LAMPIRAN PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 7 TAHUN 2005
TENTANG
STRATEGI DAN RENCANA TINDAK PENGURANGAN KEMISKINAN (SRTPK) KABUPATEN BANDUNG SISTEMATIKA DAN STRATEGI SERTA RENCANA TINDAK PENGURANGAN KEMISKINAN (SRTPK)
KABUPATEN BANDUNG
A. SISTEMATIKA, TERDIRI DARI : BAB I PENDAHULUAN
1.1. Kondisi Umum Kabupaten Bandung 1.2. Sebaran Kemiskinan
1.3. Perkembangan penanggulangan Kemiskinan
1.4. Posisi Pengurangan Kemiskinan dalam Pengambilan Kebijakan 1.5. Tujuan Strategi Pengurangan Kemiskinan
1.6. Lingkup Strategi Pengurangan Kemiskinan 1.7. Sistematika
BAB II MASALAH KEMISKINAN DI KABUPATEN BANDUNG 2.1. Suara Komunitas
2.2. Beberapa Informasi Penting (Profil Sosial dan Ekonomi) 2.3. Perumusan Mendasar
BAB III STRATEGI PENGURANGAN KEMISKINAN 3.1. Visi dan Misi
3.2. Tujuan
3.3. Strategi Terpilih, Tujuan, Indilkator dan Hambatan
BAB IV DRAFT STRATEGI DAN RENCANA TINDAK PENGURANGAN KEMISKINAN BAB V PENUTUP
B. STRATEGI DAN RENCANA TINDAK LANJUT
BAB I PASAL 1 PENDAHULUAN 1.1. Kondisi Umum Kabupaten Bandung
Kabupaten Bandung terletak diantara 6°41' - 7°19' Lintang Selatan dan di antara 107°22' - 10805' Bujur Timur, pada ketinggian antara 110 meter sampai 2.429 meter di atas permukaan laut. Letak Geografis Kabupaten Bandung mengelilingi Kota Bandung serta berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur. Kabupaten Bandung merupakan bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 2001 berdasarkan pembagian wilayah meliputi 45 kecamatan yang terdiri dari 432 desa dan 8 kelurahan.
Secara geografis, wilayah Kabupaten Bandung merupakan cekungan di dataran tinggi Bandung. Kemiringan lerengnya bervariasi antara 0-15%
hingga diatas 45%. Pegunungan dan perbukitan sebagian besar terbentang sepanjang bagian utara, selatan serta bagian barat dengan kemiringan beragam antara 25-45 %. Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang berfungsi menjaga keseimbangan hidrologis cekungan Bandung. Wilayah Kabupaten Bandung beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 sampai 4.000 mm/tahun. Suhu rata-rata berkisar antara 19°C sampai 24°C dengan penyimpangan harian mencapai 5 °c serta kelembaban udara bervariasi antara 78% pada musim hujan dan 70 pada musim kemarau.
Di Kabupaten Bandung terdapat beberapa sungai yang difungsikan sebagai pengairan, sumber air baku PDAM dan sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air diantaranya : Sungai Citarum, Sungai Cisangkuy dan Sungai Cikapundung.
Kabupaten Bandung rnerupakan salah satu kabupaten terluas di Jawa Barat vaitu 3.073,70 Km2. Jurnlah Penduduknya pada tahun 2004 berdasarkan hasil Sensus Penduduk tercatat sebanyak 4.145.967 jiwa terdiri dari 2.087.556 jiwa laki-laki dan 2.098.411 jiwa perempuan. Penduduk Kabupaten Bandung pada tahun 2004 telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding jumlah penduduk pada tahun 1971. Pada tahun 1971, Penduduk Kabupaten Bandung masih berjumlah 1.974.614 jiwa (Sensus Penduduk 1971) sekitar 20 (dua puluh) tahun berikutnya bertambah menjadi 3.201.357 jiwa (Sensus Penduduk tahun 1990) , dan meningkat menjadi 4.145.967 jiwa pada tahun 2004 (Sensus Penduduk tahun 2004). Laju Pertarnbahan Penduduk tahunan Kabupaten Bandung masih tergolong tinggi yaitu 3,20 persen pertahun. Perkembangan penduduk yang amat pesat membawa pengaruh tidak saja pada kehidupan sosial, ekonomi dan kesehatan penduduk, tetapi juga pada kondisi sumber daya alam dan mutu lingkungan hidup, bila dilihat dari kepadatan penduduk, maka kepadatan penduduk mencapai 1.348,85 jiwa/Km. Selanjutnya rasio jenis kelamin tercatat 101,42 artinya setiap 100 orang perempuan tercatat 101 laki-laki.
1.2. Sebaran Kemiskinan di Kabupaten Bandung
Berdasarkan hasil pelaksanann pendataan keluarga oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Bandung, yang sejak bulan September 2002 menjadi Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana Kabupaten Bandung, mengelompokan keluarga miskin pada keluarga Prasejahtera dan Sejahtera karena alasan ekonomi. Berdasarkan data BKKBN pada tahun 1999 terdapat 171.097 keluarga miskin atau 21,29%
dari jumlah keluarga sebanyak 803.600 dan meningkat tajam pada tahun 2003 sebanyak 237.651 keluarga atau 23,36 % dari jumlah keluarga sebanyak
1.017.254 keluarga tersebar di 45 kecamatan.Trend keluarga miskin dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Trend Keluarga Miskin tahun 1999 - 2003
URAIAN 1999 2000 2001 2002 2003
JUMLAH KEPALA KELUARGA 803.600 911.647 944.564 998.830 1.017.254 KEPALA KELUARGA MISKIN 171.094 247.250 235.000 263.844 237.651
PROSENTASE 21,29 27,12 24,87 26,41 23,36
Sumber data : laporan analisa Dinas Kependudukan Casip dan KB
Dari hasil pelaksanaan pendataan keluarga yang dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana pada tahun 2003 tercatat jumlah penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 3.819.102 jiwa (1.017.254 KK), terdapat jumlah penduduk miskin sebanyak 846.923 jiwa (237.651 KK) atau sebesar 22,18 % jiwa yang miskin dan atau 23,36 % KK yang miskin tersebar di 45 kecamatan. Dimana sebaran kemiskinan di 45 kecamatan dapat dilihat pada tabel 1.2.
Tabel 1.2
Jumlah Keluarga dan Keluarga Miskin Kabupaten Bandung Tahun 2003
NO KECAMATAN
JUMLAH KELUARGA JUMLAH KELUARGA MIKSIN PROSENTASE
KEPALA KELUARGA
PROSENTASE JIWA DALAM
KELUARGA KEPALA
KELUARGA JIWA KEPALA
KELUARGA JIWA
1 2 3 4 5 6 7 8
1 CIWIDEY 17894 65862 1003 4.340 5,60 6,59
2 PASIRJAMBU 18997 68117 3311 11.493 17,43 16,87
3 PANGALENGAN 34481 116703 7834 28.236 22,72 24,19
4 PACET 22460 89825 5488 13.903 24,43 15,48
5 PASEH 24878 98345 9595 30.990 38,57 31,51
6 CICALENGKA 22731 90187 5402 21.811 23,76 24,18
7 RANCAEKEK 33897 129710 4444 16.387 24,18 12,63
8 MAJALAYA 33271 127812 10402 16.456 31,26 12,88
9 CIPARAY 32289 130675 13219 52.498 40,94 40,17
NO KECAMATAN
JUMLAH KELUARGA JUMLAH KELUARGA MIKSIN PROSENTASE
KEPALA KELUARGA
PROSENTASE JIWA DALAM
KELUARGA KEPALA
KELUARGA JIWA KEPALA
KELUARGA JIWA
1 2 3 4 5 6 7 8
10 BANJARAN 24095 88886 4943 16.424 20,51 18,48
11 PAMEUNGPEUK 13825 53623 2488 7.735 18 14,42
12 SOREANG 34263 130568 3079 11.757 8,99 9
13 CILILIN 20002 71434 11625 36.580 58,12 51,21
14 SIDANGKERTA 15182 56913 6617 26.468 43,58 46,51
15 GUNUNGHALU 19372 66308 5925 15.468 30,59 23,33
16 BATUJAJAR 25458 93088 7923 40.848 31,12 43,88
17 DAYEUHKOLOT 20432 81564 3827 15.386 18,73 18,86
18 BOJONGSOANG 25390 99948 3220 15.017 12,68 15,02
19 CILEUNYI 25386 99253 3044 9 891 11,99 9,97
20 CIMENYAN 20870 81640 4137 15.357 19,82 18,81
21 LEMBANG 37276 137776 1633 6.504 4,38 4,72
22 CISARUA 15426 55839 3457 12.593 22,41 22,55
23 PADALARANG 33314 124019 6354 20.767 19,07 16,75
24 CIPATAT 29047 99608 8132 32.909 28 33,04
25 CIPEUNDEUY 19050 67154 5822 23.123 30,56 34,43
26 CIKALONG WETAN 30879 115836 5551 19.738 17,98 17,04
27 KERTASARI 15813 59876 9059 36.636 57,29 61,19
28 IBUN 17911 65530 8708 30.626 48,62 46,74
29 CIKANCUNG 16716 66709 5352 21.537 32,02 32,28
30 KATAPANG 28631 111241 630 3.090 2,20 2,78
31 CIPONGKOR 19685 75295 7637 29.590 38,80 39,30
32 MARGAASIH 21453 86863 2698 10.792 12,58 12,42
33 NGAMPRAH 30742 116195 7429 27.183 24,17 23,39
34 MARGAHAYU 18411 72386 1100 4.599 5,97 6,35
35 CILENGKRANG 9482 28874 1939 7.031 20,45 24,35
36 BALEENDAH 38157 150231 8290 24.510 21,73 16,31
37 ARJASARI 20955 73333 3564 11.461 17,01 15,63
38 CIMAUNG 16863 62611 3280 10.449 19,45 16,69
39 SOLOKAN JERUK 18604 67406 4212 15.347 22,64 22,77
NO KECAMATAN
JUMLAH KELUARGA JUMLAH KELUARGA MIKSIN PROSENTASE
KEPALA KELUARGA
PROSENTASE JIWA DALAM
KELUARGA KEPALA
KELUARGA JIWA KEPALA
KELUARGA JIWA
1 2 3 4 5 6 7 8
40 NAGREG 10406 41379 2941 13.225 28,26 31,96
41 PARONGPONG 19710 69814 3124 10.664 15,85 16,71
42 RANCABALI 11969 44629 2683 8.672 22,42 19,43
43 RONGGA 14176 50347 6573 23.345 46,37 46,37
44 CANGKUANG 13343 46334 2952 8.944 22,12 19,30
45 CIHAMPELAS 23062 89156 7005 26.543 30,37 29,77
JUMLAH 1.017.254 3.819.102 237.651 846.923 23,36 22,18
Sumber data - hasil pendataan keluarga Dinas Kependudukan Casip dan KB tahun 2003, Data tahun 2004 masih dalam proses perhitungan
Dari data kemiskinan tercatat ada 16 (enam belas) kecamatan yang posisinya di atas rata-rata kabupaten (23,36%), diantaranya Ngamprah (24,17%), Pacet (24,43%), Nagreg (28,26%), Cihampelas (30,37%), Gunung Halu (30,59%), Majalaya (31,26%), Cikancung (32,02%), Paseh (38,57%), Cipongkor (38,80%), Ciparay (40,94%), Sindangkerta (43,58%), Batujajar (43,88%), Rongga (46,37%), Ibun (48,62%), Kertasari (57,29%), dan Cililin (58,12%).
