BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Akulturasi budaya adalah suatu proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.
Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri (Koentjaraningrat, 1974:
152). Akulturasi juga merupakan suatu perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung secara damai dan serasi. Sebuah akulturasi kebudayaan dapat terjadi pada banyak aspek, antara lain pada seni bangunan, seni lukis, seni sastra, kepercayaan dan filsafat, penanggalan, pemerintahan, dan lainnya.
Akulturasi budaya dapat terjadi karena keterbukaan suatu komunitas masyarakat, mengakibatkan kebudayaan yang mereka miliki akan terpengaruh dengan kebudayaan komunitas masyarakat lain. Selain keterbukaan masyarakatnya, perubahan kebudayaan yang disebabkan “perkawinan“ dua kebudayaan bisa juga terjadi akibat adanya pemaksaan dari masyarakat asing memasukkan unsur kebudayaan mereka. Akulturasi budaya bisa juga terjadi karena kontak dengan budaya lain, sistem pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berpikir ilmiah dan objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi terhadap perubahan (Hartati, 2013 :1).
Etnik Tionghoa adalah salah satu etnik yang berada di Indonesia sejak dahulu.
Kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu pembentuk dan bagian integral yang tidak dapat terpisahkan dari kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan Tionghoa di Indonesia walaupun berakar dari budaya leluhur, namun telah sangat bersifat lokal dan mengalami proses akulurasi dengan budaya lokal lainnya. Orang Tionghoa masih terikat kuat pada budaya yang berlaku dalam lingkungan komunitasnya, yang dilatarbelakangi oleh kemajemukan komunitas dan budaya yang beraneka ragam. Kebudayaan Tionghoa membaur dan beradaptasi dengan kebudayaan lokal baik bahasa, makanan, musik, tarian, kesenian, cara berpakaian dan sebagainya. Beberapa akulturasi kebudayaan Tionghoa di Indonesia seperti kesenian gambang kromong, cokek, topeng Betawi atau dalam bidang makanan seperti bakmi, tahu, kecap, bakso, pangsit. Salah satu contoh akulturasi budaya yang terdapat di kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公). Kelenteng adalah tempat pemujaan bagi dewa, dewi atau
arwah orang suci. Selain itu, kelenteng juga sebagai tempat kegiatan sosial dan bahkan menjadi tempat akulturasi kebudayaan Tionghoa dengan kebudayaan lokal setempat.
Kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公) adalah merupakan kelenteng tertua di daerah Jonggol, kabupaten Bogor Jawa Barat. Selain Kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公), terdapat juga Kelenteng Kwan Im Bio yang usia nya sekitar 100 tahun. Menurut Tan lian kie, pengurus Kelenteng, Kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公)sudah ada sekitar 300 tahun lalu. Hal lain yang menarik dari kelenteng ini adalah adanya petilasan1 seorang tokoh di Jawa Barat yaitu Embah Jago, Embah Sukat, Embah Nagawulung, Embah Jagakarsa dan Embah Sabin. Mereka adalah orang-orang yang disegani dan dianggap mempunyai ilmu kesaktian2 di daerah Jonggol pada zaman dahulu. Selain itu, mereka juga sebagai penyebar agama Islam di daerah sekitar Jonggol. Embah Jago merupakan salah satu keturunan dari Prabu Siliwangi. Dahulu Embah Jago merupakan salah satu orang yang berjasa dalam sejarah berdirinya daerah Jonggol.
