• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Concept of Arabic Language Development in Early Childhood

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "The Concept of Arabic Language Development in Early Childhood"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 15

The Concept of Arabic Language Development in Early Childhood

Anwar Zain

Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Email: [email protected]

ABSTRACT

Children are stimulated in various ways of being active and active so that their potential in language can be maximized. Therefore, the AUD Language Development course at tertiary institutions in the PAUD Study Program provides expertise in these courses. The development of Arabic in early childhood is very important to be introduced in the learning process. The research method uses literature study with a qualitative descriptive approach to produce concepts and opinions from in-depth analysis through data collection, data reduction, data presentation and conclusions comprehensively. The results of this concept study study state that learning and introduction to Arabic is very important because it is a tool for children to familiarize themselves with carrying out religious teaching activities using Arabic reading, such as praying, praying, reading al-qur'an, hadith, dzikir and other religious worship. Learning Arabic in early childhood education is only pronunciation, while learning Arabic at secondary school (adult children) is rules (qawaid) in Arabic. Methods in introducing Arabic to children through songs, conversations / chants, daily prayers, religious worship, reading al-qur'an and hadith, objects, pictures, calculations, and activities, as well as through video.

Keywords : Development Concept, Arabic, AUD

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat yang sangat penting bagi anak untuk menyampaikan perasaan, pikiran/

gagasan dan keinginannya kepada orang lain. Anak pertama kali mendapatkan bahasa dari orang yang terdekatnya, dalam hal ini yaitu kedua orang tua. Dalam psikologi linguistik bahasa orang tua disebut bahasa ibu atau bahasa yang pertama kali anak dapat secara alami karena terbiasa setiap hari mendengarkan dan berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Sedangkan anak yang mampu bicara dengan bahasa selain bahasa orang tuanya atau selain bahasa daerahnya, maka disebut bahasa kedua. Bahasa kedua disebut juga bahasa asing. Bahasa merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan manusia, selain untuk saran komunikasi juga untuk media penyerapan ilmu. Dewasa ini, kebutuhan penguasaan bahasa asing semakin meningkat karena banyaknya informasi yang beredar dalam bahasa asing, termasuk bahasa Arab (Devi, 2019: 156).

Bahasa Arab merupakan salah satu Bahasa yang banyak dipelajari di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia (Hidayat, 2012: 82). Banyak lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia kurikulumnya mengajarkan Bahasa Arab, bahkan menjadi salah satu program jurusan Bahasa ditingkat Madrasah Aliyah dan juga sampai di Perguruan Tinggi ada program studi Bahasa Arab termasuk pada jenjang pendidikan awalpun ditingkat PAUD beberapa sekolah mengajarkan Bahasa Arab.

Pada jenjang PAUD sekarang ini banyak pihak sekolah memberhentikan pembelajaran bahasa selain bahasa Indonesia, seperti bahasa inggris dan bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab sebagai pengembangan bahasa kedua bagi anak sangatlah penting untuk dikenalkan sejak dini, karena bagi anak yang beragama islam pasti dibiasakan mengucapkan bacaan-bacaan agama yang berbahasa Arab, seperti membaca al-qur’an surah-surah pendek, hadits-hadits pendek, do’a harian, dzikir, dan bacaan ibadah lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat El Amin (2011) yang menyatakan bahwa Menguasai Bahasa Arab merupakan kebutuhan yang sangat primer bagi umat Islam. Hal ini karena sumber ajaran Islam secara orisinil diturunkan dalam Bahasa Arab. Tanpa mempelajari Bahasa Arab, mustahil hukum Islam akan dapat diketahui dan bahkan ditegakkan, karena asal dari usulul fiqh adalah bahasa Arab. Kemudian Hidayat (2012) juga menyatakan yang sejalan bahwa salah satu motivasi dalam belajar bahasa Arab adalah untuk

(2)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 16 mempelajari berbagai disiplin ilmu yang tertulis dalam bahasa Arab, serta untuk mempelajari kajian-kajian ilmu dalam kitab suci al-Quran.

