• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

3. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di kawasan Pantai Santolo, Kabupaten Garut. Pantai Santolo yang menjadi objek penelitian secara administratif berada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Cikelet dan Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 21,64 ha. Secara astronomis terletak pada 107°37’ BT - 107°46’ BT dan 07°28 LS - 07°40’ LS. Wilayah yang diamati mencakup keseluruhan kawasan pesisir Pantai Santolo. Pelaksanaan penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan, pengambilan data primer dan sekunder serta analisis data. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Februari 2010 untuk mengetahui kondisi awal daerah penelitian dan mempersiapkan perlengkapan untuk pengambilan data. Kedua, penelitan untuk pengumpulan data primer dan sekunder dilaksanakan pada bulan April - Juni 2010. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2 dan peta lokasi stasiun pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 3.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah kamera digital, GPS (Global Positioning System), papan jalan (waterpass), bola pingpong, alat untuk mengukur kualitas air, secchi disc, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah formulir kuisioner, data sheet dan bahan pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Parameter, metode dan alat yang digunakan untuk kualitas air dapat dilihat pada Tabel 1.

(2)
(3)
(4)

Tabel 1. Parameter, metode, dan alat yang digunakan untuk analisa kualitas air

Parameter Metode Alat

Fisika

1. Morfometrik pantai GPS (Global Positioning System)

2. Suhu Pemuaian Termometer

3. Kecerahan perairan Visual Secchi disc

4. Bau Chemical reseptor Indera penciuman

5. Warna Visual Indera penglihatan

6. Kemiringan pantai Kayu reng, waterpass, penggaris

7. Kedalaman perairan GPS sounder

8. Tipe pantai Visual Indera penglihatan

9. Jenis butir pasir Visual Indera penglihatan

10. Kecepatan Arus Bola pingpong

11. Material dan dasar perairan visual Indera penglihatan

Kimia

1. DO Winkler Botol BOD, gelas ukur, erlenmeyer,

pipet

2. BOD5 Winkler Botol BOD, gelas ukur, erlenmeyer,

buret, plastik hitam, inkubator

3. pH - pH strip

4. Salinitas Refraktometer

Biologi

Ikan Visual Alat tulis

Tanaman darat Visual Alat tulis

3.3. Jenis Data dan Informasi yang Diperlukan

Jenis data dan informasi yang diperlukan adalah data sumberdaya alam, daya dukung kawasan, kesesuaian lahan, sumberdaya manusia, serta keadaan umum lokasi di Pantai Santolo. Untuk jenis data yang digunakan adalah data text dan image (Fauzi, 2001 in Nancy, 2007). Data text adalah data yang berbentuk alfabet ataupun numerik. Data text yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keadaan umum kawasan wisata Pantai Santolo, data biofisik kawasan Pantai Santolo, sumberdaya manusia, isu dan permasalahan yang berkembang, dan data pengunjung Pantai Santolo. Sedangkan data image adalah data yang memberikan informasi secara spesifik mengenai keadaan tertentu melalui foto, diagram, tabel, dan sebagainya. Data image yang digunakan dalam penelitian ini adalah data foto kawasan wisata Pantai Santolo, foto fasilitas umum yang ada di kawasan Santolo, dan gambar penunjang lainnya.

(5)

3.4. Metode Pengambilan dan Pengumpulan Data 3.4.1. Data primer

Data primer yang dikumpulkan meliputi keadaan umum lokasi, persepsi terhadap kawasan, kebijakan pengelolaan, isu – isu dan permasalahan yang terjadi serta kualitas perairan. Adapun jenis, sumber, dan cara pengambilan data primer dapat dilihat pada Tabel 2.

Dalam memperoleh data primer dilakukan dengan menggunakan suatu metode. Metode yang digunakan untuk memperoleh data primer selama penelitian adalah wawancara dan observasi lapang.

a. Wawancara

Bertujuan untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang kawasan penelitian. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung kepada penduduk sekitar, pengelola kawasan, dan dinas yang terkait dengan pengelolaan di wilayah penelitian (Dinas Pariwisata) serta wisatawan.

