1
PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) SISWA DI PERPUSTAKAAN SD PERGURUAN ISLAM AL-
AMJAD SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana (S.Si) dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
SITI KHODIZAH PANGGABEAN 180723021
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
PROGRAM STUDI PERPUSTAKAAN DAN SAINS INFORMASI 2020
3
5 ABSTRAK
Panggabean, Siti Khodizah, 2020. “Peranan Perpustakaan Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter (Character Building) Siswa di Perpustakaan SD Perguruan Islam Al-Amjad”
Medan: Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad Medan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan pendidikan berbasis karakter pada siswa di Perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad Medan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian menggunakan wawancara untuk mendeskripsikan data yang peneliti peroleh dari informan, untuk memperoleh data lapangan peneliti mengadakan pendekatan langsung dengan cara mendatangi obyek yang diteliti di perpustakaan. Penentuan Informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sample didasarkan atas tujuan tertentu (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter (character building) pada Perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad berperan dalam mengembangkan nilai moral siswa. Terutama membangun karakter siswa dalam bertanggung jawab, kejujuran dan bersikap saat siswa di lingkungan kelas maupun perpustakaaan. Pembentukan karakter siswa juga tidak lepas dari kerjasama antara kepala sekolah, guru bk, wali kelas, pustakawan, dan orang tua dalam membina siswa di sekolah maupun di rumah agar terbentuk karakter yang baik pada siswa.
Kata Kunci : Perpustakaan Sekolah, Pendidikan Karakter, Character Building
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, Segala Syukur peneliti panjatkan pada Allah SWT, peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) SISWA DI PERPUSTAKAAN SD PERGURUAN ISLAM AL-AMJAD” sebagai salah satu syarat untuk memenuhi persyaratan kelulusan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berhasil diselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, dosen-dosen, teman-teman, dan pihak Sekolah Perguruan Islam Al-Amjad Medan.
Dalam kesempatan kali ini peneliti akan menucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Dirmansyah, M.A, selaku ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Eva Rabita, M.Hum., selaku dosen pembimbing yang memberikan masukan dan arahan dalam memperbaiki skripsi.
4. Ibu Hotlan Siahaan, S.Sos., M.I.Kom., selaku penguji I yang memberikan masukan pada skripsi.
5. Ibu Nur’aini S.Sos. M. IP., selaku dosen penguji II yang telah banyak mendukung dan memberikan arahan yang mudah dimengerti dalam skripsi.
6. Ayah dan keluarga saya yang telah banyak memberikan dukungan dan doa kepada saya dalam bentuk mental maupun material selama mengerjakan skripsi.
7. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, yang telah memberikan waktu dan ilmu yang bermanfaat bagi saya.
8. Kepada Pustakawan dan guru yang telah bersedia meluangkan waktu untuk dapat saya wawancarai.
9. Dan untuk teman-teman seperjuangan saya dalam menyelesaikan skripsi dan terus mendukung saya. Saya ucapkan terima kasih.
Akhir kata, peneliti mengucapkan mohon maaf, jika kalau ada kata-kata yang salah ataupun kurang baik, peneliti menyadari sepenuhnya penelitian ini masih belum sempurna baik isi maupun penulisannya. Untuk itu peneliti mengharapkan kritik yang membangun agar peneliti dapat meningkatkan pengetahuan dan kemapuan untuk kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Juni 2021
Siti Khodizah Panggabean
7 DAFTAR ISI
Abstrak ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Tabel ... iv
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 5
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 5
1.4.2 Manfaat Praktis ... 5
1.5 Ruang lingkup ... 6
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Perpustakaan Sekolah ... 7
2.1.1 Pengertian Perpustakaan Sekolah ... 7
2.1.2 Manfaat Perpustakaan Sekolah ... 8
2.1.3 Tujuan Perpustakaan Sekolah ... 9
2.1.4 Fungsi Perpustakaan Sekolah ... 10
2.1.5 Koleksi Perpustakaan Sekolah ... 11
2.2 Pendidikan Karakter (Character Building) ... 13
2.3 Konsep Character Building ... 16
2.4 Nilai dan Komponen Membangun Character Building ... 19
2.5 Metode Pengembangan Character Building ... 22
2.6 Peranan Perpustakaan Sebagai Media Character Building ... 24
2.7 Peran dan Kendala Perpustakaan dalam Menanamkan Character building ... 26
BAB III : METODE PENELITIAN ... 29
3.1 Jenis Penelitian ... 29
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 30
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 30
3.4 Penentuan Informan ... 31
3.5 Karakteristik Informan ... 32
3.6 Analisis Data ... 32
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 35
BAB V : PENUTUP ... 64
5.1 Kesimpulan... 64
5.2 Saran 66
DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Karakteristik Informan .………... 32 Tabel 4.1 Data Informan...………... 36 Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Penelitian.………...61
9 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dewasa ini, membuat manusia sadar bahwa perkembangan moral dan karakter anak sudah harus dibangun dari anak tersebut dari jenjang sekolah dasar sampai menengah keatas. Maka melalui pendidikan karakter yang di implementasikan dalam institusi pendidikan, diharapkan dapat mengatasi krisis moral yang melanda sebagaian siswa/siswi sekolah. Krisis tersebut dapat berupa membolos, mencontek, penggunaan bahasa yang kasar, tidak mengikuti aturan sekolah bahkan tawuran sesame pelajar. Hal itu terjadi karena berkembangnya tren-tren yang terdapat di media informasi yang tidak seharusnya mereka tirukan, tren tersebut seperti tidak menghormati figure otoritas, kefanatikan Bahasa yang kasar, pelecehan dan perkembangan seksual yang terlalu cepat, meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri dan menurunnya rasa tanggung jawab sebagai warga Negara.
Pendidikan karakter mengantarkan siswa untuk belajar memaknai kearifan. Meski secara fisiologis dan psikologis siswa belum mengerti tentang hal itu, tetapi bila melihat bahwa esensi pendidikan pada hakikatnya adalah peniruan dan pebiasaan, kearifan patut dikenalkan sejak dini. Ditilik secara makro, pendidikan dipahami sebagai proses penyadaran, pencerdasan dan pembangunan mental atau karakter, tentu bukan hanya identik dengan sekolah. Akan tetapi, ia akan berkaitan dengan proses kebudayaan secara umum yang sedang berjalan, yang punya kemampuan untuk mengarahkan kesadaran, memasok informasi, membentuk cara pandang, dan membangun karakter generasi muda khususnya. Pencapaian hasil belajar siswa tidak dapat hanya dilihat dari ranah kognitif dan psikomotorik, sebagaimana selama ini terjadi dalam praktik pendidikan, tetapi harus dilihat juga dari segi afektif siswa tersebut. Sudah seharusnya pendidikan karakter di sekolah harus seefektif kegiatan
Pendidikan lain sehingga degradasi moralitas bangsa khususnya di kalangan peserta didik semakin menghawatirkan. Jika terus dibiarkan, maka semakin lama kita dapat satu persatu kehilangan generasi bangsa yang memiliki budi dan karakter yang tinggi.