Anak jangan sampai dibiasakan melafalkan bacaan bahasa Arab itu hanya sebagai formalitas pengucapan saja tanpa mengetahui artinya. Seharusnya anak mengetahui arti apa yang dibacanya agar anak secara konkret mengerti dan memahami sampai menghayati isi maksud bacaan tersebut. Oleh karena itu, pengembangan bahasa Arab sebagai bahasa kedua/asing anak pada usia dini sangat urgen dikenalkan dengan cara yang menyenangkan dan konkret-operasional. Dari bergabai paparan di atas, maka perlu kiranya penulis melakukan penelitian tentang bagaiman konsep Bahasa Arab bagi AUD (Anak Usia Dini) untuk menghasilkan konsep pengembangan Bahasa Arab yang mempunyai ke khasan di lembaga PAUD, karena pembelajaran Bahasa Arab di lembaga PAUD pasti sangat jauuh berbeda dengan konsep pembeljaran sekolah yang lebih tinggi (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan PT)

METODE

Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan meneliti kajian studi pustaka dan hasil penelitian untuk menghasilkan konsep dan pendapat dari analisis mendalam melalui cara pengumpulan data, reduksi data, menyajikan data serta disimpulkan secara komprehensif. Menurut Zed (2008:3) metode studi literatur ialah rangkaian aktivitas tertentu yang berkaitan dengan metode pengumpulan daftar pustaka, mencatat maupun membaca, serta mengelola bahan penelitian. Studi literatur adalah survey serta pembahasan literatur pada bidang tertentu dari sebuah penelitian. Studi ini ialah gambaran singkat dari apa yang telah dipelajari, argumentasi, serta ditetapkan mengenai suatu permasalahan, dan biasanya diorganisasikan secara kronologis atau tematis. Studi kepustakaan adalah kegiatan yang diwajibkan dalam penelitian, khususnya penelitian akademik yang tujuan pokoknya ialah mengembangkan aspek teoritis ataupun aspek manfaat yang praktis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengertian Pengembangan Bahasa

Pengembangan-Bahasa terdiri dari dua kata, yaitu kata pengembangan dan bahasa. pengembangan menurut KBBI adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan (KBBI, 2002: 538). Menurut penulis pengembangan adalah suatu usaha atau upaya baik yang datang dari dalam diri maupun yang datang dari pengondisian orang lain untuk tujuan meningkatnya kualitas kemampuan segala aspek potensial yang diri kita miliki.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat ditarik inti dari pengertian bahasa adalah sarana untuk berinteraksi sesama manusia yang timbul/tumbuh kultur bahasa itu sesuai daerah/tempat/kelompok masing-masing yang disepakati untuk saling memahami dengan menggunakan alat bahasa verbal (percakapan/bicara) maupun bahasa non-verbal (bahasa isyarat). Dapat diartikan bahwa pengembangan bahasa anak usia dini adalah suatu usaha atau upaya dalam mengeksplorasi kemampuan bahasa anak baik bahasa verbal maupun non-verbal agar anak mampu menyampaikan keinginanya atau pemikirannya, mampu memahami maksud orang lain, menambah perbendaharaan kosa kata, dan mampu mengkreativitaskan keterampilan bahasa baik dari segi kata-kata maupun suara/intonasi.

Pengertian Perkembangan Bahasa

Akhmad Sudrajat (2008) memberikan definisi bahwa “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.” Sesorang individu mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama hidupnya. Siti Aminah Soepalarto (2008) berpendapat bahwa perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan dan tingkah laku pada masa usia dini, anak-anak, dan dewasa menjadi lebih kompleks dan berlanjut dengan kematangan sepanjang hidup. Maka dengan kata lain dapat kita artikan bahwa sepanjang hidup kita merupakan suatu rangkaian proses yang terus berlanjut, proses tersebut meliputi perkembangan (development), pertumbuhan (growth) serta kamatangan (maturation) baik fisik maupun psikis. Sedangkan Perkembangan menurut Yusuf Syamsu (2006: 15), perkembangan adalah perubahan-perubahan yang

(3)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 17 dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis.