Petilasan Embah Jago ini berada di bagian samping kelenteng dan masih satu bangunan dengan kelenteng. Di dalam petilasan banyak terdapat benda-benda pusaka, seperti keris, tombak dan pedang, selain itu ada hiasan bertuliskan huruf Arab. Banyak umat kelenteng yang bersembahyang di petilasan ini. Di dalam petilasan ini terdapat beberapa persembahan seperti bunga tujuh rupa, biskuit, dupa, kemenyan, air putih. Etnik Tionghoa dan etnik Sunda buhun3 sering datang ke kelenteng ini untuk berdoa di petilasan tersebut. Selain itu, kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公)ini selalu mengadakan syukuran pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公)berada di Jalan Pasar Jonggol, Jawa Barat. Kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公) memiliki berbagai Dewa-dewi seperti Dewa Hian Thian Shang Tee / Xuan Tian Shang Di (玄天上帝 Dewa Langit), Dewa Shia Djin Kong /Du Tou She Ren Gong (都统舍人公 Dewa Pengobatan), Kwan Im Po Sat /Guanshiyin Pusa (观世音菩萨Dewi Welas Asih), Kwan Kong/Guanyu Shen (关羽神 Dewa Perang), Hok tek Ci Sin / Fu De Zheng Shen (福德正神Dewa Bumi),Kwee
1 Menurut KBBI, Petilasan adalah bekas peninggalan (umumnya yang bersejarah), istana, pekuburan, dan sebagainya.
2 Menurut KBBI, Kesaktian adalah kepandaian (kemampuan) yang bersifat gaib (melampaui kodrat alam)
3 Sunda buhun adalah orang Sunda yang masih terikat dengan budaya atau tradisi leluhurnya, dengan mengadakan upacara-upacara sesajen yang ditujukan untuk karuhun (leluhurnya) pada setiap kegiatan besar yang akan dilaksanakan. Dalam wawancara dengan Tan Lian Kie.
Seng Ong / Guo Sheng Wang (郭聖王Dewa pelindung kaum perantauan), Tay Swe Ya / Tai
Sui Ye (太岁爷 Dewa Bintang), Khay Lam Tay Ong / Jia Lan Da Wang (伽蓝大王 Dewa Perdagangan), Hian Tan Kong / Zhao Gong Ming(赵公明 Dewa Rezeki), Hou Ciang Kong / Hu Jiang Jun (虎将君将Jenderal Harimau), Chao Kun Kong / Zao Jun (灶君 Dewa Dapur).
Setiap tahun di kelenteng Shia Djin Kong (都统舍人公) memiliki beberapa perayaan penghormatan bagi dewa-dewi. Pada perayaan tersebut banyak dikunjungi orang untuk beribadah dan merayakannya, salah satunya adalah perayaan penghormatan kepada dewa utamanya, yaitu dewa Shia Djin Kong.
Perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong di kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公)dirayakan pada tanggal 4 bulan 3 penanggalan Imlek. Pada tahun 2017 ini perayaan ulang tahun Dewa Shia Djin Kong jatuh pada tanggal 4 April. Orang-orang keturunan Tionghoa datang ke kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公 )untuk beribadah dan merayakan ulang tahun dewa Shia Djin Kong. Mereka juga membawa persembahan dalam perayaan tersebut. Persembahan tersebut berupa buah-buahan, ikan, daging babi, daging ayam, kue tujuh rupa, kacang tanah, wortel, melinjo, tomat serta masih banyak lainnya. Menurut orang-orang keturunan Tionghoa yang mengurus kelenteng tersebut, mereka percaya bahwa makanan favorit dewa pengobatan adalah sayuran mentah dan sebotol arak.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mengunjungi kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公) untuk melakukan pengamatan dan penelitian seputar akulturasi budaya yang terdapat dalam perayaan ulang tahun Dewa Shia Djin Kong. Penulis merasa tertarik dengan akulturasi budaya yang terdapat dalam perayaan Dewa Shia Djin Kong mulai dari sejarahnya sampai tata cara perayaan penghormatan Dewa Shia Djin Kong.