Di sekolah pendidikan karakter berhubungan erat dengan visi misi dan tujuan sekolah. Merupakan perwujudan dari pendidikan karakter. Visi misi yang kuat dapat menjadi dasar dan sistem berpikir untuk mencapai tujuan bersama dengan budaya karakter yang disepakati untuk dijadikan prioritas pengembangan. Adapun visi Perguruan Islam Al-Amjad adalah mewujudkan generasi Muslim yang bertaqwa, beraakhlak mulia, berilmu, berjiwa pemimpin, tanggungjawab, dan bermanfaat bagi nusa bangsa dan agama.
Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional pada Pasal l3, menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara demokratis serta bertanggung jawab.
Hal ini menjadi salah satu tujuan bangsa Indonesia yang mana tujuan tersebut bahwa Negara ingin mencerdaskan bangsa setanah air Indonesia. Untuk menjadi bangsa yang cerdas maka generasi muda mulai dari sekolah dasar harus dibentuk memiliki kemampuan dan keterampilan minat baca dan mendengarkan yang baik mulai dari sekolah dasar. Di dalam dunia pendidikan, buku terbukti menjadi salah satu peran yang sangat baik bagi sarana pendidikan dan sarana informasi siswa.
Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.
Dan Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk
11
mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.Untuk menjadikan hasil yang berkualitas, sekolah diharapkan mampu menciptakan system pendidikan yang dapat membangun moral dan karakter siswa sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan, pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak- anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratnya menuju kearah peradaban yang manusiawi dan lebih baik.
Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus di kembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya untuk mecerdaskan mutu pendidikan.
Peranan Perpustakaan sekolah Perguruan Islam Al-Amjad diharapkan tidak hanya sebagai sumber belajar untuk tempat menimba ilmu pengetahuan saja, tetapi juga dapat untuk membangun karakter murid/ siswa sebagai karakter yang taat aturan, bertanggung jawab akan segala yang diperbuat, dengan menjadi karakter satun dan budi pekerti untuk menjadi jiwa pemimpin penerus generasi bangsa yang berakhlak mulia. Maka, perpustakaan harus menyediakan koleksi-koleksi yang menarik yang dapat menggugah kesenangan membaca dan mendorong siswa untuk terus gemar membaca sesuai selera masing-masing.
Berdasarkan observasi awal peneliti di Perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad, diperoleh keterangan bahwa koleksi atau bacaan di perpustakaan sekolah juga merupakan salah satu yang harus di perhatikan dalam mendidik karakter siswa.
Perpustakaan sekolah harusnya lebih giat menyediakan bacaan untuk siswa dalam bentuk buku fiksi dan nonfiksi yang bermuatan nilai positif sehingga siswa gemar membaca untuk membangun karakter yang baik dari buku/koleksi di Perpustakaan.
Adapun koleksi yang ada dalam perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad mencakup 35% koleksi tentang agama islam, 25% koleksi fiksi, 25% koleksi nonfiksi, dan 15%
koleksi mencakup buku-buku paket siswa yang dapat dipergunakan untuk media referensi siswa selain buku pegangan mereka.
Siswa di Perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad belum memunculkan karakter yang baik untuk dunia pendidikan, yaitu: siswa di Perguruan Islam Al-Amjad masih banyak melanggar tata tertib akan pengetahuan moral yang sudah diajarkan sekolah, melanggar peraturan tata tertib yang sudah tercantum pada papan peraturan setiap Prilaku berprinsip moral juga belum menjadi karakter bagi siswa di sekolah Perguruan Islam Al-Amjad, sebab masih banyak siswa yang tidak mau mengakui akan kesalahan yang mereka perbuat disekolah, sehingga karakter jujur belum tumbuh pada diri mereka. Kurangnya rasa empati terhadap sesama teman dan masyarakat di sekitar lingkungan sekolah. Prilaku tindakan moral siswa juga belum muncul, karena siswa masih membuang sampah tidak pada tempatnya, baik itu di lingkungan sekitar gedung sekolah, kelas maupun perpustakaan. Tertib dalam kegiatan waktu sholat juga belum menjadi prilaku yang melekat pada mereka.
Sedangkan prilaku moral yang belum melekat pada siswa yang sering terjadi di perpustakaan, yaitu: siswa saat didalam perpustakaan masih menggunakan volume suara yang tinggi sehingga menggangu teman saat membaca. Siswa di sekolah Perguruan Islam Al-Amjad masih belum konsisten akan karakter diri mereka, siswa masih mengganggap peraturan/ tata tertib yang dibuat sekolah hanya sebagai tugas yang harus mereka lakukan bukan perilaku/karakter yang seharusnya bisa melekat pada diri mereka.
Berdasarkan situasi dan kondisi nyata seperti uraian diatas, maka peneliti tertarik mengadakan penelitian bagaimana peranan perpustakaan dalam pengembangan pendidikan karakter di Perguruan Islam Al-Amjad dengan mengangkat judul
“PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PERPUSTAKAAN SD PERGURUAN ISLAM AL-AMJAD”.
13 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang yang dipaparkan di atas, maka peneliti dapat mengangkat permasalahan pokok yang sangat mendasar yaitu, Bagaimana Peranan yang telah dilakukan oleh Perpustakaan dalam mendidik karakter siswa di Perguruan Islam Al-Amjad.
1.3 Tujuan Penelitian
Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka peneliti dapat memberitahukan tujuan penelitian sebagai berikut, untuk mengetahui peranan perpustakaan dalam pengembangan pendidikan karakter (character building) siswa di perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad.
1.4 Manfaat Penelitian
Suatu penelitian ilmiah harus memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis, sehingga teruji kualitas penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti.
Adapun manfaat yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis
Secara umum penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan tentang peranan perpustakaan dalam character building siswa. Peranan character building yang diterapkan oleh perpustakaan mampu meningkatkan sikap dan etika yang baik sehingga memunculkan karakter siswa yang mempunyai pendidikan dan karakter yang baik.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap seluruh guru. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu masukkan untuk guru-guru tentang pentingnya pendidikan karakter bagi siswa-siswa di sekolah. Karena melalui pendidikan karakter
seorang guru dapat membentuk kepribadian seorang siswa yang beretika dan berakhlak baik.
b. Bagi siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membentuk pendidikan karakter para siswa agar berprilaku sesuai norma dan nilai yang berlaku.
c. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan penambah wawasan dan kreativitas dalam karya penulisan.
d. Bagi penelitian lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pembanding terutama dalam hal pendidikan karakter untuk membangun karakter peserta didik.
1.5 Ruang Lingkup
Pendidikan karakter merupakan pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata untuk peserta didik. Menurut Thomas Lickona (2012, 05), karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior/action). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.
Maka dalam penelitian ini hanya membahas 3 komponen diatas dalam membentuk karakter yang baik: moral knowing, moral feeling, moral action.
15 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Sekolah
2.1.1 Pengertian Perpustakaan Sekolah
Sebelumnya peneliti mendefinisikan arti perpustakaan sekolah, sebaiknya terlebih dahulu memahami penjabaran dari perpustakaan secara garis besar atau umum agar mengetahui guna perpustakaan itu sendiri secara keseluruhan.