Berdasarkan definisi perkembangan diatas maka dapat diartikan perkembangan itu adalah sistem yang ada dalam diri manusia yang secara alamiah berdasarkan kehidupannya akan berlangsung tumbuh baik secara fisik ataupun psikis. Oleh karena itu, menurut penulis pengertian perkembangan bahasa pada anak usia dini adalah terjadinya fitrah keadaan pertumbuhan dan perubahan secara bertahap aspek bahasa anak yang dipengaruhi oleh stimulus disekitar anak tersebut. Dengan demikian, tidak semua anak bisa dipastikan aspek bahasanya dapat berkembang dengan baik, karena faktor stimulus orang-orang disampingnya sangat menentukan anak dalam memperoleh bahasa yang baik. Sebagai contoh kita pasti mendapat dalam suatu kelas atau kelompok anak atau siswa akan terdengar berbeda-beda dalam anak berkomunikasi, ada yang lancar dan jelas bicaranya, ada yang lambat dan kurang jelas bicaranya, dan ada juga yang bicaranya tidak sempurna/atau sering kali tidak sampai dalam menyebutkan huruf dalam kata bicaranya. Dengan demikian, kita perlu mengkaji tahapan-tahapan perkembangan bahasa pada anak agar mengerti bagaimana seharusnya kita dalam menyikapi perkembangan bahasa anak tersebut.

Clara dan William Stern (Zulkifli L, 2003: 47) ilmuwan bangsa Jerman, membagi-bagi perkembangan bahasa menjadi empat masa.

1. Kalimat satu kata: satu tahun sampai dengan satu tahun enam bulan Dalam masa ini, anak cenderung mengucapkan pengulangan suara. Contoh: ma-ma, mi-mi (artinya saya mau minum) (Zulkifli L., 2003:

47). Dalam hal ini, anak cenderung didorong keinginan kuat untuk belajar berbicara. Dia ingin mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang menjadi keinginannya. Pada masa ini sering disebut sebagai “Masa kalimat satu kata”, karena anak-anak hanya mengungkapkan sepatah kata untuk menyatakan keinginannya.

2. Masa memberi nama: satu setengah sampai dengan dua tahun. Pada masa ini, anak bersifat kritis tentang apa yang tidak diketahuinya. Dia akan menanyakan tentang perihal atau benda yang tidak diketahuinya. Anak juga akan memberikan nama terhadap benda-benda yang baru diketahuinya.

3. Masa kalimat tunggal: dua tahun sampai dengan dua setengah tahun. Pada masa ini, bentuk bahasa dan kalimat anak, semakin baik dan sempurna. Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Sekarang dia mulai menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bantuk warna bahasanya (Zulkifli L, 2003:

47).

4. Masa kalimat majemuk: dua tahun enam bulan dan seterusnya. Pada masa ini, anak dapat mengungkapkan pendapatnya dengan menggunakan kalimat majemuk. Anak sering menanyakan kenapa sesuatu itu bisa terjadi dan apa sebabnya. Dalam hal ini, dia tidak benar-benar ingin kejelasan dari suatu hal atau peristiwa yang masih asing baginya.

Syamsu Yusuf (2006; 46), dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, beliau membagi dua tipe perkembangan bahasa anak.

1. Egnocentric Speech, yaitu anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog). Tipe ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak-anak berusia 2 sampai 3 tahun.

2. Socialized Speech, yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi ke dalam lima bentuk: (a) adapted information, di sini terjadi saling tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari, (b) critism, menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain, (c) command (perintah), request (permintaan) dan threat (ancaman), (d) questions (pertanyaan), dan (e) answers (jawaban). Tipe kedua ini, mengarah kepada pengembangan kemampuan penyesuaian sosial.

Bahasa Kedua Anak

1. Pengertian Bahasa Kedua

Ada beberapa definisi mengenai bahasa kedua anak, diantaranya sebagai berikut.

a. Menurut Chaer dan Agustina: Pemerolehan bahasa kedua adalah rentang bertahap yang dimulai dari menguasai bahasa pertama (B1) ditambah sedikit mengetahui bahasa kedua (B2), lalu penguasaan B2 meningkat secara bertahap, sampai akhirnya penguasaan B2 sama baiknya dengan B1.

b. Menurut Kholid: Bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh anak setelah mereka memperoleh bahasa pertama.

