• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 LATAR BELAKANG. Romawi yaitu dengan membuat penampung air yang mengalir di dalam dinding

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 LATAR BELAKANG. Romawi yaitu dengan membuat penampung air yang mengalir di dalam dinding"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB 1

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang Masalah

Awal dari penggunaan Air Conditioner (AC) sudah dimulai sejak jaman

Romawi yaitu dengan membuat penampung air yang mengalir di dalam dinding

rumah sehingga menurunkan suhu ruangan, tetapi saat itu hanya orang tertentu

saja yang bisa karena biaya yang cukup mahal dan juga proses pembangunan

yang tidak biasa. Hanya para raja dan orang kelas menengah atas saja yang

dapat menggunakan pendingin ruangan tersebut. Penggunaan AC untuk

perumahan baru dikembangkan pada tahun 1972 dan pertama dipakai disebuah

rumah Mineapolis. Saat ini AC sudah digunakan disemua sektor, tidak hanya

industri saja tetapi perkantoran, perhotelan, dan perumahan. Dengan adanya

AC, kita dapat merasakan kesejukan dan dapat meredam hawa panas yang

membuat kita menjadi mudah berkeringat sehingga tubuh terasa lengket akibat

keringat yang menetes (Nisthaz, 2012).

(2)

Sumber: grandviewresearch.com, 2019

Gambar 1. 1 Segmented Air Conditioning System Market

Menurut Gambar 1.1, permintaan pasar pendingin udara secara global

sangat besar di segmen residential dibandingkan dengan segmen commercial

dan industrial. Segmen residential merupakan segmen dimana pendingin udara

digunakan di rumah-rumah kecil dan restoran kecil. Salah satu jenis Air

Conditioner (AC) residential yaitu AC split karena, AC split merupakan

pendingin ruangan yang telah diatur agar mengeluarkan suhu yang lebih rendah

dari suhu dan lebih efektif bekerja diruangan yang tertutup (PROdeal ASTRO,

2019). Sedangkan segmen commercial merupakan segmen pendingin udara

yang digunakan di gedung tinggi, apartemen, dan hotel. Segmen industrial

merupakan segmen dimana permintaan pendingin udara digunakan di gedung-

gedung besar seperti gedung pertemuan.

(3)

17 Pada tahun 2018, market share sistem pendingin udara secara global

mencapai US$ 102.02 milliar dan diperkirakan akan mencatat Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 9,9% dari tahun 2019 hingga 2025 mendatang. Asia Pacific diperkirakan akan muncul sebagai pasar regional dengan pertumbuhan yang cukup cepat. Wilayah tersebut memegang bagian yang signifikan lebih dari 50% pada tahun 2018 dalam hal pendapatan dan diperkirakan akan naik ke penilaian US$ 130.0 milliar pada tahun 2025.

Meningkatnya populasi yang diantisipasi secara positif mempengaruhi industry konstruksi, juga menciptakan peningkatan permintaan untuk system pendingin udara. Faktor lingkungan seperti kelembaban, suhu, serta tekanan udara merupakan kunci untuk meningkatnya permintaan penyejuk udara yang melonjak (GrandViewResearch, 2019).

Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang berada di garis khatulistiwa, garis yang membagi dua bagian bumi secara vertikal. Jika suatu wilayah mendekati garis khatulistiwa, maka akan memiliki iklim tropis.

Indonesia juga hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau

(Tagar.id, 2019). Iklim tropis merupakan sebutan untuk daerah-daerah yang

memiliki cuaca yang cukup hangat akibat paparan sinar matahari sepanjang

tahun. Iklim tropis terletak di garis khatulistiwa serta dikenal dengan cuaca yang

hangat dan lembab. Suhu udara rata-rata di negara beriklim tropis yaitu 20

derajat celcius hingga 30 derajat celcius. Namun, ketika cuaca tengah terik,

suhu bisa mencapai 35 derajat celcius (Nena Zakiah, 2020).