Perpustakaan merupakan unsur yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan sekarang ini. Undang-undang No.43 pasal 1 ayat 1 tentang perpustakaan menyatakan bahwa pengertian perpustakaan adalah institute pengelola koleksi karya tulis, cetak, dan rekam secara terampil dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
“perpustakaan menurut badafal (2015,3) adalah suatu elemen kerja dari suatu divisi atau lembaga yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa karya tercetak maupun karya non tercetak ( non book material) yang diatur secara terstuktur menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemustaka. Perpustakaan merupakan tempat penyediaan informasi serta pengetahuan, ilmu sejarah, filsafat, bahkan penemuan serta pemikiran masa lalu.”
Perpustakaan sekolah merupakan perpustakan yang dikelola serta terdapat di sekolah dengan tujuan membantu sekolah untuk mencapai tujuannya. Secara hakiki perpustakaan sekolah adalah sarana pendidikan yang turut menentukan pencapaian lembaga penaungannya. Oleh sebab itu, perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
“menurut Novriliam (2012,142) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah merupakan organisasi kerja yang menghimpun, mengelola dan menyajikan kekayaan intelektual untuk kepentingan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Secara hakiki perpustakaan sekolah adalah sarana pendidikan yang turut menentukan pencapaian lembaga penaungannya. Dengan demikian, perpustakaan harus diciptakan sedemikian rupa agar benar-benar berfungsi sebagai penunjang proses pendidikan sesuai kurikulum dan menjadikan karakter siswa menjadi lebih baik. Semua
perpustakaan sekolah harus memegang prinsip demokratisasi informasi. Artinya, dalam melakukan berbagai kegiatan harus dapat melayani semua peserta didik tanpa membedakan status sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kepercayaan maupun status- status lainnya.
2.1.2 Manfaat Perpustakaan Sekolah
Adapun manfaat perpustakaan sekolah yang baik diselenggarakan di sekolah dasar maupun menengah dijelaskan oleh (bafadal, 2005,5-6) adalah sebagai berikut:
a. Perpustakaan sekolah dapat mencetuskan kecintaan siswa-siswi terhadap membaca.
b. Perpustakaan sekolah juga bisa membangkitkan pengalaman belajar siswa-siswi.
c. Perpustakaan sekolah dapat membangkitkan kebiasaan belajar mandiri yang pada akhirnya siswa-siswi dapat belajar sendiri.
d. Perpustakaan sekolah dapat membangkitkan ritme dalam proses penguasaan teknik membaca siswa.
e. Perpustakaan sekolah dapat membuhkan skill dan perkembangan public speaking berbahasa pada siswa.
f. Perpustakaan sekolah dapat mengembangkan akhlak dan tanggung jawab siswa kearah lebih baik.
g. Perpustakaan sekolah dapat menggiat siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
h. Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru dan staff sekolah mendapatkan sumber-sumber pengajaran dan informasi lain.
i. Perpustakaan sekolah dapat membantu siswa, guru dan angogota staf sekolah dalam memperlancar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman sekarang.
Keutamaan lain dari perpustakaan sekolah adalah sebagai sarana dan prasarana bagi para siswa untuk belajar menjad masyarakat yang memiliki literasi informasi dan dapat membaur dengan masyarakat lain dengan moral yang baik. Seseorang siswa mampu mengidentifikasi kebutuhan informasinya dan sudah bisa mencari sumber-sumber informasi sesuai dengan kebutuhan mereka, lalu dapat menggunakan informasi tersebut dan akhirnya mampu meninjau sejauh mana kebutuhan informasi siswa sudah terpenuhi ataupun belum terpenuhi.
17 2.1.3 Tujuan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah bertujuan menyerap, menghimpun informasi dan mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisasi, menumbuhkan kemampuan untuk menikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya piker, mendidik anak agar menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien serta memberikan dasar kearah studi mandiri. Masing-masing perpustakan sekolah pasti memiliki tujuan kontributif terselenggaranya proses belajar mengajar.
“Menurut Yusuf (2007,3) menyatakan bahwa tujuan di dirikannya perpustakaan sekolah yaitu memberikan modal kemampuan dasar kepada siswa, dan menyediakan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah.
Sedangkan menurut (Hartono, 2016,27) tujuan diselenggarakannya perpustakaan sekolah sebagai berikut “memberikan layanan informasi yang memuaskan penggunanya, menunjang pencapaian visi dan misi badan/
organisasi/ instansi induknya.”
Perpustakaan Nasional RI (1992,10) membagi tujuan ke dalam dua bagian yaitu bagian umum dan bagian khusus. Tujuan perpustakaan sekolah secara umum merupakan perpustakaan sekolah diselenggarakan sebagai suatu perangkat kelengkapan pendidikan untuk bersama dengan kelengkapan-kelengkapan yang lain guna meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi perkerti dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa berdasarkan sistem pendidikan yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.
Tujuan Perpustakaan secara khusu diselenggarakan sebagai berikut yaitu:
1. Mengembangkan minat, kemampuan, dan kebiasaan membaca khususnya serta mendayagunakan budaya tulisan dalam sektor kehidupan.
2. Mengembangkan kemampuan mencari dan mengolah serta memanfaatkan informasi.
3. Mendidik siswa agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat dan berhasil guna.
4. Meletakkan dasar-dasar kea rah belajar mandiri.
5. Menumpuk minat dan bakat.
6. Menumbuhkan aspirasi terhadap pengalaman imajinatif.
7. Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan atas tanggung jawab dan usaha sendiri.
2.1.4 Fungsi Perpustakaan Sekolah
Peranan perpustakaan dalam pengembangan pendidikan karakter sangat di dukung oleh fungsi dari perpustakaan, karena perpustakaan mempunyai fungsi edukatif/
pendidikan, rekreasi, kultural, informasi, dan sebagai sarana simpan karya tercetak maupun non tercetak manusia.
Fungsi perpustakaan sekolah seperti yang dikemukakan oleh (Yusuf, 2010) adalah suatu tugas yang harus dilakukan di dalam perpustakaan. Pada prinsipnya sebuah perpustakaan mempunyai tiga kegiatan utama yaitu menghimpun, memelihara, dan memberdayakan semua koleksi bahan pustaka. Perpustakaan sekolah juga sebagai unit kerja di lingkungan sekolah juga harus sejalan dan mendukung siswa dalam menjalankan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru sebagai salah satu penilaian untuk siswa tersebut. Dalam manifesto kebijakan IFLA/ UNESCO mengenai pedoman perpustakan sekolah terdapat misi perpustakaan yaitu: “perpustakaan sekolah dalam pendidikan dan pembelajaran untuk semua. Dengan penjelasan bahwa:
“Perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan. Perpustakaan sekolah merupakan sarana bagi murid agar terampil sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya piker agar mereka dapat hidup sebagai warga Negara yang bertanggung jawab”
Perpustakaan sekolah menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 maret 1981, mempunyai fungsi sebagai:
a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah.
19
b. Pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imanjinasinya.
c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)
Anak-anak usia sekolah sedang berada dalam proses pertumbuhan fisik dan psikis yang begitu pesat. Perpustakaan sekolah bisa berfungsi sebagaimana mestinya, apabila perpustakaan sekolah mempunyai koleksi yang lengkap dan relevan dengan kurikulum sekolah yang bersangkutan, perpustakaan harus hadir dan menyajikan berbagai sumber belajar dan sarana hiburan yang bisa membentuk pribadinya secara utuh. Perpustakaan sekolah di tuntut harus menyediakan fasilitas bahan ajar yang sesuai kurikulum sekolah saat ini.