Dari grafik di atas terlihat bahwa jumlah penduduk miskin Kabupaten Bandung banyak terdapat pada : Sektor Pertanian 25,73 %, Sektor Industri 24,20%, Sektor Perdagangan 18,25%, Sektor Jasa 11,90%, Sektor Angkutan 10,00%, Sektor Konstruksi 8,02%, Sektor Pertambangan 0,67%, Sektor Keuangan 0,47%, dan Sektor Lain-lain 0,42%, dan Sektor Listrik Gas dan Air Minum 0,34%.
13. Perkembangan Penanggulangan Kemiskinan
Persoalan kemiskinan merupakan masalah multi dimensi yang mencakup dimensi ekonomi, sosial dan kultural yang mernerlukan multi pihah dalam penanganannya. Dengan demikian strategi, penanggulangan kemiskinan yang partisipatif dan pelibatan aktif semua pihak sejak tahap perencanaan, monitoring dan evaluasi sampai dengan dampak pemberdayaannya merupakan hal strategis untuk dikembangkan oleh Kabupaten Bandung, oleh karena itu pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan harus terintegrasi dengan baik.
Program-program Penanggulangan Kemiskinan yang telah dilaksanakan di Kabupaten Bandung dikelola oleh masing-masing Badan, Dinas dan Bagian terkait dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3
Kegiatan-kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bandung hingga Triwulan II Tahun 2004
NO PROGRAM JUMLAH
DANA (Rp)
DIBALE/
PENGELOLA
BIAYA
KETERANGAN APBD
KAB
APBD
PROV APBN BLN LAINNYA 1 Pemberdayaan Ekonomi Pedesaan 150.000.000 Bagian
Perekonomian
V 2 Bantuan Keuangan kepada kelompok
Usaha Mikro 45 Kecamatan
700.000.000 Bagian
Perekonomian
V 3 Bantuan Keuangan kepada kelompok
Ketahanan Pangan (LUEP & TIM KPG)
800.000.000 Bagian
Perekonomian
V 4 Bantuan Keuangan Untuk
pengangkutan raskin desa terpencil
150.000.000 Bagian
Perekonomian
V 5 Bantuan Keuangan untuk Komite
Penanggulangan Kemiskinan
100.000.000 Bagian
Perekonomian
V 7 Penunjang Program peaanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)
320.000.000 Bapeda V
8 Penunjang Program pengembangan kecamatan (PPK)
475.000.000 Bapeda V
9 Penunjang Program UNFP A 100.000.000 Bapeda V
10 Penunjang Program Prakarsa
Pembaruan Tata Pemerintahan Daerah (P2TPD)
100.000.000 Bapeda V
11 Penunjang WJEMP 57.000.000 Dinas Lingkungan
Hidup
V 12 Pengembangan Listrik Pedesaan 131.156.000 Dinas Lingkungan
Hidup
V 13 Inventarisasi dan Pelatihan Pengolahan
limbah kotoran sapi
32.400.000 Dinas Lingkungan Hidup
V 14 Percontohan pengembangan Daur ulang
sampah menjadi Pupu organik
40.900.000 Dinas Lingkungan Hidup
V 15 Peningkatan pelayanan kesehatan dasar 2.500.000 Dinas Kesehatan V
NO PROGRAM JUMLAH DANA (Rp)
DIBALE/
PENGELOLA
BIAYA
KETERANGAN APBD
KAB
APBD
PROV APBN BLN LAINNYA yang diselenggarakan oleh swasta
16 Penunjang PKPS BBM bidang Kesehatan
8.050.000 Dinas Kesehatan V 17 Pembinaan Upaya Kesehatan
bersumber daya Masyarakat
44.935.000 Dinas Kesehatan V 18 Pembinaan kesehatan masyarakat
pekerja
22.775.000 Dinas Kesehatan V 19 Pembinaan dan pengembangan
Poskestren
10.500.000 Dinas Kesehatan V 20 Program Penanggulangan penyakit 1.194.891.500 Dinas Kesehatan V 21 Program Kesehatan Ibu, anak dan
Kesehatan Reproduksi
214.338.000 Dinas Kesehatan V 22 Program Perbaikan Gizi 481.770.000 Dinas Kesehatan V
23 Kegiatan Paket A PBH 68.822.150 Dinas Pendidikan V
24 Penyediaan air bersih Pedesaan 12.800.000.000 Dinas Pemukiman dan Tata Wilayah
V 25 Pembangunan Drainase 2.229.400.000 Dinas Pemukiman
dan Tata Wilayah 26 Penyediaan air bersih dan jamban
sekolah
210.000.000 Dinas Pemukiman dan Tata Wilayah
V 27 Fasilitasi Perencanaan Prasarana
Linglumgan Partisipatif
1.207.600.000 Dinas Pemukiman dan Tata Wilayah
V 28 Pengendalian Program KB 4.790.206.000 Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil
V
29 Pemberdayaan keluarga dan Masyarakat
191.014.000 Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil
v
30 Pembinaan terpadu P2WKSS dan WRSE
84.700.000 Dinas
Kesejahteraan Sosial
V
31 Pemberian makanan tambahan anak 79.750.000 Dinas V
NO PROGRAM JUMLAH DANA (Rp)
DIBALE/
PENGELOLA
BIAYA
KETERANGAN APBD
KAB
APBD
PROV APBN BLN LAINNYA
sekolah Kesejahteraan
Sosial 32 Bimbingan teknis keterampilan melalui
Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE) bagi Penyandang cacat
230.000.000 Dinas
Kesejahteraan Sosial
V
33 Peningkatan Pendapatan Keluarga Fakir Miskin melalui KUBE - UEP
119.315.000 Dinas
Kesejahteraan Dinas Sosial
V
34 Penanggulangan Dini masalah Kesejahteraan Sosial
85.770.000 Dinas
Kesejahteraan Sosial
V
35 Pengembangan Kapasitas Wirausaha Bagi Wanita Binaan
23.200.000 Dinas
Kesejahteraan Sosial
V
36 Penempatan TKI 225.000.000 Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi
V
37 Padat Karya 230.000.000 Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi
V 38 Pembentukan Tenaga Kerja mandiri
terdidik
100.00.000 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
V 39 Perluasan Kerja Sistem Padat Karya 80.000.000 Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi
V 40 Pemeliharaan Bangunan air 5.873.000.000 Dinas Pekerjaan
Umum
V V 41 Sosialisasi kebersihan lingkungan 84.981.400 Dinas Kebersihan V 42 Pengembangan Usaha agribisnis dan
Peternakan
296.295.000 Dinas Peternakan V 43 Penanganan Pasca Panen, Pengolahan
Hasil dan Pemasaran
225.000.000 Dinas Pertanian V 44 Pengembangan Komoditas
Holtikultura
400.000.000 Dinas Pertanian V 45 Pengembangan mutu intensifikasi Padi 300.000.000 Dinas Pertanian V
NO PROGRAM JUMLAH DANA (Rp)
DIBALE/
PENGELOLA
BIAYA
KETERANGAN APBD
KAB
APBD
PROV APBN BLN LAINNYA dan Palawija
46 Pengembangan Komoditas hutan dan perkebunan
350.000.000 Dinas Pertanian V 47 Pemberdayaan Kelompok Penggerak
Pariwisata
40.000.000 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
V 48 Kegiatan Pembinaan Pedagang Informal 100.000.000 Dinas Perdagangan
dan Perindustrian
V 49 Pembinaan dan Pengembangan Usaha
Komoditi unggulan
525.900.000 Dinas Perdagangan dan Perindustrian
V 50 Pembinaan Peningkatan mutu Industri
Garmen di Kabupaten Bandung
75.000 000 Dinas Perdagangan dan Perindustrian
V 51 Perkuatan dan Pendukungan
Koperasi di sentra komoditi unggulan dengan pendampingan BDS
85.000.000 Dinas Koperasi dan Usaha Kecil
V
52 Penataan dan Penyuluhan Koperasi serta pemberdayan masyarakat dalam pembentukan Koperasi
88.300.000 Dinas Koperasi dan Usaha Kecil
V
1.4. Posisi Pengurangan Kemiskinan dalam Pengambilan Kebijakan
Pemerintah Kabupaten Bandung dalam menentukan arah kebijakan pembangunan tahun 2000-2005 telah menetapkan Visi, Misi Kabupaten Bandung, yang selanjutnya dijabarkan melalui dokumen perencanaan. Kebijakan pembangunan tersebut dituangkan dalam dokumen-dokumen perencanaan:
Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2005 (Perda No. 13 Tahun 2001), merupakan dokumen perencanaan politis yang memuat Visi, Misi, Kabupaten Bandung Tahun 2001-2005.
Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2005 (Perda No. 14 Tahun 2001), merupakan dokumen manajerial berisi program-program prioritas pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Isi Propeda memuat program -program secara menyeluruh, baik yang bersifat desentralisasi, dekonsentrasi maupun pembantuan.
Rencana Strategis Daerah Tahun 2001-2005 (Perda No. 15 Tahun 2001), merupakan dokumen perencanaan taktis strategis, memuat program-
program pembangunan strategis yang dibiayai oleh APBD (desentralisasi).
Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada) dan APBD (Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah).
Program-program strategis tersebut dimaksudkan untuk merealisasikan pencapaian visi dan misi Kabupaten Bandung, yaitu visi "Terwujudnya masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kerta Raharja melalui Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan", Makna dari visi tersebut adalah :
1. Repeh-rapih Kertaraharja artinya masyarakat dan pemerintah hidup dalam kerukunan dengan dibarengi limpahan kesejahteraan.
2. Nilai-nilai, semangat, dan kaidah agama harus rnewarnai, menjiwai, dan menjadi ruh setiap kehidupan dan aktivitas pembangunan, pemerintahanan, dan kemasyarakatan di Kabupaten Bandung. Misi agama harus tercermin dan diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Budaya yang baik harus mewamai dan menjadi perekat kehidupan masyarakat Kabupaten Bandung. Falsafah dan nilai-nilai budaya merupakan modal bagi terwujudnya kerukunan dan keselarasan sosial. Budaya juga harus dapat menjadi identitas dan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang dan betah di Kabupaten Bandung.
4. Setiap aktivitas pembangunan harus berwawasan lingkungan agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang dan nyaman secara berkelanjutan.
5. Pembangunan Partisipatif artinya masyarakat, termasuk masyarakat paling bawah hams mendapat peran/ porsi yang lebih besar dalam proses pembangunan, dengan kata lain ikut berpartisipasi mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan pembangunan.
Berdasarkan Visi diatas, ditetapkan Misi Kabupaten Bandung sebagai berikut 1) Mewujudkan Pemerintah yang baik, bersih dan berkeadilan;
2) Menciptakan kondisi yang aman, tertib, damai dan dinamis;
3) Memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan;
4) Memberdayakan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia berdasarkan iman dan taqwa;
5) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi daerah.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan kemiskinan saat ini adalah:
1) Pengelolaan pemerintahan yang baik (good governance);
2) Otonomi daerah dan desentralisasi;
3) Upaya-upaya pembangunan yang lebih berpihak pada masyarakat.
Kebijakan dalam upaya penanggulangan kemislcinan di Kabupaten Bandung telah tertuang dalam Propeda Kabupaten Bandung tahun 2001 - 2005.
Secara garis besar upaya-upaya tersebut dapat di kelompokkan ke dalam 4 strategi kebijakan baik yang langsung maupun tidak langsung, diarahkan pada upaya-upaya sebagdi berikut :
1) Perluasan kesempatan dan peluang bagi orang-orang miskin berupa untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin untuk berkiprah dalam kegiatan ekonomi produktif yang ditindaklanjuti dan difasilitasi melalui :
Pengembangan ekonomi daerah yang berpihak pada ekonomi kerakyatan
Mendorong penciptaan lapangan kerja
Penyediaan bantuan permodalan
Penguatan otonomi di pedesaan
Peningkatan efektivitas penyediaan pelayanan publik.
2) Pemberdayaan masyarakat, yang dilaksanakan melalui upaya peningkatan kemampuan masyarakat agar dapat mendayagunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan, martabat dan keberdayaannya yang dilakukan dalam bentuk-bentuk:
Penguatan lembaga masyarakat
Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Pembangunan perdesaan
Penguatan usaha kecil dan menengah
Pengembangan prasarana dan sarana
3) Meningkatkan kemampuan yang dilaksanakan dalam upaya peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan melalui perbaikan kesehatan dan pendidikan, peningkatan keterampilan usaha, permodalan, inovasi teknologi dan informasi pasar.
4) Meningkatkan upaya perlindungan sosial yaitu memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat miskin. (fakir miskin, orang jompo, anak terlantar, cacat, kelompok masyarakat yang kena bencana alam, konflik sosial dan lain-lain).
1.5. Tujuan Strategi Pengurangan Kemiskinan
Strategi Penanggulangan Kemiskinan ini disusun dengan maksud untuk membangun komitmen penanggulangan kemiskinan dengan melakukan akselerasi gerakan partisipatif yang disemangati transparansi, partisipatif dan akuntabilitas.
Tujuan Strategi Pengurangan Kemiskinan ini adalah untuk mengarahkan seluruh dimensi kebijakan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bandung baik sektoral maupun lintas sektor dan sebagai langkah strategis dalam pelaksanaan kegiatan pengentasan kemiskinan di daerah.
1.6. Lingkup Strategi Pengurangan Kemiskinan
Strategi penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bandung selayaknya harus diselaraskan dengan visi dan misi, dalam rangka mewujudkan pencapaian visi dan misi tersebut. Adapun rancangan strategi penanggulangan kemiskinan yang dipandang mampu menjawab pencapaian visi dan misi dimaksud sementara ini adalah :
1) Mengintegrasikan data dasar kemiskinan di multi pelaku (eksekutif, legeslatif, masyarakat sipil dan bisnis) termasuk di dalamnya akurasi dan validasi data 2) Mereformasi kebijakan yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan agar tidak terjadi kontra produktif kebijakan
3) Mengembangkan jaringan antar pelaku penanggulangan kemiskinan 4) Mengembangkan inisiatif lokal
5) "Budgeting Power" Atau kekuatan pengalokasian anggaran yang berpihak terhadap penanggulangan kemiskinan 6) Menyamakan kriteria keluarga miskin di Kabupaten Bandung sebagai pedoman dalam penanggulangan kemiskinan 7) Mengembangkan nilai-nilai luhur atau warisan budaya dalam pemberdayaan keluarga miskin.
1.7. Sistematika
Strategi Pengurangan Kemiskinan Kabupaten Bandung, disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan tentang sebaran kemiskinan, perkembangan penanggulangan kemiskinan, posisi pengurangan kemiskinan dalam pengambilan kebijakan lingkup strategi pengurangan kemiskinan dan sistematika penulisan.
BAB II MASALAH KEMISKINAN DI KABUPATEN
menguraikan tentang suara komunitas, beberapa informasi penting merujuk pada kebijakan dan implementasi dan statistik dan problem statement
BAB III STRATEGI PENGURANGAN KEMISKINAN
Menguraikan tentang visi, misi, strategi, tujuan dan Indikator BAB IV RENCANA TINDAK PENGURANGAN KEMISKINAN
Mengutaikan tentang prasyarat dasar, jangka waktu, dan sistem pemantauan serta evaluasi BAB V PENUTUP
BAB II PASAL 2
MASALAH KEMISKINAN DI KABUPAT'EN 2.1 Suara Komunitas
Kemiskinan merupakan rnasalah dalam pembangwaan yang ditandai oieh pengangguran dan keterbelakangan yang kemudian meningkat menjadi ketimpangan, masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lainnyya yang mempunyai potensi lebih tinggi.
Penduduk miskin hidup dari bercocok tanam dan kegiatan yang berkaitan dengan pertanian, kemiskinan berkaitan dengan rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan, kemiskinan terjadi karen kaum perempuan harus menanggung beban keluarga dan peran ganda perempuan dalam kegiatan ekonomi.
Dilihat dari sisi waktu, kemiskinan terjadi kronis karena turun temurun, kemiskinan musiman terjadi karena pergeseran musim tanam dengan musim kemarau, terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan, yang menyebabkan banyak terjadi kesalahan.
Rendahnya taraf pendidikan komunitas miskin mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki. Rendahnya derajat kesehatan, menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa, pola konsumsi yang umumnya mengkonsumsi sedikit protein. Terbatasnya lapangan kerja, tidak memiliki aset berupa lahan produktif, menyebabkakn sumber pendapatannya hanya menjadi buruh musiman, buruh serabutan atau sebagai pekerja-pekerja tidak tetap dengan ditingkat upah yang tidak memadai bila dibandingkan dengan kebutuhan keluarga. Kondisi keterisolasian, secara ekonomi menyebabkan ketidakberdayaan, kondisi terpencil membuat komunitas miskin tidak mampu menjangkau sekolah, puskesmas, air bersih, listrik, lembaga ekonomi lokal dan sebagainya.
Berbagai upaya yang dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan melalui program intervensi, namun kenyataan yang dihadapi saat ini, bahwa kemiskinan itu masih tetap terjadi, persoalannya sekarang, apa penyebab kemiskinan pada tingkat komunitas.