(4)

Perubahan iklim adalah perubahan pada suhu, curah hujan, dan pola angin. Perubahan iklim yang sering terjadi yaitu bencana alam yang terkait dengan peningkatan suhu bumi. Dilansir pada Lingkunganhidup, suhurata-rata bumi telah meningkat sebesar 1,5 derajat Fahrenheit dibandingkan beberapa abad lalu. Suhu ini diperkirakan akan naik lagi serratus tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat Fahrenheit (Febriansyah, 2019). Perubahan iklim ini lah yang jugamendorong penambahan permintaan kebutuhan masyarakat terhadap Air Conditioner (AC).

Untuk Indonesia, menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan

Geofisika (BMKG), rata-rata Indonesia mengalami kenaikan suhu sebesar 0,03

derajat setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan penggunaan pendingin udara

(AC) saat ini sudah menjadi kebutuhan untuk masyarakat Indonesia agar

masyarakat Indonesia merasa nyaman (Agustini, 2018). Untuk mendukung

kenyamanan beraktivitas dalam sebuah ruangan, peran pendingin udara sangat

penting. Dari tahun ke tahun, kebutuhan Air Conditioner (AC) pun semakin

meningkat karena cuaca yang begitu panas sehingga membuat masyarakat

menjadi gerah dan tidak nyaman untuk melakukan suatu aktivitas. Tidak hanya

pendingin ruangan saja, tetapi jasa perbaikan dan servis AC pun semakin

(5)

19 industri elektronik yang berkisar 25%. Air Conditioner merupakan industri

elektronik yang banyak diperebutkan oleh perusahaan yang memproduksi AC di Indonesia. Hal ini tentu memberikan banyak pilihan bagi konsumen untuk dapat memilih jenis produk AC yang diinginkan. Produsen AC melihat potensi pasar di Indonesia yang sangat bagus dan berkembang dengan cepat sehingga terus melakukan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar (Kemenperin, 2016).

Bisnis pendingin ruangan alias Air Conditioner (AC) kian semarak di tanah air. Selain mulai menguatnya pemain baru, pertumbuhan permintaan produk AC juga turut bergairah. Seperti PT. Gree Electric Appliances Indonesia, pemilik brand Gree asal China, meski terbilang baru di Indonesia namun perusahaan terus menancapkan dirinya ditengah kebutuhan AC di tingkat lokal.

Saat ini porsi penjualan AC Gree di segmen komersial masih sekitar 20% dari total penjualan di Indonesia, sebagian besar 80% didominasi oleh segmen residensial/perumahan. Saat ini market share Gree di Indonesia masih terbilang kecil, dan produk AC nya di impor. Saat ini Gree memiliki sepuluh pabrik di seluruh dunia. Perusahaan mengklaim sudah mencapai lebih dari 300 juta pengguna pendingin udara bermerk Gree tersebut di seluruh dunia hingga saat ini, serta pendapatan operasional Gree telah melebihi US$ 20 Miliar setiap tahunnya (Yoyok, 2019).

Sementara itu, PT. Sharp Electronics Indonesia menjadi market share terbesar dengan share 26%. Sekadar gambaran di tahun 2017 lalu market share di AC masih kisaran 21%. Ditengah demand AC per tahun yang lebih dari 2 juta unit, Sharp membidik penjualan AC sekitar 560.000 unit di tahun ini.

Adapun untuk kategori AC inverter, LG mengklaim sebagai pemimpin pasar di

produk tersebut. Dikabarkan sebelumnya, bila pada tahun 2016 LGElectronics

(6)

Indonesia hanya menguasai 8,8%, maka pada tahun 2017 jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat hingga mencapai 18,3%. Tahun ini, LG menargetkan menguasai pangsa pasar AC Inverter di Indonesia agar dapat mencapai hingga 69% (Yoyok, 2019).

Selain Sharp dan LG, dari sisi market share di tempat ketiga terdapat PT. Daikin Airconditioning Indonesia. PT. Daikin Airconditioning Indonesia tidak seperti perusahaan lainnya, Daikin Airconditioning Indonesiamerupakan perusahaan elektronik pabrikan Jepang yang khusus memproduksi Air Conditioning. PT. Daikin Airconditioning Indonesia selama semester pertama 2016 mendapat 20% keseluruhan pangsa pasar penjualannya di Indonesia.