Penentuan responden dilakukan dengan metode purposive sampling terdiri dari penduduk sekitar, pengelola kawasan wisata, dan pegawai dalam kawasan wisata. Sementara itu, penentuan responden wisatawan dilakukan dengan metode accidental sampling. Responden yang diambil untuk penduduk dan wisatawan masing – masing sebanyak 30 orang.

b. Observasi lapang

Merupakan pengumpulan data primer dengan mengamati dan melakukan pengukuran insitu pada parameter lingkungan yang diperlukan dalam penelitian ini. Parameter yang dimaksud meliputi kualitas air, kondisi lingkungan maupun pemukiman penduduk.

3.4.2. Data sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan berasal dari studi pustaka, buku-buku laporan hasil penelitian sebelumnya, dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Data yang dikumpulkan meliputi sumberdaya alam, keadaan umum kawasan Pantai Santolo, isu-isu yang berkembang, dan data dari pihak atau instansi terkait.

(6)

Tabel 2. Komponen, jenis, sumber, dan cara pengambilan data

No Komponen data Jenis data Sumber data Teknik Pengambilan data

1. Keadaan umum

Sejarah Primer dan

sekunder

Responden dan laporan

Wawancara dan studi pustaka

Demografi Sekunder Laporan Studi pustaka

Sarana dan prasarana Primer dan sekunder

Lapangan dan laporan

Observasi lapangan dan studi pustaka

2. Sumberdaya alam

Flora (tanaman darat) Primer dan sekunder

Lapangan dan laporan

Observasi lapangan dan studi pustaka

Fauna (ikan dan biota air lainnya)

Primer dan sekunder

Responden dan laporan

Wawancara dan studi pustaka

3. Kualitas air

Parameter fisika

Morfometrik pantai Primer dan sekunder

Lapangan Observasi lapang Suhu dan kecerahan Primer Lapangan Observasi lapang

Bau dan warna Primer Lapangan Observasi lapang

Kemiringan pantai Primer Lapangan Observasi lapang Kedalaman perairan Primer Lapangan Observasi lapang Jenis butir pasir Primer Lapangan Observasi lapang

Tipe pantai Primer dan

sekunder

Lapangan Observasi lapang dan studi pustaka

Lebar pantai Sekunder Laporan Studi pustaka Material dasar perairan Primer dan

sekunder

Lapangan Observasi lapang dan studi pustaka

Kecepatan arus Primer lapangan Observasi lapang dan studi pustaka

Parameter kimia

DO Primer Lapangan Observasi lapang

BOD Primer Lapangan Observasi lapang

pH Primer Lapangan Observasi lapang

Salinitas Primer Lapangan Observasi lapang

Parameter biologi

Ikan dan tanaman darat Primer Lapangan Observasi lapang 4. Sumberdaya manusia

Masyarakat Primer Responden Wawancara

Pengunjung Primer Responden Wawancara

Lembaga terkait Primer Responden Wawancara

5. Potensi wisata Primer dan sekunder

Lapangan dan laporan

Observasi lapang dan studi pustaka

Wawancara dan observasi 6. Isu-isu yang berkembang Primer dan

sekunder

Lapangan dan laporan

(7)

3.5. Analisis Data 3.5.1. Kualitas air laut

Hasil analisa laboratorium kualitas air yang meliputi analisa kualitas air di lapang dan laboratorium yang berupa DO, BOD (Biochemical Oxygen Demand), bau, sampah, salinitas, suhu, pH, serta kecerahan yang dibandingkan dengan standar baku mutu air laut sesuai dengan Kepmen LH Nomor 51 tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Hal ini untuk menentukan kelayakan kondisi perairan dalam mendukung wisata pantai.

