BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis 1. Teori Imunisasi
a. Definisi
Imunisasi adalah usaha untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit infeksi pada bayi, anak dan juga orang dewasa (Indiarti 2008). Imunisasi merupakan reaksi antara antigen dan antibody – antibody, yang dalam bidan ilmu imunologi merupakan kuman atau racun (toin disebut sebagai antigen) (Riyadi, 2009).
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu (Theophilus, 2007), sedangkan yang dimaksun dengan vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibody. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit.
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisai awal untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan (Depkes, 2005).
Imunisasi dasar lengkap adalah pemberian imunisasi BCG 1 , hepatitis B 3 x, DPT 3x, Polio 4x, dan Campak 1x sebelum bayi berusia 1 tahun (Ranuh dkk, 2001).
b. Tujuan Pemberian Imunisasi
Pemberian Imunisasi bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat atau bahkan menghilangkan penyakit tetentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar (anonym, 2011).
Memeberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu polio, campak, difteri, pertusis, tetanus, TB Paru dan Hepatitis B (Depkes, 2009).
c. Syarat-Syarat Imunisasi
Ada beberapa penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak, yang pencegahannya dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi dalam bentuk vaksin.
Menurut Depkes RI ( 2005), Dalam pemberian imunisasi ada beberapa syarat yang harus diperhatikan yaitu : diberikan pada bayi atau anak yang sehat, vaksin yang diberikan harus baik, disimpan dilemari es dan belum lewat masa berlakunya, pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat, mengetahui jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah diterima, meneliti jenis vaksin yang diberikan, memberikan dosis yang akan diberikan, mencatat nomor batch pada buku anak atau kartu imunisasi serta memberikan inform consent kepada orang tua atau keluarga sebelum dilakukannya tindakan imunisasi yang sebelumnya telah dijelaskan
tentang manfaat dan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang timbul setelah pemberian imunisasi.
d. Macam-macam Imunisasi Dasar
(1) Imunisasi BCG (Bacillus Celmette Guerrin)
Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette Guerrin hidup yang dilemahkan, diberikan secara intra cutan dengan dosis 0,05 ml pada insertion muskulus deltoideus. Kontraindiksi untuk vaksinasi BCG adalahn penderitaan gangguan system kekebalan (misalnya penderita luekimia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV). Reaksi yang mungkin terjadi:
(a) Reaksi local : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustule (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan maningkatnya jaringan parut yang disebut scar. Bila tidak ada scar berarti imunisasi BCG tidak jadi, maka bila akan diulang dan bayi sudah berumur lebih dari 2 bulan harus dilakukan uji Mantuox (tuberculin).
(b) Reaksi regional : pembesaran kelenjer getah bening ketiak atau leher tanpa disertai nyeri tekan maupun demam yang akan
menghilang dalam waktu 3-6 bulan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah :
(a) Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntkan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
(b) Limfadenis supurativa, terjadi jika penyuntukan dilakukan terlalu dalam dan dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.
(2) Imunisasi DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus)
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3 in 1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi yang serius seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi yang bias menyebabkan kekakuan
pada rahang serta kejang. Vaksin DPT adalah vaksin 3 in 1 yang bias diberikan kepada anak yang kurang dari 7 bulan. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot paha secara sub cutan dalam. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II), 4 bulan (DPT III), selang waktu tidak kurang dari 4 minggu dengan dosis 0,5 ml. munisasi DPT ditandai dengan gejala- gejala ringan seperti sedikit demam dan rewel selama 1-2 hari, kemerahan, pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada tempat suntikan yang akan hilang sendiri dalam bebrapa hari, atau bila masih demam dapat diberikan obat penurunan panas pada bayi.
Imunisasi DPT tidak dapat diberikan pada anak-anak yang mempunyai penyakit atau kelainan saraf baik bersifat keturunan atau bawaan, seperti epilepsy, menderita kelainan saraf yang betul- betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak (Anik maryuni, 2010).
(3) Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak (Hidayat, 2008). Imunisasi polio diberikan pada bayi umur 0-11 bulan atau saat lahir (0bulan), dan berikutnya pada usia bayi 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.
Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan
vaksin DPT. Pemberian imunisasi polio melalui oral/ mulut. Di luar negeri, cara pemberian imunisasi polio ada yang melalui suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine / IPV) Imunisasi polio hampir tidak ada efek samping, hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot, kasusnya pun sangat jarang.
Imunisasi polio sebaiknya tidak diberikan pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, seperti demam tinggi (diatas 38°C). Pada anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan tidak diberikan imunisasi polio. Demikian juga anak dengan penyakit HIV/AIDS, penyakit kanker atau keganasan, sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum, untuk tidak diberikan imunisasi polio.
(4) Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit yang disebabkan virus hepatitis B, yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati (Marimbi, 2010).