Produk-produk yang dipasarkan Daikin di Indonesia saat ini hampir 80% impor

dari pabriknya yang berada di Thailand dan Malaysia. Namun, selama lima

tahun sejak didirikannya Daikin Indonesia, Isao Tsumura selaku President

Director PT. Daikin Airconditioning Indonesia mengatakan bahwa pihaknya

telah mendapatkan lima kali lipat pendapatan dari hasil penjualannya. Daikin

pun juga telah meluncurkan produk baru yakni Daikin multi -Split yang di

design khusus untuk menghemat listrik di apartemen. Produk tersebut

ditargetkan oleh Daikin untuk penjualan unit barunya tersebut akan mencapai

20.000 unit akan terjual untuk 1 tahun pertama (Julianto, 2016).

(7)

21 Sumber : GFK Report, 2018

Gambar 1. 3 Perbandingin Sales Unites Air Conditioner

Seiring dengan perkembangan pendingin udara yang semakin pesat,

membuat persaingan antara dunia pendingin udara pun semakin pesat juga, terlihat

dari data GFK Report diatas, Sales Unit antar Brand-brand pendingin udara

mengalami persaingan penjualan unit atau permintaan produk Air Conditioner

(AC) yang cukup ketat untuk menjadi pemimpin pangsa pasar. Dalam kegiatan

usaha pastinya perusahaan akan tetap terus saling bersaing dan terus melakukan

inovasi untuk meraih keuntungan yang dapat mempertahankan kelanjutan usahanya

ditengah-tengah persaingan tersebut. Salah satu cara untuk terus mempertahankan

usaha dari persaingan tersebut yaitu dengan mengasah pengetahuannya mengenai

produk-produk pendingin udara itu sendiri atau bisa disebut dengan Produck

Knowledge. Pengetahuan mengenai material-material dasar dan komposisi dari

produk pendingin udara dapat membantu untuk menjelaskan keunggulan produk

agar dapat meraih keberhasilan proses dan hasil penjualan (Octa, 2019).

(8)

PT. Daikin Airconditioning Indonesia menyadari pentingnya Product Knowledge sehingga PT. Daikin Airconditioning Indonesia sering mengadakan training produk setiap tahunnya. Training produk tersebut diikuti oleh karyawan- karyawan Daikin seperti sales, engineer, dan engineer assistant. Training tersebut membahas mengenai pengenalan produk-produk Daikin serta software update untuk produk Daikin (Daikin Applied, 2018). Product Knowledge sangatlah penting bagi Daikin karena untuk menjual suatu produk tentu saja harus menguasai lebih dalam mengenai produk-produk apa saja yang ditawarkan oleh Daikin untuk masyarakat serta menjelaskan mengenai keunggulan produk dari Daikin. Hal tersebut sangat penting untuk meraih keberhasilan dalam penjualan serta untuk mendapatkan hasil penjualan atau keuntungan bagi suatu perusahaan.

Human Resource Management merupakan salah satu aspek yang sangat

penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi maupun di dalam

suatu perusahaan. Human Resource Management juga merupakan kunci yang

memastikan kemajuan suatu perusahaan karena, dengan adanya Human Resource

Management perusahaan mendapatkan karyawan-karyawan yang berkualitas dan

memenuhi kualifikasi perusahaan untuk mencapai tujuannya (Merry, 2020).

(9)

23 Sumber: Involvesoft Marketing, 2017

Gambar 1. 4 Reducing Employee Turnover Rates

Tingginya tingkat turnover atau keluar masuk karyawan menjadi cermin bagi sebuah perusahaan. Tingkat turnover sebuah perusahaan bergantung pada lingkungan kerja yang perusahaan berikan kepada karyawannya tersebut.