1.2. Ruang lingkup dan batasan permasalahan
Penelitian di dalam penyusunan skripsi ini akan membahas antara lain:
1.2.1 Sejarah Dewa pengobatan
1.2.2 Sejarah Kelenteng Shia Djin Kong 1.2.3 Arsitektur Kelenteng Shia Djin Kong
1.2.4 Akulturasi budaya yang terdapat di kelenteng Shia Djin Kong
1.2.5 Tata cara sembahyang perayaan ulang tahun Dewa Shia Djin Kong di kelenteng Shia Djin Kong.
1.2.6 Sejarah Embah Jago
1.3. Perumusan Masalah
Penelitian ini membahas akulturasi budaya apa saja yang terdapat dalam perayaan ulang tahun Dewa Shia Djin Kong, sejarah Dewa Shia Djin Kong, kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公), tata cara sembahyang perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong di klenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan sejarah dewa Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公 ).
2. Mendeskripksikan arsitektur dan sejarah klenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
3. Mengungkapkan dewa-dewi apa saja yang terdapat di kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
4. Mendeskripsikan pengaruh kebudayaan apa saja yang terdapat dalam perayaan ulang tahun dewa pengobatan dan akulturasinya.
5. Mendeskripsikan tata cara sembahyang perayaan ulang tahun dewa pengobatan di kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公)都统舍人公).
6. Mendeskripsikan sejarah Embah Jago.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan oleh penulis pada pembaca adalah sebagai berikut:
1. Pembaca dapat mengetahui sejarah dewa Shia Djin Kong (Du tong she ren gong 都统舍人公).
2. Pembaca dapat mengetahui sejarah kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
3. Pembaca dapat mengetahui arsitektur kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
4. Pembaca dapat mengetahui sejauh mana akulturasi kebudayaan yang terdapat di klenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公).
5. Pembaca dapat mengetahui tata cara sembahyang perayaan tersebut dari persiapan, perayaan sampai akhir acara.
6. Pembaca dapat mengetahui sejarah Embah Jago
1.6. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif.
Penelitian kualitatif merupakan sebuah penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan permasalahan dalam kehidupan kerja organisasi pemerintah, swasta, kemasyarakatan, kepemudaan, perempuan, olahraga, seni dan budaya, dan lain-lain sehingga dapat dijadikan suatu kebijakan untuk dilaksanakan demi kesejahteraan bersama (Gunawan, 2013: 80-81). Di dalam metode penelitian kualitatif, sejumlah teknik yang diajukan dalam penulisan ini adalah teknik survei, partisipasi, observasi, wawancara, catatan lapangan dan memo analitik, elitasi dokumen, pengalaman personal dan partipasi dalam kaji tindak.
1.5.1 Teknik survey
Teknik suvei lazim digunakan untuk memahami pendapat dan sikap sekelompok masyarakat tertentu. Untuk memperoleh kedalaman dan kelengkapan informasi.
Langkah kegiatan dalam menggunakan teknik survei sebagai berikut.
a. Penulis menuliskan masalah yang akan dikaji dan menggambarkan berbagai kemungkinan rincian dan jaringan butir permasalahan yang terkait dengan klenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公), Dewa pengobatan, dan sebagainya.
b. Memilih rincian masalah yang akan dikaji, misalnya siapa saja yang memuja dewa pengobatan, tata cara sembahyang kepada dewa pengobatan dan sebagainya.
c. Menuliskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan informasi yang ingin diperoleh sambil menggambarkan kemungkinan jawabannya.
1.5.2 Partisipasi
Partisipasi berarti terlibat atau keterlibatan, merupakan kegiatan yang wajib dilakukan oleh peneliti dalam kaitannya dengan penelitian kualitatif dan dalam rangka pengumpulan data. Salah satu karakteristik penelitian kualitatif adalah keterlibatan peneliti dalam rangka mengumpulkan data penelitian. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melihat secara langsung aspek-aspek dan hal-hal di luar konteks penelitian. Dalam hal ini seorang peneliti mencatat segala sesuatu atau
semua gejala yang ada dan mungkin berpengaruh terhadap data dan analisis data penelitian. Peneliti berpartisipasi dalam acara perayaan ulang tahun Dewa pengobatan.
