• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN SUMATRA (Puntius tetrazona) DI BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS (BRBIH) DEPOK JAWA BARAT TUGAS AKHIR ASMI UMAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TEKNIK PEMBENIHAN IKAN SUMATRA (Puntius tetrazona) DI BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS (BRBIH) DEPOK JAWA BARAT TUGAS AKHIR ASMI UMAR"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN SUMATRA (Puntius tetrazona) DI BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS (BRBIH) DEPOK

JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

ASMI UMAR 1422010316

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE KEPULAUAN PANGKEP

2017

(2)
(3)

RINGKASAN

ASMI UMAR, 1422010316. Teknik Pembenihan Ikan Sumatra

(Puntius tetrazona) di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok Jawa Barat

dibimbing oleh Hasniar dan Wahidah.

Ikan sumatra (Puntius tetrazona) merupakan salah satu ikan hias air tawar asli Indonesia yang banyak diminati oleh para pecinta ikan hias karena warnanya yang cantik dan gerakannya yang lincah sehingga cocok untuk dipelihara di dalam akuarium. Teknik pembenihan dan budidayanya jenis ikan ini tidak begitu sulit dilakukan, sehingga kegiatan pembenihan dan budidaya ikan sumatra sudah banyak dilakukan di masyarakat, terutama di daerah Jawa.

Namun di beberapa daerah, diantaranya Sulawesi Selatan jenis ikan ini belum dikenal secara umum oleh masyakarat, sehingga pembenihan dan budidayanya pun juga belum dipahami oleh masyarakat setempat. Untuk mengembangkan jenis ikan ini di Sulawesi Selatan diperlukan informasi tentang teknik pembenihan ikan sumatra. .

Tujuan penulisan laporan tugas akhir ini yaitu untuk memperkuat penguasaan teknik pembenihan ikan sumatra. Manfaat penulisan tugas akhir ini yaitu sebagai bahan informasi untuk memperluas wawasan dan kompetensi keahlian dalam berkarya di masyarakat kelak khususnya pada bidang teknik pembenihan ikan sumatra.

Tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang telah dilaksanakan dari tanggal 02 Februari 2017 sampai dengan 01 Mei 2017 di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat. Data yang digunakan yaitu data primer dan data skunder.

Induk ikan sumatra yang dipijahkan yaitu induk yang telah matang gonad dengan perbandingan 2 jantan : 1 betina. Setelah memijah, induk ikan jantan dan betina diangkat dari wadah pemijahan untuk menghindari pemangsaan telurnya sendiri. Telur akan menetas dalam 24 jam. Larva yang telah menetas diberi pakan setelah berumur 4 hari berupa naupli Artemia sp sampai larva umur 12 hari,umur 13–21 hari diberi pakan Moina sp . Dengan frekuensi pemberian pakan naupli Artemia sp dan Moina sp 3 kali sehari. Larva umur 22 hari dan seterusnya diberi pakan cacing sutra dengan frekuensi 2 kali sehari.

Hasil yang diperoleh selama kegiatan adalah pemijahan sumatra dengan perbandingan 2 jantan : 1 betina menghasilkan fekunditas rata-rata 1.800 butir telur dengan derajat pembuahan 65,6%, derajat penetasan 80,97%, dan tingkat kelangsungan hidup larva selama 2 minggu 51,88%. Hasil pengukuran kualitas air yang didapatkan yaitu suhu 25,30C–320C, pH 6,0–7,5, dan DO 5,21–6,66 ppm. Penyakit yang ditemukan menyerang ikan sumatra ini yaitu White spot yang disebabkan oleh Protozoa yang bernama Ichthyophthyrius multifilis.

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir ini tepat pada waktunya dengan judul “Teknik Pembenihan Ikan sumatra (Puntius tetrazona)” sebagai salah satu persaratan untuk menyelesaikan studi pada jurusan Budiaya Perikanan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Tidak lupa pula penulis kirimkan salawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW nabi yang membawa umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang.

Melalui kesempatan ini Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada orang-orang yang turut mendukung penyelesaian laporan tugas akhir ini antara lain:

1. Kepada Ibu Ir. Hasniar, M.P. selaku ketua pembimbing dan Ibu

Dr. Wahidah, S.Pi., M.Si. selaku pembimbing anggota yang telah memberikan motivasi, arahan dan bimbingan mulai dari penyusunan proposal tugas akhir hingga laporan tugas akhir ini.