Karyawan akan bekerja maksimal dan lebih produktif jika perusahaan mendukung

karyawannya tersebut dengan memberikan lingkungan kerja yang positif, baik, dan

(10)

nyaman. Perusahaan harus memilih dan mencari karyawan yang terbaik, bertalenta, serta memenuhi kualifikasi perusahaan. Perusahaan juga menawarkan kompensasi dan benefit yang menarik bagi karyawan agar dapat menjadi motivasi dan karyawan dapat bekerja secara optimal, serta karyawan merasa dihargai dan diakui oleh perusahaan. Dengan menyediakan kesempatan bagi karyawan untuk mengikuti proses pelatihan, seminar, presentasi, serta kerja sama tim dapat memperluas wawasan baru dan karyawan dapat saling bertukar ilmu dengan rekan kerjanya.

Perusahaan harus memberikan karyawan kesempatan untuk menjalani kehidupan

diluar pekerjaannya, jangan membuat peraturan yang berlebihan tetapi memberikan

karyawan sedikit kelonggaran misalnya pada jam kerja, sehingga mereka masih

memiliki waktu untuk hal pribadi terlebih waktu untuk keluarga. Perusahaan dapat

membuat budaya dan tradisi yang unik serta menyenangkan agar karyawan dapat

merasa nyaman dan betah untuk tetap bekerja, seperti melakukan kegiatan

gathering, outbond, acara buka puasa Bersama, tukar kado pada saat natal

maupun tahun baru, serta mengadakan kegiatan bakti sosial, hal tersebut

dilakukan guna untuk membangun hubungan baik antara karyawan dengan rekan-

rekan kerjanya (Karya One, 2019).

(11)

25 Sumber : HR Tech Weekly, 2019

Gambar 1. 5 Turnover Intentions Infographic

Dari Gambar 1.5, Turnover intentions secara global dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti karyawan mempertimbangkan pekerjaan baru, gaji tahunan karyawan, kurangnya peningkatan retensi perusahaan, perusahaan kehilangan karyawan baru dalam tahun pertama, kurangnya tantangan dalam pekerjaan, kurangnya peluang peningkatan karier,dan kurangnya tawaran pengalaman kerja dari perusahaan (Kristina Martic, 2018).

Turnover telah menjadi masalah yang menantang untuk bisnis dan manajemen

(12)

(Jones et al., 2007), karena tingkat turnover yang cukup tinggi dapat mempersulit perusahaan untuk mencapai tujuannya dan dapat menyebabkan penurunan kinerja (Chang, Wang, dan Huang, 2013; Zimmerman dan Darnold, 2009). Secara khusus, kehilangan karyawan berbakat dapat menyebabkan penurunan produktifitas,kreativitas, efisiensi, dan keuntungan yang cukup serius bagi perusahaan (Larkin, 1995; Roth dan Roth, 1995).

Kaum milenial pada zaman sekarang cenderung bekerja sesuai dengan keinginannya dan tidak takut untuk memulai usaha sendiri. Kondisi tersebut membuat industri sering mengalami turnover. Situs web LinkedIn, menyimpulkan tingkat perputaran karyawan rata-rata untuk semua perusahaan di seluruh dunia yaitu sebesar 10.9%. Ada beberapa sektor yang memiliki tingkat turnover terbanyak yaitu sektor teknologi sebesar 13.2%, kedua yaitu industri ritel sebesar 16.2%, dan ketiga yaitu media dengan tingkat turnover sebesar 13.2%. Maka dari itu, penting bagi perusahaan untuk mengetahui setiap talenta berharga yang dimiliki perusahaan. Dengan begitu, perusahaan dapat menemukan cara untuk mempertahankan karyawan mereka yang bertalenta besar (Mawaddha, 2020).

Selain masih adanya tingkat turnover intentions yang cukup tinggi di

perusahaan, juga didukung dengan hasil in depth interview yang peneliti lakukan.

(13)

27 sendiri dan usaha tersebut berkembang dengan cukup baik, maka mereka akan

berhenti dari pekerjaannya saat ini.