Pada kluster di kecamatan Margaasih, Desa Cigondewah hilir, penyebab kemiskinan adalah komunitas yang berpendidikan rendah disebabkan tiidak amat sekolah SD, tidak mampu bayar dan tidak mempunyai motivasi yang tinggi dalam bidang pendidikan, informasi beasiswa bagi putra-putri kluster miskin tidak sampai, yang pad aakhirnya banyak terjadi putus sekolah SD, terutama pada kelas 4 (empat). Kepala keluarga berpenghasilan rendah, karena tidak memiliki pekerjaan tetap, kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, tidak memiliki keterampilan lain selain buruh tani, pada bidang pelatihan dan keterampilan, belum seluruhnya kepala keluarga miskin tersentuh oleh bidang pelatihan baik oleh pemerintah, LSM maupun swasta. Belum memahami pentingnya hubungan kesehatan keluarga dengan lingkungan, menyebabkan lingkungan nampak kumuh dua kotor, air bersih yang terbatas, air sumur yang tercemar dan menyusut saat musim kemarau menyebabkan sering terjangkit penyakit diare, Pola makan dan makanan yang dikonsumsi oleh sebagian komunitas miskin belum memenuhi standar gizi minimal, keluarga hanya rnenyediakan konsurnsi makan berupa nasi, kerupuk, ikan asin, atau mie rebus. Dan sisi kelembagaan yang dominan dekat dengan kluster miskin adalah RT, RW, dan Mesjid ( DKM) Pada kluster pertanian di Kecamatan Cililin Desa Situwangi, penyebab kemiskinan adalah komunitas yang berada pada lokasi terpencil dan tidak pernah dilibatkan dalam perencaanan pembangunan (rapat-rapat) di desa sehingga sebagian besar komunitas tidak mendapat informasi pemberdayaan
termasuk kesempatan dalam upaya peningkatan keterampilan melalui pelatihan-pelatihan. Pada kenyataannya sebagian komunitas miskin bekerja sebagai buruh tani, yang tidak memiliki keterampilan lain dikala musim kemarau (bukan musim tanam), dan komunitas umumnya mampu melaksanakan panen I (satu) kali dalam setahun karena lahan yang dimiliki adalah lahan tadah hujan dan tidak terjangkau air irigasi. Pendidikan kepala keluarga rendah dan sebagian Kepala Keluarga tidak dapat membiayai sekolah putra-putrinya, sehingga terjadi drop out SD pada kelas 4 ( empat), tidak melanjutkan sekolah ke SLTP, selain biaya pendidikan dianggap tinggi, biaya jajan anak tinggi juga karena lokasi sekolah cukup jauh. Hampir terjadi kemiskinan kronis atau turun temurun, komunitas miskin tidak memiliki harta, bahkan tidak juga memiliki harta warisan, sedangkan taraf pendidikan rendah yang mengakibatkan kesempatan kerja terbatas, pada akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga Bagi kaum perempuan perceraian dan ditinggal meninggal suami menjadikan peran ganda di rumah yang mengakibatkan harus menanggung beban keluarga Dan sisi kelembagaan, peran RT dan RW yang dianggap dekat dengan komunitas dan dapat membantu dalam kondisi terdesak baik dalam masalah ekonomi atau masalah keluarga yang lain.
Pada kluster pertanian di Kecamatan Cipatat Desa Cipatat penyebab kemiskinan adalah komunitas pada lokasi terpencil sehingga komunitas miskin tidak mampu menjangkau sarana dan prasarana publik seperti puskesmas, sekolah, informasi-informasi pembangunan. Akibatnya sebagian keluarga tidak mendapat pelayanan kesehatan dasar, tidak dapat menyekolahkan putra-putrinya ke SLTP, Kepala keluarga yang berpendidikan rendah menyebabkan rendahnya mendapat kesempatan kerja di luar buruh tani, sehingga sebagian kepala keluarga komunitas miskin menganggur pada saat musim kemarau. Di sisi lain lembaga keuangan lokal tidak dapat memberi pinjaman dana sebagai modal pengembangan buruh tani. Komunitas miskin tidak memiliki asset lahan pertanian yang produktif, sehingga lapangan kerja sangat bergantung pada pemilik lahan pertanian. Dad sisi kelembagaan peranan RT dan RW dianggap penting, karena dapat membantu memecahkan masalah keluarga, Komunitas miskin jarang sekali mengikuti acara keagamaan, seperti pengajian rutin.
Unsur puskesmas jarang sekali terjun ke komunitas miskin. Walaupun Puskesmas ada di Desa Cipatat Mitra Cai yang bertugas sekali dalam seminggu di desa, sangat diperlukan kehadirannya oleh komunitas miskin, karena selain memberikan informasi yang terkini, juga mereka dianggap sangat memahami masalah-masalah pengairan di komunitas miskin.
Pada kluster industi dan jasa/buruh (perdagangan) di Kecamatan Pacet Desa Mekarsari penyebab kemiskinan adalah komunitas berpendidikan rendah yang disebabkan tidak pemah hadirnya petugas lapangan yang memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan bagi masa depan. Kepala keluarga yang rentan terhadap penyakit menyebabkan tidak ada aktifitas ekonomi keluarga secara maksimal, banyak anak juga merupakan beban bagi keluarga yang harus menyediakan pemenuhan kebutuhan setiap harinya baik untuk pendidikan, kesehatan maupun pemenuhan ekonomi keluarga. lahan pertanian yang cukup luas bukan milik komunitas, sementara kekeringan lahan pertanian dimusim kemarau menyebabkan aktivitas keluarga sebagai buruh tani tidak dapat dilaksanakan, tidak ada solusi dari pemilik tanah pertanian untuk mengalihkan pekerjaan sebagai buruh tani. Lingkungan komunitas yang tidak higienis dikarenakan tidak rasionalnya jumlah MCK dibandingkan dengan jiwa yang ada pada satu komunitas, pemerintah menyediakan MCK satu buah untuk 527 jiwa pada RW 05 desa Mekarsari Kecamatan Pacet. Dan sisi kelembagaan peran RT dan RW dan DKM sangat penting dalam membantu memecahkan masalah komunitas, Bandar gorden diperlukan sebagai salah satu penyedia lapangan kerja bagi buruh tani yang tidak sedang bekerja di sawah.
Pada kluster peternakan di kecamatan Ibun Desa Laksana penyebab kemiskinan adalah komunitas tidak merailikisekerjaan tetap bahkan sebagian menganggur, kemalasan penyebab utama kemiskinan. Sebagian kepala keluarga berpendidikan rendah sehingga upaya dalam pangembangan usaha ternak sangat terbatas, peternak tidak mendapat kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan pengembangan ternak domba, sehingga domba yang dijual tidak melalui pemeliharaan yang maksimal dan domba dibeli dengan harga di bawah harga pasar (murah) yang pada akhirnya peternak komunitas miskin tidak dapat bersaing harga dengan peternak lainnya, disamping itu mereka tidak mendapat info pasar penjualan ternak. Kepala keluarga berpenghasilan rendah, sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan dasar anggota keluarganya. Buruh tani merupakan pekerjaan alternatif sebagian komunitas miskin di
samping kegiatan perambahan hutan. Dari sisi kelembagaan peran Mesjid (DKM), RT dan RW paling dominan dalam membantu permasalahan komunitas miskin, sedangkan komunitas lain terdapat kelompok ternak ekslusif yang belum dapat berintegrasi dengan peternak peternak miskin, Paraji mempunyai peranan penting dalam upaya membantu proses persalinan karena disamping murah biayanya dapat pula diangsur. Pelayanan kesehatan dasar bagi komunitas dilayani oleh Bidan desa yang tinggal di desa.
2.1.1. Identifikasi Lssu Cluster
TABEL IDENTIFIKASI ISU KOMUNITAS DI MASING-MASING CLUSTER ANALISIS KEMISKINAN PARTISIPATIF KABUPATEN BANDUNG
NO TIPOLOGI CLUSTER SAMPEL
KOMUNITAS PERNYATAAN ISSU
A Pertanian Cililin /Cipatat 1. Kesempatan untuk bekerja sebagai buruh tani yang merupakan mata pencaharian utama seMakin menurun karena (1) tidak ada yang menyuruh, (2) tidak memiliki alat bajak (mesin), (3) dan lahan dimiliki oleh orang luar, sementara orang luar tersebut menggunakan jasa buruh tani dari luar.
2. Komunitas tidak memiliki keterampilan alternatif selain bertani sementara pekerjaan tersebut tidak dilakukan sepanjang musim sehingga penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Tidak ada sarana angkutan umum selain ojeg menyebabkan transportasi anak untuk ke sekolah SLIP dianggap mahal sehingga sebagian besar keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah anaknya.
4. Terbatasnya sumber air bersih dan jamban keluarga menyebabkan sebagian besar keluarga di komunitas tersebut sering terjangkit penyakit diare.
5. Produktivitas lahan pertanian menurun karena saluran irigasi tidak berfungsi akibat (1) kebocoran, (2) pengendapan, dan (3) penurunan debit mata air di hulu sungai.
6. Saluran irigasi sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga (selain minum) tercemar oleh penambangan pasir di hulu sungai sementara tidak terdapat sumber air bersih lainnya.
7. Akses terhadap pelayanan kesehatan dasar masih rendah karena (1) petugas kesehatan jarang berkunjung, (2) posyandu tidak berfungsi, dan (3) jalan menuju puskesmas melalui medan yang
NO TIPOLOGI CLUSTER SAMPEL
KOMUNITAS PERNYATAAN ISSU
sulit.
8. Terbatasnya akses komunitas terhadap lembaga keuanga, menyebabkan komunitas sulit mendapatkan modal untuk mengolah lahan kebun pertaniannya.
B Perdagangan Pacet 1. Kurang memadainya penguasaan teknologi disain produk kerajinan tangan seperti boboko, hihid, dan makanan ringan menyebabkan hasil produksi tidak kompetitif sehingga tidak terjual secara cepat padahal hasil penjualan tersebut merupakan sumber pendapatan utama.
2. Adanya ketimpangan dalam sistem bagi hasil antara pemilik modal dan penjual garden
C Industri Masgaasih 1. Sulitnya mendapat air bersih karena lingkungan pemukiman tercemar oleh pembuangan limbah pabrik sejak tahun 1982 sehingga sumur-sumur penduduk berwarna kuning dan tidak dapat dipergunakan.
2. Perubahan fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor permukiman, menyebabkan peluang bekerja di sektor pertanian berkurang. Tidak ada alternatif keterampilan lain yang dapat dilakukan komunitas.
