
Fasilitasi Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Lingkungan
Persentase
Desa/Kelurahan Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)/
Open Defecation Free (ODF)
10,2% 40%
Realisasi Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tahun 2020 sebesar 10,2%. Angka ini masih jauh di bawah target Nasional tahun 2020 sebesar 20%.
5) Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan.
a. Program kesehatan lingkungan tidak masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan padahal dalam Permendagri Nomor 90 tahun 2019 disebutkan bahwa yang berkaitan dengan penganggaran lebih difokuskan pada program yang masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).
b. Kurangnya komitmen pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota dalam penyelenggaraan Program STBM sehingga kebijakan pemerintah pusat kurang ditindaklanjuti oleh Provinsi dan Kabupaten / Kota.
c. Kualitas petugas kesehatan lingkungan dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait kesehatan lingkungan masih kurang hal ini disebabkan karena pejabat struktural dan Pelaksana serta petugas kesling puskesmas kurang kompeten di bidang Sanitasi/kesehatan lingkungan serta sering terjadi mutasi petugas.
d. Pembiayaan
Petunjuk Teknis Penggunaan DAK non fisik untuk mendukung
pelaksanaan program STBM tertulis dengan jelas namun pada ditingkat puskesmas dan kabupaten pengalokasiannya tidak diakomodir
e. Sistem dan Metode
Sistem Monitoring STBM berbasis website dengan dasboard kesling.kesmas.kemkes.go.id dan Smart STBM namun sebagian besar Sanitarian harus sering diingat untuk input data hasil kegiatan di lapangan karena mereka beranggapan tidak pernah diminta membuat laporan.
Selain itu, lemahnya jaringan internet dibeberapa wilayah di Kecamatan/
Puskesmas juga menyebabkan salah satu kendala.
Upaya pemecahan masalah dalam mengantisipasi hambatan dan kendala dalam pencapaian sasaran ini antara lain:
a. Memaksimalkan advokasi kepada pejabat daerah agar diperoleh dukungan terhadap pelaksanaan program STBM, salah satunya dengan menyampaikan Peraturan Gubernus Kalimantan Barat Nomor 146 tahun 2020 tentang STBM.
b. Berupaya menerapkan Strategi penyelenggaraan STBM meliputi : a) Penciptaan lingkungan yang kondusif;
- Komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan sumber daya untuk melaksanakan STBM yang dituangkan dalam penganggaran kegiatan STBM dalam APBD;
- STBM termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD);
b) Peningkatan kebutuhan sanitasi;
- Mengembangkan mekanisme penghargaan terhadap sasaran STBM berdasarkan Pergub Nomor 146 tahun 2020
c) Peningkatan penyediaan akses sanitasi.
- Mengembangkan opsi teknologi sarana sanitasi yang sesuai kebutuhan dan terjangkau
- Menciptakan dan memperkuat jejaring pasar sanitasi.
3. Persentase sarana air minum yang diawasi/ diperiksa kualitas air