1.5.3 Observasi
Observasi dapat dihubungkan dengan upaya merumuskan masalah, membandingkan masalah yang dirumuskan dengan kenyataan di lapangan, pemahaman detail permasalahan guna menemukan detail pertanyaan yang akan dituangkan dalam kuesioner, serta untuk menemukan strategi pengambilan data dan bentuk perolehan pemahaman yang dianggap paling tepat. Untuk keperluan observasi peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut
a. Peneliti membuat daftar pertanyaan tentang kelenteng Shia Djin Kong (Du tong she ren gong都统舍人公) sesuai dengan gambaran informasi yang ingin diperoleh.
b. Menentukan sasaran observasi dan kemungkinan waktu yang diperlukan untuk melakukan observasi pada sasaran tersebut secara lentur. Dalam penulisan ini sasaran observasi adalah perayaan ulang tahun dewa pengobatan.
1.5.4 Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara pengambilan data yang dilakukan melalui kegiatan komunikasi lisan dalam bentuk terstruktur, semi struktur, dan tak terstruktur. Penggunaan teknik interview dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Peneliti menuliskan butir-butir pertanyaan yang akan dicari jawabannya.
b. Peneliti memahami dengan benar partisipan dalam kegiatan wawancara sehingga dapat dijadikan pemandu dalam membuat penafsiran maupun kesimpulan berkenaan dengan informasi yang diberikan.
c. Peneliti tidak mengarahkan pertanyaan pada pemberian jawaban setuju atau tidak setuju secara suggestif.
d. Peneliti tidak membiarkan partisipan memberikan jawaban scara panjang lebar yang melampaui batas informasi.
e. Peneliti menjaga sekuensi pembicaraan sesuai dengan urutan permasalahan.
f. Peneliti melaksanakan wawancara dengan memanfaatkan bahan rekaman sehingga menciptakan suasana dialogis yang segar.
1.5.5 Catatan lapangan dan memo analitik
Catatan lapangan dan memo analitik merupakan thenik pengambian data yang dilakukan melalui observasi yang digabungkan dengan interaksi dalam bentuk dialog dalam penelitian lapangan secara partisipatoris. Dalam teknik ini peneliti perlu mencatat tanggal, tempat terjadinya peristiwa dan fokus penelitian. Hal-hal yang dicatat bukan hanya terkait dengan fakta yang dilihat, melainkan terkait juga dengan fakta yang diperoleh dari hasil interaksi ataupun wawancara.
1.5.6 Elisitasi Dokumen
Penelitian kualitatif bukan hanya merujuk pada fakta sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, melainkan bisa juga merujuk pada bahan berupa dokumen, seperti teks berupa bacaan dan teks berupa rekaman audio dan audio visual.
1.7. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi dengan judul Akulturasi Budaya Dalam Perayaan Ulang Tahun Dewa Shia Djin Kong Du tong she ren gong都统舍人公)di Kelenteng Shia Djin Kong Jonggol, terdiri dari empat Bab :
Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, sistematika penulisan dan sistem ejaan yang digunakan.
Bab II Kelenteng Shia Djin Kong, berisi gambaran umum desa Jonggol, sejarah kelenteng Shia Djin Kong, sejarah dewa Shia Djin Kong, Dewa-dewa yang ada di kelenteng Shia Djin Kong dan sejarah embah Jago.
Bab III Perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong di kelenteng Shia Djin Kong Jonggol, persiapan perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong, prosesi perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong, Akulturasi budaya yang terdapat dalam perayaan ulang tahun dewa Shia Djin Kong.
Bab IV Merupakan kesimpulan dari topik pembahasan yang penulis tuangkan pada tiga bab sebelumnya.
1.8. Sistem Ejaan Yang Digunakan
Dalam penulisan skripsi ini istilah-istilah yang ditulis akan menggunakan bahasa Mandarin dengan ejaan Hanyu Pinyin汉语拼音disertai huruf kursif 汉字hanya untuk yang pertama kali saja. Istilah-istilah bahasa Hokkian, tetap digunakan kalau telah populer atau akan tetap dipertahankan dan diberi padanannya dalam ejaan kursif.