3. Sebagian komunitas miskin tidak menyekolahkan anaknya karena biaya pendidikan dianggap mahal, tidak mengetahui informasi peluang keringanan pendidikan dan rendahnya kesadaran sebagian keluarga tentang pentingnya pendidikan anak-anak.
4. Pencemaran lingkungan menyebabkan derajat kesehatan masyarakat menurun (mudah sakit-sakitan terutama muntaber dan penyakit kulit, gizi anak buruk).
D Peternakan Ibun 1. Kelompok peternak yang ada di sekitar peternak miskin kurang memberikan keuntungan kepada peternak miskin sementara berbagai bantuan dan pemerintah hanya ditujukan kepada kelompok peternak tersebut.
2. Peternak miskin rentan menjual temaknya meski dengan harga rendah karena terdesak kebutuhan. Tidak ada lembaga keuangan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak.
3. Domba tangkas milik peternak miskin hanya bisa dijual kepada pembeli tertentu dengan harga jual rendah karena informasi pasar tertutup.
Penggabungan Issue Cluster
TABEL PENGGABUNGAN ISU-ISU KOMUNITAS DI MASING-MASING CLUSTER ANALISIS KEMISKINAN PARTISIPATIF KABUPATEN BANDUNG
NO TIPOLOGI/
KOMUNITAS PERNYATAAN ISSU PENGGABUNGAN ISSU ANTAR KOMUNITAS
Al, A2, A5, C2
A.1. Kesempatan untuk bekerja sebagai buruh tani yang merupakan mata pencaharian utama semakin menurun karena tidak ada yang menyuruh, tidak memiliki alat bajak (mesin) dan lahan dimiliki oleh luar, sementara orang luar tersebut menggunakan jasa buruh tani dari luar.
A.2. Komunitas tidak memiliki keterampilan alternatif selain bertani sementara pekerjaan tersebut tidak dilakukan sepanjang musim sehingga penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
A.5 Produktivitas lahan pertanian menurun karena saluran irigasi tidak berfungsi akibat kebocoran, pengendapan, dan penurunan debit mata air di hulu sungai.
C.2. Perubahan fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor pemukiman, menyebabkan peluang bekerja lain yang miliki komunitas.
1. Kesempatan bekerja di sektor pertanian berkurang karena (1) adanya perubahan fungsi lahan dari sektor pertanian ke pemukiman dan industri, (2) perubahan kepemilikan lahan yang diikuti penggunaan jasa pengelola lahan tersebut, dan (3) pekerjaan di sektor pertanian tersebut tidak selalu ada sepanjang musim karena saluran irigasi tidak berfungsi.
2. Komunitas tidak memiliki keterampilan alternatif selain bertani sementara pekerjaan tersebut tidak dilakukan sepanjang musim sehingga penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Tidak ada sarana angkutan umum selain ojeg menyebabkan transportasi anak untuk ke sekolah SLTP dianggap mahal sehingga sebagian besar keluarga meinutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah anaknya.
4. Sebagian komunitas miskin tidak menyekolahkan anaknya karena biaya pendidikan dianggap mahal, tidak rnengetahui informasi peluang keringanan pendidikan dan rendahnya kesadaran sebagian keluarga tentang pentingnya pendidikan anak-anak
5. Terbatasnya sumber air bersih dan jamban keluarga menyebabkan sebagian besar keluarga di komunitas tersebut sering terjangkit penyakit
A3, C3
A.3. Tidak ada sarana angkutan umum selain ojeg menyebabkan transportasi anak untuk ke sekolah SLTP dianggap mahal sehingga sebagian besar
6. Pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik dan penambangan pasir menyebabkan komunitas sulit mendapat air bersih dan derajat kesehatannya menurun
NO TIPOLOGI/
KOMUNITAS PERNYATAAN ISSU PENGGABUNGAN ISSU ANTAR KOMUNITAS
keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah anaknya.
C.3. Sebagian komunitas miskin tidak menyekolahkan anaknya karena biaya pendidikan dianggap mahal, tidak mengetahui informasi peluang keringanan pendidikan dan rendahnya kesadaran sebagian keluarga tentang pentingnya pendidikan anak-anak.
(mudah sakit-sakitan terutama muntaber, dan penyakit kulit, gizi anak buruk).
7. Akses terhadap pelayanan kesehatan dasar masih rendah karena (1) petugas kesehatan jarang berkunjung, (2) posyandu tidak berfungsi, dan (3) jalan menuju puskesmas melalui medan yang sulit.
8. Terbatasnya akses komunitas terhadap lembaga keuangan, menyebabkan komunitas sulit mendapatkan modal kerja (baik pertanian maupun peternakan) dan sulit memenuhi kebutuhan yang bersifat mendesak.
9. Kelompok peternak yang ada di sekitar peternak miskin kurang memberikan keuntungan kepada peternak miskin sementara berbagai bantuan dan pemerintah hanya ditujukan kepada kelompok peternak tersebut.
10. Harga jual domba tangkas milik peternak miskin rendah karena informasi pasar tertutup dan penjualan dilakukan dalam keadaan terdesak.
11. Kurang memadainya penguasaan teknologi disain produk kerajinan tangan seperti boboko, hihid, dan makanan ringan menyebabkan hasil produksi tidak kompetitif sehingga tidak terjual secara cepat padahal hasil penjualan tersebut merupakan sumber pendapatan utama
12. Adanya ketimpangan dalam sistem bagi hasil antara pemilik modal dan penjual gorden.
C1, C4, A6
C.1 Sulitnya mendapat air bersih karena lingkungan pemukiman tercemar oleh pembuangan limbah pabrik sejak tahun 1982, sehingga sumur-sumur penduduk berwarna kuning dan tidak dapat dipergunakan.
C.4. Pencemaran lingkungan menyebabkan derajat kesehatan masyarakat menurun (mudah sakit- salcitan terutama muntaber dan penyakit kulit, gizi anak buruk).
A 6. Saluran irigasi sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga (selain minum) tercemar oleh penambangan pasir di hulu sungai dan tidak terdapat sumber air bersih lain
A.4
A.4. Terbatasnya sumber air bersih dan jamban keluarga menyebabkan sebagian besar keluarga di komunitas tersebut sering terjangkit penyakit diare.
A.7
A.7. Akses terhadap pelayanan kesehatan dasar masih rendah karena (1) petugas kesehatan jarang berkunjung, (2) posyandu tidak berfungsi, dan (3)
NO TIPOLOGI/
KOMUNITAS PERNYATAAN ISSU PENGGABUNGAN ISSU ANTAR KOMUNITAS
jalan menuju puskesmas melalui medan yang sulit
A.8, D2
A.8. Terbatasnya akses komunitas terhadap lembaga keuangan, menyebabkan komunitas sulit mendapatkan modal untuk mengolah lahan pertaniannya.
D.2. Peternak miskin rentan menjual ternaknya meski dengan harga rendah karena terdesak kebutuhan.
Tidak ada lembaga keuangan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak.
D1, D3
D.1. Kelompok peternak yang ada di sekitar peternak miskin kurang memberikan keuntungan kepada peternak miskin sementara berbagai bantuan dan pemerintah hanya ditujukan kepada kelompok peternak tersebut.
D.3 Domba peternak miskin hanya bisa di jual kepada pembeli tertentu dengan harga jual rendah karena informasi pasar tertutup.
B
B. Kurang memadainya penguasanan teknologi disain produk dan keterampilan memproduksi kerajinan tangan seperti boboko, hihid, dan makanan ringan menyebakan basil produksi tidak kompetitif sehingga tidak terjual secara cepat padahal hasil penjualan tersebut merupakan sumber pendapatan utama.
2.2. Beberapa Informasi Penting (Profil Sosial dan Ekonomi)
Pembangunan Kabupaten Bandung yang bertumpu pada peran serta masyarakat diselenggarakan secara merata di seluruh kecamatan dan desa.
Kegiatan pembangunan diarahkan pada peningkatan produktivitas yang memberikan manfaat besar bagi kemanusiaan, kesejahteraan rakyat yang dilakukan dengan semangat kekeluargaan yang bercirikan kebersamaan dan gotong royong melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Kemiskinan merupakan masalah pembangunan di berbagai bidang yang mencakup banyak segi. Karena masalah kemiskinan adalah bagian dari masalah yang harus diatasi dengan sungguh-sungguh baik masalah ketimpangan antar sektor maupun antar golongan penduduk. Oleh sebab itu masalah kemiskinan tidak hanya diatasi oleh pemerintah saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama segenap pelaku ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam rangka itu penanggulangan kemiskinan harus ditempatkan sebagai sebuah gerakan yang melibatkan semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
2.2.1. Profil Sosial dan Ekonomi Kabupaten Bandung
Secara Administratif Kabupaten Bandung berbatasan Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kota Cimahi dan Kota Bandung. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2001 dan pemisahan Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dibagi ke dalam 45 Kecamatan, 432 Desa dan 8 Kelurahan
Kondisi sosial dan ekonomi Kabupaten Bandung dijelaskan dalam uraian berikut:
a.Sosial
Kondisi krisis multi dimensi yang sampai sekarang belum tertanggulangi secara baik, juga menjadi pemicu semakin kompleksnya masalah sosial budaya yang dihadapi masyarakat. Ditambah pula dengan tingginya laju pertambahan penduduk dan banyaknya tenaga kerja yang mengalami PHK. Laju pertambahan penduduk tahun 2004 berdasarkan sensus BPS (Badan Pusat Statistik) sebesar 3,20%, jauh lebih besar dari angka diseluruh Jawa Barat, sehingga pada tahun 2004 penduduk Kabupaten Bandung mencapai 4.145.967 jiwa. Kejadian PHK yang meningkat dalam kurun waktu tahun 1997 — 2000 juga menjadi faktor pendorong kompleksitas masalah akibat meningkatnya pengangguran. Sebagai gambaran, pada tahun 2003 terdapat 215.009 orang penganggur, dan pada tahun 2004 menjadi 285.910 orang, hal ini mengidentifikasikan bahwa masih belum pulihnya perekonomian di negara kita ini, sehingga tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang mengalami kebangkrutan.
b.Pendidikan
Dilihat secara makro, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kabupaten Bandung berada pada angka 68,52, jadi mengalami peningkatan dibanding tahun 2003 yaitu 67,50. Angka ini masih jauh dari angka ideal yaitu lebih dari 80 yang diupayakan untuk terus ditingkatkan, sampai tahun 2005 diharapkan akan dicapai angka IPM 72,25 yang dilalaikan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai bidang kehidupan. Pembangunan bidang pendidikan merupakan pembangunan yang sangat strategis dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Data Suseda 2004 menunjukkan bahwa dari jumlah 3 314.885 jiwa penduduk usia 10 tahun ke alas, tercatat sebanyak 57,46 % penduduk berpendidikan setingkat SD (tidak tamat dan tamat), 22,10 % tamat SLTP dan sederajat, 16,24 % tamat SLTA dan sederajat serta hanya 3,14 % tamstan Diploma, SI, S2 dan S3.