2. Kepada Ibu Shofihar Sinansari, S.Pi., M.P. selaku pembimbing lapangan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok.

3. Kepada Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P. selaku ketua jurusan Budidaya Perikanan.

4. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.P. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

(5)

Akhirnya dengan tulus Penulis menghaturkan terima kasih kepada Ayahanda tercinta Umar K dan ibunda tercinta Jini Lestari yang senantiasa memberikan support baik berupa moril maupun materil serta beliau senantiasa mengiringi doa hingga penyelesaian studi ini. Terima kasih kepada semua saudaraku, karena keberadaanmu, pengorbanan, keikhlasan dan doamu menjadi motivasi ampuh bagi Penulis dalam meraih cita-cita ini. Kepada rekan-rekan seangkatan di Jurusan Budidaya Perikanan, semua staf Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, staf Laboratorium Politani yang tidak sempat disebut namanya, atas partisipasi dan bantuannya dalam penyelesaian studi ini

Semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi Penulis dan berguna kepada yang memerlukannya amin.

Pangkep, Agustus 2017

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan ... 2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Ikan Sumatra ... 3

2.2 Habitat dan Penyabaran ... 4

2.3 Pembenihan Ikan Sumatra... 5

2.4.1 Pemeliharaan Induk ... 5

2.4.2 Persiapan Wadah Pemijahan... 5

2.4.3 Seleksi Induk ... 5

2.4.4 Pemijahan ... 6

.4.3.5 Pemeliharaan Larva ... 7

2.4 Kualitas Air ... 7

2.5.1 Suhu ... 7

2.5.2 Oksigen Terlarut (DO) ... 8

2.5.3 Derajat Keasaman (pH) ... 8

2.6 Hama dan Penyakit ... 8

III METODE 3.1 Waktu dan Tempat ... 10

(7)

3.2 Alat dan Bahan ... 10

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 11

3.3.1 Data Primer ... 11

3.3.2 Data Skunder ... 11

3.4 Metode Pelaksanaan ... 12

3.4.1 Pemeliharaan Induk ... 12

3.4.2 Persiapan Wadah Pemijahan... 12

3.4.3 Seleksi Induk ... 13

3.4.4 Pemijahan Induk ... 13

3.4.5 Penetasan Telur ... 14

3.4.6 Penanganan Larva ... 14

3.4.7 Penanganan Penyakit... 15

3.4.8 Pengukuran Parameter Kualitas Air ... 16

3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data ... 17

3.5.1 Parameter yang Diamati ... 17

3.5.2 Analisis Data ... 17

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Induk yang Dipijahkan ... 19

4.2 Pemijahan ... 20

4.3 Pengelolaan Telur ... 21

4.4 Pengelolaan Larva ... 23

4.4.1 Pakan Larva ... 23

4.4.2 Tingkat Kelangsungan Hidup Larva ... 23

4.4.3 Pertambahan Panjang ... 24

4.4.4 Perkembangan Morfologi Larva ... 25

4.5 Kualitas Air ... 28

4.6 Hama dan Penyakit ... 29

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 30

5.2 Saran ... 30

(8)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Alat yang digunakan ... 10

2 Bahan yang digunakan ... 11

3 Skema pemberian pakan larva ... 15

4 Karakteristik induk yang dipijahkan pada pemijahan pertama ... 19

5 Karakteristik induk yang dipijahkan pada pemijahan kedua ... 19

6 Fekunditas, derajat pembuahan, dan derajat penetasan ... 22

7 Tingkat kelangsungan hidup larva ... 23

8 Perkembangan morfologi larva ikan sumatra ... 26

9 Hasil pengukuran kualitas air... 28

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Morfologi ikan sumatra ... 4

2 Akuarium pemeliharaan induk ... 12

3 Akuarium pemijahan dan substrat ... 13

4 Induk jantan dan betina ... 13

5 Pemijahan ikan sumatra ... 14

6 Grafik pertambahan panjang total rata-rata larva ikan sumatra ... 24

7 Ikan yang terserang Ichthyophthyrius multifilis ... 29

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Peta lokasi BRBIH Depok ... 34 2 Layout BRBIH Depok ... 35 3 Foto Kegiatan Pembenihan Ikan Sumatra ... 35