Oleh karena itu, perpustakaan sekolah harus menyediakan koleksi, baik buku dari Departemen Pendidikan Nasional, maupun buku koleksi lainnya, dan juga harusnya perpustakaan sekolah juga memiliki alat-alat peraga dan sarana-sarana lain yang dapat menarik siswa, dan diharapkan dapat menunjang efisiensi dan efektifitas proses belajar mengajar. Maka, posisi perpustakaan sekolah diharapkan mampu membantu mengembangkan daya piker siswa secara rasional dan kritis, serta mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembelajaran dan karakter yang akan dibangun siswa di sekolah.
2.1.5 Koleksi Perpustakaan Sekolah
Koleksi perpustakaan sekolah terdiri atas koleksi dasar dan koleksi-koleksi lainnya. Secara umum jenis koleksi yang dimiliki perpustakaan meliputi buku dan nonbuku (nonbook materials). Jenis koleksi sebuah perpustakaan sekolah sebagai berikut:
1.) Buku Pelajaran Pokok Buku pelajaran pokok yaitu buku yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar yang memuat bahan pelajaran yang dipilih dan disusun secara teratur dari suatu pelajaran yang minimal harus dikuasai oleh siswa pada tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Buku pelajaran pokok diterbitkan/diadakan oleh pemerintah, dan isinya sesuai kurikulum yang berlaku.
2.) Buku Pelajaran Pelengkap Buku pelajaran pelengkap, yaitu buku bersifat membantu atau merupakan buku tambahan buku pelajaran pokok yang dipakai oleh siswa dan guru, yang sebagian besar atau seluruh isinya sesuai dengan kurikulum yang berlaku
3.) Buku Bacaan Buku bacaan yaitu buku yang digunakan sebagai bacaan, yang menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi bacaan nonfiksi, fiksi ilmiah, dan fiksi. Buku bacaan nonfiksi adalah buku bacaan yang ditulis berdasarkan kenyataan yang bersifat umum. Buku bacaan nonfiksi dapat menunjang atau memperjelas salah satu mata pelajaran atau pokok bahasan yang dapat pula bersifat umum. Sementara buku bacaan fiksi ilmiah adalah buku yang ditulis berdasarkan khayalan dan rekaan pengarang dalam bentuk cerita yang dapat memengaruhi pengembangan daya pikir ilmiah. Buku bacaan fiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan khayalan pengarang dalam bentuk cerita. Buku bacaan fiksi yang baik dapat memberikan pendidikan dan hiburan sehat.
4.) Buku Rujukan Buku rujukan, yaitu buku yang digunakan sebagai sumber informasi, baik untuk memperoleh pengetahuan dasar suatu subjek tertentu. Buku ini sebetulnya termasuk buku nonfiksi, namun karena penggunaannya yang berbeda dengan buku lain, sehingga perlu dikelompokkan secara tersendiri. Penggunaan buku rujukan tidak untuk dibaca secara keseluruhan, tetapi hanya bagian yang mengandung informasi yang diinginkan untuk dibaca. Siswa dan Guru mendapatkan perolehan pengetahuan tambahan tentang suatu bidang ilmu atau keterampilan melalui buku rujukan. Buku yang termasuk dalam jenis buku rujukan adalah kamus, ensiklopedia, buku tahunan, buku pegangan/ handbook, buku petunjuk/manual, direktori, sumber geografi di antaranya atlas, sumber biografi, bibliografi, buku indeks, dan abstrak.
21
5.) Media Pendidikan / Media Instrusksional Media pendidikan adalah alat yang digunakan guru untuk memudahkannya dalam menyampaikan suatu pokok bahasan.
Bahan yang termasuk dalam media pendidikan, antara lain slide, film, kaset, video, VCD, DVD, dan CD ROM.
6.) Multimedia di perpustakaan adalah koleksi atau catatan koleksi dari bahan- bahan dari berbagai media seperti bahan bukan buku, 24 audiovisual, dan bahan non tercetak lainnya dengan atau tanpa buku atau bahan tercetak lainnya.
2.2 Pendidikan Karakter (Character Building)
Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk menentukan cara berpikir dan berprilaku seseorang agar setiap individu dapat menjdi jati diri mereka sendiri dan dapat saling berinteraksi dan bekerjasama, baik dalam ruang lingkup keluarga inti maupun lingkup masyarakat luas dan bernegara. Seseorang dapat dikatakan memiliki karakter yang baik, apabila individu dapat adil dan bertanggung jawab atas sikap karakter yang mereka miliki.
Individu harus memiliki kontrol penuh terhadap karakter individu, sebab individu tidak dapat menyalahkan orang lain terhadap karakter yang tidak baik terjadi dalam diri seseorang individu itu sendiri. Menumbuhkan karakter merupakan kewajiban dan tanggung jawab setiap individu pada hakikatnya.
Karakter yang dimiliki oleh individu merupaka hal yang tidak dapat diwariskan begitu saja, tetapi karakter tersebut harus diterapkan secara berkesinambungan melalui sebuah proses pembelajaran yang di dalam proses tersebut terdapat sebuah tindakan nyata dari penerapan karakter. Melalui proses pembelajaran seseorang tidak hanya sebatas mendapatkan pengetahuan mengenai karakter, namun pemahaman akan suatu karakter itu sendiri dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam proses pembelajaran, terdapat sebuah proses mendidik yang utuh dan menyeluruh dalam menjalankan pembelajaran karakter maupun pengetahuan.
Seseorang yang berkarakter dapat dilihat dari pola berpikir dan bersikap yang khas yang dimiliki oleh setiap insan untuk dapat saling menghormati hidup dan bekerja sama, baik dari ruang lingkup inti keluarga, masayarakat, dan bernegara.
Samani dan Hariyanto (2013,41-42) “menyatakan karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika”.
Dari uraian definisi dapat disebutkan bahwa karakter merupakan cerminan hidup setiap makhluk hidup. Tanggung jawab merupakan langkah awal jika menginginkan karakter yang baik, tanggung jawab didasarkan dengan kebutuhan untuk mencerdasakan baik dan tidak baik karakter individu tersebut. Tanggung jawab merupakan disiplin terhadap pendidikan karakter itu sendiri.
Mulyasa (2013,9) “menyatakan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pendidikan karakter dan akhlak mulia, pembelajar secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standart kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter pembelajar diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji, dan menginternalisasikan, serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.”
Sedangkan “menurut Suyanto (2010,37) dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 mengatakan bahwa, “Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga Negara Indonesia untuk mengenal dan mengatasi hidup (life skills) sehingga memiliki kemapuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.”
Dengan demikian, pendidikan karakter dapat ditandai sebagai usaha seseorang individu yang sistematik yang dilakukan oleh guru kepada siswa agar mendapatkan nilai karakter yang sudah dilaksanakan sejak dini, seperti: bertanggungjawab, jujur, rendah
23
hati, hormat dan satun, peduli, kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan lainnya.