Kondisi yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut:
Angka Melek Huruf (AMH) sebesar 98,30 %, artinya masih terdapat 1,70 % penduduk usia 10 tahun ke alas yang belum memiliki kepandaian membaca dan menulis baik huruf latin maupun huruf yang lainnya.
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sekitar 8,03 Tahun, artinya penduduk Kabupaten Bandung rata-rata hanya bersekolah selama 8 tahun.
Angka Partisipasi Murni (APM) SD 93,18 %, SLTP 65,44 % dan SLTA 37,09 %, sedangkan Angka Partisipasi Kotor (APK) SD 104,33 %, SLTP 79,64 % dan SLTA 46,55 %.
c. Kesehatan
Pembangunan bidang kesehatan erat kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas amber daya manusia. Upaya tersebut dilaksanakan sejak dari calon ibu, bayi dalam kandungan, bayi, anak hingga remaja dan usia lanjut. Potensi di bidang kesehatan yang climiliki Kabupaten Bandung sampai dengan tahun 2003 adalah Puskesmas DTP (Dengan Tempat Perawatan) 10 buah dan 82 buah Puskesmas TTP (Tanpa Tempat Perawatan), Puskesmas Pembantu (Pustu) 104 buah, Puskesmas Keliling 37 buah, 5.095 buah Posyandu dan 2 buah RS Daerah. Untuk jumlah tenaga kesehatan di dalam puskesmas sendiri adalah dokter umum sebanyak 140 orang, dokter gigi 69 orang, perawat 287 orang, bidan 296 orang, serta tenaga lainnya 873 orang terdiri dari apoteker, paramedis perawatan dan non perawatan, pembantu paramedis dan tenaga non medis. Sedangkan untuk jumlah tenaga kesehatan di luar puskesmas sendiri adalah dokter praktek 471,bidan praktek 470, dan dukun bayi 1.716 orang (BPS, Kabupaten Bandung dalam Angka 2003).
Beberapa indikator yang menjadi indikator pembangunan bidang kesehatan antara lain Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH). Menurut hasil Suseda tahun 2003 AKB Kabupaten Bandung (tanpa Cimahi) sebesar 47,70 jiwa per 1.000 kelahiran dan turun kembali menjadi 46,37 jiwa per 1.000 kelahiran pada tahun 2004, sedangkan AHH Tahun 2003 tercatat sebesar 65,40 tahun dan meningkat sedikit pada tahun 2004 menjadi 65,85 tahun Dibandingkan dengan rata-rata Jawa Barat hasil tersebut masih lebih baik dan hal tersebut menunjukkan telah terjadi upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat (BPS, Suseda 2003 dan 2004).
Tabel 1
Indikator Makro Sosial Kabupaten Bandung
NO URAIAN Tahun 2003 Tahun 2004
1. AHH 65,40 65,85
2. AKB (jiwa per 1.000 kelahiran) 47,70 46,37
3. AME1 (%) 98,14 94,66
4. APM SD (%) 91,21 93,18
5. APM SLIP (%) 64,95 65,44
6. APM SMU (%) 14,95 37,09
7. APK SD (%) 105,33 104,33
8. APK SLIP (%) 64,95 79,64
9. APK SMU (%) 20,77 46,55
10. Jumlah Penduduk 4.017.582 4.145.967
11. LPP (%) 2,99 3,20
12. Daya Beli Masyarakat (Rp.) 530.000 534.320
Sumber Suseda Kab. Bandung 2003-2004, BPS Kab. Bandung
d. Ekonomi
Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis pelaksanaan pembangunan selama kurun waktu 7 (tujuh) tahun yaitu mulai tahun 1993 sampai dengan tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung telah menunjukkan intensitas yang meningkat dan telah terjadi berbagai perubahan dan/atau pergeseran kontribusi per sektor lapangan usaha yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang multi dimensional (politis, sosial, ekonomi/moneter dan hukum). Kontribusi sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier menunjukkan kontribusi yang makin besar, sektor primer (pertanian, pertambangan dan penggalian) menunjukkan kontribusi yang semakin berkurang, kecuali ketika terjadi puncak krisis ekonomi pada tahun 1998.
Program pembangunan yang telah menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi telah memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung. Hal ini dapat dilihat antara lain melalui indikator makro ekonomi yaitu PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan LPE (Laju.
Pertumbuhan Ekonomi). Sebagai gambaran PDRB Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku pada tahun 2003 sebesar Rp 23,84 triliyun, dan tahun 2004 sebesar Rp 26,98 triliyun, dengan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) pada tahun 2003 yaitu 5,07 % dan tahun 2004 sebesar 5,23 %.
Turunnya nilai tukar rupiah, sebagai akibat dampak krisis ekonomi berkepanjangan secara nasional yang terjadi sejak tahun 1998, menyebabkan terjadinya kelesuan kegiatan ekonomi yang ditandai dengan menurunnya investasi yang dilakukan dunia usaha. Selain itu juga menyebabkan terjadinya ketimpangan pendapatan antar golongan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah yang sangat memerlukan perhatian pemerintah daerah.
Tabel 2.
Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2003 – 2004
No. Uraian Tahun 2003 Tabun 2004
1. PDRB atas dasar harga berlaku (Juta Rupiah) 23.836.633,14 26.957.348,00 2. PDRB atas dasar konstan 1993 (Juta Rupiah) 6.755.483,95 7.108.586,51
3. LPE (%) 5,07 5,23
Sumber : PDRB Semester Tahun 2004, BPS Kab. Bandung 2004.
Grafik 2.1
Kontribusi Sektor terhadap PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004 (Persen)
Sumber : Pengolahan data deal PDRB Semester Tahun 2004, BPS Kab. Bandung 2004
Dari grafik di atas terlihat bahwa kontribusi sektor terhadap PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah : Sektor Industri Pengolahan 53,33%; Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 17,57%; Sektor Pertanian 9,42%; Sektor Jasa 5,53%, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 5,16%; Sektor Listrik Gas dan Air Minum 3,48%; Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2,27%; Sektor Pertambangan dan Penggalian 0,73%;
dan Sektor Bangunan/Kontruksi 2,51%.
Di bidang industri kecil dan menengah, Kabupaten Bandung juga memiliki potensi yang cukup baik. Jumlah industri kecil yang adalah 20.846 unit terdiri dari jenis industri Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) sebanyak 6.400 unit, Industri Logam, Mesin dan Kimia (ILMK) sebanyak 7.635 unit dan Industri Aneka (IA) sebanyak 6.811 unit. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan perekonomian di Kabupaten Bandung antara lain di sektor-sektor ekonomi seperti di Sektor Industri Kecil dan Sektor Pertanian, antara lain permasalahan pemasaran hasil-hasil produksi pertanian dan basil industri kecil, sulitnya perolehan permodalan, masih perlunya peningkatan kegiatan ekonomi produktif dan pengembangan lembaga-lembaga keuangan di pedesaan.
Grafik 2.2
Prosentase Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2004
Sumber : Suseda Kab. Bandung 2004, BPS Kab. Bandung
Dari grafik tersebut terlihat bahwa mata pencaharian penduduk Kabupaten Bandung bekerja pada : Sektor Industri 26.98%; Sektor Pertanian 26,02%;
Sektor Perdagangan 19,01%; Sektor Jasa 11,09%; Sektor Angkutan dan Komunikasi 9,14%; Sektor Konstruksi 6,11%, Sektor Keuangan 1,06%; Sektor Pertambangan dan Penggalian 0,32%; dan Sektor Listrik, Gas dan Air 0,27%.
e. Fisik Infrastruktur
Untuk menunjang kegiatan perekonomian, baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan, maka peran pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan menjadi sangat penting. Total panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung adalah 3.455,28 Km terdiri dari jalan nasional 85,42 Km dengan kondisi 100 % baik; jalan propinsi 202,6 Km dengan kondisi 90 % baik, jalan kabupaten 1.297,92 Km dengan rata-rata hanya sekitar 56,22 % yang kondisinya baik, dan jalan desa 1.869,88 Km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 41,61 % yang kondisi baik. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki Kabupaten Bandung, sampai dengan tahun 2005 ditargetkan sekitar 958,61 Km jalan dapat ditangani atau hanya 73,86 % dari total panjang jalan yang dimiliki Kabupaten Bandung.
Sedangkan permasalahan umum yang dihadapi Kabupaten Bandung meliputi beberapa aspek : a. Aspek ekonomi :
Krisis ekonomi yang diikuti krisis multi dimensi membawa danapak terhadap perekonomian masyarakat Kabupaten Bandung : 1) Meningkatnya angka penggangguran akibat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),
2) Ketidakseimbangan antara lapangan kerja yang tersedia dengan jurnlah angkatan kerja dan bertambahnya jumlah penduduk rniskin secara signifikan.