(12)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan hias merupakan komoditas perikanan yang potensial untuk dikembangkan, karena selain memiliki potensi sumberdaya melimpah juga peluang pasar yang besar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Indonesia memiliki berbagai jenis ikan hias air laut dan air tawar yang unik, menarik serta memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Ikan sumatra (Puntius tetrazona) merupakan salah satu ikan hias air tawar asli Indonesia yang banyak diminati oleh para pecinta ikan hias karena warnanya yang cantik dan gerakannya yang lincah sehingga cocok untuk dipelihara di dalam akuarium. Teknik pembenihan dan budidayanya jenis ikan ini tidak begitu sulit dilakukan, sehingga kegiatan pembenihan dan budidaya ikan sumatra sudah banyak dilakukan di masyarakat, terutama di daerah Jawa. Namun di beberapa daerah, diantaranya Sulawesi Selatan jenis ikan ini belum dikenal secara umum oleh masyakarat, sehingga pembenihan dan budidayanya pun juga belum dipahami oleh masyarakat setempat. Untuk mengembangkan jenis ikan ini di Sulawesi Selatan diperlukan informasi tentang teknik pembenihan ikan sumatra.

Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok Jawa Barat merupakan suatu balai budidaya ikan hias yang melakukan pembenihan dan budidaya ikan hias sumatra. Sehingga dengan melakukan kegiatan di BRBIH Depok, memberikan peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik pembenihan ikan hias sumatra, sehingga dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan pembenihan ikan hias tersebut.

(13)

2 1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini yaitu untuk memperkuat penguasaan teknik pembenihan ikan sumatra di Balai Riset Budidaya IkanHias (BRBIH) Depok, Jawa Barat.

Kegunaan dari penulisan tugas akhir ini yaitu untuk memperluas wawasan, kompetensi keahlian mahasiswa dalam berkarya dalam masyarakat kelak khususnya mengenai teknik-teknik pembenihan ikan sumatra.

(14)

3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi Ikan Sumatra

Ikan sumatra merupakan ikan hias air tawar yang berasal dari sungai Sumatra dan Kalimantan. Menurut Tamaru et al (1997) ikan sumatra dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Filum : Chordata Sub Kelas : Actenoterygii Ordo : Cipriniformes Sub Ordo : Caracoidei Famili : Ciprinidae Genus : Puntius

Spesies : Puntius tetrazona

Ikan sumatra memiliki bentuk tubuh memanjang, dan pipih kesamping (compressed), ukuran tubuh maksimal 8 cm, warna dasar tubuh putih keperakan, bagian atas tubuh agak sawo matang dengan corak hijau, sedangkan sisi tubuhnya berwarna kemerah-merahan, terdapat empat buah garis berwarna hitam kebiruan yang memotong tubuh ikan yaitu pada bagian kepala. Tubuh bagian depan sirip punggung, samping sirip punggung, hingga jari-jari sirip anal yang pertama, bagian batang ekor (Gambar 1). Bagian sirip punggung ada yang berwarna hitam sedang beberapa bagian lain berwarna kemerahan dan transparan (Sumpeno et al 2004)

(15)

4 Gambar 1 Morfologi ikan sumatra (Puntius tetrazona)

2.2 Habitat dan Penyebaran

Ikan sumatra adalah ikan yang aktif, perenang cepat, dan jika jumlahnya sedikit akan menyerang ikan lain yang memiliki sirip panjang dan gerakan yang lebih lamban. Ikan sumatra hidup berkelompok di perairan air tawar seperti sungai, danau, dan rawa yang memiliki arus agak cepat. Ikan sumatra hidup optimal pada perairan yang bersuhu 21˗29OC, derajat keasaman 6-7, kesadahan yang lunak, bersih, jernih dan kaya akan oksigen (Verhallen 2000). Ikan ini dapat ditemukan di pulau sumatra, Kalimantan, serta negara-negara Malaysia serta Thailand.