Sejumlah tokoh besar telah memahami bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan. Mulai dari Mahatma Gandhi, Dr.Martin Luther King dan Teodore Roosevelt. Berikut kutipan yang diungkapkan tokoh-tokoh tersebut, yang dikutip oleh Novan Ardy Wiyani (2012,20):
Mahatma Gandhi memperingatkan salah satu tujuh dosa fatal “ education without character” (pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “intelligence plus character…that is the goal of true education” (kecerdasan plus karakter… itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan“To education a person in mind and not in morals is to education a menace to society” ( mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat).
Dari ungkapan tokoh-tokoh besar dapat diambil kesimpulan bahwa sangat pentingnya pendidikan karakter bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika tidak dilaksanakan maka akan sangat merusak moral dan menjadikan ancaman bagi suatu bangsa. Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak- anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratnya menuju kea rah peradaban yang manusiawi dan lebih baik. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya: anjuran atau suruhan terhadap anak-anak untuk duduk yang baik, tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih badan, rapih pakaian, hormat terhadap orang tua, menyayangi yang muda, menghormati yang tua, menolong teman, dan seterusnya juga merupakan proses pendidikan karakter untuk membangun karakter anak yang berakhlak.
Pendidikan karakter juga merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan, yang ditujukan pada terwujudnya sosok manusia masa depan, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. Pendidikan karakter harus menumbuh kembangkan nilai-nilai filosofis dan mengamalkan seluruh karakter bangsa secara utuh dan menyeluruh (kaffah).
Dalam konteks Negara Kesatuan Republik (NKRI), pendidikan karakter harus mengandung perekat bangsa yang memiliki beragam budaya dalam wujud kesadaran, pemahaman, dan kecerdasan kultural masyarakat. Untuk kepentingan tersebut, perlu
direvitalisasi kembali sistem nilai yang mengandung makna karakter bangsa yang berakar pada Undang-Undang Dasar 1945 dan filsafat Pancasila. Sistem nilai tersebut meliputi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, permusyawaratan, dan keadilan. Melalui regenerasi dan penekanan karakter di berbagai badan pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal. Diharapkan bangsa Indonesia bisa merespons berbagai permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks dan rumit.
2.3 Konsep Character Building
Karakter dapat dikatakan kepribadian seseorang untuk dapat membedakan satu individu dengan individu lain. Karakter tidak dapat diturunkan begitu saja, tanpa adanya sebuah kebiasaan untuk membangun karakter (character building). Suyanto (2010,44) Pendidikan Karakter (character building) adalah proses menetapkan atau menyitir jiwa sedemikian rupa, sehingga ‘berbentuk’ unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan individu lainnya. Banyak cara untuk mendapatkan dan mengembangkan karakter pada diri seseorang, salah satunya dengan disiplin. Karena karakter mengundang pemahaman mengenai:
a) Suatu kualitas positif yang dimiliki individu, sehingga membuat seseorang menarik dan memesona:
b) Kompetensi individu;dan
c) Individu yang unusual atau memiliki kepribadian yang menarik.
Dalam membangun karakter pada lingkup sekolah di perpustakaan diperlukan upaya pembiasaan dan pembelajaran yang terstruktur dengan baik, agar tujuan dari karakter yang akan diajarkan sekolah dapat tercapai. Pendidikan karakter sama halnya dengan membangun generasi bangsa ini, karena kapabilitas moral masyarakat bangsa yang menaraik tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, moral, dan dari hasil pola pikir, olah rasa, serta hati nurani untuk seluruh bangsa Negara.
Mukhlas Samani, Hariyanto, (2013,110-111) menyatakan pendidikan karakter merupakan suatu konsep atau merupakan suatu teori. Pendidikan karakter akan lebih bermakna jika diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Implementasi pendidikan karakter ini secara makro adalah di satuan pendidikan dalam arti yang luas (keluarga, sekolah dan masyarakat). Dalam implementasi pendidikan karakter umumnya diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai setiap mata pelajaran perlu dikembangkan,
25
dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengaalaman nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari dalam masyarakat. Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen sekolah. Manajemen yang dimaksudkan adalah pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi nilai-nilai yang ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Dengan demikian, pembentukkan karakter perlu melalui proses pembelajaran nilai- nilai norma dan kebiasaan prilaku di lingkup sekolah maupun lingkup keluarga, karena proses dalam mendidik siswa harus dilakukan secara formal atau proses akulturasi.
Metode akulturasi terjadi secara abash melalui pendidikan, pada sister ini dikenal dengan mengangkat tradisi budaya. Sedangkan sistem pembudayaan dilakukan dengan pewaris tradisi budaya dikenal dengan sistem enkulturasi, sistem ini berlangsung sejak kecil, dan dimulai dari lingkungan keluarga dan merambat ke lingkungan yang besar atau membaur pada masyarakat. Membangun sebuah karakter harus melalui pendidikan dengan proses yang paling penting yaitu dengan melahirkan Warga Negara Indonesia yang bertanggungjawab dan mempunyai karakter reak sebagai modal utama individu untuk membentuk bangsa yang beradab, berakhlak, dan unggul. Salah satu tugas dan tuntutan yang harus dilaksanakan dari dunia pendidikan adalah membangun karakter (character building) siswa/i.
“Suyanto (2010,57) mengatakan bahwa, Character education quality standards menganjurkan bahwa pendidikan akan secara efektif memajukan karakter siswa didik ketika nilai dasar moral dijadikan sebagai basi pendidikan, emnggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif dalam memajukan dan mengembangkan karakter siswa didik serta menciptakan komunitas yang peduli, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggungjawab untuk pendidikan yang memajukan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama”.
Sedangkan “Sri Judiani (2010) mengatakan bahwa karakter di sekolah tidak termasuk dalam mata tersendiri, tidak pula merupakan tambahan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), tetapi dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, pengembangan diri, dan budaya sekolah, serta muatan lokal.”
Agar dapat berjalan efektif dan efisien, pendidikan karakter (character building) dapat dilakukan dengan tiga desain, menurut Koesoema (2012, 105-153) yakni:
a. Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Kelas yang dimaksud bukan terutama bangunan fisik, melainkan lebih pada corak relasional yang terjadi antara guru dan murid dalam proses pendidikan. Desain kurikulum pendidikan karakter berbasis kelas terjadi melalui dua ranah yang berjalan seiring, yaitu intstuksional dan non- instruksional. Ranah instruksional terkait secara langsung dengan tindakan pembelajaran dan pengajaran di dalam kelas, yakni proses pembelajaran bersama terhadap materi kurikulum yang diajarkan. Sedangkan ranah non- instruksional mengacu pada unsur-unsur di luar dinamika belajar mengajar di dalam kelas, seperti motivasi, keterlibatan, manajemen kelas, pembuatan norma, aturan dan prosedur, komitmen bersama, dan lingkungan fisik.
b. Pendidkan Karakter Berbasis Kultur Sekolah
Dalam konteks pendidikan, kultur sekolah merupakan sebuah pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara otomatis menjadi bagian yang hidup dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola perilaku dan cara bertindaknya adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Oleh karena itu kultur sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang lebih efektif memengaruhi pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas sekolah. Kultur sekolag berjiwa pendidikan karakter terbentuk ketika dalam merancang sebuah program, setiap individu dapat bekerja sama satu sama lain melaksanakan visi dan misi sekolah melalui berbagai macam kegiatan. Sasaran utama pendidikan karakter berbasis kultur sekolah mengarah pada pertumbuhan lembaga pendidikan sebagai komunitas moral. Prinsip-prinsip moral dasar semestinya menjadi dasar bertindak dan pengambilan keputusan. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah berbuat baik, jangan merusak, setiap individu berharga di dalam dirinya, dan prinsip moral dasar tersebut mesti senantiasa diingat oleh para pendidik dan pengambil keputusan.
c. Pedidikan Karakter Berbasi Komunitas
Lembaga pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki ikatan yang erat dengan komunitas-komunitas lain, baik yang terlibat secara langsung atau tidak langsung. Komunitas-komunitas itu antara lain:\
• Komunitas sekolah: kepala sekolah, guru, staff sekolah, pengurus yayasan,dll.
