1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Kota Bandung merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di tengah-tengah Provinsi Jawa Barat memiliki keunggulan kompetitif tersendiri dibanding kota-kota lain dan mempunyai nilai strategis terhadap daerah- daerah di sekitarnya. Letaknya yang strategis ini menjadikan Kota Bandung sebagai pusat kegiatan pemerintahan daerah, sosial politik, pendidikan, dan kebudayaan, juga merupakan pusat perkebunan dan industri.
Pada awalnya Kota Bandung dan sekitarnya secara tradisional merupakan kawasan pertanian, namun seiring dengan laju urbanisasi menjadikan lahan pertanian menjadi kawasan perumahan serta kemudian berkembang menjadi kawasan industri dan bisnis, sesuai dengan transformasi ekonomi kota pada umumnya. Sektor pedagangan dan jasa saat ini memainkan peranan penting akan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, disamping terus berkembangnya sektor industri. Kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi ditunjukan oleh kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran, disamping pariwisata industri pengolahan dan jasa juga menjadi andalan untuk mendorong ekonomi Kota Bandung.
Kota Bandung yang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat juga ikut melaksanakan otonomi daerah mengenai perpajakan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi Jawa Barat khususnya Kota Bandung. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Bandung melaksanaan pembangunan infrastruktur dan pemberian berbagai fasilitas kemudahan untuk meningkatkan daya tarik investasi agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada Daerah Kota Bandung. Pelaksanaan pembangunan disamping faktor sumber daya manusia, membutuhakan pembiayaan yang relatif besar,
2 terlebih dengan diberlakukannya desentralisasi dimana sebagian besar kewenangan Pemerintah Pusat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah. Untuk menyelenggarakan urusan pemerintah yang dilimpahkan kepada pemerintah daerah tersebut, diperlukan sumber-sumber penerimaan daerah untuk membiayai penyelenggaraan urusan daerah tersebut salah satunya didapat dari penerimaan pajak daerah Kota Bandung.
Tabel 1.1
Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/
Modal, Tingkat Inflasi dan Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung Tahun 2007 - 2014
Tahun Pertumbuhan Ekonomi
%
Belanja Pembangunan
/ Modal
%
Tingkat Inflasi
%
Penerimaan Pajak Daerah
%
2007 16,23 186,12 5,25 22,39
2008 19,57 52,65 10,23 6,32
2009 16,27 10,40 2,11 33,40
2010 16,68 3,76 4,53 5,36
2011 16,60 50,87 2,75 81,50
2012 16,22 31,79 4,02 50,01
2013 17,18 32,01 7,97 45,53
2014 32,58 -8,77 2,34 17,21
Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandung dan http://jabar.bps.go.id.
Data diolah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung dari tahun 2007 sebesar 16,23% meningkat pada 2008 menjadi sebesar 19,57% namun pada sisi penerimaan pajak di tahun 2008 menurun menjadi 12,55% dan di tahun 2009 pertumbuhan ekonomi menurun sebesar 16,27% pada sisi penerimaan pajak meningkat sebesar 33,40% dan tahun 2010 meningkat sebesar 16,68% pada sisi penerimaan pajak daerah di tahun 2010 mengalami penurunan menjadi sebesar 5,36%. Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung pada tahun 2011 menurun dari tahun sebelumnya sebesar 16,64% pada sisi penerimaan pajak meningkat sebesar 81,51% dan pada tahun 2012 juga
3 mengalami penurunan sebesar 16,22% pertumbuhan ekonomi tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 17,18% dan tahun 2014 juga mengalami peningkatan menjadi sebesar 32,58% tetapi pada sisi penerimaan pajak daerah mengalami penurunan sebesar17,21%. diungkapkan Nurcholis (2005:177) pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan penerimaan paja daerah.
Pada belanja pembangunan/ modal Kota Bandung tahun 2008 menurun menjadi sebesar 52,65% dibandingkan tahun 2007 sebesar 186,12% diikuti dengan penerimaan pajak di tahun 2008 juga mengalami penurunan. tahun 2009 belanja pembangunan modal Kota Bandung turun menjadi sebesar 10,40% dan pada sisi penerimaan pajak daerah di tahun 2009 mengalami kenaikan menjadi sebesar 33,40% tahun 2010 belanja pembangunan/ modal menurun sebesar 3,76% tahun 2011 kembali meningkat sebesar 50,87%. Pada tahun 2012 kembali mengalami penurunan sebesar 31,79%. Tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 32,01% namun pada sisi penerimaan pajak menurun menjadi 45,52%
dibandingkan tahun 2012. di tahun 2014 belanja modal menurun sebesar -8,77%.
Diungkapkan (Jhon Wong, 2004) yang menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur industri mempunyai dampaknyata terhadap kenaikan pajak daerah sehingga apabila pembangunan daerah mengalami kenaikan maka pajak daerahnya akan mengalami kenaikan.