Ikan sumatra dapat hidup optimal pada perairan yang mempunyai kandungan amonia tidak mencapai 1mg/l air dan oksigen terlarut paling sedikit 2 mg/l air. Untuk mempercepat proses pemijahan, air yang dipakai untuk media pemijahan harus memiliki kesadahan yang lebih rendah dari air tempat ikan terebut sebut dipelihara (Axelrod et al 1983). Pemijahan ini berlangsung optimal pada suhu 280C.

(16)

5 2.3 Pembenihan Ikan Sumatra

2.3.1 Pemeliharaan Induk

Menurut Akbar (2007) umur calon induk sebaiknya tidak kurang dari 6 bulan dan panjang badan minimal 6 cm. Induk betina bila telah matang kelamin perutnya membulat serta empuk jika diraba, warna tubuhnya biasa. Sebaliknya, ikan jantan lebih ramping dan warna tubuhnya agak tua mencolok. Ikan jantan yang telah matang kelamin sering berubah warna, hidungnya menjadi merah.

Ikan jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dengan melihat tingkat kecerahan warna yang dimiliki dan bentuk tubuhnya. Pada ikan Sumatera jantan warna tampak lebih menyala. Ikan betina memiliki tubuh yang lebih berisi, padat dan bila siap memiijah bagian perutnya mengembung.

2.3.2 Persiapan Wadah Pemijahan

Wadah pemijahan dapat menggunakan akuarium, untuk pemijahan secara berpasangan atau massal dengan ukuran 25 x 25 x 25 cm dan tinggi air 20 cm atau 100 x 50 x 40 cm dengan tinggi air 30 cm. Dapat pula menggunakan bak tembok (pemijahan massal) dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 m dan tinggi air 0,3 m; kolam tanah (pemijahan massal) berukuran 50–100 m3. Air yang digunakan harus steril dan jernih dengan pH 6–7, serta suhu 24–28OC. Substrat berupa tanaman air baik akar maupun daunnya dapat dimanfaatkan untuk menempelkan telur (Bachtiar 2004)

2.3.3 Seleksi Induk

Kegiatan seleksi induk pada pembenihan ikan sumatra bertujuan untuk memperoleh induk matang gonad dan berkualitas untuk dipijahkan. Menurut Tamaru et al (1997) kematangan gonad ikan sumatra dicapai setelah ikan

(17)

6 mencapai ukuran panjang tubuh 2–3 cm atau berumur 6–7 minggu. Ciri-ciri ikan jantan matang gonad adalah bagian ujung mulut dan siripnya yang berwarna merah cerah, dan pada ikan betina dicikan oleh bagian perut yang membesar dan warna tubuh yang memudar. Telur yang dikeluarkan bersifat adhesif, tidak melayang diair tawar, dan memiliki diameter 1,18 - 0,05 mm.

2.3.4 Pemijahan

Pemijahan merupakan proses perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina.Ikan betina mengeluarkan sel-sel telur dan ikan jantan mengeluarkan sel sperma. Dalam budidaya ikan, teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : pemijahan ikan secara alami (tanpa campur tangan manusia ataupun tanpa pemberian rangsangan horomon, pemijahan secara semibuatan (pemberian rangsangan hormon, namun ovulasinya terjadi secara alamiah, dan pemijahan secara buatan (pemberian rangsangan hormon dan ovulasinya dengan bantuan manusia) (Gusrina 2008).

Rasio antara jantan dan betina pada pemijahan ikan sumatra adalah 1 : 1.

Setiap ikan sumatra betina dapat menghasilkan 300-1000 butir telur (Sakurai et al 1992). Ikan sumatra dapat memijah lebih dari sekali pada setiap musim pemijahan dan bila kondisi lingkungan mendukung maka ikan betina dapat bertelur kembali setelah dua minggu (Tamaru et al 1997). Tidak jarang ikan ini memakan telurnya sendiri dan ikan jantan biasanya akan menggigiti sirip dubur ikan betina sebelum pemijahan berlangsung sehingga dapat menyebabkan kematian (Innes 1994).

(18)

7 2.4.5 Pemeliharaan Larva

Telur yang berhasil menetas menjadi larva ukurannya sangat kecil, lebih kecil dari jarum pentul. Telur ikan sumatra akan menetas setelah 2 hari. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 3–4 mm dan memiliki kuning telur (yolk) sebagai pasokan makanan. Pada umur 5–7 hari yolk akan habis dan larva akan menerima pakan dari luar (Tappin 2010).