Turnover merupakan keinginan seorang karyawan untuk berpindah, berhenti, atau keluar dari tempat bekerja yang dilakukan secara sukarela atau atas kemauan sendiri maupun keputusan dari organisasi. Umumnya, turnover dilakukan karena karyawan ingin mendapatkan pekerjaan dengan intensif dan tantangan yang lebih baik untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Turnover ini tidak bisa dihindari, sekalipun sebuah organisasi berkomitmen penuh untuk membuat lingkungan kerja yang bagus, masih ada karyawan yang tetap mengundurkan diri.

Turnover tentu saja memberikan dampak yang cukup buruk untuk perusahaan, seperti menurunnya tingkat produktifitas dengan adanya karyawan yang baru, serta merugikan perusahaan karena banyak biaya yang telah dikeluarkan untuk proses perekrutan karyawan yang dilakukan (Muchlisin Riadi, 2018).

Proses terjadinya turnover karyawan yaitu ketika karyawan menilai pekerjaannya yang sekarang, lalu mereka mengetahui mereka senang ataupun tidak senang dengan pekerjaannya, ketika penyusutan fase kesenangan yang lalu mempengaruhi penyusutan semangat seperti stress, sakit fisik, malas bekerja, komunikasi dengan karyawan lain berkurang, dan masa bodoh dengan tugas pekerjaannya, ketika karyawan telah menentukan untuk berasumsi dan berniat untuk mencari pekerjaan baru, dan ketika karyawan membandingkan pekerjaan yang diinginkannya dengan pekerjaan yang ia miliki saat ini dan membuat kesimpulan untuk tetap kerja atau mengundurkan diri dari perusahaan saat ini ke perusahaan yang lain (Pendidikan, 2019).

Sementara itu, pergantian tempat kerja merupakan tantangan universal

bagi pengusaha dan beberapa industri. Banyak pengusaha di industri yang sangat

kompetitif mengalami pergantian staff karena karyawannya diburu oleh perusahaan

(14)

5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1

TINGKAT TURNOVER PT. DAIKIN AIRCONDITIONING INDONESIA

terdekat, sementara perusahaan di beberapa pasar dunia melihat tingkat pergantian

yang tinggi disebabkan oleh migrasi. Selain itu faktor-faktor seperti usia atau

tingkat kinerja karyawannya tersebut sangat mempengaruhi kemungkinan

pergantian karyawan, karena kaum millenial cenderung lebih sering berganti

pekerjaannya daripada demografi lainnya. Dengan adanya turnover intentions ini,

sangat penting bagi perusahaan untuk mengenali dan memperhitungkan faktor-

faktor spesifik yang memengaruhi tingkat turnover intentions di industri maupun

perusahaan mereka (Mercer LLC, 2019).

(15)

29 Menurut Mathis dan Jackson (2000:125), turnover karyawan

diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu turnover secara tidak sukarela dan turnover secara sukarela. Turnover secara tidak sukarela merupakan pemecatan karyawan dikarenakan kinerja karyawan tersebut menurun dan melakukan pelanggaran pada peraturan kerja yang berlaku. Turnover tidak sukarela ini dipicu oleh kebijakan organisasional, peraturan kerja, dan standar kinerja yang tidak dipenuhi oleh karyawan. Sedangkan Turnover secara sukarela merupakan karyawan yang memutuskan untuk meninggalkan perusahaan karena keinginannya sendiri.

Turnover secara seukarela dapat disebabkan oleh banyak factor, termasuk peluang karier, gaji, pengawasan, geografi, dan alasan pribadi/keluarga (Muchlisin Riadi, 2018).

Sumber : Imercer, 2019

Gambar 1. 7 Level of Voluntary and Involuntary Turnover by Career

Menurut gambar 1.7, keseluruhan tingkat turnover secara sukarela lebih tinggi dibandingkan turnover secara tidak sukarela. Hal tersebut membuktikan bahwa sebagian besar karyawan memiliki keinginan untuk meninggalkan perusahaan untuk mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih menantang dan lebih baik lagi baik dari segi intensif, gaji, bonus, dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya turnover intentions yaitu usia,

(16)

kurangnya sosialisasi, beban kerja, faktor lingkungan perusahaan, serta kepuasan dalam bekerja dan gaji. Kaum Millenials memiliki angka turnover intentions yang cukup tinggi karena tingginya keinginan untuk memperluas jenjang karier dengan pengalaman-pengalaman baru dari perusahaan lain, serta tantangan-tantangan baru untuk mengembangkan kemampuan mereka didalam suatu pekerjaan.

