1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Investor yang berinvestasi di pasar modal pada umumnya menghendaki expected return. Pasar modal adalah salah satu sarana investasi bagi para investor.
Prihantoro, (2003) mengungkapkan para pemegang saham mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraannya yaitu mengharapkan pengembalian dalam bentuk capital gain maupun deviden. Deviden adalah pembayaran oleh pihak perusahaan kepada para pemegang saham atas keuntungan yang diperolehnya (Prihantoro, 2003). Berdasarkan The Bird in The Hand Theory yang dikemukakan oleh Gordon dan Lintner, investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran deviden daripada menunggu capital gain.
Dari teori tersebut bisa dilihat bahwa kebijakan deviden merupakan hal yang penting bagi investor. Sudana (2011:167) menyatakan bahwa kebijakan deviden berhubungan dengan besarnya dividend payout ratio ( as cited in Suryani, 2014). Menurut Kadir (2010) kebijakan deviden yang tepat dapat berimplikasi terhadap kekayaan pemegang saham. Untuk itu diperlukan kebijakan deviden yang tepat agar investor bisa percaya untuk berinvestasi.
Menurut Rosaline dan Oktorina (2014) “Secara implisit, kebijakan deviden yang dilakukan perusahaan juga dihubungkan dengan konflik keagenan yang terjadi antara pihak manajemen (agent) dan pemegang saham (principal)”.
Adanya perbedaan kepentingan antara pihak manajemen (agent) dan pemegang saham (principal), di mana kepentingan pemegang saham adalah untuk pendapatan deviden dan kepentingan perusahaan adalah untuk investasi (Rosaline dan Oktorina, 2014). Karena itu dibutuhkan penerapan Good Corporate Governance (selanjutnya disebut GCG) untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas (Suryani, 2014).
Seperti yang dikatakan oleh Budiawan (2015) bahwa, “Good Corporate Governance digunakan sebagai sistem dan struktur yang mengatur hubungan antara manajemen dengan pemilik, baik mayoritas maupun minoritas suatu perusahaan dengan kata lain sebagai bentuk perlindungan investor akibat adanya perbedaan kepentingan pemegang saham (principle) dengan pihak manajemen (agent)”.
2
Universitas Kristen Petra
Namun bagi sebagian perusahaan, deviden dianggap memberatkan karena perusahan harus selalu menyediakan sejumlah kas dalam jumlah tertentu untuk membayarkan deviden di masa yang akan datang. Tidak semua perusahaan berani untuk membagikan deviden, dikarenakan perusahaannya yang membagikan deviden memiliki kencenderungan untuk membagikan deviden secara berkala. Di Indonesia, masih sedikit perusahaan go public membagikan cash dividend kepada pemegang saham walaupun jumlahnya meningkat setiap tahunnya yang bisa dilihat dari tabel 1.1.
TABEL 1.1
Jumlah perusahaan Go Public yang membagikan deviden
Tahun Perusahaan yang membagikan Cash Dividend Jumlah Perusahaan Tercatat di BEI
2007 57 327
2008 169 346
2009 179 359
2010 213 382
2011 240 407
2012 232 433
2013 221 466
2014 225 490
Sumber :Lampiran 1&2
Dari tabel 1.1, bisa dilihat bahwa pada realitanya rata-rata perusahaan yang membagikan cash dividend di Indonesia masih berada pada kisaran 10% - 60% dari jumlah perusahaan yang tercatat di BEI. Realita ini memperlihatkan adanya ketidaksesuaian dengan The Bird in The Hand Theory, yang menyatakan bahwa investor memiliki preferensi yang lebih tinggi terhadap deviden daripada laba ditahan. Realita yang ada ini tidak sesuai dengan penerapan Good Corporate Governance yang terdapat dalam Pedoman Umum Corporate Governance.
Dimana menurut Pedoman Umum Corporate Governance, kebijakan deviden ditentukan oleh perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dimana di dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia dijelaskan hak pemegang saham untuk menerima bagian dari keuntungan perusahaan yang diperuntukkan bagi pemegang saham dalam bentuk deviden dan pembagian keuntungan lainnya, sebanding dengan jumlah saham yang dimilikinya.
3
Universitas Kristen Petra
Selain mengatur mengenai RUPS dan hak pemegang saham, Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia pada tahun 2006 juga mengatur mengenai komisaris independen dan komite audit. Menurut peraturan yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Jakarta 19 Juli 2004 mengenai keberadaan komisaris independen menyatakan bahwa “Komisaris independen dalam suatu perusahaan harus memiliki jumlah yang secara proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah seluruh anggota komisaris”.
Dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia juga menyatakan bahwa “Perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, sekurang-kurangnya harus membentuk Komite Audit”.
Variabel lainnya dalam Corporate Governance yang juga perlu diperhatikan di Indonesia yaitu struktur kepemilikan perusahaan dimana struktur kepemilikan perusahaan bisa dibagi menjadi tiga, yaitu kepemilikan saham institusi, insider shareholder, dan kepemilikan saham publik. Adanya perbedaan proporsi saham yang dimiliki oleh investor dapat mempengaruhi kebijakan deviden perusahaan, karena perusahaan akan melakukan pemerataan pembayaran deviden kepada setiap pemegang saham (Rachmad, 2013).
Berdasarkan pada pemikiran di atas maka penelitian ini akan meneliti pengaruh good corporate governance terhadap kebijakan deviden. Periode yang digunakan adalah 2007-2014 dengan alasan untuk melihat konsistensi penerapan good corporate governance setelah dikeluarkannya Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia pada tahun 2006 oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tanggal 17 oktober 2006. Alasan lainnya adalah pada tahun 2007 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang yang menjadi menjadi landasan hukum pembangunan sektor ekonomi dan kerangka hukum bagi pengaturan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance) pada suatu perusahaan di Indonesia yaitu Undang-undang
4
Universitas Kristen Petra
Nomor 40 Tahun 2007 untuk mengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Dimana dalam UU tersebut mengatur mengenai penggunaan laba pada bagian ketiga pasal 71-73 yang salah satunya mengatur mengenai pembagian deviden.
Variabel corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, serta kepemilikan saham publik dan variabel kontrol yang digunakan adalah firm size. Masuknya variabel ukuran perusahaan, karena menurut Budiawan (2014) bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka menyebabkan deviden yang akan dibagikan juga semakin besar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan?
2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan tanpa menggunakan variabel kontrol firm size?
3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan dengan menggunakan variabel kontrol firm size?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh yang signifikan secara parsial Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham
5
Universitas Kristen Petra
institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan.
2. Mengetahui pengaruh yang signifikan secara bersama-sama Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan tanpa menggunakan variabel kontrol firm size.
3. Mengetahui pengaruh yang signifikan secara bersama-sama Good Corporate Governance (proporsi komisaris independen, komite audit, kepemilikan saham institusi, insider shareholder, kepemilikan saham publik) terhadap kebijakan deviden suatu perusahaan dengan menggunakan variabel kontrol firm size.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Akademisi
Dapat memberikan bukti empiris mengenai hubungan antara corporate governance dengan kebijakan deviden pada suatu perusahaan go public.
2. Investor dan pelaku pasar.
Dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi para investor maupun pelaku pasar dalam membuat keputusan investasi
,
khususnya pemilihan perusahaan setelah mengetahui dampak pelaksanaan corporate governance terhadap kebijakan deviden.3. Perusahaan go public.
Agar dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai suatu masukan untuk ditelaah lebih lanjut guna meningkatkan pemahaman akan mekanisme corporate governance yang baik dan transparan sehingga menghasilkan kebijakan deviden yang tepat.