3) Selanjutnya, dalam kegiatan ekonomi di daerah sampai saat ini belum tercipta pola kemitraan usaha yang saling menguntungkan sehingga terjadi kesenjangan antara pelaku ekonomi.
b. Aspek Kependudukan dan Sosisd Budaya Pendidikan:
1) Masih banyaknya sarana dan prasarana sekolah yang rusak. Sampai akhir tahun 2002 terdapat sebanyak 714 buah (31,49%) sarana sekolah dasar dalam keadaan rusak berat.
2) Masih kurang dan belum meratanya tenaga pengajar. Pada Tahun 2003 jumlah guru SD di Kabupaten Bandung sebanyak 15.979 orang terdiri dari; Guru Tetap SDN/S 14.316 orang dan Guru Tidak Tetap 1.663 orang. Namun demikian penyebaran jumlah guru tersebut tidak merata terutama yang terdapat di sekolah wilayah pedalaman.
3) Masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
4) Belum mampunya pendidikan formal menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai sesuai potensi yang dimiliki daerah
Kesehatan :
1) Masih kurangnya sarana dan prasarana pelayanan dasar dan rujukan antara lain perlunya peningkatan status Puskesmas menjadi RSUD dan RSUD tipe C menjadi tipe B.
2) Masih kurangnya tenaga dokter yang melayani masyarakat, terutama masyarakat di daerah-daerah pedalaman dan belum seluruh desa memiliki bidan desa.
3) Masih cukup tingginya angka persalinan bayi yang ditolong oleh tenaga dukun. Data Suseda 2004 menunjukkan bahwa 38,96 % penolong waktu lahir pertama adalah dukun 59,10 % oleh dokter/bidan/tenaga medis lain; dan 1,94 % oleh famili/ lainnya
4) Masih terdapat sekitar 11 % balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang (KEP Total).
5) Masih rendahnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin melalui Kartu Sehat terutama pelayanan kesehatan rujukan
6) Masih rendahnya kualitas kesehatan lingkungan, ditandai dengan masih banyaknya masyarakat yang hidup di lingkungan yang kurang sehat. Hal tersebut dapat mempengaruhi usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat, mengingat kondisi kesehatan lingkungan yang buruk memberikan peluang terhadap terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), Diare, Demam Berdarah dan Tuberculosis.
7) Masih perlunya meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan pemenuhan obat berkualitas untuk masyarakat.
Sosial budaya :
1) Deprivatisasi relatif yaitu perasaan terisolasi, tersisihkan atau tertinggal oleh orang lain dan kalangan tertentu dalam masyarakat, yang terjadi akibat tidak dapat mengikuti laju pertumbuhan dan kesulitan menyesuaikan diri dengan kondisi itu.
2) Dislokasi yaitu perasaan tidak punya tempat dalam tatanan sosial yang sedang berkembang.
3) Disorientasi yaitu perasaan tidak mempunyai pegangan hidup akibat kondisi yang ada selama ini tidak lagi dapat dipertahankan karena terasa tidak cocok.
4) Negativisme yaitu perasaan yang rnendorong pandangan ke arah yang serba negatif kepada suasana mapan, dengan sikap-sikap tidak percaya, curiga, bermusuhan, melawan dan sebagainya.
c. Aspek Agama
Masyarakat Kabupaten Bandung seluruhnya merupakan umat beragama, dan sebagian besar menganut agama Islam. Adanya krisis multi dimensi dan perubahan-perubahan yang berkembang sangat pesat akibat globalisasi dan arus informasi. dikthawatirkan dapat mengusik kehidupan dan kerukunan antar umat beragarna, serta menyebabkan krisis akhlak di dalam tatanan kehidupan termasuk dalam proses kegiatan pembangunan. Sehubungan dengan itu perilu adanya peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan proses kehidupan berhangsa dan bernegara.
Selain itu, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang lebih religius, yang menjadi permasalahan lainnya adalah belum optimalnya penanganan dalam meningkatkan kesadaran pemahamanan keagamaan melalui bidang pendidikan formal (sekolah) maupun non formal (luar sekolah).
d. Aspek Hukum
Masih merebaknya penyakit-penyakit masyarakat seperti judi, miras, prostitusi, pelanggaran HAM, pelanggaran ketertiban umum dan lain-lain merupakan kondisi yang dihadapi dan cenderung semakin meningkat dengan adanya krisis multi dimensi dan euphoria reformasi. Disisi lain, masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hukum serta lemahnya penegakan hukum, cenderung memperparah kondisi yang ada.
e. Aspek Pembangunan Fisik dan Tata Kota
Pembangunan fisik dan tata kota masih belum seimbang dengan konsep tata ruang, sehingga menimbulkan dampak negatif antara lain kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas yang cukup tinggi terutama di daerah Majalaya, Dayeuhkolot, Banjaran, Soreang, Sayati, dan Padalarang. Terjadinya penyerobotan lahan dan ketidakteraturan dalam pengisian ruang ditambah dengan kurang representatifnya antara pembangunan pasar dan terminal semakin menambah parahnya kondisi tersebut. Masalah krusial lainnya adalah masih terjadinya kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan pedesaan.
f. Aspek Lingkungan Hidup
Kegiatan pembangunan belum sepenuhnya memperhatikan pada aspek lingkungan di sekitanya. Hal ini tergambar dengan masih banyaknya pencemaran lingkungan akibat limbah yaang dihasilkan oleh kegiatan industri, rumah tangga, dan kegiatan ekonomi lainnya. Selain itu permasalahan lingkungan yang dihadapi adalah masih banyaknya lahan kritis, sering terjadinya bencana alam berupa banjir, longsor dan penurunan daya dukung lingkungan.
g. Aspek Penyelenggaraan Pemerintahan
1) Untuk meningkatkan partisipasi dan kerjasama masyarakat dalam pembangunan, telah dikeluarkan Keputusan Bupati Bandung No 23 Tahun 2003 tentang Musyawarah Perencanaan Kegiatan Tahunan (MPKT) Kabupaten, Kecamatan dan Kelurahan dan Keputusan Bupati Bandung No. 24 Tahun 2003 tentang Pedoman Musyawarah Perencanaan Kegiatan Tahunan (MPKT) Desa di Kabupaten Bandung yang mengatur perencanaan pembangunan yang lebih partisipatif dan transparan. Permasalahan yang dihadapi antara lain Pedoman tersebut belum tersosialisasikan secara luas baik kepada Dibale di lingkup Pemerintah Kabupaten Bandung, maupun di tingkat Kecamatan, Kelurahan dan Desa.
2) Untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui peningkatan kemandirian kecamatan, kelurahan dan desa, sedang dilakukan revisi/kaji ulang terhadap Keputusan Bupati Nomor 21 Tahun 2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Bupati kepada Camat, serta dirumuskannya Konsep Devolusi Kewenangan dan Anggaran ke Tingkat Desa. Sampai saat ini, kendala yang dihadapi antara lain masih kurangnya sarana dan prasarana kerja di Kecamatan, masih perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di Kecamatan,
serta dipenuhinya Standar Pelayanan Minimum bagi pelayanan publik.
3) Untuk meningkatkan pemerintahan yang lebih transparan, partisipatif dan akuntabel, perlu dilakukan sosialisasi Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2004 Tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Bandung beserta petunjuk pelaksanaan dan teknisnya kepada Dibale di lingkup Pemerintah Kabupaten Bandung, sampai tingkat kecamatan dan desanya, serta keseluruh lapisan dan tingkatan masyarakat baik individu maupun kelompok.
4) Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintah, perlu dilakukan penataan struktur organisasi, peningkatan kualitas SDM melalui diktat fungsional, peningkatan pelaksanaan pengawasan publik, serta pemanfaatan sistem informasi manajemen terpadu.
2.3. Perumusan Masalah Mendasar
TABEL PERUMUSAN MASALAH MENDASAR
ANALISIS KEMISKINAN PARTISIPATIF KABUPATEN BANDUNG
NO ISU KEBIJAKAN DAN
IMPLEMENTASI
DATA STATISTIK/
RUJUKAN LAIN PERMASALAHAN MENDASAR 1 Kesempatan bekerja di sektor
pertanian berkurang karena (1) adanya perubahan fungsi lahan dari sektor pertanian ke permukiman dan industri, (2) perubahan kepemilikan lahan yang diikuti penggunaan jasa pengelola lahan tersebut, dan (3) pekerjaan di sektor pertanian tersebut tidak selalu ada sepanjang musim karena saluran irigasi tidak berfungsi.
1. Ada kebijakan tentang pengembangan pertanian berbasis agribisnis.
2. Ada program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K)
trend PDRB Sektor Pertanian dari tahun ke tahun dan trend perubahan luas lahan pertanian dari tahun ke tahun.
Penelitian UPI & Bappeda
Harga jual lebih rendah daripada ongkos produksi pertanian. Rp.
900: Rp. 1300.
Fungsi lahan pertanian menurun 5%
Sebagian kebijakan pembangunan sektor pertanian belum optimal sementara alih fungsi lahan tidak bisa dihindari, di lain pihak sebagian nilai basil produksi pertanian lebih rendah di banding sektor lain sehingga pelaku usaha tani sebagian kurang berminat di bidang pertanian.
2 Komunitas tidak memiliki keterampilan alternatif selain bertani sementara pekerjaan tersebut tidak dilakukan sepanjang musim sehingga penghasilannya
1. Ada kebijakan untuk memperluas kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan.
2. Ada beberapa program pelatihan yang diselenggarakan
43 kali Pelatihan Disnaker th 2000, 21 kali pelatihan th 2001, dan 18 kali pelatihan th 2002.
