• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

127

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

Hasil analisa mengenai pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel dengan pendekatan City Marketing didapatkan melalui penggunaan aspek dari Cty Marketing, yaitu image marketing, attraction marketing, infrastructure marketing, dan people marketing. Dari hasil analisa Internal-Eksteral, maka didapatkan arah dan pola pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel berada pada kategori growth.

Dalam penelitian ini, pengukuran aspek-aspek City Marketing dilakukan dengan survey primer (penyebaran kuesioner). Berdasarkan survey primer tersebut, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Pada analisa tingkat pelayanan pada masing-masing aspek City Marketing, pada faktor internal didapatkan beberapa variabel yang mempunyai nilai kurang dari nilai rata-rata aspek secara umum. Hal ini menjadi indikasi bahwa tingkat pelayanan yang diberikan oleh variabel tersebut kurang optimal sehingga menjadi kelemahan dalam pengembangan kawasan. Sedangkan untuk variabel yang nilainya berada di atas rata-rata, dikategorikan sebagai kekuatan. Sehingga didapatkan kekuatan dan kelemahan kawasan wisata Telaga Ngebel sebagai berikut :

Tabel 5.1

Hasil Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan KEKUATAN

1 Fungsi kawasan Telaga Ngebel sebagai kawasan wisata telaga alam sudah sesuai dengan RIPPDA Jatim, sehingga mendukung adanya pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel

2 Kebijakan tata ruang mendukung adanya pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo, khususnya tentang pengembangan kawasan wisata Telaga Alam

3 Objek daya tarik wisata pendukung di Telaga Ngebel cukup diminati oleh pengunjung

(2)

4 Kondisi lingkungan alami di kawasan Telaga Ngebel masih terjaga dari kerusakan, sehingga Telaga Ngebel mempunyai modal untuk pengembangan wisata alam

5 Tingkat pelayanan jaringan listrik yang ada di kawasan wisata telaga Ngebel memang masih kurang baik, tetapi distribusi dan persebaran pelayanan memiliki potensi yang mendukung untuk pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel

6 Tingkat pelayanan jaringan air bersih di kawasan wisata Telaga Ngebel sudah dapat memenuhi permintaan dari masyarakat. Hal ini tentunya menjadi modal penting dalam pengembangan kawasan wisata

7 Fasilitas persampahan di kawasan wisata Telaga Ngebel sudah cukup terpenuhi. Sistem persampahan dikelola secara swadaya dengan pengumpulan awal dari RT ke TPS terdekat, setelah itu dikirim ke TPA.

8 Masyarakat Telaga Ngebel memiliki keterbukaan terhadap wisatawan yang cukup baik. Mereka bersifat welcome dan ramah atas kedatangan pengunjung. Tentunya hal ini menjadi suatu potensi yang dapat menarik minat wisatawan, dan tentunya mendukung dalam pengembangan kawasan wisata

KELEMAHAN

1 Kesan masyarakat Telaga Ngebel terkait tingkat kenyamanan terhadap kegiatan wisata masih kurang baik

2 Kegiatan-kegiatan budaya yang menjadi daya tarik di kawasan Telaga Ngebel masih kurang bervariasi dan belum terkonsep dengan baik, sehingga kurang bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung

3 Tingkat pemenuhan jaringan sanitasi dan drainase tergolong kurang baik dan kurang perawatan. Hal ini terlihat dari banyaknya saluran-saluran yang macet dan rusak. Sehingga banyak genangan air yang tercecer jika hujan turun dan menyebabkan jalanan licin

4 Tingkat jaringan perangkutan berupa angkutan umum dan angkutan barang masih belum bisa melayani kebutuhan penduduk ataupun wisatawan. Baik masyarakat Ngebel sendiri ataupun wisatawan masih lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi

(3)

Lanjutan Tabel 5.1

5 Tingkat aksesibilitas terutama akses menuju kawasan masih kurang baik. hal ini terlihat dari jalan menuju kawasan yang sempit dan kurang memberikan pengamanan. Dan juga jalan lingkar yang mengelilingi danau masih belum memiliki batas pengaman dengan jurang yang mengarah ke danau. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi para wisatawan