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk tanggung jawab sosial dari pemegang kekuasaan sebuah perusahaan yang diwujudkan dengan memberikan kontribusi terhadap masyarakat atau lingkungan sekitarnya (Putra, 2020). Pada dasarnya, CSR merupakan bentuk tanggung jawab yang dilakukan oleh perusahaan terhadap stakeholder atau pemangku kepentingan dengan cara melakukan tindakan sosial seperti memberikan bantuan pendidikan untuk masyarakat dengan memberikan beasiswa dan bentuk dukungan Pendidikan masyarakat lainnya. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis dan turut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,komunitas lokal, serta masyarakat luas dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup Bersama (sahabatnesia, 2020).

Melalui kekuatan Daikin dalam teknologi hemat energi, Daikin sendiri

mendukung inisiatif yang mendukung perkembangan komune Daikin yaitu dengan

melakukan donasi ke lembaga Pendidikan di Indonesia untuk melaksanakan kerja sama

(17)

31 terutama mengenai pencegahan pemanasan global, serta memelihara sumber daya manusia (Daikin, 2019)

Ethical Leadership didefinisikan sebagai kepemimpinan yang diarahkan dengan menghormati keyakinan, nilai-nilai etis, dan martabat maupun hak orang lain (Kuligowski, 2019). Saat ini, Indonesia sedang dilanda krisis kepemimpinan.

Indonesia sangat kekurangan sosok pemimpin yang menjadi teladan bagi bangsa Indonesia. Krisis kepemimpinan itu terletak pada krisis kredibilitas, krisis kepercayaan, krisis kekuatan untuk memimpin dan terlebih krisis keteladanan.Krisis kepemimpinan ini pun dapat diatasi dengan menerapkan etika kepemimpinan yang baik. Seorang pemimpin tentu saja harus peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada dengan menggunakan keputusan yang bijak dalam memberikan solusi yang tepat bagi bawahannya tersebut. Seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya harus memiliki integritas yang cukup tinggi agar pemimpin dapat memberikan opini-opini atau jani-janji yang sesuai dengan realita yang ada (Agung Prasetyo, 2015).

Definisi work engagement menurut Schaufeli (2005) dalam Maulana (2012) merupakan perasaan dan keadaan pikiran yang penuh positif yang dikarakteristikan dengan perilaku karyawan yang memiliki keinginan tinggi untuk menginvestasikan usaha atau daya upayanya dalam satu pekerjaan, karyawan memberikan kemampuan yang ia miliki terhadap pekerjaan agar mendapatkan hasil yang optimal, serta karyawan merasakan waktu berlalu begitu cepat ketika mengerjakan pekerjaannya tersebut (ipwebadm, 2016). Jika karyawan tidak

“engaged” dengan pekerjaannya, maka akan mengakibatkan kemungkinan besar

turnover. Engaged karyawan itu sendiri bisa dilihat dari dalam dirinya ataupun luar

dirinya. Emosional personal dengan pekerjaan sangat mendukung rendahnya

turnover pada suatu perusahaan. Kesehatan psikologis karyawan seperti

(18)

tersampaikannya ide dan pendapat, kemampuan karyawan untuk berkembang, dan hubungan rekan kerja yang baik dapat membuat karyawan semakin nyaman baik dengan pekerjaannya maupun dengan perusahaan. Sedangkan faktor dari luar yaitu benefit yang didapat ketika karyawan sedang bekerja. Benefit tersebut dapat berupa tunjangan kesehatan, kesempatan untuk mengembangkan karier, jabatan, dan lain sebagainya dapat membuat karyawan merasa kebutuhan hidupnya terpenuhi sehingga dapat membuat karyawan menjadi loyal dengan perusahaannya tersebut (Ferry Aldina, 2017).