Pemeliharaan berlangsung pada akuarium penetasan sampai larva ikan mampu untuk dipindahkan ke tempat yang lebih luas setelah berumur 21–30 hari.

Larva diberi tambahan pakan artemia sampai berumur 1 bulan (30 hari), kemudian dilanjutkan dengan jenis pakan larva Chironomus sp. beku (Said dan Novi 2007).

Ikan sumatra di habitat aslinya umumnya memakan larva Culex sp. dan insekta kecil lainnya. Pakan ikan sumatra berupa algae, flake, pellet, cacing, tubifex, daphnia, dan serangga kecil (Priyadi 2009). Makanan ini harus disesuaikan dengan lebar mulutnya.

2.5 Kualitas Air 2.5.1 Suhu

Ikan merupakan hewan poikiloterm sehingga metabolisme dalam tubuh tergantung oleh suhu lingkungannya. Meningkatnya suhu akan diikuti dengan meningkatnya metabolisme dan kebutuhan oksigen, sehingga ikan akan lebih aktif makan. Suhu air yang terlalu tinggi akan berada pada kondisi subletal dan menyebabkan turunnya kelarutan oksigen Selama proses pembenihan ikan sumatra dapat dilihat suhu pada akuarium pemeliharaan larva dan benih berkisar 25,9–26,1OC. Suhu tersebut dapat dinyatakan sesuai dengan suhu optimum

(19)

8 pemeliharaan ikan, yaitu berkisar antara 24,7 – 26,1OC (Hermanto (2000) dalam Maulana (2017)).

2.5.2 Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut di dalam air merupakan faktor penting dalam proses metabolisme dan pernapasan organisme akuatik. Kadar oksigen terlarut yang lebih besar dari 2 mg/L merupakan syarat untuk pertumbuhan optimum, kelangsungan hidup, dan reproduksi dalam budidaya ikan hias (Tamaru 1997). Oksigen terlarut yang optimum pada pemeliharaan ikan yaitu > 5 ppm dengan perairan yang tidak mengandung bahan beracun lainnya.

2.5.3 Derajat Keasaman (pH)

Nilai derajat keasaman (pH) merupakan indikator yang menunjukkan bahwa air bersifat asam, basa, atau netral. Keasaman sangan menentukan kualitas air, karena juga menentukan proses kimiawi dalam air (Lesmana (2005) dalam Maulana (2017)). pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian pada ikan dan pH yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat.

Kisaran pH optimum untuk ikan hias air tawar adalah 6,5–7,5. Batas pH terendah yang dapat menyebabkan kematian pada ikan adalah 4 dan batas tertinggi adalah 11 (Lesmana (2005) dalam Maulana (2017). Kisaran pH selama proses pembenihan ikan Sumatra yaitu 6,75–7,25 sehingga aman digunakan dalam proses pembenihan.

2.6 Hama Dan Penyakit

Serangan hama biasanya tidak separah serangan penyakit ikan (Khordi 2009). Hama biasanya berukuran lebih besar daripada ikan dan bersifat pemangsa.

(20)

9 Parasit yang ditemukan pada ikan sumatra adalah Ichthyophthyrius multifilis, Costia necatrix, Oodinium sp., Trichodina sp. dan Lernaea sp. (Nasution 2000).

Parasit-parasit ini sering ditemukan pada permukaan kulit, insang, sirip, dan mata.

Dengan diketahuinya jenis-jenis hama dan penyakit pada ikan, maka pembudidaya dapat mencegah atau memberantasnya melalui pemberian obat atau perlakuan sesuai dengan penyakit yang menyerang (Noga 1996).