Hepatitis B disebabkan oleh Virus hepatitis B (VHB), suatu anggota yang family hepadnavirus yaitu suatu virus DNA yang berlapis ganda dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati (hati mengeras dan mengecil) atau kanker hati.
Imunisasi ini sebaiknya diberikan 12 jam setelah lahir, dengan syarat kondisi bayi dalam keadaan stabil, tidak ada gangguan pada
paru-paru dan jantung. Kemudian dilanjutkan pada saat bayi berusia 1 bulan dan usia 3-6 bulan. Pemberian imunisasi melallui intra muskuler (I.M) di lengan deltoid atau paha anterolateral bayi, penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bias mengurangi efektivitas vaksin. Imunisasi ini umumnya tidak ada efek samping, jika-pun terjadi namun sangat jarang berupa keluhan nyeri pada tempat suntikan, yang disusul demam ringan dan pembengkakan, namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Imunisasi ini tidak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat (5) Campak
Penyakit campak adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis,dan ruam kuli. Campak merupakan penyebab kematian bayi berumur
<12 bulan dan anak usia 1-4 tahun. Penyakit campak di sebabkan oleh paramiksovirus dan genus morbili. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lender tenggorokan, hidung dan saluran pernafasan. Tiga fase tanda dan gejala klinis campak, yaitu:
(a) Fase pertama
Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, pada tahap ini anak yang sakit belum memperlihatkan tanda dan gejala sakit.
(b) Fase kedua (fase prodormal)
Pada Fase ini timbul gejala yang mirip penyakit flu sepertti batuk, pilek, dan demam tinggi dapat mencapai 38°-40°C, mata merah berair, mulut muncul bintik putih (bercak koplik) dan kadang disertai mencret.
(c) Fase ketiga
Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tak langsung muncul diseluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat.
Bermula dari belakang telinga, leher, dada, muka, tangan dan kaki (Cahyono, 2010). Imunisasi diberikan satu kali pada usia 9 bulan, dan dianjurkan sesuai jadwal. Selain karena antibody dari ibu sudah menurun di usia bayi 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak di usia balita. Jika sampai usia 12 anak belum mendapat imunisasi campak, maka 12 bulan ini anak harus di imunisasi. Cara pemberian imunisasi melalui subkutan, biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisai, mungkin terjadi demam ringan/ bercak merah pada pipi bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah hari penyuntikan. Imunisasi campak tidak diberikan pada anak dengan.
e. Jadwal Imunisasi
Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi Vaksin Unsur Pemberian Imunisasi
Bulan Tahun
Lbr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 19 20 Program Pengembangan Imunisasi (PPI diwajibkan)
BCG 1
Hepatitis B 0 1 2
Polio 0 1 2 3 4 5
DPT 1 2 3 4 5
Campak 1
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pelaksanaan Imunisasi
Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan pelaksanaan imunisasi menurut Rikerdas (2013) antara lain:
a. Letak Geografis
Daerah yang tersedia sarana transportasi berbeda dengan mereka yang hidup terpencil. Kemudahan tempat yang strategis dan sarana transportasi yang lengkap akan mempercepat pelayanan kesehatan. Sehingga pelayanan yang mudah terjangkau dan tidak mudah dijangkau akan mempengaruhi kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar balita. Pelayanan yang sulit dijangkau akan membuat sulit juga pada akses transpotasiyang mundkin membutuhkan biaya dan jarak yang ditempuh yang berpengaruh terhadap ketersediaan waktu ibu.
b. Lingkungan
Lingkungan adalah segala objek baik berupa benda hidup atau tidak hidup yang ada disekitar dimana orang berada. Dalam hal lingkungan sangat berperan dalam kepatuhan melengkapi imunisasi dasar anak. Lingkungan yang didalamnya mempunyai pemahaman yang baik terhadap kesehatan anak, maka seorang ibu akan memperhatikan kelengkapan imunisasi dasar anaknya.
c. Status Ekonomi
Status ekonomi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Keadaan ekonomi keluarga yang baik diharapkan mampu mencukupi dan menyediakan fasilitas serta kebutuhan untuk keluarga, sehingga sangat berbeda dengan seseorang dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Keluarga dengan ekonomi yang tinggi akan mengusahakan terpenuhinya imunisasi yang lengkap bagi bayi. Begitu sebaliknya keluarga dengan ekonomi rendah tidak begitu mengusahakan imunisasi dasar yang lengkap bagi anaknya, karena mereka cenderung menganggap biaya imunisasi yang berat atau tidak punya waktu untuk mendatangi pelayanan kesehatan dan mereka cenderung lebih banyak waktu untuk bekerja.
d. Budaya
Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhaya, bentuk jamak dari budhi, yang berarti budi atau akal. Dengan
demikian kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Menurut Taylor kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan dan kemampuan kesenian, moral, hukum, adat istiasat dan kemampuan lain serta kebiasaan- kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
(Notoatmodjo, 2010)
Menurut Koentjaningrat dalam Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Ada tiga wujud dari kebudayaan yaitu :
a) Tata kelakuan
b) Kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
c) Sebagai benda hasil karya manusia e. Agama
Agama memberikan kontribusi yang besar terhadap baik buruknya nilai kesehatan didasrkan atas penilaiannya terhadap kemamfaatan yang dirasakan dari segi emosi dan yang lainnya.