(4)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 18 c. Menurut Henry: Pemerolehan bahasa kedua diartikan dengan mengajar dan belajar bahasa asing

dan atau bahasa kedua lainnya

d. Menurut Dardjowidjojo: Pemerolehan bahasa kedua diperoleh melalui proses orang dewasa yang belajar di kelas adalah pembelajaran secara formal di perbandingkan dengan bahasa permata secara alamiah.

e. Wikipedia: Pemerolehan bahasa kedua adalah proses seseorang belajar bahasa kedua disamping bahasa ibu, mereka mengacu pada aspek sadar dan bawah sadar dari masing-masing proses. Bahasa kedua atau B2 biasanya mengacu pada semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu mereka, yang juga disebut bahasa pertama, B1.

f. Menurut Enny (2004: 38), bahasa kedua adalah bahasa yang digunakan anak setelah ia menguasai bahasa pertama. Di Indonesia, bahasa Indonesia merupakan B2. Sedangkan B1 diperoleh anak dari pengasuhnya atau dari ibunya. Hal ini biasa disebut dengan Bahasa Ibu.

Khususnya di Jawa, bahasa pertama anak adalah bahasa Jawa atau bahasa daerah di mana anak berada

g. Menuurut Penulis: Bahasa kedua adalah bahasa yang didapat dan dipelajari selain dari bahasa sehari-hari pada lingkungan tempat tinggalnya.

2. Pemerolehan Bahasa Kedua

Pemerolehan B2 dapat terjadi dengan bermacam-macam cara, pada usia berapa saja, untuk tujuan bermacam-macam dan pada tingkat kebahasaan yang berlainan. Berdasarkan fakta ini, kita dapat membedakan beberapa tipe pemerolehan B2. Krashen dan Terrel mengatakan bahwa pada umumnya pemerolehan B1 pada umumnya disebut akiusisi (acquisition) dan pelajaran B2 disebut pembelajaran (Learning). Pemerolehan lebih bersifat spontan sedangkan pembelajaran lebih bersifat terstruktur.

Beberapa pakar teori belajar bahasa kedua beranggapan bahwa anak-anak memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya (Akhadiah, dkk. 1997). Krashen dan Terrel dalam Akhidah, menegaskan perbedaan keduanya adalah kalau pemerolehan dilakukan secara bawah sadar sedangkan pembelajaran adalah proses sadar dan disengaja.

Dalam pemerolehan pengetahuan didapat secara implisit sedangkan dalam pembelajaran pengetahuan didapat secara eksplisit. Berikut pembedaan B2:

a. Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin

Di dalam pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin berarti pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Ciri-ciri pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin, (1) materi tergantung kriteria yang ditentukan oleh guru, (2) Strategi yang dipakai oleh seorang guru juga sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok untuk siswanya. Dalam pemerolehan bahasa secara terpimpin, apabila penyajian materi dan metode yang digunakan dalam belajar tepat dan efektif maka ini akan berhasil dan menguntungkan pelajar dalam pemerolehan bahasa keduanya. Namun, sering ada ketidakwajaran dalam penyajian materi terpimpin ini, misalnya penghafalan pola-pola kalimat tanpa pemberian latihan-latihan bagaimana penerapan itu dalam komunikasi.

b. Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah

Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau secara spontan adalah pemeroleh bahasa kedua yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan guru. Pemerolehan bahasa seperti ini tidak ada keseragaman karena setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri yang paling penting dalam cara ini adalah interaksi dan komunikasi yang mendorong pemerolehan bahasa kedua. (Rohmani dan Abdurrahman, 2008: 77-78)

Hasil Penelitian Tentang Pembelajaran Bahasa Arab AUD

Ada beberapa hasil penelitian dijurnal yang terkait dengan pembelajaran Bahasa Arab pada AUD sebagai berikut:

1. Devi (2019) hasil penelitiannya menjelaskan bahwa rancang bangun media pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak Usia Dini berbasis android presentase rata-rata tingkat kepuasan pengguna sebesar 92,8%, dan sebesar 95,3% menyatakan bahwa aplikasi media pembelajaran bahasa Arab yang dirancang dapat membantu proses belajar mengajar.

2. Nasrul dan Utami (2020) hasil penelitiannya menjelaskan bahwa Pembelajaran bahasa Arab anak usia dini perlu diformulasikan sedemikian rupa agar tercapai sesuai tujuan yang diinginkan.

(5)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 19 3. Ali dan Azam (2018) hasil penelitiannya menjelaskan Salah satu metode pengajaran bahasa Arab bagi anak usia dini yaitu dengan menggunakan permainan edukatif. Dan diantara prinsip pembelajaran bahasa untuk anak itu adalah belajar bahasa asing harus menyenangkan dan alamiah tidak membosankan dan membuat anak tertekan. Pembelajaran bahasa itu pun harus berlangsung sebagai suatu proses pemberitahuan kebiasaan berbahasa yang terselenggara dalam interaksi sehari-hari.