3.5.2. Indeks kesesuaian wisata

Analisis kesesuaian wilayah sebagai kawasan wisata pantai adalah analisis untuk mengetahui kecocokan dan kemampuan kawasan menyangga segala macam aktivitas wisata. Analisis ini sangat diperlukan untuk pengembangan kawasan ekowisata yaitu untuk melakukan pengendalian, memperkirakan dampak lingkungan, dan pembatasan pengelolaan sehingga tujuan wisata menjadi selaras. Menentukan kesesuaian wilayah merupakan pola pikir yang mengarah pada pertimbangan bahwa berapapun besarnya daya tarik dari suatu lokasi wisata, secara ekologis tetap memiliki keterbatasan sehingga jumlah dan frekuensi kunjungan dalam satu ruang dan waktu harus disesuaikan dengan kaidah yang berlaku.

Analisis kesesuaian wilayah dikaitkan dengan kegiatan di sekitar pantai seperti berjemur, bermain pasir, wisata olahraga, berenang, dan aktivitas lainnya. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan 10 parameter yang memiliki empat klasifikasi penilaian. Parameter tersebut antara lain kedalaman perairan, tipe pantai, lebar pantai, material dasar perairan, kecepatan arus, kemiringan pantai, kecerahan perairan, penutupan lahan pantai, biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar. Analisis ini diperlukan untuk melihat apakah kawasan wisata Pantai Santolo masih memenuhi standar untuk wisata pantai. Kriteria kesesuaian lahan untuk wisata pantai disajikan pada Tabel 3. Rumus yang digunakan adalah rumus untuk kesesuaian wisata pantai (Yulianda, 2007) :

(8)

Keterangan:

IKW = Indeks Kesesuaian Wisata (%) Ni = Nilai parameter ke-i (Bobot x Skor)

Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

Tabel 3. Matriks kesesuaian lahan untuk wisata pantai kategori rekreasi No Parameter Bobot Kategori

S1

Skor Kategori S2 Skor Kategori S3 skor Kategori TS skor 1. Kedalaman

perairan (m)

5 0-3 3 > 3-6 2 >6 - 10 1 > 10 0 2. Tipe pantai 5 Pasir putih 3 Pasir putih,

sdkt karang 2 Pasir hitam, berkarang, sdkt terjal 1 Lumpur, berbatu, terjal 0 3. Lebar pantai (m) 5 > 15 3 10 - 15 2 3 - < 10 1 < 3 0 4. Material dasar perairan 3 Pasir 3 Karang berpasir 2 Pasir berlumpur 1 Lumpur 0 5. Kecepatan arus (m/dt) 3 0-0,17 3 0,17-0,34 2 0,34-0,51 1 >0,51 0 6 Kemiringan pantai (0) 3 < 10 3 10 - 25 2 > 25 - 45 1 > 45 0 7 Kecerahan perairan (%) 1 80-100 3 50-80 2 20-50 1 <20 0 8. Penutupan lahan pantai 1 Kelapa, lahan terbuka 3 Semak, belukar, rendah, savana 2 Belukar timggi 1 Hutan bakau, pemukiman, pelbh 0

9 Biota berbahaya 1 Tidak ada 3 Bulu babi 2 Bulu babi, ikan pari 1 Bulu babi, ikan pari, lepu, hiu 0 10 Ketersediaan air tawar (jarak/km) 1 <0.5 (km) 3 >0.5-1 (km) 2 > 1-2 1 >2 0 Sumber : Yulianda (2007)

Keterangan : Jumlah = (Skor x Bobot) dimana nilai maksimum = 84 S1 = Sangat sesuai dengan nilai 83 – 100 %

S2 = Sesuai dengan nilai 50 - <83 %

S3 = Sesuai bersyarat dengan nilai 17 - <50 % TS = Tidak sesuai dengan nilai <17 %

Kelas S1 : Kawasan ini tidak mempunyai pembatas yang serius untuk menerapkan perlakuan yang diberikan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti atau tidak berpengaruh nyata terhadap penggunaan dan tidak akan menaikkan masukan/tingkatan perlakuan yang diberikan.