• Komunitas keluarag: orang tua dan wali siswa.
• Komunitas masyarakat: LSM, orang tua siswa, berbagai perkumpulan sosial, dll.
• Komunitas politik: pejabat, birokrasi Negara bidang pendidikan, mulai dari pejabat di tingkat dinas pendidikan sampai kementrian pendidikan nasional.
Pendidikan karakter berbasis komunitas berusaha merancang berbagai macam corak
27
kerja sama dan keterlibatan antara lembaga pendidikan dengan komunitas-komunitas dalam masyarakat. Tujuannya adalah agar kehadiran lembaga pendidikan semakin bermakna dan bermutu, mampu menjawab aspirasi setiap anggota komunitas tentang harapan mereka, fungsi, dan peran lembaga pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Zuniana (2016,985) menyatakan ada 6 tahapan guru dalam mendidik karakter siswa di kelas yaitu: membuat konvensi awal, memberikan contoh yang stabil sehingga membuat siswa bertanggung jawab, memantau, meninjau, membiasakan, dan mentindak lanjut. Melalui cara pengembangan lingkungan kelas yang ramah, penuh perhatian, memiliki corak relasional yang seimbang dan penuh penghargaan, pendidikan karakter berbasis kelas mampu secara efektif menunjang dan mengembangkan pemahaman serta keterampilan moral dari setiap anggota yang ada di dalamnya.”
Sedangkan “Koesoema (2012, 107-108) juga menyimpulkan bahwa
“Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha sadar. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan interaksi di dalam kelas yang dijiwai semangat pendidikan karakter mesti menyertakan kesadaran dan perencanaan. Jika tidak, pendidikan karakter yang berbasi kelas tidak akan muncul. Sadar bahwa setiap proses kegiatan belajar mengajar memiliki potensi bagi pembentukan karakter siswa merupakan langkah awal yang baik bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis kelas.”
Maka pendidikan karakter hanya dapat berhasil dan berjalan dengan efektif jika adanya operasi kerjasama dari berbagai komunitas yang memang memilki kaitan langsung dengan sekolah maupun tidak langsung dengan lingkungan sekolah. dengan dorongan sekolah. Sekolah adalah sebuah fondasi lembaga yang memiliki kaitan/hubungan dengan banyak pihak, sehingga proses komunitas tetap berjalan dengan terbuka, dan terus bergenerasi menjadi lembaga yang terus menerus berkembang dan tidak mandek, yang menjadikan lembaga tidak relevan dengan kebutuhan komunitas sebuah pendiri sekolah.
2.4 Nilai dan Komponen Membangun Pendidikan Karakter
Perpustakaan merupakan bagian integral dari program pendidikan secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya turut menentukan berlangsungnya suaru proses pendidikan dan pengajaran yang berhasil.
Menurut Narwati (2011,1) pembentukan karakter adalah usaha yang telah terwujud sebagi hasil suatu tindakan. Pembentukkan karakter anak merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap kesejahteraan anak di masa depan.
Semua komponen bangsa, mulai dari orang tua, keluarga, masyarakat, dunia
usaha, dan Negara, memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap perlindungan dan kesejahteraan anak (Undang-Undang Perlindungan Anak, No. 23 Th. 2002).
Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tahapan knowing (pengetahuan), feeling (perasaan), dan action (tindakan) dalam chairiyah (2011,30), menggambarkan komponen-komponen karakter yang baik adalah :
1. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)
Moral knowing akan lebih mengisi pada ranah kognitif individu, yang memiliki aspek yaitu:
a. Kesadaran Moral (moral awareness)
Aspek dalam kesadaran moral ini adalah pertama, menggunakan pemikirannya untuk melihat suatu situasi yang memerlukan penilaian moral. Sehingga kemudian dapat memikirkan dengan cermat tentang yang dimaksud dengan arah tindakan yang benar. Kedua, memahami informasi dari permasalahan yang bersangkutan. Jadi dalam pengetahuan moral ini, harus mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai suatu hal yang bersangkutan sebelum mengambil suatu penilaian moral.
b. Pengetahuan Nilai Moral (knowing moral values)
Nilai-nilai moral diantaranya yaitu menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan, belas kasihan, dan dorongan atau dukungan. Jika seluruh nilai digabungkan, maka akan menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi, ke generasi yang berikutnya.
c. Penentuan Perspektif/sudut pandang (perspective taking)
Penentuan perspektif atau penentuan sudut pandang ini merupakan kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi sebagaimana adanya, membayangkan bagaimana mereka akan berfikir, bereaksi, dan merasakan masalah yang ada.
d. Pemikiran/logika Moral (moral reasoning)
Pemikiran moral mengikutsertakan pemahaman atas prinsip moral klasik yaitu, “hormatilah hak hakiki intrinsic setiap individu”, bertindaklah untuk mencapai kebaikan yang terbaik demi jumlah yang paling besar”, dan bertindaklah seolah-olah anda akan membuat semua orang akan melakukan hal yang sama dibawah situasi yang serupa”.
e. Pengambilan keputusan/ keberanian mengambil sikap (decision making)
Aspek komponen moral knowing ini lebih kepada individu itu mampu memikirkan cara bertindak melalui permasalahan moral pada situasi tertentu.
29
f. Pengetahuan pribadi/pengenalan diri (self-knowledge)
Pengetahuan tentang diri masing-masing sangat diperlukan dalam pendidikan karakter. Mejadi orang yang bermoral memerlukan keahlian untuk mengulas kelakuan dirinya sendiri dan mengevaluasi perilakunya masing-masing secara kritis.