Aspek Pengembangan Bahasa AUD

Aspek pengembangan Bahasa sebagaimana terdiri dari: 1) Memahami bahasa reseptif, mencakup kemampuan memahami cerita, perintah, aturan, menyenangi dan menghargai bacaan. 2) Mengekspresikan bahasa, mencakup kemampuan bertanya, menjawab pertanyaan, berkomunikasi secara lisan, menceritakan kembali yang diketahui, belajar bahasa pragmatik, mengekspresikan perasaan, ide, dan keinginan dalam bentuk coretan, dan 3) `Keaksaraan, mencakup pemahaman terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dalam cerita (Permendikbud 137: 2014).

Struktur kurikulum PAUD memuat program-program pengembangan yang salah satunya pengembangan Bahasa, yaitu mencakup perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan bahasa dalam konteks bermain (Permendikbud 1146: 2014).

Program pengembangan bahasa dimaksudkan bahwa ada guru yang menguasai teknik berkomunikasi yang tepat untuk membantu mencapai kematangan bahasa ekspresif dan reseptif. Tersedia tempat sumber, alat dan waktu yang dapat digunakan anak untuk berlatih berbahasa dan mengenal keaksaraan awal yang diilaksanakan dalam proses (Dirjen PAUD, 2015: 14).

belajar yang menyenangkan

A. Pengembangan Bahasa Arab AUD 1. Pengertian Pengembangan B. Arab AUD

Menurut penulis, pengembangan bahasa Arab adalah usaha untuk memperkenalkan dan memahamkan anak tentang bahasa Arab sebagai pengembangan kemampuan bahasa kedua/tambahan dengan cara yang menyenangkan dan pembiasaan.

2. Bahasa Arab sebagai bahasa kedua

Sebagaimana yang dijelaskan pada pengertian bahasa kedua, bahwa bahasa kedua itu adalah bahasa yang diperoleh anak selain bahasa dari lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, apabila anak memperoleh bahasa selain bahasa pertama (bahasa lingkungan keluarga dan masyarakat) baik itu bahasa lain yang sifatnya beda daerah, beda suku, bahasa nasional, ataupun bahasa Negara lain, maka semua jenis bahasa tersebut dinamakan bahasa kedua bagi anak. Bahasa Arab merupakan bahasa Negara orang lain, maka dapat disebutkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa kedua anak yang jenis atau tingkatannya antar Negara.

Menurut Yayat Hidayat (2013) bahasa Arab berbeda dengan bahasa ibu, oleh karena itu pembelajarannya harus berbeda. Untuk pembelajaran Bahasa Arab, seorang guru harus mempunyai empat bidang kemampuan dalam penguasaannya, diantaranya yaitu:

a. Kemampuan menyimak (Mahaarah al-istima’) b. Kemampuan berbicara (Mahaarah at-takallum) c. Kemampuan membaca (Mahaarah al-qira’ah) d. Kemampuan menulis (Mahaarah al-kitabah) 3. Mengapa Bahasa Arab diajarkan pada AUD

Sekarang ini kita lihat banyak sekali sekolah-sekolah yang membuat kurikulum untuk mengajarkan bahasa asing kepada siswa-siswa, baik tingkat Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP), dan Sekolah Dasar bahkan sampai di lembaga PAUD juga banyak mengajarkan bahasa asing sebagai bahasa unggulan. Sebut saja yang marak sekarang ini bahasa inggris ditingkat PAUD sudah dikenalkan dengan cara nyanyian (lagu) ataupun percakapan sehari-hari. Ini merupakan fenomena yang bagus dalam mengembangkan bahasa kedua anak dengan memperkenalkan bahasa asing internasional.

Penulis mendapati ada disekolah PAUD dibanjarmasin yang mengajarkan bahasa kedua kepada anak dengan bahasa inggris dan bahasa mandarin, ini menunjukkan bahwa pengenalan bahasa kedua yang tingkatnya bahasa negara lain sangat digencarkan pihak sekolah untuk pengembangan bahasa kedua anak. Dibeberapa lembaga PAUD Islam juga banyak yang memperkenalkan bahasa Arab sebagai bahasa kedua anak, baik dengan bernyanyi, kata-kata sapaan, penyebutan kosa kata benda, hitungan, makanan dan lain sebagainya.