Kelas S2 : Kawasan ini mempunyai pembatas – pembatas yang agak serius untuk mempertahankan tingkat perlakuan yang harus diterapkan. Pembatas ini akan meningkatkan masukan/tingkatan perlakuan yang diberikan.

Kelas S3 : Kawasan ini mempunyai pembatas – pembatas yang serius untuk mempertahankan tingkat perlakuan yang harus diterapkan.

(9)

Pembatas akan lebih meningkatkan masukan/tingkat perlakuan yang diperlukan.

Kelas TS : Kawasan ini mempunyai pembatas permanen, sehingga menghambat segala kemungkinan perlakuan pada daerah tersebut. Kegiatan wisata pantai merupakan semua aktivitas yang berlangsung di kawasan pantai seperti menikmati keindahan alam pantai, olahraga, berenang, berkemah, dan aktivitas lainnya. Parameter yang dijadikan kriteria kesesuaian lahan untuk wisata pantai antara lain :

a. Kedalaman perairan

Perairan yang relatif dangkal merupakan kondisi yang sangat menunjang diadakannya wisata pantai dimana para wisatawan dapat bermain air maupun berenang dengan aman. Kedalaman 0 – 5 meter merupakan syarat yang paling sesuai untuk wisata pantai. Toleransi juga diberikan untuk kedalaman >5 – 10 meter, sedangkan kedalaman >10 meter dianggap kurang ideal untuk kegiatan ini.

b. Material dasar perairan

Material dasar perairan sangat menentukan kecerahan perairan. Daerah di sekitar pantai dengan substrat pasir merupakan lokasi yang sangat sesuai untuk wisata pantai. Toleransi diberikan pada substrat pasir berkarang atau karang berpasir dengan hancuran karang yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan karangnya maupun pasir berlumpur dengan perlakuan khusus. Substrat lumpur maupun karang merupakan lokasi yang tidak sesuai untuk kegiatan berenang dan bermain air.

c. Kecepatan arus

Kecepatan arus berkaitan dengan keamanan wisatawan dalam melaksanakan aktivitasnya. Kecepatan arus yang relatif lemah berkisar antara 0 – 0,17 m/dtk merupakan syarat yang ideal untuk aktivitas berenang, bermain air dan aktivitas lainnya. Kecepatan arus 0,17 – 0,34 m/dtk masih masuk dalam kategori sesuai dan kecepatan arus di atas 0,51 masuk dalam kategori tidak sesuai.

d. Kecerahan perairan

Wilayah dengan kondisi perairan yang cerah merupakan lokasi yang paling sesuai untuk wisata pantai. Wisatawan dapat bermain air, berenang dan aktivitas

(10)

lainnya. Kecerahan perairan >30 meter merupakan syarat yang sangat sesuai atau diinginkan untuk wisata pantai. Toleransi diberikan untuk kecerahan perairan >10 meter, sedangkan untuk kecerahan perairan <10 meter dianggap tidak sesuai untuk kegiatan wisata pantai.

e. Ketersediaan air tawar

Ketersediaan air tawar merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam wisata pantai. Selain untuk konsumsi juga digunakan untuk MCK dan mandi setelah bermain air laut dan pasir pantai. Ketersediaan air tawar dilihat dari seberapa jauh sumber air tawar terhadap pantai. Jarak lokasi dengan sumber air <0,5 km merupakan syarat yang paling sesuai, sedangkan jarak >2 km merupakan jarak yang tidak sesuai untuk wisata pantai.