6 Fasilitas-fasilitas wisata di Telaga Ngebel masih belum cukup memadai. Dimulai dari toilet umum yang ada di dekat pendopo masih kurang terawat dan kurang terjaga kebersihannya. Fasilitas akomodasi pun masih minim, dan juga fasilitas wisata yang sudah tersedia masih kurang dikelola dengan baik

7 Hubungan kerjasama antar masyarakat di kawasan wisata Telaga Ngebel cukup kuat, hanya saja dalam hal kerjasama terhadap stakeholder yang lain, misalnya pihak pemerintah dinilai masih kurang.

8 Masyarakat kawasan Telaga Ngebel beradaptasi cukup baik dengan perubahan yang ada. Akan tetapi untuk perubahan yang terjadi akibat pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel ini masyarakat merasa belum siap.

Sumber : Hasil Analisa, 2012

2. Pada analisa tingkat pelayanan pada masing-masing aspek City Marketing, pada faktor eksternal didapatkan beberapa variabel yang mempunyai nilai kurang dari nilai rata-rata aspek secara umum. Hal ini menjadi indikasi bahwa tingkat pelayanan yang diberikan oleh variabel tersebut kurang optimal sehingga menjadi tantangan dalam pengembangan kawasan. Sedangkan untuk variabel yang nilainya berada di atas rata-rata, dikategorikan sebagai peluang. Sehingga didapatkan peluang dan tantangan kawasan wisata Telaga Ngebel sebagai berikut :

(4)

Hasil Identifikasi Peluang dan Tantangan PELUANG

1 Wisatawan yang berkunjung ke Telaga Ngebel merasakan tingkat Travel Experience yang tinggi, terutama untuk wisata alamnya. Sehingga kesan wisatawan terhadap telaga Ngebel ini cukup baik, salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan wisata

2 Minat wisatawan terhadap Telaga Ngebel terletak pada kebutuhan akan wisata alam yang masih benar-benar alami.

Untuk kasus tersebut, Telaga Ngebel menjadi salah satu kawasan wisata yang dibutuhkan wisatawan

3 Akses finansial daerah berupa alokasi dana APBD untuk kawasan wisata Telaga Ngebel cukup tinggi dan mudah. Hal ini sesuai dengan misi pemerintah Kabupaten Ponorogo untuk lebih mengembangkan potensi wisata yang ada disana

4 Masyarakat Telaga Ngebel ikut dilibatkan langsung dalam proses wisata yang ada. Terlihat dari pengoperasian salah satu fasilitas wisata berupa bus air yang dikelola oleh masyarakat Telaga Ngebel. Hal ini merupakan sebuah peluang dari dukungan kebijakan partisipatif masyarakat

5 Dukungan kebijakan dalam pengembangan utilitas yang ada sudah cukup baik. Kebijakan dalam pengembangan jaringan listrik (peningkatan daya) dan juga jaringan air bersih (pemerataan pelayanan) sudah dilakukan oleh pihak pemerintah.

Akan tetapi kinerjanya masih belum maksimal, terutama dalam hal operasional.

TANTANGAN

1 Regulasi mengenai aset-aset wisata di Telaga Ngebel juga merupakan tantangan yang harus dihadapi. Saat ini masih minim sekali peraturan-peraturan pemerintah yang bisa melindungi aset-aset wisata yang ada di Telaga Ngebel.