Pada tingkat inflasi Kota Bandung tiap tahunnya mengalami fluktuasi dan berbanding terbalik dengan penerenimaan pajak daerah. Ketika inflasi mengalami kenaikan disisi lain pajak daerah akan mengalami penurunan di Kota Bandung namun pada tahun 2014 tingkat inflasi mengalami penurunan menjadi sebesar 2,34% dibandingkan tahun sebelumnya 2013 sebesar 7,97% dan pada sisi penerimaan pajak di tahun 2014 juga mengalami penurunan pada tahun sebelumnya 45,53% dan juga tingkat inflasi pada tahun 2014 menurun sebesar 2,34% sedangkan tahun 2013 sebesar 7,97% diikuti dengan penerimaan pajak daerah tahun 2014 menurun sebesar 17,21% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 45,52%. Untuk itu, penelitian ini dilakukan pada Kota Bandung untuk periode tahun 2007 hingga tahun 2014.
4 1.2 Latar Belakang Penelitian
Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Kota Bandung merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan Otonomi daerah yang berlandaskan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Otonomi Daerah menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan Otonomi Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat.
Pajak menurut Undang-undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang ketentuan umum dan Tata Cara Perpajakan. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk kepeluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam rangka mendukung perkembangan otonomi daerah yang nyata, dinamis dan bertanggungjawab, pembiayaan pemerintah dan pembangunan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah, khususnya yang berasal dari pajak daerah perlu ditingkatkan lagi. Daerah diberi wewenang untuk menggali sumber dana yang sesuai dengan potensi dan keadaan daerah masing-masing, sehingga nantinya dapat meningkatkan Penerimaan Pajak Daerah. Berdasarkan kewenangannya, pajak dapat dibedakan sebagai Pajak Pusat dan Pajak Daerah.
Mengenai Pajak Daerah, perannya juga sangat penting sebagai sumber Pendapatan Daerah dan sebagai penopang Pembangunan Daerah, karena Pajak Daerah merupakan salah satu Sumber Pendapatan Asli Daerah.
Tujuan daerah yaitu meningkatkan kesejahteraan umum ditunjukan dalam bentuk peningkatan pertumbuhan ekonomi. Menurut Joko Untoro (2010:39)
“Pertumbuhan Ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat
5 bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat dalam jangka panjang.”
Pembangunan ekonomi daerah adalah proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola antara pemerintah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru merangsang perkembangan kegiatan ekonomi daerah. Penerapan otonomi daerah yang luas saat ini bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi ekonomi yang ada sehingga dapat memacu peningkatan aktivitas perekonomian di daerah yang pada akhirnya meningkatkan Produk domestik regional bruto (PDRB).
Pertumbuhan ekonomi daerah pada umumnya digambarkan oleh pertumbuhan PDRB. PDRB telah menjadi pendekatan model yang sering digunakan banyak negara sebagai tolak ukur tingkat kesejahteraan, ekonomi penduduk, sehingga ada kecenderungan pendapatan penduduk meningkat. Jika pendapatan penduduk meningkat, maka akan mengubah pola konsumsinya yang kemudian akan berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah.
Krisis keuangan global yang mulai berpengaruh secara signifikan dalam triwulan III tahun 2008 akan berdampak negatif pada kinerja ekonomi makro Indonesia baik disisi neraca pembayaran, neraca sektor riil dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Berbagai perkembangan tersebut, peningkatan pengangguran tenaga kerja dan jumlah masyarakat miskin merupakan dampak berikutnya yang akan segera dialami oleh perekonomian nasional akibat krisis perekonomian global. Saat ini, fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah terjadi pada industri-industri yang berorientasi ekspor, menyusul kemudian rencana PHK pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan kertas, dan rencana merumahkan tenaga kerja pada industri perkayuan dan industri perkebunan (Kebijakan Moneter 2009, Boediono), hal tersebut akan berdampak pada laju Produk Domestik Bruto (PDB) itu sendiri. Laju cPDB di Indonesia mengalami kontraksi pada triwulan ke empat tahun 2008 sebesar 3,6%
jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penurunan laju triwulanan PDB pada triwulan ke empat tersebut merupakan yang terbesar dalam tiga tahun terakhir (www.wartaekonomi.com).
Lesunya ekonomi dunia membuat pemerintah lebih memberdayakan ekonomi lokalnya. Sehingga menempuh kebijakan menghentikan impor dari negara lain,
6 termasuk Indonesia. Efek dominonya adalah ekportir Indonesia mengalami kelesuan permintaan. Otomatis mempengaruhi pembayaran pajaknya. Sampai dengan Triwulan III Tahun 2009, sektor Industri Pengolahan mengalami pukulan telak. Sektor ini mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu dari 35,7% menjadi 14,0%. Pengaruhnya semakin besar karena sektor ini berperan sebagai penyumbang terbesar dalam struktur penerimaan pajak (www.kompasiana.com).