f. Tipe pantai

Dalam kaitannya dengan wisata pantai, pantai berpasir merupakan lokasi yang paling ideal untuk wisata pantai. Wisatawan dapat berjemur, berolah raga, menikmati pemandangan, bermain dengan santai. Toleransi juga diberikan pada pantai berpasir dengan sedikit karang maupun pada daerah yang sedikit terjal, sedangkan pantai berlumpur, berkarang maupun terjal dianggap tidak sesuai untuk kegiatan ini.

g. Lebar pantai

Lebar pantai berkaitan dengan luasnya lahan pantai yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas wisata pantai. Lebar pantai yang sangat sesuai untuk wisata pantai adalah lebih dari 15 meter, sedangkan untuk lebar pantai kurang dari 3 meter dianggap tidak sesuai untuk wisata pantai.

h. Kemiringan pantai

Kemiringan pantai berkaitan dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan di pantai. Wisatawan sebagian besar menyukai pantai yang landai karena lebih mudah untuk melakukan berbagai aktivitas. Kemiringan pantai yang kurang dari 10 dianggap paling sesuai untuk wisata pantai, sedangkan dianggap tidak sesuai untuk wisata kemiringan pantai yang lebih dari 45 pantai karena dianggap curam.

(11)

i. Biota berbahaya

Lahan pantai yang nyaman untuk berbagai aktivitas adalah pantai yang aman. Pantai yang aman disini merupakan pantai yang bebas dari biota berbahaya seperti bulu babi, lepu, dan hiu.

j. Penutupan lahan pantai

Penutupan lahan pantai merupakan faktor sekunder pada kegiatan wisata pantai. Adanya rencana pengembangan pada suatu daerah untuk wisata pantai, penutupan lahan yang ada dapat diubah sesuai dengan perencanaan. Kecuali untuk daerah hutan lahan basah yang dilindungi, dapat dimasukkan kedalam lokasi yang tidak sesuai untuk pengembangan wisata pantai.

3.5.3. Daya dukung kawasan (DDK)

Analisa daya dukung ditujukan pada pengembangan wisata bahari dengan memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir, pantai dan pulau-pulau kecil secara lestari. Mengingat pengembangan wisata bahari tidak bersifat mass tourism, mudah rusak, dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, maka perlu penentuan daya dukung kawasan.

Metode yang diperkenalkan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata alam adalah dengan menggunakan konsep Daya Dukung Kawasan (DDK). DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Perhitungan DDK dalam bentuk rumus adalah sebagai berikut (Yulianda, 2007) :

Wp Wt Lt Lp K DDK = × × Keterangan :

DDK = Daya Dukung Kawasan

K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu

Wt = Waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu

(12)

Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan (Tabel 4). Luas suatu area yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga kelestarian alam tetap terjaga.

Tabel 4. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)

Jenis Kegiatan K

(Σ Pengunjung)

Unit Area (Lt)

Keterangan

Rekreasi Pantai 1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai Wisata Olahraga 1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai Berenang 1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai Berjemur 1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai Sumber : Yulianda (2007)

Daya dukung kawasan disesuaikan karakteristik sumberdaya dan peruntukan. Kebutuhan manusia akan ruang diasumsikan dengan keperluan ruang horizontal untuk dapat bergerak bebas dan tidak merasa terganggu oleh pengunjung lainnya. Untuk kegiatan wisata pantai diasumsikan setiap orang membutuhkan panjang garis pantai 25 m, karena pengunjung akan melakukan berbagai aktivitas yang memerlukan ruang yang luas, seperti berjemur, bersepeda, berjalan-jalan, dan lain-lain.

Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang disediakan untuk kawasan (Wt) (Tabel 5). Waktu kawasan adalah lama waktu areal dibuka dalam satu hari, dan rata-rata waktu kerja sekitar 8 jam (jam 8 – 16).