Dalam agama islam imunisasi sah menurut ilmu hukum sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukan nya sepanjang materi yang dimasukkan tidak haram (Anwar, 2009)
Sedangkan menurut Suparyono (2011) beberapa faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi antara lain :
a. Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau masyarakat (Peraturan Presiden RI.No. 12 tahun 2013).
Fasilitas kesehatan merupakan suatu prasarana dalam hal pelayanan kesehatan. Apabila fasilitas baik akan mempengaruhi tingkat kesehatan yang ada. Fasilitas kesehatan tersebut haruslah menjamin kesehatan dari pesertanya sendiri.
b. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2010)
Pengetahuan merupakan seluruh kemampuan individu untuk berfikir secara terarah dan efektif, sehingga orang yang mempunyai pengetahuan tinggi akan mudah menyerap informasi, saran dan nasihat.
Bagi ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang tujuan imunisai itu sendiri, maka akan mengusahakan imunisasi dasar yang lengkap bagi anak. Begitupun sebaliknya bagi ibu yang tidak punya pengetahuan yang baik tentang tujuan imunisasi, maka akan tidak begitu mengusahakan imunisasi dasar yang lengkap bagi anaknya.
c. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses kegiatan pada dasarnya melibatkan tingkah laku individu maupun kelompok. Inti kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar ini adalah terbentuknya seperangkat tingkah laku, kegiatan dan aktivitas.
Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan pengetahuan. Jika pendidikan ibu berada pada tingkat tinggi, maka pengetahuan ibu pun akan lebih baik. Hal ini akan berpengaruh terhadap kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap anak.
d. Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memberikan informasi mengenai pentingnya pemberian imunisasi dasar pada bayi
3. Penelitian Terkait
a. Sri Widayati (2009), Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan perilaku pasca imunisasi polio pada bayi di Puskesmas Sukoharjo, dengan hasil penelitian Hasil penelitian ini adalah ibu dengan pengetahuan yang baik sebanyak 32 responden (68,1%), sedangkan yang memiliki pengetahuan kurang tentang imunisasi polio sebanyak 15 responden (31,9%). Ibu dengan perilaku yang baik pasca imunisasi polio dengan tidak langsung memberi ASI pasca imunisasi polio sebanyak 28 responden (59,6%), sedangkan yang berperilaku kurang baik sebanyak 19 responden (40,4%).
b. Yusnidar (2012), Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Lingkungan IX Kelurahan Sidorame Barat II Medan Perjuangan Tahun 2012. Hasil penelitian: Dari data demografi pada 39 orang responden, mayoritas berumur antara 20-35 tahun sebanyak 24 orang (61,5%), pendidikan tingkat menengah sebanyak 27 orang (69,2%), tidak bekerja sebanyak 25 orang (64,1%), dan jumlah anak adalah multipara sebanyak 21 orang (23,9%). Pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar sebagian besar adalah cukup yaitu 20 orang (51,3%). Kelengkapan imunisasi dasar pada bayi sebagian besar adalah lengkap yaitu 30 orang (76,9%).
Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan di
Lingkungan IX Kelurahan Sidorame Barat II Medan Perjuangan tahun 2012 (p <0,05).
B. Kerangka Teori
Kerangka teori pada penelitian ini dapat dilihat pada skema berikut : Skema 2.1 Kerangka Teori
Riskerdas (2013) dan Suparyono (2011)
C. Kerangka Konsep
Menurut Nursalam (2008) kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variabel, baik variabel yang diteliti maupun variabel yang tidak diteliti. Berdasarkan latar belakang permasalahan dan
Menurut Riskerdas (2013) - Letak geografis - Sosial ekonomi - Lingkungan - Budaya - Agama
Kepatuhan pelayanan Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Suparyono
(2011)
- Fasilitas kesehatan - Pengetahuan - Pendidikan - Tenaga
kesehatan
tujuan penelitian ini maka dapat digambarkan kerangka konsep sebagai berikut:
Skema 2.2 Kerangka konsep penelitian
Variabel Independen Variabel dependen
D. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
a. Ha :Ada hubungan antara faktor Letak Geografis dengan kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap
a. Ha : Ada hubungan antara faktor Fasilitas Kesehatan dengan kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap
b. Ha : Ada hubungan antara faktor Pengetahuan dengan kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap
c. Ha : Ada hubungan antara faktor Tenaga Kesehatan dengan kepatuhan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap Faktor- faktor yang
mempengaruhi
Letak Geografis
Fasilitas kesehatan
Pengetahuan
Tenaga Kesehatan
Kelengkapan Imunisasi Dasar
Lengkap