2. Moral Feeling (Perasaan Moral)
Komponen karakter ini merupakan komponen yang mengisi dan menguatkan aspek afeksi individu agar menjadi manusia yang berkarakter baik. Beberapa aspek komponen ini adalah:
a. Hati Nurani/Kesadaran akan jati diri (conscience)
Hati nurani memiliki empat sisi kognitif, mengetahui baik benar suatu kesadaran, dan sisi emosional, serta merasa berkewajiban untuk melakukan tindakan yang benar. Banyak orang mengetahui kebeneran, namun merasakan sedikit kewajiban untuk berbuat sesuai dengan hal tersebut.
b. Harga Diri (self esteem)
Harga diri yang tinggi tidak menjamin karakter yang baik karena lebih kepada kepemilikikan, popularitas, atau kekuasaan. Seharusnya, mampu mengembangkan harga diri berdasarkan nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kebaikan serta berdasarkan pada keyakinan kemampuan diri sendiri demi kebaikan.
c. Empati ( empathy)
Perlunya empati yaitu merasakan suatu masalah yang dirasakan oleh orang lain sehingga kita mampu keluar dari zona kita. Sebagai aspek dari komponen karakter, empati harus dikembangkan secara generalisasi. Mampu melihat di luar perbedaan dan menanggapi kemanusiaan bersama.
d. Mencintai hal yang baik/mencintai kebenaran (loving the good) Ketika setiap individu mencintai hal-hal yang baik atau mencintai kebenaran, maka setiap individu akan melakukan hal-hal yang bermoral baik dan benar atas keinginan, bukan hanya karena tugas.
e. Pengendalian Diri (self control)
Pengendalian diri sangat diperlukan dalam pendidikan karakter.
Emosi tinggi mampu membuat karakter baik menjadi buruk ketika tidak ada pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, juga dapat menahan segala hasrat dan keinginan negative dalam diri.
f. Kemanusian (humanity)
Kemanusian sangat diperlukan dalam pendidikan karakter. Dimana dalam diri seseorang harus memiliki rasa kemanusian untuk sesama masyarakat.
3. Moral Acting (Tindakan Moral)
Komponen tindakan ini merupakan hasil kedua komponen karakter lainnya yaiu moral knowing dan moral feeling. Aspek dari komponen tindakan moral atau moral acting ini yaitu:
a. Kompetensi (competence)
Aspek ini mampu mengubah penilaian dan perasaan moral ke dalah tindakan moral yang efektif. Untuk hal ini, kita harus mampu merasakan dan melaksanakan rencana tindakan.
b. Keinginan (will)
Keinginan berada pada inti dorongan moral. Menjadi orang yang baik memerlukan tindakan keinginan yang baik, suatu penggerakkan energy moral untuk melakukan apa yang kita piker harus dilakukan.
c. Kebiasaan (habit)
Kebiasaan yang baik melalui pengalaman yang diulangi dalam apa yang dilakukan itu membantu, ramah, dan adil dapat mejadi kebiasaan baik yang akan bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi situasi yang berat.
Melalui ketiga komponen diatas dengan aspek komponennya masing-masing saling bekerjasama untuk saling mendukung dan menciptakan karakter yang baik. Berdasarkan komponen karakter yang sudah disebutkan, dapat dikatakan karakter memiliki nilai penting tentang proses pengetahuan karakter moral, kemudian harus dikeluarkannya perasaan moral dari diri seseorang, sehingga menjadikan tindakan moral sebagai kebiasaan kehidupan seseorang.
2.5 Metode Pengembangan Character Building
Character Building mempercayai adanya keberadaan moral absolute, yakin bahwa moral absolute perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar. Pendidikan karakter kurang sepaham dengan cara pendidikan moral reasoning dan value clarification yang digunakan sebagai strategi dasar pendidikan karakter di Amerika, Karena sesungguhnya terdapat nilai moral universal yang bersifat absolute (bukan bersifat relative) yang bersumber dari agama-agama di dunia, yang disebutnya sebagai—the golden rule. Contohnya adalah berbuat hormat, jujur, bersahaja, menolong orang, adil dan bertanggung jawab (Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010,2010,5).
31
Karakter menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, dapatlah dikatakan orang tersebut memanisfestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, bertanggung jawab, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulya. Istilah karakter juga erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Dengan demikian, pendidikan karakter yang baik, harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), tetapi juga merasakan dengan baik atau loving the good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action) (Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010,5).
Penekanan aspek-aspek tersebut, diperlukan agar peserta didik mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan, tetapi harus didoktrin apalagi diperintah secara paksa. Pengembangan nilai/karakter dapat dilihat pada dua latar, yaitu pada latar makro dan latar mikro. Latar makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan implementasi pengembangan nilai/karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional. Secara makro pengembangan karakter dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Pada konteks mikro, pendidikan karakter berpusat pada satuan pendidikan formal dan non formal secara holistic. Satuan pendidikan formal dan nonformal merupakan wilayah utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter. Secara mikro pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di
kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan formal dan nonformal; kegiatan kokurikuler dan/atau ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.
2.6 Peranan Perpustakaan sebagai media Character Building Sekolah
Perpustakaan sebagai media pendidikan memegang peran penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Pendidikan tentu berhubungan erat dengan informasi dan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu bisa didapatkan secara lengkap di perpustakaan. Melalui buku-buku di perpustakaan, nilai-nilai kebangsaa dan budi pekerti luhur kembali disiram dan ditumbuh suburkan. Sebagai wadah, pusat dan gudang ilmu pengetahuan, perpustakaan merupakan suatu kekuatan untuk mengembangkan karakter suatu bangsa. Pendidikan karakter bagi anak dapat dimulai dengan menanamkan kecintaan pada perpustakaan.
Menurut Romi Febriyanto Saputro (http://www.kabarindonesia.com/berit a.php?pil=20&jd=Pendidikan+Karakter+Berbasis+Perpustakaan)perpustakaan mengajarkan beberapa karakter kepada kita yaitu : 1. Cinta ilmu pengetahuan ; 2. Cinta membaca ; 3. Cinta kepada perilaku disiplin ; 4. Mengajarkan kepada peserta didik untuk senantiasa berbagi dengan orang lain ; 5. Mengajarkan tanggung jawab ;6. Mengajarkan kejujuran.
Pertama, cinta ilmu pengetahuan. Saat ini sebagian sekolah masih belum memiliki pustakawan, sehingga banyak peserta didik yang jarang ke perpustakaan, karena tidak ada nya penanggung jawab di perpustakaan tersebut.
Kedua, cinta membaca. Kelemahan pendidikan nasional saat ini yaitu gagal menumbuhkan minat baca peserta didik, sehingga peserta didik tidak dibiasakan menggali informasi dan pengetahuan selain dari materi pembelajaran sekolah.
Ketiga, cinta kepada prilaku disiplin. Kegiatan layanan peminjaman di perpustakaan
33
sekolah sesungguhnya secara tidak langsung mendidik peserta didik untuk mengamalkan prilaku disiplin. Karena harus mengembalikan buku yang dipinjam dala kurun waktu tertentu.
Keempat, mengajarkan kepada peserta didik untuk senantiasa berbagi dengan orang lain. Peserta didik senatiasa didik harus mengembalikan pinjaman buku tepat pada waktunya sehingga orang lain dapat meminjamnya
Kelima, mengajarkan tanggung jawab adalah karakter pertama kali yang harus ditanam pada peserta didik, yang mana peserta didik harus mempunyai sikap tanggung jawab dalam mengikuti peraturan layanan sirkulasi perpustakaan sekolah seperti:
menghilangkan koleksi yang di pinjam harus mengganti dengan koleksi yang sama ataupun mengganti dengan mengganti judul koleksi. Maka tersirat dalam peraturan ini agar siswa memiliki kejujuran untuk bertanggung jawab terhadap keselamatan koleksi yang dipinjam siswa. Artinya keutuhan sebuah koleksi harus memiliki tanggung jawab dari siswa sehingga terhindar dari sobek, corat-coret dan berlipat merupakan tanggung jawab penuh bagi peminjam.