(6)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 20 Menurut penulis, pengembangan bahasa Arab pada anak usia dini sangat penting dikenalkan sejak dini. Oleh karena itu, alasan penulis mengapa bahasa Arab dikenalkan atau diajarkan pada anak usia dini, yaitu:

a. Karena bahasa Arab adalah sebagai alat untuk memahami ajaran agama islam.

b. Karena bahasa Arab bahasa yang mudah dipelajari anak dalam pengucapan.

c. Karena bahasa Arab sebagai bahasa interaksi komunikasi.

d. Karena mempermudah anak biasa bahasa Arab untuk masuk sekolah jenjang berikutnya.

4. Manfaat Pengenalan/pembelajaran Bahasa Arab pada AUD

Adapun manfaat mengenalkan/ mengajarkan bahasa Arab pada anak usia dini menurut penulis adalah sebagai berikut:

a. Anak menjadi paham dan meresapi bacaan-bacaan ajaran agama islam yang menngunakan bahasa Arab baik ketika menghafal surah-surah pendek, hadits pendek, dzikir, do’a, dan bacaan dalam sholat.

b. Anak mempunyai kemampuan pengetahuan yang terintegrasi dengan keterampilan, yaitu anak mampu menghafal/mengucapkan (keterampilan) surah-surah pendek, hadits pendek, dzikir, do’a, bacaan dalam sholat, kosa kata, dan percakapan pendek dalam bahasa Arab sekaligus mengerti artinya (kognitif).

5. Tujuan Pengenalan/Pembelajaran Bahasa Arab pada AUD

Tujuan pengenalan/pembelajaran bahasa Arab pada anak usia dini menurut penulis adalah sebagai berikut:

a. Menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa Arab sebagai alat untuk memahami ajaran agama islam.

b. Menumbuhkan kesadaran anak tentang masksud atau arti dari apa yang dibacanya baik bacaan surah-surah pendek, hadits pendek, dzikir, do’a, bacaan dalam sholat, dan bacaan dalam ibadah lainnya.

c. Menjadikan anak terampil dalam mengucapkan kosa kata maupun percakapan pendek dalam Bahasa Arab.

6. Perbedaan Pembelajaran Bahasa Arab antara AUD dan Anak Dewasa

Perbedaan pembelajaran bahasa Arab di PAUD dengan di sekolah lanjutan (anak dewasa), yaitu kalau di PAUD pembelajaran atau pengembangan bahasa Arab itu untuk pengucapan atau pelafalan bahasa Arab yang ditranslate dari kosa kata yang ada didekat kehidupan anak. Jadi, sifatnya hanya pelafalan bahasa Arab untuk anak mengerti apa bahasa Arabnya benda, sifat, atau kegiatan disekitarnya serta bacaan agama dan ibadah. Sedangkan pembelajaran bahasa Arab pada sekolah lanjutan (anak dewasa) adalah lebih kepada kaidah-kaidah (qawaid) dalam bahasa Arab, baik tulisan maupun penyebutan secara tepat dan struktur kata dan kalimatnya.

Dengan redaksi lain tapi maksudnya sama juga dikemukakan oleh Azid Zainuri (2014), secara sederhana pembelajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Metode qowaid dan terjamah (tariiqatu al-qowaid wa al-tarjamah) dan Metode langsung (tariiqatul mubasyaroh). Dalam penerapan metode qowaid dan tarjamah (tariiqatu al-qowaid wa al-tarjamah) ini lebih ditekankan kepada kebudayaan, kemudian dalam pembelajarannya ditekankan pada kaidah-kaidah nahwu dan sharf agar lebih mudah dalam memahami teks-teks Bahasa Arab.

Kemudian dalam metode langsung (tariiqatul mubasyaroh) yang ditekankan adalah latihan percakapan terus-menerus antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa yang lain dengan menggunakan Bahasa Arab dan menekankan pada penuturan yang benar (al-nutqu al-shahiih). Pada tahap awal penerapan metode ini, seorang guru harus menekankan pada lisan. Kemudian dilanjutkan dengan penambahan kosakata sederhana, setelah itu pembuatan kalimat.