Ikan sumatra yang terinfeksi ektoparasit biasanya berada dikulit dan insang. Menurut Wilson (2005), melaporkan bahwa Ichthyophthyrius multifilis adalah penyakit protozoa kosmopolitan yang menyababkan insang dan penyakit kulit pada semua ikan air tawar. Ichthyophthyrius multifilis pada ikan dapat menurunkan sisitem kekebalan pada ikan sumatra. Menurut Wilson (2005), mencatat besar bahwa patogen dan parasit pada ikan hias menyebabkan penyakit hingga mempengauhi pergerakan, pertumubuhan, reproduksi dan kesehatan ikan dan beberapakali kematian dapat terjadi karena infeksi parasit. Tanda infeksi Ichthyophthyrius multifilis pada ikan secara umum terdapat bintik-bintik putih

“white spot”. Menurut Pellitero (2004), melaporkan bahwa Ichthyophthyrius multifilis memiliki infeksi eksternal yaitu adanya bintik putih pada kulit dan

insang karena trophons parasit terletak dibawah lapisan atas kulit. Ikan yang terkena bisa menggosok dan menunjukkan masalah pernapasan.Infeksi bintik- bintik putih yang khas terlihat dengan mata telanjang. Parasit ini tersebar luas di banyak spesiesikan air tawar, terutama di dalam akuarium dan dalam kondisi budidaya.

(21)

10

III METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktikum Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan mulai tanggal 02 Februari sampai dengan 02 Mei 2017 di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada kegiatan pembenihan ikan sumatra di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 1. Alat yang digunakan pada kegiatan pembenihan ikan sumatra

No Alat Jumlah Spesifikasi Kegunaan

1 Akuarium 5 buah 80 x 40 x 30 cm Pemijahan induk

2 Ember 3 Buah Volume 24 liter Menampung induk

3 Seser 2 Buah 50 cm Mengambil induk

4 Selang sipon 1 buah ½ inci (1,5 m) Menyipon

5 Sendok sayur 2 buah 15 cm Mengambil larva

6 Baskom 2 buah Volume 20 liter Menampung larva

7 Kain sortir 1 lembar 150 x150 cm Menyortir ikan

8 Kertas amplas - - Menggosok akuarium

8 Selang air 1 buah ½ inci (20 m) Mengisi air

9 Kelengkapan aerasi 1 set Suplai oksigen

10 Mikroskop 1 buah OLIMPUS SZ10 Pengamatan larva 11 Cawan petri 1 buah Diameter 10 cm Pengamatan larva

12 Pipet tetes 1 buah Skala 0,1 Mengambil larva

(22)

11 Bahan yang digunakan pada kegiatan pembenihan ikan sumatra di BRBIH Depok, Jawa barat disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam pembenihan ikan sumatra

No Bahan Jumlah Spesifikasi Kegunaaan

1 Induk ikan sumatra 10 ekor induk jantan 5 induk betina

Umur 6 bulan Menghasilkan benih

2 Substrat pemijahan 10 buah Tanaman eceng gondok

Tempat menempel telur

3 Pakan induk Secukupnya Cacing sutra Mempercepat pematangan gonad 4 Pakan larva dan

benih

Secukupnya Artemia, moina, cacing sutra

Mempercepat pertumbuhan larva

5 Garam Secukupnya Tanpa yodium Kultur artemia

6 Methylen blue Secukupnya Bubuk Pengobatan

7 Oxytetracycline Secukupnya Bubuk Pengobatan

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini yaitu metode observasi dan partisipasi aktif untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder.

3.3.1 Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara mengamati, menghitung, dan mengukur secara langsung pada saat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembenihan wawancara langsung dengan pembimbing lapangan.

3.3.2 Data skunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dengan cara penelusuran literatur dan pustaka yang relevan dengan judul tugas akhir sebagai penunjang dari data primer.

(23)

12 3.4 Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan kegiatan pembenihan ikan sumatra di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat dapat diuraikan sebagai berikut.

3.4.1 Pemeliharaan induk

Induk ikan sumatra di pelihara terpisah antara induk jantan dan induk betina didalam akuarium ukuran 80 x 40 x 30 cm yang di isi air dengan ketinggian 15 cm. Selama dalam pemeliharaan induk ikan sumatra diberi pakan cacing sutra sebanyak 3% dari bobot tubuhnya. Frekwensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pagi dan sore, yang bertujuan untuk mempercepat kematangan gonad.

Pergantian air sebanyak 100% dilakukan setiap hari untuk menjaga kulitas air media pemeliharaan.

Gambar 2 Akuarium pemeliharaan induk

3.4.2 Persiapan Wadah Pemijahan

Akuarium dibersihkan dan digosok menggunakan amplas dan kemudian dibilas dengan air bersih. Akuarium dikeringkan selama 24 jam untuk membunuh sisa-sisa bakteri dari pemeliharaan organisme sebelumnya. Setelah dikeringkan akuarium diisi dengan air bersih hingga ketinggian air mencapai 15 cm dari total

(24)

13 tinggi wadah. Kemudian ditempatkan eceng gondok sebagai substrat pemijahan didalam akuarium.