Tabel 5. Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

No. Kegiatan Waktu yang dibutuhkan

Wp-(jam)

Total waktu 1 hari Wt-(jam) 1. Berenang 2 4 2. Berjemur 2 4 3. Rekreasi Pantai 3 6 4. Olahraga Air 2 4 Sumber : Yulianda (2007)

(13)

3.5.4. Analisis nilai ekonomi wisata

Metode biaya perjalanan (Travel Cost Method/TCM) yaitu metode yang biasa digunakan untuk memperkirakan nilai rekreasi (recreational value) dari suatu lokasi atau objek. Metode ini merupakan metode pengukuran secara tidak langsung terhadap barang atau jasa yang tidak memiliki nilai pasar (non market good or service). Teknik ini mengasumsikan bahwa pengunjung pada suatu tempat wisata menimbulkan atau menanggung biaya ekonomi, dalam bentuk pengeluaran perjalanan dan waktu untuk mengunjungi suatu tempat (Lipton DW et al 1995 in Prihatna 2007).

Tujuan melakukan TCM adalah untuk menghitung nilai ekonomi suatu kawasan wisata melalui estimasi rata-rata permintaan terhadap kunjungan wisata di lokasi tersebut sehingga diperlukan estimasi fungsi permintaan terhadap kunjungan wisata. Dalam menganalisis TCM ini dilakukan dengan pendekatan Individual Travel Cost Analysis yaitu untuk memperkirakan rata-rata kurva permintaan individu terhadap lokasi wisata, dalam hal ini pengunjung dikelompokkan berdasarkan pengeluaran.

Penentuan nilai ekonomi wisata didasarkan pada pendekatan biaya perjalanan wisata yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan selama melakukan kunjungan wisata ke suatu lokasi/objek dan jumlah kunjungan wisatawan ke suatu lokasi/objek. Biaya tersebut meliputi biaya transportasi pulang pergi, biaya konsumsi, biaya akomodasi dan lain-lain. Biaya perjalanan wisata yang didasarkan pada biaya-biaya tersebut sangat ditentukan oleh biaya masing-masing wisatawan.

Nilai Ekonomi Wisata =

Keterangan :

TCrata-rata = Jumlah rata-rata total biaya yang dikeluarkan individu (Rp) N = Jumlah kunjungan per tahun

L = Luas areal (Ha)

L

N rata

TCrata )*

Gambar

Gambar 2. Peta lokasi penelitian
Gambar 3. Peta lokasi stasiun pengambilan titik sampel
Tabel 1. Parameter, metode, dan alat yang digunakan untuk analisa kualitas air
Tabel 2. Komponen, jenis, sumber, dan cara pengambilan data
+3

Referensi

Dokumen terkait

Suatu perdamaian harus ada timbal balik dalam pengorbanan pada diri pihak-pihak yang berperkara maka tiada perdamaian apabila salah satu pihak dalam suatu

RADIO VISI INTI SWARA FM/H... JEMBER

Dari kenyataan diatas penulis memandang penelitian ini sangat perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan: Pertama, pendidikan karakter di sekolah atau madrasah

- PALING SEDIKIT 40% DARI JUMLAH KESELURUHAN SAHAM YANG DISETOR DICATATKAN DI BURSA EFEK DI INDONESIA, TIDAK TERMASUK SAHAM YANG DIBELI KEMBALI ATAU TREASURY STOCK DENGAN

Prototipe alat pengaduk dodol menghasilkan mutu dodol yang baik, dengan nilai 12.26 dari hasil uji organoleptik, pada putaran pengadukan 20 rpm dan kapasitas 4 kg, serta

Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan (tempat luas), hal.. ini penting dalam perubahan- perubahan morfologi hewan. Penetasan

Praktikum terhadap sampel hiu paus yang telah dilakukan menggunakan metode ekstraksi chelex dan dilanjutkan dengan kegiatan PCR (polymerasi Chain Reaction) dan

Masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah cara memberikan warna kepada semua simpul-simpul yang ada, sedemikian rupa sehingga 2 simpul yang berdampingan