7. Prinsip-Prinsip Memilih Kosa-Kata Bahasa Arab pada AUD

Ada beberapa prinsip-prinsip dalam menganalisis untuk menentukan kosa kata bahasa Arab yang ingin kita ajarkan kepada anak, yaitu:

a. Kehidupan sehari-hari anak, yaitu pemilihan kosa kata bahasa Arab yang ingin dikenalkan kepada anak hendaknya kosa kata yang sesuai denga kegiatan anak yang dialami dan dilakukannya sehari- hari, misalnya kegiatan mandi dan peralatannya, kegiatan makan dan peralatannya, dan lain-lain.

b. Sesuatu yang diketahui anak disekitarnya, yaitu pemilihan kosa kata bahasa Arab yang ingin dikenalkan kepada anak hendaknya kosa kata yang dalam bahasa indonesianya sudah diketahui dan

(7)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 21 dilakukan anak, misalnya buah-buahan atau bintang yang ada didaerah tersbut, jangan sampai mengenalkan anak dengan buah-buahan atau binatang yang tidak ada disekitar lingkungannya.

c. Menurut pengalaman anak, yaitu pemilihan kosa kata bahasa Arab yang ingin dikenalkan kepada anak hendaknya kosa kata yang sesuai dengan pengalaman anak, misalnya anak pernah pergi kewisata kebun bintang, maka bahasa Arabnya diperkenalkan, atau anak setiap semester diadakan berbagai macam lomba, maka anak diperkenalkan kosa kata bahasa Arab dari perlombaan tersebut.

d. Prioritaskan yang terdekat, yaitu pemilihan kosa kata bahasa Arab yang ingin dikenalkan kepada anak hendaknya kosa kata yang paling dekat dengan kehidupan anak. Misalnya temanya ingin mengenalkan binatang dalam bahasa Arab kepada anak, maka guru harus menentukan binatang- binatang yang paling dekat dengan kehidupan anak untuk didahulukan memperkenalkannya.

8. Ruang Lingkup yang dikenalkan kosa kata Bahasa Arab pada AUD

Adapaun ruang lingkup kosa kata yang ingin dikenalkan kepada anak, penulis mengklasifikasikannya sebagai berikut.

a. Peralatan, misalnya: Peralatan pakaian, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya baju, celana, dasi, dan lain-lain.

b. Kegiatan, misalnya: Kegiatan makan, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya makan, minum, do’a makan serta artinya, dan lain sebagainya.

c. Bentuk/Ukuran/Bilangan, misalnya: bentuk, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya besar, kecil, panjang, tinggi, dan lain-lain.

d. Percakapan, misalnya: percakapan sapaan, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya selamat pagi, selamat siang, selamat sore, bagaimana kabarmu, siapa namamu, dan lain-lain.

e. Lingkungan, misalnya: lingkungan desa, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya sungai, sawah, kebun, dan lain-lain.

f. Makanan dan minuman, misalnya: makanan pokok, maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya nasi, ikan, sayur, dan lain-lain.

g. Binatang, misalnya: binatang yang ada dirumah maka kenalkan kepada anak apa bahasa Arabnya kucing, ayam, cicak, dan lain-lain.

9. Cara Memperkenalkan Bahasa Arab AUD

Cara memperkenalkan bahasa Arab kepada anak usia dini haruslah dengan cara yang menyenangkan, baik dengan cara bermain atau bernyanyi, yang penting kegiatannya menyenangkan.

Adapun menurut penulis cara yang bisa digunakan dalam mengenalkan bahasa Arab kepada anak usia dini ini yaitu:

a. Pengenalan bahasa Arab melalui lagu

b. Pengenalan bahasa Arab melalui percakapan/penyebutan c. Pengenalan bahasa Arab melalui do’a-do’a harian

d. Pengenalan bahasa Arab melalui ibadah agama

e. Pengenalan bahasa Arab melalui membaca al-Qur’an & Hadits

f. Pengenalan bahasa Arab melalui benda, gambar, hitungan, dan kegiatan g. Pengenalan bahasa Arab melalui video-visual