Misalnya mengenai aturan penebangan hutan di area Ngebel yang sedikit banyak mulai mengancam kelestarian lingkungan alam

2 Dukungan kebijakan tentang transportasi juga merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi. Hal ini terlihat dari akses jalan menuju kawasan Telaga Ngebel yang masih cukup sulit, angkutan umum yang kurang memenuhi kebutuhan

(5)

Lanjutan Tabel 5.2

3 Dukungan kebijakan pengembangan masyarakat belum bisa memberikan dampak yang baik di Telaga Ngebel. Pelatihan dan juga penyuluhan yang sudah banyak dilakukan oleh instansi pemerintah baik pemerintah desa maupun Perhutani masih belum sukses. Salah satunya terlihat dari cara masyarakat beternak ikan nila yang masih menggunakan pakan kimia daripada pakan organik sehingga mengancam kualitas air Telaga Ngebel

Sumber : Hasil Analisa, 2012

3. Kemudian dari hasil identifikasi kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan tantangan (Threat) dilanjutkan dengan analisa SWOT. Pada tahapan ini dilakukan beberapa tahap, yaitu pembobotan dan rating untuk masing-masing faktor, analisa posisi kawasan, analisa IE, analisa matrik space, lalu analisa Grand Strategy. Berdasarkan analisa tersebut didapatkan strategi-strategi alternatif berupa:

a. Strategi image marketing dilakukan dengan menjaga fungsi kawasan wisata Telaga Ngebel sebagai kawasan wisata telaga alam yang disesuaikan dengan minat wisatawan terhadap daya tarik lingkungan yang masih alami dan fokus terhadap pengenalan kawasan terhadap masyarakat luas. Definisi dari strategi ini adalah mempertahankan dan meningkatkan kealamian lingkungan yang ada di wisata Ngebel serta mensinergikan kawasan-kawasan alam yang mempunyai potensi wisata di kawasan wisata Telaga Ngebel. Hal ini untuk menunjukkan kepada para wisatawan bahwa Telaga Ngebel mempunyai fungsi dan kesan yang sesuai, yaitu sebagai kawasan wisata telaga alam. Ditambah dengan moto “Telaga Ngebel, the special one of natural tourism” sehingga memberikan citra yang kuat kepada masyarakat luas. Implementasi strategi ini ditujukan kepada pengelola dan masyarakat Telaga Ngebel sebagai penanggung jawab dalam hal

(6)

pencitraan kawasan dan wisatawan sebagai pendukungnya.

b. Strategi attraction marketing dilakukan dengan memanfaatkan keterbukaan masyarakat terhadap wisatawan sebagai dasar dalam pengelolaan daya tarik lingkungan wisata alam dan pendukungnya, hal ini sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat Ngebel dalam pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel.

Definisi dari strategi ini adalah memberikan peluang kepada masyarakat untuk mengelola aset wisata di Telaga Ngebel tetapi tetap bekerjasama dengan pemerintah dan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan wisatawan. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan kuasa pengelolaan daya tarik seperti perawatan dan operasional danau telaga Ngebel, perlindungan terhadap kawasan hutan lindung yang mengelilingi Telaga Ngebel, view pemandangan area pegunungan, dan daya tarik lainnya kepada masyarakat. Sehingga daya tarik yang ditawarkan oleh kawasan adalah pada lingkungan alami yang ada sebagai kawasan wisata telaga alam dengan pemberian insentif pada operasionalisasi dan pengembangan fasilitas- fasilitas pendukung. Strategi ini ditujukan bagi para masyarakat Telaga Ngebel atau para pengelola wisata Telaga Ngebel.

c. Strategi infrastructure marketing dengan mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan jaringan listrik, air bersih, dan fasilitas persampahan dengan kemudahan akses finansial daerah dan kebijakan utilitas yang mendukung. Definisi dari strategi ini adalah memanfaatkan akses dana dari pemerintah sebagai sarana pengembangan jaringan listrik (penambahan daya dari 900 watt ke 1300 watt) sampai dengan 90% dari total kepala keluarga pengguna. Juga dengan melakukan pemerataan pelayanan jaringan air bersih hingga melayani 90% kawasan (eksisting 60%).