(A) (B)

Gambar 3 Akuarium pemeliharaan (A); Substrat eceng gondok (B) 3.4.3 Seleksi induk

Induk ikan sumatra diseleksi berdasarkan jenis kelamin dan kematangan gonad. Induk jantan memiliki warna yang cerah dibandingkan induk betina, bentuk tubuh induk jantan ramping sedangkan induk betina agak membulat. Induk ikan sumatra yang telah matang gonad memiliki perut buncit dan bila diraba terasa halus.

(A) (B)

Gambar 4 Induk jantan (A) dan induk betina (B)

3.4.4 Pemijahan Induk

Pemijahan induk pada akuarium ukuran 80 x 40 x 30 cm, dengan perbandingn 2 jantan dan 1 betina. Induk yang akan dipijahkan ditimbang terlebih

(25)

14 dahulu untuk mengetahui bobot awalnya selanjutnya induk disatukan pada sore hari. Induk ikan akan memijah pada malam hari sampai pagi hari. Induk yang telah memijah diangkat dan dipindahkan kembali ke akuarium pemiliharaan induk.

Gambar 5 Pemijahan ikan sumatra 3.4.5 Penetasan Telur

Telur yang dikeluarkan oleh induk ikan betina akan melekat pada substrat eceng gondok yang diletakkan di wadah akuarium pemijahan. Setelah 9 jam telur yang tidak terbuahi diangkat dari dalam wadah akuarium dan dibuang karena telur yang tidak terbuahi akan berjamur dan membusuk dalam wadah akuarium, selanjutnya dilakukan pemberian aerasi.

3.4.6 Penanganan Larva

Larva ikan sumatra yang baru menetas dihitung untuk mendapatkan nilai derajat penetasannya. Kemudian ditebar kembali pada wadah akuarium.

Pemberian pakan larva ikan sumatra disesuaikan dengan umur larva serta bukaan mulut dan perkembangan organ-organ larva. Larva yang baru menetas hingga berumur 4 hari belum diberikan pakan dari luar karena larva ikan masih memanfaatkan kuning telurn sebagai asupan makanannya. Setelah cadangan makanan kuning telur habis, larva diberi pakan dari luar berupa naupli artemia.

(26)

15 Pemberian naupli Artemia sp pada tahap awal sebanyak 1 gelas akua 220 ml dengan kepadatan 40.700 ekor. Artemia sp tersebut diberikan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore). Setelah larva berumur 14 hari diberikan Moina sp hingga larva berumur 21 hari. Larva berumur 17 hari dapat diberi pakan cacing sutra, dan pemberian Moina sp tetap diberikan hingga umur 21 hari, kondisi tersebut dilakukan karena pertumbuhan larva yang tidak seragam. Berikut merupakan skema pemberian pakan untuk larva ikan sumatra.

Tabel 3. Skema pemberian pakan larva

Jenis pakan

Hari Ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 18 20 21 22 >23

Yolk Artemia sp Moina sp Cacing

Pengelolaan kualitas air pada larva ikan sumatra dilakukan dengan penyiponan dan pergantian air. Penyiponan dilakukan setelah larva berumur 2 minggu, sedangkan pergantian air dilakukan apabila kondisi air didalam akuarium sudah tidak layak untuk digunakan.

3.4.7 Penanganan Penyakit

Air pemeliharaan ikan yang terserang penyakit diganti 100% lalu diisi kembali dengan air bersih sebanyak 50%. Garam dan Oxytetracyclin (OTC) ditimbang dengan dosis garam sebanyak 4 gram dan OTC sebanyak 0,9 gram untuk 45 liter air. Garam langsung dimasukkan diwadah pemeliharaan ikan yang terserang penyakit kemudian OTC dilarutkan terlebih dahulu dalam air dan kemudian dicampurkan kedalam media pemeliharaan ikan yang terserang penyakit. Perendaman ikan dengan laurutan OTC dan garam ini dilakukan sampai

(27)

16 ikan benar-benar telah sembuh yang ditandai dengan ikan telah berenang aktif dan bintik putih pada tubuh dan sirip telah menghilang. Durasi perendaman ini berlangsung lima hari sampai tujuh hari.