KESIMPULAN

Pengembangan bahasa Arab adalah usaha untuk memperkenalkan dalam memahamkan anak tentang bahasa Arab kepada AUD (Anak Usia Dini) sebagai pengembangan kemampuan bahasa kedua/tambahan dengan cara yang menyenangkan dan pembiasaan. Bahasa Arab merupakan bahasa negara orang lain, maka dapat disebutkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa kedua anak yang jenis atau tingkatannya antar negara. Dasar alasan bahasa Arab dikenalkan kepada AUD (Anak Usia Dini) yaitu (1) Bahasa Arab adalah sebagai alat untuk memahami ajaran agama islam, (2) Bahasa Arab merupakan bahasa yang mudah dipelajari anak dalam pengucapan, (3) Bahasa Arab sebagai bahasa interaksi komunikasi, dan (4) Mempermudah anak terbiasa dengan bahasa Arab untuk masuk sekolah jenjang berikutnya. metode dalam mengenalkan bahasa Arab kepada anak, yaitu melalui lagu, percakapan/ penyebutan, do’a-do’a harian, ibadah agama, membaca al-qur’an & hadits, benda, gambar, hitungan, dan kegiatan, serta melalui video- visual.

(8)

http://journal.mbunivpress.or.id/index.php/athfal 22 DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, & Sabarti. (2000). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlanggaa.

Amin, E. (2011, 7 6). Strategi Pengajaran Bahasa Arab pada AUD. Retrieved from el-e@min: htt://wwel- amin.blogspot.co.id

Dirjend-PAUD. (2015). Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum2013 PAUD. Jakarta: Kemendikbud RI.

Hidayat, Y. (2013, 6 22). Prinsip dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab. Retrieved from -:

http//Arabicforall.or.id

Indah, R. N., & Abdurrahman. (2008). Psikolinguistik: Konsep dan Isu Umum. Malang: Malang Press.

Indonesia, K. B. (2008). KBBI. Jakarta: Pusat Bahasa.

Indriaty, E. (2011). Kesulitan Bicara dan Berbahasa pada Anak. Jakarta: Prenada.

Kartono, K. (2007). Psikologi Anak (Psikoogi Perkembangan). Bandung: Mandar Maju.

Mufti, A., & Fathoni, A. (2018). Permainan Edukatif sebagai Alternatif Pengajaran Bahasa Arab bagi AUD.

Pembelajaran Bahasa, Sastra dan Budaya Arab, -.

Nurbiana. (2010). Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Permendikbud. (2014). No. 137 Standar Nasioal Pendidikan Anak usia Dini. Jakarta: Kemendikbud RI.

Permendikbud. (2014). No. 146 Kurikulum 2013 Pendidikan Anak usia Dini. Jakarta: Kemendikbud RI.

Putri, D. A. (2019). Rancang Bangun Media Pembelajaran Bahasa Arab AUD Berbasis Android.

Technologia, Vol. 4 No. 1.

Umam, N., & Budiyati, U. (2019). Pembelajaran Bahasa Arab AUD Berbasis Nilai-Nilai Karakter. Warna, Vol. 10 No. 3.

Yusuf, S. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remadja Rosdakarya.

Zubaidah, E. (2004). Pengembangan Bahasa Anak usia Dini. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Zulkifli, L. (2003). Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosda KaryaDaftar

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat penurunan kadar kolesterol LDL yang bermakna sebelum dan setelah pemberian jus tomat berkulit maupun jus tomat tanpa kulit, namun tidak didapatkan perbedaan

Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan

Untuk menganalisa posisi AS dalam implementasi kebijakan luar negerinya di era Pasca Perang Dingin tersebut, penulis menggunakan teori stabilitas hegemoni untuk

Mengenai kepribadiannya, Ahmad bin Muhammad bin Yasin al- Harwi menyatakan bahwa Abu Dawud adalah salah seorang hafidz(huffadz al-Islam) untuk masalah hadis dan ilmu hadis, dan

Distingsi gender pada nomina dalam bA tidak hanya mengacu pada benda hidup seperti manusia dan hewan, tetapi juga pada benda mati, konsep, dan pengertian. Hal ini

Salah sebab turunnya sektor pertanian yaitu perubahan tata guna lahan pertanian. Sektor pertanian yang mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi

ketidak#%%genan zat 8arna atau tidak entuk talet $erukaan cacat atau tidak dan eas dari n%da atau intik+intik' Bau talet tidak %le# erua#'.

Guru-guru biologi di SMA Negeri Rayon 01 Kabupaten Pidie ada yang belum dan sudah sertifikasi, untuk mengetahui kinerja kedua kelompok guru tersebut dilakukan