Burnout merupakan istilah psikologis yang digunakan untuk

menunjukkan keadaan kelelahan bekerja. Orang yang mengalami tekanan

pekerjaan terus menerus akan mengalami depersonalization yang merupakan

tendensi kemanusiaan terhadap sesama yang merupakan pengembangan sikap sinis

mengenai karier dan kinerja diri sendiri (Muchlisin Riadi, 2016). Burnout

merupakan kondisi emosional dimana seseorang merasa Lelah dan jenuh secara

mental ataupun fisik sebagai akibat dari tuntutan pekerjaan yang meningkat. Gejala-

gejala yang menunjukkan bahwa karyawan telah mengalami burnout tersebut yaitu

merasa jenuh dengan pekerjaan, sering tidak masuk kerja dan memiliki masalah

absensi yang kurang wajar, serta mudah jenuh dengan pekerjaannya tersebut. Hal

ini dapat memberikan faktor negatif bagi perusahaan

(19)

33 yang memiliki tawaran lebih menarik, akan menerima tawaran tersebut danpindah

ke perusahaan lain.

Berdasarkan hal yang telah disebutkan di atas yaitu adanya Corporate Social Responsibility (CSR), Ethical Leadership, Work Engagement,dan Burnout, keinginan seorang karyawan untuk berpindah atau keluar dari tempat kerjanya, kurangnya motivasi kerja, serta kurangnya kepercayaan diri suatu individu dalam melakukan pekerjaannya tersebut membuat peneliti tertarik untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut mempengaruhi tingkat turnover suatu perusahaan.

Oleh karena itu, peneliti memilih topik penelitian “Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR), Ethical leadership, Work Engagement, dan Burnout terhadap Turnover Intentions di PT. Daikin Airconditioning Indonesia”

1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan

masalahnya adalah tingkat Turnover Intentions pada perusahaan PT. Daikin

Airconditioning Indonesia cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan masih

terdapatnya niat para karyawan untuk berpindah ke perusahaan lain, serta

didukung dengan hasil in depth interview yang peneliti lakukan pada 10

karyawan perusahaan. Secara umum, hasil in depth interview menujukkan

bahwa karyawan memiliki rasa atau niatan untuk berpindah ke perusahaan

lain dan meninggalkan perusahaan sekarang yang disebabkan jenuhnya

karyawan dengan pekerjaan yang dimiliki saat ini. Faktor-faktor yang

mempengaruhi bagaimana niat karyawan untuk berpindah ke perusahaan

lain yaitu untuk mendapatkan tantangan kerja yang baru serta bonus yang

(20)

lebih menarik dari perusahaan lain. Dengan demikian, hal ini menjadi permasalahan yang dapat dipecahkan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

1. Apakah Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki pengaruh positif terhadap Work Engagement karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia?

2. Apakah Ethical Leadership memiliki pengaruh positif terhadap Turnover Intentions karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia?

3. Apakah Ethical Leadership memiliki pengaruh negatif terhadap Turnover Intentions karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia?

4. Apakah Work Engagement memiliki pengaruh negatif terhadap Turnover Intentions karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia?

5. Apakah Burnout memiliki pengaruh positif terhadap Turnover Intentions karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh positif Corporate Social

Responsibility (CSR) terhadap Work Engagement

(21)

35 5. Untuk mengetahui pengaruh positif Burnout terhadap Turnover

Intentions

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kerangka teoristis mengenai Corporate Social Responsibility, Ethical Leadership, Work Engagement, dan Burnout terhadap Turnover Intentions.

Serta dapat menjadi acuan terhadap penelitian selanjutnya untuk mengukur pengaruh-pengaruh apa saja yang menyebabkan Turnover Intentions.

2. Manfaat Praktisi

Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan atau acuan oleh perusahaan yang ingin mengurangi tingkat turnover intentions.