Keenam, mengajarkan kejujuran. Di perpustakaan memiliki prosedur pinjam- meminjam buku harus mempunyai syarat tertentu seperti memiliki kartu anggota, maka peserta didik harus memiliki kartu anggota sendiri dan tidak boleh meminjam pada peserta didik lainnya
Perpustakaan dapat berperan aktif dalam mencari / menelusur, membina dan mengembangkan serta menyalurkan hobi/ kegemaran minat, dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik melalui berbagai kegiatan yang dapat diselenggarakan oleh perpustakaan.
Kegiatan-kegiatan yang dimaksud antara lain kegiatan yang membangun karakter peserta
didik menentukan minat dan bakat, seperti; mendongeng, membaca puisi, mengarang cerita, kuis dan lomba kegiatan literasi lainnya, sehingga para peserta dapat menyalurkan, mengimplementasikan dan mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan baik yang kelak dapat menjadi salah satu pengangan / bakat dalam kehidupannya kelak.
Peran perpustakaan bukan hanya menyediakan segudang informasi untuk peserta didiknya, tetapi juga dituntut untuk memperkaya keterampilan anak terhadap membaca.
Dengan membiasakan siswa memanfaatkan perpustakaan. Merupakan salah satu untuk mendorong siswa membangun keterampilan dan karakter diri dengan berwawasan yang luas.
2.7 Peran dan Kendala Perpustakaan Sekolah Dalam Menanamkan Character Building
Perpustakaan sebagai jantung pendidikan sebaiknya tidak dipandang sebelah mata, sehingga eksitensi perpustakaan mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Perpustakaan diharapkan menjadi wahana yang tepat untuk menekankan kepada generasi muda tentang pendidikan karakter tersebut. Beberapa macam cara dapat dilakukan untuk menguatkan peran perpustakaan dalam menanamkan pendidikan karakter antara lain. Adalah dengan mendesain ruang yang menarik. Dengan begitu diharapkan menjadi daya tarik dan meningkatkan karakter gemar membaca bagi pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan. Jangan sampai ruang perpustakaan terkesan sebagi ruang yang serius dan kaku.
Menurut Suprianto (2008,144) Perpustakan Sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Sedangkan menurut Prasetyo dan Rivasintha (2013,30) mendefinisikan bahwa pendidikan karakter sebagai
35
suatu system penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama masyarakat, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan yang jujur dan berkarakter.
Pendidikan karakter merupakan program baru yang diprioritaskan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai program baru masih menghadapi banyak kendala.
Kendala-kendala tersebut adalah:
(1) Nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah belum terjabarkan dalam indikator yang representatif. Indikator yang tidak representatif dan baik tersebut menyebabkan kesulitan dalam mengungukur ketercapaiannya.
(2) Sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya.
Jumlah nilai-nilai karakter demikian banyak, baik yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun dari sumber-sumber lain. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan memilih nilai karakter mana yang ssuai dengan visi sekolahnya. Hal itu berdampak pada gerakan membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas pula monitoring dan penilaiannya.
(3) Pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh. Jumlah guru di Indonesia yang lebih 2 juta merupakan sasaran program yang sangat besar. Program pendidikan karakter belum dapat disosialisaikan pada semua guru dengan baik sehingga mereka belum memahaminya.
(4) Guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Selain nilai-nilai karakter umum, dalam mata pelajaran
juga terdapat nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan guru pegampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran tersebut belum dapat digali dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.
(5) Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai- niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah dijalankan, sementara pelatihan masih sangat terbatas diikuti guru menyebabkan keterbatasan mereka dalam mengintegrasikan nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya.
(6) Guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya.
Permasalahan yang paling berat adalah peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata Pelajaran dan nilai-nilai karakter umum di sekolah. pendidikan karakter merupakan program baru yang diprioritaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan demikian, kendala-kendala dalam pendidikan karakter harus menjadi program yang harus diprioritaskan di sekolah-sekolah di Indonesia. Maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya unggul di pembelajaran saja tetapi harus mempunyai disiplin dan rasa tanggung jawab akan sikap yang akan anak didik bawa di proses pertumbuhan mereka dan masa depan mereka kelak
37 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan wawancara untuk mendeskripsikan data yang peneliti peroleh dari informan, untuk memperoleh data lapangan peneliti mengadakan pendekatan langsung dengan cara mendatangi obyek yang diteliti di perpustakaan, bila mana memungkinkan dan dianggap tepat, deskripsi semacam itu dilakukan secara kualitatif karena penelitian ini berupaya menggambarkan peranan perpustakaan dalam character building siswa di perpustakaan Perguruan Islam Al-Amjad.
Penelitian kualitatif menurut Meleong (2014,6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya: (1) Perilaku;
(2) Persepsi; (3) Motivasi. Menurut Flick dalam Gunawan (2014,81) penelitian kualitatif adalah keterkaitan spesifik pada studi hubungan sosial yang berhubungan dengan fakta dari pluralisasi dunia kehidupan. Metode ini diterapkan untuk melihat dan memahami subjek dan obyek penelitian yang meliputi orang, lembaga berdasarkan fakta yang tampil secara baik dan berterus terang adanya.
Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi dan keadaan sebenarnya secara tepat dan akurat terkait dengan masalah penelitian yang dilakukan, jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif peranan perpustakaan dalam character building siswa di perpustakaan Perguruan Islam Al- Amjad.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 25 November sampai dengan 20 desember yang bertempat di perpustakan Perguruan Islam Al-Amjad (Ringroad) Medan.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Sekaitan dengan teknik pengumpulan data pada penelitian ini penulis menggunakan dua cara:
1. Penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan langsung terhadap objek yang diteliti dengan cara :
a). Observasi
Menurut Supriyati (2011,46) Observasi adalah suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian dengan mempunyai sifat dasar naturalistik yang berlangsung dalam konteks natural, pelakunya berpartisipasi secara wajar dalam interaksi. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan pengamatan langsung terhadap objek.
b). Wawancara
Menurut Sugiyono (2015,72) wawancara adalah pertemuan yang dilakukan oleh dua orang untuk bertukar informasi mupun suatu ide dengan cara tanya jawab, sehingga dapat dikerucutkan menjadi sebuah kesimpulan atau makna dalam topik tertentu.
39 c). Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data melalui catatan lapangan atau dalam bentuk dokumentasi berupa foto yang dikumpulkan peneliti pada saat melakukan penelitian.
d). Studi Kepustakaan
Metode yang digunakan dengan cara mengumpulkan data melalui bahan pustaka atau literatur baik berupa buku, jurnal, majalah, laporan tahunan, internet atau dokumen-dokumen yang lain yang berhubungan dengan masalah peneliti.
2. Sumber Data a) Data Primer
Sumber data primer merupakan sumber data yang memberikan sumber data kepada pengumpul data.
b) Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data misalnya lewat orang lain atau dokumen.
3.4 Penentuan Informan
Informan adalah orang yang bisa memberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Adapun teknik penentuan informasi dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sample didasarkan atas tujuan tertentu (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel).Teknik yang digunakan dalam pemilihan informan menggunakan purposive sampling, artinya teknik penentuan