Frekuensi pelatihan untuk petani miskin hanya satu kali dalam
Program-program pemerintah yang ditujukan kepada petani, belum triemberilcan basil yang optimal bagi para petani karena program- progam tersebut tidak dilakukan
NO ISU KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI
DATA STATISTIK/
RUJUKAN LAIN PERMASALAHAN MENDASAR tidak cukup memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
oleh berbagai dinas, diantaranya oleh Disnaker dan Dinas Pertanian khusus untuk petani.
3. Ada program untuk menjadikan suatu daerah pertanian menjadi sentra agrobisnis tertentu.
setahun secara komp rehensif dan
berkelanjutan
3 Tidak ada sarana angkutan umum selain ojeg menyebabkan transportasi anak untuk ke sekolah SLTP dianggap mahal sehingga sebagian besar keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah anaknya.
Ada SLTP terbuka bagi daerah yang jauh dan lokasi induk
Jumlah SLTP terbuka dari 48 (1999) menjadi 31 (2002). Minimal 1 SLTP terbuka 60 siswa- siswa.
APM SLTP 54,38% th 2003 sementara APM SD tahun yang sama 95,22%
Masih banyak anak usia SLTP di daerah yang jangkauannya jauh putus sekolah meskipun ada kebijakan SLTP terbuka karena kurangnya sosialisasi tentang keberadaan SLTP terbuka tersebut 4 Sebagian anak komunitas miskin
putus sekolah karena (1) biaya penunjang pendidikan dianggap mahal (buku, seragam, dll) (2) tidak mengetahui informasi peluang keringanan pendidikan, dan (3) rendahnya kesadaran sebagian keluarga tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
1. Ada Kebijakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.
2. Ada dewan sekolah.
3. Ada beberapa program penerima bantuan beasiswa dari pemerintah.
4. Tim wajar dikdas di Kabupaten Bandung belum direvisi setelah adanya UU Otda
APM SD-MI 95,22 % th 2003 APK SD-MI 102,92% th 2003
Pemberian beasiswa untuk SD 13.732 orang th 2003, dan beasiswa prestasi 500 orang th 2003 menurun dibanding tahun 2002 yaitu 6.793 beasiswa SD dan prestasi 425.
Belum direvisinya Tim Wajar
Dikdas Kab. Bandung
menyebabkan berbagai kinerja tidak maksimal sementara banyak permasalahan pendidikan diantaranya banyak anak SD putus sekolah.
5 Terbatasnya sumber air bersih dan jamban keluarga menyebabkan sebagian besar keluarga di komunitas tersebut sering terjangkit penyakit diare.
1. Ada kebijakan mengembangkan budaya hidup bersih dan sehat dan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan melalui Program Bandung Sehat
2. Ada program peningkatan pelayanan sanitasi dasar
Data cakupan layanan air bersih 64% th 2002
Data cakupan jamban keluarga 57% th 2002
Sarana pembuangan air limbah 36% th 2002
Rendahnya efektiviras program pemerintah dalam pembudayaan PHBS yang terkait dengan penularan penyakit diare dan rendahnya efektifitas program peningkatan kesehatan Iingkungan menyebabkan tingginya penyakit
NO ISU KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI
DATA STATISTIK/
RUJUKAN LAIN PERMASALAHAN MENDASAR dengan perbaikan sarana air
bersih dan jamban keluarga baik kualitas dan kuantitasnya.
3. Kebijakan khusus untuk pencegahan, Pemberantasan dan penanggulangan penyakit diare.
Data jumlah kasus penyakit
diare meningkat: 82.396 kasus th 2001 dan 135.001 kasus tahun 2002.
diare pada masyarakat miskin.
6 Pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik dan penamhangan galian C menyebabkan komunitas selit mendapatkan air bersih dan derajat kesehahtannya menurun.
1. Ada kebijakan penyelamatan dan perbaikan SDA dan lingkungan melalui upaya konsistensi pemanfaatan ruang sesuaui dengan RTRW, rehabilitasi lahan, dan konservasi.
2. Ada program Citarum Bergetar dan Bandung Sehat
3. Ada kebijakan keharusan mempunyai IPAL bagi industri.
BOD 136 ton/hari, limbah industri 117.000 m3/hari, limbah domestik 435.000 m3/hari, dan DO kurang dari sama dengan 0 mg/liter.
Jumlah Penggalian Penambangan Pasir 286.484 Ton Tahun
Jumlah Industri memiliki IPAL 28 buah dari 186 perusahaan
Penegakkan hukum yang berkaitan dengan lingkungan hidup belum dilaksanakan secara kepatuhan dan ketaatan masyarakat industri
dalam melaksanakan
peraturan-peraturan mengenai lingkungan hidup.
7 Akses terhadap pelayanan kesehatan dasar masih rendah karena (1) petugas kesehatan jarang berkunjung, (2) posyandu tidak berfungsi optimal, dan (3) jalan menuju puskesmas melalui medan yang sulit.
1. Tidak ada kebijakan peningkatan pengembangan sistem dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat baik ketenagaan maupun saran dan prasarana melalui pemberian gaji bidan desa di wilayah terpencil lebih tinggi dari pada di wilayah reguler dan biaya operasional yang tinggi untuk puskesmas di daerah terpencil.
2. Ada program revitalisasi Posyandu yang dilakukan secara bertahap
Rasio Desa dan Bidan desa:
436:324, Desa tidak ada Posyandu 124.
92 Puskesmas, 5345 Posyandu, dan 13.446 Kader
Akses keterjangkauan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat masih kurang khususnya di daerah sulit terjangkau. Tidak terdapat kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif dan biaya operasional khusus yang lebih tinggi untuk petugas di daerah sulit terjangjau tersebut
NO ISU KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI
DATA STATISTIK/
RUJUKAN LAIN PERMASALAHAN MENDASAR 3. Ada program pelatihan Kader
Kesehatan
4. Ada program PKPSBBM 8 Terbatasnya akses komunitas
terhadap lembaga keuangan, menyebabkan komunitas sulit mendapatkan modal kerja (baik pertanian maupun peternakan) dan memenuhi kebutuhan yang bersifat mendesak.
1. Ada kebijakan untuk mendorong penguatan lembaga keuangan di daerah khususnya baik
perbankan maupun
nonperbankan yang dapat memfasilitasi bagi daya dukung permodalan kerakyatan melalu program pengembangan usaha perdagangan, modal bergulir, dan pengembangan pola syariah.
2. Ada kebijakan meningkatkan pendapatan petani kecil melalui kegiatan Progra Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K)
Data koperasi Kelas A 75 unit. Ada BKM P2KP di 155 desa.
Ada Unit Pengelola Keuangan (UPK ) di 10 kecarnatan Program PPK
Ada lembaga BPR 17 unit kelompok penerima P4K
Berbagai lembaga keuangan yang ada di tingkat lokal tidak dapat diakses secara optimal terutama oleh komunitas miskin karena mekanisme atau prosedur pinjaman dianggap sulit dipenuhi oleh masyarakat miskin.
9 Kelompok peternak yang ada di sekitar peternak miskin kurang memberikan keuntungan kepada peternak miskin sementara berbagai bantuan dan pemerintah hanya ditujukan kepada kelompok peternak tersebut.
1. Ada program peningkatan produksi peternakan melalui penerapan teknologi dan informasi peternakan.
2. Ada program pembinaan mutu dan pemasaran.
Data jumlah bantuan bibit unggul ternak 60 ekor jantan dan 180 betina.
Data bantuan pelatihan manajemen pengembangan kelompok peternak 60 orang.
Data jumlah kelompok peternak domba 20, peternak kambing 21.
Pembinaan yang dilakukan pemerintah belum dapat dimanfaatkan oleh kelompok peternak sementara kelompok tersebut belum tentu menyertakan peternak miskin ke dalam kelompolmya. Dan peternak miskin kurang terfasilitasi untuk membentuk kelompok yang baru 10 Kurang memadainya penguasaan
teknologi disain produk kerajinan tangan anyaman bambu dan makanan ringan ranginang
1. Ada program untuk menumbuh kembangkan industri kecil dan menengah yang tergolong UKM baik melalui peningkatan SDM
Pelatihan anyaman bambu 1 kali th 2000 dan 2 kali th 2001.
Kerajinan anyaman bambu dan produksi makanan ringan ranginang masyarakat kurang berkembang karena kurang
NO ISU KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI
DATA STATISTIK/
RUJUKAN LAIN PERMASALAHAN MENDASAR menyebabkan hasil produksi tidak
kompetitif sehingga tidak terjual secara cepat padahal hasil penjualan tersebut merupakan sumber pendapatan utama
maupun penguatan permodalan serta pengembangan akses pasar.
2. Ada program pelatihan yang ada kaitannya dengan sektor industri kecil / rumah tangga.
3. Belum ada kebijakan pemerintah untuk membangun sentra industri anyaman bambu.
mendapat bantuan pelatihan teknik prodiksi dan pemasaran yang intensif dari pemerintahan daerah.
11. Adanya kerentanan bagi keluarga pengrajin gorden yang ditinggalkan oleh para suami (biasanya diatas 3 bulan duagan lokasi yang jauh), yang disebakan ketidak pastian penghasilan suami tersebut selama mereka pergi. Sementara tidak terdapat alternatif pendapatan lain yang bisa dilakukan oleh anggota keluarga yang ditinggalkan.
Salah satu Program PKK ( pokja 4 dan pokja 2) adalah untuk memberdayakan para istri yang ditinggal kerja suami dalam waktu yang relatif lama Ada program-program pemberdayaan perempuan dari Dinas Sosial
Data Kegiatan PKK Propinsi Jabar Tahun 2004:
1. Kewirausaan Perempuan di Desa Sayati.
2. Pembinaan Program UP2K di Desa Ciptagumati Kec.
Cikalongwetan.
Terjadi kerentanan
sosial-psikologis bagi sebagian perempuan/keluarga yang ditinggal kepala keluarga dalam jangka waktu yang cukup lama sementara program-program pemberdayaan yang ada belum menyentuh keluarga tersebut