3.4.8 Pengukuran Parameter Kualitas Air

Pengukuran suhu dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 07:00 dan siang hari pada pukul 14:00. Suhu diukur dengan menggunakan termomseter caranya yaitu termometer dicelupkan di dalam air kemudian didiamkan beberapa saat sampai air raksa pada termometer berhenti dan didapatkan hasil pengukuran suhu air.

Pengukuran kadar oksigen terlarut dilakukan satu kali dalam satu siklus masa pemeliharaan ikan. Pengukuran kadar oksigen terlarut menggunakan DO meter caranya yaitu probe/elektroda DO meter dicelupkan di dalam air kemudian angkat pada layar alat DO meter dilihat, apabila angka pada layar DO berhenti agak lama maka angka tersebut yang diambil sebegai hasil pengukuran oksigen.

Pengukuran pH dilakukan satu kali dalam satu siklus masa pemeliharaan ikan. Pengukuran pH menggunakan tes kit caranya yaitu air sampel diambil sebanyal 5 ml dan dimasukkan dalam botol sampel kemudian ditambahkan larutan reagen sebanyak 5 tetes lalu homogenkan dan untuk melihat hasilnya, sampel di cocokkan warnanya pada kertas indikator.

(28)

17 3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data

3.5.1 Parameter yang Diamati

Parameter yang diamati dalam kegiatan pembenihan ikan sumatra yaitu:

parameter induk yang meliputi panjang induk, umur induk, dan ciri-ciri induk yang matang gonad dan fekunditas. Parameter telur yang meliputi tingkat pembuahan telur dan tingkat penetasan telur. Parameter larva meliputi tingkat kelangsungan hidup larva selama 21 hari dan pertumbuhan larva. Parameter kualitas air yang meliputi suhu (OC), oksigen terlarut (ppm) dan pH.

3.5.2 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil kegiatan dianalisis secara deskriptif menggunakan rumus-rumus yang telah ditentukan untuk mengetahui keberhasilan pembenihan ikan sumatra. Adapun analisis data dan rumus yang digunakan yaitu sebagai berikut:

a. Fekunditas adalah jumlah telur yang terdapat pada ovari ikan betina yang telah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada saat memijah (Saanin 1986). Pada kegiatan pembenihan ikan sumatra di BRBIH Depok, fekunditas dihitung dengan cara menghitung total telur ikan yang dikeluarkan oleh induk betina.

b. Tingkat pembuahan (Fertilization rate, FR) adalah tingkat pembuahan telur yang dilakukann oleh induk jantan, nilainya tergantung pada kualitas telur dan kualitas sperma maupun kuantitas sperma (Sumandinata 1981).

FR (%) = Jumlah telur terbuahi (butir)

jumlah total telur (butir) × 100%

(29)

18 c. Tingkat penetasan (Hatcing Rate, HR) adalah daya tetas telur atau jumlah telur yang menetas (Murtidjo 2001). Untuk mendapatkan nilai HR dilakukan penghitungan larva.

HR (%) = Jumlah telur menetas (butir)

jumlah total telur terbuahi (butir)× 100%

d. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate, SR) adalah persentase jumlah biota yang hidup dalam kurun waktu tertentu (Ghufron 2009).

SR (%) =Jumlah larva pada saat panen (ekor)

jumlah larva penebaran awal (ekor)× 100%

Referensi

Dokumen terkait

Laporan Keuangan Balai Riset Budidaya Ikan Hias yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada masyarakat Kelurahan Tanjung Gusta dalam melakukan budidaya ikan gurame di pekarangan

Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk memperoleh pengetahuan di lapangan, pengalaman secara langsung dan mengetahui masalah yang timbul dalam teknik pembenihan

Teknik pembenihan ikan lele masamo dengan metode clear water system di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang dimulai dari penyediaan induk

KESIMPULAN Teknik pembenihan ikan mas Cyprinus carpio di BBI Kota Depok dilakukan secara alami dengan menggunakan perbandingan induk jantan dan betina 7:2, didapatkan nilai FR 80,5%,