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kita secara total bagus. Ini menunjukkan ekonomi Indonesia semakin baik sebetulnya karena biarpun sektor tradeable-nya turun tapi sektor non-tradeable-nya sangat baik (Fuad Rachmany:
2014). Sementara itu Tax Ratio Indonesia yang masih dibawah 13% sebagai negara emerging market dinilai masih terlalu kecil. Selanjutnya iya juga mengatakan idealnya tax ratio Indonesia bisa berada di angka 20% atau setidaknya 17% melihat pertumbuhan ekonomi negara (Tony Prasetiantono:2013).
Tax ratio sendiri adalah perbandingan antara jumlah pajak yang terhimpun dalam satu tahun dengan PDB (Safri Nurmantu,2005:35).
Sementara itu Tax Ratio Indonesia yang masih dibawah 13% sebagai negara emerging market dinilai masih terlalu kecil. Selanjutnya iya juga mengatakan idealnya tax ratio Indonesia bisa berada di angka 20% atau setidaknya 17%
melihat pertumbuhan ekonomi negara (Tony Prasetiantono:2013). Tax ratio sendiri adalah perbandingan antara jumlah pajak yang terhimpun dalam satu tahun dengan PDB (Safri Nurmantu,2005:35).
Kota Bandung memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Barat (www.inspirasibangsa.com) laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung tergolong tinggi, diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, nasional, bahkan internasional. Tingkat pertumbuhan ekonomi Kota Bandung dari tahun 2008-2012 rata-rata sebesar 8,62%, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,8%.
“Tahun ini laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung mencapai lebih dari 9%, laju pertumbuhan ini juara dunia, Eropa saja nol koma sekian. Jadi apapun yang di jual di Bandung pasti laku,” ujar Walikota Bandung, M Ridwan Kamil.
Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Arifin menyatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi belakangan ini, pada tingkat nasional maupun regional
7 mempengaruhi target penerimaan pajak daerah. Ia mencontohkan penurunan taget pajak daerah pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Selatan 2015 dampak dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, di tingkat nasional maupun regional. Hal tersebut mempengaruhi penerimaan di sektor pajak daerah, (www.antaranews.com).
Hubungan pertumbuhan ekonomi dengan penerimaan pajak dijelaskan teori yang dikemukakan oleh Peacock dan Wiseman yang dimuat dalam buku karangan Mangkoesoebroto (Mangkoesoebroto, 1993:173) mengemukakan bahwa
“Perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah akan memberikan dampak pada meningkatnya penerimaan pajak sehingga menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam keadaan normal, meningkatnya Gross National Product (GNP)/ Gross Domestic Product (GDP) menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar pula”.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ari Dwi Wulandari (2009) menyebutkan bahwa Pertumbuhan Ekonomi memiliki pengaruh terhadap Pajak Daerah. Menurut Gita Purnamasari (2011) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Penerimaan Pajak Indonesia periode 2000-2009. Sherley Angelia (2014) menjelaskan bahwa secara parsial Pertumbuhan Ekonomi tidak mempunyai pengaruh terhadap penerimaan pajak daerah Kota Bandung, secara simultan pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap penerimaan pajak daerah Kota Bandung.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah disebutkan bahwa Belanja Modal (capital expenditure) adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/ pengadaan asset tetap dan asset lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. Belanja Modal dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah didefinisikan sebagai pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan asset tetap berwujud yang mempunyai
8 masa manfaat lebih dari satu tahun untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
Dengan adanya peningkatan penerimaan PAD yang hendaknya didukung dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas layanan publik melalui pembangunan sarana dan prasarana publik. Menurut Bappenas (2003) dalam Rachman (2005) menyatakan bahwa dalam era otonomi daerah seharusnya peran PAD semakin besar dalam membiayai berbagai belanja daerah. Seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan publik, diharapkan kontribusi masyarakat melalui pajak daerah dan retribusi daerah semakin meningkat, sehingga penerimaan PAD menjadi semakin besar. Kontribusi dari penerimaan pemerintah pusat semakin menurun, seiring dengan meningkatnya kemampuan daerah untuk meningkatkan PAD.
Pembangunan dalam sektor pelayanan kepada publik akan merangsang masyarakat untuk lebih aktif dan bergairah dalam bekerja karena ditunjang oleh fasilitas yang memadai selain itu investor juga akan tertarik kepada daerah karena fasilitas yang diberikan oleh daerah. Dengan bertambahnya produktivitas masyarakat dan investor yang berada di daerah akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah. Pendapatan asli daerah yang semakin tinggi akan merangsang pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan mutu pelayanannya kepada publik sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan per Kapita (David dan Priyo, 2007)
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ari Dwi Wulandari (2009) menyebutkan bahwa Belanja Modal tidak berpengaruh terhadap Pajak Daerah.