3. Manfaat Peneliti

Peneliti sangat mengharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan terhadap tingkat Turnover Intentions di suatu perusahaan. Peneliti juga diharapkan dapat melatih penelitian secara teliti, konsentrasi, berpikir lebih kritis, dan mampu membagi waktu dengan lebih baik lagi.

1.5 Batasan Penelitian

Adapun Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

(22)

- Penelitian ini dibatasi hanya pada variable Corporate Social Responsibility, Ethical Leadership, Work Engagement,dan Burnout, serta pengaruhnya pada tingkat Turnover Intentions.

- Responden pada penelitian ini merupakan karyawan tetap, baik wanita maupun pria yang bekerja di PT. Daikin Airconditioning Indonesia dengan rentang usia 20 - 53 tahun dan lama bekerja minimal 1 tahun

- Periode penelitian dilakukan mulai Februari 2020 – Juni 2020

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam penulisan penelitian ini terdiri atas lima bab, dimana setiap bab terkait dengan bab-bab lainnya. Berikut sistematika penulisan penelitian:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang mengenai fenomena yang terjadi dan

diangkat pada penelitian, rumusan masalah, dan pertanyaan penelitian

yang menjadi acuan utama dalam melakukan penelitian, tujuan

(23)

37 Pada bab ini berisikan penjabaran teori-teori yang terkait dengan

penelitian. Teori-teori ini menjelaskan definisi variabel, hubungan antara variabel, yakni Corporate Social Responsibility, Ethical Leadership, Work Engagement, Burnout, dan Self-Efficacy serta pemaparan pengembangan hipotesis terkait penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini berisikan mengenai gambaran umum dari objek peneliti yaitu PT. Daikin Airconditioning Indonesia, metode pengumpulan data yang digunakan, Teknik pengambilan sampel, metode penelitian yang digunakan, serta operasionalisasi variabel penelitian yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang peneliti lakukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisikan mengenai hasil yang diperoleh peneliti berdasarkan data yang didapat peneliti melalui kuisioner yang telah disebarkan kepada para responden dari objek peneliti yaitu karyawan PT. Daikin Airconditioning Indonesia. Hasil data tersebut kemudian akan digunakan untuk dianalisis sehingga penulis mendapatkan hasil penguji.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisikan mengenai kesimpulan yang diperoleh dari

hasil penelitian yang dilakukan peneliti dan berisikan mengenai

beberapa saran yang dapat membantu perusahaan maupun berbagai

pihak yang berkepentingan.

Gambar

Gambar 1. 1 Segmented Air Conditioning System Market
Gambar 1. 3 Perbandingin Sales Unites Air Conditioner
Gambar 1. 4 Reducing Employee Turnover Rates
Gambar 1. 5 Turnover Intentions Infographic
+2

Referensi

Dokumen terkait

Y = 76.715+ 0.429X1 dengan kontribusi 36,4%.. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah, supervisi akademik

Berdasarkan hasil pengamatan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah peningkatan hasil belajar dengan menerapkan metode pembelajaran Problem Based

Penilaian terhadap materi ini dapat dilakukan sesuai kebutuhan guru yaitu dari pengamatan sikap, tes pengetahuan dan presentasi unjuk kerja atau hasil karya/projek dengan

Analisis SWOT merupakan suatu analisis yang digunakan dalam mengidentifikasi situasi yang dikategorikan sebagai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pelayanan kefarmasian meliputi kemudahan akses,ketersediaan obat, dan hubungan pasien dengan apoteker, dan karakteristik pasien

Hasil penelitian menunjukan pemberian kombinasi pupuk anorganik dan organik memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap komponen pertumbuhan dan hasil kubis bunga,

5b5 Dibandingkan dengan orang lain yang seusia Bapak/Ibu, bagaimanakah aktivitas yang dilakukan Bapak/Ibu saat waktu

Pestisida yang disemprotkan dan yang sudah berada di dalam tanah dapat terbawa oleh air hujan atau aliran permukaan sampai ke badan air penerima berupa sungai yang jika tidak