Selain itu juga menambah fasilitas persampahan di

(7)

beberapa titik tertentu di sekitar area wisata (titik dekat danau telaga, area bermain anak, dekat pendopo, di jalan lingkar telaga, dan di dekat mushola). Dengan demikian, diharapkan strategi ini bisa meningkatkan nilai strategis dalam penyediaan utilitas dan juga fasilitas kawasan. Strategi ini ditujukan kepada PLN selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap infrastruktur listrik dan PDAM selaku penanggungjawab infrastruktur air bersih, tetapi tetap didukung oleh pemerintah daerah dalam pengembangan fasilitas wisatanya.

d. Strategi people marketing dilakukan dengan mengoptimalkan keterbukaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan wisata sehingga dapat meningkatkan travel experience wisatawan yang berkunjung ke Telaga Ngebel. Definisi dari strategi ini antara lain melibatkan partisipasi aktif masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan wisata di Telaga Ngebel, kekuatan hubungan kerjasama masyarakat dan keterbukaan yang tinggi terhadap wisatawan merupakan bentuk adaptasi terhadap kesiapan pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel. Hal-hal seperti ini dapat terealisasikan dengan menjadikan masyarakat sebagai tour guide, pelatihan masyarakat untuk pengelolaan sumber daya wisata, pengelolaan restoran dan penginapan dari swadaya masyarakat, dan sebagainya.

Sehingga travel experience dari wisatawan bisa lebih meningkat. Strategi ini ditujukan kepada masyarakat kawasan wisata Telaga Ngebel beserta pengelola kawasan wisata.

(8)

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka didapatkan saran-saran sebagai berikut:

1. Mengembangkan masyarakat melalui partisipasi aktif terhadap kegiatan-kegiatan wisata di Telaga Ngebel, kekuatan hubungan kerjasama masyarakat dan keterbukaan yang tinggi terhadap wisatawan merupakan bentuk adaptasi terhadap kesiapan pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel.

2. Pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel yang lebih baik harus melibatkan pihak swasta dalam hal investasi, selain keterlibatan pemerintah dan masyarakat lokal.

5.3 Rekomendasi

Ada beberapa rekomendasi yang bisa diberikan berdasarkan hasil dari penelitian ini, diantaranya :

1. Studi tentang pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel yang meliputi keseluruhan aspek yang perlu dikembangkan, jadi tidak hanya dari aspek City Marketing. Misalnya dengan mempertimbangkan aspek ekonomi wilayah dan juga aspek lingkungan.

2. Studi mengenai pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel yang meliputi peran dan partisipasi masyarakat.

Sehingga dalam kegiatan-kegiatan wisata yang dilakukan, bisa dengan pendayagunaan sumber daya masyarakat yang lebih lengkap bahakan meliputi komunitas, partisipasi publik, dan sebagainya.

3. Studi mengenai dampak negatif yang diakibatkan oleh pengembangan kawasan wisata Telaga Ngebel dengan pendekatan City Marketing.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan karena hasil dari keadilan prosedural akan membuat kinerja karyawan berubah, jika prosedur kompensasi dalam suatu perusahaan dirasakan baik

Kegelisahan pengarang dengan aspek spiritualitas yang pada akhirnya berhulu kepada Yesus Kristus menunjukkan bahwa tokoh ini adalah tokoh yang penting dan memiliki tempat

Matrix keadaan adalah identik dengan sistim fisik sebenarnya yang bisa digambarkan dibawah ini sehingga dari hasil matrik ini bisa didapat informasi-informasi lebih lanjut yang

dalam dunia kerja setelah mereka tamat, maka pihak sekolah SMK Muhammadiyah 2 Rawabening OKU Timur harus memiliki langkah awal untuk mempersiapkannya. Salah satunya

Serta Bank Indonesia harus lebih memperhatikan standar penilaian kesehatan bank untuk BPR secara khusus, sehingga aplikasi perhitungan untuk BPR dapat diperhitungkan tersendiri

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk; (1) meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis drama dan (2) meningkatkan keterampilan menulis drama dengan metode

Sebagian besar konstruksi mesin dalam aplikasinya selalu menerima beban yang bervariasi, sehingga diperlukan suatu bahan yang baik dan kuat, untuk mendapatkan bahan

Bisnis biasanya mengalami tingkat kegagalan-ikut 10% karena beberapa pengguna tidak ingin menyelesaikan transaksi. Ini benar-benar bisa diabaikan, karena dengan