Hasil penelitian Rahman Kadir Surya (2013) menjelaskan belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak.
Selain itu bukan hanya pertumbuhan ekonomi dan belanja pembangunan/
modal yang mempengaruhi penerimaan pajak, banyak faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak, salah satunya adalah inflasi. inflasi sendiri merupakan proses kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus atau turunya nilai uang yang terus menerus (Losina, Dhyah, 2008:25). Dirjen Pajak, Fuad Rahmany (2014) juga mengatakan bahwa penurunan inflasi berpengaruh ke penerimaan pajak. Karena adanya pertumbuhan penerimaan negara seiring dengan
9 meningkatnya konsumsi yang terjadi di masyarakat (Fuad Rahmany:2014).
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Vito Tanzi (1977) dimana Tingkat Inflasi saling berhubungan untuk mempengaruhi penerimaan pajak riil. Sedangkan menurut David G and Bernard J (1977) mangatakan bahwa tingkat inflasi akan mempengaruhi baik pengeluaran dan pendapatan pemerintah.
Kota Bandung alami inflasi tertinggi di Jawa Barat (www.tribunjabar.com) dari tujuh kota pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat semua mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bandung sebesar 1,03 persen.
Posisi kedua Kota Tasikmalaya (1,00 persen), disusul Kota Sukabumi (0,93 persen), Depok (0,72 persen), Bekasi (0,67 persen), Cirebon (0,58 persen), dan Kota Bogor (0,57 persen). Pada Februari 2013, Jawa Barat mengalami inflasi 0,79 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari inflasi nasional yang menyentuh 0,75 persen.
Pada penelitian Sherley Angelia (2014) menjelaskan bahwa secara parsial Tingkat Inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung, secara simultan tingkat inflasi mempunyai pengaruh terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung. Menurut Encep Herdian Racman Nalendra (2013) atas penelitiannya menjelaskan bahwa Tingkat Inflasi berpengaruh negatif terhadap Penerimaan Pajak.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, untuk itu Peneliti berkeinginan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/ Modal dan Tingkat Inflasi, terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada Periode tahun 2007 sampai dengan 2014.”
1.3 Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah:
1) Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/ Modal, Tingkat Inflasi, dan Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung tahun 2007 hingga 2014.
10 2) Bagaimana pengaruh secara simultan Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/ Modal, dan tingkat Inflasi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada tahun 2007 hingga 2014.
3) Bagaimana pengaruh secara parsial:
a. Bagaimana pengaruh secara parsial Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung?
b. Bagaimana pengaruh secara parsial Belanja Pembangunan/Modal terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung?
c. Bagaimana pengaruh secara parsial Tingkat Inflasi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan diadakan penelitian ini adalah:
1) Untuk mengetahui dan menganalisis Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/ Modal, dan Tingkat Inflasi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung. Pada tahun 2007 hingga 2014.
2) Untuk mengetahui dan menganalisis secara simultan pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, belanja Pembangunan/ Modal, Tingkat Inflasi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada tahun 2007 hingga 2014.
3) Untuk mengetahui dan menganalisis secara parsial:
a. Pengaruh secara parsial Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada tahun 2007 hingga 2014.
b. Pengaruh secara parsial Belanja Pembangunan/ Modal terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada tahun 2007 hingga 2014.
c. Pengaruh secara parsial Tingkat Inflasi terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung pada tahun 2007 hingga 2014.
11 1.5 Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Kegunaan penelitian ini diantaranya adalah:
1. Manfaat Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam penelitian tentang Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pembangunan/
Modal, Tingkat Inflasi, dan Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan evaluasi terkait penilaian terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian yang berisi fenomena, perumusan masalah yang diteliti berdasarkan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian secara teoritis dan praktis serta sistematika penulisan secara umum.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUNGAN PENELITIAN Pada bab ini berisi mengenai penelitian sebelumnya, landasan teori yang digunakan sebagai dasar analisis penelitian, ruang lingkup penelitian, serta kerangka pemikiran.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi pembahasan dari penelitian yang berupa analisa pengolahan data yang telah dilakukan dikaitkan dengan teori yang mendasari seperti yang telah diuraikan dalam Bab II dan asumsi yang telah ditetapkan.
12
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dan saran atau rekomendasi yang diberikan penulis terkait dengan penelitian yang dilakukan serta kelengkapan akhir yang terdiri dari daftar pustaka sumber referensi penelitian dan lampiran.